BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN

129  Download (0)

Teks penuh

(1)

LAPORAN KINERJA

BADAN PENELITIAN DAN

PENGEMBANGAN PERTANIAN

TAHUN 2016

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN

KEMENTERIAN PERTANIAN

(2)

KATA PENGANTAR

Laporan Kinerja (Lakin) Balitbangtan Tahun 2016 ini merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban kinerja Balitbangtan dalam mendukung pemerintahan yang berdaya guna, berhasil guna, bersih dan bertanggung jawab, sesuai dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, serta Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja, dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah.

Laporan Kinerja Balitbangtan ini disusun berdasarkan indikator-indikator yang telah ditetapkan pada Rencana Strategis 2015-2019 dengan melaksanakan 1 (satu) program utama Balitbangtan yang kemudian dijabarkan menjadi 1 (satu) sasaran dan diukur dengan 9 (sembilan) indikator kinerja sasaran. Secara operasional, kegiatan untuk mencapai sasaran tersebut dilaksanakan oleh Pusat/Puslitbang/Balai Besar/Balai Penelitian/Loka Penelitian lingkup Badan Litbang Pertanian yang melaksanakan penelitian dan pengembangan pertanian strategis nasional, serta Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang melaksanakan kegiatan litbang pertanian spesifik lokasi di seluruh propinsi di Indonesia.

Diharapkan Lakin Balitbangtan Tahun 2016 ini dapat bermanfaat sebagai acuan dalam pengambilan kebijakan program dan umpan balik dalam memperbaiki dan meningkatkan kinerja Balitbangtan selanjutnya.

Jakarta, Februari 2017 Kepala Badan,

(3)

ii DAFTAR ISI

Hal.

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

IKHTISAR EKSEKUTIF ... ix

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

BAB II. PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA ... 7

2.1. Visi ... 7 2.2. Misi ... 8 2.3. Tujuan ... 8 2.4. Sasaran Program ... 8 2.5. Program Balitbangtan ... 9 2.6. Kegiatan Balitbangtan ... 10

2.7. Perjanjian Kinerja Tahun 2016 ... 11

BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA ... 13

3.1. Pengukuran Capaian Kinerja Tahun 2016 ... 13

3.2. Analisis Capaian Kinerja ... 15

3.3. Akuntabilitas Keuangan (Unaudited) ... 74

BAB IV. PENUTUP ... 81

(4)

iii DAFTAR TABEL

Hal. Tabel 1. Perkembangan Komposisi Tenaga Fungsional Balitbangtan

Tahun 2012-2016 ... 3

Tabel 2. Keterkaitan Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Program ... 8

Tabel 3. Sasaran Program dan Indikator Kinerja Program Balitbangtan 2015-2019 ... 9

Tabel 4. PK Balitbangtan 2016 (Awal dan Revisi) ... 12

Tabel 5. Capaian Kinerja Indikator Sasaran RPJMN Balitbangtan Tahun 2016 ... 13

Tabel 6. Capaian Mendukung IKU Ke-1 ... 16

Tabel 7. Keragaan Galur Harapan Unggul Tanaman di Tahun 2016 ... 16

Tabel 8. Capaian Mendukung IKU Ke-2 ... 36

Tabel 9. Capaian IKK Mendukung IKU Ke-6 ... 61

Tabel 10. Capaian IKK Mendukung IKU Ke-7 ... 65

Tabel 11. Rekapitulasi Penyebaran Benih Sayuran Generatif, Kentang dan Bawang Merah ... 71

Tabel 12. Revisi Target dan Pagu PNBP ... 77

(5)

iv DAFTAR GAMBAR

Hal.

Gambar 1. Komposisi tenaga fungsional Balitbangtan, Tahun 2016 ... 2

Gambar 2. Perkembangan SDM Balitbangtan menurut Pendidikan, Tahun 2012-2016 ... 3

Gambar 3. Perkembangan Petugas Belajar Balitbangtan Tahun 2006-2016 ... 4

Gambar 4. VUB Bawang Merah Violetta Agrihorti 1 (kiri) VUB Cabai Merah Besar Inata Agrihorti (kanan) ... 18

Gambar 5. Perbandingan Penampilan Bentuk Beberapa Varietas Umbi Kentang 2) Dayang Sumbi, 6) Granola, 7) Atlantik, 8) Katahdin, 9) SP 951 ... 18

Gambar 6. Mentimun Hibrida Varietas Litsa 2 ... 18

Gambar 7. Keragaan buah VUB Pepaya Dapina Agrihorti ... 19

Gambar 8. VUB Mangga Gadung 221 ... 19

Gambar 9. VUB Jeruk Pamindo ………..……… 20

Gambar 10. Keragaan VUB Krisan: Reena Agrihort, Zarina Agrihort, Safira Agrihort, Padmini Agrihort, Yozita Agrihort (dari kiri ke kanan) ... 21

Gambar 11. Penampilan Varietas Unggul Tebu Lokal Kerinci ... 22

Gambar 12. Jet 1 Agribun (kiri) dan Jet 2 Agribun (kanan) ... 23

Gambar 13. VUB Sisal H 11649 ... 23

Gambar 14. VUB Kelapa Sri Gemilang... 24

Gambar 15. Tanaman Kelapa Puan Kalianda (kiri) dan Keragaman Warna Buah Kelapa Puan Kalianda (kanan) ... 24

Gambar 16. Daun, Buah, Biji dan Fuli Pala Fak-Fak (Atas), dan Daun, Buah dan Biji Pala Banda (Bawah)... 25

(6)

v

Gambar 17. Serai Dapur Sitralina 1 Agribun ………... 25

Gambar 18. VUB Temulawak Xanthorina 1 dan Xanthorina... 26

Gambar 19. Penampilan Pertanaman Kakao BL 50... 26

Gambar 20. Keragaan Padi Varietas Inpari 42 Agritan GSR... 27

Gambar 21. Keragaan Padi Varietas Inpari 43 Agritan GSR (kiri) dan Inpari 44 Agritan (kanan)... 28

Gambar 22. VUB Inpago 12 Agritan…... 28

Gambar 23. Keragaan VUB Inpago IPB 9 G... . 29

Gambar 24. Keragaan VUB Unsoed Parimas... 29

Gambar 25. Keragaan jagung hibrida varietas JH 37... . 30

Gambar 26. Keragaan jagung hibrida varietas JH 47... . 31

Gambar 27. Keragaan jagung komposit varietas Srikandi Kuning 2... . 31

Gambar 28. Keragaan VUB Deja 1…... 32

Gambar 29. Keragaan VUB Deja 2…... 32

Gambar 30. Keragaan VUB Detap 1... 33

Gambar 31. Keragaan Tanaman dan Biji Kedelai Varietas Devon 2... . 33

Gambar 32. Keragaan Gandum Varietas GURI 6... . 34

Gambar33. Keragaan VUB Sorgum SOPER 6 Agritan... . 34

Gambar 34. Keragaan Kacang Hijau Varietas Vima 4 (kiri) dan Vima 5 (kanan)…... .. 35

Gambar 35. Keragaan Ubijalar Varietas Patting 1 (kiri) dan Patting 2 (kanan)... 35

Gambar 36. Katam Terpadu Modern versi 2.5... 38 Gambar 37. Bangunan bendung Sadap Untuk Menampung Mata Air di

(7)

vi

Selatan ... 38

Gambar 38. Model Pengelolaan Air Terintegrasi Di Lahan Rawa ... 39

Gambar 39. Mesin Untuk Penyiapan Lahan Rawa Pasang Surut... 40

Gambar 40. Mesin Tanam Padi Jajar Legowo Tipe Mini... 40

Gambar 41. Mesin Panen Jagung Tipe Kombinasi... 41

Gambar 42. Alsin untuk Penerapan Core Sampling... ... 42

Gambar 43. Kegiatan Penelitian Pemanfaatan Bahan Amelioran pada Budidaya Bawang Merah di Lahan Gambut... 44

Gambar 44. Ekstrak Nabati Yang Bersifat Repelen Terhadap Vektor Virus Kuning... 45

Gambar 45. Eksplan Tunas Salak yang telah berinisiasi pada media IP2.. . 45

Gambar 46. Teknologi perbanyakan gerbera secara in vitro... 46

Gambar 47. Pita DNA spesifik citrumelo dan JC diproduksi oleh Primer RAPD ... 47

Gambar 48. Proses HWT pada 52ºC Selama 30 Menit (Kiri), Pesemaian Benih Bud Chip Pada Pengujian Daya Mengecambah... 48

Gambar 49. Keragaan Tanaman Tebu Sebelum Tebang... 48

Gambar 50. Tanaman Crotalaria juncea (kiri) dan Bintil akar C. juncea dan Koloni Rhizobia juncea (kanan)... ... 49

Gambar 51. Beberapa Telur Dasynus piperis yang terparasit oleh Anastatus dasyni pada Pertanaman Lada di Bangka... ... 51

Gambar 52. Kelapa Terserang Penyakit Layu Kalimantan (ke-1 dan ke-2 dari kiri), Pembakaran Batang Kelapa Yang Baru ditebang .... 53

Gambar 53. Pertanaman Padi Gogo dengan Pupuk Organik dan Hayati.... 54

Gambar 54. Peta penyebaran Peronosclerospora spp. di Indonesia... 57

Gambar 55. Keragaan tanaman kacang tanah pada umur mendekati panen di Laipori (kiri) dan umur 65 HST di Pamboto Njara, Sumba Timur NTT ... 59

(8)

vii Gambar 56. Perbandingan Realisasi Capaian Kinerja 9 IKU Balitbangtan

selama 5 tahun terakhir (2015 – 2016) ... 67 Gambar 57. Grafik Persentase Capaian Tahun 2015 dan 2016 terhadap

Renstra 2015 – 2019... 68 Gambar 58. Peneliti Berprestasi... 72

(9)

viii DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Struktur Organisasi Balitbangtan

Lampiran 2. Daftar Laboratorium Lingkup Balitbangtan Yang Sudah Berstatus Akreditasi

Lampiran 3. Data Kebun Percobaan Lingkup Balitbangtan

Lampiran 4. Target dan Alokasi Anggaran dari Sasaran Program dan Indikator Kinerja Balitbangtan 2015-2019

Lampiran 5. Format Dan Monev Triwulanan

Lampiran 6. Perbandingan capaian 2016 dengan Capaian 2012-2015 dan Target 2015-2019

(10)

ix IKHTISAR EKSEKUTIF

Dalam rangka menjamin pelaksanaan program penelitian dan pengembangan pertanian yang konsisten dan kontinyu, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah menetapkan Rencana Strategis 2015 – 2019. Rencana Strategis ini dilaksanakan dengan mengacu kepada Undang Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; Rencana Pembangunan Pertanian Jangka Panjang 2005-2025; Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015-2019; dan Renstra Kementerian Pertanian Tahun 2015-2019. Renstra Balitbangtan merupakan dokumen perencanaan yang berisikan visi, misi, tujuan, sasaran strategis, kebijakan, strategi, program, dan kegiatan penelitian dan pengembangan pembangunan pertanian yang akan dilaksanakan oleh Balitbangtan selama lima tahun ke depan (2015-2019). Agar Balitbangtan dapat senantiasa eksis, antisipatif dan inovatif, dalam dokumen ini pula, ditetapkanlah visi Balitbangtan ke depan yaitu : “Menjadi Lembaga Penelitian Terkemuka Penghasil Teknologi dan Inovasi Pertanian Modern Untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan dan Kesejahteraan Petani”.

