• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN STUDI ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT (EHRA) KABUPATEN WONOSOBO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN STUDI ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT (EHRA) KABUPATEN WONOSOBO"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

Disusun oleh:

KELOMPOK KERJA SANITASI

KABUPATEN WONOSOBO

Tahun 2012

LAPORAN STUDI

ENVIRONMENTAL HEALTH RISK

ASSESSMENT (EHRA)

(2)

STUDI EHRA Kab. Wonosobo i

DAFTAR ISI

Hal

DAFTAR ISI ... i DAFTAR TABEL ... ii DAFTAR GRAFIK ... iv

DAFTAR PETA ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

BAB II. METODOLOGI DAN LANGKAH PELAKSANAANSTUDI EHRA ... 2

2.1. Penentuan Target Area Survey ... 2

2.2. Penentuan Jumlah/Besar Responden ... 4

2.3. Penentuan Desa/Kelurahan Area Survei ... 4

2.4. Penentuan Desa/Kelurahan Area Survei ... 5

BAB III. HASIL STUDI EHRA 2012 KABUPATEN WONOSOBO ... 6

3.1 Karakteristik Responden ... 6

3.2 Pengelolaan Sampah Rumah Tangga ... 11

3.2.1. Kondisi Sampah di Lingkungan ... 12

3.2.2. Pengelolaan sampah RT ... 14

3.2.3. Frekuensi Pengangkutan Sampah Rumah Tangga ... 15

3.3 Pembuangan Airkotor/Limbah Tinja Manusia Dan Lumpur Tinja ... 18

3.3.1 Jumlah Keluarga Yang Memiliki Jamban ... 18

3.3.2 Saluran Akhir Pembuangan Isi Tinja ... 24

3.3.3 Kualitas Tangki Septic Yang Dimiliki ... 25

3.4 Drainase Lingkungan Sekitar Rumah Dan Banjir ... 40

3.5 Pengelolaan Air Minum Dan Air Bersih Rumah Tangga ... 41

3.5.1 Sumber Air Untuk Diminum ... 41

3.5.2 Pengolahan, Penyimpanan Dan Penanganan Air Yang Baik Dan Aman ... 49

3.6 Perilaku Higiene/Sehat ... 53

3.7 Kejadian Penyakit Diare ... 59

BAB IV. PENUTUP... 74

DAFTAR PUSTAKA ... 75

(3)

STUDI EHRA Kab. Wonosobo ii

DAFTAR TABEL

Hal

Tabel 2.1. Kategori Klaster berdasarkan kriteria Indikasi Lingkungan Berisiko ... 3

Tabel 2.2. Hasil Klastering Desa/Kelurahan di Kabupaten Wonosobo ... 3

Tabel 2.3. Hasil pemilihan 25 desa/kelurahan lokasi studi EHRA di Kabupaten Wonosobo ... 4

Tabel 3.1. Informasi Kelompok Umur Responden ... 6

Tabel 3.2 Informasi Status Rumah Responden ... 7

Tabel 3.3. Tingkat Pendidikan Responden ... 8

Tabel 3.4. Kepemilikan Anak Dari Responden ... 9

Tabel 3.5. Kepemilikan Kartu Askeskin ... 10

Tabel 3.6. Pengelolaan sampah masyarakat hasil Studi EHRA ... 12

Tabel 3.7. Apakah Petugas Pengangkutan Sampah Dibayar ... 15

Tabel 3.8. Biaya Pengangkutan Sampah ... 17

Tabel 3.9. Tempat Buang Air Besar (BAB) Orang Dewasa ... 19

Tabel 3.10. Orang di Lingkungan Responden yang Masih BABS ... 21

Tabel 3.11. Jenis Kloset Yang Dipakai untuk Buang Air Besar (BAB) ... 23

Tabel 3.12. Pembuangan limbah tinja manusia ... 24

Tabel 3.13. Lama tangki Septik Dibangun ... 25

Tabel 3.14. Waktu Tangki Septik Terakhir Dikosongkan ... 27

Tabel 3.15. Petugas Yang Mengosongkan tangki septik ... 29

Tabel 3.16.. Pembuangan Lumpur Tinja ... 30

Tabel 3.17. Praktek Membuang Tinja Anak Balita ... 33

Tabel 3.18. Kepemilikan Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) ... 34

Tabel 3.19. Tempat Penyaluran air Limbah dari dapur ... 36

Tabel 3.20. Tempat Penyaluran air Limbah dari Kamar mandi ... 37

Tabel 3.21. Tempat Penyaluran air Limbah dari Tempat Cuci Pakaian ... 38

Tabel 3.22. Tempat Penyaluran air Limbah dari Wastafel ... 39

Tabel 3.23. Apakah rumah/lingkungan pernah terkena banjir ... 40

Tabel 3.24. Sumber air untuk minum ... 41

Tabel 3.25. Lamanya mengalami kesulitan mendapatkan air ... 44

Tabel 3.26. Kepuasan terhadap sumber air yang digunakan ... 45

Tabel 3.27. Kepuasan terhadap sumber air yang digunakan ... 46

Tabel 3.28. Praktek mengolah air sebelum digunakan untuk minum ... 48

Tabel 3.29. Praktek cara mengolah air sebelum digunakan untuk minum ... 49

Tabel 3.30. Praktek penyimpanan air sebelum digunakan untuk minum ... 50

Tabel 3.31. Praktek cara mengambil air untuk minum,masak,cuci piring ... 51

Tabel 3.32. Apakah responden sudah menggunakan sabun ... 52

Tabel 3.33. Prakten penggunaan sabun oleh responden ... 54

(4)

STUDI EHRA Kab. Wonosobo iii

Tabel 3.35. Kapan biasanya Ibu mencuci tangan dengan menggunakan sabun? ... 57

Tabel 3.36. Kejadian Penyakit Diare Kapan Waktu Paling Dekat Anggota Keluarga Ibu Terkena Diare ... 59

Tabel 3.37. Kejadian Penyakit DiareAnak-anak balita ... 60

Tabel 3.38. Kejadian Penyakit DiareAnak-Anak Non Balita ... 61

Tabel 3.39. Kejadian penyakit diare Anak remaja laki-laki ... 62

Tabel 3.40. Kejadian Penyakit DiareAnak Remaja Perempuan ... 62

Tabel 3.41. Kejadian Penyakit Diare Orang Dewasa Laki-laki ... 64

Tabel 3.42.. Kejadian Penyakit DiareOrang Dewasa Perempuan. ... 65 Tabel 3.27. Penyedia layanan pengelolaan persampahan yang ada di Kabupaten/Kota ... III-29 Tabel 3.28. Ringkasan pendapatan dan belanja subsektor pengelolaan persampahan ... III-29

Tabel 3.29. Peta Pemangku Kepentingan dalam Pembangunan dan

Pengelolaan Drainase Lingkungan ... III-31 Tabel 3.30. Peta Peraturan Drainase Lingkungan Kabupaten Wonosobo ... III-31 Tabel 3.31. Diagram Sistem Sanitasi pengelolaan drainase lingkungan ... III-34 Tabel 3.32. Sistem pengelolaan drainase yang ada di Kabupaten/Kota ... III-34 Tabel 3.33. Kondisi drainase lingkungan di tingkat kecamatan/kelurahan ... III-35 Tabel 3.34. Daftar Program/Proyek Layanan Yang Berbasis Masyarakat... III-35 Tabel 3.35. Kegiatan komunikasi yang ada di Kabupaten ... III-35 Tabel 3.36. Media komunikasi yang ada di Kabupaten ... III-36 Tabel 3.37. Kerjasama Terkait Drainase ... III-36 Tabel 3.38. Daftar Mitra Potensial ... III-36 Tabel 3.39. Penyedia LayananPengelolaan Drainase Lingkungan Yang Ada

di Kabupaten Wonosobo ... III-36 Tabel 3.40. Ringkasan Pendapatan dan Belanja dari Subsektor Pengelolaan Drainase ... III-36 Tabel 3.41. Sistem Penyediaan dan Pengelolaan Air Bersih Kabupaten Wonosobo ... III-39 Tabel 3.42. Pengelolaan limbah industri rumah tangga kabupaten/kota ... III-39 Tabel 3.43. Pengelolaan limbah medis di fasilitas-fasilitas kesehatan ... III-39 Tabel 4.1. Rencana program dan kegiatan PHBS dan Promosi Higiene tahun 2013 ... IV-1 Tabel 4.2. Kegiatan PHBS dan Promosi Higiene Tahun 2012 ... IV-1 Tabel 4.3. Rencana program dan kegiatan pengelolaan air limbah domestik Tahun 2013 ... IV-2 Tabel 4.4. Kegiatan pengelolaan air limbah domestik Tahun 2012 ... IV-3 Tabel 4.4. Rencana program dan kegiatan pengelolaan persampahan tahun 2013 ... IV-3 Tabel 4.6. Kegiatan pengelolaan persampahan Tahun 2012 ... IV-4 Tabel 4.7. Rencana program dan kegiatan pengelolaan drainase tahun 2013 ... IV-4 Tabel 4.8. Kegiatan pengelolaan drainase tahun 2012 ... IV-4 Tabel 4.9. Rencana program dan kegiatan Tahun 2013 ... IV-6 Tabel 4.10. Kegiatan Tahun 2012 ... IV-1 Tabel 5.1. Area berisiko sanitasi dan penyebab utamanya ... V-3

(5)

