KEMENTERIAN DALAM NEGERI
PAPARAN
MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
REMBUK NASIONAL PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN 2015 TENTANG
“EFISIENSI & EFEKTIFITAS PEMANFAATAN ANGGARAN PENDIDIKAN
TRANSFER DAERAH DAN PEMBAGIAN URUSAN PUSAT-DAERAH
TERKAIT PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN”
Disampaikan Oleh :
TJAHJO KUMOLO
Jakarta, 30 Maret 2015
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
EFISIENSI DAN EFEKTIVITAS
PEMANFAATAN ANGGARAN
PENDIDIKAN TRANSFER DAERAH
DAN
PEMBAGIAN URUSAN
PUSAT-DAERAH TERKAIT PENDIDIKAN
DAN KEBUDAYAAN
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
I. AMANAT KONSTITUSI UUD’45;
II. KONSEPSI DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN DALAM KONTEKS HUBUNGAN PUSAT
DAN DAERAH;
III. POLA HUBUNGAN KEUANGAN PUSAT DAN DAERAH SESUAI UU NO. 23 TAHUN
2014 DAN UU NO. 33 TAHUN 2004;
IV. PEMBIAYAAN PENDIDIKAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAH
DAERAH;
V. IMPLEMENTASI KEBIJAKAN DAN PEMBIAYAAN PENDIDIKAN DALAM APBD;
VI. PELUANG DAN TANTANGAN PEMBIAYAAN PENDIDIKAN ANTARA POLA
TRANSFER DENGAN PENYERAHAN URUSAN PENDIDIKAN DALAM AZAS
DESENTRALISASI;
VII. STRATEGI DAN SOLUSI;
VIII. KEBIJAKAN (TRANSISIONAL) PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAHAN (KHUSUS PENGELOLAAN PENDIDIKAN MENENGAH) SETELAH DITETAPKANNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH.
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
I. AMANAT KONSTITUSI UUD ‘45
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
…
membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia
yang
melindungi segenap bangsa Indonesia
dan seluruh tumpah darah Indonesia
dan untuk
memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan
ikut
melaksanakan
ketertiban
dunia
yang
berdasarkan kemerdekaan
,
perdamaian abadi dan keadilan sosial
…
.
UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA
TAHUN 1945
PEMBUKAAN
(Preambule)
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
LEMBAGA-LEMBAGA DALAM SISTEM KETATANEGARAAN
menurut UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945
UUD 1945
TNI/POLRI LPNK
kementerian negara
badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan
kekuasaan
DPR MPR DPD
BPK Presiden MA MK
Lingkungan Peradilan TUN
Lingkungan Peradilan Militer
Perwakilan BPK Provinsi
Pemerintahan Daerah Provinsi
DPRD Gubernur
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota Peradilan Agama
6
K E K U A S A A N P E M E R I N T A H A N
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
PRESIDEN
Otonomi Seluas-luasnya
Ps 18 (5) UUD ‘45
Psl 17 UUD 1945
Keuangan Negara
Keuangan Daerah
Pemerintahan Daerah
KEMENDAGRI
Koordinator dlm penyeleng. urusan pem. di daerah
Psl 8 UU 23/2014 Termasuk Pembina LKPD
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
8
Desentralisasi adalah penyerahan wewenang
pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang
pemerintahan oleh Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu.
Tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah
kepada daerah dan/atau desa dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu.
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas
pembantuan [Pasal 18 (2)**]
menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh UU ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat [Pasal 18 (5) **]
berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan
otonomi dan
tugas pembantuan [Pasal 18 (6)**]
Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi
atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan
daerah, yang diatur dengan undang-undang
[Pasal 18 (1)**]
PEMERINTAHAN DAERAH
KEPALA PEMERINTAH
DAERAH DPRD
BAB VI. PEMERINTAHAN DAERAH
anggota DPRD dipilih
melalui dipilih secara
demokratis [Pasal 18 (4)**]
BAB VI. PEMERINTAHAN DAERAH (Lanjutan…)
Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah
Hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam
dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang [Pasal 18 A (2)**]
Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah provinsi, kabupaten, dan kota, atau antara provinsi dan kabupaten dan kota, diatur dengan undang-undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah
[Pasal 18 A (1)**]
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
1) Penyelenggaraan
urusan
pemerintahan
yang
menjadi
kewenangan daerah
didanai dari
dan
atas beban anggaran
pendapatan dan belanja daerah;
2) Penyelenggaraan
urusan
pemerintahan
yang
menjadi
kewenangan Pemerintah Pusat
di daerah didanai dari
dan
atas beban anggaran pendapatan dan belanja negara;
3) Administrasi
pendanaan
penyelenggaraan
urusan
pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
secara
terpisah
dari
administrasi
pendanaan
penyelenggaraan
urusan
pemerintahan
yang
menjadi
kewenangan Pemerintah Pusat sebagairnana dimaksud pada
ayat (2).
12
Pasal 282 UU 23/2014
•Menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara serta keutuhan NKRI •Menjaga & mengamalkan ideologi
Pancasila & memb kehidupan demokrasi •Memelihara stblts pol yg dinamis
•Menjaga etika dan norma
penyelenggaraan pemerintahan
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
FUNGSI
Pem Kab/Kota dan instansi
vertikal
Sinergitas pemb & penyelenggaraan
•Penyelenggaran Pem
sesuai NSPK •Peningkatan
U R U S A N P E M E R I N TA H A N
(Berdasarkan Pasal 9, 10, 11, 12, 13 dan 25 UU No. 23 Tahun 2014 )
