• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengan Perawat Dalam Pelaksanaan Mentorship di RSUP H. Adam Malik Medan Chapter III VI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengan Perawat Dalam Pelaksanaan Mentorship di RSUP H. Adam Malik Medan Chapter III VI"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

29 BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi, yaitu suatu pendekatan yang bertujuan untuk menjelaskan konsep dan makna mendasar dari suatu fenomena yang dialami seseorang. Fenomenologi adalah studi tentang “fenomena” yaitu penampilan, atau hal-hal yang muncul dalam pengalaman

seseorang atau suatu pendekatan yang bertujuan untuk menjelaskan konsep dan makna mendasar dari suatu fenomena yang dialami seseorang (Polit & Beck, 2012).

Fenomena yang diteliti dalam penelitian ini adalah pengalaman perawat dalam pelaksanaan mentorship di RSUP H. Adam Malik Medan. Pengalaman perawat akan digali berdasarkan sudut pandang dan pengalaman mereka, maka penelitian ini menggunakan fenomenologi deskriptif.

Polit dan Beck (2012), menyatakan fenomenologi deskriptif adalah pengalaman yang secara sadar dialami oleh partisipan dan hal-hal termasuk mendengar, melihat, percaya, merasa, mengingat, memutuskan, mengevaluasi dan bertindak. Peneliti melakukan langkah-langkah dengan kaidah fenomenologi deskriptif yaitu mengidentifikasi tiga langkah dalam proses fenomenologi deskriptif, yaitu intuiting, analyzing, describing. Pada langkah pertama; intuiting, peneliti menyatu secara total dengan fenomena perawat dalam pelaksanaan mentorship dengan mempelajari berbagai literatur. Proses pengumpulan data,

(2)

peneliti menjadi alat pengumpul data dan mendengarkan deskripsi yang diberikan perawat selama wawancara berlangsung. Selanjutnya data tentang pengalaman ditranskripkan dan ditelaah berulang-ulang. Pada langkah kedua; analyzing, peneliti mengidentifikasi esensi fenomena pengalaman dengan mengeksplorasi hubungan dan keterkaitan antara elemen-elemen tertentu dengan fenomena tersebut. Selanjutnya pada langkah ketiga; describing, peneliti mengkomunikasikan dan memberikan gambaran tertulis dari elemen atau esensi yang kritikal dideskripsikan secara terpisah dan kemudian dalam konteks hubungannya terhadap satu sama lain dari pengalaman perawat tersebut.

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

3.2.1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2016, karena dengan pertimbangan:

1. RSUP H. Adam Malik Medan merupakan rumah sakit pemerintah kelas A sebagai rumah sakit model dan percontohan di kota Medan

2. RSUP H. Adam Malik Medan telah melaksanakan mentorship yang bersifat informal.

3.2.2. Waktu Penelitian

(3)

31

3.3. Partisipan

Dalam kegiatan penelitian yang menjadi partisipan adalah para partisipan yang berkompeten dan mempunyai relevansi dengan penelitian. Partisipan penelitian merupakan subjek yang memberikan informasi tentang fenomena-fenomena situasi sosial yang berlaku di lapangan. Partisipan dalam penelitian ini ditentukan dengan teknik purposive sampling yaitu partisipan yang dipilih atau yang dituju diyakini berkompeten dan mau memberikan informasi yang terkait dengan masalah yang diteliti. Karena masalah yang diteliti berkaitan dengan pelaksanaan mentorship, maka partisipan yang terkait adalah perawat.

Prinsip dasar sampling dalam penelitian kualitatif adalah saturasi data, yaitu sampling sampai pada suatu titik kejenuhan dimana tidak ada informasi baru yang didapatkan dan pengalaman tercapai (Polit & Beck, 2012). Partisipan dalam penelitian ini sebelumnya direncanakan 12-15 partisipan dengan kriteria inklusi partisipan yaitu; perawat dengan jenjang karir PK 2 dan PK 3, kepala ruangan dan ketua tim dan di ruang Penyakit Jantung Terpadu (PJT). Namun pada saat pengumpulan data ada partisipan yang sudah dipindah tugaskan ke instalasi lain, ada yang cuti dan ada yang menolak untuk dijadikan partisipan dalam penelitian, sehingga partisipan dalam penelitian ini berjumlah 9 orang.

3.4. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dengan metode, alat dan prosedur pengumpulan data sebagai berikut:

(4)

3.4.1. Metode Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode wawancara secara mendalam (in-depth interview) yang dilakukan oleh peneliti sendiri dengan durasi 60 menit. Metode wawancara secara mendalam (in-depth interview) atau disebut juga sebagai wawancara tak terstruktur bertujuan untuk memperoleh bentuk-bentuk informasi tertentu dari semua partisipan, tetapi susunan kata dan urutannya disesuaikan dengan ciri-ciri tiap partisipan. Metode wawancara mendalam menggunakan panduan wawancara yang berisi butir-butir pertanyaan untuk diajukan kepada partisipan. Hal ini hanya untuk memudahkan peneliti dalam melakukan wawancara, menggali informasi, keterangan, data, dan selanjutnya tergantung improvisasi dari peneliti sewaktu berada di lokasi penelitian.

3.4.2. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah kuisioner data demografi, panduan wawancara dan field note. Alat pengumpulan data utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan kata lain peneliti sebagai instrumen penelitian. Peneliti melakukan studi fenomenologi dengan menggunakan dirinya sendiri untuk mengumpulkan data yang kaya tentang pengalaman perawat sebagai pelaksana dalam kegiatan mentorship.

(5)

33

Panduan wawancara tersebut berisi pertanyaan yang diajukan kepada patisipan yang sebelumnya panduan wawancara dan sudah dilakukan uji validitas kepada 3 orang expert, dimana pertanyaan tersebut dibuat sendiri oleh peneliti. Panduan wawancara dibuat berdasarkan landasan teori yang relevan dengan masalah yang akan digali dalam penelitian. Panduan wawancara dibuat mendalam, dimulai dengan pertanyaan terbuka, dan tidak bersifat kaku. Pertanyaan dapat berkembang sesuai proses yang sedang berlangsung selama wawancara tanpa meninggalkan landasan teori yang telah ditetapkan. Panduan wawancara dibuat untuk memudahkan peneliti supaya jalannya wawancara menjadi terarah dan sesuai dengan tujuan penelitian. Selain itu panduan wawancara digunakan untuk mengingatkan peneliti terhadap pokok permasalahan yang dibahas (Speziale & Carpenter, 2003).

Catatan lapangan (field note) juga digunakan peneliti untuk mengumpulkan data. Catatan lapangan (field note) merupakan catatan tertulis tentang apa yang didengar, dilihat, dialami, dipikirkan dalam rangka pengumpulan data dan refleksi terhadap data dalam penelitian kualitatif. Catatan lapangan berupa dokumentasi respon non verbal selama proses wawancara berlangsung.

Hasil catatan lapangan pada peneltian ini berisi tanggal, waktu, suasana tempat, deskripsi atau gambaran partisipan, serta respon non verbal partisipan selama proses wawancara. Hasil catatan lapangan tersebut memperkuat temuan observasi sehingga memperkaya data yang diperoleh (thick description). Peneliti menggunakan alat perekam suara recorder untuk merekam percakapan selama wawancara. Kemudian hasil wawancara diketik dalam bentuk transkrip.

(6)

3.4.3. Prosedur Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data dilakukan setelah peneliti mendapatkan surat izin lulus uji etik (ethical clearence) dan izin penelitian dari Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Surat tersebut diserahkan kepada bagian penelitian dan pengembangan RSUP.H. Adam Malik Medan. Berdasarkan izin dari rumah sakit tempat penelitian, peneliti menyampaikan surat izin tersebut ke bagian instalasi Ruang Penyakit Jantung Terpadu (PJT) yaitu instalasi yang dijadikan peneliti sebagai tempat penelitian. Setelah mendapat izin dari instalasi PJT, peneliti mengunjungi ruangan rawat inap yang akan dijadikan tempat penelitian, ruangan yang dijadikan tempat penelitian adalah lantai 2, 3 dan 4. Sebelum melakukan wawancara terhadap partisipan pertama, peneliti melakukan pilot study yang bertujuan sebagai latihan dalam melakukan teknik wawancara. Pilot study dilakukan pada 1 partisipan, dan dilakukan di ruang RA4. Setelah itu, hasil wawancara dari pilot study dibuat dalam bentuk transkrip. Selanjutnya peneliti mengkonsultasikan hasil dari pilot study dengan pembimbing. Setelah mendapat persetujuan pembimbing, kemudian peneliti melanjutkan wawancara kepada partisipan berikutnya.

(7)

35

Selanjutnya peneliti memberikan penjelasan kepada partisipan tentang maksud dan tujuan penelitian. Setelah itu peneliti memberikan informed consent untuk mendapatkan persetujuan menjadi partisipan dalam penelitian ini. Kemudian jika partisipan bersedia, dilanjutkan dengan membuat kontrak waktu dan tempat untuk wawancara. Semua wawancara dilakukan dengan kondisi tenang, nyaman dan menjaga privasi partisipan.

