• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori dan Praktik Peksos dengan keluarga

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Teori dan Praktik Peksos dengan keluarga"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

(2)

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana peran dan fungsi keluarga terhadap anak penyandang disabilitas ? 2. Apa saja permasalahan penyandang disabilitas dalam keluarga ?

3. Bagaimana hubungan pekerjaan sosial dengan keluarga disabilitas ? C. Tujuan Masalah

1. Untuk mengetahui bagaimana peran dan fungsi keluarga terhadap anak penyandang disabilitas.

2. Untuk mengetahui apa saja permasalahan penyandang disabilitas dalam keluarga. 3. Untuk mengetahui bagaimana hubungan pekerjaan sosial dengan keluarga

disabilitas.

BAB II

TEORI DAN PEMBAHASAN

A. Tinjauan Tentang Disabilitas 1. Pengertian

(3)

partisipasi merupakan masalah yang dialami oleh individu dalam keterlibatan dalam situasi kehidupan. Jadi disabilitas adalah sebuah fenomena kompleks, yang mencerminkan interaksi antara ciri dari tubuh seseorang dan ciri dari masyarakat tempat dia tinggal

Michael Oliver (1996) membagi konsep Disabilitas ke dalam tiga level yaitu:

a. Level Ontology dengan lebih menekankan pengertian secara Grand Theory dengan memandang Disabilitas sebagai sesuatu hal yang alami. Dalam konteks level ini memandang Disabilitas sebagai suatu tragedi terhadap seseorang (personal tragedy) dan memandang seseorang penyandang Disabilitas merupakan suatu musibah terhadap dirinya seperti kecelakaan, takdir, ketidak beruntungan yang menyebabkan seseorang mengalami Disabilitas. Hal ini lebih menggambarkan suatu Disabilitas sebagai suatu faktor nasib dan takdir yang diberikan Tuhan kepada seorang penyandang Disabilitas.

b. Epistemology dengan menjelaskan Disabilitas dengan agak spesifik yang lebih mengungkap pengertian secara Middle Range Theory yang telah dapat menggambarkan tentang bagaimana suatu Disabilitas dapat terjadi dengan penekanan pada faktor penyebab.

c. Eksperience dengan memandang Disabilitas lebih mendalam kepada bagaimana apabila menjadi seseorang penyandang Disabilitas. Dalam konteks ini diperlukan pemahaman tentang suatu Methodologi yang tepat. Pada level ini lebih menekankan pada pengembangan dan metodologi yang tepat untuk dapat memahami experience dari Disabilitas dari perspektif dari penyandang Disabilitas. (Campling 1981, Oliver et al 1988, Morris 1989).

(4)

Pengertian yang diberikan kamus bahasa indonesia tersebut, kata Disabilitas selalu diasosiakan dengan atribut-atribut yang negatif oleh karenanya istilah penyandang Disabilitas cenderung membentuk opini publik bahwa orang-orang dengan Disabilitas ini malang, patut dikasihani, tidak terhormat, tidak bermatabat. Istilah ini sangat bertentangan dengan penghormatan atas martabat “penyandang Disabilitas” dan melindungi dan menjamin kesamaan hak asasi mereka sebagai manusia.

Menurut Terjemahan Konvensi mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas (Convention on the Rights of Persons with Disabilities) yang telah disahkan dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011, penyandang disabilitas termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual, atau sensorik dalam jangka waktu lama di mana ketika berhadapan dengan berbagai hambatan, hal ini dapat menghalangi partisipasi penuh dan efektif mereka dalam masyarakat berdasarkan kesetaraan dengan yang lainnya (Pasal 1 Konvensi mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas).

1. Penyebab dishabilitas

Juliet C. Rothman (2003) mengelompokan Disabilitas berdasarkan kondisi penyebabnya sebagai berikut :

a. Impairment

Impairment yang terdiri dari ketidak seimbangan orthopedic, ketidakmampuan belajar dan reterdasi mental, ketidakmampuan penglihatan, ketidakmampuan pendengaran, kelumpuhan, Disabilitas fisik kehilangan bagian tubuh, ketidakseimbangan berbicara, dan yang lainnya.

b. Penyakit dan Gangguan (Penyebab)

(5)

Buku Pedoman Pelayan dan Rehabilitasi Anak Disabilitas Dirjen Yanrehsos Departemen Sosial RI (2007:11) menyebutkan penyebab Disabilitas yaitu :

a. Disabilitas bawaan

Disabilitas ini biasanya terjadi ketika anak masih dalam kandungan yang disebabkan ibu mengalami gangguan penyakit atau metabolisme, kelainan kromosomal, gangguan genetic, kekurangan gizi atau sebab lain yang tidak diketahui yang mempengaruhi tumbuh kembang janin.

b. Disabilitas setelah lahir

Disabilitas ini biasanya terjadi pada saat proses kelahiran bayi yang disebabkan oleh kesalahan penanganan pada waktu persalinan. Selain itu anak bisa terinfeksi suatu penyakit, bakteri, virus, kekurangan gizi atau mengalami kecelakaan yang menyebabkan Disabilitas.

Michael Oliver (1996), menyatakan bahwa penyandang Disabilitas akan terus mengalami perkembangan dari masa ke masa. Kemajuan teknologi dan perkembangan zaman termasuk memberikan kontribusi terhadap meningkatnya jumlah penyandang Disabilitas. Perkembangannya akan berjalan seiring dengan perkembangan kemajuan teknologi seperti penciptaan beragam kendaraan dan bermacam-macam perubahan pola makan seperti fast food dan bentuk lain. Industrialisasi telah ikut memiliki andil terhadap semakin tumbuhnya orang-orang dengan disabilitas.

