Teori Sosial Indonesia
Fenomena
Klitih
dalam Perspektif Perubahan Sosial
Selo Soemardjan
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Teori Sosial Indonesia
Dosen Penga mpu : Dr. Na siwa n, M.Si
Disusun Oleh :
Nama : Azka Anjani
NIM : 16416241044
Prodi : Pendidikan IPS
PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGRI YOGYAKARTA
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan ridho dan kesehatan kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan pembuatan makalah dengan judul judul “Fenomena Klitih dalam Perspektif Perubahan Sosial Selo Soemardjan” yang dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Sosial Indonesia.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Masih
terdapat banyak kekurangan dan kesalahan, baik yang penulis sadari maupun
kesalahan yang tidak penulis sadari. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran
dan kritik untuk makalah ini, agar di waktu yang akan datang penulis dapat menyusun
makalah yang lebih baik lagi. Selain itu, penulis juga berharap makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dan mendukung dalam pembuatan makalah ini. Demikian yang dapat penulis
sampaikan, atas perhatian dari pembaca penulis ucapkan terimakasih.
Yogyakarta, 27 Desember 2017
DAFTAR ISI
Cover ... i
KATA PENGANTAR ...ii
DAFTAR ISI ... iii
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masala ... 2
C. Tujuan Penulisan ... 2
D. Manfaat penulisan ... 3
BAB II ... 4
PEMBAHASAN ... 4
A. Konsep Moral dan Degradasi Moral ... 4
a. Moral………4
b. Degradasi Moral ... 5
B. Konsep Remaja dan Kenakalan Remaja ... 6
a. Remaja………6
b. Kenakalan Remaja ... 9
C. Klitih ... 10
a. Pengorganisiran dalam Gengster Klitih ... 11
D. Biografi Selo Sumardjan ... 14
E. Perubahan sosial di Yogyakarta ... 16
F. Konsep Perubahan Sosial Selo Sumardjan ... 18
G. Klitih dalam Perspektif Perubahan Sosial Selo Sumardjan... 21
BAB III ... 25
KESIMPULAN DAN SARAN ... 25
A. Kesimpulan ... 25
B. Saran ... 26
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Degradasi moral di kalangan remaja merupakan salah satu masalah serius yang
saat ini sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Masalah ini muncul karena berbagai
factor. Salah satu factor penyebab yang paling dominan adalah karena modernisasi
dan globalisasi. Modernisasi dan globalisasi menyebabkan pengaruh dari berbagai
belahan dunia mudah masuk ke Indonesia.
Salah satu tanda degredasi moral yang tengah melanda Indonesia adalah
semakin meningkatnya angka kasus kenakalan remaja. Berbagai tindak kriminal yang
dilakukan oleh remaja seperti kasus tawuran, miras, oplosan, vandalisme, judi,
narkoba, dan klitih yang akhir – akhir ini semakin meningkat. Kasus Klitih beberapa
bulan terakhir ini telah menjadi keprihatinan banyak pihak, salah satunya di Sleman.
Kasus kenakalan remaja, termasuk klitih di Yogyakarta antara 2-3 tahun terakhir
mengalami peningkatan (Reskrim Polresta Kota Yogyakarta).
Klitih menjadi salah satu aktivitats genster remaja bukan atas identitas yang
sama. Media cetak Kedaulatan Rakyat pada tanggal 2 Maret 2017 mengabarkan
bahwa ada dua korban yang mengalami luka yang cukup serius akibat pembacokan
yang dilakukan oleh gangster klitih. Belum lama ini muncul kabar ada beberapa
sekelompok gangster klitih yang melakukan tindak criminal serius. Tribun Jogja
mecatat selama 2016 ada enam kasus yang menimbulkan korban dan diantaranya ada
yang meninggal. Kabar berita yang disiarkan oleh NET.JOGJA (11 April 2017)
mengabarkan bahwa dua anggota gangster klitih membakar warung dan menganiyaya
Kasus – kasus klitih ini juga semakin memancing perhatian dengan adanya
peningkatan kasus kriminalitas di Yogyakarta. Pada tahun 2012 tercatat ada 6. 780
kasus criminal yang tercatat oleh Polda DIY dan pada tahun 2013 jumlah kasus
kriminalitas menurun menjadi 6.513 kasus. Selanjutnya pada tahun 2014 tercatat
jumlah kasus criminal meningkat 193, 98 % (Seksi Statistik Ketahanan Nasional dan
Bidang Statistik, 2015). Meskipun tidak bisa diketahui secara pasti jumlah gangster
yang melakukan kriminalitas jalanan dengan aksi klitih ini, namun kemunculan
gangster – genster ini ikut berkontribusi dalam meningkatnya aksi kriminalitas yang
tercatat.
Dr. Selo Sumardjan adalah ilmuan sosial yang berjasa mengkonsepsikan
Perubahan Sosial yang berangkat dari fenomena hidup dan berkembang di Indonesia,
khususnya yang tentang perubahan sosial yang berada di Yogyakarta (Nasiwan,
2016).
Focus pembahasan pada makalah ini adalah fenomena Klitih dalam perspektif
Perubahan Sosial Selo Sumardjan mengenai perubahan sosial yang ada khusunya di
daerah Yogyakarta. Bagaimana pandangan beliau mengenai perubahan sosial di
Yogyakarta dan kaitannya dengan fenomena Kiltih yang marak terjadi belakangan ini
di daerah Yogyakarta.
B.
Rumusan Masala
1. Bagaimana klitih terjadi di Yogyakarta dan bagaimana pengorganisasian kelompok
tersebut ?
2. Apa konsep perubahan sosial Selo Sumardjan ?
3. Bagaimana fenomena Klitih apabila dilihat dalam perspektif perubahan sosial
menurut Selo Sumardjan ?
C.
Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui bagaimana fenomena Klitih dan pengorganisasian kelompok
2. Untuk mengetahui konsep perubahan sosial menurut Selo Sumardjan.
3. Untuk mengetahui fenomena Klitih dari sudut pandang atau perspektif dari
perubahan sosial menurut Selo Sumardjan.
D.
Manfaat penulisan
1. Memahami tentang fenomena Klitih yang terjadi di Yogyakarta
2. Memberikan informasi tentang fenomena Klitih dan teori perubahan sosial
menurut Selo Sumardjan .
3. Sebagai salah satu referensi mengenai fenomena klitih dalam pandangan
Perubahan Sosial menurut Selo Sumardjan.
4. Menjadi salah satu media pembelajaran dalam perkuliahan terlebih khusus
dalam aktualisaasi mengembangkan pemahaman mengenai Mata Kuliah Teori
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Konsep Moral dan Degradasi Moral
a. Moral
Istilah moral berasal dari kata lain “ma s” (moris) yang berarti adat istiadat, kebiasaan, peraturan atau nilai – nilai atau tata cara kehidupan. Sedangkan moralitas
merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai – nilai , atau
prinsip – prinsip moral. Seorang dikatakan bermoral apabila tingkah lakunya sesuai
dengan nilai – nilai moral yang dijunjung tinggi oleh kelompok sosial (Yusuf, 2006:
132).
Menurut Yusuf ( 2006:134) perkembangan moral anak dapat berlangsung
melalui beberapa cara sebagai berikut :
1. Pendidikan langsung
Melalui penanaman pengertian tentang tingkah laku yang benar dan salah atau
baik dan buruk oleh orangtua, guru atau orang dewasa. Pendidikan di sekolah juga
termasuk pendidikan langsung.
2. Identifikasi
Mengidentifikasi atau meniru penampilan atau tingkah laku moral seseorang
yang menjadi idolanya (seperti orangtua, guru, kiai, artis, atau orang dewasa lainnya).
Guru merupakan salah satu figure yang menjadi panutan anak. Oleh karena itu, guru
harus senantiasa memberikan contoh perilaku yang baik bagi peserta didiknya.
Mengembangkan tingkah laku moral secara coba – coba. Tingkah laku yang
mendatangkan pujian atau penghargaan akan terus dikembangkan sedangkan tingkah
laku yang mendatangkan hukuman atau celaan akan dihentikannya.
Menurut Kohlberg (dalam Nurihsan & Agustin, 2013: 86) ada tiga pokok tugas
remaja dalam mencapai moralitas dewasa, yaitu sebagai berikut :
1. Mengganti konsep moral khusus dengan konsep moral umum.
2. Merumuskan konsep moral yang baru dikembangkan ke dalam kode moral sebagai
pedoman perilaku.
3. Melakukakan pengendalian terhadap perilaku sendiri.
Ketiga tugas tersebut merupakan tugas yang sulit bagi kebanyakan remaja.
Beberapa remaja tidak berhasil melakukan peralihan ke dalam tahap moralitas
dewasa selama masa remaja. Tugas ini harus diselesaikan pada awal masa dewasa.
Remaja lainnya tidak hanya gagal melakukan peralihan tetapi juga membentuk kode
moral berdasarkan konsep moral yang secara sosial tidak dapat diterima (Nurihsan &
Agustin, 2013:86). Hal inilah yang menyebabkan beberapa remaja terkadang
melakukan perilaku yang menyimpang menurut nilai / norma di lingkungannya.
Ketika memasuki masa remaja, anak – anak tidak lagi begitu saja menerima
kode moral dari orang tua, guru, bahkan teman – teman sebaya. Mereka ingin
membentuk kode moral sendiri berdasarkan konsep tentang benar dan salah yang
telah diubah dan diperbaikinya. Menurut mereka hal ini dilakukan agar sesuai dengan
tingkat perkembangan yang lebih matang dan lebih dilengkapi dengan hukum –
hukum dan peraturan – peraturan yang dipelajari dari orang tua, guru, bahkan dari
ajaran agamanya (Nurihsan & Agustin, 2013:86).
b. Degradasi Moral
manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang mempunyai
nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral atau tidak bermoral
dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya (Yusuf, 2006:132). Moralitas
adalah sesuatu yang bersifat tetap, dan sejauh kita tidak berbicara mengenai jangka
waktu yang terlalu panjang, moralitas itu akan sama, tidak berubah (Abdullah,
1986:161).
Degradasi moral merupakan suatu bentuk penurunan nilai dan norma manusia
karena adanya pengaruh perkembangan zaman. Dampak negatif yang ditimbulkan akibat degrasi moral adalah munculnya berbagai sisi dari “nilai – nilai modern” akibat globalisasi yang dianggap kurang sesuai dengan budaya bangsa Indonesia.
Jadi dapat disimpulkan bahwa degradasi moral adalah penurunan tingkah laku
manusia akibat tidak mengikuti hati nurani dan kurangnya kesadaran diri terhadap
kewajiban mutlak. Degarasi moral juga berarti tingkah laku manusia yang semakin
tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di sekitarnya.
B.
Konsep Remaja dan Kenakalan Remaja
a. Remaja
Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak – kanak ke masa
dewasa. Pada masa ini anak tidak mau diperlakukan sebagai anak, tetapi dari segi
fisiknya belum dapat dikatakan sebagai orang dewasa (Marliani, 2016:48). Hall (dalam Yusuf, 2001:185) berpendapat bahwa remaja merupakan masa “Strum a nd Dra ng”, yaitu periode yang berada dalam dua situasi antara kegoncangan,
penderitaan, asmara, dan pemberontakan dengan otoritas orang dewasa. Pendidikan
sebagai salah satu agen sosialisasi bagi anak sangat berperan dalam mengontrol
perilaku anak pada masa ini.
Masa remaja mempunyai ciri – ciri tertentu yang membedakannya dengan
periode sebelum dan sesudahnya. Adapun ciri – ciri masa remaja menurut Nurihsan
& Agustin (2013:69-73) yaitu :
Perkembangan fisik yang cepat harus disertai dengan perkembangan mental
juga cepat terutama pada awal masa remaja.
2. Masa Remaja sebagai Periode Peralihan
Peralihan tidak berarti terputus dengan atau berubah dari apa yang telah terjadi
sebelumnya, tetapi yaitu sebuah peralihan dari satu tahap perkembangan ke tahap
berikutnya. Individu dalam setiap periode peralihan status individunya menjadi tidak
jelas dan terdapat keraguan akan perilaku yang harus dilakukan. Pada masa ini,
remaja bukan lagi seorang anak dan juga bukan orang dewasa. Jika remaja
berperilaku seperti anak – anak, ia akan diajari untuk bertindak sesuai umurnya. Di
lain pihak, status remaja yang tidak jelas ini juga menguntungkan kareana status
memberi waktu kepadanya untuk mencoba gaya hidup yang berbeda dan menemukan
pola perilaku, nilai dan sifat yang paling sesuai bagi dirinya.
3. Masa Remaja sebagai Periode Perubahan
Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan
tingkah perubahan fisik. Selama awal masa remaja, ketika perubahan fisik terjadi
dengan pesat, perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung pesat. Kalau perubahan
fisik menurun maka perubahan sikap dan perilaku juga menurun.
Ada empat perubahan yang sama yang hampir bersifat universal yaitu :
a. Meningginya emosi yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubahan fisik
dan psikologi yang terjadi. Emosi yang tidak stabil menyebabkan kebanyakan
remaja menjadi mudah terprovokasi.
b. Perubahan tubuh, minat, dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial untuk
diperankan menimbulkan masalah baru.
c. Berubahnya minat dan pola perilaku menimbulkan adanya perubahan pada nilai –
nilai. Tidak semua remaja berhasil dalam proses internalisasi nilai – nilai baru
tersebut. Remaja yang tidak berhasil dalam proses tersebut biasanya akan menjadi
individu yang menyimpang menurut nilai – nilai yang dianggap benar oleh
d. Sebagian besar remaja bersikap ambivalen terhadap setiap perubahan. Mereka
menginginkan dan menuntut kebebasan, tetapi mereka sering takut
bertanggungjawab akan akibatnya dan meragukan kemampuan mereka untuk dapat
mengatasi tanggung jawab tersebut. Remaja yang mengalami kegagalan dalam
perkembangan moral biasanya lebih aktif dalam menuntut kebebasan. Kebebasan
yang mereka tuntut adalah kebebasan yang tidak ada batasnya. Oleh karena itu,
banyak sekali remaja yang melakukan tindak kriminal akibat pola pikir ini.
4. Masa Remaja sebagai Usia Bermasalah
Remaja merasa sudah harus mandiri sehingga mereka ingin mengatasi
masalahnya sendiri. Mereka menolak bantuan orang tua dan guru – guru. Akan tetapi,
tidak semua remaja mampu untuk mengatasi sendiri masalahnya menurut cara yang
mereka yakini. Akibatnya, banyak remaja akhirnya menemukan bahwa
penyelesaiannya tidak selalu sesuai dengan harapan meraka.
5. Masa Remaja sebagai Masa mencari Identitas
Identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk mejelaskan siapa dirinya
dan apa perannya dalam masyarakat. Proses pencarian jati diri pada remaja tidak
selalu berjalan sesuai dengan yang diharapkan oleh masyarakat. Remaja sangat
mudah terpengaruh oleh teman pergaulannya. Oleh karena itu, pada masa pencarian
jati diri tingkah laku remaja sangat dipengaruhi oleh tingkah laku orang disekitarnya.
6. Masa Remaja sebagai Usia yang Menimbulkan Ketakutan
Anggapan atau stereotip budaya menyatakan bahwa remaja adalah anak – anak yang tidak rapi, yang tidak dapat dipercaya dan cenderung merusak atau berperilaku
merusak.
7. Masa Remaja sebagai Masa yang Tidak Realistik
Remaja cenderung memandang dirinya dan kehidupan disekitarnya berdasarkan
apa yang dia inginkan bukan sebagaimana adanya, termasuk dalam hal cita – cita.
Cita – cita yang tidak realistis ini, tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi
keluarga dan teman – temannya. Hal merupakan ciri – ciri pada awal masa remaja
kecewa apabila orang lain mengecewakannya atau kalau ia tidak berhasil mencapai
tujuan yang ditetapkannya sendiri.
8. Masa Remaja sebagai Ambang Masa Dewasa
Semakin mendekatinya usia kematangan yang sah, para remaja menjadi gelisah
untuk meninggalkan stereotip belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa
mereka sudah hampir dewasa. Berpakaian dan bertindak seperti orang dewasa
ternyata belumlah cukup. Oleh karena itu remaja mulai memusatkan diri pada
perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa, yaitu merokok, minum minuman
keras, mengguanakan obat – obatan, dan terlibat dalam perbuatan seks. Mereka
menganggap bahwa perilaku ini akan memberikan citra yang mereka inginkan.
b. Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja (juvenile delinguency) ialah perbuatan / kejahatan/
pelanggaran yang dilakukan oleh anak remaja yang bersifat melawan hukum, anti
sosial, anti asusila, dan menyalahi norma – norma agama. Paradigma kenakalan
remaja yang lebih luas meliputi perbuatan – perbuatan yang sering menimbulkan
keresahan di lingkungan masyarakat, sekolah, maupun keluarga. Contohnya yaitu
pencurian oleh remaja, perkelahian di kalangan anak didik yang kerap kali
berkembang menjadi perkelahian antar sekolah, mengganggu wanita di jalan yang
pelakunya adalah remaja. Demikian pula sikap anak yang memusuhi orang tua dan
sanak saudaranya, atau perbuatan – perbuatan lain yang tercela seperti menghisap
ganja, mengedarkan narkoba, pornografi dan coret coret tembok yang tidak pada tempatnya (Sudarsono, 2004:13). Jenis – jenis kenakalan remaja antara lain adalah: 1. Vandalisme
2. Tawuran / perkelahian / bentuk kekerasan fisik lainnya.
3. Judi
4. Miras
5. Pencurian / Perampokan
C. Klitih
Jenis kenakalan remaja yang akan menjadi fokus pembahasan dalam makalah
ini adalah klitih. Klitih merupakan salah satu bentuk kekerasan fisik yang dilakukan
oleh segerombolan remaja /pelajar yang ingin melukai atau melumpuhkan lawannya
dengan kekerasan. Perilaku tindakan klitih tidak terlepas dari tiga faktor yaitu motor,
nongkrong, dan senjata tajam. Senjata yang sering digunakan oleh pelaku klitih
adalah benda – benda tajam seperti pisau, gir, samurai dan lain – lain. Kenakalan
remaja yang dilakukan melalui tindakan klitih ini sudah termasuk dalam tindakan
kriminal. Akhir – akhir ini kasus klitih semakin meningkat khusunya di Yogyakarta.
Klitih yang terjadi bahkan telah menimbulkan korban meninggal di kalangan pelajar.
Ironisnya semua pelaku dalam kasus tersebut adalah pelajar SMP yang masih di
bawah umur.
Menurut Kartono (2014) gangster remaja banyak ditemukan dan berkembang
di kota – kota besar. Pada awalnya mereka merupakan sekumpulan remaja yang
membentuk kelompok bermain dan mencari pengalaman baik secara bersama – sama.
Dari pencarian pengalaman ini, sangat mungkin terjadi perubahan yang tidak bisa lagi
dikontrol dan menghasilkan pencurian, kekerasan, perusakan fasilitas umum maupun
fasilitas pribadi. Perilaku ini kemudian menciptakan terror dalam masyarakat. (Ahnaf
& Salin, 2017).
Aksi tersebut dilakukan dengan cara berkeliling secara gerombolan sambil
mengendarai motor dan membawa benda tajam. Lawan yang akan menjadi lawan
mereka adalah kelompok lain atau orang yang dianggap sebagai musuh. Namun
terkadang juga siapa – siapa yang ditemui di jalan dan dianggap meledek atau bersikap tak menyenangkan akan diserang (Irawan, Ikrob Didik. 2016. “Tukang Klitih Sikat, Bae Pak Kesuwen”. Tribun Jogja, 10 September 2016).
Aktivitas klitih ini lebih sering dilakukan pada malam hari hingga larut malam.
Aktivitas tersebut sering terjadi di Jalan Kabupaten, Jalan Tentara Pelajar, dan Ring
Road Barat. Ketiga jalan tersebut memiliki karakter yang kurang lebih sama yaitu
melewati jalan tersebut. Ketiga jalanan tersebut merupakan jalan yang sangat sepi
pada malam hari dan terletak pada pinggiran kota Yogyakarta.
a. Pengorganisiran dalam Gengster Klitih
Kelompok klitih ini mempunyai aktivitas – aktivitas yang terorganisir dari
pemimpin. Sosok pemimpin seolah – olah menjadi alat anggota kelompok untuk
memenuhi kepentingan salah satu pihak tertentu. Kepentingan kepentingan ini
sebagaimana ditunjukkan dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Nicolaus
Chrisna dalam Studi Kasus Gengster Klitih Kursi Pitih di Yogyakarta (2017)
merupakan kepentingan para anggota yang ingin memperoleh pengakuan baik dalam
kelompoknya sendiri maupun kelompok lain. Kepentingan ini kemudian semakin
didorong dengan adanya perintah dari pemimpin yang mampu menciptakan rasa
takut. Oleh karena itu, alih – alih gangster remaja ini merupakan kelompok bermain,
justru kelompok bermain ini dimanfaatkan oleh pihak pemimpin untuk melakukan
pengorganisiran kltih.
Dalam hal ini, klitih menunjukkan bahwa di balik ancaman terhadap orang lain
juga ada ancaman terhadap diri sendiri. Anggota gangster memberikan ancaman bagi
orang lain dengan cara menyerang orang – orang di jalanan dengan kriteria laki – laki
bertubuh besar atau sama besar dan paling tegas yang menjadi sasaran tidak boleh
kaum perempuan. Penyerangan dijalanan tersebut sangat terorganisir dari pimpinan
kelompok yang selalu memberikan arahan sebelum melakukan aktivitas klitih
tersebut. Klitih bisa dikatakan criminal jalanan atau street criminality yang dibentuk
dan diorganisir oleh otoritas tertentu.
Namun dibalik itu anggota gangster juga mendapat ancaman dari pemimpin
kelompok. Ketika pemimpin memberikan perintah untuk melakukan aktivitas klitih
maka para anggota harus melakukan perintah tersebut. Jika ada anggota kelompok
yang berani menolak perintah tersebut maka akan diberi hukuman secara fisik oleh
Hukuman secara fisik itulah yang membuat anggota kelompok merasa takut
kepada pemimpin kelompok. Sehingga aktivitas tersebut terus berjalan karena ada
tekanan ataupun ancaman secara fisik oleh pemimpin kelompok. Dengan demikian,
kepatuhan diciptakan dengan pendisiplinan secara fisik untuk kemudian menciptakan
konsepsi soal norma kepatuhan.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Nicolaus Chrisna dalam Studi Kasus
Gengster Klitih Kursi Pitih di Yogyakarta (2017) ada lima hal pokok yang ditemukan.
Pertama, anggota kelompok atau pelaku klitih sebenarnya ingin mendapatkan
peghargaan yang diberikan oleh pemimpin kelompok. Bentuk penghargaan itu berupa
pengakuan ataupun pujian dari pemimpin. Selain itu, pemimpin akan memberikan
minuman beralkohol dan narkoba secara cuma – cuma sebagai bentuk penghargaan
atas aktivitas klitih.
Kedua, dari penghargaan yang diberikan oleh pemimpin kelompok tersebut
muncul kesenangan yang didapatkan. Kesenangan itu timbul setelah pemimpin
kelompok memberi pujian dan minuman beralkohol dan narkoba secara gratis.
Kemudian, pemimpin kelompok akan memberikan bonus yang lebih untuk para
anggota yang telah melakukan dan melaksanakan perintahnya. Bonus tersebut bisa
berupa anggota kelompok akan diajak bersenang – senang dengannya.
Ketiga, otoritas dan identitas dari pemimpin kelompok dan anggota kelompok.
Dimana pemimpin kelompok dangat ditakuti dan disegani oleh anggota kelompok
dengan ancaman – ancaman fisik yang sering kali diberikan. Selain itu, identitas
sosial anggota gangster yang termanifestasikan dalam bentuk kegiatan atau aktivitas
klitih berawal dari perintah yang diberikan oleh pemimpin.
Keempat, identitas terbentuk karena adanya rasa takut karena adanya ancaman – ancaman fisik oleh para pemimpin kelompok. Rasa takut itu yang kemudian membuat anggota kelompok berani melakukan aktivitas klitih tersebut. Ketika ada
salah satu anggota kelompok yang memutuskan untuk keluar dari kelompok tersebut
maka pemimpin akan mencari keberadaannya dan akan dipaksa untuk kembali ikut
anggota kelompok merasa takut dengan sosok leader kata ganti pemimpin yang
sering digunakan.
Terakhir atau kelima, kerentanan identitas di sini muncul karena ajakan dari
orang lain untuk ikut masuk ke dalam gangster, ketika sudah menjadi anggota genster
pengaruh itu muncul dari pemimpin dan sesama anggota. Pengaruh pemimpin sangat
besar terhadap setiap anggota kelompok. Pengaruh tersebut dilabeli dengan ancaman
yang diberikan oleh pemimpin kelompok.
Ketiga subjek dalam penelitian penelitian yang dilakukan oleh Nicolaus
Chrisna dalam Studi Kasus Gengster Klitih Kursi Pitih di Yogyakarta (2017)
mengatakan bahwa ketika mengikuti aktivitas gengster akan mendapat penghargaan
dari pemimpin kelompok. Penghargaan tersebut membuat para subjek merasa
nyaman berada di dalam kelompoknya. Factor yang mendorong seseorang untuk
berkelompok dan merasa nyaman berada di dalamnya adalah kelompok menjadi
tempat untuk merasa berarti dan dihargai. Dari perspektif humanistic Maslow,
kebutuhan akan rekognisi, belonging, esteem atau penghargaan dari orang lain harus
terpenuhi terlebih dahulu sebelum memenuhi tujuan pokok atau aktualisasi diri (Feist
& Feist, 2008).
Penghargaan tersebut tidak hanya diperoleh dari pemimpin kelompok saja
yang memiliki struktur lebih tinggi dibandingkan anggotanya, melainkan juga
didapat dari teman satu kelompoknya sendiri. Seperti yang dituturkan oleh objek
penelitian yang dilakukan oleh Nicolaus Chrisna dalam Studi Kasus Gengster Klitih
Kursi Pitih di Yogyakarta (2017) bahwa mereka akan merasa bangga dan dihargai
jika teman satu kelompoknya memberikan apresiasi ketika berhasil melakukan
pembacokan dalam aktivitas klitih. Perasaan bangga tersebut membuat mereka
semakin nyaman dan semakin berani melakukan aktivitas kelompoknya. Pemberian
penghargaan ini mampu mengkoordinasi dan mengkonstruksi terbentuknya identitas
sosial.
Dari beberapa penjelasan diatas, anggota gengsster klitih seolah akan menjadi
atau game yang dibentuk oleh otoritas untuk mencapai tujuan tertentu. Namun
permainan yang dibentuk tersebut menjadi sangat mengerikan bagi orang – orang
yang merasa terancam dengan aktivitas klith dapat dikatakan street criminality.
D.
Biografi Selo Sumardjan
Selo Sumardjan dikenal dikalangan akademik dan masyara-kat di Indonesia
sebagai bapak Sosiologi, ilmu yang digelutinya sejak beliau menempuh pendidikan
tingginya untuk memperoleh gelar doktor. Thesis beliau yang berjudul social change
in Jogjakarta, menjadi salah satu puncak pencapaian beliau yang melahirkan gelar
sebagai professor dengan arus utama sosiologi. Tidak banyak yang mengenal pribadi
beliau, sehingga perlu kiranya di bagian pertama kupasan tentang Selo Sumardjan
dan perubahan sosial, peneliti ungkapkan sosok seorang bapak sosiologi Indonesia
(Nasiwan, 2016).
Selo Sumardjan lahir di Yogyakarta, 23 Mei 1915, merupakan pendiri
sekaligus dekan pertama Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan (kini FISIP-UI)
dan sampai akhir hayatnya dengan setia menjadi dosen sosiologi di Fakultas Hukum
Universitas Indonesia (UI).
Nama Selo Soemardjan selalu melekat dengan sosiologi. Ilmu itu sebenarnya
baru benar-benar ditekuni pada saat usianya sudah di atas empat puluh tahun, yaitu
ketika ia pada tahun 1956 memperoleh kesempatan menuntut ilmu di Cornell
University, Amerika Serikat. Di sinilah bekas camat lulusan Mosvia (tingkat SLTA)
ini menunjukkan kehebatannya. Hanya dalam kurun waktu kurang dari empat tahun
beliau boleh pulang ke tanah air dengan menyandang gelar Ph.D. di bidang sosiologi. Disertasinya “Social Changes in Jogyakarta” pun dibukukan dan banyak menjadi acuan sarjana luar negeri yang menulis tentang perubahan sosial di Indonesia
pascakemerdekaan (Santoso, 2010)
Selama hidupnya, Selo pernah berkarier sebagai pegawai
Kesultanan/Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, Kepala Staf Sipil Gubernur
Menteri, Kepala Biro III Sekretariat Negara merangkap Sekretaris Umum Badan
Pemeriksa Keuangan, Sekretaris Wakil Presiden RI Sultan Hamengku Buwono IX
(19731978), Asisten Wakil Presiden Urusan Kesejahteraan Rakyat (19781983) dan
staf ahli Presiden HM Soeharto. Ia dikenal sebagai Bapak Sosiologi Indonesia setelah
tahun 1959 seusai meraih gelar doktornya di Cornell University, AS, dan mengajar
sosiologi di Universitas Indonesia (UI). Dialah pendiri sekaligus dekan pertama (10
tahun) Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan (sekarang FISIP) UI. Kemudian
tanggal 17 Agustus 1994, ia menerima Bintang Mahaputra Utama dari pemerintah
dan pada tanggal 30 Agustus 1994 menerima gelar ilmuwan utama sosiologi.
Selo Sumardjan dibesarkan di lingkungan abdi dalem Kasultanan Yogyakarta
Hadiningrat. Kakeknya, Kanjeng Raden Tumenggung Padmonegoro, adalah pejabat
tinggi di kantor Kasultanan Yogyakarta. Berkat jasa sang kakek, Soemardjan- begitu
nama aslinya- mendapat pendidikan Belanda. Nama Selo dia peroleh setelah menjadi
camat di Kabupaten Kulonprogo. Ini memang cara khusus Sultan Yogyakarta
membedakan nama pejabat sesuai daerahnya masing-masing. Saat menjabat camat
inilah ia merasa mengawali kariernya sebagai sosiolog. Pengalamannya sebagai
camat membuat Selo menjadi peneliti yang mampu menyodorkan alternatif
pemecahan berbagai persoalan sosial secara jitu. Ini pula yang membedakan Selo
dengan peneliti lain.
http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/285-ensiklopedi/2296-bapaksosiologi-indonesia
Pada masa hidupnya, beliau dikenal sebagai orang yang tidak suka
memerintah, tetapi memberi teladan. Hidupnya lurus, bersih, dan sederhana. Beliau
juga seorang dari sedikit orang yang sangat pantas menyerukan hentikan praktik
korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Pantas karena ia bukan tipe maling teriak
maling. Ia orang orang bersih yang dengan perangkat ilmu dan keteladanannya bisa
menunjukkan bahwa praktik KKN itu merusak tatanan sosial. Ia
pantas menjadi teladan kaum birokrat karena etos kerjanya yang tinggi dalam
http://arsip.infoakademika.com/profil-akademisi/07/prof.-dr.-selo-soemardjan.html
E.
Perubahan sosial di Yogyakarta
Pemikiran utama dari Selo Sumardjan (dalam Nasiwan & Yuyun, 2016: 180) bersumber dari karya beliau yang dibukukan dengan judul “Perubahan Sosial di Yogyakarta”. Buku ini mengkaji dan menjelaskan peruabahan sosial masyarakat Jawa di Yogyakarta. Perubahan sosial yang dikupas di buku ini tidak melihat pada proses
peruahan masyarakat yang dilibatkan oleh berbagai proses perkembangan biologis
seperti, pertumbuhan penduduk dan pergantian generasi. Perubahan sosial yang
digagas Selo Sumardjan justru berfokus pada perubahan di dalam lembaga – lembaga
masyarakat yang mempengaruhi sistem sosial yang di dalamnya termasuk nilai,
norma, sikap, dan tingkah laku. Selo Sumardjan memfokuskan studinya tentang
perubahan sosial pada lembaga – lembaga politik yang ada di Daerah Istimewa
Yogayakarata, pada kurun waktu masa penjajahan Belanda (1775 – 1942), masa
pendudukan Jepang (1942 – 1945) dan perjuangan kemerdekaan nasional yang
berlangsung selama 4 tahun.
Perubahan-perubahan dalam tata pemerintahan DIY dari tingkat atas hingga
tingkat pedesaan dilaksanakan oleh penguasa daerah, yaitu sultan. Sultan
Hamengkubuwono IX mendahului kebijakan desentralisasi yang diharapkan dari
pemerintah nasional Indonesia. Perubahan yang sama itu terjadi pada
lembaga-lembaga ekonomi, pendidikan serta dalam sistem kelas di masyarakat.
Perubahan sosial di Yogyakarta menarik karena Yogyakarta memiliki
subkultur yang berbeda dengan masyarakat Jawa lainnya dimana Yogyakarta
merupakan daerah swaparaja (Kesultanan) yang tetap mempertahankan banyak
tatanan feodal (Sumardjan, 2009). Menurut Sunyoto Usman (Gunawan, 2010), faktor
penting dalam perubahan masyarakat Jawa terutama di Yogyakarta adalah ideologi
politik. Ideologi politik dalam perspektif sosiologi bisa dilihat dari 2 hal. Pertama,
status dan peran masyarakat sipil dalam hubungannya dengan negara, dari dalam
keputusan yang menyangkut kepentingan publik, menjadi lebih melembagakan
kompetisi sehat, transparansi, dan partisipasi. Kedua, status dan peran lembaga
-lembaga pemerintahan, dari yang sangat sentralistik dan otokratis menjadi
pemerintahan yang didesentralistik dan demokratis. Ideologi politik semacam ini
bukan sekedar sebuah mekanisme bagaimana meraih, mengembangkan dan
mempertahankan kekuasaan, tetapi lebih daripada itu adalah niat luhur yang
menghargai harkat dan martabat manusia.
Tidak seperti revolusi sosial di Perancis yang digerakkan oleh kaum intelektual
bersama rakyat yang tertindas untuk menggulingkan kekuasaan raja yang absolut,
perubahan sosial di Yogyakarta malah digerakkan oleh pucuk pimpinan dan pemilik
kekuasaan itu sendiri yakni Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Sehingga para bangsawan dan rakyat secara keseluruhan melihat perubahan yang
digulirkan oleh sang Raja sebagai keharusan yang mesti dijalani untuk perbaikan ke
depan. Maka perubahan yang terjadi disertai tanpa gejolak yang berarti, meskipun
membongkar sebagian sendi-sendi kehidupan masyarakat.
Perubahan sosial yang mengedepankan nilai-nilai harmoni telah berhasil
membawa perubahan tanpa berdarah-darah. Namun, saat ini perubahan sosial yang
terjadi pada masyarakat kita cenderung mengabaikan nilai-nilai harmonisasi ini.
Produk politik yang memberlakukan pemilihan kepala daerah, presiden dan wakil
presiden melalui pemilihan langsung telah membelah masyarakat pada
kandidat-kandidat yang bertarung. Segmentasi yang terjadi terus meruncing dalam
kampanye-kampanye negatif, saling menjatuhkan. Maka upaya perangkulan (koalisi) setelah
pemilihan menjadi sia-sia, karena pendukung masing-masing kandidat sudah
membawa alam bawah sadar kebencian satu sama lain.
Sri Sultan Hamengkubuwono IX memposisi diri sebagai pelopor sekaligus
fasilitator. Ia tidak memaksakan ide-idenya diterima sepenuhnya oleh masyarakat.
Sultan memberikan jalan dan dukungan teknis, dan menyerahkan sepenuhnya gerak
Sri Sultan Hamengkubuwono IX adalah raja yang membuka sekat-sekat ketat
kraton yang begitu sakral. Dengan berani Sultan menjadikan kraton sebagai ruang
publik yang bisa diakses siapapun untuk kepentingan bersama. Sejarah UGM
menggambarkan keterbukaan itu. Bagaimana di awal-awal pendirianya, UGM
memakai beberapa ruang di kraton untuk kegiatan kuliah. Kita tidak melihat
keterbukaan seperti ini pada kesultanan-kesultanan lain yang ada di Indonesia.
F.
Konsep Perubahan Sosial Selo Sumardjan
Perubahan sosial yang merupakan pemikiran dari Selo Sumardjan merupakan
bagian dari ilmu sosiologi yang mencoba memotret dinamika sosial masyarakat.
Perubahan sosial dalam konsep pemikiran Selo Sumardjan adalah perubahan pada
lembaga – lembaga masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai – nilai sosial, sikap dan pola tingkah laku antar kelompok dalam masyarakat (Nasiwan, 2016).
Perubahan sosial disini berasal dari perubahan – perubahan ideologi politik
dalam masyarakat Jawa terutama di Yogyakarta. Untuk mendalami proses perubahan
sosial perlu mengetahui siapa pelapor perubahan (agent of change). Pelopor
perubahan adalah seseorang atau sekelompok orang yang dipercayai oleh masyarakat
sebagai pemimpin dalam salah satu atau beberapa lembaga sosial. Kelompok ini
berkontribusi menetapkan beberapa kaidah sistem sosial baru atau yang diperbarui.
Dalam karya Selo Sumardjan, (2009) perubahan politik dan pemerintah di
Yogyakarta diprakarsai oleh Sultan Hamengkubuwono atau oleh pemerintah propinsi
di bawahnya. Dalam konteks ini perubahan memunculkan dua aspek penting dugaan
bahwa perubahan sosial ini disengaja atau tidak disengaja. Perubahan sosial yang
disengaja adalah perubahan yang telah diketahui dan direncanakan oleh anggota
masyarakat yang berperan sebagai pelopor perubahan. Adapun perubahan yang tidak
disengaja adalah perubahan yang terjadi tanpa diketahui atau direncanakan
sebelumnya oleh anggota masyarakat. Dalam perubahan sosial di Yogyakarta,
yang tidak disengaja adalah pola semakin kuatnya masyarakat padukuhan, termasuk
pula hilangnya kaum bangsawan secara berangsur – angsur dari kedudukan kelas atas
masyarakat.
Perubahan ini yang disengaja di dalam proses pemerintahan dimulai dari yang
sangat sentralisir dan otokratis menjadi pemerintahan yang didesentralisir dan
demokrasitis. Menurut Selo Sumardjan (dalam Nasiwan & Yuyun, 2016: 183), pada
tahun 1957 pemerintah propinsi mengaluarkan keputusan untuk memberi para
pemilik tanah di pedesaan hak waris dalam memiliki tanah. Keputusan ini tidak lebih
dari suatu keberlanjutan logis dari perubahan yang disengaja yaitu untuk memberi
kaum tani hak waris untuk menggarap sawah. Perubahan ini mendorong
demokratisasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan kata lain,
pemikiran ini justru bersumber dari permasalahan di masyarakat akibat kurangnya
hak atas tanah yang kemudian diselesaikan melalui pemikiran yang demokratis dan
kontekstual pada masyarakat.
Konteks tersebut di atas ternyata merupakan gagasan yang sangat tepat yang
pada tahun 2000, pada era reformasi diterapkan di Indonesia dalam bentuk otonomi
daerah, dimana tiap – tiap daerah memiliki kemungkinan porsi untuk pengelolaan
yang lebih mandiri. Harapannya dengan otonomi daerah, proses pemerintahan akan
lebih dekat ke rakyat dengan hasil kesejahteraan rakyat akan meningkat karena hasil
bumi yang ada di suatu wilayah akan diolah dan digunakan untuk kemakmuran
rakyat.
Pemikiran ini menunjukkan bahwa demokrasi sudah ada dalam pikiran Selo
Sumardjan dan berasal dari kearfan lokal seorang raja di Yogyakarta yang mendorong
perubahan sosial di tataran masyarakat yang hasilnya luar biasa bagi perkembangan
dan dinamika masyarakat khususnya di Yogyakarta.
Proses perubahan sosial yang terjadi di Yogyakarta , ketika itu memunculkan
dalil – dalil umum yang merupakan karakteristik perubahana sosial (Sumardjan,
1. Kalau ada rangsangan yang cukup kuat untuk mengatasi hambatan – hambatan
yang merintangi setiap tahap permulaan proses perubahan, maka hasrat akan
perubahan sosial bisa berubah menjadi tindakan untuk mengubah.
2. Orang –orang yang mengalami tekanan kuat dari luar cenderung mengalihkan
agresi balasan mereka dari sumber tekanan yang sebenarnya ke sasaran – sasaran
materi yang ada sangkut pautnya dengan sumber itu.
3. Rakyat yang tertekan oleh kekuatan luar cenderung untuk bekerjasama dengan
kekuatan luar, tetapi hanya untuk mempertahankan ketentraman jiwa mereka.
4. Orang – orang yang tertekan oleh kekuatan luar cenderung untuk menjadi lebih
agresif. Hal ini disebabkan mereka semakin menyadari adanya kesenjangan antara
keadaan hidup sekarang dengan keadaan yang diinginkan.
5. Proses perubahan sosial di kalangan para pelopor – pelopornya bermula dari
pemikiran ke sesuatu luar (eksternal). Di kalangan para warga masyarakat
lainnya, proses itu berlangsung dari sesuatu di luar (eksternal) ke sesuatu yang
bersifat kelembagaan.
6. Harta kekayaan yang diinginkan, tetapi tidak bisa lagi diperoleh karena jalan itu
ditutup oleh kekuatan –kekuatan luar sehingga telah kehilangan nilai sosialnya
oleh rasionalisasi. Dalam hal yang ekstrim, harta kekayaan itu tidak dihargai.
7. Rakyat menolak perubahan karena berbagai alasan, antara lain:
a. Mereka tidak memahaminya
b. Perubahan itu bertentangan dengan nilai – nilai serta norma – norma yang ada
c. Para anggota masyarakat yang berkepentingan dengan keadaan yang ada
(vested interest) cukup kuat menolak perubahan.
d. Resiko yang terkandung dalam perubahan itu lebih besar dari jaminan sosial
dan ekonomi yang bisa diusahakan
e. Pelopor perubahan ditolak.
8. Perubahan – perubahan yang tidak merata pada berbagai sector kebudayaan
masyarakat cenderung menimbulkan ketegangan – ketegangan yang mengganggu
9. Dalam proses perubahan sosial, kebiasaan – kebiasaan lama dipertahankan dan
diterapkan pada inovasi sehingga tiba saatnya kebiasaan – kebiasaan baru yang
lebih menguntungkan menggantikan kebiasaan lama.
10.Kalau rakyat terus menerus tidak diberi kesempatan untuk memuaskan kebutuhan – kebutuhan sosialnya. Karena cenderung beralih merenungkan hal bukan keduniawian untuk mendapatkan ketentraman jiwa. Dalam hal sebaliknya,
mereka cenderung untuk menjadi lebih sekuler dalam system kepercayaannya.
11.System perubahan sosial yang diprakarsai dan dilaksanakan oleh pelopor yang
berlawanan dengan kepentingan – kepentingan pribadi (vested interests)
cenderung untuk berhasil.
12.Perubahan yang dimulai dengan pertukaran pikiran secara bebas diantara para
warga masyarakat yang terlibat, cenderung mencapai sukses yang lebih lama
daripada perubahan yang dipaksakan dengan dekrit pada meraka.
13.Perubahan dari system kelas tertutup ke kalas terbuka akan disertai dengan
perubahan dari system komunikasi vertical satu arah kearah system komunikasi
dua arah
14.Perubahan dari system kelas tertutup ke kelas terbuka cenderung untuk
mengalihkan orientasi rakyat dari tradisi. Maka, mereka manjadi lebih mudah
menerima perubahan – peruahan yang lainnya.
15.Semakin lama dan semakin berat penderitaan yang telah dialami oleh rakya
karena berbagai ketegangan psikologis dan frustasi, maka semakin tersebar luas
dan cepat kecenderungan perubahan yang akan menuju pada kelegaan.
G.
Klitih dalam Perspektif Perubahan Sosial Selo SumardjanPerubahan sosial menurut Selo Sumardjan adalah segala perubahan pada
lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat dimana perubahan tersebut
mempengaruhi system sosialnya, termasuk di dalamnya nilai – nilai, sikap, dan pola
kelakuan diantara kelompok dalam masyarakat. Definisi ini menekankan perubahan
Lembaga sosial ialah unsur yang mengatur pergaulan hidup untuk mencapai tata
tertib malaluil norma. Perubahan – perubahan dapat mengenai nilai sosial, norma
sosial, pola organisasi perilaku, susunan lembaga kemasyarakatan, kekuasaan dan
wewenang dan sebagainya.
Adanya suatu perubahan dalam masyarakat akibat perubahan sosial bergantung
pada keadaan masyarakat itu sendiri yang mengalami perubahan sosial. Dengan kata
lain, perubahan sosial yang terjadi tidak selamanya suatu kemajuan (progresif).
Bahkan, dapat pula sebagai suatu kemunduran masyarakat. Perubahan sosial mengakibatkan terjadinya masalah – masalah sosial seperti kejahatan, atau kenakalan remaja. Kecepatan perubahan tiap daerah berbeda – beda tergantung pada dukungan
dan kesisapan masyarakat untuk berubah. Perbedaan perubahan tersebut dapat
mengakibatkan munculnya kecemburuan sosial yang harus dihindari.
Klith kaitannya dengan perubahan sosial yang terjadi khususnya pada
masyarakat Yogyakarta termasuk dalam kategori perubahan yang mengarah pada
kemunduran (regresif). Klitih ini adalah kegiatan yang dirasa merugikan dan
mengkhawatirkan masyarakat.
Fenomena klitih apabila dilihat berdasarkan karakteristik perubahana sosial
yang disampaikan oleh Selo Sumardjan (Sumardjan, 2009:453-486) dalam (Nasiwan,
2016) sebagai berikut:
1.Orang –orang yang mengalami tekanan kuat dari luar cenderung mengalihkan
agresi balasan mereka dari sumber tekanan yang sebenarnya ke sasaran – sasaran
materi yang ada sangkut pautnya dengan sumber itu.
Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa dalam aksi klitih anggota ataupun
pelaku mendapatkan ancaman fisik dari pemimpin kelompok dan membuat setiap
anggota kelompok merasa takut dengan sosok leader. Rasa takut yang terbentuk
karena adanya stimulus yang diberikan oleh pimpinan kelompok dengan adanya
dalam pikiran mereka. Maka mereka berpikir bahwa lebih baik melakukan perintah
dari pimpinan dari pada mendapatkan hukuman secara fisik.
2. Rakyat yang tertekan oleh kekuatan luar cenderung untuk bekerjasama dengan
kekuatan luar, tetapi hanya untuk mempertahankan ketentraman jiwa mereka.
Dalam hal merumuskan identitas lewat rasa takut, anggota yang mempunyai
ketakutan pada sosok leader sering mendapat ancaman secara fisik dari pimpinan.
Ancaman tersebut membuat anggota merasa sangat takut dan tidak berani menolak
apa yang diperintahkan oleh leader. Selanjutnya, ketiga subjek lebih memilih untuk
melakukan aktivitas klitih. Di sini dapat diamati bahwa klitih dilakukan untuk
menghindari diri dari kekerasan. Dengan demikian, pembentukan siklus kekerasan di
dalam kelompok mampu menjaga kelompok tetap utuh.
3. Rakyat menolak perubahan karena berbagai alasan, antara lain:
a.Mereka tidak memahaminya
Bagi masyarakat pada umumnya sangat sulit dipahami bagaimana remaja
sekolah yang berani melakukan aktivitas criminal seperti klitih bahkan dengan
aksinya tersebut banyak orang merasa terugikan atau terganggu keamanannya.
Bagaimana mungkin seorang remaja melakukan perbuatan criminal tersebut. Remaja
yang seharurnya bersungguh – sungguh dalam mengembangkan potensi dirinya untuk
bekal mencapai impian yang dicita – citakannya justru sibuk dengan aktivitas
kelompok gengster klitih.
b.Perubahan itu bertentangan dengan nilai – nilai serta norma – norma yang ada Fenomena klitih memang bertentangan dengan nilai dan norma yang ada,
dimana nilai dan norma tersebut dijunjung tinggi di dalam masyarakat setempat.
Tentu saja klitih sangat bertentangan dengannya. Dalam nilai dan norma masyarakat
pada umumnya sangat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Klitih sangat melanggar
nilai kemanusiaan tersebut. Dalam aktivitasnya pelaku dengan mudahnya menyerang
dan merugikan korban. Hal ini sangat bertentangan denga nilai kemanusiaan -
kemanusiaan atau humanism disini adalah rasa saling membantu dan menyayangi
c. Para anggota masyarakat yang berkepentingan dengan keadaan yang ada
(vested interest) cukup kuat menolak perubahan.
Kitih cukup meresahkan masyarakat. Aktivitasnya yang mengerikan sangat
mengganggu kenyamana dan keamanan masyarakat terutama masyarakat DIY. Untuk
itu masyarakat menolak adanya klith dan mereka bekerja sama denga pihak berwajib
untuk mengatasai fenomena tersebut. Polisi setempat nampaknya juga bekerja keras
dalam menanggulangi aktivitas tersebut.
d. Resiko yang terkandung dalam perubahan itu lebih besar dari jaminan sosial
dan ekonomi yang bisa diusahakan.
e. Pelopor perubahan ditolak.
Tentu saja aksi klitih ditolak oleh masyarakat khususnya masyarakat
Yogyakarta. Fenomena klitih yang kian marak beberapa hari terakhir ini membuat
masyarakat Yogyakarta khawatir. Masyarakat menjadi was – was untuk keluar
rumah, apalagi ketika jam tengah malam. Klitih sebagai kegiatan yang mempunyai
aktivitas anarkis sangat merugikan masyarakat. Aksi klitih juga mengganggu
ketertiban dan menghambat tujaun Yogyakarta sebagai kota wisata. Untuk itu
perubahan sosial terkait kenakalan remaja yaitu klitih adalah perubahan yang ditolak
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Klitih merupakan salah satu bentuk kekerasan fisik yang dilakukan oleh
segerombolan remaja /pelajar yang ingin melukai atau melumpuhkan lawannya
dengan kekerasan. Perilaku tindakan klitih tidak terlepas dari tiga faktor yaitu motor,
nongkrong, dan senjata tajam. Senjata yang sering digunakan oleh pelaku klitih
adalah benda – benda tajam seperti pisau, gir, samurai dan lain – lain. Kenakalan
remaja yang dilakukan melalui tindakan klitih ini sudah termasuk dalam tindakan
kriminal. Akhir – akhir ini kasus klitih semakin meningkat khusunya di Yogyakarta.
Klitih yang terjadi bahkan telah menimbulkan korban meninggal di kalangan pelajar.
Ironisnya semua pelaku dalam kasus tersebut adalah pelajar SMP yang masih di
bawah umur.
Kelompok klitih ini mempunyai aktivitas – aktivitas yang terorganisir dari
pemimpin. Sosok pemimpin seolah – olah menjadi alat anggota kelompok untuk
memenuhi kepentingan salah satu pihak tertentu. Kepentingan kepentingan ini
sebagaimana ditunjukkan dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Nicolaus
Chrisna dalam Studi Kasus Gengster Klitih Kursi Pitih di Yogyakarta (2017)
merupakan kepentingan para anggota yang ingin memperoleh pengakuan baik dalam
kelompoknya sendiri maupun kelompok lain. Kepentingan ini kemudian semakin
didorong dengan adanya perintah dari pemimpin yang mampu menciptakan rasa takut. Oleh karena itu, alih – alih gangster remaja ini merupakan kelompok bermain, justru kelompok bermain ini dimanfaatkan oleh pihak pemimpin untuk melakukan
pengorganisasian klitih.
Fenomena klitih apabila dilihat berdasarkan karakteristik perubahana sosial
yang disampaikan oleh Selo Sumardjan (Sumardjan, 2009:453-486) terkhusus pada
Rakyat yang tertekan oleh kekuatan luar cenderung untuk bekerjasama dengan
kekuatan luar, tetapi hanya untuk mempertahankan ketentraman jiwa mereka.
Dalam hal merumuskan identitas lewat rasa takut, anggota yang mempunyai
ketakutan pada sosok leader sering mendapat ancaman secara fisik dari pimpinan.
Ancaman tersebut membuat anggota merasa sangat takut dan tidak berani menolak
apa yang diperintahkan oleh leader. Selanjutnya, ketiga subjek lebih memilih untuk
melakukan aktivitas klitih. Di sini dapat diamati bahwa klitih dilakukan untuk
menghindari diri dari kekerasan. Dengan demikian, pembentukan siklus kekerasan di
dalam kelompok mampu menjaga kelompok tetap utuh.
Aksi klitih ditolak oleh masyarakat khususnya masyarakat Yogyakarta.
Fenomena klitih yang kian marak beberapa hari terakhir ini membuat masyarakat
Yogyakarta khawatir. Masyarakat menjadi was – was untuk keluar rumah, apalagi
ketika jam tengah malam. Klitih sebagai kegiatan yang mempunyai aktivitas anarkis
sangat merugikan masyarakat. Aksi klitih juga mengganggu ketertiban dan
menghambat tujaun Yogyakarta sebagai kota wisata. Untuk itu perubahan sosial
terkait kenakalan remaja yaitu klitih adalah perubahan yang ditolak oleh masyarakat.
B.
Saran
Usaha penanggulangan dapat diartikan sebagai suatu upaya atau usaha dalam
mencegah dan mengurangi kasus kejahatan oleh pelaku aksi klitih, penulis
memberikan beberapa saran yaitu, dalam penegakan hukum khususnya bagi pelaku
kejahatan aksi klitih, diharapkan proses sesuai dengan hukum yang berlaku serta
penerapan sanksi yang cukup berat agar pelaku tidak mengulangi perbuatannya lagi.
Kemudian sangat diharapkan kepada pihak kepolisian dan para penegak hukum
lainnya agar menegakkan hukum dengan seadil-adilnya sesuai dengan peraturan yang
berlaku. Tak lepas dari itu pihak keluarga adalahyang paling penting dalam
membentuk karakteristik anak, hendaknya selalu memberikan arahan yang baik,
memberikan ilmu keagamaan, dan selalu mengawasi tingkah laku anak agar bisa
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Taufik. 1986. Durkheim Dan Pengantar Sosiologi Moralitas. Jakarta :
Yayasan Obor Indonesia.
Ahnaf, M. I., & Salim, H. (2017). Krisis keistimewaan: Kekerasan terhadap
minorita s di Yogya ka rta . Yogya ka rta: Penerbit CRCS (Center for Religious
and Cross Cultural Studies).
Feist, J., & Feist, G. J. (2008). Theoriest of Personality. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Irawan, Ikrob, Didik. (2016). “Tukang Klitih Sikat, Bae Pak Kesuwen”. Tribun Jogja, 10 September 2016.
Kartono, K. (2014). Patologi Sosial Kenakalan Remaja . Jakarta: Raja Grafino
Persada.
Marliani, Rosleny. 2016. Psikologi Perkembangan Anak & Rema ja . Bandung:
PUSTAKA SETIA.
Nasiwan., & Wahyuni, Y. S. 2016. Seri Teori – Teori Sosia l Indonesia. Yogyakarta:
UNY Press.
NET YOGYA (11 April 2017). Polisi Bekuk Geng Klitih Perusak Warung Makan.
Retrieved from https://www.youtube.com/watch?v=BJR93oiOZfU
Nurihsan, Juntika & Mubiar Agustin. 2013. Dinamika Perkembangan Anak dan
Rema ja : Tinja ua n Psikologi, Pendidika n, da n Bimbinga n. Bandung: PT Refika
Aditama.
Seksi Statistik Ketahanan Nasional & Bidang Statistik Sosial (2015). Statistik Politik
dan Ketahanan Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta 2014. Yogyakarta: BPS
Soemardjan, S. 1976. Peranan Cendekiawan dalam Pembangunan Nasional. Prisma
11, V.
Sudarsono. 2004. Kenakalan Remaja (Prevensi, Rehabilitasi, dan Resosialisasi).
Jakarta: Rineka Cipta.
Yusuf, Syamsu. 2006. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja . Bandung: PT