1
PENGARUH FAKTOR-FAKTOR KEPERILAKUAN ORGANISASI TERHADAP KEGUNAAN SISTEM AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH (SAKD) DENGAN VARIABEL KONFLIK
KOGNITIF DAN AFEKTIF SEBAGAI VARIABEL INTERVENING Lian Martilova, Popi Fauziati, Meihendri.
Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Bung Hatta E- mail : [email protected]
ABSTRACT
This study aimed to examine the effect of behavioral factors of the organization’s financial accounting system usability area (SAKD) with cognitive conflict and affective conflict as intervening. Respondents in this study were civil servants who work in the city of Padang on education. The sample in this study was determint by using purposive sampling method. The hypothesis in this study were tested using multiple regressions techniques on SEM-PLS. The first hypothesis of the influence on the area of study results show the training and utilization of information technology has an influence on the area of financial accounting system usability. Result of the second and third hypothesis testing showed training, clarity of purpose, supervisor support and utilization of information technology has no effect on cognitive conflict and affective conflict. Results of the fourth and fifth hypothesis testing showed cognitive conflict and affective conflict does not affect the usefulness of financial accounting system area. Results of the sixth and seventh hypothesis testing showed behavioral factors of the organization’s Regional Financial Accounting System utilities through cognitive conflict and affective conflict proved unsuccessful.
Keywords : Organizational Behavioral Factors, Conflict Cognitive, Affective Conflict and the Usefulness Of the Regional Financial Accounting System.
Pendahuluan
Sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri atas subsistem-subsistem atau kesatuan yang lebih kecil dan berhubungan satu dengan yang lainnya juga mempunyai tujuan tertentu. Suatu sistem mengelola input atau memasukkan menjadi output atau keluaran. Input sistem akuntansi adalah bukti transaksi-transaksi dalam bentuk dokumen dan formulir. Outputnya adalah laporan keuangan (Halim, 2003). Akuntansi merupakan proses mengenali, mengukur, dan mengkomunikasikan informasi ekonomi untuk memperoleh pertimbangan dan keputusan yang tepat oleh pemakai informasi yang bersangkutan (Nordiawan
dkk, 2012). Akuntansi adalah proses pencatatan, pengukuran, pengklasifikasian, pengikhtisaran transaksi dan kejadian keuangan, penginterpretasian atas hasilnya, serta penyajian laporan (PP No. 24 Tahun 2005). Sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah, sistem pengelolaan keuangan daerah yang baik difokuskan untuk mengelola dana secara desentralisasi dengan transparan, efisien, efektif, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan suatu pemikiran cerdas melalui suatu inovasi sistem akuntansi (Bastian, 2007).
2 Pengembangan sistem memerlukan suatu perencanaan dan pengimplementasian yang hati-hati, untuk menghindari adanya penolakan terhadap sistem yang dikembangkan. Suatu keberhasilan implementasi sistem tidak hanya ditentukan pada penguasaan teknis belaka, namun banyak penelitian menunjukkan bahwa faktor perilaku dari individu pengguna sistem sangat menentukan kesuksesan implementasi (Bodnar dan Hopwood (1995) dalam Latifah dan Sabeni (2007).
Selama ini pelaporan keuangan pemerintah, baik di pusat maupun di daerah terkesan belum memenuhi kebutuhan informasi pemakaianya. Kurangnya informasi yang dihasilkan mengakibatkan pemerintah tidak mempunyai manajerial yang baik dan tidak bisa mewujudkan transparansi dan akuntabilitas yang sesuai dengan harapan masyarakat dan stokeholders lainnya. Hal ini terjadi karena pengelolaan keuangan pemerintah selama ini masih mengadopsi Indsche Comtabiliteitswet (ICW) yang diwarisi dari kolonial Belanda. Metode lama ini menggunakan sistem tata buku tunggal (single entry) dengan basis kas (cash basis) sehingga lebih tepat disebut pembukuan yang hanya bagian kecil dari akuntansi. Penggunaan metode pencatatan single entry kurang bagus untuk pelaporan (kurang memudahkan penyusunan laporan) dan sulit untuk menemukan kesalahan pembukuan yang terjadi serta membuat laporan keuangan yang dihasilkan sulit diperiksa kebenarannya (tidak auditable) (Sari,2011).
Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian Mranani dan Lestiorini (2011). Peneliti meneliti kembali penelitian ini dikarenakan hasil dari penelitian terdahulu yang tidak konsisten. Dimana pelatihan, kejelasan tujuan, dukungan atasan dan konflik afektif tidak berpengaruh positif terhadap kegunaan SAKD. Pemanfaatan teknologi informasi dan konflik kognitif berpengaruh positif terhadap kegunaan SAKD. Dukungan atasan dan pemanfaatan teknologi informasi tidak berpengaruh positif terhadap konflik kognitif. Pelatihan dan kejelasan tujuan berpengaruh positif terhadap konflik kognitif. Kejelasan tujuan, dukungan atasan dan pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh negatif terhadap konflik afektif tidak berhasil dibuktikan. Selain Mranani dan Lestiorini, penelitian mengenai ini juga di teliti oleh Nurlaela dan Rahmawati (2010), yang hasilnya pelatihan dan kejelasan tujuan tidak berhasil dibuktikan. Hanya dukungan atasan yang berpengaruh terhadap kegunaan SAKD. Peneliti lainnya Latifah dan Sabeni (2007) juga mendapatkan hasil yang sama dengan Nurlaela dan Rahmawati (2010). Selain hasilnya yang tidak konsisten, peneliti juga meneliti penelitian ini pada objek dan lingkungan yang berbeda.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Apakah pelatihan, kejelasan tujuan, dukungan atasan, pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh terhadap kegunaan
3 Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD) ?
2. Apakah pelatihan, kejelasan tujuan, dukungan atasan, dan pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh terhadap konflik kognitif ?
3. Apakah pelatihan, kejelasan tujuan, dukungan atasan, dan pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh terhadap konflik afektif ?
4. Apakah konflik kognitif berpengaruh terhadap kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD) ?
5. Apakah konflik afektif berpengaruh terhadap kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD) ?
6. Apakah pelatihan, kejelasan tujuan, dukungan atasan dan pemanfaatan teknologi informasi dapat meningkatkan konflik kognitif sebagai variabel intervening yang akan meningkatkan kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD) ?
7. Apakah pelatihan, kejelasan tujuan, dukungan atasan dan pemanfaatan teknologi informasi dapat menurunkan konflik afektif sebagai variabel intervening yang akan meningkatkan kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD) ?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan bukti empiris tentang faktor-faktor
organisasi terhadap kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD) pada SKPD Kota Padang. Menguji pengaruh langsung faktor organisasional seperti (Dukungan Atasan, Kejelasan Tujuan, Pelatihan dan pemanfaatan teknologi informasi) dalam meningkatkan kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah. Menguji pengaruh tidak langsung faktor organisasi seperti (Dukungan Atasan, Kejelasan Tujuan, Pelatihan, pemanfaatan teknologi informasi) melalui variabel intervening akan dapat meningkatkan konflik kognetif, menurunkan konflik afektif yang akan meningkatkan kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah.
1.4.Manfaat Penelitian 1. Bagi Akademisi
Dapat memberikan kontribusi dalam menambah literatur mengenai pengaruh Faktor-faktor Keperilakuan Organisasi terhadap Kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah.
2. Bagi Praktisi
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi aparatur SKPD khususnya dan pemerintah pada umumnya dalam menerapkan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah secara komprehensif.
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Social Cognitive Theory (SCT)
Social Cognitive Theory (SCT) menjelaskan fungsi psychososial dalam tiga hal yang berhubungan timbal balik yaitu perilaku,
4 faktor personal yang meliputi (konflik kognitif, afektif dan biological evens) serta lingkungan eksternal (Bandura,1997 dalam Latifah dan Sabeni, 2007).
2.1.2 Pelatihan
Menurut Fitriyah (2010) pelatihan secara singkat di defenisikan sebagai suatu kegiatan untuk meningkatkan kinerja saat ini dan kinerja masa mendatang.
2.1.3 Kejelasan Tujuan
Menurut Nurdin (2011) kejelasan tujuan adalah transparansi informasi yang terjadi didalam sebuah perusahaan dan berhubungan dengan sasaran yang hendak dicapai demi kelangsungan hidup perusahaan dimasa depan.
2.1.4 Dukungan Atasan
Dukungan atasan adalah keadaan dimana individu menerima perhatian khusus dari beberapa manajer senior termasuk sponsor. Ini menunjukkan bahwa bawahan yang menerima pelatihn dari atasan berarti telah mendapat dukungan dari atasan (Sugiyanto, 2007).
2.1.5 Pemanfaatan Teknologi Informasi
Irwansyah dalam Jumaili (2005) mengemukakan bahwa penggunaan teknologi dalam sistem informasi perusahaan hendaknya mempertimbangkan pemakai. Tidak jarang ditemukan bahwa teknologi yang diterapkan dalam sistem informasi sering tidak tepat atau tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh individu
pemakai sistem informasi, sehingga sistem informasi kurang memberikan manfaat dalam meningkatkan kinerja individual.
2.1.6 Konflik Kognitif dan Konflik Afektif Konflik kognitif yaitu konflik yang timbul apabila para individu menyadari bahwa ide-ide mereka tidak konsisten satu sama lain (Winardi, 2004).
Konflik afektif yaitu konflik yang timbul apabila perasan atau emosi tidak sesuai satu sama lain. Konflik afektif cenderung melibatkan persepsi yang mengancam posisi seseorang dalam suatu kelompok, pertikaian, frustasi dan firksi antara pribadi seseorang dengan nilai norma yang ada (Petersen, 1983; Ross, 199 dan Amason, 1996 dalam Mranani dan Lestiorini, 2011).
2.1.7 Sistem Akuntansi Keuangan Daerah Menurut Departemen Dalam Negeri, Sistem Akuntansi adalah serangkaian prosedur atau mekanisme yang digunakan dalam rangka penyusunan laporan keuangan.
Sistem akuntansi pemerintahan pada pemerintah daerah diatur dengan peraturan Gubernur/Bupati/Walikota yang mengacu pada pedoman umum sistem akuntansi pemerintahan. Pedoman umum sistem akuntansi pemerintahan diatur dengan peraturan Menteri Keuangan setelah berkordinasi dengan Menteri Dalam Negri. Salah satunya adalah Permendagri No. 13 tahun 2006 (Sari, 2011).
5 Pengembangan Hipotesis
1.Pengaruh Faktor-faktor Keperilakuan Organisasi terhadap KegunaanSAKD
Dalam penelitian Mranani dan Lestiorini (2011) pelatihan, kejelasan tujuan, dukungan atasan tidak berpengaruh positif terhadap kegunaan SAKD. Hanya pemanfaatan teknologi informasi yang berpengaruh positif terhadap kegunaan SAKD. Dari hal tersebut dapat dirumuskan hipotesisnya sebagai berikut :
H1a : Pelatihan berpengaruh terhadap kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD)
H1b : Dukungan atasan berpengaruh terhadap kegunan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD)
H1c : Kejelasan tujuan berpengaruh terhadap kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD)
H1d : Pemanfaatan teknologi berpengaruh terhadap kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah(SAKD)
2.Pengaruh Faktor-faktor Keperilakuan Organisasi terhadap Konflik Kognitif
Memaksimalkan konflik kognitif dan meminimalkan konflik afektif selama implementasi dapat dilakukan apabila terjadi beberapa kondisi berikut ini: (1) terdapat keanekaragaman kemampuan dan orientasi ; (2) didukung oleh suatu komitmen; (3) dibangun hubungan yang baik dalam tim untuk bekerjasama setiap waktu (Amason 1996 dalam Mranani dan
Lestiorini). Hipotesis dapat dikembangkan sebagai berikut :
H2a : Pelatihan berpengaruh dengan konflik kognitif
H2b : Kejelasan tujuan berpengaruh dengan konflik kognitif
H2c : Dukungan atasan berpengaruh dengan konflik kognitif
H2d : Pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh dengan konflik kognitif
3. Pengaruh Faktor-faktor Keperilakuan Organisasi terhadap Konflik Afektif
Chenhall (2004) dalam Mranani dan Lestiorini, 2011) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa pelatihan dan kejelasan tujuan mempengaruhi konflik kognitif sedangkan dukungan manajemen puncak tidak berpengaruh signifikan. Sedangkan tidak ada satupun faktor perilaku yang berpengaruh untuk meminimalkan konflik afektif. Penelitian tersebut diuji dalam implementasi ABCM. Dapat dikembangkankan hipotesis sebagai berikut :
H3a : Pelatihan berhubungan dengan konflik afektif.
H3b : Kejelasan tujuan berhubungan dengan konflik afektif
H3c : Dukungan atasan berhubungan dengan konflik afektif
H3d : Pemanfaatan teknologi informasi berhubungan dengan konflik afektif
6 4. Pengaruh Konflik Kognitif terhadap
Kegunaan SAKD
Konflik Kognitif dapat bermanfaat untuk memecahkan masalah dan mendorong ke arah perbaikan pengambilan keputusan. Manfaat yang diperoleh dari konflik kognitif berasal dari potensinya untuk menyediakan kesempatan untuk interaksi dengan dialegctical style, berdebat, mempertahankan argument yang memiliki melawan argument lain dalam organisasi (Mitroff dan Emshoff, 1979, Janis, 1982; Swhweiger dan Sandlerg, 1989 dalam Mranani dan Lestiorini, 2011). Hipotesis dapat dikembangkan sebagai berikut :
H4 : Konflik Kognitif berpengaruh dengan kegunaan SAKD.
5. Pengaruh Konflik Afektif terhadap Kegunaan SAKD
Beberapa kasus yang terdapat pada penelitian Chenhall (2004) dalam Latifah dan Sabeni, 2007) mengenai implementasi ABCM, konflik afektif ini berpotensi dapat mengurangi kegunaan ABCM untuk perencanaan produk dan manajemen biaya. Konflik Afektif cenderung melibatkan persepsi yang mengancam posisi seseorang di dalam suatu kelompok, pertikaian, frustasi dan friksi antara pribadi seseorang dengan nilai dan norma yang ada (Petersen, 1983; Ross, 1989 dan Amason, 1996 dalam Mranani dan Lestiorini,2011). Hipotesis dapat dikembangkan sebagai berikut :
H5 : Konflik afektif berpengaruh dengan kegunaan SAKD.
6. Pengaruh Faktor-faktor Keperilakuan Organisasi terhadap Kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah Dengan
Konflik Kognitif dan Konflik Afektif sebagai Intervening
Dalam mengimplementasikan SAKD perlu diperhatikan bahwa faktor-faktor organisasi dapat memaksimalkan konflik kognitif dan konflik afektif yang bisa dipertanggungjawabkan dihadapan publik. Apabila dalam implementasi Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD) memperhatikan faktor organisasional seperti dukungan atasan, kejelasan tujuan dan pelatihan serta pemanfaatan teknologi informasi diharapkan dapat memaksimalkan konflik kognitif sehingga diharapkan dapat menghasilkan hasil yang diharapkan yaitu pengelolaan keuangan yang transparan, ekonomis, efisien, efektif dan akuntabel (Latifah dan Sabeni, 2007).
Dalam penelitian Nurlaela dan Rahmawati (2010) hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pengaruh pelatihan dan kejelasan tujuan terhadap kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD) tidak berhasil dibuktikan. Konflik Kognitif tidak berhubungan positif terhadap kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD). Konflik Afektif berhubungan negative terhadap kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD). Hanya dukungan atasan yang berpengaruh untuk meningkatkan kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD). Hipotesis dapat dikembangkan sebagai berikut : H6 : Faktor keperilakuan organisasi seperti pelatihan, kejelasan tujuan, atasan dan
7 pemanfaatan teknologi informasi dapat
meningkatkan konflik kognitif yang akan mempengaruhi kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah.
H7 : Faktor keperilakuan organisasi seperti pelatihan, kejelasan tujuan, dukungan atasan dan pemanfaatan teknologi informasi dapat menurunkan konflik afektif yang akan mempengaruhi kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah. Kerangka Pemikiran H1a H4 H2a H1b H3a H3b H1c H2b H3c H3d H1d H2c H2d H5 Metode Penelitian Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah pada 36 SKPD yang melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah di kota Padang. Sampel dari penelitian ini adalah Pegawai Negri Sipil (PNS) yang bekerja pada SKPD di bagian keuangan di Kota Padang. Untuk melakukan pengambilan sampel maka digunakan metode purposive sampling. Menurut Sekaran (2011) mendefenisikan purposive sampling adalah metode mengumpulkan sampel yang berdasarkan pada tujuan penelitian.
Defenisi Operasional Variabel Dan Pengukurannya
1. Pelatihan
Pelatihan merupakan suatu usaha pengarahan dan pelatihan untuk meningkatkan pemahaman mengenai sistem (Chenhall, 2004 dalam Mranani dan Lestiorini, 2011). Variabel pelatihan terhadap kegunaan Sistem Akuntasi Keuangan Daerah diukur dengan menggunakan 4 item peryataan yang dibangun oleh Shield dan Young (1989) dan Shield (1995) dalam Nurlaela dan Rahmawati (2010) yang sudah dimodifikasi. Skor item dari 1=sangat tidak sesuai hingga 5= sangat sesuai.