ABSOLUT
1. POLITIK LUAR 2. NEGERI (Pasal 12 Ayat 3)
WAJIB
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
Dibagi
1. Dilaksanakan sendiri 2. Dilimpahkan Wew.
Kpd Ins Vert di Drh Atau Gub sbg Wkl Pem Pus Berd Asas Dekon
DESENTRALISASI
KONKUREN PEMERINTAHAN UMUM
(Pasal 25)
YAN DASAR (Pasal 12
Ayat 1 )
9. perhubungan; 10.komunikasi dan
informatika; 11.koperasi, usaha
kecil, dan menengah; 12.penanaman
modal;
13.kepemudaan dan olah raga;
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
U R U S A N P E M E R I N T A H A N K O N K U R E N
PILIHAN
1. kelautan dan perikanan; 2. pariwisata; 3. pertanian; 4. kehutanan; 5. energi dan
sumberdaya mineral;
6. perdagangan; 7. perindustrian;
dan
8. transmigrasi 1.pendidikan;
2. kesehatan;
3. pekerjaan umum & penataan
ruang;
4. perumahan rakyat & kawasan
pemukiman; 5. ketentraman &
ketertiban umum
Tidak berkaitan dengan pelayanan dasar Berkaitan dengan pelayanan
dasar
1. tenaga kerja; 2. pemberdayaan
perempuan dan pelindungan anak; 3. pangan;
4. pertanahan;
P E M B I N A A N D A N P E N G A W A S A N
( B e r d a s a r k a n P a s a l 7 U U N o . 2 3 T a h u n 2 0 1 4 )
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
PEMERINTAH
Gubernur sbg wakil Pem. Binwas umum & teknis Pasal 8 Ayat (2), Pasal 373
Ayat (2) UU No. 23 Thn 2014 (PP 19/2010 & PP 23/2011)
Kab/Kota
16
PASAL 8 ayat (3), Pasal 373 Ayat (1)
UU 23/2014
BINWAS Secara Nasional koordinasikan
Mendagri
Binwas Umum (Pasal 373 ayat 3)
1. Pembag. Urusan Pemerintahan 2. Kelembagaan Daerah
3. Kepegawaian Daerah pd Perangkat Daerah 4. Keuangan Daerah
5. Pembang. Daerah
6. Pelayanan Publik di Daerah 7. Kerjasama Daerah
8. Kebijakan Daerah 9. KDH & DPRD
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
III. POLA HUBUNGAN
KEUANGAN PUSAT DAN DAERAH
SESUAI UU NO. 23 TAHUN 2014,
1. UUD 1945 Pasal 31, ayat (4):
“Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional”.
2. UU 20 Tahun 2003, tentang Sisdiknas, Pasal 49 ayat (1):
“Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari APBNpada sektor pendidikan dan minimal 20% dari APBD.”
3. Putusan Mahkamah Konstitusi tehadap UU No 20/2003:
a. No. 011/PUU-III/2005, mencabut Penjelasan Pasal 49 ayat (1) UU20/2003 mengenai pengalokasian secara betahap dana pendidikan kurang dari 20%.
b. No. 024/PUU-V/2007, menyatakan gaji pendidik pada Pasal 49 (1) inkonstutusional. Dgn demikian Dana Pendidikan selain biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari APBN pada sektor pendidikan dan minimal 20% dari APBD.
4. Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025;
5. Undang-Undang No. 39 Tahun 2008 Tentang Kementerian Negara;
6. Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah;
7. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 sebagaimana diperbaharui dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 beserta turunannya.
18
19
(psl 4) urusan pemerintahan yang
nomenklatur Kementeriannya
secara tegas disebutkan
dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Ayat (2) huruf a
urusan pemerintahan yang ruang lingkupnya disebutkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Ayat (2) huruf b
urusan pemerintahan dalam rangka penajaman, koordinasi, dan sinkronisasi program pemerintah.
Ayat (2) huruf c
URUSAN (psl 5)
Urusan pemerintahan meliputi urusan luar negeri,
dalam negeri, dan pertahanan
(Ayat (1))
Urusan pemerintahan meliputi urusan agama, hukum, keuangan, keamanan, hak asasi manusia, pendidikan, kebudayaan,
kesehatan, sosial,
ketenagakerjaan, industri, perdagangan, pertambangan, energi, pekerjaan umum, transmigrasi, transportasi,
informasi, komunikasi, pertanian, perkebunan, kehutanan,
peternakan, kelautan, dan perikanan
(Ayat (2))
Urusan pemerintahan meliputi urusan perencanaan
pembangunan nasional, aparatur negara, kesekretariatan negara, badan usaha milik negara, pertanahan, kependudukan, lingkungan hidup, ilmu
pengetahuan, teknologi,
investasi, koperasi, usaha kecil dan menengah, pariwisata, pemberdayaan perempuan, pemuda, olahraga, perumahan, dan pembangunan kawasan atau daerah tertinggal.
(Ayat (3)
TUGAS
(psl 7)
MENYELENGGARAKAN URUSAN TERTENTU DALAM
PEMERINTAHAN UNTUK
MEMBANTU PRESIDEN DALAM MENYELENGGARAKAN
PEMERINTAHAN NEGARA
MENYELENGGARAKAN URUSAN TERTENTU DALAM PEMERINTAHAN UNTUK MEMBANTU PRESIDEN DALAM MENYELENGGARAKAN PEMERINTAHAN NEGARA
MENYELENGGARAKAN URUSAN TERTENTU DALAM
PEMERINTAHAN UNTUK
MEMBANTU PRESIDEN DALAM MENYELENGGARAKAN
20
FUNGSI (psl 8)
a. perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidangnya;
b. pengelolaan barang
milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawabnya; c. pengawasan atas pelaksanaan
tugas di bidangnya; dan
d. pelaksanaan
kegiatan teknis dari pusat sampai ke daerah
(Ayat (1))
a. perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidangnya;
b. pengelolaan barang
milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawabnya; c. pengawasan atas pelaksanaan
tugas di bidangnya;
d. pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian di daerah; dan
e. pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala nasional.
(Ayat(2))
a. perumusan dan penetapan kebijakan di bidangnya; b. koordinasi dan sinkronisasi
pelaksanaan kebijakan di bidangnya;
c. pengelolaan barang
milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawabnya; dan
d. pengawasan atas pelaksanaan tugas di bidangnya.
