Tugas Akhir – MO141326
STUDI PERCEPATAN DURASI PENGERJAAN
PROYEK PEMBANGUNAN KAPAL NIAGA DI PT.
PAL INDONESIA
Reza Hervindra Amirulloh
NRP. 4309 100 081
Dosen Pembimbing:
Prof. Daniel M. Rosyid, Ph.D., M.RINA.
Silvianita, S.T., M.Sc., Ph.D.
Teknik Kelautan
Fakultas Teknologi Kelautan
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya
Tahun 2016
Final Project – MO141326
STUDIES OF SHIPBUILDING WORK DURATION
ACCELERATION PROJECT AT PT. PAL INDONESIA
Reza Hervindra Amirulloh
NRP. 4309 100 081
Supervisors:
Prof. Daniel M. Rosyid, Ph.D., M.RINA.
Silvianita, S.T., M.Sc., Ph.D.
Ocean Engineering
Faculty of Marine Technology
Sepuluh Nopember Intitute of Technology
Surabaya
STUDI PERCEPATAN DURASI PENGERJAAN PROYEK PEMBANGUNAN KAPAL NIAGA DI PT. PAL INDONESIA
Nama Mahasiswa : Reza Hervindra Amirulloh
NRP : 4309 100 081
Jurusan : Teknik Kelautan FTK – ITS
Dosen Pembimbing : Prof. Daniel M. Rosyid, Ph.D., M.RINA. Silvianita, S.T., M.Sc., Ph.D.
ABSTRAK
Percepatan total durasi dalam suatu proyek kontruksi dilakukan dengan mem-percepat kegiatan-kegiatan kritis dalam proyek tersebut. Untuk mengetahui mana saja kegiatan kritis dari suatu proyek, maka digunakan teknik Critical Path Method; yaitu dengan menggambar Network Diagram dari proyek tersebut, selanjutnya menghitung Earliest Event Time (EET), Latest Event Time (LET), lalu Total Float tiap kegiatan sehingga dapat diketahui mana saja kegiatan kritis dari proyek tersebut. Saat ini PT. PAL Indonesia menginginkan percepatan total durasi pada salah satu proyek pembangunan kapalnya. Sedangkan analisa percepatan yang dikerjakan secara manual berpotensi terjadinya kesalahan perhitungan karena adanya ketidaktelitian, maupun karena kompleksnya perhitungan yang disebabkan banyaknya skenario percepatan yang harus diperhitungkan pada saat menentukan kegiatan kritis mana saja yang harus dipercepat dan kegiatan kritis mana saja yang tidak perlu dipercepat; sehingga biaya percepatan yang harus dikeluarkan tidaklah optimum. Maka dari itu, analisa dikerjakan dengan bantuan tool berbasis Linear
Programming bernama Solver yang terdapat pada Microsoft Excel, karena optimasi
percepatan proyek tersebut dapat diselesaikan dengan persamaan linear. Analisa dimulai dengan menentukan persamaan linear, kendala linear, perhitungan batas percepatan serta perhitungan biaya percepatan yang dibutuhkan agar Solver dapat menyelesaikan kasus percepatan tersebut secara linear dengan hasil biaya per-cepatan yang paling minimum. Hasil dari running Solver menunjukkan bahwa PT. PAL dapat mempercepat proyek yang semula berdurasi 635 hari menjadi 470 hari dengan total biaya percepatan sebanyak Rp. 6.357.843.097,88 bila mempercepat kegiatan A (Fabrication Block Cargo Hold) sebanyak 31 hari, kegiatan B (SUB.
Assembly Block Cargo Hold) sebanyak 30 hari, kegiatan C (Assembly Block Cargo
Hold) sebanyak 27 hari, kegiatan E (Grand Assembly Block Cargo Hold) sebanyak
27 hari, kegiatan F (Erection Block Shifting Module Cargo Hold) sebanyak 12 hari, kegiatan K (Grand Assembly Block Engine Room) sebanyak 7 hari, kegiatan M
(Fabrication Block After Part) sebanyak 7 hari, kegiatan N (SUB. Assembly Block After Part) sebanyak 19 hari, kegiatan O (Assembly Block After Part) sebanyak 10
hari, kegiatan Q (Grand Assembly Block After Part) sebanyak 13 hari, kegiatan W
Accomodation) sebanyak 9 hari, dan kegiatan AD (Erection Block Launching Module
Accomodation) sebanyak 9 hari.
STUDI PERCEPATAN DURASI PENGERJAAN PROYEK PEMBANGUNAN KAPAL NIAGA DI PT. PAL INDONESIA
Name : Reza Hervindra Amirulloh
NRP : 4309 100 081
Department : Teknik Kelautan FTK – ITS
Supervisors : Prof. Daniel M. Rosyid, Ph.D., M.RINA. Silvianita, S.T., M.Sc., Ph.D.
ABSTRACT
The acceleration of construction project can be done by speeding up critical activities in the project. Critical Path Method is then used to find out which activities are critical or not; first is by drawing network diagram of that project, then is counting Earliest Event Time (EET), Latest Event Time (LET), and Total Float of each activity in order to determine which are critical activities in the project and which are not. Currently, PT. Pal Indonesia really need to accelerate one of it’s projects. While doing the acceleration analysis with Crash Program are potentially lead to the non-optimum results due to the complex of the analysis hierarchy nor the human-error inaccuracy, because there is so many acceleration scenario to determine. Therefore, the analysis is done with Solver in Microsoft Excel which is based of Linear Programming, because the crash cost optimization can be completed with linear equations. The analysis begins with determining the linear equations, linear constraints, the limit of crash durations, and the crash cost of each activity; in order for Solver to solve the crash program linearly so the most minimum total crash cost can be achieved. The Solver results shows that PT. PAL can accelerate the project for a total crash cost of Rp. 6,357,843,097.88 accelaration in 31 days of actvity A (Fabrication Block Cargo Hold), 30 days of activity B (SUB.
Assembly Block Cargo Hold), 27 days of activity C (Assembly Block Cargo Hold), 27 days of activity E (Grand Assembly Block Cargo Hold), 12 days of activity F
(Erection Block Shifting Module Cargo Hold), 7 days of activity K (Grand Assembly Block Engine Room), 7 days of activity M (Fabrication Block After Part),
19 days of activity N (SUB. Assembly Block After Part), 10 days of activity O
(Assembly Block After Part), 13 days of activity Q (Grand Assembly Block After Part), 10 days of activity W (Grand Assembly Block Fore Part), 6 days of activity X (Erection Block Shifting Module Fore Part), 9 days of activity AA (Assembly Block
Accomodation), and 9 days of activity AD (Erection Block Launching Module
Accomodation).
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, hidayah dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan baik dan lancar. Tak lupa sholawat serta salam juga penulis haturkan kepada Rasulullah Muhammad SAW beserta para sahabat.
Tugas Akhir ini berjudul “Optimasi Percepatan Durasi Pengerjaan Proyek Pembangunan Kapal Di PT. PAL Indonesia” yang disusun guna memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan Studi kesarjanaan (S1) di Jurusan Teknik Kelautan, Fakultas Teknologi Kelautan (FTK), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Penulis menyadari bahwa pengerjaan dan penulisan dalam laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari segi materi maupun penyusunannya. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pihak lain untuk perbaikan dalam pengembangan karya tulis ini dimasa mendatang.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Surabaya, 29 Nopember 2016
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pengerjaan Tugas Akhir ini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada kesempatan kali ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Ambika dan Bapak Ariyanto dari Divisi Bisnis dan Pemasaran di PT. PAL Indonesia, yang telah banyak membantu dan memandu penulis dalam menentukan dan mengerjakan Tugas Akhir dengan baik.
Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Prof. Daniel M. Rosyid, Ph.D., M.RINA., dan Ibu Silvianita, S.T., M.Sc., Ph.D. selaku dosen pembimbing penulis. Terima kasih atas kesabaran, waktu, dan ilmu-ilmunya dalam membantu dan memandu penulis dalam mengerjakan tugas akhir ini. Semoga bimbingan yang ibu dan bapak berikan dicatat sebagai amal ibadah oleh Allah SWT.
Tugas akhir ini juga tidak akan selesai tanpa dukungan dari keluarga besar Mahasiswa Teknik Kelautan Angkatan 2009, terutama Yusak Kurniawan,
Redemtus Rajagukguk, Radiynal, Irvianto Yudho, Fajar,yang sudah membantu dan
menemani penulis selama mengerjakan Tugas Akhir ini. Juga kepada teman-teman serta penghuni Laboratorium Operasional Riset dan Perancangan FTK ITS, terima kasih banyak, semoga kalian mendapat balasan pahala dari Allah SWT.
