• Tidak ada hasil yang ditemukan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

i

STUDI DESKRIPTIF : KEBAHAGIAAN BIARAWATI YANG

SUDAH MENERIMA KAUL KEKAL

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Oleh:

FRANSISCA FEBRIANI PUTRI 089114030

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv

Saya hanya bekerja dan bekerja

Tak peduli penilaian orang, mau jelek, mau gagal, mau berhasil,

yang penting saya bekerja

(Jokowi)

“Jangan pernah meminta beban kita diperkecil, mintalah agar pundak kita diperkuat” (Anonim)

Lakukan yang terbaik

dan lihat bagaimana

tangan Tuhan menyelesaikannya

(Throwinside)

Percaya saja, Tuhan menggenggam semua doa

Lalu dilepaskannya satu persatu di saat yang tepat

(5)

v

Karya ini kupersembahkan kepada:

Tuhan Yesus Kristus, Bunda Maria, St. Fransisca

yang selalu setia mendampingiku dalam mengerjakan skripsi ini Teristimewa untuk Papa dan Mama, serta semua orang yang kusayangi

Terima kasih atas segala doa dan dukungan tiada henti yang kalian berikan kepadaku selama mengerjakan skripsi ini

(6)
(7)

vii

STUDI DESKRIPTIF : KEBAHAGIAAN BIARAWATI YANG SUDAH MENERIMA KAUL KEKAL

Fransisca Febriani Putri

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebahagiaan biarawati yang sudah menerima kaul kekal. Subjek dalam penelitian ini adalah biarawati yang sudah menerima kaul kekal minimal 2 tahun dan berada di Yogyakarta. Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 96 biarawati dari beberapa kongregasi yang ada di Yogyakarta. Hipotesis dalam penelitian ini adalah biarawati merasakan kebahagiaan dalam hidup membiara setelah menerima kaul kekal. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan satu skala Likert, yaitu skala kebahagiaan. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif, analisis one sample t-test, dan kategorisasi. Reliabilitas skala kebahagiaan adalah 0,943. Reliabilitas ini diperoleh dengan menggunakan korelasi Cronbach’s Alpha. Setelah melakukan kategorisasi diperoleh hasil bahwa biarawati memiliki kebahagiaan yang tinggi setelah menerima kaul kekal di dalam hidup membiara, yaitu sebesar 44,79 % atau 43 subjek.

(8)

viii

DESCRIPTIVE STUDIES: THE HAPPINESS OF NUNS WHO HAVE RECEIVED THE PERPETUAL VOWS

Fransisca Febriani Putri

ABSTRACT

This study aims to determine the happiness of nuns who have received the perpetual vows. The subject in this study were nuns who had received at least 2 years of perpetual vows and was in Yogyakarta. The total number of subjects in this study were 96 nuns from several congregations in Yogyakarta. The hypothesis in this study is that the nuns feel the happiness in religious life after receiving perpetual vows. The study’s data is collected by using a Likert scale, which is the happiness scale. Data analysis in this study by using descriptive analysis, analysis one sample t-test, and categorization. The reliability of happiness scale is 0,943. This reliability is obtained by using the Cronbach’s

Alpha correlation. After doing categorization result that nuns have a high happiness after

receiving perpetual vows in religious life, which amounted to 44,97% or 43 subjects. Key word : happiness, monastery, nuns, perpetual vows

(9)
(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Baik dan Maha Cinta, karena atas penyertaanMu dan kesempatan yang selalu Kau berikan kepada penulis, akhirnya penelitian ini dapat selesai pada waktu yang Kau tentukan. Banyak hal yang penulis dapatkan dalam proses pengerjaan penelitian ini, yaitu bagaimana penulis menghargai kesempatan dan waktu, keuletan dalam mencari berbagai referensi, dan kerja keras dalam menghadapi banyak tantangan untuk menuju suatu keberhasilan.

Penulis sadar penelitian ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, dengan besar hati penulis menerima segala kritik dan saran terkait penelitian ini sehingga akan menjadi sempurna. Penulis berharap penelitian ini dapat memberikan inspirasi terutama kepada biarawati yang telah memilih jalan hidupnya untuk menjadi pelayan Tuhan dan Gereja. Semoga semangat kaulnya dalam melayani Tuhan dan Gereja semakin besar.

Selama penelitian ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada banyak pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu proses penelitian ini. Beberapa pihak tersebut adalah:

1. Bapak Ignatius Joko Suyono yang selalu menjadi alasan dan semangat penulis dalam menyelesaikan penelitian ini. Terimakasih sudah menjadi insipirasi dalam setiap pilihan yang penulis pilih. Terimakasih sudah menjadi financial support terbaik untuk penulis.

(11)

xi

2. Ibu Christiana Sri Winarti yang selalu menjadi arah dan tujuan hidup penulis. Terimakasih atas segala doa, dukungan, dan pelukan yang selalu diberikan pada penulis tanpa henti. Yeayy.. Akhirnya jadi sarjana kebanggaan untukmu, mama.

3. Dio yang selalu jadi jawaban dalam setiap doa penulis. Terimakasih sudah menjadi kakak dan adik terhebat untuk penulis.

4. Ibu Silvya Carolina MYM, M.Psi, selaku Dosen Pembimbing Skripsi. Terimakasih atas segala kesempatan yang ibu berikan pada penulis. Terimakasih selalu membukakan pintu bagi penulis ketika semua mencoba menutup pintu. Berkat melimpah dari Tuhan akan selalu bersamamu, Bu.. 5. Ganda Verdinan untuk doa dan semangat yang selalu diberikan.

6. Wahyu, Indra, Plentonk, Yoha, Akeng, yang telah membantu penulis ketika kehilangan arah. Terimakasih sudah membantu proses dari awal hingga akhir.

7. Suster-suster Carolus Borromeus (CB), Suster-suster Sang Timur (PIJ), Suster-suster PBHK, Suster-suster FSE, Suster-suster KYM, Suster-suster ADM, Suster-suster OSF, Suster-suster PPYK yang sudah mau membantu untuk menjadi subjek penelitian penulis. Terimakasih banyak untuk kerelaan meluangkan waktunya dan kesempatan yang diberikan kepada penulis.

8. Suster Carolina, CB., Suster Fransis, CB., Suster Yesina, CB., Suster Safiria, PIJ., Suster Helena, FSE., Suster Rafaela, PIJ., Suster Angela,

(12)

xii

PBHK., yang sudah membantu penulis untuk menyebarkan skala penelitian.

9. Suster Trisiani, CB., Suster Adelberte, CB., dan Suster Laurentina, CB yang selalu menginspirasi penulis dalam proses penyelesaian penelitian ini.

10. Romo Heri Kartono, OSC atas pengalaman hidup Romo yang selalu menjadi pembelajaran dan semangat hidup bagi penulis.

11. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si., selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

12. Ibu Ratri Sunar Astuti., M. Si., selaku Kepala Program Studi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

13. Ibu (Almh) Dr. Christina Siwi Handayani, M.Si., selaku Dosen pembimbing Akademik.

14. Mas Gandung dan Mbak Nanik atas kesabaran dan bantuan kesekretariatan di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

15. Pak Gie, Mas Doni dan Mas Muji atas bantuan, keramahan, dan canda tawa selama penulis belajar di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

16. Bapak dan ibu di perpustakaan kolosani kotabaru yang sudah membantu mencarikan berbagai referensi untuk penelitian ini.

17. Bapak parkir yang bertugas di puskat kotabaru. Terimakasih sudah menjaga motor penulis dari pagi hingga sore hari.

(13)

xiii

18. Tomi, Ikhsan, Bagas, Mario, Ari, Dewi, dan Aditya yang selalu menjadi tim hore bagi penulis. Terimakasih sudah mau ikut penulis “pergi pagi pulang pagi”.

19. Teman-teman Psikologi 2008 yang sudah memberi warna-warni dalam mengikuti perkuliahan selama ini. Sukses dan jaya di kehidupan masing-masing.

20. Yuni, Ibu Anna, dan bapak-bapak di St. Anna Panti Rapih yang sudah membantu penulis meminta ijin untuk pengambilan data.

21. Bu Mini dan Pak Yanto yang selalu menyemangati penulis dan membantu penulis dalam hal-hal yang berkaitan dengan perpustakaan.

Akhirnya, penulis haturkan puji syukur kepada alam dan semesta untuk semua kesempatan, pengalaman, suka duka, waktu, dan pembelajaran yang akhirnya terjawab sudah doa dari banyak orang bahwa penulis “SAH” menjadi Sarjana Psikologi.

Yogyakarta, 10 Juni 2015

Penulis,

(14)

xiv

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING...ii

HALAMAN PENGESAHAN...iii

HALAMAN MOTTO...iv

HALAMAN PERSEMBAHAN...v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA...vi

ABSTRAK...vii

ABSTRAK...viii

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH...ix

KATA PENGANTAR...x DAFTAR ISI...xvi DAFTAR TABEL...xvii DAFTAR LAMPIRAN...xviii BAB I: PENDAHULUAN...1 A. Latar Belakang...1 B. Rumusan Masalah...9 C. Tujuan Penelitian...9 D. Manfaat Penelitian...9

BAB II: LANDASAN TEORI...11

A. Kebahagiaan………...11

1. Pengertian Kebahagiaan………...…..11

(15)

xv

3. Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Kebahagiaan..…..17

4. Faktor Internal yang Mempengaruhi Kebahagiaan..…...18

5. Cara Untuk Bahagia………..19

6. Karakteristik Orang yang Bahagia………20

B. Biara…...21

Pengertian Biara...21

C. Biarawati...22

1. Pengertian Biarawati 2. Tahapan Menjadi Biarawati………...22

3. Cara Mengatasi Tantangan dalam Hidup Membiara………24

D. Kaul Kekal...24

1. Pengertian Kaul………24

2. Jenis-jenis Kaul………25

E. Dinamika Kebahagiaan Biarawati Dalam Penghayatan Kaul Kekal………...28

F. Kerangka Berpikir...30

BAB III: METODOLOGI PENELITIAN...31

A. Jenis Penelitian...31

B. Identifikasi Variabel...31

C. Definisi Operasional...31

1. Emosi Positif Terhadap Masa Lalu………31

2. Emosi Positif Terhadap Masa Sekarang……….33

3. Emosi Positif Terhadap Masa Lalu………34

D. Subjek Penelitian...35

E. Teknik Pengambilan Sampel……….35

F. Metode dan Alat Pengumpul Data………...36

G. Validitas dan Realibilitas Alat Ukur……….39

1. Validitas Skala……….39

2. Seleksi Item……….39

(16)

xvi

H. Analisi Data...43

BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN...44

A. Pelaksanaan Penelitian...44

B. Deskripsi Subjek...46

C. Deskripsi Data Penelitian...47

D. Kategorisasi...48

E. Pembahasan...50

BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN...55

A. Kesimpulan...55

B. Saran...56

DAFTAR PUSTAKA...57

(17)

xvii

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1.Blue Print Skala Kebahagiaan...38

Tabel 3.2.Pemberian Skor pada Kebahagiaan………..39

Tabel 3.3.Komponen dan Distribusi item Skala Kebahagiaan……….42

Tabel 4.1.Kongregasi Subjek Penelitian...45

Tabel 4.2.Deskripsi Subjek Penelitian...46

Tabel 4.3.Hasil Pengukuran Statistik Deskriptif...48

Tabel 4.4.Hasil Kategorisasi Kebahagiaan pada Subjek Penelitian...49

(18)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Skala Kebahagiaan...62 Lampiran 2 Reliabilitas Skala Penelitian...74 Lampiran 3 Statistik Deskriptif Kebahagiaan...83

(19)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kebahagiaan adalah suatu yang penting dalam kehidupan seseorang. Kebahagiaan menjadi tujuan hidup seseorang. Kebahagiaan datang kepada siapa saja tanpa melihat status seseorang. Seseorang hidup mengejar kebahagiaan dan berusaha untuk hidup bahagia. Kebahagiaan menjadi hal yang sangat subjektif. Setiap orang memiliki pengertian mengukur kebahagiaan yang berbeda-beda. Kebahagiaan antara yang satu dengan yang lain tidaklah sama (Eny, 1994).

Setiap orang memiliki cara berbeda untuk meraih kebahagiaan. Perasaan seseorang pada saat tertentu memberikan pengertian kebahagiaan yang berbeda pula. Seseorang dapat berubah pandangannya mengenai kebahagiaan dari waktu ke waktu sesuai keadaan mereka. Batasan seseorang dikatakan bahagia sangat sulit dijelaskan karena bahagia adalah masalah hati (Eny, 1994).

Para ahli juga memiliki cara pandang dan pendapat yang berbeda-beda dalam mendefinisikan kebahagiaan karena kebahagiaan bersifat subjektif. Kebahagiaan adalah lebih dari sebuah pencapaian tujuan karena pada kenyataannya kebahagiaan selalu dihubungkan dengan kesehatan yang baik, kreativitas yang lebih tinggi,

(20)

pendapatan yang lebih tinggi, serta tempat kerja yang lebih baik (Biswas et al., 2007).

Banyak orang memahami kebahagiaan dari bagaimana seseorang menyukai kehidupannya atau sejauh mana seseorang menilai hidupnya secara positif. Kebahagiaan adalah evaluasi subjektif atau keinginan untuk hidup, dapat juga disebut sebagai kepuasan atas hidup yang diterimanya. Kebahagiaan juga merupakan kualitas hidup atau kesejahteraan (Veenhoven, 2006).

Kebahagiaan juga merupakan sebuah perasaan yang dapat dirasakan setiap orang berupa perasaan senang, tentram, dan memiliki rasa damai; tidak adanya penderitaan (Rusydi, 2007). Menurut Aristoteles (dalam Rusydi, 2007), orang yang bahagia adalah yang memiliki good birth, good health, good look, good luck, good

reputation, good friends, good money and goodness.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kebahagiaan adalah sebuah perasaan positif yang berasal dari pengalaman hidup seseorang yang menyenangkan. Seseorang merasa puas akan hidupnya sehingga menimbulkan rasa nyaman, senang, dan damai. Kebahagiaan ini yang akan menjadi cara pandang positif bagi seseorang dalam menjalani kehidupannya.

(21)

Menurut Seligman (2005), kebahagiaan merupakan konsep yang subjektif karena setiap orang mempunyai tolak ukur kebahagiaan yang berbeda-beda, yaitu uang, prestasi, status perkawinan, dan lain-lain. Hal tersebut sama seperti dalam Mustofa (2008) bahwa sumber kebahagiaan diperoleh dari kekayaan, jabatan, prestasi, dan penerimaan positif dari lingkungan.

Menurut Adi Nugroho (2014) ada tiga aspek yang memiliki kontribusi tinggi dalam mengukur tingkat bahagia seseorang yaitu pendapatan rumah tangga, kondisi rumah, serta pekerjaan. Warner Wilson (dalam Goleman, 2002) melakukan penelitian yang serius tentang kebahagiaan pada tahun 1967. Dari hasil penelitian didapatkan karakteristik orang yang bahagia adalah orang yang memiliki penghasilan besar, menikah, muda, memiliki kesehatan yang baik, berpendidikan, dan bersikap religius. Kebahagiaan tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin dan tingkat kecerdasan seseorang.

Beberapa penelitian yang telah dilakukan menguatkan pendapat para ahli mengenai makna kebahagiaan dan sumber kebahagiaan. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Gallup (dalam JoJo Raharjo, 2013) pada mahasiswa Amerika. Penelitian tersebut menyatakan bahwa 73% partisipan setuju bahwa uang merupakan salah satu aspek yang membuat seseorang bahagia. Pendapatan yang

(22)

semakin tinggi maka semakin tinggi pula kebahagiaan yang dirasakan seseorang (Badan Pusat Statistik, 2014).

Penelitian yang dilakukan oleh Ed Diener dan Martin Seligman (dalam Myers, 2004) menyatakan bahwa kebahagiaan individu tidak hanya dari uang tetapi juga kepuasan dalam hubungan kekerabatan. Selain uang dan adanya hubungan kekerabatan, kebahagiaan juga dipengaruhi oleh kebebasan seseorang untuk memilih jalan hidupnya. Kebebasan ini termasuk untuk memilih tindakan yang akan kita lakukan berdasarkan prinsip yang kita yakini (Kant, 2009).

Myers (2004) melalukan penelitian terhadap 42.000 partisipan Amerika. Hasilnya adalah orang yang memiliki pasangan hidup lebih bahagia daripada yang tidak memiliki pasangan hidup karena adanya

social support dari pasangannya. Selain social support dari

pasangannya, dukungan dari orang terdekat juga bisa membuat seseorang menjadi lebih bahagia. Seligman (2002) mengatakan bahwa pernikahan memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada uang. Seseorang yang menikah cenderung lebih bahagia daripada mereka yang tidak menikah. Pernikahan memberikan keintiman psikologis dan fisik, memberikan harapan untuk memiliki keturunan, dan membangun rumah tangga (Carr, 2004).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa kebahagiaan dapat diperoleh dari uang,

(23)

adanya pasangan hidup atau kerabat, pernikahan, serta kebebasan dalam memilih. Pasangan hidup dapat meningkatkan kebahagiaan karena memiliki hubungan yang erat, seseorang dapat merasakan cinta kasih, rasa aman, dan dapat mengurangi rasa kesepian.

Seorang wanita ingin selalu terlihat menawan dalam setiap penampilannya. Seorang wanita ingin menjadi ibu bagi anak-anaknya. Seorang wanita juga ingin tetap dapat berkarir disamping mengurus kebutuhan rumah tangga. Wanita memiliki kehidupan emosional yang lebih kuat dibandingkan pria. Wanita mengalami emosi positif lebih tinggi daripada pria. Wanita lebih banyak menggunakan perasaan (afeksi) dalam menanggapi sesuatu hal daripada pria yang lebih menggunakan sisi kognitifnya (Seligman, 2005).

Seligman (2005) juga mengatakan bahwa kebahagiaan wanita terletak pada pengalaman positif yang dirasakannya. Pengalaman positif tersebut memunculkan kepuasan hidup yang menyenangkan. Salah satu pengalaman positif yang membuat wanita menjadi bahagia adalah pengalaman menjadi seorang ibu. Wanita merasa sempurna seutuhnya menjadi seorang wanita ketika mereka mampu memiliki keturunan dan keluarga yang bahagia. Oleh karena itu, tidak salah jika setiap wanita berusaha untuk meraih kebahagiaannya (Heymans, 2006).

(24)

Hal tersebut berbeda dengan yang terjadi pada wanita yang memilih hidup selibat atau tidak menikah demi mengabdikan hidupnya untuk Tuhan, seperti biarawati. Biarawati harus mengesampingkan kekayaan, jabatan, pasangan hidup, dan kebebasan dalam memilih untuk mencapai kebahagiaannya. Biarawati akan menyerahkan diri secara penuh kepada Tuhan, sehingga biarawati rela untuk diutus kemanapun Tuhan menghendaki lewat kongregasi yang telah mereka pilih (Paul, 1996).

Biarawati adalah perempuan yang tinggal di biara yang secara sukarela meninggalkan kehidupan duniawi dan fokus pada hidup serta dirinya untuk kehidupan agama di suatu biara. Tidak semua orang mau dan dapat bertahan pada jalan hidup seperti itu. Tantangan yang dihadapi tidaklah mudah. Banyak dari masyarakat mengagumi sosok biarawati sebagai panutan hidup dan penggerak hati untuk berbuat kebaikan (Patrisia, 2003).

Keberanian dan kesetiaan biarawati ternyata tidak sekedar menimbulkan kekaguman saja namun, memberikan dampak positif bagi kehidupan banyak orang. Ini terjadi karena dengan pola hidupnya, biarawati dapat lebih memanfaatkan hidupnya. Setidaknya mereka memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengabdikan diri bagi orang lain, yaitu melalui pelayanannya.

(25)

Pelayanan yang dilakukan tanpa pamrih itulah yang membuat biarawati dapat lebih mengaktualisasikan diri. Mengaktualisasikan diri dengan segenap kemampuan dan kesempatan yang dimilikinya tidak hanya demi kepentingan pribadi, tetapi lebih demi kebahagiaan orang lain (Patrisia, 2003).

Walaupun banyak hal yang dapat dibanggakan dari biarawati, ada juga sisi lain kehidupan biarawati yang tidak sepadan dengan kaulnya. Tidak jarang apa yang biarawati jalani menyimpang jauh dari kaul kekal bahkan ada yang berlebihan. Hal inilah yang sering membuat masyarakat khawatir mengingat banyaknya pola hidup biarawati yang berubah (Adelbert, 2015).

Banyaknya kasus biarawati yang keluar dari biara dengan berbagai permasalahan seperti penyelewengan, pola hidup yang berubah dimana ada penyalahgunaan fasilitas, persaingan intern antar biarawati dan kongregasi, serta kepentingan pribadi yang lebih dominan.

Hal tersebut menjadi keprihatinan masyarakat dan juga gereja padahal kehidupan biarawati diikat oleh janji suci yang harus dipatuhinya seumur hidup. Janji suci lebih dikenal dengan kaul. Janji suci atau kaul terdiri dari kaul kemiskinan, kaul kemurnian, dan kaul ketaatan (Aleksander, 2007).

(26)

Kaul merupakan dasar hidup membiara yang disahkan oleh Gereja dimana para anggota yang terhimpun dalam suatu komunitas religius memutuskan untuk memperjuangkan kesempurnaan lewat ketiga kaul religius yakni kaul kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan yang diamalkan sesuai dengan peraturan (Yoseph, 2009).

Kaul kemiskinan adalah melepaskan secara sukarela hak miliknya untuk menyenangkan Tuhan. Semua harta milik menjadi milik kongregasi yang dipilihnya. Biarawati tidak lagi memiliki hak atas apa saja yang diberikan kepadanya melainkan menjadi hak kongregasi sebagai ungkapan terimakasihnya. Kaul kemurnian mewajibkan biarawati melepaskan perkawinan. Biarawati rela untuk tidak menikah dan hidup selibat. Sedangkan kaul ketaatan adalah membangun dan menjiwai tubuh religius. Kaul Ketaatan lebih tinggi daripada dua kaul yang pertama. Dengan kaul ini biarawati bergantung pada keputusan pimpinan kongregasi. Biarawati harus taat pada perintah pimpinan (Veronica, 1996).

Lalu bagaimana biarawati tetap merasakan emosi kebahagiaan hidup pada mereka yang memilih untuk hidup selibat. Biarawati harus taat pada janji suci atau kaul yang sudah mereka sepakati. Berdasarkan penjelasan di atas, maka penulis ingin meneliti bagaimana biarawati yang sudah menerima kaul kekal tetap merasa bahagia dalam hidup membiara ditengah berkembangnya kemajuan teknologi yang kapan saja mampu mematahkan semangat biarawati dalam pelayanannya.

(27)

Kebahagiaan yang diterima biarawati berbeda dengan masyarakat pada umumnya yang memilih tidak hidup selibat.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan dalam latar belakang di atas, maka penulis membuat rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: apakah biarawati yang sudah menerima kaul kekal merasa bahagia dalam hidup membiara?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebahagiaan biarawati yang sudah menerima kaul kekal dalam hidup membiara.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis

Penelitian ini bermanfaat untuk memberikan informasi dan data tambahan bagi bidang psikologi dan bidang keagamaan mengenai kehidupan biarawati sehingga hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan literatur penulis lain untuk penelitian yang lebih baik di masa yang akan datang.

(28)

2. Manfaat Praktis a. Bagi Gereja

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kehidupan emosi biarawati. Biarawati memberikan peranan penting dalam kelangsungan sebuah gereja. Dengan adanya penelitian ini semoga gereja dan biarawati semakin bersatu dalam menumbuhkembangkan semangat umat dalam pelayanan gereja.

b. Bagi Kongregasi

Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan kongregasi dalam mendampingi biarawati menjalani kaul kekalnya. Selain itu, dapat semakin menumbuhkan rasa cintanya pada Tuhan, kongregasi yang dipilihnya, dan dirinya sendiri agar semakin tercipta kebahagiaan dalam menjalani kaul kekalnya.

c. Bagi Masyarakat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi gambaran bagi masyarakat mengenai kehidupan biarawati. Masyarakat juga dapat menerima keberadaan biarawati dan memberikan dukungan secara moril bagi biarawati agar tetap setia pada kaul kekalnya.

(29)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kebahagiaan

1. Pengertian Kebahagiaan

Menurut Aristoteles (dalam Adler, 2003), kebahagiaan berasal dari kata “happy” atau bahagia yang berarti feeling good,

having fun, having a good time, atau suatu pengalaman yang

menyenangkan. Kebahagiaan adalah sebuah proses pengalaman hidup yang mengarahkan seseorang untuk memaknai pengalaman tersebut (Joan, 2011).

Menurut Seligman (2005) kebahagiaan hidup merupakan konsep yang mengacu pada emosi positif yang dirasakan seseorang serta aktivitas-aktivitas positif yang disukai oleh orang tersebut.

Kebahagiaan adalah proses pengalaman atau aktivitas yang positif atau disukai oleh seseorang sehingga menimbulkan emosi positif. Emosi positif tersebut akan membantu seseorang untuk memaknai hidupnya.

(30)

2. Komponen yang Membentuk Kebahagiaaan

Seligman (2002) menjelaskan tentang kebahagiaan autentik dimana kebahagiaan didapatkan seseorang setelah mengalami emosi positif tentang masa lalu dan masa sekarang serta memiliki emosi positif di masa depan. Emosi positif yang dirasakan individu dapat membantu individu tersebut untuk memaknai kehidupannya.

Menurut Seligman (2005), ada beberapa komponen yang membentuk kebahagiaan (happiness), yaitu:

a. Emosi positif terhadap masa lalu

Emosi positif pada masa lalu adalah perasaan positif seseorang terhadap masa lalu yang sepenuhnya bergantung pada ingatan, pemikiran dan penafsiran setiap individu. Emosi positif terhadap masa lalu dapat membantu seseorang memaknai hidupnya. Pemahaman dan penghayatan yang tidak baik terhadap masa lalu serta menekankan pada peristiwa buruk adalah hal yang membuat seseorang tidak memiliki emosi positif pada masa lalu. Untuk dapat meningkatkan emosi positif pada masa lalu, seseorang dapat menumbuhkan rasa bersyukur, memaafkan hal yang lalu, dan melupakan hal-hal yang tidak baik di masa lalu.

Alat ukur yang digunakan untuk mengukur emosi positif terhadap masa lalu didasarkan pada komponen

(31)

pembentuk yang mendukung emosi positif terhadap masa lalu, yaitu:

1) Melepaskan pandangan masa lalu

Melepaskan pandangan masa lalu merupakan cara agar seseorang dapat melangkah maju ke depan dan menentukan masa depan yang baik bagi dirinya.

2) Gratitude

Seseorang bersyukur terhadap hal-hal baik dalam hidupnya dan meningkatkan pengalaman-pengalaman yang positif.

3) Forgiving dan forgetting

Seseorang harus bisa memaafkan masa lalunya. Memaafkan adalah memutuskan untuk tidak memihak siapa yang benar dan yang salah. Memaafkan dapat menurunkan stress dan meningkatkan kemungkinan terciptanya kepuasan hidup.

b. Emosi positif terhadap masa sekarang

Emosi positif pada masa sekarang adalah perasaan positif seseorang terhadap masa sekarang, saat ini, atau yang sedang dijalani seseorang. Emosi positif masa sekarang terdiri atas berbagai keadaan yang sangat berbeda dengan masa lalu

(32)

dan masa depan. Seseorang yang memiliki emosi positif pada masa sekarang akan menikmati segala sesuatu yang dijalaninnya. Emosi positif pada masa sekarang bersumber dari diri sendiri. Diri sendirilah yang paling memahami apa yang membuat dirinya bahagia atau terpuaskan.

Alat ukur yang digunakan untuk mengukur emosi positif terhadap masa sekarang didasarkan pada komponen pembentuk yang mendukung emosi positif terhadap masa sekarang, yaitu:

1) Kenikmatan (pleasure)

Kenikmatan adalah kesenangan yang memiliki komponen sensorik dan emosional yang kuat, bersifat sementara, dan sedikit melibatkan kognitif. Kesenangan ini mudah didapatkan seseorang, melalui indera, dan bersifat sementara. Organ-organ pengindera menjadi terkait secara langsung dengan emosi positif, seperti meraba, mengecap, membaui, menggerakkan tubuh, melihat, dan mendengar secara langsung. Hal-hal tersebut secara langsung dapat menimbulkan kenikmatan.

2) Gratifikasi (gratification)

Gratifikasi adalah kegiatan yang sangat disukai oleh seseorang namun tidak selalu melibatkan perasaan tertentu, dan memiliki durasi waktu yang lama dibandingkan

(33)

kenikmatan. Gratifikasi membuat seseorang terlibat sepenuhnya dalam kegiatan tersebut sehingga membuat seseorang kadang lupa waktu. Kegiatan yang memunculkan gratifikasi umumnya memiliki komponen seperti menantang, membutuhkan keterampilan dan konsentrasi, bertujuan, adanya umpan balik langsung, seseorang tenggelam dalam kegiatan tersebut, dan memakan waktu yang lebih lama.

Seligman (2005) menekankan bahwa gratifikasi tidak muncul setelah melakukan aktivitas yang menyenangkan, tetapi pada saat seseorang melakukan aktivitas tersebut. c. Emosi positif terhadap masa depan

Emosi positif terhadap masa depan adalah perasaan positif seseorang terhadap masa depannya. Perasaan positif tersebut antara lain keyakinan, kepercayaan, kepastian, harapan, dan optimisme. Harapan dan sikap optimis memberikan kekuatan yang lebih baik dalam menghadapi tekanan ketika musibah terjadi di masa depan. Harapan dan sikap optimis juga meningkatkan kinerja di tempat kerja terutama saat mengerjakan tugas-tugas yang berat. Seseorang akan memiliki kesehatan yang baik pula jika seseorang memiliki harapan dan sikap optimis. Orang yang memiliki sikap optimis akan berpikir bahwa hal baik akan lebih banyak terjadi daripada hal buruk di masa depan.

(34)

Alat ukur yang digunakan untuk mengukur emosi positif terhadap masa depan didasarkan pada komponen pembentuk yang mendukung emosi positif terhadap masa depan, yaitu:

1) Keyakinan (faith)

Seseorang yang memiliki keyakinan tinggi dalam hidupnya akan mudah dalam memikirkan masa depan serta rencana-rencana yang lebih baik.

2) Kepercayaan (trust)

Seseorang memiliki rasa percaya diri yang tinggi bahwa segala tantangan dan hambatan dalam hidupnya mampu diatasi dengan baik.

3) Kepastian (confidence)

Seseorang yang memiliki emosi positif terhadap masa depan yang baik akan memiliki kesehatan fisik yang baik pula.

4) Harapan

Seseorang yang memiliki harapan dapat menghadapi depresi ketika sebuah musibah terjadi dalam hidupnya.

5) Optimis

Optimis dapat meningkatkan kualitas kinerja di tempat kerja terutama ketika seseorang dihadapkan pada situasi yang menantang.

(35)

3. Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Kebahagiaan

Seligman (2002) mengatakan bahwa ada faktor yang mempengaruhi kebahagiaan seseorang. Hal ini diperkuat oleh Carr (2004) yang juga berpendapat bahwa ada faktor yang berkontribusi, yaitu:

a. Uang

Keadaan uang atau seberapa banyak uang yang kita miliki mengakibatkan adanya peningkatan kekayaan. Hal ini akan menempatkan uang di atas segalanya sehingga timbul rasa bahagia.

b. Pernikahan

Pernikahan memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada uang. Dengan adanya pernikahan akan tercipta keintiman psikologis, memiliki seorang anak, berfungsinya peran ibu, dan sebagainya. Orang yang menikah jauh lebih bahagia daripada orang yang tidak menikah (Seligman, 2002).

c. Pekerjaan

Orang yang bekerja lebih bahagia dibandingkan orang yang tidak bekerja (Carr, 2004). Hal ini dikarenakan adanya stimulus menyenangkan, terpuaskannya rasa ingin tahu, pengembangan ketrampilan, komunikasi relasi, social support, serta identitas diri yang jelas.

(36)

4. Faktor Internal yang Mempengaruhi Kebahagiaan

a. Religiusitas

Orang yang religius lebih bahagia dan lebih puas akan hidupnya dibandingkan orang yang tidak religius (Seligman, 2005). Orang yang memiliki tingkat religiusitas yang baik akan selalu setia kepada kebenaran, Tuhan, dan ajaranNya.

b. Bersyukur

Seseorang yang mampu bersyukur akan selalu bahagia. Bersyukur adalah keadaan dimana seseorang mampu menerima hidupnya dan selalu berpikir positif serta memaafkan kekurangan yang ada pada dirinya (Seligman, 2005). Seseorang yang bersyukur memiliki emosi positif dan kegiatan positif yang lebih tinggi, merasa lebih baik mengenai kehidupan, lebih optimis, dan memiliki tekad.

c. Kehidupan Sosial

Orang yang bahagia biasanya memiliki efek yang positif berkenaan dengan kehidupan sosial, seperti halnya memiliki banyak teman, memiliki dukungan sosial yang kuat, dan memiliki kemampuan berinteraksi yang baik.

(37)

d. Kesehatan

Kesehatan merupakan salah satu faktor penting bagi setiap orang. Ketika seseorang sakit terkadang kebahagiaan terasa sedikit berkurang. Orang yang bahagia memiliki kesadaran yang lebih baik mengenai kesehatan (Seligman, 2005).

5. Cara Untuk Bahagia

Menurut Seligman ada tiga cara seseorang dapat meraih kebahagiaan, yaitu:

a. Have a Pleasant Life (Life of Enjoyment)

Seseorang diharapkan memiliki hidup yang menyenangkan yang sesuai pada porsinya (kebutuhannya). Jika kebahagiaan yang diperoleh berlebihan maka seseorang akan dihadapkan pada situasi yang membosankan. Semakin seseorang mencari kenikmatan, maka seseorang akan sulit terpuaskan.

b. Have a Good Life (Life of Engagement)

Seseorang diharapkan terlibat dalam pekerjaan, hubungan, dan kegiatan yang membuat diri mengalami flow. Menurut Mihaly, ciri-ciri seseorang mengalami flow, yaitu:

1) Terlibat sepenuhnya dalam kegiatan yang dilakukan sehingga seseorang dapat fokus dan berkonsentrasi penuh.

2) Memahami dengan sungguh apa yang sedang dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya.

(38)

3) Menyadari bahwa tantangan pekerjaan yang sedang dihadapi dapat diatasi dengan mudah. Seseorang memiliki kemampuan yang memadai untuk mengerjakan tugas tersebut.

c. Have a Meaningful Life (Life of Contribution)

Seseorang memiliki semangat untuk melayani, berkontribusi, dan bermanfaat untuk orang lain. Seseorang merasa menjadi bagian dari sebuah organisasi, kelompok, atau suatu komunitas. Seseorang merasa hidupnya memiliki makna penting bagi orang lain.

6. Karakteristik Orang yang Bahagia

Myers (2004) membagi empat karakteristik pada orang yang merasa hidupnya bahagia, yaitu:

a. Menghargai dirinya sendiri bahwa orang menyukai dirinya dan memiliki tingkat kepercayaan diri yang cukup tinggi.

b. Optimis berarti bahwa orang mempercayai bahwa ada peristiwa hidup yang baik dan yang buruk sehingga orang akan memaksimalkan kesempatan yang datang padanya agar peristiwa baiklah yang mereka dapatkan.

c. Sikap terbuka berarti bahwa orang mudah untuk bersosialisasi dengan orang lain.

(39)

d. Mampu mengendalikan diri yang berarti bahwa orang memiliki kontrol diri yang cukup baik.

B. Biara

Pengertian Biara

Biara dalam bahasa sanskerta (vihara), dalam arti luas adalah rumah atau tempat tinggal komunitas yang menjalankan hidup membiara. Biara harus didirikan dengan sah, dihuni suatu komunitas, dikepalai seorang pemimpin yang diangkat menurut hukum gerejani yang berlaku, dan mempunyai tempat ibadah untuk perayaan ekaristi serta penyimpanan sakramen mahakudus.

