• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kasus 3 - Osteoporosis Kelompok 6

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kasus 3 - Osteoporosis Kelompok 6"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

Laporan Kasus:

Laporan Kasus:

Seorang Wanita 77

Seorang Wanita 77 Tahun dengan Keluhan Nyeri

Tahun dengan Keluhan Nyeri

Pinggul Kiri

Pinggul Kiri

Kelompok VI

Kelompok VI

Dewi

Dewi Fitriani Fitriani (03009067) (03009067) Wella Wella Rusni Rusni (03010277)(03010277)

Margo

Margo Sebastian Sebastian (03009143) (03009143) Muhammad Muhammad Agrifian Agrifian (03010188)(03010188)

Jasmine

Jasmine Ariesta Ariesta (03010139) (03010139) Muhammad Muhammad Dainul Dainul (03010189)(03010189)

Jeffri

Jeffri Irtan Irtan (03010140) (03010140) Shafa Shafa (03010252)(03010252)

M

M Reza Reza Adriyan Adriyan (03010166) (03010166) Sherhaniz Melissa Sherhaniz Melissa A A (03010253)(03010253)

Made

Made Ayundari Ayundari P P (03010167) (03010167) R.Ifan R.Ifan Arif Arif Fahrurozi Fahrurozi (03010226)(03010226)

Vivi

Vivi Nurvianti Nurvianti (03010276) (03010276) Rachel Rachel Aritonang Aritonang (03010227)(03010227)

Rachma

Rachma Tia Tia Wasril Wasril (03010228)(03010228)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

Jakarta, 20 April 2012

Jakarta, 20 April 2012

(2)

BAB I BAB I

PENDAHULUAN PENDAHULUAN

Menopause yang biasanya terjadi pada wanita usia 40-an atau 50-an, secara dramatis Menopause yang biasanya terjadi pada wanita usia 40-an atau 50-an, secara dramatis meningkatkan kecepatan keropos tulang, itulah yang menyebabkan osteoporosis pada meningkatkan kecepatan keropos tulang, itulah yang menyebabkan osteoporosis pada wanita cenderung lebih tinggi dibandingkan pria.

wanita cenderung lebih tinggi dibandingkan pria.  Penyakit osteoporosis Penyakit osteoporosis terjadi ketikaterjadi ketika tubuh kehilangan tulang lebih cepat daripada yang dapat membentuk tulang baru. tubuh kehilangan tulang lebih cepat daripada yang dapat membentuk tulang baru. Seiring waktu, ketidakseimbangan antara kerusakan tulang dan pembentukan Seiring waktu, ketidakseimbangan antara kerusakan tulang dan pembentukan menyebabkan massa tulang menurun, sehingga patah tulang terjadi lebih mudah.

menyebabkan massa tulang menurun, sehingga patah tulang terjadi lebih mudah.

Empat puluh persen perempuan dan dua puluh lima persen pria di atas usia 50 akan Empat puluh persen perempuan dan dua puluh lima persen pria di atas usia 50 akan terkena patah tulang karena osteoporosis lansia dalam seumur hidup nya yang tersisa. terkena patah tulang karena osteoporosis lansia dalam seumur hidup nya yang tersisa. Lebih dari 2 juta fraktur (patah tulang) terjadi di Amerika Serikat setiap tahun dan Lebih dari 2 juta fraktur (patah tulang) terjadi di Amerika Serikat setiap tahun dan  penyakit tulang osteoporosis ini dapat menyebabkan masalah kesehatan yang

 penyakit tulang osteoporosis ini dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius.serius.

Seseorang yang terkena

Seseorang yang terkena  penyakit  penyakit osteoporosisosteoporosis  perlu  perlu latihan latihan dan dan mendapatkan mendapatkan cukupcukup kalsium

kalsium dandan vitamin Dvitamin D untuk membantu menjaga tulang agar tetap kuat. Penderitauntuk membantu menjaga tulang agar tetap kuat. Penderita osteoporosis

osteoporosis mungkin juga perlu mengkonsumsi obat untuk penyembuhan penyakitmungkin juga perlu mengkonsumsi obat untuk penyembuhan penyakit osteoporosis, terutama osteoporosis pada lansia.

osteoporosis, terutama osteoporosis pada lansia.

Siapa yang berisiko menderita penyakit osteoporosis? Menurut National Osteoporosis Siapa yang berisiko menderita penyakit osteoporosis? Menurut National Osteoporosis Foundation (NOF), osteoporosis merupakan ancaman kesehatan masyarakat yang Foundation (NOF), osteoporosis merupakan ancaman kesehatan masyarakat yang utama selama lebih dari 44 juta orang Amerika atau 55 persen dari mereka yang telah utama selama lebih dari 44 juta orang Amerika atau 55 persen dari mereka yang telah  berumur 50 tahun atau lebih. Sekitar 10 juta orang di Amerika Serikat sudah memiliki  berumur 50 tahun atau lebih. Sekitar 10 juta orang di Amerika Serikat sudah memiliki riwayat penyakit osteoporosis dan hampir 34 juta lebih memiliki massa tulang yang riwayat penyakit osteoporosis dan hampir 34 juta lebih memiliki massa tulang yang rendah, menempatkan mereka pada risiko osteoporosis. Delapan puluh persen dari rendah, menempatkan mereka pada risiko osteoporosis. Delapan puluh persen dari mereka yang terkena dampak 

(3)

BAB I BAB I

PENDAHULUAN PENDAHULUAN

Menopause yang biasanya terjadi pada wanita usia 40-an atau 50-an, secara dramatis Menopause yang biasanya terjadi pada wanita usia 40-an atau 50-an, secara dramatis meningkatkan kecepatan keropos tulang, itulah yang menyebabkan osteoporosis pada meningkatkan kecepatan keropos tulang, itulah yang menyebabkan osteoporosis pada wanita cenderung lebih tinggi dibandingkan pria.

wanita cenderung lebih tinggi dibandingkan pria.  Penyakit osteoporosis Penyakit osteoporosis terjadi ketikaterjadi ketika tubuh kehilangan tulang lebih cepat daripada yang dapat membentuk tulang baru. tubuh kehilangan tulang lebih cepat daripada yang dapat membentuk tulang baru. Seiring waktu, ketidakseimbangan antara kerusakan tulang dan pembentukan Seiring waktu, ketidakseimbangan antara kerusakan tulang dan pembentukan menyebabkan massa tulang menurun, sehingga patah tulang terjadi lebih mudah.

menyebabkan massa tulang menurun, sehingga patah tulang terjadi lebih mudah.

Empat puluh persen perempuan dan dua puluh lima persen pria di atas usia 50 akan Empat puluh persen perempuan dan dua puluh lima persen pria di atas usia 50 akan terkena patah tulang karena osteoporosis lansia dalam seumur hidup nya yang tersisa. terkena patah tulang karena osteoporosis lansia dalam seumur hidup nya yang tersisa. Lebih dari 2 juta fraktur (patah tulang) terjadi di Amerika Serikat setiap tahun dan Lebih dari 2 juta fraktur (patah tulang) terjadi di Amerika Serikat setiap tahun dan  penyakit tulang osteoporosis ini dapat menyebabkan masalah kesehatan yang

 penyakit tulang osteoporosis ini dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius.serius.

Seseorang yang terkena

Seseorang yang terkena  penyakit  penyakit osteoporosisosteoporosis  perlu  perlu latihan latihan dan dan mendapatkan mendapatkan cukupcukup kalsium

kalsium dandan vitamin Dvitamin D untuk membantu menjaga tulang agar tetap kuat. Penderitauntuk membantu menjaga tulang agar tetap kuat. Penderita osteoporosis

osteoporosis mungkin juga perlu mengkonsumsi obat untuk penyembuhan penyakitmungkin juga perlu mengkonsumsi obat untuk penyembuhan penyakit osteoporosis, terutama osteoporosis pada lansia.

osteoporosis, terutama osteoporosis pada lansia.

Siapa yang berisiko menderita penyakit osteoporosis? Menurut National Osteoporosis Siapa yang berisiko menderita penyakit osteoporosis? Menurut National Osteoporosis Foundation (NOF), osteoporosis merupakan ancaman kesehatan masyarakat yang Foundation (NOF), osteoporosis merupakan ancaman kesehatan masyarakat yang utama selama lebih dari 44 juta orang Amerika atau 55 persen dari mereka yang telah utama selama lebih dari 44 juta orang Amerika atau 55 persen dari mereka yang telah  berumur 50 tahun atau lebih. Sekitar 10 juta orang di Amerika Serikat sudah memiliki  berumur 50 tahun atau lebih. Sekitar 10 juta orang di Amerika Serikat sudah memiliki riwayat penyakit osteoporosis dan hampir 34 juta lebih memiliki massa tulang yang riwayat penyakit osteoporosis dan hampir 34 juta lebih memiliki massa tulang yang rendah, menempatkan mereka pada risiko osteoporosis. Delapan puluh persen dari rendah, menempatkan mereka pada risiko osteoporosis. Delapan puluh persen dari mereka yang terkena dampak 

(4)

BAB II BAB II ANALISA KASUS ANALISA KASUS Identitas Identitas  Nama

 Nama : Ny. Suyati: Ny. Suyati

Usia

Usia : : 77 77 tahuntahun

Pekerjaan

Pekerjaan : : Pensiunan Pensiunan GuruGuru

Alamat

Alamat : : Jl. Jl. Sawo, Sawo, Jakarta Jakarta SelatanSelatan

Status

Status : : Menikah, Menikah, 4 4 anak anak , , 7 7 cucucucu

Keluhan Utama : Nyeri panggul kiri Keluhan Utama : Nyeri panggul kiri

Dari anamnesis didapatkan bahwa sekitar 2 jam yang lalu, nenek tersebut tersandung Dari anamnesis didapatkan bahwa sekitar 2 jam yang lalu, nenek tersebut tersandung karpet saat akan berjalan dari posisi duduk ke berdiri, sehingga kembali jatuh karpet saat akan berjalan dari posisi duduk ke berdiri, sehingga kembali jatuh terduduk di kursi. Menurut pasien pada saat jatuh benturan yang terjadi tidak keras. terduduk di kursi. Menurut pasien pada saat jatuh benturan yang terjadi tidak keras. Pada saat berusaha berdiri dari posisi tersebut, pasien merasa nyeri pada panggul kiri, Pada saat berusaha berdiri dari posisi tersebut, pasien merasa nyeri pada panggul kiri, tetapi masih sanggup dengan menumpu pada kaki kiri. Beberapa waktu kemudian tetapi masih sanggup dengan menumpu pada kaki kiri. Beberapa waktu kemudian nyeri dirasakan semakin berat, tungkai kiri terasa berat untuk digerakkan, panggul kiri nyeri dirasakan semakin berat, tungkai kiri terasa berat untuk digerakkan, panggul kiri terasa kaku dan nyeri, sehingga pasien tidak dapat berdiri dan bertumpu pada panggil terasa kaku dan nyeri, sehingga pasien tidak dapat berdiri dan bertumpu pada panggil kiri. Pasien mengaku sudah tidak mengalami menstruasi sejak 25 tahun yang lalu, kiri. Pasien mengaku sudah tidak mengalami menstruasi sejak 25 tahun yang lalu, tidak memiliki kebiasaan merokok, tidak minum alcohol, tidak minum obat anti alergi. tidak memiliki kebiasaan merokok, tidak minum alcohol, tidak minum obat anti alergi. Tidak melakukan olah raga teratur dan aktivitas paling banyak adalah nonton TV di Tidak melakukan olah raga teratur dan aktivitas paling banyak adalah nonton TV di kamar.

kamar.

Masalah Keterangan Hipotesa

Masalah Keterangan Hipotesa

Wanita,

Wanita, usia usia 77 77 tahun tahun Faktor resiko Faktor resiko osteoporosisosteoporosis

1. 1. OsteoporosisOsteoporosis 2. 2. OsteoartritisOsteoartritis 3. 3. Tumor Tumor  4.

4. Dislokasi art.coxaeDislokasi art.coxae

Jatuh

Jatuh terduduk terduduk Faktor Faktor resiko resiko traumatrauma seperti

seperti fraktur fraktur daerahdaerah  panggul, fraktur   panggul, fraktur 

acetabulum, maupun acetabulum, maupun disklokasi pada art.coxae disklokasi pada art.coxae

(5)

 Nyeri pada panggul kiri Kemungkinan terjadi fraktur atau dislokasi makin kuat

5. Fr. acetabulum 6. Fr. Columna femuris 7. Osteokoliosis

Tidak menstruasi sejak 25 tahun lalu

Telah menopause. Makin menguatkan adanya osteoporosis karena  pengurangan kadar 

estrogen

Tidak olahraga teratur Menguatkan resiko fraktur  karena jarang beraktivitas yang sifatnya weight- bearing

Aktivitas paling banyak  adalah menonton TV

Menguatkan resiko fraktur  karena jarang terkena sinar  matahari

Berdasarkan usia pasien yaitu 77 tahun, hipotesa yang mungkin adalah Osteoporosis, Osteoarthritis, Osteoskoliosis dan Neoplasma.

Berdasarkan keluhan pasien yaitu nyeri panggul dan tidak bisa berjal an, hipotesa yang mungkin adalah osteoporosis, dislokasi articulatio coxae, fraktur acetabulum, fraktur  columna femur, osteoarthritis dan neoplasma.

Dengan menggabungkan 2 aspek diatas maka hipotesa yang mungkin adalah osteoporosis, dislokasi articulatio coxae, fraktur acetabulum, fraktur columna femuris, osteoarthritis dan neoplasma. Osteoskoliosis dapat disingkirkan karena pada osteoskoliosis keluhan nyeri seharusnya nyeri sekitar genitalia dan gluteus. Dan untuk  keluhan tidak bisa jalan tidak mendukung osteoskoliosis karena yang terjadi pada osteoskoliosis adalah perubahan struktur vertebra, femur dan cruris dimana pasien akan masih dapat berjalan dan tidak terasa nyeri.

Anamnesis tambahan

a. Riwayat Penyakit Sekarang

(6)

2.  Nyerinya bagaimana (menjalar, di satu titik, atau gimana) ? 3. Apakah ada kaku sendi pada pagi hari ?

4. Apakah ada pemendekan tinggi badan ?

5. Apakah nyeri tumpul/tajam ? Apabila tajam, dimana lokasi nyeri paling hebat dirasakan ?

6. Apakah ada gangguan BAB / BAK ? b. Riwayat Penyakit Dahulu ?

1. Apakah ada penyakit metabolik seperti DM? c. Riwayat Penyakit Keluarga

1. Apakah ada anggota keluarga yang menderita Osteoporosis ? d. Riwayat Kebiasaan

1. Asupan kalsiumnya bagaimana?

Pemeriksaan fisik 

Status generalis :

 Compos mentis, tidak tampak pucat, ekspresi wajah kesakitan saat

menggerakan panggul kiri.

Kesadaran yang compos mentis, menunjukan bahwa vaskularisasi darah ke otak masih baik dan tidak terjadi tanda-tanda syok. Kemudian wajah yang tidak pucat juga menandakan bahwa pasien tidak mengalami anemia, sedangkan wajah kesakitan menandakan bahwa terdapat suatu jaringan didaerah panggul kiri atau sekitarnya yang rusak, sehingga menimbulkan rasa nyeri.

 Tanda vital : tekanan darah : 130/85 mmHg, nadi: 100x/menit, suhu 36,50c.

Pernapasan 16x/menit.

Tekanan darah agak sedikit meningkat berdasarkan JNC VII, hal ini disebabkan oleh rasa nyeri yang amat sangat, sehingga memicu tubuh untuk  terjadinya peningkatan tekanan darah, dengan kompensasi nadi yang agak  lebih cepat hingga dalam batas atas, yaitu 100x/menit. Suhu tubuh pasien yang normal, mengindikasikan bahwa pasien tidak terjadi inflamasi atau infeksi kuman di tubuhnya.

 BB 58 kg, TB 160 cm

(7)



 = 22,65

Hasil tersebut menunjukan bahwa pasien mengalami overweight. Hal ini menyebabkan beban kerja otot dan tulang menjadi lebih berat untuk menumpu  berat badannya. Selain itu, kebiasaannya menonton tv juga memperlemah

kekuatan tulang pasien tersebut. Hal ini mendukung hipotesa osteoporosis.

 Mata : tidak ikterik, tidak pucat

Hal ini menunjukan bahwa pasien tidak mengalami kelainan hati dan anemia

 THT dan abdomen : dalam batas normal, fungsi jantung dan paru tidak ada

kelainan.

Menunjukan tidak ada penyakit penyerta yang terjadi pada pasien ini.

Status lokalis panggul

 Look (inspeksi)

o Tampak Tungkai kiri lebih pendek 

Kemungkinan adanya cum contraction yaitu pemendekan pada pasien, hal ini terjadi akibat fraktur dimana tulang yang mengalami fraktur  mengalami aposisi dan masuk ke area tissue disekitarnya sehingga sebagian tulang tersembunyi didalam tissue yang berdampak pasien terlihat lebih pendek 

o Posisi Kaki dalam keadaan Eksternal Rotasi

Kemungkinan adanya dislokasi caput femur ke arah posterolateral

o Bagian atas paha kiri tampak bengkak 

Kemungkinan akibat dislokasi caput femur ke arah posterolateral, sehingga bagian ujung atas tulang femur (trochanter mayor) menekan daerah paha kiri atas sehingga terlihat bengkak di luar tubuh.

Hal ini menunjukan bahwa pasien mengalami kerusakan pada persendian coxae. Terlihat pada posisi external rotasi dan bagian atas paha kiri yang tambah bengkak. Selain itu, tidak terjadi kelainan pada regio lutut dan  pergelangan kaki. Posisi pasien dalam external rotasi menguatkan hipotesa osteoporosis karena merupakan ciri-ciri dari fraktur yang diakibatkan osteoporosis.

(8)

o  Nyeri tekan pada area panggul kiri.

 Nyeri tekan yang terjadi pada pasien menunjukan bahwa pasien mengalami kerusakan pada jaringan di daerah panggul kiri.

 Move (gerak)

o Gerak aktif ekstremitas inferior kanan dalam baras normal

o Pasien menolak menggerakan panggul kiri karena sangat sakit

sehingga tidak dilakukan pemeriksaan gerak pasif.

Kita tidak melakukan pemeriksaan gerak pasif karena takut akan memperparah cedera (kemungkinan fraktur/dislokasi) pada pasien tersebut, karena seperti keterangan pasien menolak menggerakan panggul kirinya karena terasa sangat sakit.

Kesimpulan:

Berdasarkan anamnesis yang telah didapatkan bahwa pasien hanya tersandung dan  jatuh terduduk dengan benturan yang tidak keras, kemudian masih bisa berdiri sesaat akan tetapi jatuh terduduk kembali karena nyeri pinggul yang amat san gat. Pada orang normal, jatuh terduduk dengan benturan ringan tidak akan menimbulkan gejala. Karena pada tulang yang sehat atau normal mempunyai kekuatan untuk menahan  beban seberat 250 kg. Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa pasien memiliki

kelainan pada tulangnya. Selain itu melihat usia yang sudah lanjut sangat mempunyai resiko tinggi akan penyakit degenerative seperti osteoporosis.

Pemeriksaan lab

Densitas massa tulang berhubungan dengan kekuatan tulang dan risiko fraktur. Berbagai penelitian menunjukkan peningkatan risiko fraktur pada densitas massa tulang yang menurun secara progresif dan terus-menerus.

Densitometri tulang merupakan pemeriksaan yang akurat dan tepat untuk menilai faktor prognosis, prediksi fraktur dan bahkan diagnosis osteoporosis. Berbagai metode yang dapat digunakan untuk menilai densitas massa tulang adalah  single- photon absorptiometry (SPA) dan  single-energy X-ray absorptiometry (SPX) lengan  bawah dan tumit; dual-photon absorptiometry (DPA) dan dual-energy X-ray

(9)

absorptiometry (DXA) lumbal dan proksimal femur; dan quantitative computed  tomography (QCT).

Pada pasien ini, jenis metode yang digunakan adalah dual-energy X-ray absorptiometry (DXA).

Ada 3 bagian tulang yang diukur untuk menentukan diagnosis osteoporosis (Region of Interest, ROI):

 Tulang belakang (L1-L4)  Panggul

o Femoral neck  o Total femoral neck  o Trochanter 

 Lengan bawah (33% radius), bila:

o Tulang belakang dan atau panggul tak dapat diukur  o Hiperparatiroidisme

o Sangat obes

 Nilai T-score sebagai patokan adalah: Normal : >-1, Osteopenia: <-1, Osteoporosis: <-2,5 (tanpa fraktur) dan Osteoporosis berat: <-2,5 (dengan fraktur).

Pada vertebra nilai densitas tulang biasanya yang dilihat adalah nilai rata-rata densitas tulang L1-L4 dan pada sendi panggul yang dihitung adalah columna femoris, segitiga Ward, dan trochanter mayor.

Pada pemeriksaan BMD femur sinistra pasien ini, pada region columna femorisnya didapatkan T-scorenya -2,4, pada region segitiga Ward didapatkan T-scorenya -3,0, dan pada trochanter mayornya didapatkan T-scorenya -2,4. Total T-score pada femur  sinistra pasien ini adalah -2,7. Untuk mendapatkan hasil diagnosis osteoporosis pada kasus ini maka kita harus melihat hasil T-score dari keseluruhan (total). Maka dapat di simpulkan bahwa pasien memiliki osteoporosis berat karena hasil yang kurang dari -2,5 dan terjadi fraktur pada colum femorisnya.

Pada pemeriksaan BMD vertebra L1-L4 pasien ini, pada region L1 didapatkan T-scorenya -3.0, pada region L2 didapatkan T-T-scorenya -3.4, pada region L3 didapatkan T-scorenya -3.9, pada region L4 didapatkan T-scorenya -3.5. Total T-score pada

(10)

vertebra L1-L4 pasien ini adalah -3,5. Dari hasil tersebut maka dapat disimpulkan  bahwa pasien mengalami osteoporosis di daerah vetebra.

Oleh karena itu kita dapatkan pada pemeriksaan BMD femur sinistra adalah Osteoporosis berat, karena pada foto x-ray didapatkan adanya fraktur pada columna femoris. Nilai yang diambil adalah T-score total pada femur. Kemudian pada vertebra L1-L4 adalah Osteoporosis. Hal ini menunjukkan bahwa pengeroposan yang terjadi tidak rata.

Pemeriksaan penunjang

1. Kelengkapan Identitas a.  Nama:

 b. Tanggal pengambilan: -c. Kanan/kiri: ada (kiri)

2. Kondisi sinar X pada foto: Densitas jelas 3. Jenis foto:

Kanan : Antero-posterior 

Kiri : Antero-posterior  4. Struktur tulang yang terlibat:

a. Os. Pubis  b. Os. Femur 

(11)

Melibatkan satu persendian yaitu articulation coxae 6. Kondisi jaringan lunak:

 Normal

7. Kondisi jaringan keras:

Mengalami diskontinuitas incomplete pada colum femoris 8. Lokasi fraktur:

Pada columna femoris

9. Kedudukan sendi:  Normal

10. Celah sendi:

Tidak dapat dinilai karena membutuhkan pembanding yaitu foto x-ray kaki satu lagi

11. Patofisiologi:

Fraktur terjadi akibat osteoporosis 12. Klasifikasi bentuk fraktur:

a. Klasifikasi secara klinis : Fraktur tertutup  b. Klasifikasi secara radiologis :

13. Gambaran fraktur 

a. Jenis garis fraktur : Oblique

 b. Kelurusan : Adanya pergeseran angulasi pada colum femoris c. Aposisi : terlihat adanya aposisi

d. Adanya pemendekan (cum contractionem) e. Belum tampak adanya kalus

f. Garis fraktur tidak mengenai permukaan sendi g. Tidak ada fragmentasi

h. Korteks lebih luscent

i. Garis shenton line : Tidak terbentuk 

(12)

Diagnosis pasti

Fraktur patologis incomplete columna femur sinistra dengan angulasi et causa osteoporosis dengan diagnosa banding:

Seperti tabel diatas, diagnosis banding kelompok kami adalah dislokasi art. Coxae, fr. acetabulum dan osteoarthritis. Sedangkan neoplasma kami singkirkan karena dari riwayat pasien yaitu nyeri akibat trauma, cum contraction, kelainan posisis, deformitas panggul dan x-ray tidak ada satupun yang mendukung. Diagnosis banding utama kami adalah fraktur acetabulum, karena memiliki gejala dan riwayat yang sama dengan fraktur caput femur, namun secara epidemiologi, pengeroposan tulang akibat osteoporosis selalu terjadi di caput femur yang memiliki massa yang lebih rentan terhadap osteoporosis. Selain itu, fraktur caput femur selalu memiliki kelainan posisi  berupa eksternal rotasi pada saat terjadi trauma, seperti pada kasus ini.

Ada beberapa faktor risiko fraktur osteoporosis pada pasien ini sehingga kami menegakkan osteoporosis sebagai diagnosis kerja kami, yaitu :

 Non Modifiable

1. Jenis Kelamin Perempuan 2. Usia lanjut PENYAKIT INDIKATOR   Nyeri Akibat Trauma Cum

Contraction Kelainan Posisi

Deformitas

Panggul X-Ray

Osteoporosis √ √ X √ Penipisan Korteks,

Trabekular lebih luscent Dislokasi Articulatio Coxae √ x External Rotasi + Abduksi/Adduksi √ Dislokasi Articulatio Coxae Fraktur  Acetabulum √ √

Bisa Semua Posisi

tergantung trauma √

Fraktur  Acetabulum Fraktur 

Os Femur  √ √ External Rotasi √

Fraktur Caput/Columna/ Os Femur 

Osteoarthritis x x X x Kalsifikasi, Osteofit,

Penyempitan celah sendi

(13)

Potentially Modifiable

1. Berat badan ≤58 kg

2. Estrogen deficiency yaitu Menopause 3. Riwayat terjatuh

4. Aktivitas fisik inadekuat yaitu pasien memiliki kebiasaan duduk menonton TV dalam waktu lama (2)

Terapi

a. Fraktur Columna Femoris Pada fraktur dapat dilakukan :

Pemberian analgetik dan NSAID untuk meredakankan nyeri.

Pembedahan, tergantung dari lokasi, derajat fraktur, dan kondisi sendi pasien. Prosedur yang dapat dilakukan di bedah orthopedic yaitu Open Reduction dan Internal Fixation dengan pins dan plate pada tulang fraktur agar fungsi kaki  pasien masih dapat digunakan.

 b. Pengobatan Osteoporosis a.  Non Medika Mentosa

 Nutrisi

i. Kalsium

Untuk mengurangi pengurangan massa tulang dan mencegah  bone turnover. Pasien dapat diberikan 2 terapi yaitu nutrisi makanan dan suplemen. Untuk nutrisi makanan, pasien dapat mengkonsumsi makanan tinggi kalsium seperti susu, yogurt, dan keju dan untuk suplemen dapat diberikan suplemen kalsium dengan dosis ≤600 mg perhari.

ii. Vitamin D

Terapi yang dapat dilakukan adalah pasien melakukan kontak  sinar UV pada pagi hari dan pemberian suplemen vitamin D dengan dosis untuk usia ≥70 tahun yaitu 600 IU. Suplemen vitamin D dapat diberikan kombinasi dengan Kalsium.

Edukasi

(14)

Pasien dapat diedukasi untuk melakukan olahraga angkat beban. Olahraga angkat beban pada wanita menopause dapat membantu mengurangi pengurangan massa tulang.

 b. Medika Mentosa

i. Estrogen (Terapi Sulih Hormon)

Untuk mencegah bone turnover, mengurangi pengurangan massa tulang, dan membantu meningkatkan penyimpanan kalsium di tulang. Pasien dapat diberikan Estrogen Oral yaitu Ethynil Estradiol 5 ɥg/hari dan estrogen suntik intradermal yaitu estradiol 50 ɥg/hari. Terapi estrogen dapat diberikan kombinasi dengan progestin untuk mencegah keganasan endometrium.

ii. Selective Estrogen Receptor Modulators (SERMs)

Untuk meningkatkan massa tulang dan menurunan risiko fraktur pada tulang lain. Pasien dapat diberikan Tamoxifen dan Raloxifene (60 mg/hari).

iii. Biphosphonate

Untuk menghambat resorpsi tulang dengan menghambat  penghancuran dan pembentukan hidroksiapatit, menghambat aktivasi osteoklas dan meningkatkan apoptosis osteoklas. Pasien dapat diberikan Alendronate dan Risedronate.

iv. Calcitonin

Untuk menurunkan resorpsi tulang dan meningkatkan densitas tulang. Pasien dapat diberikan calcitonin karena sudah mengalami menopause lebih dari 5 tahun, pasien dapat menggunakan calcitonin spray yang disemprotkan ke nasal dengan dosis 200 IU/hari. (3)

Komplikasi

Komplikasi Osteoporosis :

 Kifosis

Karena penekanan beban tubuh (kompresi) pada tulang vetebra secara terus menerus, sedangkan tulang tidak cukup kuat untuk mempertahankan axis tubuh, maka

(15)

komplikasi yang mungkin terjadi adalah terjadinya kifosis.

 Waspadai Patah Tulang (Fraktur)

Fraktur adalah komplikasi yang paling sering dan serius sebagai dampak  osteoporosis. Mereka sering terjadi pada tulang belakang atau pinggul, tulang yang secara langsung mendukung berat badan. Patah tulang pinggul sering hasil dari riwayat jatuh. Seperti halnya pinggul, pergelangan tangan terkadang  juga terjadi fraktur akibat riwayat jatuh. Dalam beberapa kasus, patah tulang  belakang dapat terjadi bahkan jika seseorang tidak jatuh sekalipun. Fraktur 

kompresi dapat menyebabkan sakit parah dan memerlukan pemulihan yang lama.

Komplikasi fraktur :

Komplikasi dini dari fraktur femur ini dapat terjadi syok dan emboli lemak. Sedangkan komplikasi lambat yang dapat terjadi delayed union, non-union, malunion, kekakuan sendi lutut, infeksi dan gangguan saraf perifer akibat traksi yang berlebihan.

Prognosis

Ad vitam : Ad bonam

Ad fungsionam : Dubia ad bonam

(16)

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

ANATOMI TULANG PANGGUL

Tulang

Tulang ini terdiri dari tiga bagian komponen, yaitu: ilium, iskium, dan pubis. Saat dewasa tulang-tulang ini telah menyatu selurunya pada asetabulum.

Ilium:

 batas atas tulang ini adalah Krista iliaka. Krista iliaka berjalan ke belakang dari spina iliaka anteriorsuperior menuju spina iliaka posterior superior. Di bawah tonjolan tulang ini terdapat spina inferiornya. Permukaan aurikularis ilium disebut permukaan glutealis karena disitulah pelekatan m.gluteus. Linea glutealis inferior, anterior, dan  posterior membatasi pelekatan glutei ke tulang. Permukaan dalam ilium halus dan  berongga membentuk fosa iliaka. Fosa iliaka merupakan tempat melekatnya m. iliakus. Permukaan aurikularis ilium berartikulasi dengan sacrum pada sendi sakro iliaka (sendi sinovial). Ligamentum sakro iliakaposterior, interoseus, dan anterior  memperkuat sendi sakroiliaka. Linea iliopektinealis berjalan di sebelah anteriorpermukaan dalam ilium dari permukaan aurikularis menujupubis.

Iskium:

Terdiri dari spina di bagian posterior yang membatasi insisura iskiadika mayor (atas) dan minor (bawah). Tuberositas iskium adalah penebalan bagian bawah korpus iskium yang menyangga berat badan saat duduk. Ramus iskium menonjol ke depan dari tuberositas ini dan bertemu serta menyatu dengan ramus pubis inferior.

Pubis:

Terdiri dari korpus serta rami pubis superior dan inferior. Tulang ini berartikulasi dengan tulang pubis di tiap sisi simfisis pubis yang merupakan sendi sindesmosis. Permukaan superior dari korpus memiliki krista pubikum dan tuberkulum pubikum. Foramen obturatorium merupakan lubang besar yang dibatasi oleh rami pubis dan iskium.

(17)

Sendi (Articulatio) dan Ligamen Pelvis

Ada 4 sendi pelvis, yaitu:

• Dua articulation sacroiliaca

• Symphisis pubis

(18)

Dua artikulasio sacroilliaca

Articulation sacroiliaca kanan dan kiri terletak di anara corpus vertebraesacralis ke-1 dan ke-2 dan facies articularis ilium pada kedua sisi. Karena berat tubuh dihantarkan lewat pelvis, maka sendi-sendi ini dapat mengalami tekanan yang berat. Permukaan sacrum dan ilium mempunyai banyak tonjolan dan cekungan yang saling mengunci dan dengan demikian memberikan kestabilan pada sendi tersebut sesuai dengan kebutuhan, karena terdapat sedikit gerakan sinovia pada setinggi vertebra sacralis ke-2.

L i g a m e n t a s a c r o i l i a c a y a n g k u a t m e n g e l i l i n g i s e n d i i n i . L i g a m e n t sacrospinosa dan sacrotuberosa menghubungkan sacrum dan os coxae. Ligament sacrotuberostum terentang dari tepi baah sacrum sampai tuber ischiadicum. Ligament sacrospinosum terentang dari tepi bawah sacrum sampai spina ischiadicum. S e m u a l i g a m e n t u m t e r s e b u t s e c a r a n o r m a l m e m b a n t u m e m b a t a s i gerakan sacrum.

Sympisis pubis

Adalah articulation cartilaginosa sekunder yang panjangnya kira-kira 4 cm.facies articularis dari corpus ossis pubis ditutupi oleh kartilago hialin, dan suatudiscus cartilaginosa yang menggabungkan kedua corpora tersebut. Ligamentum pubicum mengelilingi sendi tersebut dan hanya dapat melakukan gerakan yang minimum.

Artikulasio saccrococcsygea

Merupakan articulation cartilaginosa sekunder dibentuk oleh tepi bawah sacrum dan tepi atas coccyx. Sendi ini dikelilingi dan ditopang oleh ligamentum sacrococcygeum dan dapat melakukan fleksi dan ekstensi yang merupakan gerakan pasif saat defekasi dan melahirkan. Ligamentum poupart juga disebut ligamentum inguinale terentang antaraspina iliaca anterior superior dan corpus ossis pubis. Membrane obturatoria: Membrana obturatoria menutup foramen obturatorium dan padanya terdapat celah sempit untuk lewat pembuluh darah,saraf dan pembuluh limfatika.Semua sendi ini dapat bertambah keluasan gerakannya selama kehamilan karena terjadi elastisitas (kelenturan) ligament yang memperkuat sendi tersebut akibat adanya hormone relaksin.

(19)

Persarafan

Perineum dipersarafi oleh sistem saraf somatis dan viseral. Untuk persarafan somatis, terutama melalui N.pudendus yang berasal dari pleksus sacralis S2-S4. Nervus ini meninggalkan rongga pelvis melalui foramen ischiadica major, melewati ligamentum sacrospinous, foramen ischiadica minus lalu memasuki trigonum anale perineum. Di  perineum N.pudendus tersebut bercabang menjadi tiga bagian:

 N. rectalis inferior, mempersarafi M.sphincter ani eksternus dan M.levator ani di sekitarnya. Selain itu serabut saraf ini juga mengantarkan impuls sensorik dari segitiga anal perineum.

 N. perinei, mempersarafi segitiga urogenital. Saraf (motorik) ini mensuplai otot-otot rangka di segitiga urogenital. Saraf ini juga berfungsi mengantarkan impuls sensorik, yaitu melalui N.scrotal posterior (pada pria) atau N.labial posterior (pada wanita).

 N. dorsalis penis/clitoris, memasuki kantung perineal, menuju bagian inferior simfisis  pubis untuk masuk ke daerah penis/clitoris. Saraf ini bersifat sensoris untuk 

menghantar impuls dari bagian dorsal penis/clitoris.

Saraf-saraf somatis lain memasuki perineum dan bersifat sensorik, meliputi cabang dari N.ilio-inguinal, genitofemoral, posterior femoral cutaneous, dan ancoccygeal.

Perineum juga dipersarafi oleh saraf viseral, yang masuk melalui dua rute:

Yang menuju ke bagian kulit, umumnya simpatis postganglionik. Seratnya berjalan  bersama-sama dengan N.pudendus dari ramus yang menghubungkan trunkus

simpatikus pelvis dan ramus anterior sakralis.

Yang menuju ke jaringan erektil, bersifat parasimpatis. Serabutnya melewati pleksus hipogastrik di rongga pelvis, berasal dari saraf splanknik medula spinalis S2-S4. Saraf  ini bersifat memicu terjadinya ereksi.

Vaskularisasi

Vaskularisasi pada perineum terutama disuplai oleh A.pudenda interna. Selain itu  juga A.pudenda eksterna, A.testikular dan A.cremaster.

(20)

A.pudenda interna merupakan cabang dari A.iliaka interna. Arteri ini berjalan  bersama dengan N.pudendus, lalu sama seperti N.pudendus akan bercabang menjadi

tiga:

A.rectalis inferior, yang melewati fossa ischio-anal untuk mempendarahi otot dan kulit terkait. Arteri ini akan beranastomosis dari A.rectalis medial dan superior (yang  berasal dari A.iliaka interna dan A.mesenterika inferior) untuk mensuplai rektum dan

anal canal.

A.perinei, mempendarahi jaringan dan kulit di daerah skrotum atau labia.

Arteri yang menuju jaringan erektil. Pada pria A.pudenda interna akan berakhir  menjadi A.bulbiurethrae (mensuplai kelenjar bulbourethral dan korpus spongiosum), A.uretralis (mensuplai uretra), A.profunda penis (mensuplai crus dan korpus kavernosum) dan A.dorsalis penis (mensuplai glans penis dan jaringan superfisial). Sedangkan pada wanita, A.pudenda interna berakhir menjadi A.clitoridis dengan cabang meliputi A.bulbivestibuli(mensuplai vestibular dan vagina), A.profunda clitoris (mensuplai crus dan korpus kavernosum), dan A.dorsalis clitoris (mensuplai clitoris).

Vena  – vena di perineum bermuara ke V.pudenda interna lalu V.interna iliaka. Pengecualian untuk V.dorsalis profunda penis/clitoris yang bermuara ke vena yang mengelilingi prostat (pada pria) atau kandung kemih (pada wanita). Sedangkan V.pudenda eksterna, yang menerima suplai dari pars anterior labia mayor/skrotum akan bermuara ke V.femoralis.

(21)

HISTOLOGI TULANG PANGGUL (pada orang normal)

Sel- sel pembentuk tulang terdiri dari :

 Sel osteoprogenitor 

Berbentuk seperti gelendong, berinti gepeng, kromatin inti halus serta memiliki sitoplasma bercabang. Sel ini terdapat di permukaan tulang lapisan  periosteum dan endosteum

 Sel osteoblast

Berbentuk kubis atau pyramid dengan inti besar dan 1 anak inti, memiliki sitoplasma basophil. Terdapat di permukaan tulang. Berfungsi untuk  mensintesa komponen organic matriks tulang seperti kolagen tipe 1,  proteoglikan, dan glikoprotein, serta mengendapkan komponen anorganik 

matriks tulang

 Sel osteosit

Berbentuk seperti amandel, berinti gepeng, serta memiliki sitoplasma  basofillik. Terdapat di dalam lacuna

 Sel osteoklas

Berukuran besar dengan sitoplasma asidofilik dan inti banyak. Terdapat di dalam lacuna Howship, berasal dari monosit sehingga dapat bergerak seperti makrofag. Berfungsi untuk mensekresi asam kolagenase

Matriks tulang :

 Organik 

Terdiri dari serat kolagen tipe 1 dan substansia dasar (substansia osteomukoid). Sbstansia dasar tersebut terdiri dari komponen mukopolisakarida (protein non-kolagen) serta protein resisten (protein tahan asam)

 Anorganik 

Merupakan matriks yang menyebabkan tulang menjadi keras. Terdiri dari kalsium fosfat, kalsium karbonat, kalsium flourida, magnesium flourida,sitrat dan klorida

(22)

HISTOLOGI TULANG PANGGUL (pada orang osteoporosis)

Secara makroskopis dapat dibedakan 2 macam tulang, yaitu tulang spongiosa (cancellous) dan tulang kompakta (padat). Tulang spongiosa terdiri atas tr abekula atau  balok tulang langsing, tidak teratur, bercabang dan saling berhubungan membentuk 

anyaman. Trabekula itu sendiri terdiri dari lamel- lamel dan di dalamnya terdapat osteosit serta sistem kanalikuli yang saling berhubungan. Celah- celah di antara anyaman itu ditempati oleh sumsum tulang.

Tulang kompakta tampak padat, kecuali bila dilihat dibawah mikroskop. Di antara kedua jenis tulang ini tidak ada pembatas yang jelas karena hanya tergantung pada  jumlah relatif bahan padat, ukuran dan jumlah celah- celah yang ada. Pada tulang  panjang, bagian batang (diafisis) lebih banyak terdiri atas tulang kompakta, yang mengelilingi rongga sumsum atau sumsum tulang. Setiap bagian ujungnya (epifisis) terdiri atas tulang spongiosa yang dibungkus selapis tipis tulang kompakta. Celah-celah tulang spongiosa berhubungan langsung dengan rongga rongga sumsum tulang diafisis.

Ciri paling utama tulang secara mikroskopik adalah susunannya yang lamelar  (substansi intersel yang mengalami perkapuran), matriks tulang (yang tersusun dalam lapisan- lapisan), atau lamel- lamel dengan berbagai pola. Lamel itu sendiri merupakan hasil peletakan matriks uang terjadi secara ritmik. Serat dalam lamel teratur sejajar satu sama lain dalam bentuk pilinan atau heliks. Di dalam substansi interstitial terdapat rongga- rongga kecil (lakuna) yang berisi sel- sel osteosit. Dari tiap lakuna terpancar saluran- saluran halus (kanalikuli) yang menembus lamel- lamel dan berhubungan dengan kanalikuli lakuna sekitarnya.

Pada penderita osteoporosis, terjadi penurunan massa tulang yang disebabkan oleh  penipisan trabekula- trabekula (balok- balok penyusunnya) pada tulang spongiosa,

(23)

Yang kiri normal, yang kanan mengalami osteoporosis. Pada tulang yang mengalami osteoporosis terlihat trabekul- trabekula yang menipis atau atrophy.(4)

PATOFISIOLOGI NYERI

 Nyeri menurut The Internatinal Assosiation for the study of pain (IASP) adalah  pengalaman sensoris dan emosional yang tidak menyenangkan berhubungan dengan kerusakan jaringan atau potensial akan menyebabkan kerusakan jaringan. Berdasarkan waktunya nyeri dibagi menjadi 2 yaitu nyeri akut yang berlangsung kurang dari 3 bulan dan nyeri kronis yang berlangsung lebih dari 3 bulan.

Klasifikasi nyeri

 Nyeri nosiseptif adalah nyeri yang timbul sebagai rangsangan pada serabut nonsiseptor yaitu serabut A delta dan serabut C oleh rangsang mekanik, termal atau kimia. Nyeri nosiseptif dibagi menjadi 2 yaitu nyeri somatik dan nyeri viseral. Nyeri somatik adalah nyeri yang timbul pada organ non visera seperti nyeri tulang, nyeri arhritis, nyeri metastatik. Nyeri viseral adalah nyeri yang berasal dari organ viseral seperti usus, jantung, pankreas. (5)

Mekanisme nyeri

Proses nyeri dikelompokkan dalam 4 proses yaitu: transduksi, transmi si, modulasi dan  persepsi. Mekanisme nyeri dimulai dari stimulasi nosiceptor oleh stimulus noxious  pada jaringan dimana stimulus ini akan dirubah menjadi potensial aksi. Proses ini disebut transduksi. Potensial aksi akan ditransmisikan neuron sistem saraf pusat yang  berhubungan dengan nyeri. Tahap pertama transmisi adalah konduksi impuls dari neuron aferen primer ke kornu dorsalis medulla spinalis, pada kornu dorsalis ini neuron aferen primer bersinap dengan neuron susunan saraf pusat. Dari sini jaringan neuron tersebut akan naik ke atas di medulla spinalis menuju otak dan talamus.

nyeri nosiseptif  nyeri somatik  nyeri viseral non-nonsiseptif  nyeri neuropatik  nyeri psikogenik 

(24)

Selanjutnya hubungan timbal balik antara talamus dan pusat-pusat yang lebih tinggi di otak yang mengurusi respon persepsi dan afektif yang berhubungan dengan nyeri. Tetapi rangsangan nonsiseptif tidak selalu menimbulkan nyeri dan sebaliknya  persepsi nyeri bisa terjadi tanpa stimulasi nonsiseptif. Terdapat proses modulasi

sinyal yang mampu mempengaruhi proses nyeri tersebut, tempat modulasi sinyal yang  paling diketahui adalah kornu dorsalis medulla spinalis. Proses akhir adalah persepsi,

dimana pesan nyeri di relai menuju otak dan menghasilkan pengalaman yang tidak  menyenangkan. (6)

MINERALISASI TULANG

Mineralisasi tulang merupakan proses penempatan kalsium ke dalam jaringan tulang. Sedangkan demineralisasi merupakan proses yang antagonis dengan mineralisasi yaitu proses pengambilan kalsium dari jaringan tulang. Selama hidup, tulang secara terus-menerus diresorpsi dan dibentuk tulang baru. Kalsium dalam tulang mengalami  pergantian dengan kecepatan 100% per tahun pada bayi dan 18% per tahun pada orang dewasa. Remodeling tulang ini, sebagian bessar adalah proses lokal yang  berlangsung di daerah yang terbatas oleh populasi sel yang disebut unit remodeling

tulang. Dalam proses ini melibatkan dua komponen utama yaitu : a. Osteoblas

Osteoblas merupakan sel jaringan tulang yang berperan mensintesis kolagen untuk membentuk osteoid sebagai bahan dasar tulang.

 b. Osteoklas

Adalah sel fagositik multinukleus besar yang berasal dari sel-sel mirip-monosit yang terdapat di tulang.

Mineralisasi Tulang

Pembentukan tulang berlangsung secara terus menerus dan dapat berupa pemanjangan dan penebalan tulang. Kecepatan pembentukan tulang berubah elama hidup. Pembentukan tulang ditentukan oleh rangsangan hormon, faktor makanan, dan jumlah stres yang dibebankan pada suatu tulang, dan terjadi akibat aktivitas sel-sel  pembentuk tulang yaitu osteoblas. Osteoblas dijumpai dipermukaan luar dan dalam

(25)

tulang. Osteoblas berespon terhadap berbagai sinyal kimiawi untuk menghasilkan matriks tulang. Sewaktu pertama kali dibentuk, matriks tulang disebut osteoid. Dalam  beberapa hari garam-garam kalsium mulai mengendap pada osteoid dan mengeras

selama beberapa minggu atau bulan berikutnya. Sebagian osteoblast tetap menjadi  bagian dari osteoid, dan disebut osteosit atau sel tulang sejati.

Faktor yang Mempengaruhi Mineralisasi

Kalsium adalah salah satu komponen yang berperan terhadap tulang, sebagian ion kalsium di tulang tidak mengalarni kristalisasi. Garam nonkristal ini dianggap sebagai kalsium yang dapat dipertukarkan, yaitu dapat dipindahkan dengan cepat antara tulang, cairan interstisium, dan darah. Estrogen, testosteron, dan hormon  perturnbuhan adalah promotor kuat bagi aktivitas osteoblas dan pertumbuhan tulang. Pertumbuhan tulang dipercepat semasa pubertas akibat melonjaknya kadar hormon-hormon tersebut. Estrogen dan testosteron akhirnya menyebabkan tulang-tulang  panjang berhenti tumbuh dengan merangsang penutupan lempeng epifisis (ujung  pertumbuhan tulang). Vitamin D dalam jumlah kecil merangsang kalsifikasi tulang secara langsung dengan bekerja pada osteoblas dan secara tidak langsung dengan merangsang penyerapan kalsium di usus. Hal ini meningkatkan konsentrasi

kalsium darah, yang mendorong kalsifikasi tulang.

OSTEOPOROSIS

1 Definisi

Osteoporosis adalah penyakit metabolisme tulang yang cirinya adalah pengurangan massa tulang dan kemunduran mikroarsitektur tulang sehingga meningkatkan risiko fraktur oleh karena fragilitas tulang meningkat.

2 Epidemiologi

Insiden osteoporosis lebih tinggi pada wanita dibandingkan laki-laki dan merupakan  problem pada wanita pascamenopause. Osteoporosis di klinik menjadi penting karena  problem fraktur tulang, baik fraktur yang disertai trauma yang jelas maupun fraktur 

(26)

Penelitian Roeshadi di Jawa Timur, mendapatkan bahwa puncak massa tulang dicapai  pada usia 30-34 tahun dan rata-rata kehilangan massa tulang pasca menopause adalah

1,4% per tahun. Penelitian yang dilakukan di klinik Reumatologi RSCM mendapatkan faktor resiko osteoporosis yang meliputi usia, lamanya menopause dan kadar estrogen yang rendah, sedangkan faktor proteksinya adalah kadar estrogen yang tinggi, riwayat barat badan lebih atau obesitas dan latihan yang teratur.

3 Etiologi

Ada 2 penyebab utama osteoporosis, yaitu pembentukan massa puncak tulang yang kurang baik selama masa pertumbuhan dan meningkatnya pengurangan massa tulang setelah menopause. Massa tulang meningkat secara konstan dan mencapai puncak  sampai usia 40 tahun, pada wanita lebih muda sekitar 30-35 tahun. Walaupun demikian tulang yang hidup tidak pernah beristirahat dan akan selalu mengadakan remodelling dan memperbaharui cadangan mineralnya sepanjang garis  beban mekanik. Faktor pengatur formasi dan resorpsi tulang dilaksanakan melalui 2  proses yang selalu berada dalam keadaan seimbang dan disebut coupling . Prosescoupling ini memungkinkan aktivitas formasi tulang sebanding dengan aktivitas resorpsi tulang. Proses ini berlangsung 12 minggu pada orang muda dan 16-20 minggu pada usia menengah atau lanjut.  Remodelling rate adalah 2-10% massa skelet per tahun.

Proses remodelling ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor lokal yang menyebabkan terjadinya satu rangkaian kejadian pada konsep Activation

 – 

Resorption

 – 

Formation (ARF). Proses ini dipengaruhi oleh protein mitogenik yang berasal dari

tulang yang merangsang preosteoblas supaya membelah membelah menjadi osteoblas akibat adanya aktivitas resorpsi oleh osteoklas. Faktor lain yang mempengaruhi  prosesremodelling adalah faktor hormonal. Proses remodelling akan ditingkatkan oleh hormon paratiroid, hormon pertumbuhan dan 1,25 (OH)2 vitamin D. Sedang yang menghambat proses remodelling adalah kalsitonin, estrogen dan glukokortikoid. Proses-proses yang mengganggu remodelling tulang inilah yang menyebabkan osteoporosis.

Selain gangguan pada proses remodelling tulang faktor lainnya adalah pengaturan metabolisme kalsium dan fosfat. Walaupun terdapat variasi asupan kalsium yang

(27)

 besar, tubuh tetap memelihara konsentrasi kalsium serum pada kadar yang tetap. Pengaturan homeostasis kalsium serum dikontrol oleh organ tulang, ginjal dan usus melalui pengaturan paratiroid hormon (PTH), hormon kalsitonin, kalsitriol (1,25(OH)2 vitamin D) dan penurunan fosfat serum. Faktor lain yang berperan adalah hormon tiroid, glukokortikoid dan insulin, vitamin C dan inhibitor mineralisasi tulang (pirofosfat dan pH darah). Pertukaran kalsium sebesar 1.000 mg/harinya antara tulang dan cairan ekstraseluler dapat bersifat kinetik melalui fase formasi dan resorpsi tulang yang lambat. Absorpsi kalsium dari gastrointestinal yang efisien tergantung pada asupan kalsium harian, status vitamin D dan umur. Didalam darah absorpsi tergantung kadar protein tubuh, yaitu albumin, karena 50% kalsium yang diserap oleh tubuh terikat oleh albumin, 40% dalam bentuk kompleks sitrat dan 10% terikat fosfat.

4 Faktor Resiko Osteoporosis 1. Usia

 Tiap peningkatan 1 dekade, resiko meningkat 1,4-1,8

2. Genetik 

 Etnis (kaukasia dan oriental > kulit hitam dan polinesia)  Seks (wanita > pria)

 Riwayat keluarga

3. Lingkungan, dan lainnya

 Defisiensi kalsium  Aktivitas fisik kurang

 Obat-obatan (kortikosteroid, anti konvulsan, heparin, siklosporin)  Merokok, alkohol

 Resiko terjatuh yang meningkat (gangguan keseimbangan, licin,

gangguan penglihatan)

 Hormonal dan penyakit kronik   Defisiensi estrogen, androgen

 Tirotoksikosis, hiperparatiroidisme primer, hiperkortisolisme  Penyakit kronik (sirosis hepatis, gangguan ginjal, gastrektomi)  Sifat fisik tulang

 Densitas (massa)  Ukuran dan geometri  Mikroarsitektur 

(28)

 Komposisi

Selain itu ada juga faktor resiko faktur panggul yaitu,: 1. Penurunan respons protektif 

 Kelainan neuromuskular   Gangguan penglihatan  Gangguan keseimbangan

2. Peningkatan fragilitas tulang

 Densitas massa tulang rendah  Hiperparatiroidisme

3. Gangguan penyediaan energi

 Malabsorpsi

5 Klasifikasi Osteoporosis

 — -Dalam terapi hal yang perlu diperhatikan adalah mengenali klasifikasi osteoporosis dari penderita. Osteoporosis dibagi 2 , yaitu :

 Osteoporosis primer 

Osteoporosis primer berhubungan dengan kelainan pada tulang, yang menyebabkan  peningkatan proses resorpsi di tulang trabekula sehingga meningkatkan resiko fraktur 

vertebra dan Colles. Pada usia dekade awal pasca menopause, wanita lebih sering terkena daripada pria dengan perbandingan 6-8: 1 pada usia rata-r ata 53-57 tahun.

 Osteoporosis sekunder 

Osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit atau sebab lain di luar tulang.

 Osteoporosis idiopatik 

Osteoporosis idiopatik terjadi pada laki-laki yang lebih muda dan pemuda pra menopause dengan faktor etiologik yang tidak diketa hui.

7 Gambaran Klinis

Osteoporosis dapat berjalan lambat selama beberapa dekade, hal ini disebabkan karena osteoporosis tidak menyebabkan gejala fraktur tulang. Beberapa fraktur  osteoporosis dapat terdeteksi hingga beberapa tahun kemudian. Tanda klinis utama dari osteoporosis adalah fraktur pada vertebra, pergelangan tangan, pinggul, humerus, dan tibia. Gejala yang paling lazim dari fraktur korpus vertebra adalah nyeri pada  punggung dan deformitas pada tulang belakang. Nyeri biasanya terjadi akibat kolaps

(29)

sering menyebar kesekitar pinggang hingga kedalam perut. Nyeri dapat meningkat walaupun dengan sedikit gerakan misalnya berbalik ditempat tidur. Istirahat ditempat tidaur dapat meringankan nyeri untuk sementara, tetapi akan berulang dengan jangka waktu yang bervariasi. Serangan nyeri akut juga dapat disertai oleh distensi perut dan ileus

Seorang dokter harus waspada terhadap kemungkinan osteoporosis bila didapatkan :

 Patah tulang akibat trauma yang ringan.

 Tubuh makin pendek, kifosis dorsal bertambah, nyeri tulang.  Gangguan otot (kaku dan lemah)

 Secara kebetulan ditemukan gambaran radiologik yang khas.

PATOGENESIS TERJADINYA OSTEOPOROSIS

Terjadinya osteoporosis secara seluler disebabkan oleh karena jumlah dan aktivitas sel osteoklas melebihi dari jumlah dan aktivitas sel osteoblas. Keadaan ini mengakibatkan penurunan massa tulang. Ada beberapa teori yang menyebabkan deferensiasi sel osteoklas meningkat dan meningkatkan aktivitasnya yaitu:

1. Defisiensi estrogen 2. Faktor sitokin 3. Pembebanan

1. Defisiensi estrogen

Dalam keadaan normal estrogen dalam sirkulasi mencapai sel osteoblas, dan  beraktivitas melalui reseptor yang terdapat di dalam sitosol sel tersebut, mengakibatkan menurunnya sekresi sitokin seperti: Interleukin-1 (IL-1), Interleukin-6 (IL-6) dan Tumor Necrosis Factor-Alpha (TNF-a), merupakan sitokin yang berfungsi dalam penyerapan tulang. Di lain pihak estrogen meningkatkan sekresi Transforming Growth Factor b (TGF-b), yang merupakan satu-satunya faktor pertumbuhan (growth factor) yang merupakan mediator untuk menarik sel osteoblas ke tempat lubang tulang yang telah diserap oleh sel osteoklas. Sel osteoblas merupakan sel target utama dari estrogen, untuk melepaskan beberapa faktor pertumbuhan dan sitokin seperti tersebut diatas, sekalipun secara tidak langsung maupun secara langsung juga  berpengaruh pada sel osteoklas.

(30)

Efek estrogen pada sel osteoblast:

Estrogen merupakan hormon seks steroid memegang peran yang sangat  penting dalam metabolisme tulang, mempengaruhi aktivitas sel osteoblas

maupun osteoklas, termasuk menjaga keseimbangan kerja dari kedua sel tersebut melalui pengaturan produksi faktor parakrin-parakrin utamanya oleh sel osteoblas.Seperti dikemukakan diatas bahwa sel osteoblas memiliki reseptor estrogen alpha dan betha (ERa dan ERb) di dalam sitosol. Dalam diferensiasinya sel osteoblas mengekspresikan reseptor betha (ERb) 10 kali lipat dari reseptor estrogen alpha (ERa).

Didalam percobaan binatang defisiensi estrogen menyebabkan terjadinya osteoklastogenesis dan terjadi kehilangan tulang. Akan tetapi dengan  pemberian estrogen terjadi pembentukan tulang kembali, dan didapatkan  penurunan produksi dari IL-1, IL-6, dan TNF-a, begitu juga selanjutnya akan terjadi penurunan produksi M-CSF dan RANK-Ligand (RANK-L). Di sisi lain estrogen akan merangsang ekspresi dari osteoprotegerin (OPG) dan TGF-b (Transforming Growth Factor-b) pada sel osteoblas dan sel stroma, yang lebih lanjut akan menghambat penyerapan tulang dan meningkatkan apoptosis dari sel osteoklas.

Efek estrogen pada sel osteoklas :

Jadi estrogen mempunyai efek terhadap sel osteoklas, bisa memberikan  pengaruh secara langsung maupun tidak langsung. Secara tidak langsung estrogen mempengaruhi proses deferensiasi, aktivasi, maupun apoptosi dari osteoklas. Dalam deferensiasi dan aktivasinya estrogen menekan ekspresi RANK-L, MCSF dari sel stroma osteoblas, dan mencegah terjadinya ikatan kompleks antara RANK-L dan RANK, dengan memproduksi reseptor OPG, yang berkompetisi dengan RANK. Begitu juga secara tidak langsung estrogen menghambat produksi sitokin-sitokin yang merangsang diferensiasi osteoklas seperti: IL-6, IL-1, TNF-a, IL-11 dan IL-7.18 Terhadap apoptosis sel osteoklas, secara tidak langsung estrogen merangsang osteoblas untuk memproduksi TGF-b, yang selanjutnya TGF-b ini menginduksi sel osteoklas untuk lebih cepat mengalami apoptosis.

Sedangkan efek langsung dari estrogen terhadap osteoklas adalah melalui reseptor estrogen pada sel osteoklas, yaitu menekan aktivasi c-Jun, sehingga

(31)

mencegah terjadinya diferensiasi sel prekursor osteoklas dan menekan aktivasi sel osteoklas dewasa. (7)

FRAKTUR 

Pengertian Fraktur

a. Fraktur adalah Terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa. (Sjamsuhidajat R., 1997)

 b. Fraktur adalah Patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik.(Price and Wilson, 2006).

c. Fraktur adalah Terputusnya kontinuitas tulang dan tulang rawan (Mansjoer,dkk, 2000)

Penyebab patah tulang

Fraktur terjadi ketika tekanan yang menimpa tulang lebih besar daripada daya tahan tulang, seperti benturan dan cedera. Fraktur juga komplikasi yang paling sering dan serius sebagai dampak osteoporosis. Fraktur sering terjadi pada tulang belakang atau  pinggul, tulang yang secara langsung mendukung berat badan. Patah tulang pinggul sering hasil dari riwayat jatuh. Meskipun kebanyakan orang relatif baik dengan

(32)

 pengobatan bedah modern, patah tulang pinggul dapat menyebabkan kecacatan dan  bahkan kematian akibat komplikasi pasca operasi, terutama pada orang dewasa yang lebih tua. Seperti halnya pinggul, pergelangan tangan terkadang juga terjadi fraktur  akibat riwayat jatuh. Dalam beberapa kasus, patah tulang belakang dapat terjadi  bahkan jika seseorang tidak jatuh sekalipun. Fraktur kompresi dapat menyebabkan sakit parah dan memerlukan pemulihan yang lama. Fraktur terjadi karena tulang yang sakit, ini dinamakan fraktur patologi yaitu kelemahan tulang akibat penyakit kanker  atau osteoporosis.

Jenis-jenis fraktur

a. Fraktur komplit adalah patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya megalami pergeseran (bergeser dari posisi normal).

 b. Fraktur Tidak komplit (inkomplit) adalah patah yang hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang.

c. Fraktur tertutup (fraktur simple) tidak menyebabkan robeknya kulit

d. Fraktur terbuka (fraktur komplikata/kompleks) merupakan fraktur dengan luka  pada kulit atau mebran mukosa sampai ke patahan kaki. 1) Fraktur terbuka

terbagi atas tiga derajat, yaitu :

Derajat I :

 Luka < 1 cm

 Kerusakan jaringan lunak sedikit, tidak ada tanda luka remuk   Fraktur sederhana, tranversal, oblik, atau kominutif ringan  Kontaminasi minimal

Derajat II :

 laserasi > 1 cm

 Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/avulse  Fraktur kominutif sedang

 Kontaminasi sedang

Derajat III :

 Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot. dan

(33)

o Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat, meskipun

terdapat laserasi luas/flap/avulse atau fraktur segmental/sangat kominutif yang disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa melihat besarnya ukuran luka.

o Kehilangann jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar 

atau kontaminasi massif.Luka pada pembuluh arteri/saraf perifer  yang harus diperbaiki tanpa melihat kerusakan jaringan lunak.

e. Sesuai pergerseran anatomisnya fraktur dibedakan menjadi tulang bergeser/tidak   bergeser. Jenis khusus fraktur dibagi menjadi:

1) Greensick, fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya membengkok.

2) Transversal, fraktur sepanjang garis tengah tulang.

3) Oblik, fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang (lebih tidak stabil dibanding transversal).

4) Spiral, fraktur memuntir seputar batang tulang.

5) Kominutif, fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen. 6) Depresi, fraktur dengan fragmen patahan terdorng ke dalam (sering

terjadi pada tulang tengkorak dan tulang wajah).

7) Kompresi, fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang).

8) Patologik, fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista tulang, penyakit Paget, metastasi tulang, tumor).

9) Avulsi, tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendo pada  perlengkatannya.

10) Epfiseal, fraktur melalui epifisis

11) Impaksi, fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang lainnya.

Definisi Fraktur Femur

Fraktur femur adalah rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian), kelelahan otot, kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi tulang/osteoporosis. Ada 2 tipe dari fraktur femur, yaitu :

1. Fraktur Intrakapsuler; femur yang terjadi di dalam tulang sendi, panggul dan kapsula.

(34)

a. Melalui kepala femur (capital fraktur)  b. Hanya di bawah kepala femur 

c. Melalui leher dari femur  2. Fraktur Ekstrakapsuler;

a. Terjadi di luar sendi dan kapsul, melalui trokhanter femur yang lebih  besar/yang lebih kecil /pada daerah intertrokhanter.

 b. Terjadi di bagian distal menuju leher femur tetapi tidak lebih dari 2 inci di bawah trokhanter kecil.

Klasifikasi fraktur collum femoris (Garden, 1961)

a. Stadium I : fraktur yang sepenuhnya terimpaksi  b. Stadium II : fraktur lengkap tetapi tidak bergeser 

c. Stadium III : fraktur lengkap dengan pergeseran sedang

d. Stadium IV : fraktur bergeser secara hebat

Bila dibiarkan tanpa terapi, fraktur stadium I yang tampaknya benigna dapat dengan cepat berubah menjadi stadium IV

Etiologi

Menurut Sachdeva (1996), penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: 1. Cedera traumatic

a) cedera langsung, berarti pukulan langsung pada tulang sehingga tulang  patah secara spontan

 b) cedera tidak langsung, berarti pukulan langsung berada jauh dari  benturan, misalnya jatuh dengan tangan menjulur dan menyebabkan

fraktur klavikula.

c) Fraktur yang disebabkan kontraksi keras dari otot yang kuat. 2. Fraktur patologik 

Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit, diman dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur, dapat juga terjadi pada keadaan :

a) Tumor tulang (jinak atau ganas)  b) Infeksi seperti osteomielitis

(35)

c) Rakhitis, suatu penyakti tulang yang disebabkan oleh devisiensi vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain.

3. Secara spontan, disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas di kemiliteran.

Patofisiologi Fraktur

Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekeuatan dan gaya pegas untuk  menahan tekanan (Apley, A. Graham, 1993). Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang (Carpnito, Lynda Juall, 1995). Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai denagn vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. ini merupakan dasar penyembuhan tulang.

Manifestasi Klinik fraktur

Daerah paha yang patah tulangnya sangat membengkak, ditemukan tanda functio laesa, nyeri tekan dan nyeri gerak. Tampak adanya deformitas angulasi ke lateral atau angulasi ke anterior. Ditemukan adanya perpendekan tungkai bawah. Pada fraktur 1/3 tengah femur, saat pemeriksaan harus diperhatikan pula kemungkinan adanya dislokasi sendi panggul dan robeknya ligamentum didaerah lutut. Selain itu periksa  juga nervus siatika dan arteri dorsalis pedis

Komplikasi Fraktur

Komplikasi dini dari fraktur femur ini dapat terjadi syok dan emboli lemak. Sedangkan komplikasi lambat yang dapat terjadi delayed union, non-union, malunion, kekakuan sendi lutut, infeksi dan gangguan saraf perifer akibat traksi yang berlebihan.

Referensi

Dokumen terkait

Koloid gabungan yaitu zat yang aditif permukaan yang memiliki dua daerah yng melakukan aktivitas larutan aktif dalam molekul air yang sama dengan suatu medium

Peta pengendali rata-rata sebelum revisi Karena pada data ketigabelas dan keduapuluh dalam pengendali jarak atau tingkat keakurasian proses sudah dilakukan revisi

Pada tahap evaluasi diperoleh rata-rata kemampuan literasi matematika telah mencapai batas tuntas aktual (BTA) atau lebih, proporsi ketuntasan siswa telah mencapai

Berdasarkan hasil pengujian data keramik, terdapat beberapa keramik yang tidak sesuai dengan hasil prediksi sehingga dapat disimpulkan bahwa algoritma K-Means pada pengujian

Bosowa Berlian Motor Makassar dalam meningkatkan keputusan pembelian dengan memperbaiki brand image dari produk yang ditawarkan yang mampu memberikan ketertarikan

Berdasarkan hasil observasi dan studi dokumentasi yang dilakukan pada penelitian, diketahui bahwa sekolah yang menjadi lokasi penelitian lokasi tempatnya mudah diakses dari

Dalam hal peralatan, masih perlu me- nyesuaikan dengan perkembangan teknologi mutakhir; sekolah tidak memiliki panduan prakerin, pembekalan hanya dilakukan se- minggu