• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi terhadap pengajaran remedial de

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Persepsi terhadap pengajaran remedial de"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Ayunda Kumala Sari (5060189), Hubungan antara persepsi terhadap pengajaran remedial dengan motivasi belajar pada bidang studi matematika di SMA Negeri 22 Surabaya. Skripsi Sarjana Strata 1. Surabaya: Fakultas Psikologi Universitas Surabaya, Laboratorium Psikologi Pendidikan (2013).

INTISARI

Nilai matematika rendah ataupun motivasi belajar matematika yang rendah merupakan fenomena yang banyak terjadi dikalangan pelajar, bahkan guru matematika sering diberikan label negatif karena pengajaran matematika yang tidak menyenangkan. Demikian juga dalam kegiatan belajar, nilai matematika yang belum mencapai standart KKM mendorong guru untuk melakukan ujian ulang atau remedial agar standart nilai matamatika dapat tercapai. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara persepsi terhadap pengajaran remedial dengan motivasi belajar pada bidang studi matematika, yang mengambil siswa SMA kelas X sebanyak 129 orang yang pernah mengikuti pengajaran remedial pada bidang studi matematika. Data dikumpulkan melalui angket, dan skala persepsi terhadap pengajaran dan skala motivasi belajar. Hasil analisis korelasi menunjukkan hubungan antara persepsi terhadap pengajaran remedial dengan motivasi belajar siswa memiliki nilai rxy= 0,453 dan p= 0.000 (p<0,01). Hal tersebut berarti antara persepsi terhadap pengajaran remedial dengan motivasi belajar siswa memiliki korelasi positif yang sangat signifikan. Semakin positif siswa dalam mempersepsikan pengajaran remedial maka akan semakin tinggi motivasi belajarnya, dan demikian pula sebaliknya, bila siswa memiliki persepsi yang negatif pada pengajaran remedial bidang studi matematika maka akan semakin rendah motivasi belajarnya. Nilai koefisien determinasi sebesar 0.205 menunjukkan bahwa persepsi terhadap pengajaran remedial mampu memberikan sumbangan efektif terhadap motivasi belajar siswa sebesar 20.5%.

(2)

A. Latar Belakang Masalah

Dalam kegiatan belajar motivasi sangat diperlukan, terutama dalam mempelajari bidang studi matematika. Seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, dipastikan akan sulit dalam mengikuti aktivitas belajar. Menurut Woolfolk (1995) upaya meningkatkan motivasi belajar perlu melihat elemen-elemen yang dapat mengoptimalkan karakteristik dalam motivasi belajar meliputi: (1) sumber motivasi yang berasal dalam diri bukan berasal dari pemberian reward, takut akan hukuman, tekanan dari lingkungan bahkan anggapan baik terhadap diri (pribadi), (2) tujuan yang ditetapkan bukan hanya menetapkan tujuan yang mudah dicapai seperti penilaian orang lain terhadap diri (pribadi) melainkan mengarah pada tujuan pembelajaran dimana memiliki kepuasan diri dalam menghadapi tantangan, kecenderungan untuk memilih tujuan yang cukup sulit dan menantang, (3) jenis keterlibatannya pada penguasaan tugas tentang apa yang harus dipelajari bukan hanya ingin mendapatkan pujian atau anggapan baik dari orang lain, (4) memiliki motivasi untuk berprestasi, (5) mampu mengendalikan keberhasilan, kegagalan dan kemampuan. Mengakui keberhasilan dan kegagalan yang terjadi karena kemampuan dan kekurangan dari diri sendiri bukan karena orang lain atau lingkungan (6) memiliki keyakinan akan kemampuan yang dimiliki.

(3)

Malasah nilai matematika dan motivasi belajar siswa pada bidang studi matematika, menurut hasil survei awal yang mengacu pada perolehan nilai matematika pada semester sebelumnya menunjukkan 80% siswa mengalami kesulitan dalam pelajaran matematika. Menurut informasi dari guru, sebagain besar siswa memiliki nilai matematika yang tidak mencapai KKM. Atas pertimbangan tersebut, maka guru menerapkan pengajaran remedial, agar membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Menurut (Iskandar, 2009), penerapan pengajaran remedial membantu siswa mengatasi hambatan dalam belajar dan mencapai ketuntasan belajar.