Setiap biara harus berguna untuk umat setempat dan cocok untuk melakukan kerasulan menurut tujuan tarekat religius yang bersangkutan. Sedangkan, dalam arti sempit, biara adalah klausura, yaitu tempat kediaman biarawan atau biarawati yang tidak terbuka untuk umum (Adolf, 2004).

Kata biara juga dapat dikenal dengan wihara atau monastery yang merupakan sebuah bangunan tunggal, setengah terbuka sisi-sisi sampingnya, dengan tiang raksasa, gagah perkasa menyangga atap yang lebar membahana. Selain itu, dapat dikatakan sebagai rumah dimana biarawati mempersembahkan diri dalam kehidupan religius (Koendjono, 1986).

(40)

C. Biarawati

1. Pengertian Biarawati

Biarawati adalah anggota lembaga religius yang artinya suatu persekutuan yang anggota-anggotanya mengucapkan kaul kekal atau sementara yang diterima oleh pembesar yang berwenang atas nama gereja, dan bersama-sama melaksanakan hidup persaudaraan. Biarawati adalah anggota ordo atau kongregasi religius (mengikat diri dengan kaul / ikrar).

Heuken (1995) berpendapat bahwa biarawati adalah anggota lembaga religius yang mengikat diri dengan kaul. Biarawati juga merupakan pelayan Tuhan yang mengabdikan hidupnya hanya untuk melayani Tuhan (Hardawiryana, 1993).

2. Tahapan Menjadi Biarawati

Dalam hidup membiara, ada tahapan atau proses yang harus dijalankan oleh seorang calon biarawati. Menurut Pujaharsana (1986), seseorang yang ingin menjadi biarawati harus melewati empat tahapan sebelum akhirnya menerima kaul kekal dan menjadi biarawati seutuhnya, yaitu:

a. Masa pra-novisiat

Masa dimana biarawati menjalani masa seleksi pertama dan postulat. Biarawati akan diberi pertanyaan tentang alasan biarawati

(41)

ingin hidup membiara dan dilihat kemampuannya. Kemampuan yang dimaksud di sini adalah terpenuhinya syarat ijazah dan tingkat kematangan biarawati melalui pengalaman hidupnya.

b. Masa novisiat

Masa dimana biarawati menghayati semangat pemahaman hidup orang katolik dalam pergaulannya dengan Tuhan.

c. Masa yuniorat

Dalam masa yuniorat perlu pembinaan formal melalui pendalaman dan pengarahan yang terus menerus terhadap pengalaman hidup religius. Pemimpin resmi dalam komunitas dan praktek karya sangat dibutuhkan dalam masa ini sehingga tercipta sikap saling terbuka antara pembimbing dan terbimbing.

d. Pembinaan terus menerus (on going formation)

Dalam masa ini diperlukan penyegaran iman melalui rekoleksi bulanan, retret tahunan, sharing hidup doa, pengalaman karya, kursus atau penataran, pekan studi, pekan refleksi, seminar, dan evaluasi. Kegiatan tersebut untuk mendalami kharisma, spiritualitas, dan konstitusi tarekat serta kebutuhan gereja saat ini.

(42)

3. Cara Mengatasi Tantangan dalam Hidup Membiara

a. Menjalin relasi persaudaraan dengan teman di novisiat atau ditempat yang baru. Semakin biarawati mempunyai sahabat dekat dan semakin merasa tidak terasing, biarawati akan mudah menghilangkan rasa sepi.

b. Memulai dengan mengenal daerahnya, mulai mempunyai teman, dan menikmati sunyinya tempat yang baru. Orang yang memiliki banyak kesibukan juga akan mudah melupakan kesepiannya.

c. Membangun kembali hidup rohani, menguatkan hidup doa, dan melakukan laku tapa.

D. Kaul Kekal

1. Pengertian Kaul

Kaul atau prasetia adalah suatu janji untuk memuliakan Tuhan. Orang berjanji secara sadar dan rela untuk berbuat sesuatu (yang pada umumnya tidak dituntut darinya) yang lebih berkenan kepada Tuhan daripada yang sebaliknya. Kaul adalah suatu perjanjian untuk memuliakan Tuhan. Seorang biarawati melepaskan kepunyaannya dan mengabdikan diri hanya pada Tuhan (Adolf, 1975).

Kaul kekal diikrarkan seorang anggota lembaga religius dan menyangkut hidup adalah kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan

(43)

seumur hidup. Kaul mengenai hal lain semisal berkarya dalam misi, merawat orang sakit, dll boleh ditambahkan, sesuai dengan aturan lembaga yang bersangkutan.

Kaul kekal disebut juga kaul terakhir, karena didahului kaul sementara meskipun ada anggota lembaga tertentu yang mengucapkan kaul kekal langsung selesai novisiat. Dalam lembaga lain kaul kekal tidak pernah diikrarkan, tetapi kaul sementara diperbaharui secara berkala. Lembaga ini harus menetapkan batas waktu seseorang diterima menjadi anggota penuh atau tidak. Di lembaga dengan kaul kekal, masa yang mengikat anggota dengan kaul sementara tidak melebihi 9 tahun (Adolf, 2004).

2. Jenis-jenis Kaul

a. Kaul Kemiskinan

Pengertian Kaul Kemiskinan

Pada kaul ini biarawati harus siap hidup miskin dalam kenyataan dan dalam semangat, hidup kerja dalam kesederhanaan dan jauh dari kekayaan duniawi (Kitab Hukum Kanonik Kanon. 600). Kaul kemiskinan yang diajarkan Tuhan adalah supaya biarawati secara total dapat menyerahkan diri kepada Tuhan dan tidak tergoda pada kekayaan duniawi (Christina,1991).

(44)

Biarawati yang mengikrarkan kaul kemiskinan tidak boleh mengurus barang berharga yang dimiliki tanpa izin pimpinan kongregasi atau dapat dikatakan kehilangan hak atas milik apapun. Kemiskinan yang rela merupakan wujud dan tanda iman akan kekayaan sebenarnya yang bukan duniawi sifatnya (Adolf, 2004).

Menurut Paul (2006), dalam kaul kemiskinan biarawati diharapkan untuk melepaskan diri dari barang atau harta di dunia ini. Makna yang tersimpan dalam kaul kemiskinan sendiri adalah biarawati harus mampu mendahulukan mereka yang menderita dan miskin, bermurah hati kepada orang lain, mementingkan kepentingan umum, dan memperjuangkan kehidupan orang kecil supaya mendapat kehidupan yang layak.

b. Kaul Kemurnian

Pengertian Kaul Kemurnian

Pada kaul ini biarawati memilih hidup selibat dan tidak menikah (Kitab Hukum Kanonik Kanon. 599).

Menurut Christina (1991), kaul kemurnian adalah sikap terbuka dan kesediaan diri secara total bagi karya Tuhan. Biarawati juga diharuskan meninggalkan keluarganya agar secara penuh menghayati hidup membiara

(45)

bersama Tuhan. Bukti nyata biarawati yang secara total menyerahkan diri untuk Tuhan adalah dengan tidak menikah.

Dalam arti umum, kaul kemurnian adalah keadaan bebas dari sesuatu yang melemahkan, menodai, atau mencemarkan manusia atau kegiatannya. Dalam arti khusus, kaul kemurnian adalah sikap yang wajar terhadap seksualitas sesuai dengan status yang bersangkutan. Biarawati yang dengan setia menjalani semangat panggilan, tidak akan menikah dan mengabdikan diri untuk sesama tanpa mencari kompensasi (Adolf, 2004).

c. Kaul Ketaatan

Pengertian Kaul Ketaatan

Pada kaul ini biarawati harus tunduk pada otoritas yang ada di dalam gereja (Kitab Hukum Kanonik Kanon. 601). Kaul ketaatan juga berarti kesetiaan pada himpunan, kepada cita-cita tarekat, kepada tujuan bersama yang hendak dicapai (Christina, 1991).

Kaul ketaatan adalah kehendak Tuhan, melakukan kehendak Tuhan. Pertama-tama yang ditaati adalah kehendak Tuhan bukan kehendak pemimpin (Paul,2007). Dengan mengikrarkan kaul ketaatan, biarawati mempersembahkan

(46)

hidupnya kepada Tuhan bagaikan persembahan diri (Adolf, 2004).

Kaul ketaatan untuk perutusan, yaitu membantu jiwa-jiwa, bukan demi yang lain. Penghayatan ketaatan itu sendiri kadang dirasa berat karena ada salib di dalamnya. Namun, pada akhirnya hasil akhir yang dinanti adalah kebahagiaan karena menaati kehendak Tuhan (Paul,2007).

Dalam kaul ketaatan, biarawati diharapkan menunjukkan kerendahan hati dan ketaatannya pada Tuhan. Biarawati yang selalu mendahulukan kehendak Tuhan, maka dapat bebas dari kecenderungan menindas orang.

E. Dinamika Kebahagiaan Biarawati dalam Penghayatan Kaul Kekal

Kebahagiaan adalah perasaan yang menyenangkan meliputi penilaian seseorang terhadap dirinya (Jalaluddin, 2004). Kebahagiaan adalah pengalaman hidup yang ditandai oleh perasaan positif seperti perasaan yang bahagia dan kepuasan hidup (Myers, 2007).

Begitu banyak hal yang mendukung terjadinya kebahagiaan, baik eksternal maupun internal. Uang, pernikahan, dan kekayaan merupakan faktor eksternal dari kebahagiaan. Sedangkan, religiusitas, bersyukur, kehidupan sosial, dan kesehatan merupakan faktor internal dari kebahagiaan (Seligman, 2005).

(47)

Bagi sebagian banyak orang, uang dan pernikahan adalah hal penting untuk hidup bahagia. Namun, hal itu berbeda dengan biarawati, dimana terdapat banyak peraturan yang mungkin berat diakui oleh orang lain. Biarawati harus melepas kenikmatan duniawi dan berserah diri kepada Tuhan untuk melayani Tuhan dan sesama seumur hidupnya. Seorang biarawati juga dituntut untuk terus menghayati dan meneguhkan hati agar jalan biarawati terpenuhi dengan baik (Astina, 2012).

Pilihan untuk menjadi seorang biarawati memiliki konsekuensi yaitu hidup selibat, taat, dan siap hidup miskin. Padahal banyak orang menginginkan hidup yang bebas, dapat menyalurkan kebutuhan biologis melalui pernikahan, dan ingin menjadi orang kaya (Charlys, 2007).

Keputusan seseorang menjadi biarawati adalah tanpa paksaan dan memang menjadi keputusan personal biarawati. Oleh karena itu, tidak mudah memang menjadi biarawati kalau memang tidak terpanggil. Panggilan adalah bukan sesuatu yang dipaksakan melainkan dasar untuk menghayati, memperlihatkan, serta mewartakan karya Tuhan bagi sesama (Christina, 1991).

Semua orang ingin hidup bahagia. Dari beberapa pengertian kebahagiaan menurut para ahli, kebahagiaan dilihat dari seberapa besar kekayaan, ada atau tidaknya pasangan hidup, dan kebebasan dalam

(48)

memilih. Bagi biarawati kebahagiaan tidak mengacu pada tiga hal tersebut melainkan kebahagiaan didapatkan ketika biarawati memiliki kesehatan yang baik, tingkat religiusitas yang tinggi, mampu mensyukuri segala sesuatu yang diberikan Tuhan, dan memiliki relasi yang baik dengan orang sekitar (Adelbert, 2015). Hal inilah yang akan dilihat oleh peneliti bahwa bagaimana biarawati yang memilih untuk hidup membiara tetap merasakan emosi kebahagiaan.

F. Kerangka Berpikir KEBAHAGIAAN KESEHATAN RELIGIUSITAS KEHIDUPAN SOSIAL BERSYUKUR KAUL KEKAL BIARAWATI

(49)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian deskriptif bertujuan menggambarkan secara sistematik, akurat, dan karakteristik mengenai populasi atau mengenai bidang tertentu. Penelitian ini menggambarkan situasi atau kejadian. Data yang diperoleh bersifat deskriptif sehingga tidak bermaksud mencari penjelasan, menguji hipotesis, atau membuat prediksi (Azwar, 2000).

B. Identifikasi Variabel

Penelitian ini menggunakan satu variabel, yaitu kebahagiaan (happiness). Kebahagiaan adalah emosi positif tentang kepuasan akan masa lalu, kebahagiaan pada masa sekarang, dan optimis akan masa depan (Seligman, 2002).

C. Definisi Operasional

Dalam penelitian ini, kebahagiaan akan dilihat dari skor total alat ukur kebahagiaan. Skor total tersebut didapat dari komponen pembentuk kebahagiaan, yaitu:

1. Emosi Positif Terhadap Masa Lalu

Emosi positif terhadap masa lalu dapat membantu seseorang memaknai hidupnya. Emosi positif terhadap masa lalu

(50)

sepenuhnya ditentukan oleh pemikiran dan penafsiran seseorang. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur emosi positif terhadap masa lalu didasarkan pada komponen pembentuk yang mendukung emosi positif terhadap masa lalu, yaitu:

a) Melepaskan Pandangan Masa Lalu

1) Kemampuan seseorang untuk melupakan masa lalu yang kurang baik

2) Kemampuan seseorang untuk berdamai dengan masa lalu yang kurang baik

3) Kemampuan seseorang untuk bangkit dari kegagalan

4) Menjadikan kegagalan sebagai pengalaman berharga

b) Gratitude

1) Bersyukur atas pengalaman hidupnya

2) Ketercukupan kebutuhan hidup dengan uang atau barang diterimanya

3) Kemampuan seseorang untuk meningkatkan pengalaman yang positif

c) Forgiving dan Forgetting

(51)

2) Mampu memutuskan untuk tidak memihak siapa yang benar dan yang salah

Perolehan skor yang tinggi pada skala emosi positif terhadap masa lalu menunjukkan seseorang memiliki emosi positif terhadap masa lalu yang tinggi, sedangkan jika skornya rendah maka seseorang memiliki emosi positif terhadap masa lalu yang rendah.

2. Emosi Positif Terhadap Masa Sekarang a) Kenikmatan (Pleasure)

1) Ekstase, gairah, orgasme, rasa senang, riang, ceria, dan nyaman

2) Rasa puas yang berkaitan dengan panca indera atau anggota tubuh

b) Gratifikasi (Gratification)

1) Kegiatan yang disukai seseorang

2) Terlibat sepenuhnya dalam suatu kegiatan yang kadang membuat seseorang kehilangan kesadaran diri (waktu)

3) Gratifikasi bertahan lebih lama dibandingkan kenikmatan karena melibatkan banyak pemikiran dan interpretasi

Perolehan skor yang tinggi pada skala emosi positif terhadap masa sekarang menunjukkan seseorang memiliki emosi positif terhadap masa sekarang yang tinggi, sedangkan jika skornya

(52)

rendah maka seseorang memiliki emosi positif terhadap masa sekarang yang rendah.

3. Emosi Positif Terhadap Masa Depan a) Keyakinan (Faith)

1) Seseorang memiliki rencana yang lebih baik

2) Rasa yakin akan pilihan jalan hidup yang telah dipilih 3) Kemampuan seseorang untuk tampil percaya diri b) Kepercayaan (Trust)

1) Kemampuan seseorang untuk menyelesaikan masalah atau konsekuensi yang diterimanya

c) Kepastian (Confidence)

1) Memiliki kesehatan yang baik d) Harapan

1) Mampu menghadapi segala macam rintangan atau musibah 2) Kemampuan seseorang untuk berpikir positif

e) Optimis

1) Memiliki kualitas kinerja yang baik di tempat kerja terutama ketika seseorang dihadapkan pada situasi yang menantang 2) Memiliki rencana masa depan yang matang

3) Seseorang merasa puas dengan hidupnya

Perolehan skor yang tinggi pada skala emosi positif terhadap masa depan menunjukkan seseorang memiliki emosi positif terhadap masa depan yang tinggi, sedangkan jika skornya rendah

(53)

maka seseorang memiliki emosi positif terhadap masa depan yang rendah.

D. Subyek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah 1. Biarawati

Biarawati adalah seorang perempuan yang hidup di biara secara sukarela meninggalkan kehidupan duniawi dan memfokuskan dirinya serta hidupnya hanya untuk kehendak Tuhan dan kehidupan agama di suatu biara. Dalam hidup membiara, biarawati diikat oleh peraturan yang sangat ketat, yaitu kaul atau janji suci (Aleksander, 2007).

2. Telah Menerima Kaul Kekal

Penelitian hanya mengambil data pada biarawati yang sudah menerima kaul kekal atau janji suci minimal dua tahun. Biarawati yang sudah menerima kaul kekal memiliki tanggung jawab dan komitmen lebih besar dibandingkan biarawati yang belum menerima kaul kekal. Setelah biarawati menerima kaul kekal, totalitas pelayanan dan kesetiaan pada Tuhan, gereja, dan kongregasi sangatlah besar.

E. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Teknik purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel yang dilakukan dengan memilih satuan sampling.

(54)

Pengambilan sampel berdasarkan seleksi khusus. Peneliti membuat kriteria tertentu siapa yang dijadikan sebagai subjek (Fajri, 2013). Dalam penelitian ini, kriteria yang dipilih adalah biarawati yang sudah menerima kaul kekal.

F. Metode dan Alat Pengumpulan Data

Metode pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan skala Likert. Skala Likert terdiri dari empat pilihan jawaban, yaitu : Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Kategori penilaian untuk masing-masing item favorable adalah nilai 4 untuk Sangat Setuju (SS), nilai 3 untuk Setuju (S), nilai 2 untuk Tidak Setuju (TS), dan nilai 1 untuk Sangat Tidak Setuju (STS). Sedangkan untuk masing-masing item unfavorable adalah nilai 1 untuk Sangat Setuju (SS), nilai 2 untuk Setuju (S), nilai 3 untuk Tidak Setuju (TS), dan nilai 4 untuk Sangat Tidak Setuju (STS).

Pernyataan dalam skala penelitian ini terbagi dalam dua pernyataan, yaitu item favorable dan item unfavorable. Item favorable berisi pernyataan yang mendukung indikator. Item unfavorable berisi pernyataan yang tidak mendukung indikator. Tujuan penentuan nilai skala tersebut adalah memberikan bobot tertinggi bagi jawaban yang paling favorable. Jawaban favorable adalah respon setuju terhadap pernyataan yang favorable dan respon tidak setuju terhadap pernyataan yang unfavorable. Jawaban unfavorable adalah respon setuju terhadap

(55)

pernyataan yang unfavorable dan respon tidak setuju terhadap pernyataan favorable.

Skala yang digunakan ini digunakan untuk mengukur tingkat kebahagiaan pada subjek penelitian adalah skala kebahagiaan. Item-item pada skala penelitian ini dibuat dalam dua macam, yaitu

favorable dan unfavorable. Item favorable berisikan

pernyataan-pernyataan yang mendukung terbentuknya kebahagiaan yang terdiri dari komponen emosi positif terhadap masa lalu, emosi positif terhadap masa sekarang, dan emosi positif terhadap masa depan. Item

unfavorable berisikan pernyataan-pernyataan yang tidak mendukung

terbentuknya kebahagiaan yang terdiri dari komponen emosi positif terhadap masa lalu, emosi positif terhadap masa sekarang, dan emosi positif terhadap masa depan. Skala ini dibuat dengan memberikan empat alternatif jawaban yang diberikan yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS). Jumlah item dalam penelitian ini adalah 100 item yang terdiri atas 50 item

favorable dan 50 item unfavorable.

(56)

Table 3.1

Blue Print Skala Kebahagiaan

No Aspek Sub-Aspek Item Total

Favorable Unfavorable 1 Emosi Terhadap Masa Lalu Melupakan Pandangan Masa Lalu 1, 7, 13, 19, 25, 31 4, 10, 16, 22, 28, 34 35 (35%) Grattitude 5, 11, 17, 23, 29, 35 2, 8, 14, 20, 26, 32 Forgiving dan Forgetting 3, 9, 15, 21, 27 6, 12, 18, 24, 30, 33 2 Emosi Terhadap Masa Sekarang Kenikmatan 36, 40, 44, 48, 52, 56, 60 38, 42, 46, 50, 54, 58 25 (25%) Gratifikasi 39, 43, 47, 51, 55, 59 37, 41, 45, 49, 53, 57 3 Emosi Terhadap Masa Lalu Keyakinan 61, 71, 81, 91 66, 76, 86, 96 40 (40%) Kepercayaan 67, 77, 87, 97 62, 72, 82, 92 Kepastian 63, 73, 83, 93 68, 78, 88, 98 Harapan 69, 79, 89, 99 64, 74, 84, 94 Optimis 65, 75, 85, 95 70, 80, 90, 100 Skor Total 100%

(57)

Table 3.2

Pemberian Skor pada Skala Kebahagiaan

Alternatif Jawaban Favorable Unfavorable

Sangat Setuju 4 1

Setuju 3 2

Tidak Setuju 2 3

Sangat Tidak Setuju 1 4

G. Validitas dan Realibilitas Alat Ukur 1. Validitas Skala

Validitas yang digunakan dalam skala ini adalah validitas isi. Validitas isi adalah proses pengujian isi alat ukur dilakukan oleh professional judgment (Azwar, 2009) dalam hal ini dosen pembimbing. Pada prosesnya, setiap item dari skala kebahagiaan di periksa oleh dosen pembimbing untuk mengetahui apakah item tersebut sudah benar-benar mengukur aspek-aspek kebahagiaan atau belum.

2. Seleksi Item

Peneliti menggunakan bantuan SPSS 17.00 for Windows untuk melakukan seleksi item. Seleksi item dilakukan dengan tujuan untuk melihat item mana yang memiliki skor tertinggi dan skor terendah. Seleksi item didasarkan pada data empiris, yaitu data hasil coba item pada kelompok subjek yang memiliki karakteristik setara dengan subjek yang akan diberikan skala.

(58)

Kualitas dari item akan diukur menggunakan daya diskriminasi item. Daya diskriminasi item adalah sejauh mana item mampu membedakan antara subjek yang memiliki atau tidak memiliki atribut yang diukur (Azwar, 1999).

Uji daya diskriminasi item akan menghasilkan koefisiensi korelasi item total (rix) atau yang biasa disebut juga dengan daya

beda item (Azwar, 1999). Koefisiensi korelasi item total merupakan korelasi antara skor item dengan skor item total. Syarat yang digunakan untuk seleksi item, yaitu apabila item-item menghasilkan korelasi positif dan signifikan, yang berarti bahwa fungsi item sejalan dengan fungsi skala. Dengan demikian item-item yang memiliki korelasi positif dan signifikan dengan skor total dipandang memiliki daya beda yang memuaskan. Batasan yang digunakan dalam pemilihan item ini adalah ≥ 0,300. Hal ini didasarkan atas pertimbangan agar jumlah item yang diinginkan dapat dicapai.

Pada skala ini terdapat tiga komponen pembentuk kebahagiaan yaitu komponen emosi positif terhadap masa lalu, emosi positif terhadap masa sekarang, dan emosi positif terhadap masa depan. Pada komponen emosi positif terhadap masa lalu, ada 35 item yang terdiri atas 17 item favorable dan 18 item

unfavorable. Dari hasil pengujian data pada komponen emosi

(59)

0,300, sedangkan item yang memiliki nilai rix ≤ 0,300 ada 13 item,

yaitu 2, 3, 5, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 15, 21, 32, dan 35. Kemudian, pada komponen emosi positif terhadap masa sekarang ada 25 item yang terdiri dari 13 item favorable dan 12 item unfavorable. Dari hasil pengujian data pada komponen emosi positif terhadap masa sekarang terdapat 12 item yang memiliki rix ≥ 0,300, sedangkan

item yang memiliki nilai rix ≤ 0,300 ada 13 item, yaitu 36, 37, 40,

48, 49, 50, 51, 52, 56, 57, 58, 59, dan 60. Sedangkan untuk komponen emosi positif dari masa depan ada 40 item yang terdiri dari 20 item favorable dan 20 item unfavorable. Dari hasil pengujian data pada komponen emosi positif terhadap masa depan terdapat 25 item yang memiliki rix ≥ 0,300, sedangkan item yang

memiliki nilai rix ≤ 0,300 ada 15 item, yaitu 66, 67, 68, 69, 71, 76,

77, 79, 83, 86, 88, 91, 97, 98, dan 99. 3. Reliabilitas

Reliabilitas mengacu pada konsistensi hasil pengukuran, yaitu keajegan hasil pengukuran skala (Azwar, 1999). Pengukuran skala yang memiliki reliabilitas yang tinggi berarti pengukuran tersebut reliabel, dan pengukuran skala yang memiliki reliabilitas yang rendah berarti pengukuran tersebut tidak reliabel.

Skala kebahagiaan diuji dengan menggunakan teknik Alpha

Cronbach dan didapatkan hasil (r) = 0,921, dan koefisiensi Alpha

(60)

Cronbach menjadi naik dikarenakan adanya 41 item yang gugur

sehingga meningkatkan koefisiensi Alpha Cronbach.

Tabel 3.3

Komponen dan Distribusi Item Skala Kebahagiaan

No Aspek Sub-Aspek Item Total

Favorable Unfavorable 1 Emosi Terhadap Masa Lalu Melupakan Pandangan Masa Lalu 1, 13, 19, 25, 31 4, 16, 22, 28, 34 22 (37,29%) Grattitude 17, 23, 29 14, 20, 26 Forgiving dan Forgetting 9 6, 18, 24, 30, 33 2 Emosi Terhadap Masa Sekarang Kenikmatan 44 38, 42, 46, 54 12 (20,34%) Gratifikasi 39, 43, 47, 55 41, 45, 53 3 Emosi Terhadap Masa Lalu Keyakinan 61, 81 96 25 (42,37%) Kepercayaan 87 62, 72, 82, 92 Kepastian 63, 73, 93 78 Harapan 89 64, 74, 84, 94 Optimis 65, 75, 85, 95 70, 80, 90, 100 Skor Total 100%

(61)

H. Analisis data

Analisis data menggunakan kategorisasi. Subjek akan dikategorikan berdasarkan tingkat kebahagiaan. Luas interval setiap kategori diperoleh melalui beberapa tahapan perhitungan, diantaranya adalah :

a) Menentukan skor minimum : nilai terendah tiap item x jumlah terpakai

b) Menentukan skor maksimum : nilai tertinggi tiap item x jumlah terpakai

c) Menghitung mean teoritik : skor maksimum + skor minimum 2

d) Standar deviasi : skor maksimum – skor minimum

6

Norma kategorisasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

X ≤ (Mean – (1,8.σ)) kategori sangat rendah (Mean – (1,8.σ)) < X ≤ (Mean – (0,6.σ)) kategori rendah

(Mean – (0,6.σ)) < X ≤ (Mean + (0,6.σ)) kategori sedang (Mean + (0,6.σ)) < X ≤ (Mean + (1,8.σ)) kategori tinggi

(62)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Penelitian

Peneliti melakukan uji coba terhadap alat ukur skala kebahagiaan kepada biarawati diberbagai kongregasi yang ada di Yogyakarta seperti Kongregasi CB, Kongregasi PBHK, Kongregasi ADM, Kongregasi FSE, Kongregasi KYM, Kongregasi OSF, Kongregasi PPYK, Kongregasi SPM dan Kongregasi PIJ.

Pengambilan data dilakukan dengan meminta bantuan kepada suster untuk mengisi skala. Peneliti juga datang secara langsung ke biara-biara untuk meminta ijin membagikan skala. Ada beberapa kepala komunitas biara yang membantu peneliti menyebarkan skala ke teman-teman suster lainnya.

Biarawati yang dipilih adalah yang sudah menerima kaul kekal minimal dua tahun. Biarawati berusia 27 – 88 tahun. Uji coba dilaksanakan pada tanggal 20 Mei 2015 – 31 Mei 2015. Jumlah subjek yang terlibat dalam uji coba ini adalah 103 subjek, namun terdapat 7 subjek yang gugur karena ada 4 subjek tidak mengisi skala dengan lengkap dan 3 skala tidak kembali. Dengan demikian, jumlah subjek yang terlibat dalam uji coba menjadi 96 subjek.

(63)

Tabel 4.1

Kongregasi Subjek Penelitian

No Nama Ordo / Kongregasi Jumlah 1 Carolus Borromeus 40

2 PBHK 7

3 ADM 8

4 FSE (Fransiskan Santa Elisabeth) 6

5 KYM 6

6 OSF 8

7 PIJ (Sang Timur) 20

8 SPM (Santa Perawan Maria) 4 9 PPYK (Putri-Putri Yesus Kristus) 4

Total 103

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan uji coba terpakai. Alasan yang mendasari peneliti memilih uji coba terpakai adalah minimnya waktu yang dimiliki peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini. Selain itu juga karena sulitnya mencari subjek. Tidak semua kongregasi bersedia untuk menjadi subjek penelitian dengan berbagai alasan. Kemudian, juga dengan alasan cukup lamanya mengurus perijinan penelitian di biara. Peneliti harus menunggu adanya persetujuan dari Suster Propinsial tiap kongregasi untuk melakukan penelitian. Tidak semua Suster Propinsial ada di

(64)

Yogyakarta sehingga akan memakan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, peneliti menggunakan uji coba terpakai dalam penelitian ini agar meminimalkan kurangnya subjek penelitian.

B. Deskripsi Subjek

Subjek penelitian adalah biarawati yang menetap di Yogyakarta dan sudah menerima kaul kekal minimal dua tahun. Subjek berjumlah 103 namun setelah skala penelitian dikembalikan hanya ada 96 subjek saja karena sebagian belum terisi lengkap dan identitas yang tidak terisi. Berikut ini adalah deskripsi subjek:

Tabel 4.2

Deskripsi Subjek Penelitian

Kongregasi Rentang Usia Rentang Lama Kaul Kekal Karya Jumlah

CB 35-88 tahun 5-50 tahun Asrama 12 Rumah Sakit 13 Novisiat 3 Sekolah 8 PBHK 27-56 tahun 2-28 tahun Studi 5

Rumah Komunitas

2

ADM 27-48 tahun 3-17 tahun Studi 4 Rumah

Komunitas

2

(65)

Rumah Komunitas

1

KYM 28-60 tahun 4-24 tahun Studi 5 Rumah

Komunitas

1

OSF 36-57 tahun 5-25 tahun Sekolah 7 PIJ 30-72 tahun 5-35 tahun Studi 5 Sekolah 6

Rumah Komunitas

9

SPM 30-45 tahun 4-19 tahun Biara 4 PPYK 35-50 tahun 5-24 tahun Rumah

Komunitas

4

Total 96

C. Deskripsi Data Penelitian

One-Sample T-Test adalah suatu tes yang digunakan untuk

menguji apakah suatu nilai tertentu berbeda secara nyata atau tidak dengan rata-rata sebuah sampel atau mean empirik (Santoso, 2010). Pada penelitian ini, rata-rata mean empirik akan dibandingkan dengan mean teoritik. Mean teoritik didapat dengan menggunakan rumus, (Xmin + Xmax) : 2. Sedangkan mean empirik diperoleh dari rata-rata skor subjek. Berikut adalah tabel deskripsi data penelitian :

(66)

Tabel 4.3

Hasil Pengukuran Statistik Deskriptif

Skala Skor Empirik Skor Teoritik

Xmin Xmax Mean SD Xmin Xmax Mean SD

Kebahagiaan 130 216 176,69 16,62 59 236 147,5

Berdasarkan hasil pengukuran statistik deskriptif pada tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa mean empirik memiliki skor lebih tinggi daripada mean teoritik. Dimana skor mean empirik sebesar 176,69 dan skor mean teoritik sebesar 147,5 dengan sig 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa subjek memiliki kebahagiaan yang lebih tinggi dari standar (mean teoritik).

D. Kategorisasi

Peneliti akan menggolongkan subjek ke dalam kategorisasi kelompok berdasarkan kriteria yang sudah dibuat dengan berdasar pada norma. Norma tersebut adalah:

X ≤ (Mean – (1,8.σ)) kategori sangat rendah (Mean – (1,8.σ)) < X ≤ (Mean – (0,6.σ)) kategori rendah

(67)

(Mean + (0,6.σ)) < X ≤ (Mean + (1,8.σ)) kategori tinggi

(Mean + (1,8.σ)) < X kategori sangat tinggi

Berdasarkan norma diatas, maka peneliti dapat membuat kategorisasi subjek berdasarkan skala kebahagiaan sebagai berikut:

Tabel 4.4

Hasil Kategorisasi Kebahagiaan pada Subjek Penelitian

Skala Rentang Nilai Jumlah Presentase (%) Kategorisasi Kebahagiaan X ≤ 146 3 3,13 % Sangat rendah 146 < X ≤ 166 25 26,04 % Rendah 166 < X ≤ 187 43 44, 79 % Sedang 187 < X ≤ 207 23 23,96 % Tinggi 207 < X 2 2, 08 % Sangat tinggi Total 96 100 %

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa sebanyak 3 subjek atau 3,13 % subjek memiliki kebahagiaan yang termasuk dalam kategori sangat rendah. Subjek yang masuk dalam kategori rendah sebanyak 25 subjek atau 26,04 % subjek. Untuk kategori sedang ada 43 subjek atau 44,79 % subjek. Sedangkan untuk kategori tinggi ada 23 subjek atau 23,96 % subjek. Kategori sangat tinggi hanya ada 2 subjek atau 2,08 % subjek.

(68)

E. Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah biarawati yang sudah menerima kaul kekal merasakan kebahagiaan dalam hidup membiara. Penelitian ini menggunakan kategorisasi untuk mengelompokkan subjek berdasarkan tingkat kebahagiaannya.

Berdasarkan skor total item dari seluruh biarawati yang menjadi subjek penelitian didapatkan sebanyak tiga subjek atau 3,13 % subjek memiliki kebahagiaan yang termasuk dalam kategori sangat rendah. Kemudian, subjek yang masuk dalam kategori rendah sebanyak 25 subjek atau 26,04 % subjek. Untuk kategori sedang ada 43 subjek atau 44,79 % subjek. Sedangkan untuk kategori tinggi ada 23 subjek atau 23,96 % subjek. Kategori sangat tinggi hanya ada dua subjek atau 2,08 % subjek. Dari hasil analisis data diatas dapat disimpulkan bahwa biarawati memiliki tingkat kebahagiaan yang tinggi. Biarawati tetap merasakan kebahagiaan setelah menerima kaul kekal dalam hidup membiara.

Biarawati yang dikatakan sudah menerima kaul kekal adalah biarawati yang sudah melewati empat tahapan dalam hidup membiara. Tahapan pertama atau yang disebut dengan masa pra-novisiat adalah masa seleksi pertama dimana akan ada sesi wawancara tentang alasan seseorang tertarik menjadi biarawati, pengumpulan berkas-berkas yang dibutuhkan sebuah kongregasi meliputi biodata diri dan keluarga, ijasah, dan surat ijin dari orang tua. Dalam tahap

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Menurut Sutrisno Hadi, metode interview adalah metode untuk mengumpulkan data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan secara sistematis dan berlandaskan

[r]

Denagan aneka makanan dan minuman yang enak dan segar dengan harga yang bias dicapai oleh semua golongan masyarakat sehingga hal tersebutlah yang menyebabkan ketertarikan saya

Fasilitas yang disediakan oleh penulis dalam perancangan ini adalah kapel sebagai tempat berdoa baik bagi komunitas maupun masyarakat sekitar, biara dengan desain interior

Kata hasud berasal dari berasal dari bahasa arab ‘’hasadun’’,yang berarti dengki,benci.dengki adalah suatu sikap atau perbuatan yang mencerminkan

[r]

“ STUDI DESKRIPTIF MENGENAI SUBJECTIVE WELLBEING PADA LANSIA PENDERITA PENYAKIT KRONIS YANG MENGIKUTI PROLANIS DI PUSKESMAS ‘X’ KOTA BANDUNG “. Universitas Kristen

[r]