• Tidak ada hasil yang ditemukan

Vol. 8, No. 8, Desember 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Vol. 8, No. 8, Desember 2020"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Desember 2020 eISSN 2657- 0998

1418

Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IX-1 Materi

Membangun Budaya Literasi Dengan Mencintai Buku Fiksi Pelajaran

Bahasa Indonesia Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Group

Investigation Pada SMP Negeri 1 Batee Kabupaten Pidie

Radhiah

Guru SMP Negeri 1 Batee Kabupaten Pidie [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia materi membangun budaya literasi dengan mencintai buku fiksi pada siswa kelas IX-1 SMP Negeri 1 Batee dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif group investigation Tahun Ajaran 2019/2020. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (action research). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IX-1 SMP Negeri 1 Batee yang berjumlah 20 orang. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : melalui penggunaan model pembelajaran kooperatif group investigation dalam penelitian tindakan kelas pada SMP Negeri 1 Batee sudah terjadi peningkatan hasil belajar siswa pada pelajaran Bahasa Indonesia, khususnya materi membangun budaya literasi dengan mencintai buku fiksi. Sebelum dilakukan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif group investigation nilai siswa adalah 48,54. Pada siklus I hasil evaluasi siswa mendapatkan nilai rata-rata pada pertemuan ke I adalah 58,96, dan pada pertemuan ke II 63,57. Sedangkan pada siklus II terus meningkat menjadi rata-ratanya 70,42 pada pertemuan ke 1 dan 78,13 pada pertemuan ke 2. Dari penelitian tersebut terjadi peningkatan ketuntasan belajar cukup besar dari siklus I ke siklus II sebesar, karena ketuntasan pada siklus I hanya 70,83%, akan tetapi pada siklus II mencapai 91,66%, berarti terdapat peningkatan hasil belajar siswa dan aktivitas proses pembelajaran para peserta didik setelah dilakukan penelitian tindakan kelas. Dengan demikian, dapat disimpulkan terdapat perbedaan hasil belajar sebelum dan sesudah dilakukan tindakan kelas pada siswa kelas IX-1 SMP Negeri 1 Batee.

Kata Kunci : Model Pembelajaran Kooperatif Group Investigation PENDAHULUAN

Peran dunia pendidikan senantiasa harus dinamis dan tanggap dalam menghadapi disetiap perubahan yang terjadi ada bangsa Indonesia, saat ini bangsa Indonesia sedang berusaha meningkatkan kualitas pendidikan. Persyaratan penting untuk terwujudnya pendidikan bermutu adalah pelaksanaan proses pembelajaran oleh guru yang propesional, handal dalam layanan dan handal dalam keahlian guru dituntut untuk membantu perkembangan siswa dalam segi kognitif, afektif dan psikomotor serta bukan semata-mata memberikan sejumlah ilmu pengetahuan, tetapi juga harus menciptakan kondisi yang kondusif agar siswa belajar terus menerus.

(2)

1419 Selain tuntutan terhadap keahlian guru dan siswa untuk lebih kreatif dan memiliki inovasi dalam melakukan proses belajar mengajar di kelas lebih menekankan pada pencapaian kompetensi siswa, ini berarti dalam pembelajaran berpusat pada siswa bukan lagi pada guru. Aktivitas belajar tidak dapat dilepaskan dari istilah pembelajaran. Menurut Hamalik (2005 : 57), pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran. Manusia yang terlibat dalam sistem pengajaran terdiri dari siswa, guru dan tenaga lainnya misalnya tenaga laboratorium. Material meliputi buku-buku, papan tulis dan kapur, fotografi, slide dan film, audio dan video tape. Fasilitas dan perlengkapan terdiri dari ruang kelas, perlengkapan audio visual, juga komputer. Menurut Corey (Sagala, 2005:61) menyatakan bahwa proses pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan repon terhadap situasi tertentu, proses pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan. Sedangkan tujuan-tujuan pengajaran merupakan satu tahap dalam proses desain pengajaran. Tujuan merupakan dasar untuk mengukur hasil pengajaran, yang dapat dijadikan landasan dalam menentukan strategi pembelajaran, (Uno, 2008 : 108).

Salah satu materi yang dipelajari dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas IX adalah materi membangun budaya literasi dengan mencintai buku fiksi. Buku fiksi merupakan buku yang menyajikan kejadian atau peristiwa kehidupan berdasarkan rekayasa imajinasi sang pengarang. Ide, gagasan, atau ilham sang pengarang bias saja bersumber dari fakta dalam kehidupan nyata sehari-hari. Namun, fakta tersebut telah diolah dan dikembangkan lebih lanjut berdasarkan kemampuan imajinasi pengarang. Meskipun kisah yang disajikan dalam buku fiksi seperti kejadian yang sebenarnya, buku fiksi tetap menyajikan peristiwa atau kejadian berdasarkan rekaan pengarangnya. Buku-buku seperti buku cerita anak, dongeng, novel, cerita pendek (cerpen), fable, atau buku naskah drama termasuk ke dalam buku fiksi. Isi dan bahasa dalam buku fiksi memiliki cirri yang khas. Isinya tidak semata-mata berdasarkan fakta yang terjadi dalam kehidupan nyata, tetapi menyajikan kejadian atau peristiwa kehidupan yang sudah diolah berdasarkan imajinasi sang pengarang dengan menggunakan ragam bahasa yang memiliki nilai rasa tinggi (konotatif).

Kenyataan yang terjadi dari hasil pengamatan di kelas IX-1 pada siswa SMP Negeri 1 Batee Kabupaten Pidie belum seperti yang diharapkan, metode yang diterapkan guru dalam kegiatan belajar mengajar belum optimal dan sangat monoton sehingga siswa terlihat jenuh karena kurang diberdayakan, mereka diberlakukan sebagai objek yang harus duduk memperhatikan guru berceramah terus menerus di depan kelas. Hal ini mengakibatkan hasil yang dicapai siswa sangat rendah. Menurut pengamatan penulis sukar melakukan komunikasi dengan guru yang mengakibatkan hasil cenderung pasif. Rendahnya hasil belajar yang dicapai siswa terindikasi dengan hanya 30% siswa mendapat nilai lebih besar atau sama dengan 70 (tuntas) dan 70% mendapat nilai dibawah 70 (belum tuntas) dari jumlah keseluruhan siswa kelas IX-1 yang memiliki nilai Kriteria Ketuntasan

(3)

1420

Minimum (KKM) adalah 70. Mungkin penulis belum menerapkan metode yang bervariasi atau metode yang mengajak siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran.

Untuk itu penulis berupaya meningkatkan pemahaman siswa dalam memehami materi pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif group investigation sehingga hasil belajar siswa meningkat. Arikunto (2006 : 18) mengatakan dengan pemahaman siswa diminta untuk membuktikan bahwa ia memahami hubungan yang sederhana diantara faktor-faktor atau konsep. Sedangkan menurut Winkel (2004 : 274) untuk mengetahui pemahaman siswa dilihat dari adanya kemampuan dalam menguraikan isi pokok suatu bacaan, mengubah data yang disajikan dalam bentuk tertentu ke bentuk lain. Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan, segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Guru dan siswa terlibat dalam sebuah interaksi dengan bahan pelajaran sebagai medium dalam interaksi ini anak didiklah yang lebih aktif. Pemahaman materi pelajaran Bahasa Indonesia yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kemampuan siswa untuk memahami atau mengerti materi pelajaran Bahasa Indonesia yang diperoleh selama kegiatan belajar mengajar di sekolah ditunjukkan dengan hasil yang ingin dicapai yang dinilai melalui tes.

Model pembelajaran kooperatif adalah bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen, Rusman (2014: 202). Sedangkan model pembelajaran kooperatif group investigation merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang memfasilitasi siswa untuk belajar dalam kelompok kecil yang heterogen, dimana siswa yang berkemampuan tinggi bergabung dengan siswa yang berkemampuan rendah untuk belajar bersama dan menyelesaikan suatu masalah yang di tugaskan oleh guru kepada siswa, (Agus, 2015: 112). Model pembelajaran kooperatif group Investigation merupakan salah satu metode kompleks dalam pembelajaran kelompok yang mengharuskan siswa untuk menggunakan skill berfikir level tinggi. Pada prinsipnya, model pembelajaran kooperatif group Investigation sudah banyak diadopsi oleh berbagai bidang pengetahuan baik humaniora maupun saintifik. Akan tetapi, dalam konteks pembelajaran kooperatif, group Investigation menekankan pada heterogenitas dan kerja sama antar siswa, (Huda, 2013:292). Siswa terlibat dalam perencanaan baik topik yang dipelajari dan bagaimana jalannya penyelidikan mereka. Model ini memerlukan norma dan struktur kelas yang lebih rumit daripada pendekatan yang lebih berpusat pada guru. Model ini juga memerlukan mengajar siswa keterampilan komunikasi dan proses kelompok yang baik, (Trianto, 2007: 59).

Berdasarkan permasalahan di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi yaitu model pembelajaran kooperatif group investigation dengan judul penelitian: “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IX-1 Materi membangun budaya literasi dengan mencintai buku fiksi Pelajaran Bahasa Indonesia melalui Model Pembelajaran Kooperatif Group Investigation pada SMP Negeri 1 Batee Kabupaten Pidie Tahun Pelajaran 2019/2020”.

(4)

1421 METODE PENELITIAN

Penelitian ini digunakan dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Adapun langkah-langkah dalam setiap siklus terdiri dari dua siklus tatap muka pembelajaran. Setiap kali pembelajaran menggunakan RPP. Langkah-langkah dalam setiap siklus 4 (empat) tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 1 Batee kelas IX-1 materi membangun budaya literasi dengan mencintai buku fiksi pada pelajaran Bahasa Indonesia Tahun 2019. Penelitian ini dilaksanakan 3 bulan, yaitu pada bulan September sampai dengan November 2019. Subjek penelitian adalah siswa-siswi kelas IX-1 SMP Negeri 1 Batee Kabupaten Pidie Tahun Pelajaran 2019/2020, jumlah siswa siswi sebanyak 20 orang. Teknik pengumpulan data perupa tes, observasi dan wawancara. Data yang diperoleh pada setap kegiatan observasi dari setiap siklus, penulis menganalisis secara dekskriptif dengan menggunakan teknik persentase untuk melihat kecenderugan yang terjadi dalam proses pembelajaran.

HASIL PENELITIAN DA N PEMBAHASAN Deskripsi Kondisi Awal

Pembelajaran sebelum pelaksanaan tindakan kelas guru mengajar secara konvensional. Guru menjelaskan pembelajaran, siswa hanya mendengar penjelasan dari guru serta pembelajaran cenderung pasif. Melihat kondisi pembelajaran yang cenderung pasif, motivasi belajar siswa sangat rendah, sehingga menyebabkan kurang efektifnya proses belajar mengajar di kelas tersebut. Maka menurunkannya hasil belajar siswa dan bahkan masih banyak siswa yang mendapatkan nilai di bawah ini KKM yang sudah ditentukan sekolah yaitu 60. berikut hasil belajar pada kondisi awal dapat diketahui melalui tabel di bawah ini; hal tersebut berdampak pada nilai yang diperoleh siswa kelas IX-1 pada materi membangun budaya literasi dengan mencintai buku fiksi, oleh karena itu dilaksanakanlah penelitian untuk meningkatkan kegiatan pembelajaran dan aktifitas belajar siswa.

Tabel 1. Perolehan Data Hasil Belajar Pra Siklus

No Kriteria Jumlah Data

(Rentang Nilai) Jumlah %

Nilai Rata-Rata Kelas

1 Sudah mencapai KKM 60-100 9 orang 45 % 54

2 Belum mencapai KKM 35-59 11 orang 55%

Perolehan nilai rata-rata pada kondisi awal (pra siklus) pelajaran matematika dapat juga disajikan pada tabel berikut :

Tabel 2. Rata-Rata Hasil Tes Pra Siklus

No Keterangan Nilai

1 Nilai Tertinggi 70

2 Nilai Terendah 40

3 Jumlah Nilai 1612

(5)

1422

Berdasarkan tabel 1 dan 2 diketahui bahwa dari 20 siswa, hanya 9 siswa (45%) yang sudah mencapai KKM, sedangkan selebihnya yaitu 11 siswa (55%) belum mencapai KKM. Dengan perolehan nilai tertinggi 70 dan nilai terendah 40 serta nilai rata-rata kelas hanya 54.

Untuk perolehan persentase aktivitas guru dan siswa pada tahap awal dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 3. Tabel Aktivitas Guru dan Aktivitas Siswa Pra Siklus

No Aktivitas Guru Aktivitas Siswa

1 Nilai Persentase Nilai Persentase

2 9 45,00% 11 55,00%

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa persentase aktivitas guru 45% dan aktivitas siswa 55%. Pembelajaran sebelum pelaksanaan tindakan kelas, guru mengajar secara konvensional. Guru menjelaskan pembelajaran, siswa hanya mendengar penjelasan dari guru serta pembelajaran cenderung pasif. Melihat kondisi pembelajaran yang cenderung pasif, hal tersebut berdampak pada nilai yang diperoleh siswa kelas IX-1 pada materi membangun budaya literasi dengan mencintai buku fiksi pelajaran bahasa Indonesia, oleh karena itu akan dilakukan perbaikan pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Deskripsi Hasil Siklus I 1. Perencanaan

Kegiatan belajar mengajar siklus pertama dilaksanakan pada pelajaran Bahasa Indonesia. Pada penelitian ini guru merancang pembelajaran untuk mempermudah siswa dalam memahami pembelajaran Bahasa Indonesia

2. Pelaksanaan Pertemuan Pertama

* Kegiatan Awal (10 menit)

- Membedakan buku fiksi dan nonfiksi - Menyebutkan unsur-unsur dalam buku fiksi - Menyebutkan gaya bahasa dalam buku fiksi * Kegiatan Inti (70 menit)

- Menjelaskan Unsur Intrinsik dalam Buku Fiksi - Menugaskan siswa untuk membaca buku fiksi - Mengadakan latihan

* Kegiatan Akhir (10 menit)

- Memberikan penguatan atas hasil pengidentifikasian yang dilakukan peserta didik - Membimbing peserta didik untuk memberikan refleksi

- Memberi gambaran umum materi yang akan datang Pertemuan Kedua

* Kegiatan Awal (10 menit)

- Membedakan buku fiksi dan nonfiksi - Menyebutkan unsur-unsur dalam buku fiksi

(6)

1423 - Menyebutkan gaya bahasa dalam buku fiksi

* Kegiatan Inti (70 menit)

- Menjelaskan Unsur Intrinsik dalam Buku Fiksi - Menugaskan siswa untuk membaca buku fiksi - Mengadakan latihan

* Kegiatan Akhir (10 menit)

- Memberikan penguatan atas hasil pengidentifikasian yang dilakukan peserta didik

- Membimbing peserta didik untuk memberikan refleksi - Memberi gambaran umum materi yang akan datang 3. Pengamatan

Data lembar observasi kegiatan guru, lembar observasi ini diberikan kepada pengamat (teman sejawat) untuk mengamati setiap kegiatan guru pada siklus pertama.

4. Tahap Refleksi

Setelah guru melaksanakan kegiatan pembelajaran dan telah diamati oleh observer. Kegiatan akhir yang akan dilakukan berikutnya adalah refleksi. Peneliti dan observer melakukan diskusi tentang data-data yang telah diperoleh baik dalam proses pembelajaran berlangsung melalui hasil observasi dan hasil belajar siswa. Hal ini dilakukan untuk membahas kekurangan dan kelebihan proses kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini. Ternyata pada penggunaan pembelajaran model pembelajaran kooperatif group investigation dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dapat meningkatkan antusias dan minan siswa. Hal ini terlihat dari keaktifan dan perhatian siswa pada saat berlangsungnya proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran model pembelajaran kooperatif group investigation.

Berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi yang dilakukan observer dan guru, ditemukan beberapa kelemahan yang ditemukan pada pelaksanaan tindakan kelas pada siklus I. Kelemahan-kelemahan yang ditemukan pada siklus I yaitu :

1) Masih ada siswa yang kurang menunjukkan respon positif pada saat proses pembelajaran berlangsung.

2) Masih ada siswa yang tidak memperhatikan pelajaran, mengobrol, bercanda dengan teman sebangku, tidak berani bertanya dan acuh tak acuh terhadap materi pembelajaran yang diberikan oleh guru.

Dari kelemahan di atas dapat diperoleh data bahwa Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada pelajaran Bahasa Indonesia belum tercapai seperti yang diinginkan sedangkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan pada pelajaran Bahasa Indonesia materi membangun budaya literasi dengan mencintai buku fiksi pada sekolah adalah 70. Adapun hasil belajar pada tindakan siklus I disajikan pada data sebagai berikut :

Tabel 4. Perolehan Data Hasil Belajar Siklus I (Pertemuan I)

No Kriteria Jumlah Data

(Rentang Nilai) Jumlah Siswa Rata-Rata Tuntas Nilai Rata-Rata Kelas 1 Sudah mencapai KKM 65-100 9 45 % 60 2. Belum mencapai KKM 40-64 11 55 %

(7)

1424

Tabel 5. Perolehan Data Hasil Belajar Siklus I (Pertemuan 2)

No Kriteria Jumlah Data

(Rentang Nilai) Jumlah Siswa Rata-Rata Tuntas Nilai Rata-Rata Kelas 1 Sudah mencapai KKM 65-100 14 70 % 60,50 2. Belum mencapai KKM 40-64 6 30 %

Dengan perolehan nilai rata-rata pada siklus I pembelajaran Bahasa Indonesia disajikan pada tabel berikut :

Tabel 6. Rata-Rata Hasil Tes Siklus I

No Perolehan Nilai Pertemuan I Pertemuan II Rata-Rata

1 Nilai Tertinggi 80 80 80

2 Nilai Terendah 50 50 50

3 Jumlah Nilai 1200 1210 1205

4 Nilai Rata-Rata 60 60,50 60,25

Sehingga rekapitulasi ketuntasan hasil belajar siswa siklus I seperti pada tabel dibawah ini:

Tabel 7. Perolehan Data Ketuntasan Belajar Siklus I

No Kriteria Jumlah Data

(Rentang Nilai)

Jumlah Siswa Rata-Rata Tuntas

Nilai Rata-Rata Kelas Pert.I Pert.II

1 Sudah mencapai KKM 60-100 9 orang 14 orang 70 %

60,25 2. Belum mencapai KKM 35-59 11 orang 6 orang 30 %

Berdasarkan tabel 4, 5, 6 dan 7 diketahui bahwa, hasil dari tindakan peneliti yang telah dilakukan dapat menunjukkan bahwa tingkat ketuntasan belajar siswa sudah ada peningkatan yaitu pada pertemuan I mencapai 9 siswa (45%) dan pada pertemuan II mencapai 14 siswa (70%) dengan nilai rata-ratanya pada pertemuan I adalah 60, pertemuan ke 60,50. Sehingga diperoleh rata-rata tuntas pada siklus I sebesar 70% dan rata-rata kelas sebesar 60,25, dengan nilai tertinggi adalah 80 dan nilai terendah adalah 50.

Perolehan persentase aktivitas guru dan siswa pada tahap awal dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 8. Aktivitas Guru dan Aktivitas Siswa Siklus I

No Aktivitas Guru Aktivitas Siswa

1

Pertm.I Pertm.II Rata-rata (%)

Pertm.I Pertm.II

Rata-rata (%)

Nilai % Nilai % Nilai % Nilai %

10 50 12 70 65 20 66,66 21 70 68,33

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa tingkat aktivitas siswa pertemuan I adalah 66,66%, pada pertemuan ke II 70%, dengan rata-rata pada siklus I sebesar 68,33%. Sementara tingkat aktivitas guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif group investigation adalah sebesar mencapai 50% pada pertemuan I dan 70% pada pertemuan II, dengan rata-rata pada siklus I sebesar 65%.

(8)

1425 Deskripsi Hasil Siklus II

1. Perencanaan

Pada tahap ini penulis mempersiapkan perangkat pembelajaran seperti halnya pada siklus 1 yaitu tahap perencanaan pada siklus II ini dihasilkan perangkat pembelajaran berupa RPP, bahan ajar, lembaran LKS. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi guru dan siswa.

2. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II terdiri dari dua kali pembelajaran. Pembelajaran pertama dilaksanakan pada tanggal 4 September 2019, pembelajaran 2 akan dilaksanakan pada tanggal 18 September 2019, membahas tentang teknik Unsur-Unsur Buku Fiksi dengan menggunakan pembelajaran model pembelajaran kooperatif group investigation pola permainan yang disukai. Dalam hal ini, peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pembelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II.

Pertemuan Pertama

* Kegiatan Awal (10 menit)

- Membedakan buku fiksi dan nonfiksi - Menyebutkan unsur-unsur dalam buku fiksi - Menyebutkan gaya bahasa dalam buku fiksi * Kegiatan Inti (70 menit)

- Menjelaskan Unsur Intrinsik dalam Buku Fiksi - Menugaskan siswa untuk membaca buku fiksi - Mengadakan latihan

* Kegiatan Akhir (10 menit)

- Memberikan penguatan atas hasil pengidentifikasian yang dilakukan peserta didik - Membimbing peserta didik untuk memberikan refleksi

- Memberi gambaran umum materi yang akan datang Pertemuan Kedua

* Kegiatan Awal (10 menit)

- Membedakan buku fiksi dan nonfiksi - Menyebutkan unsur-unsur dalam buku fiksi - Menyebutkan gaya bahasa dalam buku fiksi * Kegiatan Inti (70 menit)

- Menjelaskan Unsur Intrinsik dalam Buku Fiksi - Menugaskan siswa untuk membaca buku fiksi - Mengadakan latihan

* Kegiatan Akhir (10 menit)

- Memberikan penguatan atas hasil pengidentifikasian yang dilakukan peserta didik - Membimbing peserta didik untuk memberikan refleksi

- - Memberi gambaran umum materi yang akan datang 3. Tahap Observasi

(9)

1426

Pada tahap ini observer yang merupakan teman sejawat melakukan observasi, untuk mendapatkan bahan-bahan masukan untuk di analisis pada tahap refleksi. Yang berguna untuk mengetahui sejauh mana sudah ketercapaian tujuan yang sudah ditentukan, dan pada tahap ini peneliti bersama observer yang juga teman sejawat menganalisis proses kegiatan pembelajaran dan hasil belajar siswa. Analisis ini dilakukan untuk mengukur sejauh mana tingkat keaktifan, kerja sama dan kreatifitas dalam kegiatan pembelajaran.

Selanjutnya juga menganalisis kekurangan-kekurangan dan kelebihan peneliti dalam mengajar. Hasil pengamatan terhadap kegiatan siswa selama kegiatan pembelajaran sudah menunjukkan hasil yang lebih baik, artinya terjadi perubahan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dibandingkan dalam kegiatan belajar sebelumnya.

Di sisni para siswa terlihat lebih aktif, hal ini dikarenakan para siswa dilibatkan secara langsung dalam menulis petunjuk melakukan sesuatu dibandingkan pada siklus I, pada siklus II ini para siswa terlihat lebih aktif dan memperhatikan pelajaran.

4. Tahap Refleksi

Pada tahap ini guru dan observer melakukan diskusi data-data yang telah diperoleh baik dalam proses pembelajaran berlangsung melalui lembar observasi dan hasil belajar siswa pada saat berlangsungnya proses pembelajaran. Pada siklus II ini hasil refleksi menunjukkan adanya peningkatan baik dalam keaktifan maupun hasil belajar para siswa.

Berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi yang dilakukan observer dan guru, ditemukan beberapa kemajuan yang terjadi pada siklus II ini, diantaranya : proses pembelajaran yang dilakukan pada saat guru menerangkan dengan menggunakan pembelajaran model pembelajaran kooperatif group investigation terlihat lebih efektif dan lebih efisien karena siswa juga berlatih menulis petunjuk melakukan sesuatu dibandingkan siklus I, sudah ada kemajuan pada siklus II ini, hal ini dikarenakan para siswa sudah menunjukkan repon yang positif pada saat proses pembelajaran. Para siswa sudah mulai aktif, mau memperhatikan pelajaran, tidak banyak yang mengobrol dan bercanda, serta mau bertanya dan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Dalam melaksanakan pembelajaran guru sudah cukup baik.

Berikut perolehan nilai hasil belajar Bahasa Indonesia materi membangun budaya literasi dengan mencintai buku fiksi pada siswa kelas IX-1 SMP Negeri 1 Batee Kabupaten Pidie pada siklus II :

Tabel 9. Perolehan Data Hasil Belajar Siklus II (Pertemuan I)

No Kriteria Jumlah Data

(Rentang Nilai) Jumlah Siswa Rata-Rata Tuntas Nilai Rata-Rata Kelas 1 Sudah mencapai KKM 65-100 15 75 % 67,50 2. Belum mencapai KKM 40-64 5 23 %

Tabel 10. Perolehan Data Hasil Belajar Siklus II (Pertemuan 2)

No Kriteria Jumlah Data

(Rentang Nilai) Jumlah Siswa Rata-Rata Tuntas Nilai Rata-Rata Kelas 1 Sudah mencapai KKM 65-100 18 90 % 78 2. Belum mencapai KKM 40-64 2 10 %

Dengan perolehan nilai rata-rata pada siklus II pembelajaran Bahasa Indonesia dapat juga disajikan pada tabel berikut :

(10)

1427 Tabel 11. Rata-Rata Hasil Tes Siklus II

No Perolehan Nilai Pertemuan I Pertemuan II Rata-Rata

1 Nilai Tertinggi 90 100 95

2 Nilai Terendah 55 55 55

3 Jumlah Nilai 1350 1560 1455

4 Nilai Rata-Rata 67,50 78,00 72,75

Sehingga rekapitulasi ketuntasan hasil belajar siswa siklus I seperti pada tabel dibawah ini:

Tabel 12. Perolehan Data Ketuntasan Belajar Siklus II

No Kriteria Jumlah Data

(Rentang Nilai)

Jumlah Siswa Rata-Rata Tuntas

Nilai Rata-Rata Kelas Pert.I Pert.II

1 Sudah mencapai KKM 60-100 15 orang 18 orang 90 %

72,75 2. Belum mencapai KKM 35-59 5 orang 62orang 10 %

Berdasarkan tabel 9, 10, 11 dan 12 diketahui bahwa, hasil dari tindakan peneliti yang telah dilakukan dapat menunjukkan bahwa tingkat ketuntasan belajar siswa sudah ada peningkatan yaitu pada pertemuan I mencapai 15 siswa (75%) dan pada pertemuan II mencapai 18 siswa (90%) dengan nilai rata-ratanya pada pertemuan I adalah 67,50, pertemuan ke 78. Sehingga diperoleh rata tuntas pada siklus I sebesar 90% dan rata-rata kelas sebesar 72,75, dengan nilai tertinggi adalah 100 dan nilai terendah adalah 55.

Perolehan persentase aktivitas guru dan siswa pada tahap awal dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 13. Aktivitas Guru dan Aktivitas Siswa Siklus II

No Aktivitas Guru Aktivitas Siswa

1

Pertm.I Pertm.II Rata-rata (%)

Pertm.I Pertm.II Rata-rata (%)

Nilai % Nilai % Nilai % Nilai %

15 75 18 90 82,5 16 80 17 85 82,50

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa tingkat aktivitas siswa pertemuan I adalah 80,00% pada pertemuan ke II 85,00%, dengan rata-rata siklus II 82,50%. Sementara tingkat aktivitas guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan v adalah sebesar mencapai 75,00%. Pada pertemuan I dan 90,00% pada pertemuan II, dengan rata-rata siklus II sebesar 82,5%

PENUTUP Simpulan

Setelah melakukan penelitin ini selama dua siklus, maka telah terjadi peningkatan hasil belajar siswa yang cukup baik, berdasarkan hasil penelitian yang telah penulis lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif group investigation dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Peningkatan tersebut ditandai dengan terjadinya tingkat ketuntasan belajar siswa, dimana ke 20 siswa di kelas IX-1 sudah mencapai nilai tuntas (KKM) yang ditentukan sekolah yaitu 70.

(11)

1428

Begitu juga dengan rata-rata nilai siswa sudah meningkat dari 60 pada pertemuan ke 1 siklus I menjadi 60,50 pada pertemuan ke 2 dan pada pertemuan ke1 siklus II juga meningkat menjadi 67,50, dan terus meningkat pada pertemuan ke 2 siklus II menjadi 78 dengan ketuntasan 90%. Peningkatan juga terjadi pada aktivitas siswa dan guru dalam kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu penelitian ini dianggap cukup berhasil dan memuaskan bagi peneliti, dimana peneliti dapat mengetahui bahwa: Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif group investigation dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa tentang Unsur-Unsur Buku Fiksi di kelas IX-1 SMP Negeri 1 Batee Kabupaten Pidie,. Hal ini ditandai dengan semakin berkualitas belajar siswa. Pembelajaran Bahasa Indonesia materi membangun budaya literasi dengan mencintai buku fiksi dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif group investigation dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam proses pembelajaran terjadinya interaksi aktif siswa terhadap materi yang dipelajari menjadi kongkrit sehingga menyenangkan.

DAFTAR PUSTAKA

Agus Suprijono. 2015. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Arikunto, Suharsini. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka

Cipta.

Hamalik, Oemar. 2005. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan. Sistem.

Jakarta: PT Bumi Aksara.

Huda, Miftahul. 2013. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Belajar Offset.

Rusman. 2014. Model-model Pembelajaran (Mengembangkan Profesionalisme. Guru).

Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sagala, Syaiful. 2006. Konsep dan makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Uno, B. Hamzah. 2008. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta : Bumi. Aksara. Winkel, W. S. 2004. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: PT.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam dunia pendidikan setiap proses pembelajaran selalu terjadi komunikasi, proses komunikasi tersebut terjadi pada guru yang memiliki sejumlah pesan yang ingin disampaikan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh motivasi dan kemampuan kerja terhadap kinerja karyawan Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat

Salah satu masalah yang menonjol adalah rendahnya partisipasi pria dalam pelaksanaan program KB baik dalam praktik KB, mendukung istri dalam penggunaan kontrasepsi, sebagai

Voorburg, Netherlands: International Statistical Institute (World Fertility Survey Comparative Studies: Cross National Summaries No.. Central Bureau of

Selanjutnya, untuk menciptakan relasi yang akrab dan baik dengan para guru dan pegawai di MI Muhammadiyah Serangrejo, Rini Astuti melakukan pendekatan dan

Program umum MGMP Kabupaten Jombang adalah program yang bertujuan untuk memberikan wawasan kepada guru tentang kebijakan-kebijakan pendidikan di tingkat daerah sampai

Tabel 14, menunjukkan bahwa biaya tenaga kerja sangat bervariasi disebabkan oleh lama pengembalaan, biaya tenaga kerja pada usaha sistem gaduhan ternak sapi bali di

Aloei Saboe Kota Gorontalo diperoleh keterangan, bahwa secara umum kinerja perawat pelaksana sudah baik namun masih ada sedikit diantaranya perawat belum yang mampu