Vol. 13 No. 2 Desember 2018
Majalah Ilmiah Populer
ISSN 1907-6169
Terapi Gelombang
AKTUALITA
Deteksi Perubahan Garis Pantai Secara Multitemporal Di Wilayah
Sumatra Barat
Desain Program Antarmuka Sistem Data Akuisisi Terowongan
Angin Subsonik LAPAN
FAKTUALITA
Peran Perangkat Lunak Penjadwalan Misi Operasi Satelit
LAPAN-A3/LAPAN-IPB
SOSIALITA
Malcolm Baldridge Criteria For Performance Excellence (MBCFPE):
Alternatif Lain Untuk Pengukuran Kinerja
Terapi Gelombang Kejut Sebuah Terobosan Di Bidang Fisika Medik
Pemanfaatan Pesawat Amfibi Untuk Mendukung Indonesia
Sebagai Poros Maritim Dunia
Apa Itu Electromagnetic Compatibility?
Potensi Pesawat Amphibi sebagai transportasi di Kepulauan Riau
Indonesia
Mengenal Bandar Udara Perairan (Waterbase) sebagai Bandara
bagi Seaplane
Mengenal Komunikasi Radio Untuk Pengamatan Vertikal
DAFTAR ISI
Vol. 13 No. 2 Desember 2018
SUSUNAN REDAKSI MEDIA DIRGANTARA
Keputusan Kepala LAPAN Nomor 53 Tahun 2017 Tanggal 13 Maret 2017
Penanggung Jawab:
Ir. Christianus R. Dewanto, M.Eng
Redaktur:
Ir. Jasyanto, MM.
Penyunting Penyelia:
Moedji Soedjarwo, ST.
Penyunting Pelaksana:
Dr. Arif Nur Hakim; Nanin Anggraini, S.Si, M.Si;
Drs. Gunawan Admiranto; Indah Susanti, ST;
Suhata, S.Si, MM; Teuku Moh Ichwanul Hakim;
Dwi Risdianto, ST.
Redaksi Pelaksana:
Andriani Agustina, S.Sos; Dra Sri Rahayu;
Aprian Rizky Fauzi, S.Ik
Desain Grafis: M. Luthfi.
Sampul Depan
Ilustrasi Pesawat N219 Amfibi (doc. PT DI)
2
5
9
12
15
18
23
27
29
33
Pedoman Bagi Penulis Media Dirgantara
Media Dirgantara adalah majalah ilmiah populer yang ditulis dalam bahasa Indonesia untuk memasyarakatkan
perkembangan iptek dirgantara secara nasional. Sifat populer berarti istilah teknis dijelaskan secara populer dengan
bahasa sederhana, tidak menggunakan rumus-rumus dan tidak perlu daftar rujukan, kecuali menyebutkan sumber
yang bersifat umum seperti lazimnya koran/majalah populer. Gambar dan ilustrasi yang lebih menjelaskan isi tulisan
sangat diharapkan.
Media Dirgantara mengundang para penulis untuk mengirimkan naskah berupa hasil penelitian, kajian,
pengembangan, pemikiran, ulasan atau berita kedirgantaraan yang belum dipublikasikan atau dikirim ke media
publikasi manapun. Naskah yang dikirim akan dievaluasi Dewan Penyunting dari segi keaslian (orisinalitas),
kesahihan (validitas) ilmiah dan kejelasan pemaparan. Naskah yang tidak dimuat akan dikembalikan kepada penulis
dengan alasan penolakannya.
Naskah dikirimkan dalam format MS. Word, ke Sekretariat Redaksi Media Dirgantara, Jl. Pemuda Persil No. 1
Rawamangun, Jakarta 13220 atau melalui e-mail ke [email protected]; m.dirgantara @hotmail.com.
Vol. 13 No. 2 Desember 2018 Majalah Ilmiah Populer
ISSN 1907-6169 Terapi Gelombang Kejut Sebuah Terobosan di Bidang Fisika Medik Deteksi Perubahan Garis Pantai Secara Multitemporal Di Wilayah Sumatra Barat Desain Program Antarmuka Sistem Akuisisi Data Terowongan Angin Subsonik LAPAN
Alamat Penerbit :
BIRO KERJA SAMA, HUBUNGAN MASYARAKAT DAN UMUM
Jl. Pemuda Persil No. 1 Rawamangun Jakarta Timur 13220
Telepon: (021) 4892802 (Hunting) Fax: (021) 47882726
e-mail: [email protected], [email protected]
situs:http//www.lapan.go.id
http//jurnal.lapan.go.id
SALAM REDAKSI
Indonesia dikenal sebagai negara maritim karena wilayahnya yang luas yaitu terdiri dari
13 ribu pulau lebih yang dipisahkan oleh lautan. Kondisi geografis ini yang membuat pemerintah
tidak mudah dalam melaksanakan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia secara merata.
Moda transportasi yang paling cepat dan efisien sebagai penghubung antar pulau di Indonesia
adalah pesawat terbang. Mengingat, luasnya wilayah perairan, dengan garis pantai yang
panjang, maka Indonesia membutuhkan sebuah moda transportasi yang bisa beroperasi di darat
maupun di air seperti pesawat amfibi.
Pesawat amfibi adalah pesawat yang bisa melakukan take-off dan landing di daratan
maupun di perairan. Menurut sejarah, teknologi pesawat amfibi telah dikembangkan sejak
pertengahan abad 20. Menariknya, beberapa perusahaan pesawat di dunia mengembangkan
pesawat amfibi dengan memodifikasi pesawat transport atau komuter. Salah satunya adalah
pesawat Twin Otter pabrikan Kanada yang dimodifikasi menjadi pesawat amfibi dengan cara
menambahkan komponen tambahan berupa float. Komponen ini berguna untuk memberikan
daya apung pada saat pesawat berada di air. Namun konsekuensinya, akan ada pengurangan
jumlah penumpang yang bisa ditampung pada pesawat, untuk mengakomodir pemasangan
komponen tambahan ini.
Dalam terbitan kali ini, Media Dirgantara menyajikan berbagai tema yang dikemas
secara menarik dan khas dalam rubrik aktualita, faktualita, dan sosialita. Pada rubrik aktualita
berisi tentang Deteksi Perubahan Garis Pantai Secara Multitemporal di Wilayah Sumatera Barat,
Desain Program Antarmuka Sistem Data Akuisisi Terowongan Angin Subsonik LAPAN.
Sedangkan pada rubrik faktualita menginformasikan tentang artikel-artikel penelitian LAPAN
antara lain Peran Perangkat Lunak Penjadwalan Misi Operasi Satelit LAPAN-A3/ LAPAN-IPB.
Pada rubrik sosialita berisi tentang Malcolm Baldridge Quality for Performance Excellent
(Mbcfpe): Alternatif Lain untuk Pengukuran Kinerja, Terapi Gelombang Kejut Sebuah Terobosan
di Bidang Fisika Medik, Pemanfaatan Pesawat Amfibi untuk Mendukung Indonesia sebagai Poros
Maritim, Apa Itu Electromagnetic Compatibility?, Seaplane/Pesawat Amfibi sebagai Transportasi
di Kepulauan Riau Indonesia, Mengenal Bandar Udara Perairan (Waterbase) sebagai Bandara
bagi Seaplane, Mengenal Komunikasi Radio untuk Pengamatan Vertikal.
Semoga terbitan Media Dirgantara kali ini dapat menjadi referensi dan tambahan
wawasan bagi pembaca sekalian..
Selamat
Membaca
Alamat Penerbit :
BIRO KERJA SAMA, HUBUNGAN MASYARAKAT DAN UMUM
Jl. Pemuda Persil No. 1 Rawamangun Jakarta Timur 13220
Telepon: (021) 4892802 (Hunting) Fax: (021) 47882726
e-mail: [email protected], [email protected]
situs:http//www.lapan.go.id
http//jurnal.lapan.go.id
SALAM REDAKSI
Indonesia dikenal sebagai negara maritim karena wilayahnya yang luas yaitu terdiri dari
13 ribu pulau lebih yang dipisahkan oleh lautan. Kondisi geografis ini yang membuat pemerintah
tidak mudah dalam melaksanakan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia secara merata.
Moda transportasi yang paling cepat dan efisien sebagai penghubung antar pulau di Indonesia
adalah pesawat terbang. Mengingat, luasnya wilayah perairan, dengan garis pantai yang
panjang, maka Indonesia membutuhkan sebuah moda transportasi yang bisa beroperasi di darat
maupun di air seperti pesawat amfibi.
Pesawat amfibi adalah pesawat yang bisa melakukan take-off dan landing di daratan
maupun di perairan. Menurut sejarah, teknologi pesawat amfibi telah dikembangkan sejak
pertengahan abad 20. Menariknya, beberapa perusahaan pesawat di dunia mengembangkan
pesawat amfibi dengan memodifikasi pesawat transport atau komuter. Salah satunya adalah
pesawat Twin Otter pabrikan Kanada yang dimodifikasi menjadi pesawat amfibi dengan cara
menambahkan komponen tambahan berupa float. Komponen ini berguna untuk memberikan
daya apung pada saat pesawat berada di air. Namun konsekuensinya, akan ada pengurangan
jumlah penumpang yang bisa ditampung pada pesawat, untuk mengakomodir pemasangan
komponen tambahan ini.
