BAB V11.
PEMBAHASAN
Pada bagian pernbahasan ini hasil rancangan model global optimum pengembangan agroindustri kelapa sawit (Model GO-AGRO) yang telah kodefikasikan
ke
dalam Sistem Penunjang Keputusan Agroindustri Kelapa Sawit (SPK AGROSAWIT) akan diverifikasi. Selain itu, juga dibahas strategi pengembangan agroindustri kelapa sawit (AGROSAWIT) dan dampak regional temadap perekonomian daerah yang didasarkan pada hasil SPK AGROSAWIT dan hasil survey pendapat para pakar.7.1.
Verifikasi Model GO-AGRO
SPK AGROSAWIT merupakan sistem berbasis komputer yang telah dirancang bangun dan diimplementasikan untuk tujuan menunjang proses pengambilan keputusan dalam pengembangan AGROSAWIT. Proses pengambilan keputusan dalam SPK AGROSAWIT didasarkan kepada model kuantitatif yang dinamakan dengan Model GO-AGRO, yaitu model pengambilan keputusan kebijakan AGROSAWIT dengan prinsip win-win solution (wws). Model GO-AGRO dirancang khusus untuk mendapatkan penyelesaian konflik kepentingan antara para pekebun rakyat dengan para usahawan agroindustri, serta konflik dengan tenaga kerja, pemerintah dan masyarakat luas, agar tercapai harmonisasi kepentingan aktor.
Berdasarkan hasil analisis sistem (Bab V) terdapat empat konflik utama yang memerlukan solusi kebijakan wws dan setiap konflik telah diformulasikan ke dalam submodel yaitu harga TBS (OPTIMA), perpajakan, teknolagi untuk peningkatan efisiensi dan produktivitas, dan teknologi untuk penanganan lingkungan. Kemudian telah disusun model RASlO untuk menilai kelayakan usaha.
Rekayasa model GO-AGRO sebagai inti proses dan S~stem Penunjang Keputusan AGROSAWIT telah disusun dalam bentuk berjenjang dari berbagai sub-model yang dilengkapi file data dengan fleksibilitas tinggi. Masing-masing sub-model dapat bekerja sendiri dan atau saling berhubungan yang terintegrasi
rnelalui pengaturan sistem dialog. Fleksibilitas juga dirancang dalarn menggunakan file data statis rnaupun rnelalui input data yang interaktif. Fleksibilitas ini diperlukan untuk kernudahan penggunaan dan efisiensi pemrograrnan, baik sewaktu tahap konstruksi model, perneliharaan, rnaupun perubahan yang dirnungkinkan.
Meskipun model GO-AGRO belurn terintegrasi secara interaktif dari satu submodel ke subrnodel lainnya, ha1 ini tidak rnengurangi efektivitas proses pengolahan inforrnasi karena telah disusun prosedural operasional bagi pengguna. Kelebihan dari dekornposisi model GO-AGRO ini adalah verifikasi dapat dilakukan secara masing-masing dari sub model tanpa rnengurangi tingkat kepentingannya pada total sistem. Metode verifikasj yang dilakukan untuk parameter dilakukan sernasa perancangan formula permodelan, sedangkan untuk var~abel (peubah) dilakukan secara sirnulasi pada kurun waktu yang teramati untuk rnempresentasikan dinarnika prilaku sistern (system behaviour)
Pada studi ini, dalam ruang lingkup SPK AGROSAWIT, telah dilakukan verifikasi pada data subrnodel yang utarna yaitu sub model OPTIMA yang memprediksi harga TBS optimal (wws) dan sub model RASIO yang rnempelajarl dampak berbagai input kebijakan terhadap estirnasi ketayakan usaha perkebunan rakyat dan agroindustri sawit. Data yang digunakan adalah dari Surnatera Utara untuk periode Januari 1999 sampai dengan Mei 2 0 0 0 , serta berbagai inforrnasi aktual untuk rnasukan skenario yang dikaji dampaknya ke depan.
7.1 .I.
S u b
Model OPTIMAVerifikasi model OPTIMA dilakukan rnelalui kernparasi (bandingan) berbagai data aktual dari harga TBS sejak Januari 1999 sampai dengan Mei 2 0 0 0 dirnana harga T B S aktual dihasilkan dari perhitungan dengan rurnus K (konversi). Untuk kemudahan komparasi rnaka ditetapkan asumsi-asurnsi standar, yaitu :
nilai tukar rata-rata :
Rp.
8.000 per US $rendemen pabrik
:
20,92
persen
luas kepemilikan lahan pekebun
:
2
ha per KK
Peubah kebijakan ditentukan lebih dahulu yaitu Kebutuhan Hidup Minimum
(KHM) bagi perkebunan rakyat adalah
$
1.200
per
KK
per tahun, sedangkan
majin industri atau perkiraan keuntungan bersih bagi agroindustri (MI) adalah 5
persen dari harga jual CPO dan
PI(.
Kedua peubah ini dapat ,diuji
sensitivitasnya pada tahap selanjutnya.
Hasil verifikasi dapat dilihat pada Gambar
1,
dimana fluktuasi harga
TBS
wws ternyata membuktikan bahwa pada posisi kesetaraan antara produsen
TBS
(perkebunan rakyat) dengan konsurnen TBS (pabrik kelapa sawit) maka kepentingan kedua belah pihak dapat dipenuhi secara adil (wws). Apabila dibandingkan dengan harga TBS aktual. terlihat pada bulan Juli dan Agustus 1999, perkebunan rakyat mengalami kerugian karena harga jual produknya jauh di bawah biaya produksi per hektar. Meskipun pada bufan Mei 1999, harga aktual TBS berada di atas harga tawar jual para pekebun. namun apabila dihitung secara rata-rata maka pemenuhan kebutuhan hidup bagi pekebun masih sangat fluktuatif dan beresiko tinggi.
Secara umurn dapat diarnati bahwa fluktuasi harga TBS wws lebih stabil sehingga rnudah d~prediksi untuk pengambilan keputusan untuk 3 - 6 bulan berikutnya. Dari pihak pabrik kelapa sawit terlihat tidak pernah mengalarni kerugian, dengan asurnsi bahwa rnarjin investasi dipatok sebesar 5% dari harga jual CPO yang dihitung berdasarkan nilai tukar rupiah terhadap US $.
7.1.2.
S u b
Model RASlOValidasi hasil SPK AGROSAWIT selanjutnya dapat dilakukan dengan mengkaji kelayakan usaha perkebunan dan PKS terhadap harga TBS wws. Tolok ukur kelayakan usaha yang digunakan adalah evaluasi finansial yang terdiri dari. (1) IRR (Internal Rate of Return) yaitu suatu tingkat bunga yang menunjukkan nilai sekarang penerimaan bersih sama dengan jumlah seluruh ongkos investasi, (2) Net B/C ratio adalah perbandingan antara nilai sekarang keuntungan bersih terhadap nifai sekarang biaya bersih, (3) Pay Back Periode (PBP) adalah jumtah periode yang diperlukan untuk mengernbalikan investasi awal dengan tingkat pengembalian tertentu, dan (4) Break Even Point (BEP) merupakan analisis pulang pokok dirnana penjualan akan irnpas menutup biaya tetap dan biaya variabel. Evaluasi finansial digunakan untuk rnelihat apakah usaha perkebunan dan PKS layak atau tidak pada harga TBS wws yang dihasilkan oleh SPK AGROSAWIT.
Verifikasi model RASlO dilakukan melalui masukan data yang dibagi atas : (1) input situasional seperti harga CPO dunia pada bulan tertentu, dan (2) input kebijakan seperti penetapan harga jual - beli TBS pada bulan transaksi. Sub model RASlO menghasilkan indikasi kelayakan usaha bagi perkebuan rakyat maupun pabrik kelapa sawit.
Analisis kelayakan usaha terhadap perkebunan menunjukkan bahwa pada kondisi nilai tukar Rp. 8.000 per U S $, suku bunga pinjaman 16 persen. modal pinjaman 50 %, dan harga TBS Rp. 450 per kg, Net B/C-ratio 1.79, IRR 34,67 persen, PBP 7 , l tahun, dan BEP sebesar 11,84 ton TBS per tahun. Nilai IRR tersebut lebih besar dari tingkat bunga pinjarnan kredit lunak perkebunan rakyat sebesar 16 persen dan Net B/C lebih besar dari 1 (satu) sehinga dapat disimpulkan bahwa usaha perkeburian layak pada harga TBS
wws.
Jika seluruh komponen biaya dan penerimaan relatif stabil, maka perkebunan dapat menutupj biaya investasi dalam jangka waktu 10 tahun, dan masih tersisa waktu hingga tanaman berumur 25 tahc~n untuk meraih keuntungan. Selain itu hasil BEP sebesar 11.84 ton TBS, menunjukkan bahwa usaha perkebunan berada pada titik impas (pulang pokok) produktivitas tanarnan 11,84 ton TBS/ha/tahun. Produktivitas tanaman rata-rata di Surnatera Utara sebesar 24 ton TBS/ha/tahun yang berada di atas titik BEP, sehingga usaha perkebunan tersebut telah rnemperoleh keuntungan yang layakAnalisis kelayakan usaha terhadap PKS pada kondisi dengan nilai tukar rupiah, harga TBS, dan komposisi modal yang sama dengan usaha perkebunan, suku bunga pinjarnan 20 persen dan harga CPO Rp. 310 per kg. indikator finansial PKS diperoleh IRR sebesar 34,55 persen, Net B/C sebesar 1,26, dan PBP selama 7,2 tahun. Hasil IRR 34,55 tersebut lebih besar dari tingkat bunga pinjaman kredit PKS sebesar 20 persen dan Net BIC lebih besar dari 1 (satu) sehinga dapat disirnpulkan banwa usaha PKS layak pada harga TBS wws. Jangka waktu pengembalian modal setama 7,2 tahun, merupakan jangka waktu pengembalian yang relatif cepat dibandingkan urnur ekonomis pabrik selama 15 tahun. Selain itu, hasil BEP rnenunjukkan bahwa titik irnpas (pulang pokok) PKS berada pada tingkat produksi sebesar 39.791 ton CPO per per tahun, yajtu dibawah kapasitas produksi rata-rata 144.000 ton TBS/tahun (80 persen dari kapasitas terpasang 180.000 ton TBSItahun), sehingga PKS telah mernperoleh keuntungan yang layak.
Selain dari itu, juga dilakukan simulasi dengan skenario perubahan harg TBS untuk usaha perkebunan dapat dilihat pada Gambar 17, dan skenario perubahan harga CPO untuk pabrik terlihat pada Gambar 18.
Gambar 17.
Grafik
Analisis
Kelavakan
Usaha
Perkebunan
- -
7.2. Aplikasi SPK AGROSAWIT 7.2.t.
Penentuan
Harga TBSlrnplernentasi SPK AGROSAWIT terhadap data di Sumatera Utara (Januari 1999 - Mei 2000) menghasilkan harga TBS W Srata-rata sebesar Rp 420,3 ribu per ton. Nilai tersebut rnerupakan harga TBS optimum yang diterima petani setelah dikeluarkan Pajak Pertarnbahan Nilai (PPN) 10 persen. Perhitungan dilakukan berdasarkan data biaya produksi kebun rata-rata Rp 354.100 ribu per ton TBS (Rp 8.498.400lha lahan), biaya pengolahan TBS (PKS) rata-rata Rp 83.863 per ton TBS (Rp 419.318lton CPO). Biaya produksi kebun dan PKS didasarkan pada tingkat upah, harga pupuk, dan pajak yang berfaku hingga Mei 2000, serta menggunakan produktivitas rata-rata sebesar 24 ton TBSlha. rendemen CPO 20 persen dan rendemen PK 5 persen. Biaya produksi kebun dan pabrik sudah termasuk angsuran pinjarnan dan bunga.
Penerapan kebijakan harga TBS berdasarkan model OPTIMA di atas menghasilkan pendapatan bersih bagi PR sebesar 18,7 persen terhadap total biaya produksi atau dengan nilai nominal Rp 66.206 per ton TBS. Jika rata-rata luas perkebunan rakyat adalah 2 ha (48 tonltahun), maka PR mernperoleh pendapatan bersih Rp 3.177.91 5 per tahun. Bila dibandingkan dengan Kebutuhan Hidup Minimum yang ditetapkan oleh AD3 (As~an Development Bank) untuk pengembangan perkebunan pola PIR yaitu sebesar Rp 3.750.000, maka pendapatan bersih PR tersebut masih dibawah KHM
Sementara, PKS pada harga TBS wws tersebut memperoleh pendapatan bersih 15,6 persen atau dengan nilai nominal Rp 13.081 per ton TBS. Persentase pendapatan bersih PKS rata-rata lebih rendah 20 persen dari PR. Tinggjnya pendapatan PR dibandingkan PKS bukan berarti bahwa harga TBS wws yang dihasilkan oleh SPK AGROSAWIT tidak optimum. Hat tersebut disebabkan oleh perhitungan faktor resiko dirnana PR rnemiliki tingkat resiko yang lebih tinggi daripada PKS. Faktor resiko tersebut merupakan faktor yang ditambahkan dalam SPK AGROSAWIT sehtngga harga TBS yang dihasilkan
tidak sema-rnata ditentukan berdasarkan besaran biaya yang dikeluarkan oteh perkebunan dan PKS.
Bila dibandingkan dengan harga TBS aktuat yang diterima petani Surnatera Utara saat ini yaitu rata-rata Rp 405/kg, maka harga TBS wws yang dihasilkan SPK AGROSAWIT rata-rata lebih tinggi 3,89 persen.
Harga TBS wws yang dihasilkan oleh SPK AGROSAWIT relatif lebih tinggi dari harga TBS aktual disebabkan prinsip model penentuan harga TBS
wws (model OPTIMA) adalah pembagian keuntungan dan kerugian sesuaj dengan besarnya faktor resiko. Hasil analisis resiko menunjukkan bahwa resiko PR lebih tinggi dari PKS karena banyaknya faktor yang dapat menyebabkan kegagalan perkebunan seperti serangan hama dan penyakit tanaman dan daya tahan TBS sangat singkat ya~tu dibawah 24 jam. Berdasarkan faktor resiko yang tinggi tersebut maka PR layak menerima pendapatan yang lebih t~nggi.
Selain itu, pada saat harga GPO rendah maka baik PR maupun PKS sama-sama menanggung resiko tersebut. Hal ini sangat berbeda dengan penentuan harga TBS sebelumnya dimana PKS tidak rnenanggung resiko rendahnya harga CPO, artinya PKS minimum harus tetap mendapatkan pendapatan setara dengan BEP. Pada bulan Agustus 1999, harga TBS aktual Rp 310/kg yang rnenghasilkan pendapatan PKS positif 0,48 persen, sementara pendapatan PR minus 22,2 persen. Namun berdasarkan harga TBS wws Rp 398.91kg pendapatan PR minus 18.41 persen dan pendapatan PKS juga minus 15.56 persen. Karena adanya pernbagian resiko tersebut maka harga TBS wws lebih tinggi dari harga TBS aktual. Hal ini membuktikan bahwa model penentukan harga TBS wws lebih logis dan lebih adil dalarn pembagian keuntungan antara pihak perkebunan dengan PKS.
Berbeda dengan penentuan harga TBS yang digunakan saat ini yang hanya mempertirnbangkan faktor biaya dan penjualan di PKS, model OPTIMA selain mempertirnbangkan pihak pabrik juga mempertimbangkan pihak perkebunan atas kemungkinan perubahan produktivitas, perubahan harga input
(misalnya pupuk), kenaikan gajilupah dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup minimum. Faktor-faktor tersebut diuraikan seperti berikut ini.
(1) GajilUpah tenaga kerja
Pabrik Kelapa Sawrt (PKS) berkapasitas 30 ton TBSIjam rnembutuhkan lahan seluas 6.000 h a sebagai surnber bahan baku TBS. Jumlah tenaga kerja pemeliharaan perkebunan rata-rata sebanyak 3 orang per dua hektar tanaman kelapa s a w ~ t , sehingga dibutuhkan tenaga kerja sebanyak 4.000 orang. Jumlah tenaga kerja perkebunan jauh lebih banyak daripada tenaga kerja PKS r a h r a t a sebanyak 100-150 orang per pabrik, sehingga jika terjadi peningkatan upah tenaga kerja pabrik maka penambahan tersebut tidak berpengaruh nyata. Oleh karena itu dalam SPK AGROSAWIT perhitungan gajilupah pada tenaga kerja PKS yang sangat kecil sehingga dapat diabaikan, sedangkan pada perkebunan diperhitungkan karena pengaruhnya yang besar.
Upah Minimum Regional (UMR) yang berlaku di Sumatera Utara pada tahun 2000 sebesar R p 10.0001har1 atau Rp 2.4 jutaltahun (20 hari kerja selarna 12 buian). UMR iersebut belum dapat menutupi kebutuhan h ~ d u p m i n i m ~ ~ m (KHM) secara layak sehingga gaji/upah tenaga kerja secara ideal harus diupayakan untuk mencapai KHM. Berdasarkan standar internasional besarnya KHM adalah US$ 1.500ltahun. Pada kurs dollar saat ini sebesar Rp 8.000 maka
KHM setara dengan Rp 12 juta, narnun jika rnenggunakan kurs Rp 2.500
(standar ADB untuk pola PIR) maka KHM rnenjadi Rp 3.75 juta. Sementara Upail tenaga kerja yang diberlakukan di perkebunan Sumatera Utara rata-rata sama dengan UMR yang diberlakukan, berarti gajifupah tersebuh masih dibawah KHM. Berdasarkan ha1 tersebut sudah selayaknya gajilupah yang diter~ma tenaga kerja perkebunan minimum sama dengan KHM standar ADB yaitu sebesar Rp 3.75 juta/tahun.
Berpatokan pada KHM tersebut maka biaya produksi perkebunan (PR) meningkat sebesar Rp
1.35
juta per dua hektar atau Rp 28.125lton TBS, sehingga biaya produksi PR menjadi Rp 382.2271ton TBS. Berdasarkan penambahan KHM tersebut maka SPK AGROSAWIT menghasilkan harga TBSwws rata-rata Rp 425.000 per ton. Harga TBS wws ini rneningkat Rp 4.700 per ton dari harga TBS wws sebelurnnya tanpa adanya KHM yaitu Rp 420.300. Penarnbahan KHM ini menyebabkan pendapatan bersih pernilik perkebunan (PR) menurun menjadi 11.2 persen dan pendapatan pabrik juga menurun menjadi 10 persen. Sebelum adanya KHM pendapatan PR sebesar 18,7 persen sernentara PKS mernperoleh 15.6 persen, berarti pengaruh penarnbahan KHM cukup besar pengaruhnya terhadap penurunan pendapatan PR dan PKS. Namun tanaga kerja sudah selayaknya mendapatkan gaji/upah sesuai dengan besarnya KHM, karena pendapatan perkebunan dan pabrik masih layak bila ditambahkan KHM.
(2) Produktivitas dan kelas lahan
Produktivitas TBS sangat tergantung pada tingkat kesuburan lahan dan urnur tanaman. Pada tingkat kesuburan lahan kelas I produktivitas rata-rata sepanjang umur tanaman 24 ton TBSIha, kelas II rnencapai 22 ton TBSIha dan kelas 111 20 ton TBS/jarn. Biaya produksi perkebunan tidak berbeda nyata antara kelas I. II dan Ill. Biaya produksi di Sumatera Utara adalah sebesar Rp 354.100 per ton TBS dengan tingkat kesuburan lahan kelas 1 (24 ton TBS/ha), maka untuk perkebunan dengan kelas II biaya produksinya meningkat menjadi Rp 386.294,O per ton TBS. dan kelas I l l sebesar Rp 424.923 per ton TBS. Data tersebut menunjukkan bahwa produktivitas tanarnan sangat menentukan besarnya biaya produksi per ton TBS dan akan mempengaruhi pendapat bersih perkebunan. Atas pertimbangan tersebut rnaka di dalarn SPK AGROSAWIT ditarnbahkan variabel produktivitas di dalam penentukan harga TBS wws.
Hasil penentuan harga TBS wws setiap kelas lahan dapat dilihat pada Garnbar 19. Pada lahan kelas II diperofeh harga TBS wws yang lebih tinggi dari lahan kelas I yaitu sebesar Rp 426/kg, dan harga TBS wws lahan kelas Ill lebih tinggi dari lahan kelas li yaitu Rp 433/kg.
Walaupun harga TBS wws pada kelas II dan kelas Ill lebih tinggi dari kelas I, pendapatan bersih PR kelas I tetap lebih tinggi dari kelas [I, dan pendapatan PR kelas li lebih tinggi dari pendapatan PR kelas Ill. tni rnenunjukkan bahwa peningkatan harga TBS wws pada kelas lahan I I maupun
Gambar
19.
Harga TBS
wws pada Setiap Kelas Lahan
kelas
Ill
bukan untuk meningkatkan pendapatan petani tetapi lebih banyak
digunakan untuk rnenutupi biaya produksi yang tinggi. Bila pada khan kelas
I11
tetap diberlakukan harga TBS
wws seperti kelas
I
maka pendapatan PR pada
lahan kelas
Ill
menjadi minus
1,l
pemen, sementara PR pada lahan kelas
I
memperoleh pendapatan
18,7
persen dan PKS memperoleh
15,6
persen.
Ketimpangan tersebut dapat diperkecil dengan penerapan harga TBS
wws
yang
berbeda untuk setiap kelas lahan perkebunan. Oleh karena itu sudah sangat
tepat digunakan pertimbangan tingkat kesuburan atau produktivitas lahan dalam
penentuan harga TBS
wws. Dengan demikian, maka dalam penentuan harga
TBS tidak dapat disamakan untuk semua daerah karena setiap daerah memiliki
tingkat kesuburan lahan dan produktivitas yang berbeda-beda.
(1)
Rendemen
CPO
dan
PK
Rendemen CPO dan PK sangat tergantung pada umur tanaman dan
proses pengolahan di pabrik PKO. Rata-rata rendemen Pabrik di Sumatera
Utara sebesar
20
persen CPO dan
5
persen PK. Namun, untuk pabrik tertentu
atau lokasi lainnya diperoleh kisaran rendemen dari
18
persen hingga
22
persen
CPO dan
4
persen hingga
5
pemen rendemen PK. Berbeda dengan
KHM dan
Produktivitas TBS yang berpengaruh langsung kepada biaya produksi kebun
maka rendemen CPO dan PK berpengaruh langsung kepada b i y a produksi
PKS. Biaya produksi PKS di Sumatera Utara dengan rata-rata rendemen CPO
20
persen sebesar Rp
83.863
per ton TBS. Pada rendemen CPO
18
persen
biaya produksi meningkat menjadi Rp
93.182
per ton TBS, dan pada rendemen
CPO
22
persen biaya menurun menjadi Rp
76.240
per ton TBS. Semakin tinggi
rendemen CPO maka semakin rendah biaya produksi PKS.
Jika pada pabrik dengan rendemen rendah
(18 %)
diberlakukan ha,~a
TBS
wws
sebelumnya yaitu Rp
4201kg
TBS maka pendapatan PKS turun drastis
menjadi
4,05
persen dari sebelumnya
15.6
persen (rendemen
20
persen),
sementara petani PR tetap memperoleh pendapatan bersih
18,7
persen. Bahkan
jika rendemen PK juga turun dari
5
persen menjadi
4
persen maka pendapatan
PKS menjadi minus
13,69
%.
Untuk itu maka dalam SPK AGROSAWlT
rendemen CPO dan PK diantisipasi untuk menghasilkan harga TBS
wws
agar
pihak PKS tidak dirugikan. Hal tersebut juga menjadi pemicu agar PKS semakin
meningkatkan efisiensinya.
Hasil implementasi SPK AGROSAWlT terhadap perubahan rendemen
menghasilkan perubahan harga TBS
wws yang cukup signifikan seperti dapat
dilihat pada Gambar
20.
Harga TBS wws pada rendemen CPO
20
persen
sebesar Rp4201kg, sedangkan pada rendemen CPO
18
persen hatga TBS
wws turun menjadi Rp 4111kg dan pada rendemen 22 persen harga TBS wws naik menjadi Rp 427/kg. Turunnya harga TBS wws pada rendernen rendah sangat membantu PKS menutupi biaya produksinya yang tinggi, dan sebaliknya harga TBS wws yang tinggi pada rendernen tinggi dapat rnernbantu perkebunan meningkatkan pendapatan bersihnya. Ini menunjukkan bahwa pertirnbangan rendemen sangat layak diterapkan dalam penentuan harga TBS wws dimana ha1 ini sangat membantu kedua belah pihak baik perkebunan maupun PKS
(4) Harga Pupuk
Harga pupuk yang diberlakukan pada tahun 2000 tidak disubsidi pemerintah. Beberapa tahun sebelumnya harga pupuk disubsidi pemerintah sebesar 30 persen yang sangat rnembantu rneringankan beban biaya produksi perkebunan. Biaya produksi rata-rata perkebunan di Sumatera Utara pada Januari 1999-Mei 2000 sebesar Rp 354 ribu per ton TBS. Jika b~aya subsidi harga pupuk kembali diberlakukan 30 persen maka biaya perneliharaan tanaman turun dari Rp 2.847.500lha rnenjadi Rp 2.442.500lha. Turunnya biaya pemeliharaan ini menyebabkan turunnya total biaya produksi menjadi Rp 337.227lton TBS.
Berdasarkan data biaya produksi tersebut SPK AGROSAWIT menghasilkan harga TBS wws Rp 416/kg TBS. yaitu sedikit menurun dari harga TBSwws sebelumya Rp 420lkg. Harga TBS
wws
ini rnenghasilkan peningkatan pendapatan bagi PR meojadi23,63
persen dan peningkatan pendapatan PKS menjadi 19-66 persen. tni menun~ukkan bahwa penurunan harga pupuk dapat meningkatkan pendapatan kedua belah pihak baik perkebunan maupun PKS. Oleh karena itu perkebunan dan PKS sama-sama berkepentingan dan diuntungkan oleh adanya penurunan harga pupuk.Perubahan harga pupuk juga sangat dipengaruhi oleh fluktuasi kurs rupiah terhadap dollar. Pada tahun 1997 yaitu sebelurn adanya penurunan kurs rupiah secara tajam harga pupuk
NPK
Rp 1.200/kg narnun pada tahun 2000 harganya rnenjadi Rp 3.000lkg. Rata-rata telah terjadi peningkatan harga pupuk yang d~gunakan oleh perkebunan sawit sebesar 150 persen dari tahun 1997 ketahun 2000. Bila rnasih akan terjadi kenaikan harga pupk hingga 30 persen tanpa diiringi oleh kenaikan harga CPO dan PK sebagai salah satu penentu dalarn penentuan harga TBS rnaka SPK AGROSAWIT menghasilkan harga TBS wws sebesar Rp 422Ikg TBS. Harga TBS wws ini lebih tinggi dari harga TBS wws sebelurnnya yaitu Rp 420/kg, namun pendapatan PR juga turun menjadi 15,78 persen. Ini berarti naiknya harga TBS wws tersebut tidak untuk
meningkatkan pendapatan perkebrrnan tetapi lebih kepada memperkecil penurunan pendapatannya. Pendapatan PKS juga menurun menjadi 1 3 , l l
persen yang berarti PKS ikut menanggung akibat naiknya harga pupuk.
Dua kasus di atas menunjukkan bahwa penurunan harga pupuk atau biaya produk perkebunan akan rnernberikan keuntungan tidak hanya pada perkebunan tetapi juga pada PKS. Ini berarti bahwa perkebunan ikut membantu rneningkatkan pendapatan PKS. Sebaliknya kenaikan harga pupuk atau biaya produksi perkebunan tidak menyebabkan penurunan pendapatan perkebunan secara drastis tetapi diimbangi oleh peningkatan harga TBS yang ikut menurunkan pendapatan PKS sebagai partisipasi PKS terhadap perkebunan. Oleh karena itu penentuan harga TBS wws dengan marnasukkan pertirnbangan harga pupuk sangat layak dilakukan karena saling rnenguntungkan kedua belah pihak baik perkebunan rnaupun PKS.
Pengaruh perubahan gajilupah tenaga kerja, produktivitas dan kelas lahan, rendemen CPO dan PK serta barga pupuk terhadap penerimaan bersih
P R
dan PKS secara keseluruhan dapat digarnbarkan pada Garnbar 19. PR dan PKS rnemperoleh pendapatan tertinggi pada saat harga pupuk turun30
persen, atau pada saat rendemen CPO 22 persen. Sebaliknya pendapatan terendah diperoleh bila tingkat kesuburan lahan adalah kelas Ill. Maka untuk tetap rnernpertahankan atau meningkatkan pendapatan PR dan PKS diperlukan upaya rnendorong penerapan teknologi yang dapat rneningkatkan rendernen CPO dan PKO dan perlunya dibatas~ pernbukaan lahan baru kelapa sawit di areal kelas Ill dan kelas IV. Analisis perbandingan margin perkebunan dan pabrik pada kelas lahan, rendemen, dan perubahan harga pupuk terfihat pada Gambar 21Gambar
21.
Hasil SPK AGROSAWIT terhadap Berbagai Perubahan Faktor
pada Kondisi
wws
Hasil implementasi SPK AGROSAWIT pada model OPTIMA di atas
rnenunjukkan bahwa konflik kepentingan antara pekebunan dengan PKS
sebagai salah satu pertnasalahan dalarn pengembangan AGROSAWIT telah
dapat dibuktikan berhasil diperkecil. Bahkan penggunaan model OPTIMA dapat
memberikan manfaat yang saling menguntungkan bagi kedua b l a h pihak
terhadap kernungkinan adanya perubahan biaya produksi yang disebabkan oleh
perubahan biaya pupuk, produktifitas, dan rendemen,
serta
gejolak harga CPO
maupun PKS. Penerapan rnodet OPTIMA akan dapat mewujudkan sistem perkebunan rakyat yang terpadu dengan kegiatan agroindustri (PKS) dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata dan proporsional.
7.2.2. Aplikasi Teknologi dart Pengolahan Lirnbah.
Seperti diuraikan pada Bab II, bahwa aplikasi teknologi dalam pengembangan AGROSAWIT dapat dikelompokan menjadi teknologi pernbibitan, budidaya dan teknologi pengolahan. Aplikasi teknologi pembibitan tersebut bertujuan untuk peningkatan produktivitas, memperpanjang umur tanaman menghasilkan. menjngkatkan rendernen, dan meningkatkan kualitas rninyak. Terdapat 12 varietas bibjt unggul kelapa sawit yang telah digunakan secara kornersial, dan bibit hasil kultur jaringan yang telah digunakan secara terbatas. Keunggulan teknologi bibit dinilai dari 5 (lirna) kriteria. yaitu: umur tanaman rnenghasilkan, produksi TBS, potensi minyak yang dapat diekstraksi (Oil Extractior~
Rate,
OER), produksi GPO, dan produksi inti sawit. Kriteria harga bibit tidak berpengaruh secara nyata karena jumlahnya sangat kecil dibandingkan total investasi perkebunan secara keseluruhan.lmplementasi teknologi pembibitan di dalam SPK AGROSAWIT menghasilkan rangking teknologi pembibitan seperti tampak pada Gambar 22, yang didasarkan pada perhitungan rata-rata produktivitas dan rendernen CPOlPK yang dihasilkan oleh setiap bibit dan lama umur tanaman menghasilkan
Hasil pada gambar tersebut rnenunjukkan bahwa teknologi pernbibitan Socfin menghasilkan pendapatan bersih PR dan PKS tertinggi, disusul oleh Darni dan Londsurn. Sernakin unggul teknologi yang digunakan semakin tinggi pendapatan yang diperoleh oleh perkebunan dan PKS. Pendapatan dengan menggunakan teknologi yang paling baik (Socfin) cukup signifikan bila dibandingkan dengan teknologi pembibitan lainnya seperti Marihat, SP2. Rispa dan S P I . Gambar 22 tersebut juga menunjukkan bahwa kualitas bibit bukan hanya ditentukan oleh produktivitasnya dalam rnenghasilkan TBS tetapi juga
Gambar
22.
Perkiraan Majin Keuntungan Perkebunan dan PKS Setiap
Aplikasi Tekndogi
ditentukan oleh rendemen CPO dan rendemen PK yang dihasilkan.
Bibi
Marihat misalnya, produktivitasnya lebih rendah dari bibit Bah Was, namun
karena rendemen PK-nya lebih tinggi maka pendapatan bersih PR dan PKS
yang diperoleh lebih tinggi dari bibit Bah Was.
Hasil analisis di atas menunjukkan adanya perbedaan yang cukup nyata dari
penggunaan teknologi bibit terhadap peningkatan pendapatan perkebunan dan
PKS. Perbedean yang nyata antar setiap teknologi pembibitan menyebabkan
perlunya penerapan keb~jakan
pembibin untuk pengembangan agroindustri
kelapa sawit di Indonesia. Dalam ha1 ini, SPK AGROSAWlT dapat menyeleksi
teknologi pembibitan sekaligus untuk menetapkan harga
TBS
wws untuk
masing-masing teknologi tersebut.
Pada teknologi pengolahan TBS terdapat teknologi baru Sawit Fuzzy
Control (SFC) hasil kajian BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) yang diverifikasi didalam SPK AGROSAWIT. Berdasarkan data teknik dan uji coba FSC di PKS menunjukkan bahwa teknologi tersebut dapat meningkatkan kapasitas olah pabrik sebesar 20 persen yaitu dari 30 ton TBSIjarn menjadi 36 ton TBS/jam, sehingga menurunkan biaya produksi dari Rp 84/kg TBS rnenjadi Rp 70lkg TBS. Selain itu juga dapat meningkatkan rendemen dari 20 persen CPO menjadi 21,05 persen. Penambahan mesinlalat SFC tersebut hanya memerlukan tambahan biaya produksi Rp 0,29/kg TBS. Melalui lrnplementasi
S f K AGROSAWIT, teknologi SFC ternyata dapat meningkatkan pendapatan PKS dari 15,6 persen menjadi 23,4 persen. Meningkatnya pendapatan P K S sekaligus dapat meningkatkan pendapatan PR dari 18,7 persen menjadi
28,l
persen melalui perubahan harga TBS wws dari Rp 420/kg menjadi Rp 453/kg. Dengan demikian, maka SPK AGROSAWIT selain dapat rnengantisipasi perubahan harga pupuk, KHM tenaga kerja, produktivitas dan rendemen juga berhasil rnengantisipasi aplikasi teknologi pernbibitan dan pengolahan. Aplikasi teknologi baik di perkebunan maupun di PKS sama-sama dapat dinikmati oleh perkebunan dan PKS, bahkan' juga dapat memberikan kontribusi kepada peningkatan pendapatan pemerintah melalui pajak Pph progresif dan tenaga kerja mefalui peningkatan KHM. Sebaliknya dengan menggunakan rumus Jndeks K untuk penentuan harga TBS, setiap aplikasi teknologi yang tidak terkait dengan rendemen keuntungannya hanya dinikrnati oleh PKS. Demikian juga halnya dengan aplikasi teknologr pembibitan dan budidaya yang tidak meningkatkan produktivitas TBS tidak dapat diakomodir oleh rumus lndeks K karena penentuan harga TBS yang dinilai adalah rendemen potensial yang hanya didasarkan pada umur tanaman.
Lirnbah yang dihasilkan oleh PKS terdiri dari lirnbah cair dan limbah padat. Limbah padat yang dihasilkan berupa tandan kosong, sabut, dan cangkang. Lirnbah juga dapat berasal dari perkebunan, terutama limbah pelepah dan dan batang sawit. Pelepah dapat digunakan sebagai pupuk dan bahan baku pulp, sedangkan batang dapat dimanfaatkan sebagai bahan meubelir dan
papan partikel. Pernanfaatan limbah yang berasal dari perkebunan ini belum dilaksanakan karena secara ekonomis belum menguntungkan.
Pernanfaatan teknologi penanganan lirnbah sebagian besar belum diaplikasikan oleh PKS. Pada tahun 2000. PKS baru dapat mengolah limbah cair untuk menurunkan BOD hingga 200 ppm untuk mengurangi pencemaran lingkungan yang dipersyaratkan oleh pemerintah, dan memanfaatkan sabut dan cangkang sebagai sumber energi pengganti solar. Beberapa penelitian telah dapat rnemanfaatkan limbah cair rnenjadi pupuk, tandan kosong untuk pulplkertas dan briket, dan tandan kosong untuk muisa (pupuk).
lmplementasi menggunakan SPK AGROSAWIT menunjukkan bahwa teknologi pernanfaatan tandan kosong menjadi pulp dapat meningkatkan persentase pendapatan bersih PR sebesar 1,23 persen dari sebelumnya 18,7 persen, dan meningkat pendapatan bersih PKS sebesar 1,02 persen darl sebelumnya 15,6 persen. Teknologi penanganan limbah lainnya belum dapat meningkatkan pendapatan bersih PR dan PKS walaupun secara terpisah teknologi tersebut cukup layak. Ini dapat terjadi karena keuntungan penanganan limbah tersebut secara terpisah masih lebih kecil daripada keuntungan PKS sebelum aplikasi teknologi tersebut, sehingga pengintegrasian PKS dan penanganan limbah rnenyebabkan pendapatan bersih yang dihitung dengan rata-rata tertimbang lebih rendah dari pendapatan PKS secara terpisah. Ini menunjukkan bahwa SPK AGROSAWIT dapat menyeleksj teknologi yzng akan diintegrasikan dengan PKS.
Pernerintah juga dapat menggunakan SPK AGROSAWIT untuk rnerekomendasikan teknologi penanganan limbah yang harus diterapkan oleh PKS berdasarkan pertimbangan pendapatan bersih
yang
diperoleh oleh perkebunan dan PKS. Keputusan terbaik menerapkan teknologi penanganan lirnbah adalah jika teknologi tersebut dapat mencapai kriteria BOD (khusus lirnbah cair) dan mampu meningkatkan persentase pendapatan bersih PKS dan perkebunan, seperti misalnya teknologi pemanfaatan tandan kosong menjadi7.3.
Darnpak
RegionalDampak pengembangan AGROSAWIT terhadap perekonomian daerah dapat diukur dari penarnpungan tenaga kerja, penerirnaan pajak, dan aliran dana yang rnasuk ke daerah dari hasil penjualan produk AGROSAWIT (darnpak ekonorni).
7.3.1.
Distribusi Pendapatan Pemerintah.Distribusi pendapatan pemerintah ditunjukkan oleh besarnya penerimaan yang diperoleh dari pajak. Surnber penerimaan pajak pemerintah pusat terhadap agroindustri kelapa sawit terdiri pajak PPN sebesar 10 persen dari penjualan CPO dan PK, pajak Pph yang bersifat progresif mulai dari
15,
25 dan 35 persen dari keuntungan bersih perkebunan dan PKS, dan pajak ekspor CPO dan PK. Sumber penerirnaan pemerintah daerah terutarna dari PBB dan ditambah dengan restribusi yang jenis dan jumlahnya berbeda untuk setiap kota/kabupaten dan propinsi.Besarnya distribusi pendapatan yang diterima oleh perner~ntah khususnya di Sumatera Utara pada tahun 1999 berdasarkan harga TBS. CPO dan PK yang berlaku saat itu adaiah Rp 1,37 trilliun, dengan rincian seperti dapat dilihat pada Tabel 7. Narnun Jika diterapkan harga TBS
wws
hasil dari SPK AGROSAWiT maka terjadi perubahan kontribusi perkebunan dan PKSdalarn pernbayaran Pph.
Pada harga TBS aktual. kontribusi PKS terhadap Pph sebesar 38.57 persen yang menurun rnenjadi 18,19 persen bila digunakan harga TBS
wws.
Kontribusi perkebunan terhadap Pph pada harga TBS aktual sebesar 61.43 persen dan rneningkat rnenjadi 81,80 persen pada harga TBS
wws.
Peningkatan kontribusi perkebunan disebabkan harga TBS
wws
lebih tinggi daripada harga aktual sehingga perkebunan memperoleh peningkatan pendapatan bersih dan sebaliknya PKS rnernperoleh penurunan pendapatan bersih. Peningkatan pendapatan perkebunan tersebut menyebabkan rnereka mernbayar pajak Pph rnenjadi lebih besar dan penurunan pendapatan PKSmengakibatkan penurunan pembayaran Pph. Perubahan kontribusi tersebut rnenyebabkan sedikit penurunan pada perolehan Pph total dari Rp 323,9 rnilyar rnenjadi Rp 316,4 milyar, namun distribusi total pendapatan pemerintah tidak berubah secara signifikan. Ini menunjukkan bahwa pada harga TBS wws pernerintah tidak dirugikan secara berarti. Sebaliknya jika ditinjau dari darnpak perekonornian daerah, perberlakuan harga TBS wws mernberikan darnpak yang cukup berarti. yaitu: rneningkatkan pendapatan PR dari 14,23 persen rnenjadi 18,7 persen.
Tabel 7. Distribusi Perkiraan Potensi Pendapatan Pemerintah Tahun 1999 dalarn Juta Rupiah (Kasus Sumatera Utara).
J e n ~ s P a ~ a k - -PBB - PPh Pph Pabnk Pph Kebun -- P P N PE
Simulasi SPK AGROSAWtT juga rnenunjukkan bahwa pada harga TBS wws R p 354fkg distribusi pendapatan yang diperoleh pernerintah adalah ---
Jurnlah
--
1
1.3647341
2.924terkecil bila dibandingkan dengan harga TBS wws yang lebih tinggi. Ini dapat
Kondisi Saat In1
Penrimaan pajak
terjadi karena pada harga TBS tersebut perkebunan dan PKS hanya
Kondisi P P Nomor 2 5 Tahun 2000 Harga Aktual Harga wws
791.454
I
568 261 1.360.1 1 1 1.357.1871
2.929t.360.111 7.367658
mernperoleh pendapatan setara dengan BEP, artinya balk perkebunan maupun
Harga aktual Pusat 0 64.782 24.986 39.796 650.155
,
78.062 792.999/
574.299 1.367.658PKS memperoleh keuntungan bersih nol, sehingga mereka terbebas dari
Pusat 0 323.910 124.930 198.980 650.515 390.309 Harga wws Daerah Pusat 2.924 259.128 99.944
1
1 1 515 159.184 51.758 0 650.155 312.247 78.062/
3122471 pembayaran pajak Pph. Daerah 2.924 0 0 0 0 0 Pusat 0 316.363 57.573 258.790Distribusi pendapatan pemerintah akan semakin tinggi jika harga TBS
Daerah 2.924
,
00 0
wws berada di atas Rp 354/kg. Namun pada harga TBS yang lebih rendah
0 650.515
1
390.309
1
pemerintah mernperoleh pendapatan relatif tetap yang besarnya sama dengan pendapatan pernerintah pada harga R p 354/kg, sementara perkebunan dan
PKS menderita kerugian. lni terjadi karena perkebunan tetap harus membayar PBB, PPN, dan PE tanpa ada kaitannya dengan keuntungan yang diperoleh seperti pajak Pph.
Berdasarkan uraian di atas, maka Model TAX01 menunjukkan bahwa pemerintah tidak dirugikan bila menerapkan SPK AGROSAWIT penentuan harga TBS wws. Selajn itu, SPK AGROSAWIT dapat digunakan untuk menentukan besaran pajak atau keringanan pajak yang dibebankan kepada perkebunan dan PKS dengan prinsip saling menguntungkan. Ofeh karena itu. pemerintah dapat menggunakan SPK AGROSAWlT secara efektif untuk mernperhitungkan besaran dan jenis pajak yang layak dipungut oleh pemerintah dari usaha agroindustri dalam rangka meningkatkan pelayanannya terhadap Sistern AGROSAWlT pada khususnya dan pelayanan masyarakat pada urnumnya.
Hasil analisis dan pernbahasan di atas menunjukkan bahwa Sistern Penunjang Keputusan Pengembangan Agroindustri Kelapa Sawit (SPK AGROSAWIT) dan Model Gobal Optimum (Model GO-AGRO) dapat mengakomodir dinamika yang tdrjadi dalam struktur biaya perkebunan dan PKS. Harga TBS wws yang dihasilkan dapat menciptakan kondisi harmonis dan mereduksi konflik kepentingan pihak-pihak yang tercakup dengan pengembangan sistern agroindustri, yaitu petani, pelaku usaha perkebunan. pelaku usaha agroindustri, pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat.
Atas dasar kernampuan tersebut maka Model GO-AGRO dapat digunakan oleh Pemerintah Pusat dan Pernerintah Daerah untuk menetapkan kebijakan strategis yang dapat rnemberikan kondisi win-win solution bagi pihak-
pihak yang terkait dengan pengembangan agroindustri hasii perkebunan. Bagi pelaku usaha, model GO-AGRO dapat dirnanfaatkan oleh pelaku usaha untuk menentukan kebijakan strategis dan operasional dalam mengelola usahanya agar tetap layak dan terintegrasi secara sosjal dengan masyarakat setempat. Model GO-AGRO layak digunakan oleh kelompok masyarakat perkebunan
(koperasi) untuk menentukan posisi tawar mereka sewaktu bernegosiasi dengan pelaku usaha tentang kebijakan operasional usaha agroindustri agar tercipta sistem agroindustri secara terpadu.
Selain itu, dengan berlangsungnya proses otonomi daerah, rnaka Model GO- AGRO dapat digunakan sebagai rujukan penentuan besarnya pajak yang menjadi wewenang pemerintah pusat dan pemerintah daerah sesuai dengan bobot tanggung jawab yang dirniliki dalarn pengembangan agroindustri. Dalarn memasuki era globalisasi, Model GO-AGRO dapat digunakan untuk mernberikan inforrnasi dalam memperhitungkan besarnya pajak ekspor CPO yang layak dipungut oleh pemerintah dari usaha agroindustri tanpa menurunkan daya saing di pasar internasional.
Bentuk tarnpilan program aplikasi SPK AGROSAWIT yang mencakup menu-menu user
interface dan tarnpilan hasil olahan setiap model GO-AGRO
dapat dilihat pada Larnpiran 12. Tampilan hasil program aplikasi tersebut dapat d~lihat terdiri dari teks, tabel dan grafik yang siap dicetak ke printer bila diinginkan oleh pengguna. Pengguna dapat menelusuri jenjs-jenis kebijakan wws yang diinginkan yang telah disajikan dalam menu-menu pilihan yang dirangcang secara user friendly untuk memudahkan interaksi antara penggunadengan program aplikasi SPK AGROSAWIT. Disamping itu juga tersedia bantuan bagi pengguna dalam bentuk "Help" yang menyediakan panduan penggunaan dan cara-cara mengatasi masalah saat penggunaan program aplikasi tersebut.
7.3.2.
KetenagakerjaanBerdasarkan kondisi tahun 2000, setiap hektar perkebunan kelapa sawit rata-rata menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 0.67 tenaga kerja dan setiap 6.000 ha kebun rnensuplai PKS dengan kapasitas 30 ton TBS/jam yang menampung tenaga kerja sekitar 150 orang. Dengan demikian, setiap hektar kebun sawit menarnpung tenaga kerja langsung sebanyak 0,695 (termasuk tenaga kerja pabrik). Komposisi tenaga kerja AGROSAWIT terd~ri didominasr ~ d e h karyawanlburuh. Komposisi penyerapan tenaga kerja di Sumatera Utara
tahun 1999 teridiri dari karyawantburuh 98,02 persen, sisanya adalah staf administrasi 0,79 persen, staf direksi 1.00 persen, dan direksi 0.18 persen.
Berdasarkan data Ditjen Perkebunan, luas areal tanaman kelapa sawit 1:ahun 1999 adalah 2.957.079 berarti akan menampung tenaga kerja sebanypk 2.055.170 orang. Sebagian besar tenaga kerja yang ditampung AGROSAWIT t~erada di Luar Pulau Jawa (99.27 persen). 91.77 persen diantaranya berada di Pulau Sumatera. Secara rinci distribusi daya penyerapan tenaga kerja AGROSAWIT terlihat pada Tabel 8.
Peningkatan aplikasi teknologi budidaya akan rnengurangi daya serap tenaga kerja untuk AGROSAWIT. Dampak aplikasi tekologi budidaya di Malaysia pada tahun 1998 rneningkatkan produktivitas tenaga kerja perkebunan, sehingga setiap hektar kebun hanya membutuhkan
0,l
orang tenaga kerja sementara produktivitas kebun tidak berubah secara berarti. Kebijakan tersebut dilaksanakan karena keterbatasan tenaga kerja. Bagi Indonesia kebijakan mekanisasi perkebunan belum rnendesak untuk dilaksanakan, selain untuk mernpertahankan daya serap tenaga kerja juga atas pertimbangan bahwa program mekanisasi tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas.7.3.3.
P e n d a p a t a n Daerah d a n P e n g a r u h l n v e s t a s iPendapatan daerah dari pengembangan AGROSAWIT berupa pendapatan langsung. yaitu pajak dan retribusi, serta pendapatan tidak langsung berupa kemarnpuan AGROSAWIT rnendayagunakan surnberdaya domestik untuk rnendorong perekonomian daerah. Seperti diuraikan pada sub bab 7.1.4. (Tabel 7) bahwa penerimaan pajak bagi PEMDA untuk setiap ton CPO dengan harga TBS wws berdasarkan sistem perpajakan sekarang setelah berlakunya PP Nomor 25 tahun
2000
masing-masing sebesar Rp.1.163
dan Rp. 432.828.dengan rnenggunakan dasar perhitungan tersebut. potensi penerirnaan pajak bagi PEMDA secara nasional setelah berlakunya PP Nornor 25 tahun
2000
meningkat dari Rp. 7,405 milyar menjadi Rp. 2,757 trilyun. Perkiraan peodapatan pajak masing-masing daerah dari AGROSAWIT dapat dilihat pada Tabel 9.
Dengan demikian, pengembangan AGROSAWIT dapat dijadikan angroindustri unggulan untuk rneningkatkan perekonomian daerah sekaligus sebagai sumber penghasil devisa, sehingga peran AGROSAWIT dalarn pernbangunan nasional semakin nyata.
Tabel 9. Perkiraan Potensi Penerimaan Pajak dari AGROSAWIT
7.4. Strategi Pengembangan Agroindustri
Ketapa
SawitPada penelitian ini, sub industri perkebunan kelapa sawit (perkebunan) dan sub industri pengolahan TBS rnenjadi CPO dan PK (PKS) dipandang sebagai satu kesatuan dalarn satu sistem. yaitu sistern agroindustri kelapa saw~t (Sistem AGROSAWIT) dengan tujuan utama untuk rneningkatkan pendapatan masyarakat (rakyat pekebun, pelaku usaha dan rnasyarakat setempat), perekonomian daerah dan perekonomian nasional. Sebagai suatu sistem, perkebunan dan PKS harusnya dapat saling berinteraksi secara sinergis agar tujuan-tujuan yang hendak dicapai dapat diwujudkan semaksirnum rnungkin.
Namun, sebagaimana hasil analisis sistern pada Bab V, diketahui bahwa terdapat perrnasalahan antara kedua subs~stern tersebut yang bersurnber pada penetapan harga TBS, dan perrnasalahan lainnya yang berkaitan dengan aktor- aktor yang berkepentingan dengan AGROSAWIT (pernerintah pusat, pernerintah daerah. tenaga kerja, dan rnasyarakat luas) yaitu rnasalah perpajakan, teknologi, penanganan limbah, gajilupah tenaga kerja dan harga pupuk. Sernua perrnasalahan tersebut akhirnya dapat rnenirnbulkan konflik sehingga interaksi antar subsistern rnengalarni ketidakharrnonisan. Atas dasar perrnasalahan tersebut telah dirancang bangun dan diverifikasi model kuantitatif GO-AGRO yang terintegrasi di dalam SPK AGROSAWIT sebagai salah satu strategi mengatasi konffik, khususnya untuk rnenghasilkan kebijakan wws terhadap harga TBS perpajakan, teknologi. penanganan Iimbah, gajilupah tenaga kerja dan harga pupuk.
Dalam upaya rnengotirnurnkan tujuan Sistern AGROSAWIT, rnaka disarnp~ng penerapan kebijakan wws model GO-AGRO diperlukan puta strategi pengernbangan AGROSAWIT untuk rnendorong perekonomian daerah yang mencakup peningkatan kesempatan kerja, peningkatan pendapatan rnasyarakat di daerah, peningkatan pendapatan pernerintah daerah. dan peningkatan kualitas lingkungan, sosial dan budaya daerah seternpat. Perancangan strategi didasarkan pada prinsip pareto optimum, yaitu peningkatan kepuasan suatu kelornpok rnasyarakat tanpa rnengurangi kepuasan kelornpok rnasyarakat lainnya. Dengan dernikian rnaka strategi pengembangan AGROSAWIT untuk perekonornian daerah tidak boleh rnengorbankan pendapatan para pelaku usaha perkebunen dan PKS.
Strategr pengernbangan AGROSAWIT dalarn penelitian ini dirurnuskan dari kornbinasi kebijakan wws yang dihasilkan oleh SPK AGROSAWIT dan berbagai pendapat pakar yang diperoleh dengan rnenggunakan teknik A H P (Analytical Hierarchy Process), ISM (lntrepretative Structural Method), dan MPE (Metode Perbandingan Eksponensial). Teknik-teknik tersebut rnerupakan alat
(tool) yang valid digunakan untuk rnendapatkan keputusan strategis dari permasalan yang bersifat kompleks dan lintas sektoral dan membutuhkan pemecahan masalah secara lintas disiplin sehingga dapat dihasilkan keputusan yang komprehensif. seperti halnya dengan karakteristik dari Sistem AGROSAWIT (dianalisis pada Bab V)
Kehandalan dan efektifitas SPK AGROSAWIT dapat diverifikasi dari luas cakupan faktor yang dikuantitatifkan dan disirnulasikan oteh model GO-AGRO. Semakin luas cakupan faktor yang digunakan dj dalarn rekayasa model maka semakin dekat model tersebut dengan kondisi nyata. Dalarn ha1 ini, Faktor yang dapat dijadikan acuan adalah hasil s u ~ e i pendapat pakar yang rnenunjukkan terdapat 53 faktor yang mempengaruhi AGROSAWIT. Seluruh faktor tersebut mencakup tentang lahan, pernbibitan. budidayalperkebunan. dan pengolahan TBS/PKS, seperti dapat dillhat pada Lampiran 13. Model GO-AGRO telah mentrasformasikan 40 dari 53 faktor tersebut ke dalam model maupun submodel. yang rnenunjukkan bahwa luas cakupan analisis di dalarn proses penentuan kebijakan wws SPK AGROSAWIT telah memadai. Adapun 13 faktor lainnya belurn diintergrasikan ke dalam model, tetapi digunakan sebagai bahan rnasukan dalam penyusunan strategi AGROSAWIT. Dengan demikian strategi pengembangan AGROSAWIT yang djrancang dengan rnenggunakan SPK AGROSAWIT menjadi lebih lengkap. Setidaknya, bila dibandingkan dengan Model lndeks K yang saat ini diberlakukan, yaitu rnenggunakan 13 faktor dan sarna sekali tidak mengindahkan faktor perubahan biaya perkebunan (Lampiran,
15), maka Model GO-AGRO tefah lebih baik menggarnbarkan kondisi nyata. Sementara efektifitas SPK AGROSAWIT dapat diukur dari seberapa besar bobot pengaruh dari faktor-faktor yang digunakan dalam rnendorong keberhasilan pengembangan AGROSAWIT. Pada keseluruhan faktor tersebut yang telah dirangking menjadi 24 peringkat (Lampiran 14), terdapat beberapa faktor yang rnemiliki bobot pengaruh tertinggi yaitu keamanan berusaha sebagai faktor yang berbobot tertinggi, disusul oleh tingkat suku bunga, ketersediaan TBS, harga TBS, harga CPO dan PKO, serta sumber pendanaan. Dari faktor- faktor utama tersebut, hanya faktor keamanan berusaha yang belurn terintegrasi
ke dalarn Model GO-AGRO. Tingginya bobot faktor keamanan berusaha dalarn pengembangan AGROSAWIT disebabkan antara lain ofeh periode tanaman rnulai menghasilkan cukup lama (5 tahun sejak pernbukaan lahan), rnerupakan investasi jangka panjang (sarnpai tanarnan berurnur 25 tahun), dan melibatkan masyarakat dalam jurnlah banyak yang berpotensi tirnbulnya ganguan sosial.
Secara detil dapat ditelusuri peringkat bobot setiap faktor pada masing- masing aktivitas kelapa sawit. Pada aktivitas penyediaan lahan, faktor yang berperingkat tinggi adalah harga dan status kepernilikan lahan. Keberhasilan pembibitan sangat ditentukan oleh kernampuannya dalarn meningkatkan produktivitas tanarnan. Keberhasilan usaha budidayalperkebunan kelapa sawit ditentukan oleh ketersediaan dana. tingkat suku bunga, sistem pengembalian modal, serta faktor keamanan berusaha. Pada aktivitas pengolahan oleh PKS sangat dipengaruhi oleh kearnanan berusaha, tingkat suku bunga, ketersediaan dan harga TBS, serta harga CPO dan PK (Lampiran 13).
Dominannya faktor produktivitas tanarnan dalam aktivitas pembibitan disebabkan karena produktivitas tanarnan kelapa sawit dapat secara signifikan mernpengaruhi pendapatan perkebunan dalam penjualan TBS. Hal ini dapat dilihat dari hasil SPK AGROSAWIT untuk pernilihan teknologi pembibitan yang telah diutarakan sebelurnnya, rnenunjukkan bahwa perubahan produktivitas TBS dari rata-rata 24 ton TBSIhalthn rnenjadi 28,s tonlhalthn dapat meningkatkan pendapatan perkebunan dari 18.7 persen rnenjadi 68,s persen. Sementara dominannya rnasalah pendanaan pada usaha perkebunan selain disebabkan oleh tingginya investasi yang dibutuhkan oleh perkebunan (sekitar Rp 15 jutalha), juga disebabkan periode yang dibutuhkan untuk pelunasan modal pinjaman yang cukup lama (15 tahun untuk Perkebunan Rayat pola PIR). Sistem AGROSAWIT yang kompleks rnembutuhkan alat analisis jenjang keputusan (AHP) untuk rnencari prioritas strategi pengembangan AGROSAWIT berdasarkan atas pertimbangan berbagai faktor, aktor dan tujuan. Hasil analisis pendapat pakar tersebut rnenunjukkan bahwa (Garnbar 23) bahwa faktor ketersediaan modalldana dan faktor kondisi pasar rnerupakan faktor yang
iBlJAKAN PENGEMBANGAN AGROSAW
II
I
I
I.
1
I
1
PR
W
N
PABPKSTK
W A.
0,0041 0,1749 0,1645 0 . W 0,0784I
I I I I I IGambar
23.
Hasil Analisis AHP AGROSAWIT
Pada jenjang aktor, menunjukkan bahwa pemerintah pusat dan
pemerintah daerah masih dominan pengaruhnya
t h a d a p
keberhasilan
pengembangan
AGROSAWIT, sendangkan rakyat pekebun, tenaga kerja den
masyarakat s e k i r lokasi usaha perannya masih dianggap rendah. Analisii
AHP juga menunjukkan bahwa tujuan yang hendaknya menjadi prioritas adalah
peningkatan pendapatan pekebun dan pendapatan tenaga kerja. Pada tahap
akhir AHP diperoleh hasil tentang strategi yang dibutuhkan untuk pengembangan
AGROSAWIT adalah penetapan harga TBS, gajiiupah dan perpajakan yang
menunjukkan prioritas yang tinggi. Hasil AHP selengkapnya dapat dilihat pada
Gambar
23.
Faktor kondisi pasar yang dominan dalam analisis AHP di atas karena
CPO dan PK merupakan sumber utama minyak nabati, khususnya di Indonesia
Faktor kondisi pasar yang dorninan dalam analisis AHP di atas karena CPO dan PK merupakan sumber utama minyak nabati, khususnya di Indonesia hampir sekitar 80 persen minyak goreng berasal dari bahan baku CPO. Di pasar dunia, minyak sawit menguasai 20 persen pangsa pasar minyak nabati yang menunjukkan bahwa terdapat persaingan yang ketat dengan produk substitusi terutama minyak kedelei.
Peran pemerintah yang masih dominan dalarn pengembangan AGROSAWIT disebabkan faktor-faktor mempengaruhi AGROSAWIT (infrastruktur, sumber daya alam, pasar, sumber daya manusia, dan ketersediaan modal) sebagian besar datam penguasaan atau minimal sangat ditentukan oleh kebijakan pernerintah. A k t o ~ lainnya belum dapat mengimbangi pengaruh pemerintah dalarn rnengendalikan faktor-.faktor tersebut. Mulai diberlakukannya Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang kewenangan pusat dan daerah, rnaka strategi yang penting dilaksanakan adalah mentransformasikan berbagai kewenangan yang sesuai dengan peraturan pemerintah tersebut untuk ditaksanakan di daerah agar pengembangan AGROSAWIT di daerah lebih sesuai dengan kondisi dan keinginan masyarakat
setempat.
Tujuan untuk peningkatan pendapatan perkebunan dan tenaga kerja sebagai prioritas dalam AGROSAWIT hendaknya dijadikan faktor utama setiap perumusan strategi dan kebijakan AGROSAWIT. Perkebunan wajar menerima tingkat pendapatan yang lebih tinggi dari PKS karena resiko usaha perkebunan lebih besar dari PKS karena produksinya tergantung oleh kondisi alam seperti harna dan penyakit tanaman dan TBS yang dihasilkan hanya dapat disimpan selarna 24 jam. Sernentara tenaga kerja di perkebunan dan PKS perlu diprioritaskan karena hingga saat ini gajilupah yang diterima sebesar Upah Minimum Regional (UMR) masih belum mencukupi untuk memenuhi Kebutuhan Hidup Minimum (KHM).
Tujuan untuk meningkatkan pendapatan perkebunan dan gaji/upah tenaga kerja telah di integrasikan di dalam SPK AGROSAWIT. Namun karena prinsip dalarn Model GO-AGRO yang digunakan adatahnya win win solution,
maka peningkatan pendapatan perkebunan dan gajilupah tenaga kerja hanya dapat dilakukan bila tidak menyebabkan kerugian pada pihak lain seperti PKS dan kepentingan pemerintah. Berdasarkan perhitungan faktor resiko, rnaka SPK AGROSAWIT merekornendasikan tingkat keuntungan yang diterima oleh perkebunan rata-rata 20 persen lebih tinggi dari PKS dan perlunya peningkatan gajilupah tenaga kerja mencapai KHM karena ha1 tersebut masih memberikan keuntungan yang layak bagi perkebunan dan PKS.
Sementara strategi yang dominan untuk pengembangan AGROSAWIT yaitu : harga TBS, gaji/upah tenaga kerja, dan perpajakan juga telah diakomodir di dalam SPK AGROSAWIT dan dinarnakan kebijakan wws. Strategi yang masih tetap diperlukan berdasarkan hasil pendapat pakar di atas adalah strategi pengaplikasian hasil kebijakan wws SPK AGROSAWIT, penataan peran aktor yang dominan yaitu kelembagaan pemerintah pusat dan daerah, serta upaya pemberdayaan rakyat pekebun agar perannya dalam pengembangan AGROSAWIT dapat setara dengan peran aktor lainnya.
Pendalaman terhadap tujuan pengembangan AGROSAWIT selanjutnya dilakukan dengan mengidentifikasikan ouput atau dampak yang diharapkan dari Sistern AGROSAWIT. Hasil survey pakar rnenunjukkan bahwa terdapat 10 jenis dampak kebijakan yang diharapkan dari pengembangan AGROSAWIT. Tiga jenis dampak diantaranya merniliki peringkat tinggi yaitu: peningkatan pendapatan perkebunan rakyat, peningkatan kesejahteraan rakyat dan peningkatan pendapatan tenaga kerja. Selengkapnya jenis dampak dan peringkatnya dapat dilihat pada Tabel 10.
Pengambilan keputusan kebijakan pengembangan AGROSAWIT akan dihadapkan pada banyaknya dampak hendak dicapai. Tujuan tersebut dapat dicapai melalui berbagai kebijakan. Setiap jenis tujuan mernbutuhkan jenis kebijakan yang berbeda. Dalam pengembangan AGROSAWIT. 10 jenis output atau dampak yang disebutkan di atas menjadi kriteria dalarn penentuan jenis kebijakan. Atas dasar 10 kriteria tersebut, hasil pendapat pakar dengan teknik MPE (Lampiran 15) menunjukkan instrumen kebijakan gaji/upah rnerupakan prioritas pertama, disusul oleh kebijakan harga CPO, kuota ekspor, bentuk
Tabel
10.
Bobot ~eringkat
Dampak dalam Pengembangan
AGROSAWlT
eningkatan pendapatan perkebunan
rakyat
eningkatan pemerataan pembangunaan
pola usaha, harga TBS, dan kebijakan perpajakan, seperti dapat dilihat pada
Gambar 24
.
instrumen kebijakan yang diperlukan dapat saling terkai satu
Gambar
24.
I3agram
Peringkat
Instrumen
Kebijakan
AGROSAWlT
berdasarkan
Analisis
Teknik MPE
sarna lain, seperti untuk peningkatan pendapatan tenaga kerja dapat dicapai rnelalui penaatan kebijakan gajilupah itu sendiri dan kebijakan lainnya seperti harga CPO, penataan ekspor, teknologi pengolahan TBS dan penataan pola usaha. Untuk rneningkatkan kesejahteraan masyarakat seternpat diperlukan penataan kebijakan gajttupah, harga TBS dan CPO, pola usaha dan kebijakan perpajakan. Peningkatan pendapatan daerah sangat ditentukan oleh kebijakan perpajakan. harga CPO, dan kebijakan ekspor.
Khusus untuk kriteria pendapatan perkebunan rakyat, kebijakan yang pengaruhnya dorninan adalah kebijakan harga TBS, harga CPO, dan harga pupuk. Kebijakan harga CPO, kebijakan ekspor, dan tingkat suku bunga merupakan tiga instrumen kebijakan yang dorninan terhadap pendapatan pelaku usaha. Peningkatan pendapatan daerah sangat ditentukan oleh kebijakan perpajakan, harga CPO, dan kebijakan ekspor. Peringkat pengaruh instrumen untuk setiap kriteria selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 16.
Seperti diuraikan sebelurnnya bahwa pendapat pakar melalui teknik AHP (Garnbar 23) juga menunjukkan bahwa instrurnen kebijakan harga TBS rnerupakan instrurnen yang mernilikj bobot tertinggi untuk pengembangan AGROSAWIT, yang disusul oleh instrurnen kebijakan gaji/upah dan pajak. Dari hasil analisis AHP dan MPE dapat disirnpulkan bahwa faktor-faktor strategis dalarn pengembangan AGROSAWIT adalah faktor TBS (harga dan ketersediaan), kearnanan berusaha, dana (tingkat suku bunga, surnber dana dan ketersediaan dana), pasar (suplai. perrnintaan dan harga CPO dan PKO), Kecuali faktor keamanan, sernua faktor strategis ini telah integrasikan ke dalam SPK AGROSAWIT sebagai input situasional. Dengan demikian maka dinamika faktor-faktor yang berpengaruh besar dalam pengernbangan AGROSAWIT tersebut telah dapat diantisipasi dalarn rangka rnewujudkan tujuan dan outpuVoutcorne yang diharapkan dari AGROSAWIT.
SPK AGROSAWIT yang telah rancang bangun sesungguhnya tidak hanya dapat digunakan untuk penentuan harga TBS wws, tetapi juga dapat
besaran pajak yang layak dipungut oleh pemerintah pusat dan daerah. Selain itu SPK AGROSAWIT juga dapat menyeleksi teknologi untuk peningkatan efisiensi dan produktivitas perkebunan dan PKS serta teknologi untuk penanganan limbah. Berarti sebagian besar instrumen kebijakan hasil dari pendapat pakar telah dirancang di dalam SPK AGROSAWIT. Oleh karena itu SPK AGROSAWIT tidak hanya berfungsi untuk penyelesaian konflik kepentingan antar pihak berkepentingan tetapi juga dapat digunakan sebagai alat untuk menentukan strategi pengembangan AGROSAWIT Indonesia.
7.4.1. Pengembangan Kelernbagaan
Analisis kefembagaan AGROSAWIT dititikberatkan pada aktor yang pengaruhnya dominan dalam pengembangan AGROSAWIT dan diarahkan kepada tujuan dan dampak yang dikehendaki dari Sistem AGROSAWIT Seperti diuraikan sebelurnnya bahwa pendapat pakar melalui teknik AHP rnenunjukkan pemerintah pusat dan pemerintah daerah sebagai dua aktor yang merniliki peran lebih besar daripada aktor pelaku usaha perkebunan besar. PKS, rakyat pekebun, tenaga kerja dan rakyat pekebun. Peran pemerintah pusat dan daerah tersebut menunjukkan bahwa tindakan yang dilakukannya dapat memberikan dorongan besar kepada pengembagan Sistem AGROSAWIT.
Pengembangan AGROSAWIT terkait dengan pengelolaan sumberdaya alam. Untuk itu, sesuai dengan yang dikemukakan oleh Uphoff (1986) bahwa terdapat 6 (enarn) kategori lembaga yang terkiat dengan pengelolaan sumberdaya atam, yaitu : (1) Local administration, yaitu instansi di daerah yang merupakan aparat departemen pernerintah pusat yang bertanggungjawab kepada atasan langsung (accountable to beurocratic superior), (2) Local government, yaitu badan penivakilan atau lernbaga yang mem~liki kewenangan dalam pelaksanaan pembangunan dan pengaturan yang bertanggungjawab kepada pernerintah daerah (accountable to local residents), (3) Membership Organization. yang merupakan assosiasi yang fungsinya dapat berupa fungsi khusus (special task), multifungsi (multiple tasks), atau melayani kebutuhan anggota (needs) anggota, (4) Cooperative, yaitu organisasi yang menyatukan
surnberdaya ekonomi anggota-anggotanya untuk rnernperoleh keuntungan, (5) Service Organization, yaitu organisasi yang dibentuk untuk melayani bukan anggota, dan (6) Private Business, yaitu perusahaan yang bergerak dalarn berbagai bidang usaha. Uraian tersebut merupakan safah satu landasan untuk menganalisis kelembagaan dalam Sistem AGROSAWIT.
Peran pernerintah pusat harus diarahkan kepada tercapai tujuan dan output/outcome yang dikehendaki dari sistem AGROSAWIT. Seperti telah diuraikan pada bagian sebelurnnya bahwa tujuan yang menjadi prioritas dalam pengembangan AGROSAWIT adalah peningkatan pendapatan perkebunan dan kesejahteraan rnasyarakat. Penataan kelembagaan pemerintah pusat dan daerah dilakukan berdasarkan hasil dari teknik fSM terhadap berbagai bidang kewenangan sesuai dengan arnanat Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah propinsi sebagai daerah otonom. Hasil analisis ' tersebut secara lengkap dapat dilihat pada
Gambar 23 dan Gambar 25 untuk bidang kewenangan pusat, serta Garnbar 24 dan Gambar
26
untuk bidang kewenangan pernerintah daerah. Pada tingkat pusat terdapat 25 bidang kewenangan yang terkait dengan pengembangan AGROSAWIT. sedangkan pada tingkat propinsi terdapat 17 bidang kewenangan. Penataan kelembagaan didasarkan pada prins.jp berbagi kekuasan (power sharing) dan bukan pada pengertian otonorni atau desentralisasi. Karena pengertian desentralisasi lebih cenderung pada aspek administrasi negara (administrative aspect) dan otonomi daerah lebih cenderung pada aspek politik-kekuasaan (political aspect), sedangkan power sharing rnenyangkut kedua-duanya dan rnenitikberatkan pada pernberian kewenangan (Rasyid. 2000).Hasil ISM pada Gambar 25 menunjukkan bahwa pada tingkat pusat. bidang yang keterkaitannya tinggi dan bersifat rnendorong (linkage) adalah bidang politik dalam negeri dan administrasi publik. pengembangan otonomi daerah, pertahanan dan keamanan, bidang perirnbangan keuangan pusat, penataan ruang, pertanahan, dan bidang kehutanan dan perkebunan. Berdasarkan ha1 tersebut maka koordinasi lernbaga yang bertanggung jawab
dalam pengembangan AGROSAWIT. Elemen atau kewenangan kunci pengembangan AGROSAWIT pada tingkat pusat adalah politik dalam negeri dan administrasi publik. Jika dikaitkan dengan susunan Kabinet Persatuan Nasional, maka pada tingkat pusat diharapkan adanya koordinasi antara Depdagri, POLRI, Kantor Meneg Otonomi Daerah, Depkeu, BPN. Departemen Pengembangan Wilayah dan Pemukiman, dan Dephutbun. Koordinasi lembaga linkage tersebut akan rnenjadi dasar bagi lembaga dependence yaitu: Kantor Meneg Koperasi dan PKM, Deptan, Deperindag, Depnaker. Kantor Meneg lnvestasi dan Penanaman Modal, dan Kantor Meneg LH untuk rnerumuskan kebijakan operasional bersama-sama dengan lembaga linkage. Lembaga tndependence yang diharapkan dapat memberikan dukungan dalam menciptakan iklim kondusif dalam pengembangan AGROSAWIT adalah: Depkumdang, kantor Meneg Ristek, Dephub dan Depdikbud.
Pada t~ngkat propinsi (Gambar 26) menunjukkan bahwa pada tingkat propinsi bidang yang tingkat keterkaitannya tinggi dan bersifat mendorong pengembangan AGROSAWIT adalah bidang pengembangan otonomi daerah, perimbangan keuangan pusat dan daerah. perkoperasian, bidang penanaman modal, pertarnbangan dan energi, pertanian, kehutanan dan perkebunan dan bidang perindustrian dan perdagangan. Bidang-bidang tersebut termasuk peubah pengkait
(linkage)
dari sistern sehingga setiap tindakan dalam bidang tersebut akan menghasilkan sukses pengembangan agroindustri kelapa sawit dl daerah. Bidang kewenangan dependence adalah bidang ketenagakerjaan, sosial dan bdiang lingkungan hidup, sedangkan bidang independence adalah btdang pendidikan dan kebudayaan, penataan ruang, pekerjaan umum. perhubungan, politik dalarn negeri, dan bidang hukum dan perudang-undangan. Bidang kewenangan (elemen) kunci pengembangan AGROSAWIT di tingkat propinsi adalah kepastian hukum dan perundang-undangan.Sesuai dengan amanat Undang Undang Nomor 22 tahun 1999, bahwa kewenangan di tingkat pusat terbatas pada politik luar negeri, pertahanan dan keamanan, peradilan, fiskallmoneter, agama serta bidang lainnya yaitu :
Gambar
25.
Diagram
Driver
Power
-
Dependence
Kewenangan
Pemerintah
Pusat
perencanaan dan pengendalian pembangunan nasional secara makro. dana perimbangan keuangan. pembinaan dan pemberdayaan SDM, pendayagunaan surnber daya alam dan teknologi tinggi, konservasi, dan standarisasi nasional. Bidang-bidang lainnya selain disebut di atas lebih dititikberatkan pada pembuatan kriteria dan prosedur pelaksanaan.
Khusus untuk bidang kehutanan dan perkebunan sesuai dengan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000, kewenangan pemerintah pusat yang terkait dengan pengembangan AGROSAWIT adalah: penyusunan standar areal perkebunan, penyusunan rencana makro kehutanan dan perkebunan nasional serta industri primer perkebunan, penetapan kriteria dan standar produksi, pengolahan. pengendalian rnutu, pemasaran dan peredaran hasil dan input perkebunan. Kewenangan operasional tebjh banyak berada di tingkat propinsi serta kabupatenlkota berupa: pembentukan dan perwilayahan areal perkebunan lintas kabupatenlkota, penyusunan perwilayahan, desain pengendalian lahan dan industri primer btdang perkebunan lintas kabupatenlkota; penyelenggaraan perizinan lintas kabupatenlkota, usaha perkebunan, serta pengawasan perbenihan, pupuk, pestisida dan alatjmesin. Kondisi demikian mengharuskan lembaga kewenangan pusat dan daerah rnelakukan koordinasi yang bajk sehingga kebijakan strategis yang ditetapkan oleh pemerintah pusat efektif digunakan sebagai dasar bagi pemerintah daerah untuk merumuskan kebijakan taktis-operasional. Pelimpahan kewenangan tersebut dapat dijadikan modal bagi pemerintah daerah dalam menata kebijakan pengembangan AGROSAWIT sehingga dapat menjadi basis pertumbuhan ekonomi daerah.
Selain itu masih tersebarnya kewenangan lembaga yang terkait dengan pengembangan AGROSAWIT merupakan permasalahan tersendiri. Sementara pengembangan AGROSAWIT memerlukan kebijakan yang dapat mengintegrasikan pengaruh faktor yang berpengaruh untuk mewujudkan kebijakan