1 BAB 4
KONSEP DESAIN
1.1 Landasan Teori
4.1.1 Tipografi dan Layout 1.1.1.1 Tipografi
Menurut Jefkins (1996, p248), tipografi adalah seni memilih jenis huruf dari ratusan jumlah rancangan atau desain jenis huruf yang berbeda, menggabungkan sejumlah kata yang sesuai dengan ruang yang tersedia, dengan menggunakan ketebalan dan ukuran berbeda dan menandai naskah untuk proses typesetting. Pada umumnya, prinsip tipografi untuk:
• Visibility: mengacu kepada jelas atau tidaknya jenis huruf yang terlihat.
• Readability: seberapa mudah sebuah naskah dapat terbaca atau seberapa mudah mata untuk mengenali huruf-huruf, tanda dan display. Hal ini juga ditentukan oleh jarak per baris, leading primer dan sekunder, justification, typestyle, kerning, tracking, dan ukuran point.
• Legibility: menekankan terbaca atau tidaknya sebuah huruf yang indah, namun jika digunakan dalam teks akan mengakibatkan pembaca meninggalkan teks tersebut
• Clarity: kejelasan sebuah huruf, Bovee mengatakan bahwa ada hal yang keterbacaan adalah hal yang paling penting dalam memilih sebuah huruf.
1.1.1.2 Teori Layout
Layout adalah hasil penyusunan dari berbagai elemen-elemen desain yang berhubungan untuk menjadi sebuah bidang yang akan menjadi sebuah susunan yang artistik. Layout juga bisa disebut sebagai manajemen shape dan form. Tujuan utama layout adalah untuk menyelaraskan elemen gambar dan teks agar menjadi komunikatif dalam sebuah sistem yang akan dapat memudahkan pembaca menerima informasi yang disajikan.
Sebuah layout yang baik harus memenuhi tiga kriteria, yaitu: 1. Works (berfungsi), artinya dapat menyampaikan pesan secara
cepat dengan cara yang tepat.
2. Organizes (teratur), artinya tata letaknya harus teratur sehingga tingkat kepentingan pesan dapat diikuti dengan jelas.
3. Attracts (menarik perhatian), artinya harus tampil beda dan menarik perhatian.
Bahan-bahan yang diperlukan untuk menghasilkan layout yang baik adalah elemen-elemen desain yang terdiri dari:
2 • Line (garis) • Shape (bentuk) • Texture (Tekstur) • Space (Ruang) • Size (Ukuran)
• Value (Nilai gelap-terang)
• Color (Warna)
Untuk menggabungkan elemen-elemen desain menjadi sebuah layout yang baik, dibutuhkan pemahaman mengenai prinsip-prinsip desain, yaitu: • Balance (keseimbangan) • Rhythm (irama) • Emphasis (Penekanan) • Unity (kesatuan) 1.1.2 Grid System
Menutut wikipedia, grid system adalah gabungan beberapa guideline, merupakan awal dan dasar dari sebuah proses desain yang kemudian akan tidak terlihat atau invisible pada audience. Grid system sangat membantu untuk mendesain sebuah buku untuk repetisi elemen-elemen yang ada pada tiap halaman sebuah buku. Sistem ini dirancang agar flexible, dimana terkadang sebuah elemen desain akan keluar dari sistem tersebut, namun ini tergantung dari seberapa banyak variasi yang diinginkan.
Pada umumnya, orang membagi grid menjadi 3 kolom vertikal dan 3 kolom horizontal, ini berhubungan erat dengan hukum the golden three, namun bentuk grid juga harus disesuakan dengan bentuk medianya.
Sebuah grid diciptakan sebagai solusi terhadap permasalahan penataan elemen-elemen visual dalam sebuah ruang. Grid System digunakan sebagai perangkat untuk mempermudah menciptakan sebuah komposisi visual. Melalui grid system, seorang perancang grafis dapat membuat sebuah sistematika guna menjaga konsistensi dalam melakukan repetisi dari sebuah komposisi yang sudah diciptakan.
1.1.3 Ilustrasi
Ilustrasi adalah hasil visualisasi dari suatu tulisan dengan teknik drawing, lukisan, fotografi, atau teknik senirupa lainnya yang lebih menekankan hubungan subyek dnegna tulisan yang dimaksud daripada bentuk. Tujuan ilustrasi adalah untuk menerangkan atau menghiasi suatu cerita, tulisan, puisi, atau informasi tertulis lainnya. Diharapkan dengan bantuan visual, tulisan tersebut lebih mudah dicerna.
