7
BAB 2
LANDASAN PERANCANGAN
2.1 Tinjauan Umum
2.1.1 Sumber Data
Metode penelitian yang digunakan, serta data dan informasi yang mendukung proyek Tugas Akhir ini di peroleh dari berbagai macam sumber, antara lain:
2.1.1.1 Wawancara
Wawancara dilakukan guna mengetahui situasi dan kondisi yang terjadi dan untuk mendapatkan wawasan lebih mengenai topik yang bersangkutan. Narasumber yang diwawancarai adalah Bapak Tisna Sanjaya. Beliau merupakan budayawan, seniman dan tokoh bagi masyarakat Bandung.
2.1.1.2 Media Elektronik / Internet
Berupa data yang digunakan untuk mendukung terwujudnya kampanye yang penulis ciptakan. Data-data pendukung merupakan data seputar pemahaman ruang publik, pentingnya ruang publik dan isu yang sedang beredar di masyarakat saat ini, sesuai dengan pendapat beberapa tokoh maupun organisasi bersangkutan yang penulis dapat dari blog maupun artikel online.
2.1.1.3 Kajian Pustaka Buku
Berupa informasi yang dibutuhkan terkait dengan desain grafis dan ruang publik serta paham ilmu lain yang dapat mendukung perancangan kampanye ini yang bersumber dari buku.
2.1.2 Riset dan Data Umum 2.1.2.1 Data Taman
Berikut merupakan data taman-taman tematik yang ada di Bandung sampai sejauh ini yang penulis dapat dari Buku Saku Bidang Pertamanan: Taman Tematik Bandung yang dikeluarkan oleh
Pemerintah Kota Bandung Dinas Pemakaman dan Pertamanan lalu diubah suai oleh penulis, sesuai dengan keadaan dan kondisi taman sampai saat ini.
Tabel 1 Data Taman
No. Taman Luas Tinjauan Umum Fasilitas Fungsi
1. Cibeunying Park
- - Berada di Jl. Cilaki - Merupakan hutan kota yang memanjang, lalu kemudian dimodifikasi sebagai taman - Akun Twitter @CibeunyingPark - Jogging track - Alat ketangkasan hewan - Kandang hewan - Penerangan - Ruang publik bagi komunitas pecinta binatang peliharaan 2. Taman Balai Kota ± 13.800 m2 Berada di Jl. Wastukencana (Balai Kota Bandung) - Air mancur kolam badak putih - Lampu taman warna warni di malam hari - Prisma untuk menggembok cinta - Ruang publik untuk bersosialisasi - Taman penghias area balai kota
3. Taman Lansia - - Berada di Jl. Cisangkuy - Dulu dikenal dengan sebutan Taman Cilaki atau Taman Cisangkuy - Jogging track - Free WiFi - Tempat duduk - Toilet umum - Kolam retensi - Therapy Stone - Ruang publik untuk bersosialisasi - Jogging - Pengendali banjir di wilayah tersebut
Sumber: Buku Saku Bidang Pertaman: Taman Tematik Bandung Diubah suai Livina
Tabel 2 Data Taman
No. Taman Luas Tinjauan Umum Fasilitas Fungsi
4. Taman Kandaga Puspa ± 4.200 m2 - Berada di Jl. Cilaki - Jam operasional untuk jogging track 06:00- 10:00 - Jam operasional taman 06:00- 19:00 - Free WiFi - Tempat duduk - Jogging track - Ruang publik untuk bersosialisasi - Jogging 5. Taman Fotografi ± 3.610,10 m2 - Sebelumnya benama Taman Cempaka - Berada di Jl. Anggrek, Jl. Kemuning dan Jl. Taman Cemp. - Pembubuhan huruf “C” yang merujuk pada “Camera” - Free WiFi - Frame foto - Wahana bermain anak -anak - Tempat berfoto - Tempat nongkrong fotografer - Tempat pameran foto 6. Taman Tongkeng
± 3.610,10 m2 Berada di Jl. Tongkeng - Perpustakaan
- Wahana bermain anak - Tempat cuci tangan - Penerangan - Lapangan futsal - Sebagai ruang publik untuk bermain maupun belajar anak-anak 7. Taman Musik ± 2.100,75 m2 - Nama lain Taman Centrum - Berada di Jl. Belitung - Terdapat monumen gitar raksasa yang tergurat sebelas nama korban meninggal dalam kejadian konser band metal Beside, di gedung AACC, Bandung tahun 2008 - Free WiFi - Panggung kecil - Lapangan olahraga untuk basket dan futsal - Lampu penerangan - Tempat duduk seperti podium mengelilingi panggung dan lapangan - Papan informasi - Menyelengga- rakan acara musik gratis
Sumber: Buku Saku Bidang Pertaman: Taman Tematik Bandung Diubah suai Livina
Tabel 3 Data Taman
No. Taman Luas Tinjauan Umum Fasilitas Fungsi
8. Taman Vanda
± 2.000 m2 - Berada di Jl. Merdeka - Vanda diambil dari salah satu jenis tanaman anggrek dan merupakan nama bioskop yang dulu pernah berdiri disana - Air mancur - Dancing water - Ruang publik kota 9. Taman Persib ± 1.664 m2 - Berada di Jl. Supratman (Ciujung) - Dapat dimanfaatkan oleh seluruh warga dengan syarat menjaga kebersihan sebelum dan sesudah bermain - Jam operasional 08:00-21:00
- 4 lapangan mini rumput sintetis ukuran 16x26 m - Jaring pembatas lapangan - Penerangan - Free WiFi - Toilet - Tempat duduk - Relief pemain Persib - Ruang publik untuk futsal 10. Taman Pasupati ± 1.539 m2 - Berlokasi di Jl. Cikapayang - Bentuk tempat duduk yang dirancang satu orang ini menyebabkan sebutan “jomblo” bagi taman ini - Menjadi satu Dengan Taman Skateboard. Info: @skateparkBDG - Free WiFi - Tempat duduk - Skate park - Ruang publik untuk bersosialisasi - Ruang publik untuk menyalurkan hobi skate board 11. Taman Film ± 1.100 m2 daya tampung 250 orang - Berada di Jl. Taman Sari, di bawah fly over Pasupati - Nama lain Taman Pasupati - Akun Twitter @BDG_TamanFilm - Videotron 4x8 meter, daya listrik 33.000 watt - 7 tingkat tempat duduk - Pemutaran film - Ruang publik untuk bersosialisasi
Sumber: Buku Saku Bidang Pertaman: Taman Tematik Bandung Diubah suai Livina
Tabel 4 Data Taman
No. Taman Luas Tinjauan Umum Fasilitas Fungsi
12. Taman Fitness - - Berada di Jl. Teuku Umar-Imam Bonjol - Kedepannya akan Dinamakan Taman Gizi - Alat-alat olahraga untuk kebugaran berjumlah 6 buah dengan 4 macam alat yang berbeda - Jogging track - Therapy stone - Mini soccer - Ruang publik untuk bersosialisasi dan berlatih kebugaran tubuh
13. Pet Park ± 1.000 m2 - Berada di kawasan Cilaki - Jogging track - Alat Ketangkasan hewan - Kandang Hewan - Toilet khusus binatang peliharaan - Memfasilitasi pecinta hewan di Bandung 14. Taman Superhero ± 600 m2 - Berada di Jl. Anggrek - Dulu dikenal dengan Taman Anggrek - Wahana bermain anak- anak - Patung-patung superhero - Lapangan voli - Toilet portable - Ruang publik untuk bersosialisasi. - Tempat bermain untuk anak-anak 15. Taman Gesit ± 320 m2 - Berada di Jl. Dipatiukur - Kanopi - Tree deck - Area bermain (monkey bar, incline board, spider web) - Tempat parkir sepeda - Ruang publik untuk bersosialisasi dan olahraga
Sumber: Buku Saku Bidang Pertaman: Taman Tematik Bandung Diubah suai Livina
2.1.2.2 Data Observasi
Berikut merupakan foto-foto hasil observasi mengenai keadaan beberapa taman di Bandung yang dilakukan secara acak. Dalam hasil observasi ini, penulis memilih beberapa taman yang memiliki kondisi kurang baik yang layak diperhatikan dibanding taman-taman lainnya. Kelengkapan hasil foto observasi taman lainnya dapat dilihat dalam lampiran Tugas Akhir.
- Pet Park
Waktu: Jumat, 25 September 2015 03:00 – 04:30 PM Sabtu, 03 Oktober 2015 08:00 – 09:30 AM
Gambar 5 Pet Park
Sumber: Livina Intania
Keterangan:
Saat memasuki taman, aroma tak sedap kotoran hewan tercium di udara. Hal ini dikarenakan kotoran yang sudah mengering, maupun yang masih segar tercecer di mana-mana, baik itu pada jogging track, maupun tanah di taman, bahkan ditrotoar luar taman.
Keadaan taman terbilang sepi. Hanya ada beberapa orang yang datang untuk mengajak anjing berjalan-jalan, ada yang datang hanya untuk menikmati
WiFi yang disediakan dan ada juga yang datang untuk membeli jajanan ‘cuankie’ yang berjualan diluar pagar taman.
- Taman Kandaga Puspa
Waktu: 25 September 2015 04:30 – 05:30 PM 02 Oktober 2015 05:00-06:00 PM 03 Oktober 2015 07:00 – 08:00 AM
Gambar 6 Taman Kandaga Puspa Sumber: Livina Intania
Keterangan:
Taman Kandaga Puspa adalah taman bunga yang ada di Bandung. Taman ini seharusnya menjadi tempat budidaya koleksi tanaman hias dan menghadirkan beberapa macam anggrek dengan spesies langka.
Namun, seperti yang terlihat dalam foto-foto pengamatan penulis, kondisi taman saat ini cukup memprihatinkan. Jika pada saat pembukaan taman kemanapun mata memandang warna hijau dan warna warni bunga yang bisa kita lihat, kini taman ini hanya diliputi oleh warna coklat kekuningan yang berasal dari daun kering dan tanaman mati.
Selama beberapa kali penulis berkunjung ke taman ini, aktivitas yang cukup banyak ditemui adalah saat pagi hari, saat orang-orang berdatangan untuk melakukan jogging. Pada jam-jam lainnya, taman ini sepi dari pengunjung. Jika adapun, hanya beberapa pasangan yang akan duduk-duduk di kursi taman, atau beberapa remaja yang datang untuk menikmati WiFi yang disediakan.
Tulisan bahwa taman ini dikelola oleh para relawan dan larangan untuk membuang sampah tersebar di seluruh penjuru taman, dan ironisnya, informasi-informasi tersebut tertancap pada pohon-pohon dan tanaman yang ada di sana. Minimnya pengelolaan terhadap taman ini benar-benar tercermin dalam kondisi taman saat ini.
- Taman Pasupati/Jomblo
Waktu: 02 Oktober 2015 04:00 - 05:00 PM
Gambar 7 Taman Pasupati (Jomblo) dan Skate Park
Sumber: Livina Intania
Keterangan:
Taman Pasupati yang lebih dikenal dengan sebutan Taman Jomblo ini menjadi satu dengan kawasan Skate Park.
Aktivitas di Taman Jomblo diisi dengan beberapa warga yang duduk-duduk menikmati WiFi dan ada juga yang menjadikannya tempat untuk tidur.
Pada kawasan Skate Park, beberapa anak terlihat sedang berlatih skateboard dengan fasilitas seadanya. Selain lebih mengarah ke arah pemukiman warga, banyak warung yang berjualan di sepanjang kawasan Skate Park ini. Pengunjung warung terlihat lebih ramai dan hidup dibanding tamannya sendiri.
2.1.2.3 Hasil Wawancara
Narasumber : Bapak Tisna Sanjaya Waktu : 26 September 2015
Lokasi : Rumah Bapak Tisna Sanjaya
Jl. Sersan Bajuri Dalam No. 13 A, Bandung Hasil :
Banyak hal positif yang bisa dijadikan contoh dari apa yang telah dilakukan Ridwan Kamil selama kurang lebih 2 tahun masa jabatannya ini. Misalnya saja, alun-alun dan sekitarnya seperti Jalan Asia Afrika, Jalan Dalem Kaum, dan beberapa sudut di Jalan Braga. Tempat-tempat tersebut sudah dapat membuat publik senang, suka dan bahagia dengan datang kesana, terutama untuk berfoto selfie. Nah artinya, pemerintah ini sudah memiliki tujuan dengan memberikan kenyamanan dan sukacita pada publik.
Beberapa taman pun sebenarnya menjadi menarik. Seperti yang sekarang sedang dibangun, di Babakan Siliwangi, akan ada Amphitheater yang terletak di sudut sungai Cikapundung. Nantinya, air dari sungai Cikapundung itu akan disaring dan dialirkan ke bawah menjadi bersih, sehingga pemanfaatan ruang publik disana diperuntukkan untuk budaya, alam, air dan menjadi penyangga serta penjaga alam disana. Publik yang akan mengontrol kebersihan air disana seiring dengan kedatangan mereka nantinya. Teguran secara moral pun dapat diberikan pada warga setempat jika kualitas air mulai memburuk.
Jadi sebenarnya, hal-hal yang dilakukan pemerintah ini sudah positif. Tentu tanggung jawabnya bukan terletak pada pemerintah
saja, tetapi warga pun harus ikut menjaga dan berpartisipasi, bersifat kooperatif akan hal-hal yang telah dilakukan pemerintah.
Saya positif, apa yang dilakukan Ridwan Kamil, akan menjadi lebih baik lagi ke depannya. Hal ini akan menjadi legasi untuk pemerintahan berikutnya, menjadi panutan, saat Ridwan Kamil sudah tidak memimpin lagi.
Namun, bila ada yang belum termanfaatkan dengan baik, mungkin adalah adanya hal-hal yang tidak melalui proses riset terlebih dahulu sehubungan dengan taman-taman tersebut, dan ini sangat penting. Mungkin beberapa taman perlu di revitalisasi atau ditambah objek-objek yang dapat membuat taman tersebut diminati atau disukai untuk didatangi oleh publik.
Gagasan penamaan yang diberikan pemerintah atas taman-taman itu mungkin karena pemerintah ingin memberi inspirasi pada warga dengan memberikan banyak pilihan terhadap ruang-ruang itu. Namun pertanyaannya adalah, apakah itu efektif apa tidak? Apakah ada partisipasi dari warga? Posisinya, jika taman tetap sepi dan tidak menjadi keseharian bagi warganya, mungkin pemerintah kota sebaiknya tidak main sendiri. Harus ada riset dan wawancara dengan publik. Saat ingin melakukan pembangunan, sebaiknya di published, biarkan warga tahu dan turut memberikan pendapat, melakukan segala sesuatunya transparan, dan membiarkan publik turut berpartisipasi.
Perancangan taman-taman itu harus disertai partisipasi dari publik, karena kalau tidak ada, tidak akan dijaga dan tidak akan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
2.1.3 Data Target
Taman kota, dalam kaitannya sebagai ruang publik, adalah ruang yang diperuntukkan untuk seluruh lapisan masyarakat. Namun, menjadikan seluruh lapisan masyarakat sebagai target sasaran komunikasi, akan membuat komunikasi menjadi tidak tajam dan efektif.
Penulis akan membatasi target audience agar komunikasi dapat lebih terarah dan tajam. Adapun pertimbangan dalam menetapkan target audience tersebut adalah sebagai berikut:
- Target audience dapat merespon dengan cepat ajakan/himbauan yang akan dikomunikasikan oleh penulis.
- Gemar dan banyak beraktifitas.
- Memiliki paling sedikit masalah/pertimbangan untuk melakukan aktivitas di luar ruang.
Penulis tidak dapat memilih usia yang terlalu muda, karena usia yang lebih muda biasanya masih membutuhkan pengawasan orang dewasa saat ingin melakukan aktivitas di luar ruang. Penulis juga tidak dapat memilih usia yang terlalu tua, karena orang yang lebih tua biasanya memiliki banyak pertimbangan dan kesibukan seperti: kesehatan, pekerjaan, keluarga, dan sebagainya.
Melalui pertimbangan-pertimbangan di atas, penulis menarik kesimpulan bahwa audiens yang paling ideal untuk menjadi target komunikasi penulis adalah kelompok masyarakat dengan rentang usia 16-25 tahun, yang terdiri dari anak SMA, kuliah dan usia awal bekerja. Dan tentunya, target audience ini harus berdomisili di Bandung dan sekitarnya. (suburb Kota Bandung) Selain itu, target audience ini bukanlah mereka yang memiliki banyak alternatif untuk beraktivitas dengan dukungan kemampuan ekonomi, melainkan mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi. Mereka yang memiliki lebih sedikit alternatif ini memiliki kemungkinan lebih besar untuk memilih “taman” sebagai alternatif tempat beraktivitas, karena relatif murah, dapat menikmati beberapa fasilitas tambahan tanpa dipungut biaya dan bersifat rekreatif. Dengan demikian, penulis akan memfokuskan target audience pada kelas sosial ekonomi B dan C.
Adapun info yang ingin penulis ketahui lebih dalam dari target audience ini adalah ingin mengetahui adanya minat, pandangan dan harapan dari audiens terhadap taman-taman yang ada di Kota Bandung. Informasi ini akan digali melalui penyebaran kuesioner yang penulis sertakan dalam lampiran.
2.1.3.1 Demografis
- Jenis Kelamin : Pria dan Wanita. - Usia : 16 – 25 tahun.
- Pendidikan : SMA, S1.
2.1.3.2 Geografis
- Domisili : Indonesia. - Provinsi : Jawa Barat
- Kota : Bandung dan sekitarnya. (suburb area Kota Bandung)
2.1.3.3 Psikografis
Merupakan pemuda pemudi gaul Bandung yang berorientasi pada kekinian, mengidentifikasi diri dengan bergaya hipster. Adapun ciri-ciri maupun kepribadian mereka adalah sebagai berikut:
- Memiliki kebutuhan sosial yang tinggi, (gaul, suka nongkrong, tergabung dalam komunitas, aktif dalam sosial media, dll)
- Tertarik menunjukkan kepedulian sosial & lingkungan, - Suka jalan-jalan,
- Memiliki preferensi tinggi akan produk-produk Indie, - Tertarik dengan hal-hal yang baru dan unik,
- Melek teknologi, - Percaya diri,
- Tend to be independent, - Idealis,
- Easygoing,
- Suka beraktivitas diluar, - Mengikuti tren.
2.1.4 Kuesioner Target Sasaran
Tujuan dari penyebaran kuesioner terhadap para responden yang tidak lain adalah target audience penulis dalam perancangan kampanye ini, adalah untuk mengetahui bagaimana minat, pandangan dan harapan audiens terhadap taman-taman yang ada di Kota Bandung. Data ini juga akan menjadi data pendukung dalam perancangan strategi komunikasi dan kampanye yang akan dibuat.
Dalam proses survey, penulis melempar 250 kuesioner terhadap responden. Data yang diterima oleh penulis kemudian di saring sesuai dengan
36 139 25 0 50 100 150 16-18 tahun 19-22 tahun 23-25 tahun
Berapa usia Anda saat ini?
target audience, yakni mereka yang berusia 16-25 tahun, merupakan anak SMA, kuliah dan usia awal bekerja. Responden seluruhnya berdomisili di Bandung dan sekitarnya (suburb area Kota Bandung), sehingga kuesioner yang terkumpul dan memenuhi syarat berjumlah 200 buah. Data ini terdiri dari 100 kuesioner dilakukan dengan cara penyebaran langsung, dan 100 kuesioner dilakukan melalui penyebaran secara online. (Google Docs)
Data kuesioner yang dibagikan secara langsung, penulis gabungkan ke dalam spreadsheet data penyebaran kuesioner yang dilakukan secara online guna mempermudah penulis menghitung data hasil kuesioner. Data yang diperoleh sudah terbentuk dalam bagan atau diagram, sehingga memudahkan penulis untuk maju ke tahap berikutnya, yakni menganalisa hasil kuesioner.
2.1.4.1 Analisa Data Umum Responden
Diagram 1 Diagram batang usia, jenis kelamin dan pekerjaan responden
Dari kuesioner yang dibagikan pada 200 orang responden yang seluruhnya berdomisili di Kota Bandung, sebanyak 36 orang responden (18%) menjawab berusia antara 16-18 tahun. Sebanyak 139 orang responden (69.5%) menjawab berusia antara 19-22 tahun.
91 109 80 90 100 110 120 Pria Wanita Jenis Kelamin
Apa pekerjaan Anda saat ini?
27 114 36 23 0 20 40 60 80 100 120 Pelajar Mahasiswa/i Karyawan Other
Dan sebanyak 25 orang responden (12.5%) menjawab berusia antara 23-25 tahun.
Jawaban ini berkaitan erat dengan jenis pekerjaan responden; sebanyak 27 orang responden (13.5%) menjawab bahwa dirinya adalah seorang pelajar. Sebanyak 114 orang responden (57%) menjawab bahwa dirinya adalah seorang mahasiswa/i. Sebanyak 36 orang responden (18%) menjawab bahwa dirinya adalah seorang karyawan. Dan sebanyak 23 orang responden (11.5%) menjawab dirinya diluar dari tiga pilihan jawaban yang disediakan.
Mereka terbagi berdasarkan jenis kelamin; 91 orang responden (45.5%) berjenis kelamin pria, dan sebanyak 109 orang responden (54.5%) berjenis kelamin wanita.
Berdasarkan hasil kuesioner pada ke-3 pertanyaan ini, penulis mendapatkan informasi bahwa responden telah sesuai dengan target audience yang telah ditetapkan, sehingga dapat digali informasi lebih dalam lagi untuk kepentingan penyusunan strategi komunikasi dan kampanye yang lebih fokus.
2.1.4.2 Data Wilayah Tempat Tinggal (Kecamatan/Kodepos/Nama Jalan)
Dari hasil kuesioner diperoleh data bahwa responden seluruhnya berdomisili di kota Bandung dan area sekitarnya. (suburb Kota Bandung) Data ini menunjukkan bahwa responden adalah benar masyarakat kota Bandung dan sekitarnya sehingga relevan dinyatakan sebagai pengguna taman-taman di Kota Bandung.
2.1.4.3 Analisa Data Hal yang Paling Disukai
Diagram 2 Diagram batang tentang kegiatan yang paling disukai responden
Dari jawaban responden, penulis memperoleh temuan tentang hal-hal yang diminati atau yang paling menarik bagi responden dan akan penulis uraikan sebagai berikut:
- Dari diagram di atas terlihat jelas bahwa hampir seluruh kegiatan yang paling disukai/diminati responden merupakan atau dapat menjadi aktivitas luar ruang.
- Ada 6 hal yang diminati oleh lebih dari 50 orang responden:
Nonton film 112 orang Wisata kuliner 92 orang Travelling 90 orang
Olahraga 68 orang
Main game 68 orang Baca buku 66 orang
- Informasi/data mengenai hal-hal yang paling diminati atau paling menarik bagi responden ini akan penulis gunakan dalam penyusunan strategi komunikasi dan perancangan kampanye, termasuk pemilihan mediumya.
- Informasi ini pun dapat dimanfaatkan untuk menjalin kemitraan dalam pelaksanaan kampanye nantinya; bekerja sama dengan perusahaan, pemilik bisnis/pengusaha juga komunitas-komunitas di bidang terkait.
2.1.4.4 Analisa Data Tentang Media Sosial yang Paling Sering Digunakan
Diagram 3 Diagram batang media sosial yang paling sering digunakan
Data ini mendukung pendapat umum, bahwa kaum muda Indonesia adalah para pengguna internet, khususnya media sosial. (heavy user) Bahkan pihak Facebook sendiri pernah menyatakan bahwa orang Indonesia adalah pengguna Facebook ke-2 terbesar di dunia.
“Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), mencatat saat ini pengguna internet di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan, yakni mencapai 82 juta orang di triwulan pertama tahun 2014. Dengan capaian tersebut, Indonesia kini berada pada peringkat 8 dunia. Jumlah tersebut tentu saja mengalami kenaikan dari tahun 2013 yang mencapai angka 71,19 juta orang, dan ahun 2012 berjumlah 63 juta orang.”
Pengguna Instagram dewasa ini meningkat pesat seiring dengan meningkatnya kegemaran orang-orang akan fotografi yang dimudahkan dengan kebedaraan ponsel pintar. Informasi ini sejalan dengan temuan dari kuesioner, bahwa dari 200 responden yang
90 29 112 67 25 0 50 100 150 Facebook Twitter Instagram Path Other
Media sosial apakah yang paling sering Anda gunakan?
menjawab, 56%-nya adalah pengguna Instagram. Dan berikutnya, 45%-nya merupakan pengguna Facebook.
Data dan informasi yang digambarkan oleh diagram ini akan penulis gunakan dalam perancangan kampanye, untuk memilih medium yang tepat dan mengoptimalkan media sosial yang paling potensial sebagai penyampai pesan yang efektif.