Pengajaran remedial adalah suatu bentuk pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan, atau pengajaran yang membuat menjadi baik (Surya dan Amin, 1980). Menurut Andrijanto (2009), pengajaran remedial ini diberikan kepada siswa yang memperoleh nilai di bawah Kriteria ketuntasan minimal (KKM). Meskipun demikian masih banyak orang tua atau murid mengeluhkan sulitnya pelajaran matematika, hal tersebut sebagian dari siswa sejak awal sudah memiliki persepsi negatif dengan matematika, karena guru matematika pada umumnya dipandang angker, akibatnya sebagian besar anak didik banyak mempersepsikan matematika sebagai momok atau hantu yang patut ditakuti (dalam Astuti, 2004). Pengajaran matematika merupakan pelajaran yang rumit dan kompleks, karena saling terkait mulai dari faktor guru, murid, orang tua, buku pelajaran, tujuan pembelajaran matematika sampai faktor kesejahteraan guru. Menurut Murwani (1999) bahwa masalah guru harus menjadi perhatian utama, karena merupakan pusat dari persoalan sebenarnya yang harus diselesaikan sebagaimana dinyatakan Mujiran (2002) yang menyatakan bahwa pengorganisasian pengajaran dan dukungan sarana yang memadai cukup relevan dalam peningkatan mutu pendidikan.

(4)

pengajaran remedial memberikan dampak positif bagi peningkatan motivasi belajar.

B. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang ada, maka tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara: persepsi terhadap pengajaran remedial matematika dengan motivasi belajar matematika pada siswa yang pernah mengikuti remedial matematika. Selain itu tujuan penelitian ini adalah memberikan gambaran tentang pengajaran remedial pada bidang studi matematika.

C. Kajian Pustaka

1. Motivasi Belajar Matematika

Woolfolk (dalam Gonzalez-DeHass, Willems, dan Holbein, 2005) memperjelas pentingnya motivasi dalam belajar sehingga pelajar harus diberi motivasi dengan berbagai macam cara agar minat yang dipentingkan dalam belajar dibangun dari minat yang telah ada dalam diri siswa. Selanjutnya Brophy (dalam Woolfolk, 1995) mendeskripsikan motivasi belajar sebagai suatu tendensi yang dilakukan oleh siswa untuk menemukan makna yang dalam aktivitas akademik dan mencoba untuk mencari apa hasil yang bisa diperoleh dari aktivitas akademik tersebut.

(5)

kegiatan belajar. Jadi motivasi belajar adalah suatu dorongan dari dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar untuk mendapatkan suatu perubahan sebagai akibat dari pengamatan, mendengarkan maupun pengalaman.

Menurut Johnson & Johnson (dalam Woolfolk, 1995), motivasi belajar yang ada pada diri setiap orang itu memiliki aspek yang dapat diukur. Motivasi belajar untuk bidang studi matematika dalam penelitian ini mengacu pada pendapat Sardiman (dalam Iryanti, 2004; dan Ariyanto, 2011), bahwa dalam motivasi belajar terdapat aspek, meliputi

a. Tujuan belajar, yaitu siswa memiliki tujuan pencapaian dalam belajar matematika, misalkan nilai hasil belajar, ataupun menghindari hukuman dari guru atau dari orangtua siswa.

b. Manfaat belajar, yakni siswa merasakan memperoleh manfaat secara langsung atau tidak langsung dari kegiatan belajar, misalkan berkompetisi dengan teman, dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

c. Keterlibatan dalam belajar, yakni siswa menunjukkan perilaku pro-aktif dalam kegiatan belajar, seperti bertanya dan memberikan alternatif cara-cara baru.

