• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebutuhan pengembangan material substitusi di bidang perumahan dan permukiman di Indonesia yang berkelanjutan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kebutuhan pengembangan material substitusi di bidang perumahan dan permukiman di Indonesia yang berkelanjutan"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

Peningkatan jumlah penduduk dan pemenuhan akan fasilitas bermukim semakin membutuhkan inovasi disain dan penggunaan material konstruksi bagi para arsitek. Kecepatan pemasangan dilapangan, kualitas tampilan pada fasade, kesesuaian dengan iklim regional serta disain yang fleksibel, adalah manifestasi dari material yang mampu menjawab kebutuhan arsitek dibidang perumahan. Perkembangnya teknologi bangunan dan slogan untuk

merencanakan arsitektur yang berwawasan lingkungan semakin membutuhkan pengembangan material baru yang responsif, terhadap kebutuhan zaman.

Berdasarkan data dari Biro pusat Statistik, dapat dijelaskan bahwa setiap PELITA terdapat pembangunan perumahan secara besar-besaran diperkotaan. Rata-rata 5.000.000 unit rumah dalam 5 tahun atau 1.000.000 unit rumah dalam 1 tahun. Bisa dipastikan terjadi produksi perumahan secara masal dan besar-besaran. Berarti dibutuhkan komponen perumahan yang dapat

Kebutuhan pengembangan material substitusi di bidang perumahan dan permukiman di Indonesia yang berkelanjutan

Putri Suryandari, ST,MArch

Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Budi Luhur Jakarta putri@bl.ac.id / putriraka@yahoo.com

Abstrak

Industri konstruksi perumahan adalah salah satu bidang yang paling besar yang berkaitan dengan pembiayaan, volume penyedian bahan baku, konsumsi sumber alam, maupun ketenaga-kerjaan. Selain itu variasi material juga banyak dihasilkan dan dikonsumsi oleh industri konstruksi bidang permuhan dan permukiman. Sumber alam dan energi dikonsumsi untuk memproduksi material konstruksi seperti, kayu, batu bata, semen, baja, gelas/kaca dan aluminium. Sementara sumber-sumber alam ini semakin berkurang, sedangkan issu penghematan sumber daya lingkungan semakin kuat terdengar.

Berbagai institusi maupun akademisi telah melakukan pengembangan maupun penemuan teknologi bahan bangunan pengganti yang tepat guna. Pemanfaatan yang berkelanjutan untuk aplikasi teknologi perumahan maupun permukiman, merupakan faktor penting hingga teraplilasinya produk tersebut di masyarakat. Keberlanjutan ditentukan oleh kebutuhan dari satu masyarakat, dari satu kawasan dan paling baik bila ditentukan oleh masyarakat terkait”1.

Hasil penelitian ini hendaknya dijadikan pegangan oleh pemerintah, akademisi maupun produsen bahan bangunan untuk dapat memanfatkan bahan bangunan pengganti hasil penelitian yang telah teruji secara ilmiah, kepada masyarakat, untuk mengurangi eksploitasi sumber daya nasional.

(2)

diperoleh secara kontinyu, cepat dan dengan persediaan yang cukup memadai.

Pengadaan perumahan massal, membutuhkan standarisasi material dan management yang dikelola dengan baik, sehingga segi kualitas disamping kecepatan pengerjaan dapat di capai. Untuk menunjang konsep tersebut diatas diperlukan produksi dan penyediaan bahan bangunan yang relatif dapat dijangkau oleh semua lapisan yang memenuhi syarat teknis dan kesehatan serta terbuat dari bahan-bahan yang terdapat di Indonesia.

Berbagai jenis bahan bangunan substitusi sudah di kembangkan oleh akademisi maupun institusi penelitian dan pengambangan bahan bangunan untuk permukiman. LIPI, Puskim Dept. PU, maupun universitas sudah mengembangkan inovasi maupun penemuan baru, bahan bangunan substitusi. Namun tidak banyak memang yang dapat di aplikasikan dan berkembang di masyarakat luas. Padahal jumlah universitas di Indonesia dapat terbilang sangat banyak. Oleh karena itu perlu sekali ditelusuri, bagaimana material substitusi hasil penelitian dapat berkembang dan diaplikasikan oleh masyarakat maupun industri nasional. Sehingga banyaknya institusi maupun akademisi yang mengadakan penelitian dibidang bahan bangunan, hasilnya tidak hanya tersimpan diperpustakaan tetapi tercapai tujuan dan sasarannya.

2. Teori Dasar

2.1.Pembangunan yang Berkelanjutan ( Suistainable Building )

Perkembangan pembangunan sendiri saat ini, mengacu pada pembangunan yang ekologis, sehingga menimbulkan pembaharuan dalam

bidang perancangan arsitektur. Berdasarkan kerusakan pada sumber daya alam dan kehilangan sumber penghidupan manusia secara global, maka kebutuhan dasar manusia berwawasan lingkungan harus disadari secara benar1.

