• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

6

LANDASAN TEORI

2.1 Teori Umum

2.1.1 Pengertian Data

M enurut Whitten-Bentley-Dittman (2004, p27), data merupakan fakta mentah mengenai orang, tempat, kejadian, dan hal-hal penting di dalam sebuah organisasi dimana fakta-fakta tersebut tidak memiliki pengertian yang berarti.

2.1.2 Pengertian Basis Data

M enurut Connolly-Begg (2005, p15), basis data merupakan kumpulan data yang terhubung secara logikal dan merupakan sebuah gambaran dari data yang dirancang untuk mencapai kebutuhan informasi dari sebuah organisasi.

M enurut Ramakrishnan-Gehrke (2003, p4), basis data merupakan kumpulan data, biasanya menggambarkan aktivitas dari satu atau lebih organisasi yang saling berhubungan.

2.1.3 Pengertian Sistem Basis Data

M enurut Connolly-Begg (2005, p15), sistem basis data merupakan sekumpulan dari program aplikasi yang berinteraksi dengan basis data bersama dengan Database Management System (DBM S) dan basis data itu sendiri.

(2)

2.1.4 Pengertian Database Management System (DBMS )

M enurut Connolly-Begg (2005, p16), DBM S merupakan sistem perangkat lunak yang memungkinkan pengguna untuk mendefinisikan, membentuk, memelihara, dan mengatur akses ke basis data.

M enurut Ramakrishnan-Gehrke (2003, p4), DBM S merupakan perangkat lunak yang dirancang untuk membantu dalam memelihara dan menggunakan sekumpulan besar data.

M enurut Whitten-Bentley-Dittman (2004, p550), DBM S merupakan perangkat lunak khusus yang digunakan untuk membuat, mengakses, mengontrol, dan mengatur sebuah basis data.

2.1.5 Fungsi DBMS

M enurut Connolly-Begg (2005, p48), fungsi daripada DBM S, antara lain :

• Menyimpan, menampilkan, dan mengubah data

DBM S melengkapi pengguna dengan kemampuan untuk menyimpan, menampilkan, dan mengubah data di dalam basis data dengan menyembunyikan detil implementasi fisikal internal DBM S.

• Menyediakan user-accessible catalog

DBM S melengkapi pengguna dengan sebuah katalog dimana deskripsi data disimpan di dalamnya dan dapat diakses oleh pengguna. Hal-hal yang disimpan dalam sistem katalog, antara lain : - Nama, tipe, dan ukuran data

- Nama dari relasi antar entitas - Batasan integritas dalam data

(3)

- Nama pengguna yang memiliki hak akses ke basis data - Data yang dapat diakses pengguna dan tipe hak akses

- Skema eksternal, konseptual, internal serta pemetaan antar skema - Statistik pemakaian

• Mendukung transaksi

DBM S melengkapi pengguna dengan sebuah mekanisme yang memastikan semua perubahan yang berhubungan dengan transaksi telah terjadi.

• Memberi layanan kontrol konkurensi

DBM S melengkapi pengguna dengan sebuah mekanisme untuk memastikan bahwa basis data telah diubah dengan benar ketika beberapa pengguna tengah mengubah basis data secara bersamaan. • Memberi layanan perbaikan

DBM S melengkapi pengguna dengan sebuah mekanisme untuk memperbaiki basis data di tengah sebuah kejadian dimana basis data bermasalah.

• Memberi layanan otorisasi

DBM S melengkapi pengguna dengan sebuah mekanisme untuk memastikan bahwa hanya pengguna yang memiliki hak akses yang dapat mengakses basis data.

• Mendukung komunikasi data

DBM S mampu terintegrasi dengan perangkat lunak untuk komunikasi data.

(4)

• Memberi layanan integritas

DBM S melengkapi pengguna dengan sebuah alat untuk memastikan bahwa baik data dalam basis data dan perubahan data mengikuti peraturan yang berlaku.

• Memberi kemampuan independensi data

DBM S memiliki fasilitas untuk mendukung independensi program dari struktur basis data.

• Memberi layanan utilitas

DBM S menyediakan sekumpulan layanan utilitas, seperti : - Fasilitas monitoring

- Program analisis statistik

- Fasilitas pengaturan ulang indeks - Garbage collection dan realokasi 2.1.6 Fasilitas DBMS

M enurut Connolly-Begg (2005, p16), fasilitas yang disediakan oleh DBM S antara lain :

a. Data Definiton Language (DDL) yang memungkinkan pengguna untuk menspesifikasikan tipe dan struktur data, serta batasan pada data yang disimpan dalam basis data.

b. Data Manipulation Language (DM L) yang memungkinkan pengguna untuk memasukkan, mengubah, menghapus, dan menampilkan data dari basis data.

(5)

c. Kontrol akses ke sebuah basis data yang terdiri dari sistem sekuritas yang mencegah pengguna yang tidak memiliki hak akses untuk mengakses basis data, sistem integritas yang menjaga konsistensi data yang disimpan, sistem kontrol konkurensi yang mengijinkan pembagian pemakaian basis data, sistem kontrol perbaikan yang mengembalikan basis data ke kondisi awal jika terjadi masalah pada perangkat lunak atau perangkat keras, dan katalog deskripsi data. d. M ekanisme view yang berguna untuk menampilkan data yang hanya

diperlukan oleh pengguna. 2.1.7 Komponen DBMS

M enurut Connolly-Begg (2005, p19), komponen-komponen DBM S antara lain :

a. Perangkat keras, yang berfungsi untuk menjalankan DBM S dan aplikasi yang dapat berupa personal computer, mainframe, hingga jaringan komputer.

b. Perangkat lunak, yang terdiri dari DBM S itu sendiri dan program aplikasi, bersama dengan sistem operasi, termasuk perangkat lunak jaringan jika DBM S digunakan melalui jaringan.

c. Data, yang berfungsi sebagai jembatan antara komponen mesin dengan komponen manusia.

d. Prosedur, yang merupakan instruksi dan peraturan yang menentukan rancangan dan penggunaan basis data.

e. M anusia, yang terdiri dari data and database administrator, database designer, application developer, dan end-user.

