BAB V PENUTUP. 5.1 Kesimpulan. Berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

Teks penuh

(1)

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Penentuan posisi kapal dan perhitungan pelayanan pemanduan, penundaan, konsumsi bahan bakar, dan nilai BOR memungkinkan dan dapat dilakukan dilakukan secara real time dengan menggunakan Automatic Identification System (AIS) dan bantuan Google Maps dengan media penyimpanan data adalah My SQL dan dengan menggunakan sript PHP namun dikarenakan pada output data yang keluar perjam maka pergerakan kapal dapat diamati perjam, hal ini tidak terlalu berpengaruh karena pergerakan kapal yang terlihat tidak terlalu

significant.

2. Perhitungan tarif jasa pemanduan dapat dilihat langsung dari peta tempat kapal berada dan berapa besarnya tarif yang diperoleh kapal tersebut langsung dari posisi kapal berada. Untuk memastikan apakah perhitungan pada script yang telah dibuat sesuai dengan hasil yang diharapkan maka diperlukan sebuah perhitungan manual dengan mengambil salah satu objek kapal. Untuk kapal objek adalah Meratus Tangguh 1 dengan gross tonnage 6251 karena kapal ini berbendera Indonesia sehingga tarif variabel dari kapal ini Rp 30,00 dan tarif tetapnya Rp.150.000,00 sehingga pada gerakan pemanduan masuk pelabuhan kapal ini dikenakan tarif Rp.337.530,00 karena kapal ini tidak melakukan gerakan pindah pada saat kapal sedang berlabuh maka kapal ini tidak dikenakan biaya pindah. Untuk tarif kapal pada saat kapal meninggalkan pelabuhan adalah sama dengan tarif ketika kapal dipandu masuk pelabuhan yaitu Rp. 337.530,00 maka diperoleh

(2)

hasil dari perhitungan tarif secara manual untuk tarif pelayanan jasa pemanduan yang merupakan penjumlahan antara tarif penundaan kapal pada saat kapal masuk pelabuhan, tarif penundaan kapal pada saat kapal melakukan gerakan pindah di tempat labuh, dan penundaan kapal pada saat kapal keluar pelabuhan adalah Rp. 675.060,00. Untuk kapal objek adalah Tanto Sentosa dengan gross tonnage 4870 karena kapal ini berbendera Indonesia sehingga tarif variabel dari kapal ini Rp 30,00 dan tarif tetapnya Rp.150.000,00 sehingga pada gerakan pemanduan masuk pelabuhan kapal ini dikenakan tarif Rp296,100,00 karena kapal ini tidak melakukan gerakan pindah pada saat kapal sedang berlabuh maka kapal ini tidak dikenakan biaya pindah. Untuk tarif kapal pada saat kapal meninggalkan pelabuhan adalah sama dengan tarif ketika kapal dipandu masuk pelabuhan yaitu Rp296,100,00 maka diperoleh hasil dari perhitungan tarif secara manual untuk tarif pelayanan jasa pemanduan yang merupakan penjumlahan antara tarif penundaan kapal pada saat kapal masuk pelabuhan, tarif penundaan kapal pada saat kapal melakukan gerakan pindah di tempat labuh, dan penundaan kapal pada saat kapal keluar pelabuhan adalah Rp 592,200,00. Untuk kapal objek adalah Meratus Makassar dengan gross tonnage 11964 karena kapal ini berbendera Indonesia sehingga tarif variabel dari kapal ini Rp 30,00 dan tarif tetapnya Rp.150.000,00 sehingga pada gerakan pemanduan masuk pelabuhan kapal ini dikenakan tarif Rp.508,920,00 karena kapal ini tidak melakukan gerakan pindah pada saat kapal sedang berlabuh maka kapal ini tidak dikenakan biaya pindah. Untuk tarif kapal pada saat kapal meninggalkan pelabuhan adalah sama dengan tarif ketika kapal dipandu masuk pelabuhan yaitu Rp. 508,920,00 maka diperoleh hasil dari perhitungan tarif secara manual untuk tarif pelayanan jasa pemanduan yang merupakan penjumlahan

(3)

antara tarif penundaan kapal pada saat kapal masuk pelabuhan, tarif penundaan kapal pada saat kapal melakukan gerakan pindah di tempat labuh, dan penundaan kapal pada saat kapal keluar pelabuhan adalah Rp.1.017.840,00.

3. Sama halnya pada perhitungan tarif jasa pemanduan, perhitungan tarif jasa penundaan dapat dilihat langsung dari peta tempat kapal berada dan berapa besarnya tarif yang diperoleh kapal tersebut langsung dari posisi kapal berada. Pada perhitungan ini juga harus dipastikan apakah perhitungan pada script yang telah dibuat sesuai dengan hasil yang diharapkan maka diperlukan sebuah perhitungan manual dengan mengambil salah satu objek kapal. Untuk kapal objek Meratus Tangguh 1 dengan

gross tonnage 6251 dan berbendera Indonesia maka tarif

variabel dari kapal ini Rp 20,00 dan tarif tetapnya Rp.600.000,00 dari estimasi dengan menggunakan area penundaan maka kapal ini berada pada wilayah penundaan selama satu jam, sehingga dari perhitungan gross tonnage kapal dikalikan tarif variabel kemudian di tambahkan tarif tetap dan dikali satu yang merupakan lamanya penundaan maka diperoleh hasil dari perhitungan tarif secara manual untuk tarif pelayanan jasa penundaan adalah Rp. 725.020,00. Untuk kapal objek Tanto Sentosa dengan gross tonnage 4870 dan berbendera Indonesia maka tarif variabel dari kapal ini Rp 20,00 dan tarif tetapnya Rp.600.000,00 dari estimasi dengan menggunakan area penundaan maka kapal ini berada pada wilayah penundaan selama satu jam, sehingga dari perhitungan gross tonnage kapal dikalikan tarif variabel kemudian di tambahkan tarif tetap dan dikali satu yang merupakan lamanya penundaan maka diperoleh hasil dari perhitungan tarif secara manual untuk tarif pelayanan jasa penundaan adalah Rp. 697.400,00. Untuk kapal objek Meratus Makassar dengan gross

(4)

tonnage 11964 dan berbendera Indonesia maka tarif

variabel dari kapal ini Rp 20,00 dan tarif tetapnya Rp.900.000,00 dari estimasi dengan menggunakan area penundaan maka kapal ini berada pada wilayah penundaan selama satu jam, sehingga dari perhitungan gross tonnage kapal dikalikan tarif variabel kemudian di tambahkan tarif tetap dan dikali satu yang merupakan lamanya penundaan maka diperoleh hasil dari perhitungan tarif secara manual untuk tarif pelayanan jasa penundaan adalah Rp. 1,139,280,00

4. Perhitungan waktu tunggu pelayanan kapal (pemanduan dan penundaan) di estimasikan dari kondisi kapal pada saat kapal berada dalam mode hotelling yaitu kapal berada pada kecepatan 0% sampai dengan 1% dari kecepatan maksimum kapal yang dapat diartikan kapal sedang berapa pada kondisi diam atau hanya sedang terombang-ambingkan gelombang laut. Dari estimasi ini maka dapat diperhitungkan lama kapal saaat berada pada mode hotelling atau diam pada saat di wilayah koordinat pemanduan dan pemanduan. Untuk kapal Meratus Tangguh 1 yang mempunyai kecepatan maksimum 14,5 knot telah berada pada kondisi hetelling atau diam pada wilayah pemanduan dan penundaan selama 119 menit atau 1 jam 59 menit, dengan kecepatan 0 knot selama 100 menit dan dengan kecepatan 0,1 knot yang merupakan 0,7% dari kecepatan maksimum kapal selama 19 menit. Dari hasil tersebut maka diestimasikan waktu tunggu kapal untuk proses pemanduan dan penundaan adalah 119 menit. Untuk kapal objek Tanto Sentosa yang mempunyai kecepatan maksimum 14,3 knot telah berada pada kondisi hetelling atau diam pada wilayah pemanduan dan penundaan selama 120 menit atau 2 jam, dengan kecepatan 0 knot selama 98 menit dan dengan kecepatan 0,1 knot yang merupakan 0,7% dari kecepatan maksimum kapal selama 22 menit. Dari hasil tersebut maka

(5)

diestimasikan waktu tunggu kapal untuk proses pemanduan dan penundaan adalah 120 menit. Untuk kapal objek Meratus Makassar yang mempunyai kecepatan maksimum 18,5 knot telah berada pada kondisi hetelling atau diam pada wilayah pemanduan dan penundaan selama 120 menit atau 2 jam, dengan kecepatan 0 knot selama 112 menit dan dengan kecepatan 0,1 knot yang merupakan 0,7% dari kecepatan maksimum kapal selama 8 menit. Dari hasil tersebut maka diestimasikan waktu tunggu kapal untuk proses pemanduan dan penundaan adalah 120 menit.

5. Besar konsumsi bahan bakar yang dikeluarkan akibat waktu tunggu pelayanan pemanduan dan penundaan dapat dilakukan dengan melihat lamanya waktu kapal berada pada mode hotelling dimana bahan bakar ini terpakai karena kapal sedang menunggu pelayanan pemanduan dan penundaan. Untuk kapal objek Meratus Tangguh 1 yang mempunyai kecepatan maksimum 14,5 knot didapatkan hasil perhitungan untuk konsumsi bahan bakar bada mode operasi hotelling atau pada keadaaaan kapal diam adalah 4,5 ton per hari atau 0,18 ton per jam atau 0,0031 ton per menit untuk konsumsi bahan bakar mesin induk dan 21,4 ton per hari atau 0,89 ton per jam atau 0,0014 ton per menit untuk konsumsi bahan bakar mesin bantu dari hasil tersebut maka dikalikan 119 menit atau 1 jam 59 menit, sehingga total konsumsi bahan bakar yang dikeluarkan kapal Meratus Tangguh 1 pada saat menunggu pelayanan pemanduan dan penundaan adalah 2,13 ton. Untuk kapal objek Tanto Sentosa yang mempunyai kecepatan maksimum 14,3 knot didapatkan hasil perhitungan untuk konsumsi bahan bakar bada mode operasi hotelling atau pada keadaaaan kapal diam adalah 3,89 ton per hari atau 0,16 ton per jam atau 0,0037 ton per menit untuk konsumsi bahan bakar mesin induk dan 16,79 ton per hari atau 0,69 ton per jam atau 0,011 ton per

(6)

menit untuk konsumsi bahan bakar mesin bantu dari hasil tersebut maka dikalikan 120 menit atau 2 jam, sehingga total konsumsi bahan bakar yang dikeluarkan kapal Tanto Sentosa pada saat menunggu pelayanan pemanduan dan penundaan adalah 1.68 ton. Untuk kapal objek Meratus Makassar yang mempunyai kecepatan maksimum 18,5 knot didapatkan hasil perhitungan untuk konsumsi bahan bakar pada mode operasi hotelling atau pada keadaaaan kapal diam adalah 7,23 ton per hari atau 0,3 ton per jam atau 0,005 ton per menit untuk konsumsi bahan bakar mesin induk dan 41,5 ton per hari atau 1,73 ton per jam atau 0,028 ton per menit untuk konsumsi bahan bakar mesin bantu dari hasil tersebut maka dikalikan 120 menit atau 2 jam, sehingga total konsumsi bahan bakar yang dikeluarkan kapal Meratus Makassar pada saat menunggu pelayanan pemanduan dan penundaan adalah 4.04 ton. 6. Perhitungan nilai tingkat penggunaan dermaga/ Berth

Occupancy Ratio (BOR) dapat dilakukan dengan

memasukkan tanggal mulai dilakukan perhitungan dan tanggal diakhirinya perhitungan. Namun karena pada penelitian ini data yang digunakan mulai dari juli untuk data yang telah secara berlanjut maka perhitungan nilai

Berth Occupancy Ratio (BOR) ini hanya dapat dilakukan

mulai dari tanggal dimulainya data yang berlanjut di dapatkan, hal ini dikarenakan keterbatasan dari program yang dibuat sehingga dalam perhitungan tidak dapat menampilkan dengan data yang yang tidak di dapatkan secara bertahap. Dari hasil perhitungan pada web untuk nilai Berth Occupancy Ratio (BOR) yang dihitung mulai tanggal 1 Juli 2013 sampai dengan tanggal 31 Juli 2013 dengan jumlah kapal yang mengunjungi dermaga tersebut adalah 108 kapal adalah 53,97% hal ini menunjukkan bahwa tingkat penggunaan dermaga pada terminal petikemas masih belum ideal, atau penggunaan dermaga pada kurun waktu tersebut masih agak jarang.

(7)

5.2 Saran

Adapun saran yang dapat diberikan penulis untuk pengembangan penelitian antara lain :

1. Dengan adanya penelitian ini khususnya tentang waktu tunggu pelayanan pemanduan dan penundaan agar dapat dilanjutkan mengingat besaran kerugian dari bahan bakar dan besarnya waktu tunggu kapal dalam menunggu pelayanan pemanduan maupun penundaan. Agar didapatkan hasil yang lebih spesifik agar dilakukan penelitian pada kapal pandu dan kapal tunda ketika kapal pandu dan kapal tunda yang dioperasikan di pelabuhan Tanjung Perak telah dilengkapi perangkat AIS (Automatic

Identification System), mengingat sampai saat peneliti

menyelesaikan penelitian ini belum ada kapal pandu dan kapal tunda yang dioperasikan di pelabuhan Tanjung Perak yang dilengkapi perangkat AIS (Automatic

Identification System). Dengan begitu maka penelitian

selanjutnya dapat langsung mengamati pergerakan dari kapal pandu dan kapal tunda yang sedang beroperasi. 2. Untuk penelitian selanjutnya terkait konsumsi bahan

bakar dapat di bagi menjadi bahan bakar mesin induk dan mesin bantu sehingga dapat diketahui kerugian bahan bakar yang dikeluarkan oleh mesin induk dan kerugian bahan bakar yang dikeluarkan oleh mesin bantu, sehingga dapat diketahui besaran biaya pengeluaran untuk konsumsi bahan bakar mesin induk, mesin bantu, dan totalnya.

3. Untuk pengolahan data AIS (Automatic Identification

System)dengan format .csv cukup memakan memori yang

berakibat terjadi delay cukup berarti ketika proses loading data dilakukan, maka disarankan untuk menggunakan web base yang dibuat ini terkoneksi langsung dengan server AIS (Automatic Identification System), perlu dibuatkan sebuah program yang dapat berfungsi

(8)

mengambil dan merelokasi data AIS (Automatic

Identification System) secara real time, tanpa batasan

memori tertentu, demi memudahkan proses kerja web dalam mengetahui tarif pemanduan, penundaan, konsumsi bahan bakar dari setiap kapal dan nilai Berth Occupancy

Ratio (BOR) secara real time berbasis internet.

4. Untuk pengolahan database disarankan agar pada penelitian selanjutnya lebih fokus pada salah satu topik penelitian agar pada pengolahan database tidak terlalu banyak memuat database dan pada pengolahan analisa perhitungan tidak terlalu banyak script yang dibuat sehingga menyebabkan delay yang cukup lama dalam menampilkan informasi dari hasil data yang di analisa. 5. Untuk membuat data dari perangkat AIS (Automatic

Identification System) dapat menampilkan sebuat

informasi yang realtime diperlukan untuk dapat langsung membaca port dari perangkat AIS receiver sehingga di dapatkan data sesuai waktu yang diharapkan, untuk menampilkan pergerakan kapal secara berlanjut tanpa harus melakukan refresh page pada browser diperlukan adanya perangkat tambahan seperti radar, dan peta harus dibuat sendiri karena untuk google maps dapat digunakan berlanjut pada satu objek sehingga diperlukan refresh

page pada browser untuk melihat pergerakan kapal.

6. Untuk mempermudah dalam penelitian selanjutnya disarankan agar peneliti selanjutnya bekerjasama dengan peneliti dari beberapa bidang penelitian yaitu dari bidang elektro, untuk meneliti terkait tentang hardware dari perangkat AIS (Automatic Identification System), dari bidang teknologi informasi terkait pembuatan script untuk

interface web maupun program yang sedang di teliti dan

yang akan dibuat.

7. Dari penelitian yang telah dilakukan maka peneliti menyarankan beberapa topik penelitian yang dapat dilakukan untuk penelitian selanjutnya antara lain;

(9)

1. Pemantauan kinerja kapal pandu dan kapal tunda di pelabuhan Tanjung Perak dengan menggunakan data AIS (Automatic Identification

System)dan shipping database secara realtime.

2. Analisa kerugian biaya konsumsi bahan bakar akibat waktu tunggu pelayanan pemanduan dan penundaan di pelabuhan Tanjung Perak dengan menggunakan data AIS (Automatic Identification

System)dan shipping database.

3. Analisa kerugian biaya akibat berkurangnya waktu efektif kapal dalam pengiriman barang yang disebabkan lamanya waktu tunggu pelayanan pemanduan dan penundaan di pelabuhan Tanjung Perak dengan menggunakan data AIS (Automatic Identification System)dan shipping database.

4. Analisa penumpukan emisi kapal akibat operasional kapal menunggu pelayanan pemanduan dan penundaan di wilayah pelabuhan Tanjung Perak dengan menggunakan data AIS (Automatic Identification System)dan shipping database.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :