31
Perbedaan Pengaruh Promosi Kesehatan Tentang HIV/AIDS Melalui Video Animasi Dengan Film Pendek Terhadap Pengetahuan Remaja Di SMP Negeri 3 Tasikmalaya Tahun 2020
Sindiana Putri1, Wiwin Mintarsih Purnamasari2, Etin Rohmatin3 1,2,3
Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, email: [email protected] ABSTRAK
Salah satu upaya untuk menekan laju penyebaran HIV/AIDS yaitu dengan memberikan pendidikan kesehatan HIV/AIDS sejak dini pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh promosi kesehatan tentang HIV/AIDS melalui media video animasi dan media film pendek terhadap pengetahuan remaja. Desain Penelitian menggunakan Quasi Eksperimental dengan pendekatan two group pre-test dan post-test design, jumlah sampel sebanyak 77 remaja menggunakan tekhnik simple random sampling. Dimana 39 pada kelompok media video animasi dan 39 untuk kelompok media film pendek. Analisa data menggunakan uji statistik yaitu Uji T-test sampel paired. Hasil penelitian menunjukkan gambaran pengetahuan remaja sebelum diberikan promosi kesehatan adalah baik, media video animasi 58,9% dan media film pendek 66,7%. Hasil gambaran pengetahuan remaja sesudah diberikan promosi kesehatan adalah baik, media video animasi 71,8% dan media film pendek 76,9%. dari hasil uji statistik didapatkan Nilai sig (2-tailed) 0,005 < 0,05 dan Nilai sebesar 2,593 > dari nilai sebesar 0,319 dan nilai signifikansi 0,005 < Level of Significant = 0,05. Dapat disimpulkan bahwa Terdapat pengaruh promosi kesehatan melalui media video animasi dan media film pendek terhadap pengetahuan remaja di SMP Negeri 3 Tasikmalaya.
Kata Kunci: HIV/AIDS, Film Pendek, Video Animasi, Pengetahuan, Promosi Kesehatan
ABSTRACT
One effort to reduce the spread of HIV / AIDS is to provide HIV / AIDS health education early on in adolescents. This study aims to determine the different effects of health promotion about HIV / AIDS through animated video media and short film media on adolescent knowledge. The research design used Quasi Experimental with two group pre-test and post-test design approaches, the number of samples was 77 adolescents using simple random sampling technique. Where 39 in the video animation media group and 39 in the short film media group. Analysis of data using Statistical test is a paired sample T-test. The results showed that the description of adolescent knowledge before being given health promotion was good, 58.9% of animation video media and 66.7% of short film media. The results of the description of adolescent knowledge after being given a health promotion are good, the media video animation 71.8% and 76.9% short film media. from the statistical test results obtained a sig (2-tailed) value of 0.005 <0.05 and a value of 2.593> from a value of 0.319 and a significance value of 0.005 <Level of Significant = 0.05. Can be concluded that There is an influence of health promotion through animated video media and short film media on the knowledge of teenagers in SMP Negeri 3 Tasikmalaya.
32 PENDAHULUAN
Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan retrovirus yang menginfeksi sel-sel dalam sistem kekebalan tubuh, menghancurkan atau merusak fungsi sel tersebut. Selama berlangsungnya infeksi, sistem kekebalan tubuh menjadi lemah, dan orang menjadi lebih rentan mengalami infeksi. Hal ini dapat memakan waktu 10-15 tahun, dari orang yang terinfeksi HIV untuk berkembang menjadi AIDS dan obat antiretroviral dapat memperlambat proses menjadi berat. HIV ditularkan melalui hubungan seksual dengan penderita tanpa pengaman, transfusi darah yang terkontaminasi, penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi, dan antara ibu dan bayinya selama kehamilan, melahirkan dan menyusui.1
