Modul
PAJAK PERTAMBAHAN NILAI
DAN
PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH
DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR PAJAK II
PENYUSUN : UNTUNG SUKARDJI, S.H., M.Sc
PUSDIKLAT PAJAK
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
Jl. Sakti Raya No. 1, Kemanggisan, Jakarta 11480
Telepon (021) 5481145 Fax (021) 5481394
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN i
Kata Pengantar
Dalam rangka proses belajar mengajar mata kuliah “Pajak Pertambahan Nilai” dalam Diklat Teknis Substantif Dasar Pajak II untuk calon karyawan yang ditempatkan di Direktorat Jenderal Pajak, kiranya dipandang perlu untuk disusun sebuah modul yang dapat digunakan sebagai panduan bagi para peserta.
Karena dimaksudkan hanya sebagai panduan, maka modul ini disusun dalam bentuk yang sederhana dan diusahakan tanpa mengurangi fungsinya. Bagi para Peserta DTSD Pajak II dengan sendirinya tidak cukup hanya membaca modul ini melainkan harus ditunjang dengan buku referensi yang sudah disediakan supaya dapat memperoleh manfaat secara optimal.
Bagi para pengajar PPN DTSD Pajak II ini hendaknya menggunakan modul ini seba-gai pedoman supaya lebih terarah dan porsi materi yang disampaikan kepada para peserta diklat tidak terlalu berlebihan sehingga setelah mengikuti diklat, peserta mampu memahami dan melaksanakan kebijakan (policy) Direktur Jenderal Pajak dengan benar.
Sesuai dengan pengetahuan penyusun yang masih serba terbatas, modul ini jelas banyak mengandung kekurangan. Sehubungan dengan itu, saran dan kritik yang konstruktif sangat penulis dambakan, untuk menyempurnakannya dikemudian hari.
Jakarta, Januari 2009 Penyusun
Untung Sukardji Widyaiswara Utama
MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN ii DAFTAR ISI Kata Pengantar ……….. i Daftar Isi ……….. ii 1. PENDAHULUAN ……… 1 1.1. Pengantar ……… 1
1.2. Tujuan Instruksional Umum ……… 2
1.3. Tujuan Instruksional Khusus ……….. 2
2. KEGIATAN BELAJAR 1 PENGERTIAN DASAR PAJAK PERTAMBAHAN NILAI……… 3
2.1. Uraian, contoh dan non contoh ……… 3
2.2. Latihan 1 ……… 13
3. KEGIATAN BELAJAR 2
OBJEK PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ……… 14
3.1. Uraian, contoh dan non contoh ……… 14
3.2. Latihan 2 ……… 28
4. KEGIATAN BELAJAR 3 SAAT DAN TEMPAT PAJAK TERUTANG ……… 30
4.1. Uraian, contoh dan non contoh ……… 30
4.2. Latihan 3 ……… 37
5. KEGIATAN BELAJAR 4 SUBJEK PAJAK ………. ……… 38
5.1. Uraian, contoh dan non contoh ……… 38
5.2. Latihan 4 ……… 40
6. KEGIATAN BELAJAR 5 FAKTUR PAJAK ………. ……… 42
6.1. Uraian, contoh dan non contoh ……… 42
MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN iii 7. KEGIATAN BELAJAR 6
DASAR PENGENAAN PAJAK …………. ……… 58
7.1. Uraian, contoh dan non contoh ……… 58 7.2. Latihan 6 ……… 60
8. KEGIATAN BELAJAR 7
PENGREDITAN PAJAK MASUKAN ……….. 62
8.1. Uraian, contoh dan non contoh ……… 62 8.2. Latihan 7 ……… 69
9. KEGIATAN BELAJAR 8
OBJEK PPN YANG BERSIFAT SPESIFIK ……….. 71
9.1. Uraian, contoh dan non contoh ……… 71 9.2. Latihan 8 ……… 77
10. KEGIATAN BELAJAR 9
PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH……….. 78
10.1. Uraian, contoh dan non contoh ……… 78 10.2. Latihan 9 ……… 81
11. KEGIATAN BELAJAR 10
PEMUNGUT PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ……….. 83
11.1. Uraian, contoh dan non contoh ……… 83
12. KEGIATAN BELAJAR 11
FASILITAS PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ……….. 87
12.1. Uraian, contoh dan non contoh ……… 87 12.2. Latihan 11 ……… 93
13. KEGIATAN BELAJAR 12
RESTITUSI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ……….. 95
13.1. Uraian, contoh dan non contoh ……… 95 13.2. Latihan 12 ……… 97
14. KEGIATAN BELAJAR 13
MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN iv
14.1. Uraian, contoh dan non contoh ……… 98 14.2. Latihan 13 ……… 99
PAJAK PERTAMBAHAN NILAI
1. PENDAHULUAN 1.1. Pengantar
Sejak 1 April 1985 mulai berlaku UU Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang Dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah . UU Nomor 8 Tahun 1983 ini telah mengalami perubahan dua kali, yaitu :
a. perubahan pertama mulai berlaku sejak 1 Januari 1995, dengan UU Nomor 11 Tahun 1994, Pasal 1 sampai dengan Pasal 17 UU Nomor 8 Tahun 1983 ini diubah.
b. Perubahan kedua mulai berlaku 1 Januari 2001, dengan UU Nomor 18 Tahun 2000, Pasal 1 sampai dengan Pasal 16C diubah.
Sebagaimana diketahui, UU Nomor 8 Tahun 1983 diundangkan untuk menggantikan UU Darurat Nomor 19 Tahun 1951 jo UU Nomor 35 Tahun 1953 tentang Pajak Penjualan yang dinamakan UU Pajak Penjualan (PPn) 1951.
Motivasi penggantian Pajak Penjualan (PPn) dengan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) disebabkan PPN memiliki beberapa legal karakter positive yang tidak dimiliki oleh Pajak Penjualan. Salah satu karakter positive PPN adalah tidak menimbulkan dampak kumulatif meskipun bersifat multi stage levy. Di samping itu baik Pajak Penjualan maupun Pajak Pertambahan Nilai memiliki karakter sebagai Pajak Tidak Langsung.
Karakter PPN sebagai pajak tidak langsung acapkali kurang mendapat perhatian dalam penyusunan kebijakan di kalangan pengambil keputusan di Kantor Pusat Direktorat Jen-deral Pajak. Demikian pula legal karakter PPN sebagai pajak atas konsumsi yang mem-bedakan dari Pajak Penghasilan sebagai pajak atas kegiatan bisnis. Sebagai pajak objektif, unsur objek pajak menempati posisi strategis di PPN sehingga penentuan objek pajak sa-ngat relevan.
Sejak 1 April 1985 mulai berlaku UU Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang kemudian sejak 1 Januari 1995 Pasal 1 sampai dengan Pasal 17 Undang-undang ini diubah dengan UU Nomor 11 Tahun 1994. Perubahan kedua dilakukan lagi dengan UU Nomor 18 Tahun 2000 yang mulai berlaku sejak 1 Januari 2001. Namun demikian nama Undang-undang ini tidak mengalami perubahan melainkan tetap disebut UU Pajak Pertambahan Nilai 1984 sebagaimana diatur dalam Pasal 20 UU Nomor 8 Tahun 1983,.
Sebagaimana diketahui, UU Nomor 8 Tahun 1983 diundangkan untuk menggantikan UU Darurat Nomor 19 Tahun 1951 jo UU Nomor 35 Tahun 1953 tentang Pajak Penjualan yang dinamakan UU Pajak Penjualan (PPn) 1951.
Motivasi penggantian Pajak Penjualan dengan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) disebabkan PPN memiliki beberapa legal karakter positive yang tidak dimiliki oleh Pajak Penjualan. Salah satu karakter positive PPN adalah tidak menimbulkan dampak kumulatif meskipun bersifat multi stage levy.
1.2. Tujuan Instruksional Umum
Peserta Diklat Teknis Substantif Dasar Pajak II (DTSD Pajak II) adalah calon pegawai Direktorat Jenderal Pajak yang pada masa yang akan datang akan ikut berperan sebagai bagian dari pejabat pengambil keputusan dan pembuat kebijakan di Direktorat Jenderal Pajak. Oleh karena itu, setelah mengikuti diklat para peserta DTSD Pajak II sudah seharusnya memiliki kemampuan:
a. memahami dan menjelaskan permasalahan Pajak Pertambahan Nilai. b. menghitungan dan menetapkan besarnya utang pajak.
c. Melakukan pengawasan di bidang Pajak Pertambahan Nilai..
1.3. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti TSD Pajak II, para peserta diharapkan mampu dan menjelasakn : a. filosofi Pajak Pertambahan Nilai
b. objek dan subjek Pajak Pertambahan Nilai dengan benar
c. timbulnya utang pajak yang merupakan basis bagi Pengusaha Kena Pajak untuk melaksanakan kewajibannya di bidang PPN
d. Faktur Pajak serta pengelolaannya
e. Dasar Pengenaan Pajak dengan benar yang merupakan basis penentuan jumlah pajak yang terutang dengan benar dan akurat
f. mekanisme pengreditan Pajak Masukan g. PPnBM dan karakteristiknya
h. Perlakuan PPN terhadap objek pajak yang bersifat spesifik
i. seluk beluk Pemungut PPN meliputi pelaksanaan kewajiban dan pengawasannya j. fasilitas PPN
2. KEGIATAN BELAJAR 1
PENGERTIAN DASAR
PAJAK PERTAMBAHAN NILAI
Uraian, contoh dan non contoh
a. Latar Belakang penggantian Pajak Penjualan dengan Pajak Pertambahan Nilai Dengan Undang-undang Darurat Nomor 19 Tahun 1951, Pajak Penjualan berlaku di Indonesia sejak 1 Oktober 1951. Undang-undang ini dinamakan UU PPn 1951. Kemudian dengan UU Nomor 35 Tahun 1953, UU Darurat tersebut ditetapkan menjadi Undang-undang. UU PPn 1951 yang sudah memberikan dedikasinya selama lebih dari 30 tahun, dalam “Reformasi Sistem Perpajakan Nasional 1983” yang lebih dikenal dengan sebutan “Tax Reform 1983”, diganti dengan Pajak Pertambahan Nilai. Adapun latar belakang penggantian ini, adalah :
1) UU PPn 1951 telah berulang kali diubah sehingga sulit dipahami sehingga sulit dilaksanakan; 2) dalam pelaksanaannya UU PPn 1951 menimbulkan pengenaan pajak berganda sehingga PPn
menjadi tidak netral baik dalam perdagangan di dalam negeri maupun internasional;
3) mengandung dualisme sistem pemungutan, yaitu bagi wajib pajak yang mampu menyelenggarakan pembukuan menggunakan “self assessment system” sedangkan bagi yang tidak mampu menyelenggarakan pembukuan menggunakan “official assessment system”. 4) variasi tarif yang cukup banyak, sampai 9 macam tarif, menyulitkan tindakan pengawasan
terhadap kepatuhan wajib pajak.
Sisi negatif PPn ini, terutama pengenaan pajak berganda mendorong wajib pajak untuk meng-hindar dari pengenaan PPn bahkan kalau perlu mereka melakukan penggelapan pajak. Mengmeng-hindar dari pengenaan pajak (tax avoidance) masih tergolong sebagai tindakan legal misalnya beberapa perusahaan dalam satu rangkaian beberapa mata rantai jalur produksi atau distribusi yang sejenis melakukan peleburan usaha, sehingga beberapa mata rantai produksi atau distribusi lolos dari pengenaan PPn. Misalnya perkebunan kapas, pabrik benang, pabrik tekstil, perusahaan garmen meleburkan diri menjadi satu perusahaan garmen terpadu. Dengan demikian, maka penyerahan bahan baku antar divisi tersebut tidak dapat dikenakan PPn karena berada dalam satu perusahaan terpadu. Bagi pengusaha yang lain yang lebih suka mengambil jalan pintas, lebih memilih menye-lundupkan/menggelapkan pajak dengan cara melaporkan jumlah peredaran bruto lebih rendah dari pada yang sebenarnya.
b. Legal Karakter Pajak Pertambahan Nilai
Untuk memahami Pajak Pertambahan Nilai khususnya PPN Indonesia, maka perlu dipahami legal karakter PPN Indonesia yang dapat dirinci dan diuraikan sebagai berikut :
PAJAK TI DAK LANGSUNG
PAJAK OBJEKTI F
MULTI STAGE LEVY
NON CUMULATIVE
LEGAL KARAKTER PPN
(Indonesia)
TARIF TUNGGAL
INDIRECT SUBTRACTION/ CREDIT/ INVOICE METHOD
CONSUMPTION TYPE VAT PAJAK ATAS KONSUMSI
DALAM NEGERI
Gambar 1
1) Pajak Pertambahan Nilai sebagai Pajak Tidak Langsung dan Pajak Objektif Karakter PPN sebagai pajak tidak langsung ini menimbulkan konsekuensi yuridis bahwa antara pemikul beban pajak (destinataris pajak) dengan penanggung jawab atas penyetoran pa-jak ke kas negara berada pada pihak-pihak yang berbeda. Pemikul beban papa-jak ini berada pada pembeli Barang Kena Pajak (BKP) atau penerima Jasa Kena Pajak (JKP). Sedangkan penang-gung jawab atas pelaporan/penyetoran pajak ke kas negara adalah Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang bertindak selaku penjual BKP atau pengusaha JKP selaku pengusaha yang me-nyerahkan JKP. Oleh karena itu apabila terjadi penyimpangan pemungutan PPN, fiskus akan meminta pertanggungjawaban kepada Penjual BKP atau Pengusaha JKP tersebut, bukan kepada pembeli, walaupun pembeli kemungkinan juga berstatus sebagai PKP.
Gambar 2 NEGARA PENJUAL/ PENGUSAH PEMBELI/ PENERIMA JASA PENANGGUNG JAWAB PEMIKUL BEBAN PAJAK PPN BKP/JK PPN
Sebagai Pajak Tidak Langsung, pengertian Pajak Pertambahan Nilai dapat dirumuskan berdasar dua sudut pandang sebagai berikut:
a) Sudut pandang ilmu ekonomi, beban pajak dialihkan kepada pihak lain, yaitu pihak yang akan mengkonsumsi barang atau jasa yang menjadi obyek pajak.
b) Sudut pandang ilmu hukum, tanggung jawab pembayaran pajak kepada kas negara tidak berada ditangan pihak yang memikul beban pajak. Sudut pandang ilmu hukum ini memba-wa konsekuensi filosofis bahmemba-wa :
(1) apabila pembeli atau penerima jasa telah membayar pajak yang terutang kepada penjual atau pengusaha jasa, pada hakekatnya sama dengan telah membayar pajak tersebut ke kas negara.
(2) dalam hal (PKP) penjual tidak memungut pajak dari pembeli dengan alasan apapun, sepenuhnya menjadi tanggung jawab penjual, bukan tanggung jawab pembeli.
Oleh karena itu, PKP Penjual/Pengusaha Jasa tidak dapat menghindar dari pertanggungjawab-an ini dengpertanggungjawab-an berargumentasi bahwa pembeli tidak mau membayar PPN sehingga ia tidak ber-hasil memungut PPN yang terutang. Berber-hasil atau tidak berber-hasil memungut PPN yang terutang, sepenuhnya menjadi tanggung jawab penjual. Kelalaian PKP Penjual/Pengusaha Jasa tidak dapat dialihkan menjadi tanggung jawab Pembeli atau Penerima Jasa.
Selain sebagai pajak tidak langsung, PPN juga memiliki legal karakter sebagai pajak objektif yang bermakna bahwa timbulnya kewajiban pajak ditentukan oleh tatbestand yaitu peristiwa atau perbuatan hukum yang dapat dikenakan pajak yang juga disebut objek pajak. Kondisi subjektif subjek pajak tidak ikut menentukan. PPN tidak membedakan antara konsu-men orang pribadi dengan konsumen berbentuk badan, antara konsumen yang berpenghasilan tinggi dengan yang berpenghasilan rendah. Sepanjang mereka mengonsumsi barang atau jasa dari jenis yang sama, mereka diperlakukan sama. Sebagai pajak objektif PPN menimbulkan dampak regresive yaitu semakin tinggi kemampuan konsumen semakin ringan beban pajak yang dipikul, semakin rendah kemampuan konsumen, semakin berat beban pajak yang dipikul. Untuk mengurangi dampak regresif ini, terhadap konsumen yang mengonsumsi BKP yang tergolong mewah dikenakan PPnBM di samping PPN.
Sebagai contoh dapat dikemukakan andaikata ada seorang SATPAM membeli sepatu kanvas warna hitam di sebuah toko sepatu, demikian pula direktur dari perusa-haan tempat SATPAM bekerja, membeli sepatu yang jenisnya sama di toko sepatu yang sama. Harga sepatu tersebut misalnya Rp 100.000,00, maka baik SATPAM mau-pun direktur tersebut dikenakan PPN dalam jumlah yang sama yaitu 10% x Rp100.000,00 = Rp10.000,00. Bagi SATPAM uang sejumlah Rp 10.000,00 memiliki nilai yang relatif cukup berarti apabila dibandingkan dengan nilai uang tersebut bagi direktur. Dari contoh ini dapat diketahui bahwa bagi satpam yang tingkat kemampuannya jauh lebih rendah dari pada direktur, memikul beban pajak yang lebih berat. Sebaliknya bagi direktur yang tingkat kemampuannya jauh lebih tinggi dari pada
SAT-PAM, memikul beban pajak yang lebih ringan. Untuk mengurangi dampak regresive, apabila pada suatu ketika direktur tersebut membeli “play station” untuk anaknya, maka di samping dikenakan PPN 10% juga dikenakan PPnBM sebagai pungutan tambahan sebesar 20%.
2) Multi Stage Levy namun Non Kumulatif.
Multi stage tax adalah karakteristik PPN yang mempunyai makna PPN dikenakan pada setiap mata rantai jalur produksi maupun jalur distribusi. Setiap penyerahan barang yang menjadi obyek PPN mulai dari tingkat pabrikan (manufacturer) kemudian ditingkat pedagang besar (wholesaler) dalam berbagai bentuk atau nama sampai dengan tingkat pedagang pengecer (retailer) dikenakan PPN.
Penyerahan benang ke pabrik tekstil adalah objek PPN, demikian pula penyerahan tekstil ke pengusaha garmen. Selanjutnya PPN juga dikenakan atas penyerahan garmen kepada pedagang besar oleh pengusaha garmen. Demikian seterusnya sampai dengan penyerahan garmen oleh pedagang eceran kepada konsumen yang merupakan sasaran PPN yang sebenarnya. Meskipun memiliki karakter multi stage levy, PPN tidak menimbulkan dampak kumulasi.
Dampak kumulasi ini dapat dihindari karena dalam penghitungan pajak terutang yang wajib disetor ke kas negara, PPN menerapkan indirect subtraction method (metode pengurang-an tidak lpengurang-angsung). Ketika PKP membeli BKP dari PKP lain selaku Penjual, PKP Pembeli membayar PPN kepada PKP Penjual. PPN yang dibayar oleh PKP Pembeli ini disebut Pajak Masukan (input tax). Apabila kemudian oleh PKP yang semula sebagai pembeli, BKP tersebut dijual, maka PKP ini wajib memungut PPN dari pembeli yang dinamakan Pajak Keluaran (output tax). Berdasarkan indirect subtraction method, PPN yang disetor ke kas negara meru-pakan hasil pengurangan Pajak Keluaran yang dipungut dengan Pajak Masukan yang dibayar. Metode ini acapkali disebut “invoice method” atau “credit method”.
Korelasi antara indirect subtraction method dengan penghindaran dampak kumulasi dapat disimak dalam Gambar 3 dan Gambar 4.
Dari perbandingan antara Pajak Penjualan yang kumulatif dengan PPN yang non kumulatif dalam gambar tersebut, dapat dihitung beban pajak yang dipikul oleh konsumen sebagai berikut:
- dalam mekanisme PPN yang menggunakan indirect subtraction method. Jumlah PPN yang disetor ke kas negara = 150.000
Harga Jual yang dibayar oleh konsumen = 1.500.000
Beban pajak yang dipikul oleh konsumen = 150/1.500 x 100% = 10% - dalam mekanisme PPn yang menggunakan pola konvensional.
Jumlah PPN yang disetor ke kas negara = 100.000 + 140.000 + 170.000 = 410.000 Harga Jual yang dibayar oleh konsumen = 1.700.000
Karena menimbulkan dampak kumulatif (cascade effect), maka beban pajak yang dipikul oleh konsumen lebih tinggi dari pada tarif PPn.
MULTI STAGE LEVY namun NON KUMULATIF
PABRIKAN PEDAGANG BESAR PEDAGANG ECERAN KONSUMEN BKP BKP BKP HARGA JUAL =1.000.000 HARGA BELI =1.000.000 NILAI TAMBAH = 300.000 HARGA JUAL =1.300.000 HARGA BELI = 1.300.000 NILAI TAMBAH = 200.000 HARGA JUAL= 1.500.000 PPN 10% 100.000 PPN 10% 130.000 PPN 10% 150.000 PK = 100.000 PM = 130.000 BEBAN PAJAK PPN = 30.000 PPN = 20.000 PPN = 100.000 KN KN KN PK = 150.000 PK = 130.000 PM = 100.000 Gambar 3
PERBANDINGAN PPn KUMULATIF& PPN NON KUMULATIF
PABRIKAN PEDAGANG BESAR PEDAGANG ECERAN
KONSUMEN
HARGA JUAL 1.000.000 HARGA BELI = 1.000.000 NILAI TAMBAH= 300.000 HARGA JUAL = 1.300.000 HARGA BELI = 1.300.000 NILAI TAMBAH = 200.000 HARGA JUAL= 1. 500.000 PPN 100.000 PPN 130.000 PPN 150.000 HARGA JUAL 1.000.000 HARGA BELI = 1.100.000 NILAI TAMBAH = 300.000 HARGA JUAL=1.400.000 HARGA BELI = 1.540.000 NILAI TAMBAH = 160.000 HARGA JUAL =1. 700.000 PPn 100.000 PPn 140.000 PPn 170.000 KAS NEGARA PPN 30.000 KAS NEGARA PPN 20.000KUMULATIF NON KUMULATIF
Perbandingan antara
PPn kumulatif dg PPN non kumulatif
3) Penghitungan PPN terutang untuk dibayar ke kas negara menggunakan indi-rect subtraction method
UU PPn 1951 mewajibkan Penjual atau Pengusaha Jasa untuk menyetorkan ke kas negara seluruh PPn yang dipungut dari Pembeli atau Penerima Jasa. UU PPN 1984 menganut meka-nisme yang berbeda ketika menentukan jumlah PPN yang wajib disetor ke kas negara. PPN yang dipungut dari Pembeli atau Penerima jasa tidak selalu harus disetor ke kas negara. Ketika PKP menyerahkan JKP Penjual atau PKP Pengusaha Jasa memungut PPN yang terutang,
Indirect Subtraction Method adalah metode penghitungan PPN yang akan disetor ke kas negara
dengan cara mengurangkan pajak atas perolehan dengan pajak atas penyerahan barang atau jasa.
PPN
SISTIM PEMUNGUTAN PPn atas Nilai Tambah HARGA BELI BH BAKU = 500 BH PEMBANTU= 300 SUKU CADANG DLL. = 200 ---JUMLAH = 1000 BIAYA PENYUSUTAN = 50 BUNGA = 100 GAJI/UPAH = 300 MANAJEMEN = 150 LABA USAHA = 100 ---JUMLAH = 700 HARGA JUAL1700
Nilai Tambah 700 SUBTRACTION ADDITION INDIRECT SUBTRACTION/ CREDIT/INVOICE Gambar 5Dalam Gambar 5 dilukiskan pengusaha di bidang industri. Untuk menghasilkan pro-duknya, membeli bahan baku, bahan pembantu, suku cadang dan lain-lain yang terkait seba-nyak 1.000, sedangkan biaya yang dikeluarkan dan laba yang diper-hitungkan sebesar 700, supaya tidak mengalami kerugian maka produknya akan dijual dengan harga jual 1.700. Dalam dunia per-dagangan, diucapkan dalam bahasa yang agak berbeda yaitu pembelian barang dagangan 1.000, biaya dan laba yang diharapkan 700, harga jual barang dagangan 1.700. Angka 700 itulah yang dinamakan “nilai tambah”. Nilai tambah (added value) adalah penjumlahan unsur-unsur biaya
dan laba dalam rangka proses produksi atau distribusi barang atau jasa. Jadi nilai tambah tidak semata-mata dihasilkan dari perubahan bentuk atau sifat suatu barang dalam kegiatan produksi. Nilai tambah sebesar 700 inilah yang menjadi sasaran pengenaan PPN, bukan harga jual sebe-sar 1700. Untuk menghitung PPN atas nilai tambah dapat dilakukan melalui tiga metode yaitu : a) Subtraction method (metode pengurangan secara langsung), yaitu dengan cara mengalikan
tarif PPN dengan selisih antara harga jual dengan harga beli.
b) Indirect subtraction method (metode pengurangan secara tidak langsung), yaitu dengan cara mengurangkan PPN yang dipungut oleh penjual atau pengusaha jasa atas penyerahan barang atau jasa, dengan PPN yang dibayar kepada penjual atau pengusaha jasa lain atas perolehan barang atau jasa.
c) Addition method (metode penghitungan nilai tambah), yaitu mengalikan tarif PPN dengan hasil penjumlahan unsur-unsur nilai tambah.
Tentang hal ini akan lebih jeas apabbila disimak Gambar 6.
METODE PENGHITUNGAN (Calculation Method) HARGA J UAL = 1 .70 0 HARGA BELI = 1 .0 00 DPP = 7 0 0 PPN 1 0 % = 7 0 HARGA J UAL = 1 .70 0 PPN = 10% x 1.700 = 170 HARGA BELI = 1 .0 00 PPN = 10% x 1.000 = 100 PPN TERUTANG UNTUK DISETOR KE KAS NEGARA = 70
PENYUSUTAN = 5 0 BUNGA = 2 0 SEWA = 8 0 GAJ I/ UPAH = 3 00 MANAJEMEN = 1 50 LABA USAHA = 1 00 J u ml a h = 7 0 0 PPN 1 0 % = 7 0 SUBTRACTION METHOD ADDITION METHOD INDIRECT SUBTRACTION/ INVOICE/ CREDIT METHOD
Gambar 6
Diantara tiga metode tersebut, UU PPN Indonesia menganut “indirect subtraction method” (metode pengurangan tidak langsung). Untuk mendeteksi atau menguji kebenaran jumlah pajak yang terutang atas perolehan dan jumlah pajak yang terutang atas penyerahan tersebut diperlu-kan suatu dokumen pendukung. Dokumen ini dinamadiperlu-kan “tax invoice” (Faktur Pajak), oleh
karena itu metode ini dinamakan juga “Invoice Method”. Oleh karena itu Faktur Pajak merupa-kan persyaratan mutlak dalam indirect subtraction method. Dalam hukum pajak, kegiatan me-ngurangkan pajak dengan pajak dinamakan “tax credit”, oleh karena itu metode ini juga dina-makan “credit method” yaitu mengkreditkan pajak yang dibayar kepada penjual atau pengusaha jasa yang dinamakan “Pajak Masukan” (input tax) dengan pajak yang dipungut dari pembeli atau penerima jasa yang dinamakan “Pajak Keluaran” (output tax). Dalam kalimat yang lebih sederhana dan populer adalah mengreditkan Pajak Masukan dengan Pajak Keluaran. Dalam UU PPN diatur dengan lugas kriteria Pajak Masukan yang dapat dikreditkan.
4) Pajak Pertambahan Nilai adalah Pajak atas Konsumsi Umum Dalam Negeri sehingga memiliki kedudukan netral.
Karakteristik PPN sebagai pajak atas konsumsi dalam negeri mengandung dua makna, yaitu: a) “Pajak atas konsumsi” mengandung makna bahwa :
(1) PPN bukan pajak atas kegiatan bisnis. (2) Pemikul beban pajak adalah konsumen.
Sebagai pajak atas konsumsi sebenarnya tujuan akhir PPN adalah mengenakan pajak atas pengeluaran untuk konsumsi (a tax on consumption expenditure) baik yang dilakukan oleh perseorangan maupun oleh badan baik badan swasta maupun badan Pemerintah da-lam bentuk belanja barang atau jasa yang dibebankan pada APBN/APBD.
Karena konsumen tidak semata-mata mengonsumsi barang tetapi juga mengonsumsi jasa, maka PPN selain dikenakan atas konsumsi barang juga dikenakan atas konsumsi jasa. Karakteristik PPN yang seperti ini menempatkan PPN pada posisi netral yaitu netral baik atas pola konsumsi, pola produksi maupun pola distribusi.
Netralitas PPN dibentuk oleh dua faktor yaitu :
(1) PPN dikenakan baik atas konsumsi barang maupun jasa.
(2) Dalam pemungutannya, PPN menganut prinsip tempat tujuan (destination principle). b) Spesifikasi “dalam negeri”, merupakan refleksi dari prinsip destinasi (destination principle)
yang diadopsi dalam UU PPN 1984.
Sebagai pajak atas konsumsi umum dalam negeri, PPN hanya dikenakan atas konsumsi BKP dan/atau JKP yang dilakukan di dalam negeri. Oleh karena itu, komoditi impor dike-nakan PPN dengan persentase yang sama dengan produk domestik.
Dalam kaitan dengan arus barang atau jasa yang melintas batas wilayah negara (cross
border area), PPN mengenal dua prinsip pemungutan, yaitu :
(1) Prinsip tempat asal (origin principle); (2) Prinsip tempat tujuan (destination principle).
Prinsip tempat asal mengandung pengertian bahwa PPN dipungut ditempat asal barang atau jasa yang akan dikonsumsi.
Sedangkan berdasarkan prinsip tempat tujuan, PPN dipungut ditempat barang atau jasa dikonsumsi. Kedua prinsip ini sangat besar pengaruhnya terhadap kedudukan PPN dalam perdagangan internasional.
Apabila dikehendaki ada sifat netral PPN dibidang perdagangan internasional, maka prinsip yang dianut adalah prinsip tempat tujuan (destination principle). Dalam prinsip ini, komo-diti impor akan menanggung beban pajak yang sama dengan barang produksi dalam negeri. Karena kedua jenis komoditi tersebut sama-sama dikonsumsi di dalam negeri, maka akan dikenakan pajak dengan beban yang sama.
Dengan demikian maka kompetisi antara komoditi impor dengan produk domestik tidak dipengaruhi oleh PPN melainkan dipengaruhi oleh faktor-faktor spesifik bisnis.
Sebaliknya barang produksi dalam negeri yang akan diekspor tidak dikenakan PPN di negara asal melainkan dikenakan PPN dinegara tujuan barang yaitu negara tempat komoditi ekspor tersebut akan dikonsumsi.
Meskipun demikian, supaya daya saing komoditi ekspor Indonesia dengan produk domes-tik negara pengimpor tidak dipengaruhi oleh PPN Indonesia, masih diperlukan sarana lain berupa pengenaan PPN atas komoditi ekspor dengan tarip 0%.
5) PPN Indonesia menerapkan tarif tunggal (single rate)
Pasal 7 ayat (1) UU PPN 1984 mengatur bahwa atas penyerahan BKP dikenakan PPN dengan tarif 10%. Kemudian dalam ayat (3) ditentukan bahwa dengan Peraturan Pemerintah, tarif tersebut pada ayat (1) dapat dinaikkan setinggi-tingginya 15% atau diturunkan serendah-rendahnya 5%. Sedangkan tarif ekspor BKP yang ditentukan pada ayat (2) sebesar 0% bukan tarif riil melainkan tarif teknis yang dibuat dengan maksud memenuhi aspek filosofis yaitu menjaga netralitas PPN tanpa mengorbankan aspek ekonomi yaitu PPN tetap menjaga daya saing komoditi ekspor di luar negeri (negara tujuan).
6) PPN Indonesia termasuk tipe konsumsi (Consumption Type VAT)
Dalam conpsumtion type value added tax semua pembelian yang digunakan untuk produksi termasuk pembelian barang modal dikurangkan dari penghitungan nilai tambah.
Jadi dasar pengenaan pajaknya terbatas pada pembelian untuk keperluan konsumsi. Tidak terjadi pengenaan pajak lebih dari satu kali terhadap barang modal, karena pembelian barang modal dikeluarkan dari dasar pengenaan pajak. Hal ini memberi sifat netral PPN terhadap pola produksi. Pengusaha bebas memilih apakah mau menggunakan sistem produksi padat modal atau padat karya, PPN tidak akan ikut menentukan.
Dalam hal penghitungan pajak terutang menggunakan credit method, maka seluruh Pajak Masukan yang dibayar atas pembelian Barang Modal dan bahan boleh dikreditkan. PPN tipe konsumsi ini memiliki beberapa nilai positif, yaitu:
1) Membantu likuiditas perusahaan, karena seluruh Pajak Masukan atas pembelian BKP yang digunakan dalam proses produksi (dalam arti luas) segera dapat dikre-ditkan.
2) Menunjang iklim investasi yang sehat.
3) Mendorong pengusaha secara berkala melakukan regenesari alat produksi barang modal karena dikenakan pajak tidak lebih dari satu kali.
4) Tidak menimbulkan pengenaan pajak berganda (bersifat non kumulasi).
b. Dasar Hukum Pajak Pertambahan Nilai Indonesia
UU No. 8 Tahun 1983 UU No. 18 Tahun 2000 Mulai berlaku 1 – 1 - 2001 UU No. 11 Tahun 1994 Mulai berlaku 1 – 1 - 1995 Perub I Perub II Ps. 1 - 17 Ps. 1 - 16C Ps. 20 UU ini disebut UU PPN 1984 Ps. III UU ini disebut UU Perubahan UU PPN 1984 Ps. II UU ini disebut UU Perubahan Kedua UU PPN 1984 Nama Tetap Mulai berlaku 1 April 1985 DASAR HUKUM PPN INDONESIA DASAR HUKUM Gambar 7
Dasar hukum Pajak Pertambahan Nilai Indonesia adalah UU Nomor 8 Tahun 1983. yang mulai berlaku sejak 1 April 1985. Satu dasa warsa kemudian UU ini diubah dengan UU Nomor 11 Tahun 1994, berlaku sejak 1 Januari 1995, dan lima tahun kemudian diubah lagi untuk yang kedua kalinya dengan UU Nomor 18 Tahun 2000 yang berlaku sejak 1 Januari 2001.
Perkembangan peraturan pelaksanaan sebelum 1 Januari 2001 dengan yang berlaku sejak 1 Januari 2001 dapat digambarkan sebagai berikut :
1) Peraturan Pemerintah Nomor 143 Tahun 2000 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2002 sejak 1 Juni 2002, tentang Pelaksanaan UU Nomor 8 belum Tahun 1983 sebagaimana telah diubah yang terakhir dengan UU Nomor 18 Tahun 2000 2) Peraturan Pemerintah Nomor 144 Tahun 2000 tentang Jenis Barang dan Jasa yang tidak
dikenakan PPN.
3) Peraturan Pemerintah Nomor 145 Tahun 2000 tentang Kelompok BKP Yang Tergolong Me-wah, yang telah beberapa kali diubah.
4) Peraturan Pemerintah Nomor 146 Tahun 2000 tentang Impor Dan Atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu Dan Atau Penyerahan Jasa Kena Pajak Tertentu Yang Dibebaskan Dari Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai. Peraturan Pemerintah ini telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2003.
5) Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2001 tentang Impor Dan Atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu Yang Bersifat Strategis Yang Dibebaskan Dari Pengenaan Pajak Pertam-bahan Nilai. Peraturan Pemerintah ini telah empat kali diubah dengan:
(1) Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2002 mulai 1 Juli 2002 ; (2) Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2003 mulai 13 Agustus 2003 ; (3) dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2007 tanggal 8 Januari 2007; (4) dengan Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2007 tanggal 31 Mei 2007.
Latihan 1
Untuk memudahkan memahami materi yang telah diuraikan dalam bagian ini, coba dikerjakan dengan saksama beberapa latihan dibawah ini :
Sebutkan legal karakter PPN !
Jelaskan makna legal karakter PPN sebagai pajak tidak langsung !
Mengapa meskipun multi stage levy merupakan salah satu legal karakter PPN, namun tidak menimbulkan dampak kumulasi ?
Apa yang dimaksud dengan dampak regresif PPN ? Jelaskan pula bagaimana kaitan antara tarif tunggal dengan regresivitas PPN dan bagaimana UU PPN 1984 mencoba mengatasi hal ini ?
3. KEGIATAN BELAJAR 2
OBJEK PAJAK PERTAMBAHAN NILAI
Uraian, contoh dan non contoh
a. Objek PPN sesuai dengan perubahan kedua UU PPN 1984
Sejak UU Nomor 8 Tahun 1983 diubah dengan UU Nomor 11 Tahun 1994 yang kemudian diubah untuk yang kedua kalinya dengan UU Nomor 18 Tahun 2000 mulai 1 Januari 2001, objek pajak yang semula diatur hanya dalam Pasal 4, ditambah dengan objek pajak yang bersifat spesifik yang diatur dalam Pasal 16C dan Pasal 16D UU PPN 1984, yang materi selengkapnya adalah sebagai berikut:
1) penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha ; 2) impor Barang Kena Pajak ;
3) penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha;
4) pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean ;
5) pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean ; 6) ekspor Barang Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak ;
7) kegiatan membangun sendiri yang dilakukan tidak di dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaan oleh orang pribadi atau badan baik yang hasilnya akan digunakan sendiri atau digunakan oleh pihak lain ;
8) penyerahan aktiva oleh Pengusaha Kena Pajak yang menurut tujuan semula aktiva tersebut tidak untuk diperjualbelikan, sepanjang Pajak Pertambahan Nilai yang dibayar pada saat perolehannya menurut ketentuan dapat dikreditkan.
Perumusan objek PPN dalam Pasal 4 huruf a, c dan f UU PPN 1984 menimbulkan dua permasalahan yang relevan, yaitu :
a) Pengertian yang terkandung dalam terminologi “Pengusaha” dalam Pasal 4 huruf a, dan c . Istilah “pengusaha” yang digunakan dalam Pasal 4 huruf a dan huruf c terasa berbeda dengan istilah “Pengusaha Kena Pajak” yang digunakan dalam Pasal 4 huruf f. Untuk memahami per-bedaan ini harus diteliti lebih dahulu pengertian “pengusaha”.Untuk keperluan itu kita mengacu pada Pasal 1 angka 14 yang merumuskan bahwa pengusaha adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apapun yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang, mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar daerah pabean, melakukan usaha jasa, atau memanfaatkan jasa dari luar daerah pabean. Kriteria “kegiatan usaha atau pekerjaan” yang ditegaskan dalam memori penjelasan Pasal 4 ternyata diambil dari Pasal 1 angka 14.
PPN DIKENAKAN ATAS
OBJEK PAJAK
Ps. 4 huruf a PENYER. BKP DI DLM DAERAH PABEAN YG DILAKUKAN OLEH PENGUSAHA Ps. 4 huruf d PEMANFAATAN. BKP TDK BERWUJUD DARI LUARDAERAH PABEAN di DALAM DAERAH PABEAN
Ps. 4 huruf e
PEMANFAATAN JKP DARI LUAR DAERAH PABEAN DI DLM DAERAH PABEAN
Ps. 4 huruf b
IMPOR BKP
Ps. 4 huruf c PENYER. JKP DI DLM. DAERAH PABEAN YG.
DILAKUKAN OLEH PENGUSAHA Ps. 4 huruf f EKSPOR BKP OLEH PKP MEMBANGUN SENDI-RI YG DILAKUKAN TDK DLM KEGIATAN USAHA/ PEKERJAAN OLEH OR.
PRIBADI/BADAN
PENYERAHAN AKTIVA OLEH PKP YG MENRT TUJUAN SEMULA AKTIVA TSB.
TDK UTK DIPERJUALBELIKAN SEPANJ. PPN YANG DIBAYAR PD SAAT
PEROLEH-ANNYA DAPAT DIKREDITKAN Ps.
16C
Ps. 16D
Gambar 8
b) Pengertian yang terkandung dalam terminologi “Pengusaha Kena Pajak”.
Kemudian berdasarkan Pasal 1 angka 15 dirumuskan bahwa Pengusaha Kena Pajak adalah pe-ngusaha sebagaimana dimaksud dalam angka 14 yang melakukan penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP yang dikenakan pajak berdasarkan undang-undang ini, tidak termasuk Pengu-saha Kecil yang batasannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan, kecuali PenguPengu-saha Kecil yang memilih untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak.
Dari rangkaian Pasal 1 angka 14 dengan angka 15 UU PN 1984 ini, sampai pada kesimpulan bahwa istilah “Pengusaha” yang dimaksud dalam Pasal 4 huruf a dan c , adalah PKP.
Dalam memori penjelasan Pasal 4 ditetapkan bahwa suatu penyerahan barang dapat dikenakan pajak, apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut :
(1) barang berwujud yang diserahkan merupakan Barang Kena Pajak ;
(2) barang tidak berwujud yang diserahkan merupakan Barang Kena Pajak tidak ber- wujud ; (3) penyerahan dilakukan di dalam Daerah Pabean ;
(4) penyerahan dilakukan dalam kegiatan usaha atau pekerjaan Pengusaha yang ber-sangkutan.
PENGUSAHA DLM Ps 4 HURUF a & c
adalah
PENGUSAHA KENA PAJAK
ORANG PRIBADI BADAN Dalam kegiatan usaha/pekerj. MENGHASILKAN BARANG MENGIMPOR BARANG MENGEKSPOR BARANG MELAKUKAN USAHA PERDAGANGAN MEMANFAATKAN BR. TDK BERWUJUD DARI LUAR
DAERAH PABEAN
MEMANFAATKAN JASA DARI LUAR DAERAH PABEAN MELAKUKAN USAHA JASA MENYERAHKAN BKP/JKP
PENGUSAHA
KENA PAJAK
Ps. 1 angka 14 Ps. 1 angka 15 TDK TERMASUK PENGUSAHA KECIL YG BATASANNYA DITETAP-KAN DG KEP. MENKEU.PENGUSAHA
Gambar 9
Gambar 10
Dalam hal yang diserahkan adalah jasa, maka penyerahan jasa ini terutang pajak apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1) jasa yang diserahkan adalah Jasa Kena Pajak ; 2) penyerahan dilakukan di dalam Daerah Pabean ;
3) penyerahan dilakukan dalam kegiatan usaha atau pekerjaan Pengusaha yang bersangkutan.
Pengusaha menyer. BKP Ps. 1 angka 15 Pengusaha Kena Pajak
Ps. 4 huruf a : PPN dikenakan atas penyer. BKP di dalam Daerah Pabean
oleh Pengusaha
Kesimpulan
Ps. 4 huruf c : PPN dikenakan atas penyer. JKP di dalam Daerah Pabean
oleh Pengusaha
Pengusaha menyer. BKP
Pengusaha yang melakukan penyerahan BKP/JKP pada dasarnya adalah PKP
Suatu penyerahan BKP/JKP dapat dikenakan PPN apa-bila yang menyerahkan PKP
Pengusaha menyer. BKP
Ps. 1 angka 15 Pengusaha Kena Pajak
Ps. 4 huruf a : PPN dikenakan atas penyer. BKP di dalam Daerah Pabean
oleh Pengusaha
Kesimpulan
Ps. 4 huruf c : PPN dikenakan atas penyer. JKP di dalam Daerah Pabean
oleh Pengusaha Pengusaha menyer. BKP
Pengusaha yang melakukan penyerahan BKP/JKP pada dasarnya adalah PKP
Suatu penyerahan BKP/JKP dapat dikenakan PPN apa-bila yang menyerahkan PKP
c. Barang Kena Pajak
Setelah perubahan UU PPN 1984 dengan UU Nomor 11 Tahun 1994 mulai 1 Januari 1995 terjadi pergeseran pengertian Barang Kena Pajak sebagai berikut :
Pasal 1 huruf c UU PPN 1984 Sebelum 1 Januari 1995
Pasal 1 huruf c UU PPN 1984 Sejak 1 Januari 1995
Barang Kena Pajak adalah barang ber-wujud yang menurut sifat atau hukum-nya dapat berupa barang bergerak atau barang tidak bergerak hasil pengolahan barang (pabrikasi) yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-undang ini.
Barang Kena Pajak adalah barang ber-wujud yang menurut sifat atau hukumnya dapat berupa barang bergerak atau barang tidak bergerak maupun barang tidak ber-wujud yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-undang ini.
Dari rumusan pasal 1 huruf c yang sejak 1 Januari 2001 menjadi Pasal 1 angka 3 UU PPN 1984, apabila dibandingkan dengan rumusan sebelum 1 Januari 1995 dapat disimpulkan telah terjadi perkembangan ruang lingkup BKP sebagaimana terlihat pada tabel berikut:
Ruang lingkup BKP yang dirumuskan dalam Ps. 1 angka 3 UU PPN 1984 Sejak 1 April 1985 s.d. 31 Desember
1994
Sejak 1 Januari 1995
a. barang bergerak dan barang tak berak b. barang bergerak hanya meliputi barang
berwujud
c. hasil kegiatan pabrikasi sehingga BKP ha- nya barang baru
a. barang bergerak dan barang tak gerak b. barang bergerak meliputi barang berwujud
dan barang tidak berwujud
c. tidak dipersyaratkan hasil pabrikasi sehingga
BKP meliputi barang baru dan barang bekas
Karena tidak ada jenis barang selain yang unsur-unsurnya disebut dalam Pasal 1 angka 3 UU PPN 1984 sejak 1 Januari 1995, maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya semua barang dapat dikenakan pajak. Secara filosofi, supaya netralitas PPN dapat direalisasi, maka PPN menghendaki perlakuan yang sama terhadap konsumsi barang, tidak perlu pengecualian. Apabila filosifi ini benar-benar dilaksanakan, dikhawatirkan UU PPN Indonesia menjadi tidak realistis. Dalam kehidu-pan nyata di dunia ini tidak mungkin tanpa pengecualian. Oleh karena itu pengertian yang luas tentang BKP tersebut kemudian dibatasi oleh Pasal 4A UU PPN 1984 yang menentukan bahwa
dengan Peraturan Pemerintah ditetapkan jenis-jenis barang dan jasa yang tidak dikenakan pajak. Kriteria barang tidak kena pajak ditentukan dalam Pasal 4A ayat (2) UU PPN 1984 yang penjaba-rannya dilakukan dalam Pasa. 1 s.d. Pasal 4 PP Nomor 144 Tahun 2000.
GARAM BARANG TIDAK KENA PAJAK (Ps. 4A UU PPN 1984 jo Ps 1-4 PP No. 144/2000) BR HASIL PERTAMB./ PENGEBOR. YG DIAMBIL
LANGSUNG DARI SUM-BERNYA
MINYAK MENTAH (CRUDE OIL)
GAS BUMI, PANAS BUM I
PASIR & KERIKIL
BATUBARA SEB. DIPROSES MENJADI BRIKET
BIJIH BESI, BIJIH TIMAH, BIJIH EM AS, BIJIH NIKEL , BIJIH TEMBAGA, BIJIH PERAK &
BIJIH BAUKSIT BR KEBUTUH. POKOK YG DI-BUTUHKAN RAKYAT BANYAK
MAKANAN & MINUMAN YG DI-SEDIAKAN DI HOTEL, RESTORAN,
RUMAH MAKAN, WARUNG & SEJENISNYA BUKAN KATERING
UANG, EMAS BATANGAN, SURAT BERHARGA . BERAS, GABAH JAGUNG SAGU KEDELAI DIKONSUMSI DITEMPAT/TIDAK Nonbkp-02 UNTUNG SUKARDJI-02 Gambar 11
d. Perlakuan PPN atas barang hasil pertanian
Sejak 1 Januari 2001 perlakuan PPN atas barang hasil pertanian dapat dikelompokkan dalam dua tahap sebagai berikut:
1) Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2001 tanggal 22 Maret 2001 yang mulai berlaku sejak 1 Januari 2001 terdapat dua perlakuan yang berbeda atas barang hasil pertanian yang kedua-duanya dibebaskan dari pengenaan PPN, sebagai berikut:
a) atas impor dan penyerahan bibit dan atau benih dari barang hasil pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, penangkaran, atau perikanan dilakukan tidak harus oleh petani; b) atas penyerahan barang hasil pertanian yang dilakukan oleh petani atau kelompok petani. Adapun barang hasil pertanian adalah barang yang dihasilkan dari kegiatan usaha di bidang: a) pertanian, perkebunan, dan kehutanan ;
b) peternakan, perburuan atau penangkapan, maupun penangkaran ; atau c) perikanan baik dari penangkapan maupun budidaya.
pemrosesannya yang dilakukan dengan cara tertentu.
Petani adalah orang yang melakukan kegiatan usaha di bidang pertanian, perkebunan, kehu-tanan, pertanian, perburuan atau penangkapan, penangkaran, atau budidaya perikanan. Berarti tidak dimungkinkan petani berbentuk badan. Dengan demikian apabila ada pengusaha ber-bentuk badan menyerahkan hasil pertanian, tidak dibebaskan dari pengenaan PPN.
Adapun yang dimaksud dengan pemrosesan yang dilakukan dengan cara tertentu adalah: a) direndam, dikupas, disucihamakan, dipisahkan dari kulit atau biji atau pelepah, dipecah/
digiling, disayat, dibelah, dikeringkan, diperam, dicuci, dirajang, digaruk, disisir, direbus, dibekukan, dan atau dikemas dengan cara sangat sederhana untuk tujuan melindungi barang yang bersangkutan, untuk hasil usaha di bidang pertanian atau perkebunan;
b) ditebang, dipangkas cabang dan rantingnya, dikupas kulit dari batangnya dan dipotong menjadi kayu bulat atau gelondongan, untuk hasil usaha di bidang kehutanan;
c) dengan cara apapun sebelum dipotong atau disembelih, untuk hasil usaha di bidang peternakan atau penangkaran;
d) dengan cara apapun sebelum dikuliti, untuk hasil usaha di bidang perburuan atau penangkapan.
e) didinginkan/dibekukan, digarami, dikeringkan/diasap, direbus, dan atau dikemas dengan cara yang sangat sederhana untuk tujuan melindungi barang yang bersangkutan, untuk hasil usaha di bidang perikanan.
Contoh :
(a) Pasar swalayan “Sarwimirah” membeli sayur mayur kepada Kamidi, Subekti, Zainal, Bakri selaku petani sayur-mayur, dibebaskan dari pengenaan PPN. Sebaliknya ketika Ny. Sulastri membeli kangkung, sawi, kentang, bayam, di pasar swalayan tersebut, wajib membayar PPN karena perusahaan ini bukan petani.
(a) Departemen Pertanian membeli sejumlah bibit jati dari PT Perhutani, dibebaskan dari pengenaan PPN meskipun PT Perhutani bukan petani menurut PP Nomor 12 Tahun 2001. 2) Sejak 1 Januari 2007, dengan PP Nomor 7 Tahun 2007 tanggal 8 Januari 2007 yang mengubah
PP Nomor 12 Tahun 2001, dibebaskan dari pengenaan PPN atas impor atau penyerahan: a) bibit dan atau benih dari barang hasil pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan,
penangkaran, atau perikanan;
b) barang hasil pertanian yang disebut dalam lampiran PP Nomor 7 Tahun 2007.
e. Jasa Kena Pajak
Pasal 1 angka 5 UU PPN 1984 merumuskan ada dua macam pengertian jasa, yaitu :
1) setiap kegiatan pelayanan berdasarkan satu perikatan atau perbuatan hukum sehingga hak, kemudahan, barang atau fasilitas tersedia untuk dipakai. Contoh: Jasa akuntan publik
menyebabkan sebuah laporan keuangan siap untuk dibacakan di depan rapat umum pemegang saham, jasa cleaning service mengakibatkan suatu ruangan siap untuk digunakan;
2) jasa menghasilkan barang karena pesanan dengan bahan dan atas petunjuk dari pemesan, antara lain adalah jasa produksi (jasa maklon).
Dalam hal jasa tersebut dikenakan PPN berdasarkan UU PPN 1984, maka berdasarkan Pasal 1 angka 6 UU PPN 1984, dinamakan Jasa Kena Pajak.
Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 4A ayat (1), maka dalam Pasal 4A ayat (3) UU PPN 1984 ditentukan kriteria jasa tidak dikenakan pajak yang dirinci dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 16 PP Nomor 144 Tahun 2000, sebagai berikut :
1) Jasa di bidang pelayanan kesehatan medik, mulai dari pengobatan alternatif, dokter super
spesialis, rawat inap di puskesmas sampai dengan rawat inap di rumah sakit swasta;
2) Jasa di bidang pelayanan sosial seperti jasa pelayanan panti asuhan, panti wreda, yayasan
krematorium, yayasan pemakaman, jasa pemadam kebakaran ;
3) Jasa di bidang pengiriman surat dengan perangko. Dalam Keputusan Menteri Keuangan
Nomor 168/KMK.03/2002 tanggal 27 April 2002 antara lain ditetapkan bahwa jasa pengiriman surat dengan perangko yang dilakukan oleh PT Pos Indonesia yang tidak dikenakan PPN adalah yang merupakan tugas PT Pos Indonesia (persero) dalam rangka melaksanakan penyelengga-raan pos oleh negara yang terdiri dari kegiatan menerima, membawa, dan atau menyampaikan surat yang merupakan satu kesatuan kegiatan yang tidak terpisahkan, yang atas penyerahan jasanya dikenakan tarif jasa pos yang cara pelunasan tarif jasa posnya dengan perangko atau pengganti perangko.
4) Jasa di bidang perbankan, asuransi, dan sewa guna usaha dengan hak opsi ;
Jasa di bidang perbankan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
a) jasa khas perbankan merupakan jasa yang tidak dikenakan PPN yaitu yang tidak dapat dilakukan oleh perusahaan lain selain bank seperti jasa deposito, tabungan, rekening koran, giro, transfer, penukaran valuta asing dan sebagainya;
b) jasa lainnya yang dilakukan oleh perusahaan perbankan, namun dapat dilakukan oleh perusahaan lain selain bank, merupakan jasa perbankan yang dikenakan PPN, seperti per-usahaan perbankan menyewakan safe deposit box, menjalankan kegiatan usaha anjak pi-utang, menyewakan ruangan, memberikan jasa manajemen kepada nasabah.
Jasa asuransi bukan JKP, namun jasa broker asuransi merupakan jasa penunjang jasa asuransi sehingga merupakan JKP. Sedangkan jasa sewa guna usaha dengan hak opsi termasuk kelom-pok jasa pembiayaan non bank, bukan JKP.
5) Jasa di bidang keagamaan ;
Jasa di bidang keagamaan meliputi jasa pelayanan rumah-rumah ibadah, jasa pemberian khotbah atau dakwah, dan jasa lainnya di bidang keagamaan.
6) Jasa di bidang pendidikan baik pendidikan sekolah maupun penyelenggaraan pendidikan luar sekolah, seperti kursus-kursus, namun apabila jasa pendidikan ini dikaitkan dengan
penyerahan BKP maka jasa pendidikan dimaksud merupakan bagian integral dengan penye-rahan BKP, sehingga terutang PPN.
7) Jasa di bidang kesenian dan hiburan yang sudah dikenakan Pajak Tontonan. Hal
ini sesuai dengan prinsip yang tersurat dalam penjelasan bagian umum UU Nomor 18 Tahun 2000, objek pajak yang sudah dikenakan pajak daerah, tidak dikenakan PPN. 8) Jasa di bidang penyiaran (baik radio maupun televisi) yang bukan bersifat iklan ;
9) Jasa di bidang angkutan umum di darat dan air baik yang diselenggarakan oleh pe-merintah
maupun swasta. Dalam penjelasan Pasal 13 Peraturan Pemerintah Nomor 144 Tahun 2000, jasa angkutan udara luar negeri tetap tidak dikenakan PPN.
KESEHAT-AN MEDIK PELAYANAN SOSIAL PENGIR. SRT DG PERANGKO PERBANKAN ASURANSI SGU DG HO KEAGAMAAN PENDIDIKAN KESEN & HI BURAN YG SDH KENA PAJAK TONTONAN PENYIARAN BUKAN IKL AN ANGKUTAN UMUM DARAT, AIR TENAGA KERJA PERHOTELAN PEMERINTAH-AN UMUM Non JKP-02 UNTUNG SUKARDJI-02 JASA TIDAK KENA PAJAK Ps. 4A UU PPN 1984 jo Ps. 5 – 16 PP No.144 Tahun 2000 Gambar 12
10) Jasa di bidang tenaga kerja. Berdasarkan Pasal 14 Peraturan Pemerintah Nomor 144 Tahun
2000, termasuk dalam pelayanan jasa di bidang tenaga kerja dalam hal pihak yang menye-diakan tenaga kerja tidak bertanggung jawab atas hasil kerja tenaga kerja dimaksud, artinya gaji atau honorarium tenaga kerja dimaksud dibayar oleh perusahaan yang menerima penempatan.
11) Jasa di bidang perhotelan, meliputi :
a) jasa persewaan kamar termasuk tambahannya di hotel, rumah penginapan, motel, losmen, hostel, serta fasilitas yang terkait dengan kegiatan hotel untuk tamu yang menginap; b) jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di hotel.
12) Jasa yang disediakan oleh Pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara umum seperti instansi pemerintah memberikan Izin Mendirikan Bangunan (IMB), pemberian
Izin Usaha Perdagangan. Untuk keperluan ini, pengusaha yang membutuhkan membayar sejumlah uang ke kas daerah atau kas negara. Atas pembayaran ini tidak dikenakan PPN.
f. Daerah Pabean
Berdasarkan Pasal 1 angka 1 UU PPN 1984, Daerah Pabean adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan, dan ruang udara diatasnya serta tempat-tempat tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen yang di dalamnya berlaku Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Dari rumusan ini dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya seluruh wilayah Republik Indonesia adalah Daerah Pabean kecuali ada bagian wilayah tertentu yang ditetapkan berada di luar Daerah Pabean seperti Daerah Perdagangan Bebas (Free Trade Zones) Sabang..
g. Kegiatan usaha atau pekerjaan
Kriteria “kegiatan usaha atau pekerjaan” yang digunakan dalam Pasal 1 angka 14 dan memori penjelasan Pasal 4 huruf a dan huruf c UU PPN 1984 mengandung pengertian penyerahan yang dilakukan dalam rangka kegiatannya sehari-hari, sebagaimana ditegaskan dalam memori penjelasan Pasal 4 UU PPN 1984 sebelum 1 Januari 1995.
h. Penyerahan Barang Kena Pajak
Penentuan suatu penyerahan barang merupakan "penyerahan Barang Kena Pajak" sangat relevan untuk menentukan saat timbulnya objek pajak.
Dalam UU PPN 1984, pengertian penyerahan BKP diatur dalam Pasal 1A ayat (1), sebagai berikut :
1) Penyerahan Hak Atas BKP Karena Suatu Perjanjian
Dalam memori penjelasan Pasal 1A ayat (1) huruf a UU PPN 1984 ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan perjanjian dalam ketentuan ini meliputi jual beli, tukar menukar, jual beli dengan angsuran, atau perjanjian lain yang mengakibatkan penyerahan hak atas barang.
2) Pengalihan BKP oleh Karena Suatu Perjanjian Sewa Beli Dan Perjanjian Leasing. Untuk penyerahan BKP berdasar perjanjian sewa-beli, saat timbulnya objek pajak bukan ditentukan oleh saat penyerahan hak melainkan saat pengalihan BKP. Adapun yang dimaksud dengan saat pengalihan BKP adalah saat berpindahnya penguasaan BKP dari penjual kepada
pembeli. Dengan demikian objek pajak terjadi pada saat pembeli membayar harga sewa dan pada saat yang bersamaan barang diserahkan oleh penjual kepada pembeli.
Dalam memori penjelasan Pasal 1A ayat (1) huruf b ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan penyerahan karena perjanjian sewa guna usaha (leasing) adalah penyerahan yang disebabkan oleh perjanjian sewa guna usaha (leasing) dengan hak opsi.
PENYERAHAN
BARANG
KENA PAJAK
{ Ps. 1A ay. (1) UU PPN 1984 }
PENYERAHAN HAK ATAS BARANG KENA PAJAK KRN SUATU PERJANJIAN JUAL BELI TUNAI ANGSURAN TUKAR MENUKAR LAIN YG MENIMBUL-KAN PENYER. HAK
PENGALIHAN BKP K ARENA PERJANJIAN SEWA BELI ATAU PERJANJIAN LEASIN G
PENYERAHAN BKP KEPADA PE DAGANG PERANTARA ATAUMELALUIJUR U LE LANG
PEMAKAIAN SEN DIRI ATAU PEMBERIAN DENGAN CUMA-CUMA ATAS BKP
PERSEDIAAN BKP DAN AKTIVA YG MENURUT TUJUAN SEMULA TDK UTK DIPERJUALBELIKAN, YG MASIH TERSISA PD SAT PEMB UBARAN PER-USAHAAN, SEPANJANG PPN ATAS PEROLEHAN-NYA MENURUT KETENTUAN DPT DIKREDITKAN
PENYERAHAN BKP DARI PUSAT KE CABANG ATAU SEBALIKNYA DAN PENYERAHAN BKP
ANTAR CABANG
PENYERAHAN BKP SECARA K ONSIN YASI
PENYER. BKP UNTUNG SUKARDJI - 01
Gambar 13
3) Penyerahan BKP Kepada Pedagang Perantara atau Melalui Juru Lelang. Ketentuan ini mengandung dua unsur yaitu :
a) Penyerahan BKP kepada pedagang perantara, dan
b) Penyerahan BKP melalui Juru Lelang (kepada pemenang lelang).
Adapun yang dimaksud dengan pedagang perantara adalah orang pribadi atau badan yang dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaannya dengan nama sendiri melakukan perjanjian atau perikatan atas dan untuk tanggungan orang lain dengan mendapat upah atau balas jasa tertentu, misalnya komisioner.
Sedangkan yang dimaksud dengan juru lelang adalah juru lelang Pemerintah atau yang ditunjuk oleh Pemerintah. Kata penghubung yang digunakan bagi juru lelang adalah "melalui". Hal ini mengandung pengertian bahwa pada saat PKP menyerahkan BKP melalui juru lelang bukan
merupakan objek pajak, tetapi objek pajak timbul ketika juru lelang menyerahkan BKP yang dilelang kepada pemenang lelang untuk dan atas nama PKP yang bersangkutan.
4) Pemakaian Sendiri dan Pemberian Cuma-cuma.
Pemakaian sendiri mengandung pengertian BKP yang merupakan barang dagangan atau hasil produksi digunakan untuk kepentingan PKP sendiri yang dapat meliputi Direksi, Dewan Komisaris, Karyawan. Pemakaian sendiri dapat dibedakan kedalam dua kelompok yaitu pemakaian sendiri yang bersifat konsumtif dikenakan PPN dan pemakaian sendiri yang bersifat produktif tidak dikenakan PPN.
Pemberian cuma-cuma yang merupakan objek pajak adalah pemberian cuma-cuma baik BKP produksi sendiri maupun produksi perusahaan lain Misalnya perusahaan farmasi memberi secara cuma-cuma obat contoh kepada dokter praktek.
5) Persediaan BKP dan Aktiva Yang Menurut Tujuan Semula Tidak Untuk Diper-jualbelikan Yang Masih Tersisa Pada Saat Pembubaran Perusahaan.
Rumusan ini mengandung dua unsur yaitu :
a) persediaan BKP yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan merupakan ketentuan lama, dan
b) aktiva perusahaan yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan diperlakukan sebagai penyerahan BKP.
Contoh :
a) pada saat perusahaan dibubarkan masih tersisa persediaan barang dagangan yang belum terjual, maka sisa persediaan ini merupakan penyerahan BKP ;
b) pada saat pembubaran perusahaan masih ada barang modal seperti gedung, mesin, mobil box, dan sejenisnya, maka barang modal yang masih ada ini merupakan penyerahan BKP. 6) Penyerahan BKP Dari Pusat ke Cabang atau Sebaliknya dan Penyerahan BKP
antar Cabang.
Ketentuan ini merupakan konsekuensi yuridis UU PPN 1984 menganut asas desentralisasi. Dengan asas desentralisasi, maka baik kantor pusat maupun cabang dengan nama dan dalam bentuk apapun, masing dikukuhkan sebagai PKP oleh KPP setempat. Karena masing-masing berstatus sebagai PKP, maka penyerahan BKP antar mereka dikenakan pajak. Dalam memori penjelasan Pasal 1A ayat (1) huruf f UU PPN 1984 ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan cabang termasuk antara lain lokasi usaha, perwakilan, unit pemasaran, dan sejenisnya. 7) Penyerahan BKP Secara Konsinyasi.
Dalam penjelasan Pasal 1A ayat (1) huruf g UU PPN 1984 menegaskan bahwa dalam hal penyerahan secara konsinyasi, PPN yang sudah dibayar pada waktu BKP yang bersangkutan di-serahkan untuk dititipkan dapat dikreditkan dengan Pajak Keluaran pada Masa Pajak terjadinya penyerahan BKP yang dititipkan tersebut. Sebaliknya, jika BKP titipan tersebut tidak laku
dijual dan diputuskan untuk dikembalikan kepada pemilik BKP, pengusaha yang menerima barang titipan tersebut membuat nota retur.
Sebagai imbangan dari pengertian penyerahan BKP, dalam Pasal 1A ayat (1) UU PPN 1984 diberikan suatu rincian dari penyerahan barang yang tidak termasuk kategori sebagai Penyerahan
Barang Kena Pajak, yaitu :
1) penyerahan BKP kepada makelar sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang.
2) penyerahan BKP untuk jaminan utang-piutang ;
3) penyerahan BKP dari pusat ke cabang dan antar cabang bagi PKP yang memperoleh ijin pemusatan tempat pajak terutang dari Direktur Jenderal Pajak.
i. Penyerahan Jasa Kena Pajak
Berdasarkan Pasal 1 angka 7 dan memori penjelasan Pasal 4 huruf c UU PPN 1984, termasuk dalam pengertian penyerahan Jasa Kena Pajak adalah :
a) setiap pemberian Jasa Kena Pajak ; b) pemakaian sendiri Jasa Kena Pajak ; c) pemberian cuma-cuma Jasa Kena Pajak. Contoh :
- Salon kecantikan merawat kecantikan pelanggan merupakan penyerahan JKP
- Sebuah perusahaan jasa telekomunikasi menggunakan jasa telekomunikasi untuk rumah direksi atas beban perusahaan .
PENYERAHAN
JASA KENA PAJAK
Ps 1 angka 7 jo Ps 4 huruf c UU PPN 1984 SETIAP KEGIATAN PEMBERIAN JASA KENA PAJAK PEMBERIAN JASA KENA PAJAK
DENGAN CUMA-CUMA PEMAKAIAN SENDIRI JASA KENA PAJAK PENY. JKP UNTUNG SUKARDJI- 01 Gambar 14
j. Impor Barang Kena Pajak
Berdasarkan Pasal 4 huruf b UU PPN 1984, PPN dikenakan atas impor BKP. Kemudian dalam Pasal 1 angka 9 UU PPN 1984 dirumuskan bahwa impor adalah setiap kegiatan me-masukkan barang dari luar Daerah Pabean ke dalam Daerah Pabean.
k. Ekspor Barang Kena Pajak yang dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak
Ekspor BKP yang dilakukan oleh PKP dikenakan PPN berdasarkan Pasal 4 huruf f UU PPN 1984. Kemudian dalam Pasal 1 angka 11 dirumuskan bahwa ekspor adalah setiap kegiatan mengeluarkan barang dari dalam Daerah Pabean ke luar Daerah Pabean. Berbeda dengan impor yang dikenakan PPN meskipun dilakukan oleh orang pribadi yang tidak ber-status sebagai pengusaha di bidang impor, ekspor BKP dikenakan PPN hanya apabila dila-kukan oleh PKP sehingga apabila ekspor dilakukan oleh non PKP, tidak dikenakan PPN.
l. Pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar Daerah Pabean, di dalam Daerah Pabean.
Berdasarkan ketentuan ini, secara yuridis formal sejak 1 Januari 1995, BKP tidak berwujud yang berasal dari luar Daerah Pabean, dimanfaatkan di dalam Daerah Pabean dikenakan PPN. Perlakuan PPN ini selaras dengan destination principle yang diadaptasi oleh UU PPN 1984. Dalam memori
penjelasan yang lama Pasal 1 huruf b UU PPN 1984 sebelum revisi 1 Januari 2001, ditegaskan bahwa barang tidak berwujud antara lain hak atas merek dagang, hak paten, dan hak oktroi.
Contoh : Pengusaha restoran di Jakarta menggunakan merek dagang “Kentucky Fried Chicken” dari Amerika, mengandung pengertian terjadi pemanfaatan BKPP tidak berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean sehingga dikenakan PPN.
m. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean. Sama halnya dengan pemanfaatan BKP tidak berwujud, JKP yang berasal dari luar Daerah Pabean yang dimanfaatkan di dalam Daerah Pabean berdasarkan Pasal 4 huruf e UU PPN 1984 dikenakan PPN.
Contoh : Untuk memasarkan produknya di negara-negara Timur Tengah, PT Pelangi sebuah perusahaan tekstil di Bandung memanfaatkan jasa marketing dari sebuah perusahaan di Malaysia, dikenakan PPN.
Berdasarkan pertimbangan bahwa objek PPN yang diatur dalam Pasal 4 huruf d dan huruf e memiliki sifat spesifik, maka secara lebih mendalam akan dibahas dalam “Kegiatan Belajar 8”. Demikian pula halnya dengan objek pajak dalam Pasal 16C (PPN atas kegiatan membangun sendiri tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya), dan Pasal 16D (PPN atas penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan) pembahasannya akan dilakukan dalam bab yang sama dengan pembahasan objek pajak dalam Pasal 4 huruf d dan huruf e tersebut.
3.2. Latihan 2
Lingkarilah pernyataan yang paling benar diantara empat pernyataan dalam setiap nomor kasus singkat dibawah ini.
1) Dasar hukum PPN di Indonesia, yaitu ………….. a. UU Nomor 8 Tahun 1983
b. UU Nomor 8 Tahun 1984 c. UU Nomor 8 Tahun 1985 d. UU Nomor 18 Tahun 2000.
2) Dasar hukum PPN yang diundangkan pada tanggal 31Desember 1983, dinamakan ……… a. UU PPN
b. UU PPN 1983 c. UU PPN 1984 d. UU PPN 1985
3) Setelah perubahan yang kedua dengan UU Nomor 18 Tahun 2000, maka terhitung sejak 1 Januari 2001, dasar hukum PPN Indonesia namanya ………….
a. berubah menjadi UU PPN 2000 b. berubah menjadi UU PPN 2001 c. tidak berubah, tetap UU PPN 1985 d. tidak berubah, tetap UU PPN 1984
4) Sebagai pajak atas konsumsi, PPN bersifat netral yang memiliki makna antara lain ………. a. PPN hanya dikenakan terhadap pengeluaran untuk konsumsi di dalam negeri
b. PPN tidak mempengaruhi pola produksi dan pola konsumsi c. ekspor BKP dikecualikan dari pengenaan PPN
d. PPN tidak dikenakan atas penyerahan Jasa Kena Pajak ke luar negei.
5) Meskipun PPN bersifat “multi stage levy”, tidak menimbulkan pengenaan pajak berganda…. a. ada beberapa pengecualian objek
b. PPN yang terutang dihitung hanya dari nilai tambahnya
c. PPN yang disetor ke kas negara dihitung menggunakan “indirect subtraction method” d. PPN yang disetor ke kas negara dihitung menggunakan “addition method”
6) Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak membeli 50 unit komputer dari PT Metrodata dikenakan PPN, karena ………..
b. PPN adalah pajak atas produk Nasional ;
c. PPN adalah salah satu sumber penerimaan negara yang handal d. PPN adalah Pajak Tidak Langsung
7) Sebagai pajak objektif, PPN tidak memperhatikan kondisi subjektif subjek pajaknya sehingga dalam pengenaannya ……….
a. memperhatikan asas keadilan karena setiap orang atau badan yang mengkonsumsi barang atau jasa yang sama dikenakan PPN dengan jumlah yang sama.
b. memperhatikan asas keadilan karena antara masyarakat kaya dengan masyarakat kurang mampu diperlakukan sama
c. tidak memperhatikan asas keadilan karena antara masyarakat kaya dengan masyarakat kurang mampu diperlakukan sama
d. sangat memperhatikan asas keadilan karena tidak bersikap diskriminatif.
8) Salah satu pertimbangan pengenaan PPnBM disamping PPN terhadap anggota masyarakat yang mengonsumsi BKP yang Tergolong Mewah adalah :
a. sesuai dengan karakteristik PPN sebagai pajak atas konsumsi
b. untuk mengurangi kesenjangan beban pajak antara yang dipikul oleh anggota masyarakat berpenghasilan tinggi dengan yang berenghasilan rendah
c. untuk mencegah anggota masyarakat tertentu mengonsumsi BKP Yang Tergolong Mewah d. karena PPnBM merupakan pungutan tambahan (tax supplement).
4. KEGIATAN BELAJAR 3
SAAT DAN TEMPAT PAJAK TERUTANG
4.1. Uraian, contoh dan non contoh a. Saat Pajak Terutang.
Untuk menentukan saat PKP melaksanakan kewajiban membayar pajak, penentuan saat pajak terutang menjadi sangat relevan. Tanpa diketahui saat pajak terutang, tidak mungkin ditentukan bilamana PKP wajib memenuhi kewajiban melunasi utang pajaknya.
Untuk menentukan saat pajak terutang sangat erat kaitannya dengan penentuan saat tim-bulnya utang pajak. Sebagai pajak objektif, PPN menganut ajaran materiil timbulnya utang pajak yaitu utang pajak timbul karena undang-undang. Dengan kata lain dapat di-rumuskan bahwa utang pajak timbul karena adanya tatbestand yang diatur dalam undang-undang, yaitu sejak adanya suatu ke-adaan, peristiwa atau perbuatan hukum yang dapat dikenakan pajak. Dengan rumusan yang lebih sederhana, dapat ditentukan bahwa utang PPN mulai timbul sejak adanya objek pajak. Ajaran materiil timbulnya utang pajak dianut oleh suatu jenis pajak yang mekanisme pemungutan pajak-nya menggunakan self assessment system. Mekanisme pemungutan PPN menggunakan sistem ini, sehingga timbulnya utang pajak ditentukan berdasarkan ajaran materiil.
Dari ketentuan Pasal 11 UU PPN 1984 dapat disimpulkan bahwa pajak terutang: 1) pada saat penyerahan BKP atau JKP
2) pada saat impor BKP
3) pada saat dimulai pemanfaatan BKP Tidak Berwujud atau JKP dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean
4) pada saat pembayaran dalam hal :
a) pembayaran diterima sebelum penyerahan BKP atau JKP
b) pembayaran dilakukan sebelum dimulai pemanfaatan BKP Tidak Berwujud atau JKP dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean.
5) pada saat lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
b. Tempat Pajak Terutang
Berdasarkan Pasal 12 UU PPN 1984 ditetapkan bahwa pajak terutang di : 1) tempat tinggal atau tempat kedudukan ; dan
2) tempat kegiatan usaha dilakukan, atau
3) tempat lain yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak ; 4) tempat BKP dimasukkan, dalam hal impor ;