2.1.4.5 Analisa Data Tentang Pernah/Tidak Pernah Mengunjungi Taman
Diagram 4 Diagram lingkaran, tentang pernah / tidaknya mengunjungi taman-taman di Kota Bandung
Dari 200 responden, yang menjawab “Tidak” ada sebesar 45,5%, yang berarti hampir setengahnya dari jumlah responden tidak pernah mengunjungi taman. Data ini memperkuat hasil observasi awal yang penulis lakukan, bahwa taman-taman kota di Bandung ini tidak banyak dikunjungi warga. Data ini menunjukkan informasi, bahwa 45,5% responden yang tidak pernah mengunjungi taman ini merupakan potential user, orang-orang yang memiliki potensi untuk menjadi pengunjung/pengguna taman, namun belum bergerak/bertindak.
Pada pertanyaan berikutnya, penulis akan menggali informasi lebih dalam; responden yang menjawab “Ya” melanjutkan pengisian
109 91
Dengan banyaknya taman di Bandung, apakah Anda pernah mengunjunginya?
kuesioner ke kelompok pertanyaan A, dan yang menjawab “Tidak” melanjutkan pengisian kuesioner ke kelompok pertanyaan B.
2.1.4.6 Analisa Data A – Taman yang Pernah Dikunjungi
Diagram 5 Diagram batang tentang taman yang pernah dikunjungi
Dari data yang tergambar dalam diagram ini, penulis memperoleh beberapa temuan yang menarik:
- Taman yang paling banyak dikunjungi responden adalah Taman Lansia (pernah dikunjungi 61 orang). Padahal dilihat dari segi usia, responden merupakan kaum muda. Hal ini berarti peruntukan/penamaan taman ini tidak mempengaruhi keputusan responden dalam memilih taman yang dikunjunginya. 27 18 22 43 52 47 61 5 10 21 8 6 9 13 0 10 20 30 40 50 60 70 Taman Vanda Taman Kandaga Puspa Taman Fotografi Taman Musik Taman Film Taman Pasupatu/Jomblo Taman Lansia Taman Gesit Taman Fitness Pet Park Taman Persib Taman Skate Taman Superhero Other
- Taman Film menduduki posisi urutan kedua yang paling banyak dikunjungi (pernah dikunjungi 52 orang), urutan ketiganya adalah Taman Jomblo/Pasupati (pernah dikunjungi oleh 47orang), dan di urutan keempat adalah Taman Musik. (pernah dikunjungi 43 orang) Dari data ini penulis memperoleh informasi bahwa peruntukan/penamaan/tema taman yang berhubungan dengan MINAT (interest) responden, ternyata banyak dikunjungi responden. Dengan kata lain, peruntukan/penamaan/tema taman yang dikaitkan dengan bidang/hal yang diminati responden itu berpotensi menjadi daya tarik bagi pengunjung.
- Namun di urutan selanjutnya, Taman Vanda (pernah dikunjungi 27 orang), padahal dari segi nama/tema, taman ini tidak merujuk pada peruntukan tertentu dan tidak dikaitkan dengan MINAT (interest). Temuan ini senada dengan temuan tentang Taman Lansia di poin pertama, yakni penamaan/peruntukan taman tidak menjadi faktor penentu keputusan responden untuk mengunjungi sebuah taman. Temuan tersebut tampak tidak konsisten dengan temuan di poin kedua.
Temuan-temuan yang tampak saling bertolak belakang ini akan terjelaskan setelah penulis menganalisa data dari jawaban pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.
2.1.4.7Analisa Data A - Taman yang Paling Sering Dikunjungi
Diagram 6 Diagram batang tentang taman yang paling sering dikunjungi
Diantara taman-taman yang pernah dikunjungi responden, taman yang paling sering dikunjungi responden tampak beragam. Hal ini belum dapat membuktikan preferensi responden, walaupun demikian, data ini menjadi penting untuk membuktikan faktor yang mempengaruhi ketertarikan responden pada taman tertentu, yang akan digali dalam analisa data di pertanyaan selanjutnya.
Ada 4 taman yang angkanya tampak lebih menonjol di bandingkan yang lainnya, yakni:
Taman Pasupati/Jomblo/Skate 30 orang
Taman Lansia 29 orang
Taman Film 27 orang
Taman Musik 22 orang
Jadi, taman yang paling banyak dikunjungi reponden ternyata juga merupakan taman yang paling sering dikunjungi.
1 6 2 4 2 5 3 8 10 30 29 10 27 12 2 22 0 5 10 15 20 25 30 35 Taman Panatayuda Taman Superhero Alun-Alun Taman Fitness Taman Gesit Taman Balai Kota Taman Lalu Lintas Taman Kandaga Bunga Taman Fotografi Taman Pasupati/Jomblo/Skate Taman Lansia Pet Park Taman Film Taman Vanda Taman Persib Taman Musik
2.1.4.8 Analisa Data A - Terakhir Kali Datang ke Taman
Diagram 7 Diagram batang tentang kapan terakhir kali datang ke taman
Data ini menunjukkan kemungkinan pengulangan kunjungan responden ke taman-taman yang ada. Dari angka tertinggi pada diagram ini, bisa tergambar informasi bahwa 48,6% dari jumlah responden tidak melakukan pengulangan kunjungan ke taman manapun selama 1 bulan terakhir. Bahkan yang pernah berkunjung setahun yang lalu, mencapai 20,2% dari jumlah responden. Dengan tidak dilakukannya pengulangan kunjungan ini menunjukkan lemahnya keinginan responden untuk melakukan kunjungan berikutnya ke taman. Adapun alasannya akan digali dalam analisa selanjutnya.
2.1.4.9 Analisa Data A – Kapan Biasanya Pergi ke Taman
Diagram 8 Diagram batang tentang kapan biasanya pergi ke taman
Data ini menggambarkan kebiasaan responden untuk pergi ke taman, yang secara umum dilakukan pada hari libur atau akhir pekan. Angka terendah terdapat pada hari kerja, padahal taman-taman
32
53 22
2
0 20 40 60
1 minggu yang lalu I bulan yang lalu 1 tahun yang lalu 2 tahun yang lalu
Kapan terakhir kali Anda datang ke taman?
tersebut terbuka bagi siapapun setiap hari. Data ini akan penulis gunakan sebagai informasi dalam perancangan kampanye sosial, untuk memilih momen yang tepat untuk mengajak orang berkunjung ke taman seefektif mungkin. Tanpa menutup kemungkinan untuk melihat kesempatan meningkatkan kebiasaan berkunjung ke taman di hari kerja.
2.1.4.10 Analisa Data A - Kegiatan yang Dilakukan di Taman
Diagram 9 Diagram batang tentang kegiatan yang dilakukan di taman *catatan: responden boleh memilih lebih dari 1 jawaban
“Nongkrong” adalah kegiatan yang, secara signifikan, dilakukan oleh lebih banyak responden di taman. Umumnya jawaban responden menunjukkan kegiatan yang bersifat rekreatif, namun dengan adanya 23,9% responden yang menjawab “menghadiri event” dan 19,3% responden mengaku “melakukan kegiatan bersama komunitas”, penulis melihat besarnya kemungkinan mengadakan event di taman dan kegiatan berasama komunitas sebagai dua hal yang berpotensi menjadi daya tarik bagi responden untuk mengunjungi taman. 12 73 5 26 4 1 5 8 21 19 0 20 40 60 80 Olahraga Nongkrong Baca buku Me nghadiri event Belajar Bekerja Pacaran Piknik Kegiatan bersama komunitas Other
2.1.4.11 Analisa Data A –Taman yang Paling Disukai Responden
Diagram 10 Diagram batang tentang taman yang paling disukai responden
Berikut adalah alasan-alasan reponden menyukai taman tersebut:
Tabel 5 Alasan Responden Menyukai Suatu Taman
No. Taman Alasan
1 Taman Lansia Asri (2 orang), bagus untuk foto-foto, nyaman (3 orang), sejuk, dekat tempat makan, banyak pohonnya (4 orang), adem (3orang), luas, bersih, strategis, asik untuk jalan-jalan, segar, dekat rumah, ada trek lari, pedagang kakilima, pagi hari benar-benar dipake OR, tidak terlalu ramai.
2 Taman Film Bisa nonton sambil guling-guling, bagus, berguna, dekat rumah, fasilitas untuk nonton, rumput buatannya, banyak event, paling menarik, di bawah jalan layang jadi sejuk, nyaman, bisa nonton bareng, suka yang berbau film, cinta perfilman Indonesia, nyaman, saat event ramai dikunjungi, bisa nonton film dokumenter, inovatif.
3 Taman Musik Nongkrong, WiFi gratis, rame, banyak teman, banyak makanan, banyak yang main musik, banyak komunitas musik, kadang ada live
music, bagus, enak, dekat rumah.
4 Taman Vanda Nyaman, ada air mancur (3 orang), bagus, dekat Braga, bagus saat malam, konsepnya beda, bersih, nyaman.
5 Taman Jomblo/Pasupati Internet & dekat Baltos, sering lewat, banyak gojek, masih jomblo, dekat kampus.
6 Taman Balaikota Paling rapi dan canggih, sejuk, luas, indah, bersih, rindang, dekat kampus.
7 Pet Park Bisa ngajak anjing jalan-jalan, ketemu komunitas pecinta hewan, nyaman, pecinta hewan.
8 Taman Fotografi Bagus, jauh dari keramaian, menarik, bagus buat foto-foto, enak untuk duduk-dukuk.
9 Alun-alun Ada di pusat kota, banyak orang yang bisa diamati. 10 Taman Lalu Lintas Banyak objek foto.
11 Taman Panatayuda Strategis dan sepi. 12 Taman Fitness Sarana olah raga. 13 Taman Persib Enak untuk nonton bareng. 14 Taman Superhero Dekat rumah.
Sumber: Kuesioner Livina Intania
Data yang didapat dari jawaban atas pertanyaan ini sejalan dengan data tentang taman yang paling sering dikunjungi. Dengan melihat alasan responden memilih taman yang paling disukai, maka penulis memperoleh informasi yang menjelaskan temuan-temuan yang bertolak belakang seperti yang disebutkan dalam pembahasan
Gambar 5. Diagram Batang tentang Taman yang pernah dikunjungi. (hal 25)
Berikut adalah hasil analisa dari jawaban atas kedua pertanyaan tersebut:
- Bahwa peruntukan/penamaan/tema sebuah taman tidak mempengaruhi keputusan responden dalam memilih taman yang dikunjunginya atau yang paling disukai. Hal ini terlihat dari jawaban responden yang konsisten menyebutkan Taman Lansia sebagai taman yang paling banyak dikunjungi, sering dikunjungi dan juga merupakan taman yang paling disukai. Yang menjadi faktor penentu Taman Lansia untuk disukai adalah: asri, sejuk dan banyak pohon, dimana semuanya itu merupakan elemen elemen KONDISI TAMAN. Lalu responden juga menyebutkan: dekat tempat makan dan trek lari, dimana kedua hal ini merupakan FASILITAS PENDUKUNG.
- Di sisi lain, alasan yang menyebabkan responden memilih Taman Film, Taman Musik dan Taman Vanda (merpakan urutan selanjutnya dari 4 taman yang angkanya tertinggi), bukanlah karena peruntukan/penamaan/tema saja. Melainkan karena kondisi taman dan fasilitas pendukung taman itu sendiri. Sesuai yang dinyatakan responden; bagus, enak, berguna, nonton film/live music/WiFi gratis, nyaman, bersih, air mancur.
- Sementara itu, taman - taman lain yang peruntukan/nama/tema-nya dikaitkan dengan MINAT, ternyata angkanya tidak cukup besar, yang berarti tidak banyak disukai responden; Taman Fotografi 4 responden, Taman Fitness 1 responden, bahkan Taman Pasupati/Jomblo/Skate yang paling sering dikunjungi pun, hanya disukai oleh 6 responden saja.
Dari sini, penulis menarik benang merah dari semua data yang dijelaskan di atas, bahwa faktor yang paling berperan dalam menentukan daya tarik sebuah taman adalah:
- Faktor utama: Kondisi taman dan fasilitas pendukungnya. - Faktor kedua: Minat (interest) yang tepat, dengan syarat,
faktor utamanya terpenuhi.
Hal ini terlihat dengan apa yang terjadi pada Taman Pasupati/Jomblo/Skate, dimana taman tersebut merupakan taman yang banyak dikunjungi dan paling sering dikunjungi oleh responden, tapi tidak disukai. Data menunjukkan, hanya 6 orang responden saja yang menyukai taman ini. Hal ini dengan jelas menunjukkan, bahwa kurangnya salah satu dari faktor utama, yakni kondisi taman (asri, sejuk dan banyak pohon), tidak cukup menjadi daya tarik yang kuat bagi responden untuk menyukai sebuah taman.
Informasi ini akan menjadi pertimbangan penting bagi upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan jumlah pengunjung/pengguna taman-taman yang ada.
Diagram 11 Diagram batang tentang hal yang paling disukai di taman *catatan: responden boleh memilih lebih dari 1 jawaban
Dari pertanyaan ini diperoleh 26 jawaban responden yang menyebutkan suasana dan kondisi taman sebagai hal yang paling disukai responden pada taman tertentu. (suasana tenang, nyaman, pemandangan, kebersihan dll) Data ini semakin memperkuat hasil analisa sebelumnya, bahwa kondisi taman merupakan faktor penentu bagi responden untuk menyukai sebuah taman. Ada dua jawaban lain yang ikut mendukung analisa ini, responden yang menjawab “pohon dan bunga” (17 jawaban) serta “keunikan khusus” (2 jawaban), karena hal – hal tersebut termasuk elemen yang ikut membentuk “suasana dan kondisi taman”.
Selain itu, penulis juga menemukan banyak informasi berharga yang akan digunakan dalam penyusunan rancangan kampanye sosial yang lebih relevan bagi target sasaran. Seperti kesukaan responden terhadap “interaksi/sosialisasi” yang dilakukan di taman (17 jawaban), dapat melakukan “aktifitas rekreatif”. (17 jawaban) Kedua hal ini dapat dikatakan berpotensi menjadi daya tarik target sasaran untuk mengunjungi taman. Sementara itu, “tempat duduk” (7 jawaban), “WiFi” (6 jawaban) dan “penjual makanan” (3 jawaban), merupakan fasilitas pendukung yang dimiliki taman, yang berarti memang merupakan faktor yang patut diperhatikan agar sebuah taman semakin menarik untuk dikunjungi.
2.1.4.13 Analisa Data A - Hal yang Paling Tidak Disukai di Taman
Diagram 12 Diagram batang tentang hal yang paling tidak disukai di taman *catatan: responden boleh memilih lebih dari 1 jawaban
Masalah kebersihan dan perawatan taman terlihat jelas menjadi hal yang paling tidak disukai responden. (48 jawaban menyebutkan paling tidak suka taman yang kotor, banyak sampah, 11 jawaban meyebutkan tidak suka bila ada pengunjung yang bersikap tak peduli pada taman, 7 jawaban menyebutkan tidak suka melihat taman yang berantakan, tak terpelihara, gersang dan kumuh) Ketiga hal tersebut, saling berkaitan dan mengacu pada hal yang sama, yakni kebersihan taman. Dengan demikian, analisa data ini semakin
memperkuat analisa sebelumnya, karena kebersihan taman merupakan elemen dari kondisi taman. Bila ada hal negatif pada kondisi sebuah taman, maka daya tariknya dapat melemah.
Selain itu, informasi mengenai pentingnya kebersihan ini patut menjadi catatan bagi penulis untk memperhitungkan pencarian solusinya sebagai bagian dari kampanye sosial yang akan dilaksanakan nanti.
2.1.4.14 Analisa Data A - Perasaan Ketika Mengunjungi Taman
Diagram 13 Diagram batang tentang gambaran perasaan ketika mengunjungi taman
Dapat dikatakan bahwa secara umum, para responden merasa cukup senang ketika berkunjung ke taman. Tidak ada jawaban yang signifikan menyatakan ketidaksenangan, sehingga dapat dikatakan, pengalaman mengunjungi taman ini termasuk pengalaman positif bagi responden. Informasi ini membantu meringankan tugas kampanye sosial nantinya, tak ada pengalaman negatif yang secara signifikan harus diubah menjadi pengalaman positif.
2.1.4.15 Analisa Data A - Kenyamanan Taman
Diagram 14 Diagram batang tentang gambaran kondisi kenyamaan taman di Bandung
Umumnya responden menjawab kenyamanan taman - taman di Bandung ini cukup baik. Dapat diartikan bahwa upaya perbaikan dan peningkatan yang perlu dilakukan bukan merupakan masalah besar, namun tetap bermanfaat untuk dilakukan sehingga dapat bersinergi dengan kampanye sosial yang berupaya meningkatkan jumlah pengunjung/pengguna taman - taman tersebut.
2.1.4.16 Analisa Data A - Taman yang Diinginkan
Secara garis besar, informasi yang diperoleh dari pertanyaan ini menunjukkan taman yang ideal yang diharapkan responden. Disamping itu, dengan munculnya beragam jawaban tentang taman yang diinginkan, penulis menggarisbawahi adanya antusiasme responden tentang keberadaan sebuah taman. Konsisten dengan informasi yang diperoleh dari pertanyaan sebelumnya tentang tanggapan responden terhadap taman; mereka senang dengan keberadaan taman-taman ini, punya pengalaman positif, namun membutuhkan stimulus yang tepat untuk meningkatkan ketertarikan, kesukaan dan akhirnya menjadi kebutuhan untuk datang ke taman. Memanfaatkannya sebagai ruang publik sebagaimana mestinya.
Data mengenai taman yang diinginkan ini penulis sertakan di dalam lampiran skripsi.
2.1.4.17 Analisa Data B - Alasan Tidak Pernah Berkunjung ke Taman
Diagram 15 Diagram batang tentang alasan tidak pernah berkunjung ke taman
Dari 200 responden, yang menjawab “Tidak pernah mengunjungi taman” ada sebesar 45,5%, yang berarti hampir setengahnya dari jumlah responden yang ada, mengungkapkan alasan sebagai berikut:
- 47 orang menyatakan “Tidak Sempat”; yang berarti tidak memiliki masalah signifikan untuk berkunjung ke taman di kemudian hari, bila memiliki waktu yang tepat.
- 32 orang menyatakan “Tidak Tertarik”; menunjukkan adanya masalah yang perlu digali lebih jauh untuk membangkitkan ketertarikan responden. Informasi yang diperoleh tentang minat responden yang ditanyakan di awal kuesioner memungkinkan ditemukannya cara yang dapat menjadi solusi bagi masalah ini.
- 27 orang menyatakan “Bukan Prioritas”; merupakan gambaran salah satu masalah yang juga harus diselesaikan oleh kampanye sosial. Dengan strategi komunikasi yang tepat, diharapkan para “potential user” ini dapat diubah menjadi “real user” terhadap taman - taman yang ada. - Demikian pula dengan 15 orang yang saat ini “merasa
sosial ini, diharapkan dapat dapat berubah dan menjadi merasa perlu untuk datang ke taman.
2.1.4.18 Analisa Data B - Pernah Melihat/Mendengar Hal Negatif Tentang Taman
Diagram 16 Diagram batang tentang melihat/mendengar hal negatif tentang taman
Data ini memberikan informasi tentang adanya hal - hal yang menjadi masalah dan harus diselesaikan oleh pihak pengelola taman. Namun demikian, informasi ini masih membutuhkan penelitian lanjutan di luar cakupan penelitan ini.
25
66
Apakah Anda pernah melihat/mendengar hal negatif tentang taman-taman di Bandung?
2.1.4.19 Analisa Data B - Hal Negatif Tentang Taman
Diagram 17 Diagram batang tentang hal negatif tentang taman
Data ini menunjukkan informasi tentang hal-hal yang butuh dibenahi oleh pihak pengelola taman, seperti masalah keamanan, dijadikan tempat berkumpulnya orang - orang yang membuat warga tak nyaman dan lain - lain. Akan tetapi, hal yang paling sering disebut sebagai masalah, yakni seputar sampah dan masalah kebersihan, muncul sebagai hal negatif yang paling sering dilihat/didengar responden. Data ini konsisten dengan temuan sebelumnya karena masalah ini terkait dengan perilaku pengunjung taman, maka dimungkinkan bagi penulis untuk memasukkan hal ini sebagai salah satu topik kampanye sosial yang akan dilaksanakan.
2.1.4.20 Analisa Data B – Darimana Mendengar Informasi Tentang Taman
Diagram 18 Diagram batang tentang darimana mendengar informasi tentang taman
Dari diagram ini penulis mendapat temuan bahwa penggunaan medium komunikasi tentang taman ini masih bisa dioptimalkan, terutama melalui media internet, dengan memadukan hasil analisa tentang penggunaan media sosial yang penulis dapatkan. Selain itu, karena tingginya angka yang menunjukkan bahwa 53,8% responden melihat sendiri dan 46,2% responden mendengar dari orang lain, penulis melihat kesempatan untuk memanfaatkan lokasi taman itu sendiri sebagai salah satu medium kampanye sosial yang kemudian dapat bergaung lebih besar karena kekuatan word of mouth.
2.1.4.21 Analisa Data B - Hal yang Membuat Tertarik untuk Mengunjungi Taman
Diagram 19 Diagram batang tentang hal yang membuat tertarik untuk mengunjungi taman
Sekali lagi, kondisi taman (keindahan taman) muncul sebagai faktor penentu yang mampu meningkatkan ketertarikan calon pengunjung taman. Adanya event di taman pun berpotensi besar menjadi daya tarik, selain tentunya kelengkapan fasilitas, seperti WiFi, harus dipertahankan atau bahkan ditingkatkan.
2.1.5 Analisa
2.1.5.1 Analisa SWOT Taman Kota A. Strength
- Besarnya minat responden yang sesuai dengan target market penulis terhadap aktivitas diluar ruang memperbesar peluang aktivitas di taman kota menjadi aktivitas yang diminati dan digemari.
- Begitu banyaknya anak muda Bandung yang telah berkecimpung dalam bisnis kreatif merupakan aset berharga sehingga aktivitas di taman dapat dijadikan sarana untuk memelihara dan meningkatkan tren kreativitas ini.
- Taman kota dapat menjadi titik temu bagi semua khalayak, dimana perbincangan, perdebatan dan segala aktivitas dan interaksi sosial dapat terjadi di dalamnya.
- Begitu banyak hasil penelitian mengenai manfaat-manfaat positif berkegiatan di ruang terbuka hijau (RTH) atau taman kota, seperti: dapat meningkatkan produktivitas, meningkatkan daya konsentrasi, meningkatkan kebahagiaan, dan lain-lain.
- Banyaknya aktivitas-aktivitas yang diadakan di taman dapat menciptakan peluang-peluang kreativitas dan meningkatkan perekonomian warga.
B. Weakness
- Pengelolaan taman yang kurang terstruktur dan jelas, menghambat keterikatan emosi yang seharusnya terjalin antara warga dan taman.
- Kondisi taman yang kurang terpelihara dan kotor memberikan kesan negatif terhadap warga, yang juga, meghambat keterikatan emosi warga terhadap taman.
- Tidak terjalinnya komunikasi yang baik antara pengelola taman dan warga, mendukung ketidak akraban hubungan warga dengan taman.
C. Opportunity
- Warga dapat dibangkitkan keinginannya untuk memanfaatkan taman yang ada. Aktivitas secara langsung di taman-taman tersebut dapat menjadi pengalaman positif yang berpotensi besar membangun keterlibatan emosi dan sense of belonging warga terhadap taman-taman tersebut.
- Adanya Peraturan Mentri Pekerjaan Umum Nomor: 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan yang berlandaskan dari UU Nomor 26 Tahun 2007 untuk pengaturan ruang terbuka hijau dalam rangka mewujudkan ruang kawasan perkotaan yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan.
- Tren “kreativitas” yang memang sedang booming serta adanya dukungan dari pemerintah dengan adanya Parekraf, mendukung cara penyelesaian masalah secara kreatif.
- Teknologi telah memudahkan orang-orang untuk melakukan aktivitas di berbagai sisi bidang kehidupan. Didukung dengan bervariasinya harga smartphone yang semakin lama semakin terjangkau, orang-orang pun semakin beramai-ramai menggunakan smartphone.
D. Threat
- Belum terbentuknya kebiasaan warga untuk datang ke taman. - Rendahnya sense of belonging akan taman-taman yang ada,
sehingga tak berhasil menimbulkan keinginan untuk memanfaatkan taman-taman tersebut dan akhirnya gagal menciptakan kepedulian untuk menjaga dan memeliharanya. - Warga yang pernah mengunjungi taman memiliki kesan
negatif karena kondisi taman yang kurang terpelihara dan kotor.
- Begitu banyaknya media berita yang menyiarkan berita tentang kejahatan, membuat orang-orang enggan untuk beraktivitas diluar ruang.
- Kekhawatiran masyarakat akan penggunaan internet atau smartphone secara berlebihan, yang menyebabkan keengganan untuk beraktivitas luar ruang, masih terjadi hingga saat ini.
2.2 Tinjauan Khusus
2.2.1 Teori Ruang Publik
Hardiman (2010), dalam bukunya mengatakan bahwa ruang publik adalah suatu arena, dimana relasi-relasi diskursif dapat berlangsung, yakni suatu arena untuk mempertimbangkan dan memperdebatkan semua hal yang berkaitan dengan kepentingan bersama.
Semakin ruang publik terbuka, semakin dimungkinkan terbentuknya perserikatan yang bebas dan pertukaran gagasan, semakin besar pula
kemampuan mendukung demokratisasi masyarakat. Suatu bentuk pertukaran ide yang demokratik ditandai oleh debat terbuka, alternatif, kepercayaan, dan mutualitas. Semuanya itu merupakan kondisi bagi kebebasan komunitas. Dalam ranah publik itu (polis) terbentuk kewarganegaraan dan sense of belonging yang mengatasi lingkup keluarga (oikos) dan hubungan lokal. Di situlah nilai-nilai universal dapat dikembangkan.
Berdasarkan teori diatas, inilah nilai-nilai dari ruang publik yang penulis harapkan dapat terwujud melalui kampanye yang akan diwujudkan dalam perancangan mobile app “Tanya Taman”. Bahwa ke depannya, meningkatkan kunjungan ke taman, sebagai salah satu bentuk dari ruang publik, bukanlah sekedar untuk membuat warga datang ke taman hanya untuk sekali bertandang, tapi menjadikan aktivitas datang ke taman ini menjadi suatu kebiasaan dan kebutuhan bagi warga Bandung dan sekitarnya, karena mereka dapat benar-benar merasakan nilai-nilai yang seharusnya tercipta dalam ruang publik tersebut.
2.2.2 AIDA Model
Dalam buku Advertising Management, AIDA model yang dirancang oleh Strong terdiri dari:
- Attention
Perhatian dapat di dapat dengan berbagai cara, dan salah satu cara yang baik adalah dengan mengejutkan mereka. Pembukaan yang baik mengarah pada masalah target sasaran, dan dimulai dengan pertanyaan sebagai berikut:
Have you ever…? Are you noticing…? Can you see…? - Interest
Setelah mendapatkan perhatian target sasaran, pertahankan kondisi ini dengan membuat orang lain pun tertarik. Berikut merupakan cara-cara untuk membuat mereka tertarik:
Dengarkan mereka membicarakan masalah mereka.
Beritahukan mereka tentang hal-hal yang dapat mempengaruhi masalah mereka.
Tunjukkan sesuatu, daripada hanya bicara. Ajak mereka untuk secara aktif berpartisipasi. - Desire
Ciptakan hasrat dalam diri target sasaran untuk melakukan aksi yang diharapkan ke depannya. Metode yang digunakan dapat berbagai macam, seperti:
Tunjukan bagaimana orang lain melakukan hal serupa dan bagaimana mereka memperoleh manfaat dari hal tersebut. Tunjukan bahwa hal yang ditawarkan dapat menyelesaikan
beberapa masalah target sasaran. - Action
Target sasaran melakukan hal-hal yang diharapkan.
Teori diatas merupakan acuan atau landasan teori yang akan penulis gunakan dalam merancang strategi komunikasi kampanye, agar dapat terkomunikasikan dengan efektif terhadap target audience.
2.2.3 Teori Kampanye
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kampanye diartikan sebagai gerakan atau tindakan serentak untuk melawan, mengadakan aksi, mengubah keadaan, mengubah perilaku, dan lain-lain (Lukman; 1996:437). Sedangkan sosial adalah semua hal yang berkenaan dengan masyarakat. Jadi kampanye sosial, merupakan suatu gerakan yang dilakukan untuk mengubah perilaku sesuatu yang berkenaan dengan kelompok masyarakat agar menuju ke arah tertentu sesuai dengan gerakan yang dilaksanakan oleh pembuat kampanye.
Safanayong, (2006 : 71) dalam bukunya menjelaskan bahwa, kampanye adalah suatu kegiatan promosi, komunikasi atau rangkaian pesan terencana yang khususnya spesifik atau untuk memecahkan masalah kritis; bisa masalah komersial, bisa juga masalah non-komersial, seperti: masalah sosial, budaya, politik, lingkungan hidup/ekologi.
- Tujuan utama : diarahkan kepada sasaran yang ditargetkan, meliputi kesadaran, pengertian, keyakinan, dan bertindak dalam waktu yang singkat.
- Tema terkait : memakai tagline, desain grafis atau pesan.
- Coordinated Rollout: tergantung pada batas waktu, semua elemen dapat dimunculkan sekaligus, melibatkan rencana media dan produksi.
Teori kampanye ini sangat relevan dalam hubungannya dengan tugas akhir penulis, yang berjudul “Perancangan Komunikasi Visual Mobile App “Tanya Taman” untuk Mendukung Kampanye Pemanfaatan Taman Kota di Bandung Sebagai Ruang Publik”, karena membantu penulis dalam merancang kampanye yang baik dalam upaya mencapai tujuannya.
2.2.4 Teori Mobile App
Salz (2013:11), dalam bukunya mengatakan bahwa mobile app dapat menghubungkan kembali semua kekuatan penyebaran informasi secara mobile. Ini merupakan media penyebaran masal sesungguhnya yang telah berkembang selama bertahun-tahun. Kekuatan dari penyebaran informasi secara mobile terletak dalam kesederhanaannya (simplicity), kehadirannya yang tak terbatas oleh suatu bentuk fisik tertentu (ubiquity) dan jangkauannya yang luar biasa (incredible reach).
Juga menurut Strader (2002:ix), dikatakan bahwa apa yang membuat mobile commerce unik dan mahir adalah bahwa ia mampu melepaskan batasan yang ada; melalui mobile commerce lokasi dan halangan perangkat fisik dalam electronic commerce dapat dihilangkan, dan yang tersisa adalah kemampuan commerce untuk di akses kapan saja, dimana saja dan praktis untuk segalanya.
Teori ini sangat relevan dengan kondisi target audience penulis, dimana mereka sudah terbiasa melakukan segala hal secara digital, yang berarti merujuk pada poin urgency dalam mendapatkan informasi dan praktis menjadi kunci yang penulis ambil dalam perancangan mobile app “Tanya Taman”.
2.2.5 Teori Grid
Samara, dalam bukunya mengatakan bahwa informasi yang terputus-putus merupakan manfaat dari pengaturan vertical column grid karena kolom dapat bergantung hanya pada blok teks kecil ataupun membuat kolom yang lebih lebar. Column grid sangat mudah menyesuaikan dan dapat digunakan untuk memisahkan berbagai jenis informasi. Sebagai contoh, beberapa kolom dapat disediakan untuk teks dan images, sementara keterangan gambar dapat diletakkan pada kolom yang berdekatan. Pengaturan ini jelas memisahkan keterangan gambar dari materi utama, tapi memunginkan desainer untuk menciptakan hubungan langsung antara keterangan gambar dan materi utama. Lebar sebuah kolom bergantung pada jenis teks yang digunakan. Tujuannya adalah untuk menemukan jumlah karakter yang nyaman dalam satu baris dengan ukuran yang tepat. Jika kolom terlalu sempit, hypenthation (-) akan menjadi terlalu berlebihan dan akan sulit memperoleh keseragaman. Sebaliknya, jika kolom terlalu lebar untuk ukuran teks yang digunakan, akan membuat pembaca kesulitan untuk menemukan sambungan dari baris sebelumnya.
Penggunaan teori vertical column grid sangat sesuai dalam perancangan mobile app “Tanya Taman” sebagai media utama kampanye ini. Banyaknya informasi yang akan ditampung dalam sebuah app membuat ia harus sangat fleksibel dalam pemisahan berbagai jenis informasi dan penggunaan lebar kolom yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan, dimana nantinya akan berpengaruh pada hirarkis tampilan masing-masing halaman.
2.2.6 Teori Navigasi
Berdasarkan iOS Human Interface Guidelines, mengimplementasikan navigasi yang medukung struktur dan tujuan sebuah aplikasi adalah hal yang penting. Secara garis besar, terdapat 3 gaya navigasi yang penggunaannya tergantung pada jenis aplikasi tertentu:
1. Hierarchial
Dalam aplikasi yang hirarkis, seorang user menavigasi dengan cara memilih satu pilihan per layar sampai ia tiba di halaman yang dituju. Untuk menavigasi ke tujuan lain, user harus mengulang
kembali beberapa langkah, atau bahkan memulainya dari awal dan membuat pilihan-pilihan berbeda.
2. Flat
Dalam aplikasi yang menerapkan struktur informasi Flat, user dapat menavigasi langsung dari satu kategori utama ke kategori lainnya, karena semua kategori utama ini dapat diakses langsung dari layar utama.
3. Content/Experience Driven
Sedangkan pada aplikasi berdasarkan Content/Experience Driven, struktur informasinya tentulah disusun berdasarkan konten dan pengalaman. Seperti seseorang yang memilih halaman tertentu pada sebuah buku dengan memilih melalui daftar isinya.
Dalam beberapa kasus, penggabungan beberapa jenis gaya navigasi berjalan sangat baik. Misalnya, beberapa hal dari sebuah kategori pada struktur informasi Flat, dapat ditampilkan lebih baik dengan cara hirarkis.
Dalam penyusunan mobile app”Tanya Taman”, penulis menggunakan ketiga gaya navigasi ini sesuai dengan kebutuhan dan sifat masing-masing fitur dan konten.
2.2.7 Teori Ikon
Berdasarkan iOS Human Interface Guidelines, setiap aplikasi membutuhkan ikon aplikasi yang indah. Berikut adalah beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam membuat ikon aplikasi:
- Ikon aplikasi merupakan bagian penting dari sebuah aplikasi. Ini merupakan pendekatan desain untuk menceritakan kisah sebuah aplikasi dan membangun hubungan emosional dengan pengguna. - Ikon aplikasi terbaik adalah yang unik, rapi, menarik, dan mudah
diingat.
- Ikon aplikasi perlu terlihat baik pada berbagai ukuran dan latar belakang yang berbeda. Rincian yang mungkin memperkaya ikon pada ukuran besar dapat membuatnya terlihat kotor pada ukuran kecil. Sedangkan untuk template icons, iOS mendefinisikan banyak ikon kecil standar, seperti Refresh, Action, Add, dan Favourite. Sebisa mungkin, ikon ini harus digunakan untuk mewakili tugas standar dalam sebuah aplikasi.
Jika dalam sebuah aplikasi terdapat mode yang tidak termasuk dalam ikon standar atau ikon standar ini tidak sesuai dengan gaya sebuah aplikasi yang sedang dikerjakan, maka ikon kecil ini dapat dirancang sendiri. Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merancang ikon standar:
- Simple and streamlined
- Not easily mistaken for one of the system-provided icons - Readily understood and widely acceptable
Teori ikon yang bersumber dari iOS Human Interface Guidelines ini akan menjadi panduan penulis dalam merancang app “Tanya Taman”yang akan menjadi media utama kampanye. Dalam perancangannya, penulis akan menyesuaikan desain template icons sesuai dengan gaya aplikasi “Tanya Taman”.
2.2.8 Teori Desain Komunikasi Visual
Desain komunikasi visual adalah ilmu yang mempelajari proses komunikasi yang dipublikasikan dalam berbagai media komunikasi visual dengan mengolah elemen desain grafis berupa gambar (ilustrasi dan fotografi), huruf dan tipografi, warna, komposisi dan layout. Desain komunikasi visual tidak hanya berfungsi mekanikal tetapi ada fungsi lainnya, yaitu memberi inspirasi, informasi dan menggerakkan kita untuk beraksi, selain memiliki fungsi sosial, desain komunikasi visual juga memiliki fungsi fisik dan fungsi pribadi. Dalam terapannya sebagai ilmu komunikasi, desain komunikasi memiliki empat fungsi, yaitu :
1. Untuk memberitahu atau memberi informasi (to inform) seperti menjelaskan, menerangkan, dan mengenalkan.
2. Untuk memberi penerangan (to enlighten), seperti membuka pikiran dan menguraikan.
3. Untuk membujuk (to persuade), seperti menganjurkan, komponen-komponennya termasuk kepercayaan, logika dan daya tarik.
4. Untuk melindungi (to protect), seperti fungsi khusus untuk desain kemasan dan kantong belanja. (Safanayong, 2006 : 3)
Sesuai dengan teori tersebut, penulis akan melakukan perancangan kampanye untuk menggerakan target market dalam mengeksplorasi taman
kota yang ada di Bandung, sesuai tujuan yang ingin dicapai. Hal-hal yang akan menjadi tombak utama dalam aksi ini dapat diiringi dengan pemberian informasi (to inform) dan menambah wawasan (to enlighten) atau inspirasi tentang pemanfaatan ruang publik, dalam hal ini secara khusus adalah taman kota, kepada target sasaran (audience), melalui kampanye yang tepat dan menarik (to persuade).
2.2.9 Teori Ilustrasi
Ilustrasi dapat berupa diagram, pemetaan, tabel, kartun, dan gambar. Ilustrasi berguna untuk menceritakan atau menjelaskan komponen dari atom. Bahkan ilustrasi merupakan cara yang efektif untuk menunjukkan ide atau konsep yang abstrak. Ilustrasi dapat bersifat humoris, dekoratif, sesuai kenyataan atau serius.
Teori Otto Klepner dalam Advertising Procedure yang menyebutkan bahwa secara garis besar bentuk penyajian ilustrasi dibagi menjadi beberapa bagian tertentu digunakan, yaitu :
- Illustation of the product in setting Ilustrasi yang menampilkan produk bersama dengan unsur lain sebagai pendukung
- Illustration of a benefrit from the use of product Ilustrasi yang menunjukkan kegunaan dan keunggulan produk tersebut.
- Dramatization of a single situation Ilustrasi yang mendramatisasi suatu situasi.
Teori ilustrasi ini digunakan oleh penulis sebagai acuan dalam merancang visual mobile app “Tanya Taman” dan kampanye untuk memanifestasikan rancangan ide.
2.2.10 Tipografi
iOS Human Interface Guidelines mengatakan, kita perlu memastikan bahwa semua style dari sebuah font dapat terbaca dengan mudah dalam ukuran yang berbeda-beda. Beberapa contoh diantaranya:
• Teks tidak boleh lebih kecil dari 11 points, walaupun user memilih ukuran teks yang sangat kecil. Sebagai perbandingan, body style
menggunakan ukuran font 17 points untuk ukuran besar, dimana ini merupakan default text-size setting.
• Penggunaan jenis teks selalu regular atau medium, karena light dan bold tidak dapat terbaca dengan baik pada ukuran kecil.
Berdasarkan teori, dapat disimpulkan bahwa pemilihan typeface, pengaturan kerning dan size sangatlah penting agar dapat membantu kelancaran penyampaian pesan kepada audiens. Lalu, karena ini bersifat digital, maka perbandingan ukuran teks harus lebih diperhatikan, karena tidak sama dengan media cetak.
Penggunaan typeface dalam merancang aplikasi „Tanya Taman” akan mengacu pada teori ini, dimana penulis akan menggunakan dua jenis font yang akan digunakan sebagai headline dan body text. Penggunaan jenis font akan disesuaikan dengan konsep dan gaya aplikasi „Tanya Taman” sendiri nantinya.
2.2.11 Teori Warna
Dalam iOS Human Interface Guidelines, warna membantu menunjukkan interaktivitas, memberi vitalitas dan membantu menampilkan visual yang berkesinambungan.
- Jika ingin membuat perpaduan beberapa warna, pastikan mereka memang terlihat baik bersama, seperti memilih warna dari satu kelompok warna yang sama; natural, pastel, etc.
- Hindari menggunakan warna yang sama dalam menunjukkan elemen yang interaktif dan tidak interaktif.
- Penggunaan warna kunci untuk menunjukan interaktivitas, seperti warna kuning pada Notes dan merah untuk Calendar.
Teori warna membantu penulis agar dapat menggunakan warna-warna harmonis yang sesuai, dapat menyampaikan pesan dan tujuan dengan baik, serta menguatkan identitas dari kampanye penulis.
Penggunaan warna dalam perancangan mobile app “Tanya Taman” dan kampanye akan mengambil kelompok warna natural, dengan pemilihan warna yang disesuaikan dengan konsep kampanye.