Dalam terbitan kali ini, Media Dirgantara menyajikan berbagai tema yang dikemas
secara menarik dan khas dalam rubrik aktualita, faktualita, dan sosialita. Pada rubrik aktualita
berisi tentang Deteksi Perubahan Garis Pantai Secara Multitemporal di Wilayah Sumatera Barat,
Desain Program Antarmuka Sistem Data Akuisisi Terowongan Angin Subsonik LAPAN.
Sedangkan pada rubrik faktualita menginformasikan tentang artikel-artikel penelitian LAPAN
antara lain Peran Perangkat Lunak Penjadwalan Misi Operasi Satelit LAPAN-A3/ LAPAN-IPB.
Pada rubrik sosialita berisi tentang Malcolm Baldridge Quality for Performance Excellent
(Mbcfpe): Alternatif Lain untuk Pengukuran Kinerja, Terapi Gelombang Kejut Sebuah Terobosan
di Bidang Fisika Medik, Pemanfaatan Pesawat Amfibi untuk Mendukung Indonesia sebagai Poros
Maritim, Apa Itu Electromagnetic Compatibility?, Seaplane/Pesawat Amfibi sebagai Transportasi
di Kepulauan Riau Indonesia, Mengenal Bandar Udara Perairan (Waterbase) sebagai Bandara
bagi Seaplane, Mengenal Komunikasi Radio untuk Pengamatan Vertikal.
Semoga terbitan Media Dirgantara kali ini dapat menjadi referensi dan tambahan
wawasan bagi pembaca sekalian..
Selamat
Membaca
keanekaragaman hayati keragaman hasil perikanan seperti ikan, udang, kepiting, dan kerang.
Secara umum pantai didefinisi sebagai daerah di tepi perairan (laut) sebatas antara surut terendah dengan pasang tertinggi, sedangkan daerah pesisir adalah daratan pantai beserta perairannya di mana pada daerah tersebut masih terpengaruh oleh aktivitas darat maupun laut. Merujuk dari pernyataan ini dapat dikatakan bahwa pantai merupakan bagian transisi yang membatasi darat dan laut. Daerah pantai memiliki multifungsi pemanfaatan, di antaranya sebagai kawasan
I
ndonesia merupakan negarakepulauan dengan garis pantai lebih dari 8.100 Km serta memiliki luas laut sekitar 5,8 juta Km2 dan memiliki lebih dari
17.508 pulau, sehingga Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan dan keanekaragaman hayati laut yang melimpah. Begitu pula dengan wilayah pesisirnya. Pesisir adalah wilayah yang dinamis karena merupakan pertemuan antara daratan, lautan, dan udara. Ekosistem pesisir terdiri dari berbagai ekosistem pendukung seperti terumbu karang, padang lamun, dan mangrove yang di dalamnya terdapat
AKTUALITA
DETEKSI PERUBAHAN GARIS PANTAI
SECARA MULTITEMPORAL DI
WILAYAH SUMATRA BARAT
Bayu Setiawan1, Nanin Anggraini2, Kuncoro Teguh Setiawan2, Devica1, Natalia Br Ginting1, Syifa W. Adawiyah1 1Ilmu Kelautan-Universitas Sriwijaya;2 Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh - LAPAN
e-mail: [email protected]
AKTUALITA
DETEKSI PERUBAHAN GARIS PANTAI SECARA
MULTITEMPORAL DI WILAYAH SUMATRA
BARAT
Bayu Setiawan
1, Nanin Anggraini
2, Kuncoro Teguh Setiawan
2, Devica
1, Natalia Br Ginting
1, Syifa W. Adawiyah
1 1Ilmu Kelautan-Universitas Sriwijaya;
2Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh - LAPAN
e-mail: [email protected]
ndonesia merupakan negara kepulauan
dengan garis pantai lebih dari 8.100 Km serta
memiliki luas laut sekitar 5,8 juta Km
2dan
memiliki lebih dari 17.508 pulau, sehingga Indonesia
dikenal sebagai negara dengan kekayaan dan
keanekaragaman hayati laut yang melimpah. Begitu
pula dengan wilayah pesisirnya. Pesisir adalah wilayah
yang dinamis karena merupakan pertemuan antara
daratan, lautan, dan udara. Ekosistem pesisir terdiri
dari berbagai ekosistem pendukung seperti terumbu
karang, padang lamun dan mangrove yang didalamnya
terdapat keanekaragaman hayati keragaman hasil
perikanan seperti ikan, udang, kepiting, dan kerang.
Secara umum pantai didefinisi sebagai daerah di
tepi perairan (laut) sebatas antara surut terendah
dengan pasang tertinggi, sedangkan daerah pesisir
adalah daratan pantai beserta perairannya dimana
pada daerah tersebut masih terpengaruh oleh aktivitas
darat maupun laut. Merujuk dari pernyataan ini dapat
dikatakan bahwa pantai merupakan bagian transisi
yang membatasi darat dan laut. Daerah pantai memiliki
multifungsi pemanfaatan, diantaranya sebagai
kawasan pemukiman; kawasan industri dan
pertambangan; kawasan rekreasi dan wisata; tempat
mencari nafkah; pelabuhan; habitat bagi berbagai
organisme pantai dan lokasi penelitian
Perubahan yang terjadi pada wilayah pesisir dan
laut tidak hanya sekedar gejala alam saja, tetapi juga
adanya aktivitas manusia yang ada di sekitarnya.
Wilayah pesisir merupakan wilayah yang paling banyak
mendapat tekanan dibandingkan dengan wilayah
lainnya. Tekanan tersebut muncul dari adanya aktivitas
gejala alam meliputi: abrasi, akresi, gelombang pasang,
tsunami dan lain sebagainya, sedangkan aktivitas
manusia misalnya: reklamasi, konversi, pencemaran
dan lain sebagainya. Salah satu akibat dari perubahan
wilayah pesisir dan laut ini adalah perubahan garis
pantai. Garis pantai adalah garis pertemuan antara
pantai (daratan) dan air (lautan). Proses perubahan
garis pantai bisa terjadi dengan lambat maupun cepat
tergantung pada laju yang mempengaruhi perubahan
tersebut.
Di Indonesia, terdapat 17 provinsi dan 68 lokasi
yang rawan mengalami erosi (Diposaptono, 2003).
Pada tahun 2009, Badan Penanggulangan Bencana
Nasional (BNPB) merilis informasi terkait dengan lokasi
yang berisiko mengalami bencana gelombang
pasang/abrasi (Gambar 1).
Gambar 1. Peta Indeks Risiko Bencana Gelombang Pasang/Abrasi di Indonesia (Sumber: geospasial.bnpb.go.id)
I
pemukiman; kawasan industri dan pertambangan; kawasan rekreasi dan wisata; tempat mencari nafkah; pelabuhan; habitat bagi berbagai organisme pantai dan lokasi penelitian
Perubahan yang terjadi pada wilayah pesisir dan laut tidak hanya sekadar gejala alam saja, tetapi juga adanya aktivitas manusia yang ada di sekitarnya. Wilayah pesisir merupakan wilayah yang paling banyak mendapat tekanan dibandingkan dengan wilayah lainnya. Tekanan tersebut muncul dari adanya aktivitas gejala alam meliputi: abrasi, akresi, gelombang pasang, tsunami dan lain sebagainya, sedangkan aktivitas manusia misalnya: reklamasi, konversi, pencemaran dan lain sebagainya. Salah satu akibat dari perubahan wilayah pesisir dan laut ini adalah perubahan garis pantai. Garis pantai adalah garis pertemuan antara pantai (daratan) dan air (lautan). Proses perubahan garis pantai bisa terjadi dengan lambat maupun cepat tergantung pada laju yang mempengaruhi perubahan tersebut.
Di Indonesia, terdapat 17 provinsi dan 68 lokasi yang rawan mengalami erosi (Diposaptono, 2003). Pada tahun 2009, Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) merilis informasi terkait dengan lokasi yang berisiko mengalami bencana gelombang pasang/abrasi (Gambar 1).
Gambar 1. Peta Indeks Risiko Bencana Gelombang Pasang/Abrasi di Indonesia (Sumber: geospasial.bnpb.go.id)
AKTUALITA
Berdasarkan Gambar 1, salah satu lokasi yang berpotensi untuk mengalami adanya abrasi adalah Provinsi Sumatra Barat. Provinsi Sumatra Barat yang terletak antara 3° 50’ LS - 1° 20’ LU dan 98° 10’ - 102° 10’ BT dengan luas wilayah 42.297.30 Km2 atau setara dengan
2,21 persen dari luas Republik Indonesia. Mempunyai luas perairan (laut) ± 52.882,42 Km2 dengan
panjang pantai wilayah daratan ± 522 Km ditambah panjang garis pantai Kepulauan Mentawai ± 1.115 Km, sehingga total garis pantai keseluruhan ± 1.637 Km. Perairan laut ini memiliki 391 pulau-pulau besar dan kecil dengan pulau terbanyak dimiliki oleh Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Perairan barat Sumatera memiliki kondisi tektonik aktif, karena merupakan bagian dari pertemuan antara Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia yang dicirikan oleh kegempaan aktif. Gempa-gempa besar (di atas magnitude gempa 7) yang berpusat di dasar laut sering terjadi dengan kedalaman relatif dangkal. Gempa-gempa yang sering menimbulkan tsunami di perairan barat Sumatra tersebut perlu diwaspadai, terutama di kawasan pantai yang padat penduduk. Selain berpotensi terjadi tsunami, perairan barat Sumatra juga rentan terhadap perubahan garis pantai.
Garis pantai mengalami perubahan dari waktu ke waktu sejalan dengan perubahan alam seperti adanya aktivitas gelombang, arus, angin, pasang surut, dan sedimen yang ada di sekitar muara sungai. Apabila sedimen yang keluar lebih tinggi dari pada sedimen yang masuk, maka pantai akan mengalami erosi atau abrasi sehingga menyebabkan pengurangan pantai dan sebaliknya, apabila sedimen yang masuk lebih tinggi dari pada keluar maka pantai akan mengalami sedimentasi atau penambahan pantai. Selain karena peristiwa alam, perubahan garis pantai juga disebabkan oleh aktivitas manusia yang merubah ekosistem pantai. Perubahan ekosistem pantai seperti
halnya tumbuhan mangrove yang diubah menjadi tempat permukiman, tambak, industri, serta adanya reklamasi pantai sehingga terjadinya perubahan garis pantai. Oleh karena itu, untuk meminimalisir kerusakan dan kerugian maka diperlukan adanya monitoring terhadap perubahan tersebut, salah satunya dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh.
Salah satu data satelit penginderaan jauh yang dapat digunakan untuk deteksi perubahan lingkungan adalah Landsat. Landsat adalah satelit lingkungan dan hingga saat ini telah mencapai generasi yang ke delapan. Pada penelitian ini, data yang digunakan adalah Landsat 7 tahun 2000 dan Landsat 8 tahun 2018. Metode yang digunakan adalah pemisahan antara daratan dan perairan dengan algoritma
Normalized Difference Water Index (NDWI). McFeeters (2013)
menyatakan bahwa NDWI adalah algoritma yang digunakan untuk identifikasi badan air. Badan air menyerap kuat panjang gelombang sinar tampak dan infra merah. Nilai NDWI yang lebih besar dari nol diasumsikan sebagai badan air dan apabila nilai NDWI lebih kecil dari nol maka diasumsikan sebagai daratan. Berdasarkan hasil pengolahan NDWI, maka terlihat sekali batas antara daratan dan perairan, seperti yang ditampilkan pada Gambar 2.
AKTUALITA
3
Berdasarkan Gambar 1, salah satu lokasi yang berpotensi untuk mengalami adanya abrasi adalah Provinsi Sumatra Barat. Provinsi Sumatra Barat yang terletak antara 3° 50' LS - 1° 20' LU dan 98° 10' - 102° 10' BT dengan luas wilayah 42.297.30 Km2 atau setara
dengan 2,21 persen dari luas Republik Indonesia. Mempunyai luas perairan (laut) ± 52.882,42 Km2
dengan panjang pantai wilayah daratan ± 522 Km ditambah panjang garis pantai Kepulauan Mentawai ± 1.115 Km, sehingga total garis pantai keseluruhan ± 1.637 Km. Perairan laut ini memiliki 391 pulau-pulau besar dan kecil dengan pulau terbanyak dimiliki oleh Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Perairan barat Sumatera memiliki kondisi tektonik aktif, karena merupakan bagian dari pertemuan antara Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia yang dicirikan oleh kegempaan aktif. Gempa-gempa besar (di atas magnitude gempa 7) yang berpusat di dasar laut sering terjadi dengan kedalaman relatif dangkal. Gempa-gempa yang sering menimbulkan tsunami di perairan barat Sumatra tersebut perlu diwaspadai, terutama di kawasan pantai yang padat penduduk. Selain berpotensi terjadi tsunami, perairan barat Sumatra juga rentan terhadap perubahan garis pantai.
Garis pantai mengalami perubahan dari waktu ke waktu sejalan dengan perubahan alam seperti adanya aktivitas gelombang, arus, angin, pasang surut dan sedimen yang ada disekitar muara sungai. Apabila sedimen yang keluar lebih tinggi dari pada sedimen yang masuk, maka pantai akan mengalami erosi atau abrasi sehingga menyebabkan pengurangan pantai dan
sebaliknya, apabila sedimen yang masuk lebih tinggi dari pada keluar maka pantai akan mengalami sedimentasi atau penambahan pantai. Selain karena peristiwa alam, perubahan garis pantai juga disebabkan oleh aktivitas manusia yang merubah ekosistem pantai. Perubahan ekosistem pantai seperti halnya tumbuhan mangrove yang diubah menjadi tempat permukiman, tambak, industri serta adanya reklamasi pantai sehingga terjadinya perubahan garis pantai. Oleh karena itu, untuk meminimalisir kerusakan dan kerugian maka diperlukan adanya monitoring terhadap perubahan tersebut, salah satunya dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh.
Salah satu data satelit penginderaan jauh yang dapat digunakan untuk deteksi perubahan lingkungan adalah Landsat. Landsat adalah satelit lingkungan dan hingga saat ini telah mencapai generasi yang ke delapan. Pada penelitian ini, data yang digunakan adalah Landsat 7 tahun 2000 dan Landsat 8 tahun 2018. Metode yang digunakan adalah pemisahan antara daratan dan perairan dengan algoritma
Normalized Difference Water Index (NDWI). McFeeters
(2013) menyatakan bahwa NDWI adalah algoritma yang digunakan untuk identifikasi badan air. Badan air menyerap kuat panjang gelombang sinar tampak dan infra merah. Nilai NDWI yang lebih besar dari nol diasumsikan sebagai badan air dan apabila nilai NDWI lebih kecil dari nol maka diasumsikan sebagai daratan. Berdasarkan hasil pengolahan NDWI, maka terlihat sekali batas antara daratan dan perairan, seperti yang ditampilkan pada Gambar 2.
NDWI pada Landsat tahun 2000 NDWI pada Landsat tahun 2018
Gambar 2. Hasil Pengolahan NDWI Pada Data Landsat (sumber: diolah, 2018)
Selain dengan metode NDWI, untuk digitasi daratan juga digunakan tampilan citra secara visual (Red Green Blue). Berdasarkan hasil digitasi maka diperoleh garis pantai pada tahun 2000 dan 2018. Hasil overlay (tumpang susun) kedua garis pantai tersebut, maka dapat diketahui lokasi yang mengalami perubahan (Gambar 3).
Berdasarkan hasil overlay dari data Landsat tahun 2000 dan 2018, terlihat adanya perubahan garis pantai, yaitu di Puncak Mandeh, Muaro Pasar Baru, dan Sungai Nyalo. Pesisir Puncak Mandeh mengalami abrasi sejauh 525,1 meter (Gambar 3). Abrasi pada pantai Muaro Pasar Baru, Kabupaten Pesisir Selatan mengalami abrasi sejauh 1,38 Km (Gambar 4), dan di pantai Sungai Nyalo mengalami abrasi sejauh 570 m (Gambar 5). Peristiwa abrasi ini disebabkan karena tidak adanya penghalang gelombang yang berasal dari Samudra Hindia. Hal ini disebabkan oleh kerusakan mangrove dan terumbu karang di wilayah tersebut.
Terjadinya abrasi dan ganasnya ombak tidak terlepas dari rusaknya terumbu karang dan hutan mangrove yang berada di sekitarnya. Akibat dari rusaknya terumbu karang dan hutan mangrove, maka ombak dan gelombang laut lebih leluasa menggerus ke arah pantai. Selain Gambar 2. Hasil Pengolahan NDWI Pada Data Landsat (sumber: diolah, 2018)
AKTUALITA
Selain dengan metode NDWI, untuk digitasi daratan juga digunakan tampilan citra secara visual (Red Green Blue). Berdasarkan hasil digitasi maka diperoleh garis pantai pada tahun 2000 dan 2018. Hasil
overlay (tumpang susun) kedua garis pantai tersebut, maka dapat diketahui lokasi yang mengalami perubahan (Gambar 3).
Gambar 4. Perubahan Garis Pantai Pada Pantai Muaro Pasar Baru (Hasil Overlay Antara Tahun 2000 dan 2018) (sumber: diolah, 2018)
Gambar 5. Perubahan Garis Pantai Pada Pantai Sungai Nyalo (Hasil Overlay Antara Tahun 2000 dan 2018) (sumber: diolah, 2018)
Gambar 3. Perubahan Garis Pantai Pada Puncak Mandeh (Hasil Overlay Antara Tahun 2000 dan 2018) (sumber: diolah, 2018)
AKTUALITA
Selain dengan metode NDWI, untuk digitasi daratan juga digunakan tampilan citra secara visual (Red Green Blue). Berdasarkan hasil digitasi maka diperoleh garis pantai pada tahun 2000 dan 2018. Hasil
overlay (tumpang susun) kedua garis pantai tersebut, maka dapat diketahui lokasi yang mengalami perubahan (Gambar 3).
Gambar 4. Perubahan Garis Pantai Pada Pantai Muaro Pasar Baru (Hasil Overlay Antara Tahun 2000 dan 2018) (sumber: diolah, 2018)
Gambar 5. Perubahan Garis Pantai Pada Pantai Sungai Nyalo (Hasil Overlay Antara Tahun 2000 dan 2018) (sumber: diolah, 2018)
Gambar 3. Perubahan Garis Pantai Pada Puncak Mandeh (Hasil Overlay Antara Tahun 2000 dan 2018) (sumber: diolah, 2018)
AKTUALITA
Selain dengan metode NDWI, untuk digitasi daratan juga digunakan tampilan citra secara visual (Red Green Blue). Berdasarkan hasil digitasi maka diperoleh garis pantai pada tahun 2000 dan 2018. Hasil
overlay (tumpang susun) kedua garis pantai tersebut, maka dapat diketahui lokasi yang mengalami perubahan (Gambar 3).
Gambar 4. Perubahan Garis Pantai Pada Pantai Muaro Pasar Baru (Hasil Overlay Antara Tahun 2000 dan 2018) (sumber: diolah, 2018)
Gambar 5. Perubahan Garis Pantai Pada Pantai Sungai Nyalo (Hasil Overlay Antara Tahun 2000 dan 2018) (sumber: diolah, 2018)
Gambar 3. Perubahan Garis Pantai Pada Puncak Mandeh (Hasil Overlay Antara Tahun 2000 dan 2018) (sumber: diolah, 2018)
itu rusaknya terumbu karang juga mengakibatkan mulai langkanya ikan-ikan karang seperti kerapu dan kakap.
Kerusakan dan kehancuran terumbu karang mengancam kehidupan manusia beberapa tahun
yang akan datang, karena pemulihan kondisi terumbu karang memerlukan waktu yang sangat lama. Hancurnya pelindung pantai ini sangat mungkin mengakibatkan kawasan yang berada di tepi pantai akan ikut tenggelam
beberapa tahun ke depan. Oleh karena itu, diperlukan adanya sosialisasi untuk menyadarkan masyarakat pesisir pantai pentingnya peranan terumbu karang dan hutan mangrove untuk mencegah terjadinya abrasi.
Gambar 3. Perubahan Garis Pantai Pada Puncak Mandeh (Hasil Overlay Antara Tahun 2000 dan 2018) (sumber: diolah, 2018)
Gambar 4. Perubahan Garis Pantai Pada Pantai Muaro Pasar Baru (Hasil Overlay Antara Tahun 2000 dan 2018) (sumber: diolah, 2018)
Gambar 5. Perubahan Garis Pantai Pada Pantai Sungai Nyalo (Hasil Overlay Antara Tahun 2000 dan 2018) (sumber: diolah, 2018)
T
erowongan angin merupakan sarana penting yang digunakan dalam perancangan aerodinamika bagi pengembangan wahana terbang. Melalui pengujian terowongan angin dapat diketahui karakteristik aerodinamika model uji yang berupa gaya, momen dan secara visual dapat dipantau perilaku aliran udara yang bergerak disekitar model uji. Ilmu aerodinamika sendiri adalah ilmu terapan yang melibatkan gerakan pesawat terbang yang bergerak melalui udara dan reaksi udara ketika diganggu oleh pesawat (Hitchens 2015). Orang-orang aerodinamika menggunakan terowongan angin sebagai alat untuk menguji model dari benda terbang atau wahana yang mereka rancang (NASA 2018). Terowongan angin itu sendiri berfungsi sebagai alat untuk mensimulasikan kondisi saat benda atau wahana tersebut sedang bergerak atau terbang. Perbedaan antara simulasi dengan kondisi sesungguhnya adalah bahwa pada saat kondisi sesungguhnya benda tersebut yang bergerak sedangkan udara di sekitarnya relatif diam. Sedangkan pada saat di terowongan angin, benda tersebut yang diam sedangkan udara akan dialirkan melalui badan benda uji tersebut.AKTUALITA
DESAIN PROGRAM ANTARMUKA SISTEM
AKUISISI DATA TEROWONGAN ANGIN
SUBSONIK LAPAN
Jefri Abner Hamonangan – Pusat Teknologi Penerbangan
e-mail: [email protected]
erowongan angin merupakan sarana
penting yang digunakan dalam
perancangan aerodinamika bagi
pengembangan wahana terbang. Melalui pengujian
terowongan angin dapat diketahui karakteristik
aerodinamika model uji yang berupa gaya, momen dan
secara visual dapat dipantau perilaku aliran udara yang
bergerak disekitar model uji. Ilmu aerodinamika sendiri
adalah ilmu terapan yang melibatkan gerakan pesawat
terbang yang bergerak melalui udara dan reaksi udara
ketika diganggu oleh pesawat (Hitchens 2015).
Orang-orang aerodinamika menggunakan terowongan angin
sebagai alat untuk menguji model dari benda terbang
atau wahana yang mereka rancang (NASA 2018).
Terowongan angin itu sendiri berfungsi sebagai alat
untuk mensimulasikan kondisi saat benda atau wahana
tersebut sedang bergerak atau terbang. Perbedaan
antara simulasi dengan kondisi sesungguhnya adalah
bahwa pada saat kondisi sesungguhnya benda tersebut
yang bergerak sedangkan udara di sekitarnya relatif
diam. Sedangkan pada saat di terowongan angin,
benda tersebut yang diam sedangkan udara akan
dialirkan melalui badan benda uji tersebut.
Terowongan Angin
Terowongan angin subsonik milik LAPAN
merupakan terowongan angin tipe terbuka dimana
angin yang mengalir diambil dari udara terbuka dan
dihisap oleh 2 buah propeler (baling-baling) yang
berputar dalam arah berlawanan.
Terowongan angin subsonik LAPAN memiliki
spesifikasi umum sebagai berikut :
Luas penampang
: 1.75 m × 2.25 m
Kecepatan angin maksimum : 60 m/s
Panjang total seksi uji
: 10 m
Pada pengujian di terowongan angin hal-hal
yang perlu untuk diketahui adalah gaya dan momen
yang dialami oleh benda uji. Gaya dan momen tersebut
adalah gaya hambat (drag force), gaya angkat (lift
force), gaya ke samping (side force), momen angguk
(pitch moment), momen geleng (yaw moment) dan
momen putar (roll moment).
Gambar 1. Terowongan angin subsonik LAPAN
T
DESAIN PROGRAM
ANTARMUKA SISTEM AKUISISI
DATA TEROWONGAN ANGIN
SUBSONIK LAPAN
Jefri Abner Hamonangan – Pusat Teknologi Penerbangan e-mail: [email protected]
Gambar 1. Terowongan angin subsonik LAPAN
Terowongan Angin
Terowongan angin subsonik milik LAPAN merupakan terowongan angin tipe terbuka di mana angin yang mengalir diambil dari udara terbuka dan dihisap oleh 2 buah propeler (baling-baling) yang berputar dalam arah berlawanan.
Terowongan angin subsonik LAPAN memiliki spesifikasi umum sebagai berikut :
• Luas penampang : 1.75 m × 2.25 m
• Kecepatan angin maksimum : 60 m/s
• Panjang total seksi uji : 10 m
Pada pengujian di terowongan angin hal-hal yang perlu untuk diketahui adalah gaya dan momen yang dialami oleh benda uji. Gaya dan momen tersebut adalah gaya hambat (drag force), gaya angkat (lift force), gaya ke samping (side force), momen angguk (pitch moment), momen geleng (yaw moment), dan momen putar (roll moment).
External Balance
Untuk melakukan pengukuran gaya dan momen tersebut diperlukan sebuah instrumen yang disebut
balance. Pada terowongan angin
subsonik LAPAN digunakan external
balance. Saat ini external balance di
terowongan angin subsonik milik LAPAN hanya bisa mengukur 5 komponen gaya dan momen yaitu gaya hambat, gaya angkat, gaya ke samping, momen angguk dan momen geleng. Sebagai penopang model uji sekaligus penghubung antara model uji dan external balance digunakan
strut support.
Strut support kemudian
dihubungkan ke external balance yang berada di bawah seksi uji terowongan angin. Sistem mekanik dari external balance akan terhubung ke 5 buah load cell yang akan menjadi sensor dalam pengambilan data AKTUALITA
7
Gambar 2. Seksi Uji terowongan angin subsonik
Gambar 3. Gaya dan momen dari model uji terowongan angin. sumber: Samardžić, Anastasijević et al. 2014
External Balance
Untuk melakukan pengukuran gaya dan momen tersebut diperlukan sebuah instrumen yang disebut balance. Pada terowongan angin subsonik LAPAN digunakan external balance. Saat ini external balance di terowongan angin subsonik milik LAPAN hanya bisa
mengukur 5 komponen gaya dan momen yaitu gaya hambat, gaya angkat, gaya ke samping, momen angguk dan momen geleng. Sebagai penopang model uji sekaligus penghubung antara model uji dan external balance digunakan strut support.
AKTUALITA
7
Gambar 2. Seksi Uji terowongan angin subsonik
Gambar 3. Gaya dan momen dari model uji terowongan angin. sumber: Samardžić, Anastasijević et al. 2014
External Balance
Untuk melakukan pengukuran gaya dan momen tersebut diperlukan sebuah instrumen yang disebut
balance. Pada terowongan angin subsonik LAPAN
digunakan external balance. Saat ini external balance di terowongan angin subsonik milik LAPAN hanya bisa
mengukur 5 komponen gaya dan momen yaitu gaya hambat, gaya angkat, gaya ke samping, momen angguk dan momen geleng. Sebagai penopang model uji sekaligus penghubung antara model uji dan external
balance digunakan strut support.
AKTUALITA
Gambar 4. Strut support
Gambar 5. Sistem mekanik external balance terowongan angin subsonik LAPAN
Strut support kemudian dihubungkan ke external balance yang berada di bawah seksi uji terowongan
angin. Sistem mekanik dari external balance akan terhubung ke 5 buah load cell yang akan menjadi sensor dalam pengambilan data atau pengukuran gaya dan momen. Load cell merupakan sensor yang menghasilkan sinyal listrik yang disebabkan oleh
deformasi mekanik akibat gaya yang diterimanya (Gonzalez, Ezquerro et al. 2011).
Sistem Instrumentasi
Agar pengukuran gaya dan momen dapat dilakukan diperlukan suatu sistem instrumentasi yang dapat membaca keluaran dari load cell kemudian ditampilkan di layar komputer dan disimpan untuk keperluan desain lebih lanjut.
Strut support
AKTUALITA
Gambar 4. Strut support
Gambar 5. Sistem mekanik external balance terowongan angin subsonik LAPAN
Strut support kemudian dihubungkan ke external balance yang berada di bawah seksi uji terowongan
angin. Sistem mekanik dari external balance akan terhubung ke 5 buah load cell yang akan menjadi sensor dalam pengambilan data atau pengukuran gaya dan momen. Load cell merupakan sensor yang menghasilkan sinyal listrik yang disebabkan oleh
deformasi mekanik akibat gaya yang diterimanya (Gonzalez, Ezquerro et al. 2011).
Sistem Instrumentasi
Agar pengukuran gaya dan momen dapat dilakukan diperlukan suatu sistem instrumentasi yang dapat membaca keluaran dari load cell kemudian ditampilkan di layar komputer dan disimpan untuk keperluan desain lebih lanjut.
Strut support
Gambar 2. Seksi Uji terowongan angin subsonik
Gambar 3. Gaya dan momen dari model uji terowongan angin. sumber: Samardžić, Anastasijević et al. 2014
Gambar 4. Strut support
Gambar 5. Sistem mekanik external balance terowongan angin subsonik LAPAN
7
atau pengukuran gaya dan momen. Load
cell merupakan sensor yang menghasilkan
sinyal listrik yang disebabkan oleh deformasi mekanik akibat gaya yang diterimanya (Gonzalez, Ezquerro et al. 2011).
Sistem Instrumentasi
Agar pengukuran gaya dan momen dapat dilakukan diperlukan suatu sistem instrumentasi yang dapat membaca keluaran dari load cell kemudian ditampilkan di layar komputer dan disimpan untuk keperluan desain lebih lanjut.
• Perangkat Keras.
Perangkat keras yang digunakan untuk membaca keluaran atau mengakuisisi data dari sensor digunakan modul data akuisisi dari National Instrument.
NI cDAQ 9178 berfungsi sebagai chasis atau tempat meletakkan modul-modul akuisisi data. Pada sistem ini digunakan modul NI 9237 yang berfungsi untuk membaca masukan sinyal berupa regangan/
strain. Pemilihan modul ini didasarkan
oleh penggunaan sensor load cell yang di dalamnya tertanam strain gauge yang berfungsi sebagai sensor regangan sehingga mengeluarkan sinyal dalam bentuk regangan/strain.
• Perangkat Lunak
Agar keluaran dari sensor dapat dibaca dan disimpan maka diperlukan sebuah progam antarmuka yang dapat menghubungkan
AKTUALITA
9
Perangkat Keras.
Perangkat keras yang digunakan untuk membaca
keluaran atau mengakuisisi data dari sensor digunakan
modul data akuisisi dari National Instrument.
NI cDAQ 9178 berfungsi sebagai chasis atau tempat
meletakkan modul-modul akuisisi data. Pada sistem ini
digunakan modul NI 9237 yang berfungsi untuk
membaca masukan sinyal berupa regangan/strain.
Pemilihan modul ini didasarkan oleh penggunaan
sensor load cell yang di dalamnya tertanam strain
gauge yang berfungsi sebagai sensor regangan
sehingga mengeluarkan sinyal dalam bentuk
regangan/strain.
Perangkat Lunak
Agar keluaran dari sensor dapat dibaca dan disimpan
maka diperlukan sebuah progam antarmuka yang
dapat menghubungkan manusia sebagai operator dan
mesin yang mengakuisisi data. Pada sistem ini
digunakan juga salah satu produk dari National
Instrument yaitu LabVIEW yang terdiri dari 2 buah
jendela yaitu front panel dan block diagram. Front
panel adalah jendela yang merupakan antarmuka
operator dengan mesin, sedangkan block diagram
adalah tempat pembuatan kode atau program sesuai
dengan keperluan yang diinginkan.
Gambar 6. Modul akuisisi data terowongan angin subsonik LAPAN.
[M1]
Gambar 7. Front panel dan block diagram pada LabVIEW
NI cDAQ 9178
NI 9237
Front Panel Block diagram
AKTUALITA
9
Perangkat Keras.
Perangkat keras yang digunakan untuk membaca
keluaran atau mengakuisisi data dari sensor digunakan
modul data akuisisi dari National Instrument.
NI cDAQ 9178 berfungsi sebagai chasis atau tempat
meletakkan modul-modul akuisisi data. Pada sistem ini
digunakan modul NI 9237 yang berfungsi untuk
membaca masukan sinyal berupa regangan/strain.
Pemilihan modul ini didasarkan oleh penggunaan
sensor load cell yang di dalamnya tertanam strain
gauge yang berfungsi sebagai sensor regangan
sehingga mengeluarkan sinyal dalam bentuk
regangan/strain.
Perangkat Lunak
Agar keluaran dari sensor dapat dibaca dan disimpan
maka diperlukan sebuah progam antarmuka yang
dapat menghubungkan manusia sebagai operator dan
mesin yang mengakuisisi data. Pada sistem ini
digunakan juga salah satu produk dari National
Instrument yaitu LabVIEW yang terdiri dari 2 buah
jendela yaitu front panel dan block diagram. Front
panel adalah jendela yang merupakan antarmuka
operator dengan mesin, sedangkan block diagram
adalah tempat pembuatan kode atau program sesuai
dengan keperluan yang diinginkan.
Gambar 6. Modul akuisisi data terowongan angin subsonik LAPAN.
[M1]
Gambar 7. Front panel dan block diagram pada LabVIEW
NI cDAQ 9178
NI 9237
Front Panel Block diagram
AKTUALITA
9
Perangkat Keras.
Perangkat keras yang digunakan untuk membaca keluaran atau mengakuisisi data dari sensor digunakan modul data akuisisi dari National Instrument.
NI cDAQ 9178 berfungsi sebagai chasis atau tempat meletakkan modul-modul akuisisi data. Pada sistem ini digunakan modul NI 9237 yang berfungsi untuk membaca masukan sinyal berupa regangan/strain. Pemilihan modul ini didasarkan oleh penggunaan sensor load cell yang di dalamnya tertanam strain gauge yang berfungsi sebagai sensor regangan sehingga mengeluarkan sinyal dalam bentuk regangan/strain.
Perangkat Lunak
Agar keluaran dari sensor dapat dibaca dan disimpan maka diperlukan sebuah progam antarmuka yang dapat menghubungkan manusia sebagai operator dan mesin yang mengakuisisi data. Pada sistem ini digunakan juga salah satu produk dari National Instrument yaitu LabVIEW yang terdiri dari 2 buah jendela yaitu front panel dan block diagram. Front panel adalah jendela yang merupakan antarmuka operator dengan mesin, sedangkan block diagram adalah tempat pembuatan kode atau program sesuai dengan keperluan yang diinginkan.
Gambar 6. Modul akuisisi data terowongan angin subsonik LAPAN.
[M1]
Gambar 7. Front panel dan block diagram pada LabVIEW
NI cDAQ 9178
NI 9237
Front Panel Block diagram
AKTUALITA
Gambar 8. Front Panel Program Antarmuka Sistem data akuisisi terowongan angin subsonik LAPAN
Program antarmuka sistem akuisisi data terowongan angin subsonik bertujuan untuk menampilkan data dari gaya dan momen yang akan diukur sekaligus melakukan penyimpanan data. Tampilan data yang akan ditampilkan terdiri dalam bentuk grafik dan angka.
Pada Front Panel terdapat beberapa bagian yaitu : - Physical channel yang berfungsi untuk menentukan
channel mana saja yang akan digunakan untuk
melakukan pengukuran,
- Strain gauge information yang berfungsi sebagai penyedia informasi mengenai jenis dan spesifikasi
strain gauge yang digunakan sekaligus memberikan
input bagi perhitungan dalam modul akuisisi data, - Bridge Information berfungsi sebagai pemberi
informasi mengenai susunan rangkaian sensor strain gauge yang digunakan dan juga pemberi
informasi untuk perhitungan dalam modul akuisisi data.
- Lengan pitch dan yaw berfungsi dalam perhitungan momen pitch dan momen yaw.
- Tombol clear chart berfungsi untuk membersihkan grafik dari hasi pengukuran sebelumnya.
- Save data berfungsi untuk melakukan penyimpanan data hasil pengukuran
- Tombol reset berfungsi untuk mengatur nilai pengukuran awal menjadi nol.
- Tombol stop berfungsi untuk menghentikan program data akuisisi.
- Display grafik dan angka berfungsi untuk menampilkan hasil pengkuran atau data akuisisi dimana masing masing gaya (drag, lift, side) dan momen (pitch, yaw) ditampilkan dalam display yang terpisah.