(Ayat (3))
SUSUNAN ORGANISA SI
(psl 9)
a. pemimpin, yaitu Menteri; b. pembantu pemimpin, yaitu
sekretariat jenderal;
c. pelaksana tugas pokok, yaitu direktorat jenderal;
d. pengawas, yaitu inspektorat jenderal;
e. pendukung, yaitu badan dan/atau pusat; dan
f. pelaksana tugas pokok di daerah
dan/atau perwakilan luar negeri sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
(Ayat (1))
a. pemimpin, yaitu Menteri; b. pembantu pemimpin, yaitu
sekretariat jenderal;
c. pelaksana, yaitu direktorat jenderal; d. pengawas, yaitu inspektorat
jenderal; dan
e. pendukung, yaitu badan dan/atau pusat.
Diperkecualikan, Kementerian yang menangani urusan agama, hukum, keuangan, dan keamanan
sebagaimana juga memiliki unsur pelaksana tugas pokok di daerah. (Ayat (2) dan (3))
a. pemimpin, yaitu Menteri; b. pembantu pemimpin, yaitu
sesmen;
c. pelaksana, yaitu deputi; dan d. pengawas, yaitu inspektorat.
(Ayat (4))
UU NO. 39 TAHUN 2008 TENTANG KEMENTERIAN NEGARA
20
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
• Terdapat hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sesuai UU Nomor 23 Tahun 2014 dan UU Nomor 33 Tahun 2004 (?) yang berlandaskan pada asas dekonsentrasi, desentralisasi dan tugas pembantuan.
• Sumber pembiayaan untuk penyelenggaraan pemerintahan Negara dan daerah berasal dari APBN. Dimana dari sumber pembiayaan APBN dimaksud dibelanjakan untuk mendanai kegiatan dekonsentrasi/TP dan instansi vertikal yang terdiri atas:
belanja pusat di pusat (K/L) dan
belanja pusat di daerah.
• Dari belanja APBN dimaksud juga dibelanjakan untuk Daerah guna mendanai kegiatan desentralisasi berupa transfer ke daerah dalam bentuk Dana Perimbangan yang terdiri dari: DBH, DAU, DAK; Dana Otsus; Dana Keistimewaan DIY; dan Dana Transfer Lainnya.
• Sedangkan dana pusat yang di kedaerahkan dari APBN sebagai berikut:
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
Dana Transfer Lainnya
DBH
Dekon / TP
PEMERINTAH PUSAT
Dana Vertikal
Melalui K/L
POLA HUBUNGAN KEUANGAN PUSAT-DAERAH (UU 23/2014 dan UU 33/2004)
APBD
Pendapatan
Daerah Belanja Daerah PAD Lain-Lain Pend.yang sah
Surplus / Penggunaan SILPA
PEMERINTAH DAERAH
Bel Langsung •B. Pegawai •B. Barang &jasa •B. Modal
PELIMPAHAN URUSAN DAN WEWENANG
1 2 3 4
Pembiayaan Lainnya Bel Tdk lgsng
• B. Pegawai
POKJA Bel. Pusat
(Menkeu, Bappenas, K/L, Banggar)
POKJA Bel. Transf. Daerah (MDN, Menkeu, Bappenas & Banggar)
Dana Penyesuaian
• Tunj. Profesi Guru PNSD
• Tamb. Penghasilan Guru PNSD
• Bantuan Op. Sekolah
• DID
• Dana Proyek Pemda & Desen
• Dana Darurat
Desentralisasi
1. Belanja Pusat di Pusat 2. Belanja Pusat Di Daerah
DANA TRANSFER
Keistimewaan DIY
•PDRD
•Hsl Pengel Kekayaan Drh yg di pisahkan
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
24
Sumber Data : Kemenkeu RI
DBH 127,692.52 24.73%
DAU 352,887.85 68.34%
DAK 35,820.68 6.94%
Tunj. Profesi Guru
PNSD 70,252.67 67.28%
Tamsil Guru PNSD 1,096.00 1.05% BOS 31,298.30 29.98% DID 1,664.51 1.59% Dana Proyek
Pemerintah Daerah
dan Desentralisasi 99.58 0.10%
Otsus Papua 4,940.43 29.73% Otsus Papua Barat 2,117.33 12.74% Otsus Aceh 7,057.76 42.48% Tambahan Inf. Papua 2,000.00 12.04% Tambahan Inf. Papua Barat 500.00 3.01%
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
26
Sumber Data : Kemenkeu RI
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
IV. PEMBIAYAAN PENDIDIKAN
ANTARA PEMERINTAH PUSAT
DAN PEMERINTAH DAERAH
Komponen 2012 2013 2014 2015*
1. Anggaran Pendidikan Melalui Belanja Pemerintah Pusat 117,2 126,2 130,3 117 2. Anggaran Pendidikan Melalui Transfer Ke Daerah 186,6 214,1 238,6 254
a. Bagian Anggaran Pendidikan Yang diperkirakan
dalam DBH 1,0 0,9 1,0 b. DAK Pendidikan 10,0 11,1 10,0
c. Bagian Anggaran Pendidikan Yang diperkirakan
dalam DAU 113,9 128,1 135,6
d. Tambahan Penghasilan Guru PNSD 2,9 2,4 1,9 e. Tunjangan Profesi guru 30,6 43,1 60,5 f. Bagian Anggaran Pendidikan Yang diperkirakan dalam
Otsus 3,3 3,7 4,1
g. Dana insentif daerah 1,4 1,4 1,4 h. Bantuan Operasional Sekolah 23,6 23,4 24,1
3. Anggaran Pendidikan Melalui Pengeluaran Pembiayaan 7,0 5,0 - 2,0 Belum Teralokasi 31,4
4. Anggaran Pendidikan (1 + 2 + 3) 310,8 345,3 368,9 404,4
5. Total Belanja Negara 1.548,3 1.726,2 1.842,5 1.800,0 RASIO ANGGARAN PENDIDIKAN (4 : 5 ) X 100% 20,1 20,0 20,0 22,5
POSTUR ANGGARAN PENDIDIKAN
1. BA dalam DBH; 2. DAK Pendidikan; 3. BA dalam DAU; 4. BA dalam OTSUS; 5. Dana BOS;
6. TPG PNSD;
7. DTP (Tamsil) PNSD; 8. DID.
Komponen Anggaran Pendidikan
Anggaran
Pendidikan
Belanja
Pemerintah Pusat Transfer ke Daerah Pengeluaran Pembiayaan
1. Seluruh anggaran pada Kemendikbud;
2. Anggaran pada Kemenag;
3. Anggaran Fungsi Pendidikan pada 18 KL.
Dana Pengembangan Pendidikan.
(dikelola oleh LPDP -Lembaga Pengelola Dana Pendidikan)
30
NO KOMPONEN ANGGARAN Jumlah (Rp. Miliyar)
I Belanja Pemerintah Pusat 130.279.572.499
1 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 80.863.026.701
2 Kementerian Agama 42.566.934.669
3 K/L Lainnya: 7.053.611.075
- Kementerian Keuangan 676.219.200
- Kementerian Pertanian 55.610.000
- Kementerian Perindustrian 471.638.189
- Kemnterian ESDM 79.500.000
- Kementerian Perhubungan 1.700.000.000
- Kementerian Kesehatan 1.320.890.000
- Kementerian Kehutanan 57.537.000
- Kementerian Kelautan dan Perikanan 252.455.000
- Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 250.000.000
- Badan Tenaga Nuklir Nasional 17.000.000
- Kementerian Pemuda dan Olah Raga 1.105.569.000
- Kementerian Pertahanan 131.016.596
- Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 428.500.000
- Perpustakaan Nasional RI 310.000.000
- Kementerian Koperasi dan UKM 215.000.000
- Kementerian Komunikasi dan Informatika 31.865.200
Komponen Anggaran Pendidikan dlm APBN TA 2014
NO KOMPONEN ANGGARAN (APBN 2014) Jumlah (Rp. Miliyar)
II Tranfer Daerah 238.619.487.084
1 Bagian Anggaran Pendidikan yang diperkirakan dalam DBH 982.482.550
2 DAK Pendidikan 10.041.300.000
3 Bagian Anggaran Pendidikan yang diperkirakan dari DAU 135.644.273.026
4 Dana Tambahan Penghasilan Guru (DTPG) PNSD 1.853.600.000
5 Tunjangan Profesi Guru (TPG) 60.540.700.000
6 Bagian Anggaran Pendidikan yang diperkirakan dalam Otsus 4.094.031.908
7 Dana Insentif Daerah (DID) 1.387.800.000
8 Bantuan Operasional Sekolah 24.074.700.000
Sumber: Kemendikbud, 2014
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
V. IMPLEMENTASI KEBIJAKAN
DAN PEMBIAYAAN PENDIDIKAN
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
PERDEFINISI
PEMBIAYAAN/ANGGARAN
PENDIDIKAN DALAM APBD :
1. Urusan Pendidikan :
•
Belanja Langsung (BL)
•
Belanja Tidak Langsung (BTL)
2. Fungsi Pendidikan :
Urusan Pendidikan+BanKeu+Hibah/Bansos yang
target kinerjanya berkorelasi dengan urusan
pendidikan
Tren Belanja APBD Lima Tahun Terakhir
(triliun rupiah)
Catatan:
PROV/KAB/KOTA PROVINSI KAB/KOTA Tren Belanja APBD dan Proporsi Belanja Pegawai
Lima Tahun Terakhir
TOTAL BELANJA BELANJA PEGAWAI
triliun rupiah
42% 40% 38%
Catatan:
Tahun 2014 terdiri dari 538 Prov/Kab/Kota tidak termasuk Kab. Karo
Sumber Data: Diolah dari Perda APBD Ditjen Keuangan Daerah, Kementerian Dalam Negeri, TA 2014
44% 45%
TREN URUSAN PENDIDIKAN
TA 2010 - 2014
Keterangan:
triliun rupiah
KAB/KOTA PROVINSI PROV/KAB/KOTA
Tren Urusan Pendidikan dan Proporsi Belanja Terhadap Total Belanja TA 2010 - 2014
Keterangan:
*) Menggunakan data 459 Kabupaten/Kota yang terinformasi;
**) Menggunakan data 34 Provinsi dan 459 Kabupaten/Kota yang terinformasi;
Persentase Anggaran Urusan Pendidikan terhadap Total Belanja APBD Provinsi TA 2010 - 2014
01. Aceh 10. Lampung 19. Kalimantan Selatan 29. N.T.B 02. Sumatera Utara 11. DKI Jakarta 20. Kalimantan Timur 30. N.T.T 03. Sumatera Barat 12. Jawa Barat 21. Kalimantan Utara 31. Maluku 04. Riau 13. Banten 22. Sulawesi Barat 32. Maluku Utara 05. Kepulauan Riau 14. Jawa Tengah 23. Sulawesi Utara 33. Papua 06. Jambi 15. D.I. Yogyakarta 24. Gorontalo 33. Papua 07. Bengkulu 16. Jawa Timur 25. Sulawesi Tengah 34. Papua Barat 08. Sumatera Selatan 17. Kalimantan Barat 26. Sulawesi Selatan
09. Bangka Belitung 18. Kalimantan Tengah 27. Sulawesi Tenggara 28. Bali
11,31
10,80
UUD ‘
Persentase Anggaran Urusan Pendidikan terhadap Total Belanja APBD Provinsi TA 2014
Sumber Data: Diolah Dari Perda APBD, Ditjen Keuangan Daerah, Kementerian Dalam Negeri, TA 2014
Angka di atas TIDAK TERMASUK Fungsi Pendidikan(program/kegiatan, bantuan keuangan, hibah, bansos dan anggaran
Persentase Anggaran Urusan Pendidikan terhadap Total Belanja APBD Kabupaten/Kota per Provinsi TA 2014
PERSENTASE RATA-RATA
ANGGARAN PENDIDIKAN KABUPATEN/KOTA
TA 2010 - 2014
Catatan:
1. Rata-rata Alokasi Anggaran Pendidikan Kabupaten dan Kota Tahun Anggaran 2010 adalah 30,17% 2. Rata-rata Alokasi Anggaran Pendidikan Kabupaten dan Kota Tahun Anggaran 2011 adalah 36,33% 3. Rata-rata Alokasi Anggaran Pendidikan Kabupaten dan Kota Tahun Anggaran 2012 adalah 35,71% 4. Rata-rata Alokasi Anggaran Pendidikan Kabupaten dan Kota Tahun Anggaran 2013 adalah 31,84% 5. Rata-rata Alokasi Anggaran Pendidikan Kabupaten dan Kota Tahun Anggaran 2014 adalah 32,87%
UUD ‘
Tahun 2014 Menggunakan Data 459 Daerah Kabupaten/Kota; Sumber Data: Ditjen Keuangan Daerah, Kementerian Dalam Negeri.