2.2. Arsitektur Berkelanjutan ( Sus-tainable Architecture)

Pengertian Arsitektur yang berkelanjutan, seperti dikutip dari buku James Steele, Suistainable Architecture adalah,

”Arsitektur yang memenuhi kebutuhan saat ini, tanpa membahayakan kemampuan generasi mendatang, dalam memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Kebutuhan itu berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lain, dari satu kawasan ke kawasan lain dan paling baik bila ditentukan oleh masyarakat terkait”2.

2.3. Sustainable Material (Material Berkelanjutan)

Nilai keberlangsungan dan kelestarian lingkungan yang melekat pada istilah bangunan ekologis, bukan berarti hanya bangunan yang menggunakan bahan bangunan alam atau bio, tetapi lebih luas dari itu. Kriteria kelestarian lingkungan artinya menggunakan atau memanfaatkan sumber daya alam secara proporsional sesuai kebutuhan dan pemenuhan kepentingan terhadap lingkungan.

Pengaruh bangunan pada lingkungan menurut Peter Graham,

1 Peter Graham, Building Ecology – First

Principle for a Suistainable Built

Environment, Blackwell Science Ltd, 2003

2 James, Steele, Sustainable Architecture, New York, Mc Graw Hill 1997

(3)

harus memikirkan Life cycle dari bangunan yang mengefek pada bahan bangunan yang digunakan. Sementara siklus bahan atau rantai bahan yang utuh

menurut Heizn Frick, adalah melingkar tidak terputus, yang terputus berarti mengalami gangguan.

Gambar. A Rantai Bahan yang Terganggu dan tidak terganggu

Sumber : Heizn Frick, Ilmu Bahan Bangunan, Kanisius, 19973

Gambar B. Building life cycle menurut Peter Graham4,

Raw material extraction, Material production

Reuse & recycling Production of construction products

Demolition

Construction, Rebuilding

Use & maintenance

Sumber : Peter Graham, Building Ecology, Blackwell Science Ltd, 2003

3 Heizn Frick, Ilmu Bahan Bangunan, Kanisius th 1997 4 Ibid 2 Peredaran alam terganggu Tanah tercemar Limbah kimia Udara diracuni Peredaran tidak terganggu Gangguan Disposal

(4)

Suatu bangunan yang menggunakan bahan atau komponen logam, seperti baja dan alumunium, dapat dinilai sebagai bahan yang ekologis, jika mampu digunakan dan diolah kembali material yang pernah dipakai (reuse dan recycling) menjadi material atau produk lain yang berguna.

2.4.Sukses dan Kegagalan Keberlan- jutan Pengembangan Material Baru

Menurut Charles W. Dolan. Profesor of engineering, di University of Wyoming AS, untuk mengetahui seberapa jauh keberlajutan pengambangan material baru, di perlukan pengujian terhadap,

1. Kebijakan pemerintah, yang terdiri dari,

• Peran ekonomi negara

• Proses pengambilan keputusan

• Kompleksitas pengambilan keputusan

2. Manfaat ekonomi,

3. Dampak di dalam masyarakat

3. Methode Penelitian Fokus penelitian

Di arahkan untuk mengetahui keberlanjutan aplikasi bahan substitusi hasil penelitian institusi dan pendidikan, di industri perumahan dan permukiman masal. Selain itu untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh pada keberlanjutan pengembangan material substitusi hasil penelitian tersebut yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas.

Objek Penelitian

Keberlanjutan pengembangan material substitusi hasil penelitian yang

terdapat di LIPI, Puskim Dept PU, serta universitas.

Unit Analisis

Objek penelitian dianalisis terhadap teori dasar. Kemudian ditarik kesimpulan mengenai faktor-faktor yang mampu membuat sebuah hasil penelitian dapat berlanjut

4. Konstribusi Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat :

a. Membantu terlaksananya peme -nuhan kebutuhan akan rumah murah, dengan material substitusi yang terjangkau.

b. Membantu berkembangnya industri baru bahan bangunan substitusi, untuk perumahan dan permukiman. c. Menggerakkan pihak akademisi

untuk dapat menyebarluaskan hasil penelitiannya.

B. HASIL PENELITIAN

1. Pengembangan material substitusi yang berkelanjutan

Salah satu insttitusi riset yang dapat di peroleh datanya yaitu Puslitbangkim Dept. PU. Pusat penelitian dan pengambangan permukiman yang dimiliki oleh Dept PU. Puslitbangkim ini bertujuan untuk

melakukan penelitian dan pengembangan seluruh komponen permukiman, baik perangkat keras ataupun lunak, perencanaan wilayah secara luas, sistem drainage, pengairan, utilitas maupun bahan bangunan.

