1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemanfaatan sumber daya alam yang cukup intensif di Provinsi Kalimantan Selatan tidak hanya meningkatkan sisi kesejahteraan masyarakatnya namun, juga menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan. Kegiatan konversi lahan untuk berbagai kegiatan masyarakat di wilayah ini seperti pertambangan, perkebunan, pelabuhan, pertanian, pertambakan, industri, permukiman dan transportasi telah menyebabkan penurunan kualitas lingkungan terutama kualitas udara, kualitas tanah, kualitas air sungai maupun air laut (Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, 2015).
Berdasarkan data Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) dari Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2015, mengenai gambaran tentang kualitas lingkungan hidup di Kalimantan Selatan cukup memperihatinkan karena berada pada peringkat 26 secara nasional. Kondisi ini disebabkan oleh indikator kualitas air yang tercemar berat, serta penutupan lahan hanya mencapai 3%. Luas lahan kritis 761.041 ha, luas lahan berbahaya 18.344 ha, jumlah titik api sebanyak 9.172 titik serta seringnya terjadi bencana banjir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2015, menunjukkan bahwa wilayah Provinsi Kalsel sebesar 18,18% termasuk dalam kategori kritis dan 2,10% dalam kategori sangat kritis, selain itu
juga kualitas udara yang ada di Kalimantan Selatan tidak sehat (Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, 2015). Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan selama tahun 2015, bencana alam yang terjadi yaitu banjir terdapat 23 kejadian, longsor 2 kali, puting beliung 11 kali, kebakaran 113 kejadian serta sambaran petir 1 kali dan terjadi ROB 1 kali (Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, 2015).
Banyaknya masalah lingkungan yang menimbulkan dampak pada global warming, maka ada beberapa individu-individu yang perihatin pada kondisi lingkungan sehingga membentuk komunitas relawan. Relawan adalah orang yang tanpa dibayar menyediakan waktunya untuk mencapai tujuan organisasi, dengan tanggung jawab yang besar atau terbatas, tanpa atau sedikit latihan khusus tetapi dapat pula dengan latihan yang intensif dalam bidang tertentu untuk bekerja sukarela membantu tenaga profesional (Laila dan Asmarany, 2015). Tobing (2015) mendifinisikan relawan sebagai seseorang yang melakukan kegiatan sukarela tanpa adanya paksaan. Rasa sosial yang tinggi membuat relawan termotivasi untuk melakukan tindakan sukarela atau bersikap altruistik atau berperilaku menolong.
Relawan yang ada di Kalimantan Selatan salah satunya adalah Masyarakat Peduli Sungai (Melingai). Awal terbentuknya komunitas peduli sungai ini berdasarkan permasalahan yang ada, kemudian dari beberapa komunitas peduli lingkungan diantaranya ada Forum Komunitas Hijau, Sahabat Bekantan Indonesia, Green School (20 sekolah), Pemulung Sampah Sungai, Komunitas Peduli Sungai tingkat Kelurahan bergabung dan membentuk Masyarakat Peduli Sungai (Melingai). Terbentuknya pada
22 Juli 2015. SK Walikota Banjarmasin pada 3 Agustus 2015, Nomor 489 2015. Dikukuhkan oleh walikota Banjarmasin pada 29 September 2015. Melingai berkomitmen untuk bersama-sama melakukan aksi kepedulian dalam wujud gerakan nyata melestarikan sungai. Melingai bertujuan untuk membantu dan mendukung pemerintah. Visi Melingai yaitu sungai untuk kelangsungan hidup. Misi Melingai yaitu: Melestarikan sungai agar dapat berfungsi sebagai sumber daya air yang sehat dan bermanfaat untuk sarana transportasi dan obyek pariwisata, dan mendorong terbentuknya perilaku masyarakat yang ramah sungai. Motto yaitu, Lestari Sungaiku, Asri Kotaku.
Kegiatan yang di lakukan oleh komunitas Melingai berdasarkan hasil wawancara pada 28 September 2016 dengan ketua dan sekertaris Melingai, ada beberapa program kerja yang terlaksana antara lain: (1) Audiensi dengan Walikota, Pemko, skpd terkait. (2) Membangun kemitraan dengan Dinas Pendidikan dan meneruskan program greening school dan target peningkatan sekolah adiwiyata (dengan sekolah-sekolah bukan dinas). (3) Penentuan pilot project berdasarkan beberapa pertimbangan diperhatikan adalah tingkat perekonomian masyarakat yang tentunya mempengaruhi pola pikir/mindset menjaga lingkungan, khususnya kelestarian sungai (sudah dan masih berlangsung). (4) Melakukan sosialisasi sampai ketingkat kelurahan hingga kepengajian-pengajian, puskesmas dan posyandu, mengadakan lomba-lomba terkait pelestarian sungai, seperti lomba angkat lumpur, lomba kebersihan sungai dan lingkungan. (5) Pemberian award/penghargaan terhadap sungai dan lingkungan yang bersih. (6) Pengadaan dan perbanyakan TPS (Tempat Pembuangan Sampah). (7)
Pembuatan Plangisasi, Spanduk, Baliho sebagai sarana kampanye. (8) Tempat pengelola sampah terpadu, pemilihan organik dan non organik dan pendaur ulangan. (9) Kampanye layanan publik (dialog interaktif di TV dan Radio). (10) Kegiatan bersih-berish sungai dan lingkungan sebagai bentuk motivasi dan inspirasi masyarakat, dilakukan hampir setiap minggu karena mengikuti lomba, tetapi untuk kegiatan rutinnya 3 bulan sekali. (11) Penanaman pohon khas rawa dan endemik. (12) Pembibitan dan pelepasliaran ikan sungai khas Banjarmasin. (13) Pembentukan pemangku sungai disetiap kelurahan dan sungai di kota Banjarmasin.
Kegiatan yang dilakukan para relawan membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan merupakan bentuk perilaku altruisme. Altruisme adalah fenomena umum yang melibatkan pengambilan kepentingan orang lain layaknya miliknya dan sebagai aspek dari kognitif bahwa terdapat pengakuan terhadap kenyataan bahwa orang lain juga berada dalam keadaan yang membutuhkan (Scott dan Seglow, 2007). Sears, Freedman dan Peplau (2009), altruisme adalah tindakan sukarela yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apa pun, kecuali mungkin perasaan telah melakukan kebaikan. Baron dan Byrne (2005), altruisme merupakan bentuk khusus dalam penyesuaian perilaku yang ditunjukan demi kepentingan orang lain, biasanya merugikan diri sendiri dan biasanya termotivasi terutama oleh hasrat untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain agar lebih baik tanpa mengharapkan penghargaan. Faktor yang mempengaruhi perilaku altruisme menurut Wortman, Camille dan Loftus (Arifin, 2015) yaitu:
Suasana hati, meyakini keadilan dunia, empati, faktor situasional dan faktor sosiobiologis.
Taylor, Peplau dan Sears (2009), tindakan menolong mungkin berasal dari proses pengambilan keputusan yang lebih kompleks. Dari perspektif pengambilan keputusan, tindakan menolong muncul saat individu memutuskan untuk memberi bantuan dan kemudian mengambil tindakan. Langkah-langkah dalam keputusan seseorang pertama-tama melihat ada sesuatu yang terjadi dan memutuskan apakah bantuan perlu diberikan atau tidak. Jika bantuan diperlukan, orang itu akan mempertimbangkan seberapa besar tanggungjawabnya untuk bertindak. Ketiga, orang itu mungkin akan mengevaluasi imbalan dan biaya dari tindakan menolong. Terakhir, seseorang harus memutuskan tipe bantuan apa yang dibutuhkan dan bagaimana cara memberikannya. Pe ngambilan keputusan memiliki tujuan dan makna yang berbeda-beda terhadap keputusan yang diambil. Ada orang memilih berdasarkan pertimbangan ekonomi, ada yang dikarenakan pertimbangan kekerabatan, kedekatan, pertimbangan rasional, ikut orang lain, dan lain sebagainya. Hal tersebut tergantung kebutuhan masing-masing individu (Sarwono dan Meinarno, 2009).
Setiap orang dapat membuat suatu keputusan, akan tetapi dampak keputusan yang ditimbulkan berbeda-beda. Keputusan bisa dibuat oleh individu, organisasi, kelompok individu, negara dengan satu tujuan atau lebih yang hendak dicapai. Luthans (2006), pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif. Crozier dan Ranyard (Pieterse, Vries, Kunneman, Stiggelbout dan Stewart, 2013) menjelaskan bahwa proses pengambilan keputusan adalah proses deskripsi melihat urutan operasi
mental, yang terjadi antara penyajian masalah keputusan dan pilihan utama. Dalam proses pengamblan keputusan, seorang individu mengalami krisis atau konflik dalam dirinya berupa perasaan bersalah, gelisah, panik, putus asa, ragu dan bimbang. Kemdal dan Montgomery (Ranyard, Crozier, dan Svenson, 1997), faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan yaitu: preferences, circumstance, belief, emotions dan actions. Dibagi menjadi dua yaitu faktor internal (preferences, emotions dan belief) sedangkan faktor eksternal (circumstances dan actions).
Berdasarkan hasil penelitian Asih dan Pratiwi (2010), menunjukan bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara empati, kematangan emosi, jenis kelamin terhadap perilaku prososial. Berdasarkan penelitian Peilouw dan Nursalim (2013) mengenai hubungan antara Pengambilan Keputusan dengan Kematangan Emosi dan Self- Eficacy pada Remaja, diperoleh hasil bahwa pengambilan keputusan dengan kematangan emosi memiliki hubungan yang signifikan positif. Penelitian Haryati (2013) yang berjudul Kematangan Emosi, Religiusitas dan Perilaku Prososial Perawat di Rumah Sakit, hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kematangan emosi dengan perilaku prososial. Selain itu, penelitian Andromeda (2014) yang berjudul Hubungan antara Empati dengan Perilaku Altruisme pada Karang Taruna Desa Pakang juga mengatakan terdapat hubungan positif yang signifikan antara empati dengan perilaku altruisme, hal tersebut menunjukkan bahwa kematangan emosi yang tinggi, akan meningkatkan perilaku prososial dan sebaliknya. Menurut Wortman, Camille dan
Loftus (Arifin, 2015) faktor yang mempengaruhi altruisme yaitu: Suasana hati, meyakini keadilan dunia, empati, faktor situasional dan faktor sosiobiologis.
Berdasarkan studi pendahuluan pada 24 Agustus dan 29 September 2016, yang berupa wawancara dengan ketua dan sekertaris Melingai. Melingai ini merupakan kumpulan relawan yang memiliki kepedulian akan keberlangsungan dan keberadaan sungai-sungai di kota Banjarmasin. Berkomitmen untuk bersama-sama melakukan aksi kepedulian dalam wujud gerakan nyata melestarikan sungai. Melingai berupaya membantu pemerintah kota untuk menyediakan ruang dan tempat tinggal yang bermartabat dan ekosistem yang sehat bagi manusia dan makhluk hidup lainnya agar dapat berkembang dengan baik. Anggota relawan Melingai yang tercatat dalam kepengurusan kurang lebih 70 orang. Dimana didalam anggota kepengurusan yang menjadi relawan ada beberapa dari pejabat pemerintah dan anggota relawan komunitas ini ada dari yang lulusan SD sampai Professor. Relawan ini tidak dibayar sama sekali. Biasanya ketika melakukan suatu aksi kegiatan komunitas ini mendapatkan bantuan dana dari sponsor atau donatur pengusaha. Organisasi Melingai ini tidak terbentuk sesuai dengan struktur atau non profit, boleh datang dan pergi, ternyata warga antusias dengan komunitas ini. biasanya ketika melakukan aksi kegiatan komunitas ini tidak sendiri ada beberapa komunitas lain yang ada di Banjarmasin ikut bergabung, diantaranya ada Earth Hour (EH), Forum Komunitas Hijau (FKH), South Borneo Biology Club (SBBC), Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) dan banyak lagi.
Berdasarkan hasil wawncara dengan ketua EH Banjarmasin pada 6 Januari dan 5 Maret 2016. Anggota EH berjumlah 50 dan EH merupakan sebuah gerakan yang tidak terikat. Anggota EH bisa dikatakan sebagai relawan dikarenakan mereka tidak dibayar sama sekali. Ketika melakukan suatu kegiatan EH sendiri mencari dana dengan membagikan proposal ke perusahaan (bukan batu bara), hotel dan biasanya ada beberapa donatur yang memberikan bantuan. Kegiatan yang mereka lakukan dalam beberapa bulan yang lalu yaitu aksi solidaritas asap Oktober 2015, memberikan tenaga bantuan di Palangkaraya November 2015 dan memberikan 1000 tas ramah lingkungan agar mengurangi kantong plastik 19 Februari 2016. Menjadi relawan EH tidaklah mudah karena membagi waktu antara sebagai mahasiswa, pegawai, dan kegiatan pribadi lainnya, dimana mereka mengambil keputusan menjadi relawan tanpa dibayar atau mendapatkan gaji, sedangkan kegiatan tersebut membutuhkan tenaga fisik, pikiran dan biaya juga.
Berdasarkan hasil wawancara dengan ketua SBBC pada 29 September 2016. SBBC terbentuk tahun 2010 dimana kebanyakan anggotanya mahasiswa dan alumni di STKIP, kegiatan yang dilakukan suka-suka. Biasanya yang ada di SBBC sebagian ada mahasiswa yang melakukan penelitian untuk lingkungan sungai dan agar lebih mudah dalam penelitiannya maka menggunakan label SBBC. Kegiatan SBBC ada menanam pohon, membersihkan sampah, menanam teratai, membersihkan sampah di sungai, susur sungai (mencari destinasi wisata). SBBC ketika melakukan kegiatan sering bergabung dengan komunitas lain salah satunya dengan Melingai. SBBC melakukan kagiatan tersendiri biasanya pada penelitian mahasiswa dimana anggota
SBBC itu sendiri sebagai mahasiswa dan melakukan penelitian tentang lingkungan. Anggota relawan tidak di gajih dan untuk dana itu sendiri biasanya apabila ada yang sekalian penelitian mahasiswa maka, terdapat anggaran bagi mahasiswa tersebut. SBBC ini tidak terikat dimana kegiatannya dilakukan suka-suka karena banyaknya kesibukan pribadi masing-masing dari anggotanya ada yang kuliah, bekerja dan mengajar sebagai dosen. Tidaklah mudah menjadi relawan yang tanpa di bayar untuk membagi waktu selain ada kesibukan pribadi. Anggotanya kurang lebih ada 50.
Berdasarkan hasil wawancara dengan ketua SBI pada 28 September 2016. SBI ini lebih berfokus pada populasi Bekantan yang terancam punah. SBI sangat perihatin dengan kondisi Bekantan saat ini dimana Bekantan merupakan maskot Kalimantan Selatan tetapi perhatian untuk Bekantan itu sendiri kurang. Saat ini Bekantan yang ada di Pulau Bakut sekitar 52-54 ekor dan masih ada beberapa yang berasa di tempat konservasi rehabilitasi bekantan. Relawan SBI hampir 100 orang dan jumlah pengurus sekitar 20 orang. SBI biasanya bergabung dengan komunitas Melingai dalam hal perbaikan habitat dan konservasi.
Berdasarkan penjelasan teori diatas dan hasil studi pendahuluan maka, peneliti mencoba untuk mengetahui hubungan pengambilan keputusan dengan altruisme pada relawan Masyarakat Peduli sungai (Melingai) di Banjarmasin.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah apakah terdapat hubungan yang signifikan antara
Pengambilan Keputusan dengan Altruisme pada Relawan Masyarakat Peduli Sungai (Melingai) di Banjarmasin ?.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Pengambilan Keputusan dengan Altruisme pada Relawan Masyarakat Peduli Sugai (Melingai) di Banjarmasin.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini mempunyai beberapa manfaat antara lain ialah : 1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang memperkaya kajian teori dan penelitian psikologi khususnya psikologi sosial, serta dijadikan bahan pertimbangan pada penelitian-penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan altruisme.
2. Manfaat Praktis 1. Untuk relawan
Untuk semua relawan diharapkan memiliki altruisme dalam tolong menolong dengan orang lain dan tidak memilih siapa yang akan ditolong. 2. Untuk komunitas Melingai
Dapat melakukan kegiatan rutin seminggu sekali membersihkan sampah dan lebih menyuarakan betapa pentingnya menjaga lingkungan
serta lebih meningkatkan kinerja yang dilakukan oleh para relawan Melingai dan semakin menumbuhkan rasa altruisme pada komunitas Melingai itu sendiri.
3. Untuk instansi/Pemerintah
Diharapkan dapat memberikan manfaat bagi instansi/Pemerintah yang terkait dan supaya membantu dalam kegiatan kerelawanan yang menyangkut tentang lingkungan serta ikut serta dalam kegiatan Melingai. 4. Untuk masyarakat
Diharapkan masyarakat akan sadar pentingnya menjaga lingkungan hidup agar tidak berdampak buruk bagi kehidupan dan juga lebih ikut andil dalam kegiatan lingkungan serta pentingnya akan saling menolong dengan sikap altruisme agar masalah lingkungan menjadi lebih baik.