19 Bagian III
METODE PENELITIAN
I. Metode Kualitatif
Metode dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Jenis pengumpulan data adalah jenis kualitatif. Data kualitatif adalah sumber deskripsi yang luas dan berlandasan kukuh serta memuat penjelasan tentang proses-proses yang terjadi dalam lingkup setempat. Dengan data kualitatif kita dapat mengikuti dan memahami alur peristiwa secara kronologis, menilai sebab-akibat dalam lingkup pikiran orang-orang setempat dan memperoleh penjelasan yang banyak dan bermanfaat.1
Moleong (2005) mendefinisikan penelitian kualitatif suatu penelitian ilmiah yang bertujuan untuk memahami suatu fenomena dalam konteks secara sosial alamiah dengan mengedepankan proses interaksi komunikasi yang mendalam antara peneliti dengan fenomena yang diteliti. Menurut Moleong, dari definisi tersebut terdapat beberapa point penting yakni Ilmiah karena dapat dipertanggungjawabkan, konteks sosial karena fenomena yang diteliti merupakan satu kesatuan antara subjek dan lingkungan sosial, alamiah karena tidak ada manipulasi latar ataupun konstruksi ranah penelitian dan point terakhir adalah proses interaksi komunikasi antara peneliti dan fenomena yang diteliti, hal ini membuktikan bahwa proses ini telah terjalin hubungan yang baik dan kondusif.2
Oleh karena itu menurut peneliti, metode kualitatif adalah metode yang tepat untuk mengumpulkan data, agar peneliti dapat berinteraksi dan berkomunikasi secara langsung baik dengan fenomena yang diteliti maupun orang-orang yang ada didalamnya
1 Dr. Ulber Silalahi, MA, Metode Penelitian Sosial, Prof. Dr. M. Budyatna, MA. (Bandung: Refika
ADITAMA, 2009), 284.
2
Haris Herdiansyah, Metodologi Penelitian Kualitatif: Untuk Ilmu-Ilmu Sosial (Jakarta Selatan: Salemba Humanikan, 2010), 9.
20
II. Instrumen Pengumpulan Data
2.1 Wawancara
Peneliti memilih instrumen pengumpulam data dengan cara wawancara. Wawancara adalah instrument atau alat pengumpulan data yang sering digunakan pada hampir semua penelitian kualitatif. Menurut Moleong, wawancara adalah percakapan dengan maksud dan tujuan tertentu. Wawancara dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (Interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interview) yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.3
Dalam penelitian kualitatif ini, wawancara menjadi instrumen pengumpulan data yang utama dan sebagian besar data yang diperoleh dengan wawancara.
Ada beberapa bentuk wawancara: 2.1.1 Wawancara Terstruktur
Wawancara terstruktur lebih sering digunakan dalam penelitian survey atau penelitian kunatitatif walaupun dalam beberapa situasi, wawancara terstruktur juga dilakukan dalam penelitian kualitatif. Wawancara bentuk ini sangat terkesan seperti interogasi karena sangat kaku dalam proses pertukaran informasi
2.1.2 Wawancara Semi Terstruktur
Wawancara semi-terstruktur sangat digunakana dalam proses penelitian kualitatif. Adapun beberapa ciri utama dari wawancara bentuk ini adalah; pertanyaan lebih terbuka, namu ada batasan tema dan alur pembicaraan; kecepatan wawancara dapat diprediksi; lebih fleksibel, tetapi terkontrol dalam hal bertanya maupun menjawab; ada pedoman wawancara yang dijadikan patokan dalam alur, urutan, dan penggunaan data.
21
2.1.3 Wawancara Tidak Terstruktur
Wawancara tidak-terstruktur hampir mirip dengan bentuk wawancawa semi-terstruktur, dengan cirri-cirinya adalah: pertanyaannya sangat terbuka; namun kecepatan wawancara sulit diprediksi; sangat fleksibel; dan pedoman wawancara sangat longgar urutan pertanyaan, penggunaan kata, serta alur pembicaraan.4
Dari ketiga bentuk wawancara, peneliti memilih bentuk wawancara semi-terstruktur untuk digunakan dalam proses pengumpulan data. Karena berdasarkan ciri-ciri dari bentuk wawancara semi-terstruktur, peneliti merasa mampu memngumpulkan data dengan baik dan benar.
2.2 Studi Pustaka (Study Literatur)
Secara umum studi pustaka adalah mengumpulkan informasi dan data dengan bantuan dari berbagai macam material yang ada di perpustakaan seperti dokumen, buku, catatan, majalah dan kisah-kisah sejarah yang berkaitan dengan data yang diperlukan dan pada akhirnya bisa dijadikan sebagai landasan teori untuk dijadikan sarana dalam melakukan analisa sesuai dengan data yang terkumpul.
Landasan teori yang dipamahami sebagai sumber informasi dan pertimbangan dalam melakukan penelitian, baik penelitian kualitatif maupun kuantitatif diperlukan suatu studi pustaka atau studi literatur sebagai suatu teori tertentu yang berkaitan dengan masalah tersebut.
Fungsi teori dalam penelitian kuantitatif sangat penting dan dominan. Creswell (2008) mengatakan bahwa dalam penelitian kuantitaif, keterikatan pada teori sangat mutlak dilakukan sejak awal penelitian hingga akhir penelitian, karena teori adalah dasar bagi permasalahan yang diangkat serta menjadi identifikasi arah penelitian.5
4
Herdiansyah, Metodologi Penelitian Kualitatif,125.
22
Secara khusus, fungsi studi pustaka atau studi literartur pada penelitian kualitatif cukup minim karena keterlibatan teori tidak sedalam penelitian kuantitatif. Creswell mengatakan bahwa keterlibatan teori atau literatur pada penelitian kualitatif hanya permasalahan penelitian saja, tetapi tidak berfungsi sebagai identifikasi dari arah penelitian, tujuan penelitian ataupun pertanyaan penelitian yang dikemukankan.6 Fungsi teori menjadi penting ketika data dari penelitian telah terkumpul sehingga dapat menganalisa data dan teori agar menjadi relevan bagi masyarakat tertentu.
Dalam hal ini, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif, dan teori yang berkaitan dengan masalah tersebut adalah Pendidikan Agama Kristen (PAK) menurut Dien Sumiyatiningsih ditinjau dari Psikologi Perkembangan Anak dapat membantu peneliti dalam merelevankan masalah dan teori menjadi lebih konkret.
2.3 Studi Dokumentasi
Foto ini adalah proses ibadah sekolah minggu padang yang dilaksanakan pada tanggal 31 Oktober 2017, memperingati bulan keluarga. Ibadah ini disertakan dengan orang tua anak untuk memperhatikan anak karena ibadah berlangsung di alam luar dan luas.
23
Foto ini adalah prosesi ibadah natal PAR pada tanggal 23 Desember 2017 pukul 15.00.
24
Beberapa foto ini menjelaskan bahwa sangat kelihatan bahwa adanya penggabungan usia dalam ibadah sekolah minggu. Foto ini mewakili situasi ibadah-ibadah sekolah minggu gabungan, sedangkan ibadah perwilayah juga seperti ini namun lebih kepada ruang lingkup yang lebih kecil.7
25
III. Profil Gereja GMIT Imanuel Kefamenanu8
3.1 Sejarah Berdirinya Gereja GMIT Imanuel Kefamnanu
Kita sudah mencatat tentang pelayanan sakramen baptisan kudus sebagai tongak penetapan lahirnya sebuah jemaat di satu tempat. Embrio jemaat GMIT Imanuel Kefamnanu dimulai pada masa Ds. Krayer van aalst (1916-1922). Pada 3 juni 1917 merupakan hari mula jadinya jemaat GMIT Imanuel kefamnanu. Belanda diberi tanggung jawab merintis pekerjaan pekabaran injil di onderafdeeling
Noord-Midden dan Oost-Noord-Midden Timor antara tahun 1916 – 1922 adalah Ds.
Krayer van aalst. Kota dingin Kapan yang merupakan wilayah raja Oematan dipilih sebagai pusat resort pelayanan di dua onderafdeeling tadi. Salah satu alasan Kapan di pilih sebagai pusat resort pelayanan yaitu Kapan dinilai menjadi akses untuk dua bahkan tiga kerajaan sekaligus: kerajaan Molo, Amanuban dan Amanatun. Untuk Molo mengingat dia berada di bawah kekuasaan Sonba’i yang wilayahnya membentang dari Kauniki di sekitar Camplong sampai dengan Miomafo.
Dalam peta wilayah pemerintahan raja-raja tradisional di Timor, Kefamnanu termasuk dalam teritori Miomafo dengan Sonba’i sebagai raja. Keadaan orang-orang protestan di Timor Tengah Utara (TTU) pada masa Ds. Krayer van aalst akan lebih berfokus pada percakapan mengenai peristiwa revival, kebangunan rihani yang terjadi di Timor. Bicara tentang kebangunan rohani di Timor orang-orang langsung akan berpikir tentang peristiwa besar di tahun 1965 namun jauh sebelum gerakan kebangunan rohani pada tahun 1965 telah terjadi gerakan kerohanian tahun 1943 di Nunkolo, kemudian di Tobaki dekat Lotas yang terjadi sekitar bulan juni 1916 beberapa bulan sebelum Ds. Krayer van aalst tiba di Kapan. Gambaran tentang gerakan kerohanian itu dikisahkan agak rinci oleh Ds. Krayer van aalst dalam surat ke-40 dari serial tulisannya. Menurut analisa Ds. Middelkoop tentang tulisan
8
Pdt. Dr. Nuban Timo. Ebenhaizer I, Sekuntum Mawar Untuk Timor Tengah Utara 100 Tahun
26
Ds. Krayer van aalst yaitu beratnya kerja rodi yang diwajibkan pemerintah Belanda terhadap penduduk asli Timor pada saat itu.
Begitu beredar kabar tentang seorang pastor yang menjanjikan kehidupan seperti Eden yang bebas pajak dan tidak ada lagi kerja paksa maka orang-orang pra-kristen pada saat itu menuju ke tempat pastor itu berada. Orang-orang Timor yang bersimpati pada ajaran Kristen yang migrasi ke Tibaki adalah rombongan dari Niki-niki, Noeltoko dan Kefamnanu. Dalam tulisannya Ds. Krayer van aalst menunjukkan betapa mudahnya orang orang Timor pra-Kristen di pengaruhi oleh berbagai kabar yang menyesatkan. Kunjungan-kunjungan Ds. Krayer van aalst ke berbagai kampung di onderafdeeling Noord-Midden dan
Zuid-Midden Timor, seperti Niki-Niki, Noeltoko dan Kefamnanu,
kampung yang penduduknya terpengaruh oleh kabar-kabar yang menyesatkan adalah untuk membebaskan jiwa orang Timor dari belenggu berhala-berhala dan juga kepercayaan sia-sia untuk dipersembahkan bagi Juruselamat. Kunjungan-kunjungan tersebut diikuti dengan pembukaan sekolah-sekolah di kampung-kampung atas kesepakatan atau permintaan dari temukung atau bangsawan setempat lalu penempatan guru-guru pribumi (sekaligus guru jemaat) untuk melakukan pengajaran kepada anak-anak penduduk sekaligus memimpin ibadah minggu kepada anak-anak sekolah dan penduduk sekitar yang tertarik pada injil.
Kemudian dilanjutkan dimasa Ds. Middelkoop (1922-1953) dimana Middelkoop menguraikan gerakan kerohanian yang terjadi pada tahun 1965 dalam buku berjudul Atoni Pah Meto dengan judul gerakan kebangunan rohani di Timor. Pengaruh dari gerekan rohani baru ini bagi kehidupan jemaat protestan di Kefamnanu diungkapkan Middelkoop dalam kalimat berikut “di Kefamnanu beratus-ratus orang kafir dan juga orang katolik beserta orang Protestan yang suam dan sudah terasing dari gerejanya, tertarik oleh kekuatan yang merangsang dari kabar Yesus Kristus yang menyelamatkan.
27
Setelah tahun 1900an selain di Kupang sudah ada jemaat protestan berbahasa Melayu di pusat-pusat perdagangan dan pemerintahan di seantero pulau Timor jajahan Belanda. Piet Middelkoop menyebut pusat-pusat baru itu antara lain salah satunya adalah Kefamnanu. Sebagian besar anggota jemaat di resort baru adalah anggota angkatan bersenjata dan pegawai pemerintah bersama keluarga mereka dengan para guru sekolah yang bekerja bagi pemerintah dan lembaga misi menjadi pemimpin di jemaat-jemaat itu. Bahasa perantara dalam ibadah jemaat adalah bahasa Melayu (waktu itu belum disebut bahasa Indonesia).
Tahun 1953 Piet Middelkoop mengakhiri masa 31 pelayan di Timor sebagai Pendeta pembantu sebagaimana disebutkan dia tiba di Kapan 1922 untuk menggantikan Ds. Krayer van aalst yang menjadi perintis pekerjaan Zending di resort Timor Tengah Selatan sejak 1916. Pada waktu Middelkoop meninggalkan Timor jumlah orang Kristen di wilayah itu sebanyak 75.788 (44% dari jumlah penduduk). Data mengenai jumlah orang Kristen protestan di Kefamnanu dan Antambua juga disebutkan oleh Middelkoop masing-masing 2665 jiwa dan 1950 jiwa. Jemaat GMIT Imanuel Kefamnanu juga lahir dari proses-proses panjang yang terjadi pada masa Ds. Krayer van aalst (1916-1922) dan Ds. Middlekoop (1922-1953).
Pengkhotbah Jehusua Jacobus de Fretes adalah seorang pengkhotbah awam di Jemaat kristen Kefamnanu yang ditunjuk oleh Ds. Middelkoop melalui sebuah rapat di Kefamnanu tanggal 10 Januari 1934. Tidak banyak informasi yang terdokumentasi tentang pengkhotbah awam Jehusua Jacobus de Fretes selama proses pelayanannya sebagai pengganti Middelkoop di Kefamnanu.
Jemaat Imanuel Kefamnanu di masa Guru Injil J. Petrus yang merupakan penghantar untuk dua jemaat protestan yakni Noeltoko dan Kefamnanu. Arsip-arsip yang tersimpan di jemaat GMIT Imanuel Kefamnanu mencatan bahwa guru injil J. Petrus yang kemudian sejak tahun 1946 diangkat secara serentak sebagai pendeta dengan semua
28
guru injil lainnya sudah mulai bekerja di Kefamnanu sejak 5 Maret 1940. Selain menjadi pemimpin dan pelayan jemaat protestan di Kefamnanu dan Noeltoko J. Petrus juga bertanggungjawab memimpin Sekolah Rakyat miliki Gereja.
Ibadah-ibadah jemaat Kefamnanu pada waktu itu dilakukan dalam sebuah rumah seluas 7x6 m2. Pada masa H Schulte Nordholt (1939-1942, 1945-1947) menjadi controleur dia memberikan satu lokasi untuk menjadi tempat pembangunan ibadah baru. Tempat itulah yang sampai sekarang menjadi kompleks gedung kebaktian Jemaat GMIT Imanuel Kefamnanu. Tepatnya gedung yang dijadikan sebagai museum oleh jemaat GMIT Imanuel Kefamnanu. Memasuki tahun 1950, jemaat mengambil kesepakatan untuk membanmgun gedung ibadah sendiri. Pembangunan dilaksanakan secara gotong-royong. Bertindak sebagai ketua pembangunan adalah Ketua Majelis Jemaat yang tidak lain adalah Pdt. J. Petrus. Penatua Fredrik A. Makatita, Penatua Sadrak A. Nappu dan Penatua M. Dengga bertindak sebagai think thank. Peletakan batu pertama berlangsung pada bulan September 1958.
Perlahan-lahan kehidupan jemaat protestan di Kefamnanu juga mulai di tata seturut dengan presbiterial sinodal. Dalam semangat gotong-royong dipandu oleh panitia dan majelis mulailah warga jemaat bahu-membahu mendirikan gedung kebaktian hanya dibutuhkan waktu 3 bulan untuk menyelesaikan pekerjaan tadi. 24 des 1958 dipilih sebagai momentum dilakukannya ibadah pentahbisan gedung kebaktian yang dipimpin oleh Pdt Dr. J.L.Ch. Abineno, ketua Majelis Sinode GMIT ke-5.
Bersamaan dengan momentum pentahbisan itu juga ditetapkanlah nama untuk Jemaat Protestan di kota Kefamnanu. Nama yang disepakati adalah IMANUEL. Demikianlah dari 3 Juni 1917 sampai dengan hari ini Jemaat GMIT Imanuel hadir di Kefamnanu (Seratus Tahun Hidup Bersama TUHAN di Jurang Yang Dalam).
29
3.2 Komisi PAR (Pendidikan Anak dan Remaja)
Komisi PAR (Pendidikan Anak dan Remaja) adalah salah satu komisi di GMIT Imanuel Kefamnanu. Dalam komisi tersebut dapat membantu anak-anak dalam belajar dan memahami apa itu gereja dan alkitab. Secara umum, gereja Imanuel Kefamnanu memiliki 25 Rayon dari beberapa rayon atau rukun tersebut, anak-anak sekolah minggu dibagi dalam 6 Wilayah. satu wilayah terdiri dari 4-5 rayon dengan setiap wilayah memiliki satu pengajar saja. Kegiatan komisi PAR sering disebut oleh kebanyakan jemaat adalah sekolah minggu.
Kegiatan sekolah minggu dilaksanakan pada setiap hari minggu pukul 09.00 pagi, seusai ibadah utama pertama. Pada minggu pertama, kedua dan ketiga, ibadah sekolah minggu ini dilaksanakan di setiap wilayah sesuai dengan pembagian lokasinya adalah pada rumah pengajar tersebut atau sesuai kesepakatan penatua dan diaken pada rayon tersebut. dan pada minggu keempat, adalah sekolah minggu gabungan yakni seluruh wilayah digabung dalam satu gedung dan satu pengajar dan pengajar lainnya mengawas anak-anak yang masih kecil.
Dalam komisi PAR terdapat 20 pengajar sedangkan kehadiran anak-anak dalam sekolah minggu gabungan ± 600-700 anak. dan pada masing-masing wilayah, hanya 6 pengajar dengan masing-masing wilayah dengan kehadiran anak-anak ± 110 anak pada setiap minggunya. Anak-anak yang hadir terdiri dari semua umur yakni Batita, Balita, masa kanak-kanak awal-akhir dan remaja.