TUMOR
HIPOFISIS
Letak di dasar otak di bawah ventrikel ke tiga di
‘‘Turkish saddle” (sella tursika) bagian dari tulang sphenoid. Di bawah hypothalamus dan kiasma optikum
Ukuran Normal 12x9x6 mm Berat 0,6 mg Anterior Adenohipofisis Posterior Neurohipofisis GH TSH FSH LH Prolaktin Oksitosin ADH ACTH
Adenoma Hipofisis
• mikroadenoma (<10mm) • makroadenoma (>10mm)
• non-functioning pituitary adenomas (NFPA) tidak
memproduksi hormon
Manifestasi
Klinis
• Tumor yang mensekresi prolactin 52%
• Tumor yang mensekresi hormon
pertumbuhan (GH) 27%
• Tumor yang
mensekresi Adrenocorticotropic
hormone-secreting (ACTH) 20%
• Tumor yang mensekresi
thyroid-stimulating hormone (TSH)
0,3%
Prolactinoma
Acromegaly
Diagnostik
• Lab : Gula darah, elektrolit
• Hormon penting : ACTH (kortisol pagi), TSH, FSH, LH, prolactin, GH • MRI
• Operasi • Radiasi
• Obat-obatan : Bromocriptine (prolactinoma)
Latihan Soal
Tn. J datang dengan keluhan nyeri kepala yang semakin memberat sejak 3 bulan SMRS. Nyeri kepala disertai dengan gangguan penglihatan. Pada pemeriksaan fisik umum tidak ditemukan kelainan. Pada pemeriksaan fisik neurologi ditemukan adanya quadranopsia superior bitemporal. Pada pemeriksaan penunjang ditemukan peningkatan hormone prolactin. Diagnosis yang paling mendekati pada pasien ini adalah
a. Endemik goiter b. Karsinoma tiroid c. Tumor hipofisis
d. Tumor kelenjar adrenal e. Tumor brain stem
Berikut ini merupakan gambaran klinis sindroma Cushing yang juga merupakan salah satu manifestasi tumor hipofisis, kecuali
a. Facies pleothora
b. Acanthosis nigricans c. Hirsutisme
d. Muscle accumulation e. Ecchymoses
Pilihan modalitas radiologi yang paling baik untuk tumor hipofisis adalah a. X Ray b. USG c. MRI d. CT Scan e. Angiografi
HIPOTIROID
Kelenjar tiroid yang hipoaktif
Metabolisme tubuh melambat
Penyakit autoimun, kekurangan yodium, kerusakan kelenjar
Cold intolerance, konstipasi, BB meningkat, nafsu makan
Hashimoto’s Thyroiditis
Infiltrasi sel limfosit
Faktor genetic dan lingkungan Polimorfisme HLA-DR dan CTLA-4 Aktivasi CD4, CD8 dam limfosit-B
Indikasi Terapi :
• TSH > 10
• TSH 5-10 (disertai FT4 rendah)
• TSH 5-10, FT4 normal (disertai gejala klinis)
Terapi :
• Usia muda : Levotiroksin 100-150 mcg/hari atau 1,6 mcg/hari • <60 tahun tanpa kelainan jantung : Levotiroksin 50 mcg/hari
• Keluhan dan kelainan objektif jantung : Levotiroksin 25-50 mcg/hari • Hipotiroid subklinis bila TSH < 10 tidak dianjurkan.
Evaluasi dan monitoring :
• 6-8 minggu sejak terapi inisiasi dimulai (klinis, TSH)
• TSH tinggi Dosis levothyroksin dinaikkan antara 12,5-25 mcg. • TSH turun dibawah normal, dosis diturunkan 12,5-25 mcg. • TSH normal maka monitoring dilakukan 3-6 bulan 12 bulan TARGET = nilai TSH kisaran 0,4-2,5 mU/l
Latihan Soal
Tn. J, 45 tahun, datang dengan keluhan sering lemas, tidak nafsu makan, dan tidak tahan dingin. Pasien mengatakan sempat menjalani
operasi kelenjar di leher 3 bulan lalu. Pada pemeriksaan rekam jantung menunjukkan gambaran bradikardi dan pemanjangan interval PR. Pemeriksaan selanjutnya yang tepat untuk menegakan diagnosis adalah
a. TSH dan FT4 b. LED
c. Analisis gas darah d. Ekokardiografi
Gejala yang muncul pada penderita hipotiroid adalah a. berat badan menurun
b. bradikardi c. tremor
d. diare
Berikut ini merupakan pernyataan yang tepat mengenai tiroiditis otoimun, kecuali
a. Dipengaruhi factor genetic dan lingkungan
b. Terjadi pada individu yang memiliki hubungan keluarga c. Polimorfisme HLA-DR sangat terkait pada kasus ini
d. Aktivasi NK Cell merupakan mediator utama
Dosis awal levotiroksin pada pasien dewasa dengan penurunan T4 bebas dan peningkatan TSH adalah
a. 10 µg/hari b. 5 µg/hari c. 20 µg/hari d. 25 µg/hari e. 50 µg/hari
Adrenal Insufficient
Etiologi :
• Primer = Adrenocortical disease (Addison’s disease) • Sekunder = Pituitary disorder
(Kegagalan pituitary mensekresi ACTH)
Gejala dan tanda-tanda
• Gejala yang berhubungan dengan kekurangan kortisol
lemah badan, cepat Lelah, anoreksia, mual, muntah, diare, hipoglikemi, hiperkalemi, hiponatremi
• Gejala yang berhubungan dengan kekurangan aldosterone hiperkalemi, hiponatremi
• Gejala yang berhubungan dengan kekurangan androgen kehilangan bulu axilla dan pubis
• Gejala yang berhubungan dengan kelebihan ACTH hiperpigmentasi kulit dan permukaan mukosa
Krisis
Adrenal
• Acute adrenal insufficiency • Mengancam jiwa
• Penyebab : Perdarahan kelenjar adrenal, thrombosis, nekrosis,
peripartum pituitary infark (Sheehan’s syndrome), pituitary apoplexy, trauma kepala, gangguan kel pituitary
• Faktor risiko : penggunaan
kortikosteroid, stress fisiologi berat (sepsis, trauma, luka bakar, tindakan bedah), penggunaan ketokonazol, phenytoin, rifampicin
Gejala klinis
• Syok
• Hipotermia atau hipertermia
• Berhubungan dengan kekurangan
kortisol lemah badan, cepat Lelah, anoreksia, mual, muntah, diare,
hipoglikemi, hiperkalemi, hiponatremi,hipotensi
• Berhubungan dengan kekurangan aldosterone hiperkalemia dan hipotensi berat
Latihan Soal
Wanita, usia 60 tahun, datang dengan keluhan mendadak pingsan sejak 1 hari yang lalu. Hal ini muncul ketika pasien sedang membersihkan halaman rumah di dahului dengan muntah kemudian merasa pusing serta mengeluh mual dan sakit perut.
Tidak ada keluhan demam dan diare. Riwayat sebelumnya sering merasa kelelahan, sakit perut, dan hilangnya nafsu makan dengan penurunan berat badan 5-10 kg sejak 3 bulan.
Riwayat hipotiroid dan mendapat pengobatan levothyroxine. Pada pemeriksaan fisik di dapatkan tekanan darah 89/62 mmHg, nadi 102 x/menit saat berbaring dan 125 x/menit saat berdiri, suhu 36 C serta didapatkan hiperpigmentasi di ujung jarinya.
Lain-lain dalam batas normal pemeriksaan lab menunjukkan hasil Na 120 mEq/L, K 5,8 mEq/L HCO3 16 mEq/L, glukosa 52 mg/dL dan kreatinin 1,0 mg/dL.
Apa diagnosis yang paling mungkin? A. Hiperaldosteron primer
B. Hiperaldosteron sekunder C. Adrenal insufisiensi primer D. Adrenal insufisiensi sekunder E. Cushing disease
ANGINA PEKTORIS
STABIL
• Rasa nyeri timbul karena iskemia miokardium
• Typical chest pain, ± 10 menit, dipicu aktivitas, stress, emosional
• Menghilang dengan
istirahat atau pemberian nitrogliserin
Duke Treadmill Score (DTS)
metode yang paling kuat untuk
stratifikasi risiko dan menilai prognosis pada uji latih jantung dengan treadmill
DTS = Durasi uji latih – (5 x deviasi segmen ST) – (4 x skor angina)
Skor DTS Risiko 5 yrs survival
>5 Rendah 97%
-10 s.d 4 Sedang 91% <-11 Tinggi 72%
Latihan Soal
Seorang wanita, 52 tahun, dengan keluhan nyeri dada sejak 15 menit yang lalu, saat pasien sedang mencuci pakaian. Keluhan ini sudah dua kali dirasakan, sebelumnya nyeri dada membaik setelah istirahat. Pasien dengan riwayat DM sejak 10 tahun yang lalu, berobat teratur dengan metformin 500 mg 2x1. Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran compos mentis, tampak cemas, TD 130/80 mmHg, denyut jantung 110 x/menit. GDS 154 mg/dl. EKG menunjukkan ST depresi di lead V5-V6.
Diagnosis untuk penyakit ini adalah a. Angina pektoris stabil
b. Angina pektoris tidak stabil c. Infark miokard akut
d. Gangguan panik e. Asma bronkiale
Tn. J terdiagnosis angina pektoris stabil 3 bulan lalu. Saat ini pasien mengeluhkan nyeri dada muncul setelah naik tangga 1 lantai dengan kecepatan biasa. Sebelumnya keluhan ini tidak muncul. Diagnosis pada pasien ini adalah angina pektoris stabil CCS kelas
a. I b. II c. III d. IV e. V
Pada pasien dengan gejala klinis yang tidak jelas, perlu dilakukan EKG dengan Treadmill. Skor yang digunakan untuk menilai pemeriksaan ini adalah
a. DTS b. BTS
c. New York Treadmill Score
d. New Hemisphere Stress Test e. New Jersey Treadmill Score
SINDROMA
KORONER AKUT
SINDROMA KORONER AKUT
Angina Pektoris Tidak Stabil
Infark Miokard Akut non ST Elevasi (N-STEMI)
KRITERIA DIAGNOSTIK (WHO) :
keluhan terbanyak adalah nyeri dada
• Dengan elevasi segmen ST : STEMI
• Tanpa elevasi segmen ST : UAP, NSTEMI
Perubahan gambaran EKG
• Kadar CK, CK-MB
• Kadar Troponin I/ Troponin T
Peningkatan kadar enzim jantung
PEMERIKSAAN FISIK
• Tanda-tanda yang “mengancam jiwa”
• Tekanan darah di kedua lengan, heart rate, frekuensi nafas dan saturasi oksigen bila memungkinkan -- pengukuran yang ideal dilakukan pada setiap pasien dengan nyeri dada akut
• Infark miokard akut dan UAP dapat mengakibatkan
disfungsi akut ventrikel kiri yang dapat menyebabkan :
• Low cardiac output state (hipotensi, takikardia, diuresis menurun, perubahan status mental, akral dingin)
The goals of treatment :
to preserve patency of the coronary artery
augment blood flow through stenotic lesions
reduce myocardial oxygen demand
All patients should receive antiplatelet agents
Berikut ini lima proses patofisiologi yang dapat berperan dalam terjadinya unstable angina, kecuali
a. Ruptur plak
b. Obstruksi dinamis
c. Penyempitan lumen arteri koroner d. Infeksi
e. Angina pektoris tidak stabil sekunder
Berikut ini merupakan pernyataan yang tepat mengenai enzim jantung
dalam diagnosis unstable angina, kecuali
a. CK-MB ditemukan juga pada otot skeletal b. CK-MB kembali normal dalam 24 jam
c. Troponin I mulai positif dalam 24 jam
d. Risiko kematian bertambah dengan kenaikan troponin
Tn. D mengalami nyeri dada yang tidak menghilang waktu istirahat.
Angina terjadi waktu istirahat dan terjadi dalam 1 bulan terakhir. Tidak ada nyeri dada pada 48 jam terakhir. Menurut klasifikasi Braunwald, beratnya Angina masuk pada kelas
a. I b. II c. III d. IV e. V
Seorang perempuan usia 54 tahun dibawa ke UGD dengan keluhan nyeri dada disertai keringat dingin sejak 2 jam sebelum MRS. Terdapat riwayat asma sejak kecil, DM dan HT sejak 10 tahun, stroke 2 tahun yang lalu. 6 bulan terakhir kadar kolesterol LDL di atas 200mg/dl. TD 130/70. Selain terapi baku berupa pemberian O2, ASA, nitrat, CPG, statin, ACEI, maka tatalaksana pada kondisi ini yang paling tepat adalah :
a. Heparin b. PCI primer c. Review PCI
d. Long term heparin e. Sub kutan heparin
Seorang laki-laki, 55 tahun, datang ke UGD dengan keluhan nyeri dada seperti tertimpa beban berat sejak 2 jam yang lalu. Nyeri berlangsung selama 25 menit
disertai keringat dingin. Pasein terdapat hipertensi, tekanan darah 150/100 mmHg, frekuensi nadi 100x/menit. Pada EKG ditemukan ST elevasi di V1-V4. Pasien telah diberikan trombolitik di RS setempat, namun masih terdapat nyeri dada pasca 2 jam pemberian trombolitik meskipun telah diberikan obat penghilang nyeri secara infus kontinyu.
Tata laksana selanjutnya yang paling tepat untuk pasien ini : a. Facilitated percutaneus coronary intervention (PCI)
b. Facilitated percutaneus coronary intervention (PCI) dengan trombolitik c. Rescue percutaneus coronary intervention (PCI)
d. Pemberian trombolitik diulang kembali
Obat yang segera diberikan pada infark miokard akut : a. Alfa antagonis b. Nitrat c. Diuretik d. ACE inhibitor e. Beta blocker
Berikut ini merupakan pernyataan yang benar mengenai terapi antikoagulan, kecuali
a. Dapat menggunakan unfractioned heparin
b. Pemberian UFH sebagai terapi tambahan regimen aspirin dan obat trombolitik spesisik
c. Dosis awal adalah 10 U/kg
d. Dosis selanjutnya 12 U/kg via infus
TUMOR
MEDIASTINUM
Tumor mediastinum tumor yang terdapat di dalam
mediastinum yaitu rongga yang berada di antara paru kanan dan kiri
Gejala klinis
• Batuk, sesak, stridor Trakea-bronkus
• Disfagia Esofagus
• VCSS Tumor ganas
• Suara serak & batuk N. laringeus • Paralisis N. Frenikus N. Frenikus
• Nyeri dinding dada Tumor neurogenic & penekanan system syaraf
Myastania Gravis Tymoma Limfadenopati Limfoma
Tymoma
• Tumor mediastinum, berasal dari tymus yang sering dijumpai (20% dewasa)
• Berkapsul (jinak), bila invasi sel tumor merusak kapsul ganas jarang menyebar di luar cavum thorax
• Sering tanpa gejala ditemukan tidak sengaja
• Gejala : nyeri dada, batuk, sesak, atau keluhan yang berhubungan dengan penekanan organ-organ sekitar tumor
stridor dan wheezing penekanan pada bronkus disfagi penekanan esophagus
bronkospasme penekanan nervus vagus
nyeri dada retrosternal dan sindroma vena kava superior myasthenia gravis
Latihan Soal
Masa yang paling sering ditemukan di mediastinum superior adalah a. Tiroid substernal
b. Limfoma Hodgkin c. Tumor germ cell
d. Limfoma non Hodgkin e. B cell lymphoma
Berikut ini manifestasi klinis pada timoma yang benar, kecuali a. Terdapat di mediastinum primer anterior
b. Lebih banyak jinak dibanding ganas c. Sering bermetastasis
d. Manifestasi yang umum adalah gejala miastenia gravis e. Sekitar 12 % dari tumor mediastinum primer
EMPIEMA
• kumpulan cairan eksudatif (pus) di rongga pleura yang berhubungan dengan terjadinya infeksi paru
• Etiologi
1. Berasal dari paru
Pneumonia, fistel bronkopleura, TB, Abses paru, bronkiektasis, mycosis paru, trauma dada
2. Berasal dari luar paru
Infeksi Peradangan drainase limfatik Tek. Onkotik plasma
Peradangan permukaan pleura Tek. Kapiler paru ↑ Transudasi cairan intravaskular
Permeabilitas vaskular Edema cavum pleura
Penumpukan cairan pleura Peradangan akut
Pembentukan eksudat
Ekspansi paru ↓
Gangguan pertukaran gas Gangguan sirkulasi
Pemeriksaan Fisik
• Akut : Panas tinggi, nyeri pleuritic, sesak, batuk, dahak purulen • Kronis (>3 bulan) : keadaan umum lemah, pucat, jari tabuh
Gejala Klinis
Inspeksi Sisi dada tertinggal
Palpasi Sisi dada tertinggal
Perkusi Redup
Pemeriksaan Penunjang
Tes darah Rontgen Tes dahak
Tatalaksana
• Drainage
1. Cairan purulen atau keruh/berawan
2. Adanya organisme yang diidentifikasi oleh pewarnaan gram + , kultur cairan pleura non purulen pH < 7.2 dengan dugaan infeksi
3. Cairan pleura terlokulasi
4. Kemajuan klinis yang buruk dengan antibiotik
• Antibiotik (Awal broad spectrum sesuai kultur)
• Pengobatan tambahan (Simptomatik) • Pembedahan gagal diterapi dengan
antibiotik dan drainase selang dada, dan yang memiliki gejala infeksi
persisten, demam, leukositosis dan peningkatan penanda inflamasi
Tn. J, 50 tahun datang dengan keluhan sesak dan batuk. Pada pemeriksaan foto polos dada ditemukan efusi pleura. Dokter kemudian melakukan torakosentesis untuk menentukan penyebab efusi. Pada pemeriksaan tersebut ditemukan cairan kuning kehijauan dan agak purulen. Penyebab dari penyakit pasien ini adalah
a. Abses paru b. Keganasan c. Infark paru d. Empiema e. Amuba
Cairan transudate dapat muncul pada keadaan berikut ini, kecuali a. Meningkatnya tekanan kapiler sistemik
b. Meningkatnya tekanan limfatik
c. Meningkatnya tekanan kapiler pulmoner d. Menurunya tekanan koloid osmotic