STUDI EHRA Kab. Wonosobo iv

DAFTAR GRAFIK

Hal

Grafik 2.1. Distribusi desa per klaster untuk penetapan lokasi studi EHRA ... 4

Grafik 3.1. Kelompok Umur Responden ... 6

Grafik 3.2. Prosentase responden berdasar kel. Umur ... 7

Grafik 3.3. Satus Rumah Responden. ... 8

Grafik 3.4. Kepemilikan rumah responden ... 8

Grafik 3.5. Tingkat Pendidikan Responden ... 9

Grafik 3.6. Prosentase Tingkat Pendidikan Responden ... 9

Grafik 3.7. Kepemilikan anak ... 10

Grafik 3.8. Prosentase Kepemilikan Anak ... 10

Grafik 3.9. Kepemilikan Kartu Askeskin ... 11

Grafik 3.10. Prosentase Kepemilikan kartu Askeskin Menurut Klaster Desa ... 11

Grafik 3.11. Prosentase Kondisi Sampah di Lingkungan Menurut Desa ... 13

Grafik 3.12. Prosentase kondisi sampah di lingkungan menurut klaster ... 13

Grafik 3.13. Pengelolaan sampah rumah tangga ... 14

Grafik 3.14. Prosentase Pengelolaan Sampah RT ... 14

Grafik 3.15. Prosentase Pengelolaan Sampah Menurut Klaster ... 15

Grafik 3.16. Tempat pengumpulan sampah RT ... 15

Grafik 3.17. Prosentase Frekuensi Pengangkutan Sampah oleh Petugas ... 15

Grafik 3.18. Prosentase Ketepatan Pengangkutan Sampah Menurut Klaster ... 15

Grafik 3.19. Prosentase Pengangkutan Sampah Yang Dibayar ... 16

Grafik 3.20. Prosentase petugas pemungut uang sampah tiap klaster ... 16

Grafik 3.21. Kepada Siapa Membayar Pengangkutan Sampah ... 17

Grafik 3.22. Biaya Pengangkutan Sampah ... 18

Grafik 3.23. Tempat BAB Orang Dewasa ... 19

Grafik 3.24. Tempat BAB Orang Dewasa Menurut Klaster ... 20

Grafik 3.25. Prosentase Tempat BAB Orang Dewasa ... 20

Grafik 3.26. Grafik Orang yang masih BABS Menurut Desa ... 21

Grafik 3.27. Grafik Prosentase Orang Yang Masih BABS Menurut Klaster Desa ... 22

Grafik 3.28. Grafik Prosentase Orang Yang Masih BABS ... 22

Grafik 3.29. Grafik Jenis Kloset Yang Digunakan Untuk BAB Menurut Desa ... 22

Grafik 3.30. Grafik Prosentase Jenis Kloset Yang Digunakan Untuk BAB Menurut Klaster ... 23

Grafik 3.31. Grafik Prosentase Jenis Kloset Yang Digunakan Untuk BAB ... 24

Grafik 3.32. Tempat Buangan Akhir Tinja Menurut Desa ... 25

Grafik 3.33. Tempat Buangan Akhir Tinja Menurut Klaster... 25

Grafik 3.34. Prosentase Tempat Buangan Akhir Tinja ... 26

Grafik 3.35. Lama Tangki Septik Dibangun ... 26

(6)

STUDI EHRA Kab. Wonosobo v

Grafik 3.37. Waktu Tangki Septik Terakhir Dikosongkan... 27

Grafik 3.38. Kapan Tangki Septik Terakhir Dikosongkan Menurut Desa ... 28

Grafik 3.39. Prosentase Kapan Tangki Septik Terakhir Dikosongkan Menurut Klaster ... 28

Grafik 3.40. Prosentase Kapan Tangki Septik Terakhir Dikosongkan ... 28

Grafik 3.41. Siapa Yang Mengosongkan Tangki Septik ... 29

Grafik 3.42. Prosentase Oleh Siapa Tangki Septik Dikosongkan Menurut Klaster ... 29

Grafik 3.43 Prosentase Oleh Siapa Tangki Septik Dikosongkan ... 30

Grafik 3.44. Tempat Pembuangan Lumpur Tinja Pada Waktu Pengurasan Tangki septik ... 30

Grafik 3.45. Prosentase Pembuangan Lumpur Tinja Pada Waktu Pengurasan Tangki Septik Menurut Klaste

r

... 31

Grafik 3.46. Pembuangan Lumpur Tinja Pada Waktu Pengurasan Tangki Septik... 31

Grafik 3.47. Prosentase Pembuangan Lumpur Tinja Pada Waktu Pengurasan Tangki Septik ... 33

Grafik 3.48. Praktek Pembuangan Tinja Anak Balita ... 33

Grafik 3.49. Praktek Pembuangan Tinja Anak Balita Menurut Klaster ... 34

Grafik 3.50. Prosentase Praktek Pembuangan Tinja Anak Balita ... 34

Grafik 3.51. Kepemilikan Saluran pembuangan air Limbah (SPAL) ... 35

Grafik 3.52. Kepemilikan Saluran pembuangan air Limbah (SPAL) Menurut Klaster Desa ... 35

Grafik 3.53. Prosentase Kepemilikan Saluran pembuangan air Limbah (SPAL) ... 35

Grafik 3.54. Grafik Saluran pembuangan air Limbah (SPAL) dari dapur ... 36

Grafik 3.55. Grafik Saluran pembuangan air Limbah (SPAL) dari dapur Menurut Klaster ... 36

Grafik 3.56. Grafik Saluran pembuangan air Limbah (SPAL) dari kamar mandi... 37

Grafik 3.57. Prosentase Saluran pembuangan air Limbah (SPAL) dari kamar mandi ... 37

Grafik 3.58. Grafik Saluran pembuangan air Limbah (SPAL) dari tempat Cuci Pakaian ... 37

Grafik 3.59. Saluran pembuangan air Limbah (SPAL) dari tempat Cuci Pakaian ... 39

Grafik 3.60. Grafik Saluran pembuangan air Limbah (SPAL) dari Wastafel ... 40

Grafik 3.61. Saluran pembuangan air Limbah (SPAL) dari Wastafel ... 40

Grafik 3.62. Grafik apakah di rumah atau lingkungan pernah terkena banjir ... 41

Grafik 3.63. Grafik Sumber air minum ... 42

Grafik 3.64. Grafik Sumber Air Minum Menurut Klaster ... 43

Grafik 3.65. Prosentase Grafik Sumber Air Minum ... 43

Grafik 3.66. Grafik lamanya kesulitan mendapatkan air ... 44

Grafik 3.67. Grafik lamanya kesulitan mendapatkan air menurut klaster ... 44

Grafik 3.68. Prosentase Grafik lamanya kesulitan mendapatkan air ... 45

Grafik 3.69. Kepuasan terhadap sumber air yang digunakan ... 45

Grafik 3.70. kepuasan terhadap sumber air yang digunakan menurut klaster ... 46

Grafik 3.71. Prosentase Kepuasan terhadap sumber air yang digunakan ... 46

Grafik 3.72. Jarak Sumur Gali (SGL) dengan tempat pembuangan tinja ... 47

Grafik 3.73. Jarak Sumur Gali (SGL) dengan tempat pembuangan tinja menurut klaster ... 47

(7)

STUDI EHRA Kab. Wonosobo vi

Grafik 3.75. Praktek mengolah air sebelum digunakan untuk minum dan masak ... 48

Grafik 3.76. Praktek mengolah air sebelum digunakan untuk minum menurut klaster ... 48

Grafik 3.77. Prosentase Praktek mengolah air sebelum digunakan untuk minum ... 49

Grafik 3.78. praktek cara mengolah air sebelum digunakan untuk minum ... 49

Grafik 3.79. praktek cara mengolah air sebelum digunakan untuk minum menurut klaster ... 49

Grafik 3.80. Prosentase praktek cara mengolah air sebelum digunakan untuk minum ... 50

Grafik 3.81. Praktek cara menyimpan air yang sudah diolah ditempat yang aman ... 50

Grafik 3.82. Praktek cara menyimpan air yang sudah diolah ditempat yang a man menurut klaster ... 51

Grafik 3.83. Prosentase praktek cara menyimpan air yang sudah diolah ... 51

Grafik 3.84. Praktek cara mengambil air untuk minum,masak,cuci piring ... 52

Grafik 3.85. Praktek cara mengambil air untuk minum,masak,cuci piring menurut klaster ... 52

Grafik 3.86. Prosentase praktek cara mengambil air untuk minum,masak,cuci piring ... 52

Grafik 3.87. Apakah responden sudah menggunakan sabun ... 53

Grafik 3.88. Papakah responden sudah menggunakan sabun menurut klaster ... 54

Grafik 3.89. Prosentase apakah responden sudah menggunakan sabun ... 54

Grafik 3.90. Praktek penggunaan sabun oleh responden ... 55

Grafik 3.91. Praktek penggunaan sabun oleh responden menurut klaster ... 55

Grafik 3.92. Prosentase praktek penggunaan sabun oleh responden ... 55

Grafik 3.93. Tempat yang biasa digunakan untuk mencuci tangan ... 56

Grafik 3.94. Tempat yang biasa digunakan untuk mencuci tangan menurut klaster... 56

Grafik 3.95. Prosentase Tempat yang biasa digunakan untuk mencuci tangan responden ... 57

Grafik 3.96. Kapan biasanya Ibu mencuci tangan dengan menggunakan sabun ... 58

Grafik 3.97. Kapan biasanya Ibu mencuci tangan dengan menggunakan sabun? menurut klaster... 58

Grafik 3.98. Prosentase Kapan biasanya Ibu mencuci tangan dengan menggunakan sabun? ... 59

Grafik 3.99. Kejadian Diare Kapan Waktu Paling Dekat Anggota Keluarga Ibu Terkena DiareDalam Desa ... 59

Grafik 3.100. Kejadian Diare Kapan Waktu Paling Dekat Anggota Keluarga Ibu Terkena Diare Dalam Cluster ... 60

Grafik 3.101. Prosentase Kejadian Diare Kapan Waktu Paling Dekat Anggota Keluarga Ibu Terkena Diare Dalam Cluster ... 60

Grafik 3.102. Kejadian DiareAnak-Anak Balita Dalam Desa ... 61

Grafik 3.103. Kejadian Diare Anak-Anak Balita Dalam Cluster ... 61

Grafik 3.104. Prosentase Kejadian Diare Anak-Anak Balita Dalam Desa ... 62

Grafik 3.105. Kejadian DiareAnak-Anak Non BalitaDalam Desa ... 62

Grafik 3.106 Kejadian DiareAnak-Anak Non BalitaDalam Cluster ... 62

Grafik 3.107. Prosentase Kejadian DiareAnak-Anak Non BalitaDalam Desa ... 62

Grafik 3.108. Kejadian DiareAnak remaja laki-lakiDalam Desa ... 63

(8)

STUDI EHRA Kab. Wonosobo vii

Grafik 3.110. Prosentase Kejadian DiareAnak remaja laki-lakiDalam Desa ... 63

Grafik 3.111. Kejadian DiareAnak Remaja PerempuanDalam Desa ... 64

Grafik 3.112. Kejadian DiareAnak Remaja PerempuanDalam Cluster ... 64

Grafik 3.113. Prosentase Kejadian Diare Anak Remaja Perempuan Dalam Desa ... 64

Grafik 3.114. Kejadian DiareOrang Dewasa Laki-lakiDalam Desa ... 65

Grafik 3.115. Kejadian DiareOrang Dewasa Laki-lakiDalam Cluster ... 65

Grafik 3.116. Prosentase Kejadian DiareOrang Dewasa Laki-lakiDalam Desa ... 65

Grafik 3.117. Kejadian DiareOrang Dewasa PerempuanDalam Desa ... 66

Grafik 3.118. Kejadian DiareOrang Dewasa PerempuanDalam Cluster ... 65

Grafik 3.119. Prosentase Kejadian DiareOrang Dewasa Perempuan Dalam Desa... 65

Grafik 3.120. Indeks Risiko Saniatasi Desa / Kelurahan... 70

(9)

STUDI EHRA Kab. Wonosobo viii

DAFTAR PETA

Hal Peta 2.2. Peta Administrasi Kabupaten Wonosobo dan Cakupan Wilayah Kajian ... II-3 Peta 2.3. Peta Daerah Aliran sungai Kabupaten Wonosobo ... II-4 Peta 2.4. Peta Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten Wonosobo ... II-16 Peta 2.5. Peta Rencana Pola Ruang Wilayah Kabupaten Wonosobo ... II-17 Peta 2.6. Peta Penetapan Kawasan Strategis Kabupaten Wonosobo ... II-18 Peta 3.1. Peta cakupan layanan pengelolaan air limbah domestik ... III-9 Peta 3.2. Peta lokasi infrastruktur utama pengelolaan air limbah domestic... III-10 Peta 3.3. Peta cakupan layanan persampahan ... III-23 Peta 3.4. Peta lokasi infrastruktur utama pengelolaan persampahan. ... III-24 Peta 3.5. Peta jaringan drainase Kota Wonosobo ... III-33 Peta 3.6. Peta cakupan layanan air bersih ... III-37 Peta 5.1. Peta area berisiko sanitasi ... V-2

(10)

STUDI EHRA Kab. Wonosobo ix

DAFTAR GAMBAR

Hal Gambar 3.1. Diagram, Untuk Menentukan Suspek Tangki Septic Atau Cubluk ... 32

(11)

PPSP – Study EHRAKab. Wonosobo 1

BAB II - 1

BAB I

PENDAHULUAN

Environmental Health Risk Assessment Study atau studi EHRA adalah sebuah survey partisipatif di tingkat kabupaten/kota yang bertujuan untuk memahami kondisi fasilitas sanitasi dan higinitas serta perilaku-perilaku masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan program sanitasi termasuk advokasi di tingkat kabupaten/kota sampai ke kelurahan dan desa.Studi Environmental Health Risk Assessment (EHRA) atau studi Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan merupakan salah satu dari beberapa studi primer yang dilakukan oleh Kelompok Kerja (Pokja) Sanitasi Kabupaten Wonosobo dalam rangka menyusun buku Pemetaan Kondisi Sanitasi (Buku Putih Sanitasi) dan Strategi Sanitasi Kabupaten/Kota (SSK) berdasarkan pendekatan Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP). Kabupaten/kota dipandang perlu melakukan Studi EHRA karena :

1. Pembangunan sanitasi membutuhkan pemahaman kondisi wilayah yang akurat.

2. Data terkait dengan sanitasi dan hygiene terbatas dimana data umumnya tidak bisa dipecah sampai tingkat kelurahan/desa dan data tidak terpusat melainkan berada di berbagai kantor yang berbeda.

3. Isu sanitasi dan hygiene masih dipandang kurang penting Adapun tujuan dan manfaat dari studi EHRA adalah :

1. Untuk mendapatkan gambaran kondisi fasilitas sanitasi dan perilaku yang berisiko terhadap kesehatan lingkungan. 2. Memberikan advokasi kepada masyarakat akan pentingnya layanan sanitasi.

3. Memberikan pemahaman yang sama dalam menyiapkan anggota tim survey yang handal.

4. Menyediakan salah satu bahan utama penyusunan Buku Putih Sanitasi dan Strategi Sanitasi Kabupaten Wonosobo.

Pelaksanaan pengumpulan data lapangan dan umpan balik hasil EHRA dipimpin dan dikelola langsung oleh kelompok kerja (Pokja) Sanitasi Kabupaten Wonosobo, selanjutnya data EHRA diharapkan menjadi bahan untuk mengembangkan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Wonosobo dan juga menjadi masukan untuk mengembangkan strategi sanitasi dan program-program sanitasi kabupaten.

(12)

PPSP – Study EHRAKab. Wonosobo 2

BAB II - 2

BAB II

METODOLOGI DAN LANGKAH PELAKSANAANSTUDI EHRA

EHRA adalah studi yang menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menerapkan 2 (dua) teknik pengumpulan data yakni 1) wawancara (interview) dan 2) pengamatan (observation). Pewancara dan pelaku pengamatan dalam EHRA adalah enumerator yang dipilih secara kolaboratif oleh pokja AMPL dan Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo. Sementara Sanitarian bertugas menjadi supervisor selama pelaksanaan survey. Sebelum turun ke lapangan, para sanitarian dan enumerator diwajibkan mengikuti pelatihan enumerator selama 2 (dua) hari berturut-turut . Materi pelatihan mencakup dasar-dasar wawancara dan pengamatan, pemahaman tentang instrument EHRA, latar belakang konseptual dan praktis tentang indikator-indikator, uji coba lapangan dan diskusi perbaikan instrument.

Unit sampling utama (Primary Sampling) adalah RT (Rukun Tetangga). Unit sampling ini dipilih secara proposional dan random berdasarkan total RT di semua RW dalam setiap Desa/Kelurahan yang telah ditentukan menjadi area survey. Jumlah sampel RT per Desa/Kelurahan minimal 6 RT dan jumlah sampel per RT sebanyak 5 responden. Dengan demikian jumlah sampel per Desa/Kelurahan adalah 30 responden, ditambah 3 responden sebagai tambahan. Yang menjadi responden adalah ibu atau anak perempuan yang sudah menikah dan berumur antara 18 s/d 60 tahun.

Panduan wawancara dan pengamatan dibuat terstrukur dan dirancang untuk dapat diselesaikan dalm waktu sekitar 30 – 45 menit. Panduan diuji kembali dalam hari kedua pelatihan enumerator dengan try out ke lapangan. Untuk mengikuti standar etika, informed consent wajib dibacakan oleh sanitarian sehingga responden memahami betul hak-haknya untuk keikutsertaan dengan sukarela dan sadar.

Pekerjaan entri data dikoordinir oleh tim dari dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo. Sebelum melakukan entri data, tim data entri terlebih dahulu mengikuti pelatihan singkat data entry EHRA yang difasilitasi oleh Tim Fasilitator yang telah terlatih dari PIU Advokasi dan Pemberdayaan. Selama pelatihan itu, tim data entri dikenalkan pada struktur kuesioner dan perangkat lunak yang digunakan serta langkah-langkah untuk uji konsistensi yakni program EPI Info dan SPSS.

Untuk Quality control, tim spot chek mendatangi 5% rumah yang telah disurvei. Tim spot chek secara individual melakukan wawancara singkat dengan kuesioner yang telah disediakan dan kemudian menyimpulkan apakah wawancara benar-benar terjadi dengan standar yang ditentukan. Quality control juga dilakukan di tahap data entri. Hasil entri di recheck kembali oleh Tim Pokja AMPL. Sejumlah 5% entri kuesioner diperiksa kembali.\

Kegiatan Studi EHRA memerlukan keterlibatan berbagai pihak dan tidak hanya bisa dilaksanakan oleh Kabupaten semata. Agar efektif, Pokja Sanitasi Kabupaten diharapkan bisa mengorganisir pelaksanaan secara menyeluruh. Adapun susunan Tim EHRA sebagai berikut :

1. Penanggung Jawab : Pokja Kabupaten Wonosobo

2. Koordinator Survey : Pokja – Dinas Kesehatan

3. Anggota : Bappeda, Bapermasdes, DPU, Humas

4. Koordinator Wilayah/Kecamatan : Kepala Puskesmas

5. Supervisor : Sanitarian

6. Tim Entry Data : Bappeda

7. Tim Analisis Data : Pokja Kabupaten Wonosobo

8.

Enumerator : Kader aktif Posyandu, PKK, KB

Penentuan Target Area Survey

Metode penentuan target area survey dilakukan secara geografi dan demografi melalui proses yang dinamakan klastering. Hasil klastering ini juga sekaligus bisa digunakan sebagai sebagai indikasi awal lingkungan berisiko. Proses pengambilan sampel dilakukan secara random sehingga memenuhi kaidah “ Probability Sampling ” dimana semua anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk menjadi sampel, Sementara metode sampling yang digunakan adalah “ Cluster Random Sampling ”. Teknik ini cocok digunakan di Kabupaten Wonosobo, mengingat area sumber data yang akan diteliti sangat luas. Pengambilan sampel didasarkan pada daerah populasi yang ditetapkan.

(13)

PPSP – Study EHRAKab. Wonosobo 3

BAB II - 3

1. Kepadatan Penduduk, yaitu jumlah penduduk per luas wilayah.

2. Angka kemiskinan dengan indicator yang datanya mudah diperoleh tapi cukup representative menunjukkan kondisi social ekonomi setiap kecamatan dan kelurahan atau desa.

3. Daerah/wilayah yang dialiri sungai/kali/saluran drainase/saluran irigasi dengan potensi digunakan sebagai MCK dan pembuangan sampah oleh masyarakat setempat.

4. Daerah terkena banjir dan dinilai mengganggu ketentraman masyarakat dengan parameter ketinggian air, luas daerah banjir/genangan, lamanya surut.

Berdasarkan kriteria di atas, klastering wilayah Kabupaten Wonosobo menghasilkan kategori klaster sebagaimana diperlihatkan pada tabel 1. Wilayah (kecamatan atau desa/kelurahan) yang terdapat pada klaster tertentu dianggap memiliki karakteristik yang identik/homogeny dalam hal tingkat risiko kesehatannya. Dengan demikian, kecamatan/desa/kelurahan yang menjadi area survey pada suatu klaster akan mewakili kecamatan/desa/kelurahan lainnya yang bukan merupakan area survey pada klaster yang sama. Berdasarkan asumsi ini maka hasil studi EHRA ini bisa memberikan gambaran area berisiko Kabupaten Wonosobo.

Tabel. 1

Kategori Klaster berdasarkan kriteria Indikasi Lingkungan Berisiko

Kategori Klaster Kriteria

Klaster 0 Wilayah desa/kelurahan yang tidak memenuhi sama sekali kriteria indikasi lingkungan berisiko. Klaster 1 Wilayah desa/kelurahan yang memenuhi minimal 1 kriteria indikasi lingkungan berisiko. Klaster 2 Wilayah desa/kelurahan yang memenuhi minimal 2 kriteria indikasi lingkungan berisiko. Klaster 3 Wilayah desa/kelurahan yang memenuhi minimal 3 kriteria indikasi lingkungan berisiko. Klaster 4 Wilayah desa/kelurahan yang memenuhi minimal 4 kriteria indikasi lingkungan berisiko.

Klastering wilayah Kabupaten Wonosobo menghasilkan kategori klaster sebagaimana diperlihatkan pada tabel. 2. Wilayah (kecamatan atau desa/kelurahan) yang terdapat pada klaster tertentu dianggap memiliki karakteristik yang identik/homogeny dalam hal tingkat risiko kesehatannya. Dengan demikian, kecamatan/desa/kelurahan yang menjadi area survey pada suatu klaster akan mewakili kecamatan/desa/kelurahan lainnya yang bukan merupakan area survey pada klaster yang sama.

Tabel.2

Hasil Klastering Desa/Kelurahan di Kabupaten Wonosobo

No Klaster Jumlah Nama Desa/Kelurahan

1 4 0 2 3 3 3 2 134 4 1 128 5 0 0 Jumlah 265

Hasil klastering wilayah desa/kelurahan di Kabupaten Wonosobo yang terdiri dari 265 desa/kelurahan menghasilkan distribusi sebagai berikut :

Klaster 0 : 0%

Klaster 1 : 48,30%

Klaster 2 : 50,57%

Klaster 3 : 1,13%

(14)

PPSP – Study EHRAKab. Wonosobo 4

BAB II - 4

Untuk lebih jelasnya distribusi desa kedalam klaster tersebut dapat dilihat pada grafik. 1 Distribusi desa per klaster untuk penetapan lokasi studi EHRA.

Grafik. 1

Distribusi desa per klaster untuk penetapan lokasi studi EHRA

Penentuan Jumlah/Besar Responden

Untuk mendapatkan gambaran kondisi sanitasi di tingkat kabupaten/kota, dengan presisi tertentu , tidak dibutuhkan besaran sampel sampai ribuan rumah tangga. Sampel sebesar 30 responden untuk tiap kelurahan/desa dengan teknik statistic tertentu dan dianggap sebagai jumlah minimal yang bisa Dianalisis.Dalam praktiknya, jumlah responden ditambah menjadi 33 .

Berdasarkan kaidah statistic, untuk menentukan jumlah sampel minimum dalam skala kabupaten/kota dapat dengan cara sangat sederhana yaitu dengan menggunakan “Tabel krejcie-Morgan” yang mempunyai tingkat kepercayaan 95%.

Penentuan Desa/Kelurahan Area Survei

Setelah menghitung kebutuhan responden, selanjutnya ditentukan lokasi studi EHRA dengan cara memilih sebanyak 25 desa/kelurahan secara random. Hasil pemilihan 25 desa/kelurahan tersebut disajikan pada tabel.3 sebagai berikut :

No. Klaster Kecamatan Desa/Kel. Terpilih RW ∑RT RTTerpilih Responden

1 4 - 2 3 Mojotengah Kalibeber 13 46 6 33 3 2 Wadaslintang Kepil Sapuran Kaliwiro Sukoharjo Selomerto Kalikajar Kertek Wonosobo Watumalang Mojotengah Garung Kejajar Lancar Kaliwuluh Talunombo Winongsari Tlogo Wonorejo Mungkung Kertek Wonosobo Barat Binangun Krassak Sendangsari Sikunang 11 9 5 4 9 6 6 9 13 18 4 8 5 49 19 19 24 32 14 11 62 67 68 22 29 17 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 0 1 2 3 4 Jumlah 0 128 134 3 0 0 20 40 60 80 100 120 140 160

(15)

PPSP – Study EHRAKab. Wonosobo 5 BAB II - 5 4 1 Wadaslintang Sapuran Kalibawang Leksono Selomerto Kalikajar Kertek Wonosobo Watumalang Mojotengah Garung Ngalian Marongsari Karangsambung Sojokerto Sumberwulan Maduretno Ngadikusuman Kejiwan Gondang Andongsili Kuripan 7 5 12 6 7 11 8 5 8 6 4 47 20 26 23 21 37 21 23 48 19 16 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 25 Desa/Kel. 79 780 150 825

Penentuan RW/RT Dan Responden Di Lokasi Survey

Unit Sampling Primer (PSU = Primary Sampling Unit) dalam EHRA adalah RT. Karena itu, data RT per RW per Kelurahan/Desa mesti dikumpulkan sebelum memilih RT. Jumlah RT dipilih per Kelurahan/Desa adalah 6 RT. Untuk menentukan RT terpilih, dilakukan dengan panduan sebagai berikut :

1. Urutkan RT per RW per Kelurahan/Desa 2. Tentukan angka interval (AI)

Untuk menentukan Angka Interval (AI), perlu diketahui jumlah total RT dan jumlah yang akan diambil.

a. Jumlah total RT Kelurahan : x

b. Jumlah RT yang akan diambil : y

c. Maka Angka Interval (AI) = jumlah total RT kelurahan/jumlah RT yang diambil AI = x/y = z

d. Untuk menentukan RT pertama, dikocok atau ambil secara acak angka antara 1 – z (angka random), missal diperoleh 3

e. Untuk menentukan/memilih RT berikutnya adalah 3 + z Contoh : Kelurahan Kalibeber

a. Jumlah Total RT : 46

b. Jumlah RT yang akan diambil : 6

c. Angka Interval : 46/6 = 7,67 ( dibulatkan 8 )

d. Menentukan RT Pertama : Diacak nomor 1 – 8 (keluar no urut 5)

RT Pertama : RT yang berada di nomor urut 5

e. RT berikutnya : No urut 5 + 8 ( no urut 13) dst

Rumah tangga/responden dipilih dengan menggunakan cara acak (random sampling), hal ini bertujuan agar seluruh rumah tangga memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai sampel. Artinya, penentuan rumah itu bukan bersumber dari referensi enumerator/supervisor ataupun responden itu sendiri.tahapan penentuan responden sebagai berikut :

Contoh : Kelurahan Kalibeber

1. Membuat daftar rumah tangga dari RT yang terpilih (RT.2/2)

2. Jumlah total rumah tangga : 40

3. Jumlah sampel diambil (6) : 40/6 = 6,67 ( dibulatkan 7 ) 4. Menentukan urutan pertama : kocok 1 – 7 ( keluar no orut 5 ) 5. Urutan rumah tangga berikutnya : 5 + 7 = 12 dst.

(16)

PPSP – Study EHRAKab. Wonosobo 6

BAB II - 6

BAB. III

HASIL STUDI EHRA 2012KABUPATEN WONOSOBO

Pelaksanaan survey EHRA dilakukan dalam rangka untuk mengidentifikasi kondisi eksisting sarana sanitasi yang ada ditingkat masyarakat serta perilaku masyarakat terkait dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Indikator penentuan tingkat resiko kesehatan masyarakat didasarkan pada :

1. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga, 2. Pembuangan Air Limbah Domestik,

3. Drainase Lingkungan Sekitar Rumah dan Banjir, 4. Sumber Air,

5. Perilaku Higiene dan 6. Kasus Penyakit Diare

3.1. KARAKTERISTIK RESPONDEN

Responden dalam studi EHRA 2012 ini adalah warga masyarakat di desa survey yang telah ditentukan, dengan kriteria responden batasan umur 18 s/d 60 tahun dan status dalam rumah tangga (istri dan anak perempuan yang sudah menikah) tanpa memandang status sosial, pendidikan, pekerjaan dan lain lain.

Berdasarkan hasil studi EHRA yang telah dilaksanakan diperoleh data-data sebagai berikut seperti yang terlihat dalam grafik dibawah ini.

Tabel 3.1.

Informasi Kelompok Umur Responden

Kelompok Umur Responden

Kode Kelurahan/Desa Tot al 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 <= 20 tahun 0 0 0 3 0 0 1 1 0 0 4 0 2 1 1 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 14 21 - 25 tahun 1 3 1 2 3 2 5 3 3 4 1 1 3 1 1 1 1 3 3 0 2 3 2 0 2 51 26 - 30 tahun 3 4 3 4 3 5 2 5 1 6 5 2 2 6 5 1 4 4 3 1 5 6 3 8 8 99 31 - 35 tahun 4 3 3 2 5 8 4 5 6 4 4 7 5 5 2 7 2 4 6 3 10 3 2 8 6 118 36 - 40 tahun 3 8 7 4 5 4 5 7 7 2 5 2 6 10 3 4 6 6 3 8 3 1 5 4 8 126 41 - 45 tahun 4 6 7 5 3 4 5 3 1 2 2 7 5 2 5 5 5 7 7 4 5 6 4 6 8 118 > 45 tahun 18 9 12 13 14 10 11 9 15 15 12 14 10 8 16 15 14 7 11 17 8 14 17 7 1 297 Jumlah 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 823

Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer Studi EHRA Th 2012

Berdasarkan tabel diatas, maka dapat dibuat grafik mengenai umur responden seperti yang terlihat pada gambar grafik 3.1 dan grafik 3.2 dibawah ini

.

Grafik 3.1

Kelompok Umur Responden

Berdasarkan grafik diatas diketahui bahwa rata-rata umur responden yang digunakan dalam studi EHRA di Kabupaten Wonosobo Tahun 2012ini dibedakan menjadi 7 kelompokdengan kelompok umur responden terbanyak dari

(17)

PPSP – Study EHRAKab. Wonosobo 7

BAB II - 7

kelompok Umur lebih dari 45 tahun sebanyak 297 responden kemudian yang ke dua terbanyak dari kelompok umur 36-40 tahun. Dari hasil tersebut dengan kelompok umur lebih dari 45 tahun terbanyak menjadi responden membuktikan bahwa data yang diperlukan lebih akurat dalam penggalian informasinya karena pada umur tersebut sudah pada tingkat kematangan dalam hidupnya dan biasanya sudah berkeluargan dan rumah sendiri dan mendominasi ditiap-tiap kelurahan dan desa.

Grafik 3.2.

Prosentase responden berdasar kel. Umur

Prosentase kelompok umur responden usia 31-35 tahun yaitu 15 % ,sama dengan Usia 41-45 tahun 15 % dan usia > 45 tahun paling besar sebanyak 36 %. Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa responden didominasi oleh kelompok umur >45 hal ini terjadi karena untuk kelompok usia muda <=20 sampai dengan 30 tahun pada saat siang hari banyak yang aktifitas atau bekerja diluar rumah. Dan untuk usia responden yang mempunyai umur > 45 tahun 36 % sehingga responden yang mungkin kurang memahami terhadap pertanyaan enumerator tidak terlalu banyak.

Tabel 3.2.

Informasi Status Rumah Responden

B2. Apa status dari rumah yang

anda tempati saat ini? Kode Kelurahan/Desa Total 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Milik sendiri 32 28 29 32 33 28 30 26 33 30 25 31 28 33 31 31 30 28 27 23 32 27 33 22 32 734 Rumah dinas 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 2 Berbagi dengan keluarga lain 0 0 0 0 0 2 0 1 0 0 0 0 2 0 1 1 0 0 1 3 0 1 0 2 0 14 Sewa 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 3 Kontrak 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 3 1 1 0 1 0 7 Milik orang tua 1 3 4 1 0 3 3 6 0 3 8 1 2 0 0 1 3 4 5 1 0 4 0 7 0 60 Lainnya 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 4 Jumlah 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 824

Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer Studi EHRA Th 2012

Berdasarkan tabel diatas maka dapat dibuat grafik kepemilikan rumah Responden seperti pada grafik 3.3 dan grafik 3.4 dibawah

(18)

PPSP – Study EHRAKab. Wonosobo 8

BAB II - 8

Grafik 3.3 Satus Rumah Responden

Grafik 3.4

Kepemilikan rumah responden

Berdasarkan grafik diatas, kepemilikan rumah didominasi oleh milik sendiri yaitu 89 %. Keterkaitan status rumah dengan hasil survei adalah responden tinggal dilingkungan tersebut dalam waktu yang relatif lebih lama dibandingkan dengan yang tinggal bukan dirumah sendiri sehingga responden cukup memahami situasi dan kondisi serta perilaku masyarakat secara umum. Hasil wawancara dapat mencerminkan perilaku individu dan perilaku masyarakat.

Tabel 3.4.

Tingkat Pendidikan Responden

B3. Apa pendidikan terakhir anda? Kode Kelurahan/Desa Total 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Tidak sekolah formal 6 3 1 1 1 1 4 2 7 5 2 3 6 4 15 4 7 12 0 0 7 2 2 0 3 98 SD 21 22 29 24 22 24 26 19 16 21 25 15 18 25 15 19 13 17 19 7 13 13 27 12 19 481 SMP 4 6 2 7 7 3 2 9 8 6 3 7 5 4 2 6 3 3 6 3 6 8 4 6 11 131 SMA 2 1 1 0 2 5 1 2 0 0 3 5 3 0 1 1 3 0 7 11 6 7 0 10 0 71 SMK 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 3 0 1 0 1 0 9 Universitas/Aka demi 0 1 0 1 0 0 0 1 1 1 0 3 0 0 0 3 6 0 1 9 1 2 0 4 0 34 Jumlah 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 824

Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer Studi EHRA Th 2012

Berdasarkan tabel diatas dapat dibuat grafik tingkat pendidikan responden seperti yang terlihat pada garfaik 3.5 dan grafik 3.6 dibawah ini.

(19)

PPSP – Study EHRAKab. Wonosobo 9

BAB II - 9

Grafik 3.5

Tingkat Pendidikan Responden

Grafik 3.6 Tingkat Pendidikan Responden

Berdasarkan grafik diatas Tingkat pendidikan responden terbanyak adalah lulus SD (58 %), tidak sekolah formal (12 %), SMP (16 %) SMA (9%) SKM / Kejuruaan 1 % dan Universitas/Akademi (4%). Dari 12% responden yang tidak memiliki pendidikan formal paling banyak di desa Sikunang Kec. Kejajar. Responden yang memiliki pendidikan formal paling rendah (SD) terdapat di desa Wonosobo Barat Kecamatan Wonosobo. Sedangkan pendidikan responden yang mencapai Universitas/Akademi paling banyak di desa Wonosobo Barat juga. Hal mini membuktikan daaeran perkotaan memang tingkat kesadarn menempuh pendidikan masih paling tinggi. Keterkaitan antara tingkat pendidikan dengan hasil survey adalah makin tinggi pendidikanresponden, pemahaman terhadap kuisioner yang dibacakan lebih baik. Akan tetapi sebaliknya, banyaknya responden dengan pendidikan dasar / rendah, dapat menggambarkan perilaku minimal dari kondisi masyarakat..

Tabel 3.4.

Kepemilikan Anak Dari Responden

B6. Apakah ibu mempunyai anak? Kode Kelurahan/Desa Total 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Ya 31 32 32 27 28 32 30 31 30 29 30 32 32 31 30 33 31 29 31 29 33 33 31 31 29 767 Tidak 2 1 1 6 5 1 3 2 3 4 3 1 1 2 3 0 2 4 2 4 0 0 2 2 4 57 Total 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 824

(20)

PPSP – Study EHRAKab. Wonosobo 10

BAB II - 10

Berdasarkan tabel diatas, maka dapat dibuat grafik mengenai kepemilikan anak dari responden seperti yang terlihat pada gambar grafik 3.7 dan grafik 3.8dibawah ini.

Garafik 3.7 Kepemilikan anak

Grafik 3.8

Prosentase Kepemilikan Anak

Jumlah responden yang memiliki anak 767(93%), tidak memiliki anak 57 (7%). Keterkaitan antara jumlah anak dan hasil survey tidak terlalu besar. Tetapi lebih terkait dengan jumlah anggota keluarga. Makin banyak jumlah anggota keluarga maka hal hal yang berkaitan dengan kebutuhan hygiene sanitasi semakin besar, dan perilaku masing-masing anggota keluarga pun semakin beragam. Hal ini uga mempengaruhi perilaku warganya dalam hubunganya dengan kesehatan lingkungan dan keluarganya dan semakin banyak anggata kelauarga dalam suatu rumah berdampak pada sanitasi yang dibutuhkan.

Tabel 3.5.

Kepemilikan Kartu Askeskin

B5. Apakah ibu mempunyai Kartu Asuransi Kesehatan bagi Keluarga Miskin (ASKESKIN)?

Kode Kelurahan/Desa Total 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25

Ya 14 7 6 3 9 16 13 5 7 2 6 8 7 16 24 3 2 9 17 8 11 14 30 1 14 252 Tidak 19 26 27 30 24 17 20 28 26 31 27 25 26 17 9 30 31 23 16 25 22 19 3 32 19 572 Total 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 32 33 33 33 33 33 33 33 824

Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer Studi EHRA Th 2012

Berdasarkan tabel diatas dapat dibuat grafik kepemilikan kartu ASKESKIN oleh responden pada studi EHRA ini seperti pada grafik 3.11 dan grafik 3.12

93% 7%

1 2

(21)

PPSP – Study EHRAKab. Wonosobo 11

BAB II - 11

Grafik 3.9

Kepemilikan Kartu Askeskin

Dari Grafik 3.11. di atas dapat dilihat di desa Winongsari Kec. Kaliwiro adalah desa terbanyak kepemilikan ASKESKIN diikuti Desa Sikunang Kec. Kejajar sebagai yang terbanyak kedua kepemilkan ASKESKIN. Sedangkan Desa paling sedikit kepemilikan ASKESKIN ada di Desa Kertek Kec. Kertek, Desa Andongsili Kec. Mojotengah, Desa Ngalian dan Desa Lancar Kec. Wadaslintang, serta Desa Karangsambung Kec. Kalibawang.

Grafik 3.10

Prosentase Kepemilikan kartu ASKESKIN Menurut Klaster Desa

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa prosentase kepemilikan kartu ASKESKIN paling besar terdapat pada desa klaster 2 yaitu sebanyak 33.6 % sedangkan kepemilikan kartu ASKESKIN paling rendah berada di desa klaster 3 yaitu sebanyak 24.2 % Sedangkan Kluster 1 Sebanyak 27.5%.

3.2. PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA

Sampah merupakan masalah yang sangat memprihatinkan terutama sampah yang dihasilkan rumah tangga yang semakin hari semakin komplek permasalahannya dan tidak bisa ditangani dengan sistem persampahan yang ada. Maka untuk menangani limbah sampah rumah tangga terutama skala Kabupaten perlu adanya peran serta masyarakat. Pengelolaan sangat penting dilakukan ditingkat rumah tangga dengan pemilahan sampah dan pemanfaatan atau penggunaan ulang sampah, misalnya sampah dijadikan bahan baku kerajinan atau dijadikan kompos.

Permasalahan persampahan yang dipelajari dalam survey EHRA antara lain: 1. Kondisi sampah dilingkungan RT/RW

2. Praktek pengelolaan sampah rumah tangga 3. Praktek pemilahan sampah untuk didaur ulang 4. Pengangkutan sampah

(22)

PPSP – Study EHRAKab. Wonosobo 12

BAB II - 12

6. Biaya yang dikeluarkan dalam layanan sampah.

Sisi layanan pengangkutan juga dilihat dari aspek frekuensi atau kekerapan dan ketetapan waktu pengangkutan. Sebuah rumah tangga yang menerima pelayanan pengangkutan sampah, tetap memiliki resiko kesehatan tinggi bila frekuensi pengangkutan sampah terjadi lebih lama dari satu minggu sekali. Ketepatan pengangkutan sampah digunakan untuk menggambarkan seberapa konsisten ketetapan tentang frekuensi pengangkutan sampah yang berlaku.

Pertambahan penduduk dan perubahan pola konsumsi masyarakat menimbulkan bertambahnya volume, jenis, dan karakteristik sampah yang semakin beragam. Pengelolaan sampah selama ini belum sesuai dengan metode dan teknik pengelolaan sampahy yang berwawasan lingkungan sehingga menimbulkan dampak negative terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan.Sampah telah menjadi permasalahan nasional sehingga pengelolaanya perlu dilakukan secara komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir agar memberikan manfaat secara ekonomi, sehat bagi masyarakat, dan aman bagi lingkungan, serta dapat merubah perilaku masyarakat.

Larangan dalam pengelolaan sampah (1) :

1. Memasukkan sampah ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia 2. Mengimpor sampah

3. Mencampur sampah dengan limbah berbahaya dan beracun

4. Mengelola sampah yang menyebabkan pencemaran dan atau perusakan lingkungan. 5. Membuang sampah tidak pada tempat yang telah ditentukan dan disediakan.

6. Melakukan penanganan sampah dengan pembuangan terbuka di tempat pemrosesan akhir dan atau 7. Membakar sampah yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis pengelolaan sampah.

Studi EHRA diharapkan dapat memberikan gambaran yang riil tentang pengelolaan sampah rumah tangga masyarakat di masing-masing klaster termasuk masyarakat penerima layanan sampah dan non penerima layanan sampah.

Enumerator dalam kegiatan survey EHRA diwajibkan untuk mengamati wadah penyimpanan sampah di rumah tangga. Secara mendetail data yang diperoleh dari cara utama membuang sampah rumah tangga baik di desa maupun kelurahan di Kabupaten Wonosobo.

3.2.1. Kondisi Sampah di Lingkungan

Pengelolaan sampah dari hasil studi EHRA sebagai berikut : Tabel. 3.6

Pengelolaan sampah masyarakat hasil Studi EHRA

No Sampah Rumah Tangga Dikelola

Kluster Desa/Kelurahan Jumlah Total 1 2 3

n % n % n % N %

1 Dikumpulkan oleh kolektor informal yang mendaur ulang 0 0 1 0.2 0 0 1 0.1 2 Dikumpulkan dan dibuang ke TPS 40 11.0 56 13.1 2 6.1 98 11.9

3 Dibakar 50 13.8 41 9.6 0 0 91 11

4 Dibuang ke dalam lubang dan ditutup dengan tanah 3 0.8 7 1.6 0 0 10 1.2 5 Dibuang ke dalam lubang tetapi tidak ditutup dengan tanah 9 2.5 55 12.9 0 0 64 7.8 6 Dibuang ke sungai/kali/laut/danau 106 29.2 89 20.8 25 75.8 220 26.7

7 Dibiarkan saja sampai membusuk 1 0.3 0 0 0 0 1 0.1

8 Dibuang ke lahan kosong/kebun/hutan dan dibiarkan membusuk 139 38.3 170 39.7 6 18.2 315 38.2

9 Lain-lain 14 3.9 9 2.1 0 0 23 2.8

10 Tidak tahu 1 0.3 0 0 0 0 1 0.1

Jumlah 363 428 33 824

Sumber :Hasil Studi EHRA

Kegiatan pengelolaan sampah yang dilakukan oleh masyarakat di Kabupaten Wonosobo, sesuai dengan hasil studi EHRA masih banyak yang belum sehat dan berpotensi menimbulkan pencemaran dan menurunkan derajat kesehatan, hal ini terlihat dari table 3.1 sebagai berikut :

Dibakar : 11 %

Dibuang kedalam lubang tetapi tidak ditutup dengan tanah : 7.8 %

Dibuang ke sungai/kali/laut/danau : 26.7 %

Dibiarkan saja sampai membusuk : 0.1 %

(23)

PPSP – Study EHRAKab. Wonosobo 13

BAB II - 13

Grafik 3.11

Prosentase Kondisi Sampah di Lingkungan Menurut Desa

Dari grafik 3.13 dapat diketahui bahwa secara umum sampah yang ada di lingkungan masih banyak menimbulkan masalah karena masih ditemukan banyak sampah berserakan/bertumpuk dilingkungan sebanyak 22 % Banyak nyamuk 19% dan banyak lalat di sekitar tumpukan sampah sebanyak 7%. Sedangkan untuk yang lainya atau tidak teridentifikasikan masih banyak 18%. Hal ini masih menunjukan tingkat pemahaaman menyangkut kondisi lingkungan masih tidak mereka pedulikan.

Grafik 3.12

Prosentase kondisi sampah di lingkungan menurut klaster

Berdasarkan grafik 3.14 diperoleh data bahwa kondisi sampah pada klaster 0 didominasi oleh banyak sampah bererakan dan menumpuk di lingkugan sebanyak 34 % ,sedangkan kondisi sampah di lingkungan pada klaster 1 adalah sampah menimbulkan banyak nyamuk sebanyak 20%, pada klaster 2 sampah di lingkungan juga banyak sampah berserakan dan bertumpuk di sekitar lingkungan mencapai 25 % sedangkan pada klaster 3 sampah di dominasi oleh

(24)

PPSP – Study EHRAKab. Wonosobo 14

BAB II - 14

3.1.2. Pengelolaan sampah RT

Grafik 3.13

Pengelolaan sampah rumah tangga

Dari grafik 3.15 dikertahu bahwa secara umum pengelolaan sampah tidak memadai karena belum adanya pengelolaan sampah yang berbasis lingkungan. Prosentase terbesar pengelolaan sampah yang tidak memadai adalah dengan cara dibakar.

Grafik 3.14

Prosentase Pengelolaan Sampah RT

Dari Grafik 3.16 dapat disimpulkan bahwa pengelolaan sampah di Kabupaten Wonosobo masih didominasi dengan dibuang ke lahan kosong oleh masyarakat sebanyak 38% , sedangkan yang dikumpulkan dan dibawa ke TPS mencapai 12 %, adapun yang melakukan daur ulang baru mencapai 8 % dari hal tersebut masih banyak yang membung kesungai

(25)

PPSP – Study EHRAKab. Wonosobo 15

BAB II - 15

sebanyak 27 % diurutan ke dua. Hal ini disebabkan karena banyak aliran sungai di Kabupaten Wonosobo dan di permudah dengan kontur tanah yang banyak kemiringan dan air yang mengalir deras di setiap permukaan sungai.

Grafik 3.15

Prosentase Pengelolaan Sampah Menurut Klaster

Dari grafik 3.17 dapat diketahui bahwa pengelolaan sampah pada klaster 2sudah banyak upaya mendaur ulang dan ditutup dengan tanah sebanyak 12.9%, pada klaster 1 pengelolaan sampah didominasi dengan banyak ,membiartkan sampai mrebusuk 59% dan responden banyak yangtidak tahu kemana sampah dibuang, pada klaster 2 pengelolaan sampah didominasi dengan dikumpulkan dan dibuang ke TPS sebanyak 36 %. Pada klaster 3 didominasi dengan mengumpulkan dan dibuang ke ke sungai75.8 %. Karena kluster 3 banyak yang berada dipinggiran aliran sungai

Grafik 3.16

Tempat pengumpulan sampah RT

Dari grafik 3.18 dapat diketahui bahwa tempat pengumpulan sampah di rumah tangga didominasi oleh keranjang sampah terbuka sebanyak 58%, dan masih ada 22 % rumah tangga yang tidak memiliki tempat sampah.

3.1.3 Frekuensi Pengangkutan Sampah Rumah Tangga

Grafik 3.17

(26)

PPSP – Study EHRAKab. Wonosobo 16

BAB II - 16

Dari garafik 3.19 dapat diketahui bahwa pengangkutan sampah didominasi dilakukan tiap hari sebesar 100%, beberapa kali seminggu 44 % . Masih ada pengangkutan sampah yang dilakukan sebulan sekali sebesar 4 % hal ini dimungkinkan sampah akan mengganggu lingkungan, kebersihan lingkungan tidak hanya dipengaruhi oleh layanan sampah namun juga dipengaruhi oleh waktu pengangkutan sampah. Semakin lama pengankutan sampah maka akan memiliki resiko yang lebih tinggi terhadap kesehatan lingkungan .

Grafik 3.18

Prosentase Ketepatan Pengangkutan Sampah Menurut Klaster

Dari grafik diatas diketahui bahwa rata-rata pengangkutan sampah di setiap klaster 1 mencapai 38% sdidikuti kluster 2 (36%) dan Klaster 3(26%).

Tabel 3.7

Apakah Petugas Pengangkutan Sampah Dibayar

C6. Apakah layanan pengangkutan sampah oleh petugas sampah dibayar?

Ya 0 1 0 1 100.0

Tidak 0 0 0

Sumber: Pengolahan Data Primer Studi EHRA Th 2012

Dari Tabel diatas dapat dibuat grafik mengeani Pembayaran petugas pengangkut sampah seperti pada tabel dibawah

Grafik 3.19

Prosentase Pengangkutan Sampah Yang Dibayar (C6)

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa pembayaran petugas pengangkut sampah dilakukan pada setiap klaster desa .Pembayaran pengangkutan sampah dilakukan sebanyak 100% pada klaster 3 dan petugas pengangkut sampah yang tidak dibayar terbanyak pada klaster 1 yaitu 11 %

Klaster 1 38% Klaster 2 36% Klaster 3 26% 0 0 0 1 1 1 1 1 2 3 Tidak Ya

(27)

PPSP – Study EHRAKab. Wonosobo 17

BAB II - 17

Grafik 3.20

Prosentase petugas pemungut uang sampah tiap klaster

Dari garfik 3.21 dapat diketahui bahwa prosentase pemungut uang sampah dari masing-masing klaster didominasi dilakukan oleh pemungut uang sampah dari RT . masing-masing klaster 1 ( 77%), klaster 2 ( 66%) dan klaster 3( 96%)

Grafik 3.21

Kepada Siapa Membayar Pengangkutan Sampah

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa pembayaran pengangkutan petugas sampah dilakukan kepada pemungut uang sampah dari RT sebesar 0% ,pemungut uang sampah dari peruhaan swasta/KSM sebesar 0% ,pemungut uang sampah dari kelurahan 0 % serta yang menyatakan tidak tahu100%.

Tabel 3.8

Biaya Pengangkutan Sampah

C8. Berapa biaya yang dikeluarkan dalam sebulan untuk membayar layanan sampah? 1000 7 0 0 7 8.6 1500 0 6 0 6 7.4 2000 3 0 0 3 3.7 3000 23 10 0 33 40.7 4000 1 12 0 13 16.0 5000 2 3 2 7 8.6 8000 0 4 0 4 4.9 9000 0 7 0 7 8.6 10000 1 0 0 1 1.2

Sumber: Pengolahan Data Primer Studi EHRA Th 2012

Dari tabel diatas dapat dibuat grafik mengenai besaran biaya yang dikeluarkan untuk layanan sampah dimasyarakat menurut klaster desa sebagai berikut.

0 20 40 60 80 100 120 100,0 Ya Tidak Ya

(28)

PPSP – Study EHRAKab. Wonosobo 18

BAB II - 18

Grafik 3.22

Biaya Pengangkutan Sampah

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa pada klaster 1 jumlah uang yang dikeluarkan untuk layanan sampah didominasi antara Rp. 1.000,- s/d Rp 2.000,- dan Rp.10.000,- sebanyak 11 responden, pada klaster 2 besarnya uang yang dikeluarkan untuk layanan sampah didominasi > Rp.1.500,- , Rp8.000,- dan Rp. 10.000,-sebanyak 39 responden dan pada klaster 3 besaran uang sampah yang dikeluarkan untuk layanan sampah didominasi Rp 5.000,-sebanyak 2 responden saja.

3.3. PEMBUANGAN AIRKOTOR/LIMBAH TINJA MANUSIA DAN LUMPUR TINJA

3.3.1 Jumlah Keluarga Yang Memiliki Jamban

Praktek BAB (Buang Air Besar) di tempat yang kurang memadai atau perilaku BABS (Buang Air Besar Sembarangan) seperti di sungai, selokan, kolam, kebun, semak, sawah, pantai, rawa dll merupakan salah satu faktor meningkatnya risiko status kesehatan masyarakat.

Bangunan jamban secara umum dapat dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu (2) : a. Bangunan bagian atas (rumah jamban)

Bagian ini secara utuh terdiri dari bagian atap, rangka dan dinding . Namun dalam prakteknya kelengkapan bangunan ini disesuaikan dengan kemampuan masyarakat.

1) Atap memberikan perlindungan kepada penggunanya dari sinar matahari, angin dan hujan, dapat dibuat dari daun, genting, seng, dll

2) Rangka digunakan untuk menopang atap dan dinding, dibuat dari bamboo, kayu, dll

3) Dinding adalah bagian dari rumah jamban. Dinding memberikan privasi dan perlindungan kepada penggunanya, dapat dibuat dari daun, gedek/anyaman bamboo, batu bata, seng, kayu, dll.

b. Bangunan bagian tengah (slab/dudukan jamban)

Slab menutupi sumur tinja (pit) dan dilengkapi dengan tempat berpijak. Slab dibuat dari bahan yang cukup kuat untuk menopang penggunaannya. Bahan-bahan yang digunakan harus tahan lama dan mudah dibersihkan seperti kayu, beton, bamboo dengan tanah liat, pasangan batu-bata, dll.

c. Bangunan bagian bawah (penampung tinja)

Penampung tinja adalah lubang dibawah tanah, dapat berbentuk persegi, lingkaran/bundar, persegi panjang, sesuai dengan kondisi tanah. Kedalaman bergantung pada kondisi tanah dan permukaan air tanah di musim hujan. Pada tanah yang kurang stabil, penampung tinja harus dilapisi seluruhnya atau sebagian dengan bahan penguat seperti anyaman bamboo, batu bata, ring beton dll.

Masyarakat menggunakan berbagai jenis jamban untuk melakukan buang air besar, baik jamban yang masuk kategori sehat maupun yang masuk kategori tidak sehat, dalam berbagai kasus masyarakat merasa sudah menggunakan jamban sehat tetapi sebenarnya belum sehat/tidak sehat.

Jamban sehat adalah fasilitas pembuangan tinja yang efektif untuk memutus mata rantai penularan penyakit (3). Kondisi jamban sehat dapat dijabarkan sebagai berikut (2) :

a. Mencegah kontaminasi ke badan air b. Mencegah kontak antara manusia dan tinja

c. Membuat tinja tersebut tidak dapat dihinggapi serangga, serta binatang lainnya d. Mencegah bau yang tidak sedap

(29)

PPSP – Study EHRAKab. Wonosobo 19

BAB II - 19

e. Konstruksi dudukannya dibuat dengan baik, aman dan mudah dibersihkan.

Berbagai jenis jamban yang sering digunakan masyarakat untuk melakukan BAB (Buang Air Besar Sembarangan) sesuai dengan hasil Studi EHRA adalah sebagai berikut :

Tabel 3.9

Tempat Buang Air Besar (BAB) Orang Dewasa

D. 1 Dimana anggota keluarga yang sudah dewasa bila ingin buang air besar?. Kode Kelurahan/Desa Total 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 A. Jamban pribadi 15 22 27 18 18 26 16 17 19 21 26 25 17 31 11 31 23 9 26 32 29 22 21 24 33 559 B. MCK/WC Umum 6 1 6 0 0 6 32 14 15 1 1 8 15 0 22 0 4 4 0 2 0 6 0 9 1 153 C. Ke WC helikopter 15 7 0 16 21 0 0 0 9 11 0 0 10 1 0 0 4 10 0 0 0 1 9 0 0 114 D. Ke sungai/pantai/laut 7 6 0 0 0 0 0 1 0 0 4 0 1 0 0 1 0 2 0 0 2 0 10 0 0 34 E. Ke kebun/pekarangan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 F. Ke selokan/parit/got 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 4 G. Ke lubang galian 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 4 H. Lainnya, 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 3 0 1 2 0 0 1 7 7 0 1 4 0 0 0 27 I. Tidak tahu 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 26 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 28 Jumlah 46 36 33 34 39 33 48 32 43 33 34 33 45 34 59 33 33 34 33 34 32 33 42 33 34 923

Sumber: Pengolahan Data Primer Studi EHRA Th 2012

Berdasarkan tabel diatas, maka dapat dibuat grafik mengenai tempat buang air besar (BAB) bagi orang dewasa seperti yang terlihat pada gambar grafik dibawah ini.

Grafik 3.23

Tempat BAB Orang Dewasa

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa tempat buang air besar orang dewasa didominasi pada jamban pribadi terbesar di desa Kuripan Kec. Garung dan ke sungai paling besar di desa Winongsari Kec. Kaliwiro yang dekat dengan Bendungan wadaslintang.

(30)

PPSP – Study EHRAKab. Wonosobo 20

BAB II - 20

Grafik 3.25

Tempat BAB Orang Dewasa Menurut Klaster

Hasil survey menunjukan bahwa tempat buang air besar oranag dewasa pada masing-masing kelompok klaster didominasi di jamban pribadi masing-masing pada klaster 3 sebesar 75.8%, klaster 2 sebesar 57.5% , klaster 1 sebesar 52.1% .

Grafik 3.25

Prosentase Tempat BAB Orang Dewasa

Dari hasil survei diketahui secara keseluruhan tempat buang air besar orang dewasa berada di jamban pribadi sebanyak 61%, ke sungai 4 %, WC helicopter 12% ke lubang galian 2 %, ke MCK umum sebanyak 17 %, dan masih ada yang numpang sebanyak 3 %.

(31)

PPSP – Study EHRAKab. Wonosobo 21

BAB II - 21

Tabel 3.9

Orang di Lingkungan Responden yang Masih BABS

D. 2 Apakah masih ada orang di luar anggoata keluarga yang sering BAB di tempat terbuka?.

Kode Kelurahan/Desa Total 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 A. Anak laki-laki umur 5-12 tahun 1 12 0 0 12 0 0 0 4 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 2 0 0 0 33 B. Anak perempuan umur 5-12 tahun 0 15 0 1 0 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 21 C. Remaja laki-laki 2 12 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 1 0 1 1 0 2 21 D. Remaja Perempuan 1 12 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 2 1 0 0 19 E. Laik-laki dewasa 2 18 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 4 16 0 2 47 F. Perempuan dewasa 2 17 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0 1 0 6 14 0 0 44 G. Laki-laki tua 0 18 0 0 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 1 4 0 0 32 H. Perempuan tua 1 18 0 2 5 0 0 2 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 5 0 0 36 I. Masih ada

tapi tidak jelas

siapa 0 9 0 17 6 0 0 2 3 0 0 0 11 0 5 0 3 0 0 1 0 1 1 0 28 87 J. Lainnya, 0 2 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 5 K. Tidak ada 15 10 33 11 5 32 31 31 25 32 32 33 21 32 28 31 29 31 0 29 28 25 12 30 4 590

Total 24 143 33 34 35 32 31 37 37 32 32 33 32 32 35 37 33 34 0 37 30 42 54 30 36 935 Sumber: Pengolahan Data Primer Studi EHRA Th 2012

Berdasarkan tabel diatas, maka dapat dibuat grafik mengenai orang yang masih biasa buang air besar sembarangan (BABS) seperti pada gambar grafik dibawah ini.

Grafik 3.26

Grafik Orang yang masih BABS Menurut Desa

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa perilaku BABS paling banyak dilakukan oleh perempuan dewasa, Laki-laki dewasa,perempuan tua dan anak Laki-laki-Laki-laki umur 5-12 tahun dan tidak helas siapa pelkaunya paling besar setelah tidak yang melakukan. Perilaku buang air besar sembarangan paling banyak terdapat di desa Kalibeber Kec. Mojotengah.

(32)

PPSP – Study EHRAKab. Wonosobo 22

BAB II - 22

Grafik 3.27

Grafik Prosentase Orang Yang Masih BABS Menurut Klaster Desa

Dari grafik diatas perilaku Buang besar sembarangan pada klaster 2 didominasi pada anak perempuan umur 5-12 tahun (20%), pada klaster 1 didominasi oleh masih ada tapi tidak jelas siapa pelakunya (68%) pada klaster 3 menyatakan tidak ada sebanyak 33%

Grafik 3.28

Grafik Prosentase Orang Yang Masih BABS

Dari grafik ini menunjukan bahwasanya banyak yang menyatkan tidak ada yang BABS lagi ini dimungkinkan mereka malu untuk mengakui masih BABS atau dikarenakan sarananya banyak yang sudah amemeilki akan tetapi masih kurang saniter

Jamban dalam Studi EHRA diklasifikasikan menjadi 4 (empat) kategori yaitu: 1) kloset jongkok leher angsa, 2) kloset duduk leher angsa, 3) Plengsengan, 4) cemplung . Jenis jamban tersebut akan dispesifikasikan dengan melihat

(33)

PPSP – Study EHRAKab. Wonosobo 23

BAB II - 23

tempat penyaluran tinja yang mencakup: tangki septic, pipa sewer, cubluk/lubang tanah, langsung ke saluran drainase, sungai/danau/pantai/laut, kolam/sawah, kebun/tanah lapang, dll

Tabel 3.10 .

Jenis Kloset Yang Dipakai untuk Buang Air Besar (BAB)

D3. Jenis kloset apa yang anda pakai di rumah?

Kode Kelurahan/Desa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Kloset jongkok leher angsa 13 21 27 16 18 21 5 17 15 20 17 10 8 24 11 27 17 4 8 28 24 16 18 18 19 Kloset duduk siram leher angsa 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0 0 1 0 0 1 0 0 0 2 0 Plengsengan 2 1 0 3 0 5 10 1 5 0 8 4 5 0 8 4 3 4 15 2 5 7 1 6 13 Cemplung 1 1 6 0 0 1 1 0 0 1 1 10 4 5 8 1 6 0 3 1 0 0 1 0 0 Tidak punya kloset 17 10 0 14 15 6 17 15 13 12 6 8 16 3 6 1 6 24 7 1 4 10 13 7 1 Jumlah 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 32 33 33 33 33 33 33 33

Sumber: Pengolahan Data Primer Studi EHRA Th 2012

Berdasarkan tabel diatas, maka dapat dibuat grafik mengenai jenis kloset yang dipakai untuk kegiatan buang air besar (BAB) seperti pada gambar grafik dibawah ini

Grafik 3.29

Grafik Jenis Kloset Yang Digunakan Untuk BAB Menurut Desa

Hasil survei menunjukan bahwa jenis kloset yang digunakan oleh responden didominasi oleh kloset jongkok leher angsa paling banyak di Desa Wonosobo Barat Kecamatan Wonosobo.

Grafik 3.30

Grafik Prosentase Jenis Kloset Yang Digunakan Untuk BAB Menurut Klaster

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa penggunakan kloset jongkok leher angsa paling banyak digunakan pada setiap klaster desa prosentase paling tinggi penggunaan kloset jongkok leher angsa terdapat pada klaster 2 ( 54.9%). Disusul dengan kloset duduk leher angsa pada klaster 1 sebanyak 48.8%. dan kluster 3 sebanyak 30.3%.

(34)

PPSP – Study EHRAKab. Wonosobo 24

BAB II - 24

Sebagian besar masyarakat sudah menggunakan kloset yang dilengkapi dengan water seal (kloset jongkok/duduk leher angsa) yang merupakan salah satu kriteria jamban sehat, karena sudah memenuhi beberapa kondisi jamban sehat, namun demikian hal ini belum cukup tanpa dilengkapi dengan bangunan penampung tinja yang sehat juga.

Grafik 3.31

Grafik Prosentase Jenis Kloset Yang Digunakan Untuk BAB

Hasil survei menunjukan bahwa secara keseluruhan jenis kloset yang digunakan didominasi oleh kloset jongkok leher angsa sebanyak 51% , kloset duduk leher angsa 1%, Cemplung 6%, dan plengsengan 14 %. Responden yang tidak memiliki kloset sebanyak 28 %.

3.3.2. Saluran Akhir Pembuangan Isi Tinja

Saluran akhir pembuangan isi tinja memiliki peranan yang sangat penting dalam bangunan jamban. Bangunan jamban dikatakan jamban sehat jika memenuhi kriteria/kondisi jamban sehat untuk keseluruhan bangunan jamban yang terdiri dari rumah jamban, slab/dudukan jamban dan penampung tinja.

Beberapa keluarga sudah merasa menggunakan jamban sehat dengan kondisi jamban sebagai berikut :

a. Rumah jamban : permanen di dalam rumah

b. Slab/dudukan jamban : kloset leher angsa (jongkok/duduk) c. Penampung tinja : dialirkan ke kolam, selokan/sungai

Kondisi diatas belum termasuk kondisi jamban sehat karena tinja masih berpotensi mencemari badan air, tinja dapat di hinggapi serangga dan binatang lain, menimbulkan bau yang tidak sedap dan masih berpotensi tinja kontak dengan manusia

.

Tabel 3.12.

Pembuangan limbah tinja manusia

D4. Kemana tempat penyaluran buangan akhir tinja? Kode Kelurahan/Desa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Tangki septik 0 0 0 0 0 0 0 0 6 0 0 0 0 0 0 0 11 0 0 2 4 3 0 0 2 Pipa sewer 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 1 Cubluk/lobang tanah 6 15 10 7 12 23 1 6 2 16 24 0 0 25 16 32 2 2 0 15 24 4 11 0 15 Langsung ke drainase 1 0 13 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 1 7 0 5 0 0 0 0 1 1 1 8 Sungai/danau/pa ntai 8 10 1 0 9 0 5 6 0 0 8 1 5 1 8 1 4 2 0 13 2 9 3 11 6 Kolam/sawah 18 8 3 26 12 3 27 20 24 14 1 31 28 6 0 0 9 28 29 0 0 11 18 20 1 Tidak tahu 0 0 6 0 0 5 0 1 0 2 0 0 0 0 2 0 2 0 4 3 3 3 0 1 0 Lainnya 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 jumlah 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 50 52 53 54 55 56 57 58

(35)

PPSP – Study EHRAKab. Wonosobo 25

BAB II - 25

Berdasarkan tabel diatas, maka dapat dibuat grafik mengenai penyaluran buangan akhir tinja dalam cluster, seperti yang terlihat pada gambar grafik dibawah ini.

Grafik. 3.32

Tempat Buangan Akhir Tinja Menurut Desa

Berdasarkan hasil survey menunjukkan bahwa pembuangan akhir isi tinja responden didominasi menggunakan cubluk Kolam dan sawah. Penggunaan kolam atau sawah terbesar di terdapat di desa Kalibeber Kec. Mojotengah, sedangkan penggunaan cubluk terbesar terdapat di desa Ngalian Kec. Wadaslintang. Namun masih ditemukan responden yang membuang isi tinja di drainase, sungai, dan kebun, prosentase terbesar pembuangan akir tinja ke sungai paling besar di desa Kertek Kec.Kertek.

Grafik 3.33

Tempat Buangan Akhir Tinja Menurut Klaster

Hasil survei menunjukkan bahwa menurut wilayah cluster diketahui bahwa mayoritas responden sudah menggunakan tangki septik untuk buangan akhir tinja masing-masing klaster 3 ( 83%), klaster 2 (74%), Klaster 1 (73%) dan Klaster 0 (66%).Namun masih ditemukan tempat pembuangan akhir tinja ke sungai paling banyak pada klaster 3 (15%) dan klaster 1 (15%). Pembuangan akhir tinja ke cubluk didominasi pada klaster 0 sebesar 23 %.

(36)

PPSP – Study EHRAKab. Wonosobo 26

BAB II - 26

Grafik 3.34

Prosentase Tempat Buangan Akhir Tinja

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa secara keseluruhan pembuanagan akhir tinja dari responden secara berurutan dibuang ke tangki septik ( 71%), Ke cubluk (12 %) ,ke sungai (11 %), pipa sewer (1%).

Masyarakat masih menyalurkan tinja secara tidak sehat, hal ini terlihat pada tabel 3.4 dimana masyarakat masih menyalurkan tinjanya terbanyak ke kolam/sawah yaitu 40,9 % ,. Saluran drainase ; 5% di dalamnya kemungkinan termasuk yang menggunakan kloset leher angsa di rumah dan akses ke tangki septic masih sangat rendah hanya 3,4 %. Kondisi demikian masih berpotensi sangat besar untuk menurunkan kualitas lingkungan yang pada akhirnya berpotensi menurunkan kondisi kesehatan masyarakat.

3.3.3. Kualitas Tangki Septic Yang Dimiliki

Tabel 3.13.

Lama tangki Septik Dibangun

D5. Sudah berapa lama tangki septik ini dibuat/dibangun? Kode Kelurahan/Desa Jumlah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Jml 0-12 bulan yang lalu 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 2 0 0 0 3 1-5 tahun yang lalu 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 1 0 0 0 1 51 Lebih dari 5-10

tahun yang lalu 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 2 1 0 0 1 401 Lebih dari 10

tahun 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 2 0 0 0 0 0 370 Tidak tahu 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 3

Jumlah 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 825 Sumber: Pengolahan Data Primer Studi EHRA Th 2012

Berdasarkan tabel diatas, maka dapat dibuat grafik mengenai sudah berapalama tangki septik dibangun, seperti pada gambar grafik dibawah ini

Grafik 3.35

Gambar

Grafik 3.3  Satus Rumah Responden
Grafik 3.6  Tingkat Pendidikan Responden
Grafik  Prosentase Orang Yang Masih BABS Menurut Klaster Desa
Grafik Jenis Kloset Yang Digunakan Untuk BAB Menurut Desa
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka penulis mengambil kesimpulan dari hasil perhitungan uji F bahwa secara simultan, variabel sistem penghargaan (X) memberi

Untuk Indikator Indeks Kepuasan Masyarakat realisasi pada tahun 2013 sebesar 78,68% dari target sebesar 78,00%, telah mencapai target, Indeks Kepuasan Masyarakat

a) Melayani kebutuhan perdagangan internasional dari daerah dimanapun pelabuhan tersebut berada. b) Membantu agar berjalannya roda perdagangan dan pengembangan

KINERJA DENGAN MENGGUNAKAN METODE PERFORMANCE PRISM (STUDI KASUS : BATIK AGUNG WIBOWO) Tugas Akhir.. Surakarta : Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik, Universitas

Jember, 28 Agustus 2015 Direktur Pascasarjana IAIN

- Bahwa hasil dari pemungutan suara tersebut adalah tidak ada pemegang saham atau kuasa pemegang saham yang menyatakan suara tidak setuju dan/atau abstain atas usulan

Berdasarkan penyajian data hasil penelitian yang penulis lakukan dengan teori yang ada di BAB II maka penulis simpulkan bahwa mahasiswa memiliki