• Tidak ada hasil yang ditemukan

macam macam dan tingkatan tingkatan qira

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "macam macam dan tingkatan tingkatan qira"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

MACAM-MACAM DAN TINGKATAN-TINGKATAN QIRA’AH

Oleh:

M. Ali Mubarok (53020150024)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Qira’at merupakan salah satu cabang ilmu dalam ‘Ulum al-Qur’an, namun tidak banyak orang yang tertarik kepadanya, kecuali orang-orang tertentu seperti orang-orang dari kalangan akademik, hal ini disebabkan karena ilmu ini tidak berhubungan langsung dengan kehidupan dan muamalah manusia sehari-hari.

Selain itu, ilmu ini juga cukup rumit untuk dipelajari, banyak hal yang harus diketahui oleh peminat ilmu qira’at ini, diantaranya adalah pengenalan al-Qur’an secara mendalam dari segala seginya, pengetahuan bahasa arab, dan pengenalan berbagai macam qira’at dan para perawinya. Hal-hal inilah barang kali yang menjadikan ilmu ini tidak begitu populer.

Meskipun demikian keadaannya, ilmu ini telah sangat berjasa dalam menggali, menjaga, dan mengajarkan berbagai “cara membaca” al-Qur’an yang benar sesuai dengan yang telah diajarkan Rasulullah Saw. Para ahli qira’at telah mencurahkan segala kemampuannya demi mengembangkan ilmu ini. Ketelitian dan kehati-hatian mereka telah menjadikan al-Qur’an terjaga dari adanya kemungkinan penyelewengan dan masuknya unsur-unsur asing yang dapat merusak kemurnian al-Qur’an.

Pada makalah ini, penulis akan mencoba memaparkan sedikit tentang definisi qira’at, macam-macam dan tingkatan-tingkatan qira’at, semoga dapat menjadi pengenalan awal terhadap Ilmu Qira’at al-Qur’an.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah pengertian qira’at?

2. Apasajakah macam-macam dan tingkatan-tingkatan qira’at?

Mata Kuliah Ilmu Qira’ah

Mohamad Nuryansah, M.Ag. Ilmu Al qur’an dan Tafsir

(2)

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian qira’at,

2. Untuk mengetahui macam-macam dan tingkatan-tingkatan qira’at.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Qira’at.

Qira’at secara etimologi merupakan isim mashdar dari kata

ةةءءارءقق أرءققيء أءرءقء

- -

yang berarti membaca.1

Sedangkan secara terminologi telah dikemukakan oleh para pakar al-Qur’an, diantaranya:

1. Menurut az-Zarqani dalam kitab Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an sebagaimana yang dikutip oleh Hasanuddin AF, qira’at adalah perbedaan lafadz-lafadz al-Qur’an baik menyangkut penyebutan huruf maupun cara pengucapan huruf-huruf tersebut.2

2. Menurut Imam Syihabbuddin al-Qatalani dalam kitab Lataif al-Isyarat fi Funun al-Qira’at sebagaimana yang dikutip oleh Nur Faizah, menjelaskan bahwa qira’at adalah suatu ilmu untuk mengetahui kesepakatan serta perbedaan para ahli qiraat (cara pengucapan lafadz al-Qur’an) yang menyangkut aspek lughat, i’rab, hadzf, isbat, fasl, wasl yang diperoleh dengan cara periwayatan.3

3. Menurut Ali as-Sabuni dalam kitab at-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an qira’at adalah salah satu aliran dalam mengucapkan al-Qur’an yang dipakai oleh salah satu imam qura’ yang berbeda dengan lainnya dalam hal ucapan berdasarkan sanad-sand sampai kepada Rasul.4

Dari beberapa pendapat diatas, penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan bahwasannya qira’at adalah ilmu yang membahas tentang perbedaan cara pengucapan lafadz-lafadz dan riwayat al-Qur’an yang disandarkan oleh tujuh imam qurra’ sebagai suatu madzab yang berbeda-beda dengan yang lainnya.

B. Macam-macam dan tingkatan-tingkatan Qira’at.

1Munawwir, Kamus Al-Munawwir Indonesia-Arab Terlengkap, (Surabaya: Pustaka Progressif, 2007), hlm. 75.

2Hasanuddin Af, Perbedaan Qiraat dan Pengaruhnya Terhadap Istinbath Hukum Dalam Al-Qur’an, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1995), hlm.111-112.

3Nur Faizah, Sejarah Al-Qur’an, (Jakarta Barat: CV Artha Rivera, 2008), hlm. 133.

(3)

Suatu hal yang paling penting dalam ilmu qira'at adalah memastikan apakah qira'at tersebut benar-benar berasal dari Nabi saw., oleh karena itu usaha yang dilakukan para ulama qira'at untuk mengetahuinya adalah dengan menetapkan pedoman atau persyaratan tertentu kepada tiap-tiap qira'at. Syarat-syarat yang dimaksud adalah:5

1. Sesuai dengan salah satu rasm (tulisan) mushaf 'Uthmani. Hal tersebut karena diyakini, dalam penulisan mushaf-mushaf itu para sahabat bersungguh-sungguh dalam membuat rasm (pola penulisan mushaf) sesuai dengan bermacam-macam dialek qira’at yang mereka ketahui.

2. Sesuai dengan kaidah bahasa Arab, sekalipun dalam satu segi. Oleh karena qira’at adalah sunnah yang harus diikuti, diterima apa adanya dan menjadi rujukan dengan berdasarkan isnad, bukan ra’yu (pemikiran). Yang dimaksud meskipun hanya dalam satu segi adalah satu segi dari ilmu nahwu, baik disepakati maupun diperselisihkan. Jika suatu qira’at telah tersebar luas, populer dan diterima para imam berdasarkan isnad yang sahih, maka sedikit berlawanan dengan kaidah nahwu tidak mengurangi ke-sahih-an sesuatu qira’at, karena isnad inilah yang menjadi dasar terpenting dan sendi paling utama.

3. Diriwayatkan secara mutawatir. Yang dimaksud dengan mutawatir adalah periwayatan oleh orang banyak dari orang yang banyak pula, sehingga menutup kemungkinan mereka dapat melakukan suatu kebohongan secara bersama-sama, sejak dari sanad pertama sampai kepada sanad yang terakhir.6

Jadi apabila ketiga persyaratan tersebut tidak terpenuhi, maka qiraah itu kualitasnya dhaif (lemah), walaupun berasal dari tujuh imam. Inilah aturan shahih yang telah ditetapkan oleh imam-imam, baik dari kalangan salaf maupun khalaf.

Dari beberapa persyaratan-persyaratan diatas, ulama’ qira’at kemudian membagi qira’at menjadi beberapa tingkatan. Dalam hal ini Ibnu al-Jaziri sebagaimana yang dikutip oleh Ahmad Syadali dan Ahmad Rofi’i membagi qira’at menjadi dua tingkatan:7

1. Qira’at sahih, qira’ah sahih mencakup dua macam:

5 Manna’ al-Qattan, Mabahith fi 'Ulum al-Qur’an, hlm. 176: Al-Zarqani, Manahil al-'Irfan fi 'Ulum aI-Qur’an, hlm. 418-419.

6 Ahmad Umar Hasyim, Qawa’id Ushul al-Hadith (Beirut: Dar aI-Fikr, 1984), hlm. 143.

(4)

a. Mutawatir, yaitu qira’at yang diriwayatkan oleh sejumlah periwayat yang banyak dari periwayatan yang banyak pula sehingga mereka tidak mungkin sepakat untuk berdusta. Qira’at yang tergolong mutawatir, yaitu qiraat sab’ah. Qiraah mutawatir ini adalah qiraat yang sah dan resmi sebagai al-Qur’an dan dapat dijadikan hujjah.

b. Masyhur, yaitu qira’at yang sanad-nya sahih yang diriwayatkan oleh orang banyak, akan tetapi tidak sampai tingkatan mutawatir. Disamping itu sesuai dengan kaidah bahasa arab dan rasm utsmani. Qira’at ini dinisbatkan kepada tiga Imam terkenal yaitu: Abu Ja’far ibn Qa’qa Madani, Ya’qub al-Hadrami, dan Khalaf al-Bazzar.

2. Qira’at syadzah, qira’at syadzah mencakup tiga macam:

a. Ahad, yaitu qira’at yang tidak mencapai derajat masyhur, sanad-nya sahih, akan tetapi menyalahi rasm utsmani atau pun kaidah bahasa arab. Qira’at ini tidak sah dibaca sebagai riwayat yang dikeluarkan oleh hakim dari jalur Ashil al-Jahdari dari Abi Bakrah yang menyebutkan bahwa Nabi Saw. membaca ayat:

نناسءحق يينرققءابءعءوءرنضقخخ فنرءافءرء ىلءعء نءيقئقكقتيءمخ

Lafadz

فنرءافءرء

dan

يينرققءابءعء

pada qiraat mutawatir dibaca

فنرءفقرء

dan

يينرققء

بعء

ق

.

b. Syadz, yaitu qira’at yang sanadnya tidak sahih. Seperti qiraat ibnu al-Sumaifi’:

ةةيءاء كءيقجيقنءنخ مءوقيءلقافء

Lafadz

كءيقجيقنءنخ

itu dibaca dengan ha’ bukan dengan jim. Qira’at ini tidak dapat dijadikan pegangan dalam bacaan dan bukan termasuk al-Qur’an.

c. Maudhu’ yaitu qiraat yang hanya dinisbatkan kepada seseorang tanpa asal usul yang pasti. Misalnya qira’at yang dikumpulkan oleh Muhammad Jafar al-Khuza’i dan ia mengatakannya bersumber dari Abu Hanifah yang berbunyi:

ءءآمءلءعخلقا هقدقابءعق نقمق هخللا ىشءخقيء امءنيءإق

Pada ayat diatas sebenarnya pada lafadz

هللا

itu berharakat fathah dan

ءآمءلءعخلقا

(5)

BAB III PENUTUP

Kesimpulani

Dari uraian diatas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwasannya ilmu qira’at adalah suatu ilmu yang digunalan untuk mengetahui kesepakatan serta perbedaan para ahli qiraat (cara pengucapan lafadz al-Qur’an) yang menyangkut aspek lughat, i’rab, hadzf, isbat, fasl, wasl yang diperoleh dengan cara periwayatan.

Qira’at terbagi menjadi enam tingkatan, diantaranya adalah:

1. Mutawatir, yaitu qira’at yang diriwayatkan oleh sejumlah periwayat yang banyak dari periwayatan yang banyak pula.

2. Masyhur, yaitu qira’at yang sanad-nya sahih yang diriwayatkan oleh orang banyak, akan tetapi tidak sampai tingkatan mutawatir.

3. Ahad, yaitu qira’at yang tidak mencapai derajat masyhur. 4. Syadz, yaitu qira’at yang sanadnya tidak sahih.

5. Maudhu’ yaitu qiraat yang hanya dinisbatkan kepada seseorang tanpa asal usul yang pasti.

Daftar Pustaka

AF, Hasanuddin. Perbedaan Qiraat dan Pengaruhnya Terhadap Istinbath Hukum Dalam Al-Qur’an. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 1995.

Al-Qaththan, Manna’. Mabahits fi ‘Ulumil Qur’an. Riyadh: Mansyurat al-Ashri al-Hadits. 1973. Ash-Shaabuuniy, Muhammad Ali. Studi Ilmu Al-Qur’an. Terjemahan Aminuddin. Bandung: CV

Pustaka Setia. 1991.

Faizah, Nur. Sejarah Al-Qur’an. Jakarta Barat: CV Arta Rivera. 2008.

Munawwir, AW. Kamus Al-Munawwir Indonesia-Arab Terlengkap. Surabaya: Pustaka Progressif. 2007.

Hasyim Ahmad Umar, Qawa’id Ushul al-Hadith. Beirut: Dar aI-Fikr. 1984.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian ini, tidak hanya sebatas mendeskripsikan atau memaparkan ayat- ayat al-Qur’an yang mempunyai implikasi makna dalam konteks perbedaan versi qira>’a>t

'Alim wa al-Muta'allim fi Ma Yakhtaju Ilaih al- Muta’allim fi Akhwal Ta’allum wa Ma Yatawaqqaf 'alaih al-Mu’allim fi Maqam at-Ta’lim”, 17 Dua kitab yang disebut terakhir

Dalam telaah pustaka tersebut, menurut penulis belum ada pembahasan yang spesifik tentang analisis penentuan awal bulan Kamariah dalam kitab al-Khulashah fi

Sumber primer dalam penelitian ini adalah kitab Al-Muhadzab, karangan Imam al-Syirazi yang merupakan salah satu ulama’ Mazhab Syafi’i yang menjelaskan pendapat

Pertama, adab-adab membaca Al-Quran dalam kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Quran karya Imam Nawawi meliputi: ikhlas, membersihkan mulut, dalam kondisi suci, bertayamum jika tidak

Tafsir al-Khazin yang disebut Lubabu at- Ta’wil fi Ma’ani at-Tanzil Ta’wil yang bersih terhadap Makna Al-Qur’an salah satu kitab yang termasyhur yang mengemukakan cerita-cerita

Fokus penelitian membahas tentang film yang memiliki unsur pendidikan 2 Putik Nur Rohmawati, 2017 mengangkat judul konsep pendidikan akhlak dalam kitab Ayyuha al-walad karya imam

Dokumen ini membahas analisis komparatif antara dua buku teks bahasa Arab, yaitu Kitab An-Nahwu Al-Wadhih dan Kitab Marja’ at-Thullab fi Qawa’id