(6)

2.1.8 Kelebihan DBMS

M enurut Connolly-Begg (2005, p26), kelebihan dari DBM S antara lain :

a. Kontrol redundansi data : DBM S mengurangi kemungkinan adanya data yang sama dalam sebuah basis data.

b. Konsistensi data : DBM S menjaga agar data yang ada dalam basis data sesuai dengan data baru yang telah diubah sebelumnya.

c. Informasi lebih dari jumlah data yang sama : dengan adanya integrasi dari data-data operasional yang ada, memungkinkan untuk pihak organisasi mendapatkan informasi tambahan dari data-data yang sama.

d. Share data : DBM S memungkinkan lebih banyak pengguna yang mengakses data karena basis data dimiliki oleh keseluruhan organisasi.

e. M eningkatkan integritas data : DBM S meningkatkan validitas dan konsistensi data yang disimpan.

f. M eningkatkan sekuritas : DBM S menjaga keamanan basis data dari pengguna yang tidak memiliki hak akses.

g. M enjalankan standar : integrasi memungkinkan database administrator untuk menjalankan standar yang diperlukan seperti

format data untuk memfasilitasi pertukaran data antar sistem, penamaan peraturan, standar dokumentasi, prosedur update, dan peraturan hak akses.

(7)

h. Skala ekonomi : dengan menggunakan DBM S, menggabungkan seluruh data operasional organisasi ke dalam sebuah basis data, dan menciptakan sekumpulan aplikasi yang bekerja pada satu sumber data ini, dapat menghasilkan penghematan biaya.

i. Keseimbangan kebutuhan yang saling bertentangan : DBM S memungkinkan database administrator dapat membuat keputusan tentang rancangan dan penggunaan basis data untuk memberikan penggunaan sumber daya terbaik untuk keseluruhan organisasi jika ada kebutuhan yang bertentangan antar pengguna.

j. M eningkatkan kemampuan akses dan respon : DBM S memungkinkan data yang melalui batasan departemen dapat langsung diakses oleh end-user.

k. M eningkatkan produktivitas : DBM S menyediakan alat untuk memudahkan penggunaan basis data dan pengembangan aplikasi basis data.

l. M eningkatkan perawatan melalui independensi data : DBM S memisahkan deskripsi data dari aplikasi yang menyebabkan aplikasi tidak terpengaruh oleh perubahan deskripsi data.

m. M eningkatkan konkurensi : DBM S memungkinkan dua atau lebih pengguna mengakses basis data pada saat yang bersamaan.

n. M eningkatkan layanan backup dan recovery : DBM S menyediakan fasilitas untuk meminimalisir jumlah pemrosesan yang hilang akibat permasalahan yang terjadi.

(8)

2.1.9 Database Application Life Cycle (DBLC)

M enurut Connolly-Begg (2005, p283), basis data merupakan komponen dasar sistem informasi, dimana pengembangan dan penggunaannya harus dilihat dari perspektif kebutuhan yang lebih luas dari perusahaan. Tahapan database application life cycle adalah :

Gambar 2.1 Database Application Life Cycle 1. Perencanaan Basis Data

M enurut Connolly-Begg (2005, p285), perencanaan basis data adalah sebuah aktivitas manajemen yang mengijinkan tahapan

(9)

aplikasi basis data direalisasikan seefisien dan seefektif mungkin. Perencanaan sistem basis data harus terintegrasi dengan keseluruhan strategi sistem informasi dalam perusahaan. Terdapat tiga hal utama yang berkaitan dengan penyusunan strategi sistem informasi, yaitu : • Identifikasi rencana dan tujuan perusahaan termasuk sistem

informasi yang dibutuhkan,

• Evaluasi sistem informasi yang ada untuk menentukan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki,

• Penilaian terhadap peluang teknologi informasi yang mungkin dapat memberikan keuntungan yang kompetitif.

2. Definisi Sistem

M enurut Connolly-Begg (2005, p286), definisi sistem mendeskripsikan cakupan dan batasan-batasan dari aplikasi basis data dan garis besar dari user view. User view mendefinisikan apa yang dibutuhkan aplikasi basis data dari perspektif peran kerja tertentu (seperti M anajer atau Supervisor) atau area aplikasi perusahaan (seperti marketing, personal, atau kontrol stok).

Suatu aplikasi basis data dapat memiliki satu atau lebih user view. Identifikasi user view adalah aspek penting dalam

pengembangan aplikasi basis data karena membantu menjamin tidak ada pengguna utama dari suatu basis data yang terlupakan ketika membangun kebutuhan-kebutuhan untuk aplikasi yang baru. User view juga membantu dalam pengembangan aplikasi basis data yang

(10)

kompleks dimana memungkinkan kebutuhan-kebutuhan dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih mudah diatur.

Gambar 2.2 Multiple User View 3. Pengumpulan Kebutuhan dan Analisa

M enurut Connolly-Begg (2005, p288), pengumpulan kebutuhan dan analisa adalah proses mengumpulkan dan menganalisa informasi tentang bagian dari perusahaan yang didukung oleh aplikasi basis data dan menggunakan informasi ini untuk mengidentifikasi kebutuhan pengguna untuk sistem yang baru. Informasi yang dikumpulkan dari setiap user view yang penting, yaitu:

• Deskripsi dari data yang digunakan atau dihasilkan

• Detil mengenai bagaimana data digunakan atau dihasilkan • Tambahan kebutuhan untuk aplikasi basis data yang baru 4. Perancangan Basis Data

M enurut Connolly-Begg (2005, p291), perancangan basis data adalah proses membuat desain untuk basis data yang akan digunakan

(11)

untuk mendukung operasi dan tujuan perusahaan. Ada dua jenis pendekatan dalam merancang basis data, yaitu :

• Pendekatan bottom-up

Pendekatan ini dimulai dari tingkatan dasar dari atribut, dimana melalui analisa antara asosiasi dan atribut, yang dikelompokkan ke dalam relasi yang merepresentasi tipe dari entitas dan hubungan antara entitas.

• Pendekatan top-down

Pendekatan ini dimulai dengan pengembangan model data yang mengandung beberapa high-level entities dan relationship yang kemudian dilakukan penyaringan untuk mengidentifikasi lower-level entities, relationship, dan atribut yang berhubungan.

5. Pemilihan DBMS

M enurut Connolly-Begg (2005, p295), pemilihan DBM S adalah proses menyeleksi DBM S yang sesuai untuk mendukung aplikasi basis data.

6. Perancangan Aplikasi

M enurut Connolly-Begg (2005, p299), perancangan aplikasi adalah proses perancangan tampilan pengguna dan program aplikasi yang menggunakan dan memproses basis data.

