BAB V. KESIMPULAN Kesimpulan. Berdasarkan dari hasil analisis data dan pembahasan maka dapat. disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

Teks penuh

(1)

96 BAB V. KESIMPULAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil analisis data dan pembahasan maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

1. Parameter utama dan dasar perhitungan yang dapat digunakan untuk menentukan kebutuhan lahan untuk LP2B baik lahan basah maupun lahan kering di kabupaten Purworejo adalah trend (laju) jumlah penduduk, produksi lahan sawah, luas tanam, luas panen, produktivitas, indek pertanaman, alih fungsi lahan, potensi kerusakan lahan dan kebutuhan bahan baku untuk agroindustri pangan.

2. Kriteria utama untuk pengelompokan lahan basah/sawah sebagai LP2B adalah lahan sawah yang beririgasi teknis, produktivitasnya lebih dari 5,5 t/ha dengan IP lebih dari 1,75 dan merupakan daerah lowland, datar dan drainase relatif lambat.

3. Berdasarkan kriteria pengelompokan lahan maka pembuatan Peta dilakukan. Pemetaan didasarkan pada peta Kawasan Hutan dan present land use wilayah Purworejo skala 1 : 25.000 dan diolah dengan bantuan Software Arcview Versi 3.2. Peta tersebut menggambarkan total luas kawasan pertanian pangan untuk menjamin kelestarian kemandirian pangan di Kabupaten Purworejo seluas 38.562 ha terdiri dari lahan basah 27.850 ha dan lahan kering 10.712 ha. Luas LP2B basah adalah 25.826 ha, LP2B kering adalah 5.243 ha, LCP2B basah seluas 2.024 ha dan LCP2B kering seluas 5.469 ha.

5.1 Saran

1. Penelitian ini adalah merupakan penelitian awal untuk mencari beberapa parameter yang dapat digunakan dalam menentukan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) sehingga masih diperlukan penelitian

(2)

97 lanjutan yang lebih detail dan untuk mendapatkan parameter lain yang dapat menunjang penentuan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).

2. Pemerintah Kabupaten Purworejo diharapkan untuk melakukan verifikasi data alih fungsi antara Dinas Pertanian dan Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Purworejo sehingga dapat diketahui secara pasti kondisi alih fungsi lahan yang ada di Kabupaten Purworejo.

3. Untuk beberapa kecamatan yang memiliki kecenderungan alih fungsi lahan yang tinggi dibandingkan dengan kecamatan yang lain perlu dilakukan upaya pengendalian terutama di kecamatan Butuh, Purworejo, Banyu Urip, Bayan, dan Kutoarjo. Pengendalian laju alih fungsi dapat dilakukan dengan beberapa cara misalnya :

a. Perbaikan sarana irigasi b. Peningkatan kesuburan tanah

c. Penyuluhan/sosialisasi tentang konversi lahan dan regulasinya

d. Pemberian insentif seperti subsidi pajak tanah sawah, penambahan modal usahatani dalam bentuk pinjaman lunak, Penambahan modal usaha KUD, subsidi upah tenaga kerja pengolaan lahan sawah, subsidi harga gabah jika lebih rendah dari ongkos produksi, subsidi iuran P3A, insentif PPL dalam penyusunan program kelompok tani secara partisipatif, pemberian pendampingan sistim usahatani dan SLPTT atau SLPHT, insentif untuk PPL dan Petani Andalan pelopor anti alih fungsi lahan sawah, subsidi bantuan air minum/mineral, fasilitasi program penyuluhan tentang ancaman alih fungsi lahan sawah, pengadaan leaflet tentang pentingnya mempertahankan multifungsi lahan sawah

e. Pemberian sanksi/disinsentif kepada pelaku alih fungsi seperti mengganti lokasi sawah di tempat lain, pemberian pajak yang tinggi kepada pelaku alih fungsi

(3)

98

PEMETAAN LAHAN PERTANIAN PANGAN

BERKELANJUTAN (LP2B) DI KABUPATEN PURWOREJO

RINGKASAN

A. Latar Belakang

Secara administratif Kabupaten Purworejo terletak di sebelah selatan Provinsi Jawa Tengah, merupakan salah satu Kabupaten yang pembentukannya dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang pembentukan daerah-daerah Kabupaten dalam lingkungan Provinsi Jawa Tengah. Wilayah administrasi kabupaten Purworejo terbagi menjadi 16 Kecamatan, 469 desa dan 25 kelurahan.

Permasalahan utama dalam pemenuhan kebutuhan pangan adalah berkurangnya luas lahan karena adanya alih fungsi lahan sawah ke non sawah. Rata-rata penguasaan lahan yang sangat sempit berakibat terjadinya persaingan yang tidak seimbang dalam penggunaan lahan, terutama antara sektor pertanian dan nonpertanian. Buruknya kondisi sosial ekonomi memicu petani menjual lahan pertaniannya, karena merasa tidak mendapat keuntungan ekonomis dari lahan itu. Dua faktor tersebut berakibat pada kurangnya kemampuan menaikkan kapasitas produksi, dan secara psikologis semakin memojokkan citra produktivitas petani dan sektor pertanian pangan (Alimoeso, 2008).

Penataan ruang merupakan salah satu kebijakan yang diharapkan mampu mengendalikan laju alih fungsi lahan pertanian. Dalam Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang diamanatkan peraturan mengenai lahan pertanian abadi. Amanat tersebut telah dilaksanakan dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B). Dengan terbitnya UU ini, diharapkan dapat menekan tingginya laju alih fungsi lahan pertanian sawah. Apabila laju alih fungsi lahan pertanian dapat dikendalikan diharapkan fungsi lain seperti fungsi ekologi dapat dipertahankan dan dijaga keberadaannya.

Implementasi UU Nomor 41 Tahun 2009 berupa peraturan terkait seperti peraturan pemerintah, peraturan menteri ataupun peraturan daerah saat ini masih dalam proses penyusunan. Peraturan yang baru saja disahkan adalah Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2011 tentang Penetapan dan Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Peraturan ini antara lain berisi mengenai kriteria dan persyaratan serta tata cara penetapan ketiga komponen Perlindungan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B) tersebut yaitu Kawasan Pertanian Pangan

(4)

99 Berkelanjutan (KP2B), Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), dan Lahan Cadangan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LCP2B).

Adanya perencanaan dan penetapan ketiga komponen PLP2B dalam suatu wilayah akan mempermudah pemerintah dalam pembuatan rencana, kebijakan, dan program. Penetapan Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) merupakan bagian dari penetapan rencana tata ruang Kawasan Perdesaan di wilayah kabupaten dalam rencana tata ruang kabupaten. Penetapan LP2B dan LCP2B merupakan bagian dari penetapan dalam bentuk rencana rinci tata ruang wilayah kabupaten/kota.

Selaras dengan tujuan penataan ruang tersebut, di mana Kabupaten Purworejo dari total luas tanah di Kabupaten Purworejo 103.481,75 ha terbagi menjadi 2 kelompok yaitu tanah sawah mencapai 30.626,97 ha dan lahan kering serta hutan seluas 72.854,78 ha, sangat perlu dipetakan secara rinci untuk memberikan kepastian kepada seluruh pemangku kepentingan dalam melaksanakan kegiatan pembangunan dan mencegah alih fungsi lahan pertanian secara berlebihan sehingga ketahanan pangan di Kabupaten Purworejo dapat tercapai.

Untuk memetakan lahan pertanian pangan berkelanjutan di perlukan parameter yang mempengaruhi penetapan lahan pertanian pangan berkelanjutan. Berbagai kriteria fisik seperti kesesuaian lahan, sarana irigasi, dan kriteria sosial dan ekonomi, yang semuanya terkait dengan isu strategis, dapat diimplementasikan untuk mendukung implementasi dalam peraturan tersebut. Dari kriteria tersebut diharapkan mampu menjadi parameter yang dapat digunakan dalam penentuan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B).

Penelitian ini bertujuan untuk (1) menentukan parameter untuk memetakan LP2B dan LCP2B; (2) mendapatkan dasar perhitungan untuk menilai antar parameter LP2B dan LCP2B; (3) menentukan kriteria pengelompokan karakteristik lahan pertanian pangan sebagai LP2B dan LCP2B; (4) memetakan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) Kabupaten Purworejo.

B. Tinjauan Pustaka

Persoalan persaingan antara pertumbuhan penduduk dan produksi pangan telah menjadi perhatian sejak dulu. Pada tahun 1798, Thomas Robert Malthus telah mempredikasi bahwa dunia akan menghadapi ancaman karena ketidakmampuan mengimbangi pertumbuhan penduduk dengan penyediaan pangan memadai. Jumlah penduduk dunia terus bertambah. US Census Bureau memperkirakan tahun 2010 penduduk di Asia Pasific mencapai 4 milyar. Pertumbuhan penduduk yang pesat ini menuntut pemenuhan pangan yang sangat besar. US Census Bureau mencatat kebutuhan pangan biji-bijian (beras dan jagung) di Asia akan meningkat pesat dari 344 juta ton tahun 1997 menjadi 557 juta ton tahun 2010 (Anita, W., 2012)

Laju pertumbuhan penduduk di Indonesia termasuk pesat. Berdasarkan data BPS, pada tahun 1900 jumlah penduduk sekitar 40 juta,

(5)

100 tahun 1970 menjadi 120 juta jiwa, tahun 1980 menjadi 147 juta jiwa, tahun 1990 menjadi 179 juta jiwa, tahun 2000 menjadi 206 juta, dan sensus penduduk terakhir tahun 2010 mencapai 237 juta jiwa.

Selama kurun waktu 40 tahun telah terjadi peningkatan jumlah penduduk sebesar 117 juta jiwa. Pertambahan penduduk ini menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan pangan. Badan Ketahanan Pangan (BKP) menyebutkan 27,5% penduduk Indonesia terkena rawan pangan. Dengan rata-rata konsumsi beras per kapita di Indonesia sekitar 130 kilogram dan jumlah penduduk 237,6 juta jiwa, dibutuhkan sedikitnya 34 juta ton beras per tahun. Produksi dalam negeri sekitar 38 juta ton, sehingga hanya surplus 4 juta ton beras atau kurang untuk kebutuhan dua bulan (Barus, et.

al, 2010).

Ketahanan pangan (food security) adalah kondisi pemenuhan kebutuhan pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari ketersediaan pangan yang cukup, baik jumlah dan mutunya, aman, merata dan terjangkau. Suryana (2009) menggambarkan bahwa, ketahanan pangan sebagai suatu sistem yang terdiri dari tiga sub sistem yang saling berinteraksi yaitu sub sistem ketersediaan, sub sistem distribusi, dan sub sistem konsumsi. Ketersediaan dan konsumsi memungkinkan setiap rumah tangga memperoleh pangan yang cukup dan memanfaatkannya secara bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan gizi seluruh anggotanya.

Produktivitas padi sebagai bahan makanan utama di beberapa sentra produksi mengalami pelandaian dalam 10 - 15 tahun terakhir serta penciutan lahan produktif akibat adanya konversi lahan pertanian menjadi non pertanian, terutama lahan produktif (Pasandaran (2006).

Agus dan Irawan (2004), melaporkan bahwa antara Tahun 1999 – 2003, neraca luas lahan sawah kita sudah negatif 423.857 ha, akibat dari alih fungsi lahan sawah seluas 563.159 ha sementara penambahannya hanya mencapai 139.302 ha. Kondisi tersebut akan mengganggu ketahanan pangan (food security) jika tidak terdapat terobosan teknologi yang mampu meningkatkan produksi lahan sawah, baik secara ekstensifikasi maupun intensifikasi.

Pada Tahun 1981 – 1999 di Indonesia terjadi konversi lahan sawah seluas 1,60 juta ha dan sekitar 1 juta ha di antarannya terjadi di Jawa. Selain itu pertanian lahan kering juga mengalami degradasi yang menurunkan fungsi-fungsi pertanian di berbagai wilayah (Irawan, 2005)

Topik ini merupakan hal yang akan terus dibicarakan selama laju konversi lahan pertanian ke non pertanian tinggi. Regulasi dan kebijakan untuk merencanakan kebutuhan lahan pertanian untuk 25-50 tahun yang akan datang harus segera dilakukan meskipun saat ini ketersediaan lahan pertanian masih mencukupi.

Passour (1982) mengatakan bahwa alasan perlunya perlindungan lahan pertanian antara lain: a) Lahan pertanian harus dilindungi untuk memastikan kecukupan pangan sesuai dengan tingkat permintaan akibat pertumbuhan penduduk nasional dan dunia, b) Fungsi lingkungan, lahan pertanian menjadi ruang terbuka hijau, c) Menata perkembangan wilayah

(6)

101 urban, zoning disarankan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan dengan memproteksi kegiatan pertanian dari pembangunan pemukiman dan industri, d) Fungsi ekonomi yaitu menjaga agar ekonomi lokal yang berasal dari industri pertanian dapat terjaga.

UU Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan merupakan salah satu kebijakan Pemerintah dalam mengendalikan laju alih fungsi lahan pertanian khususnya sawah di Indonesia. Pada UU tersebut disebutkan bahwa Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) adalah bidang lahan pertanian yang ditetapkan untuk dilindungi dan dikembangkan secara konsisten guna menghasilkan pangan pokok bagi kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan nasional.

Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) adalah wilayah budi daya pertanian terutama pada wilayah perdesaan yang memiliki hamparan lahan pertanian pangan berkelanjutan dan/atau hamparan lahan cadangan pertanian pangan berkelanjutan serta unsur penunjangnya dengan fungsi utama untuk mendukung kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan nasional. Pemetaan KP2B dapat dilakukan dengan delineasi visual. Ada 3 cara dalam melakukan delineasi yaitu berdasarkan batas administrasi, spatial contiguity, dan maximun coverage. Masing-masing mempunyai keunggulan dan kekurangan (Kalogirou, 2001). C. Tata Cara Penelitian

Penelitian dilakukan di wilayah Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah pada Tahun 2012. Secara geografis Kabupaten Purworejo terletak pada 1090 47’ 28” - 1100 8’ 20” BT dan 7o 32’ – 7o 54” LS dengan total luas sekitar 1.034,82 km2. Bahan-bahan penelitian yang digunakan berupa (1) Peta Present landuse hasil interpretasi citra satelit resolusi tinggi skala 1:25.000, (2) Peta topografi, (3) Peta kesesuaian lahan untuk padi sawah, (4) Peta batas administrasi kecamatan, (5) Peta lahan baku sawah, (6) Data series jumlah penduduk 3-5 tahun terakhir, (7) Data series kinerja usahatani tanaman pangan tahun terakhir (luas panen; produksi; produktivitas; Indeks Pertanaman/IP), (8) Data series neraca bahan makanan 3-5 terakhir, dan (9) Data alih fungsi lahan sawah 3-5 tahun terakhir.

Penelitian dilakukan dalam 4 (empat) tahap yaitu (1) persiapan penelitian, (2) pengumpulan dan penyusunan data/peta, (3) analisis data/peta meliputi kebutuhan pangan, ketersediaan pangan, neraca pangan, alih fungsi lahan sawah, proyeksi jumlah penduduk, kebutuhan luas lahan pertanian pangan, prediksi kondisi pangan masa depan, peta penggunaan lahan pertanian, identifikasi lahan pangan produktif pada Peta RTRW, analisis kerusakan lahan, (4) Interpretasi dan singkronisasi data/peta meliputi KP2B, LP2B dan LCP2B.

Pelaksanaan penelitian dikelompokkan menjadi dua bagian utama yaitu pemetaan dan analisis data sekunder. Pemetaan didasarkan pada

(7)

102

{

}

peta Kawasan Hutan dan present land use wilayah Purworejo skala 1 : 25.000 dan diolah dengan bantuan Software Arcview Versi 3.2.

Analisis kebutuhan dan ketersediaan pangan. Analisis kebutuhan

dan ketersediaan pangan didasarkan pada total kebutuhan kalori mengacu pada PPH dari Deptan (2001), yaitu 2.200 kkal/kapita/hari untuk persediaan. Jumlah kebutuhan kalori dari bahan pangan sumber karbohidrat yaitu kelompok padi-padian dan umbi-umbian adalah 1.232 kkal/kpt/tahun

Analisis Kebutuhan Luas LP2B. Secara umum perhitungan

kebutuhan luas lahan LP2B (KLP2B) didasarkan pada persamaan berikut ini :

( (Kp x ∑Pt x 55%) + Lgp + Laf ) KLP2B = P + La IP x 100

Kp = proyeksi kebutuhan pangan berdasarkan konsumsi beras (ton/kapita/tahun). Total berat kebutuhan beras diperoleh dari konversi kandungan kalori per 100 gr bahan, Pt = Jumlah penduduk pada tahun ke-t (jiwa), 55% adalah angka rendemen beras dari produksi gabah kering giling (GKG), P = tingkat produktivitas padi sawah (ton GKG/ha), Lgp = resiko luas gagal panen (ha), Laf = prediksi laju alih fungsi lahan sawah/kering, IP = indek pertanaman padi sawah (%). La = luas lahan sawah untuk mendukung agroindustri dan peningkatan kesejahteraan petani. Proyeksi kebutuhan lahan sawah ini menggunakan beberapa asumsi yaitu luas sawah yang didelineasi tidak mengalami perubahan dan tidak terjadi degradasi lahan dan lingkungan.

Analisis potensi kerusakan lahan dibutuhkan untuk melakukan

verifikasi akhir kawasan pertanian yang masuk dalam LP2B dan LCP2B baik basah maupun kering. Lahan-lahan yang dikelompokkan menjadi kawasan pertanian tersebut harus memiliki dampak minimal terhadap kerusakan lahan dalam jangka panjang.

Penilaian potensi kerusakan lahan didasarkan pada sepuluh parameter yaitu (1) Curah Hujan, (2) Kelerengan, (3) Penggunaan lahan, (4) Tindakan konservasi, (5) Potensi terjadi banjir, (6) Kedalaman solum tanah, (7) Fraksi Pasir, (8) Kondisi batuan dipermukaan tanah, (9) kemasaman tanah (pH), (10) Daya hantar listrik (DHL). Semua data dari ke-10 parameter tersebut selanjutnya dianalisis dengan bantuan Sofware Kerusakan Lahan (Maas, 2010).

D. Hasil & Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa trend (laju) jumlah penduduk, produksi lahan sawah, luas tanam, luas panen, produktivitas, indek pertanaman, alih fungsi lahan dan kebutuhan bahan baku untuk agroindustri pangan dapat digunakan sebagai parametrdan dasar

(8)

103 perhitungan untuk menentukan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B).

Kriteria utama untuk pengelompokan lahan basah/sawah sebagai LP2B adalah lahan sawah yang beririgasi teknis, produktivitasnya lebih dari 5,5 t/ha dengan IP lebih dari 1,75 dan merupakan daerah lowland, datar dan drainase relatif lambat.

Kawasan pertanian pangan untuk menjamin kelestarian kemandirian pangan di Kabupaten Purworejo seluas 38.562 ha terdiri dari lahan basah 27.850 ha dan lahan kering 10.712 ha. Luas LP2B basah adalah 25.826 ha, LP2B kering adalah 5.243 ha, LCP2B basah seluas 2.024 ha dan LCP2B kering seluas 5.469 ha.

Sebelas kecamatan yang lahan sawahnya dimasukkan dalam areal LP2B kelompok lahan basah yaitu Grabag, Ngombol, Purwodadi, Purworejo, Banyuurip, Bayan, Kutoarjo, Butuh, Pituruh, Kemiri, dan Gebang. Sedangkan areal LCP2B lahan basah meliputi areal sawah di kecamatan Bagelen, Kaligesing, Bruno, Loano dengan luas bervariasi antara 6,61 – 823,29 ha.

Lima kecamatan yang lahan keringnya dimasukkan dalam areal LP2B kelompok lahan kering adalah Bagelen, Kaligesing, Bruno, Loano dan Bener. Sedangkah areal LCP2B lahan kering meliputi ladang dan tegalan di kecamatan Grabag, Ngombol, Purwodadi, Purworejo, Banyuurip, Bayan, Kutoarjo, Butuh, Pituruh, Kemiri, dan Gebang.

E. Kesimpulan dan Saran

Parameter utama dan dasar perhitungan yang dapat digunakan untuk menentukan kebutuhan lahan untuk LP2B baik lahan basah maupun lahan kering di kabupaten Purworejo adalah trend (laju) jumlah penduduk, produksi lahan sawah, luas tanam, luas panen, produktivitas, indek pertanaman, alih fungsi lahan dan kebutuhan bahan baku untuk agroindustri pangan.

Kriteria utama untuk pengelompokan lahan basah/sawah sebagai LP2B adalah lahan sawah yang beririgasi teknis, produktivitasnya lebih dari 5,5 t/ha dengan IP lebih dari 1,75 dan merupakan daerah lowland, datar dan drainase relatif lambat.

Berdasarkan kriteria pengelompokan lahan maka pembuatan Peta dilakukan. Pemetaan didasarkan pada peta Kawasan Hutan dan present land use wilayah Purworejo skala 1 : 25.000 dan diolah dengan bantuan Software Arcview Versi 3.2. Peta tersebut menggambarkan total luas kawasan pertanian pangan untuk menjamin kelestarian kemandirian pangan di Kabupaten Purworejo seluas 38.562 ha terdiri dari lahan basah 27.850 ha dan lahan kering 10.712 ha. Luas LP2B basah adalah 25.826 ha, LP2B kering adalah 5.243 ha, LCP2B basah seluas 2.024 ha dan LCP2B kering seluas 5.469 ha.

(9)

104 MAPPING OF FOOD AGRICULTURAL LAND

SUSTAINABILITY (LP2B) IN PURWOREJO DISTRICT

SUMMARY

A. Background

Purworejo administratively located in the south of the province of Central Java, it is one of the district formation with Law No. 13 Year 1950 on the establishment of district areas within the province of Central Java. Administrative area is divided into 16 district, 469 villages and 25 urban villages.

The main problem in meeting the needs of food opment land area is reduced due to land conversion to non-paddy fields. The average land holding is very narrow which results in unequal competition in land use, particularly among agricultural and nonagricultural sectors. Poor socio-economic conditions of farmers selling farm trigger, because they do not benefit economically from the land. Two of these factors result in the lack of ability to increase production capacity, and the more psychologically discredit the image of the productivity of farmers and agri-food sector (Alimoeso, 2008).

Spatial planning is one of the policies that are expected to be able to control the rate of agricultural land conversion. In Act No. 26 of 2007 on Spatial Planning mandated regulations regarding agricultural land lasting. The mandate has been implemented with the passage of Act No. 41 of 2009 on the Protection of Agricultural Land Sustainable Food (PLP2B). With the publication of this Act, is expected to reduce the high rate of land conversion of agricultural fields. If the rate of conversion of agricultural land can be controlled expect other functions such as ecological function can be preserved and maintained.

Implementation of Law No. 41 of 2009 in the form of relevant regulations such as government regulations, ministerial rules or local laws is still in the drafting process. Recently passed legislation is Government Regulation No. 1 of 2011 on the Determination and Transfer Function Agricultural Land Sustainable Food. This part contains rules regarding the criteria and requirements as well as procedures for determining the three components of Food Protection Sustainable Agriculture (PLP2B) is the area of Food Sustainable Agriculture (KP2B), Agricultural Land Sustainable Food (LP2B), Food and Sustainable Agriculture Land Reserve (LCP2B).

Lack of planning and determination of the three components PLP2B within a region will facilitate the government in making plans, policies, and programs. Determination Region Sustainable Agriculture Food (KP2B) is part of the determination of spatial planning in Rural Areas in the district in the district spatial plan. Determination LCP2B LP2B and is part of the determination in the form of detailed spatial plan district / city.

(10)

105 Aligned with the objectives of spatial planning, where Purworejo of the total land area of 103,481.75 ha in Purworejo divided into 2 groups: reaching 30626.97 ha of paddy land and dry land area of 72854.78 ha, really need to be mapped in detail to provide certainty to all stakeholders in the implementation of development activities and preventing the conversion of agricultural land in excess so that food security can be achieved in Purworejo.

To map out a sustainable agricultural land in need of parameters that affect the determination of sustainable agricultural land. Various physical criteria such as suitability of land, irrigation facilities, and social and economic criteria, which are related to strategic issues, can be implemented to support the implementation of these regulations. Of these criteria is expected to be a parameter that can be used in the determination of sustainable agricultural land (LP2B). This study aims to (1) determine the parameters for mapping LP2B and LCP2B, (2) obtain the basic calculations for assessing inter and LCP2B LP2B parameters, (3) determine the criteria for classification as agricultural land characteristics and LCP2B LP2B, (4) mapping of agricultural land sustainable food (LP2B) Purworejo.

B. Review of Literature

The issue of competition between population growth and food production has been a concern since the first. In 1798, Thomas Robert Malthus has mempredikasi that the world will face a threat due to its inability to keep pace with population growth in the provision of adequate food. The population of the world continues to grow. U.S. Census Bureau estimates that in 2010 the population in Asia Pacific reached 4 billion. This rapid population growth requires that a very large food. U.S. Census Bureau noted the need for food grains (rice and maize) in Asia will rise rapidly from 344 million tons in 1997 to 557 million tons in 2010 (Anita, W., 2012).