Persentase Urusan Anggaran Pendidikan terhadap Total Belanja APBD Kabupaten/Kota TA 2010
Catatan:
Rata-rata Alokasi Anggaran Pendidikan Kabupaten dan Kota Tahun Anggaran 2010 adalah 30,17%
30,17
UUD ‘
Persentase Urusan Anggaran Pendidikan terhadap Total Belanja APBD Kabupaten/Kota TA 2011
Catatan:
Rata-rata Alokasi Anggaran Pendidikan Kabupaten dan Kota Tahun Anggaran 2011 adalah 36,33%;
36,33
UUD ‘
Sumber Data: Ditjen Keuangan Daerah, Kementerian Dalam Negeri.
Persentase Urusan Anggaran Pendidikan terhadap Total Belanja APBD Kabupaten/Kota TA 2012
Catatan:
Rata-rata Alokasi Anggaran Pendidikan Kabupaten dan Kota Tahun Anggaran 2012 adalah 35,71%
UUD ‘
35,71
Persentase Urusan Anggaran Pendidikan terhadap Total Belanja APBD Kabupaten/Kota TA 2013
Catatan:
Rata-rata Alokasi Anggaran Pendidikan Kabupaten dan Kota Tahun Anggaran 2013 adalah 31,84%
UUD ‘ 31,84
Sumber Data: Ditjen Keuangan Daerah, Kementerian Dalam Negeri.
Persentase Urusan Anggaran Pendidikan terhadap Total Belanja APBD Kabupaten/Kota TA 2014
UUD ‘
32,87
Perbandingan Anggaran Fungsi Pendidikan Tahun 2013-2014
Sumber: Kemendikbud, 2014
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
VI. PELUANG DAN TANTANGAN
PEMBIAYAAN PENDIDIKAN
ANTARA POLA TRANSFER
DENGAN PENYERAHAN URUSAN
PENDIDIKAN DALAM AZAS
URUSAN
ESENSI PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
• Wajib PMDN 21/2011 PMDN 64/2013
1. Memungut Pajak & Retribusi 2. Memperoleh Dana
Perimbangan
3. Melakukan Pinjaman
1. Sinkronisasi program pusat & daerah 2. Mengelola anggaran secara efisien dan
efektif
3. Menyampaikan Laporan Keuangan yang akuntabel
Pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasos dan fasum, jaminan sosial...
Tujuan OTDA, al: • Efisiensi dan
efektivitas sumber daya daerah
• Pelibatan
masyarakat dlm penyusunan kebijakan daerah • Peningkatan
pelayanan umum dan kesejahteraan masyarakat
KMDN 29/02
Omnibus Regulation
UU 17/2003 UU 1/2004 UU 15/2004
UU 25/2004 UU 33/2004
PP PP PP
UU 32/2004 (Psl 15, 16, 17, 21,22,23
155, 156) dan
UU 23/2014 : Psl 8, 279
s/d 343 PERMENDAGRI 13/06
misal: SAP, dstnya
PP 58/2005
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
PERMENDAGRI 21/11
PERMENDAGRI 32/11 & 39/12
PP 71/10 PP 24/05
LANDASAN KEBIJAKAN
PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH TERMASUK BIDANG PENDIDIKAN (BGN DARI 32 URUSAN)
Pentahapan RPJPN 2005-2025 (UU 17/2007)
RPJMN-I (2005-2009)
Menata kembali NKRI, menbangun Indonesia yang aman dan damai,
yang adil dan demokratis, dengan tingkat kesejahteraan
yang lebih baik
RPJMN-II (2009-2014)
Memantapkan penataan kembali NKRI, meningkatkan
kualitas SDM, membangun kemampuan IPTEK,
memperkuat daya saing perekonomian
RPJMN-III (2015-2019)
Memantapkan pembangunan secara
menyeluruh dengan menekankan pembangunan
keunggulan kompetitif perekonomian yang berbasis pada SDA yang
tersedia, SDM yang berkualitas serta kemampuan IPTEK.
RPJMN-IV (2020-2024)
Mewujudkan manusia Indonesia yang mandiri,
maju, adil dan makmur melalui percepatan pembangunan di segala
bidang dengan struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif
...Menjamin keberlanjutan/kesinambungan program
da kegiata pe ba gu a …
TEMA PEMBANGUNAN PENDIDIKAN
2005-2009 2010-2014 2015-2019 2020-2024 Peningkatan
Kapasitas & Modernisasi
Penguatan Pelayanan
Peningkatan Daya Saing Regional
Peningkatan Daya Saing Internasional
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
VII. STRATEGI DAN SOLUSI
1. Realokasi sebagian dana transfer menjadi dana blockgrants guna memperkuat desentralisasi pendidikan pada APBD sesuai dengan tingkatan pemerintahan yang di earmarked dengan pertimbangan:
a. Bahwa urusan pendidikan telah menjadi kewenangan daerah sesuai azas desentralisasi;
b. Khusus untuk belanja pusat di pusat berdasarkan azas dekonsentrasi dibiayai dari dan atas beban APBN sesuai dengan pasal 282 UU 23/2014; c. Penggunaan pendekatan transfer pusat ke daerah lebih mengedepankan
aspek sumber pembiayaan, namun belum sepenuhnya berorientasi pada penyerahan urusan. Pada tataran implementasi, pembiayaan pendidikan belum berbanding lurus dengan efektivitas, efisiensi dan ekonomis bagi percepatan dan peningkatan kualitas pendidikan di daerah;
d. Mengurangi kelemahan pada tataran implementasi baik berupa penyusunan perencanaan anggaran di daerah (kesesuaiannya dengan siklus APBD), pelaksanaan, penatausahaan, akuntansi, pertanggungjawaban dan pelaporan terutama menyangkut laporan keuangan konsolidasian atas dana transfer dari berbagai jenis belanja, sebagai misal: dana BOS dan DAK pendidikan, utamanya konsolidasian atas belanja modal dan keterlambatan penyaluran dan efektifitas penyerapan yang berimplikasi menjadi SiLPA di daerah.
2. Dengan
cara
itu
sebaliknya
pemerintah
(pusat)/
Kemendikbud fokus kepada penyiapan Norma, Standar,
Prosedur
dan
Kriteria
(NSPK)
dalam
kebijakan
pendidikan (Binwastek oleh Kemendikbud).
3. Sedangkan Kementerian Dalam Negeri dapat intens
melakukan
sinkronisasi
dan
harmonisasi
kebijakan
belanja transfer pusat ke daerah maupun penguatan dan
penajaman
program
pendidikan
melalui
Pedoman
Umum Penyusunan APBD yang setiap tahunnya pada
bulan April diterbitkan bersama-sama dengan K/L
terkait termasuk Kemendikbud.
4. Pembagian Peran Pusat Dan Daerah.
Pusat
fokus pada AKSES
Daerah
fokus pada KUALITAS/MUTU
STRATEGI DAN SOLUSI
AKSES
= f (
ketersediaan
+
keterjangkauan
)
1. Paudisasi: Peningkatan layanan PAUD yang berkualitas
2. Pemerataan Dikdas yang Berkualitas
3. Pendidikan Menengah Universal
4. Peningkatan akses PT,
termasuk pemanfaatan Daring 5. Layanan Sekolah Indonesia di
Luar Negeri dan CLC
…satuan pendidikan (tempat layanan
pendidikan) yang tersedia dan merata di semua wilayah yang ada WNI..
..layanan pendidikan yang dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi
status sosial-ekonomi…
1. Peningkatan bantuan dan
Pemanfaatan BOS
2. Peningkatan alokasi dan
pemanfaatan BOPTN
3. Penyediaan Bantuan Siswa/
Mahasiswa Miskin
Penambahan dan Pemerataan
Daya Tampung Penyediaan Biaya Operasional Sekolah/PT dan Bantuan Personal Siswa Miskin: kebijakan
MUTU
= f (
Pendidik
+
Kurikulum +
Sarana
)
1. Sertifikasi Pendidik 2. Kualifikasi Pendidik 3. SM3T
4. Pendidika Profesi Guru (PPG) dan Pelatihan berkelanjutan
5. Reformasi/penataan ulang LPTK
…Pendidik yang profesional
dan merata di semua wilayah..
..jaminan sarana prasarana yang memenuhi standar
nasional pendidikan …
1. Rehabilitasi ruang kelas 2. Penguatan e-edukasi
3. Penyediaan Laboratorium, Workshop, dan Perpustakaan
Peningkatan Kualitas dan Pemerataan Pendidik
Penyediaan Sarana Prasarana Pendidikan sesuai SNP
kebijakan
1. Penuntasan Implementasi Kurikulum 2013
2. Peningkatan kualitas penyelenggaraan Ujian Nasional
3. Peningkatan relevansi pendidikan
Kurikulum 2013
...Implementasi
Kurikulum 2013…
1. Peningkatan Kualifikasi dosen (S2 dan S3) 2. Penguatan Kualitas dan
Relevansi Penelitian
3. Peningkatan keselarasan PT dengan dunia kerja
Peningkatan kualitas dan relevansi PT
kebijakan kebijakan
VIII. KEBIJAKAN (TRANSISIONAL)
PENYELENGGARAAN URUSAN
PEMERINTAHAN (KHUSUS
PENGELOLAAN PENDIDIKAN
MENENGAH) SETELAH DITETAPKANNYA
UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2014
TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH
Kebijakan (Transisional) Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan (Khusus Pengelolaan Pendidikan Menengah)
setelah ditetapkannya
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah
Dengan telah ditetapkannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah terjadi beberapa perubahan mendasar terkait dengan penyelenggaraan urusan pemerintahan di daerah :
1. Pasal 404 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 menyatakan bahwa serah terima personel, pendanaan, sarana dan prasarana, serta dokumen (P3D) sebagai akibat pembagian urusan pemerintahan antara Pemerintah Pusat, daerah provinsi dan daerah kabupaten/kota yang diatur berdasarkan Undang-Undang ini dilakukan paling lama 2 (dua) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini diundangkan.
2. Dengan memperhatikan ketentuan Pasal 404 diatas, siklus anggaran dalam APBN dan APBD, serta untuk menghindari stagnasi penyelenggaraan pemerintahan daerah yang berakibat terhentinya pelayanan kepada masyarakat, maka penyelenggaraan urusan pemerintahan konkuren yang bersifat pelayanan kepada masyarakat luas dan masif, yang pelaksanaannya tidak dapat ditunda dan tidak dapat dilaksanakan tanpa dukungan P3D, tetap dilaksanakan oleh tingkatan/susunan pemerintahan yang saat ini menyelenggarakan urusan pemerintahan konkuren tersebut sampai dengan diserahkannya P3D. 60
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
3. Urusan pemerintahan konkuren meliputi penyelenggaraan sub urusan: a. pengelolaan pendidikan menengah;
b. pengelolaan terminal penumpang tipe A dan tipe B; c. pelaksanaan rehabilitasi di luar kawasan hutan negara;
d. pelaksanaan perlindungan hutan di hutan lindung dan hutan produksi;
e. pemberdayaan masyarakat di bidang kehutanan; f. pelaksanaan penyuluhan kehutanan provinsi;
g. pelaksanaan metrologi legal berupa tera, tera ulang dan pengawasan; h. pengelolaan tenaga penyuluh KB/petugas lapangan KB
(PKB/PLKB);
i. pengelolaan tenaga pengawas ketenagakerjaan;
j. penyelenggaraan penyuluhan perikanan nasional; dan
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
4. Penyelenggaraan urusan pemerintahan konkuren di luar urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada angka 1 dilaksanakan oleh susunan/tingkatan pemerintahan sesuai dengan pembagian urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014.
5. Masa transisi pengalihan urusan pemerintahan dimaksud hingga Oktober tahun 2016 sesuai batas waktu serah terima P3D yang diatur dalam pasal 404 UU No. 23/2014 sampai dapat diterbitkannya turunan berupa PP/produk perundangan lainnya selambat-lambatnya 2 tahun terhitung sejak diberlakukannya UU No. 23/2014.
6. Dengan demikian Kebijakan APBD TA 2015 terkait dengan urusan pengelolaan pendidikan menengah tidak ada yang berubah (As It Is). Begitu juga halnya dengan TA 2016.
7. Penataan/perubahan perangkat daerah untuk melaksanakan urusan pemerintahan konkuren hanya dapat dilakukan setelah ditetapkannya hasil pemetaan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014.
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
8. Untuk itu Gubernur, bupati dan walikota :
Menyelesaikan secara seksama inventarisasi P3D antar tingkatan /susunan pemerintahan sebagai akibat pengalihan urusan pemerintahan konkuren paling lambat tanggal 31 Maret 2016 dan serah terima personel, sarana dan prasarana serta dokumen (P2D) paling lambat tanggal 2 Oktober 2016.
Hasil inventarisasi P3D tersebut menjadi dokumen dan dasar penyusunan RKPD, KUA/PPAS dan Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD Provinsi / Kabupaten/Kota TA 2017.
Gubernur, bupati/walikota segera berkoordinasi terkait dengan pengalihan urusan pemerintahan konkuren.
Melakukan koordinasi dengan kementerian/lembaga terkait yang membidangi masing-masing urusan pemerintahan dan dapat difasilitasi oleh Kementerian Dalam Negeri;
9. Kesimpulan :
Prinsip penganggaran, pelaksanaan, penatausahaan, akuntansi dan pelaporan pada APBD TA 2016 terkait dengan pengelolaan pendidikan menengah tidak dikenal dengan istilah “cut off” pada posisi 2 Oktober 2016 sebagai akibat pemberlakuan Pasal 404 UU No. 23 Tahun 2014. Dengan argumen bahwa DAU, DAK dan Dana Transfer Lainnya (Tunj. Profesi Guru PNSD, Tamb. Penghasilan Guru PNSD) pada tahun dimaksud tidak dapat dilakukan pengalihan/pemotongan begitu saja dari semula kewenangan Kab/Kota (belanja 9 bulan) beralih kepada Pemerintah Provinsi (belanja 3 bulan). Dimana terhadap alokasi anggaran dimaksud telah ditetapkan dengan UU APBN maupun Perpres.
Dengan demikian beralihnya kewenangan dan penganggaran dari Kab/Kota dalam urusan pengelolaan pendidikan menengah kepada Provinsi berlaku efektif terhitung sejak 1 Januari 2017.
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
Rancangan Permendagri Ttg Pedoman penyusunan APBD TA 2016 terkait dengan pengelolaan pendidikan menengah yang sedang disiapkan oleh Menteri Dalam Negeri terbit selambat-lambatnya April atau Mei 2015. Perlu dipertimbangkan oleh Kemendikbud kebijakan pendidikan menengah yang diacu pada RPJMN 2015-2019 untuk dapat diakomodasi dalam Pedoman dimaksud.
Pedoman penyusunan APBD TA 2017 terkait dengan pengelolaan pendidikan menengah yang disiapkan oleh Menteri Dalam Negeri selambat-lambatnya April atau Mei 2016 sudah dalam bentuk implementasi kebijakan alokasi anggaran pendidikan menengah yang menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi untuk TA 2017 pada APBD. Dengan catatan bahwa daerah telah dapat menyelesaikan secara seksama inventarisasi P3D antar tingkatan/susunan pemerintahan sebagai akibat pengalihan urusan pemerintahan konkuren paling lambat tanggal 31 Maret 2016 dan serah terima personel, sarana dan prasarana serta dokumen (P2D) paling lambat tanggal 2 Oktober 2016.
LAMPIRAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH
PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN KONKUREN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH PROVINSI DAN DAERAH KABUPATEN/KOTA
I. MATRIKS PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN KONKUREN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH PROVINSI DAN DAERAH KABUPATEN/KOTA
A. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PENDIDIKAN
NO SUB
URUSAN
PEMERINTAH PUSAT DAERAH
PROVINSI usia dini dan pendidikan non-formal
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
KEMENTERIAN DALAM NEGERI
2 Kurikulum. Penetapan kurikulum nasional pendidikan menengah,
pendidikan dasar, pendidikan anak usia dini, dan pendidikan nonformal. anak usia dini, dan pendidikan non formal.
3 Akreditasi. Akreditasi perguruan tinggi, pendidikan menengah, pendidikan dasar, pendidikan anak usia dini, dan
pendidikan nonformal.
---
KEMENTERIAN DALAM NEGERI KABUPATEN/
KOTA
1 2 3 4 5
4 Pendidik dan Tenaga
Kependidika n
a. Pengendalian
formasi pendidik, pemindahan
pendidik,dan pengembangan karier pendidik.
b. Pemindahan
pendidik dan tenaga kependidikan lintas
pendidik dan tenaga kependidikan dalam Daerah
kabupaten/kota.
Lanjutan…
69
NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT
DAERAH PROVINSI DAERAH KABUPATEN/KOTA
1 2 3 4 5
5 Perizinan Pendidikan.
a. Penerbitan izin perguruan tinggi swasta yang diselenggarakan oleh masyarakat.
b. Penerbitan izin penyelenggaraan satuan pendidikan asing.
a. Penerbitan izin
pendidikan menengah yang diselenggarakan oleh masyarakat.
b. Penerbitan izin
pendidikan khusus yang diselenggarakan oleh masyarakat.
a. Penerbitan
izin pendidikan dasar yang
diselenggarakan oleh masyarakat.
b. Penerbitan izin pendidikan anak usia dini dan pendidikan non formal yang
diselenggarakan oleh masyarakat
6 Bahasa dan Sastra.
Pembinaan
bahasa dan sastra Indonesia.
Pembinaan bahasa dan sastra yang penuturnya lintas Daerah
kabupaten/kota dalam 1 (satu) Daerah provinsi.
Pembinaan bahasa dan sastra yang penuturnya dalam Daerah
kabupaten/kota.
Lanjutan…
LOGO
No Sub
Urusan Pemerintah Pusat Daerah Provinsi Daerah Kab/Kota
1. Kebudayaa n
a. Pengelolaan kebudayaan yang masyarakat
pelakunya lintas Daerah Provinsi.
a. Pengelolaan kebudayaan yang masyarakat pelakunya lintas Daerah
kabupaten/kota dalam 1 (satu) Daerah provinsi.
a. Pengelolaan kebudayaan yang masyarakat
pelakunya dalam Daerah kabupaten/kota
b. Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) komunal di bidang kebudayaan.
b. Pelestarian tradisi yang masyarakat penganutnya lintas Daerah
kabupaten/kota dalam 1 (satu) Daerah provinsi.
b. Pelestarian tradisi yang masyarakat penganutnya dalam
Daerahkabupaten/kota.
c. Pelestarian tradisi yang masyarakat penganutnya lintas Daerah provinsi.
c. Pembinaan lembaga adat yang penganutnya lintas Daerah
kabupaten/kota dalam 1 (satu) Daerah provinsi
c. Pembinaan lembaga adat yang penganutnya dalam Daerah kabupaten/kota.
d. Pembinaan lembaga kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
LOGO
No Sub Urusan Pemerintah Pusat Daerah Provinsi Daerah Kab/Kota
2. Perfilman Nasional
Pembinaan perfilman nasional
---
---3. Kesenian Tradisiona
Pembinaan kesenian yang masyarakat pelakunya lintas Daerah provinsi.
Pembinaan kesenian yang masyarakat pelakunya lintas Daerah kabupaten/kota
Pembinaan kesenian yang masyarakat pelakunya dalam Daerah kabupaten/kota
4. Sejarah Pembinaan sejarah nasional Pembinaan sejarah lokal provinsi Pembinaan sejarah lokal kabupaten/kota
5. Cagar Budaya a. Registrasi nasional cagar budaya
b. Penetapan cagar budaya peringkat nasional
c. Pengelolaan cagar budaya peringkat nasional
d. Penerbitan izin membawa cagar budaya ke luar negeri
a. Penetapan cagar budaya peringkat provinsi
b. Pengelolaan cagar budaya Peringkat provinsi
c. Penerbitan izin membawa cagar budaya ke luar Daerah provinsi
a. Penetapan cagar budaya peringkat Kabupaten/Kota b. Pengelolaan cagar budaya Peringkat Kabupaten/Kota c. Penerbitan izin membawa
cagar budaya ke luar Daerah Kabupaten/Kota dalam 1 (satu) Daerah Provinsi
6. Permuseuman a. Penerbitan register museum b. Pengelolaan museum
nasional
Pengelolaan museum provinsi Pengelolaan museum kabupaten/kota
Terima Kasih
B I O D A T A
Nama : DR. Drs.REYDONNYZAR MOENEK., M.Devt.M. Tempat/Tgl. Lahir : Padang, 14 Nopember 1960
Agama : Islam
Alamat Kantor : Kementerian Dalam Negeri
Jl. Medan Merdeka Utara Nomor 7 Jakarta Pusat Tel/Fax: 021-3811101
Hp : 0818710342
Email : [email protected]
Pgkt/Gol./Ruang : Pembina Utama Madya (IV/d)
PENDIDIKAN
1987 : S1 Tugas Belajar pada UNIVERSITAS GADJAH MADA Yogyakarta Jurusan Ilmu Administrasi Negara.
1993–1994 : S2 (Pasca Sarjana) pada ASIAN INSTITUTE Of MANAGEMENT (AIM)–Makati, Metro Manila, Phillippines.Master in Development ManagementM. Devt. M)–Analyst Investasi, Keuangan, Desentralisasi Fiskal danPublic-Private Partnership Specialist.
1994 : “ExchangeProgram”between Asian Institute Of Management(AIM)Phillippines with Australian Universities, Australia. 2007 : Post Graduated(Candidate Ph.D) pada Local Autonomy College University of Tokyo Jepang, spesialis“Local Government &
RegionalFinance“. Disertasi:“Searching for the Equilibrium : Reformatting the National Integrity, Fiscal DecentralizationIndonesia’s Cases“. 2014 : Doktor Ilmu Pemerintahan Bidang Kebijakan Fiskal pada Pascasarjana Universitas Padjadjaran Bandung
BAHASA
• Inggris (Excellent) • Perancis (Excellent) • Filipino/Tagalog (Fair) • Japanese (Fair)
PENGALAMAN / PEKERJAAN
Pengajar / Pengajar Tamu, Konsultan Lepas pada berbagai Institusi bid. Ekonomi, Keu, Manajemen & Desentralisasi Fiskal dalam dan luar negeri.
Penyusun Modul berbagai Pelatihan/Pendidikan Ekonomi, Keuangan dan Manajemen.
Pembicara/Keynote Speakers/Organizer Seminar Dalam dan Luar Negeri bidang Ekonomi, Politik, Keuangan, Manajemen & Desentralisasi Fiskal.
Saksi Ahli Bidang Pemerintahan Daerah dan Keuangan Daerah.
PENGHARGAAN
Satyalancana Karya Satya 30 Tahun
Penghargaan dalam bidang“Environment Diplomacy RelationAward”padathe 10thRepublic of Korea Environmental CultureAward”,diSeoul, Korea Selatan Thn 2012
“ElshintaAward Tahun 2012” sebagai the Most FavouriteJubir/Kapuspen Berdasarkan Polling.
JABATAN
1. Direktur Administrasi Pendapatan dan Investasi Daerah (APID pada Ditjen BAKD Depdagri) (Juni 2008–September 2010); 2. Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri/Kepala Pusat Penerangan (2010–Juni 2013);