Surabaya, 29 Nopember 2016
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN... iii
ABSTRAK ... iv
ABSTRACT ...vi
KATA PENGANTAR ...vii
UCAPAN TERIMAKASIH ...viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB I – PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang Masalah ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 2
1.3. Tujuan Penelitian ... 2
1.4. Manfaat Penelitian ... 2
1.5. Batasan Masalah ... 3
BAB II – TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI ... 5
2.1. Tinjauan Pustaka... 5
2.2. Dasar Teori. ... 5
2.2.1. Pengertian Kapal Niaga ... 5
2.2.2. Proses Pembangunan Kapal ...10
2.2.3. Tahap Pembangunan Kapal ...10
2.2.4. Arrival Meeting ...11
2.2.5. Proyek ... 11
2.2.6. Time Schedule Proyek... 14
2.2.7. Penjadwalan Proyek ... 15
2.2.8. Network Planning ... 16
2.2.8.1. Manfaat dan Kegunaan Network Planning ... 17
2.2.8.2. Kelebihan dan Kekurangan Network Planning ...17
2.2.9. Earliest Event Time (EET) dan Latest Event Time (LET) ...19
2.2.9.1. Earliest Event Time (EET)...19
2.2.9.2. Latest Event Time (LET) ... 20
2.2.10. Lintasan Kritis dan Float ... 21
2.2.11. Crash Program ... 22
2.2.12. Mempercepat Umur Proyek ... 23
2.2.13. Analisa Biaya Pelaksanaan ...25
2.2.13.1. Biaya Langsung (Direct Cost) ... 25
2.2.13.2. Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost) ... 26
2.2.13.3. Biaya Kegunaan ... 27
BAB III – METODOLOGI PENELITIAN ... 29
3.1. Diagram Alir Metodologi Penelitian ... 29
3.2. Studi Literatur ... 30
3.3. Pengumpulan Data ...31
3.3.1. Data Primer ... 31
3.3.2. Data Sekunder ... 31
3.4. Prosedur Penelitian ... 32
BAB IV – ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ... 33
4.1. Penjadwalan Proyek ... 33
4.2. Perhitungan Earliest Event Time (EET) ... 36
4.3. Perhitungan Latest Event Time (LET) ... 39
4.4. Mencari Lintasan Kritis (Perhitungan Total Float) ... 42
4.5. Perhitungan Biaya Percepatan (Crash Cost) ... 44
4.6. Optimasi Crash Program dengan Linear Programming ... 47
4.6.1. Menentukan Kendala, Persamaan Linear, dan Fungsi Tujuan ... 48
4.6.2. Memasukkan Semua Variabel Kedalam Solver ... 56
4.7. Hasil Analisis Penelitian ...67
BAB V – KESIMPULAN DAN SARAN ... 69
5.1. Kesimpulan ... 69
5.2. Saran ... 71
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1. Kapal General Cargo ... 6
Gambar 1.2. Kapal Ferri ... 7
Gambar 1.3. Kapal Ro-Ro ... 7
Gambar 1.4. Kapal Ore Carrier ... 8
Gambar 1.5. Kapal Tanker ... 8
Gambar 1.6. Kapal Ternak ... 9
Gambar 1.7. Kapal Liquefied Natural Gas ... 9
Gambar 2.1. Hubungan Triple Constrain ... 13
Gambar 2.2. Kegiatan EET ... 19
Gambar 2.3. Kegiatan LET ... 20
Gambar 2.4. Kegiatan EET dan LET ………... 22
Gambar 3.1. Diagram Alir Pengerjaan Tugas Akhir (Bagian 1) ... 29
Gambar 3.2. Diagram Alir Pengerjaan Tugas Akhir (Bagian 2) ... 30
Gambar 4.1. Memasukkan Semua Variabel pada Microsoft Excel ... 61
Gambar 4.2. Menentukan Kendala Persamaan dan Fungsi Tujuan pada Solver .. 63
Gambar 4.3. Tampilan Solver Results Bila Sukses ... 64
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1. Ketergantungan dan Durasi Tiap Kegiatan (Bagian 1) ... 33
Tabel 4.2. Ketergantungan dan Durasi Tiap Kegiatan (Bagian 2) ... 34
Tabel 4.3. Node Awal dan Node Akhir Tiap Kegiatan (Bagian 1) ... 35
Tabel 4.4. Node Awal dan Node Akhir Tiap Kegiatan (Bagian 2) ... 36
Tabel 4.5. Total Float Seluruh Kegiatan (Bagian 1) ... 42
Tabel 4.6. Total Float Seluruh Kegiatan (Bagian 2) ... 43
Tabel 4.7. Total Float Seluruh Kegiatan (Bagian 3) ... 44
Tabel 4.8. Total Float Seluruh Kegiatan Setelah Dipercepat (Bagian 1) ... 66
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN A – Network Diagram Proyek Sebelum Total Durasi Dipercepat LAMPIRAN B – Tabel Perhitungan Biaya Percepatan Setiap Kegiatan LAMPIRAN C – Network Diagram Proyek Setelah Total Durasi Dipercepat
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
“Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia, yang 2/3 wilayahnya merupakan wilayah lautan. Karena Indonesia merupakan negara kepulauan maka
untuk menghubungkannya diperlukan moda transportasi laut. Danpemerintah saat
ini berusaha membuat kebijakan yang sesuai dengan karakteristik negara Indonesia yang berupa negara maritim yaitu dengan membuat tol laut. Tol laut sendiri merupakan kebijakan untuk membuat kapal-kapal besar yang berguna untuk distribusi barang dan jasa di indonesia agar lebih merata dari sabang sampai meraoke dan juga membuat kebijakan untuk membuat baru atau memperbesar pelabuhan yang telah ada guna menunjang distribusi barang atau jasa melalui laut. Pertumbuhan ekonomi di indonesia tengah berdenyut kencang hal tersebut mempengaruhi pertumbuhan jumlah armada kapal. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah pertumbuhan kapal niaga nasional yang melonjak 120% dalam 9 tahun terakhir. Tetapi hal tersebut menjadi ironi karena berbanding terbalik dengan volume produksi dok kapal nasional. Sejak diterapkannya asas cabotage pada 2005, pertumbuhan kapal niaga nasional melesat hingga 120%. Data Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan menyebutkan kapal niaga nasional kini bertambah 7.285 unit menjadi 13.326 unit dari 6.041 unit pada 2005.
Namun sangat disayangkan sekali kapasitas produksi setiap galangan yang berada di Indonesia tidak mampu memenuhi kapasitas permintaan untuk memproduksi kapal niaga sesuai dengan permintaan owner. Pada kasus ini PT. PAL setiap tahunnya hanya mampu memproduksi kapal sebesar 20.000 DWT per tahun. Sedangkan PT. PAL sering mendapatkan pesanan kapal dari dalam negeri maupun luar negeri seperti Jerman, Turki dan Itala. Oleh sebab itu harus dilakukan evaluasi pekerjaan pembuatan kapal. Agar nantinya PT. PAL dapat menyelesaikan seluruh permintaan untuk memproduksi kapal baik dari dalam maupun luar negeri.
1.2. Rumusan Masalah
Beberapa rumusan masalah yang menjadi bahan kajian dalam tugas akhir ini, antara lain:
a. Bagaimana bentuk lintasan kritis proyek sebelum total durasi proyek dipercepat?
b. Berapa biaya minimum yang dibutuhkan untuk mempercepat total durasi proyek menjadi 470 hari?
c. Bagaimana bentuk lintasan kritis proyek setelah total durasi proyek dipercepat?
1.3. Tujuan Penelitian
Beberapa poin yang menjadi tujuan penulis dari penelitian dalam tugas akhir ini, antara lain:
a. Untuk mengetahui bentuk lintasan kritis proyek sebelum total durasi dipercepat.
b. Untuk mengetahui berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk mempercepat total durasi proyek menjadi 470 hari.
c. Untuk mengetahui bentuk lintasan kritis proyek setelah total durasi proyek dipercepat.
1.4. Manfaat Penelitian
Dari hasil tugas akhir ini, diharapkan akan memberikan informasi kepada pelaku proyek khususnya kontraktor sehingga mempermudah menganalisa kinerja proyek baik dari segi biaya dan waktu. Memberi manfaat teoritis, yaitu menambah wawasan kajian khususnya dalam metode pengendalian suatu proyek. Keberadaan tugas akhir ini juga diharapkan dapat menjadi panduan para pelaksana (Galangan) dalam memanajemen proyek mereka, serta menjadi referensi bagi pengembangan penelitian selanjutnya.
1.5. Batasan Masalah
Adapun batasan masalah yang dilakukan untuk menghindari pembahasan yang melebar, sehingga dilakukan asumsi sebagai berikut:
a. Objek penelitian pada proses fabrikasi menggunakan perencanaan pemba-ngunan kapal niaga yang dikerjakan oleh PT. PAL Surabaya.
b. Penelitian yang dilakukan hanya pada proses fabrikasi.
c. Objek proyek yang ditinjau adalah pembangunan kapal Niaga di PT. PAL Surabaya.
d. Tarif/jam kerja sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh PT. PAL Surabaya. e. Waktu/durasi pekerjaan pada proyek dihitung dalam satuan hari.
f. Data kapal yang akan dibuat didapat langsung dari PT. PAL Surabaya. g. Hanya memperhitungkan biaya tenaga kerja langsung dalam proses
pem-bangunan kapal, biaya yang timbul akibat penggunaan mesin dan listrik tidak diperhitungkan.
h. Perhitungan analisa pemampatan atau percepatan durasi menggunakan Solver berbasis Linear Programming.
i. Metode percepatan hanya memanfaatkan jam lembur dengan tidak menambahkan jumlah pekerja.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI
2.1. Tinjauan Pustaka
Sebelum pembangunan proyek berjalan, terlebih dahulu dilakukan perjanjian antara pihak fabrikasi dengan owner, mengenai penyelesaian waktu dan biaya untuk pembangunan pada fabrikasi (Rahmadani, 2009). Perjanjian tersebut bertujuan untuk tidak saling merugikan pada kedua belah pihak antara owner dan fabrikasi pada pembangunan proyek.
Banyaknya kasus pembengkakan biaya dan keterlambatan proyek mungkin dikarenakan tidak adanya sistem pengendalian pada proyek yang sedang berjalan. Pengendalian dapat dilakukan dengan baik jika evaluasi atau penilaian terhadap proyek dilakukan secara periodik. Evaluasi dan penilaian ini yang nantinya akan memberi informasi sedini mungkin disela-sela berlangsungnya sebuah proyek.
