• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata materiil dan spiritual dalam era demokrasi ekonomi, berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Terbukanya pasar nasional sebagai akibat dari proses globalisasi ekonomi, harus tetap menjamin peningkatan kesejahteraan masyarakat serta kepastian atas mutu jumlah dan keamanan barang atau jasa yang diperolehnya di pasar (Budi Romadhona, 2013 : 1). Pasar yang semakin mengglobal dan cara transaksi hubungan pelaku usaha dan konsumen semakin berkembang, berdampak pada perubahan konstruksi hukum. Perubahan konstruksi hukum diawali dengan perubahan paradigma hubungan pelaku usaha dan konsumen, yaitu hubungan yang semula dibangun atas prinsip caveat emptor berubah menjadi prinsip caveat venditor. Suatu prinsip hubungan yang semula menekankan kesadaran konsumen sendiri untuk melindungi dirinya berubah menjadi kesadaran pelaku usaha untuk melindungi konsumen (Abdul Halim Barkatullah, 2010 : v). Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang meningkat pesat, guna memenuhi kebutuhan maka produktivitas yang dilakukan cenderung tidak seimbang dengan selera permintaan dan standar kebutuhan konsumen, sedangkan pelaku usaha hanya memikirkan meningkatkan kuantitas barang atau jasa tanpa diikuti peningkatan kualitasnya (Budi Romadhona, 2013 : 1).

Pelaku usaha atau perusahaan harus sanggup menawarkan barang atau jasa yang berkualitas karena mutu produk atau pelayanan yang diterima konsumen saat ini belum tentu diterima pada esok harinya (Budi Romadhona, 2013 : 2). Di samping perbedaan pengelolaan bisnis, perkembangan yang terjadi karena desakan lingkungan membawa implikasi terhadap visi maupun manajemen perusahaan. Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah terkandung beberapa prinsip, peran pemerintah daerah sebagai daerah

(2)

yang memiliki otonomi nyata dan bertanggungjawab diharapkan semakin berarti untuk mensejahterakan masyarakatnya. Daerah atau kota kemudian memperoleh penambahan kewenangan pengelolaan sumber kekayaan alam diantaranya adalah “sumber air” (Budi Romadhona, 2013 : 3).

Sumber daya alam merupakan hal terpenting, khususnya sumber air bersih yang peranannya sangat penting bagi kehidupan manusia maka pengelolaannya menjadi wewenang negara yang diatur dalam Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pemerintah pusat menyerahkan wewenang pengelolaan air kepada Pemerintah Daerah dalam suatu Badan Usaha Milik Daerah (selanjutnya disebut BUMD) yaitu Perusahaan Daerah Air Minum (selanjutnya disebut PDAM). Tersedianya sumber air bersih dan sehat merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi masyarakat (Budi Romadhona, 2013 : 3).

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum menyatakan bahwa air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung di minum (Jan Rohtuahson Sinaga, 2009 : 4). Pada era globalisasi saat ini di tengah kemajuan ekonomi dan teknologi yang sangat pesat untuk memenuhi kebutuhan air minum masyarakat tidak hanya menggunakan air yang di masak sendiri dari sumber air tanah, tetapi dari sumber lain yang digunakan oleh suatu perusahaan (Rhizky Nurkholis, 2014 : 1). Pengadaan air minum adalah tanggung jawab manusia sendiri dan memang sejak semula secara tradisional masyarakat telah mengadakan usaha-usaha pengadaan air minum secara sendiri ataupun kolektif dengan memanfaatkan alam dan sumber daya yang ada, walaupun mengingat adanya keterbatasan-keterbatasan yang ada seperti semakin sulitnya air bersih, keringnya sumur, jauh dari mata air maka diperlukan usaha untuk pengadaan air minum tersebut dari pihak pemerintah diantaranya dengan memberikan pelayanan berupa pengadaan PDAM yang dapat dinikmati semua lapisan masyarakat yang membutuhkan air bersih (Jan Rohtuahson Sinaga, 2009 : 4).

(3)

Kebutuhan akan air minum terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk yang semakin pesat. Hal ini mendorong masyarakat yang belum memiliki sumber air minum sendiri akan menghubungi PDAM. Dalam hal ini antara PDAM selaku pemberi jasa pengadaan air minum dengan konsumen selaku penerima jasa air minum terdapat suatu hubungan hukum yaitu adanya kewajiban dari penerima jasa untuk memberi imbalan atas jasa yang diterimanya sesuai dengan jumlah air di konsumsi yang tertera pada water meter serta sesuai dengan besaran tarif yang telah ditentukan, di samping itu terdapat hak-hak dari pelanggan sebagai penerima jasa (Jan Rohtuahson Sinaga, 2009 : 5). Di Indonesia, untuk melindungi kepentingan konsumen dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa, maka pemerintah mengeluarkan kebijakan pengaturan hak-hak konsumen melalui undang-undang. Pembentukan undang-undang tersebut merupakan bagian dari implementasi sebagai negara kesejahteraan karena Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 di samping sebagai konstitusi politik juga sebagai konstitusi ekonomi yang mengandung ide negara kesejahteraan (Zulham, 2013 : 6). Hak konsumen yang ada meliputi : Pertama, hak atas kesehatan yang terdapat pada Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan mengatur tentang hak yang diterima masyarakat mengenai kesehatan jasmani maupun rohani terkait kualitas air dikonsumsi konsumen. Kedua, hak atas keamanan dan keselamatan konsumen yang terdapat pada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mengatur tentang keamanan dan keselamatan masyarakat dalam mengkonsumsi air dari PDAM.

Perlindungan hukum bagi konsumen menjadi sangat penting, karena konsumen di samping mempunyai hak-hak yang bersifat universal juga mempunyai hak-hak yang bersifat sangat spesifik baik situasi maupun kondisi (Sri Redjeki Hartono, 2000 : 79). Ketika suatu negara memasuki tahap negara kesejahteraan (welfare state) tuntutan intervensi pemerintah melalui pembentukan hukum yang melindungi pihak yang lemah sangatlah kuat (Karen S. Fishmen, 1986 : 7-9). Beberapa argumentasi tentang pentingnya intervensi pemerintah terkait dengan perlindungan konsumen, yakni : Pertama, dalam masyarakat modern, produsen menawarkan berbagai jenis produk yang diproduksi secara

(4)

massal. Kedua, hasil produksi dengan cara massal dan teknologi canggih, potensial bagi munculnya risiko produk cacat, tidak memenuhi standar, dan bahkan berbahaya yang merugikan konsumen. Ketiga, hubungan antara konsumen dan produsen berada pada posisi yang tidak seimbang. Keempat, persaingan yang sempurna sebagai pendukung consumer sovereignty theory dalam praktiknya jarang terjadi (Inosentius Samsul, 2004 : 2-3 dalam buku Zulham, 2013 : 6). Intervensi pemerintah sangat dibutuhkan dalam pembangunan ekonomi (Bismar Nasution, 2004 : 4 dalam buku Zulham, 2013 : 6), untuk menetapkan dan menegakkan peraturan perundang-undangan dalam bidang ekonomi, termasuk pengaturan konsumen. Namun jika tidak ada intervensi pemerintah dalam bidang ekonomi, maka hal ini akan menimbulkan akibat terhadap ekonomi. Pandangan ini berpendapat bahwa ekonomi hanya berfungsi bila ada kerangka hukum yang melandasinya (Zulham, 2013 : 6).

