DIPLOMASI EKONOMI INDONESIA DALAM PASOKAN KEDELAI
a. Esensi Diplomasi Ekonomi sebagai Bagian dari Globalisasi Ekonomi
Diplomasi ekonomi Indonesia bagi Indonesia sangat penting, terutama dalam membangun karakteristik politik luar negeri Indonesia yang lebih kokoh di bidang ekonomi. Selama ini, Indonesia seringkali mengalami kerugian dalam praktik diplomasinya. Untuk itu pertama-tama, pemerintah harus mampu membaca kecenderungan-kecenderungan apa saja yang sedang terjadi dalam konstelasi ekonomi politik global. Saat ini arus barang, jasa, dan informasi mengalir secara lebih bebas dan lebih tidak terkontrol daripada sebelumnya.
Selain itu, krisis ekonomi global juga membuktikan betapa rapuhnya tatanan ekonomi dunia saat ini. Kapitalisme global memang akan selalu dibayangi oleh krisis dan resesi, seperti dikemukakan oleh Gilpin (2000). Krisis keuangan telah berulang dua kali dalam satu dekade belakangan, sekaligus membuka mata para pelaku ekonomi bahwa pasar mulai terbebani dengan tanggungan masalah yang makin berat dan berkepanjangan. Kapitalisme global ini melepaskan peran negara dalam domain yang sangat signifikan, sehingga kepemimpinan negara menjadi berkurang dalam pengawasan dan regulasi ekonomi nasional. Pasalnya, kondisi ekonomi dan pasar nasional merupakan market-led capitalism yang sulit untuk diputar balik atau pun dihentikan. Rezim ini pun menghasilkan bebagai lembaga keuangan internasional layaknya IMF, WTO, dan Bank Dunia.
Berbagai tren dalam rezim ekonomi internasional kontemporer adalah munculnya regionalisme. Selain untuk menghindari terbentuknya blok-blok politik baru, regionalisme ini diharapkan akan menjadi semacam mekanisme untuk melancarkan distribusi keejahteraan pada masyarakat umum. Namun negara pun kurang memiliki andil di dalamnya bagi perlindungan aspek-aspek ekonomi yang lemah di dalam negeri.
Kepemimpinan seperti inilah yang perlu dipacu pemerintah Indonesia dalam diplomasi ekonomi, sehingga negara tidak perlu menderita kerugian yang tidak perlu. Pemerintah negara berkembang seperti Indonesia harus mampu membendung pengaruh pasar dengan tidak mengorbankan aspek sektor riilnya. Paling tidak, pemerintah harus mampu melindungi pemain kecil di dalam negeri agar tidak tergerus arus kapitalisme, dan sekaligus mampu menjadi aktor non-negara yang berpengaruh dalam diplomasi ekonomi. Menurut Saner dan Yiu1 para aktor non-negara telah banyak mendapat tempat dalam
diplomasi ekonomi, khususnya business diplomacy dan commercial diplomacy. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa semakin berkembangnya sektor swasta di dalam negeri adalah bukti kekuatan ekonomi suatu negara, dan kontribusinya adalah bagi pertumbuhan ekonomi nasional serta sekaligus penopang sektor riil. Walaupun bertentangan dengan prinsip kapitalisme yang mengutamakan efisiensi, dalam jangka panjang ekonomi yang terkendali akan lebih tahan terhadap krisis.
Indonesia berpeluang besar untuk menghambat laju efek buruk krisis, karena sebagai negara berkembang seharusnya Indonesia memanfaatkan banyak pengecualian dalam perdagangan bebas tersebut untuk memperkuat ekonomi domestik. Dalam krisis keuangan global yang telah lalu, Indonesia relatif dapat bertahan dari efek ikutan krisis pasar finansial. Beruntung, pasar finansial Indonesia belum secanggih Eropa dan AS sehingga tidak terlalu berimbas pada ekonomi dalam negerinya. Menurut publikasi pemerintah antara kementerian Keuangan dengan kementerian Kominfo, Indonesia cepat bereaksi dalam krisis 2008 dengan menutup sementara transaksi saham dan melakukan pembelian kembali aset-aset negara di luar negeri. Dengan ini, Indonesia sebenarnya berpeluang untuk membentu kembali karakteristik diplomasi ekonomi yang lebih berkembang. Pasar kapitalistik meminimalisasi peran negara, untuk itu pasca krisis ini peran negara harus kembali dihidupkan melalui restorasi.
Konsep yang tepat mengenai kembalinya peran negara dalam mekanisme antisipatif terhadap krisis harus kembali dipikirkan ulang. Selama ini, negara hanya bertindak jika terjadi katastropi yang besar, dan membiarkan pasar menanggung beban ketidakseimbangan, yang sebenarnya tidak jelas kapan situasi menjadi normal kembali.
Aktor negara dihidupkan melalui koordinasi antar lembaga birokrasi, seperti misalnya kementerian Luar Negeri (Kemlu) dengan Kementerian lain, bahkan beberapa lembaga lain. Dalam kasus Indonesia, contoh koordinasi yang baik untuk pemenuhan kebutuhan commercial diplomacy dan business diplomacy adalah antara Kemlu, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bappepam), Kementerian yang berada di bawah Kemenko Kesra, serta Bank Indonesia (BI). Dengan kolaborasi tersebut, diharapkan kebijakan dalam sektor-sektor ekonomi makro dan mikro dapat disinergikan. Menurut Scholte2, pemerintah menjalankan
commercial diplomacy dalam upaya mendukung korporasi dalam negeri untuk mencari keberhasilan pembangunan nasional, yang juga menempatkan investasi sebagai elemen penting selain perdagangan. Di sini, para aktor diplomatnya haruslah mereka yang piawai di bidangnya, dan bukan hanya diplomat Kemlu yang maju.
Masalah lain yang menjadi pertimbangan besar antara lain adalah ketidakstabilan politik dalam negeri Indonesia. Pemerintah Indonesia mengalami masalah demokrasi dalam perpolitikan yang sangat diluar batas kendali. Hal ini sangat mengganggu kestabilan ekonomi domestik dan akhirnya menghambat diplomasi ekonomi itu sendiri. Mungkin Indonesia perlu seperti Cina, melakukan desentralisasi ekonomi kepada pasar, namun dalam proses politiknya sendiri pemerintah harus mampu melakukan law enforcement dan mengembalikan lagi semua kebijakan kepada pemerintah, agar pemerintah benar-benar memiliki legitimasi dalam birokrasi.
Tentu saja, dalam melakukan diplomasi ekonomi, pemerintah lebih memiliki kekuatan untuk menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang mengikat. Tinggal bagaimana pengawasan terhadap pasar dan aktor- aktor non-negara ini diperketat sehingga tidak menimbulkan friksi yang lebih lanjut di antara kewenangan-kewenangan yang terkait.
b. Keterkaitan antara Ekonomi Nasional dengan Rezim Ekonomi Pertanian Global
Regonalisme, dan juga hubungan bilateral, banyak diwarnai oleh mekanisme pasar bebas dalam regional atau free trade agreement (FTA), meskipun pembentukan FTA ini belum matang sebagai suatu konsep integrasi regional. Dengan adanya perdagangan bebas ini, berbagai hambatan perdagangan dan perlindungan terhadap komoditi dalam negeri menjadi semakin berkurang. Dalam persaingan ekonomi global, yang dapat bertahan dalam ekonomi pasar adalah mereka yang memiliki kapabilitas akumulasi modal yang tepat, sesuai dengan modelNew American Economy (NAE) menurut Gilpin3 Salah
satu poinnya antara lain, kepemimpinan yang kuat dalam kerja sama internasional menjadi kunci keberhasilan suatu negara untuk bersaing dalam konteks globalisasi ekonomi. Kepemimpinan ini harus mampu mendirikan dan menjalankan peraturan-peraturan perdagangan, investasi asing, dan urusan moneter internasional.
Sementara itu dalam sektor pertanian perikanan, dan kelautan; Indonesia masuk ke dalam rezim perdagangan internasional World Trade Organization (WTO), yang mengatur berbagai kesepakatan dagang komoditas pertanian yang tertuang dalam ratifikasi Agreement on Agriculture (AoA) yang diselesaikan pada Ronde Perundingan Uruguay (1994). Indonesia juga sebelumnya telah meratifikasi pembentukan WTO, seperti yang dituangkan dalam UU no.7/1994 tertanggal 2 November 1994.
AoA mengedepankan tiga pilar dalam kebijakannya, yakni bantuan domestik, subsidi ekspor, serta akses pasar. WTO menegaskan bahwa harus terdapat reformasi perdagangan dalam sektor pertanian global untuk mencukupi kebutuhan pangan dunia. Namun, reformasi tersebut tidak boleh terlepas dari perhatian-perhatian non-perdagangan sepertifood securitydan konsen mengenai perubahan iklim dan pemanasan global.
Peluang Indonesia dalam rezim perdagangan internasional ini ialah memperluas akses pasar ekspor komoditi pertanian. Namun dalam perkembangannya, Indonesia mengurangi subsidi terhadap sektor pertaniannya, dengan jumlah yang melampaui seharusnya. Akibatnya, produksi pangan dalam negeri menurun, sementara itu Indonesia juga kehilangan daya saing dalam perdagangan sektor pertanian di tingkat global, bahkan
hingga saat ini Indonesia telah berada dalam fase kerentanan suplai pangan dan produk ternak, sehingga membutuhkan kebijakan luar negeri yang mampu menciptakan aliansi strategis antara negara-negara produsen pangan terbesar dengan Indonesia, sekaligus membuat visi jangka panjang diplomasi pertanian Indonesia.
Dampak akibat penerapan AoA juga dirasakan pada orientasi pertanian Indonesia. Menurut Henry Saragih, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI), keterpurukan kedelai terjadi karena pemerintah lebih mengutamakan usaha agrobisnis perkebunan yang berlahan luas seperti kelapa sawit4 (www.indonesia.go.id, diakses 16 Januari 2008).
Pilihan ini dimanfaatkan karena kelapa sawit memiliki keunggulan komparatif. Dari laporan Departemen Pertanian mengenai kinerja ekspor impor pertanian, tercatat subsektor perkebunan menempati urutan pertama ekspor pertanian tahun 2002-2004. Perkebunan mempunyai andil sebesar 89,9 persen dari total ekspor pertanian (www.agrobisnis.deptan.go.id, 11 Februari 2008).
Hal ini ditengarai sebagai sikap pemerintah yang luput dalam mencermati keterkaitan faktor eksternal, yaknirezimrezimrezimrezim ekonomiekonomiekonomiekonomi globalglobalglobalglobal,,,,dalam menentukan kebijakan
Berkaca pada kisruh naiknya harga kedelai belakangan ini, perlu melihat bagaimana seharusnya menyikapi keamanan pangan dan strategi pemerintah Indonesia secara umum dalam menghadapi ketergantungan pangan Indonesia yang masih bergantung kepada impor. Disampaikan oleh Kementerian Perdagangan, bahwa impor kedelai belakangan ini masih tinggi, yakni sekitar 70%. Namun angka ini masih di bawah impor tahun 2007 yang mencapai sekitar 90% dan menyebabkan kenaikan harga dua kali lipat. Meskipun demikian, permasalahan kedelai ini cukup menghantam kondisi pangan nasional, karena kedelai masih menjadi salah satu jenis palawija yang terbanyak dikonsumsi secara nasional. Kebijakan perdagangan Indonesia terhadap perdagangan bahan pangan internasional menjadi penting untuk dirumuskan ulang.
Pasar Pertanian Indonesia memiliki kerentanan yang semakin tinggi, seiring dengan tingginya dependensi pasar pertanian terhadap pasar pertanian serta pangan global. Indikator yang paling mudah untuk menjelaskan tingkat dependensi ini ialah volume impor suatu komoditi. Ketergantungan ini berdampak secara langsung terhadap fluktuasi harga domestik yang juga mengikuti harga dunia.
Kondisi Pertanian Kedelai Domestik
Secara sederhana, keamanan stok kedelai bisa dipenuhi jika kebutuhan dapat dimbangi oleh pasokan. Namun pasokan tersebut juga harus stabil dan dapat diusahakan dengan biaya seminimal mungkin untuk menjaga stabilitas harga. Dengan naiknya harga kedelai global, biaya impor makin mahal dan harga kedelai di pasaran nasional juga melonjak. kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan kedelai juga makin sulit, ditambah dengan minimnya kemampuan meningkatkan angka produktivitas yang hanya sebesar 12-13% per tahunnya, walaupun mengalami kenaikan angka produksi (menurut data Badan Pusat Statistik RI). Sementara itu, menurut statistik FAO, produksi kedelai Indonesia stabil dan mengalami sedikit kenaikan sejak 2009 yang berkisar di antara 900.000 ton per tahun. Sementara itu menurut menteri Hatta Rajasa laju konsumsi selalu lebih unggul darpada pemenuhan produksi yakni 2,2 juta ton dibandingkan kemampuan produksi sekitar 700.000 tom per tahunnya.
Sementara itu, Menteri Pertanian Suswono mengatakan akan sulit bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi kedelai dalam negeri, sebagai negara hanya memiliki 600.000 hektar lahan pertanian kedelai, kontras dengan kebutuhan lahan minimal sebesar 1,5 juta hektar. Untuk menopang ketimpangan yang berdampak pada harga tersebut, kebijakan pemerintah masih cenderung reaktif dalam menyikapinya; antara lain dengan menerapkan kebijakan jangka pendek yang berupa penurunan atau penghapusan pajak impor atau subsidi. Kebijakan MP3EI yang mencakup masalah pertanian juga terasa kurang tepat sasaran karena tidak memprioritaskan pemenuhan bahan pangan pokok --termasuk beras dan kedelai-- sebagai upaya membangun keamanan pangan nasional. Justru komoditi seperti karet, kelapa sawit, dan kakao yang menjadi fokus sebagai market power.
Keterkaitan dengan Perdagangan Internasional
pembangunan pedesaan dan sektor mikro lainnya yang kurang mampu mengimbangi dampak beragam kebijakan internasional, seperti yang berkaitan dengan perdagangan internasional.
Terdapat dua determinan yang umum diketahui mempangaruhi harga, yakni ketersediaan dan permintaan. Namun seiring dengan berlakunya perdagangan bebas dalam sektor pertanian, semakin banyak pula faktor yang memengaruhinya, antara lain tarif ekspor/impor, ongkos transportasi, serta berbagai kesepakatan-kesepakatan multilateral dan bilateral. Dalam konteks kedelai, pemerintah menjadikan Agreement on Agriculture (AoA) atau kesepakatan pertanian internasional sebagai pijakan kebijakan impornya. Sejak AoA diberlakukan pada 1995, tarif impor kedelai di Indonesia telah menjadi 0 persen. 10 tahun setelahnya, tarif 0 persen tetap bertahan, hingga akhirnya mencapai 5%, kemudian akan diturunkan lagi menjadi 0 persen pada Agustus tahun ini.
Penurunan tarif ini tidak diimbangi dengan peningkatan daya saing dalam sektor perkedelaian. Dengan kata lain, secara makro, penandatangan perjanjian internasional tidak diimbangi dengan persiapan ujung tombak pertanian kedelai, yakni para petani, sektor usaha kedelai, serta kebijakan dan diplomasi pangan.
Pertama, petani sebagai pelaku produksi tidak menerima bantuan yang bersifat jangka panjang, sementara para konsumen dimanjakan dengan penghapusan tarif tersebut. Dalam kasus kedelai, separuh diantara kedelai impor berasal dari negara maju dan hanya sedikit saja dari negara Amerika Latin, seperti Argentina dan Brazil. AS bahkan mendominasi ekspor kedelai ke Indonesia, mencapai hampir 50% dari total impor kedelai Indonesia setiap tahunnya. Akibatnya, harga produk pertanian impor menjadi lebih rendah dari yang seharusnya. Di negara maju seperti AS dan di Amerika Latin, sektor pertanian dibiayai subsidi dengan seksama, para petaninya memiliki kelompok (American Soybean Association) yang memiliki solidaritas kuat, bahkan dalam kemampuan berstrategi. Sementara pemerintah Indonesia kurang memberdayakan Kopti yang sebenarnya dapat dijadikan mitra pemerintah untuk mengidentifikasi pokok-pokok problema yang sebenarnya melanda pertanian kedelai Indonesia.
terdapat sokongan terhadap industri produk jadi kedelai. Dengan naiknya tingkat produksi kedelai Indonesia, peningkatan infrstruktur industri kedelai juga harus disesuaikan agar pengusaha dapat mengekspor produk kedelai bernilai tambah dalam jangka panjang. Di sini, basis ekonomi pertanian indonesia dapat ditingkatkan dari pertanian yang bertujuan swasembada kedelai menjadi berorientasi industri ekspor. Untuk itu, butuh sinergi yang kuat antar kementerian-kementerian yang terkait untuk segera merumuskan solusi jangka panjang bagi potensi kedelai ini.
Ketiga, pembenahan kebijakan pemerintah dan upaya diplomasi pangan menjadi penting karena ini bukan pertama kalinya Indonesia mengalami krisis kedelai. Selain penandatanganan AoA, Indonesia membuka keran pasar bebas, dengan mengurangi peran BULOG sebagai stabilisator harga, akibatnya harga naik mengikuti fluktuasi pasar. Muncul pula beberapa perusahaan importir yang sangat besar perannya dalam kontrol harga dan pasokan kedelai, baik nasional maupun multinasional dari seperti PT. Cargill dari AS. Indonesia memiliki lahan yang subur dan potensial untuk menarik investasi asing yang meningkat, dengan syarat Indonesia bisa seperti Brazil dan Argentina yang pertaniannya sudah mengimplementasikan konsep pembangunan berkelanjutan dan prinsip ekologis. Dengan kata lain, konsepnya sudah matang dan keuntungannya jelas. Hal demikian akan menjadi aset bagi Indonesia untuk melakukan diplomasi dan perdagangan internasional, baik bisnis-ke-bisnis maupun pemerintah-ke-pemerintah.