3 Fungsi khusus ilustrasi antara lain:
- Memberikan bayangan setiap karakter di dalam cerita
- Memberikan bayangan bentuk alat-alat yang digunakan di dalam tulisan ilmiah
- Memberikan bayangan langkah kerja - Mengkomunikasikan cerita
- Menghubungkan tulisan dengan kreativitas dan individualitas manusia - Memberikan humor-humor tertentu untuk mengurangi rasa bosan 1.1.4 Teori Warna
Warna dapat didefinisikan secara obyektif sebagai sifat cahaya yang dipancarkan, atau secara subyektif sebagai pengalaman indera penglihatan. Sebagai bagian dari elemen tata rupa, warna memegang peran sebagai sarana untuk lebih mempertegas dan memperkuat kesan atau tujuan dari sebuah karya desain. Lebih lanjut dikatakan oleh Henry Dreyfuss, bahwa warna digunakan dalam simbol-simbol grafis untuk mempertegas maksud dari simbol-simbol tersebut karena warna mampu memberikan impresi yang cepat dan kuat.
Kemampuan warna menciptakan impresi mampu menimbulkan efek-efek tertentu. Secara psikologis diuraikan oleh J. Linschoten dan Drs. Mansyur tentang warna sebagai berikut: “Warna-warna itu bukanlah suatu gejala yang hanya dapat diamati saja, warna itu mempengaruhi kelakuan, memegang peranan penting dalam penilaian estetis dan turut menentukan suka tidaknya kita akan bermacam-macam benda”.
Dari pemahaman diatas dapat dijelaskan bahwa warna, selain hanya dapat dilihat dengan mata ternyata mampu memengaruhi perilaku seseorang, memengaruhi penilaian estetis dan turut menentukan suka tidaknya seseorang terhadap suatu benda. Berikut penulis sajikan potensi karakter warna yang mampu memberikan kesan pada seseorang sebagai berikut: - Hitam, sebagai warna yang tertua dengan sendirinya menjadi lambang
untuk sifat gulita dan kegelapan (juga dalam hal emosi).
- Putih, sebagai warna yang paling terang, melambangkan cahaya, kesucian.
- Abu-abu, merupakan warna yang paling netral dengan tidak adanya sifat atau kehidupan spesifik.
- Merah, bersifat menaklukan, eskpansif, dominan, akrif, dan vital. - Kuning, dengan sinarnya yang bersifat kurang dalam, merupakan wakil
dari hal-hal atay benda yang bersifat cahaya, momentum, dan mengesankan sesuatu.
- Biru, sebagai warna yang menimbulkan kesan dalamnya sesuatu, sifat yang tak terhingga dan transenden, disamping itu memiliki sifat tantangan.
4 - Hijau, mempunyai sifat keseimbangan dan selaras, membangkitkan
ketenangan dan tempat mengumpulkan daya-daya baru.
Dari sekian banyak warna, dapat dibagi dalam beberapa bagian yang sering dinamakan dengan sistem warna Prang System yang ditemukan oleh Louis Prang pada tahun 1876, yang meliputi:
- Hue, adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan nama dari suatu warna, seperti merah, biru, hijau, dan seterusnya.
- Value, adalah dimensi kedua atau mengenai terang gelapnya warna. Contohnya adalah tingkatan warna dari putih hingga hitam.
- Intensity, seringkali disebut dengan chroma, adalah dimensi yang berhubungan dengan cerah atau suramnya warna.
Diantara bermacam-macam sistem warna, kini yang banyak dipergunakan dalam industri media visual cetak adalah CMYK atau Process Color System yang membagi warna dasarnya menjadi Cyan, Magenta, Yellow, dan Black. 1.2 Strategi Kreatif
1.2.1 Strategi Komunikasi
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa kesadaran masyarakat akan penyebab utama pemanasan global yang sebenarnya berasal dari peternakan masih sangat rendah dan merupakan tema yang kurang populer. Oleh karena itu, penulis menerapkan strategi komunikasi tertentu agar tujuan pembuatan buku ini dapat tercapai.
1.2.1.1 Fakta Kunci (Keyfacts)
1. Hampir semua orang mengetahui pemanasan global dan mereka sangat ingin berkontribusi langsung dalam membantu mengurangi pemanasan global.
2. Mereka sangat aktif dalam mengurangi pemanasan global, seperti mengurangi penggunaan kendaraan bermotor dengan bersepeda, menanam pohon, mengurangi penggunaan plastik, menghemat listrik dan air, dan lainnya.
3. Sedikit dari mereka yang mengetahui penyebab utama pemanasan global sehingga pengurangan pemanasan global yang selama ini dilakukan kurang terasa efeknya.
4. Sebagian besar dari mereka terbiasa mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan setiap hari.
1.2.1.2 Masalah yang Dikomunikasikan
1. Penyebab utama dari pemanasan global dari peternakan.
2. Bumi ini sudah dalam tingkat yang cukup kritis, sehingga pemanasan global harus diatasi secepatnya dan banyak masyarakat tidak mengetahui solusi dan langkah apa sebenarnya yang paling efektif dan harus dilakukan untuk mengurangi pemanasan global.
5 1.2.1.3 Tujuan Komunikasi
1. Menginformasikan masyarakat tentang penyebab utama sebenarnya dari pemanasan global.
2. Membuka wawasan masyarakat bahwa menjadi vegan adalah cara tercepat dan terefektif untuk mengurangi pemanasan global.
3. Meningkatkan sisi kesadaran masyarakat sehingga mereka turut aktif dalam menyebarkan informasi ini kepada semua orang.
