PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE SCRIPT DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYIMAK
MURID KELAS V SD NEGERI 17 PARANG LUARA KECAMATAN TONDONG TALLASA
KABUPATEN PANGKEP
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mengikuti Ujian Skripsi Jurusan Pendidikan Sekolah Dasar
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
Oleh : IKA ARISKA
10540958015
JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR SEPTEMBER, 2019
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : IKA ARISKA
Nim : 10540958015
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Judul Skipsi : Penerapan Model Pembelajaran cooperative script dalam Meningkatkan Kemampuan Menyimak Murid Kelas v SD Negeri 17 Parang Luara Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah hasil karya saya sendiri dan bukan hasil ciptaan orang lain atau dibuatkan oleh siapapun.
Demikian pernyataan ini saya buat dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.
Makassar, 29 September 2019
Yang Membuat Pernyataan
SURAT PERJANJIAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : IKA ARISKA
Nim : 10540958015
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Judul Skipsi : Penerapan Model Pembelajaran cooperative script dalam Meningkatkan Kemampuan Menyimak Murid Kelas v SD Negeri 17 Parang Luara Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep
Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut :
1. Mulai dari penyusuna proposal sampai selesai penyusunan skripsi ini, saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun). 2. Dalam penyusunan skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan
pembimbing yang telah ditetapkan oleh pemimpin fakultas.
3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (plagiat) dalam penyusunan skripsi.
4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2 dan 3 saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.
Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.
Makassar, 29 September 2019 Yang Membuat Perjanjian
MOTO DAN PERSEMBAHAN
Tetaplah tabah,
meski inginmu belum dijabah..
Allah tidak membebani seseorang, Melainkan sesuai dengan
kesanggupannya. (Qs. AL. Baqarah :286)
Kupersembahkan karya ini untuk: Kedua Orang tuaku, saudaraku, dan sahabatku, atas keikhlasan dan doanya dalam mendukung penulis mewujudkan harapan menjadi kenyataan.
ABSTRAK
IKA ARISKA. 2019. Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Script dalam
Meningkatkan Kemampuan Menyimak Murid Kelas V SD Negeri 17 Parang Luara Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep. Skripsi. Jurusan Pendidikan Guru
Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Bahrun Amin dan pembimbing II Andi Adam.
Masalah utama dalam penelitian ini yaitu bagaimana menerapkan model pembelajaran cooperative script untuk meningkatkan kemampuan menyimak murid pada mata pelajaran Bahasa Indonesia murid kelas V SD Negeri 17 Parang Luara. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menyimak murid pada mata pelajaran Bahasa Indonesia murid kelas V SD Negeri 17 Parang Luara.
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action
Research) yang terdiri dari dua siklus dimana setiap siklus dilaksanakan sebanyak dua
kali pertemuan. Prosedur penelitian meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi atau pengamatan, dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah murid kelas V SD Negeri 17 Parang Luara dengan jumlah murid 10 orang, yang terdiri dari 3 orang laki-laki dan 7 orang perempuan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus pertama yang tuntas secara individual dari 10 murid hanya 3 murid atau 30% yang memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) atau berada pada kategori sangat kurang. Secara klasikal belum terpenuhi karena nilai rata-rata diperoleh sebesar 63,5. Sedangkan pada siklus II dimana dari 10 murid terdapat 9 murid telah memenuhi KKM dan secara klasikal terpenuhi yaitu rata-rata yang diperoleh sebesar 80 atau berada dalam kategori baik.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran cooperative script pada mata pelajaran Bahasa Indonesia makan kemampuan menyimak murid kelas V SDN 17 Parang Luara dapat meningkat.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah swt atas segala limpahan rahmat dan karunia kepada penulis sehingga penulisan ini terselesaikan. Salawat dan taslim penulis haturkan kepada junjungan tercinta, Nabiullah, Muhammad saw yang telah meletakkan fondasi ketauhidan yang syarat dengan risalah keselamatan dunia dan akhirat di muka bumi ini. Semoga kita menjadi hamba yang selalau dalam limpahan rahmat Allah swt dan termasuk golongan umat yang mendapatkan safa’at Muhammad saw di akhirat kelak. Amin.
Dalam penulisan skripsi ini bukanlah hal yang mudah terwujud. Banyak rintangan yang dialami penulis. Namun selalu ada kemudahan jika kita selalu berusaha dan berdoa. Bantuan dari berbagai pihak telah menuntun penulis sehingga skripsi ini dapat selesai. Oleh karena itu, penulis menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua penulis yakni Bapak Sarmin dan Ibunda Salmawati yang telah mengorbankan segala do’a, cinta, kasih sayang dan perhatian kepada penulis dalam segala hal.
Ucapan terima kasih yang penuh kesungguhan penulis sampaikan kepada kepada berbagai pihak yang telah memberikan banyak sumbangsih, khususnya: Prof. Dr. H.Abd. Rahman Rahim,SE.,MM. Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar beserta jajaranya yang telah memberikan pengajaran, pembinaan dan perhatian kepada penulis selama menimba ilmu di Universitas Muahmmadiyah Makassar. Erwin Akib, S.Pd., M.Pd., Ph.D. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan beserta jajaranya yang telah membimbing dalam penyelesaian skripsi ini. Aliem Bahri, S.Pd., M.Pd.. ketua Prodi Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar beserta jajaranya yang telah bersedia membimbing penulis dalam
penyusunan skripsi ini. Dr. Bahrun Amin, M.Hum. Pembimbing I dan Andi Adam, S.Pd, M.Pd. Pembimbing II yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Bapak/Ibu Dosen Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang telah banyak memberikan ilmunya kepada penulis.
Kepada teman-teman seangkatan penulis, terima kasih atas semua saran dan motivasi selama penyelesaian skripsi ini, terkhusus kepada ke tiga sahabatku Nunung Pratiwi, Musfhira Ardianti dan Arwini Dwi Safitri. Semoga saran dan motivasi yang diberikan bernilai ibadah di sisi Allah swt. Amin.
Akhirnya, sebagai manusia biasa yang tidak terlepas dari kesalahan, kekurangan, penulis sangat mengharapkan berbagai kritik yang bersifat membangun dari pembaca untuk perbaikan hasil penulisan ini serta dapat dijadikan sebagai panduan untuk penulisan-penulisan selanjutnya.
Makassar, Agustus 2019
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN ... LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ...
LEMBAR SURAT PERNYATAAN ... i
LEMBAR SURAT PERJANJIAN ... ii
MOTO DAN PERSEMBAHAN ... iii
ABSTRAK ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... x DAFTAR GAMBAR ... xi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 6 C. Tujuan Penelitian ... 6 D. Manfaat Penelitian ... 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka ... 8
1. Penelitian Yang Relevan ... 8
2. Deskripsi Teori ... 9 a. Hakikat Belajar... 9 b. Pengertian Pembelajaran ... 11 c. Karakteristik Anak SD ... 13 d. Hasil Belajar ... 14 3. Pembelajaran Bahasa di SD ... 16 4. Bahasa Indonesia ... 18
a. Manfaat Mempelajari Bahasa Indonesia ... 18
b. Keterampilan Menyimak Menurut Kurikulum SD ... 20
5. Model Pembelajaran Cooperative Script ... 23
a. Pengertian Model Pembelajaran ... 23
c. Kelebihan dan Kekurangan Model Cooperative Script ... 26
6. Keterampilan Menyimak ... 28
a. Tujuan Menyimak ... 29
b. Jenis-jenis Menyimak ... 30
c. Tahap-tahap Menyimak ... 32
d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Menyimak ... 34
B. Kerangka Pikir ... 35
C. Hipotesis Tindakan ... 37
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 39
B. Lokasi Penelitian ... 40
C. Fokus Penelitian ... 41
D. Subyek Penelitian ... 41
E. Prosedur Penelitian ... 42
F. Data dan Sumber Data ... 44
G. Teknik Pengumpulan Data ... 45
H. Analisis Data ... 46
I. Indikator Kebershasilan ... 47
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 48 B. Pembahasan ... 59 BAB V PENUTUP A. Simpulan ... 62 B. Saran ... 62 DAFTAR PUSTAKA ... LAMPIRAN-LAMPIRAN... RIWAYAT HIDUP ... vii
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
2.1 Bagan Kerangka Pikir ... 37
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.1 Tingkat Keberhsilan 47
Tabel 4.1 Distribusi Nilai Siklus I 53
Tabel 4.2 Deskripsi Ketuntasan Siklus I 53
Tabel 4.3 Distribusi Nilai Siklus II 59
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan yang berlangsung di sekolah dan diluar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan murid agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang. Menurut Mudyahardjo (2013: 3) pendidikan adalah pengalaman-pengalaman belajar terprogram dalam bentuk pendidikan formal dan non-formal, di sekolah dan luar sekolah, yang berlangsung seumur hidup dan bertujuan optimalisasi pertimbangan kemampuan-kemampuan individu agar di kemudian hari dapat memainkan peranan hidup secara tepat.
Efektivitas dan efisiensi belajar dan pembelajaran murid di sekolah sangat bergantung kepada peran guru. Guru menurut UU No. 14 tahun 2005 adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan memahami peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru dapat berperan sebagai konsenvator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber norma kedewasaan, innovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan, transmitor (penerus) sistem nilai-nilai tersebut kepada murid, transformator (penterjemah) sistem nilai-nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan perilakunya, dalam proses interaksi dengan sasaran didik, organisasi (penyelenggara) terciptanya proses edukatif yang dapat di pertanggung
jawabkan, baik secara formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskan) maupun secara moral (kepada sasaran didik serta Tuhan yang menciptakan).
Pembelajaran di Sekolah Dasar terdiri dari beberapa mata pelajaran, salah satunya adalah bahasa Indonesia. Mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran wajib di tingkat SD. Pengajarannya harus memperhatikan hakikat bahasa dan sastra sebagai sarana komunikasi dan pendekatan pembelajaran yang digunakan. Ruang lingkup mata pelajaran bahasa Indonesia mencakup kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra, yang meliputi aspek: mendengarkan atau menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek ini merupakan aspek yang terintegrasi dalam pembelajaran (Tarigan, 2008: 1). Secara karakteristik keempat keterampilan tersebut bisa berdiri sendiri. Namun, dalam penggunaan bahasa sebagai proses komunikasi, keempat keterampilan tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dengan kata lain, bahasa merupakan keterpaduan dari berbagai aspek.
Pembelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di Sekolah Dasar karena bahasa Indonesia mempunyai kedudukan dan fungsi yang sangat penting bagi kehidupan sehari-hari. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi bahasa Indonesia lisan dan tulis murid, serta menumbuhkan apresiasi terhadap karya sastra Indonesia dan karya intelektual bangsa sendiri. Pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar memiliki nilai penting, karena pada jenjang inilah pertama kalinya pengajaran bahasa Indonesia dilaksanakan secara berencana dan terarah. Dalam memperoleh keterampilan berbahasa, biasanya kita melalui suatu
hubungan yang teratur. Mula-mula, pada masa kecil, kita belajar menyimak/mendengarkan bahasa, kemudian berbicara, membaca dan menulis.
Berdasarkan empat keterampilan berbahasa (language skill) yang dikemukakan hanya keterampilan menyimak yang akan menjadi perhatian dalam penelitian ini, karena pada umumnya pengetahuan diperoleh melalui keterampilan menyimak. Keterampilan menyimak haruslah dikuasai oleh para murid di Sekolah Dasar (SD) karena keterampilan secara langsung berkaitan dengan seluruh proses kegiatan belajar di sekolah dan juga di luar lingkungan sekolah. Keterampilan menyimak juga diperlukan di mata pelajaran lain, bukan hanya pelajaran bahasa Indonesia. Namun penelitian tentang menyimak kurang mendapat perhatian dari kalangan peneliti.
Pembelajaran menyimak telah diberikan guru kepada murid kelas V SD Negeri 17 Parang Luara atas nama Ibu Nurmawa’dah S,Pd. Namun, gambaran yang ada menunjukkan bahwa secara klasikal hasilnya hanya mencapai rata-rata di bawah KKM atau belum memuaskan. Berdasarkan hasil penilaian mata pelajaran Bahasa Indonesia murid kelas V SDN 17 Parang Luara pada tahun 2019 semester 1 yang dilakukan peneliti pada tanggal 17 Juni 2019, terbukti dari 10 murid hanya 3 orang murid saja yang telah memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) dan 7 murid yang lain belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM). Dari data tersebut di atas maka dapat dikatakan bahwa pencapaian standar ketuntasan belajar Bahasa Indonesia tergolong masih sangat rendah dengan kata lain belum mencapai nilai KKM yaitu 65.
Hal ini didapat dari hasil tes yang diberikan pada saat sebelum penelitian dilakukan oleh peneliti. Hasil ini juga tergambar saat peneliti menanyakan kembali isi bagian dari materi pembelajaran menyimak cerita anak pada saat observasi, para murid banyak tidak mampu menjawab dengan baik. Murid masih kurang konsentrasi dalam menyimak sehingga mereka sulit menceritakan kembali isi cerita yang menjadi objek simakan. Kondisi ini disebabkan kenyataan bahwa pendekatan pembelajaran bahasa Indonesia yang digunakan guru masih bercirikan pendekatan struktural dengan metode ceramah, sehingga murid kurang mampu mengungkapkan kembali isi bahan simakan.
Atas dasar kenyataan lapangan tersebut, maka peneliti menganggap perlu diterapkan sebuah model pembelajaran cooperative script yang dapat membantu meningkatkan kemampuan murid dalam menyimak. Setiap model pembelajaran memiliki kelemahan dan keunggulan yang berbeda. Model Cooperative Script merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran menyimak. Model Cooperative Script merupakan model untuk meningkatkan minat membaca sekaligus meningkatkan pemahaman siswa terhadap suatu teks bacaan (Suprijono, 2009: 126). Model pembelajaran ini adalah sebuah model bekerja kelompok berpasangan kemudian kelompok secara lisan bergantian mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari. Model Cooperative Script ini merupakan model pembelajaran kooperatif yang memiliki keunggulan dibandingkan dengan pembelajaran yang biasanya digunakan oleh guru di sekolah.
Keunggulan model ini di antaranya adalah melatih ketelitian/kecermatan siswa, melatih kerja sama yang baik dalam kelompok ketika berdiskusi, melatih siswa untuk dapat menyampaikan penjelasan secara lisan dan runtut pada saat presentasi, serta melatih keberanian mengungkapkan kesalahan orang lain secara lisan. Selain itu,model Cooperative Script ini juga melatih kinerja siswa dalam menyusun script sehingga siswa lebih memahami materi bacaan. Penggunaan model pembelajaran cooperative script dapat meningkatkan proses belajar murid dalam pembelajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar murid.
Model pembelajaran ini merupakan model pembelajaran yang belum pernah digunakan di SD Negeri 17 Parang Luara. Oleh karena itu, model ini harus diuji terlebih dahulu keefektifannya. Model ini juga diharapkan mampu menjadi salah satu alternatif yang dapat digunakan oleh guru sebagai model pembelajaran yang berpusat pada keaktifan siswa dan mampu menumbuhkan minat dan motivasi siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Melihat hasil pembelajaran yang kurang maksimal maka, peneliti merasa tertarik untuk melakukan suatu penelitian tentang pembelajaran kemampuan menyimak dengan menggunakan model pembelajaran Cooperative Script.
Penelitian ini peneliti tuangkan dalam bentuk skripsi dengan judul
“Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Script dalam Meningkatkan
Kemampuan Menyimak Murid Kelas V SD Negeri 17 Parang Luara Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep.” peneliti berharap model pembelajaran
yang digunakan dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia dalam keterampilan menyimak pada murid kelas V.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimanakah penerapan model pembelajaran Cooperative Script dalam meningkatkan kemampuan menyimak murid kelas V SD Negeri 17 Parang Luara Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan kemampuan menyimak murid melalui model pembelajaran Cooperative Script murid Kelas V SD Negeri 17 Parang Luara Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
a. Bagi Jurusan Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, sebagai masukan tentang penerapan model pembelajaran Cooperative Script sebagai salah satu model pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia.
b. Bagi Peneliti, sebagai pengalaman yang berharga dalam melakukan penelitian yang bersifat ilmiah.
c. Bagi Peneliti Selanjutnya, sebagai bahan perbandingan sekaligus sebagai referensi bagi penelitian yang relevan.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi murid, hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan keterampilan menyimak murid kelas V SD Negeri 17 Parang Luara Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep dengan penerapan model pembelajaran cooperative script.
b. Bagi guru, penerapan model pembelajaran cooperative script diharapkan dapat meningkatkan semangat dan kerjasama murid dalam proses pembelajaran sehingga murid dengan mudah menyimak materi yang dipelajari.
c. Bagi sekolah, hasil dari penelitian penerapan model pembelajaran cooperative script diharapakan memberikan referensi dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru. Serta sekolah dapat mendukung guru untuk model pembelajaran yang lebih bervariasi lagi.
d. Bagi pembaca, penelitian ini dapat memberikan informasi secara tertulis maupun sebagai referensi mengenai keterampilan menyimak murid kelas V SD Negeri 17 Parang Luara Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep dengan penerapan model pembelajaran cooperative script.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Tinjauan Pustaka 1. Penelitian yang Relavan
Beberapa hasil penelitian terdahulu yang relavan dapat dilihat beikut ini: a. Ratna Dewi dalam judul Upaya Peningkatan Hasil Belajar dan Aktivitas
Murid dalam Menyimak Berita melalui Model Pembelajaran Cooperative Script Kelas VI SDN 004 Loa Janan (2010). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran Cooperative Script dapat meningkatkan hasil belajar murid dan aktivitas dalam pembelajaran menyimak berita.
b. Riskayanti dalam judul penelitian Peningkatan Keterampilan Menyimak Cerita Dongeng melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Script pada Murid Kelas IV SD Inpres Limpo Kabupaten Barru (2014). Dengan hasil penelitian disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Kooperative Script dapat meningkatkan keterampilan menyimak cerita dongeng murid.
c. Asrul dalam judul penelitian Peningkatan Keterampilan Menyimak dengan Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Script pada Murid Kelas VI SD Negeri 10 Kampung Baru Kecamatan Tondong Tallasa (2018). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penerapan model pembelelajaran Cooperative Script dapat meningkatkan keterampilan menyimak murid.
2. Deskripsi Teori a. Hakikat Belajar
Belajar adalah aktivitas mental (psikhis) yang terjadi karena adanya interaksi aktif antara individu dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan-perubahan yang bersifat relatif tetap dalam aspek-aspek kognitif, psikomotor, dan afektif. Perubahan tersebut dapat berupa sesuatu yang sama sekali baru atau penyempurnaan/peningkatan dari hasil belajar yang diperoleh sebelumnya (Amran, 2014: 2). Sejalan dengan pendapat Sudjana (2010: 5) yang mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar. Contoh dari pendapat tersebut adalah perubahan pengetahuan murid yang awalnya tidak mengetahui konsep menjadi mengetahui suatu konsep dengan benar. Manusia memiliki kemampuan untuk selalu mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Kemampuan manusia semakin bertambah dengan banyaknya pengalaman yang didapat. Fontana (1981) dalam Winataputra (2007: 18) berpendapat bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan yang relatif tetap dalam perilaku individu sebagai hasil dari pengalaman. Belajar adalah suatu perubahan dalam kemampuan yang bertahan lama dan bukan berasal dari proses pertumbuhan.
Sementara itu Slameto (2010: 2) menyampaikan bahwa belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Definisi tersebut menekankan bahwa belajar adalah sebuah proses, artinya belajar tidak dilakukan secara singkat melainkan terus menerus (continu). Belajar adalah usaha, yang dilakukan oleh individu untuk menjadi lebih baik, dan merupakan hasil dari perilaku sebelumnya yang berupa pengalaman.
Rusman (2015: 13) menjelasakan bahwa belajar sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan prilaku secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman pribadi itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Surya menjelaskan bahwa belajar adalah proses, artinya bahwa belajar adalah hasil dari sebuah tindakan yang dilakukan atau tidak tiba-tiba berubah. Lebih lanjut belajar itu merupakan suatu tindakan yang disengaja. Tindakan yang disengaja itu adalah untuk mencapai perubahan yang bertujuan. Rusman (2015: 12) berpendapat bahwa belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Pendapat tersebut menempatkan belajar sebagai faktor dalam pembentukan karakter dan perilaku. Pembentukan pribadi dan prilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh kegiatan belajarnya, misal dia tidak dapat belajar dengan baik, maka akan menghasilkan pembentukan pribadi dan prilaku tidak baik begitupun sebaliknya.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu sebagai akibat dari pengalaman yang berupa interaksi dengan lingkungan sekitar. Hakikat belajar adalah suatu aktivitas yang mengharapkan perubahan tingkah laku (behavioral change) pada diri individu yang belajar. Perubahan tingkah laku terjadi karena usaha individu yang bersangkutan. Belajar selalu melibatkan tiga hal pokok, yaitu adanya perubahan tingkah laku, sifat perubahan relative permanen dan perubahan tersebut disebabkan oleh interaksi lingkungan, bukan oleh proses kedewasaan ataupun perubahan-perubahan kondisi fisik yang sifatnya temporer. Oleh karena itu, pada prinsipnya belajar adalah proses perubahan tingkah laku sebagai akibat interaksi antara murid dengan sumber-sumber belajar, baik sumber yang didesain maupun yang dimanfaatkan.
a. Pengertian Pembelajaran
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Guru harus memahami tugas dan perannya dalam mengajar berfungsi sebagai pembimbing, fasilitator, dan pemberi informasi. Hal itu dilakukan agar pembelajaran dapat berlangsung efektif. Proses belajar bergantung pada pandangan guru terhadap makna belajar, karena semua aktivitas murid dalam belajar selalu berdasarkan skenario yang dikembangkan oleh guru.
Guru sebagai pembimbing maksudnya adalah guru berusaha membimbing murid agar dapat menemukan berbagai potensi yang dimilikinya.
Membimbing murid agar dapat mencapai dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan. Tujuannya adalah agar murid dapat tumbuh dan berkembang sebagai individu yang mandiri. Contohnya, guru membimbing murid dalam melaksanakan diskusi kelompok atau dalam mengerjakan tugas. Guru sebagai fasislitator maksudnya adalah guru memfasilitasi murid dalam belajar agar murid dapat belajar dengan baik. Contohnya adalah guru menggunakan berbagai metode, media, model dan sumber pembelajaran. Dalam penelitian ini, pembelajaran berlangsung menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Script. Guru sebagai pemberi informasi contohnya adalah guru memberikan berbagai materi dalam pembelajaran.
Proses tindakan belajar pada dasarnya adalah bersifat internal, namun proses itu dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal. Perhatian murid dalam pembelajaran misalnya, dipengaruhi oleh susunan rangsangan yang berasal dari luar. Akibatnya di dalam pembelajaran, pendidik harus benar-benar mampu menarik perhatian murid agar mampu melakukan aktivitas belajar secara optimal. Upaya yang dilakukan guru untuk menarik perhatian murid dapat berupa variasi gaya mengajar, penggunaan media pembelajaran yang unik, dan lain-lain sehingga faktor-faktor eksternal yang dapat mengganggu perhatian murid dapat diminimalkan.
Pembelajaran adalah seperangkat peristiwa yang mempengaruhi murid sedemikian rupa sehingga murid itu memperoleh kemudahan (Riskayanti, 2014 : 15). Seperangkat peristiwa yang dimaksud adalah suatu proses yang dalam pelaksanaannya terdapat berbagai peristiwa. Peristiwa tersebut sengaja
diciptakan oleh guru agar murid dapat dengan mudah dalam memahami suatu materi. Pada pembelajaran, guru mengajar diartikan sebagai upaya guru mengorganisir lingkungan terjadinya pembelajaran. Guru mengajar dalam perspektif pembelajaran adalah guru menyediakan fasilitas belajar bagi murid untuk mempelajarinya. Subjek pembelajaran adalah murid (Suprijono, 2011: 13).
b. Karakteristik Anak SD
Usia rata-rata anak Indonesia saat masuk SD adalah 6 tahun dan selesai pada usia 12 tahun (Desmita, 2012: 35). Anak-anak usia SD memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak-anak yang usianya lebih muda. Ia senang bermain, senang bergerak, senang kerja dalam kelompok, dan senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung. Berdasarkan hal tersebut, guru hendaknya mengembangkan pembelajaran yang mengandung unsur permainan. Guru harus mengusahakan murid berpindah atau bergerak, bekerja atau belajar dalam kelompok, serta memberikan kesempatan untuk terlibat langsung dalam pembelajaran. Bentuk nyata upaya guru dalam melakukan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak usia SD adalah dengan menerapkan pembelajaran kooperatif. Di zaman modern sekarang ini sudah banyak jenis metode pembelajaran kooperatif yang dapat guru gunakan. Metode pembelajaran kooperatif disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran yang memperhatikan alokasi waktu serta kemampuan murid. Sehingga diharapkan proses pembelajaran akan berlangsung menyenangkan dan mengesankan bagi murid.
c. Hasil Belajar
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009: 3) hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Pendapat tersebut menekankan bahwa hasil belajar berasal dari suatu interaksi. Interaksi adalah komunikasi anatar guru dan peserta didik. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar.
Sedangkan menurut Suprijono (2009: 5) hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan ketrampilan. Hal ini berarti hasil belajar merupakan cerminan murid pada saat melakukan proses pembelajaran. Cerminan ini merupakan akibat dari terjadinya suatu proses interaksi anatar guru dan murid yang disebut dengan proses pembelajaran.
Kegiatan pembelajaran dilandasi oleh sebuah tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Ketercapaian tujuan pembelajaran dapat dilihat dari hasil belajar yang telah diperoleh murid. Rifa’i (2011: 85) mengatakan “hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh peserta didik setelah mengalami kegiatan belajar”. Sejalan dengan pernyataan Rifa’i, Susanto (2013: 5) mengemukakan bahwa “hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar”. Gagne dalam Purwanto (2014: 42) menambahkan bahwa “hasil belajar adalah terbentuknya konsep, yaitu kategori yang kita berikan pada stimulus yang ada di lingkungan yang menyediakan skema yang terorganisasi untuk mengasimilasi
stimulus-stimulus baru dan menentukan hubungan di dalam dan diantara
kategori-kategori”.
Hasil belajar harus menunjukan suatu perubahaan tingkah laku atau perolehan perilaku yang baru dari murid yang bersifat menetap, fungsional, positif dan disadari (Anitah 2009: 19). Suprijono (2012: 5-6) mengemukakan bahwa hasil belajar berupa: 1) informasi verbal, yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis; 2) keterampilan intelektual, yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang; 3) strategi kognitif, yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri; 4) keterampilan motorik, yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani; 5) sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut.
Keberhasilan murid dalam mencapai hasil belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor. Susanto (2013: 12-13) menyebutkan bahwa hasil belajar yang dicapai peserta didik merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang mempengaruhinya, faktor tersebut yaitu:
1) Faktor internal: merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri peserta didik, yang mempengaruhi kemampuan belajarnya. Faktor internal ini meliputi: kecerdasan, minat dan perhatian, motivasi belajar, ketekunan, sikap, kebiasaan belajar serta kondisi fisik dan kesehatan.
2) Faktor eksternal: merupakan faktor yang berasal dari luar diri peserta didik yang mempengaruhi hasil belajar yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.
Berdasarkan penjelasan di atas, disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan perubahan perilaku murid sebagai akibat dari proses belajar yang dipengaruhi oleh faktor dalam diri murid maupun dari luar. Perubahan perilaku pada murid haruslah bersifat menyeluruh menyangkut semua aspek. Oleh karena itu, guru harus memperhatikan secara seksama supaya perilaku tersebut dapat dicapai sepenuhnya oleh murid. Guru merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi hasil belajar murid. Susanto (2013: 13) menjelaskan bahwa peran guru dalam proses pembelajaran sangat penting. Sebab, murid merupakan organisme yang sedang berkembang yang memerlukan bimbingan dan bantuan orang dewasa. Guru harus mampu melihat muridnya sebagai pribadi yang berbeda-beda, di mana kebutuhan setiap murid akan berbeda dengan murid lain. Perlakuan yang tepat oleh guru akan membantu murid dalam memperoleh hasil belajar yang maksimal.
3. Pembelajaran Bahasa di SD
Pembelajaran bahasa di SD berbeda dengan pembelajaran bahasa di jenjang pendidikan yang lain. Hal ini disesuaikan dengan tingkat pemahaman murid SD yang berbeda dengan tingkat pemahaman murid pada jenjang pendidikan lain. Umumnya pembelajaran bahasa Indonesia di SD mencakup keterampilan dasar berbahasa Indonesia. Pemahaman tentang pembelajaran bahasa di SD akan memudahkan guru dalam menyampaikan materi
pembelajaran dengan benar. Diperlukan upaya agar terbentuk kemampuan kebahasaannya sehingga fungsi bahasa dapat diperoleh secara maksimal. Upaya ini dapat dilakukan dengan cara menggiatkan latihan-latihan kebahasaan. Semakin awal upaya ini dilakukan akan semakin baik hasilnya. Latihan keterampilan berbahasa sebaiknya dilakukan sejak anak masih SD. Usia SD merupakan masa yang tepat untuk melatih kegiatan berbahasa. Hal ini dikarenakan pada usia SD, murid dapat dengan mudah dilatih keterampilan-keterampilan dasar dalam berbahasa. Usia SD adalah usia dimana anak mudah menyerap suatu konsep baru.
Kesimpulannya, pembelajaran bahasa adalah proses memberi rangsangan belajar berbahasa kepada murid dalam upaya murid mencapai kemampuan berbahasa. Ada dua faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar bahasa, yaitu kondisi eksternal dan internal.
a. Kondisi eksternal adalah faktor di luar diri murid seperti lingkungan sekolah, guru, teman sekolah, keluarga, orang tua, dan masyarakat.
b. Kondisi internal adalah faktor dalam diri murid yang terdiri atas motivasi positif dan percaya diri dalam belajar, tersedia materi yang memadai untuk memancing aktivitas murid, adanya strategi dan aspek-aspek jiwa anak. Faktor eksternal lebih cenderung ditangani oleh guru. Faktor internal lebih cenderung dikembangkan sendiri oleh murid. Kedua faktor ini harus diperhatikan oleh guru dalam belajar bahasa. Faktor-faktor eksternal yang salah satunya adalah guru dapat mempengaruhi keberhasilan murid dalam
belajar bahasa. Apabila guru mengabaikan aspek ini, faktor eksternal dapat menimbulkan dampak negatif terhadap faktor internal murid.
4. Bahasa Indonesia
Penamaan Bahasa Indonesia diawali sejak diikrarkan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1998. Akibat dari Sumpah Pemuda tersebut, maka terjadilah proses pembedaan antara bahasa Melayu yang digunakan di Riau dan semenanjung Malaya dengan Bahasa Indonesia yang terus mengalami perkembangan hingga awal abad ke-21. Berdasarkan pidato Mohammad Yamin, Bahasa Indonesia diusulkan sebagai bahasa nasional. Sumpah Pemuda menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Bahasa Indonesia bukan bahasa ibu. Bahasa Indonesia digunakan sangat luas semisal di perguruan, media massa, sastra, perangkat lunak, atau surat menyurat resmi. Dari sini dapat dikatakan, Bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia.
a. Manfaat Mempelajari Bahasa Indonesia
Bagi masyarakat yang tinggal di daerah perkampungan terpencil dan jauh dari sentuhan pendidikan formal cenderung menggunakan bahasa ibu (bahasa daerah). Bahkan sebagian besar dari masyarakat itu tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia dikarenakan mereka tidak pernah mengenyam pendidikan formal bahasa Indonesia di sekolah. Bahasa Indonesia hampir tidak pernah digunakan sebagai bahasa komunikasi di lingkup masyarakat internal. Padahal, bahasa Indonesia seharusnya dipelajari oleh setiap warga Indonesia baik melalui pendidikan formal maupun informal. Bahasa Indonesia memiliki banyak manfaat, antara lain:
1) Sebagai Media Berkomunikasi
Seorang dari pengguna bahasa ibu (daerah) yang satu dapat berbahasa Indonesia dengan baik akan dapat berkomunikasi dengan pengguna bahasa ibu lainnya, misal : orang Jawa dengan orang Bali, orang Kalimantan dengan orang Sulawesi, orang Sumatera dengan orang Ambon. Di sini dapat disimpulkan bahwa Bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi antar warga Indonesia yang tinggal di berbagai pulau dengan menggunakan bahasa ibu yang berbeda.
2) Sebagai Media Mempelajari Ilmu Pengetahuan
Dengan menguasai Bahasa Indnesia secara lisan atau tertulis, seorang akan dapat mempelajari ilmu pengetahuan baik yang disampaikan oleh para guru (dosen) maupun buku-buku yang menggunakan Bahasa Indonesia. Dari sini dapat dikatakan, bahwa Bahasa Indonesia merupakan jembatan bagi seseorang yang ingin mendapatkan ilmu pengetahuan. Di samping itu, orang tersebut akan mudah mendapatkan informasi (berita) di media massa atau media sosial yang ditulis dengan menggunakan Bahasa Indonesia.
3) Sebagai Media Penyampai Ide Kreatif
Seorang yang mempunyai Bahasa Indonesia secara tertulis akan berpeluang menjadi sastrawan atau penulis yang menyampaikan ide kreatifnya melalui karya tulis baik fiksi maupun non fiksi. Tentu saja, Bahasa Indonesia yang digunakan adalah bahasa baku dan benar menurut, ejaan yang disempurnakan (EYD). Dengan demikian, penguasaan terhadap EYD merupakan tuntutan bagi sastrawan dan penulis. Di samping karya fiksi atau
non fiksi, seorang yang menguasai Bahasa Indonesia secara tertulis surat lamaran pekerjaan, biografi, abstrak untuk karya ilmiah, proposal, dengan baik dan benar.
4) Sebagai Modal Utama Dalam Penyuntingan Naskah
Seorang editor yang bekerja di sebuah kantor penerbit atau media massa harus menguasai Bahasa Indonesia secara tekstual. Tanpa menguasai Bahasa Indonesia dengan baik, seorang editor bukannya menyempurnakan naskah, melainkan merusak naskah tersebut melalui karya editnya.
5) Sebagai Bahasa Nasional, Persatuan dan Bahasa Negara
Bagi negara, Bahasa Indonesia bermanfaat untuk meningkatkan spirit nasionalisme dan persatuan bangsa. Dengan demikian, Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa persatuan. Di samping itu Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Bahasa yang menceritakan kepribadian dan kebudayaan Negara Indonesia di mata dunia Internasional.
c. Keterampilan Menyimak Menurut Kurikulum SD
Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar hakekatnya bertujuan agar murid terampil menggunakan Bahasa Indonesia untuk berbagai keperluan, terutama untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan berbahasa (language art, language skill) dalam kurikulum sekolah mencakup empat segi, yaitu kemampuan menyimak (listening skill), kemampuan berbicara (speaking skill), kemampuan membaca (reading skill), dan kemampuan menulis (writing skill). Kemampuan satu dengan yang lain memiliki hubungan yang sangat erat satu sama lain. Dalam memperoleh
kemampuan berbahasa, mula-mula seorang individu harus memiliki kemampuan menyimak terlebih dahulu, kemudian kemampuan berbicara, selanjutnya kemampuan membaca dan menulis.
Memiliki kemampuan menyimak yang baik sangat penting dimiliki oleh setiap murid, karena dengan kemampuan menyimak akan mempermudah murid dalam menguasai tiga kemampuan berbahasa yang lain dan mempermudah memahami setiap mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Kemampuan menyimak adalah kemampuan berbahasa pertama yang dimilki oleh manusia dalam pemerolehan bahasa. Oleh karena itu kemampuan menyimak merupakan modal awal seseorang dalam hal untuk berkomunikasi. Kemampuan menyimak adalah salah satu kemampuan berbahasa yang diajarkan di Sekolah Dasar sesuai dengan standar isi Kurikulum 2013.
Menurut Saddhono (2012: 11) menyimak adalah “suatu proses yang
menyangkut kegiatan mendengarkan, mengidentifikasi, menginterpretasi, bunyi bahasa, kemudian menilai hasil interpretasi makna dan menanggapi
pesan yang tersirat dalam bahan simakkan”.
Berdasarkan pengertian menyimak di atas dapat disimpulkan bahwa menyimak adalah kegiatan mendengarkan yang bertujuan untuk memahami pesan atau isi yang terkandung dalam simakkan. Menyimak sebagai salah satu kegiatan berbahasa merupakan keterampilan yang cukup mendasar dalam kemampuan berkomunikasi. Pentingnya kemampuan menyimak juga belum disadari sepenuhnya oleh murid. Hal ini dapat diketahui dengan masih dianggap remeh pembelajaran menyimak di sekolah oleh murid. Murid
menganggap bahwa kemampuan menyimak pasti dapat dikuasai setiap orang normal tanpa harus melalui proses pembelajaran. Selain itu, murid banyak yang menganggap kemampuan menyimak akan didapatkan apabila pembelajaran bahasa yang lainnya berlangsung dengan baik. Sebaiknya hal seperti itu dihilangkan dari pikiran kita, karena pada kenyataannnya banyak murid yang mengeluhkan pada pokok pembelajaran menyimak. Banyak murid yang masih mengalami kesulitan untuk menyimak pembelajaran.
Berdasarkan observasi yang telah dilakukan di kelas V SD Negeri 17 Parang Luara, masih terdapat berbagai permasalahan khususnya dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Nilai menyimak murid masih tergolong rendah. Masih terdapat beberapa murid yang mengalami kesulitan menyimak teks bacaan. Hal ini terlihat dari murid yang belum tepat dan merasa kesulitan dalam mencari gagasan pokok dan gagasan pendukung dalam teks bacaan dalam buku siswa. Selain permasalahan tersebut juga terdapat murid yang kurang tertarik dan bersemangat dalam menyimak teks bacaan. Kebanyakan dari murid justru asyik bermain dan mengobrol dengan temannya. Hal ini dikarenakan murid belum mengerti bagaimana cara menyimak yang efektif, murid juga belum memahami betapa pentingnya keterampilan menyimak dalam hal menguasai materi pelajaran. Dilihat dari segi pendidiknya, guru di kelas juga belum menggunakan model dan media yang menarik dalam pembelajaran menyimak teks bacaan. Media yang digunakan masih media yang konvensional yaitu berupa buku teks. Pembelajaran menyimak di kelas masih bersifat monoton, guru hanya membacakan cerita tanpa menggunakan
media yang lebih menarik, sehingga kegiatan pembelajaran belum berjalan dengan maksimal.
Guru juga belum menggunakan model pembelajaran Cooprative Script untuk membantu pembelajaran menyimak supaya lebih menarik perhatian murid. Usaha untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka penggunaan model pembelajaran Cooperative Script diharapkan mampu meningkatkan kemampuan menyimak murid. Dengan adanya ketertarikan dengan model pembelajaran tersebut, murid diharapkan akan lebih senang mengikuti pembelajaran menyimak isi cerita, dapat memaksimalkan perhatiannya kepada pembelajarn menyimak cerita anak, dapat mengerjakan soal evaluasi, serta meningkatkan nilai murid.
5. Model Pembelajaran Cooperative Script a. Pengertian Model Pembelajaran
Model pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran. Menurut Amri (2013: 4) model pembelajaran adalah sebagai suatu desain yang menggambarkan proses rincian dan penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan siswa berinteraksi sehingga terjadi perubahan atau perkembangan pada diri siswa.
Menurut Trianto (2010: 22) model pembelajaran adalah suatu perencanan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum dan lain-lain.
Selanjutnya Hanafiah (2010: 41) menambahkan model pembelajaran merupakan salah satu pendekatan dalam rangka mensiasati perubahan prilaku siswa secara adaptif maupun generatif, model pembelajaran sangat erat kaitannya dengan gaya belajar siswa dan gaya mengajar guru.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau kerangka pembelajaran yang akan digunakan oleh guru selama proses pembelajaran agar dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan baik, sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.
Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru. Guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahanbahan dan informasi. Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas (Suprijono, 2011: 54). Dalam pembelajaran kooperatif, murid dikelompokkan ke dalam kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda.
Kesimpulannya belajar kooperatif adalah pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil. Melalui kelompok tersebut, murid bekerja bersama untuk memaksimalkan kegiatan belajarnya sendiri dan juga anggota yang lain. Kemudian, murid itu mengerjakan tugas sampai semua anggota kelompok berhasil memahaminya. Salah satu model pembelajaran kooperatif yaitu model Cooperative Script.
b. Pengertian Model Pembelajaran Cooperative Script
Model pembelajaran cooperative script berasal dari Bahasa Yunani. Methidos artinya jalan yang ditempuh. Pengertian metode ini sendiri yaitu cara kerja yang sistematis untuk mencapai suatu maksud tujuan. Sedangkan cooperative berasal dari kata cooperate yang artinya bekerja, saling membantu atau gotong royong. Sebagai kesimpulan model pembelajaran cooperative script adalah secara tidak langsung terdapat kontrak belajar antar guru dengan murid dan murid dengan murid mengenai cara berkolaborasi.
Suprijono (2011: 126) menjelaskan bahwa model pembelajaran Cooperative Script merupakan metode belajar di mana murid belajar berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari.
Sependapat dengan gagasan tersebut, Hamdani (2011: 88) mengemukakan metode pembelajaran Cooperative Script adalah metode belajar yang mengarahkan murid untuk bekerja berpasangan dan secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
1) Guru mengelompokkan murid untuk berpasangan;
2) Guru membagikan wacana atau materi kepada setiap murid untuk dibaca dan membuat ringkasan;
3) Guru dan murid menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar;
4) Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar menyimak atau mengoraksi atau menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dan membantu mengingat atau mengahafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya;
5) Murid yang semula sebagai pembicara bertukar peran menjadi pendengar dan sebaliknya;
c. Kelebihan Dan Kekurangan Model Pembelajaran Cooperative Script 1) Kelebihan Model Pembelajaran Cooperative Script
Adapun kelebihan dari model pembelajaran Cooperative Script adalah sebagai berikut:
a) Mengajarkan murid untuk percaya kepada guru dan lebih percaya lagi kepada kemampuan sendiri untuk berpikir, mencari informasi dari sumber lain dan belajar dari murid lain;
b) Mendorong murid untuk mengungkapkan idenya secara verbal dan membandingkan dengan ide temannya;
c) Membantu murid belajar menghormati murid yang pintar dan murid yang kurang pintar dan menerima perbedaan yang ada;
d) Merupakan suatu strategi yang efektif bagi murid untuk mencapai hasil akademik dan social termasuk meningkatkan prestasi, percaya diri dan hubungan interpersonal positif antara satu murid dengan murid lain;
e) Banyak menyediakan kesempatan kepada murid untukmembandingkan jawabannya dan menilai ketepatan jawabannya;
f) Mendorong murid yang kurang pintar untuk tetap berbuat;
g) Interaksi yang terjadi selama pembelajaran cooperative script membantu memotivasi murid dan mendorong pemikirannya;
h) Dapat meningkatkan atau mengembangkan keterampilan berdiskusi; i) Memudahkan murid melakukan interaksi sosial.
2) Kekurangan Model Pembelajaran Cooperative Script
Adapun kekurangan dari model pembelajaran Cooperative Script adalah sebagai berikut:
a) Beberapa murid mungkin pada awalnya takut untuk ide, takut dinilai teman dan kelompoknya;
b) Tidak semua murid mampu menerapkan model pembelajaran cooperative script, sehingga banyak waktu untuk menjelaskan mengenai model pembelajaran ini.;
c) Penggunaan model pembelajaran cooperative script harus sangat rinci, melaporkan setiap penampilan murid dan tiap tugas murid, dan banyak menghabiskan waktu untuk menghitung hasil prestasi kelompok;
d) Sulit membentuk kelompok yang solid yang dapat bekerjasama dengan baik;
e) Penilaian terhadap murid sebagai individual menjadi sulit karena tersembunyi di dalam kelompok;
6. Keterampilan Menyimak
Dalam pengajaran bahasa, terutama pengajaran bahasa lisan sering kita jumpai istilah mendengar, mendengarkan, dan menyimak. Ketiga istilah itu memang berkaitan dalam makna namun berbeda dalam arti. Dalam kamus besar bahasa Indonesia pengertian istilah itu dijelaskan seperti berikut. Mendengar diartikan sebagai menangkap bunyi (suara) dengan telinga. Mendengarkan berarti mendengarkan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Sedang menyimak berarti mendengarkan (memperhatikan) baik-baik apa yang diucapkan atau dibicarakan orang.
Menurut Tarigan 2008: 4) menyimak adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasi, menilai, dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya. Menyimak melibatkan penglihatan, penghayatan, ingatan, pengertian, bahkan situasi yang menyertai bunyi bahasa yang disimak pun harus diperhitungkan dalam menentukan maknanya. Sedangkan menurut Suyono (2011: 10) menyimak adalah suatu proses mendengarkan lambang-lambang bahasa lisan dengan sungguh-sungguh penuh perhatian, pemahaman, apresiatif yang dapat disertai dengan pemahaman makna komunikasi yang disampaikan secara nonverbal.
Berdasarkan pengertian menyimak di atas dapat disimpulkan bahwa menyimak adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan lambang-lambang bahasa lisan dengan sungguh-sungguh, penuh perhatian, pemahaman, apresiasi serta interpretasi untuk memperoleh informasi,
menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang disampaikan secara nonverbal
a. Tujuan Menyimak
Ada empat fungsi utama menyimak, yaitu:
1) Memperoleh informasi yang berkaitan dengan profesi; 2) Membuat hubungan antarpribadi lebih efektif;
3) Mengumpulkan data agar dapat membuat keputusan yg masuk akal; 4) Agar dapat memberikan responsi yang tepat.
Adapun tujuan dari menyimak yaitu:
1) Ada orang yang menyimak dengan tujuan utama agar dia dapat memperoleh pengetahuan dari bahan ujaran pembicara dengan perkataan lain dia menyimak untuk belajar;
2) Ada orang yang menyimak dengan penekanan dan penikmatan terhadap sesuatu dari materi yang diujarkan atau yang diperdengarkan atau dipagelarkan (terutama sekali dalam bidang seni) pendeknya, dia menyimak untuk menikmati keindahan audial;
3) Ada orang yang menyimak dengan maksud agar dia dapat menilai sesuatu yang dia simak (baik-buruk, indah-jelek, tepat-ngawur, logis-tak logis, dan lain-lain); singkatnya, dia menyimak untuk mengevaluasi;
4) Ada orang yang menyimak agar dia dapat menikmati serta menghargai sesuatu yang disimaknya itu (misalnya, pembicaraan cerita, pembacaan puisi, musik dan lagu, dialog, diskusi panel, dan perdebatan); pendek kata, orang itu menyimak untuk mengapresiasi materi simakan;
5) Ada orang yang menyimak dengan maksud agar dia dapat mengomunikasikan ide-ide, gagasan-gagasan, ataupun perasaan-perasaannya kepada orang lain dengan lancer dan tepat. Banyak contoh dan ide yang dapat diperoleh dari sang pembicara dan semua ini merupakan bahan penting dan sangat menunjang dalam mengomunikasikan ide-idenya sendiri;
6) Ada pula orang yang menyimak dengan maksud dan tujuan agar dia dapat membedakan bunyi-bunyi dengan tepat; mana bunyi yang membedakan arti (distignif), mana bunyi yang tidak membedakan arti; biasanya, ini terlihat nyata pada seseorang yang sedang belajar bahasa asing yang asyik mendengarkan ujaran pembicara asli (native speaker);
7) Ada lagi orang yang menyimak dengan maksud agar dia dapat memecahkan masalah secara kreatif dan analisis, sebab dari pembicara, dia mungkin memperoleh masukan berharga;
8) Selanjutnya, ada lagi orang yang tekun menyimak pembicara untuk meyakinkan dirinya terhadap suatu masalah atau pendapat yang selama ini diragukan; dengan perkataan lain, dia menyimak secara persuasif.
b. Jenis – jenis Menyimak
Tarigan (2008: 37-59) membagi jenis menyimak dalam dua macam, yaitu menyimak ekstensif dan menyimak intensif.
1) Menyimak Ekstensif
Menyimak ekstensif (extensive listening) adalah kegiatan menyimak mengenai hal-hal yang lebih umum dan lebih bebas terhadap suatu ujaran,
tidak perlu dibawah bimbingan langsung dari seorang guru. Pada umumnya menyimak ekstensif dapat dipergunakan untuk dua tujuan yang berbeda. Menyimak ekstensif bisa juga disebut sebagai proses menyimak yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti mendengarkan siaran radio, televisi, percakapan orang di jalan, di pasar, kotbah di masjid dan sebagainya. 2) Menyimak Intensif
Menyimak intensif adalah menyimak yang dilakukan untuk memahami makna yang dikehendaki. Beberapa hal yang perlu diketahui dalam menyimak intensif diantaranya yaitu menyimak intensif pada dasarnya menyimak pemahaman, menyimak intensif memerlukan tingkat konsentrasi pemikiran dan perasaan yang tinggi, menyimak intensif pada dasarnya memahami bahasa formal dan menyimak intensif memerlukan produksi materi yang disimak. Jenis-jenis yang termasuk dalam menyimak intensif diantaranya adalah:
a) Menyimak kritis (critical listening) adalah sejenis kegiatan menyimak berupa pencarian kesalahan atau kekeliruan bahkan juga butir-butir yang baik dan benar dari ujaran seorang pembicara dengan alasan-alasan yang kuat yang dapat diterima oleh akal sehat. Pada umumnya menyimak kritis lebih cenderung meneliti letak kekurangan, kekeliruan, dan ketidaktelitian yang terdapat dalam ujaran atau pembicaraan seseorang;
b) Menyimak konsentratif (concentrative listening) sering juga disebut menyimak sejenis telaah;
c) Menyimak kreatif (creative listening) adalah sejenis kegiatan dalam menyimak yang mengakibatkan kesenangan rekonstruksi imajinatif para
penyimak terhadap bunyi, penglihatan, gerakan, serta perasaan-perasaan kinestetik yang disarankan atau dirangsang oleh sesuatu yang disimaknya; d) Menyimak eksplorasif, menyimak yang bersifat menyelidik, atau
exploratoty listening adalah sejenis kegiatan menyimak intensif dengan maksud dan tujuan menyelidiki sesuatu lebih terarah dan lebih sempit; e) Menyimak interogatif (interrogative listening) adalah sejenis kegiatan
menyimak intensif yang menuntut lebih banyak konsentrasi dan seleksi, pemusatan perhatian dan pemilihan butir-butir dari ujaran sang pembicara karena penyimak akan mengajukan banyak pertanyaan;
f) Menyimak selektif adalah menyimak secara cerdas dan cermat aneka ragam ciri-ciri bahasa yang berurutan (nada suara, bunyi, bunyi asing, bunyi-bunyi yang bersamaan, kata dan frase, serta bentuk-bentuk ketatabahasaan).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa jenis menyimak dibagi menjadi dua yaitu, menyimak intensif dan menyimak ekstensif. Menyimak ekstensif terdiri dari menyimak sosial, sekunder, estetik dan pasif. Sedangkan menyimak intensif terdiri dari menyimak kritis, konsentratif, kreatif, eksplorasif, interogatif dan selektif.
c. Tahap-tahap Menyimak
Tahap menyimak diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Menyimak berkala, yang terjadi pada saat-saat sang anak merasakan keterlibatan langsung dalam pembicaraan mengenai dirinya;
2) Menyimak dengan perhatian dangkal karena sering mendapat gangguan dengan adanya selingan-selingan perhatian kepada hal-hal di luar pembicaraan;
3) Setengah menyimak karena terganggu oleh kegiatan menunggu kesempatan untuk mengekspresikan isi hati serta mengutarakan apa yang terpendam dalam hati sang anak;
4) Menyimak sarapan karena sang anak keasyikan menyerap atau mengabsorbsi hal-hal yang kurang penting, hal ini merupakan penjaringan pasif yang sesungguhnya;
5) Menyimak sekali-sekali, menyimpan sebentar-sebentar apa yang disimak; perhatian secara saksama berganti dengan keasyikan lain; hanya memperhatikan kata-kata sang pembicara yang menarik hatinya saja; 6) Menyimak asosiatif, hanya mengingat pengalaman-pengalaman pribadi
secara konstan yang mengakibatkan sang penyimak benar-benar tidak memberikan reaksi terhadap pesan yang disampaikan sang pembicara; 7) Menyimak dengan reaksi berkala terhadap pembicara dengan membuat
komentar atau mengajukan pertanyaan;
8) Menyimak secara saksama, dengan sungguh-sungguh mengikuti jalan pikiran sang pembicara;
9) Menyimak secara aktif untuk mendapatkan serta menemukan pikiran, pendapat, dan gagasan sang pembicara.
d. Faktor yang Mempengaruhi Menyimak
Tarigan (2008: 105) membagi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kegiatan menyimak menjadi delapan, antara lain:
1) Faktor fisik, misalnya pada seseorang yang sedang mengalami gangguan telinga, kelelahan, atau mengidap suatu penyakit sehingga perhatiannya kurang;
2) Faktor psikologis, misalnya kurangnya rasa simpati terhadap sang pembicara karena alasan tertentu, kebosanan, kejenuhan, atau sedang mengalami masalah pribadi yang berat;
3) Faktor pengalaman, kurangnya atau belum adanya pengalaman sedikitpun dalam bidang yang akan disimak juga dapat membuat kurangnya minat seseorang dalam menyimak. Kosa kata asing atau yang belum pernah dimengerti juga berpengaruh dalam proses menyimak;
4) Faktor sikap, kebanyakan orang akan bersikap menerima pada hal-hal yang menarik dan menguntungkan baginya, tetapi bersikap menolak pada hal-hal yang tidak menarik dan tidak menguntungkan baginya;
5) Faktor motivasi, kebanyakan kegiatan menyimak melibatkan system penilaian kita sendiri. Kalau kita memperoleh sesuatu yang berharga dari pembicaraan itu, kita pun akan bersemangat menyimaknya dengan tekun dan saksama.
6) Faktor jenis kelamin. Dari beberapa penelitian, beberapa pakar menarik kesimpulan bahwa pria dan wanita pada umumnya mempunyai perhatian yang berbeda, dan cara mereka memusatkan perhatian pada sesuatu pun
berbeda pula. Pria lebih cenderung objektif, aktif, keras hati, analisis, rasional, tidak mau mundur, netral, intrusive, berdikari, swasembada dan menguasai emosi;
7) Faktor lingkungan, dalam hal ini faktor lingkungan dibagi menjadi lingkungan fisik seperti letak meja dan kursi dalam ruang kelas, dan faktor lingkungan sosial seperti suasana dan interaksi yang terjadi di lingkungan tempat dia berada, baik di rumah atau pun di sekolah;
8) Faktor peranan dalam masyarakat, kemauan menyimak dapat juga dipengaruhi oleh peranan kita dalam masyarakat. Sebagai guru dan pendidik, kita ingin menyimak ceramah, kuliah, atau siaran-siaran radio dan televisi yang berhubungan dengan masalah pendidikan dan pengajaran baik di tanah air kita maupun di liar negeri.
Jadi, berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi menyimak adalah faktor fisik, faktor psikologis, faktor pengalaman, faktor sikap, faktor motivasi, faktor jenis kelamin, faktor lingkungan dan faktor peranan dalam masyarakat.
B. Kerangka Pikir
Keberhasilan dalam proses pembelajaran juga dipengaruhi oleh penggunan model pembelajaran. Pendidikan harus memiliki kompetensi dalam melaksanakan kegiatan belajar serta memiliki model pembelajaran yang tepat untuk diterapkan. Guru harus merencanakan pembelajaran yang bermakna bagi murid. Proses pembelajaran yang kooperatif tipe Cooperative Script dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengusahakan peningkatan aktivitas
dan hasil belajar murid. Melalui inovasi pembelajaran yang dilakukan, diharapkan akan terjadi peningkatan hasil belajar bahasa Indonesia dalam keterampilan menyimak.
Berdasarkan hasil observasi, rendahnya hasil belajar Bahasa Indonesia pada murid kelas V SD Negeri 17 Parang Luara Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep dipengaruhi oleh dua aspek utama, yaitu:
1. Aspek Guru
a. Guru tidak mengguakan model pembelajaran;
b. Guru tidak membuat kegiatan berpasangan kepada murid; c. Guru kurang melibatkan murid dalam kegiatan pembelajaran. 2. Aspek Murid
a. Murid merasa jenuh dalam pembelajaran;
b. Murid tidak bekerja sama dengan temannya untuk menggali informasi terkait materi yang dipelajari;
c. Murid kurang aktif dalam pembelajaran.
Berdasarkan permasalahn tersebut, maka diberi solusi dengan menerapkan model pembelajaran cooperative script (berpasangan) yang diharapkan mampu mengembangkan pengetahuan murid secara mandiri sehingga murid lebih berkonsentrasi untuk belajar, murid saling bekerja sama dengan pasangannya, murid akan selalu aktif dalam kegiatan proses pembelajaran dan hasil belajar Bahasa Indonesia pada murid kelas V SD Negeri 17 Parang Luara Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep akan meningkat.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE SCRIPT DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYIMAK MURID
KELAS V SD NEGERI 17 PARANG LUARA
Gambar 2.1 : Kerangka Pikir
C. Hipotesis Tindakan
Hipotesis adalah jawaban atau dugaan sementara yang harus diuji lagi kebenarannya. (Margono, 2007: 63) menambahkan, bahwa hipotesis
Pembelajaran Bahasa Indonesia
Menyimak
Siklus I & II Cooperative Tipe Script
Perencanaan
Temuan KURIKULUM
2013
Berbicara Membaca Menulis
Pelaksanaan Evaluasi
adalah jawaban yang bersifat sementara (dugaan) tersebut memiliki dua kemungkinan yaitu benar atau salah, dia akan ditolak jika salah dan akan diterima jika fakta-fakta membenarkannya (Ridwan, 2013: 163). Hipotesis juga dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul.
Berdasarkan kerangka pikir di atas, dirumuskan yang menjadi hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah: jika pembelajaran cooperative script di terapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, maka kemampuan menyimak murid kelas V SD Negeri 17 Parang Luara Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep akan meningkat.
BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Metodologi penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan suatu pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahakan, dan mengantisipasi masalah (Sugiyono, 2015: 6). Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah proses investigasi terkendali untuk menemukan dan memecahkan masalah pembelajaran di kelas, proses pemecahan masalah tersebut dilakukan secara siklus dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil pembelajaran di kelas tertentu. PTK merupakan siasat guru dalam mengaplikasikan pembelajaran dengan berkaca pada pengalamannya sendiri atau dengan perbandingan dengan guru yang lain. Selain itu, PTK juga di sebut sebagai peristiwa sosial dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. Dimana proses tersebut mencakup kegiatan yang menimbulkan hubungan antara evaluasi diri dengan peningkatan profesional. Sedangkan menurut Wiriaatmadja (2014: 13) PTK adalah bagaimana sekolompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktek pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri. Pendapat lain dari Suyadi (2012: 4) yang mengemukakan bahwa PTK adalah pencermatan yang dilakuakan oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya (guru, peserta didik, kepala sekolah) dengan menggunakan metode refleksi
diri dan bertujuan untuk melakukan perbaikan di berbagai aspek pembelajaran.
Bahri (2012: 8) berpendapat bahwa PTK merupakan sebuah kegiatan yang dilaksanakan untuk mengamati kejadian-kejadian dalam kelas untuk memperbaiki praktik dalam pembelajaran agar lebih berkualitas dalam proses sehingga hasil belajar pun menjadi lebih baik.
Berdasarkan beberapa pemahaman mengenai PTK di atas, dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas (PTK) adalah suatu pengamatan yang menerapkan tindakan di dalam kelas dengan menggunakan aturan sesuai dengan metodologi penelitian yang dilakukan dalam beberapa periode atau siklus, berdasarkan jumlah dan sufat perilaku para anggotanya.
B. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 17 Parang Luara Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep pada murid kelas V sebanyak 10 murid pada semester 1 tahun ajaran 2018/2019. Adapun beberapa alasan peneliti memilih lokasi penelitian di SD Negeri 17 Parang Luara yaitu:
1. Masih banyak muridyang mengalami kesulitan dalam menyimak;
2. Di sekolah ini belum pernah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran cooperative script dalam pembelajaran Bahasa Indonesia;