Masyarakat sebagai konsumen tidak terlepas dari hukum di mana keterbatasan pengetahuan konsumen mengenai kewajaran mutu dan harga barang atau jasa menempatkan posisi konsumen sebagai mangsa perusahaan. Keadaan ini diperparah lagi dengan sikap tidak mau tahu perusahaan dalam menanggapi keluhan konsumen. Keadaan demikian konsumen tidak memiliki kekuatan bahwa untuk meningkatkan harkat dan martabat konsumen perlu ditingkatkan kesadaran, pengetahuan, kepedulian, kemampuan, dan kemandirian konsumen untuk melindungi dirinya serta menumbuhkembangkan sikap perusahaan yang bertanggungjawab. Sehingga pemerintah berusaha mengatasi permasalahan perlindungan konsumen dengan menerbitkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Hubungan antara perusahaan dan konsumen, di mana konsumen sebagai pihak yang lebih lemah daripada perusahaan dan sudah sewajarnya mendapatkan perlindungan hukum. Berlakunya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, penegakan aturan hukum dan upaya perlindungan terhadap konsumen dapat diberlakukan sama bagi setiap konsumen maupun perusahaan sebagai pelaku usaha. Undang-undang ini merupakan payung hukum masyarakat untuk melindungi haknya atau setidak-tidaknya konsumen telah memiliki senjata dalam

(5)

mempertahankan haknya. Demikian diharapkan perusahaan dapat meningkatkan citranya dalam menambah kualitas produk jasanya (Jan Rohtuahson Sinaga, 2009 : 2).

PDAM sebagai perusahaan air minum belum dapat sepenuhnya menyediakan air bersih bagi masyarakat karena masih banyak mengalami kendala. Air yang berasal dari PDAM tidak setiap hari mengalir dan terkadang tidak bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci, dan memasak bahkan untuk minum. Di tambah lagi dengan banyaknya keluhan masyarakat mengenai air yang berasal dari PDAM mulai dari soal kualitas dan kuantitas seperti halnya air yang mengandung timbale atau kasinogenik, air berwarna kecoklat-coklatan atau keruh, air berbau larutan zat kimia atau berasa aneh hingga debit air yang kerap kali tidak mengalir sama sekali atau sangat kecil keluarnya (Nandi, 2010, http://sosbud.kompasiana.com/2010/01/24/menyoal-masyarakat-konsumen-air, diakses tanggal 20 Desember 2015 pukul 08.31 WIB). Kondisi tersebut menjadikan kualitas air berbeda, apabila terjadi permasalahan seperti yang dikeluhkan masyarakat di atas maka air tidak memenuhi syarat atau air tidak berkualitas, sedangkan air berkualitas atau memenuhi syarat apabila kandungan fisika, kimia, dan bakteriologi tidak melebihi batas maksimal yang diperbolehkan.

Menurut BPPSPAM (dalam BBTKLPP Yogyakarta, 2014 : 1) menyatakan bahwa air merupakan kebutuhan dasar bagi manusia yang harus tersedia dalam kuantitas yang cukup dan kualitas yang memenuhi syarat. Meskipun alam telah menyediakan air dalam jumlah yang cukup, tetapi pertambahan penduduk dan peningkatan aktivitasnya telah mengubah tatanan dan keseimbangan air di alam. Sebagian besar air yang tersedia tidak lagi layak dikonsumsi secara langsung dan memerlukan pengolahan supaya air dari alam layak dan sehat untuk dikonsumsi.

Hal tersebut menyebabkan hukum perlindungan konsumen dianggap penting keberadaannya. Sudah menjadi hal yang umum pada saat sekarang hak-hak konsumen sering kali terabaikan. Banyak orang yang tidak menyadari bagaimana pelanggaran hak-hak konsumen yang dilakukan oleh pelaku usaha dan

(6)

konsumen cenderung mengambil sikap “diam” (Mariam Darus Badrulzaman, 1986 : 60).

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian atau studi kasus terhadap permasalahan tentang PDAM Kota Surakarta menjaga dan mewujudkan air berkualitas dalam rangka melindungi hak atas kesehatan, keamanan, dan keselamatan konsumen serta faktor yang menjadi kendala dan bagaimana solusi untuk mengatasi masalah yang timbul melalui penulisan hukum dengan judul : “PERLINDUNGAN HUKUM ATAS HAK KESEHATAN, KEAMANAN, DAN KESELAMATAN BAGI KONSUMEN AIR MINUM DI PDAM KOTA SURAKARTA DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN”.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, maka permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana PDAM Kota Surakarta menjaga dan mewujudkan air berkualitas dalam rangka melindungi hak atas kesehatan, keamanan, dan keselamatan konsumen ?