Tahap selanjutnya, setelah kesepakatan didapat, sesuai dengan kontrak yang telah disepakati bersama partisipan. Peneliti meminta izin untuk merekam percakapan selama wawancara berlangsung. Wawancara dilakukan dengan metode indepth interview dengan durasi 60 menit. Pertanyaan yang diajukan selama wawancara berdasarkan panduan wawancara yang telah ada. Kemudian melanjutkan mengajukan berbagai pertanyaan dengan menggunakan teknik probing.

Teknik diam (silent) juga digunakan peneliti sebagai cara untuk memberikan kesempatan kepada partisipan untuk mengingat kembali dan menceritakan pengalamannya. Pada tahap wawancara berlangsung peneliti juga berupaya untuk tidak mengarahkan jawaban partisipan dan membiarkan pastisipan mengungkapkan pengalamannya secara bebas terhadap pertanyaan yang diajukan selama proses wawancara sehingga data yang diperoleh merupakan informasi alamiah yang sesuai dengan pengalaman partisipan.

Setelah peneliti mendapat jawaban terhadap seluruh pertanyaan, penelti mengucapkan terima kasih dan mengadakan perjanjian kembali jika nanti masih ada data yang masih diperlukan dan untuk melakukan validasi hasil transkrip yang

(8)

nantinya dibuat peneliti. Tahap selanjutnya peneliti membuat hasil wawancara ke dalam bentuk transkrip, setelah transkrip selesai dibuat oleh peneliti, peneliti melakukan member chek kepada partisipan, hal ini dilakukan peneliti untuk meyakinkan kesesuaian dengan fakta yang telah diungkapkan partisipan, setelah semua transkrip dibaca oleh masing-masing partisipan dan dirasa sesuai dengan yang diungkapkan, peneliti meminta partisipan untuk menandatangani transkrip tersebut, sesuai dengan kolom member chek yang telah disediakan peneliti. Tahap akhir peneliti menyampaikan bahwa proses penelitian telah selesai kepada partisipan.

3.5. Variabel dan Defenisi Operasional

Variabel penelitian ini adalah pengalaman perawat dalam melaksanakan program mentorship. Definisi operasional pengalaman perawat dalam melaksanakan program mentorhip yaitu suatu metode bimbingan dan pembelajaran yang dilakukan berdasarkan jenjang karir dan dilakukan oleh 1 orang yang berpengalaman (mentor) kepada 1 orang yang kurang dan atau tidak berpengalaman (mentee) melalui kegitan belajar, bimbingan dan pengawasan dalam hal tindakan keperawatan dan pelayanan kesehatan yang sebelumnya tergantung menjadi mandiri dalam melaksanakan setiap tindakan keperawatan dan pelayanan kesehatan.

3.6. Metode Analisis Data

(9)

37

pendekatan dari Colaizzi (1978, dalam Speziale & Carpenter, 2003) karena metode ini memberikan langkah-langkah yang sederhana, jelas, dan rinci. Tahapan metode analisis data dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Membaca dan menyalin seluruh deskripsi wawancara yang telah diungkapkan oleh partisipan.

Dalam proses analisis ini, pernyataan partisipan ditranskripsi dari audio rekaman wawancara dengan masing-masing partisipan. Menurut Colaizzi (1978a), narasi tidak perlu ditulis kata demi kata, asalkan esensi dari apa yang partisipan sampaikan pada saat wawancara terjaring dalam transkrip. Transkrip wawancara kemudian divalidasi oleh partisipan yang bersangkutan.

2. Melakukan ekstraksi terhadap pernyataan signifikan (pernyataan yang secara langsung berhubungan dengan fenomena yang diteliti).

Setiap pernyataan dalam transkrip partisipan yang berhubungan langsung dengan fenomena yang diteliti dianggap signifikan. Pernyataan yang signifikan diekstraksi dari masing-masing transkrip dan diberikan nomor. Pernyataan signifikan secara numerik dimasukkan ke dalam daftar (mis., 1,2,3,4, ....) yaitu kumpulan dari seluruh pernyataan signifikan.

3. Menguraikan makna yang terkandung dalam pernyataan signifikan.

Dalam tahap analisis ini, Colaizzi (1978a) menyarankan agar peneliti berupaya untuk memformulasikan kembali pernyataan signifikan umum diekstraksi dari transkrip partisipan.

4. Menggabungkan makna yang dirumuskan ke dalam kelompok tema.

Colaizzi (1978a) menyarankan peneliti untuk menetapkan atau mengatur makna yang telah dirumuskan ke dalam kelompok sejenis. Dengan kata lain,

(10)

makna yang dirumuskan dikelompokkan ke dalam kelompok tema. Artinya, beberapa pernyataan mungkin berhubungan.

5. Mengembangkan sebuah deskripsi tema dengan lengkap (deskripsi yang komprehensif dari pengalaman yang diungkapkan partisipan)

Sebuah deskripsi yang lengkap dikembangkan melalui sintesis dari semua kelompok tema dan makna yang dirumuskan dijelaskan oleh peneliti.

6. Mengidentifikasi landasan struktur dari fenomena tersebut.

Struktur dasar mengacu kepada esensi dari fenomena pengalaman yang diungkapkan dengan analisis ketat dari setiap deskripsi lengkap dari fenomena tersebut.

7. Kembali ke partisipan untuk melakukan validasi.

Sebuah janji untuk tindak lanjut dibuat antara peneliti dengan masing – masing partisipan untuk tujuan memvalidasi esensi dari fenomena dengan partisipan. Setiap perubahan yang dibuat disesuaikan dengan umpan balik partisipan untuk memastikan makna yang dimaksudkan partisipan tersampaikan dalam struktur dasar dari fenomena tersebut. Integrasi dari informasi tambahan oleh partisipan untuk dimasukkan ke dalam deskripsi final dari fenomena yang terjadi saat ini.

(11)

39

3.7. Keabsahan Data

Lincoln dan Guba (1994, dalam Polit & Beck, 2012) mengemukakan bahwa tingkat keabsahan data (trustworthiness of data) hasil penelitian dapat dipercaya dengan memvalidasi data menurut beberapa kriteria, yaitu credibility, transferability, dependability, confirmability dan authenticity.

Credibility mengacu pada keyakinan kebenaran data dan interpretasi data. Peneliti kualitatif harus berusaha untuk membangun kepercayaan dalam kebenaran temuan bagi peserta dan konteks penelitian. Kredibilitas melibatkan dua aspek; pertama, melakukan penelitian dengan cara yang dapat meningkatkan kepercayaan dari temuan, dan kedua, mengambil langkah-langkah untuk menunjukkan kredibilitas dalam laporan penelitian. Beberapa teknik yang dapat dilakukan peneliti untuk mempertahankan credibility antara lain teknik prolonged engagement dan member check.

Transferability mengacu pada sejauh mana hasil temuan dapat ditransfer atau diterapkan pada kelompok atau populasi yang lain. Hal ini bergantung pada pengetahuan seorang peneliti tentang konteks pengirim dan konteks penerima. Peneliti akan menguraikan secara rinci tentang data terkait dengan latar belakang dan fenomena yang terjadi serta temuan di tempat penelitian untuk memungkinkan perbandingan yang akan dibuat tentang temuan yang akan didapat. Semua data tersebut dibuat dalam satu deskripsi tebal (thick description) untuk memungkinkan seseorang tertarik dalam membuat transfer untuk mencapai kesimpulan apakah transfer dapat dipikirkan sebagai kemungkinan.

(12)

Dependability mengacu pada stabilitas (reliability) data dari waktu ke waktu dan kondisi.Artinya bahwa jika pekerjaan itu diulang dalam konteks yang sama, dengan metode yang sama dan dengan peserta yang sama maka hasil yang sama akan diperoleh. Peneliti melaporkan secara detail setiap proses penelitian kepada pembimbing untuk menilai apakah proses dan hasil yang diperoleh sudah sesuai sehingga data yang diperoleh dari hasil penelitian dapat lebih objektif.

Confirmability mengacu pada objektifitas atau netralitas data, dimana tercapai persetujuan antara dua orang atau lebih tentang relevansi dan arti data. Confirmability tercapai jika peneliti dapat meyakinkan orang lain bahwa data yang dikumpulkan adalah data yang objektif, seperti apa adanya di lapangan. Peneliti melakukan teknik triangulasi data. Triangulasi data dilakukan dengan melakukan pengambilan data dengan cara In-depth interview dan self report.

(13)

41

3.8. Pertimbangan Etik

Pengambilan data dilakukan setelah peneliti mendapatkan rekomendasi dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Setelah mendapatkan izin, selanjutnya peneliti mencari partisipan yang sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Partisipan dalam hal ini adalah Perawat Klinik 2 dan 3 (PK 2 dan PK 3), kepala ruangan dan ketua tim, walaupun demikian peneliti tetap mempergunakan etika penelitian untuk mengantisipasi dampak yang timbul saat penelitian berlangsung.