Dalam perencanaan suatu kapal, penentuan tipe atau jenis kapal merupakan hal yang paling utama, karena kapal yang akan dibangun dapat didesain sesuai dengan kriteria tertentu baik dari segi konstruksi, stabilitas, jenis muatan, maupun dari segi ekonomisnya. Tipe atau jenis kapal dapat ditinjau dari fungsi dan tujuannya, jenis muatannya, daerah pelayarannya, jenis tenaga penggeraknnya dan tipe bangunan atasnya. Salah satunya adalah kapal niaga.
2.2. Dasar Teori
2.2.1. Pengertian Kapal Niaga
Kapal niaga (comercil ship) adalah kapal yang dibangun dengan tujuan di bidang perdagangan barang dan penyediaan jasa (angkutan penumpang). Berikut ini adalah contoh dari kapal niaga:
a. Kapal kargo
Kapal kargo adalah jenis kapal yang membawa barang-barang dan muatan dari suatu pelabuhan ke pelabuhan lainnya. Kapal kargo pada umumnya didesain khusus untuk tugasnya, dilengkapi dengan CraneI dan mekanisme lainya untuk bongkar muat, serta dibuat dalam beberapa ukuran. Contohnya kapal general cargo, kapal peti kemas (container).
Gambar 1.1. Kapal General Cargo b. Kapal penumpang
Kapal penumpang adalah kapal yang digunakan untuk angkutan penumpang. Untuk meningkatkan effisiensi atau melayani keperluan yang lebih luas. Kapal penumpang dapat berupa kapal Ro-Ro, ataupun untuk perjalanan pendek terjadwal dalam bentuk kapal feri.
Gambar 1.2. Kapal Ferri
Gambar 1.3. Kapal Ro-Ro c. Bulk carrier
Kapal muatan curah adalah kapal yang dibangun khusus untuk mengangkut muatan curah (tidak menggunakan wadah/pembungkus) yang dikapalkan sekaligus dalam jumlah besar dan cara memuatnya dengan jalan mencurahkan muatan ke dalam kapal. Seperti kapal ore carrier dan kapal tangker.
Gambar 1.4. Kapal Ore Carrier
Gambar 1.5. Kapal Tanker d. Kapal khusus
Kapal khusus adalah kapal yang secara khusus memuat muatan tertentu saja, dimana bentuk konstruksinya disesuaikan dengan arang muatannya. Seperti kapal ternak, kapal LNG.
Gambar 1.6. Kapal Ternak
2.2.2. Proses Pembangunan Kapal
Proses pembuatan kapal terdiri dari dua cara yaitu cara pertama berdasarkan sistem, cara kedua berdasarkan tempat. Proses pembuatan kapal berdasarkan sistem terbagi menjadi tiga macam yaitu sistem seksi, sistem blok seksi, sistem blok:
Sistem seksi adalah sistem pembuatan kapal dimana bagian-bagian
konstruksi dari tubuh kapal dibuat seksi perseksi.
Sistem blok seksi adalah sistem pembuatan kapal dimana bagian-bagian
konstruksi dari kapal dalam fabrikasi dibuat gabungan seksi-seksi sehingga membentuk blok seksi, contoh bagian dari seksi-seksi geladak, seksi lambung dan bulkhead dibuat menjadi satu blok seksi.
Sistem blok adalah sistem pembuatan kapal dimana badan kapal terbagi
beberapa blok, dimana tiap-tiap blok sudah siap pakai (lengkap dengan sistem perpipaannya).
2.2.3. Tahap Pembangunan Kapal
Menurut Richard C. Moore (1995), garis besar pembagunan kapal dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap desain dan tahap pembangunan fisik:
a. Tahap desain
Pada tahap ini keinginan serta gagasan dari pemilik kapal (owner) dipelajari secara seksama berdasarkan data yang telah ada, kemudian dituangkan kedalam garis besar data sementara dari data kapal yang akan dibangun. Data ini biasanya berupa ukuran utama kapal seperti panjang, lebar, tinggi, sarat dan kapasitas kapal serta rute pelayaran.
b. Tahap pembangunan fisik
Tahap ini merupakan tahap yang pengerjaannya membutuhkan waktu yang paling lama, karena apa yang telah dihitung dan digambarkan dalam desain kemudian diwujudkan dalam bentuk nyata. Pada tahapan ini terdapat beberapa bagian yang dilakukan antara lain :
Pembuatan lambung dan bangunan atas
Pemasangan instalasi mesin dan mesin utama (Main Engine)
Pemasangan mesin-mesin bantu (Auxilary Engine)
Pemasangan instalasi listrik (Electrical)
Pemasangan instalasi pompa
Pemasangan peralatan dan perlengkapan
Peluncuran (Launching)
2.2.4. Arrival Meeting
Selanjutnya, diadakanlah AM (Arrival Meeting), yaitu sebuah pertemuan yang dihadiri oleh kedua pihak yaitu dari owner dan dari galangan. Dalam AM terjadi diskusi yang membahas estimasi biaya awal dan rencana jadwal awal pembuatan kapal berdasarkan owner riquirement. Dalam pertemuan tersebut, galangan membutuhkan konfirmasi dari pihak owner perihal bagian-bagian kapal yang disepakati untuk dibuat. Tidak menutup pula kemungkinan terjadinya negosiasi harga bila diperlukan.
Bila terjadi kesepakatan antara owner dengan galangan pada pertemuan tersebut, selanjutnya galangan membuat SOP pembuatan kapal yang berisi jadwal pembuatan yang dibutuhkan, berdasarkan hasil yang disepakati pada pertemuan tersebut.
2.2.5. Proyek
Proyek adalah kegiatan sekali lewat dengan waktu dan sumber daya terbatas untuk mencapai hasil akhir yang telah ditentukan. Menurut Iman Soeharto, (1996): Proyek mempunyai ciri pokok sebagai berikut:
Bertujuan menghasilkan lingkup (deliverable) tertentu berupa produk akhir
atau hasil kerja akhir.
Dalam proses mewujudkan lingkup di atas, ditentukan jumlah biaya, jadwal
serta criteria mutu.
Bersifat sementara, dalam arti umurnya dibatasi oleh selesainya tugas. Titik awal dan titik akhir ditentukan dengan jelas.
Non rutin, tidak berulang- ulang. Macam dan intensitas kegiatan berubah sepanjang proyek berlangsung.
Proyek mempunyai tiga karakteristik yang dapat dipandang secara tiga dimensi. Tiga karakteristik tersebut adalah :
Bersifat unik. Keunikan dari proyek konstruksi adalah : tidak pernah terjadi rangkaian kegiatan yang sama persis (tidak ada proyek yang identik, yang ada adalah proyek yang sejenis), proyek bersifat sementara, dan selalu terlibat grup pekerja yang berbeda-beda.
Dibutuhkan sumber daya (resource).
Setiap proyek membutuhkan sumber daya, yaitu pekerja , uang, mesin,
metode, dan material. Dalam kenyataannya, mengorganisaikan pekerja lebih sulit dibandingkan dengan sumber daya lainnya.
Organisasi
Setiap organisasi mempunyai keragaman tujuan dimana didalamnya terlibat sejumlah individu dengan keahlian yang bervariasi, perbedaan ketertarikan, kepribadian yang bervariasi, dan ketidakpastian. Langkah awal yang harus dilakukan adalah menyusun visi menjadi satu tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi (Wulfram I. Ervianto, 2004).
Dalam proses mencapai tujuan ada batasan yang harus dipenuhi yaitu besar biaya (anggaran) yang dialokasikan, jadwal, serta mutu yang harus dipenuhi. Ketiga hal tersebut merupakan parameter penting bagi penyelenggara proyek yang sering diasosiasikan sebagai sasaran proyek. Ketiga batasan diatas disebut juga dengan tiga kendala (triple constrain ) yaitu:
a. Anggaran
Proyek harus diselesaikan dengan biaya yang tidak boleh melebihi anggaran. Untuk proyek-proyek yang melibatkan dana dalam jumlah besar dan jadwal pengerjaan bertahun-tahun, anggarannya tidak hanya ditentukan dalam total proyek, tetapi dipecah atas komponen-komponennya atau perperiode tertentu yang jumlahnya disesuaikan dengan keperluan. Dengan demikian, penyelesaian bagian-bagian proyek harus memenuhi sasaran anggaran per periode.
b. Jadwal
Proyek harus dikerjakan sesuai dengan kurun waktu dan tanggal akhir yang telah ditentukan. Bila hasil akhir adalah produk baru, maka penyerahannya tidak boleh melewati batas waktu yang telah ditentukan. c. Mutu
Produk atau hasil kegiatan harus memenuhi spesifikasi dan kriteria yang dipersyaratkan. Jadi, memnuhi persyaratan mutu berarti mampu memenuhi tugas yang dimaksudkan atau sering disebut sebagai fit for the
intended use.
Gambar 2.1. Hubungan Triple Constrain (Sumber: Iman Soeharto, 1995)
Ketiga batasan tersebut, bersifat tarik-menarik. Artinya, jika ingin meningkatkan kinerja produk yang telah disepakati dalam kontrak, maka umumnya harus diikuti dengan meningkatkan mutu. Hal ini selanjutnya berakibat pada naiknya biaya sehingga melebihi anggaran. Sebaliknya, bila ingin menekan biaya, maka biasanya harus berkompromi dengan mutu dan jadwal.
Dari segi teknis, ukuran keberhasilan proyek dikaitkan dengan sejauh mana ketiga sasaran tersebut dapat dipenuhi. Pada perkembangan selnjutnya ditambahkan parameter lingkup sehingga parameter diatas menjadi lingkup, biaya, jadwal, dan mutu.
2.2.6. Time Schedule Proyek
Time schedule adalah rencana alokasi waktu untuk menyelesaikan masing-masing item pekerjaan proyek yang secara keseluruhan adalah rentang waktu yang ditetapkan untuk melaksanakan sebuah proyek. Time schedule pada proyek dapat dibuat dalam bentuk:
Kurva S
Bar chart
Network planning
Schedule harian, schedule mingguan, bulanan, tahunan atau waktu tertentu
Pembuatan time schedule dengan bantuan software seperti ms project.
Tujuan atau manfaat pembuatan time schedule pada sebuah proyek antara lain:
Pedoman waktu untuk pengadaan sumber daya manusia yang dibutuhkan.
Pedoman waktu untuk pendatangan material yang sesuai dengan item
pekerjaan yang akan dilaksanakan.
Pedoman waktu untuk pengadaan alat – alat kerja.
Time schedule juga berfungsi sebagai alat untuk mengendalikan waktu pelaksanaan proyek.
Sebagai tolok ukur pencapaian target waktu pelaksanaan pekerjaan.
Time schedule sebagai acuan untuk memulai dan mengakhiri sebuah kontrak
kerja proyek konstruksi.
Sebagai pedoman pencapaian progress pekerjaan setiap waktu tertentu.
Sebagai pedoman untuk penentuan batas waktu denda atas keterlambatan proyek atau bonus atas percepatan proyek.
Sebagai pedoman untuk mengukur nilai suatu investasi
Untuk dapat menyusun time schedule atau jadwal pelaksanaan proyek yang baik dibutuhkan:
Gambar kerja proyek
Rencana anggaran biaya pelaksanaan proyek
Bill of Quantity ( BQ ) atau daftar volume pekerjaan
Data sumberdaya meliputi material, peralatan, sub kontraktor yang tersedia disekitar lokasi pekerjaan proyek berlangsung.
Data sumber daya material, peralatan, sub kontraktor yang harus didatangkan ke lokasi proyek.
Data kebutuhan tenaga kerja dan ketersediaan tenaga kerja yang di butuhkan
untuk menyelesaikan pekerjaan.
Data cuaca atau musim di lokasi pekerjaan proyek.
Data jenis transportasi yang dapat digunakan disekitar lokasi proyek.
Metode kerja yang digunakan untuk melaksanakan masing-masing item
pekerjaan.
Data kapasitas prosduksi meliputi peralatan, tenaga kerja, sub kontraktor, material.
Data keuangan proyek meliputi arus kas, cara pembayaran pekerjaan,
tenggang waktu pembayaran progress dll.
2.2.7. Penjadwalan Proyek
Penjadwalan merupakan fase penerjemahan suatu perencanaan kedalam suatu diagram yang sesuai dengan skala waktu. Penjadwalan berfungsi menentukan kapan kegiatan-aktifias tersebut dimulai, ditunda dan diselesaikan, sehingga pembiayaan dan pemakaiaan sumber-sumber daya akan disesuaikan waktunya menurut kebutuhan yang ditentukan. Menururt Wibowo (2012) Untuk merencanakan dan menggambarkan aktivitas pelaksanaan pekerjaan konstruksi, dikenal beberapa metode antara lain:
Diagram balok (Gantt Bar Chart)
Diagram garis (Time Production Graph)
Diagram panah (Arrow Diagram)
Pada tiap metode di atas memiliki ciri-ciri sendiri dan digunakan secara kombinasi pada kebanyakan proyek konstruksi. metode-metode tersebut harus berorientasi pada maksud penggunaannya untuk apa sesuai dengan dasar pemikiran. Berdasarkan dalam buku Santoso (2009) pada dasarnya suatu pekerjaan konstruksi dipecah-pecah menjadi bagian-bagian pekerjaan kecil sehingga dapat dianggap sebagai satu unit pekerjaan yang dapat berdiri sendiri dan memiliki suatu perkiraan jadwal yang tertentu pula. Analisa-analisa dalam menyusun penjadwalan akan sangat membantu kelangsungan pekerjaan pembangunan proyek seperti : (Wibowo, 2012)
Time scheduling urutan pekerjaan yang efisien.
Pembagian merata Waktu, Tenagadan Biaya.
Rescheduling bila ada
kelambatan-kelambatan penyelesaian.
Menentukan Trade-Off/Pertukaran Waktu dengan Biaya yang efisien.
Membuka kemungkinankemungkinan yang lain dalam menyelesaikan
proyek.
Merencanakan proyek yang komplek.
2.2.8. Network Planning
Network planning merupakan suatu cara baru dalam bidang perencanaan dan
pengawasan suatu proyek. Yaitu suatu gambaran dari rencana proyek dan urutan-urutan dari pada kegiatan yang harus dilaksanakan (Soeharto, 1999). Penggunaan
network planning pada penyelenggaraan proyek yaitu:
Untuk memasukkan informasi tetap
Kemampuan yang tinggi untuk mengambil keputusan
Sumber daya dalam keadaan siap pakai
2.2.8.1. Manfaat dan Kegunaan Network Planing
Adapun manfaat dan kegunaan dari network planning bagi suatu proyek antara lain :(Soeharto, 1999)
Perencanaan suatu proyek yang kompleks
Scheduling pekerjaan-pekerjaan sedemikian rupa dalam urutan-urutan yang
praktis dan efisien
Mengadakan pembagian kerja dari tenaga kerja dan dana yang tersedia
Schedulling ulang untuk mengatasi hambatan-hambatan dan keterlambatan suatu proyek
Menentukan trade-off (kemungkinan pertukaran) antara waktu dan biaya
Menentukan probabilitas suatu proyek
Menentukan kegiatan-kegiatan mana yang bersifat kritis dan hubungannya dengan penyelesaian proyek
2.2.8.2. Kelebihan dan kekurangan Network Planing
Adapun kelebihan dan kekurangan pada Network planning (Soeharto, 1999). Kelebihan Network planning antara lain:
Menunjukkan susunan yang logis antar kegiatan
Menunjukkan hubungan timbal balik antara pembiayaan dan waktu
penyelesaian proyek
Membantu kegiatan-kegiatan yang peling mendesak/kritis dan pengaruh
keterlambatan dari suatu kegiatan terhadap waktu penyelesaian proyek Sedangkan kekurangan dari Network Planing antara lain :
Tidak menunjukkan skala waktu seperti pada Gantt Chart
Kemajuan tidak dapat ditunjukkan
2.2.8.3. Bentuk Network Planing
Untuk membentuk gambar dari rencana network tersebut perlu digunakan simbol-simbol, antar lain: (Rahmadhani, 2009)
Arrow / anak panah yang menyatakan aktivitas / kegiatan yaitu suatu kegiatan
atau pekerjaan dimana penyelesaiannya membutuhkan durasi (jangka waktu tertentu) dan resources (tenaga, alat, material dan biaya). Kepala anak panah menjadi pedoman arah tiap kegiatan, dimana panjang dan kemiringan tidak berpengaruh.
Node / event, yang merupakan lingkaran bulat yang artinya saat peristiwa atau
kejadian yaitu pertemuan dari permulaan dan akhir kegiatan.
Dummy /anak panah terputus-putus yang menyatakan kegiatan semu yaitu
aktivitas yang tidak membutuhkan durasi dan resources.
Event node dari kiri kekanan menyatakan mulainya kegiatan A, mulainya kegiatan B atau selesainya kegiatan A dan yang paling kanan menyatakan selesainya kegiatan B.
Keterangan gambar diatas adalah: Kegiatan G dan H harus diselesaikan dahulu sebelum kegiatan J dan H dapat dimulai.
Keterangan gambar diatas adalah: Kegiatan C, D, E harus selesai terlebih dahulu sebelum kegiatan F dapat dimulai.
2.2.9. Earliest Event Time (EET) dan Latest Event Time (LET) 2.2.9.1. Earliest Event Time ( EET)
Dalam mengidentifikasikan jalur kritis dipakai suatu cara yang disebut hitungan maju. Perhitungan maju digunakan untuk menghitung EET (Earliest
Event Time). EET adalah peristiwa paling awal atau waktu yang cepat dari event.
(Soeharto, 1995)
Gambar 2.2. Kegiatan EET (Soeharto, 1995)
Ket :
EETj = EETi + L……….(2.1) X = Kegiatan
J = Peristiwa akhir kegiatan X i = Peristiwa awal kegiatan X
L = Lama kegiatan X yang diperkirakan EETi = Earliest even time peristiwa awal EETj = Earliest even time peristiwa akhir
Prosedur menghitung EET :
Tentukan nomor dari peristiwa dari kiri ke kanan, mulai dari peristiwa nomor 1 berturut-turut sampai nomor maksimal.
Tentukan nilai EET i untuk peristiwa nomor 1 (paling kiri) sama dengan nol.
Dapat dihitung nilai EET j peristiwa berikutnya dengan rumus di atas. Apabila terdapat beberapa kegiatan (termasuk dummy) menuju atau dibatasi oleh peristiwa yang sama, maka diambil nilai EET j yang maksimum.
2.2.9.2. Latest Event Time (LET)
Perhitungan mundur dimaksudkan untuk mengetahui waktu atau tanggal paling akhir dapat memulai dan mengakhiri masing-masing kegiatan, tanpa menunda kurun waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan, yang telah dihasilkan dari hitungan maju. Hitungan mundur dimulai dari ujung kanan (hari terakhir penyelesaian proyek) suatu jaringan kerja. Perhitungan mundur ini digunakan untuk menghitung LET (Latest Event Time). LET adalah peristiwa paling akhir atau waktu paling lambat dari event. (Soeharto, 1995)
Gambar 2.3 Kegiatan LET (Soeharto, 1995)
Ket :
LETi = LETj – L ……….(2.2) X = Kegiatan
j = Peristiwa akhir kegiatan X i = Peristiwa awal kegiatan X
L = Lama kegiatan X yang diperkirakan LETi = Saat paling lambat peristiwa awal LETj = Saat paling lambat peristiwa akhir
Sedangkan Prosedur Menghitung Saat Paling Lambat:
Hitung atau tentukan LET peristiwa mulai dai nomor maksimal kemudian mundur berturut-turut sampai dengan peristiwa nomor 1.
LET nomor maksimal sam dengan EET peristiwa nomor maksimal.
Selanjutnya dapat dihitung LET peristiwa nomor-nomor maksimal ,
….,4,3,2,1, dengan menggunakan salah satu dari dua rumus diatas sesuasi dengan banyak kegiatan dan dummy yang keluar dari peristiwa yang bersangkutan.
2.2.10. Lintasan Kritis dan Float
Lintasan kritis adalah Lintasan (Jalur) yang memiliki lintasan pelaksanaan paling panjang yang menentukan lamanya penyelesaian jaringan kerja. Jalur kritis penting bagi pelaksanaan proyek karena pada jalur ini terletak kegiatan yang bila pelaksanaan terlambat akan menyebabkan keterlambatan proyek secara keseluruhan. Lintasan kritis merupakan lintasan yang melalui kegiatan-kegiatan yang tidak mempunyai float (waktu jeda). (Santoso B. , 2009)
Untuk menentukan lintasan kritis dari jaringan kerja dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
Lintasan kritis adalah lintasan yang melalui kegiatan-kegiatan yang
mempunyai jumlah durasi terbesar.
Dengan menghitung kegiatan-kegiatan yang mempunyai nilai Total Float sama dengan 0
Float merupakan sejumlah waku yang tersedia dalam suatu kegiatan,
sehingga memungkinkan penundaan atau perlambatan kegiatan secara sengaja/tidak sengaja, tetapi penundaan tersebut tidak menyebabkan proyek menjadi terlambat dalam penyelesainnya. Float dibagi menjadi 3, yaitu :
a. Total Float
Sejumlah waktu yang tersedia untuk keterlambatan/perlambatan kegiatan tanpa mempengaruhi proyek secara keseluruhan.
b. Free Float
Sejumlah waktu yang tersedia untuk keterlambatan/perlambatan kegiatan tanpa mempengaruhi dimulainya kegiatan yang langsung mengikutinya.
c. Independent Float
Jangka waktu antara EET peristiwa akhir (EETi / EETj) kegiatan yang bersangkutan dengan selesainya kegiatan yang bersangkutan j bila kegiatan tersebut dimulai pada LET peristiwa awal (LETi).
Rumus :
Total float = LET j – durasi – EETi……….(2.3) Free float = EETj – durasi – EETi ………..(2.4) Independent float = EETj – durasi – LETi ………..(2.5)
Gambar 2.4 Kegiatan EET dan LET (Soeharto, 1995)
2.2.11. Crash Program
Crash program merupakan proses pemampatan kurun waktu penyelesaian
proyek agar dapat berjalan lebih cepat. Proses pemampatan ini dilakukan berturut – turut sampai pada kondisi dimana durasi kegiatan tidak dapat dimampatkan lagi. Didalam menganalisis program tersebut digunakan asumsi berikut ini: (Ali, 1995)
Jumlah sumber daya yang tersedia tidak merupakan kendala. Ini berarti dalam menganalisis program memersingkat waktu, alternative yang dipilih tidak terhalangi oleh tersedianya sumber daya.
Bila diinginkan waktu penyelesaian kegiatan lebih cepat dengan lingkup yang sama, maka keperluan (Ali, 1995) sumberdaya akan bertambah. Sumber daya ini dapat berupa tenaga kerja, material, atau peralatan yang dapat dinyatakan dalam sejumlah dana.
Jadi tujuan utama dari crash program adalah untuk memperpendek jadwal penyelesaian kegiatan atau proyek dengan kenaikan biaya seminimal mungkin. Untuk menganalisis lebih lanjut hubungan waktu dengan biaya, maka dipakai define berikut :
Kurun waktu normal, merupakan waktu yang diperlukan untuk melakukan kegiatan sampai selesai dengan cara yang efisien namun diluar pertimbangan adanya kerja lembur dan usaha – usaha khusus lainnya untuk mempercepat berjalannya proyek.
Biaya normal, merupakan biaya langsung yang diperlukan untuk
menyelesaikan kegiatan dengan kurun waktu normal.
Kurun waktu dipersingkat (crash time), merupakan waktu tersingkat untuk menyelesaikan suatu kegiatan yang secara teknias masih mungkin. Disinii dinanggap sumber daya bukan merupakan hambatan.
Biaya untuk waktu yang dipersingkat (crash cost), merupakan jumlah biaya
langsung untuk menyelesaikan pekerjaan dengan kurun waktu tersingkat.
2.2.12. Mempercepat Umur proyek
Dalam penjelasan Ali (1995) bahwa di dalam penyelenggaraan proyek sering kali dihadapkan pada perbedaan antara umur perkiraan (UPER) berdasarkan
network diagram yang dibuat dengan umur rencana (UREN) proyek yang
ditentukan berdasarkan kebutuhan manajemen dan atau sebab lainnya.
Oleh karena itu perlu kiranya umur perkiraan (UPER) dan umur rencana (UREN) harus disamakan. Umur rencana (UREN) biasanya selalu lebih kecil dari umur perkiraan (UPER).
a. Syarat yang harus dipenuhi untuk mempercepat umur proyek agar sama antara umur perkiraan dan umur rencana antara lain :
Telah ada network diagram yang tepat.
Lama kegiatan perkiraan masing-masing kegiatan telah ditentukan.
Telah dihitung saat paling awal (EET) dan saat paling lambat (LET) semua peristiwa.
b. Prosedur mempercepat usia proyek :
1. Buat network diagram dengan nomor-nomor peristiwa sama seperti semula dengan lama kegiatan perkiraan baru untuk langkah ulangan, dan sama dengan semula untuk langkah siklus pertama.
2. Dengan dasar saat paling awal peristiwa awal, EET 1 = 0, dihitung saat peristiwa lainnya. Umur perkiraan proyek (UPER) = saat paling awal peristiwa akhir ( EET m , dimana m adalah nomor peristiwa akhir
network diagram atau nomor maksimal peristiwa).
3. Dengan dasar saat paling lambat peristiwa akhir network diagram (LET m) = umur proyek yang direncanakan (UREN), dihitung saat paling lambat semua peristiwa.
4. Hitung total float (TF) semua kegiatan yang ada. Bila tidak ada total
float (TF) yang berharga negatif, proses perhitungan selesai. Bila masih
ada total float (TF) berharga negatif, lanjutkan ke langkah berikut : 5. Cari lintasan atau lintasan-lintasan yang terdiri dari kegiatan-kegiatan
yang total floatnya (TF) masing-masing sebesar : Total float (TF) = UREN -UPER
= LET m - EET m berharga negatif
= LET 1 - EET 1……….(2.6) 6. Lama kegiatan dari kegiatan tersebut di atas adalah Ln, n adalah nomor
urut kegiatan tersebut dalam satu lintasan, n = 1, 2, 3, ...z. 7. Hitung lama kegiatan baru dari kegiatan tersebut di atas (langkah ke 5
dan ke 6 ) dengan menggunakan rumus :
L n (baru) = Ln (lama) + L n (lama) x (UREN - UPER )...(2.7) L i
Keterangan :
Ln (baru) = Lama kegiatan baru Ln (lama) = Lama kegiatan lama
Li = Jumlah lama kegiatan-kegiatan pada satu lintasan yang
harus dipercepat.
UREN = Umur rencana proyek
UPER = Umur perkiraan proyek
8. Kembali ke langkah 1
2.2.13. Analisa Biaya Pelaksanaan
Menurut Soeharto (1999) biaya proyek dikelompokan menjadi tiga komponen yaitu biaya langsung (direct cost) dan biaya tidak langsung (indirect
cost), serta biaya kegunaan.
2.2.13.1. Biaya langsung (Direct Cost)
Biaya langsung adalah biaya yang diperlukan langsung untuk mendapatkan sumber daya yang akan dipergunakan untuk penyelesaian proyek. Unsur-unsur yang termasuk dalam biaya langsung adalah:
a. Biaya Material
Biaya material adalah biaya pembelian material untuk mewujud-kan proyek itu termasuk biaya transportasi, biaya penyimpanan serta kerugian akibat kehilangan atau kerusakan material. Harga material didapat dari survey di pasaran atau berpedoman dari indeks biaya yang dikeluarkan secara berkala oleh Departemen Pekerjaan Umum sebagai pedoman sederhana. b. Biaya upah
Dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi, biaya upah dibedakan atas:
Upah harian. Besar upah yang dibayarkan persatuan waktu, misalnya
harian tergantung pada jenis keahlian pekerja, lokasi peker-jaan, jenis pekerjaan dan sebagainya.
Upah borongan. Besar upah ini tergantung atas kesepakatan bersama antara kontraktor dengan pekerja atas suatu jenis item pekerjaan.
Upah berdasarkan produktivitas. Besar jenis upah ini tergantung atas banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh pekerja dalam satu satuan waktu tertentu.
c. Biaya peralatan
Unsur-unsur biaya yang terdapat pada biaya peralatan adalah modal, biaya sewa, biaya operasi, biaya pemeliharaan, biaya operator, biaya mobilisasi, biaya demobilisasi dan lainnya yang menyangkut biaya peralatan. d. Biaya sub-kontraktor
Biaya ini diperlukan bila ada bagian pekerjaan diserahkan/dikerjakan oleh sub-kontraktor. Sub-kontraktor ini bertanggung jawab dan dibayar oleh kontraktor utama.
2.2.13.2. Biaya tidak langsung (Indirect Cost)
Biaya tidak langsung adalah biaya yang berhubungan dengan pengawasan, pengarahan kerja dan pengeluaran umum diluar biaya konstruksi, biaya ini disebut juga biaya overhead. Biaya ini tidak tergantung pada volume pekerjaan tetapi tergantung pada jangka waktu pelaksanaan pekerjaan. Biaya tidak langsung akan naik apabila waktu pelaksanaan semakin lama karena biaya untuk gaji pegawai, biaya umum perkantoran tetap dan biaya-biaya lainnya juga tetap dibayar. Unsur-unsur biaya tidak langsung antara lain :
a. Gaji pegawai
Termasuk dalam unsur biaya ini adalah gaji maupun honor pegawai / karyawan tetap dan tidak tetap yang terlibat maupun tidak terlibat dalam proyek yang dibebankan dalam pembiayaan proyek tersebut.
b. Biaya umum perkantoran
Termasuk dalam unsur biaya ini adalah sewa gedung, biaya transport, rekening listrik, air, pajak, asuransi dan lain-lain.
c. Biaya pengadaan sarana umum.
Perincian jelas pengeluaran biaya-nya adalah untuk pembangunan bangunan sementara, instalasi umum (listrik, air, telepon), peralatan umum yang digunakan selama masa proyek seperti pompa air, generator dan lain-lain.
2.2.13.3. Biaya Kegunaan
Adalah biaya-biaya yang berhubungan dengan waktu penyelesaian proyek yang berupa laba atau keuntungan potesial yang bisa diperoleh seandainya proyek bisa diselesaikan lebih cepat dan kerugian potensial seandainya terjadi penundaan. Biaya langsung, biaya tidak langsung, dan biaya kegunaan merupakan biaya total proyek yang menentukan waktu penyelesaian proyek optimal. Ketiganya berubah sesuai dengan waktu dan kemajuan proyek. Walaupun tidak dapat diperhitungkan dengan rumus tertentu, tetapi pada umumnya semakin lama proyek berjalan maka semakin tinggi kumulatif biaya yang diperlukan.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Metodologi adalah sekumpulan peraturan, kegiatan, dan prosedur yang digunakan untuk menganalis teoritis mengenai suatu cara atau metode. Penelitian merupakan suatu penyelidikan yang sistematis untuk meningkatkan sejumlah pengetahuan. Pada bab ini akan diuraikan langkah-langkah pendekatan yang dilakukan untuk mendapatkan hasil penelitian yang telah dirumuskan dalam tujuan penelitian.
3.1. Diagram Alir Metodologi Penelitian
Berikut ini adalah diagram alir metodologi yang digunakan pada penelitian tugas akhir ini :
Gambar 3.1. Diagram Alir Pengerjaan Tugas Akhir (Bagian 1)
Pengumpulan data proyek: - Time Schedule - Bobot Tiap Pekerjaan - Manpower
- Data Gaji
Studi literatur dan observasi
MULAI
Menghitung EET, LET, dan Total Float Membuat network diagram
Gambar 3.2. Diagram Alir Pengerjaan Tugas Akhir (Bagian 2)
3.2. Studi Literatur
Studi literatur diperlukan untuk mengetahui teori-teori yang digunakan dalam penulisan tugas akhir ini, baik untuk menentukan network planning, lintasan kritis, analisa percepatan dengan menggunakan metode linear programming guna melakukan pemampatan durasi proyek agar dapat diselesaikan dalam menepati target waktu proyek yang telah ditentukan.
Menentukan lintasan kritis
Menentukan total durasi proyek yang ingin dipercepat
Menentukan berbagai persamaan linear dan kendala dari Network Diagram
Selesai
Memasukkan berabgai persamaan linear dan kendala kedalam Microsoft Excell Solver dan running
Mendapatkan daftar kegiatan mana saja yang dipercepat, dan total biaya percepatannya
Membuat network diagram baru setelah total durasi proyek dipercepat
3.3. Pengumpulan Data 3.3.1. Data Primer
Pengumpulan data primer adalah data yang berupa pengamatan dilapangan dan wawancara dengan beberapa pihak yang terkait dalam pelaksanaan proyek seperti alternatif percepatan yang mungkin dapat dilakukan, dan mencari tahu penyebab keterlambatan pelaksanaan.
3.3.2. Data Sekunder
Pengumpulan data sekunder adalah data yang diperoleh dari suatu institusi yang berkompeten dalam bidang tersebut. Data yang didapat dari pihak engineer dan construction pada PT. PAL Surabaya untuk penyusunan tugas akhir ini antara lain:
Schedule pelaksanaan proyek pembangunan kapal diperlukan untuk
mengetahui waktu yang diperlukan dalam menyelesaikan proyek dan mengetahui jadwal masing-masing aktivitas pekerjaan dilapangan. Maka jadwal proyek sangat membantu untuk menentukan durasi tiap-tiap aktivitas dan waktu penyelesaian proyek dalam jadwal dapat digunakan sebagai acuan target waktu proyek.
Bobot Tiap Pekerjaan adalah banyaknya bobot pekerjaan yang dikerjakan per
kegiatan. Ini diperlukan untuk menghitung banyaknya bobot yang dikerjakan oleh setiap pekerja dalam setiap kegiatan
Manpower adalah banyaknya pekerja yang dibutuhkan untuk mengerjakan
setiap kegiatan. Ini diperlukan untuk menghitung banyaknya bobot yang dikerjakan oleh setiap pekerja dalam setiap kegiatan.
Data Gaji adalah upah tenaga kerja yang dialokasikan untuk setiap kegaiatn. Ini diperlukan untuk mengetahui berapa upah setap pekerja untuk tiap kegiatan. Upah yang dicari adalah upah total perhari untuk tiap pekerja bila suatu pekerjaan dikerjakan dengan jam normal (8 jam), serta upah total perhari untuk tiap pekerja bila suatu pekerjaan dikerjakan jam normal + jam lembur (11 jam).
3.4. Prosedur Penelitian
Adapun prosedur dan langkah-langkah penelitian dalam tugas akhir ini dijelaskan sebagai berikut (dapat dilihat pada gambar 3.1):
a. Studi literatur dan observasi sebagai bahan-bahan acuan dan sumber teori-teori yang diperlukan dalam tugas akhir ini.
b. Pengumpulan data dalam penelitian tugas akhir ini yang meliputi jadwal proyek pembangunan kapal pada PT. PAL Surabaya, jumlah Manpower dan data gaji tiap pekerja dalam proyek tersebut.
c. Membuat network diagram proyek sesuai dengan urutan logis setiap kegiatan. d. Menentukan lintasan kritis dengan menghitung EET, LET, dan Total Float
dari tiap kegiatan
e. Menentukan waktu pemampatan yang telah ditentukan
f. Melakuan analisa percepatan dengan linear programming. Percepatan dilakukan dengan melakukan penambahan jam kerja sebanyak 3 jam perhari (dari jam kerja 8 perhari jam menjadi 11 jam perhari). Berikut adalah langkahnya:
Menentukan berbagai persamaan linear dan kendala-kendala yang
ditentukan yang didapatkan dari network diagram dan hasil perhitungan
Memasukkan seluruh persamaan linear dan kendala-kendala yang ada
kedalam Microsoft Excel, kemudian Solver dirunning untuk mencari kegiatan mana saja yang harus dipercepat agar total durasi proyek dapat dipercepat sebanyak yang diinginkan, sehingga biaya percepatan yang dihasilkan adalah biaya yang paling minimum
BAB IV
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
Untuk melakukan percepatan jadwal suatu proyek, maka diperlukan jaringan kerja (network planning) dari proyek tersebut. Sehingga pada pembangunan kapal di PT PAL ini, syarat yang harus dipenuhi untuk dapat membuat suatu jaringan kerja (network planning) adalah mengetahui macam-macam aktivitas, dependency (hubungan ketergantungan) antara aktivitas satu dan aktivitas lainnya. Hubungan ketergantungan antara tiap kegiatan dapat diketahui dengan memperhatikan urutan dari flow produksi pembangunan yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya.
4.1. Penjadwalan Proyek
Berikut adalah Tabel 4.1. yang memuat tentang bermacam kegiatan pada proyek tersebut, serta ketergantungan (dependency) dan durasi masing-masing kegiatan yang digunakan sebagai dasar dalam pembuatan network planning pembangunan Kapal di PT. PAL.
Tabel 4.1. Ketergantungan dan Durasi Tiap Kegiatan (Bagian 1)
Nama Kegiatan Notasi Ketergantungan Durasi
FABRICATION BLOCK CARGO HOLD A - 115 hari
SUB. ASSEMBLY BLOCK CARGO HOLD B A 110 hari
ASSEMBLY BLOCK CARGO HOLD C B 100 hari
FABRICATION FOBS CARGO HOLD D - 110 hari
GRAND ASSEMBLY BLOCK CARGO HOLD E C, D 100 hari
ERECTION BLOCK SHIFTING MODULE CARGO HOLD F E 60 hari
FABRICATION BLOCK ENGINE ROOM G A 30 hari
SUB. ASSEMBLY BLOCK ENGINE ROOM H G, B 25 hari
ASSEMBLY BLOCK ENGINE ROOM I C, H 50 hari
Tabel 4.2. Ketergantungan dan Durasi Tiap Kegiatan (Bagian 2)
Nama Kegiatan Notasi Ketergantungan Durasi
GRAND ASSEMBLY BLOCK ENGINE ROOM K E, I, J 55 hari
ERECTION BLOCK SHIFTING MODULE ENGINE
ROOM L F, K 35 hari
FABRICATION BLOCK AFTER PART M B, G 80 hari
SUB. ASSEMBLY BLOCK AFTER PART N H, M 70 hari
ASSEMBLY BLOCK AFTER PART O I, N 80 hari
FABRICATION BLOCK OUTFITTING AFTER PART P J 40 hari
GRAND ASSEMBLY BLOCK AFTER PART Q F, K, O, P 50 hari
ERECTION BLOCK SHIFTING MODULE AFTER PART R L, Q 20 hari
FABRICATION BLOCK FORE PART S H, M 35 hari
SUB. ASSEMBLY BLOCK FORE PART T N, S 35 hari
ASSEMBLY BLOCK FORE PART U O, T 30 hari
FABRICATION BLOCK OUTFITTING FORE PART V P 45 hari
GRAND ASSEMBLY BLOCK FORE PART W L, Q, U, V 40 hari
ERECTION BLOCK SHIFTING MODULE FORE PART X R, W 25 hari
FABRICATION BLOCK ACCOMODATION Y N, S 45 hari
SUB. ASSEMBLY BLOCK ACCOMODATION Z T, Y 35 hari
ASSEMBLY BLOCK ACCOMODATION AA U, Z 45 hari
FABRICATION BLOCK OUTFITTING
ACCOMODATION AB V 40 hari
GRAND ASSEMBLY BLOCK ACCOMODATION AC R, W, AA, AB 15 hari
ERECTION BLOCK LAUNCHING MODULE
ACCOMODATION AD X, AC 35 hari
Dengan Tabel 4.1. dan Tabel 4.2., kita dapat membuat network diagram awal pembangunan kapal tersebut, seperti yang terlampir di Lampiran A pada laporan ini. Melalui network diagram tersebut, kita dapat mengetahui node awal dan node akhir dari tiap kegiatan, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4.3. dan Tabel 4.4.
Dalam pembuatan network diagram, tercipta beberapa kegiatan semu atau kegiatan dummy. Mereka adalah kegiatan AE, AF, AG, AH, AI, AJ, AK, AL, AM, AN, AO, AP, AQ, AR, AS, AT, AU, AV, AW, dan AX. Sesuai yang ditampilkan oleh Tabel 4.3. dan Tabel 4.4., bahwa kegiatan-kegiatan tersebut tidak memiliki durasi karena mereka hanyalah kegiatan dummy.
Tabel 4.3. Node Awal dan Node Akhir Tiap Kegiatan (Bagian 1)
Kegiatan Node Awal Node Akhir Durasi (hari)
A X01 X02 115 B X02 X03 110 C X03 X04 100 D X01 X30 110 E X05 X06 100 F X06 X07 60 G X02 X08 30 H X08 X09 25 I X09 X10 50 J X30 X11 115 K X12 X07 55 L X07 X13 35 M X08 X14 80 N X14 X15 70 O X15 X16 80 P X11 X17 40 Q X18 X13 50 R X13 X19 20 S X14 X20 35 T X20 X21 35 U X21 X22 30 V X17 X23 45 W X24 X19 40 X X19 X25 25 Y X20 X26 45 Z X26 X27 35 AA X27 X28 45 AB X23 X28 40 AC X28 X25 15 AD X25 X29 35 AE X04 X05 0 AF X30 X05 0 AG X03 X08 0 AH X04 X09 0 AI X10 X12 0 AJ X06 X12 0
Tabel 4.4. Node Awal dan Node Akhir Tiap Kegiatan (Bagian 2)
Kegiatan Node Awal Node Akhir Durasi (hari)
AJ X06 X12 0 AK X11 X12 0 AL X09 X14 0 AM X10 X15 0 AN X16 X18 0 AO X07 X18 0 AP X17 X18 0 AQ X15 X20 0 AR X16 X21 0 AS X22 X24 0 AT X13 X24 0 AU X23 X24 0 AV X21 X26 0 AW X22 X27 0 AX X19 X28 0
Setelah membuat network diagram, langkah selanjutnya adalah menghitung Earliest Event Time (EET) dan Latest Event Time (LET) tiap node pada seluruh kegiatan dalam network diagram tersebut. Tujuannya untuk menghitung total durasi proyek, serta menghitung Total Float setiap kegiatan untuk menentukan lintasan kritis.
4.2. Perhitungan Earliest Event Time (EET)
Dalam network diagram pada Lampiran A, terdapat beberapa kegiatan yang memiliki EET(j) yang sama. Contohnya adalah kegiatan AE dan AF yang sama-sama memiliki EET X05, namun masing-masing EET memiliki nilai yang berbeda, seperti perhitungan berikut ini:
EET X05 = EET X04 + Durasi AE = 325 + 0 = 325 EET X05 = EET X30 + Durasi AF = 110 + 0 = 110
Sedangkan hanya satu EET yang dibutuhkan untuk analisa selanjutnya, sehingga kita harus menentukan satu EET dari sekian EET yang ada. Maka dalam hal ini, EET X05 yang digunakan adalah EET X05 dari kegiatan AE yang memiliki nilai paling besar = 325. Metode ini juga dapat diterapkan untuk semua kasus yang
serupa, pada saat menghitung EET pada node lainnya. Berikut ini adalah seluruh perhitungan EET pada setiap node dalam seluruh kegiatan:
EET X01 = 0 (node paling awal)
EET X02 = EET X01 + Durasi A = 0 + 115 = 115 EET X03 = EET X02 + Durasi B = 115 + 110 = 225 EET X04 = EET X03 + Durasi C = 225 + 100 = 325 EET X05 = EET X04 + Durasi AE = 325 + 0 = 325 EET X05 = EET X30 + Durasi AF = 110 + 0 = 110 Maka yang digunakan adalah EET X05 = 325 EET X06 = EET X05 + Durasi E = 325 + 100 = 425 EET X07 = EET X06 + Durasi F = 425 + 60 = 485 EET X07 = EET X12 + Durasi K = 425 + 55 = 480
Maka yang digunakan adalah EET X07 = 485 EET X08 = EET X02 + Durasi G = 115 + 30 = 145 EET X08 = EET X03 + Durasi AG = 225 + 0 = 225
Maka yang digunakan adalah EET X08 = 225 EET X09 = EET X08 + Durasi H = 225 + 25 = 250 EET X09 = EET X04 + Durasi AH = 325 + 0 = 325
Maka yang digunakan adalah EET X09 = 325 EET X10 = EET X09 + Durasi I = 325 + 50 = 375 EET X11 = EET X30 + Durasi J = 110 + 115 = 225 EET X12 = EET X10 + Durasi AI = 375 + 0 = 375 EET X12 = EET X06 + Durasi AJ = 425 + 0 = 425 EET X12 = EET X11 + Durasi AK = 225 + 0 = 225
Maka yang digunakan adalah EET X12 = 425 EET X13 = EET X07 + Durasi L = 485 + 35 = 520 EET X13 = EET X18 + Durasi Q = 485 + 50 = 535 Maka yang digunakan adalah EET X13 = 535 EET X14 = EET X08 + Durasi M = 225 + 80 = 305 EET X14 = EET X09 + Durasi AL = 325 + 0 = 325 Maka yang digunakan adalah EET X14 = 325
EET X15 = EET X10 + Durasi AM = 375 + 0 = 375 Maka yang digunakan adalah EET X15 = 395 EET X16 = EET X15 + Durasi O = 395 + 80 = 475 EET X17 = EET X11 + Durasi P = 225 + 40 = 265 EET X18 = EET X16 + Durasi AN = 475 + 0 = 475 EET X18 = EET X07 + Durasi AO = 485 + 0 = 485 EET X18 = EET X17 + Durasi AP = 265 + 0 = 265
Maka yang digunakan adalah EET X18 = 475 EET X19 = EET X13 + Durasi R = 535 + 20 = 555 EET X19 = EET X24 + Durasi W = 535 + 40 = 575
Maka yang digunakan adalah EET X19 = 575 EET X20 = EET X14 + Durasi S = 325 + 35 = 360 EET X20 = EET X15 + Durasi AQ = 395 + 0 = 395
Maka yang digunakan adalah EET X20 = 395 EET X21 = EET X20 + Durasi T = 395 + 35 = 430 EET X21 = EET X16 + Durasi AR = 475 + 0 = 475
Maka yang digunakan adalah EET X21 = 475 EET X22 = EET X21 + Durasi U = 475 + 30 = 505 EET X23 = EET X17 + Durasi V = 265 + 45 = 310 EET X24 = EET X22 + Durasi AS = 505 + 0 = 505 EET X24 = EET X13 + Durasi AT = 535 + 0 = 535 EET X24 = EET X23 + Durasi AU = 310 + 0 = 310 Maka yang digunakan adalah EET X24 = 535 EET X25 = EET X19 + Durasi X = 575 + 25 = 600 EET X25 = EET X28 + Durasi AC = 575 + 15 = 590
Maka yang digunakan adalah EET X25 = 600 EET X26 = EET X20 + Durasi Y = 395 + 45 = 440 EET X26 = EET X21 + Durasi AV = 475 + 0 = 475
Maka yang digunakan adalah EET X26 = 475 EET X27 = EET X26 + Durasi Z = 475 + 35 = 510 EET X27 = EET X22 + Durasi AW = 505 + 0 = 505
EET X28 = EET X27 + Durasi AA = 510 + 45 = 555 EET X28 = EET X23 + Durasi AB = 310 + 40 = 350 EET X28 = EET X19 + Durasi AX = 575 + 0 = 575
Maka yang digunakan adalah EET X28 = 575 EET X29 = EET X25 + Durasi AD = 600 + 35 = 635 EET X30 = EET X01 + Durasi D = 0 + 110 = 110
Bila dilihat dari perhitungan diatas, EET X29 (node paling akhir) memiliki nilai paling besar diantara EET lainnya. Maka dapat disimpulkan bahwa total durasi proyek tersebut adalah 635 hari.
4.3. Perhitungan Latest Event Time (LET)
Dalam network diagram pada Lampiran A, terdapat beberapa kegiatan yang memiliki LET(i) yang sama. Contohnya adalah kegiatan A dan D yang sama-sama memiliki LET X01, namun masing-masing LET memiliki nilai yang berbeda, seperti perhitungan berikut ini:
LET X01 = LET X02 - Durasi A = 115 - 115 = 0 LET X01 = LET X30 - Durasi D = 315 - 110 = 205
Sedangkan hanya satu LET yang dibutuhkan untuk analisa selanjutnya, sehingga kita harus menentukan satu LET dari sekian LET yang ada. Maka dalam hal ini, LET X01 yang digunakan adalah EET X01 dari kegiatan A yang memiliki nilai paling kecil = 0. Metode ini juga dapat diterapkan untuk semua kasus yang serupa, pada saat menghitung LET pada node lainnya. Berikut ini adalah seluruh perhitungan LET pada setiap node dalam seluruh kegiatan:
LET X01 = LET X02 - Durasi A = 115 - 115 = 0 LET X01 = LET X30 - Durasi D = 315 - 110 = 205
Maka yang digunakan adalah LET X01 = 0 LET X02 = LET X03 - Durasi B = 225 - 110 = 115 LET X02 = LET X08 - Durasi G = 255 - 30 = 225
Maka yang digunakan adalah LET X02 = 115 LET X03 = LET X04 - Durasi C = 325 - 100 = 225
Maka yang digunakan adalah LET X03 = 225 LET X04 = LET X05 - Durasi AE = 325 - 0 = 325 LET X04 = LET X09 - Durasi AH = 335 - 0 = 335 Maka yang digunakan adalah LET X04 = 325 LET X05 = LET X06 - Durasi E = 425 - 100 = 325 LET X06 = LET X07 - Durasi F = 485 - 60 = 425 LET X06 = LET X12 - Durasi AJ = 430 - 0 = 430
Maka yang digunakan adalah LET X06 = 425 LET X07 = LET X13 - Durasi L = 535 - 35 = 500 LET X07 = LET X18 - Durasi AO = 485 - 0 = 485
Maka yang digunakan adalah LET X07 = 485 LET X08 = LET X09 - Durasi H = 335 - 25 = 310 LET X08 = LET X14 - Durasi M = 335 - 80 = 255
Maka yang digunakan adalah LET X08 = 255 LET X09 = LET X10 - Durasi I = 405 - 50 = 355 LET X09 = LET X14 - Durasi AL = 335 - 0 = 335
Maka yang digunakan adalah LET X09 = 335 LET X10 = LET X12 - Durasi AI = 430 - 0 = 430 LET X10 = LET X15 - Durasi AM = 405 - 0 = 405
Maka yang digunakan adalah LET X10 = 405 LET X11 = LET X17 - Durasi P = 485 - 40 = 445 LET X11 = LET X12 - Durasi AK = 430 - 0 = 430
Maka yang digunakan adalah LET X11 = 430 LET X12 = LET X07 - Durasi K = 485 - 55 = 430 LET X13 = LET X19 - Durasi R = 575 - 20 = 555 LET X13 = LET X24 - Durasi AT = 535 - 0 = 535
Maka yang digunakan adalah LET X13 = 535 LET X14 = LET X15 - Durasi N = 405 - 70 = 335 LET X14 = LET X20 - Durasi S = 460 - 35 = 425
Maka yang digunakan adalah LET X14 = 335 LET X15 = LET X16 - Durasi O = 485 - 80 = 405 LET X15 = LET X20 - Durasi AQ = 460 - 0 = 460
Maka yang digunakan adalah LET X15 = 405 LET X16 = LET X18 - Durasi AN = 485 - 0 = 485 LET X16 = LET X21 - Durasi AR = 505 - 0 = 505 Maka yang digunakan adalah LET X16 = 485 LET X17 = LET X23 - Durasi V = 535 - 45 = 490 LET X17 = LET X18 - Durasi AP = 485 - 0 = 485
Maka yang digunakan adalah LET X17 = 485 LET X18 = LET X13 - Durasi Q = 535 - 50 = 485 LET X19 = LET X25 - Durasi X = 600 - 25 = 575 LET X19 = LET X28 - Durasi AX = 585 - 0 = 585
Maka yang digunakan adalah LET X19 = 575 LET X20 = LET X21 - Durasi T = 505 - 35 = 470 LET X20 = LET X26 - Durasi Y = 505 - 45 = 460
Maka yang digunakan adalah LET X20 = 460 LET X21 = LET X22 - Durasi U = 535 - 30 = 505 LET X21 = LET X26 - Durasi AV = 505 - 0 = 505
Maka yang digunakan adalah LET X21 = 505 LET X22 = LET X24 - Durasi AS = 535 - 0 = 535 LET X22 = LET X27 - Durasi AW = 540 - 0 = 540
Maka yang digunakan adalah LET X22 = 535 LET X23 = LET X28 - Durasi AB = 585 - 40 = 545 LET X23 = LET X24 - Durasi AU = 535 - 0 = 535
Maka yang digunakan adalah LET X23 = 535 LET X24 = LET X19 - Durasi W = 575 - 40 = 535 LET X25 = LET X29 - Durasi AD = 635 - 35 = 600 LET X26 = LET X27 - Durasi Z = 540 - 35 = 505 LET X27 = LET X28 - Durasi AA = 585 - 45 = 540 LET X28 = LET X25 - Durasi AC = 600 - 15 = 585 LET X29 = 635 (node paling akhir)
LET X30 = LET X11 - Durasi J = 430 + 115 = 545 LET X30 = LET X05 - Durasi AF = 325 + 0 = 325
4.4. Mencari Lintasan Kritis (Perhitungan Total Float)
Berdasarkan perhitungan EET dan LET sebelumnya, maka dapat diketahui lintasan kritis proyek tersebut dengan menghitung Total Float setiap kegiatan yang ada dengan rumus:
Total Float = LET(j) – Durasi Kegiatan – EET(i)………...(2.3) Bila Total Float pada suatu kegiatan bernilai 0, maka kegiatan tersebut termasuk kegiatan kritis. Kumpulan kegiatan-kegiatan yang memiliki nilai Total Float = 0 pada network diagram akan terlihat polanya yaitu membentuk sebuah lintasan kritis. Berikut ini adalah contoh perhitungan Total Float pada Kegiatan A:
Total Float Kegiatan A = LET X02 – Durasi Kegiatan A – EET X01 = 115 – 115 – 0
= 0
Karena Total Float pada Kegiatan A bernilai 0, maka Kegiatan A termasuk kegiatan kritis. Sedangkan Tabel 4.4., Tabel 4.5., dan Tabel 4.6. adalah hasil dari perhitungan Total Float seluruh kegiatan dengan menggunakan cara yang sama (rumus 2.3.).
Tabel 4.5. Total Float Seluruh Kegiatan (Bagian 1)
Kegiatan Durasi Node(i) EET(i) LET(i) Node(j) EET(j) LET(j) Total Float
A 115 X01 0 0 X02 115 115 0
B 110 X02 115 115 X03 225 225 0
C 100 X03 225 225 X04 325 325 0
D 110 X01 0 0 X30 110 315 205
Tabel 4.6. Total Float Seluruh Kegiatan (Bagian 2)
Kegiatan Durasi Node(i) EET(i) LET(i) Node(j) EET(j) LET(j) Total Float
F 60 X06 425 425 X07 485 485 0 G 30 X02 115 115 X08 225 255 110 H 25 X08 225 255 X09 325 335 85 I 50 X09 325 335 X10 375 405 30 J 115 X30 110 315 X11 225 430 205 K 55 X12 425 430 X07 485 485 5 L 35 X07 485 485 X13 535 535 15 M 80 X08 225 255 X14 325 335 30 N 70 X14 325 335 X15 395 405 10 O 80 X15 395 405 X16 475 485 10 P 40 X11 225 430 X17 265 485 220 Q 50 X18 485 485 X13 535 535 0 R 20 X13 535 535 X19 575 575 20 S 35 X14 325 335 X20 395 460 100 T 35 X20 395 460 X21 475 505 75 U 30 X21 475 505 X22 505 535 30 V 45 X17 265 485 X23 310 535 225 W 40 X24 535 535 X19 575 575 0 X 25 X19 575 575 X25 600 600 0 Y 45 X20 395 460 X26 475 505 65 Z 35 X26 475 505 X27 510 540 30 AA 45 X27 510 540 X28 575 585 30 AB 40 X23 310 535 X28 575 585 235 AC 15 X28 575 585 X25 600 600 10 AD 35 X25 600 600 X29 635 635 0 AE 0 X04 325 325 X05 325 325 0 AF 0 X30 110 315 X05 325 325 215 AG 0 X03 225 225 X08 225 255 30 AH 0 X04 325 325 X09 325 335 10 AI 0 X10 375 405 X12 425 430 55 AJ 0 X06 425 425 X12 425 430 5 AK 0 X11 225 430 X12 425 430 205 AL 0 X09 325 335 X14 325 335 10 AM 0 X10 375 405 X15 395 405 30 AN 0 X16 475 485 X18 485 485 10 AO 0 X07 485 485 X18 485 485 0