Dalam rangka mendukung pelaksanaan program Kementerian Pertanian, Balitbangtan menetapkan program utama pada periode 2015-2019 yang diarahkan untuk penciptaan teknologi dan inovasi pertanian bioindustri berkelanjutan. Oleh karena itu, Balitbangtan menetapkan kebijakan alokasi sumber daya litbang menurut fokus komoditas yang terdiri sebelas komoditi yang ditetapkan oleh Kementerian Pertanian, yakni : (1). Bahan Makanan Pokok Nasional: Padi, Jagung, Kedelai, Gula, Daging, Telur dan Susu; (2) Bahan makanan pokok lokal: sagu, jagung, umbi-umbian (ubi kayu, ubi jalar); (3) Produk pertanian penting pengendali inflasi: cabai, bawang merah, bawang putih; (4) Bahan baku industri (konvensional): sawit, karet, kakao, kopi, lada, pala, teh, susu, ubi kayu; (5) Bahan baku industri: sorgum, gandum, tanaman obat, minyak atsiri, (6) Produk industri pertanian (prospektif): aneka tepung dan jamu; (7) Produk energi pertanian (prospektif): biodiesel, bioetanol, biogas; dan (8) Produk pertanian berorientasi ekspor dan subtitusi impor: buah-buahan (nanas, manggis, salak, mangga, jeruk), kambing/domba, unggas lokal, babi, florikultura. Dalam delapan kelompok produk tersebut, terdapat tujuh komoditas yang ditetapkan sebagai komoditas strategis, yakni padi, jagung, kedelai, gula, daging sapi/kerbau, cabai merah, dan bawang merah, kemudian Kementerian Pertanian menambahkan 4 komoditas lainnya yaitu kelapa sawit, kopi, kakao, dan karet.

Sesuai dengan organisasi Balitbangtan, program Balitbangtan untuk periode 2015-2019 terdiri dari 5 kegiatan, yaitu sebagai berikut: (1) Kegiatan Strategis Litbang Tanaman Pangan; (2) Kegiatan Strategis Litbang Hortikultura; (3) Program Strategis Litbang Tanaman Perkebunan; (4) Kegiatan Strategis Litbang Peternakan; dan (5) Corporate Program. Sementara itu, berdasarkan Perjanjian

(11)

x Kinerja Balitbangtan Tahun 2016, Balitbangtan mempunyai 1 (satu) sasaran strategis dan 9 (sembilan) Indikator Kinerja yang digunakan sebagai parameter pengukuran realisasi capaian setiap sasaran, yaitu (1) Jumlah Varietas (Galur/Klon) Unggul Baru; (2) Jumlah teknologi dan inovasi peningkatan produksi pertanian; (3) Jumlah model pengembangan inovasi pertanian; (4) Jumlah Taman Sains Pertanian (TSP); (5) Jumlah Taman Teknologi Pertanian (TTP); (6) Jumlah rekomendasi kebijakan pembangunan pertanian; (7) Jumlah benih sumber tanaman; (8) Jumlah bibit sumber ternak dan (9) Jumlah teknologi yang didiseminasikan ke pengguna.

Target untuk 9 indikator sasaran tersebut, secara umum telah tercapai dan melebihi target yang ditetapkan dengan kisaran prosentase capaian antara 126,59 %(sangat berhasil).

Pencapaian kinerja akuntabilitas bidang keuangan per 31 Desember 2016, anggaran Balitbangtan telah direalisasikan sebesar 91,24%. Rata-rata realisasi anggaran per eselon-2 lingkup Balitbangtan menunjukkan hasil yang cukup baik, yaitu di atas 91,03%. Sedangkan realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) untuk periode yang berakhir pada 30 November 2016 mencapai 140,56% dari estimasi pendapatan yang ditetapkan. Walau secara umum target yang ditetapkan telah terpenuhi namun dalam pelaksanaan kegiatan tidaklah selalu berjalan mulus. Masih banyak kendala teknis maupun non teknis yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan Balitbangtan. Namun, agar sasaran tetap tercapai, langkah antisipatif telah diupayakan oleh seluruh jajaran Balitbangtan dengan mengoptimalkan seluruh potensi dan kemampuan yang dimiliki agar seluruh kegiatan dapat berjalan dengan optimal.

(12)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

1 BAB I. PENDAHULUAN

Balitbangtan merupakan leading institution dalam pengembangan pertanian di Indonesia menuju modern agriculture, yang menuntut perlunya inovasi yang responsif terhadap dinamika iklim berbasis biosains, bioenjinering dan aplikasi IT dengan memanfaatkan advance techonology (teknologi nano, bioteknologi, iradiasi, bioinformatika dan bioprosesing).

Perkembangan organisasi Balitbangtan yang dilaksanakan secara berkelanjutan dan disesuaikan dengan dinamika tuntutan perubahan lingkungan strategis Litbang Pertanian berperan penting dalam mendukung pencapaian visi dan misi Balitbangtan. Kebijakan yang bertujuan untuk mewujudkan organisasi pemerintah yang efektif dan efisien telah dilakukan melalui penerbitan dua peraturan perundangan yaitu Peraturan Presiden RI No. 7 Tahun 2015 tentang organisasi Kementerian Negara dan Peraturan Presiden Nomor 45 Tahun 2015 tentang Kementerian Pertanian.

Menindaklanjuti kebijakan tersebut, Menteri Pertanian menetapkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 43/Permentan/OT.010/8/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian. Struktur Organisasi Balitbangtan tahun 2016 terdiri atas jajaran eselon II yang meliputi: (1) Sekretariat Badan; (2) Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan; (3) Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura; (4) Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan; (5) Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan; (6) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian; (7) Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian; (8) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian; (9) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian; (10) Balai Besar Penelitian Tanaman Padi; (11) Balai Besar Penelitian Veteriner; dan (12) Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Berdasarkan Permentan tersebut Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian dan Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian bertanggung kepada Menteri Pertanian melalui Sekretariat Jenderal. Bagan organisasi dapat dilihat pada lampiran 1. Selain itu organisasi Balitbangtan juga mengalami perubahan yaitu pengalihan fungsi Balai Pengujian Mutu Alat dan Mesin Pertanian (BPMA) yang semula berkedudukan dibawah Direktorat Mutu dan Standardisasi, Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (PPHP) ke Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 693/Kpts/OT.010/12/2015 tentang Pengalihan kedudukan Balai Pengujian Mutu Alat dan Mesin Pertanian. Pengalihan tersebut dimaksudkan dalam rangka meningkatkan efektifitas tugas dan fungsi BPMA yaitu melaksanakan pengujian mutu alat dan mesin pertanian. Sedangkan pengawasan peredaran dan pemberian sertifikasi alat dan mesin pertanian akan dilaksanakan oleh Direktorat Alat dan Mesin Pertanian, Direktorat Jenderal Prasaranan dan

(13)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

2 Sarana Pertanian. Terhadap pengalihan pelaksanaan pengujian BPMA tidak merubah tugas dan fungsi Balitbangtan.

Pengalihan kedudukan BPMA ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 12/Permentan/OT.010/4/2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengujian Mutu Alat dan Mesin Pertanian dengan susunan organisasi yang terdiri dari : 1) Kepala, 2) Bagian Tata Usaha, 3) Bidang Program dan Evaluasi, 4) Bidang Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Perekayasaan dan Pengujian, 5) Bidang Standardisasi dan Pengujian Alat dan Mesin Pertanian (Penambahan Eselon III) yang terdiri atas Seksi Standardisasi Alat dan Mesin Pertanian (Penambahan Eselon IV) dan Seksi Pengujian Alat dan Mesin Pertanian (Penambahan Eselon IV), serta 6) Kelompok Jabatan Fungsional.

Tupoksi Balitbangtan dijalankan dengan dukungan seluruh sumberdaya yang ada, termasuk sumberdaya yang paling berharga yaitu sumberdaya manusia (SDM). Jumlah SDM Balitbangtan per Desember 2016 sebanyak 7.037 orang atau 35,5% dari total SDM Kementerian Pertanian yang berjumlah 19.822 orang. Berdasarkan bidang tugasnya, SDM Balitbangtan pada tahun 2016 terdiri atas tenaga fungsional tertentu sebanyak 3.020 orang (43%), dan tenaga pendukung penelitian 4.017 orang (57%). Tenaga fungsional tertentu ini sebagian besar adalah peneliti sejumlah 1.807 orang (60%). Komposisi tenaga fungsional tertentu pada tahun 2016 disajikan pada Gambar 1 berikut.

Gambar 1. Komposisi Tenaga Fungsional Balitbangtan, Tahun 2016 Adapun perkembangan jumlah tenaga fungsional dalam lima tahun terakhir (dari tahun 2012–2016) disajikan pada Tabel 1.

(14)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

3 Tabel 1. Perkembangan Komposisi Tenaga Fungsional Balitbangtan Tahun 2012

– 2016 No Jabatan Fungsional 2012 2013 2014 2015 2016 1 Peneliti 1.628 1.650 1.780 1.859 1.807 2 Perekayasa 37 41 40 40 36 3 Penyuluh 227 248 291 330 354 4 Teknisi Litkayasa 529 587 549 593 565 5 Pustakawan 88 90 98 99 103 6 Pranata Komputer 6 8 10 11 40 7 Arsiparis 27 31 43 48 50 8 Perencana 2 2 2 2 1 9 Analis Kepegawaian 5 11 14 15 2 10 Pranata Humas 3 9 15 20 2

11 Fungsional Umum dan struktural 5.113 4.446 4.451 4.499 4.075

12 Statistik 2 2 2 2 1

13 Fungsinal Tertentu Lainnya 7 1

Jumlah 7.694 7.156 7.338 7.525 7.037

Sumber data : Statistik Balitbangtan, data diolah, Desember 2016

Di sisi lain, jumlah tenaga fungsional pendukung menurun drastis, dari 7.525 orang pada tahun 2015 menjadi 7.037 orang pada tahun 2016 (Tabel 1). Hal ini disebabkan oleh penerimaan SDM yang makin terbatas (zero growth) dan sentralistik.

Perkembangan komposisi SDM Balitbangtan menurut tingkat pendidikan dalam lima tahun terakhir disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2. Perkembangan SDM Balitbangtan menurut pendidikan, Tahun 2012-2016 406 467 501 510 496 1093 1085 1128 1150 1077 1994 1882 1907 1946 1925 4235 3970 3928 3910 3539 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 2012 2013 2014 2015 2016 S3 S2 S1 <S1

(15)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

4 Peningkatan kompetensi SDM antara lain dilaksanakan dengan penugasan pegawai untuk tugas belajar di berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Dalam kurun waktu 2012-2016 jumlah pegawai Balitbangtan cenderung mengalami penurunan, namun pada tahun 2014-2015 mengalami kenaikan yang cukup signifikan, dengan pendidikan S3, S2 dan S1 terutama terjadi kenaikan pegawai.

Petugas belajar Balitbangtan dalam kurun waktu 2006-2016 disajikan pada Gambar 3. Pada tahun 2013, 2014 dan 2016 terlihat ada peningkatan jumlah petugas belajar luar negeri. Hal ini karena Balitbangtan mengalokasikan peningkatan kompetensi SDM selain melalui anggaran APBN Murni juga melalui Program Sustainable Management Agricultural Research and Technology Dissemination (SMARTD).

Gambar 3. Perkembangan Petugas Belajar Balitbangtan Tahun 2006-2016

Beberapa peneliti Balitbangtan telah mendapatkan gelar Profesor Riset, yang merupakan gelar tertinggi yang diberikan kepada para peneliti yang sudah mencapai jenjang kepangkatan Peneliti Utama dengan angka kredit 1.050, sudah pernah menyampaikan orasi ilmiah serta telah menulis publikasi ilmiah internasional minimal 2 judul. Sampai dengan tahun 2016, Balitbangtan telah mempunyai 125 Profesor Riset dengan bidang kepakaran antara lain Budidaya Tanaman, Hama dan Penyakit Tanaman, Pemuliaan dan Genetika Tanaman, dan Sistem Usaha Pertanian. Dari jumlah tersebut 65 diantaranya masih aktif, 54 telah purnabakti dan 6 telah meninggal.

Dalam mendukung tugas dan fungsi Balitbangtan sebagai lembaga penelitian, laboratorium merupakan salah satu sumberdaya yang sangat penting untuk

97 88 74 48 142 75 58 65 56 52 49 0 0 1 5 4 7 11 37 47 28 36 0 50 100 150 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

DN: 766 orang

LN: 166 orang

DN LN

(16)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

5 menunjang hasil kegiatan penelitian, keberhasilan dan mutu penelitian yang dihasilkan ditunjang oleh kelengkapan laboratorium yang berstandar baik peralatan, SDM serta sistem pengendalian mutu yang memenuhi persyaratan standar baku nasional dan internasional yaitu sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI ISO/IEC 19-17025:2005).

Balitbangtan memiliki 157 laboratorium yang tersebar pada satuan kerja yang berlokasi diseluruh provinsi. Jenis dan kemampuan laboratorium di masing-masing satker beragam, kemampuan dan kapasitas selalu diupayakan meningkat secara bertahap. Sebanyak 49 laboratorium sudah mendapatkan sertifikat akreditasi SNI ISO/IEC 19-17025:2005 dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) yang berarti telah mendapatkan pengakuan formal, baik nasional, regional dan internasional, dalam melaksanakan pengujian tertentu, 10 laboratorium dalam proses akreditasi, dan 98 laboratorium belum terakreditasi. Dengan demikian data analisis yang digunakan untuk menunjang penelitian telah terjamin mutunya dan hasil penelitian terpercaya karena berasal dari data yang akurat, andal dan bermutu. Dengan pengelolaan sesuai dengan standar baku secara terus menerus, maka mutu layanannya dapat dipertahankan secara berkelanjutan.

Sasaran jangka panjangnya, laboratorium Balitbangtan dapat menjadi laboratorium rujukan yang andal dan absah bagi laboratorium lainnya. Selain itu juga dapat menjadi tempat untuk pelatihan, magang, dan pusat penelitian di bidangnya. Fasilitas laboratorium dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan nasional, dan kerjasama internasional dapat digiatkan dengan lebih mudah. Sebagai laboratorium rujukan, dapat melakukan koordinasi uji profisiensi baik secara nasional, regional maupun internasional. Rincian daftar laboratorium lingkup Balitbangtan yang sudah berstatus akreditasi dapat dilihat pada lampiran 2.

Selain laboratorium, Keberadaan KP pada Unit Kerja lingkup Balitbangtan bernilai sangat strategis khususnya dalam mendukung mandat di bidang penelitian dan pengembangan pertanian. Upaya pendayagunaan KP telah dilakukan sejak tahun 2007 dengan memberikan pendanaan khusus untuk pengembangan sarana dan prasarana KP. Balitbangtan memiliki 119 KP dengan luas total sebesar 4.613,25 ha tersebar di 45 UPT. Secara umum kondisinya sangat bervariasi, baik luas, status lahan, penggunaan dan pemanfaatan, maupun keragaannya. Kebun-kebun tersebut tersebar di berbagai wilayah pada kondisi agroklimat yang berbeda-beda dengan ketinggian mulai dataran rendah sampai dengan dataran tinggi.

Keterbatasan sumberdaya yang teralokasi ke KP (seperti sumber daya manusia, sarana, dan dana), sulitnya jangkauan dan akses ke lokasi KP, kurang relevannya biofisik lahan KP mengakibatkan penggunaan dan pemanfaatan KP di beberapa UPT belum maksimal, ditambah lagi dengan tingginya gangguan keamanan oleh masyarakat sekitar KP. Untuk itu, Balitbangtan secara kontinyu meningkatkan kapasitas KP melalui upaya peningkatan alokasi sumberdaya, baik anggaran, SDM maupun sarana dan prasarana. Balitbangtan telah mengambil kebijakan untuk menggunakan KP sebagai tempat utama dalam melakukan litkaji sehingga dengan

(17)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

6 sendirinya meningkatkan anggaran kegiatan di KP. Peningkatan kapasitas SDM dilakukan melalui pelatihan dan workshop pengelolaan KP.

Selain itu, Balitbangtan masih memiliki kebun percobaan yang belum ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pertanian yaitu Kebun Percobaan Batang dan Kebun Percobaan Bandongan pada satker BPTP Jawa Tengah. Secara rinci data Kebun Percobaan lingkup Balitbangtan dapat dilihat pada lampiran 3.

Dalam memaksimalkan tupoksi Balitbangtan terutama untuk menyebarluaskan varietas-varietas unggul baru, telah diupayakan melalui pembentukan Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS), yang berperan dalam 1) Meningkatkan produksi, mutu, dan distribusi benih sumber; 2) Mempercepat pengembangan varietas unggul baru; 3) Memantapkan kelembagaan perbenihan untuk menjamin distribusi benih; dan 4) Mendukung upaya penyediaan benih bermutu bagi petani. Saat ini, telah ada 47 UPT lingkup Balitbangtan sebagai pelaksana UPBS dan telah memproduksi berbagai jenis benih (FS, SS dan ES) dari komoditas tanaman pangan, tanaman hortikultura dan perkebunan maupun peternakan. Keberadaan UPBS diharapkan dapat membantu mempercepat penyebaran varietas baru, terutama kelas benih Breeder Seed (benih penjenis) dan Foundation Seed (benih dasar) yang selanjutnya diperbanyak oleh penangkar lain menjadi kelas benih yang lebih rendah yaitu Stock Seed (benih pokok) dan Extention Seed (benih sebar).

Pengembangan sumber daya ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) ditujukan untuk mengubah penggunaan Iptek dari yang berciri tradisional ke arah yang lebih maju. Dengan sumberdaya yang terbatas dan tatanan pasar yang sangat kompetitif, penerapan inovasi teknologi merupakan faktor kunci dalam pengembangan pertanian industrial unggul berkelanjutan. Inovasi teknologi harus bermanfaat dalam meningkatkan kapasitas produksi dan produktivitas sehingga dapat memacu pertumbuhan produksi dan peningkatan daya saing. Inovasi teknologi juga diperlukan dalam pengembangan produk (product development) dalam rangka peningkatan nilai tambah, diversifikasi produk dan transformasi produk sesuai dengan preferensi konsumen.

Balitbangtan telah dan terus mengembangkan kegiatan manajemen dengan melakukan sinkronisasi dan konsolidasi dalam penyusunan strategi, arah kebijakan dan kebijakan litbang pertanian. Untuk mencapai harmonisasi perencanaan kegiatan litbang pertanian secara menyeluruh, terintegrasi, dan bersinergi dengan sektor lain dalam mencapai tujuan pembangunan pertanian, Balitbangtan perlu menyusun rencana strategis (Renstra) sehingga hasil litbang yang dicapai dapat memberikan arti dalam mendukung pencapaian pembangunan pertanian nasional yang berbasis Iptek.

(18)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

7 BAB II. PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA

Renstra merupakan acuan dan arahan bagi Unit Kerja di lingkup Balitbangtan dalam merencanakan dan melaksanakan penelitian dan pengembangan pertanian pertanian periode 2015 – 2019 secara menyeluruh terintegrasi, dan sinergis, baik di dalam maupun antar sub- sektor terkait. Penyusunan renstra Balitbangtan mengacu kepada : 1) Undang-undang nasional, 2) Rencana Pembangunan Pertanian Jangka Panjang (RPJP) 2005 – 2025, 3) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015 – 2019, dan 4) Renstra Kementerian Pertanian Tahun 2015 – 2019.

Secara umum, Renstra Balitbangtan berisikan uraian tentang kondisi umum (struktur organisasi, sumberdaya penelitian, dan kinerja 2010-2014), potensi, permasalahan, dan tantangan, visi, misi, tujuan, sasaran strategis, arah kebijakan, strategi, program, kerangka regulasi, kerangka kelembagaan, target kinerja dan kerangka pendanaan yang akan dilaksanakan oleh Balitbangtan selama lima tahun ke depan (2015- 2019).

Rencana kerja Balitbangtan selama lima tahun dituangkan dalam Renstra Balitbangtan dengan mengacu kepada Undang Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; Rencana Pembangunan Pertanian Jangka Panjang 2005-2025, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015-2019, dan Renstra Kementerian Pertanian Tahun 2015-2019. Sebagai bentuk implementasi dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN 2015-2019) bidang penelitian dan pengembangan pertanian perencanaan kinerja diharapkan dapat digunakan sebagai acuan dan arahan bagi Unit kerja di lingkup Balitbangtan dalam merencanakan dan melaksanakan penelitian dan pengembangan pertanian periode 2015-2019 secara menyeluruh, terintegrasi, dan sinergis baik di dalam maupun antar sektor/sub-sektor terkait. Pada tahap berikutnya, rencana kinerja yang memuat visi, misi, tujuan, sasaran strategis, kebijakan, strategi, program, dan kegiatan penelitian dan pengembangan pembangunan pertanian yang akan dilaksanakan oleh Balitbangtan ini dituangkan dalam sebuah perjanjian kinerja antara Kepala Balitbangtan dengan Menteri Pertanian dalam bentuk dokumen Perjanjian Kinerja (PK) sebagai acuan penilaian terhadap akuntabilitas pelaksana kegiatan lingkup Balitbangtan.

2.1 Visi

Visi Balitbangtan adalah “Menjadi Lembaga Penelitian Terkemuka Penghasil Teknologi dan Inovasi Pertanian Modern Untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan dan Kesejahteraan Petani”.

(19)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

8 2.2. Misi

Misi Balitbangtan adalah : 1) menghasilkan dan mengembangkan teknologi pertanian modern yang memiliki scientific recognition dengan produktivitas dan efisiensi tinggi, dan 2) hilirisasi dan masalisasi teknologi pertanian modern sebagai solusi menyeluruh permasalahan pertanian yang memiliki impact recognition.

2.3. Tujuan

Sebagai penjabaran dari Visi dan Misi Balitbangtan, maka tujuan yang ingin dicapai selama tahun 2015-2019 adalah sebagai berikut : 1) menyediakan varietas/ galur/klon unggul yang adaptif, produktivitas tinggi, sesuai preferensi pengguna, 2) menyediakan teknologi yang lebih produktif dan efisien serta ramah lingkungan, dan 3) mempercepat dan meningkatkan diseminasi inovasi dan teknologi di tingkat pengguna.

2.4. Sasaran Program

Sasaran Program Balitbangtan adalah: 1) tersedianya varietas dan galur/klon unggul baru, 2) tersedianya teknologi dan inovasi Pertanian, 3) tersedianya model pengembangan inovasi, 4) tersedianya rekomendasi kebijakan pembangunan pertanian, dan 5) tersedia dan terdistribusinya produk inovasi pertanian.

Keterkaitan visi, misi dan sasaran program disajikan pada Tabel 2, sedangkan keterkaitan sasaran program dan indikator kinerja program Balitbangtan 2015-2019 disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Keterkaitan Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Program

Visi Misi Tujuan Sasaran Program

Menjadi lembaga penelitian terkemuka penghasil teknologi dan inovasi pertanian modern untuk mewujudkan kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani 1. Menghasilkan dan mengembangkan teknologi pertanian modern dengan produktivitas dan efisien tinggi yang memiliki scientific recognition

1. Menyediakan varietas/galur/klon unggul yang adaptif, produktivitas tinggi, sesuai preferensi pengguna 1. Tersedianya varietas dan galur/klon unggul baru 2. Menyediakan teknologi yang lebih produktif dan efisien serta ramah lingkungan

2. Tersedianya teknologi dan inovasi pertanian 3. Tersedianya model pengembangan inovasi 4. Tersedianya rekomendasi kebijakan pembangunan pertanian

(20)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

9

Visi Misi Tujuan Sasaran Program

2. Hilirisasi dan masalisasi teknologi pertanian modern sebagai solusi menyeluruh permasalahan pertanian yang memiliki impact recognition 3. Mempercepat dan meningkatkan diseminasi inovasi dan teknologi di tingkat pengguna 5. Tersedia dan terdistribusinya produk inovasi pertanian

Tabel 3. Sasaran Program dan Indikator Kinerja Program Balitbangtan 2015-2019

No Sasaran Program Indikator Kinerja Program

1 Tersedianya varietas dan galur/klon

unggul baru Jumlah varietas unggul/klon/galur baru

2 Tersedianya teknologi dan inovasi

pertanian Jumlah teknologi dan inovasi untuk peningkatan produksi pertanian 3 Tersedianya model pengembangan

inovasi pertanian 1. Jumlah model sistem kelembagaan dan inovasi spesifik lokasi 2. Jumlah Taman Sains Pertanian (TSP) 3. Jumlah Taman Teknologi Pertanian (TTP) 4. Tersedianya rekomendasi kebijakan

pembangunan pertanian Jumlah rekomendasi kebijakan pembangunan pertanian 5 Tersedia dan terdistribusinya produk

inovasi pertanian 1. Jumlah benih sumber tanaman 2. Jumlah bibit sumber ternak

3. Jumlah teknologi yang terdiseminasikan ke pengguna

2.5. Program Balitbangtan

Program Balitbangtan pada periode 2015-2019 diarahkan untuk menghasilkan teknologi dan inovasi pertanian bio-industri berkelanjutan. Oleh karena itu, Balitbangtan menetapkan kebijakan alokasi sumber daya litbang menurut fokus komoditas yang terdiri sebelas komoditi yang ditetapkan oleh Kementerian Pertanian, yakni: 1) bahan makanan pokok nasional: padi, jagung, kedelai, gula, daging, telur dan susu, 2) bahan makanan pokok lokal: sagu, jagung, umbi-umbian (ubi kayu, ubi jalar), 3) produk pertanian penting pengendali inflasi: cabai, bawang merah, bawang putih, 4) bahan baku industri (konvensional): sawit, karet, kakao, kopi, lada, pala, teh, susu, ubi kayu, 5) bahan baku industri: sorgum, gandum, tanaman obat, minyak atsiri, 6) produk industri pertanian (prospektif): aneka tepung dan jamu, 7) produk energi pertanian (prospektif): biodiesel, bioetanol, biogas, dan 8) produk pertanian berorientasi ekspor dan subtitusi impor: buah-buahan (nanas, manggis, salak, mangga, jeruk), kambing/domba, unggas lokal, babi, florikultura.

(21)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

10 Dalam delapan kelompok produk tersebut, terdapat tujuh komoditas yang ditetapkan sebagai komoditas strategis, yakni padi, jagung, kedelai, gula, daging sapi/kerbau, cabai merah, dan bawang merah, kemudian Kementerian Pertanian menambahkan 4 komoditas lainnya yaitu kelapa sawit, kopi, kakao, dan karet.

2.6. Kegiatan Balitbangtan

2.6.1. Kegiatan Litbang Tanaman Pangan

Sasaran kegiatan litbang tanaman pangan dalam upaya mempertahankan swasembada padi dan jagung, mencapai swasembada kedelai serta peningkatan produksi tanaman pangan lainnya untuk pangan, pakan dan energi adalah: 1) tersedianya varietas dan galur/klon unggul baru, 2) tersedianya teknologi dan inovasi pertanian, 3) tersedianya model pengembangan inovasi, 4) tersedianya rekomendasi kebijakan pembangunan pertanian, dan 5) tersedianya dan terdistribusinya produk inovasi pertanian.

Adapun kegiatan Litbang Tanaman Pangan diarahkan untuk mendukung: 1) swasembada padi, 2) swasembada jagung, 3) swasembada kedelai dan 4) peningkatan produksi tanaman pangan lainnya.

2.6.2. Kegiatan Strategis Litbang Tanaman Hortikultura

Kegiatan litbang tanaman hortikultura mempunyai sasaran utama yaitu: 1) tersedianya varietas dan galur/klon unggul baru, 2) tersedianya teknologi dan inovasi hortikultura, baik yang bersifat high technology maupun tepat guna, 3) terlaksananya kerja sama penelitian dan pengembangan, 4) tersedianya rekomendasi kebijakan pembangunan pertanian, dan 5) tersedia dan terdistribusikannya produk inovasi hortikultura.

Kegiatan litbang tanaman hortikultura difokuskan untuk mendukung stabilisasi harga dan ketersediaan produksi terutama untuk komoditas prioritas, yaitu cabai dan bawang merah. Sementara itu, bagi komoditas hortikultura lainnya diarahkan untuk mendukung peningkatan daya saing terutama di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

2.6.3. Kegiatan Litbang Tanaman Perkebunan

Sasaran kegiatan litbang tanaman perkebunan diarahkan pada: 1) tersedianya varietas dan galur/klon unggul baru, 2) tersedianya teknologi dan inovasi pertanian, 3) tersedianya model pengembangan inovasi, 4) tersedianya rekomendasi kebijakan pembangunan pertanian dan 5) tersedia dan terdistribusinya produk inovasi pertanian.

Fokus kegiatan litbang tanaman perkebunan terletak pada penciptaan: 1) teknologi benih, 2) teknologi budidaya, 3) teknologi diversifikasi dan 4)

(22)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

11 pengolahan untuk peningkatan nilai tambah yang berdaya saing. Analisis kebijakan tetap diperlukan baik dalam rangka evaluasi kebijakan maupun sebagai usulan rekomendasi kebijakan pembangunan perkebunan yang bersifat responsif dan antisipatif. Rekomendasi kebijakan mencakup aspek teknologi, ekonomi, sosial (kelembagaan) dan lingkungan serta fokus pada upaya untuk mendukung terwujudnya sistem usaha perkebunan berkelanjutan yang berbasis inovasi.

2.6.4. Kegiatan Litbang Peternakan

Kegiatan litbang peternakan ditujukan untuk mendukung peningkatan produksi daging sapi dan protein hewani lainnya sesuai dengan visi, misi, tujuan dan sasaran program Balitbangtan. Untuk pencapaian sasaran program Balitbangtan terhadap 7 komoditas utama Kementan (padi, jagung, kedelai, bawang merah, cabai, gula dan daging sapi) pada periode 2015 – 2019, maka dukungan kegiatan strategis Litbang Peternakan adalah: 1) tersedianya galur unggul ternak baru dan tanaman pakan ternak, 2) tersedianya teknologi dan inovasi peternakan dan veteriner, 3) tersedianya model pengembangan inovasi peternakan, 4) tersedianya rekomendasi kebijakan pembangunan peternakan dan veteriner, dan 5) tersedianya dan terdistribusinya produk inovasi peternakan dan veteriner.

2.6.5. Corporate Program

Corporate Program merupakan kegiatan litbang yang bersifat lintas kepakaran (keahlian) yang melibatkan berbagai institusi, baik di dalam maupun luar lingkup Balitbangtan yang disusun secara tematik, comprehensive, scientific base, dan cross cutting issues yang dikendalikan dalam kesatuan manajemen yang tidak dibatasi oleh klasterisasi unit kerja. Kegiatan ini dicirikan dengan pelaksanaannya yang lintas institusi dan atau lintas kepakaran. Pelaksanaan Corporate Program dikoordinasikan oleh suatu unit kerja yang mampu mengkoordinasikan penyelesaian suatu kasus tersebut sebagai “leading institution”.

Kegiatan dalam Corporate Program dilaksanakan terutama untuk: (1) mendukung secara langsung pencapaian target-target pembangunan pertanian yang sudah ditetapkan oleh Kementerian Pertanian, dan (2) pengembangan iptek pertanian. Untuk menjawab isu strategis dalam rangka mendukung pencapaian target pembangunan pertanian, kegiatan yang menjadi prioritas dalam Corporate Program adalah kegiatan yang aplikatif, praktis dan teknologi yang cenderung sudah matang, namun secara ilmiah tetap dapat dipertanggungjawabkan.

2.7. Perjanjian Kinerja Tahun 2016

Tahun 2016 merupakan tahun kedua dalam periode Pembangunan Jangka Menengah 2015 – 2019, sehingga merupakan tahun kedua penetapan sasaran- sasaran yang akan dicapai dalam kurun 5 tahun ke depan beserta program dan kegiatan yang mendukung pembangunan sektor pertanian. Dalam upaya

(23)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

12 mendukung pencapaian sasaran dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 – 2019 dan Strategi Induk Pembangunan Pertanian (SIPP) 2015 – 2045 maka disusunlah sasaran program dan indikator kinerja Balitbangtan 2015-2019 yang seperti lampiran 4.

Untuk mempertajam rencana pencapaian target kinerja yang tertuang dalam renstra 2015–2019, per tahunnya Badan Litbang menetapkan perjanjian kinerja yang merupakan dokumen pernyataan kinerja/kesepakatan kinerja/perjanjian kinerja antara atasan dan bawahan untuk mewujudkan target kinerja tertentu berdasarkan pada sumber daya yang dimiliki oleh instansi. Dokumen perjanjian kinerja memuat informasi tentang program, sasaran strategis, indikator kinerja dan target yang akan dicapai serta alokasi anggaran per tahun. Untuk tahun 2016, Balitbangtan telah merencanakan untuk merealisasikan 9 indikator kinerja sebagai penjabaran atas sasaran program meningkatnya inovasi dan diseminasi teknologi pertanian dan ditandatangani oleh Kepala Balitbangtan bersama dengan Menteri Pertanian (pada bulan Maret 2016). Namun demikian, selama tahun 2016 terjadi beberapa kali perubahan kebijakan sehingga PK Balitbangtan tahun 2016 juga mengalami perubahan. Pada bulan Agustus 2016, PK Balitbangtan direvisi, yaitu terjadi perubahan target pada beberapa indikator. Indikator kinerja pada PK awal dan revisi disajikan pada Tabel 4 berikut.

Tabel 4. PK Balitbangtan 2016 (Awal dan Revisi) Sasaran

Program Indikator Kinerja Target Awal Target Revisi

Meningkatnya Inovasi Dan Diseminasi Teknologi Pertanian

1 Jumlah Varietas (galur/ klon) Unggul Baru

(Varietas/galur) 89 89

2 Jumlah teknologi dan inovasi peningkatan produksi pertanian

(Teknologi)

270 270

3 Jumlah model pengembangan inovasi pertanian

(Model) 68 68

4 Jumlah Taman Sains Pertanian (TSP)

(Provinsi) 6 4

5 Jumlah Taman Teknologi Pertanian (TTP)

(Kabupaten) 25 10

6 Jumlah rekomendasi kebijakan pembangunan pertanian

(Rekomendasi)

104 90

7 Jumlah benih sumber tanaman

(Ton) 1.841 1.725

8 Jumlah Bibit sumber ternak

(Ekor) 14.800 13.500

9 Jumlah Teknologi yang didiseminasikan ke pengguna

(Teknologi)

(24)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

13 BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA

Pada Bab ini diuraikan kriteria keberhasilan (realisasi terhadap target), sasaran kegiatan yang dilaksanakan serta permasalahan dan upaya yang telah dilakukan. Untuk mengukur keberhasilan kinerja ditetapkan 4 (empat) kategori keberhasilan, yaitu (1) sangat berhasil: > 100%, (2) berhasil: 80 – 100%, (3) cukup berhasil: 60 – 79%, dan tidak berhasil: 0 – 59%. Realisasi sampai akhir tahun 2016 menunjukkan bahwa sasaran telah dapat dicapai dengan rata-rata capaian sebesar 126,59% (sangat berhasil).

Keberhasilan pencapaian sasaran disebabkan oleh faktor pengawalan kegiatan melalui monitoring dan evaluasi kegiatan penelitian yang cukup ketat, mulai dari tahap awal hingga tahap akhir kegiatan. Keberhasilan pencapaian sasaran tersebut juga didorong oleh dukungan manajemen penelitian, baik aspek pelayanan keuangan, pengolahan data, perpustakaan, publikasi, dan sarana penelitian. Monitoring dan evaluasi realisasi capaian PK secara online telah difasilitasi oleh Setjen Kementan dan mulai dilaksanakan sejak tahun 2016. Sedangkan sejak dua tahun yang lalu, Balitbangtan juga telah melakukan monev rutin dengan nama Rencana Aksi AKIP. Pelaksanaan monev dilakukan untuk memastikan tercapainya target setiap kegiatan. Metode yang dilakukan adalah dengan memantau capaian kinerja setiap bulan ataupun triwulanan beserta kendala yang dihadapi. Sehingga dengan demikian diharapkan bila tidak tercapainya target suatu indikator dapat diantisipasi sejak awal. Format dan monev triwulanan dapat dilihat pada lampiran 5.

3.1. Pengukuran Capaian Kinerja Tahun 2016

Pengukuran tingkat capaian kinerja Balitbangtan tahun 2016 dilakukan dengan membandingkan antara target dengan capaiannya. Berdasarkan perjanjian kinerja Balitbangtan mempunyai 1 (satu) sasaran dan 9 (sembilan) indikator kinerja utama (IKU) dengan target dan capaian untuk tahun 2016 adalah sebagai berikut:

Tabel 5. Capaian Kinerja Indikator Sasaran RPJMN Balitbangtan Tahun 2016

Sasaran Indikator Kinerja Utama (IKU)

Uraian Target Capaian %

Penciptaan Teknologi dan Inovasi Pertanian Bioindustri Berkelanjutan Jumlah (varietas/klon) Unggul Baru (Varietas/galur/klon) 89 140 157,30

Jumlah teknologi dan inovasi peningkatan produksi pertanian (teknologi)

(25)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

14

Sasaran Indikator Kinerja Utama (IKU)

Uraian Target Capaian %

Jumlah model sistem kelembagaan dan inovasi spesifik lokasi (model)

68 68 100

Jumlah Taman Sains

Pertanian (provinsi) 4 4 100

Jumlah Taman Teknologi

Pertanian (kabupaten) 10 10 100

Jumlah rekomendasi kebijakan pembangunan pertanian (rekomendasi)

90 114 126,67

Jumlah benih sumber

tanaman (ton) 1.725 1.724,44 99,97

Jumlah bibit sumber

ternak (ekor) 13.500 33.340 246,96

Jumlah teknologi yang didiseminasikan ke pengguna (teknologi)

164 165 100,61

IKU berdasarkan RPJMN tersusun dari indikator kinerja yang tersebar pada kegiatan yang dilaksanakan oleh unit kerja lingkup Balitbangtan, adalah sebagai berikut:

1. Indikator kinerja jumlah varietas memiliki target sebesar 89 VUB/Galur yang terdiri dari atas 17 VUB tanaman pangan, 7 VUB tanaman perkebunan, 23 VUB tanaman hortikultura, 23 rumpun/galur/varietas unggul/harapan ternak dan TPT Spesifik Agro-ekosistem Puslitbangnak dan 19 galur harapan unggul bioteknologi pertanian.

2. Indikator kinerja jumlah teknologi dan inovasi peningkatan produksi pertanian memiliki target sebesar 270 teknologi yang terdiri atas 5 teknologi bioteknologi, 21 teknologi pasca panen, 11 teknologi sumberdaya lahan pertanian, 132 teknologi spesifik lokasi, 9 teknologi mekanisasi pertanian, 21 teknologi hortikultura, 16 teknologi perkebunan, 35 teknologi peternakan dan 20 teknologi tanaman pangan.

3. Indikator kinerja jumlah model sistem kelembagaan dan inovasi spesifik lokasi memiliki target sebesar 68 model spesifik lokasi.

4. Indikator kinerja jumlah Taman Sains Pertanian (TSP) memiliki target sebesar 4 provinsi yang terdiri atas 1 provinsi di BBP2TP, 1 provinsi di BBP Mektan, 1 provinsi di Puslitbangbun dan 1 provinsi di Puslitbangtan.

5. Indikator kinerja jumlah Taman Teknologi Pertanian (TTP) memiliki target sebesar 10 kabupaten yang berasal dari BBP2TP, yaitu Kabupaten Musi Banyuasin, Sumsel, Kabupaten AKU Induk, Sumsel, Kabupaten Siak, Riau, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, kabupaten Gresik, Jatim, Kabupaten Tabanan, Bali, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim, Kabupaten

(26)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

15 Pangkep, Sulsel, Kabupaten Bombana, Sultra dan Kabupaten Sumbawa Barat, NTB.

6. Indikator kinerja jumlah rekomendasi kebijakan pembangunan pertanian memiliki target sebesar 90 rekomendasi yang terdiri atas 2 rekomendasi bioteknologi pertanian, 3 rekomendasi pasca panen, 10 rekomendasi sumberdaya lahan pertanian, 40 rekomendasi diseminasi inovasi teknologi pertanian, 2 rekomendasi mekanisasi pertanian, 9 rekomendasi sosial ekonomi dan kebijakan pertanian, 2 rekomendasi hortikultura, 6 rekomendasi perkebunan, 7 rekomendasi peternakan dan 9 rekomendasi tanaman pangan. 7. Indikator kinerja jumlah benih sumber tanaman memiliki target sebesar 1.725 ton, yang terdiri dari 200 ton dari kegiatan litbang tanaman pangan, 25 ton dari kegiatan litbang tanaman hortikultura dan 1.500 ton dari pengkajian teknologi pertanian.

8. Indikator kinerja jumlah bibit sumber ternak memiliki target sebesar 13.500 ekor dari kegiatan litbang peternakan.

9. Indikator kinerja jumlah teknologi yang diseminasikan ke pengguna memiliki target sebesar 164 teknologi merupakan output dari kegiatan pengkajian teknologi pertanian.

3.2. Analisis Capaian Kinerja 3.2.1. Capaian Kinerja 2016

Pengukuran tingkat capaian kinerja Balitbangtan tahun 2016 dilakukan dengan cara membandingkan antara target IKU dengan realisasi pada tahun berjalan. Analisis dan evaluasi capaian kinerja tahun 2016 Balitbangtan dapat dijelaskan sebagai berikut:

Capaian IKU pertama berupa 143 Varietas (Galur/Klon) Unggul Baru, atau sebesar 157,30% dari target yang ditetapkan. Adapun capaian IKU pertama dapat diuraikan menjadi 5 Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) sebagai berikut:

Indikator Kinerja Utama (IKU) 1 :

(27)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

16 Tabel 6. Capaian IKK Mendukung IKU ke-1

IKK Target Realisasi %

1. Jumlah galur harapan unggul tanaman (galur) 19 58 305,26

2. Jumlah varietas unggul baru tanaman hortikultura

(VUB) 23 25 108,70

3. Jumlah varietas unggul tanaman perkebunan

(VUB) 7 13 185,71

4. Jumlah rumpun/galur/varietas unggul/harapan

ternak dan TPT Spesifik Agro-ekosistem (galur) 23 23 100

5. Jumlah varietas unggul baru tanaman pangan

(VUB) 17 21 123,53

Total 89 140 157,30

Berdasarkan uraian IKU pertama yang telah ditargetkan pada tahun 2016, seluruh IKK menunjukkan target tercapai 100% bahkan di atas 100% (sangat berhasil). Pencapaian IKK pertama telah berhasil dilaksanakan melalui perakitan 58 galur harapan unggul tanaman (305,26%, sangat berhasil) yang terdiri atas lima komoditas, yaitu padi, kedelai, cabai, kentang dan tomat. Perakitan galur dilakukan melalui tiga pendekatan yaitu 1) pemuliaan berpandukan marka molekuler, 2) mutasi in vitro, dan 3) rekayasa genetik. Pemuliaan berpandukan marka molekuler dilakukan untuk merakit galur padi berbasis gen piramiding untuk karakter provitas tinggi, toleran cekaman biotik dan abitoik, serta sifat aromatik. Pemuliaan mutasi in vitro digunakan untuk merakit kedelai provitas tinggi dan cabai merah besar tahan virus belang. Sedangkan perakitan galur melalui pendekatan rekayasa genetik dilakukan merakit tanaman tomat tahan virus gemini dan kentang tahan busuk daun Phytophthora. Secara rinci perbandingan antara target dan realisasi galur harapan unggul tanaman di tahun 2016 seperti pada tabel di bawah ini :

Tabel 7. Keragaan Galur Harapan Unggul Tanaman di Tahun 2016

No Galur Harapan Unggul Tanaman Realisasi

1 Jumlah galur harapan M8 kedelai berumur genjah-sedang, biji besar dan berdaya hasil tinggi asal iradiasi benih F8 kedelai Jepang x kedelai China sebagai calon varietas unggul baru

13 galur

2 Jumlah galur mutan M6 cabai toleran virus ChiVMV dan virus cabai lainnya

untuk dilepas menjadi varietas unggul cabai merah 5 galur

3 Jumlah galur tomat transgenik BC2F3-IC dan F5-IC hasil persilangan ganda

(28)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

17

No Galur Harapan Unggul Tanaman Realisasi

4 Jumlah galur transforman T3 padi Nipponbare yang positif mengandung gen

CsNitr1-L, homozigot dan single copy 2 galur

5 Jumlah galur kentang Granola dan/atau Atlantik yang mengandung

konstruksi RNAi yang tahan terhadap hawar daun Phytophthora infestans 1 galur 6 Jumlah galur padi produktivitas tinggi BC1F6,BC1F7, BC2F5 , BC2F6, BC3F4 dan

BC3F5 turunan Code dan NIL-QTL-hasil ((NILs-qTSN4[YP9] dan IR64-NILs-qDTH8[YP1]) yang berasal dari tanaman terbaik berdasarkan hasil analisis molekuler dan pengamatan karakter agronomis

12 galur

7 Jumlah galur padi BC3F2 yang mengandung tiga gen ketahanan (Xa5, Xa7 dan Xa21) terhadap Hawar Daun Bakteri (HDB) berdasarkan seleksi marka molekuler foreground dan background

12 galur

8 Jumlah galur padi generasi BC3F4 yang mengandung alel gen Bph6 yang tahan terhadap wereng batang coklat berbasis marker assisted back crossing (MABC)

5 galur

9 Jumlah benih BC3F3 dan BC3F4 Dodokan-Pup1/Alt, Situ Bagendit-Pup1/Alt, dan Batur-Pup1/Alt hasil seleksi molekuler untuk sifat toleransi padi terhadap kahat fosfor dan keracunan alumunium

6 galur

Total 58 galur

Pencapaian IKK kedua yaitu melalui pelepasan 25 VUB tanaman hortikultura atau sebesar 108.70% dari target 23 VUB (kategori sangat berhasil). Adapun 25 VUB yang dihasilkan tersebut terdiri dari: 1 VUB bawang merah, 1 VUB cabai merah besar serta 23 VUB tanaman hortikultura lainnya dengan deskripsi keunggulan sebagai berikut :

Bawang Merah

VUB Violetta Agrihorti 1, agak tahan terhadap Alternaria porri, produksi umbi kering tinggi, warna umbi merah-ungu tua (menarik) dan adaptif di dataran tinggi. Hasil panen umbi basah 17,32 – 24,66 ton/ha dan umbi kering 8,87 -15,2 ton/ha.

Cabai Merah Besar

VUB Inata Agrihorti, hasil panen 14,17 – 19,72 ton/ha, daya simpan buah segar 7 hari, wilayah adaptasi dataran tinggi pada ketinggian 800 – 1.500 mdpl, dapat ditanam di luar musim/off season.

(29)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

18 Gambar 4. VUB Bawang Merah Violetta Agrihorti 1 (kiri) VUB Cabai Merah

Besar Inata Agrihorti (kanan)

Tanaman Horti Lainnya

1. VUB Kentang Dayang Sumbi Agrihorti, varietas ini toleran terhadap penyakit busuk daun (P. infestans) dan produksi tinggi (23,29 – 29,79 ton/ha. SK Kementan no: 091 / Kpts / SR.120 / D.2.7 / 8 /2016 ).

2. VUB Mentimun Hibrida Varietas Litsa 2 SK Kementan no: 114 / Kpts / SR.120 / D.2.7 / 10 /2016, memiliki keunggulan yaitu rasa pangkal buah tidak pahit, warna buah hijau muda bergaris hijau keputihan, hasil 42,37 – 48,46 ton/ha.

Gambar 5. Perbandingan penampilan bentuk beberapa varietas umbi kentang, 2) Dayang Sumbi, 6) Granola, 7) Atlantik, 8) Katahdin, 9) SP 951

(30)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

19 3. VUB Pepaya Dapina, dengan keunggulan pepaya Dapina Agrihorti yaitu

ukuran buah besar (1500-2500 g), daging buah tebal, rasa manis (11-13°Brix), warna daging buah merah oranye, dan provitas 60-100 ton/ha.

Gambar 7. Keragaan buah VUB Pepaya Dapina Agrihorti

4. VUB Mangga Gadung 21, dengan keunggulan ukuran buah besar, daging buah tebal, bentuk buah jorong, warna kulit buah pangkal hijau kekuningan, rasa manis (TSS 15-21 ºBrix).

Gambar 8. VUB Mangga Gadung 221

5. VUB Jeruk Pamelo SK No. 017/Kpts/SR.120/D.2.7/2/2016, dengan keunggulan berbiji sedikit (seedless), kandungan Vit C 34,40-58,02 mg/100g, kandungan gula 8-10,6o brix.

(31)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

20 Gambar 9. VUB Jeruk Pamindo

6. VUB Krisan Reena Agrihort, diameter kuntum bunga 11-13cm, tinggi kuntum bunga 3-4.5 cm, warna kuntum bunga kuning (Yellow 9A), resisten penyakit karat dan periode kesegaran bunga relatif lama.

7. VUB Krisan Zarina Agrihort, bentuk kuntum bunga dekoratif, berukuran besar yang ditopang oleh batang yang kuat, diameter kuntum bunga 10-13 cm, tinggi kuntum bunga 5-7cm, dan resisten terhadap penyakit karat 8. VUB Krisan Safira Agrihort, bentuk kuntum bunga semi dekoratif,

diameter kuntum bunga 12-15 cm, tinggi kuntum bunga 3-5cm, warna bunga kuning (Yellow 12A), dan resisten terhadap penyakit karat.

9. VUB Krisan Padmini Agrihort, kuntum bunga berbentuk dekoratif, padat dan masif, warna bunga kuning (Yellow 13 A), resisten terhadap penyakit karat dan periode kesegaran bunga relatif lama.

10. VUB Krisan Yozita Agrihort, warna kuntum bunga kuning (Yellow 9A), bunga pita termasuk tebal dengan bentuk ujungnya agak bergerigi, dan resisten terhadap penyakit karat.

11. VUB Krisan Alfana Agrihort, bunga berwarna ungu violet, tipe spray. 13-18 kuntum/tangkai, adaptif pada ketinggian 750-1200 m dpl, resisten terhadap penyakit karat, dan memiliki periode kesegaran bunga 12-14 hari dalam vas.

12. VUB Krisan Alfani Agrihort, bunga berwarna ungu violet, tipe spray. 20-26 kuntum/tangkai, adaptif pada ketinggian 750-1200 m dpl, resisten terhadap penyakit karat, dan ketahanan segar 10-12 hari dalam vas. 13. VUB Krisan Suciwati Agrihort, bunga berwarna putih, tipe standar,

adaptif pada ketinggian 750-1200 m dpl, bentuk bunga dekoratif, resisten terhadap penyakit karat.

14.

VUB

Krisan Yuliawati Agrihort, bunga berwarna putih, tipe standar, adaptif pada ketinggian 750-1200 m dpl, bentuk bunga dekoratif, resisten terhadap penyakit karat

(32)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

21 15. VUB Krisan Mardelia Agrihort, bunga berwarna ungu violet, tipe

standar/spray, adaptif pada ketinggian 750-1200 m dpl, bentuk bunga dekoratif, resisten terhadap penyakit karat, bunga potongnya tahan lama 12-14 hari dalam vas.

16. VUB Krisan Alisha Agrihorti, krisan potong tipe dekoratif, warna oranye, jumlah kuntum yang banyak 10-16 kuntum/tanaman/musim.

17. VUB Krisan Pot Armita Agrihorti, krisan pot, bentuk bunga ganda, tipe spray, warna kuning dan toleran terhadap penyakit karat.

18. VUB Krisan Pot Khanza Agrihorti, Krisan pot, bentuk bunga ganda, tipe spray, warna merah, dan toleran terhadap penyakit karat

19. VUB Gerbera Nalini Agrihorti, kuntum bunga lapis 1 warna oranye, lapis 2 warna kuning, warna kuntum bunga kuning yang banyak diminati konsumen.

20. VUB Gerbera Arkadewi Agrihorti, kuntum bunga warna lapis 1 merah ungu, lapis 2 merah ungu, piringan bunga warna merah ungu. Piringan bunga warna merah ungu yang banyak diminati konsumen karena vase lifenya lebih lama

21. VUB Gerbera Awandhini Agrihorti, Gerbera bunga potong, kuntum bunga warna putih kuning kehijauan, piringan bunga abu-abu ungu. Piringan bunga abu-abu ungu serta mempunyai vase life yang relatif lama 22. VUB Anggrek Adelina 2 Agrihort, Bunga berukuran sedang dengan

jumlah kuntum sangat banyak dan mekar serempak. Rangkaian bunga tersusun rapih pada tandan bunga yang menjuntai. Lama kesegaran 3 – 4 bulan.

Gambar 10. Keragaan VUB Krisan: Reena Agrihort, Zarina Agrihort, Safira Agrihort, Padmini Agrihort, Yozita Agrihort (dari kiri ke kanan) 23. Durian Sambeng, buah berbentuk oval-obovoid, warna daging buah kuning,

rasa daging buah manis-sangat manis, tekstur daging buah halus sedikit berserat.

(33)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

22

IKK ketiga dicapai melalui kegiatan pemuliaan dan perakitan varietas tanaman perkebunan dengan melepas 13 VUB tanaman perkebunan yang teratau sebesar 185,71% (kategori sangat berhasil). Varietas unggul yang telah dilepas pada TA 2016 beserta keunggulannya adalah sebagai berikut:

VUB Tebu POJ Agribun Kerinci merupakan hasil seleksi dan evaluasi tebu lokal Kerinci berdasarkan penilaian daya kepras (jumlah anakan), produksi, rendemen, sifat lepas pada pelepah daun (klenthek), preferensi petani dan luasan areal penanaman. Tidak seperti di daerah lain, tebu di kabupaten Kerinci mempunyai nilai ekonomi bagi masyarakat lokal kabupaten Kerinci untuk menghasilkan gula merah. Potensi produksi mencapai 109 ton/ha/tahun, potensi hasil gula merah rata-rata 12,03 ton gula merah/ha/tahun, dan rendemen 11-12%. Berbeda dengan di Jawa, tebu dataran tinggi di Kabupaten Kerinci Propinsi Jambi dipanen secara selektif. Dengan sistim panen tebang pilih petani tidak perlu melakukan bongkar ratun. Varietas ini toleran terhadap penyakit mosaik dan cocok untuk dataran tinggi di Propinsi Jambi, Sumatera dan Aceh.

Gambar 11. Penampilan Varietas Unggul Tebu Lokal Kerinci

VUB Kenaf Kenafindo 1 Agribun berasal dari galur 9011/G4-1-4-2 M Blk dan merupakan hasil seleksi populasi dasar dari persilangan G4 dengan KK60 yang dilanjutkan dengan silang balik dengan tetua G4. Potensi produksi serat 3,727 ton per ha, 18,2 % lebih tinggi dibandingkan KR15; beradaptasi luas, duri pada batang relatif sangat sedikit, moderat tahan terhadap kekeringan, moderat tahan terhadap keracunan Aluminium, rentan terhadap hama Amrasca biguttula Ishida, dan rentan terhadap serangan nematoda puru akar.

VUB Kenaf Kenafindo 2 Agribun berasal dari galur IDN-09-HCAN-1272-1 dan merupakan hasil seleksi massa negatif dari aksesi IDN-09-HCAN-1272. Potensi produksi serat 3,521 ton per hektar, 11,7 % lebih tinggi dibanding KR 15; beradaptasi luas, moderat tahan terhadap kekeringan, tahan terhadap keracunan Aluminium, rentan terhadap hama Amrasca biguttula Ishida, dan rentan terhadap serangan nematoda puru akar.

(34)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

23 VUB Jarak Pagar Jet 1 Agribun berasal dari klon IDN-09-JCUR-0184, potensi produksi biji kering 2.331,35 kg dengan rata-rata 1.085,87 kg/ha/th (37,91% lebih tinggi dibandingkan IP-3A), kadar minyak biji 37,44%, sesuai dikembangkan di wilayah beriklim kering.

VUB Jarak Pagar Jet 2 Agribun berasal dari klon 200711/4, potensi produksi biji kering 2.636,30 kg dengan rata-rata 1.078,70 kg/ha/th (37,00% lebih tinggi dibandingkan IP-3A) berkadar minyak 35,80%, sesuai dikembangkan di wilayah beriklim kering.

Dengan keunggulan minyak bijinya yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku Biofuel dan kemampuannya untuk dikembangkan di wilayah beriklim kering, maka kedua varietas unggul jarak pagar ini berpotensi untuk dikembangkan di wilayah Indonesia Timur yang beriklim kering, khususnya daerah-daerah yang masih kekurangan pasokan listrik, karena biofuelnya dapat dimanfaatkan untuk mesin pembangkit listrik.

Gambar 12. Jet 1 Agribun (kiri) dan Jet 2 Agribun (kanan)

VUB Sisal H 11649 memiliki potensi produksi serat kering per ha per tahun 4.728 – 5.964,763 kg, peka terhadap penyakit Fusarium sp. Varietas ini dapat dikembangkan pada berbagai jenis lahan.

(35)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

24 VUB Kelapa Dalam Sri Gemilang berasal dari Kabupaten Indragiri Hilir, adaptif pada lahan pasang surut. Potensi produksi kopra > 3 ton/hektar/tahun, kadar minyak 65,19%, protein 8,96%, galaktomanan 1,7%, fosfolipid 0.04%. Kadar minyak, protein dan galaktoman relatif lebih tinggi dari varietas yang telah dilepas sedangkan kadar fosfolipid lebih rendah atau sama dengan varietas unggul lainnya. Potensi benih untuk pengembangan atau peremajaan + 39.200 butir per tahun. Varietas ini telah menyebar di daerah Parit Sialang Krubuk, Desa Hidayah, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau.

Gambar 14. VUB Kelapa Sri Gemilang

VUB Kelapa Puan Kalianda termasuk tipe kelapa Dalam dengan karakteristik morfologi yang lebih besar dibandingkan kelapa kopyor tipe Genjah asal Pati, Jawa Tengah. Kadar gula total berkisar dari 1.6-2.4 %, protein 0.24-2.55 % dan lemak total 12,12-16.46 %. Jumlah Pohon Induk Terpilih (PIT) sebanyak 123 pohon, memiliki potensi benih sebanyak 6.657 butir. Jumlah total benih kopyor alami (heterozigot) pertahun sebanyak 10.731 butir dapat digunakan untuk pengembangan pada lahan seluas 53 ha. Varietas Kelapa Puan Kalianda sudah menyebar di wilayah Provinsi Lampung dan sekitarnya. Potensi penyebaran pada sentra produksi kelapa di wilayah Sumatera.

Gambar 15. Tanaman Kelapa Puan Kalianda (kiri) dan Keragaman Warna Buah Kelapa Puan Kalianda (kanan)

VUB Pala Fak-fak memiliki habitus tanaman relatif lebih tinggi dan besar, daun lebih panjang dan lebih lebar dibanding pala lainnya. Tinggi tanaman berkisar 15

(36)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

25 – 23 meter, lingkar batang 90 – 150 cm, lebar kanopi 2.5 m – 3.9 m jumlah lingkaran percabangan dalam batang tanaman 11 - 27 dan jumlah cabang dalam satu lokus adalah 3 – 6 buah. Bentuk daun lonjong langsing sampai lonjong agak lebar.

Gambar 16. Daun, Buah, Biji dan Fuli Pala Fak-Fak (Atas), dan Daun, Buah dan Biji Pala Banda (Bawah)

VUB serai dapur Sitralina 1 Agribun berasal dari aksesi Cyci 009 hasil seleksi serei dapur yang berasal dari DIY. Beradaptasi baik di dataran rendah sampai tinggi.

(37)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

26 VUB temulawak Xanthorina 1. Varietas ini memiliki tinggi tanaman antara 187-227 cm, dengan karakter anak tulang daun tegak sempit, jumlah bunga per tandan antara 15-20 kuntum, rimpang berbentuk kerucut, kadar kurkuminoid 1,72%, kadar xanthorizol 4,94%, produksi 29,28-39,90 ton/ha.

VUB temulawak Xanthorina 2. Varietas ini memiliki tinggi tanaman antara 167-260,88 cm, dengan karakter anak tulang semi tegak jarang, jumlah bunga per tandan antara 15-24 kuntum, rimpang berbentuk kerucut bulat, kadar kurkuminoid 1,87 %, kadar xanthorizol 4,83%, produksi 27,63-40,69 ton/ha.

Gambar 18. VUB temulawak Xanthorina 1 dan Xanthorina 2

VUB Kakao BL 50. Varietas ini memiliki potensi produksi/hektar/tahun 2,67 kg/pohon atau 3,3733 kg/ha/thn dengan populasi 1100 pohon/ha. Pod Index 40-60 buah. Varietas ini terlihat agak tahan Busuk Buah Kakao (BBK), Agak tahan Penyakit Buah Kakao (PBK) dan agak tahan Vascular Steak Dieback (VSD).

Gambar 19. Penampilan pertanaman Kakao BL 50

Upaya pencapaian IKK keempat dilakukan dengan melakukan pemuliaan dan perakitan galur ternak dan telah dicapai dengan dihasilkannya 23 galur harapan ternak dan tanaman pakan ternak dari target 23 galur (100%, berhasil). Uraian

(38)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

27 dari capaian tersebut meliputi meliputi 2 galur sapi potong, 2 galur kambing potong, 2 galur kambing perah, 3 galur domba, 4 galur ayam, 3 galur itik, 4 galur kelinci dan 3 galur tanaman pakan ternak. Untuk kambing Boer Indonesia direncanakan akan tercapai pada tahun 2019, perakitan galurnya baru dimulai pada tahun 2016.

Pencapaian IKK kelima yaitu telah dilepas 6 varietas unggul baru padi, 5 VUB jagung, 4 VUB Kedelai, dan 6 VUB tanaman pangan lainnya, atau total capaian sebesar 123,53% dari target 17 VUB.

Padi

Tahun 2016 telah dilepas sebanyak 6 VUB padi yaitu 3 VUB padi sawah dan 3 VUB padi gogo antara lain: 1) Inpari 42 Agritan GSR, 2) Inpari 43 Agritan GSR, 3) Inpari 44 Agritan, 4) Inpago 12 Agritan, 5) Inpago IPB 9G, dan 6) Unsoed Parimas. 1. VUB Inpari 42 Agritan GSR merupakan asal persilangan Huangxinyhan/Fenghuazhan. Potensi hasil 10,58 t/ha dengan rata-rata hasil mencapai 7,11 t/ha. Sifat keunggulannya yaitu memiliki ketahanan terhadap hama pada fase generatif dan agak tahan terhadap HDB patotipe III, rentan strain IV, dan agak tahan strain VIII, tahan penyakit blas daun ras 033 dan rentan ras 133 dan 173, agak tahan WBC biotipe 1 dan agak rentan WBC biotipe 2 dan 3, rentan virus tungro varian 033 dan 073. Anjuran tanam di lahan sawah dengan ketinggian 600 dpl.

Gambar 20. Keragaan padi varietas Inpari 42 Agritan GSR

2. VUB Inpari 43 Agritan GSR merupakan asal persilangan WuFengZhan/ IRBB5/ WuFengZhan. Potensi hasil 9,02 t/ha dengan rata-rata hasil 6,96 t/ha dengan sifat keunggulan Pada fase generatif tahan terhadap HDB patotipe III, agak tahan HDB patotipe IV dan VIII, tahan terhadap penyakit blas daun ras 073 dan 133, agak tahan ras 033, dan rentan ras 173. dan rentan terhadap ras 133 dan 173, agak rentan terhadap WBC biotipe 1, 2 dan 3. Anjuran tanam pada lahan sawah subur dan kurang subur dengan ketinggian 600 m dpl, termasuk sawah endemik HDB dan blas.

(39)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

28 3. VUB Inpari 44 Agritan merupakan hasil persilangan Kebo x Ciherang

dengan potensi hasil 9,25 t/ha dengan rata-rata hasil mencapai 6,53 t/ha. Keunggulan dari VUB ini adalah Tahan terhadap HDB pada fase generatif untuk strain III, agak rentan terhadap strain IV dan agak tahan terhadap strain VIII, rentan terhadap penyakit blas daun ras 073 dan 133, agak tahan ras 033, 133, 073 dan 173, agak rentan terhadap WBC biotipe 1, 2 dan 3. Anjuran tanam pada lahan sawah irigasi dengan ketinggian 600 m dpl.

Gambar 21. Keragaan padi varietas Inpari 43 Agritan GSR (kiri) dan Inpari 44 Agritan (kanan)

4. VUB Inpago 12 Agritan merupakan hasil persilangan Selegreng/Ciherang// Kencana Bali dengan potensi hasil 10,2 t/ha dengan rata-rata hasil 6,7 t/ha. Keunggulan VUB ini diantaranya tahan rebah dengan kerontokan sedang, berespon moderat terhadap keracunan Al dan kekeringan, tahan terhadap penyakit blas ras 033 dan 073, agak tahan terhadap ras 133, 001, 013, 023, 051 dan 101, rentan blas ras 173 dan 041. Anjuran tanam lahan kering subur dan lahan kering masam dataran rendah sampai 700 meter diatas permukaan laut.

(40)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

29 5. VUB Inpago IPB 9G merupakan asal persilangan IPB98-F-5-1-1/IR 64,

potensi hasil 9,09 t/ha dan rata-rata hasil 6,05 t/ha. Keunggulan VUB ini di antaranya berespon moderat terhadap keracunan Al 40 ppm dan agak peka terhadap kekeringan, agak rentan wereng batang coklat biotipe 1, agak tahan wereng batang coklat biotipe 2 dan 3. Tahan terhadap penyakit blas ras 073, dan agak tahan terhadap blas ras 033, 001 dan 051, rentan blas ras 133, 173, 013, 041 dan 023. Anjuran tanam lahan kering subur dan lahan kering masam sampai ketinggian 700 m di atas permukaan laut.

Gambar 23. Keragaan VUB Inpago IPB 9 G

6. VUB Unsoed Parimas merupakan asal persilangan antara Cimelati dan galur G10, potensi hasil 9,40 t/ha dengan rata-rata hasil 6,19 t/ha. Sifat keunggulan dari VUB ini berespon moderat terhadap keracunan Al 40 ppm dan kekeringan, agak rentan wereng batang coklat biotipe 1, 2 dan 3. Rentan penyakit blas ras 033, tahan blas ras 073, agak tahan blas ras 133, rentan blas ras 173. Anjuran tanam lahan kering subur dan lahan kering masam sampai ketinggian 700 m di atas pemukaan laut.

Figur

Gambar 1. Komposisi Tenaga Fungsional Balitbangtan, Tahun 2016  Adapun perkembangan jumlah tenaga fungsional dalam lima tahun terakhir (dari  tahun 2012–2016) disajikan pada Tabel 1

Gambar 1.

Komposisi Tenaga Fungsional Balitbangtan, Tahun 2016 Adapun perkembangan jumlah tenaga fungsional dalam lima tahun terakhir (dari tahun 2012–2016) disajikan pada Tabel 1 p.13
Gambar 2.   Perkembangan SDM Balitbangtan menurut pendidikan,               Tahun 2012-2016 406467 501 510 4961093108511281150 10771994188219071946 19254235397039283910 353905001000150020002500300035004000450020122013201420152016S3S2S1&lt;S1

Gambar 2.

Perkembangan SDM Balitbangtan menurut pendidikan, Tahun 2012-2016 406467 501 510 4961093108511281150 10771994188219071946 19254235397039283910 353905001000150020002500300035004000450020122013201420152016S3S2S1&lt;S1 p.14
Gambar 3.   Perkembangan Petugas Belajar Balitbangtan Tahun 2006-2016

Gambar 3.

Perkembangan Petugas Belajar Balitbangtan Tahun 2006-2016 p.15
Tabel 2. Keterkaitan Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Program

Tabel 2.

Keterkaitan Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Program p.19
Tabel 3. Sasaran Program dan Indikator Kinerja Program Balitbangtan 2015-2019

Tabel 3.

Sasaran Program dan Indikator Kinerja Program Balitbangtan 2015-2019 p.20
Tabel 5. Capaian Kinerja Indikator Sasaran RPJMN Balitbangtan Tahun 2016

Tabel 5.

Capaian Kinerja Indikator Sasaran RPJMN Balitbangtan Tahun 2016 p.24
Tabel 7. Keragaan Galur Harapan Unggul Tanaman di Tahun 2016

Tabel 7.

Keragaan Galur Harapan Unggul Tanaman di Tahun 2016 p.27
Gambar 5.   Perbandingan penampilan  bentuk  beberapa varietas umbi  kentang,  2) Dayang Sumbi, 6) Granola, 7) Atlantik, 8) Katahdin, 9) SP 951

Gambar 5.

Perbandingan penampilan bentuk beberapa varietas umbi kentang, 2) Dayang Sumbi, 6) Granola, 7) Atlantik, 8) Katahdin, 9) SP 951 p.29
Gambar 11.  Penampilan Varietas Unggul Tebu Lokal Kerinci

Gambar 11.

Penampilan Varietas Unggul Tebu Lokal Kerinci p.33
Gambar 12.  Jet 1 Agribun (kiri) dan Jet 2 Agribun (kanan)

Gambar 12.

Jet 1 Agribun (kiri) dan Jet 2 Agribun (kanan) p.34
Gambar 16.    Daun, Buah, Biji dan Fuli Pala Fak-Fak (Atas),  dan      Daun, Buah dan Biji Pala Banda (Bawah)

Gambar 16.

Daun, Buah, Biji dan Fuli Pala Fak-Fak (Atas), dan Daun, Buah dan Biji Pala Banda (Bawah) p.36
Gambar 19.  Penampilan pertanaman Kakao BL 50

Gambar 19.

Penampilan pertanaman Kakao BL 50 p.37
Gambar 20. Keragaan padi varietas Inpari 42 Agritan GSR

Gambar 20.

Keragaan padi varietas Inpari 42 Agritan GSR p.38
Gambar 24.   Keragaan VUB Unsoed Parimas

Gambar 24.

Keragaan VUB Unsoed Parimas p.40
Gambar 27.  Keragaan jagung komposit varietas Srikandi Kuning 2

Gambar 27.

Keragaan jagung komposit varietas Srikandi Kuning 2 p.42
Gambar 26.  Keragaan jagung hibrida varietas JH 47

Gambar 26.

Keragaan jagung hibrida varietas JH 47 p.42
Gambar 31.  Keragaan Tanaman dan Biji Kedelai Varietas Devon 2

Gambar 31.

Keragaan Tanaman dan Biji Kedelai Varietas Devon 2 p.44
Gambar 33. Keragaan VUB Sorgum SOPER 6 Agritan

Gambar 33.

Keragaan VUB Sorgum SOPER 6 Agritan p.45
Gambar 32. Keragaan Gandum Varietas GURI 6

Gambar 32.

Keragaan Gandum Varietas GURI 6 p.45
Gambar 35. Keragaan Ubijalar Varietas Patting 1 (kiri) dan Patting 2 (kanan)

Gambar 35.

Keragaan Ubijalar Varietas Patting 1 (kiri) dan Patting 2 (kanan) p.46
Tabel 8.  Capaian IKK Mendukung IKU Ke-2

Tabel 8.

Capaian IKK Mendukung IKU Ke-2 p.47
Gambar 37.   Bangunan  Bendung  Sadap  untuk  Menampung  Mata  Air  di  Desa  Limampoccoe, Kec

Gambar 37.

Bangunan Bendung Sadap untuk Menampung Mata Air di Desa Limampoccoe, Kec p.49
Gambar 45. Eksplan Tunas Salak yang telah Berinisiasi pada Media IP2

Gambar 45.

Eksplan Tunas Salak yang telah Berinisiasi pada Media IP2 p.56
Gambar 56.  Perbandingan Realisasi Capaian Kinerja 9 IKU Balitbangtan selama 5  tahun terakhir (2015 – 2016)

Gambar 56.

Perbandingan Realisasi Capaian Kinerja 9 IKU Balitbangtan selama 5 tahun terakhir (2015 – 2016) p.78
Gambar 57.  Grafik Persentase Capaian Tahun 2015  dan  2016 terhadap Renstra  2015 – 2019

Gambar 57.

Grafik Persentase Capaian Tahun 2015 dan 2016 terhadap Renstra 2015 – 2019 p.79
Tabel 11.   Rekapitulasi penyebaran benih sayuran generatif, kentang dan  bawang merah

Tabel 11.

Rekapitulasi penyebaran benih sayuran generatif, kentang dan bawang merah p.82
Gambar 59.  Grafik Persentase Pagu Anggaran

Gambar 59.

Grafik Persentase Pagu Anggaran p.85
Gambar  60.  Perbandingan  (Persentase)  Realisasi  Terhadap  Pagu  Anggaran  Balitbangtan TA 2016 Per Belanja

Gambar 60.

Perbandingan (Persentase) Realisasi Terhadap Pagu Anggaran Balitbangtan TA 2016 Per Belanja p.86
Tabel 12.  Revisi Target dan Pagu PNBP

Tabel 12.

Revisi Target dan Pagu PNBP p.88
Tabel 13.   Satker dengan Realisasi PNBP Rendah

Tabel 13.

Satker dengan Realisasi PNBP Rendah p.89

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :