Nini, Widjaja, Rush: Tinjauun Yuridis Terhadap Kreditor Konkuren dalam Hal
TINJAUAN YURIDIS TERHADAP KREDITOR
KONKUREN DALAM HAL TERCAPAINYA
PERDAMAIAN DALAM PKPU
Nini Putri Wijaya, Gunawan Wijaja, Hardijan Rusli A B S T R A C T
Now a days, where the economy has not fully recovered from crisis yet, business and entrepreneurs must be extra careful in carrying out their busi-ness. Many have been forced to shut down their business due to their inca-pability in paying out debts that are already due. If a businessman/ debtor has more than one creditor and one of the debts are already, then by request of the creditor, the debtor can be filed bankrupt. This is regulated by Indo-nesian Bankruptcy Law article I (1). As a reaction to this, the law has pro-vided the debtor an alternative way put, that is by Suspension of Payment.
Suspension of Payment is a request made by the debtor to the court to give a period of time to suspend the payment of the debt which is due because of certain reasons. This is regulated by article 212 Indonesia Bankruptcy law.
In the Suspension of Payment , many parties beside the debtor is in-volved, among other are the creditors, which consist of three kinds of credi-tor who are: unsecure credicredi-tor, credicredi-tor with security, and credicredi-tor with spe-cial right. By having this Suspension of Payment, the creditor with security who has the right to execute their security, must be suspended for a period of time until the verdict of the court is resulted.
The rights of that creditor is only suspended, not dismissed until the judged gives out a verdict of either bankruptcy or reconcilement means. After the verdict is resulted, that creditor can execute their rights, which can unbenefit the debtor and the unsecured creditor. Because of the Indonesian Bankruptcy law has not yet given enough protection, that is why the Indone-sian government still discussed the new IndoneIndone-sian Bankruptcy Law, hope-fully can give enough protection to all parties.
However, this study typologically falls into the category of normative legal research. Therefore, this research is qualitative in nature and mainly uses literary method in gathering the data required. Further, those data were pro-cessed with other stipulating and related laws and regulation.
Keywords: Creditor; Debitor; Bankrupt; Bankruptcy Law; Suspension of Pay-ment; Unsecured Creditor; Creditor with Security; Creditor With Special Right. Law Review. Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan, Vol. Ill, No.i, Morel 2003 31
Nini, Widjaja, Rusli: Tinjauan Yuridis Terhadap Kreditor Konkuren dalani Hal Latar Belakang
Awal mula pernbahasan penulisan ini adalah karena telah terjadinya krisis moneter yang memporak-porandakan sendi-sendi ekonomi, khususnyadi Indo-nesia. Hal ini bisa mengakibatkan tidak dapat dipenuhinya kewajiban (utang) yang telah jatuh tempo dan bisa berakibat pada pailitnya para pelaku usaha.
Di Indonesia, hal ini diatur di dalam Undang-Undang No. 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan (selanjutnya akan disebut dengan UUK).
Tidak dpenuhinyakewajiban pembayaran utang yang telah jatuh tempo oleh debitor, bisa disebabkan karena 2 hal:
1. Kesengajaan/ ketidakmauan. Ini maksudnya adalah dari awal debitor mempunyai niat yang tidak baik terhadap kreditor, sehingga ia (debitor) sengaja tidak mau melunasi utangnya yang telah jatuh tempo.
2. Ketidakmampuan/keterpaksaan. Ini maksudnya adalah debitor, karena suatu alasan tertentu, tidak bisa membayar utangnya yang telah jatuh tempo kepada kreditor, misalnya pabrik tempat ia menjalankan usahanya terbakar, atau sebab lainnya yang di luar kendali dari debitor tersebut.
Jalan keluar bagi debitor yang terpaksa tidak memenuhi kewajibannya adalah:
1. Melalui kepailitan.
Dengan tidak bisa dibayarnya utang yang telah jatuh tempo, maka debitor mengajukan per-mohonan pailit ke Pengadilan atas dirinya sendiri, dengan alasan bahwa kondisi keuangannya telah demikian buruk sehingga walaupun diberikan penundaan waktu pembayaran utang, si debitor tetap tidak akan bisa melunasi utangnya tersebut.
2. Melalui PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang). Ini maksudnya adalah debitor mengajukan permohonan PKPU ke Pengadilan, agar kepada dirinya diberikan suatu waktu penundaan pembayaran utang.
Kepailitan
Syarat dari pailit bisa dilihat dari Pasal 1 ayat (1) UUK, yaitu debitor mempunyai dua atau lebih kreditor dan mempunyai sedikitnya satu utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih. Kedua syarat ini adalah kumulatif, artinya apabila hanya satu syarat yang terpenuhi, maka seorang debitor tidak bisa dimohonkan pailit.
Nini, Widjaja, Rusli: Tinjauan Yuridis Terl
Seorang debitor baru bisa dinyatakan pailit apabila telah dinyatakan oleh hakim dengan suatu putusan hakim. Sejak permohonan pailit masuk ke Pengadilan, maka debitor yang dimohonkan pailit belumlah menjadi seorang pailit.
Sejak had pernyataan pailit diucapkan, seorang debitor demi hukum kehilangan hak untuk men gurus harta kekayaannya1. Semua harta debitor
pailit akan masuk menjadi harta pailit dan diurus oleh Kurator. Debitor pailit tetap tidak bisa mengurus hartanya walaupun ia mengajukan Kasasi atau Peninjauan Kembali terhadap putusan pailitnya. Apabila nantinya putusan Kasasi atau Peninjauan kembali terhadap Putusan Pailit tersebut adalah membatalkan putusan pailit pada tingkat pertama, maka semua perbuatan dan tindakan Kurator terhadap harta pailit tetap sah dan mengikat debitor2. Putusan pailit harus
diumumkan paling lambat 5 hari setelah putusan pailit diucapkan3.
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)
PKPU diatur dalam Pasal 212 - Pasal
1 Pasal 22 UUK. 2 Pasal 12ayat(2)UUK. 1 Pasal 13ayat(4) UUK.
up Kreditor Konkuren dalam Hal
279 UUK.
Dua kesempatan debitor mengajukan PKPU:
1. Diajukan sebelum adanya per-mohonan pailit dari kreditor. Maksudnya adalah debitor secara sukarela mengajukan permohonan PKPU ke Pengadilan.
2. Diajukan setelah adanya per-mohonan pailit dari kreditor tetapi belum ada putusan pailit dari pengadilan.
Maksudnya adalah debitor terpaksa mengajukan permohonan PKPU ke Pengadilan, agar hartanya tidak dilikuidasi.
PKPU ini bisa berakhir karena per-mintaan Penguins, Hakim Pengawas serta para Kreditor4, dengan alasan:
a. debitor mempunyai itikad buruk dalam melakukan pengurusan terhadap hartanya.
b. debitor mencoba merugikan para kreditornya.
c. debitor melakukan pelanggaran ketentuan Pasal 226 ayat (1).
d. debitor lalai melaksanakan tin-dakan-tindakan yang diharuskan
4 Pasal 240 UUK.
Nini, Widjaja, Rusli: Tinjauan Yuridis Terhadap Kreditor Konkuren dalam Hal
kepadanya.
Selama waktu PKPU, keadaan harta debitor ternyata tidak lagi memungkinkan untuk melanjutkan PKPU.
Keadaan debitor tidak dapat diharapkan untuk memenuhi kewajibannya terhadap para
kreditor pada waktunya.
Selain PKPU bisa diakhiri, permohonan PKPU bisa dicabut oleh debitor, dengan alasan harta debitor telah cukup untuk melunasi utangnya
1
1
Permohonan PKPU — • PKPU Sementara — • i f Sidang I i 4 3 l i !70h ari PKPU Tetap Pailit Perdamaianr
L* Homoglasi Pailit i >Bagan 1: Proses Permohonan PKPU
yang telah jatuh tempo5.
Keterangan:
1. Ada permohonan PKPU dari debitor.
2. berdasarkan Pasal 214 Ayat (2) UUK, Pengadilan harus segera menetapkan PKPU Sementara kepada debitor.
3. Lampiran usulan perdamaian bisa dimasukkan pada saat
per-mohonan PKPU atau setiap saat sebelum dilakukannya Sidang I.
4. PKPU Sementara yang telah ditetapkan Pengadilan harus diumumkan di Berita Negara dan di satu surat kabar harian yang ditunjuk oleh Hakim Pengawas, paling lambat 21 hari sebelum diadakannya sidang I. Apabila lampiran usulan perdamaian dimasukkan bersamaan dengan
5 Pasal 244 UUK.
Nini, Widjaja, Rusli: Tinjauan Yuridis Terhadap Kreditor Konkuren dalam Hal
masuknya permohonan PKPU, maka hal ini juga harus diumum-kan. Pengumuman ini juga sekaligus merupakan undangan kepada para kreditor, Hakim Pengawas, dan Pengurus, untuk hadir dalam sidang I.
Jarak waktu dari penetapan PKPU Sementara ke Sidang I adalah 45 hari.
Sidang I bisa berakhir dengan 3 hasil:
a. Perdamaian.
Hal ini bisa tercapai apabila lebih dari V2 kreditor konkuren yang mewakili paling sedikit 2/3 bagian dari seluruh tagihan menyetujui untuk memberikan perdamaian kepada debitor. Perdamaian yang telah diberikan ini apabila diterima, maka akan dihomologasikan. Tetapi apabila ditolak, maka debitor akan dinyatakan pailit.
7.
b. Pailit.
Hal ini bisa tercapai apabila lebih dari Vi kreditor konkuren yang mewakili paling sedikit 2/3 bagian dari seluruh tagihan, tidak menyetujui untuk memberikan perdamaian kepada debitor.
c. Penetapan PKPU secara Tetap. Hal ini bisa tercapai apabila para kreditor konkuren tersebut belum bisa memutus-kan apakah terhadap per-mohonan PKPU debitor akan diberikan perdamaian atau tidak, maka atas desakan debitor, kreditor harus segera menetapkan PKPU Tetap.
Jangka waktu proses PKPU adalah selama 270 hari.
Tujuan Putusan PKPU adalah agar debitor bisa melakukan restrukturisasi perusahaannya sehingga diharapkan
PKPU Tetap Diterima Damai Ditolak Pailit Homologasi -Diterima • Sah Ditolak Pailit
akan bisa melunasi utang-utangnya yang telah jatuh tempo kepada kreditor.
Nini, Widjaja, Rusli: Tinjauan Yuridis Terhadap Kreditor Konkuren dalam Hal Bagan 2: Proses Sidang
Perdamaian dalam PKPl I
Ada dua kemungkinan dalam per-damaian PKPU:
1. Penerimaan Perdamaian.
Apabila perdamaian tersebut diterima oleh lebih dari Vi kreditor konkuren yang mewakili paling sedikit 2/3 bagian dari seluruh tagihan, maka Hakim Pengawas akan melaporkannya ke Pengadil-an untuk dihomologasikPengadil-an (disah-kan).
2. Penolakan Perdamaian.
Apabila lebih dari Vi kreditor konkuren yang mewakili paling sedikit 2/3 bagian dari seluruh tagihan, menolak perdamaian, maka paling lambat keesok harinya, debitor harus dinyatakan pailit.
Homologasi
Yang dimaksud dengan homologasi adalah pengesahan rencana per-damaian yang telah disepakati antara debitor dan kreditor oleh Pengadilan.
Pada saat akan mensahkan rencana perdamaian tersebut, hakim mempunyai hak untuk memeriksa apakah terhadap rencana perdamaian
tersebut terdapat suatu alasan untuk menolak pengesahannya6. Apabila
ditemukan alasan untuk menolak eprdamaian tersebut, maka pada putusan yang sama, debitor harus dinyatakan pailit. Apabila tidak ditemukan alasan untuk menolak pengesahan, maka rencana perdamai-an tersebut akperdamai-an disahkperdamai-an dperdamai-an PKPU berakhir.