Population growth rate in Indonesia is growing. Based on BPS data, in 1900 the total population of around 40 million in 1970 to 120 million in 1980 to 147 million, in 1990 to 179 million in 2000 to 206 million, and the last population census in 2010 reached 237 million.

During the last 40 years there has been an increase in population of 117 million people. This population growth led to increased demand for food. Food Security Agency (BKP) said 27.5% of Indonesia's population affected by food insecurity. With an average per capita rice consumption in Indonesia is about 130 kilograms and a population of 237.6 million people, it takes at least 34 million tons of rice per year. Domestic production of around 38 million tonnes, so that only the surplus of 4 million tons of rice or less to the needs of two months (Barus, et. Al, 2010).

Food security is the fulfillment of the conditions for household food needs are reflected in the availability of adequate food, good quantity and quality, safe, equitable and affordable. Suryana (2009) illustrates that, food security as a system consisting of three sub-systems of interacting sub-systems, namely availability, sub-system of distribution, and consumption of sub-systems. Availability and

(11)

106 consumption enables each household to obtain enough food and use it responsibly to meet the nutritional needs of all its members. Productivity of rice as the staple food in several production centers having pelandaian in 10-15 years and shrinking productive land due to the conversion of agricultural land into non-agricultural, particularly productive land (Pasandaran (2006).

Agus and Irawan (2004), reported that between the year 1999 to 2003, the balance of paddy land we already negative 423 857 ha, results from conversion of wetland area of 563 159 ha while the addition is only reached 139 302 ha. These conditions will disrupt food security (food security) if there is no breakthrough technology that can increase the production of paddy fields, both extensification and intensification.

In the Year 1981 - 1999 in Indonesia occurred conversion of wetland area of 1.60 million ha and about 1 million ha in antarannya occur in Java. Additionally dryland agriculture also experienced a decrease degradation of agricultural functions in various areas (Irawan, 2005). This is a topic that will continue to be discussed as long as the rate of conversion of agricultural land to non-agricultural high. Regulations and policies for planning agricultural land needs for 25-50 years to come should be done despite the current availability of agricultural land is still insufficient.

Passour (1982) said that the reason for the need for protection of agricultural land, among others: a) Agricultural land must be protected to ensure food security in accordance with the level of demand due to the national and world population growth, b) function of the environment, agricultural land into green space, c) Restructure development of urban areas, zoning is suggested as one way to improve the efficiency of land use to protect agricultural activities from residential and industrial development, d) economic function is to keep the local economy from the agricultural industry can be maintained.

Law No. 41 Year 2009 on the Protection of Agricultural Land Sustainable Food is one of the Government's policy in controlling the rate of conversion of agricultural land especially those in Indonesia. On the Act stated that the Agricultural Land Sustainable Food (LP2B) is defined areas of agricultural land to be protected and developed consistently to produce staple food for self-reliance, resilience, and national food sovereignty. Region Sustainable Agriculture Food (KP2B) is arable areas especially in rural areas who have sustained stretch of agricultural land and / or agricultural reserve land expanse of sustainable food and supporting elements with the primary function to support the independence, national security and food sovereignty. KP2B mapping can be done with visual delineation. There are 3 ways of doing delineation is based on administrative boundaries, spatial contiguity, and maximun coverage. Each has advantages and disadvantages (Kalogirou, 2001).

(12)

107

{

}

C. Method Research

The study was conducted in the district of Purworejo, Central Java Province in 2012. Purworejo geographically located in 1090 47 '28 "- 1100 8' 20" E and 7o 32 '- 7o 54 "LS with a total area of approximately 1034.82 km2. Research materials that are used in the form of (1) Present landuse map the results of high-resolution satellite image interpretation 1:25.000 scale, (2) topographic map, (3) map of land suitability for rice, (4) the administrative district map boundaries, (5 ) Map of raw paddy fields, (6) The data series last year 3-5 population, (7) The data series crop farm performance last year (vast harvest; production; productivity; Farming Index / IP), (8) Data sheet series 3-5 last groceries, and (9) Data transfer wetland function last 3-5 years.

The study was conducted in four (4) stages: (1) preparation of the study, (2) the collection and compilation of data / maps, (3) analysis of data / maps covering food needs, food availability, food balance sheets, wetland conversion, population projections , needs extensive agricultural land, predicted future conditions of food, agricultural land use maps, identifying productive food land on Spatial Map, (4) Interpretation and synchronizing data / maps covering KP2B, LP2B and LCP2B. Implementation of the study are grouped into two main parts: the mapping and analysis of secondary data. Mapping is based on a map of Forest Areas and present land use areas Purworedjo scale of 1: 25,000 and processed with the help of Arcview Software Version 3.2.

Analysis of the need and availability of food. Analysis of the need and availability of food is based on the total calorie requirement refers to the PPH of Agriculture (2001), which is 2,200 kcal / capita / day for supplies. Number of calories from carbohydrate food group ie grains and tubers is 1,232 kcal / pc / year LP2B Broad Needs Analysis. In general, the calculation of the land area requirement LP2B (KLP2B) based on the following equation:

( (Kp x ∑Pt x 55%) + Lgp + Laf ) KLP2B = P + La IP x 100

Kp = projected food demand based on consumption of rice (tons / capita / year). Total weight is obtained from the conversion of rice needs the calories per Pt = Total population in year t (soul), 55% is100 grams of material, the yield rate of rice production of milled rice (GKG), P = the productivity of rice ( tons of paddy / ha), LGP = risk of widespread crop failure (ha), Laf = prediction rate of wetland conversion / dry, IP = index of paddy rice crops (%). He = area of wetland to support agro-industries and improving the welfare of farmers. This wetland demand projections using several assumptions which are delineated rice area has not changed and there is no land and environmental degradation Analysis of land degradation. This analysis base on the (1) rainfall, (2) topografy, (3) land use, (4) conservation, (5) flood potencial, (6) soil sollum, (7) sand

(13)

108 fraction, (8) rock , (9) pH, (10) electricity exchange. All of the parameter will analysis with potencial land degradation Sofware (Maas, 2010) D. Results and Discussion

The results showed that the trend (rate) of population, production of paddy fields, planted area, harvested area, productivity, cropping index, land use change and the need for agro-food raw materials may be used as the basis for calculating parametrdan to determine sustainable agricultural land (LP2B ). The main criteria for grouping wetlands / rice as LP2B is technically irrigated rice fields, its productivity more than 5.5 t / ha with IP over 1.75 and a lowland area, flat and relatively slow drainage.

Agricultural areas to ensure the sustainability of food self-sufficiency in the area of 38 562 ha Purworejo consists of 27,850 ha of wetlands and drylands 10 712 ha. Extensive wet LP2B is 25 826 ha, 5,243 ha LP2B is dry, wet LCP2B LCP2B covering 2,024 ha and 5,469 ha area dry.

Eleven district that included his farm in the area of the wetland group LP2B Grabag, Ngombol, Purwodadi, Purworedjo, Banyuurip, Bayan, Kutoarjo, Need, Pituruh, Pecan, and Gebang. While the acreage of wetlands LCP2B covers paddy fields in the district Bagelen, Kaligesing, Bruno, Loano with widely varied between 6.61 to 823.29 ha.

Five districts were included in the dry land areas of dry land is LP2B group Bagelen, Kaligesing, Bruno, Loano and Bener. Sedangkah LCP2B dryland areas include sub-fields and fields in Grabag, Ngombol, Purwodadi, Purworedjo, Banyuurip, Bayan, Kutoarjo, Need, Pituruh, Pecan, and Gebang. E. Conclusions and Recommendations

The main parameters and basis of computation that can be used to determine land requirements for LP2B both wetland and dry land in the district is Purworedjo trend (rate) of population, production of paddy fields, planted area, harvested area, productivity, cropping index, land conversion and the raw materials for agro-food. The main criteria for grouping wetlands / rice as LP2B is technically irrigated rice fields, its productivity more than 5.5 t / ha with IP over 1.75 and a lowland area, flat and relatively slow drainage.

Based on the criteria for the creation of land classification map done. Mapping is based on a map of Forest Areas and present land use areas Purworedjo scale of 1: 25,000 and processed with the help of Arcview Software Version 3.2. The map illustrates the total area of agricultural areas to ensure the sustainability of food self-sufficiency in the area of 38 562 ha Purworejo consists of 27,850 ha of wetlands and drylands 10 712 ha. Extensive wet LP2B is 25 826 ha, 5,243 ha LP2B is dry, wet LCP2B LCP2B covering 2,024 ha and 5,469 ha area dry.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :