MAJALAH TRIWULAN ● EDISI 02/TAHUN XVI/2010 ● ISSN 0854-3709
MEDIA INFORMASI, PROFESI, DAN KOMUNIKASI PERENCANAAN PEMBANGUNAN
Televisi Ramah Anak
Performance Audit in
Public Sector
Yuliarko Sukardi
Permasalahan Kawasan
Segara Anakan
Cerdikwan
Challenges to the Multilateral
Trading System: The Rising Trade
Protectionism Amid the Global
Economic Recession
Tatang Muttaqin
Televisi Ramah Anak
Anantyo Wahyu
Fraud and Forensic
Accounting Pratices:
Australian Contexts
Hermani Wahab
Rencana Induk sebagai
Acuan Pemulisan
Pascabencana di Provinsi
NAD dan Nias Provinsi
Sumatera Utara
Indra Wisaksono
Performance Audit in
Public Sector
Randy R Wrihatnolo
Kerjasama Pendidikan
antara Perguruan Tinggi
dan Industri
2
11
20
26
30
35
40
Firman Edison
Peranan Hukum dalam
Ekonomi Indonesia dan
Pelaksanaannya dalam
Otonomi Daerah
Ratna Sri Mawarti
Pengembangan Kawasan
Ekonomi Khusus
Aswicaksana
Percepatan Penyelesaian
Perda RTRW Daerah
sebagai Upaya
Penyelenggaraan
Penataan Ruang yang
Lebih Baik
Moh. Mustajab
Indonesian Infrastructure:
Condition, Problem and
Policy
Suprapto Budinugroho
Tinjauan Pendidikan
Menengah Kejuruan
dalam Aspek
Ketenagakerjaan
Indonesia
48
54
58
63
74
Penanggungjawab Sekretaris Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Sekretaris Utama Bappenas Pemimpin Umum Dida Heryadi Salya Pemimpin Redaksi Herry Darwanto Dewan Redaksi Hanan Nugroho, Rendy R. Wrihatnolo, Tatang Muttaqin, Jarot Indarto, Teguh Sambodo, Muhyiddin Desain Grafis Tony Priyanto, Ismet Mohammad Suhud, Sarono Santoso Sekretariat Yunhri Trima Vibian, Budi Cahyono, Myda Susanti, Sovi Dasril, Muhammad Fahmy Fadly, Slamet,Nasan, Tata Letak Riduan
MAJALAH TRIWULAN ● EDISI 02/TAHUN XVI/2010 ● ISSN 0854-3709
P
ada akhir Maret lalu, World Economic Forumbekerjasama dengan INSEAD menerbitkan The Global
Information Technology Report 2009–2010. Penerbitan
Laporan ini dimaksudkan untuk membangun daya saing global melalui pengembangan teknologi informasi dan komunikasi (ICT). ICT telah menjadi pilar penting dari ekonomi kompetitif yang berlangsung saat ini, meningkatkan kualitas kehidupan, dan membuka peluang dalam banyak aspek kehidupan. ICT tidak hanya penting bagi negara maju untuk memacu inovasi dan daya saing jangka panjangnya, tetapi juga bagi negara berkembang dalam menjalani transformasi struktural, meningkatkan efisiensi dan mengurangi kesenjangan digital, ekonomi, dan sosialnya.
ICT mempunyai peran penting sebagai pembentuk daya saing nasional yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat yang lebih tinggi. Index Kesiapan Berjejaring
(Networked Readyness Index atau NRI) mengidentifikasi
faktor-faktor yang memungkinkan (enabling factors) bagi setiap negara untuk mengambil manfaat dari kemajuan ICT, sekaligus menyoroti tanggung jawab bersama dari individu, dunia usaha, dan pemerintah.
Laporan tahun ini diberi judul tambahan ICT for
Sustainability, karena ICT diyakini memainkan peran penting
dalam menjaga kelestarian lingkungan, baik sebagai industri maupun sebagai unsur kunci dari infrastruktur pendukung. Mewujudkan lingkungan yang berkelanjutan itu sendiri merupakan keinginan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat di manapun, untuk mendorong perkembangan dunia yang lebih adil, inklusif dan tahan-krisis. Dalam meningkatkan keberlanjutan sosial, kontribusi ICT adalah bahwa ia memungkinkan akses lebih besar terhadap layanan dasar oleh pemerintah kepada semua segmen masyarakat dan meningkatkan cara bagaimana layanan dasar ini (misalnya pendidikan, keuangan, dan kesehatan) disediakan kepada rakyat. Beberapa kabupaten di Indonesia, dengan Sragen sebagai contoh yang dikenal luas, telah membuktikan hal itu.
ICT juga berperan penting dalam mengembangkan keberlanjutan ekonomi, lingkungan, dan sosial; baik sebagai suatu industri maupun dalam keseluruhan ekonomi dan kehidupan masyarakat lainnya. Pengambil kebijakan terkait ICT perlu mempunyai informasi yang lengkap untuk menjawab tantangan ini. Untuk itu laporan kali ini, sebagaimana laporan tahun-tahun sebelumnya,
menyajikan sejumlah studi kasus tentang praktek-praktek terbaru (dan diharapkan terbaik) dalam kesiapan berjejaring di beberapa negara, didukung dengan data yang komprehensif, termasuk profil rinci untuk masing-masing negara dan tabel peringkat global dari 68 indikator pembentuk NRI.
Laporan kali ini terbit pada saat ekonomi dunia mengalami krisis ekonomi terburuk dalam dasawarsa ini. Harapannya adalah agar ICT dapat memainkan peran pendorong pertumbuhan baru, untuk membawa dunia keluar dari resesi.
Laporan ini menyimpulkan bahwa dari 133 negara maju dan berkembang yang dipantau, Swedia adalah negara yang paling siap berjejaring di dunia pada tahun 2009-2010. Singapura menempati posisi ke 2, diikuti oleh Denmark, Swiss, dan kemudian Amerika Serikat. Negara-negara Eropa lain menempati posisi teratas dalam peringkat NRI. Indonesia menempati posisi ke 67, melompat dari posisi ke 83 setahun sebelumnya, sebuah prestasi yang membanggakan. Walau demikian, Indonesia masih tertinggal jauh dari Malaysia (ke 28), China (ke 37), India (ke 43), bahkan Thailand (ke 47). Indonesia menempati posisi yang baik dalam indikator-indikator keberadaan modal ventura (ke 15), perpajakan (ke 22), beban regulasi pemerintah (ke 23), perkembangan klaster (ke 24), ekspor industri kreatif (ke 25), pelanggan telpon rumah (ke 26), belanja perusahaan untuk R&D (ke 28), kecanggihan pembeli (ke 30), keberadaan ilmuwan dan insinyur (ke 31), dan pelatihan staf (ke 33). Sedangkan kelemahan Indonesia antara lain dalam hal: anggaran pendidikan (ke 127), waktu memulai bisnis (ke 116), keberadaan sambungan telpon baru (ke 107), layanan listrik (ke 106), pengguna internet (ke 103), server internet aman (ke 102), pelanggan internet pitalebar (ke 101), komputer pribadi (ke 101), pelanggan telpon seluler (ke 97), dan indeks layanan online pemerintah (ke 94). Laporan ini membantu pihak-pihak terkait untuk merumuskan kebijakan yang lebih efektif berdasarkan peta kekuatan dan kelemahan yang ditunjukkan dan pengalaman di negara-negara lain yang diuraikan.
Majalah Perencanaan Pembangunan kali ini menyajikan banyak artikel menarik mengenai berbagai isu
perencanaan pembangunan. Semoga semuanya bermanfaat dan menumbuhkan inspirasi.
Abstrak
Laguna Segara Anakan merupakan perairan yang berlokasi di daerah muara pantai selatan Jawa Tengah, di perbatasan antara kabupaten Ciamis, Jawa Barat dan kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Segara Anakan merupakan kawasan lahan basah yang sebagian besar tertutup oleh 26 jenis tanaman mangrove. Ekosistem mangrove di kawasan Segara Anakan merupakan tempat pemijahan, mencari makan, dan membesarkan diri dari setidaknya 45 jenis ikan laut, 85 jenis burung, dan beragam satwa lainnya.
Kawasan Segara Anakan dari tahun ke tahun terus mendapat tekanan akibat aktivitas manusia. Penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan pada kawasan kota dan kerusakan hutan di daerah hulu sungai menyebabkan tingginya tingkat erosi pada sungai yang bermuara ke laguna. Adanya sedimentasi mengakibatkan terjadinya pendangkalan serta penyempitan luasan laguna.
Ekosistem mangrove kawasan Segara Anakan juga mengalami tekanan lingkungan yang sangat tinggi akibat penebangan liar. Masyarakat melakukan penebangan liar karena alasan kondisi ekonomi seperti untuk keperluan membuka areal pertambakan, pertanian, permukiman, dan pemanfaatan kayu mangrove sebagai material bangunan serta bahan baku arang untuk kebutuhan industri.
Tulisan ini mencoba untuk mengiventarisir permasalahan yang ada di kawasan Segara Anakan sebagai bahan masukan dalam merencanakan strategi penyelamatan Segara Anakan.
YULIARKO SUKARDI
I.
PENDAHULUAN
Kawasan Segara Anakan terletak di antara 7°35’ - 7°46’ S dan 108°45’ - 109°01’ E, di perbatasan antara provinsi Jawa Barat dan provinsi Jawa Tengah sebelah selatan Pulau Jawa. Luas keseluruhan kawasan Segara Anakan adalah sekitar 24.000 hektar, meliputi perairan, hutan mangrove, dan daratan-daratan lumpur yang terbentuk karena sedimentasi. Laguna Segara Anakan merupakan perairan yang berlokasi di daerah muara di pantai selatan Jawa Tengah, terletak di perbatasan antara kabupaten Ciamis, Jawa Barat dan kabupaten Cilacap, Jawa Tengah (gambar 1). Definisi laguna dalam istilah geografi adalah perairan yang hampir seluruh wilayahnya dikelilingi daratan dan hanya menyisakan sedikit celah yang berhubungan dengan perairan laut. Sifatnya jauh lebih tertutup dibandingkan dengan teluk, apalagi selat.
Di masa lalu, Segara Anakan merupakan kawasan lahan basah yang sebagian besar lahannya tertutup oleh 26 jenis tanaman mangrove. Hutan mangrove Segara Anakan memiliki komposisi maupun struktur hutan terlengkap dan terluas di
Pulau Jawa. Keberadaan mangrove ini sangat berperan penting dalam siklus hidup beberapa biota karena kemampuannya dalam menyediakan nutrisi bagi biota di perairan sekitarnya. Ekosistem mangrove di kawasan Segara Anakan merupakan tempat pemijahan, mencari makan, dan membesarkan diri dari 45 jenis ikan laut, baik jenis ikan yang menetap seperti ikan prempeng (Apogon aerus), udang, kepiting, lobster, kerang totok, kerapu merah, cumi-cumi,
gurita, bawal putih, kakap putih, layur, pari, sotong, sidat, ikan hiu, dan biota laut lainnya, maupun 17 jenis ikan yang tidak menetap/bermigrasi seperti ikan sidat laut (Anguilla sp). Setelah mereka dewasa, biota laut tersebut kemudian keluar melalui muara laguna ke laut lepas, untuk selanjutnya ada yang ditangkap para nelayan dan sebagian merupakan mata rantai pangan bagi berbagai jenis ikan besar di Samudra Hindia. Sebagai ekosistem yang subur dan kaya akan nutrisi membuat kawasan ini juga ramai dikunjungi oleh beragam satwa seperti monyet, linsang, dan setidaknya 85 jenis burung, termasuk 160-180 bangau bluwok (mycteria cinerea) dan 25 bangau
tongtong (leptoptilos javanicus) yang mana keduanya tercatat sebagai burung terancam punah. Segara Anakan juga memiliki biota yang unik, salah satunya adalah ikan sidat. Ikan ini memiliki kandungan DHA hampir dua kali lipat dibandingkan ikan biasa. Bahkan menurut hasil penelitian disebutkan bahwa dari dua belas spesies ikan sidat di dunia, tujuh diantaranya berkembang di kawasan Segara Anakan.
Dengan seluruh kekayaan itu, laguna Segara Anakan telah menyumbang produksi perikanan pantai lebih dari 62 milyar rupiah dalam satu tahun. Bahkan berdasarkan perhitungan para peneliti asing, nilai kekayaan perikanan di kawasan Segara Anakan mencapai 8,3 juta dolar AS per tahun. Sebuah riset yang juga sempat dilakukan di Segara Anakan mengkuantifisir setiap hektar mangrove dengan biota laut yang menumpangnya memiliki nilai ekonomis hingga 1.400 dolar AS. Lembaga independen Amerika Serikat, Engineering Consultant Incorporation (ECI), yang juga meneliti Segara Anakan menyebutkan, 94% udang di perairan lepas pantai selatan Pulau Jawa menggunakan laguna Segara Anakan sebagai tempat pembiakannya.
Selain itu, keanekaragaman hayati yang dimiliki kawasan Segara Anakan berpotensi untuk digali sebagai salah satu daerah tujuan wisata serta sebagai laboratorium alam tempat belajar bagi anak-anak sekolah dan tempat melakukan penelitian bagi para mahasiswa ataupun peneliti dalam mengamati fenomena alam dan lingkungan sekitarnya yang memiliki ciri khas dan tidak dijumpai di wilayah lain.
II. PERMASALAHAN LINGKUNGAN
Kawasan Segara Anakan dari tahun ke tahun terus mendapat tekanan akibat aktivitas manusia. Saat ini kawasan Segara Anakan dihadapkan pada dua masalah pokok, yakni
sedimentasi (pendangkalan) dari sedimen (berupa lumpur dan limbah) yang terbawa sungai-sungai yang bermuara kedalam laguna dan berkurangnya luasan hutan mangrove.
Sedimentasi
Laguna Segara Anakan secara kontinyu mengalami degradasi akibat tingkat sedimentasi yang tinggi. Adanya sedimentasi selama bertahun-tahun pada perairan tersebut telah mengakibatkan terjadinya pendangkalan serta penyempitan luasan laguna.
Laguna Segara Anakan sebagai muara dari beberapa sungai besar seperti Sungai Citanduy, Cibereum, Cimeneng, Cikonde, dan beberapa sungai lainnya membawa konsekuensi pada melimpahnya pasokan air dan sedimen yang terbawa kedalam
laguna. Penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan pada kawasan kota dan kerusakan hutan di daerah hulu sungai menyebabkan tingginya tingkat erosi pada sungai tersebut.
Erosi pada sungai-sungai yang bermuara di laguna Segara Anakan menyumbang material lumpur dan bahkan limbah sebanyak 5.000.000 m3/tahun, dimana sebesar 1.000.000 m3/tahun terendapkan di laguna. Dari 1.000.000 m3 tersebut, 750.000 m3 disumbangkan oleh material yang dibawa aliran Sungai Citanduy, sedangkan sisanya 250.000 m3 berasal dari material yang dibawa sungai lainnya. Sehingga, total sedimentasi di laguna terhitung sejak tahun 1994 hingga kini sudah melebihi 5.000.000 m3. Material lumpur dan limbah yang dibawa aliran air sungai akan tersuspensi pada dasar perairan yang kemudian
terakumulasi menjadi endapan. Akibat adanya endapan tersebut menyebabkan pendangkalan pada laguna, menyempitnya luas perairan, serta adanya tanah timbul.
Laju sedimentasi yang tinggi dari tahun ke tahun menyebabkan luasan laguna Segara Anakan semakin menyusut. Walaupun terdapat perbedaan data dari berbagai sumber yang berbeda, namun data-data tersebut menunjukkan kecenderungan yang sama dalam menggambarkan laju penurunan luasan laguna Segara Anakan seperti terlihat pada gambar 2. Sedangkan gambar 3 memperlihatkan hasil pengolahan data inderaja luasan laguna Segara Anakan.
Laju sedimentasi yang tinggi di laguna Segara Anakan juga mengakibatkan menyempitnya alur (celah) di Plawangan Barat yang menghubungkan laguna dan laut lepas Samudera Hindia hingga berjarak sekitar 60 m antara pulau Jawa dan Nusakambangan dari sebelumnya berjarak 300 m pada tahun 2002. Kedalamannya pun menjadi semakin dangkal, mulai dari minus 0,63 m sampai 4,6 m. Celah tersebut sangat penting untuk mengalirkan air sungai dan sedimen ke laut, sirkulasi air laut dan air tawar di laguna, serta menjadi pintu gerbang masuk dan keluarnya biota laut pada saat pemijahan, mencari makan, dan membesarkan diri.
Kerusakan Hutan Mangrove
Di samping masalah sedimentasi, ekosistem hutan mangrove kawasan Segara Anakan juga mengalami tekanan lingkungan yang sangat tinggi akibat penebangan liar, yang mengakibatkan berkurangnya luasan hutan mangrove. Masyarakat melakukan penebangan liar karena alasan kondisi ekonomi seperti untuk keperluan membuka areal pertambakan, pertanian, permukiman, dan pemanfaatan kayu mangrove sebagai material bangunan serta bahan baku arang untuk kebutuhan industri.
Gambar 2. Laju Penurunan Luasan Laguna Segara Anakan
Gambar 3. Data Inderaja Luasan Laguna Segara Anakan
Sumber: Profil Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy, Ditjen Sumber Daya Air, Departemen Pekerjaan Umum
0 1.000 2.000 3.000 4.000 5.000 6.000 7.000
1900 1920 1940 1960 1980 2000 2020
T a h u n
L
u
a
s
(
H
a
)
Profi l Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy - Ditjen SDA Dep. PU Badan Pengelola Kawasan Segara Anakan (BPKSA)
pertambakan udang secara besar-besaran. Para investor menyewa lahan yang dimiliki oleh pemerintah dan lahan yang menjadi hak garapan penduduk setempat, sehingga terjadi konversi lahan yang mengakibatkan berkurangnya luas area hutan mangrove secara drastis di wilayah tersebut.
Pada awal perkembangannya, tambak-tambak udang tersebut memang menguntungkan dan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat lokal. Namun, seiring stabilnya harga udang di pasar dunia, bidang usaha tambak udang tersebut mulai mengalami kerugian sehingga mengakibatkan kebangkrutan yang berujung pada penutupan usaha
pertambakkan. Tidak hanya sampai di sini, pohon mangrove pun tidak bisa tumbuh lagi khususnya di tempat-tempat pemberian makanan udang karena kerasnya bahan kimia yang dipakai untuk membesarkan udang secara instan.
Menurunnya luas hutan mangrove dipengaruhi juga oleh penebangan liar yang dilakukan masyarakat untuk dijadikan kayu bakar, baik untuk kebutuhan rumah tanga ataupun industri. Keadaan ini semakin memburuk seiring dengan makin maraknya order dari bisnis arang mangrove dari sejumlah kota di tanah air ke wilayah tersebut. Kualitas arang dari mangrove dikenal paling bagus karena jenis kayunya yang keras, sehingga dijadikan bahan baku industri arang.
Sementara itu, peningkatan sedimentasi dari lumpur yang terbawa oleh beberapa sungai yang bermuara di kawasan Segara Anakan menciptakan lahan-lahan tanah timbul baru. Hal ini mendorong
warga setempat dan juga masuknya para pendatang untuk menggarap lahan tanah timbul tersebut menjadi areal pertanian. Sehingga dengan alasan membuka lahan pertanian, banyak pohon mangrove yang ditebang secara liar untuk dijadikan sawah dan permukiman. Penebangan liar juga dilakukan guna memanfaatkan kayu mangrove sebagai material bahan bangunan.
Penebangan hutan mangrove memang sudah terbukti menyebabkan luas hutan kawasan Segara Anakan kian hari terus menyusut seperti ditunjukkan dalam gambar 4 yang memperlihatkan laju penurunan luasan hutan mangrove di kawasan Segara Anakan.
III. DAMPAK PERMASALAHAN
Kerusakan lingkungan di kawasan Segara Anakan mengancam kekayaan biota di kawasan ini. Penumpukan sedimen
dari beberapa sungai yang bermuara di laguna Segara Anakan selama bertahun-tahun telah mendangkalkan dan menyempitkan perairan yang merupakan habitat biota laut dan air payau. Sebagian besar dari biota tersebut juga merupakan sumber makanan bagi burung-burung air di kawasan Segara Anakan. Tingkat erosi yang tinggi juga mengakibatkan wilayah perairan keruh dan kotor, sehingga kehidupan biota di laguna Segara Anakan pun terancam.
Gerbang Plawangan yang merupakan pintu pertemuan air sungai yang bermuara di Segara Anakan dengan laut lepas
Sumber: Badan Pengelola Kawasan Segara Anakan
0 4.000 8.000 12.000 16.000
1970 1980 1990 2000 2010
T a h u n
L
u
a
s
( H
a
)
Samudera hindia kini kian sempit dan dangkal. Celah tersebut sangat penting untuk mengalirkan sedimen dan air ke laut, serta menjadi pintu gerbang masuknya biota laut untuk memijahkan diri di laguna. Kondisi tersebut menimbulkan lumpur sungai tak dapat langsung meluncur ke laut lepas karena tertahan tumpukan sedimentasi dan berkurangnya biota laut yang memijahkan diri di Segara Anakan karena kesulitan masuk kedalam laguna.
Keadaan ini semakin memburuk seiring dengan penyusutan luasan hutan mangrove yang menyebabkan peran mangrove sebagai penyedia nutrisi bagi keberlanjutan kehidupan biota laut, air payau, dan burung air yang menumpangnya berkurang. Berkurangnya luasan hutan mangrove dan sedimentasi menjadi faktor penyebab utama menurunnya jumlah tangkapan ikan di daerah pesisir dan hilangnya mata penghidupan nelayan setempat. Permasalahan ini dapat mengancam sektor perikanan laut di Cilacap.
Dampak besar lainnya akibat sedimentasi dan berkurangnya luasan hutan mangrove adalah semakin mudah terendamnya areal permukiman dan pertanian saat air pasang. Akibatnya, instalasi air bersih rusak, sumber air bersih tercemar, lahan pertanian rusak, dan banjir. Ratusan hektar lahan persawahan tidak bisa ditanami akibat terinterusi air laut. Sementara itu, hilangnya mangrove juga mengakibatkan suhu udara semakin panas.
Sedimentasi Segara Anakan tidak hanya menyebabkan banjir, namun juga mengganggu jalur perahu nelayan dan alur pelayaran kapal penyebrangan. Beberapa kendala akibat sedimentasi di kawasan ini diantaranya: jalur kapal penyebrangan antara Dermaga Lomanis, Cilacap – Dermaga Majingklak, Ciamis dan kapal besar berkapasitas hingga 300 orang antara Cilacap – Kalipucang terhenti; alur Pelabuhan Indonesia III Cabang Tanjung Intan mendangkal dan membuat kapal kandas pada tahun 2004; alur pelayaran kapal tanker pemasok minyak mentah ke pelabuhan khusus Pertamina Lomanis Cilacap terganggu; alat transportasi kapal roro dan compreng bagi wilayah setempat sebagian besar sudah berhenti beroperasi; serta Dinas Angkutan Sungai, Danau, dan Perairan (ASDP) Cilacap telah menghentikan armadanya untuk jalur Cilacap – Kampung Laut – Kalipucang sehingga transportasi ke tiga desa di Kampung Laut, yaitu Desa Ujung Gagak, Klaces, dan Ujung Alang nyaris terputus.
Segara Anakan dengan keanekaragaman hayati yang tinggi memiliki kepentingan ekologi yang sangat besar. Hilangnya kawasan ini membawa implikasi ancaman ekonomi dan kerusakan lingkungan yang fatal. Jika hal ini dibiarkan, maka Indonesia akan mengalami kerugian besar dengan kehilangan satu ekosistem yang luar biasa dan unik.
IV. UPAYA PENYELAMATAN
Upaya yang telah dilakukan pemerintah, swasta, dan masyarakat untuk mengatasi permasalahan kawasan Segara Anakan meliputi rehabilitasi hutan mangrove, pembangunan dam pengendali dan penahan, pengerukan sedimen, pembuatan daerah tangkapan atau sumur resapan, hingga penyodetan sungai.
Untuk menahan laju sedimentasi, BPKSA menjalankan program Konservasi Tanah dan Pengendalian Erosi (KTPE). Program KTPE terdiri atas kegiatan fisik dan vegetasi. Kegiatan fisik meliputi pembangunan dam pengendali, dam penahan, dan terucuk bambu. Kegiatan vegetasi berupa agro forestry, pembuatan Unit Percontohan Usaha Pelestarian Sumberdaya Alam (Up-Upsa), dan pembuatan kebun bibit desa. Yang menjadi sasaran KTPE terutama lahan kritis di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimeneng, Cikawung, dan Ciseel.
Upaya penyelamatan Segara Anakan terus berlanjut dengan penyodetan Sungai Cimeneng (gambar 6) dan pengerukan yang dilakukan di titik Plawangan, selatan Desa Karanganyar, dan dekat muara, melalui Proyek Konservasi dan Pembangunan
Segara Anakan (Segara Anakan Conservation and Development
Project) dengan dana yang sebagian besar berasal dari pinjaman ADB dan sisanya dari APBN, antara tahun 2000 dan 2005 (gambar 5), membuat luasan laguna naik menjadi 834 Ha pada tahun 2005 dari 600 Ha pada tahun 2003. Namun kini hasil pengerukan tersebut hampir tidak berbekas karena sedimentasi yang terus menerus mengendap di kawasan ini, sehingga penyusutan luasan laguna pun terus berlangsung. Proyek yang dimulai efektif dari tahun 1997 – 2005 ini, dinilai ADB tidak berhasil.
Salah satu paket programnya yang belum berhasil dilakukan adalah memindahkan muara Sungai Citanduy dari laguna Segara Anakan ke teluk Nusawere, Kabupaten Ciamis dengan membuat sodetan aliran sungai sepanjang 3 km. Rencana yang lebih dikenal dengan sodetan Citanduy (gambar 6) ini berlandaskan asumsi bahwa sedimen terbesar di kawasan laguna Segara Anakan berasal dari Sungai Citanduy (75%). Sehingga air sungai beserta sedimen yang terbawa itu tidak lagi memasuki laguna Segara Anakan, melainkan langsung ke Samudera Hindia. Berdasarkan hasil studi, sebaran lumpur dari Sungai Citanduy nantinya akan terbuang melebar paling jauh 5 km dari teluk Nusawere.
Sumber: Kebijakan Untuk Mangrove. Mengkaji Kasus dan Merumuskan Kebijakan. IUCN & Mangrove Action Project
Gambar 5. Pengerukan Laguna Segara Anakan
Sumber: ADB Completion Report. 2006. Indonesia: Segara Anakan Conservation And Development Project.
itu, kelompok yang kontra berpendapat bahwa sodetan hanya akan memindahkan persoalan dari Segara Anakan ke teluk Nusawere tanpa benar-benar menyelesaikan persoalan sedimentasi itu sendiri. Dikatakan lebih lanjut bahwa proyek ini justru akan meningkatkan potensi pencemaran sampah ke pantai Pangandaran (berjarak sekitar 25 km dari Teluk Nusawere) yang merupakan salah satu kawasan andalan Jawa Barat di bidang pariwisata dan mengurangi hasil tangkapan ikan bagi nelayan Ciamis karena teluk Nusawere merupakan daerah tangkapan ikan yang potensial.
Pada tahun 2007, melalui Program Gerakan Nasional
Pengelolaan Air (GNPA), dibuat model sumur resapan sebagai daerah tangkapan dengan pola ekohidrolik sebanyak 20 buah di sekitar alur sungai untuk mengurangi erosi yang masuk ke laguna Segara Anakan. Hasil penelitian sementara program ini cukup efektif menghambat sedimentasi dan mendapat respon positif dari masyarakat, sehingga berkembang menjadi setidaknya 600 sumur yang telah dibuat.
Upaya pelestarian hutan mangrove terus dilakukan dengan penanaman bibit mangrove sebanyak 10.000 batang pada lahan seluas 1 Ha di Grumbul Mangun Jaya dan Lempong Pucung, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut. Kegiatan
penanaman yang dilakukan oleh Pertamina Refinery Unit (RU)
IV Cilacap melalui program corporate social responsibility (CSR)
pada akhir tahun 2009 mengambil tema “Save The Mangrove
Now!” ini melibatkan Kantor Pengelolaan Pemberdayaan Segara Anakan (KPPSA) Cilacap dan pecinta alam.
V. PENUTUP
Laguna Segara Anakan merupakan perairan yang berlokasi di daerah muara di pantai selatan Jawa Tengah, terletak di perbatasan antara kabupaten Ciamis, Jawa Barat dan kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Segara Anakan merupakan kawasan lahan basah yang sebagian besar lahannya tertutup oleh 26 jenis tanaman mangrove. Ekosistem mangrove di kawasan Segara Anakan merupakan tempat pemijahan, mencari makan, dan membesarkan diri dari setidaknya 45 jenis ikan laut, 85 jenis burung, dan beragam satwa lainnya.
Kawasan Segara Anakan dari tahun ke tahun terus mendapat tekanan akibat aktivitas manusia. Penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan pada kawasan kota dan kerusakan hutan di daerah hulu sungai menyebabkan tingginya tingkat erosi pada sungai yang bermuara ke laguna. Adanya sedimentasi mengakibatkan terjadinya pendangkalan serta penyempitan luasan laguna.
Ekosistem mangrove kawasan Segara Anakan juga mengalami tekanan lingkungan yang sangat tinggi akibat penebangan liar.
Masyarakat melakukan penebangan liar karena alasan kondisi ekonomi seperti untuk keperluan membuka areal pertambakan, pertanian, permukiman, dan pemanfaatan kayu mangrove sebagai material bangunan serta bahan baku arang untuk kebutuhan industri.
Segara Anakan dengan keanekaragaman hayati yang tinggi memiliki kepentingan ekologi yang sangat besar. Hilangnya kawasan ini membawa implikasi ancaman ekonomi dan kerusakan lingkungan yang fatal. Jika hal ini dibiarkan, maka Indonesia akan mengalami kerugian besar dengan kehilangan satu ekosistem yang luar biasa dan unik.
Pembahasan mengenai permasalahan di kawasan Segara Anakan sangatlah panjang dan kompleks. Berbagai dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan begitu sensitif. Mengingat kawasan Segara Anakan berada dalam kawasan lintas wilayah administrasi dan permasalahan yang dihadapi bersifat multisektoral, maka masalah kawasan Segara Anakan merupakan masalah nasional. Oleh karena itu, membahas permasalahan ini harus secara utuh dan menyeluruh, sehingga solusi yang diberikan tidak bersifat parsial dan sesaat.
Kegiatan pengerukan dan sodetan memang dapat mengurangi dampak sedimentasi. Tetapi usaha itu bukanlah satu-satunya solusi, melainkan harus ditindaklanjuti dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang berkelanjutan. Apalagi jika tidak cermat dan teliti dalam mengkaji masalah, upaya pengerukan dan sodetan dapat mengancam dan menimbulkan masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan baru pada ekosistem yang ada. Konsep konservasi yang tampaknya lebih diterima masyarakat setempat adalah dengan penyelamatan hutan mangrove dan rehabilitasi lahan di DAS Citanduy dan sungai-sungai lainnya yang bermuara di kawasan laguna Segara Anakan.
Namun, upaya-upaya penyelamatan kawasan Segara Anakan itu serasa lambat dibandingkan laju kerusakan mangrove dan sedimentasi yang kian tak terkendali. Lemahnya perencanaan dan implementasi dari strategi dan arah kebijakan yang tertuang dalam kegiatan dan program pemerintah, lemahnya penegakan hukum, serta minimnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat akan pentingnya pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan hidup, sedikit banyak berkontribusi menghambat upaya-upaya menyelamatkan kawasan Segara Anakan.
YULIARKO SUKARDI ([email protected])
Daftar Pustaka
ADB Completion Report. 2006. Indonesia: Segara Anakan Conservation And Development Project. Agus Purnama. 2008. Reorientasi Kebijakan Penyelamatan
Hutan Bakau Kawasan Segara Anakan. Kabar Indonesia
Agus Sukaryanto. 2004. Perairan Unik Itu Sedang Menangis. Suara Merdeka
Chabibul Barnabas. 2008. Imbas Sedimentasi Segara Anakan. Pusat Studi Kebijakan Lingkungan
Chairil Anwar dan Hendra Gunawan. 2007. Peranan Ekologis dan Sosial Ekonomis Hutan Mangrove dalam Mendukung Pembangunan Wilayah Pesisir. Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Penelitian Dewi Irma. 2008. SOS Untuk Segara Anakan. Pikiran Rakyat http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2004/0707/hob2.
html (diakses terakhir pada 5 April, 2010) http://www.suaramerdeka.com/harian/0503/01/ban01.htm
(diakses terakhir pada 5 April, 2010) http://m.kompas.com/xl/read/data/2008.01.08.1000146
(diakses terakhir pada 5 April, 2010)
http://www.matabumi.com/news/lingkungan/sedimentasi- segara-anakan-hilangkan-mata-pencaharian-nelayan (diakses terakhir pada 5 April, 2010)
http://matanews.com/2008/08/11/usia-segara-anakan-tinggal-10-tahun/ (diakses terakhir pada 5 April, 2010) http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/
lingkungan/09/12/14/95866-hutan-mangrove-di-segara-anakan-makin-memprihatinkan (diakses terakhir pada 5 April, 2010)
http://www.perumperhutani.com/index.php?option=com_c ontent&task=view&id=867&Itemid=2 (diakses terakhir pada 5 April, 2010)
http://www.pikiran-rakyat.com/node/102595 (diakses terakhir pada 5 April, 2010)
http://bataviase.co.id/detailberita-10423682.html (diakses terakhir pada 5 April, 2010)
http://www.stp.dkp.go.id/index.php?option=com_content&vi ew=article&id=336:sudah-menyusut-dirambah-pula&catid=71:berita-umum&Itemid=108 (diakses terakhir pada 5 April, 2010)
http://www.menkokesra.go.id/content/view/13722/39/ (diakses terakhir pada 5 April, 2010)
http://www.cilacapkab.go.id/v2/index.php?pilih=news&mod= yes&aksi=lihat&id=816 (diakses terakhir pada 5 April, 2010)
http://banyumasnews.com/2010/01/15/penanganan-laguna-segara-anakan-butuh-komitmen-lintas-sektoral/ (diakses terakhir pada 5 April, 2010)
Irfan Anshory. 2007. Sekali Lagi:Sodetan Citanduy!. Pikiran
Rakyat
Jajang Agus Sonjaya. 2007. Kebijakan Untuk Mangrove. Mengkaji Kasus dan Merumuskan Kebijakan. IUCN & Mangrove Action Project
Legono Djoko, Tjut Sugandawaty Djohan, dan Gutomo Priyatmono. 2007. Model Sosio-Eko-Hidraulik Pengelolaan Laguna Segara Anakan secara Berkelanjutan. Semiloka: Pengelolaan Segara Anakan Berkelanjutan Berbasis Partisipasi Masyarakat. Semarang
Liliek Dharmawan. 2008. Laguna yang Nyaris Tinggal Kenangan. Media Indonesia
Miranti Soetjipto-Hirschmann. 2009. Mencegah Anak Laut Tenggelam
Mohamad Burhanudin. 2008. Luas Segara Anakan Tinggal Kurang dari 800 Hektar. Kompas
Mohamad Burhanudin. 2008. Sedimentasi Segara Anakan 1 Juta Meter Kubik Per Tahun. Kompas
Profil Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy. 2008. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Departemen Pekerjaan Umum
Projo Arief Budiman. 2007. Kajian Mata Pencaharian Alternatif Masyarakat Nelayan Kecamatan Kampung Laut Kabupaten Cilacap. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota. Fakultas Teknis Universitas Diponegoro Semarang.
Sumarwoto. 2009. Menggali Potensi Wisata Segara Anakan. Antara
Yuliarko Sukardi, Asri Rahayuningrum, Aswicaksana, Dwi Ratih Suryantining Esti, dan Ervan Arumansyah. 2009. Studi Identifikasi Permasalahan Lingkungan Di DAS Citanduy Kabupaten Ciamis. Laporan Diklat Fungsional Perencana Tingkat Pertama. Bappenas-MEPP UNPAD-PWK SAPPK ITB. Bandung
A.
INTRODUCTION
Since 2008, the world economy has faced severe crisis. It has moved from financial sector to real economy crisis. The wide-scale crisis made many countries have problems related to the increasing unemployment rate and decreasing economic activity. The effect of economic recession happened not only in developing countries but also in the developed countries (Athern 2009, p 2). The United States, Japan, Europe, and many countries in Latin America and Asia are reported to be suffered from the crisis.
Figure 1 shows the world trade volume decreased significantly between October-December 2008. Developed countries such as Italy and the US experienced drop of trade volume as much as 26% and 23% respectively. The most severe drop on the trade volume occurred in Turkey, Brazil, and China with 41%, 33%, and 32% respectively. Manufacturing product had the biggest effect of the trade volume declines (Badwin and Evenett 2009). In short, this collapse has been sudden, severe and synchronised.
In order to handle the economic recession and maintain or generate employment, some countries impose protectionism. It is aimed to defend their domestic companies by imposing trade barriers (Athern 2009, p 2). Keynes, as cited in Kim, mentions that to some extent protectionism can maintain the employment rate during economic meltdown, but when every country imposes tariff barriers, it can be highly unfavourable to the whole economy in which the world trading volume will fall down and worsen the recession (Kim 2006, p 3).
CERDIKWAN
Even though the WTO has several strong firewalls to prevent countries from imposing protectionism, but some countries persist to implement it. Protectionism is very challenging and becomes barrier to multilateral trading system. For instance, (1) protectionism causes deadweight loss that may create net loss for the economy. This loss is made by distortion of economic incentives both for consumer and producer; (2) protectionism might push economic recession to economic depression as we had in 1930s because current world economy is much more mutually dependent and integrated; (3) Even though some protectionism (eg anti-dumping measures) do not violate non-discrimination on WTO agreement, but in practice the importing countries might abuse anti-dumping measures as protectionism and might lead to trade war; and (4) protectionism leads countries to implement regional trade agreement that might make trading system becomes more fragmented and focus only on specific region, and Doha Round negotiation could be further weakened because countries focus on particular region and the gaps between key players become wider.
Therefore, in this essay, I would argue that protectionism has a bad effect to multilateral trading system especially in economic recession, and propose to implement trade liberalization. The essay will be structured as follows: (a) definition of protectionism; (b) negative impacts of protectionism to multilateral trading system; (c) proposed solution, and (d) conclusion.
B.
DEFINITION OF PROTECTIONISM
In general, protectionism is defined as an effort imposed by a country to help its domestic trade in global trade competition (Athern 2009, p 2) or deliberative use of policy barriers or regulations to assist local industries or to promote export (Dunkley 2004, p 9). The most robust practice is by imposing trade barriers addressed to certain countries in order to decrease its import. Therefore, protectionism may have different meanings to different perspectives. To some economists, protectionism may be perceived as a market violation because protectionism may lead to a market price distortion and resources misallocation. Policy makers, on the other hand, perceive that helping their constituents during the economic crisis by protecting their trade activities is a noble responsibility, and not perceived as protectionism. Protectionism may be considered, by some lawyers, as unacceptable measure because it is inconsistent with the rules and obligation of the WTO (Milner 1998).
During economic recession, protectionism can be argued as natural response to the recession. According to Milner (1988, p 4) there are two conditions ignite protectionist sentiment: Firstly, the occurrence of economic downturns such as economic depression and rising foreign competition to the growth of protectionist pressures. Secondly, the decline of the international economy’s dominant state. In light of this argument, the serious economic difficulties and the declining power of the dominant state in both the 1930s and 1970s might
US
Figure 1 World Trading Volume in Oct-Dec 2008
have been expected to produce similar protectionist policies or responses in the two periods (Milner; 1988, p 5).
Protectionism has two broad objectives to be achieved, namely providing visible and immediate relief to industries which experiencing severe difficulties; and allowing ongoing adjustment to change circumstances (OCDE 1985, p 21). These objectives correspond to an employment and social equity concern, and on the other hand to promote greater economic efficiency and industrial restructuring. Relative to the complexity of these objectives, protection is a fairly simple and blunt instrument of policy. By reducing import, protection seeks to raise the market share of domestic producers and the price they receive for their goods (OECD 1985, p 22). Greater output and profitability in the domestic industry is presumed to
increase employment and promote modernisation.
Until now, there are more than 47 types of trade barrier have been imposed, including 17 trade restrictions from G-20 countries (WTO 2009). The developed countries usually provide subsidy for their industry, while developing countries implement all forms of protection but especially tariff and other border measures as shown in table 1. Therefore, the WTO acknowledges two poles in the countries’ economic policy, countries that promote trade distortions and barriers in selected tradable goods and countries that introduce trade opening and facilitating measure to their commodities (WTO 2009).
Table 1 Level of Support and Protection since the Global Financial Crisis
Source: Baldwin and Evenett 2009
Country Type of Protection
European Union
Re-introducing export subsidies for butter, cheese and whole and skim milk powder from January 2009
Supporting the auto industry e.q France and Germany
Rusia
Introducing measures to support domestic car manufactures including state subsidies, and in January raised import duties on car and truck
Canada Introducing Aid package of short term loans to auto
industry
Australia Planning to set up a AUS$ 2 billion fund to provide
liquidity to car dealer financiers
India Increasing tariffs on some steel products in November
2008
Korea
Increasing Tariffs on imports of crude oil will increase from 1 percent to 3 percent in March 2009
Indonesia
Restricting entry point for imports, such as electronic, garments, toys, footwear and food and beverages to only five ports and certain international airports since December 2008
Argentina
Imposing non-automatic licensing requirements on products considered as sensitive, such as auto parts, textiles, televisons, toys, shoes, and leather goods
Mercosur
C.
NEGATIVE IMPACT OF
PROTECTIONISM TO
MULTILATERAL TRADING SYSTEM
This section will discuss that protectionism is not an answer either in handling the economic recession or promoting multilateral trade, in contrary protectionism might push economic recession to economic depression, economy will be suffered and it will promote trade war. As Baldwin and Evenett (2009, p 4) argued protectionism is an irony where it reduces productivity, competitiveness, employment rate, real income and in the in the long run everyone will be worse off.
As supporting argument that protectionism is harmful for the multilateral trade, there are several disadvantages of protectionism as discussed as follows:
C.1 Tariff Barriers cause the Deadweight Loss
The temptation for government to impose tariff barriers is very strong. Tariff barriers do provide revenue to the government and the most important attribute of tariff is that the
government will be enabled to satisfy special interest group in import-competing industries. To some extent, this action faces two dilemmas. On one side, countries should not involve in the international flow of services or goods, and on the other hand,
creating tariff barrier is necessary to protect local industries from foreign competition. In this part, I will explain how tariff barrier may cause economic loss.
When government imposes tariff barrier, automatically tariff revenue will be received by the government, the price of the imported product raises, the producer surplus increases. In contrast, the number of imported product decreases, the consumer surplus declines, and total surplus decrease (a deadweight loss -DWL).
Figure 2 shows the tariff barrier decreases total surplus and bring a deadweight loss (labelled E and F). The DWL is a loss of consumer surplus (Mc Taggart et al 2007, p 164) and consumers lose area B to producers and area D to the government.
Therefore, these looses of consumer surplus are gain to others. But the losses in area E and F are no one gains or deadweight loss. Furthermore, Dimulescu mentions the DWL represents the effect of tariff barrier that causes a net loss for the economy (2009, p.3). This loss is made by distortion of economic incentives both for consumer and producer. In contrast, if government imposes free trade, the distortions between consumer and producer are eliminated; therefore national welfare will increase significantly (Dimelescu 2009, p 6).
D
Quantity (millions of cars per year)
P
ric
e (thousands of dollars per car)
Figure 2 The Effect of a Tariff
C.2 Protectionism might lead to the Global
Depression
The protectionism that shields local companies from the effect of economic recession through the implementation of trade barriers might turn the global economic recession into a global economic depression (Athearn 2009, p 2). This argument is based on the implementation of protectionism action in the 1930s. At that time, the Smooth-Hawley Act in 1930 pushed the U.S government to raise tariff up to the average level of 60% over 20,000 products and other countries responded by raising their barrier to the U.S exports. Therefore, the world trade flows dropped 66% on average between 1929 and 1934 (Athearn 2009, p 3).
The existing condition shows that global trade has fallen down significantly compared to what had happened in 1930s in the same period. Figure 3 shows the present fall in the global market (the red line) has shaper sloping decline than it did during the great depression in 1930s (the blue line). It means the possibility that protectionism might push current economic recession into economic depression is much higher.
There are at least two major push factors that current protectionism is more harmful compared to the 1930s. Firstly, the current world economy is much more open than 1930s. It is related with the decreasing average tariff in the global economy. In the 1930s the average tariff was 50%, but it was declining to 25% in 1980s and less than 10% now. With more unstable economic situation, the anxiety to impose protectionism is more likely to occur.
Secondly, the current world economy is much more mutually dependent and integrated. For example, supply chain for hard disk drives assembled in Thailand is more mutually dependent to other countries. All the component of the hard disk drive is not only manufactured in Thailand, but also imported from Indonesia, China, Hong Kong etc for supporting components as shown in figure 3. Instead of raising tariff or impeding goods at the borders, many industries have found that cooperation with other foreign companies or joint ventures and international diversification are more likely profitable and more rational in handling the global competition. Manufacture exports are no longer made in one country and sold in another country. Therefore, if countries impose tariff barrier, it will create effect on multilateral trade and everybody will worse off.
C.3 Protectionism Can Be Misused by Particular
Country that Might Lead to a Trade War
There are several ways in how a country responds to unfair trade imposed by other countries. Anti-dumping is one of the most common response and it is an example of WTO legal protection that has been misused by developed or developing countries to do protectionism that might lead to trade war. The WTO agreements uphold the principle of anti-dumping action, but the agreements also allow exception in some circumstances (Chen 2009).
In theory, anti-dumping is an action done by importing countries to protect their domestic industry by charging more expensive import duty on a certain product exported from
60
5 10 15
Months since peak
20 25 30 35 40 45 50
70 80 90 100 110
June 1929 =100 April 2008 =100
other countries to close the price difference between the price of imported and domestic product (Chen 2009). The number of anti-dumping measures in 2008 increased significantly compared to previous years as shown in figure 5. Only in 2008 the growth rate of anti-dumping measures increases more than 10%. Developing countries proposed anti-dumping initiations higher than developed countries as shown in figure 6, but developed countries imposed anti-dumping more severely than developing countries especially in June-December 2008.
By arguing to protect domestic industry and without adequate investigation -- whether a particular product is being dumped heavily or slightly to the domestic products-- the importing country imposes different import tariff to specific products from the exporting countries. Even though the importing country does not violate non-discrimination on the WTO agreements, but in practice the importing countries might abuse anti-dumping measures as protectionism and might lead to trade war. As Dunkley (2004 p 193) claims that anti-dumping provision are being abused by first world
countries as protectionism and they want this provision tightened. For example, if the US had been imposing anti-dumping measures to steel and tire from China with tariff on tire up to 35% without proper investigation, China as an exporting county might not felt do the dumping, but China might also do anti-dumping measures to the product from the US. The US might want to protect their local industries on behalf of anti-dumping scenario. If many countries do the same things, trade wars cannot be avoided.
C.4 Protectionism Leads Countries to
Implement Regional Trade Agreements
The suspended Doha Round negotiation and the reciprocal effects of protectionism that push each county to impose tariff barriers might put the multilateral trade into trouble. Therefore, most of countries try to find the second best trade system and they usually choose regional trade agreements. As Chen (2009) argues in the world where tariff barriers exist, it is still possible
Figure 4 The Supply Chain Example
(This shows the nations where parts are sourced for a hard disk assembled in Thailand)
to reduce these barriers on a selective basis through a regional trade agreement that might be more beneficial to the world rather than a status quo.
Furthermore, Glania et al (2005) also argue protectionism leads countries, especially developing countries, to implement regional trade agreement. In regional trading system, developing countries have bigger opportunity to have better access to a large market. This trend also relates to the intention to protect them from reciprocal protectionism effect from other countries. For example, Mexico as part of NAFTA recently was excluded from US anti-dumping measure on steel products and the EU has abolished anti-dumping measures among member countries (Glania et al 2005, p 16). In addition, the Single European
Market (SEM) in the EU has modified and simplified boarder formalities the movement of capital and freedom movement of labour and goods between the EU.
In contrast, there are some disadvantages of regionalism itself that challenges the multilateral trading system. For instance: (1) producer gains less benefit than multilateral trading system. Regionalism offers less compensation for loss commodity price support to producers than global free trade does (Tweeten 1993 p 810); (2) trading system becomes more fragmented and focus only on specific regions; (3) the high risk of trade wars among trade regions might cause global instability, (4) Doha Round negotiation could be further weakened, because countries focus on a particular region and the gaps between key players become wider.
Figure 5 Growth Anti-dumping Cases
Figure 6 Anti-dumping cases, 2007-2008
Source: WTO, anti-dumping database (www.wto.org)
-40%
2004 2005
2006
2007
AD initiations Growth rate of AD
AD measures 2008
2004 2005
2006
2007 2008
-30% -20% -10% 0% 10% 20%
Antidumping Initiations Antidumping Imposed
Developing countries
Developed countries
Average
Jan 07-June 08 Jan 07-June 08Average
0 20 40 60 80 100 120
Jul 08 - Dec 08 Jul 08 - Dec 08
D. PROPOSED SOLUTION
The proposed solution will be divided into short and long terms. In the short term, stimulus package will be proposed to manage the effect of economic recession, while in the long run, Doha Round negotiation needs to be taken into account in order to endorse global free trade and firewall against the risk of renew protectionism.
In short run, stimulus packages are proposed to manage the effect of economic recession. As Baldwin and Evenett (2009) argue, stimulus packages take an important and effective tool to help recover from economic crisis. In response to the effect of economic recession, 26 countries have launched 58 different stimulus programs worth more than five trillion dollar (WTO 2009). In automotive sector, for example, Australia, France, Germany, the United States, Canada, and Brazil have launched stimulus packages not only to increase the car productions but also to stimulate the sales. A study conducted by Hufbauer et.al (2009) states that the U.S government provides subsidies to the local automotive manufactures approximately US$ 17.4 while total automotive subsidies all around the world are approximately US$48 billion.
Focusing on the stimulus packages, some scholars argue that in some circumstances, these subsidies can improve national economic resources and performance allocation, but they
might also be a trigger of misallocation resources and murky protection (Evenet and Jenny 2009). Therefore, in order to not violate one of articles in the WTO Agreements, the government give economic stimulus evenly. For example, Australian government provides stimulus package not only to Holden as its local industry, but also to Ford and other companies that invest in the same industry in Australia.
In the long run, I would argue that the trade liberalization is better in handling economic recession than protectionism. In order to accomplish trade liberalization, Doha Round negotiation is important to be agreed and it can be a barrier against the risk of renewed protectionism especially in agriculture and service sectors. Dimulescu (2009) mentions that Doha Round negotiation is the main effort to endorse free trade and it is an important element of world’s economy to escape from economic recession. Furthermore, Athearn (2009) argues that any kind of legal protections would hamper multilateral trading system and make the economic recession longer than expected.
The cost of protectionism as Matlack et al (2009) report from their research that the protectionism cost to the worldwide trade is estimated up to USS 728 billion. Therefore, both developed and developing countries should sit and talk together in Doha Round framework to reduce the gap for the sake of global
economic welfare. Doha Round negotiation itself can promote free trade as the absence of artificial barriers to the free flow of goods and services between countries (Dunkley 2004, p 9). Free trade is the optimum trading policy compared to protectionism. In theory, it supposedly leaves everyone better off economically without making everyone else worse off, and in practice, free trade allegedly produces higher income and faster economic growth than protectionism does (Dunkley 2004, p 11). Free trade also provides, relatively to protectionism, superior income, growth, prosperity and equity performance (OCDE 1995). Free trade is an engine of growth and it generates economic gain. Removing tariff and other trade barriers will allow productive resources to move to their efficient use.
E.
CONCLUSION
Since 2008, the world has faced economic crisis that put many countries, both in developing and developed countries in troubles. Economic activities dropped significantly. In response to the problems, many countries have implemented protectionism to protect their local industries by imposing trade barriers and promoting export.
However, protectionism has a bad effect to multilateral trading system especially in economic recession for several reasons. Protectionism causes deadweight loss that generates a net loss for the economy. Protectionism might also push economic recession to economic depression as we had in 1930s because current world economy is much more mutually dependent and integrated. Even though some protectionism (eg anti-dumping measures) do not violate non-discrimination principle in WTO agreement, but in practice the importing countries might abuse anti-dumping measures as protectionism and it might lead to trade war. Protectionism may lead countries to implement regional trade agreement that might cause the trading system becomes more fragmented and focus only on specific region. Lastly, Doha Round negotiation could be further weakened because countries focus on particular region and the gaps between key players become wider.
Therefore, the essay offers two proposed solution. Firstly, providing stimulus package to help countries recovering from economic crisis in the short run and secondly, advocate to continue the Doha Round negotiation to endorse free trade especially in agriculture and service sector for the long run, because the trade liberalization is better than protectionism.
Cerdikwan is a staff of Directorate for Political Affairs and Communications, Bappenas
REFERENCES
Athearn, R 2009, The Global Economic Downturn and
Protectionism, CRS Report for Congress,
Congressional Research Service Washington D.C. Baldwin R and Evenett S 2009, The Collapse of Global
Trade, Murky Protectionism and the Crisis:
Recommendations for the G20, Centre for Economic Policy Research CEPR, London UK.
Chen, C 2009, ‘The Global Trading System: Lecture note’, Policy and Governance Program, Crawford School of Economic and Government, The Australian National University.
Dimulescu, D 2009, Free Trade and Protectionism, University of Craiova, Craiova Romania.
Dunkley, G 2004, Free Trade: Myth, Reality and Alternatives,
University Press Ltd, Dhaka
Glania G and Mathess J 2005, Multilateralism or regionalism? Trade Policy for European Union, Center for European Policy Studies, Brussels
Hufbauer G, Rubini L and Wong Y, Swamped by Subsidy:
Averting a US-EU Trade War after Great Crisis,
Petersen Institute for International Economic Policy, Washington DC.
Kim, KH 2006, ‘Protectionism actually hurts US jobs and economy: An investigation of proponents and opponents, International Business and Economic Research Journal, vol. 5, no. 9, pp 1-6.
Matlack, C, Sasseen, J, and LeVine S 2009, ‘The new protectionism’, Business Week, vol. 4136, pp. 20-30
Mc Taggart, D, Findlay C, and Parkin M 2007, Economics,
Pearson Education Australia, New South Wales Australia
Milner H 1988, Resisting Protectionism: Global Industries and the Politics of International Trade, Princeton University Press, New Jersey.
OCDE – Organisation for Economic Cooperation and Development- 1985, Costs and Benefits of Protectionism, OCDE, France.
Tweeten L 1993, ‘Trade regionalism: Promises and problems’,
American Journal of Agricultural economic, vol. 75, no. 3, pp. 810-834.
“Putramu bukanlah putramu. Mereka adalah putra-putri kehidupan yang mendambakan hidup mereka sendiri. Mereka datang dari kamu tetapi tidak dari kamu. Dan sungguhpun bersamamu mereka bukanlah milikmu.” (Kahlil Gibran, 1923).
I.
PENDAHULUAN
Setiap anak manusia lahir dalam suatu lingkungan alam tertentu (nature) dan berinteraksi dengan satu lingkungan budaya tertentu (culture). Dengan demikian, keduanya akan
menentukan proses tumbuhkembangnya (nurture). Kebudayaan
cenderung mengulang-ulang perilaku tertentu melalui proses belajar yang kemudian memunculkan adanya kepribadian rata-rata yang merupakan ciri khas dalam masyarakat tertentu yang mencerminkan kepribadian dalam lingkungan tersebut.
Menurut Taylor di dalam Koentjaraningrat (1980), salah satu aspek kebudayaan adalah norma atau perilaku terpilih yang kemudian dianut oleh sebagian besar masyarakat. Norma ini
Tatang Muttaqin
www.koran.republika.co.id.jpg www.koran.republika.co.id.jpg
mengatur perilaku masyarakat atau menjadi pola pengasuhan anak yang dianut masyarakat. Dengan demikian, dapat ditarik benang merah bahwa norma yang dianut oleh suatu masyarakat berpengaruh terhadap pola pengasuhan anak dalam masyarakat tersebut.
Proses belajar dan tumbuhkembang anak harus diarahkan untuk menyuburkan perkembangan kecerdasan majemuk
(multiple inteligensia). Gardner (1993) memperkenalkan tujuh kecerdasan majemuk, yaitu: kecerdasan musical (kepekaan dan kemampuan berekspresi dengan bunyi, nada, melodi, irama);
bodily-kinesthetic (ketrampilan gerak, menari, olahraga); logical– mathematical (kemampuan menggunakan logika-matematik
dalam memecahkan berbagai masalah); linguistic (kemampuan
menguraikan pikiran dalam kalimat-kalimat, presentasi, pidato, diskusi, tulisan); spatial (kemampuan berpikir tiga dimensi),
intrapersonal (kemampuan memahami dan mengendalikan diri sendiri); interpersonal (kemampuan memahami dan menyesuaikan diri dengan orang lain).
II. MEDIA MASSA DAN PROSES
TUMBUH KEMBANG ANAK
Setiap anak diharapkan dapat berkembang secara sempurna dan simultan, baik perkembangan fisik, kejiwaan dan juga sosialnya. Untuk itu perlu dipetakan berbagai unsur yang terlibat dalam proses perkembangan anak sehingga dapat dioptimalkan secara sinergis. Urie Bronfenbrenner dalam Bappenas (2008) memetakan aspek pengembangan secara komprehensif melalui teori ekologi. Teori ini memetakan 5 sistem yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, yaitu: Pertama, sistem mikro yang terkait dengan setting individual di mana anak tumbuh dan berkembang, yang meliputi: keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan sekitar tetangga. Kedua, sistem meso yang merupakan hubungan di antara mikro sistem, misalnya hubungan pengalaman-pengalaman yang didapatkan di dalam keluarga dengan pengalaman di sekolah atau pengalaman
dengan teman sebaya. Ketiga, sistem exo yang menggambarkan
pengalaman dan pengaruh dalam setting sosial yang berada di luar kontrol aktif tetapi memiliki pengaruh langsung terhadap perkembangan anak, seperti, pekerjaan orang tua dan media massa. Keempat, sistem makro yang merupakan budaya di mana individu hidup seperti: ideologi, budaya, sub-budaya atau strata sosial masyarakat. Kelima, sistem chrono yang merupakan gambaran kondisi kritis transisional (kondisi sosio-historik).
Keempat sistem pertama harus mampu dioptimalkan secara sinergis dalam pengembangan berbagai potensi anak sehingga dibutuhkan pola pengasuhan, pola pembelajaran, pola pergaulan termasuk penggunaan media massa yang koheren dan saling mendukung. (Lihat gambar berikut)
Teori Model Ekologi Bronfenbrenner: Mikro, Mezo, Exo, Makro
Sumber: Bappenas, 2006.
Dalam teori perkembangan anak sebagaimana disampaikan Bronfenbrenner (Bappenas 2008), tumbuh-kembang anak tidak akan terpisahkan dari kelima sistem interaksi seperti tersebut di atas. Pada proses interaksi inilah banyak institusi yang akan menyosialisasikan nilai-nilai dan pengetahuan kepada anak. Oleh karena itu, orangtua tidak dapat dengan sempurna menginginkan anaknya menjadi seperti yang ia inginkan, karena banyak institusi yang turut berperan dalam proses sosialisasi, salah satunya yang paling berpengaruh di era global ini adalah media massa sehingga Mc Luhan (1964) menyebutnya kehadiran medianya saja telah membawa pesan, the medium is message.
Media massa dipandang punya kedudukan strategis dalam masyarakat. Ashadi Siregar (2004) memetakan tiga fungsi instrumental media massa, yaitu untuk memenuhi fungsi pragmatis bagi kepentingan pemilik media massa sendiri, bagi kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik dari pihak di luar media massa, atau untuk kepentingan warga masyarakat.
Secara konseptual, keberadaan media massa dan masyarakat perlu dilihat secara bertimbal balik. Untuk itu ada 2
pandangan yaitu apakah media massa membentuk (moulder)
Pandangan pertama, bahwa media membentuk masyarakat bertolak dari landasan bersifat pragmatis sosial dengan teori stimulus – respons dalam behaviorisme. Teori media dalam landasan positivisme ini pun tidak bersifat mutlak, konsep mengenai pengaruh media massa terdiri atas 3 varian, pertama: menimbulkan peniruan langsung (copy-cut), kedua: menyebabkan ketumpulan terhadap norma (desensitisation), dan ketiga: terbebas dari tekanan psikis (catharsis) bagi khalayak media massa.
Pandangan kedua menempatkan media sebagai teks yang merepresentasikan makna, baik makna yang berasal dari realitas empiris maupun yang diciptakan oleh media. Dengan demikian realitas media dipandang sebagai bentukan makna yang berasal dari masyarakat, baik karena bersifat imperatif dari faktor-faktor yang berasal dari masyarakat, maupun berasal dari orientasi kultural pelaku media. Dari sini media dilihat pada satu sisi sebagai instrumen dari kekuasaan (ekonomi dan/ atau politik) dengan memproduksi kultur dominan untuk pengendalian (dominasi dan hegemoni) masyarakat, dan pada sisi lain dilihat sebagai institusi yang memiliki otonomi dan independensi dalam memproduksi budaya dalam masyarakat. Secara teoretis, menurut Harold Laswell (Barran dan Davis, 2000) media massa memegang peranan penting sebagai katalisator dalam masyarakat, bahkan teoretisi Marxis melihat media massa sebagai piranti yang sangat kuat (a powerfull tool)1. Namun seiring dengan semakin beragamnya media dan
semakin berkembangnya masyarakat, kebenaran teori-teori tersebut menjadi diragukan.
Pemetaan dampak media massa yang cukup memadai dikemukakan oleh John T. McNelly (Zulkifli, 1996) yang dikenal dengan McNelly’s Four Position, yaitu: (1) sudut pandang nol (null position) yang menyatakan bahwa media massa memiliki sedikit peranan atau bahkan tidak memiliki peranan sama sekali; (2) sudut pandang antusias yang melihat media massa memiliki peran yang besar; (3) cautions position
yang menganggap media massa memiliki peranan namun bukan sebagai elemen utama dalam menentukan ada tidaknya perubahan; (4) sudut pandang pragmatik yang melihat bahwa berperan atau tidaknya media massa haruslah ditempatkan secara kontekstual.
Berdasarkan peta di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam skala minimal sekalipun media massa memiliki peran. Model efek terbatas (limited effect model) yang dianggap paling minimal dan pesimis dalam melihat efek media massa menyatakan bahwa sekecil apapun media massa tetap memberikan efek. Ada lima jenis media masa yang dikenal sebagai “The big five of mass media” yaitu televisi, film, radio, majalah dan koran. Televisi diyakini mempunyai pengaruh yang sangat kuat karena mampu memadukan kekuatan audio dan visual sehingga orang dapat melihat dan mendengar secara utuh dan menjadi lebih percaya. Apa yang tampak di televisi
dianggap sebagai realitas bermakna. Beberapa ahli menunjukkan adanya potensi imitasi atau peniruan sebagai efek segera yang sering muncul di masyarakat atas tayangan kekerasan di televisi. Sedangkan efek jangka panjang adalah berupa habituation, yaitu orang menjadi terbiasa melakukan apa yang dilihatnya di televisi. Akibatnya orang menjadi tidak peka, permisif, dan toleran terhadap kekerasan itu sendiri.
Wirodono (2005) berpendapat bahwa televisi mempunyai pengaruh buruk, terutama terhadap anak-anak. Wirodono mengutip data penelitian di Amerika bahwa anak di bawah dua tahun yang dibiarkan orangtuanya menonton televisi bisa mengakibatkan proses wiring, yaitu proses penyambungan antara sel-sel saraf dalam otak menjadi tidak sempurna. Padahal anak-anak yang menonton televisi tidak selalu mempunyai pengalaman empiris sehingga gambar televisi mengekspolitasi kerja otak anak-anak karena virtualisasi televisi yang meloncat-loncat sehingga mengganggu konsentrasi mereka.
Begitu besarnya pengaruh TV terhadap anak-anak, sampai-sampai pendiri organisasi Action for Children Television
yaitu Peggy Chairen memperingatkan bahwa tidak banyak hal lain dalam kebudayaan kita yang mampu menandingi kemampuan TV yang luar biasa untuk menyentuh anak-anak dan mempengaruhi cara berpikir serta perilaku mereka (Kristanto, 2008). Garin Nugroho (2005) menyebutkan bahwa televisi adalah refleksi ekosistem kehidupan suatu bangsa. Besarnya pengaruh itu, menurut psikolog Fawzia Aswin Hadis (Republika, 5/6/2005) adalah karena anak-anak memang berada pada fase meniru. Anak-anak adalah imitator ulung, dan karena itu akan cenderung meniru adegan yang ditonton di TV. Masalahnya adalah sejauhmana dampak tayangan televisi tersebut berpengaruh terhadap terhadap perilaku masyarakat khususnya anak-anak. Untuk membuktikan kebenaran ini memang relatif sulit, karena perilaku anak (remaja) anak sangatlah komplek dan dipengaruhi oleh banyak faktor.
Hasil studi yang dilakukan di Amerika Serikat tahun 1972 berjudul Television and Growing Up; The Impact of Televised Violence menunjukkan gambaran bahwa korelasi antara tayangan tindakan kekerasan di televisi dengan perilaku agresif pemirsa yang umumnya anak muda ditemukan taraf signifikansinya hanya 0,20 sampai 0,30 (Dedi Supriadi, 1997). Tingkat signifikansi sangat rendah ini tidak cukup menjadi dasar untuk menarik kesimpulan yang meyakinkan mengenai adanya hubungan langsung antara keduanya. Ini berarti tayangan tindakan kekerasan bisa saja berpengaruh terhadap sebagian penonton dan dapat juga netral atau tidak mempunyai pengaruh sekalipun.
dan menebar di layar TV. Penelitian Sri Andayani dan Hanif Suranto (1997) terhadap film-film kartun Jepang Sailor Moon, Dragon Ball dan Magic Knight Ray Earth menunjukkan lebih banyak adegan anti sosial dari pada adegan pro sosial (58,4% : 41,6%). Temuan diperkuat oleh studi YKAI yang mendapati adegan anti sosial lebih dominan (63,51 %). Bahkan adegan-adegan anti sosial pula yang banyak didapati pada film-film kartun anak-anak yang sedang populer saat ini, seperti Sponge Bob Square Pans dan Crayon Sincan.
Hal ini diperparah dengan adanya persaingan di antara stasiun televisi kini semakin ketat sehingga mereka bersaing menyajikan acara-acara yang digemari penonton, bahkan tanpa memerhatikan dampak negatif dari tayangan tersebut.2 Padahal
penonton televisi sangatlah beragam, di sana terdapat anak-anak dan remaja yang relatif masih mudah terpengaruh dan dipengaruhi. Sementara itu para orang tua terus sibuk dengan pekerjaan masing-masing, tanpa memperdulikan kondisi yang tengah terjadi antara televisi dan anak-anaknya sehingga banyak muncul cerita sinetron yang tidak menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat (Tini Hadad, 1997).
III. PANDANGAN MASYARAKAT
TENTANG TELEVISI DAN ANAK
Terkait dengan terpaan media massa, khususnya televisi, kajian Bappenas (2006) di empat provinsi menunjukan fenomena yang unik. Di wilayah di Propinsi DI Yogyakarta termasuk unik karena rata-rata waktu anak menonton televisi relatif sedikit, yaitu di bawah dua jam per hari. Fenomena ini tak lepas dari kebijakan pemerintah propinsi DI Yogyakarta yang kondusif melalui pembiasaan ”jam belajar” di rumah yang mendorong setiap keluarga untuk menyediakan waktu belajar, misalnya jam 18.00 – 20.00 sehingga kesempatan untuk menonton televisi dapat dikurangi. Di samping kebijakan pemerintah daerah, kondisi obyektif masyarakat Yogyakarta yang umumnya terdidik menjadi lebih memiliki kesadaran yang lebih baik untuk memanfaatkan waktu anak secara baik dan konstruktif.
Hal menarik lainnya adalah keragaman pandangan orang tua terhadap tayangan televisi. Sebagian besar orang tua berpendapat secara positif terhadap dampak acara televisi sehingga dianggap baik dan bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, perilaku dan keterampilan. Pandangan positif ini disebabkan kemampuan orang tua dalam mengatur jadual dan memilih acara yang tepat untuk anak sehingga anak-anak dapat melihat tayangan yang bermanfaat. Di samping itu, para orang tua menyatakan selalu mendampingi anaknya ketika menonton televisi agar dapat diarahkan secara positif dan kontruktif.
Meskipun demikian, sebagian orang tua merasa khawatir dengan kehadiran dan dampak tayangan televisi. Kekhawatiran tersebut baik yang berupa fisikal, seperti merusak mata dan mengurangi kemampuan gerak anak karena terlalu banyak diam (pasif ), juga kekhawatiran dampaknya terhadap perilaku anak. Secara umum, para orang tua merasa terbantu oleh tayangan televisi dalam menambah pengetahuan dan keterampilan anak tetapi mereka khawatir dengan dampak televisi terhadap perilaku anak yang mudah meniru. Untuk itu, para orang tua berusaha membatasi anak dalam menonton televisi dengan cara mengalihkan dengan kegiatan lain seperti mengajak bermain, membaca, pergi ke Taman Pendidikan Quran (TPQ), dan bernyanyi. Di samping upaya pengalihan tersebut, ada juga orang tua yang memilih ”penjadwalan” dan pengaturan secara ketat waktu anak untuk menonton seperti yang dilakukan beberapa orang tua di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Di Sumatera Barat, terpaan televisi terhadap anak-anak relatif bervariasi, mulai dari yang hanya satu jam sampai yang mencapai lebih dari 4 jam per hari. Meskipun lama menonton televisi sangat beragam, namun hampir semua orang tua memiliki kekhawatiran yang sama terhadap dampak menonton televisi terhadap anak-anak. Secara umum, orang tua di Kota Padang sepakat bahwa tayangan tertentu televisi sangat bermanfaat dan membantu pengembangan pengetahuan dan keterampilan anak, seperti dunia sekitar dan flora-fauna. Namun jika dikaitkan dengan sikap dan perilaku, orang tua di Kota Padang sangat mengkhawatirkannya karena berdampak buruk sehingga anak semakin cenderung agresif dan kasar akibat tayangan kekerasan, termasuk kartun anak yang menampilkan kekerasan.
Di samping kekhawatiran terhadap kecenderungan kekerasan anak, orang tua juga khawatir dengan maraknya pornografi dan pornoaksi dalam tayangan televisi. Oleh karena itu, orang tua berusaha membatasi anak-anaknya menonton televisi dengan cara mengalihkan dengan kegiatan lain seperti mengajak
bermain, membaca, mendongeng (menjujai), dan menyuruh ikut
ke TPQ. Di samping upaya pengalihan tersebut, beberapa orang tua berusaha membuat pengaturan waktu menonton televisi atau mematikan televisi.
Selanjutnya, orangtua anak di Nusa Tenggara Barat merasakan, bahwa media massa terutama televisi memiliki pengaruh kuat bagi tumbuh kembang anak. Televisi memberikan pengaruh positif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak karena beberapa acara televisi mampu meningkatkan daya imajinasi anak. Beberapa film kartun dan film anak-anak menstimulasi daya imaji dan sarana penanaman nilai-nilai sosial kepada anak.