• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS RENCANA PENERAPAN PEMBATASAN SU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS RENCANA PENERAPAN PEMBATASAN SU"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS RENCANA PENERAPAN PEMBATASAN SUKU BUNGA PADA PERBANKAN

Mata Kuliah Pasar Uang Dan Pasar Modal Sesi 01 ( Dosen: Herry Murbalalana)

Di susun oleh: Nama : Indra Sakti NIM : 201411286

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS ESA UNGGUL

(2)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Tujuan ... 1

C. Batasan Masalah ... 1

BAB II PEMBAHASAN ... 2

A. Alasan Rencana Pembatasan Suku Bunga Perbankan... 2

B. Rasio Suku Bunga Kredit Perbankan di Asia Tenggara ... 2

C. Alasan Suku Bunga Kredit Indonesia Tinggi... 3

1. Tingginya cost of fund dan inefisiensi perbankan ... 3

2. Konsentrasi struktur industri perbankan ... 3

3. Konsentrasi pasar deposito ... 4

4. Tinginya tingkat inflasi ... 4

5. Tingginya risiko ketidakpastian hukum ... 4

D. Upaya Pembatasan Suku Bunga Perbankan... 5

1. Rencana pembatasan suku bunga deposito ... 5

2. Rencana pembatasan net interest margin... 5

3. Penurunan suku bunga acuan... 5

BAB III PENUTUP ... 6

A. Kesimpulan ... 6

B. Saran ... 6

(3)

DAFTAR GRAFIK

Grafik 1. Net interset margin perbankan di Asia Tenggara ... 3 Grafik 2. Tingkat inflasi beberapa negara Asia Tenggara... 4

DAFTAR TABEL

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tingginya suku bunga perbankan dinilai menghambat ekspansi dunia usaha dalam persaingan global dan tentu pula menghambat pertumbuhan ekonomi. Pendek kata, suku bunga perbankan, khususnya suku bunga kredit, diharapkan bisa turun. Pemerintah berupaya menurunkan bunga bank menjadi single digit untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, pemerintah berkoordinasi dengan instansi terkait lainnya. Pemerintah rencananya akan membatasi suku bunga deposito, sementara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengarahkan penurunan Net Interest Margin (NIM) dan Bank Indonesia (BI) berupaya menekan inflasi.

Penurunan suku bunga bank pada umumnya sering dihadapkan pada ekspektasi yang berlawanan arah. Siapa saja ketika akan menyimpan uangnya di bank selalu menginginkan suku bunga yang setinggi mungkin. Sebaliknya, ketika seseorang memerlukan kredit ekspektasinya ialah mendapatkan suku bunga kredit serendah mungkin. Dengan kondisi seperti itu, tentunya menjadi menyulitkan bank untuk merumuskan tingkat suku bunga yang bisa memenuhi kedua harapan yang saling berlawanan. Bagaimanapun bank harus mempunyai keuntungan yang rasional sebagai bagian dari kesinambungan usahanya. Dengan perolehan laba yang terukur dan memadai, hal itu akan memberikan ruang yang lebih besar bagi bank untuk melakukan ekspansi kredit karena permodalannya makin kuat.

Keinginan pemerintah agar suku bunga perbankan bisa turun secara signifikan tentunya tidak salah. Hanya saja kajiannya harus lebih komprehensif sehingga dapat diyakini bahwa penurunan suku bunga secara signifikan akan meningkatkan permintaan kredit. Meningkatnya permintaan kredit tersebut tentunya harus berkualitas sehingga tidak menimbulkan

Agar permasalahan terfokus, penulis hanya membahas mengenai pembatasan suku bunga di perbankan melalui rencana pembatasan suku bunga deposito, net interst margin dan penetapan BI rate.

(5)

PEMBAHASAN

A. Alasan Rencana Pembatasan Suku Bunga Perbankan

Datangnya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) bagi perbankan yang akan dilaksanakan pada 2020 mendatang, merupakan tantangan bagi perbankan nasional. Menghadapi tantangan ini, maka perbankan nasional perlu menurunkan suku bunga kreditnya. Berdasarkan data Bank Indonesia, suku bunga kredit perbankan di Indonesia masih double digit. Padahal, melalui suku bunga yang rendah diharapkan perbankan nasional dapat bersaing dengan perbankan asing. Selain itu, dengan suku bunga kredit perbankan yang rendah akan mendorong masyarakat dalam menjalankan kegiatan bisnisnya yang tentunya akan berdampak langsung terhadap pertumbuhan perekonomian nasional.

Tabel 1. Suku bunga dasar kredit bank besar Januari 2016

Nama Bank

Suku Bunga Dasar Kredit (%) Kredit

Korporas i

Kredit Ritel Kredit Mikro Kredit Konsumsi

KPR non KPR

Bank Rakyat Indonesia 10.75 11.50 19.25 10.25 12.50

Bank Mandiri 10.50 12.25 19.25 11.00 12.50

Bank Central Asia 10.25 11.25 - 10.25 8.63

Bank Negara Indonesia 10.75 11.75 - 11.00 12.50 Bank Cimb Niaga 11.50 12.25 19.75 11.50 11.75 (Sumber: Bank Indonesia)

B. Rasio Suku Bunga Kredit Perbankan di Asia Tenggara

Dibandingkan dengan negara asia tenggara lainnya, suku bunga kredit Indonesia termasuk yang tertinggi. Per Februari 2016, suku bunga kredit di berbagai bank di Indonesia berada pada level sekitar 11%, lebih tinggi dari sebagian besar negara Asia Tenggara lainnya seperti Singapura (sekitar 3%), Malaysia (sekitar 4%) dan Vietnam (sekitar 6.5%). Tingginya suku bunga kredit ini tentu bisa menghambat daya saing bisnis dan pada akhirnya bisa menghambat potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Tabel 2. Suku bunga kredit bank di Asia Tenggara

Negara Nama Bank Rate

Indonesia Bank MandiriHSBC Indonesia 15.3911

Malaysia RHB 4.4

Singapura DBSMaybank Singapura 3.752.5

Vietnam HSBC Vietnam 6.49

(6)

C. Alasan Suku Bunga Kredit Indonesia Tinggi

Ada beberapa faktor yang bisa berkontribusi pada tingginya suku bunga perbankan di Indonesia yaitu tingginya cost of fund dan inefisiensi, konsentrasi struktur industri perbankan, konsentrasi pasar deposito, tingginya tingkat inflasi, serta tingginya risiko ketidakpastian hukum, biaya kepatuhan hukum dan tatakelola perusahaan.

1. Tingginya cost of fund dan inefisiensi perbankan.

Tingginya cost of fund utamanya tergambar dari tingginya tingkat bunga deposito bank-bank di Indonesia yaitu sekitar 6%, lebih tinggi dibanding Singapore (sekitar 1%), Malaysia (Sekitar 3.5%), dan Thailand (2%). Selain itu, perbankan di Indonesia juga cenderung memiliki Net Interest Margin (NIM) yang lebih tinggi di banding bank di negara lain yaitu diatas 6% dimana NIM bank negara lainnya di bawah 4%. Perbankan di Indonesia juga memiliki tingkat efisiensi yang lebih buruk dimana rasio efisiensi bank di Indonesia sebesar 52%, tertinggi kedua setelah Philippines dengan rasio efesiensi 60% (semakin tinggi rasio efisiensi menunjukkan semakin tidak efisien). Tingginya cost of fund dan inefisiensi ini akan membuat perbankan Indonesia mengenakan suku bunga kredit yang lebih tinggi.

Grafik 1. Net interset margin perbankan di Asia Tenggara

2. Konsentrasi struktur industri perbankan.

Per September 2015, empat bank terbesar di Indonesia secara total menguasai sekitar 45% dari total aset di industri perbankan Indonesia. Tingginya konsentrasi struktur industri perbankan ini bisa berpotensi pada terjadinya tacit collusion (kolusi diam-diam) sehingga berujung pada tingginya suku bunga kredit.

Tabel 3. Bank di Indonesia menurut total aset

(7)

4 BNI 456.46 7.43 9 BTN 166.04 2.70 5 CIMB Niaga 244.28 3.97 10 Bank Maybank 153.92 2.50 (Sumber: Litbang Kompas)

3. Konsentrasi pasar deposito.

Pasar deposit perbankan Indonesia sangat terkonsentrasi dimana per Desember 2015, 0.57% dari total akun nasabah atau sebanyak 984,392 akun nasabah menguasai sekitar 70.6% dari total dana pihak ketiga di bank umum. Dengan tingginya konsetrasi ini, bank umum sangat bergantung pada sebagian kecil nasabah-nasabah dengan deposito besar ini. Oleh karena itu, nasabah premium ini memiliki posisi tawar tinggi sehingga bisa meminta suku bunga deposito yang tinggi dan juga layanan tambahan lainnya. Dengan demikian, "perang deposit" ini bisa berujung pada tingginya "cost of fund" bank komersial yang kemudian harus dibebankan pada tingginya suku bunga kredit.

4. Tinginya tingkat inflasi.

Tingkat inflasi di Indonesia termasuk salah satu yang tertinggi jika dibandingkan dengan negara asia tenggara lainnya seperti Malaysia, Singapore, Thailand. Pada periode 2010-2014, Inflasi Indonesia secara rata-rata sekitar 6.3%. Angka ini lebih tinggi dibanding rata-rata inflasi di Malaysia (2.3%), Singapore (3.2%), dan Thailand (2.8%). Tingginya inflasi bisa mendorong nasabah untuk meminta tingkat bunga deposito yang tinggi juga karena tingkat inflasi bisa dilihat sebagai "biaya" yang mengurangi imbal hasil deposito oleh nasabah. Dengan tingginya tingkat bunga deposito kemudian berdampak pada tingginya cost of fund perbankan sehingga bank ikut meninggikan tingkat bunga kredit.

Grafik 2. Tingkat inflasi beberapa negara Asia Tenggara

5. Tingginya risiko ketidakpastian hukum, biaya kepatuhan hukum dan tatakelola perusahaan.

(8)

mengenakan suku bunga kredit lebih tinggi. Selain itu, ketidakpastian hukum yang tinggi di Indonesia terkait pengadilan proses kepailitan dan penyelesaian sengketa yang panjang dan lama bisa menambah risiko kredit yang membuat perbankan mengenakan suku bunga kredit yang tinggi. Kemudian, biaya untuk kapatuhan hukum juga bisa tinggi mengingat aturan-aturan perbankan yang berbelit yang pada akhirnya bisa berdampak pada biaya tinggi.

D. Upaya Pembatasan Suku Bunga Perbankan

Pemerintah bersama lembaga lainnya melakukan berbagai cara untuk membatasi suku bunga perbankan antara lain melalui pembatasan suku bunga deposito, pembatasan net interest margin dan penurunan suku bunga acuan. 1. Rencana pembatasan suku bunga deposito

Pada 1 Oktober 2014, Otoritas Jasa Keuangan memberlakukan aturan penetapan suku bunga simpanan untuk bank BUKU 4 maksimum 200 bps di atas BI rate atau sebesar 9,50% ketika itu. Sementara untuk BUKU 3, maksimum suku bunga 225 bps di atas BI rate atau sebesar 9,75% ketika itu. Saat ini, OJK berencana memperketat aturan sebelumnya dengan berencana akan membatasi suku bunga deposito maksimum 100 bps di atas BI Rate atau sebesar 8% untuk bank BUKU 3. Sementara untuk bank BUKU 4 dibatasi maksimum 75 bps dari BI Rate atau menjadi sebesar 7,75% dengan patokan BI rate yang saat ini 7%. Kategori BUKU 3 merupakan bank dengan memiliki modal inti antara Rp 5 triliun hingga Rp 30 triliun seperti Bank BTPN, Bank Danamon dan CIMB Niaga. Sedangkan kategori BUKU 4 dengan modal inti di atas Rp 30 triliun seperti bank BRI, bank BCA dan bank Mandiri.

2. Rencana pembatasan net interest margin

Pada 18 Februari 2016, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berencana akan membatasi net interst margin (NIM) bank nasioanl agar suku bunga kredit tidak terlalu tinggi. Selain itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno, juga menghimbau kepada bank-bank BUMN untuk menurunkan NIM-nya menjadi sekitar 4 persen dengan cara melakukan konsolidasi seperti berbagi sistem IT dan mesin ATM, sehingga menurunkan biaya operasional, dan alhasil kinerja bank-bank tersebut menjadi lebih efisien.

3. Penurunan suku bunga acuan

(9)

sebelumnya sudah menurunkan GWM Primer menjadi 6,5% yang diharapkan dapat menambah likuiditas perbankan.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Datangnya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) bagi perbankan yang akan dilaksanakan pada 2020 mendatang, merupakan tantangan bagi perbankan nasional. Menghadapi tantangan ini, maka perbankan nasional perlu menurunkan suku bunga kreditnya. melalui suku bunga yang rendah diharapkan perbankan nasional dapat bersaing dengan perbankan asing. Selain itu, dengan suku bunga kredit perbankan yang rendah akan mendorong masyarakat dalam menjalankan kegiatan bisnisnya yang tentunya akan berdampak langsung terhadap pertumbuhan perekonomian nasional.

Terdapat beberapa faktor yang bisa berkontribusi pada tingginya suku bunga perbankan di Indonesia yaitu tingginya cost of fund dan inefisiensi, konsentrasi struktur industri perbankan, konsentrasi pasar deposito, tingginya tingkat inflasi, serta tingginya risiko ketidakpastian hukum, biaya kepatuhan hukum dan tatakelola perusahaan. Pemerintah bersama lembaga lainnya melakukan berbagai cara untuk membatasi suku bunga perbankan antara lain melalui pembatasan suku bunga deposito, pembatasan net interest margin dan penurunan suku bunga acuan.

B. Saran

Penulis memandang bahwa tingginya suku bunga kredit menjadi hambatan utama bagi perbankan nasional dalam menghadapi persaingan Masyarakat Ekonomi Asean. Berdasarkan survey mengenai daya saing yang dilakukan Asosiasi Pengusaha Indonesia pada tahun 2014, 30% responden menyatakan bahwa akses ke pembiayaan merupakan hambatan untuk berbisnis. Melalui hambatan yang ada, perekonomian Indonesia akan mengalami pertumbuhan yang lambat. Keadaan ini merupakan salah satu akibat dari tingginya tingkat suku bunga kredit. Menghadapi keadaan tersebut, maka pemerintah perlu segera merealisasikan berbagai kebijkan untuk menurunkan suku bunga kredit di perbankan.

(10)

mengalami pelemahan terbesar hingga 3,15 persen. Dalam pembukaan, saham PT Bank Central Asia (BBCA) tercatat turun 0,75 persen, saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun 5,4 persen, saham PT Bank Mandiri (BMRI) turun 2,82 persen dan saham PT Bank Negara Indonesia (BBNI) turun 5,5 persen. Selain itu hingga 24 Februari 2016 atau enam hari setelah pernyataan OJK, dana investor kabur mencapai USD 5 miliar.

(11)

DAFTAR PUSTAKA

Website

Asosiasi Pengusaha Indonesia. 2016. Policy Brief Apindo: Tingginya Suku Bunga Kredit Perbankan Indonesia. http://www.apindo.or.id/id/press/read/policy-brief-apindo-tingginya-suku-bunga-kredit-perbankan-indonesia. Diakses pada 7 Maret 2016

Bank Indonesia. 2016. Suku Bunga Dasar Kredit Januari 2016.

http://www.bi.go.id/id/perbankan/suku-bunga-dasar/Default.aspx.

Diakses pada 8 Maret 2016

Bank Indonesia. 2016. Press Releases: BI Rate and Primary Reserve Requirement Lowered Again. http://www.bi.go.id/en/ruang-media/siaran-pers/Pages/sp_181416.aspx. Diakses pada 9 Maret 2016

Kementrian Keuangan. 2016. Laporan Ekonomi dan Keuangan Mingguan Badan Kebijakan Fiskal. http://fiskal.kemenkeu.go.id/2015/dw-daily-news.asp. Diakses pada 13 Maret 2016

Portal Berita Online economy.okezone.com

finance.detik.com

bisniskeuangan.kompas.com

cnnindonesia.com

Gambar

Grafik 1. Net interset margin perbankan di Asia Tenggara
Grafik 2. Tingkat inflasi beberapa negara Asia Tenggara

Referensi

Dokumen terkait

Aplikasi yang dibangun dapat menjawab kebutuhan informasi yang berkaitan dengan penerimaan siswa baru yang dilakukan secara online di SMK Telkom Sandhy Putra Malang

pelayanan publik di Dinas Kependudukan dan Catatan sipil Kota Sorong perlu ditingkatkan dengan jalan memberikan pembinaan secara moral tentang pentingnya pemahaman

Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis daya saing dari komoditi pinang, minyak nabati, karet dan kertas Provinsi Jambi dan juga untuk menganalisis pengaruh Kurs dan harga

Hasil Uji pretest kelas kontrol diikuti oleh 30 anak usia 5-6 tahun.. Kemudian yang berada pada rentangan 15-19 dengan kategori sedang berjumlah 1 anak atau 3%. Sehingga

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media E-Book interaktif berbasis animasi bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Subjek dalam penelitian ini adalah

Cara yang tepat guna dalam pembersihan penyakit demam berdarah dengue adalah melaksanakan Pembersihan Sarang Nyamuk (PSN) yaitu : kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat

Saklar tunggal S3 (c) berfungsi untuk menyalakan lampu L3 melalui kontak utama NO pada kontaktor dimana rangkaian diamankan oleh pengaman fuse (F3) dan disuplai oleh fasa T..

Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi keinginan peneliti untuk menemukan pola ritme yang terdapat dalam musik Jepin Lembut di Kecamatan Tebas Kabupaten Sambas. Metode