d. Pemahaman, yaitu siswa dapat memahami mengerti konsep dasar matematika, yaitu kemampuan menangkap makna suatu konsep. Untuk itu diperlukan adanya korelasi antara konsep dengan makna yang ada dalam konsep tersebut, yang hal tersebut banyak didapatkan dalam materi aljabar dan aritmethic.

e. Atribusi, yakni adanya kepercayaan atau prinsip-prinsip tentang kemampuan dan potensi diri dalam bidang studi matematika, misalkan atribusi (internal), siswa meyakini bahwa nilai nmatematika diperoleh dari hasil belajarnya yang optimal, dan bukan karena kemurahan hati gurunya (eksternal)

(6)

Dimyati dan Mudjiono (2003) mengemukakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi belajar, khususnya pada siswa yang mengalami hambatan dalam belajar secara intrinsik adalah kendala fisik dan faktor kecerdasan dan psikologis siswa. Faktor intrinsik tersebut menurut Dembo (2003) menjadi bias bila dijadikan acuan untuk mengukur motivasi belajar, karena faktor ekstrinsi seperti dukungan keluarga dengan sendirinya mampu menumbuhkan motivasi intrinsik. Lebih lanjutDembo (2003) menjelaskan bahwa dukungan keluarga memberikan peranan yang sangat besar bagi siswa karena dukungan keluarga, terutama orangtua akan menimbulkan pengaruh positif, sehingga mengurangi gangguan psikologis atau hambatan yang timbul dari pengaruh tekanan beban belajar.

Dembo (2003) mengemukakan bahwa faktor internal yang mempengaruhi motivasi belajar terdiri atas faktor fisiologis, yaitu meliputi keadaan jasmani dan keadaan fungsi-fungsi fisiologis dan faktor psikologis meliputi minat, kecerdasan, dan persepsi. Menurut Dembo (2003), dan Drost (1998) faktor-faktor tersebut dapat dibangkitkan oleh kemampuan guru dalam a) membangkitkan minat, yaitu meyakinkan siswa tentang daya tarik yang disajikan dan memperlihatkan manfaat dari pengetahuan tersebut; b) mempertahankan keingintahuan, yakni menggunakan berbagai sarana untuk lebih membangkitkan rangkaian pembelajaran; c) dan kemampuan guru menggunakan berbagai cara penyajian yang menarik; serta d) kemampuan guru untuk memanfaatkan atau penggunaan bahan-bahan yang menarik, misal dengan penggunaan film, mengajar dengan menggunakan komputer. Hal inilah yang menjadi alasan lebih diutamakannya faktor ekstrinsik sebagai faktor yang mempengaruhi motivasi belajar siswa.

2. Persepsi terhadap Pengajaran Remedial

(7)

proses ketika seseorang individu memilih, menyeleksi dan menafsirkan informasi untuk menciptakan sebuah gambar yang bermakna tentang dunia.

Dimyati dan Mudjiono (2003) menjelaskan bahwa pengajaran adalah suatu proses yang melibatkan pembuatan keputusan pada saat pra-pengajaran, pengajaran, dan pasca-pengajaran. Keputusan disaat pra-pengajaran adalah keputusan pada saat perencanaan kurikulum dan dalam satu unit pengajaran; keputusan pada saat pengajaran adalah keputusan yang dilakukan saat proses belajar mengajar berlangsung; dan pasca-pengajaran adalah segala keputusan yang dilakukan sebagai hasil evaluasi hasil proses pengajaran, termasuk keputusan guru untuk mengulang evaluasi hasil belajar atau remedial.

Iryanti (2004) menyatakan bahwa proses belajar-mengajar dikatakan sebagai pelaksanaan usaha pendidikan, dengan asumsi bahwa hukum-hukum organisasi dalam persepsi berlaku pada proses belajar. Karena asumsi hukum atau prinsip yang berlaku pada proses persepsi dapat ditransfer kepada hal belajar, maka untuk memahami proses belajar seseorang perlu memahami hukum-hukum yang menguasai proses yang dipersepsikan. Hal tersebut dikemukakan berdasarkan pada fakta belajar yang pada pokoknya adalah penyesuaian pertama, yaitu mendapat respon yang tepat. Penemuan respon yang tepat tergantung structure dari bahan yang telah tersedia di depan individu, maka mudah atau sukarnya suatu permasalahan terutama adalah masalah persepsi tersebut. Menurut Suryabrata (dalam Iryanti, 2004), persepsi merupakan proses yang menyangkut masuknya pesan dan secara terus menerus siswa mengadakan hubungan dengan lingkungannya yang dilakukan melalui panca indera.

(8)

Dalam penelitian ini persepsi terhadap pengajaran remedial merupakan suatu penafsiran tentang suatu bentuk pengajaran yang diberikan guru pada siswa yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan, atau pengajaran yang membuat menjadi baik dengan melihat kesulitan belajar siswa terhadap pelajaran matematika melalui aspek:

a.Mengenali atau menandai jenis kesulitan belajar yang dialami siwa, yaitu kemampuan guru dalam mengenali kasus berupa hasil belajar kemudian menentukan prosentasi keberhasilan serta membuat perbandingan. Langkah selanjutnya guru mengenali letak kesulitan siswa berdasarkan respon hasil belajar, jenis materi pengajaran, apakah dalam hal berhitung, memahami materi, atau kelemahan dalam hal pemahaman bacaan pada soal yang menggunakan kalimat.

b.Melihat latar belakang kesulitan belajar, yaitu mengetahui dengan jelas faktor yang menjadi sebab timbulnya kesulitan belajar apakah dari dalam diri siswa ataupun di luar diri siswa.

c.Menentukan usaha yang tepat, yaitu menetapkan beberap;a alternative tindakan atau bantuan pada siswa berdasarkan kondisi yang telah dikenali oleh guru.

d.Pelaksanaan pemberian bantuan, yaitu kegiatan memberikan bantuan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan siswa untuk di arahkan pada target pencapaian yang kemungkinan besar dapat dicapai.

e.Mengevaluasi dan tindak lanjut hasil pemberian bantuan pada siswa, yaitu sebagai kegiatan evaluasi untuk mengukur keberhasilan atau mengetahui hasil dari keseluruhan proses mengenali masalah hingga pemberian bantuan. 3. Kerangka dan Hipotesis

(9)

membuat jadi baik karena sifatnya adalah memotivasi kembali siswa agar lebih semangat dalam belajar (dalam Miller, et., al, 2011). Menurut Alyssa, Patricia, dan Holbein (2005) persepsi siswa terhadap pengajaran remedial sangat diperlukan untuk mengarahkan siswa dalam mencapai prestasi, namun motivasi belajar antara siswa yang satu dengan yang lainnya tidak akan sama dan tergantung pada pada persepsi siswa terhadap pengajaran remedial matematika. Dembo (2003), bahwa upaya meningkatkan motivasi belajar perlu melihat elemen-elemen yang dapat mengoptimalkan karakteristik dalam motivasi belajar antara lain: Sumber motivasi, dimana sumber motivasi belajar matematika siswa berasal dari dalam diri bukan berasal dari pemberian reward, tekanan dari lingkungan, takut akan hukuman, bahkan anggapan baik terhadap diri (pribadi).

Berdasarkan kajian teori yang telah dikemukakan, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah, “ada hubungan positif antara persepsi terhadap pengajaran remedial dengan motivasi belajar pada bidang studi matematika pada siswa yang pernah mengikuti pengajaran remedial”.

D. Metode Penelitian

1. Populasi dan Pengambilan Sampel

Populasi dalam penelitian ini, adalah siswa di kelas X SMA Negeri Y di Surabaya pada guru pengajar bidang matematika yang sama. Alasan pengambilan sampel tersebut, bahwa siswa dianggap cukup beradaptasi dengan status pendidikan, lingkungan, dan tidak disibukkan pada perhatian untuk mengikuti ujian akhir sebagaimana siswa kelas XII.

(10)

2. Pengembangan Alat Ukur

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode angket. Menurut Azwar (2003) dan Hadi (2000), angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari subjek dalam artian laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang diketahuinya. Angket di susun menggunakan skala likert dengan komposisi 4 tanggapan, yang diuji menggunakan indeks diskriminasi keabsahan dan reliabilitas yang menurut Hadi (2000) butir dapat dinyatakan sahih (valid) apabila memiliki nilai lebih besar dari nilai indeks diskriminasi rtabel. Pada N = 129 pada taraf sifgnifikansi 5% diperoleh nilai r tabel sebesar 0.1443. sebagai berikut.

Tabel 1

Hasil Uji Validitas Motivasi Belajar matematika

Aspek motivasi belajar matematika

Distribusi item

Indeks diskriminasi Butir sebelum di

uji

Butir setelah di uji

a. Tujuan belajar 1,2,23,24,27,36 2,23,24,27,36 0.167-0.482

b. Manfaat belajar 3,4,13,14,26,34 3,4 0.145-0.183

c. Keterlibatan dalam

belajar 5,6,15,16,28,33 5,15,16,28,33 0.330-0.482

d. Pemahaman 7,8,17,18,29,32 7,8,17,18,29,32 0.318-0.452

e. Atribusi 9,10,19,20,30,35 9,19,20,30 0.230-0.448

f. Keyakinan akan

kemampuan 11,12,21,22,25,31 11,12,21,22,25,31 0.250-0.587

Jumlah 36 28

Hasil uji validitas pada skala motivasi belajar siswa diketahui bahwa dari 36 butir yang diajukan terdapat 8 butir yang gugur, yaitu butir pernyataan nomer 1,6,10,13,14,26,34, dan 35. Indeks diskriminasi atau koefisien korelasi butir antara 0.145 sampai 0.587.

Tabel 2

Hasil Uji Validitas Persepsi terhadap Pengajaran Remedial

Aspek Persepsi terhadap Pengajaran Remedial

Distribusi item

Indeks diskriminasi Butir sebelum di

uji

Butir setelah di uji a. Guru mengenali dan

menandai jenis kesulitan siswa

(11)

b. Guru mengetahui latar

belakang kesulitan belajar, 2,7,12,17,22,27 7,12,17,22,27 0.289-0.556 c. Guru menentukan usaha

yang tepat, 3,8,13,18,23,28 3,13,23,28 0.177-0.389

d. Guru melaksanakan

pemberian bantuan, 4,9,14,19,24,29 4,14,19,24,29 0.232-0.418

e. Guru mengevaluasi dan tindak lanjut pemberian bantuan

5,10,15,20,25,

30 5,10,20,30 0.175-0.386

Jumlah 30 24

Berdasarkan rangkuman hasil uji validitas pada skala persepsi terhadap pengajaran remedial diketahui bahwa dari 30 butir pernyataan yang diajukan terdapat 6 butir pernyataan yang gugur, yaitu butir nomer 2,8,9,15,18 dan 25. Indeks diskriminasi atau koefisien korelasi butir antara 0.175 sampai 0.598.

Hasil uji reliabilitas skala digunakan untuk mengetahui tingkat konsistensi skala penelitian yang dapat diketahui sebagai berikut.

Tabel 3

Hasil Uji Reliabilitas Skala

Variabel Cronbach’s α Keterangan

Motivasi belajar matematika 0.849 Handal

Persepsi terhadap Pengajaran Remedial 0.820 Handal

Hasil uji reliabilitas atau keandalan alat ukur pada skala persepsi terhadap pengajaran remedial maupun skala motivasi belajar siswa, masing-masing skala memiliki nilai koefisien reliabiltas α > 0.710, dengan demikian masing-masing skala yang digunakan sebagai alat ukur penelitian ini telah memenuhi syarat reliabilitas suatu alat ukur psikologis.

3. Analisis Hasil Penelitian

Uji hipotesis melalui analisis bivariate dengan teknik korelasi product moment dari Pearson, dapat diketahui sebagai berikut:

Tabel 4

Hasil uji korelasi

Variabel r r2 p Keterangan

Persepsi terhadap pengajaran

dengan Motivasi belajar 0.453 0.205 0.000

(12)

Hasil analisis uji hipotesis sebagaimana Tabel 4 tersebut menunjukkan bahwa antara persepsi terhadap pengajaran remedial dengan motivasi belajar siswa memiliki nilai probabilitas sebesar 0.000 pada taraf signifikansi 0.01 (one tailed). Hal tersebut dapat dikatakan bahwa antara persepsi terhadap pengajaran remedial dengan motivasi belajar siswa memiliki korelasi yang sangat signifikan. Diketahui pula koefisien determinasi, atau r2 sebesar 0.205 sehingga dapat dikatakan bahwa variabel persepsi terhadap pengajaran remedial mampu memberikan sumbangan efektif terhadap motivasi belajar siswa sebesar 20.5% atau 21%.

E. Pembahasan

Hasil uji hipotesis yang menunjukkan bahwa persepsi siswa terhadap pengajaran remedial dengan motivasi belajar matematika pada siswa yang pernah mengikuti pengajaran remedial memiliki hubungan positif tersebut sesuai dengan konsep yang dikemukakan oleh Subekti dan Firman (dalam Prihatini, 2008) bahwa pengajaran remedial dapat diartikan sebagai upaya guru untuk menciptakan situasi yang memungkinkan siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat termotivasi untuk meningkatkan prestasi belajar semaksimal mungkin sehingga mencapai atau bahkan melampaui KKM yang diharapkan. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan hasil penelitian Astuti (2004) dan Aryanto (2011), serta penelitian Alyssa, Patricia, and Holbein (2005), bahwa persepsi siswa terhadap pengajaran memiliki keterkaitan erat dengan motivasi belajar. Lebih lanjut Alyssa, et, al (2005) mengemukakan bahwa persepsi siswa membentuk mental blocking terhadap apa yang dipersepsikan karena menyangkut emosi (senang dan tidak senang) dan kognisi (fungsi dari yang dipersepsikan), sehingga seseorang tergerak untuk menolak atau mendukung melalui tindakan yang kongkrit.

(13)

20,5% dan hal tersebut juga menunjukkan bahwa motivasi belajar selain terkait dengan persepsi siswa juga dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya. Menurut Greene, Miller, Crowson, Duke, and Akey (2011) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar siswa selain faktor task for learning, autonomy for learn, recognition, dan evaluation adalah faktor persepsi terhadap pengajaran remedial yang memiliki keterkaitan erat dengan motivasi belajar siswa. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pengajaran remedial merupakan bagian dari teacher expectation, yakni adanya harapan guru agar siswa-siswanya dapat menyerap informasi atau materi pengajaran sehingga mencapai hasil prestasi yang optimal. Adanya harapan dari guru inilah yang mendorong guru untuk lebih mampu berinteraksi lebih baik dengan siswa agar siswa lebih termotivasi dan berusaha meningkatkan gairah belajarnya agar terpenuhi harapan guru. Pandangan tersebut dapat memberikan gambaran sebagaimana faktor yang mempengaruhi belajar siswa yang sebagian besar adalah faktor eksternal, yaitu guru. Guru berusaha memberikan pengajaran dan cara-cara penyampaian materi yang menarik bagi siswanya.

(14)

mempunyai kelebihan dan kekurangan yang bervariasai, mempunyai minat dan perhatian yang berbeda. Hal ini sesuai dengan pandangan Dimyati dan Mudjiono (2002) yang menjelaskan pendekatan pengembangan dalam pengajaran remedial merupakan upaya diagnostik yang dilakukan guru selama berlangsungnya pembelajaran dan agar peserta didik dapat segera mengatasi hambatan yang dialami selama mengikuti pembelajaran. Selain itu hasil penelitian Gonzalez-DeHass, dkk (2005), menjelaskan bahwa motivasi belajar siswa dapat ditumbuhkan melalui pendekatan atau inensitas interaksi guru dengan siswa dalam situasi melakukan pengajaran kembali, melakukan evaluasi dan menguraikan cara-cara belajar yang lebih baik pada siswa yang memiliki kekurangan atau kelebihan bidang tertentu.

F. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang dikemukakan maka dapat disimpulkan bahwa persepsi siswa terhadap pengajaran remedial memiliki hubungan positif dengan motivasi belajar, terutama dalam bidang studi matematika. Hal ini berarti bahwa semakin positif siswa dalam mempersepsikan pengajaran remedial maka akan semakin tinggi motivasi belajarnya, dan demikian pula sebaliknya, bila siswa memiliki persepsi yang negatif pada pengajaran remedial bidang studi matematika maka akan semakin rendah motivasi belajarnya.

(15)

PUSTAKA ACUAN

Alyssa R.; Patricia, W.P.; dan Holbein, M. F.D. (2005). Examining the Relationship Between Parental Involvement and Student Motivation. Educational Psychology Review, Vol 17(2), p: 99-123

Andrijanto, E . (2009). Pengaruh Pembelajaran Remedial Matematika Terhadap Peningkatan Hasil Belajar Lompat Jauh Gaya Jongkok, Skripsi Strata 1. Surabaya: Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Surabaya. Ariyanto, Eka(2011).Hubungan Antara Persepsi Siswa Tentang Profesionalisme

Guru dan Motivasi Belajar Dengan Prestasi Belajar Mata Pelajaran KKPI Siswa Kelas X Prodi Keahlian Elektronika Industri Di SMK Muhammadiyah Prambanan.Skripsi S1, Universitas Negeri Yogyakarta. Astuti, Linda (2004). Hubungan antara Persepsi terhadap pengajaran dengan

motivasi belajar matematika pada Siswa SMA Negeri 10 Surabaya. Skripsi Strata 1. Surabaya: Fakultas Psikologi Universitas Surabaya.

Azwar, S. (2003). Penyusunan skala psikologi. Edisi ke-1. Cetakan ke-5. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Azwar, S. (2006). Validitas dan Reliabilitas. Jakarta : CV. Rajawali Pers.

Dembo, MH (2003). Motivation and Learning Strategies For College Success : a Self-Management Approach. 2nd Edition. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Publishers

Dimyati dan Mudjiono (2002). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : P.T Rineka Cipta

Drost, S.J, (1998). Sekolah Mengajar atau Mendidik. Yogyakarta : Penerbit Kanisius

Gonzalez-DeHass, A.R., Willems. P.P., and Holbein, M.F.D (2005). Examining the Relationship Between Parental Involvement and Student Motivation. Educational Psychology Review, Vol. 17, No. 2, p: 99-123

Gonzalez-DeHass, R. Alyssa., Willems, P. Patricia, Marie F., and Holbein, Doan (2005). Examining the Relationship Between Parental Involvement and Student Motivation. Educational Psychology Review. June 2005, Volume 17, Issue 2, pp 99-123

Greene, A. Barbara., Miller, B. Raymond., Crowson, H.Michael., Duke, L. Bryan., and Akey. L Kristine (2011). Predicting high school students' cognitive engagement and achievement: Contributions of classroom perceptions and motivation. Contemporary Educational Psychology Journal. Volume 29, Issue 4, p:462–482

Gulo, W. (2002). Strategi Belajar – Mengajar. Jakarta : PT. Grasindo Hadi, S. (2000). Statistik 2. Jogjakarta : Andi Offset

(16)

Iskandar. (2009). Psikologi Pendidikan Sebuah Orientasi Baru. Ciputat: GP Press. Iswinarti, A (2004). Meningkatkan Motivasi dan Minat Belajar Matematika Siswa Melalui Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning: Teori, Riset dan Praktek. Bandung: Penerbit Nusa Media

Kumalasari, C (2004). Pengaruh penerapan metode belajar eksperimen pada bidang studi IPA terhadap motivasi belajar siswa SMP. Fakultas Psikologi, Skripsi-S1, tidak diterbitkan, Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. Miller, R.B., Crowson, HM., Duke, H.L., dan Akey , C.L.(2011). A Model of future oriented motivation and self-regulation. Educational Psychology. Review, 16, p: 9-33.

Mujiran.P., (2002). Pernak-pernik Pendidikan – Manifestasi dalam Keluarga, Sekolah, dan Penyadaran Gender. Yogyakarta : Penerbit Pustaka Pelajar. Murwani, S. (1999). Mitos Matematka di Sekolah: Pengajaran Matematika perlu

Menekankan Proses Bepikir (Evaluasi Pengajaran Matematika ke arah Logika). Media Elektronik. Jakarta : Harian Kompas. 17 April 1999. http://[email protected]

Naglieri. J (2000). National Scolarship and Block Grant Program. Central Independent Monitoring Unit (artikel Online), diambil dari http://www.nrf.ac.za/files/NRF%20Scholarship%20&%20Fellowship%20 Funding%20Manual%20for%202013.pdf pada tanggal 12 Juni 2013

Prihatini, N.P.W. (2008). Hubungan antara Kecemasan dan Minat dengan Prestasi Belajar Matematika pada Siswa Kelas X yang Remedial Matematika. Skripsi Strata 1. Surabaya: Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. Rakhmat, J. (1999). Psikologi Komunikasi, edisi revisi – cetakan ketiga belas,

Bandung : Penerbit PT. Rosdakarya.

Santoso (2002). SPSS Versi 12 : Mengolah data Statistik Secara Profesional. Jakarta : PT. Multi Elek Media Komputindo Gramedia

Slameto, (2003). Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta

Stanovich, R. (1999). Education in Indonesia : From Crisis to Recovery. Artikel Washington. D.C : Diterbitkan oleh World Bank. {Artikel Online} dari http://channel.bkkbn.go.id/arsip/Documents/Perpustakaan/ALIH%20MED IA%202012/005/5.%20Education%20In%20Indonesia.pdf diambil pada tangal 3 Maret 2013

Surya, M. & Amin, M. (1980). Pembelajaran Remedial Matematika, departemen pendidikan dan kebudayaan. Jakarta: PD. Andreola.

(17)

Suryobroto, B. (1997). Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta : Penerbit Rineka Cipta.

The, L.G. (1985). Cara belajar yang baik. Yogyakarta: PUBIB (Pusat Belajar Ilmu Berguna).

Walgito, B (1997). Pengantar Psikologi Umum, Ed. Revisi, Cetakan ke 5. Yogyakarta: Andi Offset

Gambar

Tabel 1 Hasil Uji Validitas Motivasi Belajar matematika
Tabel 3 konsistensi skala penelitian yang dapat diketahui sebagai berikut. Hasil Uji Reliabilitas Skala

Referensi

Dokumen terkait

Kedudukan dan fungsi Pancasila jika dikaji secara ilmiah memiliki pengertian yang luas, baik dalam kedudukannya sebagai dasar negara, pandangan hidup bangsa,

Internship ialah peringkat transisi profesional yang bertujuan untuk mengaitkan pengalaman amalan profesional pelajar dengan tugas guru permulaan.

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat, hidayah, serta pertolongan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul

Pada saat ini industri-industri tersebut berkembang dengan sangat pesat, sebagai contoh pada industri petroleum, kendala yang seringkali muncul adalah berkaitan dengan

Upaya widyaiswara dalam meningkatkan kinerja PLKB melalui pelatihan refreshing di bali pelatihan pengembangan BKKBN JAWA BARAT.. Universitas Pendidikan Indonesia |

Sehubungan dengan hal tersebut, mohon bantuan Saudara untuk memproses pelaksanaan Ujian Akhir Tahap I bagi yang bersangkutan.. Demikian atas bantuan Saudara, kami sampaikan

Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian Perdagangan Kota Bandung khususnya bidang koperasi sebaiknya melaksanakan proses pemberdayaan pegawai secara rutin agar kinerja

[r]