1.2.1.4 Profil Target Audiens 1.2.1.4.1 Target Primer
1. Demografi
a. Usia 25-35 tahun b. Unisex
c. Warga negara Indonesia, semua golongan, ras, dan agama
d. Tingkat pendidikan perguruan tinggi
e. Status ekonomi menengah hingga menengah keatas
(B-A) 2. Geografi
Masyarakat yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya 3. Psikografi
a. Pecinta kuliner dan mengkonsumsi daging. b. Orangtua muda yang membina keluarga baru. c. Senang membaca dan kritis.
1.2.1.4.2 Target Sekunder 1. Demografi
a. Usia 17 - 50 tahun b. Unisex
c. Warga negara Indonesia, semua golongan d. Tingkat pendidikan minimal perguruan tinggi e. Status ekonomi menengah atau menengah keatas 2. Geografi
Berdomisili di Jakarta atau kota besar lainnya 3. Psikografi
a. Pecinta kuliner dan mengkonsumsi daging maupun seorang vegetarian.
6 b. Memiliki ketertarikan besar terhadap isu pemanasan global dan merupakan pecinta alam dan lingkungan.
c. Senang membaca dan kritis. 4.2.1.5 Positioning Statement
Satu-satunya buku yang membahas tentang penyebab utama sebenarnya pemanasan global, disertai langkah terefektif dalam mengurangi pemanasan global.
4.2.1.6 Big Idea
Sebuah buku tentang pemanasan global yang menggugah sisi emosional masyarakat bahwa mereka dapat mengurangi pemanasan global dan menyelamatkan bumi dalam kondisi krisis ini dengan menjadi vegan.
4.2.1.7 Keywords
Pemanasan global, kotoran, peternakan, daging, sapi, ayam, ikan, babi, kambing, vegan, bumi, lingkungan, hijau, buku
4.2.1.8 Pendekatan Rasional dan Emosional 4.2.1.8.1 Pendekatan Rasional
Melalui pemaparan fakta-fakta tentang penyebab utama pemanasan global dan efek saat ini dan akibat yang mengancam apabila pemanasan global tidak segera ditanggulangi membuat masyarakat berpikir untuk menjadi vegan secepatnya
4.2.1.8.2 Pendekatan Emosional
Melalui fakta-fakta bencana alam yang telah terjadi di dunia, begitu memilukan dan mengiris hati yang terdalam serta ancaman-ancaman nyata yang membuat masyarakat tersentuh dan ingin berbuat yang terbaik yaitu menjadi vegan.
4.2.1.8.3 Respon yang diharapkan
• “Buku yang sangat menarik, mudah dicerna dan membuat kita mengetahui penyebab utama pemanasan global bahkan tanpa harus kita berpikir”
• “Luar biasa! Mulai hari ini saya akan menjadi vegan.” 4.2.2 Strategi Desain
Buku ini menggunakan sisi visual sebagai tonggak utama dalam strategi penyampaian pesan sehingga membutuhkan komposisi yang baik antara image dan juga text/narasi.
7 4.2.2.1 Tone & Manner
Penulis akan memainkan emosi pembaca dengan mengejar mood yang sederhana dan serius di satu sisi, namun sangat dramatis di sisi lain.
4.2.2.2 Warna
Warna yang digunakan full color dengan high saturation di satu sisi dan warna yang low saturation dengan tingkat black yang tinggi di sisi lain untuk menampilkan sisi dramatisnya.
4.2.2.3 Grid & Layout
Grid yang digunakan berkesan simple dan menggunakan white space sehingga terkesan rapi, elegan, dan mudah dipahami target audience.
4.2.2.4 Tipografi
Font yang digunakan terdiri dari 2 macam san serif, yaitu Frutiger sebagai headline untuk menampilkan kesan serius dan tegas, serta Cronos sebagai subhead dan body text untuk menampilkan kesan sederhana.
4.2.2.5 Image
Image yang digunakan berupa foto-foto kejadian nyata bencana yang telah terjadi dengan sentuhan dramatis dan kombinasi dengan digital imaging untuk menampilkan visual-visual imajiner.
4.2.2.6 Strategi Visual
Visual yang ditampilkan menggunakan 2 macam pendekatan, yaitu fotografi dan ilustrasi digital. Fotografi lebih mengangkat fakta dan hal-hal yang telah terjadi seperti bencana alam, kesedihan, kepiluan. Penulis ingin mengangkat sisi dramatis dari berbagai kejadian yang telah terjadi dengan fotografi yang real.
Ilustrasi digital atau Digital Imaging menampilkan hal-hal yang belum terjadi atau imajiner. Hal-hal yang masih dalam bayangan atau imajinasi penulis tampilkan dalam bentuk Digital Imaging agar pembaca dapat membayangkannya dengan jelas.