Setelah rencana perdamaian disahkan, maka berdasarkan Pasal 160 UUK, perdamaian tersebut bisa dimintakan pembatalannya oleh kreditor, dengan alasn ia belum mendapatkan pembayaran dari debitor. Kepada debitor diletakkan beban untuk membuktikan bahwa ia telah melaku-kan pembayaran. Apabila ternyata debitor belum membayar utangnya kepada kreditor sesuai dengan klausula dalam rencana perdamaian, maka perdamaian tersebut bisa dibatalkand an kepailitan menjadi terbukakembali7.
Macam-Macam Kreditor dan kedudukannya dalam PKPU
Dalam PKPU, kita mengenal ada 3 macam kreditor:
I. Kreditor Konkuren.
ialah kreditor yang dimaksud
" Pasal 269 ayat (2) UUK.
7 Pasal 162 ayat (!) UUK.
Nini, Widjaja, Rusli: Tinjauan Yuridis Terhadap Kreditor Konkuren dalam Hal
dalam Pasal 1131 dan Pasal 1132 KUHPer, yang tidak memegang agunan dan yang tidak diistimewa-kan. Kedudukannya dalam PKPU adalah mengikuti semua proses dalam PKPU.
2. Kreditor dengan Hak Istimewa. ialah semua kreditor yang ter-masuk dalam Pasal 1139 dan Pasal 1149 KUHPer. Hak isti-mewa yang dipegang oleh kreditor ini ialah hak untuk mendapatkan pelunasan terlebih dahulu. Kedudukannya dalam PKPU adalah mereka sama sekali tidak terpengaruh dengan adanya proses PKPU ini.
3. Kreditor Pemegang jaminan Kebendaan.
ialah kreditor yang dimaksud dalam Pasal 1133 dan Pasal 1134, yang memegang jaminan ke-bendaan dari debitor, misalnya: kreditor pemegang gadai, kreditor pemegang jaminan kebendaan, kreditor pemegang Hak Tang-gungan, dan kreditor pemegang hipotek. Kedudukannya dalam PKPU ini adalah mereka harus menangguhkan hak eksekusi jaminan kebendaan yang
di-sPasal231AUUK.
Law Review, Fakullas Hukum Universitas Peli,
pegangnya*.
Permasalahan
Berdasarkan Pasal 231A UUK, penangguhan eksekusi bagi kreditor pemegang jaminan kevbendaan hanya berlaku selama berlangsungnya proses PKPU. Dengan disahkannya per-damaian, berarti proses PKPU telah berakhir, yang berarti penangguhan eksekusi juga berakhir.
Permasalahannya adalah bagai-mana apabila kreditor pemegang jaminan kebendaan menjula hak jaminan kebendaannya setelah rencana
perdamaian disahkan?
Perlindungan Hukumnya
Pasal 270 UUK kurang cukup me-lindungi kreditor konkuren.
Pasal 270 UUK:
"Perdamaian yang telah disahkan, berlaku terhadap semua kreditor yang terhadapnya pengunduran pembayaran itu berlaku."9
Oleh karena UUK kurang cukup melindungi kreditor konkuren, maka dalam Pasal 284 RUUK telah dimasukkan ketentuan yang melindungi kreditor konkuren.
Pasal 284 RUUK:
g Ini berarti perdamaian tersebut hanya berlaku
bagi kreditor konkuren.
Nini, Widjaja, Rusli: Tinjauan Yuridis Terhadap Kreditor Konkuren dalam Hal
"Perdamaian yang telah disahkan mengikat semua kreditor, kecuali kreditor yang tidak menyetujui rencana perdamaian sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 279 ayat (2)."10
Pasal 279 ayat (1) RUUK:
Rencana perdamaian dapat diterima berdasarkan:
a. Persetujuan lebih dari Vi jumlah kreditor konkuren yang mewakili paling sedikit 2/3 bagian dari tagihan
b. Persetujuan lebih dari lA jumlah
kreditor pemegang jaminan kebendaan yang mewakili paling sedikit 2/3 bagian dari seluruh tagihan
Dalam RUUK, perlindungan terhadap kreditor konkuren lebih kuat karena rencana perdamaian memerlukan persetujuan kreditor konkuren dan kreditor pemegang jaminan kebendaan".
10 Rencana Perdamaian berlaku terhadap semua
kreditor konkuren dan kreditor pemegang jaminan kebendaan.
" Hal ini berbeda dengan pengaturan dalam Pasal 265 UUK, dimana rencana perdamaian hanya memerlukan persetujuan dari kreditor konkuren.
Pasal 279 ayat (2) RUUK:
"Kreditor sebagaimana dimaksud dalam dalam ay at (1) huruf b yang tidak menyetujui rencana perdamaian diberikan kompensasi sebesar nilai terendah diantara nilai pinjaman atau nilai actual pinjaman yang secara langsung dijamin dengan hak agunan atas kebendaan."
Bagi kreditor pemegang jaminan kebendaan yang tidak menyetujui rencana perdamaian tersebut, maka ia akan dibayar sebesar nilai pinjaman atau sebesar nilai jaminan kebendaan yang dipegangnya (yang dibayar adalah nilai yang lebih kecil), contoh:
Nilai pinjaman: Rp. 200 juta.
Nilai jaminan kebendaan: Rp. 150 juta.
Maka, debitor akan membayar sebesar Rp. 150 juta kepada kreditor dan kreditor hams mengembalikan jaminan kebendaan yang dipegangnya. Untuk sisa pinjaman sebesar Rp. 50 juta, kreditor akan menerima pembayaran sebagai kreditor konkuren.
Nini, Widjaja, Rusli: Tinjauan Yuridis Terhadup Kreditar Konkuren dalam Hal
Daftar Pustaka
Fuady, Munir. Hukum Pailit 1998 (Dalam Teori dan Praktek). Bandung: P.T. CitraAdityaBakti, 2002.
Garner, Bryan A. Black's Law Dic-tionary: seventh edition. West Group: St. Paul, Minn 1999. Gautama, Sudargo. Komentar atas
Peraturan Kepailitan Bam Untuk Indonesia (1998). Bandung: P.T. CitraAdityaBakti, 1998.
Lontoh, Rudy A., Denny Kailimang, Benny P o n t o h . Penyelesaian Utang Piutang melalui Pailit atau Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Bandung: alumni, 2001.
Muljadi, Kartini, Gunawan Widjaja. Pedoman Menangani Perkara Kepailitan. Jakarta: P.T. Raja Grafindo Persada, 2003.
Purwostjipto, H.M.N. Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia: Perwasitan, Kepailitan dan Penundaan Pembayaran. Jakarta: Djambatan, 1992.
Satrio, J. Hukum Jaminan, Hak-Hak Jaminan Kebendaan. Bandung: P.T. Citra Aditya Bakti, 2002.
S j a h d e i n i , Sutan R e m y . Hukum Kepailitan: Memahami Failliss-ementsverordening juncto Un-dang-Undang Nomor 4 tahun
1998. Jakarta: Grafiti, 2002. Sofwan1, Sri Soedewi M a s j c h o e n .
Hukum Jaminan di Indonesia: Pokok-Pokok Hukum Jaminan dan Jaminan Perorangan. Y o g y a k a r t a : L i b e r t y Offset Yogyakarta,2001.
S u b e k t i . Pokok-Pokok Hukum Perdata. Jakarta: P.T. Intermasa,
1985.
S u b e k t i , T j i t r o s u d i b i o . Undang-Undang Kepailitan, Jakarta: P.T. Pradnya Paramita, 2000.
Yani, Ahmad., Gunawan Widjaja. Seri Hukum Bisnis: Kepailitan. J a k a r t a : P.T. R a j a G r a f i n d o Persada, 1999.
Subekti, Tjitrosudibio. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Jakarta: P.T. Pradnya Paramita, 1999.
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 Tentang Kepailitan
Rancangan Undang-Undang tentang K e p a i l i t a n dan P e n u n d a a n Kewajiban Pembayaran Utang. Law Review. Fakultas Hukum Universitas Peiila Harapan, Vol. III. No. 3, Marel 2003 39