IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Kondisi Umum Lokasi Penelitian 4.1.1 Karakteristik Geografi
Daerah Aliran Sungai (DAS) Cianjur secara geografis terletak diantara 106o25’00” BT – 107o 14’30” BT dan 06 o45’35” LS – 06o50’40” LS (Gambar 12), letaknya berbatasan dengan puncak dan punggungan Gunung Gede Pangrango di bagian barat, Waduk Cirata di bagian timur, perbukitan Gunung Geulis dibagian utara, Gunung Puntang di bagian selatan. DAS Cianjur terdiri dari sungai utama (Sungai Cianjur) dengan beberapa anak sungai (Cigadog, Cianjur Leutik, Cibeureum, dan Cikukulu) yang bermuara pada sungai utama.
Wilayah DAS Cianjur memiliki luas sebesar 7 467.2 ha yang meliputi 6 kecamatan, yang terdiri dari 27 desa dan 6 kelurahan termasuk dalam wilayah Kabupaten Cianjur dengan deliniasi wilayah seperti tercantum pada Tabel 22. Secara administratif Kabupaten Cianjur memiliki luas sebesar 350 148.8 ha yang terbagi dalam 30 kecamatan, yang terdiri dari 342 desa dan 6 kelurahan. Luas
Tabel 22 Persentase luas wilayah DAS Cianjur terhadap luas administratif
Zona
DAS Desa Kecamatan
Luas Administratif (Ha) Luas Wilayah DAS (Ha) Persentase Luas DAS terhadap Administratif (%) Pacet Ciputri, Ciherang 4 760.0 1 029.6 21.6 Hulu Cugenang Galudra,Sukamulya, Nyalindung, Cibeureum,
Gasol, Mangunkerta, Cijendil, Sukamanah
7 819.0 2 318.1 29.6 Cianjur Mekarsari, Limbangansari,
Sukamaju, Sawahgede, Muka, Solok Pandan, Sayang, Bojong Herang, Pamoyanan
3 177.5 1 085.5 34.2 Tengah Karang
Tengah Sabandar, Sukamanah, Sindangasih, Langensari, Sukasari, Maleber,Bojong, Babakan Caringin, Hegarmanah
4 914.0 1 876.0 38.2
Cilaku Munjul 5 367.5 356.9 6.6 Hilir Sukaluyu Salajambe, Tanjungsari,
Sukasirna, Babakansari 4 772.5 801.1 16.8
wilayah DAS Cianjur sebesar 24.2 % dari luas wilayah adminitratif tingkat kecamatan (30 810.5 ha) dan hanya 2.1% dari luas total wilayah administrasi Kabupaten Cianjur. DAS Cianjur merupakan DAS lokal yang berada di wilayah Kabupaten Cianjur, sehingga lebih mudahkan bagi pemerintah daerah dalam pengelolaan dan pelestarian fungsi-fungsi DAS.
4.1.2 Karakteristik Topografi
Kawasan hulu DAS Cianjur meliputi areal seluas 3 111.8 ha yang merupakan daerah pegunungan dan perbukitan terletak pada ketinggian antara 750 m sampai 2 950 m (Gambar 13). Bagian tengah DAS Cianjur meliputi areal seluas 3 245.9 ha dengan variasi ketinggian antara 340 m sampai 750 m dpl. Bagian hilir DAS Cianjur memiliki areal seluas 1 109.9 ha dengan variasi ketinggian antara 265 m sampai 340 m dpl. Hal ini menunjukkan bahwa berdasarkan ketinggian wilayah DAS Cianjur sebagian besar (58.3%) memiliki potensi sebagai areal permukiman.
Kemiringan lereng pada DAS Cianjur secara umum didominasi dengan kemiringan lereng 0 – 3% yang mencakup luasan sebesar 4 192.1 ha atau 56.1% dari luas total DAS (Gambar 14). Kemiringan lereng > 45% atau curam sekali hanya memiliki areal seluas 133 ha atau 1.8% yang terletak pada lereng volkan atau perbukitan. Kemiringan lereng 3 – 8% atau agak landai seluas 1 176.4 ha (15.7%), 8 – 15% atau landai 677.7 ha (9.1%), 15 – 24% agak curam 380 ha (5.1%) dan 24 – 45% atau curam 907.9 ha (12.2%). Kondisi ini menunjukkan bahwa berdasarkan kemiringan lereng wilayah DAS Cianjur sebagian besar (71.8%) memiliki potensi untuk pembangunan permukiman karena memiliki kemiringan lereng potensial 3 - 8 % (Masykur 2006).
4.1.3 Karakteristik Iklim
Secara umum berdasarkan klasifikasi iklim Koppen DAS Cianjur termasuk ke dalam tipe iklim Af, yaitu merupakan daerah iklim hujan tropis, selalu basah, hujan setiap bulan lebih dari 60 mm (Gambar 15). Kondisi iklim DAS Cianjur selama kurun waktu tiga tahun terakhir ini (2005 s/d 2007) secara umum adalah: 1) kelembaban udara rata-rata berkisar antara 84% sampai 87 %; 2) rata - rata
suhu bulanan terdingin adalah 170C, sedangkan rata-rata suhu bulanan terpanas adalah 25.70C, 3) rata-rata curah hujan bulan berkisar antara 193 mm sampai 275.9 mm, dan 4) hari hujan berkisar antara 164.2 hari/tahun sampai 205 hari/tahun (Tabel 23). Kondisi iklim ini menunjukkan bahwa wilayah DAS Cianjur memiliki daya tarik sebagai wilayah pembangunan permukiman karena memiliki tingkat kenyamanan.
Tabel 23 Data iklim DAS Cianjur Tahun 2005 - 2007
Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007 Bulan Suhu (0C) Kelembab- an Udara (%) Curah Hujan (mm) Suhu (0C) Kelembab- an Udara (%) Curah Hujan (mm) Suhu (0C) Kelembab- an Udara (%) Curah Hujan (mm) Januari 20.2 89 377.8 20.0 92 414 24.0 86 196 Februari 20.2 90 583.2 20.1 92 412 20.0 91 330 Maret 20.3 89 410.2 20.3 92 105 20.1 89 338 April 20.3 86 225.9 20.4 92 319 28.0 88 320 Mei 20.8 85 231.0 20.7 91 139 20.9 86 217 Juni 20.4 87 195.7 20.0 92 106 20.4 86 145 Juli 19.9 85 147.3 19.6 92 44 20.3 81 12 Agustus 20.1 84 113.3 19.4 89 30 20.4 78 70 September 19.9 85 131.7 21.1 78 9 21.0 76 108 Oktober 21.1 85 219.4 21.8 78 109 21.3 81 337 Nopember 21.5 85 365.9 22.2 83 220 21.6 82 438 Desember 20.5 91 308.8 21.2 88 403 20.8 87 417 Rata-rata 20.4 87 275.9 20.6 88 193 19.2 84 244 (Sumber: BMG, 2007) 4.1.4 Karakteristik Hidrogeologi
Wilayah DAS Cianjur secara umum didominasi oleh produk-produk bahan vulkanik muda yaitu formasi qyg, qyl, dan qyc (Tabel 24). Formasi qyg yang terbentuk dari breksi dan lahar dari Gunung Gede Pangarango menyebar luas mulai dari puncak gunung sampai ke dataran DAS. Formasi qyl yang dibentuk oleh lava dijumpai pada sebagian kecil puncak Gunung Gede. Sementara, formasi qyc yang ditemukan sebagai bukit-bukit kecil di dataran bagian tengah sampai hilir DAS atau di sekitar daerah Kecamatan Cianjur sampai Sukaluyu, terbentuk dari batuan aluvial andesit bercampur pasir vulkanik dan tufa. Formasi qot yang merupakan produk vulkanik tertua mencakup breksi dan lava hanya dijumpai di bagian utara DAS Cianjur yaitu Pegunungan Geulis. Hal ini menunjukkan bahwa
secara geologi wilayah DAS Cianjur merupakan wilayah rawan bencana letusan gunung. Pada bagian hulu DAS Cianjur terdapat empat sungai, yaitu Ciherang, Cianjur leutik, Cigadog, dan Cianjur. Keempat sungai tersebut bergabung menjadi satu (Sungai Cianjur) di Kampung Babakan Pos Kuta wetan Desa Mangunkerta Kecamatan Cugenang. Di wilayah zona DAS tengah terdapat Sungai Cikululu yang bergabung dengan sungai Cianjur di Desa Pamoyanan Kecamatan Cianjur, namun kembali bercabang dua di Kampung Deungkeng Desa Langensari Kecamatan Karang Tengah menjadi Sungai Cianjur dan Ciheulang. Selanjutnya pada zona DAS hilir Sungai Cianjur bermuara ke Sungai Cilaku, sementara Sungai Ciheulang bermuara ke Sungai Cisokan.
Tabel 24 Hidrogeologi DAS Cianjur
Kode Deskripsi Geologi Air Permukaan Air Tanah Mata Air
Qyg Breksi dan lahar dari
G. Gede Pangrango. Tersebar dari puncak sampai kaki gunung dan daerah dataran.
Air permukaan pada badan gunung sulit dijangkau, terdapat pada lembah sungai yang dalam. Pada kaki gunung, anak-anak sungai agak mudah dijangkau. Di bagian dataran, air sungai sangat mudah diakses dan digunakan
Pada badan gunung, air tanah sangat dalam. Pada kaki gunung, muka air tanah bebas 3-4 m, air tanah dalam tidak diketahui. Pada bagian dataran, air tanah bebas bervariasi dari 0.5-5 m, air tanah tak bebas > 30 m
Pada badan gunung, mata air dijumpai di lereng-lereng. Di kaki gunung, beberapa mata air ditemui di lembah sungai. Di bagian dataran, mata air sangat jarang, kecuali pada beberapa lembah sungai
Qyl Lava muda dari G.
Gede Pangrango. Terdapat di bagian atas gunung.
Air permukaan pada kawasan gunung sulit dijangkau, berada pada lembah-lembah sungai yang dalam
Air tanah sangat dalam.
Mata air-mata air pada lereng gunung
Qyc Bongkahan batuan
aluvial andesit bercampur dengan pasir vulkanik dan tufa.
- Air tanah dalam jarang
ditemui.
-
Qot Breksi dan lava dari
produk-produk vulkanik tertua.
Dalam lembah-lembah
sungai kecil yang dalam Jarang (sangat dalam) Tidak teramati
Sumber: Peta Geologi Lembar Cianjur, Jawa Barat 1972.
Peta Geologi Lingkungan Lembar Cianjur, Jawa Barat 1993.
Kondisi air permukaan terkait erat dengan keberadaan sungai-sungai yang mengalir dan kondisi curah hujan sepanjang tahun. Air sungai dimanfaatkan oleh masyarakat yang bermukim di sekitar DAS untuk keperluan pertanian, mandi,
Gambar 13 Peta kelas elevasi DAS Cianjur (Sumber: PPLH IPB 2006)
Gambar 14 Peta kelas kemiringan lereng DAS Cianjur (Sumber: PPLH IPB 2006)
Gambar 15 Peta curah hujan DAS Cianjur (Sumber: Dinas Cipta Karya Kabupaten Cianjur 2005)
cuci, dan kakus. Mata air umumnya berada pada ketinggian 400 – 1 000 m dpl,yang biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat di zona hulu. Masyarakat di zona tengah dan hilir DAS biasanya memperoleh air bersih dengan memanfaatkan air tanah dengan kedalaman antara 4 sampai 8 m.
4.1.5 Karakteristik Tanah
Secara umum DAS Cianjur terdiri dari 5 jenis tanah dengan luasan bervariasi (Gambar 16). Tanah latosol coklat mendominasi luasan yaitu sebesar 3 617.5 ha atau 48.4% dari luas total DAS yang membentang dari hulu hingga tengah. Bagian tengah dan hilir DAS berturut-turut didominasi oleh tanah latosol coklat dan aluvial coklat kekelabuan (ACK). Asosiasi aluvial kelabu dan aluvial coklat kekelabuan (AK-ACK) dan asosiasi andosol coklat dan regosol coklat (AC-RC) berturut-turut masing-masing hanya terdapat di hilir (1.9%) dan hulu (22.2%) DAS Cianjur. Berdasarkan jenis tanah yang ada diwilayah DAS Cianjur yaitu latosol (memiliki kepekaan erosi agak peka), aluvial (memiliki kepekaan erosi tidak peka), dan regosol (memiliki kepekaan erosi sangat peka) maka hanya sebagian kecil wilayah DAS Cianjur potensial untuk pengembangan permukiman. 4.1.6 Karakteristik Daerah Rawan Bencana
Sesuai dengan kondisi geografis, wilayah DAS Cianjur sangat berpotensi terjadinya bencana alam yang berkaitan dengan kegeologian seperti bahaya letusan gunung api yang berasal dari Gunung Gede (Bappeda Kabupaten Cianjur 2006). Berdasarkan hal tersebut, dapat diidentifikasi wilayah-wilayah di DAS Cianjur yang rawan terhadap bencana letusan gunung api yaitu untuk wilayah yang termasuk kelompok daerah bahaya meliputi Kecamatan Pacet dan
Cugenang dan Cianjur, sedangkan kelompok daerah waspada meliputi Kecamatan Cianjur, Karang Tengah, Cilaku dan Sukaluyu (Gambar 17). Kondisi ini
menunjukkan bahwa wilayah DAS Cianjur terutama sub DAS hulu merupakan wilayah yang kurang aman untuk pengembangan permukiman.
Gambar 16 Peta jenis tanah DAS Cianjur (Sumber: PPLH IPB 2006)
Gambar 17 Peta rawan letusan gunung di DAS Cianjur (Sumber: Bappeda Kabupaten Cianjur 2006)
81
PETA
RAWAN LETUSAN GUNUNG Daerah Aliran Sungai Cianjur
4.1.7 Penggunaan Lahan Aktual
Penggunaan lahan di DAS Cianjur hasil interprestasi citra landsat tahun 2006, secara umum terdiri dari hutan lahan kering sekunder, hutan tanaman industri, perkebunan, permukiman, pertanian lahan kering bercampur semak, sawah, semak atau belukar, dan tanah terbuka (Gambar 18). Penggunaan lahan yang mendominasi adalah sawah seluas 2 729.8 ha atau 36.6%, permukiman seluas 2 058 ha atau 27.6%, dan pertanian lahan kering seluas 1 211.7 ha atau 16.2% sementara itu luas hutan lahan kering hanya 539.5 ha atau 7.2%. Rendahnya persentase hutan lindung di bagian hulu DAS Cianjur disebabkan telah terjadi alih fungsi lahan menjadi lahan pertanian dan permukiman. Pertumbuhan permukiman di wilayah ini bersifat skipping, yaitu memanfaatkan lahan yang masih baru (dari hutan, pertanian lahan basah dan kering) dengan bertitik tolak pada pemandangan indah. Hal ini dapat merusak stuktur tata ruang yang direncanakan dengan menggunakan lahan yang bukan diperuntukan bagi pengembangan perumahan dan permukiman.
4.1.8 Karakteristik Sosial Ekonomi dan Kependudukan
Secara administratif penduduk Kabupaten Cianjur pada akhir tahun 2005 adalah 2 098 644 jiwa (570 047 KK) yang terdiri dari 1 069 408 jiwa laki-laki dan 1 029 236 jiwa perempuan dengan laju pertumbuhan sebesar 1.96% dari tahun sebelumnya (Bappeda Kabupaten Cianjur 2006). Berdasarkan tingkat penyebaran-nya, penduduk terkosentrasi di wilayah Cianjur utara sebesar 65% dengan kepadatan antara 594.20 jiwa/km2 sampai 3 073 68 jiwa/km2, Cianjur tengah 19.62% dengan kepadatan antara 253.90 jiwa/km2 sampai 628.95 jiwa/km2 dan Cianjur selatan 15.38% dengan kepadatan antara 180.75 jiwa/km2 sampai 253.95 jiwa/km2. Wilayah Cianjur utara yang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang
tinggi merupakan wilayah DAS Cianjur, oleh karena itu kebutuhan terhadap permukiman akan tinggi.
Sehubungan dengan program pemerintah Kabupaten Cianjur yang terus melakukan pengembangan ke wilayah utara Cianjur karena dinilai memiliki berbagai potensi wisata maka kecenderungan DAS Cianjur bagian hulu akan
6° 51 ' 6° 5 1 ' 6° 48 ' 6° 4 8' 6° 45 ' 6° 4 5 ' 10 7°0 0 ' 10 7°0 0 ' 10 7°3 ' 10 7°3 ' 10 7°6 ' 10 7°6 ' 10 7°9 ' 10 7°9 ' 10 7°1 2 ' 10 7°1 2 ' P E TA P E N G G U N A AN L A H A N T AH U N 20 06 D AS C IA N JU R K A B U P AT E N C IAN JU R N Lo k a s i P e n elitian 2 0 2 4 K ilo m e te rs Tu tu p a n L a h an : H u tan L a ha n K e rin g S ek u n de r H u tan T a n am a n Ind u s tri (H T I) P er ke b u na n P er m u k im an P er tan ia n la h a n k e rin g b e rc a m p u r d g n s e m a k S aw ah S em a k /B e lu k a r Ta n a h Te rb u k a B ata s D A S
Gambar 18 Peta penggunaan lahan DAS Cianjur (Sumber: PPLH IPB 2006)
menerima tekanan berupa kebutuhan ruang hunian, villa, sarana prasaran wisata. Oleh karena itu potensi alih fungsi lahan dari lahan pertanian lahan kering, semak belukar, dan lahan terbuka menjadi pemukiman, villa, sarana prasaran wisata akan terjadi. Hal ini sejalan dengan pendapat Silas (2007) bahwa pertumbuhan permukiman tersebut dipicu oleh suatu proses pergeseran permukiman yang disebabkan oleh mekanisme pasar, sehingga akan terjadi perpindahan orang yang semula tinggal dalam kota ke rumahnya di pinggiran atau luar kota.
4.2 Pola Sebaran Permukiman
Pola penyebaran pembangunan permukiman tertata dan permukiman tidak tertata di wilayah desa dan kota pembentukkannya berakar dari pola campuran antara ciri perkotaan dan perdesaan. Kawasan permukiman perkotaan di wilayah DAS Cianjur sebagian besar berada di wilayah bagian tengah DAS Cianjur. Kawasan permukiman perkotaan merupakan Kecamatan-kecamatan yang pada saat ini merupakan konsentrasi kegiatan penduduk dengan indikasi jumlah penduduk yang besar (Bappeda Kabupaten Cianjur, 2005) seperti Kecamatan Pacet (Zona DAS hulu), Cianjur, dan Karang Tengah (Zona DAS tengah).
Pola permukiman tertata wilayah DAS Cianjur memiliki keteraturan bentuk secara fisik. Artinya sebagian besar rumah menghadap secara teratur ke arah kerangka jalan yang ada dan sebagian besar terdiri dari bangunan permanen, berdinding tembok dan dilengkapi dengan penerangan listrik. Hal ini sejalan dengan pendapat Koestoer (1995) yang menyatakan bahwa bangunan rumah di lingkungan permukiman tertata secara teratur menghadap jalan dengan kerangka jalan tertata secara bertingkat mulai dari jalan raya, penghubung hingga jalan lingkungan atau lokal. Pola permukiman tidak tertata di wilayah DAS Cianjur cenderung berkelompok membentuk perkampungan yang letaknya tidak jauh dari sumber air seperti sungai dan jalan.
4.2.1 Ukuran Permukiman
Tabel 25 menunjukkan bahwa ukuran permukiman yang berada di wilayah DAS Cianjur sebagian besar tergolong ke dalam permukiman sedang dengan jumlah penduduk antara 500 sampai dengan 2000 jiwa. Selebihnya tergolong dalam permukiman kecil-sedang dengan jumlah penduduk kurang dari
500 jiwa dan jumlah rumah lebih dari 20 unit (Van der Zee 1986). Ukuran permukiman di bagian hulu didominasi oleh permukiman sedang dengan jumlah rumah rata-rata 196 unit, sedangkan di bagian tengah dan hilir komposisi ukuran permukiman kecil-sedang dan sedang berimbang dengan jumlah rumah rata-rata untuk permukiman kecil-sedang 49 unit di bagian tengah dan 53 unit di bagian hilir, sementara permukiman sedang di bagian tengah dan hilir masing-masing dengan jumlah rumah rata-rata sebanyak 416 unit dan 193 unit.
Tabel 25 Ukuran permukiman
Kriteria Ukuran
Permukiman Persentase
Zona
DAS Kampung Jumlah
Penduduk Jumlah Rumah
Golongan ukuran
Permukiman Sedang Kecil-Sedang Sarongge girang 922 190 Sedang
Cibeureum Kidul 928 152 Sedang Galudra Tengah 865 245 Sedang Hulu
Burangkeng 465 102 Kecil-Sedang
25 8.32
Perum Buniwangi 260 50 Kecil-Sedang
Sayang 1210 464 Sedang
Perum Maleber 1105 368 Sedang Tengah
Golebag Dua 216 49 Kecil-Sedang
16.67 16.67
Pasir Peucang 142 32 Kecil-Sedang Pasir Goong 312 74 Kecil-Sedang
Kamiran 826 198 Sedang
Hilir
Cibakung 600 188 Sedang
16.67 16.67
Total 58.34 41.66
Tabel 25 menjelaskan bahwa jumlah penduduk rata-rata yang mendiami permukiman setingkat kampung yang berada di wilayah hulu DAS Cianjur (795 jiwa) lebih besar dibandingkan dengan jumlah penduduk rata-rata yang di wilayah tengah (741 jiwa) maupun hilir (470 jiwa). Hal ini disebabkan zona DAS hulu memiliki: (1) potensi wisata menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang berada di bagian tengah dan hilir maupun warga yang berasal dari luar kawasan DAS untuk pindah ke zona DAS hulu, (2) kondisi iklim (suhu) yang memberikan tingkat kenyamanan yang lebih, (3) kemudahan memperoleh air bersih dan (4) fasilitas infrastruktur berupa jalan yang menghubungkan antar kampung, desa, kecamatan hingga ke ibukota kabupaten.
4.2.2 Kepadatan Bangunan
Bangunan rumah di wilayah DAS Cianjur sebagian besar (50%) memiliki tipe kepadatan bangunan yang padat (Tabel 26). Kepadatan bangunan dicirikan
salah satunya oleh jarak antara bangunan rumah yang kecil yaitu berkisar antara setengah sampai satu meter. Permukiman di zona DAS hulu didominasi oleh permukiman dengan tipe kepadatan bangunan yang padat, di zona DAS tengah didominasi oleh permukiman dengan tipe kepadatan bangunan jarang, dan di zona DAS hilir terdapat dua tipe kepadatan bangunan yaitu jarang dan padat.
Tabel 26 Tipe kepadatan bangunan
Persentase Zona DAS Unit Permukiman (Kampung) Tipe kepadatan
Bangunan Sangat Padat Padat Jarang Sarongge Girang Padat
Cibeureum Kidul Sangat padat Galudra Tengah Padat Hulu
Burangkeng Padat
8.3 25 -
Perum Buniwangi Jarang
Sayang Sangat Padat
Perum Maleber Jarang Tengah
Golebag Dua Padat
8.3 8.3 16.7
Pasir Peucang Jarang Pasir Goong Jarang
Kamiran Padat Hilir Cibakung Padat - 16.7 16.7 Total 16.6 50 33.4
Dominasi tipe bangunan padat di zona DAS hulu Cianjur disebabkan karena kepemilikan lahan untuk bangunan rumah diperoleh secara turun-terumun (warisan) pada satu lokasi lahan dengan luasan terbatas, yang mengakibatkan lahan warisan seluruhnya digunakan untuk membangun rumah. Faktor lain yang menyebabkan kepadatan bangunan adalah terjadinya fregmentasi seperti yang diungkapkan Kuswartojo (2005) bahwa pemilikan lahan karena pewarisan atau pelepasan hak sedikit demi sedikit untuk keperluan konsumsi atau maksimalisasi penggunaan lahan dengan konstruksi kualitas rendah membuat persil permukiman terus mengecil dan permukiman pun menjadi padat, sehingga jarak antar bangunan rumah sangat kecil atau bahkan jarak atap hanya setengah meter. Kondisi ini mengakibatkan terbatasnya sarana infrastruktur sebagaimana yang diungkapkan oleh Sastra (2006) bahwa tingginya kepadatan bangunan mengakibatkan minimnya lahan yang tersedia bagi sarana infrastuktur, yang menyebabkan rendahnya kualitas suatu lingkungan permukiman.
4.2.3 Tipe Permukiman
Permukiman secara umum memiliki tiga tipe yaitu linier, plaza, dan streetplan (Van der Zee 1986). Permukiman di wilayah DAS Cianjur memiliki dua tipe yaitu tipe linier dan streetplan. Tipe permukiman linier dibagi dalam dua kategori yaitu linier-1 dan linier-2 (Gambar 19). Permukiman tipe linier-1 adalah permukiman yang memiliki beberapa kelompok rumah dengan posisi rumah berjajar linier sepanjang jalan setapak dengan lebar setengah sampai satu meter dan jalan desa dengan lebar tiga sampai empat meter. Permukiman tipe linier-2 adalah permukiman yang memiliki beberapa kelompok rumah dengan posisi rumah berjajar linier sepanjang jalan lingkungan atau gang dengan lebar satu meter dan jalan desa dengan lebar lima meter.
Tipe permukiman linier memiliki kecenderungan bentuk susunan rumah yang tidak teratur, jarak antar rumah yang kecil, dan pekarangan rumah yang terbatas. Permukiman streetplan memiliki kecenderungan bentuk susunan rumah yang teratur menghadap jalan dengan kerangka jalan tertata secara bertingkat mulai dari jalan raya, penghubung hingga jalan lingkungan atau lokal (Koestoer 1995). 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Pers en ta se ( % )
Hulu Tengah Hilir
Linier-1 Linier-2 Streetplan
Gambar 19 Persentase tipe permukiman di wilayah DAS Cianjur
Sebagian besar tipe permukiman di zona DAS bagian hulu adalah tipe linier-1, zona tengah DAS terdiri dua tipe permukiman yaitu tipe streetplan dan linier-2. Permukiman di zona DAS hilir seluruhnya memiliki tipe permukiman
linier-1. Antar unit permukiman (Kampung) dihubungkan dengan jalan desa, sedangkan dalam lingkungan kampung itu sendiri mobilitas penghuni hanya melalui jalan selebar setengah sampai satu meter yang dibangun dengan swadaya masyarakat. Posisi bangunan rumah yang tidak teratur secara berkelompok menghadap kearah jalan baik jalan desa maupun jalan lingkungan.
4.2.4 Karakteristik Permukiman Tidak Tertata
Kampung merupakan unit terkecil dari suatu permukiman. Luas kampung yang menjadi sampel berkisar antara 1.6 ha sampai dengan 20.8 ha dengan luas rata-rata sebesar sembilan ha. Rata-rata luas kampung di zona DAS hulu lebih kecil jika dibandingkan dengan luas kampung di tengah dan hilir. Hal ini disebabkan oleh kondisi topografi wilayah hulu yang berbukit dengan tingkat kemiringan yang cukup bervariasi, sehingga luasan wilayah kampung terbatas dan cenderung posisi kampung menyebar dengan luasan kecil.
Komposisi jenis konstruksi rumah responden di lingkungan permukiman tidak tertata di DAS Cianjur terdiri dari rumah permanen, rumah panggung, dan rumah semi permanen (Tabel 27). Jenis konstruksi rumah yang banyak digunakan oleh sebagian besar masyarakat di zona hulu (51.7%) dan hilir (53.3%) adalah rumah panggung. Persentase jenis konstruksi rumah yang digunakan oleh masyarakat di wilayah Kabupaten Cianjur adalah : rumah permanen 66.3%; semi permanen 25.4%; dan rumah panggung 8.3% (Bappeda Kabupaten Cianjur 2006). Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat di wilayah DAS Cianjur sebagian besar masih menggunakan Arsitektur Tradisional Sunda dalam membangun rumah dibandingkan dengan masyarakat yang tinggal di wilayah Kabupaten Cianjur.
Tabel 27 Jenis konstruksi rumah responden Jenis Konstruksi (%)
Zona DAS
Permanen Semi Permanen Panggung
Hulu 38.3 10.0 51.7
Tengah 93.3 5.0 1.7
Hilir 43.3 3.3 53.3
Rumah panggung dengan arsitektur tradisional Sunda banyak ditemui di DAS bagian hulu dan hilir. Secara umum konsep dasar rancangan arsitektur tradisional masyarakat Sunda adalah menyatu dengan alam. Menurut budaya masyarakat Sunda, alam merupakan sebuah potensi atau kekuatan yang mesti dihormati serta dimanfaatkan secara tepat di dalam kehidupan sehari-hari (Loupias 2005). Dominasi keberadaan rumah panggung di wilayah DAS Cianjur merupakan bentuk kearifan lokal masyarakat Sunda dalam melestarikan budaya.
Rumah panggung dirancang dengan konsep menyatu dengan alam sehingga dalam penggunaan bahan bangunan menggunakan bahan lokal. Perilaku masyarakat ini mencerminkan budaya masyarakat yang tidak bergantung pada sumberdaya berasal dari luar dan kesadaran akan penggunaan energi untuk transportasi. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Kobayashi (2006) bahwa penggunaan bahan bangunan lokal akan memperpanjang jangka waktu pemakaian bangunan dan menguntungkan dari segi kalkulasi energi. Di DAS bagian hulu keberadaan rumah panggung dikarenakan ketersediaan bahan bangunan untuk konstruksi rumah tersebut cukup banyak, terutama kayu dan bambu.
Rumah panggung dengan arsitektur tradisional Sunda memiliki keunggulan yaitu: 1) rumah panggung memiliki koefisien dasar bangunan yang rendah, artinya bahwa lahan dibawah rumah panggung dapat berfungsi sebagai areal untuk meresapkan air; 2) rumah panggung terhindar dari udara lembab dari tanah maupun debu; dan 3) rumah panggung lebih tahan terhadap bencana alam terutama gempa bumi.
Bangunan rumah panggung di Jawa Barat dibedakan menurut bentuk atap dan pintu masuk (Depdikbud 1984). Konstruksi rumah panggung berdasarkan bentuk atap terdiri dari enam tipe yaitu: suhunan jolopong, tagog anjing, badak heuay, parahu kumureb, jubleg nangkub, dan julang ngapak. Konstruksi rumah panggung berdasarkan pintu masuk terdiri dari dua tipe yaitu: rumah buka palayu dan buka pongpok. Rumah panggung pada zona hulu dan hilir DAS Cianjur banyak mempergunakan tipe suhunan jolopong, parahu kumureb, dan julang ngapak.
Rumah panggung pada umumnya memiliki susunan ruangan yaitu: tepas (teras), pangkeng (kamar), tengah imah (ruang tengah), goah (ruang tempat
menyimpan padi), dan pawon (dapur). Sistem pembagian ruangan didasarkan pada pandangan masyarakat tentang kedudukan dan fungsi masing-masing anggota keluarga penghuni. Pembagian didasarkan pada tiga daerah yang terpisah (daerah wanita, daerah laki-laki, dan daerah netral). Dapur dan goah merupakan ruangan untuk wanita. Ruangan depan adalah ruangan untuk laki-laki. Tengah imah merupakan ruangan netral yang digunakan untuk wanita dan laki-laki baik orang tua maupun anak-anak.
Konstruksi rumah panggung memiliki bagian-bagian menurut fungsinya. Bagian-bagian rumah terdiri dari: golodog, kolong, tatapakan, tihang, palupuh, dinding, pintu, jendela jalosi, ampig, lalangit, suhunan, pananggeuy, lincar, darurung, paneer, saroja, balandar, kuda-kuda, usuk, ereng, pamikul, pangheret. Golodog merupakan tangga rumah yang terbuat dari kayu atau bambu. Fungsinya sebagai penghubung lantai dengan tanah. Kolong merupakan ruangan yang terdapat di bawah lantai rumah, tingginya 0.5 – 0,8 m di atas permukaan tanah.
Konstruksi rumah panggung dengan arsitektur tradisional Sunda berdiri di atas batu penyangga atau disebut tatapakan (tempat bertumpu atau penyangga) yang diletakan pada setiap pojok serta bagian konstruksi yang menahan beban cukup besar. Di atas tatapakan diletakkan tihang yang berfungsi sebagai penyangga atap bangunan. Tihang dibuat dari kayu ukuran 15 x 15 cm untuk tihang-tihang utama, sedangkan untuk tihang-tihang tambahan dibuat dengan ukuran yang lebih kecil.
Bagian lantai dibuat dari papan atau palupuh (lembaran bambu hasil cercahan atau tumbukan yang menyatu saling mengikat). Hasil cercahan tersebut membentuk celah-celah memanjang tidak beraturan yang berfungsi sebagai ventilasi udara dari bawah serta dapat digunakan untuk membuang debu di atas lantai. Konstruksi lantai yang tidak langsung bersentuhan dengan permukaan tanah memberikan fungsi kenyamanan huni yaitu rumah akan terhindar dari udara lembab yang berasal dari tanah maupun debu.
Dinding sebagian besar terbuat dari anyaman bambu yang disebut bilik berfungsi sebagai penutup bangunan maupun penyekat ruangan. Bilik tersebut memiliki lubang-lubang kecil seperti "pori-pori" yang berfungsi sebagai ventilasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Loupias (2005) bahwa lubang-lubang kecil pada
bilik berfungsi untuk menyalurkan udara maupun cahaya dari luar ruangan atau sebaliknya, sehingga suhu di dalam ruangan selalu terjaga secara alami sesuai dengan kondisi cuaca alam di luar. Kondisi ini tidak perlu mengandalkan cahaya yang masuk sepenuhnya melalui jendela.
Lalangit merupakan bagian konstruksi yang menempel pada dasar rangka atap. Lalangit terbuat dari bambu yang dianyam atau papan kayu. Selanjutnya bagian bangunan yang paling atas yaitu atap. Konstruksi atap rumah panggung terdiri dari: suhunan, balandar, kuda-kuda, usuk, ereng, pamikul, pangheret, dan sisiku. Pembuatan rumah panggung biasanya dilakukan dengan tradisi gotong royong oleh masyarakat dilingkungan kampung.
Rata-rata luas rumah di hulu, tengah dan hilir DAS Cianjur masing-masing berturut-turut adalah 47.1 m2, 69.4 m2 dan 40.8 m2 (Tabel 28). Hasil uji beda menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (p<0.05) rata-rata luas rumah antara hulu, tengah dan di hilir.
Tabel 28 Rata-rata luas per-orang penghuni rumah di DAS Cianjur Zona DAS Rata-rata Luas Rumah (m2 ) Rata-rata jumlah penghuni Rata-rata luas perjiwa
Hulu 47.1 4.6 10.2
Tengah 69.4 4.7 14.8
Hilir 40.8 4.9 8.3
Berdasarkan tingkat kebutuhan ruang minimum per-orang sesuai dengan standar ukuran kebutuhan ruang minimum yang dikeluarkan oleh Menteri Kimpraswil tahun 2002, maka ukuran kebutuhan ruang minimum untuk rumah yang berada di wilayah hilir (luas rata-rata 40.8 m2) dengan rata-rata jumlah penghuni sebesar 4.9 jiwa dapat dikategorikan tidak memenuhi standar minimum ukuran kebutuhan ruang per-orang sebesar 9 m2. Hal tersebut akan mempengaruhi tingkat kenyamanan dan keleluasan bergerak dari penghuni sebagaimana diungkapkan oleh Sarwono (1992) bahwa keluasan ruang yang ada akan mempengaruhi tingkat kemudahan tingkah laku dari para penghuninya.
Kelengkapan elemen ruang yang dimiliki rumah responden di hulu, tengah maupun hilir DAS sebagian besar memiliki kelengkapan ruang yang standar yaitu ruang tamu, kamar tidur, dapur, kamar mandi, dan WC (Tabel 29). Kelengkapan
elemen ruang dalam rumah akan berpengaruh pada tingkat kenyamanan, kesehatan dan tingkah laku penghuni yang disebabkan tidak terpenuhinya fungsi-fungsi ruangan. Hal ini diungkapkan oleh Sastra (2006) bahwa sebuah rumah harus dapat memungkinkan orang beristirahat, memasak, makan, berkumpul dengan keluarga dan sebagainya.
Tabel 29 Kelengkapan elemen ruang Kelengkapan Ruang
Sangat Lengkap Standar Kurang dari standar Zona DAS
% % %
Hulu 8.3 55 36.7
Tengah 16.7 61.7 21.7
Hilir 13.3 46.7 40
Hasil uji beda menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang nyata (p<0.05) kepemilikan ruang tidur, dapur, kamar mandi, dan WC di hulu, tengah dan hilir. Elemen ruang yang cukup banyak tidak dimiliki baik di hulu maupun hilir DAS adalah kamar mandi dan WC. Perbedaan tersebut disebabkan oleh status sosial ekonomi masyarakat. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Jiaming (2005) di Shangai bahwa tipe tempat tinggal termasuk kelengkapan elemen ruang berhubungan dengan tingkat pendapatan perkapita.
Luas lantai rumah di wilayah DAS Cianjur bervariasi dari luasan < 20 m2
sampai > 150 m2. Di bagian hulu, tengah dan hilir didominasi oleh rumah dengan
luas lantai antara 20 – 49 m2 (Tabel 30). Rumah dengan luas lantai > 150 m2 hanya dijumpai di bagian tengah DAS yaitu di lingkungan permukiman tertata. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat di hulu dan hilir lebih rendah dibandingkan dengan masyarakat yang berada di sub DAS tengah.
Tabel 30 Jumlah rumah menurut luas lantai Luas Lantai (m2) < 20 20-49 50-99 100-149 >150 Zona DAS % % % % % Hulu 3.3 58.3 33.3 5.0 Tengah 60 23.3 6.7 10.0 Hilir 1.7 83.3 11.7 3.3 Total 1.7 67.2 22.8 5.0 3.3
Secara umum occupancy rate (tingkat penghunian) rumah di wilayah DAS Cianjur sebesar 121.1%. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan rumah yang ada belum bisa menampung kebutuhan masyarakat akan rumah (Dinas Cipta Karya 2005).
Tingkat penghunian yang paling besar terdapat di zona DAS tengah mencapai 126.7% (Tabel 31). Hal ini disebabkan wilayah zona DAS tengah merupakan wilayah perkotaan dengan tingkat ketersediaan rumah lebih kecil dari jumlah kepala keluarga yang ada sehingga berdampak pada tingkat hunian yang melebihi 100%. Tingkat hunian yang melebihi 100% berdampak pada tingkat kenyamanan, hubungan sosial dan kecenderungan memicu terjadinya konflik keluarga sebagaimana diungkapkan Sarwono (1992) bahwa keluasan ruang akan mempengaruhi tingkat kenyamanan dan perilaku penghuninya.
Tabel 31 Tingkat penghunian rumah di DAS Cianjur
Jumlah KK dalam Satu Rumah Penghunian Tingkat Zona DAS
1 2 3 4 %
Hulu 51 12 9 120
Tengah 49 14 9 4 126.7
Hilir 52 14 4 120
Rumah di wilayah DAS Cianjur separuhnya memiliki RTH berupa taman di halaman rumah. Luas rata-rata RTH di bagian hulu, tengah dan hilir masing-masing berturut-turut sebesar 32.8 m2, 21.5 m2, dan 19.9 m2. Kecilnya luasan RTH di bagian hilir disebabkan: (1) lahan untuk rumah rata-rata diperoleh dari warisan orang tua, sehingga luas areal lahan yang dibagikan terbatas hanya untuk bangunan rumah, dan (2) jumlah anggota rumah tangga yang cukup besar yaitu rata-rata 4.9 jiwa/rumah, sehingga diperlukan penambahan ruang. Hal ini sejalan dengan pendapat Kuswartojo (2005) bahwa pemilikan lahan karena pewarisan akan terjadi pelepasan hak sedikit demi sedikit untuk keperluan konsumsi atau maksimalisasi penggunaan lahan dengan konstruksi bangunan rumah. Kondisi pekarangan yang sempit akan memicu terjadinya ”heat island” (titik-titik panas) pada kawasan permukiman. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Kobayashi (2006) yang melakukan pengukuran gas emisi CO2 di sektor permukiman
perkotaan di kota Nihonmatsu Jepang dengan melakukan pengukuran emisi CO2
dari bahan bangunan, aktivitas keluarga, dan transportasi.
Berdasarkan jenis bahan bangunan yang digunakan pada bangunan rumah di wilayah DAS Cianjur, sebagian besar telah memiliki komponen rumah sehat (Ditjen Ciptakarya 1997). Komponen rumah sehat tersebut seperti pondasi, dinding, lantai, plapond dan atap. Hasil uji beda menunjukkan adanya perbedaan (p<0.05) dalam penggunaan bahan dinding, lantai, plapond di hulu, tengah dan hilir DAS Cianjur. Bahan dinding yang banyak digunakan oleh sebagian besar masyarakat di zona hulu (46.7%) dan tengah (93.3%) adalah tembok , sedangkan di zona hilir sebagian besar (45%) menggunakan bilik. (Gambar 20).
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 Hulu P ers en ta se P en g g u n a a n T embok Bilik Papan-bilik T embok-bilik Papan 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Tengah P er se n tas e P en ggu n aan T embok Bilik Papan-bilik T embok-bilik 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 Hilir P ers en ta se P en g g u n a a n T embok Bilik Papan-bilik T embok-bilik Gambar 20 Persentase penggunaan bahan dinding
Penggunaan bahan lantai di zona hulu, tengah, dan hilir masing-masing secara berturut-turut didominasi oleh adalah papan 28.8%, keramik 73.3% dan bilik 33.3% (Gambar 21). Sementara itu untuk bahan plapond di zona DAS hulu, tengah dan hilir masing-masing sebagian besar secara berturut-turut menggunakan bilik 51.7%, triplek 51.7% dan bilik 55% (Gambar 22). Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat yang tinggal di zona DAS hulu dan hilir masih melestarikan tradisi penggunaan bahan bangunan lokal dibandingkan dengan masyarakat yang tinggal di zona DAS tengah.
Bahan untuk penutup atap untuk seluruh wilayah DAS dari hulu hingga hilir sebagian besar (100%) menggunakan genteng. Dominasi penggunaan bahan genteng sebagai bahan penutup atap tersebut disebabkan oleh ketersediaan
genteng mudah didapat, harga yang relatif lebih murah dan memberikan kenyamanan bagi penghuninya. Hal ini sejalan dengan pendapat Frick (1996)
0 5 10 15 20 25 30 Hulu P ers en ta se P en g g u n a a n Keramik Semen Papan Bilik Bambu dibelah 0 10 20 30 40 50 60 70 80 Tengah P er se n ta se P eng g u na a n Keramik Semen Papan Bilik 0 5 10 15 20 25 30 35 Hilir Pers en ta se Pen g g u n a a n Keramik Semen Papan Bilik Bambu dibelah
Gambar 21 Persentase penggunaan bahan lantai
0 10 20 30 40 50 60 Hulu P er se n ta se P en ggu n aan Enternit T riplek Bilik Bambu 0 10 20 30 40 50 60 Tengah Pe rs en ta se Pe n g g u n a a n
Enternit T riplek Bilik
0 10 20 30 40 50 60 Hilir Pers en ta se Pe n g g u n a a n
Enternit T riplek Bilik
Gambar 22 Persentase penggunaan bahan plapond
bahwa dari segi kenyamanan, atap genteng dapat membuat suhu udara ruangan lebih sejuk dan tidak menimbulkan kebisinginan di waktu hujan.
Berdasarkan dominasi jenis bahan bangunan yang digunakan pada masing-masing konstruksi bangunan yaitu bahan bangunan dari sumber bahan mentah lokal, maka hal ini mencerminkan bahwa masyarakat di wilayah DAS Cianjur masih memelihara tradisi lokal dalam pembangunan rumah. Hal ini sejalan dengan pendapat Frick (1996) bahwa penggunaan bahan bangunan dari sumber
bahan mentah lokal menunjukkan identitas penghuni yang tidak tergantung dari luar dan kesadaran akan penggunaan energi transportasi yang menyebabkan pencemaran lingkungan hidup. Hasil penelitian ini didukung hasil penelitian Kobayashi (2006) tentang emisi CO2 dari bahan bangunan yaitu jika bahan
bangunan yang digunakan sesuai dengan kondisi sumber daya setempat, maka bangunan akan terpakai dalam jangka waktu yang panjang dan menguntungkan dari segi kalkulasi energi, karena meminimalkan jarak transportasi dan ketergantungan atas teknologi tinggi.
4.2.5 Karakteristik Permukiman Tertata
Permukiman tertata di wilayah DAS Cianjur keberadaannya menyebar mulai dari wilayah hulu sampai hilir. Di wilayah hulu lebih didominasi oleh permukiman tertata berkelas mewah berupa villa-villa. Permukiman tertata di wilayah tengah dan hilir terdiri dari permukiman berkelas menengah ke bawah mulai dari tipe 22/60 hingga 100/120.
Secara umum permukiman tertata di wilayah DAS Cianjur tidak berada pada : 1) kawasan lindung dengan kemiringan > 40 %, 2) daerah rawan banjir namun berada pada : 1) bantaran sungai atau sempadan sungai terutama di Kelurahan Sayang, 2) daerah rawan bencana letusan Gunung Gede meliputi permukiman tertata di kiri kanan jalan nasional Cianjur-Pacet mulai dari Kecamatan Cugenang sampai Kecamatan Pacet., dan 3) daerah waspada letusan gunung api, aliran lava, awan panas dan lahar terutama di sekitar permukiman tertata yang berada di sekitar alur sungai dan anak sungai mulai dari Kecamatan Cugenang dan Pacet. Hal ini disebabkan oleh kecenderungan lokasi permukiman tertata yang memerlukan pemandangan indah dan nuansa dekat dengan alam sebagai daya tarik.
Luas lahan yang sudah dikeluarkan izinnya untuk permukiman tertata selama periode tahun 1988 sampai dengan 2002 di wilayah Kabupaten Cianjur sebesar 2 653.40 ha atau 62.4 % dari luas lahan total yang dizinkan sebesar 4 249.35 ha (Dinas Cipta Karya 2005). Luas lahan untuk permukiman tertata di wilayah DAS Cianjur yang sudah dikeluarkan izinnya terbesar terdapat di bagian hulu yaitu di Kecamatan Pacet sebesar 1 675.84 ha atau 39.4 %.
Luas permukiman tertata di Kabupaten Cianjur yang termasuk dalam kawasan budidaya adalah 925.65 ha atau 0.9% (BPN Kabupaten Cianjur 2007). Berdasarkan arahan tata ruang kabupaten Cianjur tahun 2005 - 2015, luas peruntukan lahan permukiman tertata untuk masing-masing kecamatan yang termasuk wilayah DAS Cianjur adalah Pacet (2 043 ha), Cugenang (1 703 ha), Cianjur (2 150 ha), Cilaku (1 693 ha), Karang tengah (1 993 ha), dan Sukaluyu (1 373 ha). Sehubungan dengan itu diperlukan konversi lahan guna mencukupi kebutuhan masyarakat akan permukiman tertata. Persediaan lahan untuk wilayah Pacet adalah tegalan dan kebun campuran, wilayah Cugenang, Cianjur, Cilaku, Karang Tengah adalah lahan sawah dan kebun campuran, sedangkan untuk wilayah Sukaluyu tersedia lahan sawah, kebun campuran dan tegalan (BPN Kabupaten Cianjur 2007). Hal ini menunjukkan bahwa akan terjadi pengurangan lahan pertanian yang mengancam ketersediaan pangan di wilayah Kabupaten Cianjur.
4.3 Spesifikasi Kebutuhan dan Gaya Hidup Masyarakat Terhadap Permukiman
4.3.1 Karakteristik Gaya Hidup Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Permukiman
Gaya hidup merupakan cara hidup atau gaya kehidupan yang direfleksikan dengan tingkah laku dan nilai-nilai dari individu atau kelompok (Garman 1991). Gaya hidup merupakan hasil penyaringan dari serentetan interaksi sosial, budaya dan lingkungan. Beberapa hal yang termasuk gaya hidup diantaranya adalah mengelola rumah beserta lingkungannya.
Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas manusia. Karena setiap aktifitas manusia pasti menghasilkan buangan atau sampah. Jenis sampah, sangat tergantung dari jenis material konsumsi. Pengelolaan sampah tidak bisa lepas dari gaya hidup masyarakat. Jumlah penduduk dan gaya hidup sangat berpengaruh pada volume sampah. Secara umum di lingkungan permukiman DAS Cianjur tidak memiliki fasilitas tempat pembuangan sampah, sehingga pola pengelolaan sampah yang dilakukan masyarakat sebagian besar masih bersifat individual dengan cara penanganan dibakar di pekarangan rumah dan dibuang ke
selokan atau sungai (Tabel 32). Penanganan semacam ini, dalam jangka waktu lama akan mengakibatkan tingkat pencemaran udara dan air permukaan akan semakin tinggi. Sejalan dengan hal tersebut Soma (2007) merekomendasikan model pengelolaan sampah secara mandiri untuk skala lingkungan terutama di lingkungan permukiman tidak tertata. Model ini terdesentralisasi di setiap lingkungan permukiman (satu RW) dengan jumlah rumah antara 300 – 500. Unit sampah dari masing-masing rumah terlebih dahulu dilakukan pemilahan antara sampah organik dan non organik. Hal ini didukung pendapat Pahlano (2005) bahwa sistem pengelolaan sampah ini berhasil membuat lingkungan bersih dan nyaman, disamping itu sampah baik organik maupun non-organik dapat bernilai ekonomi, namun dalam hal ini memang gaya hidup seperti disiplin dan keteraturan masyarakat sangat diperlukan.
Sistem pengelolaan dan penanganan sampah dengan cara dikumpulkan dan diangkut oleh petugas kebersihan hanya terjadi pada dua kawasan permukiman tertata dan satu permukiman tidak tertata di zona DAS tengah yang berada di kawasan perkotaan. Petugas kebersihan dari Dinas Ciptakarya mengangkut sampah ke TPS atau TPA. TPA berlokasi di Kecamatan Cibeber, yaitu TPA Pasir Bungur dengan luas areal sebesar 12 Ha dengan sistem open dumping.
Tabel 32 Sistem pengelolaan dan penanganan sampah Pengelolaan Sampah Penanganan Sampah Zona DAS Individual
(%) Petugas Kebersihan (%) Dibakar (%) Dibuang ke selokan (%) Diangkut ke TPS/TPA (%) Hulu 100 - 50 50 - Tengah 25 75 25 - 75 Hilir 100 - 100 - -
Keterangan: Total sampel 12 kampung
Sumber air bersih untuk keperluan minum dan Mandi Cuci Kakus (MCK) diperoleh masyarakat di wilayah DAS Cianjur sebagian besar dari sumur gali dengan kedalaman bervariasi antara tiga sampai delapan meter, sedangkan sumber air untuk MCK umum diperoleh sebagian besar dari mata air (Tabel 33). MCK umum di lingkungan permukiman tidak tertata yang memanfaatkan air selokan atau sungai sebagai sumber air untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus tidak memenuhi syarat dari segi kesehatan dan mengurangi tingkat pemanfaatan air di
bagian hilir. Hal ini sejalan dengan pendapat Soemirat (1996) jika sungai digunakan untuk mengalirkan air buangan, maka akan terjadi pengurangan manfaat air untuk di daerah hilirnya. Masyarakat di hilir terkena dampak berupa keterbatasan dalam memanfaatkan air karena kondisi air sudah tercemar.
Permukiman tidak tertata yang berada di zona hulu DAS sebagian besar memperoleh air bersih untuk keperluan minum dan MCK dari mata air. Sistem pengambilan dan pendistribusian air menggunakan bak-bak penampung, antar bak penampung dihubungkan dengan pipa pvc, sedangkan pendistribusian air dari bak penampungan ke rumah-rumah menggunakan selang plastik. Sumber air minum dan MCK pribadi di zona DAS tengah sebagian besar diperoleh dari PDAM sedangkan untuk MCK umum diperoleh dari mata air dan selokan atau sungai. Sumber air minum dan MCK pribadi di zona DAS hilir diperoleh dari sumur gali sedangkan untuk MCK diperoleh dari mata air dan selokan atau sungai.
Tabel 33 Sumber air minum, kamar mandi pribadi, dan MCK umum Sumber Air Minum dan
MCK Pribadi Sumber Air MCK Umum Zona DAS Mata
Air (%) Sumur Gali (%) PDAM (%) Mata Air (%) Sumur Gali (%) Sungai (%) Hulu 75 25 - 75 25 - Tengah - 25 75 50 - 50 Hilir - 100 - 50 - 50
Tabel 34 menunjukkan sebagian besar permukiman di wilayah DAS Cianjur membuang limbah padat dan cair yang berasal dari kamar mandi ke septiktank. Namun sebaliknya untuk limbah yang berasal dari MCK umum dan dapur sebagian besar dibuang ke selokan. Hasil wawancara lebih lanjut terungkap bahwa pembuangan limbah padat maupun cair baik yang berasal dari kamar mandi pribadi, MCK umum maupun dapur ke selokan disebabkan oleh akses selokan lebih mudah dan dari segi biaya lebih murah. Perilaku masyarakat membuang limbah padat dan cair ke selokan atau sungai akan mengakibatkan terjadinya pencemaran air permukaan. Hal ini sejalan dengan pendapat Reksohadiprodjo (1992) bahwa dengan semakin padatnya penduduk di suatu daerah, maka pencemaran air permukaan tidak bisa dihindari. Perilaku
masyarakat tersebut akan dapat membahayakan kesehatan seperti timbulnya penyakit disentri, tipus, dan kolera.
Tabel 34 Tempat pembuangan limbah padat dan cair Sumber Limbah
KM Pribadi MCK Umum Dapur Zona DAS Septiktank % Selokan /Sungai % Septiktank % Selokan/ Sungai % Kolam % Selokan/ Sungai % Saluran Drainase Terbuka % Hulu 100 - 25 75 - 100 - Tengah 50 50 - 100 - 50 50 Hilir 100 - - 75 25 100 -
Fasilitas umum yang dimiliki permukiman di wilayah DAS Cianjur berturut-turut sebagai berikut : mesjid dan poskamling, MCK, TPU, posyandu dan kantor RW. Keberadaan ruang terbuka hijau (RTH), balai pertemuan, dan tempat rekreasi hanya terdapat pada satu permukiman di zona DAS tengah (Tabel 35).Hal ini menunjukkan bahwa hanya permukiman di zona DAS tengah yang memiliki fasilitas umum yang memenuhi syarat kesehatan sesuai dengan Kepmenkes No. 829/Menkes/SK/VII/1999 bahwa permukiman sehat harus memiliki prasarana dan sarana lingkungan yang lengkap seperti taman bermain, tempat rekreasi, pengelolaan sampah, dan penghijauan.
Tabel 35 Fasilitas umum di permukiman Fasilitas Umum Ruang terbuka hijau Balai per- temu-an Mesjid Sarana olah-raga Tempat pemakam an umum Pos-yandu MCK umum Pos kamling Kantor RW Tempat rekreasi Zona DAS % % % % % % % % % % Hulu - - 100 - 50 - 100 100 - - Tengah 25 25 100 75 50 50 50 100 50 25 Hilir - - 100 25 50 - 100 100 - -
Pertemuan warga masyarakat di lingkungan permukiman mencerminkan budaya kebersamaan dalam membangun fasilitas umum dan fasilitas sosial. Masyarakat yang bermukim di wilayah DAS Cianjur sebagian besar melakukan pertemuan warga secara tidak rutin yaitu jika akan ada kegiatan seperti kegiatan keagaman dan peringatan hari kemerdekaan. Namun demikian di zona tengah dan hilir DAS Cianjur terjadi variasi waktu pertemuan warga yaitu : sebulan sekali, tiga bulan sekali dan enam bulan sekali (Tabel 36). Pertemuan warga di dilakukan
dengan tujuan untuk menjalin silahturahmi dan membangun fasum dan fasos yang dibutuhkan oleh warga. Kegiatan pertemuan yang dilakukan di mesjid, madrasah, sekolah, dan balai pertemuan akan membahas prioritas pembangunan fasum atau fasos dan sistem pendanaannya.
Kelembagaan yang ada di lingkungan permukiman setingkat kampung tidak terbatas hanya rukun tetangga (RT) dan rukun kampung (RK) atau rukun warga (RW) akan tetapi ada kelembagaan bersifat non formal yang dibentuk berdasarkan kebutuhan dan kesepakatan warga masyarakat. Keberadaan lembaga non formal tersebut didasari dengan tujuan awal untuk pengadaan fasilitas dan pembangunan dilingkungan perkampungan seperti : mesjid, mushala, TPU, jalan lingkungan, sarana olahraga, MCK umum dan pengadaan air bersih.
Tabel 36 Kegiatan pertemuan warga permukiman Waktu Pertemuan
Rutin Tidak Rutin
Sebulan sekali Tiga Bulan sekali Enam Bulan Sekali Bila ada kegiatan Zona DAS % % % % Hulu - - - 100 Tengah - 50 25 25 Hilir 25 25 - 50
Jenis lembaga non formal yang dibentuk berupa panitia pembangunan. Masing-masing panitia pembangunan memiliki cara-cara tertentu dalam menggalang dana diantaranya melalui pembayaran listrik secara kolektif, zakat qorim dari hasil pertanian, sumbangan sukarela, dan gotong royong pengadaan bahan bangunan. Melalui cara-cara tersebut ternyata cukup efektif sehingga kesinambungan pembangunan fasilitas dilingkungan permukiman terutama permukiman tidak tertata dapat berjalan.
4.3.2 Gaya Hidup Konsumen Dalam Memilih Permukiman 4.3.2.1 Kebutuhan Konsumen Permukiman
Gaya hidup, rumah, dan lingkungan merupakan tiga kata serangkai yang saling berkaitan erat dan sangat menentukan dalam pemilihan, penampilan, dan penataan rumah (Yoga 2007). Penawaran berbagai gaya rumah sering kali dipengaruhi trend baik rumah bergaya alami, modern, kontemporer, mediterania,
futuristik, maupun country, yang akan mempengaruhi tampilan suasana perumahan, bentuk rumah, jenis bahan bangunan, cat, keramik, perabotan, dan bentuk taman.
Kebutuhan masyarakat sebagai konsumen permukiman meliputi bentuk secara fisik yang terdiri dari: 1) bangunan rumah (konstruksi,luas, bahan bangunan, desain), 2) pekarangan, 3) keamanan, dan 4) kebersihan. Sehubungan dengan kebutuhan tersebut, masyarakat sebagai konsumen akan memiliki kecenderungan untuk mendapatkan yang lebih baik menurut standar yang dipahaminya.
Bentuk konstruksi rumah yang diinginkan oleh semua responden adalah bangunan permanen dengan gaya arsitektur modern. Luas tanah atau lahan yang dianggap ideal untuk rumah oleh sebagian besar responden baik di hulu (73.3%), tengah (60%), maupun hilir (66.7%) adalah 120 m2 (Tabel 37). Luas tanah tersebut dianggap cukup ideal dikarenakan: 1) harga jual tanah di lingkungan permukiman tertata jauh lebih tinggi dibandingkan harga di sekitarnya, 2) sebahagian besar konsumen permukiman tertata memiliki jumlah anggota rumah tangga yang kecil yaitu tiga sampai empat orang dengan status ekonomi yang berada pada level menengah ke bawah. Pada luas tanah 120 m2 sebagian besar responden menginginkan luas bangunan minimal 36 m2 dan sisanya untuk
pekarangan. Pekarangan tersebut dibutuhkan untuk difungsikan sebagai ruang bermain anak, taman, dan jemur pakaian.
Tabel 37 Jenis kebutuhan konsumen permukiman
Kebutuhan Konsumen (%) Jenis Konst. Luas Tanah Luas
Bgn Pondasi Dinding Lantai Plapond Atap Pagar Zona
Das
Permanen 120m2 36m2 Batukali Batubata Keramik Triplek Gipsum Genteng Tembok Besi Hulu 100 73.3 86.7 100 100 93.3 86.7 - 100 80 - Tengah 100 60 73.3 100 100 86.7 - 66.7 60 - 46.7 Hilir 100 66.7 60 100 100 100 53.3 - 66.7 46.7 -
Penggunaan bahan bangunan yang sesuai dengan lokasi hunian dan tepat sesuai dengan fungsinya, maka akan dapat memberikan tingkat kenyamanan yang lebih. Jenis bahan bangunan yang diinginkan responden di wilayah DAS Cianjur sesuai dengan elemen konstruksi bangunan rumah dapat dilihat pada Tabel 43 Pondasi sebagai salah satu elemen konstruksi bangunan yang berfungsi untuk
menahan beban di atasnya (lantai, dinding, plapond dan atap) dan menyalurkannya secara merata ke tanah keras di bawahnya. Untuk elemen ini, seluruh responden menginginkan batu kali sebagai bahannya. Demikian juga dengan dinding, seluruh responden menginginkan penggunaan batu bata sebagai bahan pembuat dinding, karena batu bata dinilai lebih kuat dari bahan pembuat dinding lainnya seperti batako.
Bahan untuk lantai yang diinginkan oleh sebagian besar responden di hulu (93.3%), tengah (86.7%) dan hilir (100%) adalah keramik. Pemilihan keramik ini didasarkan pada pertimbangan yaitu : 1) mudah pemeliharaan, 2) banyak pilihan warna dan motif, dan 3) lebih tahan lama. Bahan plapond yang diinginkan oleh sebagian besar responden di hulu (86.7%) dan hilir (53.3%) adalah triplek, dengan alasan harga lebih murah dan pemasangan lebih mudah. Bahan penutup atap yang diinginkan oleh sebagian besar responden di hulu (100%), tengah (60%) dan hilir (66.7%) adalah genteng. Dominasi penggunaan genteng disebabkan oleh kemudahan untuk mendapatkanya dan memberikan kenyamanan karena dapat menyerap panas.
Pagar merupakan aksesoris rumah yang berfungsi selain sebagai pembatas juga untuk keamanan. Sebagian besar responden menyatakan memerlukan pagar untuk alasan keamanan. Jenis bahan untuk pagar yang diinginkan oleh sebagian besar konsumen adalah tembok (Tabel 37). Lebih lanjut dengan alasan keamanan, sebagian besar responden memerlukan pemasangan teralis untuk rumahnya. Hal ini sependapat dengan hasil penelitian yang dilakukan Astuti (2005) tentang perencanaan dan perancangan untuk pengamanan kawasan perumahan kota dari tindak kriminal di empat kawasan perumahan di Bandung yang menemukan bahwa kondisi lingkungan menuntut untuk menciptakan batas-batas kepemilikan yang jelas dengan cara pembuatan pagar, sehingga orang asing merasa tidak nyaman berada di lingkungan tersebut, yang dapat mengurangi dan mencegah terjadinya kegiatan kejahatan.
Seluruh responden menginginkan pihak pengembang untuk melengkapi sumur resapan air (SRA) pada setiap rumah yang dipasarkan sesuai dengan tipenya. Hal tersebut didukung oleh hasil penelitian Mulyana (1998) di kawasan Puncak tentang penentuan tipe konstruksi sumur resapan air yang menemukan
konstruksi SRA akan efektif berfungsi apabila sesuai dengan tipe rumah, karakteristik fisik dan sosial ekonomi masyarakat. SRA sangat diperlukan pada kawasan permukiman tertata sebagai kompensasi alih fungsi lahan, yang berfungsi untuk menyeimbangkan kembali sistem tata air. SRA dapat ditempatkan di pekarangan rumah (Gambar 23).
Gambar 23 Sumur resapan air pada pekarangan rumah (Sumber: PU Cipta Karya 2003)
4.3.2.2 Tingkat Kepuasan Konsumen Permukiman Tertata
Bentuk arsitektur rumah yang ditawarkan atau dipasarkan oleh pengembang berskala menengah kebawah di wilayah DAS Cianjur bernuansa modern. Tabel 44 menunjukkan bahwa konsumen di wilayah sub DAS hulu, tengah dan hilir sebagian besar menyatakan ketidakpuasan terhadap pelayanan yang diberikan pihak pengembang masing-masing 46.7%, 60%, dan 100%.
Ketidakpuasan disebabkan oleh dua hal yaitu: 1) pihak pengembang tidak memberikan respon yang baik apabila proses akad kredit telah disetujui antara konsumen, pihak pengembang dan bank pemberi kredit. Artinya bahwa setelah proses akad kredit, terdapat tenggang waktu 100 hari yang diberikan oleh pengembang kepada konsumen untuk mengajukan keberatan terhadap kualitas bangunan seperti kerusakan komponen bangunan dan fasilitas lain. Ketika keberatan diajukan oleh konsumen, pihak pengembang lambat dalam merespon, sehingga bagi konsumen yang memerlukan rumahnya untuk cepat dihuni harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memperbaiki kerusakan; dan 2) pihak pengembang menaikkan uang muka secara sepihak. Dalam hal ini konsumen
perumahan dirugikan karena ketika konsumen akan membatalkan pembelian rumah dengan alasan tersebut, konsumen merasa kesulitan untuk menarik kembali angsuran uang muka pertama sehingga dengan pertimbangan tersebut konsumen akhirnya menyetujui kenaikkan yang diajukan pihak pengembang.
Hasil penelitian ini didukung oleh pendapat Yoeti (2000) bahwa ketidakpuasaan konsumen disebabkan oleh: 1) performance lebih kecil expectation, yang berarti bentuk pelayanan yang diterima kurang baik karena harapan konsumen tidak terpenuhi, dan 2) performance sama dengan expectation, yang berarti pelayanan yang diterima biasa saja. Berdasarkan kedua kategori tersebut, maka ketidakpuasan konsumen dapat disebabkan oleh tingkat pelayanan yang diberikan oleh pihak pengembang tidak bisa memenuhi keinginan dan harapan konsumen.
Tabel 38 Persentase tingkat kepuasan terhadap bentuk permukiman tertata
Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Ragu-ragu Zona
DAS Permukiman tertata Atribut Kepuasan (%) (%) (%) (%)
Gaya Arsitektur - 100 - -
Tata ruang 66.7 33.3 - -
Hulu Site plan - 100 - -
Fasilitas - - 100 -
Keamanan 100 - - -
Pelayanan - 20 46.7 33.3
Gaya Arsitektur 100 - - -
Tata ruang 100 - - -
Tengah Site plan 100 - - -
Fasilitas - 6.7 93.3 -
Keamanan 20 - 13.3 66.7
Pelayanan - - 60 40
Gaya Arsitektur 73.3 26.7 - -
Tata ruang 46.7 53.3 - -
Hilir Site plan 66.7 33.3 - -
Fasilitas - 80 20 -
Keamanan - - 100 -
Pelayanan - - 100 -
Keterangan: n = 45
Terdapat beberapa faktor yang dianggap sangat penting bagi konsumen permukiman tertata dalam memilih dan memutuskan untuk membeli rumah, yaitu: 1) lokasi, 2) fasilitas air, listrik, dan telepon, 3) harga terjangkau dan 4) sistem keamanan (Tabel 39). Sebagian besar responden di zona hulu (73.3%), zona tengah (86.7%), dan zona hilir (73.3%) menyatakan bahwa lokasi merupakan indikator yang sangat penting dalam memilih permukiman tertata. Lokasi rumah
yang strategis, kemudahan aksesibilitas dan transportasi dari dan ke tempat tujuan akan sangat membantu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Demikian juga dengan faktor harga sebagian besar responden di hulu (73.3%), tengah (86.7%), dan hilir (73.3%) menyatakan sangat penting sebagai faktor yang menjadi pertimbangan utama dalam memilih dan memutuskan untuk membeli rumah.
Keamanan merupakan faktor yang dianggap sangat penting oleh sebagian besar responden di hulu (60%), tengah (73.3%), dan hilir (60%) dalam memilih suatu kawasan permukiman. Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Paccione (1999) bahwa keamanan merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat dalam suatu kawasan permukiman. Pendapat Paccione (1999) tersebut lebih dispesifikkan lagi oleh Sastra (2006) bahwa faktor keamanan meliputi rancangan rumah yang harus memenuhi persyaratan keamanan yaitu kokoh, kuat ,dan mampu melindungi aktivitas penghuni didalamnya.
Tabel 39 Persentase faktor terpenting dalam memilih rumah
Zona DAS Tingkat Kepentingan (%) Lokasi Desain Ruang Terbuka Hijau Balai pertemu-an Fasilitas air dan listrik Pengelola-an lingkung-an Sistem keaman-an Tempat rekreasi Harga Ter-jangkau Sangat tidak penting - 6.7 - 20.0 - - - 26.7 -
Hulu Tidak penting - 26.7 13.3 26.7 - - - 40.0 -
Penting 26.7 66.7 86.7 53.3 13.3 93.3 40.0 33.3 26.7
Sangat
penting 73.3 - - - 86.7 6.7 60.0 - 73.3
Sangat tidak
penting - 6.7 - 6.7 - - - 13.3 -
Tengah Tidak penting - 33.3 20.0 66.7 - - - 46.7 -
Penting 13.3 60.0 80.0 26.7 26.7 73.3 26.7 40.0 13.3
Sangat
penting 86.7 - - - 73.3 26.7 73.3 86.7
Sangat tidak
penting - 26.7 - 26.7 - - - 26.7 -
Hilir Tidak penting - 26.7 6.7 66.7 - - - 40.0 -
Penting 26.7 46.7 93.3 6.7 26.7 93.3 40.0 33.3 26.7
Sangat
penting 73.3 - - - 73.3 6.7 60.0 - 73.3
Faktor yang dianggap penting oleh responden dalam pemilihan rumah diantaranya adalah ruang terbuka hijau (RTH) dan pengelolaan lingkungan. RTH dan ruang terbuka hijau pekarangan (RTHP) merupakan bagian penting yang menjadi bahan pertimbangan bagi sebagian besar konsumen di hulu (86.7%), tengah (80%), dan hilir (93.3%) dalam memilih dan membeli rumah dalam suatu
kawasan permukiman tertata. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Aurelia (2002) yang meneliti tentang hubungan antara harga penjualan dengan karakteristik perumahan dengan responden konsumen real estate sebanyak 810, yang menemukan bahwa faktor lingkungan yaitu kedekatan ke daerah hijau, ukuran dan keberadaan atau ketidakadaan pemandangan kebun atau taman publik mempengaruhi minat konsumen walaupun berbanding lurus dengan harga. Hal tersebut juga didukung oleh hasil penelitian Bolitzer et al. (2000) di Portland yang menemukan bahwa keberadaan ruang terbuka hijau dilingkungan perumahan akan berpengaruh terhadap nilai jual perumahan.
Sebagian besar responden di hulu (93.3%), tengah (73.3%) maupun hilir (93.3%) menganggap penting terhadap pengelolaan lingkungan yaitu pengelolaan air limbah dan sampah. Sistem saluran air di lingkungan permukiman tertata telah direncanakan sejak dari awal sebelum pengerjaan konstruksi bangunan rumah. Namun tidak memperhatikan aspek lingkungan, karena air limbah bekas mandi dan cuci dibuang langsung ke saluran air, sehingga saluran air akan tercemar yang dapat membahayakan penghuni. Hal ini sejalan dengan pendapat Esti (1991) bahwa air bekas limbah dari kamar mandi dan tempat cuci seharusnya tidak langsung dibuang ke saluran air tetapi terlebih dahulu disalurkan ke bak penampung untuk proses pengolahan.
4.3.3 Penilaian Kinerja Kualitas Produk Permukiman Tertata
Green consumer pada akhir-akhir ini muncul sebagai upaya perlindungan terhadap kondisi lingkungan yang semakin lama semakin menurun kualitasnya. Hal tersebut mendorong pihak industri untuk mempertimbangkan dampak lingkungan yang diakibatkan oleh setiap aktifitasnya (Puji dkk. 2004). Produk yang sukses adalah produk yang mampu memberi manfaat sesuai dengan yang dipersepsikan oleh konsumen, sehingga perlu untuk mempertimbangkan kualitas produk berdasarkan kebutuhan dan keinginan konsumen yang sekarang mulai mengarah pada produk yang ramah lingkungan.
4.3.3.1 Kebutuhan Konsumen dan Prioritas Kebutuhan
Kebutuhan dan harapan konsumen dijabarkan melalui atribut-atribut kualitas berdasarkan tiga parameter utama sebagaimana yang dikembangkan
Dammann (2004) dalam enviromental indicator for building (EIFOB) yaitu: konstruksi, fungsi dan estetika. Berdasarkan hasil brainstorming dengan salespeople dan konsumen ahli telah diidentifikasi sebanyak 11 atribut harapan konsumen sebagai atribut primer terhadap produk permukiman tertata yaitu : 1) konstruksi bangunan, 2) bahan bangunan, 3) luas lahan, 4) terjangkau, 5) kesehatan, 6) keamanan, 7) fasum-fasos, 8) ekologis, 9) gaya arsitektur, 10) desain siteplan, dan 11) desain ruang terbuka hijau pekarangan.Selanjutnya dari 11 atribut primer, dalam focus group discussion (FGD) berkembang sehingga diperoleh 21 atribut sekunder (Tabel 40) yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumen permukiman tertata dalam memilih produk permukiman tertata yang sehat dan berwawasan lingkungan (Kimseberling).
Tabel 40 Atribut kebutuhan konsumen permukiman tertata
Primer Sekunder Konstruksi bangunan Kokoh dan kuat
Bahan bangunan Sesuai SNI
Sesuai standar min untuk setiap tipe Luas lahan
> Standar min untuk setiap tipe Harga kredit atau tunai Terjangkau
Aksesibilitas (Angkutan umum) Air bersih
Kesehatan
Ventilasi udara dan cahaya Sistem keamanan bersama Keamanan
Sistem cluster + satpam
Taman dan tempat bermain anak Sarana olahraga Sarana beribadah Bale pertemuan Fasum-fasos Jalan Pengelolaan sampah
Pengelolaan limbah KM/dapur Ekologis
Sumur resapan air Gaya arsitektur Gaya arsitektur Desain siteplan Siteplan kawasan Desan RTHP Desain RTHP
Selanjutnya fokus grup di wawancarai setelah mendapat informasi tentang kondisi proyek permukiman tertata yang meliputi: spesifikasi bahan bangunan, siteplan, desain arsitektur, harga, sistem kepemilikan, fasum-fasos, dan bank pemberi kredit. Setelah benchmarking antara proyek saat ini dan proyek pesaing, memungkinkan untuk membuat penilaian tingkat kepentingan dari masing-masing atribut (Gambar 24). Fokus grup dapat mengevaluasi perbedaan aspek dari desain saat ini dan membandingkannya dengan proyek-proyek pesaing atau berdasarkan
pengalaman sebelumnya. Untuk tujuan ini, nilai yang digunakan antara 1 sampai 5 (terburuk – terbaik). Gambar 24 merupakan bagian dari matriks rumah kualitas yang memberikan kejelasan mengenai hubungan antara persyaratan konsumen, penilaian konsumen, dan tingkat kepuasaan konsumen.
Perbandingan antar
Pesaing Consumen Rating Atribut Persyaratan Konsumen
T ingka t K ep entin gan Perum ah an Ga di ng As ri Perum ah an Me kar sar i Re ge nc y Perum ah an Pano ram a Ci an ju r 1 2 3 4 5
Kons.Bgn Kokoh dan kuat 5 3 4 3 ●
Bhn. Bgn Sesuai SNI 4 3 3 3 ●
Sesuai std.min untuk setiap tipe 2 3 3 3 ● Luas
Lahan
> std.min untuk setiap tipe 4 0 0 0
Harga kredit atau tunai 5 3 3 2 ● Terjangkau
Aksesibilitas (Angkutan umum) 4 3 3 3 ●
Air bersih 5 4 3 2 ●
Kesehatan
Ventilasi udara dan cahaya 4 2 2 2 ● Sistem keamanan bersama 2 2 2 2 ● Keamanan
Sistem cluster + satpam 5 2 4 3 ● Taman dan tempat bermain anak 4 1 3 2 ●
Sarana olahraga 4 3 3 4 ● Sarana beribadah 4 2 3 2 ● Bale pertemuan 3 0 0 0 ● Fasum-fasos Jalan 5 3 3 3 ● Pengelolaan sampah 4 1 2 2 ● Pengelolaan limbah KM/dapur 3 1 1 1
Ekologis
Sumur resapan air 2 0 0 0
Gaya arsitektur 4 4 4 4 ●
Siteplan kawasan 3 4 3 4 ●
Estetika
Desain RTH 3 2 3 2 ●
Gambar 24 Kebutuhan konsumen dan analisis competitive benchmarking 4.3.3.2 Persyaratan Konsumen (Customer Requirement)
Berdasarkan rumah kualitas (Gambar 25) diketahui bahwa dari beberapa atribut harapan pelanggan yakni kekokohan konstruksi bangunan, sistem keamanan, taman bermain, sarana ibadah, dan desain RTH ternyata nilai atribut Permukiman Mekarsari Regensi selalu lebih tinggi dibandingkan dengan Permukiman Gading Asri dan Graha Panorama Cianjur. Hal ini menunjukkan
bahwa permukiman tertata Mekarsari Regensi kualitasnya lebih baik dibandingkan dengan dua permukiman tertata pesaingnya. Walaupun demikian, dari atribut kualitas bahan bangunan, luas lahan, keterjangkauan angkutan umum, ventilasi udara dan cahaya, jalan, dan gaya arsitektur, ketiga kawasan permukiman tertata tersebut memiliki kualitas yang sudah sama.
Selanjutnya berdasarkan atribut-atribut yang memiliki tingkat kepentingan yang tinggi yaitu: kekokohan konstruksi bangunan, harga jual, ketersediaan air bersih, dan sistem keamanan, ternyata harga jual rumah di permukiman tertata Graha Panorama jauh lebih tinggi dibandingkan harga jual rumah di dua permukiman tertata lainnya untuk tipe 30/72 (luas bangunan 30 m2 dengan luas tanah sebesar 72 m2). Tingginya harga jual rumah di Graha Panorama Cianjur disebabkan harga lahan di lokasi Graha Panorama Cianjur lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga lahan di kedua lokasi pesaingnya.
Atribut dengan tingkat kepentingan yang menempati urutan kedua adalah terdiri dari: bahan bangunan, keterjangkauan angkutan umum, ventilasi udara dan cahaya, taman dan tempat bermain, sarana olahraga, sarana ibadah, pengelolaan sampah, dan gaya arsitektur. Berdasarkan bobot terpenting urutan kedua ini, permukiman tertata Mekarsari Regensi memiliki keunggulan dari segi kelengkapan fasilitas umum dan fasilitas sosial yaitu berupa taman bermain dan sarana ibadah dibandingkan dengan produk yang dihasilkan oleh dua permukiman tertata lainnya. Namun dari segi fasilitas olahraga sedikit lebih rendah dibandingkan dengan yang dimiliki oleh Graha Panorama Cianjur. Pada bobot atribut terpenting urutan kedua yang memiliki kualitas yang sama antara ketiga kawasan permukiman tertata tersebut adalah: kualitas bahan bangunan, ventilasi udara dan cahaya, dan aksesibilitas angkutan umum.
Kualitas ventilasi udara dan cahaya mencerminkan tingkat kesehatan dan kenyamanan rumah sebagai tempat tinggal. Oleh karena itu ventilasi udara dan cahaya harus memenuhi syarat minimum sebagaimana yang disebutkan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 29/PRT/M/2006. Udara akan sangat berpengaruh dalam menentukan kenyamanan pada bangunan rumah. Kenyamanan akan memberikan kesegaran terhadap penghuni dan terciptanya rumah yang sehat,
++ + + ++ + ++ ++ ++ + + + + + Ti ngk at K ep entin ga n Desa in S ite pl an & Konstru ksi P ema ta nga n la ha n Pen ga daan b aha n P en ger ja an inf rast uktu r, f asum P en ger ja an Konstru ksi Kegi at an Pem as ar an P er um Ga di ng As ri Perum Mekars ari R . Perum P ano ra m a C . Targ et Ra si o
KBG Kokoh dan kuat 5
³
3 4 3 5 1.2BBG Sesuai SNI 4
³
³
3 3 3 4 1.3Sesuai std.min untuk setiap
tipe 2
³
3 3 3 5 1.7LLN
>std.min untuk setiap tipe 2
³
0 0 0 4 0Harga kredit atau tunai 5
³
³
3 3 2 4 1.3TJK Aksesibilitas (Angkutan
umum) 4
³
3 3 3 5 1.7Air bersih 5
³
4 3 2 5 1.2KES
Ventilasi udara dan cahaya 4
³
3 3 3 4 1.3Sistem keamanan bersama 2 1 1 2 3 1.5
KEA
Sistem cluster + satpam 5 2 4 3 5 1.2
Taman dan tempat bermain
anak 4
³
1 3 2 4 1.3 Sarana olahraga 4³
³
3 3 4 4 1.3 Sarana beribadah 4³
³
2 3 2 4 1.3 Bale pertemuan 4³
0 0 0 3 0 FNF Jalan 3³ ³
3 3 3 5 1.7 Pengelolaan sampah 4³
³
1 2 2 4 2Pengelolaan limbah KM/dapur 3
³
2 2 1 4 2 EKOSumur resapan air 2
³
0 0 0 3 0Gaya arsitektur 4
³
³
³
4 4 4 5 1.2Siteplan kawasan 3
³
4 3 4 4 1EST
Desain RTH 3 2 3 2 4 1.3
Kawasan Permukiman Gading Asri 5 4 4 3 4 4 Kawasan Permukiman Mekarsari Regency 5 4 4 3 4 4 Kawasan Permukiman Panorama Cianjur 5 4 4 4 4 3 Nilai (Tingkat Kepentingan) 496 55 129 101 151 114 Nilai Relatif 0.47 0.05 0.12 0.10 0.15 0.11
Keterangan : KBG=Konstruksi bangunan; BBG=Bahan bangunan; LLN=Luas lahan; TJK=Terjangkau; KES=Kesehatan; KEA=Keamanan; FNF=Fasum dan Fasos; EKO=Ekologis; EST=Estetika