2. Kejelasan Tujuan
Kejelasan tujuan didefinisikan sebagai kejelasan dari sasaran dan tujuan digunakannya Sistem Akuntansi Keuangan Daerah di semua level organisasi (Chenhall, 2004 dalam Mranani Konflik kognitif Pelatihan Kejelasan Tujuan Dukungan Atasan Pemanfaatan Teknologi Informasi Konflik Afektif Kegunaan : Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD)
8 dan Lestiorini, 2011). Variabel kejelasan tujuan terhadap kegunaan SAKD diukur dengan menggunakan 5 item peryataan yang dikembangkan oleh Shield dan Young (1989) dan Shield (1995) dalam Nurlaela dan Rahmawati (2010) yang sudah dimodifikasi. Skor item dari 1=sangat tidak sesuai hingga 5= sangat sesuai.
3. Dukungan Atasan
Dukungan atasan diartikan sebagai keterlibatan manajer dalam kemajuan proyek dan menyediakan daya yang diperlukan(Chenhall, 2004 dalam Mranani dan Lestiorini, 2011). Variabel dukungan atasan terhadap kegunaan Sistem Akuntasi Keuangan Daerah diukur dengan menggunakan 5 item peryataan yang dikembangkan oleh Shield dan Young (1989) dan Shield (1995) dalam Nurlaela dan Rahmawati (2010) yang sudah dimodifikasi. Skor item dari 1=sangat tidak sesuai hingga 5= sangat sesuai.
4. Pemanfaatan Teknologi Informasi
Pemanfaatan Teknologi Informasi mencakup adanya : (a) Pengolahan data, pengolahan informasi, sistem manajemen dan proses kerja secara elektronik dan (b) Pemanfaatan kemajuan teknologi informasi agar pelayana publik dapat diakses secara mudah dan murah oleh masyarakat di seluruh wilayah negri ini (Hamzah, 2009) dalam Mranani dan Lestiorini, 2011). Variabel pemanfaatan teknologi informasi terhadap kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah diukur menggunakan 8 item pernyataan yang dibangun oleh Kusuma (2014) yang sudah
dimodifikasi. Skor item dari 1= sangat tidak setuju hingga 5= sangat setuju.
5. Konflik Kognitif Dan Konflik Afektif
Konflik kognitif merupakan konflik yang mempunyai efek menguntungkan Amason dan Schweiger (1994) dalam Mranani dan Lestiorini, 2011). Variabel Konflik kognitif diukur menggunakan 4 item peryataan yang dikembangkan oleh Jehn (1994) dan digunakan oleh Jehn (1994) dan Amason (1996) dalam Nurlaela dan Rahmawati (2010) yang sudah dimodifikasi. Skor item dari 1=sangat tidak sesuai hingga 5= sangat sesuai.
Konflik afektif merupakan konflik yang menimbulkan penyimpangan Amason dan Schweiger (1994) dalam Mranani dan Lestiorini, 2011). Variabel konflik Afektif diukur menggunakan 6 item instrumen yang dikembangkan oleh Jehn (1994) dalam Nurlaela dan Rahmawati (2010) yang sudah dimodifikasi. Skor item dari 1=sangat tidak sesuai hingga 5= sangat sesuai.
6. Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD)
Kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah untuk memenuhi tuntutan mengenai keterbukaan mengenai pelaporan keuangan daerah dan akuntabilitas lembaga pemerintahan dalam mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan daerah. Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah diharapkan dapat menghasilkan laporan keuangan dalam suatu organisasi pemerintahan
9 menjadi lebih tepat, komprehensif dan akurat sehingga dapat dipakai dalam pengambilan keputusan bagi organisasi pemerintahan dalam hal ini pemerintah daerah. Kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah dapat diukur dengan 5 pertanyaan yang dikembangkan oleh Nurlaela dan Rahmawati (2010) yang sudah dimodifikasi. Skor item dari 1=sangat tidak sesuai hingga 5= sangat sesuai.
Metode Analisis Data dan Uji Hipotesis
Analisis data dan pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan metode Structural Equation Model- Partial Least Square (SEM-PLS). SEM merupakan salah satu jenis multivariat dalam ilmu sosial. Analisis Multivariat merupakan aplikasi metode statistika untuk menganalisis beberapa variabel penelitian secara simultan atau serempak (Sholihin dan Ratmono, 2013).
Hipotesis dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan pendekatan regresi berganda, identik dengan menggunakan model path analysis, dengan alasan bahwa metode ini dapat digunakan untuk memprediksi hubungan dari masing-masing variabel tersebut.
Rumus :
SAKD = + β1 PL+ β2 KT+ β3 DA+β4 PTI+ e KK = + β1 PL+ β2 KT+ β3 DA+β4 PTI+ e KA = + β1 PL+ β2 KT+ β3 DA+ β4 PTI+ e SAKD = + β1 KK + e SAKD = + β2 KA+ e Keterangan: PL : Pelatihan KT : Kejelasan Tujuan DA : Dukungan Atasan
PTI : Pemanfaatan Teknologi Informasi KK : Konflik Kognitif
KA : Konflik Afektif
SAKD : Sistem Akuntansi Keuangan Daerah : alpha
β : beta e : error
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara menyebarkan kuesioner kepada responden di Dinas, Badan, Kantor dan Sekretaris Daerah pada Pemerintah Kota Padang. Kuesioner yang disebar sebanyak 108 eksemplar dan yang kembali sebanyak 75 eksemplar, dengan tingkat pengembalian sebesar 69%. Berdasarkan hasil pengolahan kuesioner, responden yang menjawab kuesioner tersebut dapat dilihat dari jenis kelamin yaitu pria 38 (50,67%) dan wanita 37 (49,33%). Dilihat dari umur yaitu umur 21-30 sebanyak 13 orang (17,33%), umur 31-40 sebanyak 31 orang (41,33%), umur 41-50 sebanyak 25 orang (33,33%), umur 51-60 sebanyak 6 orang (8%). Dilihat dari pendidikan yaitu tingkat SLTA tidak ada, tingkat D3 sebanyak 5 orang (6,67%), tingkat S1 sebanyak 40 orang (53,33%), tingkat S2 sebanyak 30 orang (40%), S3 tidak ada.
Pengujian dan Pembahasan Hipotesis Uji Validitas Variabel Indicator Weights P value Ket Pelatihan 0,249-0,345 < 0,001 Valid Kejelasan Tujuan 0,225-0,278 < 0,001 Valid Dukungan Atasan 0,233-0,283 < 0,001 Valid
10 Pemanfaat an TI 0,102-0,202 < 0,001 Valid Konflik Kognitif 0,276-0,358 < 0,001 Valid Konflik Afektif 0,175-0,210 < 0,001 Valid Kegunaan SAKD 0,224-0,255 < 0,001 Valid
Dari hasil pengolah data dengan menggunakan Warp-SEM PLS 3.0 dapat dilihat pada P value bahwa nilai signifikan dari pelatihan, kejelasan tujuan, dukungan atasan, pemanfaatan teknologi informasi, konflik kognitif, konflik afektif dan kegunaan sistem akuntansi keuangan daerah memiliki nilai di bawah 0,001, maka disimpulkan bahwa uji analisis faktor instrumen dapat dilanjutkan dan item dari pertanyaan tersebut dapat menjelaskan variabel tersebut dengan benar. Uji Reliabilitas Variabel Load ing Indik ator Cronbac h alpha Ket Pelatihan 0,70 0,784 Reliabel Kejelasan Tujuan 0,70 0,837 Reliabel Dukungan Atasan 0,70 0,839 Reliabel Pemanfaat an TI 0,70 0,862 Reliabel Konflik Kognitif 0,70 0,794 Reliabel Konflik Afektif 0,70 0,917 Reliabel Kegunaan SAKD 0,70 0,878 Reliabel
Dari hasil pengolah data dengan menggunakan Warp-SEM PLS 3.0 dapat dilihat bahwa pelatihan, kejelasan tujuan, dukungan atasan, pemanfaatan teknologi informasi, konflik
kognitif, konflik afektif dan kegunaan sistem akuntansi keuangan daerah memiliki nilai >0,70, maka variabel yang digunakan dapat dikatakan reliabel. Uji Normalitas Variabel Cut Off AVE Ket Pelatihan >0,5 0,614 Data berdistribusi normal Kejelasan Tujuan >0,5 0,607 Data berdistribusi normal Dukungan Atasan >0,5 0,611 Data berdistribusi normal Pemanfaata n TI >0,5 0,522 Data berdistribusi normal Konflik Kognitif >0,5 0,623 Data berdistribusi normal Konflik Afektif >0,5 0,709 Data berdistribusi normal Kegunaan SAKD >0,5 0,673 Data berdistribusi normal
Berdasarkan hasil tabel diatas, dapat dilihat bahwa variabel Pelatihan, kejelasan tujuan, dukungan atasan, pemanfaatan teknologi informasi, konflik kognitif, konflik afektif dan kegunaan sistem akuntansi keuangan daerah memiliki nilai output signifikan >0,5, maka dapat dikatakan bahwa variabel yang digunakan memiliki data berdistribusi normal.
11 Uji Multikolinearitas Variabel Good if AVIF Ket Pelatihan < 5 1,359 Tidak terjadi multikolinea ritas Kejelasan Tujuan < 5 1,359 Tidak terjadi multikolinea ritas Dukungan Atasan < 5 1,359 Tidak terjadi multikolinea ritas Pemanfaat an TI < 5 1,359 Tidak terjadi multikolinea ritas Konflik Kognitif < 5 1,359 Tidak terjadi multikolinea ritas Konflik Afektif < 5 1,359 Tidak terjadi multikolinea ritas Kegunaan SAKD < 5 1,359 Tidak terjadi multikolinea ritas
Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa variabel Pelatihan, Kejelasan Tujuan, Dukungan Atasan,Pemanfaatan Teknologi Informasi, Konflik Kognitif, Konflik Afektif dan Kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah memiliki nilai AVIF 1,359 < 5, maka dapat disimpulkan bahwa variabel Pelatihan, kejelasan tujuan, Dukungan Atasan, Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah tidak terdapat Multikolinearitas.
Hasil Pengujian Hipotesis
Pengaruh Pelatihan, Kejelasan Tujuan, Dukungan Atasan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap Kegunaan (SAKD)
Hasil pengujian hipotesis penelitian (H1a dan H1d) menunjukkan bahwa pelatihan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi memiliki nilai signifikan <0,05, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelatihan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi berpengaruh terhadap kegunaan sistem akuntansi keuangan daerah. Sedangkan kejelasan tujuan dan dukungan atasan memiliki nilai signifikan >0,05 maka dapat disimpulkan bahwa kejelasan tujuan dan dukungan atasan tidak berpengaruh terhadap terhadap kegunaan sistem akuntansi keuangan daerah.
Pengaruh Pelatihan, Kejelasan Tujuan, Dukungan Atasan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap Konflik Kognitif
Hasil pengujian hipotesis kedua menunjukkan bahwa Pelatihan, Kejelasan Tujuan, Dukungan Atasan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi memiliki nilai signifikan >0,05, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Pelatihan, Kejelasan Tujuan, Dukungan Atasan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi tidak berpengaruh terhadap konflik kognitif.
12 Pengaruh Pelatihan, Kejelasan Tujuan, Dukungan Atasan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap Konflik Afektif
Hasil pengujian hipotesis ketiga menunjukkan bahwa Pelatihan, Kejelasan Tujuan, Dukungan Atasan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi memiliki nilai signifikan >0,05, dengan demikian Pelatihan, Kejelasan Tujuan, Dukungan Atasan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi tidak berpengaruh terhadap konflik afektif.
Pengaruh Konflik Kognitif terhadap Kegunaan SAKD
Hasil pengujian hipotesis penelitian (H4) menunjukkan bahwa konflik kognitif memiliki nilai <0,05, dengan demikian konflik kognitif tidak berpengaruh terhadap kegunaan sistem akuntansi keuangan daerah.
Pengaruh Konflik Afektif terhadap Kegunaan SAKD
Hasil pengujian hipotesis penelitian (H5) menunjukkan bahwa konflik afektif memiliki nilai <0,05, dengan demikian konflik afektif tidak berpengaruh terhadap kegunaan sistem akuntansi keuangan daerah.
Pengaruh Pelatihan, Kejelasan Tujuan, Dukungan Atasan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap Kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah yang Dimediasi dengan Konflik Kognitif dan Konflik Afektif
Hasil pengujian hipotesis penelitian (H6) menunjukkan bahwa hasilnya tidak signifikan
sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel yang digunakan adalah variabel full mediation, dengan demikian pelatihan, kejelasan tujuan, dukungan atasan dan pemanfaatan teknologi informasi memediasi secara penuh kegunaan sistem akuntansi keuangan daerah melalui konflik kognitif.
Hasil pengujian hipotesis penelitian (H7) menunjukkan bahwa hasilnya tidak signifikan sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel yang digunakan adalah variabel full mediation, dengan demikian pelatihan, kejelasan tujuan, dukungan atasan dan pemanfaatan teknologi informasi memediasi secara penuh kegunaan sistem akuntansi keuangan daerah melalui konflik afektif. Hasil pengujian hipotesis penelitian (H7) menunjukkan bahwa koefisien model dengan menggunakan intervening 2 pada pemanfaatan teknologi informasi nilai signifikan sebesar 0,46 p=0,02 sedangkan koefisien model dengan menggunakan intervening sebesar 0,21 p=0,27, maka dari perbandingan tersebut terlihat model 1 dan model 2 sama-sama tidak signifikan sehingga dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi adalah variabel full mediation, dengan demikian pemanfaatan teknologi informasi memediasi secara penuh kegunaan sistem akuntansi keuangan daerah.
Kesimpulan
Berdasarkan pada hasil ini maka peneliti menyimpulkan sebagai berikut:
Pelatihan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi berpengaruh terhadap Kegunaan Sistem Akuntansi
13 Keuangan Daerah. Kejelasan Tujuan dan Dukungan Atasan terhadap Kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah tidak berhasil dibuktikan. Pelatihan, Kejelasan Tujuan, Dukungan Atasan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi tidak berpengaruh terhadap Konflik Kognitif dan Konflik Afektif. Konflik Kognitif dan konflik afektif tidak berpengaruh terhadap Kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah. Faktor-faktor keperilakuan organisasi terhadap Kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah melalui Konflik kognitif tidak berhasil dibuktikan. Faktor-faktor keperilakuan organisasi terhadap Kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah melalui Konflik Afektif tidak berhasil dibuktikan.
Saran
1. Disarankan untuk peneliti selanjutnya agar mengganti variabel lain yang memiliki pengaruh yang kuat terhadap kegunaan sistem akuntansi keuangan daerah.
2. Disarankan untuk peneliti selanjutnya untuk memperluas sampel seperti menambahkan kecamatan yang termasuk dalam SKPD.
3. Disarankan untuk peneliti selanjutnya agar memakai peraturan yang terbaru karena sudah bisa dinilai hasil dari peraturan terbaru tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Bastian, Indra. 2007. Sistem Akuntansi Sektor Publik di Indonesia, Salemba Empat, Jakarta.
Fitriyah, Lailatul. 2010. Efektifitas
Pelatihan“Effectivecommunication”
terhadap Kinerja Karyawan PT.ECCO Indonesia.Jurnal
Halim, A. 2003. Akuntansi dan Pengendalian Keuangan Daerah. UMP AMP YPKN. Yogyakarta.
Jumaili, Salman. 2005. “Kepercayaan Terhadap Teknologi Sistem Informasi Baru Dalam Evaluasi Kinerja Individual” Kumpulan Materi Simposium Nasional Akuntansi VIII, 15-16 September 2005. Solo.
Kusuma, Andra. 2014. Pengaruh Kapasitas Sumber Daya Manusia Dan Pemanfaatan Teknologi Informasi Terhadap Nilai Informasi Pelaporan Keuangan Pemerintah Daerah (studi pada Pemerintah Daerah Kabupaten Dharmasraya) Tahun 2014. Skripsi : Padang. Universitas Bung Hatta
Latifah, Lyna dan Arifin Sabeni. (2007). Faktor Keprilakuan Organisasi Dalam Implementasi Sistem Akuntansi Keuangan Daerah. Simposium Nasional Akuntansi 10. Makasar.
Mranani, Muji dan Beti Lestiorini. 2011 . Faktor Keperilakuan Organisasi Terhadap Kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah Dengan Konflik Kognitif dan Konflik Afektif Sebagai Intervening. Fokus Ekonomi. Magelang.
Nordiawan, Deddi, dkk (2012). Akuntansi Pemerintahan. Salemba Empat. Jakarta.
Nurdin, Diana. (2011). Pengaruh Faktor Keperilakuan Organisasi terhadap Sistem Akuntansi Keuangan Daerah. Skripsi: Padang.Universitas Bung Hatta
Nurlaela, Siti dan Rahmawati. (2010). Pengaruh Faktor Keperilakuan Organisasi Terhadap Kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah. Jurnal Simposium Nasional
14 Akuntansi 13. Universitas Islam Batik dan Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Peraturan Pemerintah No. 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah.
Sari, Winda Puspita .2011. Analisa Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah pada Badan Kepegawaian Daerah Kota Padang : Padang
Sekaran, Uma. 2011. Research Methods for Bussiness II. Salemba Empat. Jakarta. Sholihin, Mahfud dan Dwi Ratmoko. 2013.
Analisis SEM-PLS dengan Warp PLS 3.0. ANDI: Yogyakarta
Sugiyanto. 2007. Pengaruh Human Capital, Motivasi Dan Dukungan Atasan Terhadap Kesuksesan Karir Karyawan: studi empiris di PT. ASIA COTTON Bandung. Jurnal Akuntansi, Manajemen Bisnis dan Sektor Publik : Bandung
Winardi.2004. Manajemen Perilaku Organisasi. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.