• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. individu dalam usaha mengoptimalkan potensi dalam dirinya untuk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. individu dalam usaha mengoptimalkan potensi dalam dirinya untuk"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan perguruan tinggi adalah titik tertinggi yang dijalani oleh individu dalam usaha mengoptimalkan potensi dalam dirinya untuk nantinya dapat menyelesaikan suatu permasalahan yang ada pada lingkungan masyarakat. Individu yang menjalani pendidikan di perguruan tinggi biasa disebut dengan mahasiswa. Pengertian mahasiswa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesi (KBBI) adalah orang yang belajar di perguruan tinggi. Menurut Salim dan Salim (2002) mahasiswa merupakan orang yang telah terdaftar dan menjalani pendidikan di perguruan tinggi.

Sebagai mahasiswa, wajib melewati minimal tujuh semester untuk melanjutkan penelitian akhir atau yang biasa disebut dengan skripsi yang digunakan sebagai sebuah syarat dalam kelulusan di perguruan tinggi. Skripsi menurut Widharyanto (Herlina, 2008) adalah karya ilmiah suatu bidang studi yang dibuat oleh mahasiswa jenjang Strata satu pada masa akhir perkuliahan sebagai syarat selesainya menjalankan program studi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) skripsi merupakan sebuah karangan ilmiah yang wajib dikerjakan dalam bentuk tulisan oleh mahasiswa untuk menuntaskan persyaratan dari akhir pendidikan akademis. Sebagai mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi pastinya mendapatkan beberapa tekanan dan tututan untuk menyelesaikan skripsi

(2)

sesegera mungkin. Misalnya kesulitan menemukan teori yang sesuai dengan penelitian, kesulitan menemui dosen pembimbing, hingga tidak adanya dukungan dari lingkungan dan teman-teman. Hal ini bisa mengakibatkan munculnya berbagai macam jenis gangguan psikologi pada diri mahasiwa yang sedang mengerjakan skripsi, salah satunya adalah kecemasan (Listanto dan Demak, 2015). Nevid, Rathus & Greene (Fauziyah dan Ariati, 2015) kecemasan adalah keadaan emosional yang ditandai dengan munculnya rangsangan fisiologi, perasaan tidak tenang dan perasaan bahwa hal buruk akan terjadi pada dirinya.

Menurut Taylor (1953) kecemasan adalah perasaan tegang dan gelisah dengan tidak adanya kemampuan mengatasi suatu masalah atau merasa tidak aman. Perasaan yang tidak menentu ini umumnya tidak menyenangkan dan menimbulkan perubahan pada fisiologis dan psikologis. Seseorang akan merasa cemas ketika dirinya tidak siap dalam menghadapi ancaman atau tekanan. Menurut Spielberger (Hayat, 2014) kecemasan merupakan sebuah tanda dari datangnya bahaya, maka dalam dari individu akan terjadi sebuah proses penyeimbangan diri dengan kondisi lingkungan. beberapa kondisi yang sebenarnya tidak berbahaya untuk individu tersebut.

Menurut Nevid, Rathus dan Greene (2005) kecemasan terjadi karena beberapa faktor, yang pertama yaitu faktor sosial lingkungan meliputi jabaran dari beberapa peristiwa yang menurut individu mengancam dirinya atau sebuah kejadian traumatis dan kurangnya dukungan sosial. Faktor kedua adalah faktor biologis yaitu meliputi fungsi neurotransmitter serta

(3)

abnormalitas dalam jalur otak atau adanya hambatan tingkah laku seseorang. Selanjutnya adalah faktor behavioral yang meliputi stimulus dari kecemasan karena adanya perilaku kompulsif dan sikap menghindar dari objek ataupun situasi yang ditakuti oleh individu. Faktor yang terakhir adalah faktor kognitif dan emosional yang meliputi prediksi berlebih akan ketakutan dan rendahnya self-efficacy pada diri individu.

Wawancara pertama peneliti lakukan pada mahasiswa Fakultas A Universitas X angkatan 2014 pada tanggal 14 desember 2018. GN (inisial) mengaku telah mengambil skripsi dari bulan Juni 2018 namun sampai saat itu GN masih dalam tahap mengerjakan proposal. Ketika peneliti menanyakan alasan mengapa GN belum menyelesaikan skripsinya, GN mengaku bahwa dirinya belum siap karena takut untuk bertemu dengan dosen pembimbing skripsi dan tidak yakin dengan kemampuan yang dimilikinya. GN juga merasa tidak semangat karena teman satu dosen pembimbingnya sudah melakukan sidang lebih awal dari dirinya sehingga GN tidak mendapatkan informasi yang cukup perihal bimbingan skripsinya dan GN tidak memiliki teman untuk melakukan bimbingan skripsi. GN sulit untuk tidur ketika di malam hari karena merasa gelisah. GN juga merasa dirinya tidak seberuntung teman seangkatannya karena teman-teman dekat selama perkuliahan telah menyelesaikan perkuliahannya bahkan mayoritas sudah melakukan wisuda.

Pada tanggal 27 January 2019 peneliti juga melakukan wawancara kepada mahasiswa Fakultas B Universitas X angkatan 2015 dengan inisal

(4)

nama CS. CS merasa ketika ia mengerjakan skripsi selama berjam-jam CS sering merasa mual. CS juga sering mengkhawatirkan pekerjaannya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Ketika mengetahui teman-teman terdekatnya sudah melakukan pengambilan data sedangkan hanya CS yang belum melakukan pengambilan data. CS juga mengatakan beberapa teman seangkatan yang sudah melewati sidang akhir atau pendadaran, CS mengaku mengalami jantung yang berdebar kencang ketika melihat teman seangkatan menyelesaikan sidang akhir tersebut. CS merasa tertinggal oleh teman-teman dekatnya yang sudah lebih cepat dalam mengerjakan penelitian dan juga beberapa sudah menyelesaikan hingga sidang akhir.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh dua orang mahasiswa skripsi yaitu GN dan CS, dalam proses mengerjakan skripsi ini para responden merasa cemas dalam mengerjakan skripsi. Para responden juga merasakan kegelisahan ketika mengetahui teman-teman seangkatan telah lulus kemudian merasa tidak mampu menyelesaikan skripsinya hingga lulus. Berdasarkan hal tersebut menunjukan para responden mengalami kecemasan dalam menjalani proses pengerjaan skripsi, sesuai dengan aspek kecemasan menurut Taylor (1953) yaitu fisiologis dan psikologis.

Wawancara yang dilakukan pada dua orang mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi, diketahui bahwa kedua responden mengalami kecemasan dalam pengerjaan skripsi dikarenakan teman-teman seangkatan sudah melakukan sidang skripsi dan dinyatakan lulus. Untuk mengatasi perasaan cemas dalam mengerjakan skripsi, mahasiswa yang sedang

(5)

mengerjakan skripsi membutuhkan dukungan dari teman sebaya. Mahasiswa membutuhkan dukungan dari teman sebaya untuk memenuhi kebutuhan emosi dalam mengerjakan skripsi. Selain memenuhi kebutuhan emosi mereka, dukungan dari teman sebaya berguna untuk meningkatkan pembelajaran dalam pendidikan yang memberikan mahasiswa kesempatan untuk belajar bersama (Cowie dan Wallace, 2000). Ditambahkan oleh Briggs (Cowie dan Wallace, 2000), dalam mengerjakan tugas akhir mahasiswa membutuhkan motivasi yang diperoleh dari teman ketika mereka kuliah atau teman sebaya.

Menurut Cowie dan Wallace (2000), terdapat dua jenis dukungan teman sebaya, yaitu dukungan emosional (emotional support) dan pemberian pembelajaran akademik dan informasi (education or information giving). Emotional support diartikan dengan adanya resolusi kelompok dalam dukungan pertemanan tersebut. Education or information giving diartikan adanya bimbingan dari teman-teman sebaya dalam masalah pendidikan dan pembagian informasi. Penelitian yang dilakukan oleh Purwati dan Rahandani (2018) menunjukkan hasil adanya hubungan negatif yang signifikan antara dukungan teman sebaya dengan stres. Hal ini menunjukkan jika mahasiswa yang merasa didukung oleh teman sebayanya, memiliki stres akademik yang rendah dibandingkan mahasiswa yang tidak didukung temannya. Oleh karena itu, dukungan teman sebaya dianggap penting pengaruhnya bagi stres akademik pada mahasiswa.

(6)

Dari hasil wawancara yang sudah dilakukan dengan GN dan CS juga menunjukkan adanya kecemasan yang dialami oleh para responden. Hal ini ditunjukkan dari rasa cemas yang muncul ketika teman-teman sebaya para responden sudah melakukan sidang dan beberapa ada yang sudah melakukan wisuda. Hal tersebut mendorong peneliti untuk ingin mengetahui lebih jauh hubungan antara dukungan teman sebaya dengan kecemasan dengan responden mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi.

B. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara dukungan teman sebaya dengan kecemasan pada mahasiswa skripsi.

C. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis maupun praktis:

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini bermanfaat untuk memberikan konstribusi pada ilmu psikologi yaitu psikologi klinis dan psikologi sosial dengan memberikan referensi atau masukan terkait dengan dukungan teman sebaya terhadap kecemasan pada mahasiswa skripsi.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan referensi dan pemahaman yang dapat diterapkan oleh masyarakat terkait dukungan teman sebaya dan kecemasan pada mashasiswa skripsi.

(7)

D. Keaslian Penelitian

Peneliti membandingkan penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan digunakan peneliti untuk mengetahui keaslian yang digunakan peneliti dalam penelitian ini. Fauziyah dan Ariati (2015) meneliti kecemasan dalam menghadapi dunia kerja pada mahasiswa S1 tingkat akhir. Responden dalam penelitian ini adalah 286 mahasiswa S1 tingkat akhir Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Penelitian ini menggunakan dua alat ukur yaitu skala dukungan sosial teman sebaya dan skala kecemasan dalam menghadapi dunia kerja. Hasil penelitian menunjukkan sumbangan efektif dukungan sosial terhadap kecemasan dalam menghadapi dunia kerja sebesar 28,9%. Hal tersebut menunjukkan adanya hubungan negatif antara dukungan teman sebaya dengan kecemasan menghadapi dunia kerja.

Penelitian Puspitasari, Abidin, dan Sawitri (2010) dengan judul “Hubungan antara dukungan teman sebaya dengan kecemasan menjelang Ujian Nasional (UN) siswa kelas XII reguler SMA Negeri 1 Surakarta”. Penelitian ini menggunakan alat ukur skala kecemasan dalam menghadapi ujian nasional dan skala dukungan sosial teman sebaya. Responden yang terdapat dalam penelitian ini 143 siswa. Hasil penelitian ini menunjukan adanya korelasi yang signifikan antara kecemasan menjelang Ujian Nasional dan dukungan teman sebaya. Sumbangan efektif antara dukungan teman sebaya dengan kecemasan menghadapi Ujian Nasional sebesar 4,3% yang menunjukkan adanya faktor lain yang berperan dalam mempengaruhi kecemasan dalam menghadapi Ujian Nasional.

(8)

Penelitian dengan variabel kecemasan sebelumnya dilakukan oleh Untari (2014) dengan judul “Hubungan antara kecemasan dengan prestasi uji osca I pada mahasiswa Akper PKU Muhammadiyah Surakarta”. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa hubungan antara kecemasan dengan prestasi uji osca I pada mahasiswa. Responden penelitian ini adalah 30 mahasiswa Akper PKU Muhammadiyah Surakarta tingkat I tahun ajaran 2006/2007. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa terdapat hubungan negatif antara kecemasan dengan prestasi uji osca I pada mahasiswa tingkat I, maka semakin tinggi tingkat kecemasan semakin rendah nilai prestasi uji osca I. Berlaku juga sebaliknya, semakin rendah tingkat kecemasan semakin tinggi nilai prestasi uji osca I.

Amir, Iryani dan Isrona (2016) meneliti variabel kecemasan dengan judul “Hubungan tingkat kecemasan dalam menghadapi Objective Structured Clinical Examination (OSCE) dengan kelulusan OSCE pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Andalas”. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan hubungan tingkat kecemasan dalam menghadapi OSCE dengan kelulusan OSCE pada mahasiswa FK unand. Penelitian ini dilakukan dengan responden sebanyak 34 orang mahasiswa FK Unand. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat kecemasan dalam menghadapi OSCE dengan kelulusan OSCE pada mahasiswa FK Unand.

Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Puspitasari (2013) dengan judul “Adversity quotient dengan kecemasan mengerjakan skripsi

(9)

pada mahasiswa”. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui hubungan antara adversity quotient dengan kecemasan mengerjakan skripsi pada mahasiswa psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. Responden penelitian ini yaitu 82 orang mahasiswa psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. Hasil penelitian ini menunjukan adanya hubungan negatif antara adversity quotient dengan kecemasan mengerjakan skripsi pada mahasiswa. Semakin tinggi adversity quotient maka kecemasan semakin rendah.

Penelitian sebelumnya dengan judul “Pengaruh expressive writing pada kecemasan menyelesaikan skripsi” yang dilakukan oleh Herdiani (2012). Tujuan penelitian ini bertujuan untuk menguji expressive writing kepada mahasiswa yang mengalami kecemasan mengerjakan skripsi yang dialami mahasiswa fakultas psikologi Universitas Surabaya. Responden penelitian ini sebanyak 8 mahasiswa dari angkatan 2006, 2007 dan 2008 yang mengalami kecemasan kategori tinggi dan sangat tinggi. Penelitian ini menunjukan expressive writing tidak efektif untuk menurunkan kecemasan menyelasikan skripsi.

Penelitian sebelumnya dengan variabel dukungan teman sebaya yang dilakukan oleh Sasmita dan Rustika (2015) berjudul Peran efikasi diri dan dukungan sosial teman sebaya terhadap penyesuaian diri mahasiswa tahun pertama program studi pendidikan dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peran efikasi diri dan dukungan sosial teman sebaya terhadap penyesuaian diri mahasiswa tahun

(10)

pertama. Responden penelitian ini adalah 137 orang mahasiswa tahun pertama program studi pendidikan dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa dukungan sosial teman sebaya berperan terhadap penyesuaian diri.

Penelitian yang dilakukan oleh Sari dan Indrawati (2016) dengan judul “Hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dengan resiliensi akademik pada mahasiswa tingkat akhir jurusan x fakultas teknik Universitas Diponegoro”. Peneitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dengan resiliensi akademik pada mahasiswa tingkat akhir jurusan x fakultas teknik universitas diponegoro. Responden penelitian ini berjumlah 100 mahasiswa. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial teman sebaya dengan resiliensi akademik. Semakin tinggi dukungan sosial maka semakin tinggi pula resiliensi akademik mahasiswa.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Hendyani dan Abdullah (2018) dengan judul “Dukungan teman sebaya dan kematangan karier mahasiswa tingkat akhir”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan teman sebaya dengan kematangan karier mahasiswa tingkat akhit di universitas x. Responden penelitian ini adalah mahasiswa tingkat akhir universitas x yang berada pada semester 7 ke atas dan berusia 21-24 tahun sebanyak 110 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada

(11)

hubungan positif antara dukungan teman sebaya dengan kematangan karier pada mahasiswa tingkat akhir di universitas x.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Hasan dan Handayani (2014) dengan judul “Hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dengan penyesuaian diri siswa tunarungu di sekolah inklusi”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dengan penyesuaian diri siswa tunarungu di sekolah inklusi. Responden penelitian ini berjumlah 22 siswa tunarungu dari SMAN 10 dan SMKN 8 Surabaya dengan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dengan penyesuaian diri siswa tunarungu di sekolah inklusi.

Berdasarkan beberapa penilitian yang dituliskan di atas, dapat dilihat beberapa perbedaan dengan spesifikasi sebagai berikut:

1. Keaslian Topik

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Fauziyah dan Ariati (2015), yang mengaitkan dukungan teman sebaya dengan kecemasan dalam menghadapi dunia kerja pada mahasiswa tingkat akhir. Sedangkan topik yang akan diangkat pada penelitian ini adalah hubungan antara dukungan teman sebaya dengan kecemasan dan pada penelitian ini akan digunakan responden mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi.

(12)

2. Keaslian Teori

Teori yang digunakan pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Fauziyah dan Ariati (2015), yaitu kecemasan menurut Karney and Trull (2012) dan dukungan sosial teman sebaya dari Arnett (2013). Sedangkan teori yang digunakan pada penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yaitu menggunakan teori dukungan teman sebaya dari Cowie dan Wallace (2000) dan teori kecemasan yaitu teori Taylor (1953).

3. Keaslian Alat Ukur

Alat ukur yang digunakan dalam penelitian Fauziyah dan Ariati (2015) untuk skala kecemasan dari Prins (Kearney & Trull, 2012) dan dukungan teman sebaya dari Berndt (Arnett, 2013). Pada penelitian ini peneliti menggunakan skala dukungan teman sebaya dan kecemasan. Untuk skala dukungan teman sebaya berdasarkan teori Cowie dan Walace (2000) yang terdiri dari 35 item. Untuk skala kecemasan peneliti menggunakan alat ukur TMAS (Taylor Manifest Anxiety Scale) yang terdiri dari 28 aitem.

4. Keaslian Responden Penelitian

Pada penelitian yang sudah diakukan oleh Fauziyah dan Ariati (2015) memiliki responden mahasiswa tingkat akhir. Peneliti memilih responden mahasiswa Universitas X yang sedang mengambil skripsi dan sudah mengerjakan lebih dari 1 semester.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengetahui hubungan antara self estem, tingkat stres dan teman sebaya dengan penyalanggunaan alkohol pada mahasiswa keperawatan S1.. Untuk mengetahui gambaran self

Interaksi sosial yang negatif juga dapat menyebabkan penolakan oleh teman sebaya, isolasi sosial, penarikan diri individu, depresi, perasaan kesepian dan bahkan pemikiran

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan bahwa dalam penelitian ini secara khusus akan mencari keterkaitan antara keharmonisan keluarga dan dukungan sosial

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Antara Self Efficacy Dan Regulasi Emosi Dengan Resiliensi

Penelitian ini dengan judul “Hubungan antara Dukungan Sosial Teman Sebaya dengan Prokrastinasi Akademik Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya”

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, masalah penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah ada pengaruh dari dukungan sosial teman

Hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dengan resiliensi akademik pada mahasiswa tingkat akhir jurusan x Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.. Futur Orientation Developmental

Penelitian oleh Rahwuni pada tahun 2014 yang dilakukan di Pekanbaru menunjukkan bahwa menunjukkan bahwa sebagian besar responden mendapatkan dukungan sosial teman sebaya yang tinggi