2. Kategori Disabilitas

Menurut Rollands dalam Juliet C. Rothman (2003) terdapat 3 (tiga) katagori penyandang Disabilitas yang menunjukkan identitas penyandang Disabilitas: a. Progresif Disabilities (penyandang Disabilitas kondisi Disabilitasnya terus

berkembang). Kelompok yang termasuk kedalam katagori ini adalah para penderita penyakit seperti penderita Alzheimer dan diabetes. Orang-orang yang termasuk kedalam katagori ini pada suatu waktu akan mengalami kondisi Disabilitas karena akan terus mengalami penurunan fungsi organ tubuh meskipun secara bertahap.

(6)

saat hidupnya akan mengakibatkan trauma dan memerlukan pendampingan untuk membantu penyandang Disabilitas tersebut dalam menghadapi perubahan hidupnya.

c. Relaping or Episodic Disabilitas. Katagori ini merupakan Disabilitas yang timbul secara tiba-tiba sdan sulit diprediksi. Disabilitas ini sekilas tidak terlihat terhadap penyandangnya , namun bisa muncul secara tiba-tiba seperti penderita epilepsi, dan penyakit lupus.

Kategori tentang Disabilitas ini dapat membantu pekerja sosial dalam memahami masalah dari klien, dan masalah yang berhubungan dengan kondisi penyandang Disabilitas. Hal ini juga diperlukan untuk diketahui dari penyandang Disabilitas adalah mengenai ras, etnik, gender, dan orientasi seksual yang dapat dijadikan sebagai pedoman kerangka kerja untuk menyediakan pelayanan. Pengelompokkan katagori tersebut dapat digunakan oleh pekerja soaial untuk memudahkan dalam menyusun kerangka kerja dalam memberikam pelayanan maupun untuk memudahkan menjangkau sistem pelayanan yang sesuai bagi penyandang Disabilitas

International clasification of fuctioning disbility and health (world health organizatio 2001:19, international of functioning disability and haelth ICF), Menjelaskan adanya hubungana antara gangguan fungtioning dengan disability. Keterbatasan yang dimiliki seseorang dapat dapat dikurangi dengan melakukan pendekatan kesehatan bagi diri penyandang Disabilitas. Kemampuan seorang individu dalam arti keberfungsian fisik seseorang memiliki hunbungan antara kondisi kesehatan dengan lingkungan dan faktor individu itu sendiri. Berikut ini kategori Disabilitas terlihat dalam uraian sebagai berikut :

a. Individu yang mengalami infairment tanpa memiliki keterbatasa kemampuan. Contohnya seseorang penderita kusta yang masih mampu beaktivitas.

b. Individu yang mengalami masalah penampilan dan memiliki kemampuan yang terbatas tanpa mengalami suatu inpairment. Contohnya seperti orang yang mengalami kondisi sakit, kondisi penampilannya tidak terlihat mengalami suatu inpairment.

(7)

dapat beraktifitas normal dan tidak mengalami keterbatasan meskipun sebenarnya ada penyakit di dalam tubuhnya.

d. Seseorang yang memiliki keterbatasan kemampuan tetapi tidak bermasalah untuk tampildalam lingkungan karena dukungan teknologi sebagai upaya mengatasi keterbatasan yang dimilikinya.

e. Individu dengan pengalaman yang tidak baik yang mempengaruhi penerimaan terhadap dirinya sendiri seperti seseorang dengan Disabilitas fisik akan dianggap sebagai seseorang yang tidak memiliki keterampilan secara sosial. 3. Jenis Disabilitas

Berdasarkan pada Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, maka jenis-jenis atau macam-macam kecacatan atau difabel dapat dikategorikan antara lain :

a. Cacat fisik

Yaitu kecacatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi tubuh, antara lain gerak tubuh, penglihatan, pendengaran, dan kemampuan berbicara. Yang termasuk dalam criteria ini adalah: cacat kaki, cacat punggung, cacat tangan, cacat jari, cacat leher, cacat netra, cacat rungu, cacat wicara, cacat raba (rasa), cacat pembawaan. Cacat tubuh memiliki banyak istilah, salah satunya adalah tuna daksa. Istilah ini berasal dari kata tuna yang berarati rugi atau kurang, sedangkan daksa berarti tubuh. Jadi tuna daksa ditujukan bagi mereka yang memiliki anggota tubuh tidak sempurna. Cacat tubuh dapat digolongkan sebagai berikut:

- Menurut sebab cacat adalah cacat sejak lahir, disebabkan oleh penyakit, disebabkan kecelakaan, dan disebabkan oleh perang.

- Menurut jenis cacatnya adalah putus (amputasi) tungkai dan lengan; cacat tulang, sendi, dan otot pada tungkai dan lengan; cacat tulang punggung; celebral palsy; cacat lain yang termasuk pada cacat tubuh orthopedi; paraplegia.

b. Cacat mental

Yaitu kelainan mental dan atau tingkah laku, baik cacat bawaan maupun akibat dari penyakit, antara lain: retardasi mental, gangguan psikiatrik fungsional, alkoholisme, gangguan mental organik dan epilepsi.

c. Cacat Ganda atau Cacat Fisik dan Mental

(8)

Lembaga Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak (SAPDA) melalui “Buku Saku Kekerasan pada Perempuan dengan Disabilitas” memberikan penjelasan mengenai jenis penyandang disabilitas dalam empat kelompok, sebagai berikut : a. Disabilitas Rungu-Wicara

Disabilitas wicara atau gangguan bicara adalah suatu gangguan dimana seseorang mengalami kesulitan bicara, bisa disebabkan adanya kelainan bentuk atau tidak berfungsinya alat-alat bicara, kurang atau tidak berfungsinya indera pendengaran, keterlambatan perkembangan bahasa, kerusakan pada sistem syaraf dan struktur otot dan ketidakmampuan dalam mengontrol gerak. Secara umum orang dengan gangguan pendengaran atau penyandang disabilitas rungu dan wicara sering menggunakan isyarat dalam hambatan berkomunikasi, kurang tanggap bila diajak bicara, kata-kata yang diucapkan tidak jelas. Sering juga mereka menutup diri dari disabilitas yang lain atau non disabilitas karena mereka sering tidak bisa memahami komunikasi dengan disabilitas rungu-wicara.

b. Disabilitas Netra

Gangguan penglihatan (disabilitas netra) adalah kondisi seseorang yang mengalami gangguan atau hambatan dalam indra penglihatannya, dimana jenis disabilitas netra antara lain:

a) Low Vision

Seseorang dikatakan low vision apabila memiliki kelainan fungsi penglihatan dengan jarak pandang maksimal 6 meter dan luas pandangan 20 derajat. Beberapa ciri yang tampak pada low vision, antara lain:

- Menulis dan membaca dengan jarak yang sangat dekat - Hanya dapat membaca huruf yang berukuran besar.

- Mata tampak lain, terlihat putih di tengah mata atau kornea (bagian bening di depan mata) terlihat berkabut.

- Memicingkan mata atau mengerutkan kening terutama di cahaya terang dan saat mencoba melihat sesuatu. Lebih sulit melihat pada malam hari daripada siang hari

- Pernah mengalami operasi mata dan atau memakai kacamata yang sangat tebal tetapi masih tidak dapat melihat dengan jelas.

b) Total blind

Total blind adalah keadaan dimana seseorang sama sekali tidak dapat melihat atau mengalami kebutaan total.

(9)

Disabilitas fisik dapat dilihat dalam beberapa jenis gangguan dan mobilitas yang dialami, antara lain :

a) Gangguan pada anggota tubuh seperti kaki, tangan dll

Gangguan ini terjadi akibat terbatasnya kemampuan anggota tubuh untuk melakukan gerak dan perpindahan sehingga memerlukan alat bantu untuk melakukan aktivitas.

b) Gangguan fungsi tubuh akibat spinal bifida

Spinal bifida adalah suatu keadaan yang dialami oleh seorang yang berupa kelainan tulang belakang, yaitu adanya celah pada tulang belakang yang disebabkan oleh adanya ruas-ruas tulang belakang yang gagal menyatu dari awal proses kehamilan. Gangguan ini mengakibatkan tungkai kaki pengkor, kelumpuhan kaki, tidak dapat mengontrol buang air kecil dan besar, serta gangguan tumbuh kembang lainya.

c) Gangguan fungsi tubuh akibat spinal cord injury (SCI)

SCI merupakan suatu kondisi yang dihasilkan dari adanya kerusakan atau trauma pada jaringan tulang belakang. Ini bisa disebabkan oleh peristiwa kecelakaan. Jenis SCI dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

 Gangguan fungsi tubuh akibat paraphlegia

Gangguan fungsi tubuh akibat paraphlegia ini adalah gangguan fungsi tubuh akibat kelumpuhan pada tungkai kaki.

 Gangguan fungsi tubuh akibat hemiplegia

Gangguan fungsi tubuh akibat hemiplegia ini adalah gangguan fungsi tubuh yang diakibatkan oleh kelumpuhan pada bagian atas dan bawah tubuh pada sisi yang sama

 Gangguan fungsi tubuh akibat amputasi

Gangguan fungsi tubuh akibat amputasi adalah gangguan fungsi tubuh yang kehilangan sebagian anggota gerak baik tangan ataupun kaki, baik sebagian ataupun seluruhnya.

 Gangguan fungsi tubuh akibat polio

Poliomielitis atau polio adalah penyakit paralisis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus Poliobirus (PB) yang masuk ke tubuh melalui mulut dan menginfeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran dan mengalir ke sistem syaraf pusat sehingga dapat menyebabkan melemahnya otot bahkan dapat menyebabkan kelumpuhan.

d. Disabilitas Grahita

(10)

intelektual. Diambil dari kata Children with developmental impairment, kata impairment diartikan sebagai penurunan kemampuan atau berkurangnya kemampuan dalam segi kekuatan, nilai, kualitas, dan kuantitas. Faktor penyebab grahita, antara lain :

 Genetik atau keturunan

 Sebab-sebab pada masa prenatal (masa kehamilan)  Sebab-sebab pada masa natal (proses melahirkan),  Sebab-sebab pada post natal (pasca melahirkan),  Faktor sosiokultural (lingkungan).

4. Dampak Disabilitas

Disabilitas tentunya menimbulkan dampak terhadap fisik, pendidikan, vokasional maupun ekonomi. Selain itu dampak yang juga ditimbulkan akibat dari Disabilitas adalah timbulnya masalah psikososial seperti seseorang penyandang Disabilitas akan memiliki kecenderungan untuk menjadi rendah diri atau sebaliknya menghargai diri terlalu berlebihan, mudah tersinggung, terkadang agresif, pesimis, labil sulit mengambil keputusan, menarik diri dari lingkungan, kecemasan, ketidakmampuan dalam berhubungan dengan orang lain dan ketidakmampuan mengambil peranan sosial.

Disabilitas memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan seseorang. Menurut Kubler-Ross (1969) mengemukakan model griefing dengan lima tahapan dalam griefing, reaksi ini mungkin terjadi secara berurutan dan suatu waktu dapat timbul secara bersamaan. (Zastrow, 2004) sebagai berikut :

 Denial atau penyangkalan  Anger atau marah

 Bergaining atau adanya pertimbangan dalam dirinya  Mood depresi atau sedih

 Acceptance penerimaan dengan mengatasi masalah

Selain itu masih terdapat sikap dan tanggapan masyarakat yang kurang menguntungkan secara luas yang tergambar seperti :

 Masih adanya sikap ragu ragu terhadap kemampuan atau potensi penyandang Disabilitas.

 Masih adanya sikap masa bodoh sementara lapisan masyarakat terhadap permasalahan penyandang Disabilitas.

(11)

 Masih lemahnya sementara organisasi sosial yang bergerak di bidang Disabilitas di dalam melaksanakan operasinya atau kegiatan.

 Belum atau masih terbatasnya fasilitas umum yang dapat dipergunakan oleh penyandang Disabilitas.

Hambatan - hambatan yang dialami oleh penyandang Disabilitas dalam kehidupan sehari-hari yaitu :

 Hambatan dalam proses belajar seperti membaca, belajar menulis dan berhitung.

 Hambatan dalam penerapan pengetahuan seperti memfokuskan perhatian, berpikir, membaca, menyelesaikan masalah dan membuat keputusan.

 Hambatan dalam melaksanakan kebutuhan dan tugas umum seperti melakukan tugas tunggal dan tugas ganda, melakukan kegiatan harian, mengatasi stress dan tuntutan psikologik lainnya.

 Hambatan dalam komunikasi seperti komunikasi verbal dan non verbal, menerima pesan tertulis, berbicara, menyampaikan pesan non verbal maupun bahasa isyarat dan pesan tertulis.

 Hambatan dalam mobilitas. Seperti pada saat Merubah dan mempertahankan posisi tubuh, berpindah tempat, Mengangkat dan memindahkan barang, Berjalan dan berpindah tempat, Bergerak dan menggunakan alat transportasi, seperti transportasi umum dll, menyetir mobil.

 Hambatan dalam perawatan diri seperti mandi perawatan tubuh, berpakaian, buang air, makan, minum dan memelihara kesehatan diri.

 Hambatan dalam melakukan tugas-tugas rumah tangga, seperti menyiapkan makanan, mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

 Hambatan dalam kehidupan komunitas atau kemasyarakatan, sosial dan bernegara seperti kehidupan bermasyarakat, kebutuhan rekreasi dan istirahat, kebutuhan beragama dan spiritual, hak asasi manusia, kehidupan politik dan bewarganegara.

5. Hak penyandang Disabilitas

(12)

Hak-hak terhadap perlindungan dan keuntungan yang sama dari hukum harus diberikan kepada semua penyandang Disabilitas tanpa pengecualian apa pun dan tanpa pembedaan atau diskriminasi berdasarkan ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pendapat politik atau pendapat lainnya, asal usul nasional atau social, kekayaan, kelahiran atau situasi lain dari penyandang Disabilitas itu sendiri atau pun keluarganya.

b. Anak-Anak Penyandang Disabilitas. Negara menjamin segala tindakan berkaitan dengan anak-anak penyandang Disabilitas, kepentingan terbaik harus menjadi bahan pertimbang utama.

c. Aksesibilitas. Dalam rangka memampukan orang-orang penyandang Disabilitas untuk hidup secara mandiri dan berpartisipasi penuh dalam segala aspek kehidupan, Negara harus melakukan langkah-langkah aksesibilitas dalam berbagai aspek seperti informasi, fasilitas di dalam dan di luar bangunan ddan menjamin pelayanan yang terbuka atau yang disediakan bagi publik mempertimbangkan semua aspek dalam hal aksesibilitas yang dihadapi penyandang Disabilitas.

d. Hidup mandiri dan keterlibatan di dalam masyarakat Penyandang Disabilitas berhak atas tempat tinggal dan pilihan dengan siapa mereka tinggal. Penyandang Disabilitas berhak atas jaminan ekonomi dan sosial atas tingkat kehidupan yang layak. Mereka berhak, tergantung pada kemampuan mereka, untuk mendapatkan dan memperoleh pekerjaan atau terlibat dalam pekerjaan yang berguna, produktif, dan menghasilkan penghasilan, serta untuk bergabung dengan serikat pekerja.

e. Pendidikan. Negara menjamin suatu sistem pendidikan inklusi di semua tingkatan dan pembelajaran jangka panjang untuk pengembangan personalitas bakat dan kreatifitas serta kemampuan mental dan fisik orang penyandang Disabilitas sejauh potensi mereka memungkinkan.

(13)

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hak – hak penyandang Disabilitas, meliputi persamaan harkat dan martabat atas dasar kemanusiaan, kesamaan dalam hak sipil dan politik, hak atas kemandirian (independent living), memperoleh pelayanan (pendidikan, kesehatan, social, rehabilitasi dan lain-lain), jaminan ekonomi dan sosial, Hak memperoleh kebutuhan khusus, partisipasi perlindungan sosial, bantuan hokum, organisasi dan informasi yang berkenaan dengan isu-isu hak penyandang Disabilitas.

6. Pelayanan sosial terhadap penyandang Disabilitas

Terdapat 3 konsep dasar upaya pelayanan terhadap penyandang Disabilitas: a. Pencegahan adalah suatu tindakan yang ditunjukan untuk mencegah terjadinya

Disabilitas (impairment) fisik, intelektual, psikiatrik atau indera (pencegahan primer) atau mencegah agar Disabilitas tersebut tiding mengakibatkan keterbatasan kemampuan yang permanen atau disability (pencegahan sekunder). Pencegahan dapat meliputi berbagai macam tindakan, seperti perawatan kesehatan primer, perawatan anak pada masa prenatal dan postnatal, pendidikan gizi, kampanye imunisasi terhadap penyakit-penyakit menular, berbagai penanggulangan untuk penyakit-penyakit endemik, peraturan keselamatan. Program pencegahan kecelakaan dalam berbagai macam lingkungan yang mencakup penyesuaian tempat kerja untuk mencegah terjadinya keterbatasan kemampuan kerja serta penyakit dan pencegahan Disabilitas akibat polusi lingkungan atau perang

b. Rehabilitasi

(14)

umum hingga kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada tujuan tertentu, seperti rehabilitasi kekaryaan.

c. Persamaan Kesempatan

Persamaan kesempatan adalah proses yang menyebabkan berbagai system yang terdapat di masyarakat dan lingkungan, seperti system pelayanan, kegiatan social, informasi dan dokumentasi, dapat dinikmati oleh semua orang, khususnya para penyandang Disabilitas. Prinsip persamaan hak mengandung arti bahwa kebutuhan-kebutuhan setiap individu itu sama pentingnya, bahwa kebutuhan-kebutuhan tersebut harus dijadikan sebagai dasar perencanaan masyarakat dan bahwa semua sumber harus dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga menjamin agar setiap individu memperoleh kesempatan yang sama untuk berpartisipasi.

Para penyandang Disabilitas adalah anggota masyarakat dan mempunyai hak untuk berada di dalam lingkungan masyarakatnya. Mereka seyogyanya mendapat dukungan yang mereka butuhkan melalui system pendidikan, kesehatan, penyediaan lapangan kerja dan pelayanan sosial yang berlaku umum. Karena penyandang Disabilitas memiliki hak-hak yang sama, mereka pun harus mempunyai kewajiban yang sama pula. Agar hak-hak tersebut dapat diperoleh, masyarakat harus meningkatkan harapannya tentang hal-hal yang dapat dicapai oleh para penyandang Disabilitas. Sebagai bagian dari proses persamaan kesempatan, sarana dan prasarana seyogyanya disediakan untuk membantu para penyandang Disabilitas agar mereka dapat mengemban tanggung jawabnya secara penuh sebagai anggota masyarakat. Mencermati permasalahan yang muncul terhadap penyandang Disabilitas yang kuantitas terus meningkat diperlukan penanganan atas permasalahan yang timbul sebagai akibat dari Disabilitas yang dialami sehingga penyandang Disabilitas dapat menjalankan peran dan fungsi sosialnya sesuai dengan derajat dan jenis Disabilitas yang dialaminya untuk dapat hidup lebih baik.

(15)

Pelaksanaan model individual dan model sosial yang dipakai dalam menangani permasalahan penyandang Disabilitas memelukan kondisi tertentu. Model sosial dan model individual, dalam implementasi kebijakan tidak dapat berdiri sendiri-sendiri sehingga permasalahan penyadang Disabilitas haruslah dilihat sebagai sesuatu yang universal dan menyeluruh. Universal dan menyeluruh dalam pengartian bahwa Disabilitas merupakan kondisi yang wajar dalam setiap masyarakat, yang seharusnya juga memandang bahwa kebutuhan penyandang Disabilitas adalah sama seperti warga Negara lainnya dengan mengintegrasikan penyandang Disabilitas dalam semua kebijakan yang menyangkut segala aspek hidup dan penghidupan. Dua model pelayanan bagi penyandang Disabilitas : a) Model individual

Model yang dipergunakan dalam kebijakan masalah penyandang Disabilitas sangat ditentukan oleh bagaimana permasalahan tersebut dikonseptualisasikan.Terdapat dua hal yang harus dipahami dalam konteks model individual yaitu keadaan Disabilitas seseorang sebagai individu dan bagaimana masalah akan timbul akibat dari keterbatasan yang dimiliki seseorang penyandang Disabilitas tersebut sebagai individu. Disabilitas dipahami sebagai ketidakmampuan seseorang dalam melakukan aktivitas yang dianggap normal/ layak akibat impairment yang dialaminya. Model individual tersebut memandang suatu Disabilitas sebagai personal tragedy atau ketidak beruntungan seseorang. (Michael Oliver 1996).

b) Model sosial

Model individu model medis adalah model kebijakan penanganan masalah penyandang Disabilitas yang dapat digunakan dalam memberikan pelayanan terhadap penyandang Disabilitas. Namun juga terdapat faktor-faktor di luar individu, seperti lingkungan fisik dan non fisik juga turut menyebabkan seseorang menjadi penyandang Disabilitas. Kondisi inilah yang mendasari timbulnya model sosial. sosial model tidak memandang seseorang berdasarkan kondisi Disabilitasnya melainkan lebih kepada upaya menghadapi tekanan sosial yang diberikan masyarakat kepada penyandang Disabilitas termasuk pelayanan yang diberikan kepada penyandang Disabilitas.

(16)

Keluarga adalah unit terkecil masyarakat yang terdiri dari Ayah, Ibu dan keluarga yang merupakan tempat yang penting, dimana anak memperoleh dasar dalam membentuk kemampuannya agar kelak menjadi orang berhasil di masyarakat. Keluarga sebagai landasan Utama dan pertama bagi anak yang memberikan berbagai macam bentuk dasar sebagai berikut :

a. Di dalam keluarga yang teratur dengan baik dan sejahtera seorang anak termasuk anak penyandang disabilitas akan memperoleh latihan-latihan dalam mengembangkan sikap social yang baik dan kebiasaan berprilaku misalnya ; anak melakukan tugas-tugas tertentu dan mengikuti tatacara keluarganya, belajar disiplin diri dan disiplin waktu agar kelak kebiasaan disiplin sudah terbentuk dan memudahkan anak dalam pergaulan dan hubungannya dengan teman-teman, serta mendukung kelancaran perkembangan daya pikir (kognitif) dan prestasi disekolah.

b. Didalam keluarga dan hubungan-hubungan antar anggota keluarga membentuk pola penyesuaian sebagai dasar bagi hubungan social dan interaksi social yang lebih luas. Anak akan belajar dari latihan-latihan dasar untuk mengembangkan sikap social yang baik, kebiasaan-kebiasaan bertingkah laku yang memudahkan terbentuknya perilaku positif. Dengan demikian melalui keluarga maka kebutuhan fisik, intelektual, social, emosional dan kebutuhan moral anak termasuk anak dengan kecacatan dapat terpenuhi dengan baik oleh keluarganya serta lingkungannya.

1. Peran Keluarga terhadap Anak penyandang Disabilitas :

 Sebagai Pendidik, Keluarga adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya termasuk anak penyandang Disabilitas.

 Sebagai Pelindung, Keluarga melindungi anak dari perlakuan dan situasi yang dapat mengancam keselamatan maupun menimbulkan penderitaannya.  Sebagai pemotivasi (motivator) Anak yang mempunyai masalah, memerlukan dorongan dan dukungan dari keluarga. Oleh karenanya, keluarga harus mampu memeberikan motivasi, agar anak memiliki semangat yang baik untuk berkembang dan menjadi lebih sejahtera.

(17)

 Sebagai tempat Curah Hati, Keluarga diharapkan menjadi tempat yang nyaman bagi anak termasuk anak dengan kecacatan dalam mencurahkan perasaan hatinya atau mengatasi masalahnya tersebut.

2. Fungsi keluarga terhadap Anak penyandang Disabilitas

 Fungsi Afeksi, Meliputi kegiatan untuk menumbuh kembangkan hubungan social dan kejiwaan kepada seluruh anggota keluarga termasuk anak dengan disabilitas yang diwarnai kasih sayang, ketentraman dan kedekatan.

 Fungsi Perlindungan, Menjaga dan menghindarkan anggota keluarga termasuk anak dengan disabilitas dari situasi atau tindakan yang dapat membahayakan atau menghambat kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan secara wajar.

 Fungsi pendidikan, Untuk meningkatkan kemampuan maupun sikap dan perilaku anggota keluarga termasuk anak dengan disabilitas guna mendukung proses penciptaan kehidupan dan penghidupan keluarga yang sejahtera.

 Fungsi keagamaan, Kegiatan keluarga yang ditujukan untuk meningkatkan hubungan anggota keluarga termasuk anak penyandang disabilitas dengan Tuhan Yang maha Esa, sehingga keluarga dapat menjadi wahana persemaian nilai-nilai keagamaan guna membangun jiwa anggota keluarga yang beriman dan bertaqwa.

B. Permasalahan penyandang Disabilitas dalam keluarga

Ketika orang tua dan atau pihak keluarga menangkap adanya suatu gejala dan kondisi anak dengan kecacatan yang dinilai tidak sesuai dengan harapan dan tuntunan tugas perkembangan atau tidak sesuai dengan prilaku anak seusianya, maka sikap awal yang biasanya berkembang pada orang tua dan keluarga adalah marah, bingung, kecewa dan merasa bersalah sehingga sering muncul penolakan dan reaksi-reaksi lain seperti berikut ini :

(18)

 Stigma Keluarga, keluarga sering mengalami kesulitan bicara dengan orang lain tentang anaknya, karena kecacatan sering dikaitkan dengan AIB keluarga. Kecacatan juga kerapkali dikaitkan dengan perasaan berdosa, rasa tidak layak,kekecewaan dan kemarahan. Kurangnya pengetahuan keluarga terhadap kecacatan juga menambah kebingungan dan perasaan tidak berdaya.

 Gangguan komunikasi dengan keluarga, Keberadaan anak penyandang Disabilitas dapat menimbulkan beban mental bagi keluarga. Hal ini dapat menimbulkan gangguan komunikasi dalam keluarga, seperti : Cepat saling menyalahkan, Sulit mendengar, Penyimpangan makna, irrasional dsb nya.

C. Pekerjaan sosial dengan keluarga Disabilitas

Profesi pekerjaan sosial sangat berhubungan erat dengan para penyandang disabilitas, dimana penyandang disabilitas adalah individu yang memiliki keterbatasan untuk menjalankan peran dan fungsi sosialnya secara normal dan wajar. Untuk memperjelas hubungan antara pekerjaaan sosial dengan penyandang disabilitas, maka di bawah ini akan dijelaskan beberapa definisi mengenai pengertian pekerjaan sosial, masalah sosial, dan kesejahteraan sosial. Pekerjaan Sosial didefinisikan sebagai metode yang bersifat sosial dan institusional untuk membantu seseorang mencegah dan memecahkan masalah-masalah sosial yang mereka hadapi, untuk memulihkan dan meningkatkan kemampuan menjalankan fungsi sosial mereka. Kemudian, Masalah Sosial merupakan sebuah perbedaan terhadap harapan dan kenyataan atau juga sebagai suatu kesenjangan diantara situasi yang ada dengan situasi yang seharusnya. Adanya masalah sosial di pandang oleh sejumlah orang dalam masyarakat merupakan kondisi yang tidak diharapkan. Sedangkan kesejahteraan sosial adalah kegiatan-kegiatan yang terorganisasi yang betujuan untuk membantu individu atau masyarakat guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dan meningkatkan kesejahteraan selaras dengan kepentingan keluarga dan masyarakat (Suharto, 2005).

(19)

kesejahteraan sosial para penyandang disabilitas agar hidup dengan rasa nyaman, aman, dan tentram serta memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Dilihat dari pemahaman pekerjaan sosial, masalah sosial, dan kesejahteraan sosial di atas, maka fungsi-fungsi utama pekerjaan sosial terhadap penyandang disabilitas antara lain:

1. Membantu penyandang disabilitas untuk meningkatkan dan menggunakan kemampuannya secara efektif untuk melaksanakan tugas-tugas kehidupan dan memecahkan masalah-masalah sosial penyandang disabilitas.

2. Mengkaitkan penyandang disabilitas dengan sistem-sistem sumber.

3. Memberikan fasilitas pada penyandang disabilitas untuk berinteraksi dengan sistem-sistem sumber

4. Mempengaruhi kebijakan sosial penyandang disabilitas. 5. Memberikan pelayanan sebagai pelaksana kontrol sosial.

a. Tujuan pelayanan

Adapun tujuan praktik pekerjaan sosial pelayanan terhadap disabilitas yaitu ;  Tujuan umum, yaitu terbina nya penyandang disabilitas sehingga mampu

melaksanakan fungsi sosialnya, memiliki kepercayaan diri, memiliki keterampilan dan mampu hidup mandiri dalam tatanan kehidupan lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, dan lingkungan sosial masyarakat.

 Tujuan khusus, yaitu memulihkan kondisi fisik, psikis dan sosialnya agar mampu melaksanakan fungsi sosialnya di lingkungan keluarga dan masyarakat.

 Mengembalikan kemampuan biopsikososialnya untuk mampu melaksanakan tugas-tugas kehidupanya.

 Mengembangkan kapasitas dirinya guna mendukung pelaksanaan aktivitas sehari-hari dilingkungan keluarga dan masyarakat

 Mewujudkan situasi kehidupan dan lingkungan sosial yang mendukng keberfungsian sosial bagi penyandang disabilitas.

 Mencegah terjadinya diskriminasi dan perlakuan sterotipe bagi penyandang disabilitas.

 Menumbuhkan kesadaran keluarga agar mau menerima anggota keluarga nya yang mengalami kecacatan dan menjadikan nya prioritas dalam memenuhi kebutuhanya.

b. Pendekatan pelayanan

(20)

dan terpai psikososial untuk pembentukan dan penyembuhan kembali kondisi fisik, mental, sosial dalam rangka mengembalikan keberfungsian sosialnya.

 Pendekatan pemberdayaan sosial, untuk meningkatkan kapasitas penyandang disabilitas dalam memenuhi dan menjalankan tugas kehidupan sehingga mampu mempertahankan dan memenuhi kehidupanya.

 Pendekatan kelompok sosial, untuk meningkatkan solidaritas antar kelompok penyandang disabilitas guna menunjang keberhasilan rehabilitasi yang di terimanya.

 Pendekatan lingkungan sosial, penyandang disabilitas adalah kelompok sosial yang sering mendapat diskriminasi dan handicap dai keluarga, dan masyarakat sekitarnya sehingga pelayanan yang diberikan perlu melibatkan keluarga dan masyarakat dari mana penyadang disabilitasi berasal.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Disabilitas memang merupakan sebuah kecacatan yang di derita oleh seseorang baik mental,fisik, maupun mental dan fisik(ganda), namun pada hakekatnya tak seorang pun yang ingin menderita cacat pada dirinya. Berbeda orang normal pada umumnya mereka penderita disabilitas memiliki permasalahan secara psikologis maupun fisik, Penyebab terjadinya disabilitas berbeda, ada yang merupakan cacat dari lahir,cacat kecelakaan,akibat penyakit kronis dan banyak lagi hal tersebut membuat mereka rendah diri dan merasa tidak berguna di tengah kehidupan bermasyarakat,perasaan tersebut timbul karena pada dasarnya selama ini kepedulian masyarakat terhadap kaum disabilitas sangat kurang bahkan mereka di hina dan dikucilkan oleh orang lain.Hal tersebut tidak mungkin terus menerus di biarkan,di perlukan sikap dan pendekatan yang baik kepada penderita disabilitas agar merubah pola pikir mereka dan lebih memahami diri mereka bahwa diri mereka dapat bermanfaat untuk orang lain dan dapat melakukan aktivitas kehidupan layaknya manusia normal pada umumnya.

(21)

berpendapat, dan hak berpartisipasi. Akan tetapi masih banyak orangtua yang tidak menerima anak dengan disabilitas, orangtua menganggap anak mereka tidak dapat berbuat apa-apa, tidak sanggup, dan hanya bisa mengandalkan bantuan orang lain. Rasa malu dan kecewa pun dirasakan orangtua, karena mereka malu mempunyai anak yang tidak sempurnya. Dalam hal ini, perlu adanya informasi yang diberikan kepada orangtua, motivasi atau support dari lingkungan sekitar, dan pemberian pengertian mengenai anak dengan disabilitas. Dalam memberikan pengasuhan kepada anak dengan disabilitas, keluarga khususnya orangtua dapat mengimplementasikan fungsi keluarga berupa fungsi afeksi, keamanan dan penerimaan, identitas, kontrol, dan sosialisasi. Selain itu, parent support group dapat dipraktikan misalnya di sekolah khusus anak dengan disabilitas (SLB), perkumpulan penyandang disabilitas. Pekerja sosial dapat memfasilitasi konseling kepada orangtua dan memberikan edukasi mengenai pengasuhan kepada anak dengan disabilitas. Pekerja sosial juga memberikan pelayanan menggunakan pendekatan rehabilitasi sosial, pemberdayaan sosial, kelompok sosial dan lingkungan sosial guna mengembaliakn fungsi sosial penyandang disabilitas agar dapat melaksanakan tugas kehidupanya di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat karena Penyandang disabilitas juga ingin mencapai taraf kesejahteraan social yang baik, dimana mereka mampu untuk memenuhi kebutuhan mereka tanpa mengharapkan belas kasihan orang lain. Mereka menjadi tauladan bagi orang-orang yang normal dengan segala kekurangannya tapi mereka mampu menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan orang banyak. Meraka ingin menjadi motivator yang handal dimana mereka mampu untuk memberi semangat kepada orang lain agar tidak mudah untuk berputus asa dalam menjalani kehidupan yang pada dasarnya sangat sederhana ini.

B. Saran

 Perlunya mengembangkan program pendampingan psikososial bagi keluarga dengan anak disabilitas. Keluarga yang memiliki anak disabilitas terkadang mereka dihadapkan kepada persoalan sosial psikologis akibat kedisabilitasan anaknya. Khususnya pada keluargakeluarga miskin ibu bapa tidak memiliki akses terhadap pelayanan dan solusi masalah. Pekerja sosial ini bisa difungsikan untuk melakukan pendampingan psikososial, dengan melakukan beberapa aktivitas terhadap keluarga dan anak-anak disabilitas, yaitu :

a. Konseling keluarga maupun individual, untuk membantu anak dan keluarga menyelesaikan permasalahan sosial dan psikologis.

(22)

c. Peningkatan pengetahuan orang tua tentang masalah kedisabilitasan, hak dan keperluan khusus anak disabilitas, serta pentingnya dukungan ibu bapa terhadap perkembangan anak dengan kedisabilitasan

d. Membantu akses anak disabilitas kepada pendidikan, kesehatan mahupun bermain dan rekreasi, karena pelayanan publik di Indonesia belum responsif terhadap masyarakat dengan keperluan khusus, termasuk bagi anak dengan kedisabilitasan. e. Mengidentifikasi potensi, bakat dan minat anak dengan kedisabilitasan dan

membantu akses untuk pengembangan potensi, bakat dan minat anak tersebut. f. Membantu akses keluarga terhadap pelayanan-pelayanan yang dibutuhkan baik

oleh keluarga maupun dibutuhkan anak,

g. Perlu melibatkan partisipasi aktif dari kelompok sasaran. Pekerja sosial perlu mengajak kelompok sasaran untuk menemukan permasalahan dan yang mereka hadapi. Rencana aktivitas dan pelaksanaan aktivitas juga perlu melibatkan partisipasi aktif kelompok sasaran.

h. Asesmen juga perlu melibatkan anak. Berbagai program untuk anak biasanya berdasarkan pandangan orang dewasa, suara anak sama sekali tidak mendapatkan perhatian. Kondisi ini dapat menghasilkan program yang tidak menyentuh keperluan anak yang sesungguhnya. Perlunya memperhatikan suara anak juga selaras dengan konsep pelayanan sosial berbasi hak (right based services), bahwa program bukan saja sekedar merespon masalah anak namun dilakukan untuk memenuhi hak anak.

 Perlunya mengimplementasikan produk hukum yang terkait dengan perlindungan anak, yang juga menyentuh persoalan anak dengan disabilitas.

(23)

 Rekomendasi terhadap praktik pekerjaan sosial di masyarakat yang saat ini bisa dilakukan oleh pekerja sosial kementrian sosial :

1) Lakukan proses asesmen secara partisipatif melibatkan kelompok sasaran, terkait karakteristik kelompok sasaran, kebutuhan kelompok sasaran, sistem sumber di masyarakat.

2) Lakukan penyusunan rencana tindakan yang disepakati dengan kelompok sasaran

3) Gunakan kaedah case work, group work dan community organization untuk menjangkau permasalahan lingkup individual, kelompok dan masyarakat. 4) Pekerja sosial juga dapat menjalankan peran dan aktivititas untuk memudahkan

dalam penerapan model, dengan cara-cara :

a) Membangkitkan semangat, motivasi, menstimulasi, memberikan energi dan membangun komitmen kelompok sasaran.

b) Membangun kesadaran (consciousness raising) terhadap kondisi mereka dan keyakinan terhadap perubahan ke arah lebih baik terkait perkembangan anak-anak mereka yang menderita disabilitas fisik.

c) Mengorganisasikan kelompok sasaran dan sistem sumber yang dapat diajak terlibat dalam aktivitas.

(24)

DAFTAR PUSTAKA

http://fisip.unpad.ac.id/kuliah-umum-praktik-pekerjaan-sosial-dengan-populasi-disabilitas/ https://id.scribd.com/doc/255054468/Pekerja-Sosial-Dengan-Disabilitas

http://jurnal.stks.ac.id/index.php/peksos/article/view/39

http://www.balisruti.com/peran-dan-fungsi-keluarga-bagi-anak-dengan-kecacatan.html http://www.smeru.or.id/cpsp/Paper_rini-paper.pdf

jurnal “PEMENUHAN AKSESIBILITAS BAGI PENYANDANG DISABILITAS” oleh M. Syafi'ie1

Referensi

Dokumen terkait

Coba amati berbagai peristiwa yang terjadi sebagai perwujudan nilai-nilai Pancasila sesuai dengan perkembangan masyarakat di lingkungan sekitar kamu, seperti di

keluarga dengan kunjungan pelayanan antenatal pada masyarakat Samin .” ini adalah karya penelitian saya sendiri dan bebas dari plagiat, serta tidak terdapat

dikatakan bahwa desa/kelurahan siaga sebagai simpul dari kegiatan-kegiatan pelayanan kesehatan untuk masyarakat, seperti promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat,

Hingga saat ini hal yang menyebabkan perbedaan usia menarche pada berbagai etnis di dunia masih belum diketahui secara pasti, namun beberapa karakteristik seperti

Seperti halnya kewenangan DPR yang selalu lemah dalam menjalankan kewenangan pembuatan undang-undang, bahkan terdapat kecenderungan tidak mencerminkan bahwa

Coba amati berbagai peristiwa yang terjadi sebagai perwujudan nilai-nilai Pancasila sesuai dengan perkembangan masyarakat di lingkungan sekitar kamu, seperti di

Sebagai mana Ogawa Yoko yang menawarkan struktur keluarga interdependen, maka pada masyarakat Indonesia terdapat potensi untuk terbentuk pula masyarakat seperti yang

Sumber utama dukungan sosial yang potensial terdapat dalam keluarga, sebab dalam keluarga mempunyai fungsi-fungsi dukungan tertentu yang tidak dapat berubah, seperti dukungan