11 2.1 Manajemen
James A.F. Stoner (Alam, 2004 : 102) mengatakan bahwa “Manajemen merupakan proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengawasan kegiatan anggota dan tujuan penggunaan organisasi yang sudah ditentukan”. Chr Jimmy L Gaol (2008:5) mengatakan bahwa “manajemen adalah proses kerja sama antara dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan”.
2.2 Strategis
Kata strategi berasal dari bahasa Yunani yang berarti strategos yang artinya komandan militer. Kita sering mendengar kata strategi dalam perang ataupun pertandingan olahraga. Saat ini kata strategi digunakan dalam berbagai bidang antara lain manajemen, perdagangan dan olahraga.
Siagian (2004) memberikan definisi strategi sebagai serangkaian keputusan dan tindakan mendasar yang dibuat oleh manajemen puncak dan diimplementasikan oleh seluruh jajaran suatu organisasi dalam rangka pencapaian tujuan organisasi tersebut. Dalam pengertian ini, strategi diartikan sebagai suatu keputusan atau kebijakan yang dibuat petinggi organisasi untuk mencapai tujuan organisasi dan kebijakan tersebut harus dilaksanakan oleh seluruh pihak dalam sebuah organisasi.
2.3 Manajemen Strategis
Manajemen strategis didefinisikan sebagai satu set keputusan dan tindakan yang menghasilkan formulasi dan implementasi rencana yang dirancang untuk meraih tujuan suatu perusahaan. Manajemen strategis mencakup perencanaan, pengarahan, pengorganisasian, dan pengendalian atas keputusan dan tindakan terkait strategi perusahaan. (Pearce, Robinson, 2008:5) Strategi menggambarkan bagaimana, kapan dan dimana perusahaan akan bersaing, dengan siapa perusahaan sebaiknya bersaing dan untuk tujuan apa perusahaan harus bersaing.
2.4 Minat Wirausaha
Menurut Fuadi (2009:93), “Minat berwirausaha adalah keinginan, ketertarikan, serta kesediaan untuk bekerja keras atau berkemauan keras untuk berusaha secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa merasa takut dengan resiko yang akan terjadi, serta berkemauan keras untuk belajar dari kegagalan.” Dengan adanya minat maka akan mendorong seorang untuk melakukan suatu aktivitas dari minatnya tersebut, karena di dalam minat terdapat dorongan dan motivasi yang menyebabkan seseorang melakukan apa yang menjadi minatnya. Kekuatan dorongan bagi seseorang dapat berubah sewaktu – waktu.
2.4.1. Minat
Slameto (2010:180) menyatakan bahwa “Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.”
Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2008:132), “minat adalah kecenderungan yang menetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas. Seseorang yang berminat terhadap aktivitas akan memperhatikan aktivitas itu secara konsisten dengan rasa senang.”
Minat adalah keinginan yang didorong oleh suatu keinginan setelah melihat, mengamati dan membandingkan serta mempertimbangkan dengan kebutuhan yang diinginkannya. (Belly, 2006:4)
2.4.2 Kewirausahaan
Kata wirausaha merupakan terjemahan dari kata entrepreneur. Kata tersebut berasal dari bahasa Prancis yaitu entreprendre yang berarti petualang, pengambil resiko, kontraktor, pengusaha (orang yang mengusahakan suatu pekerjaan tertentu), dan pencipta yang menjual hasil ciptaannya (Badry, 2014). Entrepreneurship / kewirausahaan adalah proses dimana kita menciptakan sesuatu yang berbeda yang bernilai, dengan mengorbankan waktu dan upaya yang diperlukan, dimana orang menanggung resiko finansial, psikologikal,
serta sosial, dan orang yang bersangkutan menerima hasil – hasil berupa imbalan moneter, dan kepuasan pribadi.
(David E. Rye dalam Irianto, 2010:15) mempresentasikan kewirausahaan sebagai pengetahuan terapan dari konsep dan teknik manajerial yang disertai risiko dalam mentransformasi sumberdaya menjadi output yang memiliki nilai tambah tinggi (value added). Menurut Hamdani (2010), wirausaha adalah seseorang yang bebas dan memiliki kemampuan untuk hidup mandiri dalam menjalankan kegiatan usaha atau bisnisnya. Seorang wirausaha bebas merancang, menentukan, mengelola, dan mengendalikan semua usahanya. Sedangkan kewirausahaan merupakan suatu sikap, jiwa, dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, bernilai, dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, bernilai, dan berguna bagi dirinya dan orang lain.
Entrepreneur / wirausaha adalah seorang yang dapat menemukan ide atau mengidentifikasikan sesuatu yang baru dan berguna sehingga menjadi suatu yang bernilai ekonomis. Ide tersebut selanjutnya menjadi barang, jasa atau kombinasi dari keduanya dan memberikan sejumlah keuntungan yang diperoleh dari hasil ide tersebut bagi diri sendiri, kelompok, dan perusahaan. Dengan kata lain seorang entrepreneur adalah orang yang dapat mengelola inovasi menjadi barang dan jasa yang bernilai ekonomis supaya dapat memberikan keuntungan bagi diei sendiri.
Berhubungan dengan pembangunan ekonomi, entrepreneur mampu mengendalikan dan mentransformasi perekonomian di dunia. Hal ini disebabkan karena esensi dari bisnis bebas dari kelahiran bisnis baru yang memberikan vitalitas bagi ekonomi pasar. Dengan kata lain, entrepreneur memberikan alternatif bagi tumbuhnya ekonomi. Proses ini dapat terlaksana pada pemerintahan yang baik dan bersih.
Menurut (Soegoto, 2010), ciri-ciri dan sifat dari seorang
enterpreneur adalah sebagai berikut:
a) Percaya diri
memiliki rasa keyakinan, kemandirian, individualitas, optimisme b) Berorientasi tugas dan hasil
Kebutuhan akan prestasi, berorientasi pada laba, memiliki ketekunan dan ketabahan, memiliki tekad yang kuat, suka bekerja keras, energik dan memiliki inisiatif
c) Berani mengambil resiko
memiliki kemampuan mengambil risiko dan suka pada tantangan. d) Kepemimpinan
Berjiwa pemimpin, dapat bergaul dengan orang lain dan suka terhadap saran atau kritik yang membangun.
e) keorisinilan
Memiliki inovasi dan kreatifitas tinggi, fleksibel, serba bias dan memiliki jaringan bisnis yang luas.
f) Berorientasi ke masa depan
Persepsi dan memiliki cara pandang atau cara pikir yang berorientasi pada masa depan.
g) Jujur dan tekun
Mengutamakan kejujuran dalam bekerja dan tekun dalam menyelesaikan kerja.
Sedangkan menurut Hisrich, et al. (2005: 18) dan Alma (2010:12), faktor yang memengaruhi minat wirusaha adalah lingkungan pendidikan, kepribadian seseorang dan lingkungan keluarga.
2.4.2.1 Indikator Minat Berwirausaha
Alma (2010:12) mengatakan minat berwirausaha seseorang dapat dilihat dari dua indikator utama yaitu: (1) seberapa kuat upaya seseorang untuk berani mencoba melakukan aktivitas kewirausahaan; (2) seberapa banyak upaya yang direncanakan seseorang untuk melakukan aktivitas kewirausahaan (seperti aktivitas dalam mengelola waktu dan keuangan untuk tujuan berwirausaha).
2.5 Sikap Percaya Diri
Sikap dinyatakan dengan istilah "attitude" yang berasal dari kata latin "aptus" yang berarti keadaan sikap secara mental yang bersifat subjektif
untuk melakukan kegiatan. Sikap seseorang terbentuk karena ada objek tertentu yang memberikan rangsang kepada dirinya. Sikap adalah bagian yang penting di dalam kehidupan sosial, karena kehidupan manusia selalu dalam berinteraksi dengan orang lain. Sikap dapat bersikap positif, dan negatif. Sikap positif memunculkan kecenderungan untuk menyenangi, mendekati, menerima, atau bahkan mengharapkan kehadiran kehadiran objek tertentu. Sedangkan sikap negative memunculkan kecenderungan untuk menjauhi, membenci, menghindari, menghindari ataupun tidak menyukai keberadaan suatu objek.
Pendapat lain dikatakan oleh (Fishben dalam Ramdhani, 2009:141) bahwa sikap adalah predisposisi emosional yang dipelajari untuk merespon secara konsisten terhadap suatu objek. Sementara itu, (Chaplin, 2009:141) menyamakan sikap sama dengan pendirian. Lebih lanjut dia mendefinisikan sikap sebagai predisposisi bertingkah laku atau bereaksi dengan cara tertentu terhadap orang lain, objek, lembaga atau persoalan tertentu.
(La Pierre dalam Azwar, 2007) memberikan definisi sikap sebagai suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah respon terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan. Sikap senantiasa diarahkan kepada sesuatu artinya tidak ada sikap tanpa obyek. Sikap diarahkan kepada benda, orang, peritiwa, pandangan, lembaga, norma.
(Gadaam, 2008) mengatakan bahwa sikap berwirausaha diukur dengan skala sikap berwirausaha dengan indikator tertarik dengan peluang usaha, berfikir kreatif dan inovatif, pandangan positif mengenai kegagalan usaha, memiliki jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab, dan suka menghadapi resiko dan tantangan.
Meskipun ada beberapa perbedaan pengertian sikap, tetapi berdasarkan pendapat-pendapat tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa sikap adalah keadaan diri dalam manusia yang menggerakkan untuk bertindak atau berbuat dalam kegiatan sosial dengan perasaan tertentu di dalam menanggapi obyek situasi atau kondisi di lingkungan sekitarnya. Selain itu sikap juga memberikan kesiapan untuk merespon yang sifatnya positif atau negatif terhadap obyek atau situasi.
Percaya diri merupakan modal dasar untuk pengembangan dalam aktualisasi diri (eksplorasi segala kemampuan dalam diri). Dengan percaya diri seseorang akan mampu mengenal dan memahami diri sendiri (Maslow dalam Iswidharmanjaya & Agung, 2004 : 13).
Seseorang yang memiliki rasa percaya diri akan berusaha sekeras mungkin untuk mengeksplorasi semua bakat yang dimilikinya. Seseorang yang memiliki rasa percaya diri akan menyadari kemampuan yang ada pada dirinya, mengetahui dan menyadari bahwa dirinya memiliki bakat, keterampilan atau keahlian sehingga orang tersebut akan bertindak sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya.
Percaya diri merupakan suatu keyakinan dalam jiwa manusia bahwa tantangan hidup apapun harus dihadapi dengan berbuat sesuatu. Percaya diri itu lahir dari kesadaran bahwa jika memutuskan untuk melakukan sesuatu, sesuatu itu pula yang harus dilakukan (Angelis, 2007: 10).
Percaya diri itu akan datang dari kesadaran seorang individu bahwa individu tersebut memiliki tekad untuk melakukan apapun yang harus dikerjakan, sampai tujuan yang ia inginkan tercapai. Tekad untuk melakukan sesuatu tersebut diikuti dengan rasa keyakinan bahwa ia memiliki kemampuan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Percaya diri adalah kepercayaan akan kemampuan sendiri yang memadai dan menyadari kemampuan yang dimiliki, serta dapat memanfaatkannya secara tepat (Hasan dalam Iswidharmanjaya & Agung, 2004 : 13). Rasa percaya diri yaitu suatu keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang dimilikinya dan keyakinan tersebut membuatnya merasa mampu untuk bisa mencapai berbagai tujuan di dalam hidupnya (Hakim, 2005: 6). Jadi, dapat dikatakan bahwa seseorang yang memiliki rasa percaya diri akan optimis di dalam melakukan semua aktivitasnya, dan mempunyai tujuan yang realistik, artinya individu tersebut akan membuat tujuan hidup yang mampu untuk dilakukan, sehingga apa yang direncanakan akan dilakukan dengan keyakinan akan berhasil atau akan mencapai tujuan yang telah ditetapkannya.
Percaya diri adalah sikap positif seorang individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan/situasi yang dihadapinya. Dimana individu
merasa memiliki kompetensi, yakin, mampu dan percaya bahwa ia bisa karena didukung oleh pengalaman, potensi aktual, prestasi, serta harapan yang realistik terhadap diri sendiri (Indari, 2008: 13).
Seseorang yang memiliki percaya diri akan mampu mengetahui kelebihan yang dimilikinya, karena seseorang tersebut menyadari bahwa segala kelebihan yang dimiliki, kalau tidak dikembangkan, maka tidak akan ada artinya, akan tetapi kalau kelebihan yang dimilikinya mampu dikembangkan dengan optimal maka akan mendatangkan kepuasan sehingga akan menumbuhkan rasa percaya diri. Adapun gambaran merasa puas terhadap dirinya adalah orang yang merasa mengetahui dan mengakui terhadap keterampilan dan kemampuan yang dimilikinya, serta mampu menunjukkan keberhasilan yang dicapai dalam kehidupan sosial.
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa percaya diri adalah kesadaran individu akan kelebihan dan kelemahan yang dimilikinya dan kesadaran tersebut membuatnya merasa yakin pada kemampuan yang dimiliki, menerima diri, bersikap optimis dan berpikir positif sehingga dapat bertindak sesuai dengan kapasitasnya serta mampu mengendalikannya.
Ciri - ciri individu yang memiliki rasa percaya diri yaitu : Percaya akan kemampuan dirinya sendiri
Mempunyai cara pandang yang positif terhadap diri sendiri. Mempunyai pengendalian diri yang baik
Berani menerima dan menghadapi penolakkan dari orang lain.
Ciri – ciri individu yang kurang percaya diri yaitu : Menyimpan rasa takut terhadap penolakkan
Pesimis atau mudah menilai sesuatu dari sisi negative Memandang rendah kemampuan diri sendiri
Selalu memposisikan diri sebagai yang terakhir karena menilai dirinya tidak mampu.
Para ahli berkeyakinan bahwa kepercayaan diri diperoleh melalui proses yang berlangsung sejak usia dini. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi percaya diri yang paling mendasar adalah :
1. Pola asuh dan interaksi di usia dini
Sikap orang tua akan diterima anak sesuai dengan persepsinya pada saat itu. Orang tua yang menunjukkan kasih sayang, cinta dan penerimaan serta kelekatan emosional akan membangkitkan rasa percaya diri pada anak tersebut. Anak akan merasa dihargai dan dikasihi. Meskipun anak melakukan kesalahan, dari sikap orang tua anak melihat bahwa dirinya dihargai bukan tergantung pada prestasi ataupun perbuatan baiknya, namun karena eksistensinya. Anak akan tumbuh menjadi individu yang mampu menilai positif dirinya dan memiliki harapan yang realistik. Orang tua dan masyarakat seringkali meletakkan standar harapan yang kurang realistik terhadap anak. Sikap suka membanding-bandingkan anak, mempergunjingkan kelemahan anak, tanpa sadar menjatuhkan harga diri anak tersebut. Situasi ini pada akhirnya mendorong anak menjadi individu yang tidak bisa menerima kenyataan dirinya, karena merasa malu. Rasa percaya diri begitu lemah dan ketakutannya semakin besar.
2. Pola pikir yang negatif
Reaksi individu terhadap seseorang ataupun sebuah peristiwa dipengaruhi oleh cara berpikirnya. Individu dengan rasa percaya diri yang rendah cenderung mempersepsi segala sesuatu dari sisi negatif. Ia tidak menyadari bahwa dari dalam dirinyalah semua negativisme itu berasal.
Proses Terbentuknya Rasa Percaya Diri
Secara garis besar disebutkan bahwa terbentuknya rasa percaya diri yang kuat terjadi melalui proses sebagai berikut :
a) Terbentuknya kepribadian yang baik sesuai proses perkembangan yang melahirkan kelebihan-kelebihan tertentu.
b) Pemahaman seseorang terhadap kelebihan-kelebihan yang dimilikinya dan melahirkan keyakinan kuat untuk bisa berbuat segala sesuatu dengan memanfaatkan kelebihan-kelebihannya.
c) Pemahaman dan reaksi positif seseorang terhadap kelemahan-kelemahan yang dimilikinya agar tidak menimbulkan rasa rendah diri atau sulit menyesuaikan diri.
d) Pengalaman di dalam menjalani aspek kehidupan dengan menggunakan segala kelebihan yang ada pada dirinya.
(Hakim, 2005 : 6).
2.5.1 Indikator Percaya Diri
(Lauster dalam Ghufron, 2010 : 35) menyatakan bahwa ada beberapa indikator kepercayaan diri yaitu :
• Tampil Percaya Diri
Bekerja sendiri tanpa perlu supervisi, mengambil keputusan tanpa perlu persetujuan orang lain.
• Bertindak Independen
Bertindak di luar otoritas formal agar pekerjaan bisa terselesaikan dengan baik, namun hal ini dilakukan demi kebaikan, bukan karena tidak mematuhi prosedur yang berlaku.
• Menyatakan Keyakinan atas Kemampuan Sendiri
Menggambarkan dirinya sebagai seorang ahli, seseorang yang mampu mewujudkan sesuatu menjadi kenyataan, seorang penggerak, atau seorang narasumber. Secara eksplisit menunjukkan kepercayaan akan penilaiannya sendiri. Melihat dirinya lebih baik dari orang lain.
• Memilih Tantangan atau Konflik
Menyukai tugas-tugas yang menantang dan mencari tanggung jawab baru. Bicara terus terang jika tidak sependapat dengan orang lain yang lebih kuat, tetapi mengutarakannya dengan sopan.
2.6 Pendidikan
Secara umum pendidikan merupakan sebuah fenomena antropologis yang usianya hampir sama dengan sejarah manusia itu sendiri. Mengacu pendapat Niccolo Machiavelli seperti yang dikutip oleh (Doni Koesoema, 2010: 52) memahami pengertian pendidikan dalam kerangka proses
penyempurnaan diri manusia secara terus menerus. Ini terjadi karena secara kodrati manusia memiliki kekurangan dan ketidaklengkapan. Baginya, intervensi manusiawi melalui pendidikan merupakan salah satu cara bagi manusia untuk melengkapi apa yang kurang dari kodratnya pendidikan dapat melengkapi ketidaksempurnaan dalam kodrat alamiah kita.
Pengertian pendidikan menurut John Dewey dalam tulisannya (Dwi Siswoyo, 2007: 19) menjelaskan pendidikan adalah rekonstruksi atau reorganisasi pengalaman yang menambah makna pengalaman, dan yang menambah kemampuan untuk mengarahkan pengalaman selanjutnya.
Pengertian pendidikan menurut Dwi Siswoyo dkk (2007: 19) mengartikan dalam arti teknis, pendidikan adalah proses dimana masyarakat, melalui lembaga-lembaga pendidikan (sekolah, perguruan tinggi atau melalui lembaga-lembaga lain), dengan sengaja mentransformasikan warisan budayanya, yaitu pengatahuan, nilai-nilai dan keterampilan-keterampilan, dan generasi ke generasi.
Pengertian Pendidikan menurut Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga dijelaskan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan sarana belajar dan proses pembelajaran agar perserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, Bangsa dan Negara.
Pendidikan kewirausahaan akan memberikan peluang tumbuh dan berkembangnya potensi kreativitas dan inovasi anak. Nilai-nilai kewirausahaan akan menjadi karakteristik peserta didik yang dapat digunakannya dalam bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungnnya. Pada akhirnya pribadi yang memiliki karakter kreatif, inovatif, bertangung jawab, disiplin dan kosisten akan mampu memberikan kontribusi dalam pemecahan masalah sumber daya manusia Indonesia. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pendidikan kewirausahaan sangat berorientasi pada sosio-psiklogis. Pendidikan kewirausahaan akan mereduksi mindset peserta didik tentang tujuan dan orientasi mengikuti pendidikan untuk menjadi pegawai negeri. Pendidikan kewirausahaan juga mempersiapakan peserta didik
memiliki sikap kewirausahaan dan mampu mengembangkan seluruh potensi dirinya untuk menghadapi masa depannya dengan segala problematikanya.
2.6.1 Indikator Pendidikan
(Dwi Siswoyo 2007: 19) menuliskan beberapa nilai-nilai kewirausahaan pada peserta didik ada beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:
a. Pembenahan dalam kurikulum
Pembenahan kurikulum dalam rangka menginternalisasikan nilai-nilai kewirausahaan yang mampu membentuk karakter wirausaha pada peserta didik dapat dilakukan dengan cara melengkapi materi kurikulum yang telah ada dengan bidang studi kewirausahaan khususnya di SMK, dan mengintegrasikan nilai-nilai wirausaha.
b. Peningkatan peran sekolah dalam mempersiapkan wirausaha Hakikat persiapan manusia wirausaha adalah dalam segi penempaan karakter wirausaha. Dengan perkataan lain, persiapan wirausahawan terletak pada penempaan semua daya kekuatan pribadi manusia itu untuk menjadikannya dinamis dan kreatif, serta mampu berusaha untuk hidup maju dan berprestasi. Untuk dapat menginternalisasikan nilai-nilai kewirausahaan pada diri peserta didik diperlukan peran sekolah secara aktif. Misal, guru akan menerapkan integrasi nilai kreatif, inovatif, dan berani menanggung resiko dalam pembelajaran KD produksi, konsumsi, dan distribusi.
c. Pembenahan dan pengorganisasian proses pembelajaran
Pembelajaran di Indonesia telah mengalami berbagai macam pembaharuan, termasuk juga dalam pengorganisasian pengalaman belajar peserta didik. Agar peserta didik mengalami perkembangan pribadi yang integratif, dinamis dan kreatif, ada pembenahan lebih lanjut dalam hal pengorganisasian pengalaman belajar peserta didik. Pengorganisasian yang sudah ada biar berlangsung terus, yang penting perlu dicari cara pengorganisasian lain untuk menunjang proses pembelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk aktif belajar dari pengalaman hidup sehari-hari di dalam masyarakat. Selain itu alternatif lain untuk mengembangkan organisasi
pengalaman belajar peserta didik adalah pelaksanaan pembelajaran yang berbasis unit produksi. Sebagai contoh pada pembelajaran materi produksi, anak dilatih keterampilan untuk memproduksi. Selanjutnya, hasil produksi dititipkan dalam unit produksi di sekolah untuk digunakan sebagai latihan menjual pada saat penyampaian materi distribusi. Bentuk ini tidak mengganti pengorganisasian yang sudah ada melainkan sebagai variasi pengalaman belajar peserta didik.
d. Pembenahan proses kelompok
Hubungan pribadi antar peserta didik di dalam kelas mempunyai pengaruh terhadap belajar mereka. Aktivitas belajar anak dapat dipengaruhi oleh perasaannya tentang diri sendiri dalam hubungannya dengan guru-guru serta teman-temannya. Pertumbuhan anak banyak tergantung pada suasana emosional dari kelompok kelasnya. Proses-proses kelompok di kelas bukan hanya mempengaruhi perasaan dan sikap para peserta didik, tetapi juga mempengaruhi hasil belajar mereka. Hal ini guru dituntut untuk berusaha mengadakan modifikasi-modifikasi terhadap proses-proses kelompok peserta didik di dalam kelas agar nilai-nilai kewirausahaan bertumbuh pada diri peserta didik. Contoh: pembentukan diskusi kelompok memperlihatkan heterogenitas di dalam kelompok. Setiap kelompok sebaiknya terdiri dari peserta didik yang banyak bicara, peserta didik yang diam, peserta didik yang banyak ide, dan peserta didik yang pasif, sehingga akan terjadi perpaduan dalam pengalaman belajar.
e. Pembenahan pada diri Guru
Sebelum guru melaksanakan pembelajaran di kelas dengan mengintegrasikan nilai nilai kewirausahaan, terlebih dahulu guru juga dilatih kewirausahaan terutama yang terkait dengan penanaman nilai-nilai dan ketrampilan/skill wirausaha. Akan lebih baik lagi jika guru juga memiliki pengalaman empiris di dalam mengelola bisnis usaha Pendidikan kewirausahaan juga bisa dilaksanakan melalui kegiatan ekstrakurikuler, yang melatih peserta didik mengembangkan usaha yang terkait dengan bakat dan minat peserta didik. Peran guru adalah mengkomunikasikan potensi dan cita-cita secara jelas sehingga dapat
menginspirasi setiap peserta didik untuk dapat melihat jiwa kewirausahaan dalam dirinya.
2.7 Lingkungan Keluarga
Lingkungan ialah meliputi semua kondisi-kondisi dalam dunia dalam cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan perkembangan atau life process kita kecuali gen-gen, dan bahkan gen-gen dapat pula dipandang sebagai menyiapkan lingkungan bagi gen yang lain (Dalyono, 2015 : 132). Putri (2011) mengatakan bahwa lingkungan (environment) dalam lingkup yang luas memiliki arti sesuatu yang bersifat fisik dan non fisik yang mempengaruhi kehidupan seseorang.
(Gunarsa 2009 : 5) bahwa lingkungan keluarga merupakan “lingkungan pertama yang mula-mula memberikan pengaruh yang mendalam bagi anak”. Dari anggota-anggota keluarganya (ayah, ibu, dan saudara-saudaranya) anak memperoleh segala kemampuan dasar, baik intelektual maupun sosial. Setiap sikap, pandangan, dan pendapat orang tua atau anggota keluarga lainnya akan dijadikan contoh oleh anak dalam berperilaku. Dalam hal ini berarti lingkungan keluarga sebagai lingkungan pendidikan yang pertama ini sangat penting dalam membentuk pola kepribadian anak. Karena di dalam keluarga, anak pertama kali mendapat pengetahuan tentang nilai dan norma. Faktor lingkungan merupakan faktor eksternal dalam diri seseorang. Lingkungan memberikan peluang, ancaman, dan batasan bagi seseorang. Faktor lingkungan dapat mempengaruhi setiap individu yang berada di dalam suatu kelompok atau organisasi.
MC Clellenc (Purnomo, 2005: 53) menyatakan bahwa minat berwirausaha akan terbentuk apabila keluarga memberikan pengaruh positif terhadap minat tersebut, karena sikap dan aktifitas sesama anggota keluarga saling mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung. Orang tua yang berwirausaha dalam bidang tertentu dapat menimbulkan minat anaknya untuk berwirausaha. Sama hal nya seperti hubungan dengan teman sebaya, jika temannya juga mempunyai minat bisnis atau bahkan berbisnis maka peluang seseorang untuk berwirausaha pun terbuka lebar.
2.7.1 Indikator Lingkungan Keluarga
Menurut Dalyono (2005 : 238-241) menyebutkan indikator-indikator lingkungan keluarga meliputi:
a. Cara orang tua dalam mendidik anak
Cara orangtua dalam mendidik anak berpengaruh terhadap belajar anak. Dalam hal ini, peran orangtua dalam memikul tugas dan tanggung jawab sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Kebiasaan dan ajaran baik yang ditanamkan mendorong semangat anak untuk belajar.
Berikut cara yang baik dalam mendidik anak :
• Jadilah pendengar yang baik dan berikan dukungan • Ajarkan rasa tanggung jawab
• Ajarkan untuk meminta maaf • Ajarkan keterbukaan
b. Relasi antara anggota keluarga
Relasi antara anak dengan seluruh anggota keluarga terutama orangtua dengan anaknya atau anak dengan anggota keluarga yang lain merupakan hal terpenting dalam terciptanya sebuah relasi dalam keluarga. Wujud relasi itu bias berupa cara hubungan penuh kasih saying, pengertian, dan perhatian ataukah diliputi oleh rasa kebencian, sikap terlalu keras, ataukah sikap acuh tak acuh. Dan relasi antara anggota keluarga ini erat hubungannya dengan bagaimana orangtua dalam mendidik anaknya.
Cara menjaga relasi dalam keluarga yaitu :
• Saling mengerti dan memahami satu dengan yang lain • Saling menghormati dan menghargai
• Saling terbuka dan jujur • Komunikasi yang baik
• Menerima keadaan keluarga apa adanya
c. Suasana rumah
Agar rumah menjadi tempat belajar yang baik maka perlu diciptakan suasana rumah yang tenang dan tentram. Suasana tersebut
dapat tercipta apabila dalam keluarga tercipta hubungan yang harmonis antar orang tua dengan anak atau anak dengan anggota keluarga yang lain. Selain itu keadaan rumah juga perlu ditata dengan rapi dan bersih sehingga dapat menimbulkan rasa nyaman dan sejuk yang memungkinkan anak lebih suka tinggal di rumah untuk belajar. Dengan demikian suasana rumah yang tenang dan tentram dapat membantu konsentrasi anak belajar di rumah. Harapan dan tujuan anak untuk meraih prestasi belajar yang maksimal di sekolah kemungkinan juga akan terbantu. Cara membuat suasana rumah menjadi harmonis yaitu :
• Selesaikan secepatnya masalah yang ada • Melakukan kegiatan bersama-sama • Jangan gunakan kekerasan
d. Keadaan ekonomi keluarga
Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar anak. Anak yang sedang belajar selain harus terpenuhi kebutuhan pokoknya, misal makanan, perlindungan, kesehatan dan lain-lain, juga membutuhkan fasilitas belajar seperti alat-alat tulis, ruang belajar serta sarana pelengkap belajar yang lain. Fasilitas tersebut dapat terpenuhi jika keluarga mempunyai penghasilan yang cukup. Dan kondisi yang demikian kemungkinan dapat memotivasi anak untuk maju. Terkadang dalam belajar anak membutuhkan sarana yang mahal, ketidakmampuan orangtua dalam memenuhinya dapat menghambat anak dalam belajar. Keadaan ekonomi keluarga dikatakan baik apabila kebutuhan terpenuhi.
2.8 Kerangka Berpikir
Berdasarkan teori yang telah diuraikan sebelumnya dan hasil penelitian terdahulu, maka variable yang dipakai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut sikap percaya diri, pedidikan, dan lingkungan keluarga. Sehingga kerangka penelitian ini dapat digambarkan seperti pada gambar berikut :
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir Sumber: Penulis 2016
Keterangan :
X1 : sikap percaya diri X2 : pendidikan X3 : lingkungan keluarga Y : minat berwirausaha H1 : hipotesis 1 H2 : hipotesis 2 H3 : hipotesis 3 H4 : hipotesis 4 H5 : hipotesis 5 H6 : hipotesis 6 H7 : hipotesis 7 Sikap Percaya Diri
(X1) Pendidikan (X2) Lingkungan Keluarga (X3) Minat Berwirausaha (Y) H1 H2 H3 H4 H6 H5 H7 H1
2.9 Hipotesis
T-1 : untuk mengetahui pengaruh sikap percaya diri terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan.
Ho : tidak ada pengaruh yang signifikan antara sikap percaya diri terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan.
Ha : ada pengaruh yang signifikasn antara sikap percaya diri terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan.
T-2 : untuk mengetahui pengaruh pendidikan terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan.
Ho : tidak ada pengaruh yang signifikan antara pendidikan terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan.
Ha : ada pengaruh yang signifikan antara pendidikan terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan.
T-3 : untuk mengetahui pengaruh lingkungan keluarga terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan.
Ho : tidak ada pengaruh yang signifikan antara faktor lingkungan keluarga terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan.
Ha : ada pengaruh yang signifikan antara faktor lingkungan keluarga terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan.
T-4 : untuk mengetahui pengaruh sikap percaya diri dan pendidikan terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan.
Ho : tidak ada pengaruh yang signifikan antara sikap percaya diri dan pendidikan terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan.
Ha : ada pengaruh yang signifikan antara sikap percaya diri dan pendidikan terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan.
T-5 : untuk mengetahui pengaruh sikap percaya diri dan lingkungan
keluarga terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan.
Ho : tidak ada pengaruh yang signifikan antara sikap percaya diri dan lingkungan keluarga terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan. Ha : ada pengaruh yang signifikan antara sikap percaya diri dan lingkungan
T-6 : untuk mengetahui pengaruh pendidikan dan lingkungan keluarga terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan. Ho : tidak ada pengaruh yang signifikan antara pendidikan dan lingkungan
keluarga terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan. Ha : ada pengaruh yang signifikan antara pendidikan dan lingkungan keluarga
terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan. T-7 : untuk mengetahui pengaruh sikap percaya diri, pendidikan, dan
lingkungan keluarga terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan.
Ho : tidak ada pengaruh yang signifikan antara sikap percaya diri, pendidikan dan lingkungan keluarga terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan.
Ha : ada pengaruh yang signifikan antara sikap percaya diri, pendidikan dan lingkungan keluarga terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan.
2.10 Variabel Penelitian
Berdasarkan gambar di atas, dapat diketahui bahwa kerangka penelitian bersumber pada sikap percaya diri, pendidikan, dan lingkungan keluarga yang akan membentuk minat berwirausaha. Berikut adalah penjelasan atas variabel-variabel tersebut :
1. Sikap percaya diri, didefinisikan sebagai keyakinan untu berbuat sesuatu 2. Pendidikan, didefinisikan sebagai proses penyempurnaan diri.
3. Lingkungan keluarga, didefinisikan lingkungan dasar dalam perkembangan individu.