Gambar 6. Modul akuisisi data terowongan angin subsonik LAPAN.
Gambar 7. Front panel dan block diagram pada LabVIEW
Gambar 8. Front Panel Program Antarmuka Sistem data akuisisi terowongan angin subsonik LAPAN
Vol. 13 No. 2 Desember 2018
AKTUALITA
manusia sebagai operator dan mesin yang mengakuisisi data. Pada sistem ini digunakan juga salah satu produk dari National Instrument yaitu LabVIEW yang terdiri dari 2 buah jendela yaitu front panel dan block
diagram. Front panel adalah jendela
yang merupakan antarmuka operator dengan mesin, sedangkan block
diagram adalah tempat pembuatan
kode atau program sesuai dengan keperluan yang diinginkan.
Program antarmuka sistem akuisisi data terowongan angin subsonik bertujuan untuk menampilkan data dari gaya dan momen yang akan diukur sekaligus melakukan penyimpanan data. Tampilan data yang akan ditampilkan terdiri dalam bentuk grafik dan angka.
Pada Front Panel terdapat beberapa bagian yaitu :
- Physical channel yang berfungsi untuk menentukan channel mana saja yang akan digunakan untuk melakukan pengukuran,
- Strain gauge information yang berfungsi sebagai penyedia informasi mengenai jenis dan spesifikasi strain gauge yang digunakan sekaligus memberikan input bagi perhitungan dalam modul akuisisi data,
- Bridge Information berfungsi sebagai pemberi informasi mengenai susunan rangkaian sensor strain gauge yang digunakan dan juga pemberi informasi untuk perhitungan dalam modul akuisisi data.
- Lengan pitch dan
yaw berfungsi dalam
perhitungan momen pitch dan momen yaw.
- Tombol clear chart
berfungsi untuk membersihkan grafik
dari hasi pengukuran sebelumnya.
AKTUALITA
11 Gambar 9. Block diagram program antar muka sistem akuisisi data terowongan angin subsonik LAPAN
Block diagram di atas terdiri dari beberapa proses yaitu :
Proses pembagian data pengukuran menjadi masing – masing gaya dan momen.
Proses perhitungan menggunakan formula hasil kalibrasi sehingga dihasilkan keluaran dalam
besaran berat (kg untuk gaya dan kgcm untuk momen).
Tampilan dalam bentuk grafik dan angka. Proses untuk reset nilai menjadi nol. Proses untuk clear chart saat akan melakukan pengukuran yang baru. Proses untuk menyimpan data hasil pengukuran.
- Save data berfungsi untuk
melakukan penyimpanan data hasil pengukuran - Tombol reset berfungsi
untuk mengatur nilai pengukuran awal menjadi nol.
- Tombol stop berfungsi untuk menghentikan program data akuisisi.
Display grafik dan angka berfungsi untuk menampilkan hasil pengkuran atau data akuisisi di mana masing masing gaya (drag, lift, side) dan momen (pitch, yaw) ditampilkan dalam display yang terpisah.
Block diagram di atas terdiri dari
beberapa proses yaitu :
• Proses pembagian data pengukuran menjadi masing – masing gaya dan momen.
• Proses perhitungan menggunakan formula hasil
kalibrasi sehingga dihasilkan keluaran dalam besaran berat (kg untuk gaya dan kgcm untuk momen).
Tampilan dalam bentuk grafik dan angka. Proses untuk reset nilai menjadi nol. Proses untuk clear chart saat akan melakukan pengukuran yang baru. Proses untuk menyimpan data hasil pengukuran.
Gambar 9. Block diagram program antar muka sistem akuisisi data terowongan angin subsonik LAPAN
FAKTUALITA
S
atelitLAPAN-A3/LAPAN-IPB adalah satelit mikro generasi ketiga buatan LAPAN yang dirancang di fasilitas Pusat Teknologi Satelit LAPAN Rancabungur, Bogor. Satelit ini memiliki berbagai misi antara lain misi pertama adalah pemantauan lahan, khususnya pertanian yang dilakukan dengan Institut Pertanian Bogor (IPB). Misi kedua adalah pemantauan kapal melalui AIS
FAKTUALITA
PERAN PERANGKAT LUNAK PENJADWALAN
MISI OPERASI
SATELIT LAPAN-A3/LAPAN-IPB
Desti Ika Suryanti – Pusat Teknologi Satyelit
e-mail : [email protected]
atelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB adalah satelit mikro
generasi ketiga buatan LAPAN yang dirancang di
fasilitas Pusat Teknologi Satelit LAPAN
Rancabungur, Bogor. Satelit ini memiliki berbagai misi
antara lain misi pertama adalah pemantauan lahan,
khususnya pertanian yang dilakukan dengan Institut
Pertanian Bogor (IPB). Misi kedua adalah pemantauan
kapal melalui AIS (Automatic Identification System).
Satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB mampu mendeteksi 2,4
juta kapal secara global. Data yang di peroleh dari
satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB akan melengkapi data
dari satelit LAPAN-A2/LAPAN-ORARI. Misi ketiga
adalah misi keilmuan yaitu pengukuran medan magnet
bumi dengan menggunakan muatan HFGM (Hybrid
FluxGate Magnetometer). Misi keempat adalah misi uji
eksperimen yang dikembangkan oleh peneliti dan
perekayasa LAPAN terkait uji sensor bintang (star
sensor) dan reaction wheel.
Untuk menunjang banyaknya misi yang
dilakukan satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB, maka pada
satelit ini dilengkapi fitur penjadwalan (scheduling).
Fitur penjadwalan ini memungkinkan satelit
LAPAN-A3/LAPAN-IPB di-input-kan perintah yang akan
dieksekusi pada tanggal dan waktu Universal Time
Coordinated (UTC) sesuai dengan urutan tanggal dan
waktu (UTC) yang telah disusun. Pembuatan jadwal
misi operasi satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB adalah
kegiatan rutin yang dilakukan oleh operator yang
bertugas setiap harinya. Dengan banyaknya misi yang
diemban oleh satelit ini, maka proses penyusunan
jadwal menjadi sangat krusial dan dibutuhkan
ketelitian dari operator yang bertugas. Adakalanya
operator melakukan kesalahan-kesalahan kecil dalam
penyusunan jadwal yang mengakibatkan satelit tidak
dapat menyelesaikan misinya. Kesalahan-kesalahan ini
yang menjadi pemicu perlu dibuatkannya aplikasi
perangkat lunak untuk penjadwalan misi operasi
satelit. Oleh karena itu perangkat lunak penjadwalan
misi operasi memiliki peranan penting yaitu
memudahkan operator dalam menyusun dan
membuat jadwal misi operasi satelit
LAPAN-A3/LAPAN-IPB serta meminimalisir kesalahan.
Gambar 1 memperlihatkan perangkat lunak
penjadwalan misi operasi satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB
yang terdiri dari kumpulan tab yang dikelompokkan
berdasarkan misi dari satelit, baris perintah yang berisi
tanggal dan waktu (UTC) eksekusi misi satelit, serta
notifikasi dari perangkat lunak tersebut.
Gambar 1. Tampilan Perangkat Lunak Penjadwalan Misi Operasi Satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB [sumber:Pusteksat]
S
PERAN PERANGKAT LUNAK
PENJADWALAN MISI OPERASI
SATELIT LAPAN-A3/LAPAN-IPB
Desti Ika Suryanti – Pusat Teknologi Satyelit e-mail : [email protected]
(Automatic Identification System). Satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB mampu mendeteksi 2,4 juta kapal secara global. Data yang diperoleh dari satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB akan melengkapi data dari satelit LAPAN-A2/LAPAN-ORARI. Misi ketiga adalah misi keilmuan yaitu pengukuran medan magnet bumi dengan menggunakan muatan HFGM (Hybrid FluxGate Magnetometer). Misi keempat adalah misi uji
eksperimen yang dikembangkan oleh peneliti dan perekayasa LAPAN terkait uji sensor bintang (star
sensor) dan reaction wheel.
Untuk menunjang banyaknya misi yang dilakukan satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB, maka pada satelit ini dilengkapi fitur penjadwalan (scheduling). Fitur penjadwalan ini memungkinkan satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB diinputkan perintah yang akan Gambar 1. Tampilan Perangkat Lunak Penjadwalan Misi Operasi Satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB [sumber:Pusteksat]
FAKTUALITA
dieksekusi pada tanggal dan waktu
Universal Time Coordinated (UTC)
sesuai dengan urutan tanggal dan waktu (UTC) yang telah disusun. Pembuatan jadwal misi operasi satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB adalah kegiatan rutin yang dilakukan oleh operator yang bertugas setiap harinya. Dengan banyaknya misi yang diemban oleh satelit ini, maka proses penyusunan jadwal menjadi sangat krusial dan dibutuhkan ketelitian dari operator yang bertugas. Adakalanya operator melakukan kesalahan-kesalahan kecil dalam penyusunan jadwal yang mengakibatkan satelit tidak dapat menyelesaikan misinya. Kesalahan-kesalahan ini yang menjadi pemicu perlu dibuatkannya aplikasi perangkat lunak untuk penjadwalan misi operasi satelit. Oleh karena itu perangkat lunak penjadwalan misi operasi memiliki peranan penting yaitu memudahkan operator dalam menyusun dan membuat jadwal misi operasi satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB serta meminimalisir kesalahan.
Gambar 1 memperlihatkan perangkat lunak penjadwalan misi operasi satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB yang terdiri dari kumpulan tab yang dikelompokkan berdasarkan misi dari satelit, baris perintah yang berisi tanggal dan waktu (UTC) eksekusi misi satelit, serta notifikasi dari perangkat lunak tersebut. Kumpulan tab yang diperlihatkan pada Gambar 1 terdiri dari :
Tab AIS
→ Berisi urutan perintah di mana operator memasukkan waktu untuk mengaktifkan
Payload Data Handling System
(PDHS) serta memasukkan alamat (address) yang dipilih. → Pada mode operasi ini, PDHS
menerima data AIS kemudian data AIS yang telah di format dikirimkan ke X-Band
transmitter.
Tab HFGM
→ Berisi urutan perintah di mana operator memasukkan waktu untuk mengaktifkan PDHS, HFGM, STS LPN serta memasukkan alamat (address) yang dipilih.
→ Pada mode operasi ini, PDHS menerima data magnetometer kemudian data magnetometer dikirimkan ke X-Band
transmitter.
Tab LISA
→ Berisi urutan perintah di mana operator memasukkan waktu start pengambilan gambar dan stop pengambilan gambar serta memasukkan alamat (address) yang dipilih. → Pada mode operasi ini, PDHS
menerima sinyal Pulse per
Clock (PPS) dan data kamera multispectral kemudian data
tersebut diformat melalui
Consultative Committee for Space Data System (CCSDS) formatter. Data yang
telah diformat kemudian disinkronisasi antara data
Attitude Control System
(ACS) dengan data kamera
multispectral sesuai dengan
waktu pengambilan gambar. Tab Spacecam
→ Berisi urutan perintah di mana operator memasukkan waktu start pengambilan gambar dan stop pengambilan gambar serta memasukkan alamat (address) yang dipilih. → Pada mode operasi ini, PDHS
menerima sinyal Pulse per
Clock (PPS) dan data kamera digital kemudian data
tersebut diformat melalui CCSDS formatter. Data yang telah diformat kemudian disinkronisasi antara data ACS dengan data kamera
digital sesuai dengan waktu
pengambilan gambar.
Tab Bolometer
→ Berisi urutan perintah di mana operator memasukkan waktu
start pengambilan gambar
dan waktu stop pengambilan gambar serta memasukkan alamat (address) yang dipilih. → Pada mode operasi ini, gambar
yang direkam disimpan dengan menggunakan
Digital Video recorder (DVR)
yang berada di satelit. Hasil rekaman yang tersimpan di DVR dapat di download ke stasiun bumi dengan menggunakan S-band antenna. Tab COM
→ Berisi urutan perintah di mana operator hanya memasukkan waktu Acquisition of Signal (AOS) untuk mengunduh data satelit dari stasiun bumi (Ground Station).
→ Pada mode operasi ini, PDHS mengirimkan data dari Random Access Memory (RAM) ke Flash memory sesuai dengan alamat yang dipilih dengan jumlah paket data yang telah ditentukan ke
X-Band transmitter.
Update TLE
→ Fitur ini digunakan untuk pembaharuan Two-Line Element (TLE) yang diperoleh
dari North American Aerospace
Defense Command (NORAD)
dengan mengakses www. celestrak.com.
Load_short
→ Fitur ini digunakan untuk pengecekan apakah jadwal yang dibuat oleh operator tidak terjadi double index, tumpang tindih waktu eksekusi satelit dalam menjalankan misinya. Contoh koreksi penjadwalan yang benar (tidak double index dan tumpang tindih waktu eksekusi satelit) dapat di lihat pada Gambar 2, sedangkan
FAKTUALITA
penjadwalan yang belum benar karena terjadi double
index dan waktu eksekusi
satelit/ tidak sesuai urutan dapat dilihat pada Gambar 3. Save
Fitur ini digunakan untuk menyimpan jadwal yang sudah dibuat oleh operator dalam format .pcdhs.
Gambar 2 menampilkan perangkat lunak penjadwalan misi operasi satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB ketika melakukan sorting jadwal. Berdasarkan gambar tersebut terjadi kesalahan nomor index pada pembuatan jadwal. Hal ini dapat dilihat pada kolom No, di mana pada kolom tersebut terlihat index 59 ada 2. Hal ini dapat dideteksi oleh perangkat lunak penjadwalan misi operasi dengan memberikan
background merah pada tampilan
perangkat lunak tersebut. Tindakan koreksi dalam hal ini yaitu operator yang bertugas merevisi nomor index sesuai dengan urutan atau langkah-langkah operasi misi satelit. Dengan adanya fitur sorting, operator yang bertugas dapat mendeteksi secara dini kesalahan pembuatan jadwal satelit sebelum jadwal di unggah ke satelit.
Gambar 3 menampilkan perangkat lunak penjadwalan misi operasi satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB setelah dilakukan perubahan nomor index sesuai dengan urutan atau langkah-langkah operasi misi satelit. Berdasarkan gambar di atas sudah tidak ada double index jadwal misi operasi satelit, waktu eksekusi satelit pada kolom start date and time sudah sesuai dengan urutan langkah-langkah operasi.
Dengan adanya perangkat lunak penjadwalan misi operasi satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB, kesalahan-kesalahan dalam pembuatan jadwal misi operasi satelit dapat diminimalisir serta satelit LAPAN-A3/ LAPAN-IPB dapat menjalankan misi yang diemban dan mencapai target misi yang diharapkan.
FAKTUALITA
Gambar 2 menampilkan perangkat lunak
penjadwalan misi operasi satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB
ketika melakukan sorting jadwal. Berdasarkan gambar
tersebut terjadi kesalahan nomor index pada
pembuatan jadwal. Hal ini dapat di lihat pada kolom
No, dimana pada kolom tersebut terlihat index 59 ada
2. Hal ini dapat dideteksi oleh perangkat lunak
penjadwalan misi operasi dengan memberikan
background merah pada tampilan perangkat lunak
tersebut. Tindakan koreksi dalam hal ini yaitu operator
yang bertugas merevisi nomor index sesuai dengan
urutan atau langkah-langkah operasi misi satelit.
Dengan adanya fitur sorting, operator yang bertugas
dapat mendeteksi secara dini kesalahan pembuatan
jadwal satelit sebelum jadwal di unggah ke satelit.
Gambar 3 menampilkan perangkat lunak
penjadwalan misi operasi satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB
setelah dilakukan perubahan nomor index sesuai
dengan urutan atau langkah-langkah operasi misi
satelit. Berdasarkan gambar di atas sudah tidak ada
double index jadwal misi operasi satelit, waktu eksekusi
satelit pada kolom start date and time sudah sesuai
dengan urutan langkah-langkah operasi.
Dengan adanya perangkat lunak penjadwalan
misi operasi satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB,
kesalahan-kesalahan dalam pembuatan jadwal misi operasi satelit
dapat diminimalisir serta satelit LAPAN-A3/ LAPAN-IPB
dapat menjalankan misi yang diemban dan mencapai
target misi yang diharapkan
Gambar 2. Tampilan sorting jadwal misi operasi Satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB [sumber:Pusteksat]
Gambar 3. Tampilan sorting jadwal misi operasi satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB,ketika terjadi kesalahan nomor index.[sumber:Pusteksat]
FAKTUALITA
Gambar 2 menampilkan perangkat lunak
penjadwalan misi operasi satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB
ketika melakukan sorting jadwal. Berdasarkan gambar
tersebut terjadi kesalahan nomor index pada
pembuatan jadwal. Hal ini dapat di lihat pada kolom
No, dimana pada kolom tersebut terlihat index 59 ada
2. Hal ini dapat dideteksi oleh perangkat lunak
penjadwalan misi operasi dengan memberikan
background merah pada tampilan perangkat lunak
tersebut. Tindakan koreksi dalam hal ini yaitu operator
yang bertugas merevisi nomor index sesuai dengan
urutan atau langkah-langkah operasi misi satelit.
Dengan adanya fitur sorting, operator yang bertugas
dapat mendeteksi secara dini kesalahan pembuatan
jadwal satelit sebelum jadwal di unggah ke satelit.
Gambar 3 menampilkan perangkat lunak
penjadwalan misi operasi satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB
setelah dilakukan perubahan nomor index sesuai
dengan urutan atau langkah-langkah operasi misi
satelit. Berdasarkan gambar di atas sudah tidak ada
double index jadwal misi operasi satelit, waktu eksekusi
satelit pada kolom start date and time sudah sesuai
dengan urutan langkah-langkah operasi.
Dengan adanya perangkat lunak penjadwalan
misi operasi satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB,
kesalahan-kesalahan dalam pembuatan jadwal misi operasi satelit
dapat diminimalisir serta satelit LAPAN-A3/ LAPAN-IPB
dapat menjalankan misi yang diemban dan mencapai
target misi yang diharapkan
Gambar 2. Tampilan sorting jadwal misi operasi Satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB [sumber:Pusteksat]
Gambar 3. Tampilan sorting jadwal misi operasi satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB,ketika terjadi kesalahan nomor index.[sumber:Pusteksat] Gambar 2. Tampilan sorting jadwal misi operasi Satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB [sumber:Pusteksat]
Gambar 3. Tampilan sorting jadwal misi operasi satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB,ketika terjadi kesalahan nomor index.[sumber:Pusteksat]
SOSIALITA
P
ersaingan menjadi nomenklatur yang paling sering diucapkan dewasa ini di tengah – tengah perkembangan dunia yang terus kompetitif. Entitas kini tak lagi berpikir untuk sekadar bertahan, namun juga harus kompetitif bahkan berkelanjutan (sustainable). Manajemen suatu entitas, tanpa terkecuali instansi pemerintah, kini pun berpikir keras untuk menyiapkan infrastruktur rencana aksi secara rinci untuk menerjemahkan “imajinasi” dan strateginya.Kunci persaingan di era globalisasi kini bertumpu pada kualitas total yang mencakup penekanan – penekanan pada kualitas produk, kualitas biaya atau harga, kualitas pelayanan, kualitas pengiriman yang tepat waktu, kualitas estetika, dan bentuk-bentuk kualitas lain yang terus berkembang guna memberikan kepuasan terus menerus kepada pelanggan agar tercipta pelanggan yang loyal (Hansen dan Mowen, 1999). Pendapat Hansen dan Mowen (1999) kemudian memantik pemikiran serius bahwa manajemen setidaknya kini harus memperhatikan dua hal, yakni keunggulan dan nilai. Berbagai metode pengukuran terhadap keunggulan dan nilai tersebut terus berkembang dan mengalami penyempurnaan, salah satunya melalui Malcolm Baldridge Criteria for Performance
Excellence (MBCfPE).
MBCfPE atau Kriteria Baldridge merupakan panduan entitas untuk mencapai kinerja bermutu tinggi yang terdiri dari 7 kriteria yaitu Kepemimpinan; Perencanaan Strategis; Fokus pada Pelanggan; Pengukuran, Analisis dan Manajemen Pengetahuan; Fokus pada Tenaga Kerja; Manajemen Proses; dan Hasil. Hingga medio 2018 ini terdapat lebih dari 71 negara yang telah mengadopsi konsep ini. Indonesia juga menjadi bagian yang ikut serta mengadopsi MBCfPE dan kini telah dijadikan Indonesian Quality Award (IQA) sebagai penghargaan atas kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
MALCOLM BALDRIDGE CRITERIA FOR
PERFORMANCE EXCELLENCE (MBCfPE):
ALTERNATIF LAIN UNTUK PENGUKURAN KINERJA
Brian Pratistha – Biro Perencanaan dan Keuangan e-mail: [email protected]
Tujuan utama penerapan konsep ini adalah agar entitas mampu memperbaiki kinerja dan meningkatkan kemampuan organisasi, memberikan fasilitas komunikasi antar lini dan berbagai informasi dari best practices yang dijalankan di organisasi lainnya, memelihara perkembangan kemitraan yang melibatkan industri maupun organisasi lain, dan menuntun dalam perencanaan dan pelatihan. Gasperz (2007) kemudian juga turut mendefinisikan
Tabel 1. Penilaian Kinerja Suatu Jurusan Dengan Kriteria Malcolm Baldridge National Quality Award dan Penentuan Ranking Menggunakan Analytic Network Process [Sumber Gambar: Singgih (2008)]
SOSIALITA
perlunya penerapan kriteria Baldridge pada setiap entitas yakni agar mampu mengidentifikasi setiap kekuatan dan kesempatan untuk perbaikan atau
opportunities for improvement (OFI) dari berbagai
area dan memberikan kerangka kerja untuk peningkatan menuju keunggulan kinerja dengan memberikan kebebasan kepada manajemen untuk melaksanakan strategi bisnis. Secara umum, kriteria
Baldridge berguna untuk pengukuran kinerja.
Terdapat tujuh kategori yang dinilai dalam kriteria Baldridge, yaitu:
• Kepemimpinan/Leadership (120 poin);
• Perencanaan Strategis/Strategic Planning (85 poin);
• Fokus Pelanggan/Customer Focus (85 poin); • Pengukuran, Analisis, dan Manajemen
Pengetahuan/ Measurement, Analysis, and Knowledge Management (90 poin);
• Fokus Tenaga Kerja/Workforce Focus (85 poin); • Fokus operasi kerja/ Operation Focus (85 poin);
dan
• Hasil-hasil/ Results (450 poin).
Unsur kepemimpinan dinilai dengan menunjukkan bagaimana para pemimpin memandu organisasi dengan rumusan visi, misi, nilai-nilai, komunikasi, fokus, dan aksi serta penilaian lain terhadap bagaimana entitas mampu menunjukkan bentuk tanggung jawab terhadap publik, adanya perilaku etik dan legal, dan sistem evaluasi kinerjanya.
Kriteria terkait strategi meliputi unsur penilaian terhadap proses pengembangan dan penyebarluasan strategi. Khusus terkait pengembangan strategi meliputi proses perencanaan strategi, inovasi, sistem kerja, dan kompetensi inti. Sedangkan pada penyebarluasan strategi meliputi pengembangan terhadap rencana aksi serta implementasi dan pengukurannya.
Kriteria fokus pada stakeholder meliputi pengetahuan tentang stakeholder dan hubungan
stakeholder dengan kepuasan. Pengetahuan
tentang stakeholder meliputi aktivitas entitas dalam mendengarkan kebutuhan, harapan, pilihan
stakeholder dan juga pasar untuk memastikan
keterkaitan antara kegiatan entitas dengan kebutuhan stakeholder nya tersebut. Sedangkan hubungan stakeholder dengan kepuasan yakni bentuk upaya untuk memperoleh dan mempertahankan pelanggan melalui jalinan hubungan maupun menindaklanjuti keluhan pelanggan.
Kriteria lainnya terkait pengukuran, analisa, dan pengetahuan manajemen dapat dinilai dengan pengujian bagaimana entitas mampu mengukur, menganalisa, menyusun, meninjau ulang, dan mengembangkan performanya sebagai penyedia layanan. Selain itu kriteria ini juga dapat diukur terkait kemampuan entitas dalam memastikan kualitas dan ketersediaan data dan informasi yang diperlukan oleh staff, supplier, peer, dan pelanggan lainnya.
Kriteria selanjutnya terkait fokus pada SDM dapat dinilai secara garis besar dengan kemampuan entitas dalam mengatur kapabilitas dan kapasitas setiap karyawannya agar mampu menyelesaikan tuntutan pekerjaan serta mampu untuk memelihara keselamatan, keamanan, dan iklim kerja yang mendukung. Selain itu, kriteria ini juga dapat dinilai dengan fasilitas entitas untuk memberikan penghargaan kepada staf agar mendorong pencapaian kinerja tertinggi.
Kriteria proses manajemen dapat dinilai dengan kemampuan mendesain, mengelola, dan meningkatkan kerja sistem untuk kepuasan
customer dan stakeholder. Selanjutnya kriteria
ini juga dapat diukur dengan kemampuan entitas dalam mendesain proses kerja untuk meningkatkan kepuasan customer dan stakeholder serta untuk menguji bagaimana cara mencapai keberhasilan yang berkelanjutan.
Kriteria terakhir dari kriteria Baldridge adalah hasil dimana entitas diukur dari kinerja dan peningkatan dari organisasi dalam lingkup hasil dan layanan yang diberikan, kepuasan pelanggan, kinerja pada sisi finansial, juga pasar yang berhasil dikuasainya, hasil-hasil dari tiap – tiap karyawan dan sistem kerja, kinerja operasional, tanggung jawab kepemimpinan dan masyarakat. Tingkat dari kinerja ini juga akan diuji oleh para pesaing dan organisasi lainnya yang bergerak dalam bidang yang sama.
Implementasi Kriteria Baldridge
Kriteria Baldridge menawarkan solusi strategis lainnya bagi pelaksanaan pengukuran kinerja. Konsep Baldridge juga menjanjikan kinerja entitas yang lebih transformasional dan visioner sehingga mampu mengubah dari sekadar “good” menjadi “great”. Pencapaian entitas akan diiringi dengan pencapaian luaran yang baik, raihan pangsa pasar yang baik, hubungan stakeholder yang lebih berkesinambungan, hingga mampu merawat hubungan harmonis dengan pelanggannya.
Dalam implementasinya, kriteria Baldridge kemudian juga bisa diterapkan di instansi pemerintah, tak terkecuali LAPAN. Bahkan sebagai tahap awal, penerapan kriteria Baldridge juga bisa diimplementasikan di lingkup LAPAN untuk menerapkan kriteria manajemen kinerja yang lebih baik. Setiap tahunnya kriteria Baldridge ini bisa dijadikan kategori perlombaan dalam suatu “LAPAN Award”. Hal ini juga sekaligus mendukung penerapan Reformasi Birokrasi di LAPAN karena kriteria Baldridge juga memiliki semangat yang sama dengan program Reformasi Birokrasi dimana transparansi menjadi kunci pelaksanaan perbaikan kinerja.
Sebagai tahap lanjutan dari implementasi, kriteria Baldridge juga bisa menjadi solusi untuk pelaksanaan pengukuran kinerja terhadap entitas penyelenggara teknologi keantariksaan bagi BUMN maupun swasta di seluruh Indonesia. Hal ini selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan dalam mendukung penyelenggaraan keantariksaan yang aman dan selamat serta mampu meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia.
Gambar dikutip dari laman www.texas-quality.org