• Tidak ada hasil yang ditemukan

rendahnya partisipasi politik di Indones

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "rendahnya partisipasi politik di Indones"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Rendahnya Partisipasi Politik Pada Pemilu Ancaman

Nilai-Nilai Demokrasi

Oleh : Husnul Chotimah R

(Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang)

Pendahuluan

Partisipasi politik merupakan salah satu elemen dari politik. Tingginya partisipasi politik sangat terlihat pada negara-negara demokrasi, berbeda dengan negara yang otoriter, meskipun dapat berpartisipasi dalam politik akan tetapi partisipasinya terbatas pada hal-hal tertentu saja. Salah satu tolak ukur partisipasi politik suatu negara adalah dengan adanya pemilihan umum (Pemilu). Indonesia sebagai salah satu negara demokrasi telah melaksanakan pemilu sejak tahun 1955. Dalam sejarah Republik Indonesia selama lebih enam dasawarsa, telah berlangsung pemilu 11 (sebelas kali) dengan rezim yang berbeda. Terakhir Indonesia melaksanakan pemilu pada tahun ini dengan terpilihnya Joko Widodo sebagai presiden untuk 5 (lima) tahun kedepan. Sebagai negara yang bisa dikatakan baru menganut nilai-nilai demokrasi, Indonesia dapat dikatakan berhasil dalam menerapkan nilai-nilai demokrasi dibandingkan dengan beberapa negara lainnya.

(2)

Pembahasan

Sebelum membahas lebih jauh, kita harus mengetahui apa itu partisipasi politik karena sebagian masyarakat Indonesia sendiri belum memahami apa itu partisipasi politik dan tujuannya. Partisipasi politik yakni tindakan atau sikap individu atau sekelompok orang yang ikut terlibat dalam dunia politik dengan memilih pemimpin dan secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah.

Menurut Herbert Miclosky dalam bukunya Elly M. Setiadi mengemukakan bahwa partisipasi politik adalah kegiatan-kegiatan sukarela dari warga masyarakat melalui mana mereka mengambil bagian dalam proses pemilhan penguasa, baik secara langsung mapun tidak langsung, dalam proses pembentukan kebijakan umum. Sementara itu, Kevin R. Hardwick, beranggapan bahwa partisipasi politik memberi perhatian pada cara-cara warga negara berinteraksi dengan pemerintah, warga negara berupaya menyampaikan kepentingan-kepentingan mereka terhadap pejabat-pejabat publik agar mampu mewujudkan kepentingan-kepentingan tersebut.1 Dari beberapa pandangan di atas

dapat disimpulkan bahwa partisipasi politik merupakan keikutsertaan masyarakat dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, artinya jika seseorang ataupun kelompok memengaruhi kebijakan pemerintah melaui kontak baik secara tertulis maupun tidak dan ikut telibat dalam proses politik. Sementara itu secara tidak langsung, artinya jiksa sesorang atau kelompok memengaruhi kebijakan pemerintah melalui perantara dan hanya sebatas mendengar informasi/ berita-berita tentang peristiwa politik yang terjadi.

Partisipasi politik bisa muncul dalam berbagai bentuk. Memberikan suara pada pemilihan umum bukan satu-satunya bentuk dari partisipasi politik, akan tetapi terdapat bentuk-bentuk lainnya seperti menghadiri rapat umum, mengadakan hubungan (contacting) atau lobbying dengan pejabat pemerintah atau

(3)

anggota parlemen, menjadi anggota partai atau salah satu gerakan sosial dengan aksi yang secara langsung dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah, dan sebagainya. Selain itu partisipasii politik tidak harus dilakukan oleh sekelompok orang akan tetapi dapat dilakukan oleh individu itu sendiri.

Terlepas dari bentuk dan pelaku partisipasi politik, terdapat persoalan tentang apakah partisipasi politik dilakukan hanya jika secara sadar dan sukarela sementara tindakan yang dimobilisasi tidak dapat dikatakan sebagai partisipasi politik. Jika melihat kembali defenisi partisipasi politik menururut Herbert Miclosky bahwa partisipasi politik adalah kegiatan-kegiatan sukarela dari warga masyarakat untuk memengaruhi kebijakan pemerintah, maka tindakan politik yang di mobilisasi oleh pihak tertentu agar tercapai kepentingannya serta tidak direncanakan untuk memengaruhi proses politik maka tindakan politik tersebut tidak dapat dikatakan sebagai tindakan politik menururut pendapat Herbert. Jika menggunakan konsep ini untuk melihat partisipasi politik di Indonesia maka partisipasi politik masyarakat Indonesia sangat rendah, karena sebagian kegiatan partsipasi politik di Indonesia di mobilisasi oleh pihak-pihak tertentu, contoh yang dapat kita lihat yakni ketika menjelang pemilu dimana para kandidat akan melakukan segala cara untuk memeroleh suara terbanyak agar dapat memenangkan pemilihan tersebut. Tidak hanya dengan melakukan kampanye akan tetapi juga menggunakan “money politic”. Semalam sebelum pemilihan dilaksanakan, tim sukses dari seorang kandidat melaksanakan aksinya dengan membagi uang kepada masyarakat sehingga dapat merubah pilihan rakyat yang awalnya memilih calon A menjadi calon B. Karena kondisi ekonomi rakyat yang rendah sehingga mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dengan membeli suara rakyat walaupun hanya 50 ribu untuk 5 tahun kedepan. Hal ini memberikan pengertian bahwa suara rakyat bukan murni karena kehendak rakyat itu sendiri secara sukrela akan tetapi karena ada paksaan.

(4)

kelompok yang dilakukan secara otonom sebab bagi penganut paham demokrasi seperti Indonesia, partisipasi politik adalah didasari oleh kebebasan untuk mengagregasikan kepentingan politiknya bukan karena tekanan atau mobilisasi.2

Pemilu sebagai Barometer Demokrasi

Setelah meraih kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 maka untuk pertama kalinya pada tahun 1955 Indonesia melaksanakan Pemilu sebagai salah satu indikator negara Demokrasi yang di anut Indonesia. Sejak 1955 hingga 2014 partisipasi masyarakat terhadap pemilu mengalami penurunan. Dalam pemilihan umum pertama tahun 1955 yang dilaksanakan dalam suasana yang khidmat karena merupakan pemilihan umum pertama yang pernah diadakan, presentasenya adalah 91%, yaitu 39 juta dari total jumlah warga negara yang berhak memilih sejumlah 43 juta. Presentase partisipasi pada tahun 1992 adalah 95% atau 102,3 juta. Pada pemilihan umum 1999 dan tahun 2004 partisipasi menurun. Partisipasi dalam pemilu legislatif 2004 turun menjadi 84% dan pemilihan umum presiden putaran kedua turun menjadi 77,4%.3 Pada tahun 1990-an Indonesia menempati

urutan ke tiga pemilih terbanyak pada pemilihan umum yakni 95%. (http://www.Ipu.org/parline-e/reports/).

Penurunan juga terjadi pada tahun 2009 dan 2014. Pada pemilu 2009 mencapai 70,99 persen (Pileg) dan 71,7 persen (Pilpres) sementara pada tahun 2014 Daftar Pemilih Tetap (DPT) pada Pilpres 2014 adalah 190.307.134. Namun yang menggunakan hak pilihnya sebanyak 133.574.277 suara. Sebagian masyarakat memutuskan untuk tidak ikut serta dalam pemilu 2014 atau yang sering disebut sebagai Golput. Dikutip dari sebuah surat kabar online bahwa Tingkat golput dalam gelaran Pilpres 2014 mencapai 29,8% atau 56.732.857 suara. Angka golput Pilpres 2014 lebih parah dibanding Pilpres 2009 yang mencapai 27,7%. Bahkan lebih buruk dibanding Pilpres 2004 yang hanya mencapai 24%.(Harianterbit.com). Hal ini menunjukkan rendahnya partisipasi politik masyarakat Indonesia dari tahun ke tahun dalam proses pemilu.

2 Elly M. Setiadi & Usman Kolip, Pengantar Sosiologi Politik., 2013. Hlm 140

(5)

Sungguh ironis negeri ini dengan presentase pemilih yang semakin menurun sebagai negara yang menganut nilai-nilai demokrasi. Menurut Robert Dahl, bahwa pemilihan umum merupakan gambaran ideal dan maksimal bagi suatu pemerintahan demokrasi di zaman modern. Demokrasi sendiri yakni pemerintahan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Konsep ini sesuai dengan pemilu dimana rakyat memilih pemimpin untuk memenuhi kepentingan rakyatnya. Prinsip-prinsip dalam pemilu yakni adanya keterbukaan, kebebasan berpendapat, kebebasan berserikat kesemuanya sesuai dengan prinsip-prinsip dari demokrasi seperti yang dikatakan oleh Samuel Huntington bahwa demokrasi ada jika para pembuat keputusan kolektif yang paling kuat dalam sebuh sistem dipilih melalui suatu pemilihan umum yang adil, jujur dan berkala dan di dalam sistem itu para calon bebas bersaing untuk memperoleh suara dan hampir seluruh penduduk dewasa dapat memberikan suara. Hal yang perlu ditekankan disini adalah pemilihan yang adil, jujur dan berkala dalam sistem, namun pada realitanya konsep ini sama sekali melenceng. Pada zaman modern ini sangat sulit mencari proses pemilihan umum yang adil dan jujur karena semua orang ingin menjadi pemenang maka apapun akan dilakukannya agar keinginannya tercapai. Dengan melihat jumlah presentase pemilih yang mengalami penurunan serta prosesnya yang tidak lagi adil dan jujur menandakan bahwa nilai-nilai demokrasi sudah mulai luntur.

Penyebab rendahnya partisipai politik

(6)

seperti ini diketahui rakyat sehingga rakyat tidak mempercayai janji-janji politik pada saat pemilihan. Di pedesaan atau kampung-kampung juga mengetahui praktek seperti ini sehingga dari pada hanya dikecewakan oleh janji-janji palsu maka mereka pun meminta bagian mereka kepada elit politik, karena mereka tau bahwa suara mereka sangat diperlukan dalam pemilihan. Setelah mendapat bagiannya, mereka akan kembali ke kebun dan bersikap pasif dalam pengontrolan atau pun pengawasan terhadap pemerintah. Kedua, politik primordial kesukuan. Sistem adat yang kental di Indonesia sangat berpengaruh terhadap politik. Masyarakat adat akan cenderung memilih seseorang yang berasal dari suku yang sama. Jika selama jabatannya seseorang tidak melakukan sesuatu untuk sukunya maka biasanya suku-suku akan mengalihkan dukungan politik mereka kepada seseorang yang kiranya dapat memerhatikan suku tersebut. Ketiga, konsep rakyat. Konsep ini terlihat pada masa order baru dimana masyarakat sipil dijauhkan dari kegiatan politik. Pasrtisipasi politik masyarakat hanya pada pemilihan untuk lima tahun sekali yang mana hasilnya sudah dapat diduga. Setelah itu rakyat hanya dimobilisasi untuk mendukung kegiatan pemerintah.

Rendahnya partisipasi politik masyarakat juga tak lepas dari rendahnya kesadaran politik, sikap dan kepercayaan terhadap pemerintah. Kesadaran politik yakni pengetahuan masyarakat akan sosial politik serta perhatiannya terhadap lingkungan sosial dan politik. sikap dan kepercayaan seseorang terhadap sistem politik yakni bagaimana seseorang memberikan penilaian terhadap suatu pemerintahan, dipercayai atau tidak dan disukai atau tidak.4 Hal ini sesuai dengan

komponen dari budaya politik dimana ada orientasi kognitif yaitu pengetahuan, orientasi afektif yakni perasaan atau kepercayaan dan orientasi evaluatif memutuskan. Sehingga jika dirangkaikan maka seseorang dalam memilih maupun bertindak dalam politik harus mengetahui dan memiliki pengetahuan tentang politik serta orang yang mencalonkan diri dalam pemilihan, setelah mengetahui maka akan menimbulkan suatu kepercayaan, setelah memiliki kepercayaan seseorang baru dapat memutuskan siapa yang akan dia pilih. Kesadaran politik masih sangat rendah dalam masyarakat Indonesia, masih banyak penduduk Indonesia yang “buta huruf” sehingga berdampak pada aspek lainnya baik “buta”

(7)

akan politik, ekonomi dan yang lainnya. Sehingga jika pengetahuan saja tidak punya maka bagaimana kepercayaan akan muncul. Salah satu faktor penting penyebab rendahnya partisipasi politik yakni ketidaknetralan media dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Media yang seharusnya netral tidak lagi bersikap sebagai pemberi informasi yang valid karena media juga di kuasai oleh elit-elit politik sehingga informasi yang diberitakan hanya berpihak pada partai politik tertentu. Tak jarang kita melihat media yang saling bersaing untuk menjatuhkan lawan politiknya. Hal ini yang membuat masyarakat menjadi bingung karena informasi yang diberitakan tidak lagi murni namun sudah dicampuri oleh kepentingan-kepentingan politik sehingga masyarakat lebih memutuskan untuk bersikap pasif dibanding salah mengambil langkah karena hanya terpaku pada satu media yang yang tidak lagi netral.

Penutup

Pemilihan umum (pemilu) yang telah dilaksanakan di negeri ini sejak tahun 1955 adalah dampak dari adanya nilai-nilai demokrasi yang dianutnya. Indonesia sebagai negara demokrasi yang menjunjung tingggi nilai, mengeluarkan pendapat, kebebasan berserikat adanya persamaan hak, sistem pemerintahan yang adil dan jujur di implementasikan dalam Pemilu. Pemilu merupakan suatu proses pemilihan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia untuk memilih pemimpin yang berintegritas dan berkualitas dengan cara yang baik dan jujur sangat erat dengan demokrasi. Sehingga pemilu adalah salah satu barometer bagi implementasi dari nilai-nilai demokrasi.

(8)

Kekecewaan masyarakat terhadap sikap kaum elit karena serentetan kasus korupsi serta kiprahnya yang kurang memuaskan publik. 2) masyarakat merasa tidak terkena dampak dari proses politik. 3) public distrust terhadap lembaga politik bahkan lembaga pemerintah. 4) media yang tidak netral. 5) keterbukaan media yang tidak dimanfaatkan dengan baik. 6) minimnya pendidikan politik dilingkungan sekolah dan ketidakpahaman masyarakat akan hak dan kewajibannya.

“Tidak akan ada asap jika tidak ada api” akan tetapi asap tersebut dapat di bersihkan agar tidak menyebar ke tempat yang lain salah satunya dengan menyiram api tersebut agar tidak ada lagi asap yang lebih besar. Begitupun dengan masalah rendahnya pastisipasi politik. Pemerintah tidak bisa saja berdiam diri melihat kondisi yang tragis ini. Sosialisasi politik sangat penting bagi masyarakat, sosialisasi ini bisa dilakukan oleh pemerintah, partai politik dan mahasiswa. Pemerintah seharusnya memberikan pendidikan politik kepada masyarakat agar masyarakat memiliki pengetahuan akan politik. Sebaiknya disetiap sekolah di terapkan pendidikan politik sehingga pelajar memiliki bekal tentang politik selain itu agar dapat menyadari akan hak dan kewajibannya. Pemerintah juga sebaiknya melakukan sosialisasi rutin kepada masyarakat khususnya masyarakat pedesaan.

(9)

Dafar Pustaka

Budiarjo, Miriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta : PT Gramedia, 2008;

Ebyhara, Abu Bakar, Pengantar Ilmu Politik, Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2010;

Fadjar, Mukhtie, Pemilu Perselisihan dan Demokrasi, Malang; Setara Press, 2013;

Faturohman, Deden & Wawan Sobari, Pengantar Ilmi Politik, Malang: UMM press, 2002;

Setiadi, Elly M & usman Kolip. Pengantar Sosiologi, Jakarta: Kencana Prenadamedia Group. 2013;

http://pemilu.metrotvnews.com/read/2014/07/21/268756/dua-faktor-rendahnya-partisipasi-politik-pemilih-muda. Di unduh 23 Oktober 2014. 11:00 WIB

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “ Karya Tulis

DISTRIBUSI SPASIAL RISIKO TERKAIT IKLIM BAHAYA UNTUK DUA PERIODE BASELINE (H) (1991-2020) DAN MASA DEPAN (2021-2050) (KIRI), DAN DISTRIBUSI TINGKAT RESIKO UNTUK KELURAHAN SELAMA

Diagnosis mencakup kriteria sebagai berikut: gagal hati kronis lanjut disertai dengan hipertensi portal; kreatinin serum melebihi 1,5 mg/dL atau kreatinin serum 24-jam <

Ruang lingkup penelitian ini adalah mengenai bidang biologi oral dan ilmu kesehatan gigi masyarakat yang membahas efek konsumsi minuman berkarbonasi dan minuman rasa jeruk terhadap

Cara kerja dari progressive tools adalah langkah demi langkah,dengan setiap jarak adalah sama,dan progressive tool dapat dibuat untuk memproduksi komponen setengah jadi

Analisis data yang digunakan adalah analisis kelayakan non-finansial dan kelayakan finansial ( Net Present Value, Internal Rate Return, Net Benefit/Cost Ratio, Payback Period, dan

Berdasarkan analisa data dan pembahasan dapat diketahui bahwa waktu tunggu angkutan umum di dalam terminal Cikarang untuk AKDP 1 tidak sesuai dengan ketentuan/syarat dari

siswa yang akan dijadikan objek penelitian, dan penentuan materi), observasi pada.. saat pembelajaran materi perbandingan dan skala, pengujian instrumen,