2
IKHTISAR EKSEKUTIF
Pelaporan kinerja pemerintah melalui penyusunan LkjIP Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah Tahun 2017 merupakan wujud akuntabilitas pencapaian kinerja dan pelaksanaan Rencana Strategis Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013-2018 dan Rencana Kinerja Tahunan 2017 yang telah ditetapkan melalui Perjanjian Kinerja 2017. Penyusunan LKjIP ini pada hakekatnya merupakan kewajiban dan upaya untuk memberikan penjelasan mengenai akuntabilitas terhadap kinerja yang telah dilakukan selama Tahun 2017.
Sebagai perwujudan pelaksanaan good governance, Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah telah melaksanakan program dan kegiatan dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran mendukung visi dan misi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013 – 2018 yang telah dituangkan dalam Rencana Strategis Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013-2018. Tolok ukur pencapaian tujuan dan sasaran strategis Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah pada Tahun 2017 selanjutnya diukur melalui 4 (empat) indikator kinerja utama (IKU). Indikator kinerja utama tersebut, yaitu indikator persentase luasan pertambangan tanpa ijin yang ditertibkan, kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB, Rasio Elektrifikasi, dan persentase pemanfaatan Energi Baru Terbarukan dalam Bauran Energi. Capaian keempat indikator kinerja utama (IKU) Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah masuk pada kategori Sangat Baik (tingkat capaiannya lebih besar dari 100%). Terdapat 3 (tiga) Sasaran Strategis yang perlu diwujudkan oleh Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah pada Tahun 2017. Berdasarkan hasil Pengukuran Pencapaian Sasaran Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah pada Tahun 2017, tingkat capaiannya berada pada kategori Sangat Baik. Adapun ketiga Sasaran Strategis tersebut, yaitu :
3
1. Terwujudnya peningkatan penanganan pertambangan tanpa izin serta produktivitas pemanfaatan pertambangan dan air tanah, dengan hasil capaian Sangat Baik (104,57%).
2. Peningkatan Rasio Elektrifikasi, dengan hasil capaian Sangat Baik (105,02%).
3. Meningkatnya pemanfaatan Energi Baru Terbarukan dalam Bauran Energi, dengan hasil capaian Sangat Baik (101,92%).
Meskipun semua target, baik IKU maupun Sasaran Strategis telah tercapai, masih terdapat beberapa permasalahan sektor ESDM di Jawa Tengah yang masih perlu diselesaikan dengan baik. Di sektor energi, masih ada sekitar 342.253 KK di Jawa Tengah yang belum berlistrik. Pemanfaatan energi baru terbarukan masih cukup rendah, yaitu 9,56% pada bauran energi di Jawa Tengah, dan masih belum optimalnya upaya konservasi energi. Sedangkan pada sektor pertambangan umum, Praktek kegiatan pertambangan tanpa izin (PETI) masih kerap terjadi dan terkadang lokasi lama PETI yang telah ditertibkan menjadi aktif kembali. Hingga tahun 2017, luas area penambangan liar seluas 550 ha dan yang telah ditertibkan seluas 484,5 ha atau 88,1%.
Diluar pencapaian IKU dan Sasaran Strategis, pencapaian kinerja Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah juga ditunjukkan oleh pencapaian target yang mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) dan Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAD GRK). Dalam rangka mendukung SDGs dan Konservasi Energi Tahun 2017, telah dilaksanakan
pemasangan 56 unit PLTS SHS, revitalisasi 1 unit PLTMH, pembangunan 36 unit demplot biogas, pembangunan 2 demplot pemanfaatan gas rawa,
serta audit energi pada 3 gedung pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Selain itu pada program Konservasi Energi, melalui gerakan hemat energi dan air, Provinsi Jawa Tengah telah mendapatkan penghargaan sebagai Pemenang I Kategori Penghematan Energi dan Air Pada Pemerintah Daerah dalam Penghargaan Efisiensi Energi Nasional Tahun 2017.
4 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penilaian dan pelaporan kinerja pemerintah daerah menjadi salah satu kunci untuk menjamin penyelenggaraan pemerintahan yang demokratis, transparan, akuntabel, efisien dan efektif. Upaya ini juga selaras dengan tujuan perbaikan pelayanan publik sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Untuk itu, pelaksanaan otonomi daerah perlu mendapatkan dorongan yang lebih besar dari berbagai elemen masyarakat, termasuk dalam pengembangan akuntabilitas melalui penyusunan dan pelaporan kinerja pemerintah daerah.
Penyusunan Laporan Kinerja (LKj) merupakan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah, Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, dan Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi. Penyusunan LKj dilakukan dengan mendasarkan pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Review Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah, di mana pelaporan capaian kinerja organisasi secara transparan dan akuntabel merupakan bentuk pertanggungjawaban atas kinerja Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah. LKjIP tingkat SKPD disampaikan kepada Gubernur Jawa Tengah melalui Kepala Biro Organisasi dan Kepegawaian Setda Provinsi Jawa Tengah selambat-lambatnya dua bulan setelah tahun anggaran berakhir.
5
Proses penyusunan LKjIP yang dilakukan setiap akhir tahun anggaran bagi setiap instansi untuk mengukur pencapaian target kinerja yang sudah ditetapkan dalam dokumen Perjanjian Kinerja. Pengukuran pencapaian target kinerja ini dilakukan dengan membandingkan antara target dan realisasi kinerja Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah. LKjIP menjadi dokumen laporan kinerja tahunan yang berisi pertanggung-jawaban kinerja suatu instansi dalam mencapai tujuan/sasaran strategis instansi. Disinilah esensi dari prinsip akuntabilitas sebagai pijakan bagi instansi pemerintah ditegakkan dan diwujudkan.
1.2 Maksud dan Tujuan
LKjIP Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan tugas dan fungsi SKPD selama kurun waktu 1 (satu) tahun anggaran dalam mencapai tujuan/sasaran strategis instansi. Penyusunan LKjIP juga menjadi alat kendali untuk mendorong peningkatan kinerja setiap unit organisasi.
Tujuan penyusunan LkjIP, yaitu :
1. Memberikan informasi kinerja yang terukur kepada pemberi mandat atas kinerja yang telah dan seharusnya dicapai.
2. Sebagai upaya perbaikan berkesinambungan bagi instansi pemerintah untuk meningkatkan kinerjanya.
1.3 Gambaran Umum Organisasi
Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Provinsi Jawa Tengah. Struktur organisasi ini merupakan hasil penataan kembali SOTK sebelumnya (Perda Nomor 6 Tahun 2008). Perubahan organisasi perangkat daerah ini dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas organisasi, mengoptimalkan nilai pelayanan, mencapai hasil yang lebih maksimal, mengkonsolidasikan
6
fungsi-fungsi, menghilangkan tingkatan dan pekerjaan yang tidak perlu, sehingga organisasi mampu memberi pelayanan optimal dalam rangka pelayanan, pemberdayaan dan pengembangan ekonomi masyarakat.
Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah mempunyai tugas pokok “melaksanakan urusan pemerintahan daerah bidang energi dan sumber daya mineral berdasarkan asas otonomi daerah dan tugas pembantuan”, sesuai Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 78 Tahun 2016 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah. Adapun fungsi Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, yaitu:
1. Perumusan kebijakan bidang geologi dan air tanah, mineral dan batubara, ketenagalistrikan, energi baru terbarukan;
2. Pelaksanaan kebijakan bidang geologi dan air tanah, mineral dan batubara, ketenagalistrikan, energi baru terbarukan;
3. Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan bidang geologi dan air tanah, mineral dan batubara, ketenagalistrikan, energi baru terbarukan;
4. Pelaksanaan dan pembinaan administrasi kepada seluruh unit kerja di lingkungan Dinas;
5. Pelaksanaan fungsi kedinasan lain yang diberikan oleh Gubernur, sesuai tugas dan fungsinya;
Untuk melaksanakan tugas dan fungsi tersebut, Kepala Dinas Energi Dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah dibantu/membawahi (gambar 1.1) :
1. Sekretariat;
2. Bidang Geologi dan Air Tanah; 3. Bidang Mineral dan Batubara; 4. Bidang Ketenagalistrikan;
5. Bidang Energi Baru Terbarukan (EBT); 6. BP3ESDM Wilayah Kendeng Muria; 7. BP3ESDM Wilayah Serayu Utara;
7
8. BP3ESDM Wilayah Serayu Selatan; 9. BP3ESDM Wilayah Solo;
10. Satuan Laboratorium Pengujian Kualitas Air.
Berdasarkan Struktur Organisasi dan Tata Kerja sebagaimana dalam gambar 1.1, komposisi jabatan struktural pada Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah terdiri dari 1 (satu) Pejabat Eselon II, 5 (lima) Pejabat Eselon III/a, 9 (sembilan) Pejabat Eselon III/b, 15 (lima belas) Pejabat Eselon IV/a, dan 27 (dua puluh tujuh) Pejabat Eselon IV/b. Kondisi sampai dengan bulan Desember 2017, terdapat masing-masing 1 posisi Eselon III/a dan Eselon IV/a yang kosong.
Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah memiliki 9 (sembilan) Unit Pelaksana Teknis (UPT) setingkat eselon III/b, yaitu : Balai Pengkajian, Pengawasan dan Pengendalian ESDM (BP3ESDM) Wilayah Solo, BP3ESDM Wilayah Kendeng Muria, BP3ESDM Wilayah Serayu Utara, BP3ESDM Wilayah Serayu Selatan, BP3ESDM Wilayah Slamet Utara, BP3ESDM Wilayah Ungaran Telomoyo, BP3ESDM Wilayah Kendeng Selatan, BP3ESDM Wilayah Sewu Lawu, BP3ESDM Wilayah Slamet Selatan.
8
9
Jumlah pegawai/personil Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah pada Tahun 2017 didukung oleh 143 PNS, terdiri dari PNS laki – laki sebanyak 112 orang (78,32%) dan perempuan sebanyak 31 orang (21,68%). Adapun komposisi personil PNS menurut jenis kelamin, golongan, pendidikan, dan eselon disajikan pada gambar 1.2 dan tabel 1.1 s/d 1.2, dan gambar 1.3, sebagai berikut :
Gambar 1.2 Komposisi PNS Dinas ESDM Prov. Jateng Berdasarkan Gender
Tabel 1.1 Rekapitulasi PNS Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah Berdasarkan Pangkat/Golongan Ruang
No. PANGKAT/ GOL.RUANG Jumlah PNS No. PANGKAT/ GOL.RUANG Jumlah PNS 1 Pembina Utama Madya (IV.d) 1 10 Pengatur Tingkat I (II.d) 2 2 Pembina Utama Muda (IV.c) - 11 Pengatur (II.c) 11 3 Pembina Tingkat I (IV.b) 9 12 Pengatur Muda Tingkat I (II.b) 18 4 Pembina (IV.a) 15 13 Pengatur Muda (II.a) 3 5 Penata Tingkat I (III.d) 24 14 Juru Tingkat I (I.d) 2 6 Penata (III.c) 15 15 Juru (I.c) - 7 Penata Muda Tingkat I (III.b) 36 16 Juru Muda Tingkat I (I.b) - 8 Penata Muda (III.a) 7 17 Juru Muda (I.a) -
9 CPNS (III.a) 3
10
Apabila dirunut per jenjang pendidikan, persentase terbesar adalah jenjang pendidikan S1 sebanyak 60 orang (41,95%). Selanjutnya adalah jenjang pendidikan SLTA sebanyak 39 orang (27,27%), S2 sebanyak 33 orang (23,07%), kemudian D3 sebanyak 6 orang (4,19%) dan SLTP sebanyak 5 orang (3,49%). Adapun komposisi per jenjang pendidikan adalah sebagai berikut :
Tabel 1.2 Komposisi PNS Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah Menurut Jenjang Pendidikan
No Jenjang Pendidikan Jumlah (orang)
1. S2 33 2. S1 60 3. D3 6 4. SLTA 39 5. SLTP 5 Jumlah 143
Gambar 1.3 Komposisi PNS Dinas ESDM Prov. Jateng Berdasarkan Jenjang Pendidikan
11
Sarana dan prasarana yang dimiliki oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah dalam mendukung kelancaran pelaksanaan tupoksi, adalah sebagai berikut :
1. Kendaraan Operasional Roda 2 sebanyak 8 (delapan) unit;
2. Kendaraan Dinas/Operasional Roda 4 sebanyak 21 (dua pulu satu) unit (tabel 1.3).
Tabel 1.3 Inventaris Kendaraan Dinas Roda 4
NO JENIS
KENDARAAN
TAHUN
KENDARAAN NO POL MERK
1 Pick up 1998 H 9570 YY Toyota kijang
2 Mpnp / minibus 2002 H 9521 JG Toyota kijang LGX
3 Mpnp / jeep 2003 H 9518 ER Daihatsu rocky
4 Mpnp / minibus 2003 H 9526 JG Toyota kijang LGX
5 Sedan 2009 H 9518 HG Honda civic 1.8 mt
6 Mpnp / minibus 2010 H 463 Toyota kijang innova
7 Minibus 2014 H 9520 GZ Toyota innova
8 Double cabin 2015 H 9567 ZG Nissan new navara
9 Minibus 2013 H 329 Toyota veloz
10 Minibus 2014 H 9521 MZ Daihatsu terios
11 Minibus 2014 H 9523 MZ Daihatsu terios
12 Minibus 2015 H 9525 TZ Daihatsu terios
13 Minibus 2015 H 9524 TZ Daihatsu terios
14 Minibus 2015 H 9526 TZ Daihatsu terios
15 Minibus 2015 H 9519 VZ Daihatsu terios
16 Minibus 2015 H 9520 VZ Daihatsu terios
17 Mpnp / minibus 2004 H 9507 TR Toyota kijang LGX 18 Mpnp / minibus 2003 H 315 Toyota kijang LGX 19 Mpnp / minibus 2003 H 9515 HG Toyota kijang LGX 20 Mpnp / minibus 2004 H 9506 TR Toyota kijang LGX 21 Mpnp / minibus 2004 H 9521 CR Toyota kijang LGX
12
3. Tanah dan bangunan gedung kantor (tabel 1.4).
Tabel 1.4 Tanah dan bangunan gedung yang dimiliki oleh Dinas ESDM Prov. Jateng
NO URAIAN LETAK/ALAMAT LUAS (m2)
A TANAH
1 Tanah kantor BP3ESDM Wil. Serayu Selatan
Jl. Jend Sudirman no. 1
Purworejo,Kel. Pangenjurutengah, Kec. Purworejo
1.697
2 Tanah kantor Dinas ESDM Prov. Jateng (Kantor pusat)
Jl. Madukoro AA/BB No.44 Kel. Tawang Mas, Kec. Semarang Barat
3.420
3 Dikerjasamakan dengan PT Semarang Mineral Pembangunan
Desa Clering Kecamatan Keling Kab. Jepara
127.150 4 Tanah kantor BP3ESDM Wilayah
Ungaran Telomoyo
Jl. Adi Sucipto No. 24 Kota Salatiga
2.450 5 Tanah kantor pemerintah BP3ESDM
Wilayah Sewu Lawu
Jl. Raden Mas Said No. 2 Ds Giripuro Kec. Wonogiri Kab. Wonogiri
1.400
6 Tanah Kantor BP3ESDM Wilayah Slamet Utara
Jl. Piere Tendean No. 1 Kota Tegal
1.253 7 Tanah Kantor BP3ESDM Wilayah
Kendeng Selatan
Jl. Blora Rembang Km. 3 Kel. Karangjati, Kec. Blora
2.050 B. Bangunan/Gedung kantor
1 Gedung B / Bangunan Kantor Dinas Jl. Madukoro AA/BB No.44 Kel. Tawang Mas, Kec. Semarang Barat
800
2 Bangunan Mushola (Kantor Pusat) Jl. Madukoro AA/BB No.44 Kel. Tawang Mas, Kec. Semarang Barat
54
3 Gedung A / Bangunan Kantor Dinas Jl. Madukoro AA/BB No.44 Kel. Tawang Mas, Kec. Semarang Barat
2.370
4 Gedung / Bangunan Kantor BP3ESDM Wil. Serayu Selatan
Jl. Jend Sudirman no. 1
Purworejo,Kel. Pangenjurutengah, Kec. Purworejo
822,8
5 Rumah Dinas BP3ESDM Wil. Serayu Selatan
Jl. Jend Sudirman no. 1
Purworejo,Kel. Pangenjurutengah, Kec. Purworejo
200
13
NO URAIAN LETAK/ALAMAT LUAS (m2)
6 Gedung / Bangunan Kantor
BP3ESDM Wil. Kendeng Muria Jl Sudirman no. 5, Kel. Plangitan, Kec. Pati Kota, Pati
1.027
7 Rumah Dinas BP3ESDM Wil.
Kendeng Muria
Jl Sudirman no. 5, Kel. Plangitan, Kec. Pati Kota, Pati
120
8 Gedung/Bangunan Kantor BP3ESDM Wilayah Solo
Jl Balekambang Lor No. 3, Kel. Manahan, Kec. Banjarsari, Solo
668
9 Bangunan Mushola Solo Jl Balekambang Lor No. 3, Kel. Manahan, Kec. Banjarsari, Solo
19
10 Rumah Dinas BP3ESDM Wilayah Solo
Jl Balekambang Lor No. 3, Kel. Manahan, Kec. Banjarsari, Solo
115
11 Gedung / Bangunan Kantor BP3ESDM Wilayah Serayu Utara
Jl.Perintis Kemerdekaan No.29. Kel. Dukuh, Kec. Pekalongan Barat, Pekalongan
514
12 Gedung / Bangunan Kantor
BP3ESDM Wilayah Slamet Selatan
Jl. Ahmad Yani No. 30 Purwokerto 726
13 Gedung / Bangunan Kantor BP3ESDM Wilayah Ungaran Telomoyo
Jl. Adi Sucipto No. 24 Kota Salatiga
498
14 Gedung / Bangunan Kantor BP3ESDM Wilayah Sewu Lawu
Jl. Raden Mas Said No. 2 Ds Giripuro Kec. Wonogiri Kab. Wonogiri
200
15 Gedung / Bangunan Kantor BP3ESDM Wilayah Slamet Utara
Jl. Piere Tendean No. 1 Kota Tegal
350
16 Gedung / Bangunan Kantor
BP3ESDM Wilayah Kendeng Selatan
Jl. Blora Rembang Km. 3 Kel. Karangjati, Kec. Blora
398
4. Pusat Informasi Dinas ESDM Prov. Jateng; 5. Ruang Konsultasi Pelayanan sektor ESDM; 6. Laboratorium Pengujian Kualitas Air;
7. Bengkel Geologi; 8. Alat Bor.
14
1.4 Fungsi Strategis Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah
Berdasarkan tugas pokok dan fungsi Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah dimaksud, maka Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah secara umum memiliki fungsi strategis, yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penguatan pengelolaan energi dan sumber daya mineral serta kemandirian energi.
Secara singkat, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah memiliki mandat yang harus dipertanggungjawabkan dalam kaitannya penggunaan sumber daya, yaitu :
1. Meningkatkan rasio elektrifikasi Jawa Tengah.
2. Meningkatkan persentase pemanfaatan Energi Baru Terbarukan dalam Bauran Energi di Jawa Tengah.
3. Meningkatkan produktivitas pemanfaatan pertambangan dan air tanah dan terkendalinya kerusakan lingkungan.
15 1.5 Sistematika Penulisan
Dokumen LKjIP Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah Tahun 2017 disusun dengan sistematika penyajian sebagai berikut :
Bab I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Maksud dan Tujuan
1.3 Gambaran Umum Organisasi
1.4 Fungsi Strategis Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah 1.5 Sistematika Penulisan
Bab II PERENCANAAN KINERJA
2.1 Renstra Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah
2.2 Perjanjian Kinerja Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah Bab III AKUNTABILITAS KINERJA
3.1 Capaian Kinerja Organisasi 3.2 Realisasi Anggaran
Bab IV PENUTUP
4.1 Tinjauan Umum Capaian Kinerja Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah
16 BAB II
PERENCANAAN KINERJA
Perencanaan kinerja merupakan aktivitas pengambilan keputusan di awal tentang tingkat capaian kinerja yang diinginkan dan dihubungkan dengan tingkat pelaksanaan program/kegiatan. Proses penetapan kegiatan tahunan yang disertai indikator kinerja dan tingkat capaiannya berdasarkan program, kebijakan dan sasaran yang ditetapkan dalam rencana strategis (Renstra). Memperhatikan hal tersebut, Rencana Kerja (Renja) Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah Tahun 2017 telah disusun dengan mengacu pada RPJMD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013 – 2018, Rencana Strategis (Renstra) Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013 – 2018, Rencana Kerja Pemerintah Daerah Jawa Tengah Tahun 2017, serta Arah Pembangunan Daerah dalam RPJPD Provinsi Jawa Tengah. Penyusunan Rencana Kerja Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah Tahun 2017 memuat kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat.
Lokus dan fokus program/kegiatan yang disusun dalam Rencana Kerja (Renja) Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah Tahun 2017 telah memperhatikan usulan masyarakat dan pemangku kepentingan pada sektor ESDM yang masuk melalui sistem Informasi Perencanaan Pembangunan Daerah (SIPPD), portal Lapor Gub, SMS Center dan Twitter serta berdasarkan hasil sinkronisasi dan penajaman program/kegiatan sektor ESDM dengan kabupaten/kota. Usulan-usulan tersebut selanjutnya diverifikasi dan dianalisis, sehingga menghasilkan kegiatan prioritas yang dapat mendukung target pembangunan yang telah ditetapkan dalam RPJMD maupun rencana strategis SKPD.
17
2.1. Rencana Strategis (Renstra) Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah Rencana Strategis (Renstra) Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013-2018 merupakan landasan dan pedoman bagi seluruh aparatur di lingkungan Dinas ESDM dalam pelaksanaan tugas penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan selama kurun waktu 5 (lima) tahun. Dokumen Renstra memuat Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, Indikator Sasaran, Target Jangka Menengah dan Target Tahunan.
1) Visi dan Misi
Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah mendukung visi misi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013 – 2018 guna mewujudkan rencana strategis SKPD yang merupakan bagian integral dari kebijakan dan program Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
A. Visi
Visi merupakan suatu keadaan atau harapan yang harus diwujudkan pada masa yang akan datang. Visi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013 – 2018 yaitu ”Menuju Jawa Tengah Sejahtera dan Berdikari – Mboten Korupsi Mboten
Ngapusi”.
B. Misi
Visi tersebut dilaksanakan melalui Misi sebagai berikut:
a) Membangun Jawa Tengah berbasis Trisakti Bung Karno, Berdaulat di Bidang Politik, Berdikari di Bidang Ekonomi, dan Berkepribadian di Bidang Kebudayaan.
b) Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat Yang Berkeadilan, Menanggulangi Kemiskinan dan Pengangguran.
18
c) Mewujudkan Penyelenggaraan Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah yang Bersih, Jujur dan Transparan, “Mboten Korupsi, Mboten Ngapusi”.
d) Memperkuat Kelembagaan Sosial Masyarakat untuk Meningkatkan Persatuan dan Kesatuan.
e) Memperkuat Partisipasi Masyarakat dalam Pengambilan Keputusan dan Proses Pembangunan yang Menyangkut Hajat Hidup Orang Banyak.
f) Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik untuk Memenuhi Kebutuhan Dasar Masyarakat.
g) Meningkatkan Infrastruktur untuk Mempercepat Pembangunan Jawa Tengah yang Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan.
Sesuai dengan Visi dan Misi di atas, Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah mendukung untuk Misi “Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat Yang Berkeadilan, Menanggulangi Kemiskinan dan Pengangguran” dan program unggulan gubernur-wagub, khususnya program nomor 4, yaitu Mewujudkan Desa Mandiri/Berdikari melalui Kedaulatan Pangan dan Kedaulatan Energi” dengan sasaran “Terjaminnya ketersediaan energi dengan potensi lokal”.
2) Tujuan dan Sasaran
Tujuan merupakan merupakan kondisi yang ingin diwujudkan oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah sesuai perencanaan yang tertuang dalam dokumen Rencana Strategis (Renstra) Tahun 2013 – 2018. Sedangkan Sasaran merupakan penjabaran dari Tujuan Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, yaitu hasil yang akan dicapai secara nyata dalam rumusan yang lebih spesifik, terinci, dapat diukur dan dapat dicapai, serta dalam kurun waktu yang lebih pendek dari tujuan.
19
Adapun tujuan strategis Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah dirumuskan sebagai berikut :
1. Meningkatkan pengelolaan pemanfaatan pertambangan dan air tanah.
2. Meningkatkan pengelolaan pemanfaatan ketenagalistrikan dan migas.
3. Meningkatkan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan sebagai energi alternatif.
Sedangkan sasaran yang akan dicapai oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah Tahun 2017-2018 berdasarkan rumusan tujuan sebagaimana tersebut diatas adalah sebagai berikut, yaitu (tabel 2.1):
Tabel 2.1 Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah Pelayanan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral
No Tujuan Sasaran Indikator
Sasaran
Target Kinerja Sasaran pada Tahun Ke-
2017 2018 (akhir RPJMD) 1. Meningkatkan pengelolaan pemanfaatan pertambangan dan air tanah
1) Terwujudnya
peningkatan penanganan pertambangan tanpa ijin; 2) Meningkatnya
produktivitas pemanfaatan pertambangan dan air tanah
1) Persentase luasan
pertambangan tanpa ijin yang ditertibkan; 2) Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB 1) 87% 2) 2,03% 1) 87% 2) 2,04% 2. Meningkatkan pengelolaan pemanfaatan ketenagalistrikan Peningkatan Rasio Elektrifikasi. Rasio Elektrifikasi. 91,7% 94,00% 3. Meningkatkan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan sebagai energi alternatif. Meningkatnya pemanfaatan Energi Baru Terbarukan dalam Bauran Energi;
Persentase pemanfaatan Energi baru Terbarukan dalam Bauran Energi 9,38% 10,2%
20
3) Program Pembangunan dan Indikator Kinerja Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah
Mengacu pada RPJMD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013-2018, terdapat 4 urusan wajib, 1 urusan pilihan dan 13 program yang akan dilaksanakan oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah, dengan pengelompokan sebagai berikut, yaitu (tabel 2.2):
Tabel 2.2 Urusan, Bidang Urusan dan Program Pembangunan Prioritas Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah
NO. URUSAN/BIDANG
URUSAN PROGRAM PRIORITAS
A. URUSAN WAJIB 1. Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian, dan Persandian
1. Pelayanan Administrasi Perkantoran
2. Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur 3. Peningkatan Disiplin Aparatur
4. Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur 5. Penataan Peraturan Perundang-Undangan (OTDA) 2. Pendidikan 6. Pendidikan Non Formal dan Informal
3. Penataan Ruang 7. Perencanaan Tata Ruang
4. Lingkungan Hidup 8. Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan
9. Rehabilitasi dan Pemulihan Cadangan Sumber Daya Alam
B. URUSAN PILIHAN Energi dan Sumber
Daya Mineral
10. Pengembangan Pertambangan dan Air Tanah 11. Pengembangan Ketenagalistrikan dan Migas
12. Pengembangan Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi
13. Pengembangan Mitigasi Bencana Alam dan Geologi
Namun, pada Tahun 2017 ada 3 (tiga) program prioritas yang tidak dapat dilaksanakan oleh Dinas ESDM karena adanya perubahan peraturan/kebijakan. Ketiga program tersebut, antara lain:
21
a) Program Pengembangan Mitigasi Bencana Alam Geologi mulai tahun anggaran 2017 tidak dilaksanakan lagi karena sesuai Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 diamanatkan bahwa kegiatan mitigasi bencana menjadi kewenangan pemerintah pusat. b) Program Pendidikan Non Formal dan Informal telah diampu
sepenuhnya oleh SKPD pengampu bidang pendidikan.
c) Program Peningkatan Disiplin Aparatur karena kegiatan pendukungnya, yaitu Kegiatan Pengadaan Pakaian Dinas beserta Perlengkapannya telah dilaksanakan pada tahun sebelumnya.
Adapun dari 13 program tersebut, dirumuskan 5 (lima) Indikator Kinerja Utama (IKU) yang harus dicapai oleh Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, yaitu (tabel 2.3):
Tabel 2.3 Indikator Kinerja Urusan Energi dan Sumber Daya Mineral Pada Renstra Dinas ESDM Prov. Jateng 2013 – 2018
No Nama Program Indikator Kinerja Kondisi Awal 2013 Target 2017 Target RPJMD 2018 1. Program Pengembangan
Pertambangan dan Air Tanah
Persentase luasan pertambangan tanpa ijin yang ditertibkan 86% 87% 87% 2. Kontribusi Sektor Pertambangan terhadap PDRB 1,12% 2,03% 2,04% 3. Program Pengembangan Ketenagalistrikan dan Migas Rasio Elektrifikasi 82,12% 90,01% 94% 4. Program Pengembangan
Mitigasi Bencana Alam dan Geologi*)
Persentase mitigasi bencana alam geologi*)
11,6% - -
5. Program
Pengembangan Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi
Persentase pemanfaatan energi baru terbarukan terhadap total konsumsi energi
6,1% 9,38% 10,2%
22
2.2. Perjanjian Kinerja Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah
Perjanjian Kinerja adalah lembar/dokumen yang berisikan penugasan dari pimpinan instansi yang lebih tinggi kepada pimpinan instansi yang lebih rendah untuk melaksanakan program/kegiatan yang disertai dengan indikator kinerja. Melalui perjanjian kinerja, terwujudlah komitmen penerima amanah dan kesepakatan antara penerima dan pemberi amanah atas kinerja terukur tertentu berdasarkan tugas, fungsi dan wewenang serta sumber daya yang tersedia. Kinerja yang disepakati tidak dibatasi pada kinerja yang dihasilkan atas kegiatan tahun bersangkutan, tetapi termasuk kinerja (outcome) yang seharusnya terwujud akibat kegiatan tahun-tahun sebelumnya. Dengan demikian target kinerja dalam Perjanjian Kinerja juga mencakup outcome yang dihasilkan dari kegiatan tahun-tahun sebelumnya, sehingga terwujud kesinambungan kinerja setiap tahunnya.
Tujuan disusunnya Perjanjian Kinerja adalah :
1. Sebagai wujud nyata komitmen antara penerima dan pemberi amanah untuk meningkatkan integritas, akuntabilitas, transparansi, dan kinerja Aparatur.
2. Menciptakan tolok ukur kinerja sebagai dasar evaluasi kinerja aparatur.
3. Sebagai dasar penilaian keberhasilan/kegagalan pencapaian tujuan dan sasaran organisasi dan sebagai dasar pemberian penghargaan dan sanksi.
4. Sebagai dasar bagi pemberi amanah untuk melakukan monitoring, evaluasi dan supervisi atas perkembangan/ kemajuan kinerja penerima amanah.
5. Sebagai dasar dalam penetapan sasaran kinerja pegawai.
Dalam rangka mewujudkan manajemen pemerintahan yang efektif, transparan dan akuntabel serta berorientasi pada hasil, Kepala Dinas
23
Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah pada Tahun 2017 telah melakukan Perjanjian Kinerja dengan Gubernur Jawa Tengah untuk mewujudkan target kinerja pada Tahun 2017, sebagai berikut (tabel 2.4):
Tabel 2.4 Perjanjian Kinerja Dinas ESDM Prov. Jateng Tahun 2017
No Sasaran Strategis
Indikator Kinerja
Target Program Anggaran (Rp) 1. Terwujudnya
peningkatan produktivitas pemanfaatan pertambangan dan air tanah dan terkendalinya kerusakan lingkungan Persentase luasan pertambangan tanpa ijin yang ditertibkan
87% 1. Program Pengembangan Pertambangan Dan Air Tanah 2. Program Perencanaan Tata Ruang 3. Program Pengendalian Pencemaran Dan Perusakan Lingkungan 4. Program Rehabilitasi Dan Pemulihan Cadangan Sumberdaya Alam 9.815.276.000,00 200.000.000,00 500.000.000,00 2.500.000.000,00 2. Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB 2,03% 3. Peningkatan Rasio Elektrifikasi Rasio Elektrifikasi 91,70% Program Pengembangan Ketenagalistrikan Dan Migas 19.438.500.000,00 4. Meningkatkan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan dalam Bauran Energi Persentase pemanfaatan Energi Baru Terbarukan dalam Bauran Energi 9,38% Program Pengembangan Energi Baru Terbarukan Dan Konservasi Energi 7.247.282.000,00 5. Meningkatnya upaya pencegahan resiko bencana alam geologi Persentase upaya mitigasi bencana alam geologi - Program Pengembangan Mitigasi Bencana Alam Dan Geologi
24 BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA
3.1 Capaian Kinerja Organisasi
Pada masa berakhirnya tahun anggaran, setiap instansi pemerintah wajib menyusun Laporan Kinerja yang berisi progres kinerja atas mandat dan pemanfaatan sumber daya yang digunakan. Hal ini dilakukan sebagai tindak lanjut atas pelaksanaan PP 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Presiden Nomor 29 tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, serta Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Laporan Kinerja Instansi Pemerintah dan tata cara Review Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Dalam rangka melakukan evaluasi keberhasilan atas pencapaian tujuan dan sasaran organisasi sebagaimana yang telah ditetapkan pada perencanaan jangka menengah, skala pengukuran yang digunakan adalah sebagai berikut (tabel 3.1):
Tabel 3.1
Skala Pengukuran Kinerja Laporan Kinerja Instansi Pemerintah
NO SKALA CAPAIAN KINERJA KATEGORI
1 Lebih dari 100% Sangat Baik
2 75 – 100% Baik
3 55 – 74 % Cukup
4 Kurang dari 55 % Kurang
Pada tahun 2017, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah telah melaksanakan seluruh program dan kegiatan yang
25
menjadi tanggungjawabnya sesuai dengan Perjanjian Kinerja Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah Tahun 2017, Rencana Strategis Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013-2018 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013-2018. Setidaknya terdapat 3 (tiga) sasaran strategis yang harus diwujudkan, yaitu :
1. Sasaran 1 : Terwujudnya peningkatan penanganan pertambangan tanpa izin serta produktivitas pemanfaatan pertambangan dan air tanah.
Dalam rangka pencapaian sasaran terwujudnya peningkatan penanganan pertambangan tanpa izin serta produktivitas pemanfaatan pertambangan dan air tanah guna mewujudkan tujuan strategis Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013-2018, yaitu Meningkatkan pengelolaan pemanfaatan pertambangan dan air tanah, terdapat 2 (dua) Indikator Kinerja Utama (IKU) yang harus dicapai hingga Tahun 2018, yaitu :
a. Persentase luasan pertambangan tanpa izin yang ditertibkan. b. Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB.
Kedua indikator kinerja utama dalam Sasaran 1 ini merupakan indikator kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah yang telah diamanatkan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 4 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah.
Untuk mengukur capaian kinerja pada Sasaran 1 dimaksud, maka dilakukan pengukuran kinerja sebagaimana disajikan dalam tabel 3.2, sebagai berikut :
26
Tabel 3.2
Pengukuran Kinerja Sasaran 1 Tahun 2017
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Realisasi 2016 Target 2017 Realisasi 2017 % Capaian 2017 % Capaian Tahun 2016 % Capaian terhadap Target Akhir Renstra (2018) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Terwujudnya peningkatan penanganan pertambangan tanpa izin serta produktivitas pemanfaatan pertambangan dan air tanah
Persentase luasan
pertambangan tanpa izin yang ditertibkan. 87,2% 87% 88,1% 101,26 100,23 101,26 Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB 1,37 *) 2,24%**) 2,46% ***) 2,03% 2,19%**) 2,39% ***) 107,88 120,17 107,35
Rata-rata capaian 104,57 Sangat Baik
Keterangan : *) = Menggunakan ADHK Tahun Dasar 2000 **) = Menggunakan ADHK Tahun Dasar 2010 ***) = Menggunakan ADHB Tahun Dasar 2010
Berdasarkan hasil pengukuran kinerja sasaran ke-1, dari 2 indikator kinerja sebagai tolak ukurnya tergambar bahwa secara umum capaian kinerja dari ke-2 indikator kinerja dicapai melebihi target yang telah ditetapkan (rata-rata capaian sasaran ke-1 adalah sebesar 104,57%) atau berpredikat sangat baik.
Sementara bila dilihat dalam kerangka triwulan, perbandingan antara rencana dan realisasi kinerja untuk Sasaran 1 adalah sebagai berikut (tabel 3.3):
27
Tabel 3.3
Realisasi dan Capaian Kinerja Sasaran 1 Tahun 2017 per Triwulan
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target Tahunan
Triwulan Target Realisasi Persentase
Terwujudnya peningkatan penanganan pertambangan tanpa izin serta produktivitas pemanfaatan pertambangan dan air tanah
Persentase luasan
pertambangan tanpa izin yang ditertibkan. 87% TW I 87% 5,06% 6,44% TW II 87% 13,1% 15,06% TW III 87% 85,05% 97,76% TW IV 87% 88,1% 101,26% Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB 2,04% TW I 2,04% 2,24% 110,34% TW II 2,04% 2,18% 107,39% TW III 2,04% 2,19% 107,88% TW IV 2,04% *2,19% *107,88% Keterangan : *) = Data s/d TW III dengan menggunakan ADHK Tahun Dasar 2010
Secara umum capaian indikator pada sasaran “Terwujudnya peningkatan penanganan pertambangan tanpa izin serta produktivitas pemanfaatan pertambangan dan air tanah” telah tercapai melebihi target. Untuk indikator kinerja “Persentase luasan pertambangan tanpa izin yang ditertibkan” telah tercapai 88,1%. Capaian ini melebihi target yang telah ditetapkan, yaitu 87%. Sehingga, bila dihitung tingkat Capaian Kinerjanya terhadap target RKPD Tahun 2017, yaitu sebesar 101,26%. Sementara untuk indikator kinerja “Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB” terdapat 2 (dua) cara perhitungan, yaitu menggunakan ADHK tahun dasar 2010 dan ADHB tahun dasar 2010. Apabila menggunakan ADHK tahun dasar 2010, tercapai sebesar 2,19% dan jika menggunakan ADHB tahun dasar 2010, tercapai 2,39% (gambar 3.1).
Bila dibandingkan rata-rata tingkat capaian kinerja pada Sasaran Strategis 1, rata-rata capaian kinerja Tahun 2017 dibandingkan dengan
28
Tahun 2016 mengalami penurunan. Pada Tahun 2017 rata-rata tingkat capaian kinerja 2 indikator tersebut sebesar 104,57% (menggunakan ADHK tahun dasar 2010 untuk perhitungan PDRB), sedangkan Tahun 2016 tercapai 110,20% dan Tahun 2015 tercapai 100,41% (gambar 3.2). 0,00% 20,00% 40,00% 60,00% 80,00% 100,00% Persentase luasan pertambangan tanpa ijin yang ditertibkan. 87,20% 88,10% Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB 2,24% 2,19% Tahun 2016 Tahun 2017
Gambar 3.1 Capaian Indikator Kinerja Sasaran 1 Tahun 2016 – 2017
94,00% 96,00% 98,00% 100,00% 102,00% 104,00% 106,00% 108,00% 110,00% 112,00% Rata-rata capaian kinerja Sasaran Strategis 1 100,29% 100,41% 110,20% 104,57% Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017
29
Realisasi kinerja sampai dengan Tahun 2017 apabila
dibandingkan dengan target jangka menengah yang telah ditetapkan dalam RPJMD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013-2018 dan perencanaan strategis Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah, maka indikator “Persentase luasan pertambangan tanpa izin yang ditertibkan” tercapai sebesar 88,1% dari target 87%, sehingga tingkat capaian indikator ini telah tercapai sebesar 101,26%. Tingkat capaian indikator ini meningkat dibandingkan capaian Tahun 2016, yaitu 100,23%. Sedangkan untuk indikator “Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB” telah tercapai sebesar 2,19% dari target 2,04% (menggunakan ADHK tahun dasar 2010 untuk perhitungan PDRB), sehingga tingkat capaian indikator ini telah tercapai sebesar 107,35%. Tingkat capaian indikator ini meningkat dibandingkan capaian Tahun 2016, yaitu 99,13%.
Penyebab tercapainya target indikator kinerja pada Tahun 2017 ini dikarenakan terealisasinya kegiatan-kegiatan yang mendukung pencapaian 2 (dua) indikator kinerja di atas, antara lain :
a. Terlaksananya pengawasan sejumlah 150 obyek pemegang IUP dan 200 obyek kegiatan pertambangan tanpa izin di 35 kab./kota.
b. Terlaksananya 4 kali pameran promosi pertambangan, antara lain di Jawa Tengah, Tangerang, Kota Pekalongan, dan Bali.
c. Terlaksananya Pembuatan Film Potensi ESDM "Geowisata daerah Karangsambung dan Karangbolong, Kab. Kebumen, Jawa Tengah". d. Penerbitan rekomendasi teknik Izin Usaha Pertambangan di Jawa
Tengah, yang terbagi :
1) Rekomendasi Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) : 306 rekomendasi;
2) Rekomendasi IUP Eksplorasi : 230 rekomendasi;
3) Rekomendasi IUP Operasi Produksi : 177 rekomendasi; 4) Rekomendasi IUP OP untuk Penjualan : 58 rekomendasi:
30
5) Rekomendasi IUP OP untuk Pengolahan/ Pemurnian : 24 rekomendasi:
6) Rekomendasi Izin Usaha Jasa Penunjang (IUJP) Pertambangan : 16 rekomendasi;
7) Rekomendasi Surat Keterangan Terdaftar (SKT) : 2 rekomendasi.
e. Terbangunnya 9 unit sumur bor dan tower air di Kab. Grobogan (2 unit), Wonosobo (1 unit), Wonogiri (1 unit), Kendal (1 unit), dan
Kota Semarang (4 unit).
f. Terbangunnya 5 unit sumur eksplorasi di Kab. Magelang (2 unit), Jepara (1 unit), Klaten (1 unit), dan Rembang (1 unit).
g. Terbangunnya 30 unit sumur gali untuk pertanian di Kab. Rembang (15 unit) dan Grobogan (15 unit).
h. Terbangunnya 11 unit sumur pasak untuk pertanian di Kab. Sukoharjo (2 unit), Wonogiri (2 unit), Pekalongan (2 unit), Purworejo (3 unit), dan Kebumen (2 unit).
i. Tersusunnya kajian Cekungan Air Tanah (CAT) Pati-Rembang dan CAT Karangkobar.
j. Terlaksananya pemetaan potensi air tanah pada Cekungan Air Tanah Majenang dan CAT Nusakambangan.
k. Terlaksananya reklamasi lahan bekas pertambangan di Kabupaten Pemalang dan Tegal.
l. Terbangunnya 5 unit sumur pantau air tanah di Kab. Sukoharjo, Jepara, Klaten, Kota Semarang dan Tegal.
m. Terbangunnya 4 unit sumur resapan dalam di Kab. Pati (2 unit) dan Kudus (2 unit).
n. Terlaksananya pembinaan usaha pertambangan bagi Pelaku Usaha Tambang sejumlah 300 orang dalam rangka perwujudan “Good Mining Practice” sekaligus untuk menjadi media sosialisasi peraturan perundang-undangan.
31
Foto 3.1 Pameran Produk Inovasi Jawa Tengah Tahun 2017 di Kota Pekalongan
Foto 3.2 Bantuan sumur bor dan tower air di Kabupaten Grobogan
Foto 3.3 Temu Usaha Pelaku Kegiatan Pertambangan di Kota Magelang
Foto 3.4 Penertiban Tambang Tanpa Ijin di Kec. Kradenan, Kab. Blora
Selain itu, pencapaian target kegiatan di atas juga karena didukung oleh sumber daya manusia dan sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan, adanya peningkatan kesadaran para pelaku penambangan untuk melakukan pengurusan perizinan tambang, adanya peningkatan pengawasan PETI dengan Tim Terpadu Pengawasan Pertambangan yang melibatkan berbagai instansi terkait termasuk Polri dan TNI, serta masih tingginya permintaan dan tingkat kebutuhan terhadap hasil sumberdaya ESDM untuk pembangunan infrastruktur.
32
Meskipun target Indikator Kinerja Utama (IKU) tersebut telah tercapai, namun masih terdapat permasalahan pertambangan yang perlu diselesaikan. Praktek kegiatan pertambangan tanpa izin (PETI) masih kerap terjadi dan terkadang lokasi lama PETI yang telah ditertibkan menjadi aktif kembali. Faktor pendorong dari kegiatan PETI tersebut, diantaranya kekurangfahaman masyarakat terhadap peraturan perundang- undangan yang berlaku dibidang pertambangan, Banyaknya kepentingan yang “bermain” mulai dari unsur pengusaha/penambang, aparat setempat, LSM, preman, Parpol hingga oknum aparat keamanan dan penegak hukum, baik TNI maupun Polri yang sering berada dibalik kegiatan PETI, sehingga dalam operasi penertiban sering serjadi kebocoran bahkan mendapatkan perlawanan. Dari temuan PETI di lapangan dan beberapa alat berat yang disita hanya sebagian kecil yang sampai P21 dan dijatuhi hukuman pidana di pengadilan selebihnya bebas karena ”tidak cukup bukti” dan ada yang beraksi kembali. Hingga tahun 2017, luas area penambangan liar seluas 550 ha dan yang telah ditertibkan seluas 484,5 ha atau 88,1%. Selain itu masih kurangnya pemahaman para pelaku usaha pertambangan terkait kaidah Good Mining Practice dan kurangnya kesadaran para pelaku usaha (kontraktor) infrastruktur untuk memakai bahan tambang dari lokasi yang sudah berizin juga merupakan permasalahan yang harus segera diselesaikan.
Beberapa upaya untuk mengatasi kendala ini, antara lain melalui pendekatan persuasif bagi PETI diarahkan untuk berizin dengan menyederhanakan SOP perizinan, sehingga diharapkan dari kegiatan penambangan yang berizin tersebut diperoleh penerimaan negara dan pendekatan represif secara terpadu dengan melibatkan media (diekspose ke media) cetak maupun elektronik. Selanjutnya penanganan PETI oleh Kepolisian (Polda/Polres) akan dipantau sampai dengan P21. Partisipasi para pemegang IUP aktif sebagai agen informasi keberadaan PETI akan terus didorong sebagai bentuk
33
partisipasi masyarakat sekaligus sebagai pihak yang dirugikan. Juga telah dilakukan pembinaan usaha pertambangan bagi aparatur pemerintah dan para pelaku usaha tambang terkait sosialisasi regulasi di sektor perambangan, memfasilitasi pembentukan kelompok penambang di Kabupaten Banyumas yang diharapkan bahwa kegiatan penambangan yang dilakukan berizin, sehingga akan mengurangi PETI. Selain itu, dilakukan juga pembinaan terhadap para pelaku usaha (kontraktor) infrastruktur untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran mereka untuk memakai bahan tambang dari lokasi yang sudah berizin.
Penggunaan sumber daya keuangan untuk pencapaian Sasaran 1, adalah sebesar Rp 13.293.595.000,- atau 94,33% dari total pagu sebesar Rp. 14.742.762.000,-. Hal ini berarti terdapat efisiensi penggunaan keuangan sebesar 5,67% dari pagu yang ada.
Keberhasilan pencapaian Sasaran 1 sesungguhnya tidak terlepas dari pelaksanaan 4 program dan 18 kegiatan, yaitu :
a. Program Pengembangan Pertambangan dan Air Tanah
1) Kegiatan Pembuatan Profil Investasi di Jateng serta Peningkatan Kerjasama dan Promosi Pertambangan
2) Kegiatan Pengawasan dan Penertiban Usaha Pertambangan di Jawa Tengah
3) Kegiatan Peningkatan Pelayanan Perizinan/Rekomendasi Air Tanah
4) Kegiatan Pembangunan Sumur Bor di Daerah Rawan Kering 5) Kegiatan Pengawasan dan Penertiban Air Tanah di Jawa Tengah 6) Kegiatan Peningkatan Pelayanan Perizinan/Rekomendasi Usaha
Pertambangan
7) Kegiatan Pembuatan Sumur Gali/Pasak di Jawa Tengah
8) Kegiatan Penyusunan Zona Pemanfaatan dan Konservasi Air Tanah pada Cekungan Air Tanah (CAT) di Jawa Tengah
34
9) Kegiatan Penyusunan Potensi serta Neraca Sumberdaya dan Cadangan Mineral di Jawa Tengah.
10) Kegiatan Pembinaan Usaha Pertambangan di Jawa Tengah 11) Kegiatan Sinkronisasi dan Perencanaan Program Bidang
Energi dan Sumber Daya Mineral.
b. Program Rehabilitasi dan Pemulihan Cadangan Sumberdaya Alam 1) Kegiatan Reklamasi Lahan Bekas Pertambangan
2) Kegiatan Pembangunan Sumur Pantau Air Tanah di Jawa Tengah
3) Kegiatan Pembangunan Sumur Resapan Dalam di Jawa Tengah c. Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan
1) Kegiatan Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis d. Program Perencanaan Tata Ruang
1) Kegiatan Kajian Potensi Geowisata di Jawa Tengah
2. Sasaran 2 : Peningkatan Rasio Elektrifikasi
Dalam rangka pencapaian sasaran Peningkatan Rasio Elektrifikasi guna mewujudkan tujuan strategis Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013-2018, yaitu Meningkatkan pengelolaan pemanfaatan ketenagalistrikan, terdapat 1 (satu) indikator kinerja yang harus dicapai hingga Tahun 2018, yaitu Rasio Elektrifikasi (RE).
Untuk mengukur capaian kinerja pada Sasaran 2 dimaksud, maka dilakukan pengukuran kinerja sebagai berikut (tabel 3.4):
35
Tabel 3.4 Pengukuran Kinerja Sasaran 2 Tahun 2017
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Capaian 2016 Target 2017 Realisasi 2017 % Capaian 2017 % Capaian Tahun 2016 % Capaian terhadap Target Akhir Renstra (2018) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Peningkatan Rasio Elektrifikasi Rasio Elektrifikasi (%) 93,51% 91,70% 96,30% 105,02% 103,88 102,45%
Rata-rata capaian 105,02% Sangat Baik
Berdasarkan hasil pengukuran kinerja sasaran ke-2, dapat dilihat bahwa indikator kinerja telah tercapai melebihi target yang telah ditetapkan (rata-rata capaian sasaran ke-2 adalah sebesar 105,02%) atau berpredikat sangat baik.
Sementara bila dilihat dalam kerangka triwulan, perbandingan antara rencana dan realisasi kinerja untuk Sasaran 2 adalah sebagai berikut (tabel 3.5):
Tabel 3.5
Realisasi dan Capaian Kinerja Sasaran 2 Tahun 2017 per Triwulan
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target Tahunan
Triwulan Target Realisasi Persentase
Peningkatan Rasio Elektrifikasi Rasio Elektrifikasi (%) 91,70% TW I 91,70% 94,15% 102,67% TW II 91,70% 94,30% 102,84% TW III 91,70% 95,13% 103,74% TW IV 91,70% 96,30% 105,02%
Secara umum capaian indikator pada sasaran “Peningkatan Rasio Elektrifikasi” dapat dicapai melebihi target. Indikator kinerja “Rasio Elektrifikasi (%)” tercapai sebesar 96,3% dari target 91,7% pada Tahun 2017. Sehingga, bila dihitung tingkat Capaian Kinerjanya
36
terhadap target RKPD Tahun 2017, yaitu sebesar 105,02%. Besarnya capaian indikator kinerja Rasio Elektrifikasi (%) pada Tahun 2013-2017 disajikan pada gambar 3.3.
Tingkat capaian kinerja Sasaran Strategis 2 pada Tahun 2017 bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya mengalami peningkatan. Pada Tahun 2017 tingkat capaian kinerja terhadap target RKPD Tahun 2017, yaitu sebesar 105,02%. Pada Tahun 2016 tingkat capaiannya sebesar 103,88%, sedangkan Tahun 2015 sebesar 104,21% dan Tahun 2014 sebesar 103,94% (gambar 3.4).
75,00% 80,00% 85,00% 90,00% 95,00% 100,00% Rasio Elektrifikasi 85,29% 88,37% 91,10% 93,51% 96,30% Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017
Gambar 3.3 Capaian Indikator Kinerja Sasaran 2 Tahun 2013 – 2017
37 102,00% 102,50% 103,00% 103,50% 104,00% 104,50% 105,00% 105,50% Rata-rata capaian kinerja Sasaran Strategis 2 103,13% 103,94% 104,21% 103,88% 105,02% Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017
Gambar 3.4 Rata – rata Capaian Kinerja Sasaran Strategis 2 Tahun 2013 – 2017
Untuk realisasi kinerja sampai dengan Tahun 2017 apabila dibandingkan dengan target jangka menengah yang telah ditetapkan dalam RPJMD Provinsi Jawa Tengah dan perencanaan strategis Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013-2018, indikator “Rasio Elektrifikasi (%)” tercapai sebesar 96,3% dari target 94%, sehingga tingkat capaian indikator ini telah tercapai sebesar 102,45%. Tingkat capaian indikator ini meningkat dibandingkan capaian Tahun 2016, yaitu 101,42%. Capaian Rasio Elektrifikasi (RE) Jawa Tengah ini telah berada di atas realisasi capaian RE nasional Tahun 2017 sebesar 95,07%.
Faktor pendukung tercapainya target indikator kinerja pada Tahun 2017 ini disebabkan terealisasinya kegiatan-kegiatan yang mendukung pencapaian indikator kinerja Rasio Elektrifikasi tersebut, antara lain (Foto 3.5-3.10):
a. Terlaksananya pembangunan jaringan listrik pedesaan sepanjang 11,50 kms di Kab. Pati, Wonogiri, Boyolali, dan Pekalongan.
38
b. Terlaksananya pekerjaan sambungan listrik rumah sebanyak 6.163 KK di Jawa Tengah.
Selain itu juga karena adanya sumber daya manusia yang mendukung dan sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan, adanya usulan kegiatan dari Kab./Kota, adanya kerjasama yang baik antara instansi yang menangani energi dan sumber daya mineral di provinsi maupun kab/kota dengan stakeholder (BUMN, swasta, kelompok masyarakat/ormas, LSM dan perguruan tinggi).
Foto 3.5 Pembangunan jaringan listrik pedesaan di Kab. Boyolali
Foto 3.6 Pembangunan jaringan listrik pedesaan di Kab. Pekalongan
Foto 3.7 Pembangunan jaringan listrik
pedesaan di Kab. Pati Foto 3.8 Pembangunan jaringan listrik pedesaan di Kab. Wonogiri
39
Foto 3.9 Bantuan sambungan rumah
Di Kab. Blora Foto 3.10 Bantuan sambungan rumah di Kab. Jepara
Meskipun target Indikator Kinerja Utama (IKU) tersebut telah tercapai, namun masih terdapat permasalahan terkait bidang ketenagalistrikan yang perlu diselesaikan, antara lain :
a. Sampai dengan Tahun 2017 masih ada sekitar 342.253 KK yang belum berlistrik;
b. Masih terdapat usaha ketenagalistrikan yang belum memiliki izin sesuai amanat UU No. 30 Tahun 2009;
c. Masih terdapat instalasi listrik yang belum memenuhi ketentuan keselamatan ketenagalistrikan;
d. Penyediaan listrik PLN over supply;
e. Konsumsi listrik per kapita masih rendah (Tahun 2017 sekitar 700 kWh/kapita)
f. Adanya perbedaan data antara data masyarakat tidak mampu yang berhak menerima bantuan listrik murah di Pemerintah dengan data dari PLN, serta realita kondisi masyarakat di lapangan. Kondisi ini dapat menghambat realisasi pencapaian target baik jumlah maupun ketepatan sasaran pemasangan instalasi listrik gratis bagi masyarakat tidak mampu.
40
a. Memberikan bantuan pemasangan instalasi listrik bagi masyarakat kurang mampu yang belum berlistrik;
b. Melaksanakan pembinaan dan pengawasan usaha ketenagalistrikan;
c. Melakukan pengawasan teknis dan audit instalasi tenaga listrik; d. Sertifikasi kompetensi tenaga teknik listrik pada instalasi
pemerintah;
e. Mendorong berkembangnya industri dan bantuan pemasangan listrik bagi masyarakat;
f. Melakukan verifikasi lapangan bersama dengan PLN dan aparat setempat terkait data masyarakat tidak mampu yang berhak menerima bantuan listrik gratis.
Penggunaan sumber daya keuangan untuk pencapaian Sasaran 2, adalah sebesar Rp 15.630.830.000,- atau 97,21% dari total pagu sebesar Rp. 16.079.246.000,-. Hal ini berarti terdapat efisiensi penggunaan dana sebesar 2,79% dari pagu yang ada.
Keberhasilan pencapaian Sasaran 2 sesungguhnya tidak terlepas dari pelaksanaan Program Pengembangan Ketenagalistrikan dan Migas dan 6 (enam) kegiatan di dalamnya, yaitu :
1) Kegiatan Pembangunan Jaringan Listrik Pedesaan;
2) Kegiatan Perhitungan Volume Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dan Pengendalian Harga LPG Tertentu di Jawa Tengah;
3) Kegiatan Evaluasi dan Penyusunan Rencana Umum Ketenagalistrikan Daerah;
4) Kegiatan Pengawasan Manajemen dan Operasional Listrik Pedesaan dan Captive Power di Jawa Tengah;
5) Kegiatan Peningkatan Pelayanan Usaha Ketenagalistrikan di Jawa Tengah;
41
3. Sasaran 3 : Meningkatnya pemanfaatan Energi Baru Terbarukan dalam Bauran Energi.
Dalam rangka pencapaian sasaran Meningkatnya pemanfaatan Energi Baru Terbarukan dalam Bauran Energi guna mewujudkan tujuan strategis Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013-2018, yaitu Meningkatkan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan sebagai energi alternatif, terdapat 1 (satu) indikator kinerja yang harus dicapai hingga tahun 2018, yaitu Persentase pemanfaatan Energi baru Terbarukan dalam Bauran Energi.
Untuk mengukur capaian kinerja pada Sasaran 3 dimaksud, maka dilakukan pengukuran kinerja sebagai berikut (tabel 3.6) :
Tabel 3.6
Pengukuran Kinerja Sasaran 3 Tahun 2017
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Capaian 2016 Target 2017 Realisasi 2017 % Capaian 2017 % Capaian Tahun 2016 % Capaian terhadap Target Akhir Renstra (2018) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Meningkatnya pemanfaatan Energi Baru Terbarukan dalam Bauran Energi Persentase pemanfaatan Energi Baru Terbarukan dalam Bauran Energi 8,85% 9,38% 9,56% 101,92 103,63 93,73
Rata-rata capaian 101,92 Sangat Baik
Berdasarkan hasil pengukuran kinerja sasaran ke-3 bahwa capaian indikator kinerja telah melebihi target yang telah ditetapkan (rata-rata capaian sasaran ke-3 adalah sebesar 101,92%) atau berpredikat sangat baik.
Sementara bila dilihat dalam kerangka triwulan, perbandingan antara rencana dan realisasi kinerja untuk Sasaran 3 adalah sebagai berikut (tabel 3.7):
42
Tabel 3.7
Realisasi dan Capaian Kinerja Sasaran 3 Tahun 2017 per Triwulan
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target Tahunan
Triwulan Target Realisasi Persentase
Meningkatnya pemanfaatan Energi Baru Terbarukan dalam Bauran Energi Persentase pemanfaatan Energi Baru Terbarukan dalam Bauran Energi 9,38% TW I 9,38% 8,85% 94,35% TW II 9,38% 8,85% 94,35% TW III 9,38% 8,85% 94,35% TW IV 9,38% 9,56% 101,92%
Secara umum, capaian indikator pada sasaran “Meningkatnya pemanfaatan Energi Baru Terbarukan dalam Bauran Energi” dapat dicapai melebihi target. Indikator kinerja “Persentase pemanfaatan Energi Baru Terbarukan dalam Bauran Energi (%)” tercapai sebesar 9,56% dari target 9,38% pada Tahun 2017. Sehingga, bila dihitung tingkat Capaian Kinerjanya terhadap target RKPD Tahun 2017, yaitu sebesar 101,92%. Besarnya capaian indikator kinerja Persentase pemanfaatan Energi Baru Terbarukan dalam Bauran Energi (%) pada Tahun 2013-2017 disajikan pada gambar 3.5.
Tingkat capaian kinerja Sasaran Strategis 2 pada Tahun 2017 bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya mengalami fluktuasi, namun menunjukkan tren yang meningkat. Pada Tahun 2017 tingkat capaian kinerja terhadap target RKPD Tahun 2017, yaitu sebesar 101,92%. Pada Tahun 2016 tingkat capaiannya sebesar 103,63%, sedangkan tahun 2015 tercapai 100,78%, tahun 2014 tercapai 101,30% dan tahun 2013 tercapai 100% (gambar 3.6).
43 0,00% 2,00% 4,00% 6,00% 8,00% 10,00% Persentase pemanfaatan Energi Baru Terbarukan dalam Bauran Energi
6,10% 7,01% 7,80% 8,85% 9,56% Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017
Gambar 3.5 Capaian Indikator Kinerja Sasaran 3 Tahun 2013 – 2017 98% 99% 100% 101% 102% 103% 104% Rata-rata capaian kinerja Sasaran Strategis 3 100% 101,30% 100,78% 103,63% 101,92% Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017
Gambar 3.6 Rata – rata Capaian Kinerja Sasaran Strategis 3 Tahun 2013 – 2017
Pencapaian persentase pemanfaatan Energi Baru Terbarukan dalam Bauran Energi Jawa Tengah pada Tahun 2017 sebesar 9,56%, meningkat dari Tahun 2016 sebesar 8,85%. Faktor pendukung tercapainya target indikator kinerja pada Tahun 2017 ini disebabkan
44
terealisasinya kegiatan-kegiatan yang mendukung pencapaian indikator kinerja Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan dalam Bauran Energi Jawa Tengah tersebut, antara lain :
a. Terlaksananya Pembangunan PLTS SHS sebanyak 56 unit untuk 56 KK di Kab. Banjarnegara (Dana DAK) dan 27 unit PLTS PJU di Kab. Wonogiri;
b. Terpasangnya 1 unit PLTS Rooftop di Kantor Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah;
c. Terlaksananya revitalisasi 1 unit PLTMH di Kec. Cilongok, Kab. Banyumas;
d. Terlaksananya pembangunan 1 unit demplot biogas komunal kapasitas 100 m3 di Kab. Semarang; 15 unit demplot biogas
kapasitas 20 m3 di Kab. Semarang, Blora, Karanganyar, Rembang,
Grobogan, Wonogiri, Klaten, dan Boyolali; serta 20 unit demplot biogas kapasitas 4 m3 (dari dana alokasi khusus (DAK)) di Kab.
Grobogan.
e. Terlaksananya audit energi pada 3 gedung Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Inspektorat, BAPPEDA, dan Dinas Kesehatan) di Kota Semarang;
f. Terbangunnya 2 demplot pemanfaatan gas rawa di Kab. Grobogan; g. Tersusunnya Studi Kelayakan PLTSampah di Kota Semarang.
Selain itu, didukung oleh sumber daya manusia yang mendukung dan sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan, adanya usulan kegiatan dari Kab./Kota, meningkatnya pemanfaatan EBT dari biogas, gas rawa, dan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH), serta meningkatnya minat investor dan dukungan Internasional untuk pengembangan bidang energi baru terbarukan yang berkelanjutan.
45
Foto 3.9 Pemasangan PLTS PJU di Kab. Wonogiri
Foto 3.10 Pemasangan PLTS PJU di Kab. Wonogiri
Foto 3.11 Pengukuran pada Lomba Audit Energi Foto 3.12 Pembangunan digester biogas di Kab. Boyolali
Foto 3.13 Pembangunan digester biogas di Kab. Klaten
Foto 3.14 Pembangunan digester biogas di Kab. Grobogan
46
Meskipun target Indikator Kinerja Utama (IKU) tersebut telah tercapai, namun masih terdapat permasalahan terkait energi baru terbarukan yang perlu diselesaikan, antara lain :
1. Belum optimalnya pemanfaatan energi baru terbarukan di Jawa Tengah (capaian masih cukup rendah dengan realisasi 9,56% pada bauran energi);
2. Pengembangan potensi energi baru terbarukan mengalami kendala, antara lain adanya Peraturan Menteri ESDM Nomor 25 Tahun 2013 yang masih belum mengakomodir peran pemerintah daerah dan jaminan terhadap produsen dalam pengembangan biofuel, biaya investasi masih tinggi, potensi berada di daerah terpencil, dan masih adanya subsidi pemerintah (BBM dan listrik);
3. Pemanfaatan produk bahan bakar nabati (biofuel), biomass dan biogas belum optimal;
4. Hasil evaluasi dan penyusunan RUED Tahun 2017 bahwa konsumsi energi dari energi fosil di Jawa Tengah masih cukup tinggi, seperti minyak bumi 39,76%, batubara sebesar 37,17%, gas bumi 12,94%; 5. Beberapa jenis teknologi energi baru terbarukan masih relatif mahal,
sehingga produk yang dihasilkan juga lebih mahal dibandingkan produk dari bahan bakar fosil dan belum dapat bersaing dengan teknologi energi komersial.
Beberapa upaya yang telah dilakukan, antara lain:
1. Mendorong pemanfaatan EBT dari biogas dan biomas, pembangkit listrik tenaga mikro hidro dan surya serta pemanfaatan gas rawa dan penerbitan regulasi/insentif untuk percepatan pengembangan EBT;
2. Pengembangan dan pemanfaatan energi baru terbarukan bagi daerah yang jauh dan tidak dapat terjangkau oleh jaringan listrik PLN (remote area);
47
3. Melakukan koordinasi dengan instansi terkait tentang penetapan harga keekonomian pembelian energi baru terbarukan sesuai dengan harga keekonomiannya. Hal ini dilaksanakan untuk meningkatkan minat masyarakat menggunakan energi terbarukan. Pemerintah perlu menetapkan tarif feed-in untuk harga penjualan energi baru terbarukan. Tarif feed-in perlu mempertimbangkan salah satunya investasi untuk mengahsilkan energi terbarukan, karena investasi untuk pemanfaatan EBT tersebut cenderung mahal;
Penggunaan sumber daya keuangan untuk pencapaian Sasaran 3, adalah sebesar Rp. 6.606.259.000,- atau 92,77% dari total
pagu sebesar Rp. 7.120.903.000,-. Hal ini berarti terdapat efisiensi penggunaan sumber daya sebesar 7,23% dari pagu yang ada .
Keberhasilan pencapaian Sasaran 3 sesungguhnya tidak terlepas dari pelaksanaan Program Pengembangan Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi dan 6 (enam) kegiatan di dalamnya, yaitu :
1) Kegiatan Pembangunan PLTS SHS di Jawa Tengah;
2) Kegiatan Identifikasi dan Pengembangan Potensi Gas Rawa di Jawa Tengah;
3) Kegiatan Pengembangan Desa Mandiri Energi di Jawa Tengah; 4) Kegiatan Pembangunan PLTMH di Jawa Tengah;
5) Kegiatan Audit Energi Gedung Perkantoran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah;
6) Kegiatan Kajian Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) di Jawa Tengah.
Keberhasilan tersebut telah mengantarkan Provinsi Jawa Tengah menjadi Pemenang I Kategori Penghematan Energi dan Air Pada Pemerintah Daerah dalam Penghargaan Efisiensi Energi Nasional Tahun 2017.
48
Dalam rangka mendukung pelaksanaan kegiatan Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, terdapat 3 (tiga) program yang bersifat pendukung operasional, yaitu :
1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran;
2. Program Peningkatan Sarana Dan Prasarana Aparatur; 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur.
Keberhasilan dalam pelayanan publik, Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah meraih Penghargaan Peringkat 1 Tahun 2017 di lingkup Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
3.2 Realisasi Anggaran
Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya pada Tahun 2017 didukung dengan anggaran sebesar Rp. 75.167.074.000,-
yang bersumber dari APBD dan APBN (Belanja Langsung sebesar Rp 49.617.285.000,- dan Belanja Tidak Langsung Rp 25.549.789.000,-).
Secara ringkas komposisi penggunaan sebagai berikut: 1. Anggaran APBD Provinsi Jawa Tengah
a. Belanja Tidak Langsung
No Uraian Jumlah Anggaran (Rp) Realisasi Anggaran (Rp) % Realisasi
1. Gaji dan Tunjangan 11.949.616.000 11.704.966.994 97,95
2. Tambahan
Penghasilan PNS
13.600.173.000 13.464.759.756 99,04
Total Belanja Pegawai 25.549.789.000 25.169.726.750 98,51
b. Belanja Langsung
No Uraian Jumlah Anggaran (Rp) Realisasi Anggaran (Rp) % Realisasi 1. Belanja Langsung (Belanja Pegawai, Barang dan Jasa, Modal)
49.038.285.000,- 47.070.542.339,- 98,95
2. Anggaran APBN (Dana Alokasi Khusus Penugasan Kementerian ESDM RI, Bidang Energi Skala Kecil dan Menengah)
49
No Uraian Jumlah Anggaran (Rp) Realisasi Anggaran (Rp) % Realisasi 1. Belanja Langsung (Belanja Modal) 579.000.000,- 500.991.000,- 86,5
Adapun realisasi anggaran keseluruhan, baik dari anggaran yang bersumber dari APBD maupun APBN (Belanja Langsung dan Belanja Tidak Langsung) sebesar Rp. 72.741.260.089,- atau tercapai 96,77%.
Penggunaan anggaran tersebut apabila diperinci dalam mendukung pencapaian sasaran adalah sebagai berikut (tabel 3.7):
Tabel 3.8
Realisasi Anggaran per Sasaran per Program Tahun 2017
Sasaran Program Anggaran (Rp) Realisasi (Rp) Realisasi (%) Terwujudnya
peningkatan penanganan pertambangan tanpa izin serta produktivitas pemanfaatan pertambangan dan air tanah
Program Pengembangan Pertambangan dan Air Tanah
10.742.762.000 10.371.232.000 96,54
Program Rehabilitasi dan Pemulihan Cadangan Sumberdaya Alam 2.500.000.000 2.137.873.000 85,51 Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan 500.000.000 486.760.000 97,35 Program Perencanaan Tata Ruang 350.000.000 297.730.000 85,07 Peningkatan Rasio Elektrifikasi Program Pengembangan Ketenagalistrikan dan Migas 16.079.246.000 15.630.830.000 97,21 Meningkatnya pemanfaatan Energi Baru Terbarukan dalam Bauran Energi Program Pengembangan Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi
7.120.903.000 6.606.259.000 92,77
3. Pendapatan
Pada Tahun 2017, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah ditargetkan untuk menghasilkan pendapatan