Penyakit HIV/AIDS merupakan suatu penyakit yang terus berkembang dan menjadi masalah global yang melanda dunia. Masalah HIV/AIDS diyakini bagaikan fenomena gunung es karena jumlah kasus yang dilaporkan tidak mencerminkan masalah yang sebenarnya.2 Pada akhir tahun 2016 diestimasikan 36,7 juta orang di dunia hidup dengan HIV, sebanyak 1,8 juta orang baru terinfeksi HIV, dan menyebabkan 1 juta kematian pada tahun 2016.3 Di dunia tercatat 34,5 juta orang terjangkit HIV dengan penderita wanita sebesar 17,8 juta sedangkan penderita anak berusia kurang dari 15 tahun 2,1 juta.4 Asia Tenggara menduduki peringkat kedua sebagai penderita HIV terbanyak setelah Afrika, yakni 3,5 juta orang dengan 39% penderita HIV merupakan wanita dan anak perempuan.5
Laporan perkembangan HIV/AIDS di Indonesia Triwulan II Tahun 2019 jumlah kasus yang di
laporkan dari bulan April sampai dengan Juni 2019 11.519 orang, dimana sebagian besar pada kelompok umur 25-49 tahun (71,1%). Faktor risiko dari kasus HIV yang dilaporkan 18% merupakan Lelaki Seks Lelaki (LSL) dan 17% heteroseksual. Jumlah kumulatif kasus HIV yang dilaporkan sampai dengan Juni 2019 349.882 (60,7% dari estimasi odha tahun 2016 640.443). Jumlah kasus HIV yang dilaporkan dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2019 mengalami kenaikan tiap tahunnya, sedangkan kasus AIDS jumlah kasusnya relatif stabil setiap tahun. Provinsi Jawa Barat menduduki peringkat ketiga dengan jumlah kasus HIV tertinggi.6
Kasus baru HIV/AIDS teregister di kota Tasikmalaya tahun 2017-2019 yaitu 214 kasus. Tahun 2017 terdapat 68 kasus, tahun 2018 terdapat peningkatan sebanyak 99 kasus dan pada tahun 2019 sampai bulan juni 47 kasus.7
Kasus HIV/AIDS pada tahun 2018 menurut kelompok umur yaitu :
Usia Kasus 1-10 tahun 4 kasus 11-20 tahun 7 kasus 21-30 tahun 36 kasus 31- 40 tahun 35 kasus 41- 50 tahun 13 kasus 51- 60 tahun 3 kasus >61 tahun 1 kasus
Sumber: Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, 2019
Jumlah kasus HIV yang dilaporkan terus meningkat setiap tahun, sementara jumlah AIDS relative stabil. Hal ini menunjukan semakin banyak ODHA yang mengetahui statusnya pada stadium awal, namun perlu adanya dukungan baik tenaga kesehatan maupun keluarga, agar ODHA segera memulai pengobatan.6
33 Salah satu upaya untuk menekan laju penyebaran HIV/AIDS yaitu dengan memberikan pendidikan kesehatan HIV/AIDS sejak dini pada remaja, hal ini dimungkinkan karena kurangnya informasi terkait HIV/AIDS pada remaja.8
Pengetahuan remaja di Indonesia usia 15-19 tahun seputar kesehatan reproduksi termasuk HIV/AIDS masih belum memadai. Informasi tentang HIV relatif banyak diterima oleh remaja, namun hanya 9,9% remaja perempuan dan 10,6% laki-laki yang memiliki pengetahuan komprehensif mengenai HIV/AIDS.9 Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rizyana (2012), tingkat pengetahuan siswa di salah satu SMA kota Padang tentang HIV/AIDS masih tergolong rendah, hampir separuh responden berpengetahuan rendah (32,2%) dan besikap negatif (31,1%). Sehingga, dibutuhkan program pencegahan yang dikembangkan secara khusus untuk remaja.10
Peningkatan pengetahuan, sikap dan tindakan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya yaitu melakukan promosi kesehatan. Promosi kesehatan dilakukan dengan berbagai metode dan teknik ataupun media. Adapun metode dan teknik promosi kesehatan adalah suatu kombinasi antara cara-cara atau motode dan media yang digunakan dalam setiap pelaksanaan promosi kesehatan yang digunakan oleh pelaku promosi kesehatan untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada sasaran.11
Pengelompokan media berdasarkan perkembangan teknologi dibagi menjadi media cetak, audiovisual dan komputer. Audiovisual merupakan salah satu media yang menyajikan informasi atau pesan secara audiovisual.13
Audiovisual memberikan kontribusi yang sangat besar dalam perubahan perilaku masyarakat. Media audiovisual memiliki dua elemen yang masing-masing mempunyai kekuatan yang akan bersinergi menjadi kekuatan yang besar. Media ini memberikan stimulus pada pendengaran dan penglihatan, sehingga hasil yang diperoleh lebih maksimal. Hasil tersebut dapat tercapai karena pancaindera yang paling banyak menyalurkan pengetahuan ke otak adalah mata (kurang lebih 75% sampai 87%) sedangkan 13% sampai 25% pengetahuan diperoleh atau disalurkan melalui indera yang lain.13 Penelitian yang dilakukan Jusmiati (2012) didapatkan pendidikan kesehatan menggunakan media audiovisual efektif terhadap peningkatan pengetahuan tentang kemampuan merawat bayi baru lahir dengan nilai p value 0,00 pada α < 0,05.14
Hasil studi pendahuluan pada siswa SMP N 9 Tasikmalaya pada tanggal 22 November 2019, dari 20 orang siswa yang diberi pertanyaan mengenai HIV/AIDS. Didapati 50% siswa tidak mengetahui tentang HIV/AIDS, tidak mengetahui bagaimana cara penularannya, 50% siswa lainnya mengetahui istilah HIV/AIDS, 10% siswa mengetahui dengan benar cara penularan HIV/AIDS. Sedangkan semua siswa menyatakan mengetahui bahwa HIV/AIDS menular tetapi tidak mengetahui dengan benar bagaimana cara penularannya. Dari hasil studi pendahuluan juga didapatkan dari 20 siswa menyatakan bahwa materi mengenai HIV/AIDS sangat penting dan siswa membutuhkan informasi mengenai HIV/AIDS tersebut.
34 Hasil Studi Pendahuluan Media
Media Jumlah Siswa
Siswi Aplikasi 4 Leafleat 3 Power Point 3 Seminar 2 Audiovisual 8
Sumber : Siswa Kelas VIII SMP Negeri 9 Tasikmalaya
Sedangkan untuk media sebanyak 16% siswa memilih media promosi kesehatan audiovisual dengan alasan bahwa media audiovisual lebih efektif dan menarik. Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ”Perbedaan Pengaruh Promosi Kesehatan Tentang HIV/AIDS Melalui Video Animasi dengan Film Pendek Terhadap Pengetahuan Remaja di SMP Negeri 3 Tasikmalaya Tahun 2020.
METODE
Penelitian ini menggunakan metode Quasi Eksperimental dengan pendekatan two group pre test dan post test design. Kedua kelompok diberikan intervensi yang berbeda. Kelompok intervensi pertama dengan media video animasi dan kelompok intervensi kedua dengan media film pendek. Dilaksanakan di SMP Negeri 3 Tasikmalaya. Penelitian ini dilakukan pada bulan maret sampai dengan bulan Juni 2020. Populasi pada penelitian ini yaitu seluruh siswa siswi kelas VIII SMP Negeri 3 Tasikmalaya dengan jumlah 342 siswa. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik simple random sampling. Setelah di lakukan perhitungan jumlah sampel masing masing kelas, untuk mencapai jumlah sampel yang di
inginkan, peneliti melakukan pengambilan dengan cara pencabutan nomor absen secara acak sebanyak jumlah yang diinginkan untuk mewakili sampel dari masing-masing kelas. Untuk kelompok perlakuan media video animasi dilakukan dengan pencabutan secara acak nomor absen genap dan untuk kelompok perlakuan film pendek dilakukan dengan pencabutan secara acak nomor absen ganjil. Karena adanya wabah covid-19 khususnya di wilayah kota Tasikmalaya untuk pengambilan data dengan media film pendek dilakukan secara online.
Teknik Pengumpulan Data
Diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada responden secara manual dan online.
Metode Pengolahan dan Rancangan Analisa Data
Penelitian ini menggunakan analisis Univariate dan Bivariate yang disajikan dalam bentuk tabel distribusifrekuesi diilakukan dengan menggunakan proggram software SPSS. Instrumen
Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner yang di dapat dari jurnal Reski Matte dari fakultas kedokteran dan ilmu kesehatan Universitas Negeri Islam Alauddin Makasar dalam skripsi nya yang berjudul efektivitas pendidikan kesehatan melalui media flip chart dan media video terhadap pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS di SMA Negeri 10 Gowa tahun 2018.
35 HASIL
Tabel 1 Gambaran pengetahuan remaja sebelum diberikan promosi
kesehatan tentang HIV/AIDS melalui video animasi dengan film
pendek Tingkat Pengetahuan PreTest Video Animasi PreTest Film Pendek F % F % Kurang 10 25,7% 11 28,2% Cukup 6 1 5,4% 2 5.1% Baik 23 58,9% 26 66,7% Total 39 100% 39 100%
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok media video animasi, sebagian besar remaja memiliki pengetahuan tentang HIV/AIDS kategori baik dimana responden yang memiliki pengetahuan kurang sebanyak 10 orang (25,7%), responden yang memiliki pengetahuan cukup sebanyak 6 orang (15,4%) dan responden yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 23 orang(58,9%).
Pada kelompok media film pendek, sebagian besar responden juga memiliki pengetahuan yang baik. Hal ini ditunjukkan dengan data yang memiliki pengetahuan kurang adalah sebanyak 11 orang (28,2%) dan responden yang memiliki pengetahuan cukup sebanyak 2 orang (5,1%) dan responden yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 26 orang (66,7%).
Tabel 2 Gambaran pengetahuan remaja sesudah diberikan promosi kesehatan tentang HIV/AIDS melalui video animasi dengan film pendek
Tingkat Pengetahuan
Post Test Video Animasi
Post Test Film Pendek F % F % Kurang 5 12,8% 8 20,51% Cukup 6 15,4% 1 2.56% Baik 28 71,8% 30 76,9% Total 39 100% 39 100%
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok media video animasi, terdapat responden yang memiliki pengetahuan kurang sebanyak 5 orang (12,8%), responden yang memiliki pengetahuan cukup adalah sebanyak 6 orang (15,4%) dan responden yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 28 orang (71,8%). Sedangkan pada kelompok media film pendek, terdapat responden yang memiliki pengetahuan kurang sebanyak 8 orang (20,51%), responden yang memiliki pengetahuan cukup sebanyak 1 orang (2,56%) dan responden yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 30 orang (76,9%).
Tabel 3 Uji Normalitas
Dari data hasil analisis diperoleh nilai signifikansi gain pada film pendek sebesar 0,376 > 0,05
Kelompok Shapiro-Wilk
Statistik Sig. Ket Film Pendek 0,940 0,376 Normal Video
36 maka data berdistribusi normal. Nilai signifikansi gain pada video animasi sebesar 0,124 > 0,05 maka data berdistribusi normal. Didapatkan semua data normal, tidak berpasangan data dapat diujikan secara parametric dengan uji analisis data menggunakan Uji Independent Sampel T-test.
Tabel 4 Pengaruh Promosi Kesehatan Tentang HIV/AIDS Melalui Video Animasi Terhadap Pengetahuan Remaja
Paried Sampel t-test Mean N Std. Devi ation Std.Err or Mean Sig . Pre-Test 22,71 39 7,31 1,1709 Post Test 24,20 39 6,53 1,0456 0,0 61 Pre-Test - Post Test 1,487 4,80 0,7687
Hasil analisis data menunjukan bahwa tingkat pengaruh promosi kesehatan tentang HIV/AIDS melalui video animasi saat pre-test memiliki nilai rata-rata 22,71. Tingkat pengaruh promosi kesehatan tentang HIV/AIDS melalui video animasi saat post-test 24,20. Maka dari hasil pre-test dan post-test pengaruh promosi kesehatan tentang HIV/AIDS melalui video animasi diperoleh mean difference senilai 1,49 yang berarti terdapat peningkatan pengetahuan sebelum dan s esudah diberikan promosi kesehatan melalui video animasi dengan nilai signifikansi 0,061 < level of significant = 0,05.
Tabel 5 Pengaruh Promosi Kesehatan Tentang Hiv/Aids Melalui Film Pendek Terhadap Pengetahuan Remaja
Paried Sampel t-test Mean N Std. Devia tion Std. Error Mean Sig. Pre Test 21,53 39 7,58 1,21 Post Test 24,69 39 8,06 1,29 0,00 2 Pre Test - Post Test 3,15 11,68 1,87
Hasil analisis data menunjukan bahwa tingkat pengaruh promosi kesehatan tentang HIV/AIDS melalui film pendek saat pre-test memiliki nilai rata-rata 21,53. Tingkat pengaruh promosi kesehatan tentang HIV/AIDS melalui film pendek saat post-test 24,69. Maka dari hasil pre-test dan post-test pengaruh promosi kesehatan tentang HIV/AIDS melalui film pendek diperoleh mean difference senilai 3,16 yang berarti terdapat peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan promosi kesehatan melalui film pendek dengan nilai signifikansi 0,002 < level of significant = 0,05..
Tabel 6 Perbedaan Rerata Pengetahuan Responden Sebelum dan Setelah Diberikan Promosi Kesehatan Tentang HIV/AIDS Melalui Video Animasi Dengan Film Pendek Penget ahuan N Me an S D S E t- Hit ung Sig.( 2-tailed ) Media Video 39 1,6 89 5, 45 0, 8 2,5 93 0,00 5
37 Anima si 7 7 3 Media Film Pende k 39 3,1 29 14 ,1 47 2, 2 6 5 2,5 93 Rata-rata pengetahuan responden yang diberikan promosi kesehatan dengan media video animasi adalah 1,689 dengan standar deviasi 5,457. Sedangkan rata-rata pengetahuan responden yang diberikan pendidikan kesehatan dengan media film pendek adalah 3,129 dengan standar deviasi 14,147. Hasil uji statistik didapatkan Nilai sebesar 2,593 > dari nilai sebesar 0,319 dan nilai signifikansi 0,005 < Level of Significant = 0,05.
PEMBAHASAN
Gambaran pengetahuan remaja sebelum diberikan promosi kesehatan tentang HIV/AIDS melalui media video animasi dengan film pendek
Penelitian dilakukan pada 39 responden berdasarkan kriteria yang sudah di tetapkan. Pada kelompok pre test media video animasi diperoleh sebanyak 10 responden temasuk kategori kurang dengan persentase (25,7%), kategori cukup 6 responden dengan persentase (15,4%) dan 23 responden dalam kategori baik dengan persentase (58,9%). Sedangkan pada kelompok pre test film pendek diperoleh sebanyak 28,2% kategori kurang, sebanyak 5,1% cukup dan 66,7% baik.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Wiridna menjelaskan
bahwa tingkat pengetahuan siswa-siswi tentang HIV/AIDS dipengaruhi oleh faktor informasi yang ada diterima, semakin baik dan semakin banyak informasi yang diterima siswa, maka semakin baik pula pengetahuan siswa dalam memahami HIV/AIDS. Sumber informasi mengenai HIV/AIDS dapat berasal dari mana saja seperti dari media massa, internet, ataupun dari penyuluhan – penyuluhan dari lembaga pendidikan ataupun pemerintahan.34 Hal ini membuat hasil test quisioner sebelum dilakukan penyuluhan promosi kesehatan menggunakan media video animasi dan film pendek masih ada responden yang tingkat pengetahuannya kurang.
Gambaran pengetahuan remaja sesudah diberikan promosi kesehatan tentang HIV/AIDS melalui video animasi dengan film pendek
Penelitian dilakukan pada 39 responden berdasarkan kriteria yang sudah di tetapkan. Pada kelompok post test media video animasi diperoleh sebanyak 12,8% kategori kurang, sebanyak 15,4% cukup dan 71,8% baik. Sedangkan pada kelompok post test film pendek diperoleh sebanyak 20,51% kategori kurang, sebanyak 2,56% cukup dan 76,9% baik.
Pada dasarnya jika seseorang diberikan pendidikan kesehatan atau penyuluhan atau pengajaran sebelumnya maka pengetahuan seseorang akan menjadi lebih baik. Hal tersebut diungkapkan pada penelitian Anisa tahun bahwa terdapat pengaruh pendidikan kesehatan melalui penyuluhan
38 terhadap pengetahuan dalam pencegahan HIV/AIDS pada remaja. Begitu pula menurut peneliti Mulyani tentang efektifitas penggunaan media film untuk meningkatkan minat dan hasil belajar ekonomi siswa kelas X dengan hasil 1) media film efektif untuk meningkatkan minat dan hasil belajar Ekonomi siswa, 2) terdapat perbedaan minat belajar siswa yang menggunakan media film dengan siswa yang tidak menggunakan media film, 3) terdapat perbedaan hasil belajar Ekonomi siswa yang menggunakan media film dengan siswa yang tidak menggunakan media film35.
Pengaruh promosi kesehatan tentang hiv/aids melalui media video animasi dengan media film pendek Hasil uji statistik didapatkan Nilai
sebesar 2,593 > dari nilai sebesar 0,319 dan nilai signifikansi 0,005 < Level of Significant = 0,05 maka terdapat perbedaan pengaruh antara media video animasi dan media film pendek.
Dengan demikian dapat disimpulkan dari perhitungan diatas hipotesis dapat diterima yang berarti Ada pengaruh promosi kesehatan tentang HIV/AIDS melalui video animasi dengan film pendek terhadap pengetahuan remaja.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Daryono,dkk tentang Efektifitas Penggunaan Media Animasi Untuk Meningkatkan Pengetahuan Tentang HIV/AIDS. Hasil penelitiannya menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara pengetahuan responden yang diberikan pendidikan kesehatan dengan menggunakan
media powerpoint dan menggunakan media animasi (p-value 0,005 dan α 0,05). Hal ini berarti penggunaan media animasi lebih efektif daripada media powerpoint dalam pemberian informasi tentang penyakit HIV/AIDS. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan Aspiawati (2018) tentang pengaruh pendidikan kesehatan berbasis media video animasi terhadap pengetahuan remaja tentang hiv/aids di smk negeri 2 makassar dengan hasil penelitiannya Ada pengaruh terhadap pengetahuan remaja sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan berbasis media video animasi tentang HIV/AIDS ( Pvalue = 0,000).
Menurut Mulyani, Penggunaan media film dalam pembelajaran merupakan salah satu hal yang melatarbelakangi peningkatan yang siginifikan pada hasil belajar siswa kelompok eksperimen. Hal ini karena pada masa perlakuan, siswa dituntut untuk lebih aktif mengamati, memahami dan menganalisis berbagai hal yang dilihat dan didengarnya dalam film tersebut. Hasil pengamatan ini diwujudkan dengan catatan pada poin-poin penting yang dibuat siswa selama film diputarkan. Bahkan, pada pelaksanaannya, film diputarkan sebanyak dua kali sebagaimana permintaan siswa. Dengan demikian siswa mampu membangun sendiri pengetahuannya melalui apa yang dilihat dan didengar. Pengalaman belajar inilah yang kemudian memberikan pengaruh pada peningkatan hasil belajar siswa35.
Dilihat dari pancaindra yang terlibat, Munadi berpendapat bahwa film adalah alat komunikasi yang
39 sangat membantu proses pembelajaran efektif. Apa yang terpandang oleh mata dan terdengar oleh telinga, lebih cepat dan lebih mudah diingat daripada apa yang hanya dapat dibaca saja atau didengar saja.19
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
1. Gambaran pengetahuan remaja sebelum diberikan promosi kesehatan tentang HIV/AIDS melalui media video animasi dan media film pendek di SMP Negeri 3 Tasikmalaya sebagian besar adalah baik. Untuk media video animasi 58,9% dan media film pendek 66,7%. 2. Gambaran pengetahuan
remaja sesudah diberikan promosi kesehatan tentang HIV/AIDS melalui media video animasi dan media film pendek di SMP Negeri 3 Tasikmalaya sebagian besar adalah baik. Untuk media video animasi 71,8% dan media film pendek 76,9%. 3. Terdapat perbedaan pengaruh
promosi kesehatan melalui media video animasi dan media film pendek terhadap pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS di SMP Negeri 3 Tasikmalaya dilihat dari hasil uji statistik didapatkan Nilai sig (2-tailed) 0,005 < 0,05 dan Nilai sebesar 2,593 > dari nilai sebesar 0,319 dan nilai signifikansi 0,005 < Level of Significant = 0,05.
Saran
1. Bagi Remaja
Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi, pengetahuan dan juga pendidikan untuk remaja yang memiliki anggota keluarga atau orang disekelilingnya yang belum mengetahui tentang HIV/AIDS.
2. Bagi Tempat Penelitian (Sekolah)
Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai media informasi pengetahuan bagi siswa mengenai HIV/AIDS.
3. Bagi Tenaga Kesehatan Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan dalam melakukan promosi kesehatan menggunakan media film pendek dan video animasi.
4. Bagi Institusi Pendidikan Diharapkan penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi dan referensi perpustakaan serta tindak lanjut sebagai bahan penelitian selanjutnya. DAFTAR PUSTAKA 1. WHO. HIV/AIDS[internet].2013 [cited 2013 November 20]. Available from: http://www.who.int/topics/hi v_aids/en/. 2. Hardisman, 2009.HIV/AIDS di Indonesia: Fenomena Gunung Es dan PerananPelayanan Kesehatan
40 Primer. Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol.3
3. WHO.2017. data dan Statisticts.
www.who.int/hiv/data/en diakses tanggal 31 Juli 2018. 4. UNAIDS. 2017. UNAIDS Data 2017. Ganeva: UNAIDS. 5. WHO.HIV/AIDS 19 November 2016. Available from : http://www.who.int 6. Sistem Informasi HIV/AIDS
(SIHA).2019.
7. Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya. Profil Kesehatan Kota Tasikmalaya.Tasikmalaya,20 18. 8. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, (2013). Pedoman Nasional Tes dan Konseling HIV dan AIDS. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
9. Kementrian Kesehatan Repblik Indonesia. (2017). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2016. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
10. Rizyana NP. Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Tindakan Pencegahan HIV/AIDS oleh Pelajar SMAN 8 Padang Tahun 2012. University A; 2012.
11. Notoatmodjo, S. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku.Jakarta:Rineka Cipta 12. Dermawan, A.C., dan Setiawati, S. (2008). Proses
Pembelajaran Dalam
Pendidikan Kesehatan. Jakarta: Trans info media. 13. Maulana, D.J Heri. (2009).
Promosi Kesehatan. Jakarta : EGC
14. Jusmiati.(2012).Efektifitas pendidikankesehatan
menggunakan media audiovisual terhadap tingkat pengetahuan dan kemampuan ibu merawat bayi baru lahir. Di Peroleh tanggal 2 Desember 2013 dari http://repository.unri.ac.id/JU SMI.pdf
15. Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain, 2006, Strategi Belajar Mengajar, Rineka Cipta, Jakarta.
16. Cahyanti ERS. 2010. Respon Murid SDN Kedoya Utara 04 Pagi teerhadap tayangan video animasi kisah-kisah nabi untuk peningkatan pengetahuan keagamaan. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
17. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V.Jakarta: Balai Pustaka, 2016.
18. Arief S.Sadirman, dkk., Pendidikan, Pengertian,
41
Pengembangan, dan
Pemanfaatannya. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007. 19. Yudhi Munadi, Media
Pembelajaran, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2010), h. 116.
20. Komang Ayu Agustina, dkk., Penggunaan Film Pendek, e-Journal Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Vol. 3, 2015, h. 4, (http:// undiksha.ac.id).
21. Notoatmodjo S. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta; 2010. 22. Ratnawati Muniningrum, 2009Pengaruh Kemandirian Belajar ....Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu 23. Widyastuti. Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Fitramaya; 2009 24. Kusmiran, E. 2011. Kesehatan Reproduksi Remaja dan Wanita. Jakarta : Salemba Medika.
25. Asmani, Jamal Ma’mur. 2012. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Yogyakarta : Diva Press. 26. Sunaryati, S.S. 2011. 14
Penyakit Paling Sering Menyerang dan Mematikan. Jogjakarta: Flash Books
27. Widoyono. Penyakit Tropis : Epidemiologi, Penularan,
Pencegahan, dan
Pemberantasannya. Jakarta: Erlangga; 2011.
28. KPAN.2010. Strategi dan Rencana Aksi Nasional Penanggulangan
HIVdanAIDSKPA. Depkes RI
29. Soedarto. (2012).Demam Berdarah Dengue, Dengue Haermorragic Fever.Jakarta: CV Sagung Seto
30. Kunoli, F. J. (2013). Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular. Jakarta: Trans Info Media.
31. Dwiyantari, Sri. (2013).
Usaha Pencegahan
Meluasnya Penyandang
HIV/AIDS Melalui
Pemberdayaan Keluarga Secara Terpadu: Studi Kasus Di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur dalam http://stisipwiduri.ac.id , diakses tanggal November 2016
32. Suryani, S.S. (2011). Penyakit Paling Sering Menyerang dan Mematikan. Jogjakartaa: Flash Books 33. Alfi Nurhidayat. (2012).
Dukungan Sosial Pada Penyandang HIV/AIDS Dewasa.Universitas
Muhammadiya Surakarta. 34. Wiridna, E. (2011). Faktor –
42 pengetahuan siswa–siswi tentang HIV/AIDS di SMAN 1 Sigli. Diperoleh pada tanggal 1 Juli 2020 dari http://www.ejournal.uui.ac.id /jurnal/.pdf.
35. Mulyani, Yasri (2016). Efektivitas penggunaan
media film untuk
meningkatkan minat dan hasil belajar ekonomi siswa kelas x. Diperoleh pada tanggal 1 Juli 2020 dari https://journal.uny.ac.id/index .php/hsjp