Hasil penelitian material substitusi komponen untuk permukiman yang di selenggarakan oleh Pusat Penelitian dan Pengambangan Permukiman Departemen PU,

(5)

diantaranya yang dikembangkan pada tahun 1970 serta telah dikenal luas oleh masyarakat adalah, Batako. Berkembang setelah itu konblok dan grass blok. Keberlanjutan hasil penelitian ini dapat di rasakan dipakai oleh seluruh masyarakat di Indonesia sampai saat ini. Pengembangan produk2 tersebut saat ini telah diinovasi dan dapat memanfaatkan limbah sebagai komponen campurannya, seperti sekam padi, kelapa sawit maupun kertas. Bahkan dengan adanya kasus Sidoarjo dengan lumpur panasnya, telah juga di kembangkan komponen batako dan konvblok dengan menggunakan lumpur tersebut.

Selain batako, sampai saat ini sudah ratusan penelitian dan pengembangan material substitusi di hasilkan disana. Berdasarkan data

sosialisasi hasil penelitian dan pengembangan material substitusi untuk permukiman yang dilakukan oleh Puslitbangkim tahun 2003 – 2006, kurang lebih 60% hasil penelitian material substitusi telah disosialisasikan ke hampir seluruh wilayah di Indonesia.

Proses implementasi hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Puslitbangkim Dept. PU menjadi penting, mengingat produk-produk penelitian ini dapat berlanjut dan hasilnya dapat di aplikasikan di masyarakat dan dapat menambah industri material baru, yang berarti menyerap lapangan kerja.

Proses implementasi hasil penelitian material substitusi yang berkelanjutan tersebut, memiliki proses sebagai berikut :

Peneliti hanya bertindak sebagai peneliti membuat standart dan advis teknis, sosialisasi dilakukan oleh bidang lain yang bersifat lebih umum, demikian juga

dengan implementasi serta evaluasi implementasi. Sehingga fungsi dari penelitian dan pengembangan hasil penelitian berjalan dengan baik.

1 2 3

Input masalah

Instruksi / inisiatif untuk mengadakan penelitan dan pengembangan satu

jenis material / konstruksi sesuai

masalah

Temuan hasil Penelitian dan Pengambangan yang

bermanfaat Standarisasi dan sosialisasi Implementasi dan Advise Teknis Evaluasi hasil implementasi 6 4 5 Tabel gambar 1.

(6)

Sosialisasi hasil penelitian dilaksanakan dalam bentuk modul dan juklak, serta di berikan kepada masyarakat dipusat pelatihan. Tujuan akhir dari sosialisasi adalah implementasi hasil penelitian bagi munculnya industri kecil yang baru.

3. Pengembangan material substitusi yang mengalami hambatan

Universitas adalah sebuah lembaga pendidikan yang hasil penelitiannya diharapkan dapat diimplemetasikan ke masyarakat luas. Akhir – akhir ini dengan menjamurnya

universitas, tidak banyak yang dapat meneruskan hasil penelitiannya kemasyarakat. Sebagian besar hasil temuan tidak dikelola dengan baik. Kalaupun ada dilaksanakan sendiri oleh mahasiswa atau dosen yang melakukan penelitian, bekerja sama secara pribadi dengan pihak - pihak industri.

Proses implementasi hasil penelitian material substitusi yang tidak berkelanjutan tersebut, terutama yang terjadi di universitas swasta memiliki proses sebagai berikut :

C. ANALISIS

Peredaran dan perkembangan yang tidak terganggu adalah yang tidak terputus5. Proses yang tidak terputus dalam pengembangan material hasil substitusi, selain di ikuti oleh peran serta pemerintah, memiliki manfaat ekonomi, juga memiliki dampak yang ditentukan oleh masyarakat 6.

Dari ke 2 hasil pengamatan mengenai pengembangan keberlajutan hasil riset material substitusi, ada 2 hal : 1. Proses keberlanjutan yang

terhambat, yaitu kegiatan penelitian

terputus sampai pada batas bahwa

5 Ibid 3

6 Charles W. Dolan. Profesor of engineering

material teruji dan terbukti secara ilmiah. Sementara masyarakat sebagai salah satu penentu keberhasilan tidak mendapatkan informasinya. Hal ini disebabkan antara lain :

a. Tidak adanya konsep sosialisasi hasil penelitian. Sedikit sekali universitas swasta yang melakukan sosialisasi hasil penelitian kepada masyarakat. Program sosialisasi hasil riset mulai dilakukan (salah satunya) oleh UGM yang memang menca-nangkan dirinya sebagai universitas riset.

Input masalah

Iinisiatif untuk mengadakan penelitan dan pengembangan satu

jenis material / konstruksi sesuai

masalah

Temuan hasil Penelitian dan Pengambangan

yang bermanfaat

Arsip dan Dokumentasi Tabel gambar 2.

(7)

b. Peneliti tidak didukung oleh sistem yang terkoordinasi dengan baik. Peneliti harus bergerak sendiri untuk mengenalkan hasil temuannya.

c. Sangat besar jarak antara hasil temuan universitas dengan kebutu-han masyarakat.

2. Proses hasil penelitian yang

berlanjut, yaitu kegiatan penelitian

yang tidak terputus,

a. Secara terokoordinasi hasil penelitian di sosialisasikan keseluruh lapisan masyarakat, ke seluruh Indonesia.

b. Sosialisasi menyangkut kegunaan sampai dengan proses produksi dan pemasangannya.

c. Adanya system standarisasi nasional terhadap bahan tersebut,

advis taknik dan implementasinya.

d. Hasil implementasi dievaluasi, untuk kemudian dikembangkan kembali.

e. Pengembangan material dengan komposisi jenis material campuran yang berbeda.

Dari beberapa proses penelitian material substitusi yang berlanjut, ada beberapa kekurangan, yaitu : a. Dari siklus Buildig ekology,

Peter Graham7, material hasil penelitian tidak di amati secara menyeluruh setelah tahap pembangunan berjalan. Sehingga proses keberlanjutannya dalam pembangunan belum tergali. b. Belum ada data feed back dari

masyarakat pengguna. Tidak terdata secara lengkap berapa banyak yang sudah menggu-

7 Ibid 1

nakan dan mengembangkan men jadi sebuah industri kecil.

c. Bagaimana dampak hasil penelitian tersebut bagi masya-rakat, juga tidak di review deng-an baik.

D. KESIMPULAN

Keberlanjutan hasil penelitian material substitusi dibidang perumahan adn permukiman, harus memanfaatkan siklus sebagai berikut :

1. Didapatka masalah dibutuhkan satu jenis material substitusi.

2. Dibuat suatu instruksi atau ada inisiatif untuk melakukan penelitian dan pengembangan terhadap suatu jenis material baru.

3. Penelitian di laksanakan hingga menghasilkan suatu temuan baru yang teruji, secara ilmiah.

4. Secara struktur organisasi terdapat bagian yang melaksanakan sosialisasi hasil peneltian.

5. Terdapat kelompok pembuat standari -sasi dan advis teknik untuk imlementasi.

6. Ada pengamatan implementasi hasil penelitian.

7. Monitoring dan evaluasi dari pemakai terhadap hasil peneltian.

8. Pengembangan material dan inovasi material.

Adapun siklusnya adalah sebagai berikut,

(8)

REFERENCE

1. Peter Graham, Building Ecology –

First Principle for a Suistainable Built Environment, Blackwell

Science Ltd, 2003

2. James Steele, Sustainable

Architecture, New York, Mc Graw

Hill 1997

3. Heizn Frick, Ilmu Bahan

Bangunan, Kanisius th 1997

4. Charles W. Dolan. Profesor of engineering, th 2000

5. Program Sosialisasi Puslitbangkim Dept PU th 2003 – 2005

Input masalah

Instruksi / inisiatif untuk mengadakan penelitan dan

pengembangan satu jenis material / konstruksi sesuai

masalah

Temuan hasil Penelitian dan Pengambangan yang bermanfaat Standarisasi dan sosialisasi Implementasi dan Advise Teknis Evaluasi hasil implementasi Review / Pengembangan Pamakai / pemakaian Tabel gambar 3.

Gambar

Gambar B.  Building life cycle menurut Peter Graham 4 ,

Referensi

Dokumen terkait

Di Indonesia, dalam pengoperasian pancing tonda jarang sekali menggunakan umpan asli, karena umpan asli akan mudah lepas atau rusak oleh gerakan air selama operasi penangkapan

informasi akan sangat membantu pemerintah dalam meningkatkan menyajikan data yang dimiliki pemerintah lebih cepat, memantau efektivitas regulasi/kebijakan,

bahwa sesuai dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Undang-Undang

Dalam rangka membantu mensejahterakan masyarakat pemerintah melalui Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah melunncurkan PNPM Mandiri yang didalamnya ada

telecommunication) yang telah dioperasikan di Indonesia, pada dasarnya dapat dibagi menjadi 3 kelompok besar yaitu teknologi selular berbasis. analog (Analog

tentunya harus dievaluasi agar upaya peningkatan kinerja pengelolaannya didasarkan pada hasil-hasil evaluasi tersebut dan dengan berdasarkan hal tersebut sehingga penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variabel independen yaitu struktur modal, investment opportunity set, likuiditas berpengaruh terhadap nilai perusahaan

Semua aktivitaslembaga baik publik maupun swasta selalu dituntut transparan dan akuntabel.Kehidupan keagamaan seakan menjadi dimensi lain yang tidak memerlukan