2. Apa saja faktor yang menjadi kendala bagi PDAM Kota Surakarta dalam menjaga kualitas air dan bagaimana solusinya ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan sasaran yang ingin dicapai sebagai pemecahan masalah yang dihadapi. Berdasarkan latar belakang masalah dan perumusan masalah di atas, maka penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut : 1. Tujuan Objektif

a. Untuk mengetahui bagaimana PDAM Kota Surakarta menjaga dan mewujudkan air berkualitas dalam rangka melindungi hak atas kesehatan, keamanan, dan keselamatan konsumen; dan

b. Untuk mengetahui apa saja faktor yang menjadi kendala bagi PDAM Kota Surakarta dalam menjaga kualitas air dan bagaimana pemberian solusinya.

(7)

2. Tujuan Subjektif

a. Untuk dapat menambah, memperluas, dan mengembangkan pemahaman aspek hukum dalam teori dan praktek lapangan hukum, khususnya dalam bidang Hukum Administrasi Negara terkait PDAM Kota Surakarta menjaga dan mewujudkan air berkualitas dalam rangka melindungi hak atas kesehatan, keamanan, dan keselamatan konsumen; dan

b. Untuk memperoleh informasi sebagai bahan utama dalam penulisan hukum untuk memenuhi persyaratan yang diwajibkan dalam meraih gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.

D. Manfaat Penelitian

Suatu penelitian tentunya diharapkan terdapat manfaat dan kegunaan yang dapat diambil dari penelitian tersebut. Manfaat penelitian bukan hanya untuk penulis tetapi juga harus bermanfaat bagi semua pihak terutama demi kemajuan hukum di Indonesia. Penelitian dalam penulisan hukum ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan ilmu pengetahuan hukum serta memberikan suatu pemikiran di bidang ilmu hukum, khususnya Hukum Administrasi Negara;

b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan informasi terkait PDAM Kota Surakarta menjaga dan mewujudkan air berkualitas dalam rangka melindungi hak atas kesehatan, keamanan, dan keselamatan konsumen; dan

c. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah bahan-bahan informasi ilmiah yang dapat dijadikan acuan terhadap penelitian-penelitian sejenis untuk tahap berikutnya.

(8)

2. Manfaat Praktis

a. Memberikan jawaban dari permasalahan yang diteliti serta dapat mengembangkan penalaran, membentuk pola pikir yang sistematis sekaligus mengetahui kemampuan dalam menerapkan ilmu yang diperoleh selama masa perkuliahan;

b. Memberikan pendalaman pengetahuan dan pengalaman baru pada penulis mengenai permasalahan hukum yang dikaji, sehingga dapat berguna bagi penulis maupun orang lain dikemudian hari; dan

c. Hasil penelitian dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang terkait dalam penelitian ini.

E. Metode Penelitian

Metode merupakan cara utama yang dipergunakan untuk mencapai suatu tujuan, misalnya untuk menguji serangkaian hipotesis dengan mempergunakan teknik serta alat-alat tertentu (Winarno Surakhmad, 1994 : 131), dalam penelitian ini metode yang digunakan oleh penulis adalah sebagai berikut :

1. Jenis Penelitian

Penelitian yang dilakukan dalam penulisan hukum ini adalah penelitian hukum empiris, penelitian ini berbasis pada ilmu normatif (peraturan perundangan), tetapi bukan mengkaji mengenai sistem norma dalam aturan perundangan, namun mengamati bagaimana reaksi dan interaksi yang terjadi ketika sistem norma itu bekerja di dalam masyarakat (Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, 2010 : 47).

Penelitian ini mengkaji bagaimana PDAM menjaga dan mewujudkan air berkualitas dalam rangka melindungi hak atas kesehatan, keamanan, dan keselamatan konsumen di PDAM Kota Surakarta, sehingga dari penelitian ini dapat diketahui faktor yang menjadi kendala dan solusi penyelesaian sebagai hasil penelitian ini.

2. Sifat Penelitian

Penelitian yang dilakukan dalam penulisan hukum ini bersifat deskriptif. Sifat penelitian deskriptif dimaksudkan untuk memberikan data

(9)

yang seteliti mungkin mengenai manusia, suatu keadaan maupun gejala-gejala lainnya. Hal ini dilakukan untuk mempertegas hipotesa-hipotesa, agar dapat membantu memperkuat teori lama atau dalam kerangka penyusunan teori-teori baru (Soerjono Soekanto, 2010 : 10).

Penelitian hukum yang bersifat deskriptif ini bertujuan untuk memberikan data yang akurat dan sejelas-jelasnya mengenai kebijakan PDAM Kota Surakarta menjaga dan mewujudkan air berkualitas dalam rangka melindungi hak atas kesehatan, keamanan, dan keselamatan konsumen.

3. Pendekatan Penelitian

Pendekatan dalam penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu suatu metode penulisan hukum menggunakan data yang dinyatakan secara verbal. Hal ini dimaksudkan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek. “Penelitian seperti perilaku, tindakan, persepsi, dan lain-lain bentuk kata-kata dan naratif dalam konteks yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah” (Soerjono Soekanto, 2010 : 28).

4. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yang akan digunakan agar dalam penelitian ini diperoleh hasil seperti yang diharapkan adalah PDAM Kota Surakarta. Adanya pertimbangan memilih lokasi tersebut bahwa fakta dari masyarakat terkait penggunaan air di beberapa wilayah yang berasal dari PDAM Kota Surakarta mendapatkan kualitas yang berbeda, yaitu : air yang memenuhi syarat konsumsi dan air yang tidak memenuhi syarat konsumsi sehingga hak atas kesehatan, keamanan, dan keselamatan juga berbeda.

5. Jenis dan Sumber Bahan Hukum

Data yang diperoleh dan diolah dalam penelitian hukum empiris adalah data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian hukum adalah data yang diperoleh terutama dari penelitian empiris, yaitu penelitian yang dilakukan langsung di masyarakat (Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, 2010 : 156). Dalam hal ini data primer penulis diperoleh langsung dari PDAM Kota Surakarta melalui wawancara yang berupa keterangan atau fakta-fakta atau juga bisa disebut dengan data yang diperoleh dari sumber yang pertama

(10)

(Soerjono Soekanto, 2010 : 12). Wawancara dilakukan dengan 4 orang, yaitu : Pertama, Laksmishita Partaningrum sebagai Kepala Bagian Hukum, Kelembagaan, dan Kerjasama PDAM Kota Surakarta; Kedua, Nuri Mardewi sebagai Kepala Bagian Laboratorium PDAM Kota Surakarta; Ketiga, Giyoto sebagai Kepala Bagian Produksi PDAM Kota Surakarta; Keempat, Bambang Ary Wibowo sebagai Wakil Ketua BPSK Kota Surakarta. Sedangkan data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari hasil penelaahan kepustakaan atau penelaahan terhadap berbagai literatur atau bahan pustaka yang berkaitan dengan penelitian yang meliputi :

a. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer merupakan bahan hukum mengikat berupa peraturan perundang-undangan terdiri dari :

1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen; 3) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;

4) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum; 5) Laporan Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian

Penyakit Yogyakarta; dan

6) Laporan Hasil Uji Laboratorium PDAM Kota Surakarta. b. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder meliputi hasil karya ilmiah dan penelitian yang relevan, termasuk diantaranya buku, skripsi, thesis, makalah, dan jurnal hukum yang berhubungan dengan masalah hak atas kesehatan, keamanan, dan keselamatan konsumen terkait perlindungan konsumen. 6. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini teknik yang digunakan antara lain :

a. Studi dokumen atau bahan pustaka, merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mengumpulkan bahan-bahan dokumen PDAM Kota Surakarta berupa sejarah berdirinya, penangan hukum terhadap konsumen, produk air,

(11)

pelayanan terhadap konsumen, dan laporan hasil uji laboratorium dalam bentuk tertulis berkaitan dengan permasalahan yang diteliti.

b. Wawancara dilakukan dengan 4 orang, yaitu : Pertama, Laksmishita Partaningrum sebagai Kepala Bagian Hukum, Kelembagaan, dan Kerjasama PDAM Kota Surakarta; Kedua, Nuri Mardewi sebagai Kepala Bagian Laboratorium PDAM Kota Surakarta; Ketiga, Giyoto sebagai Kepala Bagian Produksi PDAM Kota Surakarta; dan Bambang Ary Wibowo sebagai Wakil Ketua BPSK Kota Surakarta.

7. Teknik Analisis Data

Penelitian kualitatif menekankan pada analisis induktif, bukan analisis deduktif. Data yang dikumpulkan bukan dimaksudkan untuk mendukung atau menolak hipotesis yang telah disusun sebelum penelitian dimulai, tetapi abstraksi disusun sebagai kekhususan yang telah terkumpul dan dikelompokkan bersama lewat proses pengumpulan data yang telah dilaksanakan secara teliti (H.B. Sutopo, 2006 : 41).

Menurut Sutopo, analisis dalam penelitian kualitatif terdiri dari tiga komponen pokok, yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan dengan verifikasinya (H.B. Sutopo, 2006 : 113).

a. Reduksi Data

Reduksi data dilakukan dengan membuat ringkasan dari catatan data yang diperoleh di lapangan. Dalam menyusun ringkasan tersebut, peneliti memusatkan tema, menentukan batas-batas permasalahan, dan juga menulis memo. Maka bisa dinyatakan bahwa reduksi data adalah bagian dari proses analisis yang mempertegas, memperpendek, membuat fokus, membuang hal-hal yang tidak penting, dan mengatur data sedemikian rupa sehingga narasi sajian data dan simpulan-simpulan dari unit-unit permasalahan yang telah dikaji dalam penelitian dapat dilakukan (H.B. Sutopo, 2006 : 114). b. Sajian Data

Sajian data merupakan suatu rakitan organisasi informasi, deskripsi dalam bentuk narasi lengkap yang untuk selanjutnya memungkinkan simpulan penelitian dapat dilakukan. Sajian data ini disusun berdasarkan

(12)

pokok-pokok yang terdapat dalam reduksi data, dan disajikan dengan menggunakan kalimat dan bahasa peneliti yang merupakan rakitan kalimat yang disusun secara logis dan sistematis, sehingga bila dibaca akan bisa mudah dipahami. Sajian data merupakan narasi mengenai berbagai hal yang terjadi atau ditemukan di lapangan, sehingga memungkinkan peneliti untuk berbuat sesuatu pada analisis ataupun tindakan lain berdasarkan atas pemahamannya tersebut (H.B. Sutopo, 2006 : 114-115).

c. Penarikan Simpulan dan Verifikasi

Simpulan perlu di verifikasi agar cukup mantap dan bisa dipertanggungjawabkan. Verifikasi dapat berupa kegiatan yang dilakukan dengan mengembangkan ketelitian, misalnya dengan berdiskusi (H.B. Sutopo, 2006 : 115). Ketiga komponen analisis data di atas membentuk prosesnya berlangsung dalam bentuk siklus.

Proses analisis yang berkelanjutan demikian juga merupakan proses yang berbentuk siklus. Dalam bentuk ini peneliti tetap bergerak di antara tiga komponen analisis dengan proses pengumpulan data selama kegiatan pengumpulan data berlangsung. Kemudian sesudah pengumpulan data berakhir, peneliti bergerak di antara tiga komponen analisisnya dengan menggunakan waktu yang masih tersisa bagi penelitiannya. Proses analisis ini disebut sebagai model analisis interaktif (H.B. Sutopo, 2006 : 119).

(13)

Gambar 1.1. Model Analisis Interaktif

Berdasarkan gambar di atas, reduksi data dan sajian data di susun pada waktu peneliti sudah menempatkan unit data dari sejumlah unit yang diperlukan dalam penelitian. Pada waktu pengumpulan data sudah berakhir, penulis mulai melakukan usaha dalam bentuk pembahasan (selanjutnya disebut diskusi) untuk menarik simpulan dan verifikasinya berdasarkan semua hal yang terdapat dalam reduksi maupun sajian datanya. Bila simpulan di rasa kurang mantap karena kurangnya rumusan data dalam reduksi maupun sajian datanya, maka peneliti wajib kembali melakukan kegiatan pengumpulan data yang sudah terfokus untuk mencari pendukung simpulan yang telah dikembangkannya dan juga sebagai usaha pendalaman data (H.B. Sutopo, 2006 : 120).

F. Sistematika Penulisan Hukum

Sistematika penulisan hukum dilakukan untuk memberikan gambaran, penjabaran maupun pembahasan secara menyeluruh mengenai pembahasan yang akan dirumuskan sesuai kaidah atau aturan baku penulisan hukum. Adapun sistematika penulisan hukum terdiri dari 4 (empat) bab di mana setiap bab terbagi dalam beberapa sub bab yang dimaksudkan untuk mempermudah pemahaman

Pengumpulan Data

Sajian Data Reduksi Data

Penarikan Simpulan dan Verifikasi

(14)

terhadap keseluruhan hasil penelitian. Sistematika penulisan hukum dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

Pada bab ini penulis akan menguraikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan hukum.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini penulis akan memberikan landasan teori yang bersumber pada bahan hukum yang penulis gunakan berkaitan dengan judul dan permasalahan yang sedang diteliti. Selain itu untuk memudahkan pemahaman alur berfikir, maka dalam bab ini juga disertai kerangka pemikiran.

BAB III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis akan menguraikan hasil penelitian dan pembahasan sesuai dengan perumusan masalah yang ada yaitu mengenai PDAM Kota Surakarta menjaga dan mewujudkan air berkualitas dalam rangka melindungi hak atas kesehatan, keamanan, dan keselamatan konsumen serta faktor-faktor yang menjadi kendala dan solusinya.

BAB IV : PENUTUP

Pada bab ini penulis akan mengemukakan simpulan dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, serta memberikan saran terkait dengan permasalahan yang diteliti.

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

Gambar

Gambar 1.1. Model Analisis Interaktif

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: pertama, keabsahan akta notaris meliputi bentuk isi, kewenangan pejabat yang membuat, serta pembuatannya harus memenuhi

Peningkatan pengeluaran pada laporan biaya lingkungan berdasarkan kategori dapat mengurangi permasalahan perusahaan diantaranya, jumlah karyawan yang mengalami

Hasil penelitian yang diperoleh adalah kasus spondilitis tuberkulosis yang ditemukan pada tahun 2014 sebanyak 44 pasien.. Penyakit ini dapat menyerang segala jenis kelamin dan

Penelitian ini menggunakan pendekatan manajemen biaya khususnya mengenai analisis biaya satuan ( unit cost ) dana BOS dengan metode Activity Based Bosting dalam

Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, atas semua Kasih dan anugerahNya, sehingga penulis menyusun skripsi dengan judul “Pengaruh Brand Trust Dan

Penambahan jenis retribusi daerah tersebut sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2012 tentang Retribusi Pengendalian Lalu Lintas dan Retribusi Perpanjangan

1 M.. Hal ini me nunjukkan adanya peningkatan keaktifan belajar siswa yang signifikan dibandingkan dengan siklus I. Pertukaran keanggotaan kelompok belajar

Perancangan basis data logikal menurut Connoly dan Begg (2002, p294) adalah proses pembentukan suatu model informasi yang digunakan dalam perusahaan berdasarkan pada model data