7. Prototipe

M enurut Connolly-Begg (2005, p303), prototipe adalah pembangunan sebuah model dari aplikasi basis data. Tujuannya untuk memungkinkan pengguna menggunakan prototipe dalam

(12)

meng-identifikasi fitur-fitur yang terdapat pada sistem yang berjalan dengan baik atau tidak, dan apabila memungkinkan dapat menyarankan perbaikan atau pembuatan fitur baru pada aplikasi basis data.

8. Implementasi

M enurut Connolly-Begg (2005, p304), implementasi adalah realisasi fis ik dari basis data dan perancangan aplikasi. Implementasi basis data dapat dilakukan dengan menggunakan Data Definition Language (DDL) dari DBM S yang terpilih atau Graphical User

Interface (GUI). User view yang sudah ditentukan juga

diimplementasi pada tahap ini. 9. Data Conversion and Loading

M enurut Connolly-Begg (2005, p305), data conversion and loading adalah proses memindahkan semua data yang ada ke dalam

basis data yang baru dan mengubah semua aplikasi yang ada untuk dijalankan pada basis data yang baru. Tahap ini dibutuhkan hanya ketika sistem basis data yang baru menggantikan sistem yang lama. DBM S pada umumnya memiliki kemampuan untuk memanggil ulang file yang sudah ada ke dalam basis data yang baru.

10. Pengujian

M enurut Connolly-Begg (2005, p305), pengujian adalah proses mengeksekusi program aplikasi dengan tujuan untuk menemukan kesalahan. Dalam perancangan basis data, pengguna dari sistem yang baru harus terlibat dalam proses pengujian.

(13)

11. Pemeliharaan Operasional

M enurut Connolly-Begg (2005, p306), pemeliharaan operasional adalah proses memonitor dan merawat sistem setelah instalasi dilakukan. Tahap ini melibatkan beberapa aktifitas, yaitu: • Memonitor performa sistem. Jika performa turun maka perbaikan

atau pengaturan ulang basis data mungkin diperlukan.

• Memelihara dan meng-upgrade aplikasi basis data ketika dibutuhkan. Kebutuhan yang baru digabungkan ke dalam aplikasi basis data melalui tahapan sebelumnya dalam database application life cycle.

2.1.10 Pemodelan Entity Relationship 1. Entitas

M enurut Connolly-Begg (2005, p343), entitas merupakan sekumpulan obyek dengan sifat atau properti yang sama, yang diidentifikasikan oleh perusahaan dan memiliki keberadaan yang independen. Keberadaannya dapat bersifat nyata atau abstrak.

Gambar 2.3 Representasi dari Entitas 2. Atribut

M enurut Connolly-Begg (2005, p350), atribut merupakan properti dari sebuah entitas.

(14)

- Simple attribute : atribut yang terdiri dari komponen tunggal dengan keberadaan yang independen.

- Single-valued attribute : atribut yang memegang nilai tunggal untuk tiap kejadian dari sebuah entitas.

- Multi-valued attribute : atribut yang memegang banyak nilai untuk tiap kejadian dari sebuah entitas.

- Derived attribute : atribut yang merepresentasikan sebuah nilai yang dapat diturunkan dari nilai atribut yang berhubungan dan tidak perlu berada dalam entitas yang sama.

3. Key

M enurut Connolly-Begg (2005, p352), candidate key adalah sejumlah atribut yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi entitas secara unik. Contoh : BranchNo adalah candidate key untuk tipe Branch dimana setiap Branch mempunyai sebuah BranchNo yang unik atau tidak mungkin sama.

M enurut Connolly-Begg (2005, p353), primary key adalah candidate key yang dipilih sebagai kunci utama untuk

mengidentifikasi setiap entitas. Contoh : StaffNo maksimum lima karakter (misalnya = SG016). NIN (National Insurance Number) maksimum 9 karakter (misalnya = WL220658D) berarti primary key-nya = StaffNo, sedangkan NIN = alternate key (candidate key yang tidak dipilih sebagai primary key).

M enurut Connolly-Begg (2005, p79), foreign key merupakan sebuah atau sekumpulan atribut di dalam sebuah relasi yang

(15)

menghubungkan candidate key dari beberapa relasi (mungkin relasi sama). Contoh : terdapat dua atribut BranchNo yakni di dalam entitas Branch dan Staff. Dalam entitas Branch, BranchNo adalah primary key. Di dalam entitas Staff, BranchNo berperan untuk

menghubungkan Staff dengan Branch dimana mereka bekerja. Dalam relasi Staff, BranchNo adalah sebuah foreign key.

4. Relationship

M enurut Connolly-Begg (2005, p346), relationship merupakan sekumpulan relasi antara satu atau lebih entitas yang bergabung dengannya.

Gambar 2.4 Representasi dari Relationship 5. Batasan S truktural

M enurut Connolly-Begg (2005, p356), tipe utama dari batasan relasi dinamakan multiplicity. Multiplicity adalah jumlah kemungkinan kejadian sebuah entitas yang mungkin berhubungan ke sebuah kejadian tunggal dari sebuah entitas yang tergabung melalui sebuah relasi khusus.

Derajat relasi yang paling umum adalah binary. Relasi binary secara umum dibedakan menjadi :

(16)

• Derajat relasi one-to-one (1:1)

Derajat relasi ini terjadi bila tiap anggota entitas A hanya boleh berpasangan dengan satu anggota dari entitas B. Sebaliknya tiap anggota dari entitas B hanya boleh berpasangan dengan satu anggota dari entitas A.

Gambar 2.5 Relasi One-to-One • Derajat relasi one-to-many (1:*)

Derajat relasi ini terjadi bila tiap anggota entitas A boleh berpasangan dengan lebih dari satu anggota entitas B. Sebaliknya setiap anggota entitas B hanya boleh berpasangan dengan satu anggota entitas A.

Gambar 2.6 Relasi One-to-Many • Derajat relasi many-to-many (*:*)

Derajat relasi ini terjadi bila tiap anggota entitas A boleh berpasangan dengan lebih dari satu anggota entitas B. Sebaliknya tiap anggota entitas B juga boleh berpasangan dengan lebih dari satu anggota entitas A.

(17)

2.1.11 Normalisasi

M enurut Connolly (2005, p388), normalisasi adalah sebuah teknik untuk memproduksi sekumpulan relasi dengan sifat-sifat yang diinginkan, sesuai dengan kebutuhan data dari pihak perusahaan.

Proses normalisasi merupakan metode formal yang mengidentifikasi relasi berdasarkan primary key atau candidate key dan ketergantungan fungsional di antara atribut-atributnya. Proses normalisasi dieksekusi dalam beberapa langkah, dimana setiap langkahnya mengacu pada bentuk normal tertentu sesuai dengan sifat yang dimilikinya. Setelah normalisasi diproses, relasi secara bertahap menjadi lebih terbatas atau kuat bentuk formatnya dan mengurangi tindakan update yang anomali. Bentuk-bentuk dalam normalisasi, antara lain :

a. Bentuk tidak normal (UNF)

Suatu tabel yang berisikan satu atau lebih grup yang berulang. Cara membuat tabel tidak normal yaitu dengan memindahkan data dari sumber informasi ke dalam format tabel dengan baris dan kolom. b. Bentuk normal pertama (1NF)

Suatu relasi dimana setiap potongan antara baris dan kolom hanya berisikan satu nilai saja. Langkah-langkah mengubah bentuk UNF menjadi 1NF adalah :

a. Tentukan satu atau sekumpulan atribut sebagai kunci untuk tabel tidak normal.

b. Identifikasi grup yang berulang dalam tabel tidak normal yang berulang untuk kunci atribut.

(18)

c. Hapus grup yang berulang dengan cara :

• Masukkan data yang semestinya ke dalam kolom yang kosong pada baris yang berisikan data yang berulang, atau

• Menggantikan data yang ada dengan copy dari kunci atribut yang sesungguhnya ke dalam relasi terpisah.

c. Bentuk normal kedua (2NF)

Suatu relasi dalam bentuk 1NF dan setiap atribut yang bukan primary key bersifat ketergantungan fungsional sepenuhnya pada primary key.

Langkah-langkah mengubah bentuk 2NF menjadi 3NF adalah : • Identifikasikan primary key untuk relasi 1NF,

• Identifikasikan ketergantungan fungsional dalam relasi,

• Jika terdapat ketergantungan parsial terhadap primary key, maka hapus dengan menempatkannya dalam relasi yang baru bersama dengan salinan determinannya.

d. Bentuk normal ketiga (3NF)

Suatu relasi dalam 1NF dan 2NF dimana tidak terdapat atribut yang bukan primary key yang bergantung secara transitif pada primary key. Langkah-langkah mengubah bentuk 2NF menjadi 3NF adalah : • Identifikasikan primary key dalam relasi 2NF,

• Identifikasikan ketergantungan fungsional dalam relasi,

• Jika terdapat ketergantungan transitif terhadap primary key, hapus dengan menempatkannya dalam relasi yang baru bersama dengan salinan determinannya.

(19)

Gambar 2.8 Bentuk-Bentuk Normalisasi 2.1.12 Metodologi Perancangan Basis Data

M enurut Connolly-Begg (2005, p438), metodologi perancangan adalah sebuah pendekatan yang menggunakan prosedur, teknik, alat, dan dokumentasi yang mendukung dan memudahkan proses perancangan.

Dalam metodologi perancangan, proses perancangan dibagi dalam tiga tahap utama, yaitu :

1. Perancangan Basis Data Konseptual

M enurut Connolly-Begg (2005, p439), perancangan basis data konseptual merupakan proses pembentukan model dari informasi yang digunakan dalam perusahaan, independen terhadap semua pertimbangan fisik. Adapun langkah-langkah dalam perancangan basis data konseptual, antara lain :

a. M engidentifikasi tipe entitas

Langkah pertama dalam membangun sebuah model data konseptual adalah dengan menentukan obyek utama yang menjadi perhatian utama pengguna. Obyek-obyek inilah yang nantinya akan menjadi tipe-tipe entitas untuk model tersebut. Salah satu metode dalam mengidentifikasi entitas adalah dengan memeriksa

(20)

spesifikasi persyaratan pengguna. Setelah tipe-tipe entitas diidentifikasi, pemberian nama terhadap entitas-entitas tersebut harus dilakukan. Simpan nama dan deskripsi dari tiap entitas dalam sebuah kamus data. Jika sebuah entitas memiliki nama lain atau alias, maka simpan juga dalam kamus data.

b. M engidentifikasi tipe relasi

Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi semua relasi antar entitas. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan mencari kata kerja pada spesifikasi kebutuhan pengguna. Langkah selanjutnya yang dapat dilakukan adalah menentukan multiplicity dari setiap relasi. Hal ini dilakukan untuk memeriksa dan memelihara data. Selain itu harus juga dilakukan pemeriksaan fan and chasm traps (pemeriksaan tiap relasi yang ada dalam model merupakan gambaran nyata kebutuhan organisasi) dan menyimpan deskripsi dan batasan-batasan dari tiap relasi ke dalam kamus data.

c. M engidentifikasi dan mengasosiasikan atribut suatu entitas

Langkah selanjutnya setelah mengidentifikasi relasi adalah menentukan atribut-atribut yang terkait dengan masing-masing entitas dan hubungan antar entitas. Atribut-atribut tersebut menggambarkan mengenai bagaimana informasi nantinya tersimpan dalam basis data.

d. M engidentifikasi domain atribut

Domain adalah kumpulan nilai yang digunakan oleh satu atau lebih atribut untuk menggambarkan nilai mereka. Contoh domain

(21)

dari atribut ”JenisKelamin” pada entitas ”staff” adalah sebuah karakter tunggal yang bernilai ”L” untuk laki-laki dan ”P” untuk perempuan. M odel data yang telah sepenuhnya dikembangkan menspesifikasi domain untuk tiap atribut yang meliputi :

- Kumpulan nilai-nilai yang diijinkan untuk atribut - Ukuran dan format dari atribut

Setelah domain diidentifikasi, nama dan karakteristik seluruh domain disimpan dalam kamus data.

e. M engidentifikasi atribut candidate key dan primary key

Bertujuan untuk mengidentifikasi candidate key untuk tiap entitas dan jika terdapat lebih dari satu candidate key, memilih satu untuk menjadi primary key dan yang lain akan menjadi alternate key. f. M empertimbangkan konsep pemodelan enhanced (optional)

Bertujuan untuk mempertimbangkan penggunaan pemodelan enhanced seperti spesialisasi, generalisasi, agregasi, dan

komposisi.

g. M emeriksa model terhadap redundansi

Terdapat dua aktivitas yang dilakukan pada tahap ini, yaitu : - M emeriksa kembali relasi one-to-one (1:1)

Ketika mengidentifikasi entitas, mungkin akan teridentifikasi dua entitas yang merepresentasikan obyek yang sama dalam perusahaan. Dalam hal ini, kedua entitas tersebut harus digabungkan. Jika primary key berbeda, pilih satu dan biarkan yang lain menjadi alternate key.

(22)

- M enghilangkan relasi yang redundan

Sebuah relasi dikatakan redundan jika terdapat informasi yang sama yang didapatkan melalui relasi yang berbeda. M odel data yang seminimal mungkin harus dikembangkan agar dapat mengurangi redundansi.

h. M emvalidasi model konseptual terhadap transaksi pengguna

Terdapat dua pendekatan yang dapat digunakan untuk memastikan bahwa model konseptual mendukung terhadap transaksi yang ada, yaitu :

- M endeskripsikan transaksi

M emeriksa apakah semua informasi (entitas, relasi, dan atribut) yang diperlukan oleh tiap transaksi disediakan dalam model, dengan mendokumentasikan sebuah deskripsi dari tiap persyaratan transaksi.

- M enggunakan jalur transaksi

M emvalidasi model data terhadap transaksi yang dibutuhkan termasuk merepresentasikan secara singkat jalur yang diambil oleh tiap transaksi langsung pada diagram ER (Entity Relationship).

i. M eninjau kembali model data konseptual dengan pengguna

Bertujuan untuk meninjau kembali model data konseptual yang dihasilkan dengan pengguna untuk memastikan bahwa model tersebut telah sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

(23)

2. Perancangan Basis Data Logikal

M enurut Connolly-Begg (2005, p462), perancangan basis data logikal adalah proses membangun model informasi yang digunakan dalam perusahaan berdasarkan model data yang spesifik, tetapi independen terhadap berbagai jenis DBM S dan pertimbangan fisikal lainnya. Adapun langkah-langkah dalam perancangan basis data logikal, antara lain :

a. M enghilangkan fitur yang tidak sesuai dengan model relasional Tahap ini bertujuan untuk memperbaiki model data konseptual lokal dengan menghilangkan fitur-fitur yang tidak kompatibel dengan model relasional. Langkah-langkah dalam tahap ini antara lain :

• Menghilangkan tipe relasi biner many-to-many (*:*) • Menghilangkan tipe relasi rekursif many-to-many (*:*) • Menghilangkan tipe relasi kompleks

• Menghilangkan tipe atribut multivalued

b. M endapatkan relasi untuk model data logikal lokal

Tahap ini bertujuan untuk membuat relasi-relasi pada model data logikal lokal yang merepresentasikan entitas, hubungan, dan atribut yang sudah diidentifikasi sebelumnya. Relasi-relasi yang didapat dari model data logikal yang ada pada model data konseptual antara lain :

(24)

• Tipe entitas kuat

Pada masing-masing tipe entitas kuat dalam model data, dibuat suatu relasi yang berisi atribut-atribut dari entitas tersebut.

• Tipe entitas lemah

Pada tipe entitas lemah juga akan muncul suatu relasi yang berisi atribut-atribut dari entitas tersebut. Namun relasi tersebut tidak memiliki primary key karena primary key tersebut diperoleh dari masing-masing owner entity (entitas yang bertipe kuat).

• Tipe relasi biner one-to-many (1:*)

Pada tipe relasi ini akan ditentukan entitas parent dan entitas child untuk kemudian diduplikasi atribut primary key dari

entitas parent ke dalam entitas child dimana key tersebut akan disebut sebagai foreign key.

• Tipe relasi biner one-to-one (1:1)

Pada tipe relasi ini akan diselidiki apakah tipe entitas yang terlibat dalam relasi lebih baik disatukan atau tetap dipisah dan atribut primary key pada satu entitas diduplikasi ke dalam entitas lain sebagai foreign key.

• Tipe relasi biner many-to-many (*:*)

Pada tipe relasi ini perlu ditentukan satu tipe entitas tambahan sebagai penengah antara kedua tipe entitas dengan maksud

(25)

agar relasi yang semula bersifat many-to-many akan berubah menjadi one-to-many. Atribute primary key dari entitas parent diduplikasi pada entitas child sebagai atribut foreign key sekaligus sebagai primary key pada entitas child.

c. M emvalidasi relasi menggunakan normalisasi

Tahap ini bertujuan untuk memvalidasi relasi-relasi yang terdapat pada model data logikal lokal menggunakan teknik normalisasi. Normalisasi digunakan untuk meningkatkan model sehingga terhindar dari duplikasi data.

d. M emvalidasi relasi terhadap transaksi pengguna

Tahap ini bertujuan untuk memastikan bahwa relasi pada model data logikal lokal mendukung transaksi-transaksi yang terjadi. Transaksi-transaksi yang kemungkinan akan terjadi dalam kondisi sesungguhnya akan dipecahkan dengan berpedoman pada model yang telah dibangun. Bila seluruh transaksi tersebut terpecahkan, maka berarti model yang telah dihasilkan telah memenuhi apa yang diharapkan pengguna.

e. M enentukan batasan integritas

Tahap ini bertujuan untuk menentukan batasan integritas. Batasan integritas itu sendiri merupakan batasan yang ingin dihilangkan agar basis data terhindar dari data yang tidak konsisten. Ada beberapa batasan integritas yang perlu diperhatikan, antara lain : • Data yang dibutuhkan

(26)

• Integritas entitas • Integritas referensial

f. M enggabungkan model data logikal lokal ke dalam model data logikal global

Tahap ini bertujuan untuk menggabungkan model data logikal lokal yang telah terbentuk sebelumnya menjadi sebuah model data logikal global perusahaan.

g. M emeriksa terhadap pertumbuhan di masa mendatang

Tahap ini bertujuan untuk menentukan apakah ada perubahan-perubahan yang signifikan di masa yang akan datang dan untuk memperkirakan apakah model data logikal global dapat mengakomodasi perubahan-perubahan tersebut.

3. Perancangan Basis Data Fisikal

M enurut Connolly-Begg (2005, p439), perancangan basis data fisikal adalah proses penggambaran dari implementasi basis data pada media penyimpanan yang menggambarkan relasi dasar, organisasi file, dan indeks yang memungkinkan data diakses dengan lebih

efisien, serta berbagai batasan integritas yang berhubungan dan ukuran keamanan lainnya. Adapun langkah-langkah dalam perancangan basis data fisikal, antara lain :

a. M erancang relasi dasar

Tahap ini bertujuan untuk menentukan bagaimana representasi relasi dasar diidentifikasikan di dalam model data logikal global dalam DBM S yang akan digunakan.

(27)

b. M erancang representasi data turunan

Tahap ini bertujuan untuk menentukan bagaimana representasi data turunan yang terdapat dalam model data logikal global pada DBM S yang akan digunakan.

c. M enganalisa transaksi

Tahap ini bertujuan untuk memahami secara fungsional transaksi yang akan berjalan pada basis data dan untuk menganalisa transaksi-transaksi yang bersifat penting.

d. M erancang batasan perusahaan

Tahap ini bertujuan untuk merancang batasan-batasan perusahaan untuk DBM S yang akan digunakan.

e. M emilih organisasi file

Tahap ini bertujuan untuk menentukan organisasi file yang efisien untuk setiap relasi dasar.

f. M emilih indeks

Tahap ini bertujuan untuk menentukan apakah penambahan indeks akan meningkatkan kinerja sistem atau tidak.

g. M emperkirakan kapasitas penyimpanan yang dibutuhkan

Tahap ini bertujuan untuk memperkirakan kapasitas penyimpanan yang akan dibutuhkan oleh basis data.

h. M erancang user view

Tahap ini bertujuan untuk merancang user view yang telah diidentifikasi selama tahap pengumpulan kebutuhan dan analisis data dalam database application life cycle.

(28)

i. M erancang mekanisme keamanan

Tahap ini bertujuan untuk merancang mekanisme keamanan untuk basis data sesuai dengan spesifikasi dari pengguna selama tahap pengumpulan kebutuhan dan analisis data dalam siklus pengembangan basis data.

2.1.13 Diagram

1. State Transition Diagram (S TD)

M enurut Whitten-Bentley-Dittman (2004, p673), STD digunakan untuk menggambarkan urutan dan variasi layar yang dapat muncul ketika pengguna sistem mengunjungi terminal. Layar disini mengacu pada tampilan layar secara keseluruhan, window, atau kotak dialog. Biasanya di dalam STD digunakan notasi seperti :

• State, simbolnya persegi panjang.

State digunakan untuk menggambarkan tampilan layar yang akan

muncul jika suatu aksi dijalankan. Simbol state :

• Transition State, simbolnya anak panah.

Transition State menggambarkan aliran kontrol dan

menggerakkan kejadian yang akan menyebabkan layar menjadi aktif atau menerima fokus. Arah anak panah menunjukkan urutan munculnya tampilan-tampilan layar. Sebuah anak panah yang terpisah, masing-masing memiliki nama, digambar untuk setiap

(29)

arah karena tindakan yang berbeda akan menggerakkan aliran kontrol dari dan ke layar yang ada.

Simbol transition state :

2. Data Flow Diagram (DFD) a. Pengertian Data Flow

M enurut Whitten-Bentley-Dittman (2004, p357), data flow adalah gambaran komunikasi antara proses dan lingkungan sistem. Komunikasi tersebut berupa aliran data antara sistem dan lingkungannya atau antara dua proses dalam sebuah sistem.

b. Pengertian Data Flow Diagram

M enurut Whitten-Bentley-Dittman (2004, p344), data flow diagram adalah suatu model proses yang digunakan untuk

menggambarkan aliran data dalam sebuah sistem serta pemrosesan data yang dilakukan oleh sistem tersebut.

c. Komponen Data Flow Diagram

M enurut Whitten-Bentley-Dittman (2004, p347-366), komponen-komponen yang digunakan dalam membangun data flow diagram terdiri dari :

• Proses

Proses merupakan suatu pekerjaan yang dilakukan oleh sistem sebagai respon terhadap aliran data yang masuk atau kondisi.

(30)

Berikut adalah bentuk notasi pemodelan proses menggunakan lingkaran (notasi DeM arco/Yourdon) :

nama proses

• Aliran data

Aliran data menunjukkan aliran data yang masuk ke proses atau aliran data yang keluar dari proses. Berikut adalah bentuk notasi pemodelan aliran data :

• Agen eksternal

Agen eksternal mendefinisikan orang, unit organisasi, sistem lain, atau organisasi lain yang berada di luar lingkup proyek, tetapi berinteraksi dengan sistem yang sedang dipelajari. Berikut adalah bentuk notasi pemodelan agen eksternal (bentuk DeM arco/Yourdon) :

• Data store

Data store adalah tempat penyimpanan data. Berikut adalah

bentuk notasi pemodelan data store (bentuk DeM arco/Yourdon)

(31)

d. Diagram Aliran Data Konteks

M enurut Whitten-Bentley-Dittman (2004, p372), diagram aliran data konteks adalah suatu model proses yang digunakan untuk mendokumentasikan lingkup sebuah sistem. Diagram aliran data konteks merepresentasikan satu dan hanya satu proses, dimana agen eksternal digambarkan di sekitar proses tersebut. 3. Flowchart

M enurut Bodnar-Hopewood (1990, p50), flowchart adalah suatu diagram simbolik yang menggambarkan aliran data dan urutan operasi dalam suatu sistem. Beberapa simbol flowchart yang digunakan, antara lain :

Tabel 2.1 Simbol-Simbol Flowchart

Nama Gambar Keterangan

Flowline

Simbol flowline digunakan untuk meng-hubungkan suatu simbol dengan simbol lainnya.

Proses

Simbol proses merepresentasikan setiap jenis fungsi pemrosesan.

Terminal

Simbol terminal merepresentasikan titik terminal dalam suatu flowchart, seperti mulai, berhenti, atau interupsi.

Dokumen

Simbol dokumen merepresentasikan fungsi input / output yang menggunakan media dokumen.

Operasi manual

Simbol operasi manual merepresentasikan proses offline yang diarahkan pada kecepatan tindakan manusia, tanpa menggunakan bantuan mekanis.

(32)

2.2 Teori Khusus

2.2.1 Definisi Sistem Akuntansi Persediaan

M enurut M ulyadi (2001, p553), sistem akuntansi persediaan bertujuan untuk mencatat mutasi tiap jenis persediaan yang disimpan di gudang.

2.2.2 Tipe Persediaan

M enurut M ulyadi (2001, p553-555), dalam perusahaan manufaktur, persediaan terdiri dari persediaan produk jadi, persediaan produk dalam proses, persediaan bahan baku, persediaan bahan penolong, persediaan bahan habis pakai pabrik, persediaan suku cadang. Dari tiap persediaan, terdapat beberapa transaksi, sistem serta prosedur yang terkait dengan jenis persediaan tersebut. Dalam skripsi ini, jenis persediaan yang ditangani dibatasi pada persediaan bahan baku.

Nama Gambar Keterangan

Keputusan

Simbol keputusan merepresentasikan mengenai pemilihan jalur tertentu yang harus dilalui sesuai dengan keputusan yang dibuat.

Off-page connector

Simbol off-page connector merepresentasikan jalan keluar atau jalan masuk antar halaman dari suatu flowchart.

Auxiliary operation

Simbol auxiliary operation merepresentasikan operasi offline yang dilakukan dengan suatu peralatan yang tidak berada di bawah kontrol langsung dari central processing unit (CPU).

(33)

Tabel 2.2 Jenis Transaksi Persediaan Bahan Baku Tipe

Persediaan

Transaksi yang Dilakukan

Sistem dan Prosedur yang Bersangkutan

Persediaan bahan baku

Pembelian Prosedur pencatatan jumlah persediaan

yang dibeli.

Retur pembelian Prosedur pencatatan jumlah persediaan yang dikembalikan ke pemasok.

Pemakaian barang gudang

Prosedur permintaan dan pengeluaran barang gudang.

Penyesuaian jumlah barang gudang

Prosedur pengecekan dan pencatatan ulang jumlah persediaan di gudang.

2.2.3 Sistem Pencatatan Persediaan

M enurut M ulyadi (2001, p556), sistem akuntansi persediaan dapat menggunakan dua catatan, yaitu catatan di fungsi gudang dan di fungsi akuntansi. Bagian gudang ditugaskan untuk mencatat kuantitas persediaan dan mutasi tiap jenis barang yang disimpan dalam gudang. Bagian akuntansi ditugaskan untuk mencatat kuantitas dan harga pokok barang yang disimpan di gudang. Catatan ini berfungsi sebagai alat kontrol catatan kuantitas barang dalam gudang dan sebagai rincian rekening kontrol persediaan.

2.2.4 Sistem Akuntansi Pembelian

a. Pengertian Sistem Akuntansi Pembelian dan Fungsi yang Terkait M enurut M ulyadi (2001, p299), sistem akuntansi pembelian digunakan dalam perusahaan untuk pengadaan barang yang diperlukan oleh perusahaan. Fungsi-fungsi yang terkait dalam sistem akuntansi pembelian adalah :

(34)

- Fungsi Gudang

Fungsi gudang bertanggung jawab untuk mengajukan permintaan pembelian sesuai dengan posisi persediaan yang ada di gudang dan untuk menyimpan barang yang telah diterima oleh fungsi penerimaan.

- Fungsi Pembelian

Fungsi pembelian bertanggung jawab untuk memperoleh informasi mengenai harga barang, menentukan pemasok yang dipilih dan mengeluarkan order pembelian kepada pemasok yang dipilih.

- Fungsi Penerimaan

Fungsi penerimaan bertanggung jawab untuk melakukan pemeriksaan terhadap jenis, mutu dan kuantitas barang yang diterima dari pemasok guna menentukan kelayakan barang tersebut. Selain itu, fungsi penerimaan juga bertanggung jawab untuk menerima barang dari transaksi retur barang dari proyek yang sedang dikerjakan.

- Fungsi Akuntansi

Fungsi akuntansi yang terkait dalam transaksi pembelian adalah fungsi pencatat utang dan fungsi pencatat persediaan. Fungsi pencatat utang bertanggung jawab untuk mencatat transaksi pembelian ke dalam register bukti kas keluar dan untuk menyelenggarakan arsip dokumen sumber (bukti kas keluar) yang berfungsi sebagai catatan utang atau menyelenggarakan kartu

(35)

utang sebagai buku pembantu utang. Sedangkan, fungsi pencatat persediaan bertanggung jawab untuk mencatat persediaan barang yang dibeli ke dalam basis data persediaan.

b. Prosedur dalam Transaksi Pembelian

M enurut M ulyadi (2001, p300), secara garis besar transaksi pembelian mencakup prosedur sebagai berikut :

• Fungsi gudang mengajukan permintaan pembelian ke fungsi pembelian.

• Fungsi pembelian meminta penawaran harga dari berbagai pemasok.

• Fungsi pembelian menerima penawaran harga dari berbagai pemasok dan melakukan pemilihan pemasok.

• Fungsi pembelian membuat order pembelian kepada pemasok yang dipilih.

• Fungsi penerimaan memeriksa dan menerima barang yang dikirim oleh pemasok.

• Fungsi penerimaan menyerahkan barang yang diterima kepada fungsi gudang untuk disimpan.

• Fungsi penerimaan melaporkan penerimaan barang kepada fungsi akuntansi.

• Fungsi akuntansi menerima faktur tagihan dari pemasok dan atas dasar faktur dari pemasok tersebut, fungsi akuntansi mencatat kewajiban yang timbul dari transaksi pembelian.

(36)

2.2.5 Sistem Penanganan Proyek Konstruksi a. Pengertian Proyek Konstruksi

M enurut Kadariah (1988, p1), secara umum proyek didefinisikan sebagai keseluruhan kegiatan yang menggunakan sumber-sumber untuk memperoleh manfaat (keuntungan); atau suatu kegiatan dengan pengeluaran biaya dan dengan harapan untuk memperoleh hasil pada waktu yang akan datang dan yang dapat direncanakan, dibiayai, dan dilaksanakan sebagai satu unit. Kegiatan suatu proyek selalu ditujukan untuk mencapai suatu tujuan dan mempunyai suatu titik tolak dan suatu titik akhir.

M enurut Gould (1997, p16), suatu proyek konstruksi bertujuan untuk membangun sesuatu. Perbedaan proyek konstruksi dengan proyek pada umumnya adalah proyek konstruksi bersifat luas, built on-site, dan umumnya bersifat unik.

b. Perkembangan Proyek Konstruksi

M enurut Gould (1997, p16), setiap proyek konstruksi dibagi ke dalam suatu urutan langkah yang terdefinisi dan bersifat logis. Urutan langkah ini akan menjadi roadmap dari proyek konstruksi tersebut.

Proyek konstruksi digambarkan dalam bentuk spiral. Tim akan memulai proyek dengan satu tujuan awal dan seiring dengan perkembangan proyek, tim akan semakin mengerti berbagai hal mengenai proyek yang sedang dikerjakan untuk mencapai tujuannya. Hal-hal tersebut mencakup teknologi yang tersedia,

(37)

kebutuhan-kebutuhan yang ada, dan melakukan definisi ulang proyek. Proses ini akan diulang secara terus menerus sampai proyek dinyatakan selesai. Berikut adalah penggambaran bentuk spiral dari proyek konstruksi :

Gambar 2.9 Perkembangan Proyek Konstruksi dalam Bentul Spiral c. Perhitungan Biaya Proyek

M enurut Gould (1997, p313), perkiraan dan penjadwalan yang dibuat sebelum proyek dimulai merupakan dasar dari proyek konstruksi. Perkembangan aktual dari proyek ditentukan secara periodik sehingga pengaturan tambahan yang diperlukan dapat dikerjakan. Selanjutnya, informasi harga aktual proyek akan dikumpulkan melalui sistem yang ada.

d. Pembayaran Proyek

M enurut Peurifoy-Ledbetter-M artono(1988, p40), sebagian besar kontrak konstruksi menetapkan bahwa pemilik atau klien akan membayar sekian persen dari nilai pekerjaan yang telah diselesaikan untuk setiap bulannya.

(38)

2.2.6 Visual Basic .NET (VB.NET)

Visual Basic.NET adalah teknologi pemrograman Microsoft yang dapat digunakan untuk membuat aplikasi di lingkungan kerja berbasis Windows. Visual Basic.NET merupakan versi terbaru dari Visual Basic. Visual Basic.NET masih menggunakan bahasa dasar yang sama yakni BASIC (Beginner’s All Purpose Symbolic Instruction Code) namun memiliki beberapa perbedaan dari versi sebelumnya.

Perbedaan utama dengan versi sebelumnya terletak pada .NET framework yang dimiliki oleh Visual Basic.NET. Dalam .NET framework

kompilasi yang terjadi pada source code program menjadi berbeda. Beberapa kelebihan Visual Basic.NET, antara lain :

• Visual Basic.NET dilengkapi dengan Common Language Runtime (CLR) yang merupakan execution environment untuk mengatur kode-kode .NET pada saat dijalankan sehingga aplikasi menjadi stabil dan aman.

• Visual Basic.NET bersifat object oriented.

• Error handling yang berbeda. Adanya penambahan sintaks Try-Catch-Finally.

• Visual Basic.NET menyediakan model keamanan baru yakni code access security yang digunakan untuk mengontrol hak akses kode

(39)

• Visual Basic.NET menyediakan fitur garbage collector yang berfungsi untuk membersihkan memori dari obyek yang sudah keluar dari jangkauan aplikasi.

2.2.7 MySQL

M enurut Prasetyo (2005, p1) MySQL merupakan database server yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan bernama M ySQL AB. Secara garis besar dapat ditekankan lagi bahwa :

• MySQL merupakan suatu Database Management System (DBMS). • MySQL merupakan suatu Relational Database Management System

(RDBM S).

• Perangkat lunak MySQL didistribusikan secara open source.

• Database server MySQL sangat cepat, dapat dipercaya, dan mudah digunakan.

• Database server MySQL bekerja dalam lingkungan client / server. • Dukungan terhadap perangkat lunak MySQL tersebar luas dan mudah

ditemukan.

M enurut Syaukani (2005, p3), kelebihan dari M ySQL, antara lain : • Portability

MySQL dapat berjalan pada berbagai sistem operasi seperti Windows, LINUX, FreeBSD, M ac OS X Server, Solaris, Amiga, HP-Unix, dan lain-lain.

(40)

• Open source

MySQL merupakan DBM S yang bersifat open source sehingga tidak dipungut biaya untuk dapat menggunakannya.

• Multiuser

MySQL dapat menangani beberapa pengguna dalam waktu bersamaan dan juga memungkinkan sebuah server MySQL diakses oleh beberapa klien secara bersamaan.

• Performance tuning

MySQL mempunyai kecepatan yang cukup baik dalam menangani query sederhana serta mampu memproses lebih banyak query per

satuan waktu • Column type

MySQL didukung dengan tipe data yang sangat kompleks seperti signed/unsigned integer, float, double, char, varchar, text, blob, date,

time, datetime, timestamp, year, set serta enum.

• Command and functions

MySQL memiliki operator dan fungsi yang mendukung perintah SELECT dan WHERE dalam query.

• Security

Sistem sekuritas dalam MySQL mempunyai beberapa lapisan sekuritas seperti level subnetmask, nama host, dan ijin akses pengguna dengan sistem perijinan yang mendetil dan password yang terenkripsi.

(41)

• Scalability and limits

MySQL mempunyai kemampuan menangani basis data dalam skala cukup besar, dengan jumlah record lebih dari 50 juta dan 60 ribu tabel serta 5 milyar baris. Selain itu dapat menampung sampai dengan 32 indeks per tabelnya.

• Connectivity

MySQL mampu melakukan koneksi dengan klien menggunakan protokol TCP/IP, Unix soket (Unix), atau Named pipes (NT).

• Localization

M emiliki kemampuan dalam mendeteksi pesan kesalahan pada klien dengan menggunakan lebih dari 20 bahasa.

• Interface

MySQL memiliki interface terhadap berbagai aplikasi dan bahasa pemrograman menggunakan fungsi API (Application Programming Interface).

Gambar

Gambar 2.1 Database Application Life Cycle  1.  Perencanaan Basis Data
Gambar 2.2 Multiple User View  3.  Pengumpulan Kebutuhan dan Analisa
Gambar 2.5 Relasi One-to-One
Gambar 2.8 Bentuk-Bentuk Normalisasi  2.1.12  Metodologi Perancangan Basis Data
+4

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Manajerial dan Komisaris Independen terhadap earning power yang diproksikan dengan Return

 Manajer supervisor memberikan instruksi-instruksi yang spesifik kepada para karyawan baru yang direkrut untuk mencapai tingkat produksi yang lebih

Pada langkah ini, siswa dianjurkan memahami masalah dengan kata- kata (pemikiran) mereka sendiri. Memahami soal merupakan langkah yang penting dalam menyelesaikan soal.

Simpulan dari penulisan skripsi ini ialah e-marketing dapat memudahkan Pantai Mutiara Sports Club dalam mensosialisasikan informasi – informasi seputar Pantai Mutiara Sports Club

09220029, Etika Pelaku Usaha Periklanan Perspektif Fiqih Muamalah dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Skripsi, Jurusan Hukum Bisnis

[r]

Pembangkit yang digunakan untuk merubah panas bumi menjadi tenaga listrik secara umum mempunyai komponen yang sama dengan power plant lain yang bukan berbasis panas bumi,

Perawat mengkaji kondisi yan pernah dialami oleh klien di luar gangguan yang dirasakan sekarang khususnya gangguan yang mungkin sudah berlangsung lama bila di hubungkan