Tahap awal, peneliti menjelaskan tujuan dari penelitian dan memberikan informed consent berisi informasi penelitian, menjelaskan tujuan penelitian, prosedur, resiko, ketidaknyamanan dan keuntungan serta harapan atas patisipasi individu dalam penelitian. Secara operasional, peneliti memberikan lembaran informed consent yang bila disetujui partisipan ditandatangani dan bila tidak, partisipan bebas atas tindakannya. Individu memiliki kebebasan untuk memilih tanpa kontrol eksternal, ia dapat menentukan apakah akan berperan serta dalam penelitian ini atau tidak, ia dapat saja menarik diri dari penelitian tanpa ada konsekuensi (Creswell, 2003).

Tahap selanjutnya, peneliti memperhatikan hak privasi dan martabat (Right to privacy and dignity) yaitu dilakukan peneliti dengan menyapa/ memperlakukan partisipan sesuai dengan keinginan mereka untuk diperlakukan. Memberikan lingkungan yang dapat menjamin kenyamanan partisipan untuk mendapatkan privasi saat pengambilan data/wawancara dilakukan, lokasi dan waktu disepakati sesuai dengan yang diinginkan partisipan. Demi menjaga privasi,

(14)
(15)

43 BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1.Gambaran Umum RSUP H. Adam Malik Medan

RSUP H. Adam Malik merupakan pusat rujukan dari berbagai daerah di seluruh provinsi Sumatera Utara. RSUP H. Adam Malik dikelola oleh pemerintah pusat dengan pemerintah daerah provinsi Sumatera Utara, terletak di lahan yang luas di pinggiran kota Medan yang beralamat di Jalan Bunga Lao no 17 Medan. RSUP H. Adam Malik Medan pada tahun 1990 sebagai rumah sakit kelas A sesuai dengan SK Menkes No.335/Menkes/VII/1990, dan pada tahun 1991 sebagai rumah sakit pendidikan dengan SK Menkes No.502/Menkes/SK/IX/1991. RSUP H. Adam Malik Medan mulai beroperasi secara menyeluruh pada tahun 1993 yang diresmikan langsung oleh mantan presiden RI yaitu H.Soeharto. RSUP H Adam Malik Medan merupakan unit organisasi di lingkungan Departemen Kesehatan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Pelayanan Medik. Visi RSUP H.Adam Malik Medan yaitu “Menjadi Rumah Sakit Pendidikan

dan Pusat Rujukan Nasional yang terbaik dan bermutu di Indonesia pada tahun 2019”, dengan Misi :1) melaksanakan pelayanan, pendidikan, penelitian dan pelatihan di bidang kesehatan yang paripurna, bermutu dan terjangkau, 2) melaksanakan pengembangan kompetensi SDM secara berkesinambungan, 3) mengampu RS jejaring dan rumah sakit di wilayah Sumatera.

RSUP H. Adam Malik merupakan Rumah Sakit yang melaksanakan Mentorship yang bersifat informal, dalam penelitian ini peneliti berfokus pada

(16)

ruangan Penyakit Jantung Terpadu (PJT). Wawancara dilakukan di lingkup Ruangan PJT dengan terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari setiap partisipan dan sesuai dengan kriteria partisipan. Ruangan PJT tersebut meliputi ruangan rawat inap, yaitu ruangan lantai 2, 3 dan lantai 4.

4.2. Karakteristik Demografi Partisipan

Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 9 perawat di Ruang Penyakit Jantung Terpadu dan sesuai dengan kriteria penelitian. Partisipan dalam penelitian ini selain sebagai Kepala Ruangan dan Ketua Tim juga sebagai mentor dalam pelaksanan mentorship. Hasil penelitian berdasarkan karakteristik partisipan yang akan dipaparkan meliputi jenis kelamin, pendidikan, suku dan lama bekerja.

(17)

45

Tabel 4.1. Karakteristik Demografi Partisipan

Data Demografi Partisipan f %

Jenis Kelamin

Berdasarkan hasil analisis terhadap hasil wawacara diperoleh beberapa tema yaitu 1) melaksanakan mentorship yang bersifat informal bagi perawat, 2) mendapatkan dukungan dalam melaksanakan mentorship, 3) mendapatkan harapan dalam melaksanakan mentorship, 4) mendapatkan kendala dalam melaksanakan mentorship.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 4 tema, 11 subtema, dan 27 kategori. Untuk tema 1 terdiri dari 4 subtema dan 11 kategori, tema 2 terdiri dari 3 subtema dan 6 kategori, tema 3 terdiri dari 1 subtema dan 4 kategori dan tema 4 terdiri dari 3 subtema dan 6 kategori. Berdasarkan tema-tema yang diperoleh, terdapat 2 tema utama yang sesuai dengan teori dan hasil systematic review, yaitu

(18)

: 1) melaksanakan mentorship yang bersifat informal bagi perawat; 2) mendapatkan kendala dalam melaksanakan mentorship.

Tema baru yang diperoleh dari hasil analisa data ada 1 yaitu : 1) harapan dalam melaksanakan mentorship dan 2) mendapatkan dukungan dalam melaksanakan mentorship. Tema-tema ini akan dibahas secara terperinci untuk memaknai pengalaman perawat dalam pelaksanaan mentorship di RSUP H. Adam Malik Medan.

4.3.1. Sub tema dan Kategori yang Ditemukan dalam Tema

1. Melaksanakan Mentorship yang Bersifat Informal

Gambar 4.1. Skema Model Sub Tema dan Kategori pada Melaksanakan Mentorship yang Bersifat Informal

Sumber : Data Primer Hasil Olah NVivo Versi 11.0

Subtema dan kategori berdasarkan tema “melaksanakan mentorship yang bersifat informal” dapat dilihat pada gambar 4.1. Skema model subtema dan

(19)

47

Subtema yang didapat sebanyak 4 dengan kategori sebanyak 11. Adapun subtema dan kategori tersebut antara lain jenis tindakan yang dibimbing dengan kategori administrasi, dokumentasi keperawatan dan pelayanan keperawatan. Subtema melaksanakan bimbingan dengan kategori breefing, situasional dan waktu senggang, untuk subtema melaksanakan evaluasi dengan kategori berdasarkan laporan dan lisan, observasi langsung dan tidak ada format khusus, sedangkan subtema metode bimbingan dengan kategori bedside teaching dan role model. 2. Mendapatkan Dukungan dalam Melaksanakan Mentorship

Gambar 4.2. Skema Model Sub Tema dan Kategori pada Mendapatkan Dukungan dalam Melaksanakan Mentorship

Sumber : Data Primer Hasil Olah NVivo Versi 11.0

Subtema dan kategori berdasarkan tema “mendapatkan dukungan dalam

melaksanakan mentorship” dapat dilihat pada gambar 4.2. Skema model subtema dan kategori diperoleh melalui hasil uji model NVivo yaitu model to display nodes. Subtema yang didapat sebanyak 3 dengan kategori sebanyak 6. Adapun subtema dan kategori tersebut antara lain dukungan dari mentee dengan kategori kemauan dan kerjasama. Subtema dukungan dari mentor dengan kategori

(20)

pelatihan dan komunikasi, untuk subtema dukungan dari rumah sakit dengan kategori fasilitas lengkap dan jadwal khusus setiap selasa.

3. Mendapatkan Harapan dalam Melaksanakan Mentorship

Gambar 4.3. Skema Model Sub Tema dan Kategori pada Mendapatkan Harapan dalam Melaksanakan Mentorship

Sumber : Data Primer Hasil Olah NVivo Versi 11.0

Subtema dan kategori berdasarkan tema “mendapatkan harapan dalam

(21)

49

4. Mendapatkan Kendala dalam Melaksanakan Mentorship

Gambar 4.4. Skema Model Sub Tema dan Kategori pada Mendapatkan Kendala dalam Melaksanakan Mentorship

Sumber : Data Primer Hasil Olah NVivo Versi 11.0

Subtema dan kategori berdasarkan tema “mendapatkan kendala dalam

melaksanakan mentorship” dapat dilihat pada gambar 4.12. Skema model subtema dan kategori diperoleh melalui hasil uji model Nvivo yaitu model to display nodes. Subtema yang didapat sebanyak 3 dengan kategori sebanyak 6. Adapun subtema dan kategori tersebut antara lain kendala dari mentee dengan kategori beban kerja, kesadaran dan usia. Subtema kendala dari mentor dengan kategori waktu, untuk subtema kendala dari rumah sakit dengan kategori format dan standart baku serta jadwal dan waktu khusus.

(22)

4.3.2.Keterkaitan Antara Kategori dengan Sub Tema

1. Melaksanakan Mentorship yang Bersifat Informal a. Jenis Tindakan yang Dibimbing

Gambar 4.5. Diagram Query “Jenis Tindakan yang Dibimbing” Sumber : Data Primer Hasil Olah NVivo Versi 11.0

Keterkaitan antara kategori (nodes) pada subtema jenis tindakan yang dibimbing dengan partisipan (sources) dapat dilihat pada gambar 4.5. Untuk kategori pelayanan dan tindakan keperawatan disampaikan partisipan 1, kategori dokumentasi keperawatan disampaikan partisipan 1 dan 4, sedangkan kategori administrasi disampaikan partisipan 3 dan 4. Berikut ini ungkapan dari masing-masing partisipan terkait jenis tindakan yang dibimbing antara lain :

1) Pelayanan dan tindakan keperawatan

“Melakukan tindakan kita baru di panggil. Lalu tadi bentuk

(23)

51

2) Dokumentasi keperawatan

“Ehmmm, contoh lainnya pemeriksaan asuhan keperawatanlah,

dokumentasi keperawatan kan kita lihat juga disitu, bagaimana cara dia mendokumentasikan keperawatan kalau kita disinikan lebih kepada

pendokumentasi yah.” [ P1 ]

“enggak, kalau dokumentasi keperawatatan, itu masih sampai terus

berkelanjutan.” [ P4 ]

3) Administrasi

“Semua sih, mulai dari adminitrasi kan mereka juga pada enggak ngerti

kan, eee... banyak tanya pasti kemudian tindakan dokter-dokternya

gitukan, ia semua lah,” [ P3 ]

“iya (administrasi) jadi saya tidak bisa memberikan waktunya berapa

lama kalau tindakan bisalah sampai sekian hari misalnya” [ P4 ]

b. Melaksanakan Bimbingan

Gambar 4.6. Diagram Query “Melaksanakan Bimbingan” Sumber : Data Primer Hasil Olah NVivo Versi 11.0

Keterkaitan antara kategori (nodes) pada subtema melaksanakan bimbingan dengan partisipan (sources) dapat dilihat pada gambar 4.6. Untuk

(24)

kategori breefing disampaikan partisipan 1, 2, 5, 7, 8 dan 9, kategori situasional disampaikan partisipan 3, 4 dan 5, sedangkan kategori waktu senggang disampaikan partisipan 2 dan 3.

Berikut adalah ungkapan dari masing-masing partisipan terkait jenis melaksanakan bimbingan antara lain :

1) Breefing

“hmmmm, kalau pelaksanaannya paling cuman kalau hanya pekerjaan

untuk pada saat breefing pagi lah betul-betul kita lakukan apa yang kita biasa lakukan, yah karena yahhh terkait ini juga waktu khusus kita cari itu cukup sulit yah.” [ P1 ]

Itu habis pelatihan, kami kan di sini rutin breefing setiap pagi jadi nanti habis breefing, biasanya kepala ruangan kami nanti” [ P2 ]

“oh pas breefing pagi, maksudnya ada SOP terbaru umpamanya..

sekarang untuk cara identifikasi pasien umpamanya sesuai SOP terbaru

yang telah diedarkan.” [ P5 ]

“misalnya kan kalau kita disini saya sebagai kepala ruangan mendapat

kesempatan lebih dulu misalnya pelatihan ,katakan tadi terapi cairan, saya dalam breefing pagi akan memberikan apa yang saya tau kepada

katim,” [ P7 ]

“kalau ada masalah biasanya diluar jam kerja ….biasanya 1 ruangan tau

…nah besok di breefing itu di bicarakan rame-rame, gak tim saya saja

tapi semua tim” [ P8 ]

“jadi bisa lah nanya-nanya juga sama adik-adik ini…kayak gitu kan,

(25)

53

2) Situasional

jadi pas ada waktu luang kita ajak ngobrol kira-kira, udah ngertikan pengenceran obat gituloh tapi lihat sikon keadaan pasien, situasional lah kak, kalau pasien keadaan rame enggak bisa, kalau sepi kayak gini, kita sharing-sharing gitu, kira-kira engak bisanya dimana.” [ P3 ]

“ iya yang informal kayak gitu, liat situasional lah” [ P4 ]

“Kita selipkan juga...ya situasional lah, misalnya cara monitoring pasien

jantung itu ada yang terbaru” [ P5 ]

3) Waktu senggang

“Jadi misal nya kalau saya sih yang selama ini saya berikan misal nya

ada diskusi antara saya dengan teman-teman, misal nya ada waktu yang

agak senggang di situlah dan jika menemukan masalah,” [ P2 ]

“yang mau saya ajak ngobrol itu yang ship sore kan mereka kalau masih

sore dari jam 3 ke jam 4 itu kan masih jam sibuk-sibuk nya mulai ngelap pasien, apa semuanya, ya udah saya tunggu waktu agak senggang dulu, ia saya lah agak kebanyakan menunggu, saya tunggu kan, ya udah dan apa

ada yang mau saya sampai kan, itu saya katakan” [ P3 ]

c. Melaksanakan Evaluasi

Gambar 4.7. Diagram Query “Melaksanakan Evaluasi” Sumber : Data Primer Hasil Olah NVivo Versi 11.0

(26)

Keterkaitan antara kategori (nodes) pada subtema melaksanakan evaluasi dengan partisipan (sources) dapat dilihat pada gambar 4.7. Untuk kategori berdasarkan laporan dan lisan disampaikan partisipan 2, 3, 5 dan 8, kategori observasi langsung disampaikan partisipan 3 dan 5, sedangkan kategori tidak ada format khusus disampaikan partisipan 2, 3 dan 4.

Berikut adalah ungkapan dari masing-masing partisipan terkait melaksanakan evaluasi antara lain :

1) Berdasarkan laporan dan lisan

“Contoh hanya laporan nya secara lisan aja sih. Gak pernah emang

setahu saya belum pernah ada seperti itu dari saya masuk pertama.” [P2]

“Kalau yang kemarin itu saya negosiasikan dengan kepala ruangan, cuma

kami baru dapat laporan lisan aja gitu kek mana si Anu ..” [ P3 ]

“ya, biasanya berdasarkan laporan, kawannya dinas biasanya melapor

perawat-perawat kawannya disini agak kurang,” [ P5 ]

"ke Karu.. Cuma kita selama ini belum ada dikasih untuk format laporan..

ee..ee..format evaluasi ya kita sebut”, hanya masih bentuk laporan lisan"

[ P8 ]

2) Observasi langsung

“bisanya kan kalau formal kan apa namanya ada format atau evaluasi,

kami disini cuma evaluasi ya kita lihat atau observasi langsung,” [ P3 ]

“penilaiannya itu memang harus ada tidak bisa umpamanya

(27)

55

3) Tidak ada format khusus

“Misalnya untuk penilain mentee harus ada format khusus lah masing –

masing yang seragam gitu lah” [ P2 ]

“Sepertinya sih , kayak ya karena tidak ada format khusus atau standart

baku itu masih yang tergolong informal lah ia,” [ P3 ]

“gak …gak ada format khusus untuk penilaian” [ P5 ]

d. Metode Bimbingan

Gambar 4.8. Diagram Query “Metode Bimbingan” Sumber : Data Primer Hasil Olah NVivo Versi 11.0

Keterkaitan antara kategori (nodes) pada subtema metode bimbingan dengan partisipan (sources) dapat dilihat pada gambar 4.8. Untuk kategori bedside teaching disampaikan partisipan 1, 2, 3, 4, 5, 6 dan 7 sedangkan kategori role model disampaikan partisipan 1, 2, 3, 4, 5, 6 dan 9.

Berikut adalah ungkapan dari masing-masing partisipan terkait metode bimbingan antara lain :

1) Bedside teaching

“ehhhhh…seperti ini caranya, kita yang melakukannya lalu setelah itu

bedside teaching” [ P1 ]

(28)

“sebelum-sebelum nya mungkin agak lupa gitu mungkin kita review cobak langsung ke pasien langsung si orang yang bersangkutan saya liat dulu, apakah dia mengalami kesulitan baru kita ajarkan kembali secara langsung di samping pasien, ya bedside teaching, gitu” [ P2 ]

“Pertama kali dicontohkan terlebih dahulu, role model gitu...Ia pertama

kita harus lihat, kita pastikan dengan cara bedside teaching setelah

beberapa kali dicontohkan” [ P3 ]

“pertama saya kasih contoh cara nya seperti apa, role model dulu lah

baru dia melakukannya besok nya saya melihat lagi sampai benar-benar saya yakin bahwa dia sudah bisa baru dia sudah bisa melakukan nya lagi, tentunya sudah langsungke pasien, bedside teaching” [ P4 ]

“langkah awalnya kita lihat kalau memang perlu dibimbing, terutama kita

kasih bimbingan secara teori, mungkin memang gak tahu teorinya, setelah itu bedside teaching lah, contoh gamblangnya perhitungan dosis obat teori

pertamanya itu.” [ P5 ]

“iya terkadang dicontohkan dulu, ya role model jadi kita menjelaskan

bukan hanya cerita tapi juga langsung ke pasien..bedside teaching, gitu” [ P6 ]

“untuk dalam satu tindakan misalnya memasang infus itu contohyang

paling sederhana ya. Memasang infus sesuai dengan SOP itu kan harus di dibagi ke yang tidak tahu dengan cara kita yang mencontohkan terlebih dahulu baru ke pasien...bedside teaching ya” [ P7 ]

2) Role model

“Teman-teman ada yang kasih tau cara, gini loh gini caranya ehhh

istilahnya kita ehhhhh prakteklah disitu..ya role model dululah” [ P1 ]

“Kebanyakan kita ajarkan dulu, ya kita sebagai role model” [ P2 ]

“Pertama kali dicontohkan terlebih dahulu, role model gitu...Ia pertama

(29)

57

“kalau ke mahasiswa preseptor ya ? kalau ini mentor itu sebagai role

model , sebagai panutan atau sebagai contoh gitu ya” [ P4 ]

“role model itu maksudnya seseorang bisa jadi contoh kepada yang lain

atau panduan bagi orang umpamanya mengerjakan ini dan itu...itu namanya role model” [ P5 ]

“iya terkadang dicontohkan dulu, ya role model jadi kita menjelaskan

bukan hanya cerita tapi juga langsung ke pasien” [ P6 ]

“disela-sela waktu bekerja lah, kita sebagai role model, jangan

sampai-sampai adik-adik ini tidak tahu”. [ P9 ]

2. Mendapatkan Dukungan dalm Melaksanakan Mentorship a. Dukungan dari Mentee

Gambar 4.9. Diagram Query “Dukungan dari Mentee” Sumber : Data Primer Hasil Olah NVivo Versi 11.0

Keterkaitan antara kategori (nodes) pada subtema dukungan dari mentee dengan partisipan (sources) dapat dilihat pada gambar 4.9. Untuk kategori kemauan disampaikan partisipan 1 dan 3 sedangkan kategori kerjasama disampaikan partisipan 3.

Berikut adalah ungkapan dari masing-masing partisipan terkait dukungan dari mentee antara lain :

(30)

1) Kemauan

“Kemauan juga dari SDM nya yah” [ P1 ]

“Faktor pendukung ya, dari diri sendiri lah ya kan, kemauan saya dan

ada kemauan juga yang mau dibimbing ya kan, kalau enggak ya

pastinya enggak berjalan” [ P3 ]

2) Kerjasama

“kadang-kadang kekmana di bilang ya, tapi kegiatan di lapangan itu

kadang-kadang serabutan gitu, jadi harus dipantau gitu, jadi kita kerjasama dengan dia itu masih kurang gimana gitu” [ P3 ]

b. Dukungan dari Mentor

Gambar 4.10. Diagram Query “Dukungan dari Mentor” Sumber : Data Primer Hasil Olah NVivo Versi 11.0

(31)

59

Berikut adalah ungkapan dari masing-masing partisipan terkait dukungan dari mentor antara lain :

1) Komunikasi

“Ya komunikasi yang tadi, istilahnya lah ia tidak tersinggung,

pekerjaan kita lancar gitu lah ya kan, ya kalau apa kan kita ikut bantu lah kan, kalau memang pasien nya enggak banyak, dan obat

yang mau disuntikan enggak banyak,” [ P3 ]

“Kalau leader tidak mampu baru naik ke katim atau saya. Karena

kita ada komunikasi antar ruangan ini.” [ P5 ]

“ya itu dia, ada beberapa katim kan pelakasana saya akan

membacakan apa yang saya dapat dengan catatan SPO nya harus juga sesuai, kemudian kita ada apa namanya istilahnya komunikasi 2 arah, setelah saya sampaikan saya akan bertanya kepada teman2

aa apakah sudah mengerti” [ P7 ]

“kerja sama ya, perawat assosiate saya kerja samanya ok,

komunikasi ok, terus memang care, ee.. itu enakk...” [ P8 ]

“kami tukaran jaga dan memang kayak gitu yang dituntut ya yang

jaga pagi sianu sianu kayak gitu lah …komunikasi jadi Patient

Safety yang 6 ini memang kita tunjukkan juga jadi kan udah kayakmana kejadiannya apa semuanya yang itu dijalankan lah dan

diusahakan” [ P9 ]

2) Pelatihan

“Saya gitu ehhh ada ikut pelatihan apa training apa gitu lah, ntar

kita berbagi itu loh share ke yang lain pada saat breefing.” [ P1 ]

“Jadi nanti yang habis pelatihan langsung menyampaikan apa isi

pelatihan saat kemarin di terimanya.” [ P2 ]

“Enggak ada sih target, cuman kalau disini, eee... klau disini khusus

kayak saya kan sudah ada pelatihan,” [ P3 ]

(32)

“Faktor pendukung mungkin saya nya dikasih pelatihan jadi kita yg

ajarin ka.. kita yg tau dulu.. baru bisa ngajari yang lain.” [ P4 ]

umpamanya si A sudah pelatihan itu di share juga atau keterampilan-keterampilan tekhnik keperawatan terbaru itu apa...itu juga kita akan ajarkan ke kawan kita atau atau anggota- anggota dan adek-adek kita.” [ P5 ]

“biasanya kalau kita dapat pelatihan gitu diberikan untuk semua

tim.” [ P6 ]

“misalnya kan kalau kita disini saya sebagai kepala ruangan

mendapat kesempatan lebih dulu misalnya pelatihan ,katakan tadi terapi cairan, saya dalam breefing pagi akan memberikan apa yang

saya tau kepada katim,” [ P7 ]

“Ya semua dapat, kan terus seperti pelatihan-pelatihan kayak gitu

berbeda orang yang satu dengan yang lain berbeda pembelajarannya dan yang didapatnya, jadi kita kan sharing kayak

gitu….yah saling berbagi biar pengetahuannya semuanya sama”

[ P9 ]

c. Dukungan dari Rumah Sakit

Gambar 4.11. Diagram Query “Dukungan dari Rumah Sakit” Sumber : Data Primer Hasil Olah NVivo Versi 11.0

(33)

61

Untuk kategori fasilitas lengkap disampaikan partisipan 2, 3, 4, 5, dan 7 sedangkan kategori jadwal khusus setiap selasa disampaikan partisipan 1, 4 dan 5.

Berikut adalah ungkapan dari masing-masing partisipan terkait dukungan dari rumah sakit antara lain :

1) Fasilitas lengkap

Kalau dari RS ya...fasilitas lengkap” [ P2 ]

“Ya fasilitas lengkap disini” [ P3 ]

“Faktor pendukug di RS ini fasilitas sudah lengkap” [ P4 ]

“ya fasilitas lengkap” [ P5 ]

“pihak-pihak direksi untuk fasilitas lengkap. Sehingga kami pun

melakukannya pelayanannya dengan baik” [ P7 ]

2) Jadwal khusus setiap selasa

“Nah pada saat jadwal khusus setiap selasa untuk instalansi dari lantai

1-4, disitu dia presentasi apa yang dia dapatkan, ini loh kita kemarin dapat ilmu baru tentang suatu keperawatan yang gini gini gitu, di sharing sama kita” [ P1 ]

“setiap pertemuan selasa ini misalnya membahas apa masalah

-masalah kayak gitu, dan kalau yang belajar baru pulang dari pelatihan

dan DRK kak” [ P4 ]

“kalau di instalasi ini setiap selasa ada” [ P5 ]

(34)

3. Mendapatkan Harapan dalam Melaksanakan Mentorship a. Harapan dari Mentor

Gambar 4.12. Diagram Query “Harapan dari Mentor” Sumber : Data Primer Hasil Olah NVivo Versi 11.0

Keterkaitan antara kategori (nodes) pada subtema harapan dari mentor dengan partisipan (sources) dapat dilihat pada gambar 4.12. Untuk kategori jadwal dan waktu khusus disampaikan partisipan 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8 dan 9. Kategori pendidikan dan pelatihan bekelanjutan disampaikan partisipan 1. Kategori reward disampaikan partisipan 5, sedangkan kategori standart dan format khusus disampaikan partisipan 2 dan 5.

Berikut adalah ungkapan dari masing-masing partisipan terkait harapan dari mentor antara lain :

1) Jadwal dan waktu khusus

“Kalau kita minta jadwal khusus minta waktu eh…eh… kita juga

gimana yah , terbataslah ibaratnya yah” [ P1 ]

“Dan maunya ada juga, ada istilah ada format khusus, karena tidak

ada format khusus untuk penilaian istilahnya seragam untuk staff

(35)

63

“untuk kontrak kedepan ya lah ya kan, kontrak waktu, misalkan si

anu, tapi enggak lama lah, enggak sekedar serabutan aja, ini apa gini pas kita lihat si A, ohh dia agak susah di bidang A misalkan, buatlah waktu, waktu khusus lah kayak yang ibu bilang tadi ada waktu mementoring-nya kan, jadi nanti kita kontrak ya dek, bisanya dia dan

saya.” [ P3 ]

“maunya harus continue lah dan jadwalnya nggak setiap hari pun

harus ada jadwalnya untuk misalnya mau seminggu sekali kayak misalnya pertemuan selasa itu benaran pertemuan untuk DRK” [ P4 ]

“yaa e..e..e..mungkin kalo dikasi jadwal khusus bisa berjalan dengan

baik, karena selama ini kalo hampir setiap hari gak sempat, misalnya

kalau sift pagi itu kan terbatas 15 menit” [ P6 ]

“memberi waktu yang terbaik buat teman-teman, untuk bisa

di-mentoring dengan tidak buru-buru” [ P7 ]

“jadikan ee...ee.. saya kebagian sore sama malam untuk jaga, ada

lagi jaga sore dan malam khusus untuk pengawas adam malik ..emm..

gitu” [ P8 ]

“untuk kedepannya ee...ee...saya berharap untuk kedepannya, waktu

khusus lah jika bisa dan update pengetahuan terus ya, jangan sampai adek yang kita mentorin lebih pandai dari kita, dan saran ke pihak

manajemen,” [ P9 ]

2) Pendidikan dan pelatihan berkelanjutan

“ahhhhh , terkait dengan adanya kesempatanlah, kita diberi

kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan yah pendidikan

berkelanjutan dan pelatihan” [ P1 ]

3) Reward

“yang ngasih bimbingan ya memang ya gak kan ada reward nya yang

berarti.maksudnya reward nya kalau dibilang dari segi..apa dibilang…” [ P5 ]

(36)

4) Standart dan format khusus

“Misalnya untuk penilain mentee harus ada format khusus lah

masing–masing yang seragam gitu lah” [ P2 ]

“ya perlu bimbingan dari jenjang keperawatan, ya supaya sama

kompetensinya di semua ruangan CVCU, seharusnya seragam ada

formatnya, kalau bisa ada format bakunya juga” [ P5 ]

4. Mendapatkan Kendala dalam Melaksanakan Mentorship a. Kendala dari Mentee

Gambar 4.13. Diagram Query “Kendala dari Mentee” Sumber : Data Primer Hasil Olah NVivo Versi 11.0

Keterkaitan antara kategori (nodes) pada subtema kendala dari mentee dengan partisipan (sources) dapat dilihat pada gambar 4.13. Untuk kategori beban kerja disampaikan partisipan 9. Kategori kesadaran disampaikan partisipan 3. Kategori usia disampaikan partisipan 2

(37)

65

1) Beban kerja

“walaupun seraya bercanda kami pun merasa kasihan juga adik adik ini

diperhatiin ini juga karena dia kecuali kita sama itu mungkin dia bisa menerima juga gitu tapi ini pekerjaan sama penghasilannya berbeda itu

kadang kadang ada beban tersendiri sama dia itu” [ P9 ]

2) Kesadaran

“kesadaran diri sendiri, tapi yang aneh nya memang dia, kalau yang

enggak dia yang leader gitu kerja nya, kalau pas jadi leader tanggung jawabnya lumayan gitu, jadi kita masih mau follow lagi caranya, kerja dia

kayakmana gitu” [ P3 ]

3) Usia

“misalnya masalah kayak tadi lah masalah perhitungan obat-obatan

misalnya ee jadikan itu nanti mungkin karena faktor usia juga kan jadi ingatan udah kurang kuat ya.” [ P2 ]

b. Kendala dari Mentor

Gambar 4.14. Diagram Query “Kendala dari Mentor” Sumber : Data Primer Hasil Olah NVivo Versi 11.0

(38)

Keterkaitan antara kategori (nodes) pada subtema kendala dari mentee dengan partisipan (sources) dapat dilihat pada gambar 4.14. Untuk kategori waktu disampaikan partisipan 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 dan 9.

Berikut adalah ungkapan dari masing-masing partisipan terkait kendala dari mentor antara lain :

1) Waktu

“Yang pertama waktu yah, karena dengan kita pakai waktu dalam

dinas,jadinya nggak optimal yang didapat mentee yah (ehehehhe),” [ P1 ]

“Eee pelaksanaan mentorship ee...ee.. Selama ini sih tidak ada waktu

khusus gitu” [ P2 ]

“Ya gitu, kadang-kadang kan, kita sudah banyak yang kita siapkan,

gini-gini, misalkan si A, tapi lihat-lihat waktu kapan ya, tempatnya

kadang memang waktu juga lah yang kurang,” [ P3 ]

“kan saya gak punya waktu khusus jadi pas ngajarin pas nemu itu

tadi lah kayak gitu kan, kayak ngajarin yang 5 orang ini jadi gak yang perawat individu satu ketemu dinas ketemu yg lain maunya

didudukkan semua diajarin kayak gitu rasanya lebih efektif” [ P4 ]

“hambatannya itu juga apa ya….eee…belum ada waktu khusus.”

[ P5 ]

“Kendala..e..e..e.. kendalanya ada kita merasa si anu tadi belum ok

melakukan ini gitu kan eee…. Kayak waktu gitulah,” [ P6 ]

(39)

67

“terkadang waktu ya, karena kalau pagi sibuk kali banyak pasien

yang kayak gitukan kita kadang kadang kurang mementor adik adik

kita ini” [ P9 ]

c. Kendala dari Rumah Sakit

Gambar 4.15. Diagram Query “Kendala dari Rumah Sakit” Sumber : Data Primer Hasil Olah NVivo Versi 11.0

Keterkaitan antara kategori (nodes) pada subtema kendala dari rumah sakit dengan partisipan (sources) dapat dilihat pada gambar 4.15. Untuk kategori format dan standart baku disampaikan partisipan 2, 3 dan 4. Kategori jadwal dan waktu khusus disampaikan partisipan 1, 2, 4, 6 dan 9.

Berikut adalah ungkapan dari masing-masing partisipan terkait kendala dari rumah sakit antara lain :

1) Format dan standart baku

“Misalnya untuk penilain mentee harus ada format khusus lah masing

–masing yang seragam gitu lah” [ P2 ]

“Sepertinya sih , kayak ya karena tidak ada format khusus atau

standart baku itu masih yang tergolong informal lah ia, soalnya kan,

bisanya kan kalau formal kan apa namanya ada format atau evaluasi,”

[ P3 ]

(40)

“gak …gak ada format khusus untuk penilaian” [ P4 ]

2) Jadwal dan waktu khusus

Untuk yang diruangan ini lah yah, tidak ada jadwal dan waktu khusus

dari sini” [ P1 ]

“Jadwal khusus maksudnya ya di tentukan misalnya setiap ruangan

harus ee...harus misalnya dalam seminggu harus bisa membimbing, misalnya targetnya 2 mentee gitu. Seperti itu sih” [ P2 ]

“maunya harus continue lah dan jadwalnya nggak setiap hari pun

harus ada jadwalnya untuk misalnya mau seminggu sekali kayak misalnya pertemuan selasa itu benaran pertemuan untuk DRK” [ P4 ]

“yaa e..e..e..mungkin kalo dikasi jadwal khusus bisa berjalan dengan

baik, karena selama ini kalo hampir setiap hari gak sempat, misalnya

kalau sift pagi itu kan terbatas 15 menit” [ P6 ]

“e..e..maksudnya untuk pegawai lama tidak ada jadwal khusus untuk

(41)

69

Tabel 4.2. Matriks Analisis Data

“Pengalaman Perawat dalam Pelaksanaan Mentorship di RSUP. H. Adam Malik Medan”

No Tema Sub Tema Kategori Deskripsi Kategori Partisipan

1 Melaksanakan

Partisipan melaporkan adanya, selain pelayanan keperawatan, jenis tindakan yang dibimbing adalah membimbing terkait dokumentasi keperawatan dan dan administrasi di ruangan, hal ini dilakukan secara continue, sampai menteedapat melaksanakannya secara mandiri.

Partisipan menyatakan dalam melaksanakan bimbingan, pelaksanaannya pada saat breefing pagi sebelum overan berlangsung, dan berdasarkan permasalahan yang didapat, misalnya melakukan suatu tindakan tidak sesuai dengan SOP, dan berdasarkan waktu senggang mentorship baru dapat dilaksanakan, dikarenakan tidak adanya waktu khusus yang tersedia dalam melaksanakan mentorship.

(42)

3. Melaksanakan

Partisipan mengungkapkan, dalam melaksanakan evaluasi kepada mentee terhadap bimbingan yang telah dilaksanakan, berdasarkan laporaran dan lisan yang diungkapkan oleh timnya, selain itu berdasarkan obsevasi langsung terhadap hal-hal yang telah dibimbing. Hal ini dikarenakan tidak adanya format khusus dalam evaluasi. Sehingga masing-masing mentor/ partisipan melakukan evaluasi secara beragam.

4. Metode bimbingan 1. bedside teaching a. partisipan 1 menyatakan metode bimbingan yang dilaksanakan dalam melaksanakan mentorship yaitu pada umumnya sebagai role model, dimana mentor akan mencontohkan terlebih dahulu terutama dalam tindakan keperawatan, hal ini disesuaikan dengan tingkat kesulitan dari tindakan/ kasus yang ditemukan, kemudian setelah mentor yakin kepada mentee nya, metode bimbingan langsung ke pasien (bedside teaching), namun sebelumnya tetap dalam pembimbingan, sampai akhirnya dimandrikan mentee tersebut

(43)

71

mentorship tidak terlepas dari adanya dukungan dari mentee, hal tersebut dikarenakan adanya kemauan dan kerjasama dari mentee dalam meningkatkan pengetahuan dan tindakan terkait keperawatan dalam proses pelaksanaan mentorship yang bersifat informal dengan tujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan. menyatakan dalam melaksanakan mentorship, didukung dengan adanya komunikasi yang baik antara mentor-mentee, jika tidak terbangun diantara keduanya maka mentor dan mentee dalam pelaksanaan mentorship merasa tidak nyaman, sehingga mempengaruhi dalam proses pelaksanaan. Hal lainnya yang diperlukan dalam pelaksanaan adanya pelatihan yang didapat sehingga dalam proses pelaksanan mentor dapat mensharekannya ke mentee yang tujuan keduanya untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan. mentorship yang bersifat informal, faktor pendukung dari Rumah Sakit, adanya fasilitas

(44)

c. partisipan 4 d.partisipan 5 e. partisipan 7

2. jadwal khusus setiap selasa a. partisipan 1

b.partisipan 4 c. partisipan 5

yang lengkap, sehingga dalam pelaksanaan bimbingan, mentor dengan mudah mencontohkan kepada mentee dengan langsung ada alat yang dibutuhkan misalnya dalam tindakan, hal lainnya karena adanya jadwal khusus setiap selasa yang diadakan Rumah Sakit khusus instalansi, hal ini membantu mentee dalam update pengetahuan yang berguna bagi mentor untuk mengaplikasikan ilmu yang baru kepadamentee 3 Mendapatkan

4. standart dan format khusus a. partisipan 2

b.partisipan 5

(45)

73

misalnya, supaya seragam format yang digunakan, untuk menilai kemampuan yang telah dimliki oleh mentee selama proses mentorship 4 Mendapatkan

kendala dalam melaksanakan mentorship

1. kendala dari mentee 1. beban kerja a. partisipan 9 2. kesadaran

a. partisipan 3 3. usia

a. partisipan 2

Partisipan menyatakan adanya beban kerja yang sama ana namun pendapatan sedikit bagi yang honorer, sehingga mempengaruhi dalam pelaksaanaan mentorship, Dikarenakan selain waktu untuk pelayanan juga harus mendapatkan bimbingan untuk mutu Rumah Sakit,, Kemudian tidak adanya kesadaran untuk berubah dengan cepat, selain itu usia, dimana yang menjadi mentee. Ada yang lebih tua, sehingga terkadang mentor yang usianya lebih muda agak sulitdalam melaksankan mentorship

2. kendala dari mentor 1. waktu

a. partisipan 1

Partisipan menyatakan terkadang sulit untuk membagi waktu untuk melaksanakan mentorship, dengan kesibukannya selain sebagai pimpinan dan wakil di ruangan dengan kesibukan diluar pelayanan, juga harus bisa membagi waktu untuk membimbing, sehingga terkadang kurang maksimal pembimbingan yang dilakukan.

3. kendala dari rumah sakit

1. format dan standard baku a. partisipan 2

Partisipan menyatakan dikarenakan tidak adanya format dan standart yang baku, sehinggga

(46)

Sumber : Data olah NVivo versi 11.0

b.partisipan 3 c. partisipan 4

2. jadwal dan waktu khusus a. partisipan 1

b.partisipan 2 c. partisipan 4 d.partisipan 6 e. partisipan 9

(47)

75 BAB 5

PEMBAHASAN

5.1. Interpretasi Hasil Penelitian

Penelitian ini berfokus pada pengalaman perawat dalam melaksanakan mentorship di RSUP H. Adam Malik Medan. Partisipan yang terpilih sesuai dengan kriteria inklusi penelitian. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti mengidentifikasi 4 tema, 11 subtema dan 27 kategori. Empat tema tersebut adalah: 1) melaksanakan mentorship yang bersifat informal bagi perawat, 2) mendapatkan dukungan dalam melaksanakan mentorship, 3) mendapatkan harapan dalam melaksanakan mentorship dan 4) mendapatkan kendala dalam melaksanakan mentorship. Selanjutnya peneliti akan membahas secara rinci masing-masing tema, subtema dan kategori yang teridentifikasi.

5.1.1. Melaksanakan Mentorship Yang Bersifat Informal Bagi Perawat

Tema ini terdiri dari beberapa subtema antaranya: 1) jenis tindakan yang dibimbing, 2) melaksanakan bimbingan, 3) melaksanakan evaluasi dan 4) metode bimbingan. Berdasarkan jenis tindakan yang dibimbing, partisipan mengungkapkan mentorship yang diberikan kepada mentee yaitu memberikan bimbingan terkait dengan pelayanan dan tindakan keperawatan, untuk bimbingan terkait dokumentasi keperawatan, partisipan mengungkapkan tidak ada batas waktunya dalam memberikan bimbingan kepada mentee, dikarenakan dokumentasi keperawatan merupakan bentuk dari pelayanan dan tindakan keperawatan yang telah diberikan, selain itu administrasi juga perlu dibimbing,

(48)

dikarenakan semua hal yang terkait dengan pelayanan dan tindakan tidak terlepas dari yang namanya administrasi.

Hasil ungkapan dari partisipan untuk pendokumentasian setiap saat harus dibimbing atau diingatkan, dikarenakan sewaktu diperiksa, masih saja ada yang belum lengkap. Sehingga pembimbingan untuk dokumentasi tetap continue dilaksanakan. Pendokumentasian asuhan keperawatan merupakan bagian dari kegiatan yang harus dikerjakan oleh perawat setelah memberi asuhan kepada pasien. Pendokumentasian merupakan suatu penulisan informasi lengkap meliputi status kesehatan pasien, kebutuhan pasien, kegiatan asuhan keperawatan mulai dari pengkajian sampai dengan tahap evaluasi serta respon pasien terhadap asuhan yang diterimanya (Zainuddin, 2011).

Penelitian Buelow dan Cruijssen dalam Dianne, et.al. (2005), menyatakan bahwa pendokumentasian asuhan keperawatan dianggap menyita waktu dari asuhan keperawatan, bukan sebagai bagian integral dari praktek keperawatan dan perawatan sehingga pelaksanaan dokumentasi asuhan keperawatan tidak maksimal. Menurut Nursalam (2007) seharusnya pendokumentasian asuhan keperawatan merupakan tuntutan profesi yang harus dapat dipertanggung jawabkan, baik dari aspek etik, hukum, kualitas pelayanan, komunikasi, keuangan, pendidikan, penelitian dan akreditasi.

(49)

77

dan sikap ke pasien, dikarenakan tindakan dan pelayanan yang diberikan merupakan gambaran dari mutu rumah sakit.

Hal tersebut didukung oleh penelitian Lismindar (2000, dalam Pribadi, 2009), pelaksanaan tindakan keperawatan merupakan pelaksanaan tindakan yang telah ditentukan, dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi secara optimal. Pelaksanaan tindakan keperawatan adalah implementasi keperawatan terhadap pasien secara berurut sesuai prioritas masalah yang sudah dibuat berdasarkan rencana tindakan keperawatan.

Berdasarkan subtema melaksanakan bimbingan kategori yang diidentifikasi yaitu breefing, situasional dan waktu senggang. Ungkapan partisipan terkait dalam melaksanakan mentorship, dikarenakan dengan kesibukan dan tidak adanya waktu khusus untuk membimbing, sehingga pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan.

Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan tentang mentoring. Mentoring informal merupakan mentoring secara spontan dengan rentang waktu sesuai dengan kebutuhan mentee dan tidak memerlukan persiapan untuk proses mentoring. Mentoring informal tidak memerlukan kontrak secara formal dan tidak sesuai dengan tujuan organisasi. Mentoring informal terjadi secara sukarela, dan hubungan yang terbentuk berdasarkan rasa percaya antara mentor dan mentee. Informal mentoring dapat meningkatkan kepuasan kerja dan motivasi (Gilmour, Kopeikin, Douche, 2007).

Berdasarkan subtema melaksanakan evaluasi dengan kategori berdasarkan laporan, observasi langsung dan tidak adanya format khusus, ungkapan partisipan

(50)

dalam penilaian bervariasi, namun penilaian terhadap mentee harus dilakukan dan hal ini juga yang merupakan tantangan terbesar dalam memberikan penilaian kepada mentee terkait keberhasilannya dalam proses mentorship yang sudah berjalan. Mentoring akan dapat memberi banyak manfaat bagi organisasi dan individu yang ada di dalamnya jika dijalalankan dengan baik. Evaluasi terhadap kegiatan tersebut juga diperlukan. Salah satu tujuan diadakannya evaluasi adalah untuk melihat apakah program mentoring mencapai tujuan yang diinginkan (Blanchard & Thacker, 2010).

Berdasarkan subtema metode bimbingan yang dilakukan dalam melakasanaan mentorship, didapat dari hasil ungkapan partisipan yaitu sebelum memandidirikan mentee, partisipan memberikan contoh terlebih dahulu atau bertindak sebagai role model, yang sebelum memandidirikan terlebih dahulu juga dilakukan pembelajaran ke pasien namun dengan pendampingan atau bedside teaching, dimana metode bedside teaching merupakan metode bimbingan yang dilakukan disamping tempat tidur klien dengan mempelajari klien terhadap asuhan keperawatan yang dibutuhkan oleh klien.

(51)

79

pengetahuan, pemikiran dalam kerja secara signifikan (Mc Kimm, Jolie & Hatter, 2007).

5.1.2. Mendapatkan Dukungan Dalam Melaksanakan Mentorship

Mentoring adalah suatu hubungan antara 2 orang yang memberikan kesempatan untuk berdiskusi yang menghasilkan refleksi, melakukan kegiatan / tugas dan pembelajaran untuk keduanya yang didasarkan kepada dukungan, kritik membangun, keterbukaan, kepercayaan, penghargaan dan keinginan untuk belajar dan berbagi (Ali & Panther, 2008; Anderson, 2011).

Tema ini terdapat beberapa subtema dan kategori, dimana subtema yang didapat yaitu dukungan dari mentee, dukungan dari mentor dan dukungan dari rumah sakit. Kategori yang didapat dari dukungan dari mentee yaitu kemauan dan kerjasama. Dukungan dari mentor, kategori yang didapat yaitu komunikasi dan pelatihan, sedangkan kategori dari rumah sakit yaitu adanya fasilitas yang lengkap dan adanya jadwal khusus setiap selasa.

Ungkapan partisipan berdasarkan kemauan dan kerjasama, dirasa cukup baik oleh partisipan, dikarenakan hampir senua mentee mempunyai kemauan yang tinggi untuk berubah, hal ini terbukti apa yang disampaikan atau di share kan sewaktu proses bimbingan dilakukan dengan baik, begitu juga halnya dengan kerjasama, kerjasama antara mentor-mentee tercipta dengan baik. Menurut Notoatmodjo (2012), kemauan adalah suatu kecendrerungan atau keinginan yang tinggi terhadap sesuatu. Kemauan menjadikan seseorang untuk mencoba dan menekuni sesuatu hal pada akhirnya diperoleh pengetahuan yang lebih mendalam terhadap suatu hal yang diinginkan.

(52)

Berdasarkan ungkapan dari partisipan terkait kategori komunikasi dan pelatihan yaitu mentor sudah mendapatkan pelatihan khusus, sehingga apa yang didapat sewaktu pelatihan dapat dishare kan ke mentee, sehingga mentee mendapatkan pengetahuan dan skill yang baru dalam pelaksanaan mentorship, hal ini terkait dengan pelayanan yang diberikan kepada pasien menjadi lebih baik.

Hal tersebut didukung oleh teori, dimana organisasi dapat meningkatkan produktivitas dengan meningkatkan kinerja karyawan Untuk menjadi berkinerja tinggi karyawan membutuhkan pelatihan dan pembinaan dalam kegiatan organisasi yang relevan dan mentor organisasi adalah orang-orang dengan pengalaman dan keahlian, dan bersedia untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan dengan mereka yang kurang berpengalaman (Gilley & Boughton, 1996).

Komunikasi yang baik harus tercipta dengan baik antara mentor-mentee, sehingga proses pembimbingan dan pembelajaran hasilnya menjadi optimal, dikarenakan Mentoring juga alat untuk meningkatkan komunikasi antara anggota organisasi dan komunikasi yang baik sangat penting untuk efektivitas tim. Mentoring dapat berkontribusi untuk membangun tim yang efektif, dan meningkatkan interaksi antara tim dan keberlanjutan (Mathews, 2006).

(53)

81

dengan menggunakan alat sesuai yang dibimbing. Begitu juga halnya dengan jadwal khusus setiap selasa, dimana mentor dan mentee diberikan kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan yang baru, dikarenakan informasi terbaru, baik dari segi teori dan pelatihan yang sebelumnya tidak didapat, di hari selasa akan didapatkan.

Hal tersebut didukung oleh Martoredjo (2015), kebutuhan dari peserta program pengembangan ini dapat diterapkan dalam tujuan yang ingin dicapai dan diperlukan adanya fasilitas yang memadai sehingga dapat mendukung program tanpa mengabaikan kewajiban utama. Artinya, program itu dibuat untuk memenuhi kebutuhan dari para peserta. Jika tanpa dasar yang cukup, program tersebut akan menjadi formalitas saja.

5.1.3 Mendapatkan Harapan Dalam Melaksanakan Mentorship

Subtema yang didapat pada tema ini yaitu adanya harapan dari mentor, dengan kategori jadwal dan waktu khusus, pendidikan dan pelatihan berkelanjutan, adanya reward serta standart dan format khusus. Ungkapan partisipan yang menjadi harapan dan berharap dapat direalisasikan dalam pelaksanaannya, dikarenakan terkait dengan jadwal dan waktu khusus, meskipun mentorship masih bersifat informal, namun jika tidak ada jadwal dan waktu khusus, proses bimbingan kurang maksimal, dikarenakan dengan kesibukan perawat yang kesehariannya memberikan pelayanan keperawatan kepada pasien.

Pendidikan dan pelatihan berkelanjutan diungkapkan oleh partisipan sangat perlu diberikan, dikarenakan perawat memiliki kebutuhan untuk belajar yang spesifik dan berbeda-beda. Perawat yang menjadi mentee dapat mengamati

(54)

keahlian dari mentor dan mengaplikasikannya dalam praktik klinik (role model). Oleh karena itu peran mentor selaku role model bagi perawat baru sangat penting. Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan mempengaruhi proses belajar. Dengan pendidikan yang tinggi maka seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi. Semakin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang didapat tentang kesehatan. Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan dimana diharapkan seseorang dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya (Notoatmodjo, 2012)

Hal lain yang mendukung pernyataan tersebut adalah salah satu memfasilitasi pengembangan mentor yang dapat secara efektif mengajar dan berbagi pengetahuan dengan perawat pemula yang berharga bagi organisasi karena mempromosikan perekrutan dan retensi lulusan baru. Mentoring menciptakan lingkungan kerja yang berisi kerja sama tim dan pendidikan berkelanjutan.

(55)

83

mentorship, dikarenakan partisipan dalam memandirikan mentee, tidak berdasarkan standart evaluasi. Untuk menyakinkan bahwa tujuan tercapai, maka perlu diadakan evaluasi secara berkala untuk mengantisipasi kesulitan dan hambatan yang ada dan mencari solusi yang tepat. Dengan demikian, mentoring menjadi kegiatan yang dapat dinikmati dan dijalankan dengan baik sehingga bisa memberikan hasil yang maksimal.

5.1.4. Mendapatkan Kendala Dalam Melaksanakan Mentorship

Subtema yang ditemukan dalam penelitian ini sebanyak 3 subtema dengan 6 kategori . Dimana subtema tersebut meliputi kendala dari mentee, kendala dari mentor dan kendala dari rumah sakit.Untuk kendala dari mentee kategori yang ditemukan adalah beban kerja, kesadaran dan usia. Ungkapan partisipan terkait beban kerja, beban kerja yang dimaksud perawat yang bekerja di RSUP H.Adam Malik Medan, bukan hanya PNS saja, tetapi ada juga perawat honorer, namun secara finansial yang didapat tidak sama, tetapi untuk beban kerja yang dinyatakan partisipan sama, hal ini menjadi kendala dalam melaksanakan mentorship, dikarenakan ada ungkapan dari mentee yang diungkapkan partisipan jika disuruh untuk melaksanakan tindakan keperawatan ada yang merasa keberatan, meskipun dalam ungkapan keberatan dalam bentuk canda gurau, padahal yang diperintahkan tersebut merupakan penilaian mentor terhadap sejauh mana kompetensi yang telah dimilikinya, hal ini kemugkinan disebabkan karena kelelahannya dalam pelayanan keperawatan.

Hal tersebut didukung oleh hasil penelitian Hariyono (2012) diketahui bahwa beban kerja mempunyai hubungan yang bermakna dengan kelelahan

Gambar

Tabel 4.1.  Karakteristik Demografi Partisipan
Gambar 4.5. Diagram Query  “Jenis Tindakan yang Dibimbing”Sumber : Data Primer Hasil Olah NVivo Versi 11.0
Gambar 4.6. Diagram Query  “Melaksanakan Bimbingan” Sumber : Data Primer Hasil Olah NVivo Versi 11.0
Gambar 4.7. Diagram Query  “Melaksanakan Evaluasi” Sumber : Data Primer Hasil Olah NVivo Versi 11.0
+7

Referensi

Dokumen terkait

ID dapat digunakan untuk mengidentifikasi XML dalam banyak cara yang sama seperti atribut ID pada HTML. Berikut ini contoh penulisan XML atribut

Pengaruh Strategi Inovasi Terhadap Minat beli Konsumen pada usaha Ritel (Studi Kasus pada Distro Kontjo Brothers Medan) Variabel Independen: Strategi Inovasi Variabel

Sebagai upaya memberikan ruang untuk mengembangkan kreativitas dalam penguatan pendidikan karakter dan potensi seni peserta didik SMP, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah

Pada pernyataan keempat, “Menurut saya karyawan kuliner Puja Sera Binjai mampu menunjukkan kreativitasnya kepada pelanggan dalam mengolah kopi”, sebanyak 13,3% responden

Hasil analisis regresi data panel menunjuk- kan terdapat pengaruh yang negatif dan signi- fikan antara ketimpangan gender yang diwakili oleh 3 (tiga) jenis indeks ketimpangan yaitu

This article attempts to show, irst, how the French author Houellebecq positions the self and other in Soumission ; second, the type of self and other the novel focuses on; and

[r]

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dengan menggunakan aplikasi SPSS 13, maka disimpulkan bahwa variabel kualitas produk, citra merek, harga dan promosi