BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Ergonomi
2.1.1 Pengertian dan Tujuan Ergonomi
Menurut Nurmianto(2003,hal 2), istilah ergonomi ini berasal dari bahasa latin yaitu Ergon (kerja) dan Nomos (peraturan, hukum alam). Ergonomi adalah suatu studi mengenai aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerja yang ditinjau dari fisiologi, anatomi, psikologi, manajemen dan perancangan. Ergonomi berhubungan pula dengan optimasi, efisiensi, kesehatan, keselamatan dan kenyamanan manusia ditempat kerja,di rumah dan tempat rekreasi. Didalam ergonomi dibutuhkan studi tentang sistem dimana manusia, fasilitas kerja dan lingkungan saling berinteraksi.
Ergonomi memberikan peranan penting dalam meningkatkan faktor keselamatan dan kesehatan kerja. Misalnya, rancangan suatu sistem kerja untuk mengurangi rasa nyeri dan ngilu pada sistem kerangka dan otot manusia. Hal ini untuk mengurangi ketidaknyamanan visual dan postur kerja,rancangan suatu perkakas kerja untuk mengurangi kelelahan kerja dan sistem pengendali agar didapat optimasi dalam proses transfer informasi dengan dihasilkannya suatu respon yang cepat dalam meminimumkan resiko kelelahan (Nurmianto, 2003, hal 2).
2.1.2 Tujuan Ergonomi
Tujuan utama dari ergonomi adalah mempelajari batasan-batasan pada tubuh manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan kerjanya baik secara jasmani maupun psikologis. Selain itu juga untuk mengurangi datangnya kelelahan yang terlalu cepat dan menghasilkan suatu produk yang nyaman, enak dipakai oleh pemakainya. Menurut Tarwaka (2004,hal 7) secara umum tujuan dari penerapan ergonomi adalah:
a. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental, mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.
b. Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak sosial, mengeloa dan mengkoordinir kerja secara tepat guna dan meningkatkan jaminan sosial baik selama kurun waktu usia produktif maupun setelah produktif.
c. Menciptakan keseimbangan rasional antara berbagai aspek teknis, ekonomis, dan budaya dari setiap sistem kerja yang dilakukan sehingga tercipta kualitas kerja dan kualitas hidup yang tinggi.
2.1.3 Aspek-aspek Ergonomi
Peranan manusia dalam hal ini akan didasarkan pada kemampuan dan keterbatasan yang berkaitan dengan aspek pengamatan fisik maupun psikis. Demikian juga peranan atau fungsi mesin/peralatan yang menunjang operator dalam melakukan tugas yang ditentukan. Mesin/peralatan kerja berfungsi menambah kemampuan manusia, tidak menimbulkan stress tambahan akibat beban kerja dan membantu melaksanakan kerja-kerja tertentu yang dibutuhkan tetapi berada diatas kapasitas atau kemampuan yang dimiliki manusia (Wignjosoebroto ,2003,hal 75).
1. Sikap dan posisi kerja meliputi :
a. Mengurangi keharusan operator untuk bekerja dengan sikap dan posisi membungkuk dengan frekuensi kegiatan yang sering atau jangka waktu lama.
b. Operator tidak seharusnya menggunakan jarak jangkauan maksimum yang bisa dilakukan.
c. Operator tidak seharusnya duduk atau berdiri pada saat bekerja untuk waktu yang lama dengan kepala, leher, dada atau kaki berada dalam sikap atau posisi miring.
d. Operator tidak seharusnya dipaksa bekerja dalam frekuensi atau periode waktu yang lama dengan tangan atau lengan berada dalam posisi diatas level siku yang normal.
2. Anthropometri dan dimensi ruang kerja
Data anthropometri sangat berpengaruh bagi perancangan peralatan maupun fasilitas dalam sistem kerja. Anthropometri pada dasarnya menyangkut ukuran fisik atau fungsi dari tubuh manusia saja tetapi juga dapat memiliki karakteristik lain seperti berat, umur, suku bangsa dan lain-lain.
3. Energi yang dikonsumsikan
Aspek ini sering sekali kurang diperhatikan oeh perancangan sebuah sistem kerja. Semakin besar energi yang dikeluarkan maka akan semakin cepat operator merasa lelah. Pada umumnya jenis kelelahan yang mengganggu adalah kelelahan mental. Hal ini dapat membuat operator merasa tidak nyaman pada lingkungan kerjanya dan tidak mampu lagi berfikir jernih.
4. Efisiensi ekonomi gerakan dan pengaturan fasilitas kerja
Perancangan sebuah fasilitas kerja harus diatur sedemikian rupa agar operator yang bekerja merasa enak dalam melakukan pekerjaannya. Maksud dari pengaturan dan perancangan fasilitas kerja ini adalah untuk jangka waktu yang cukup lama, maka sebelum operator mulai beradaptasi pada lingkungan kerja yang efisien tersebut haruslah diberi pelatihan dan keterampilan tertentu agar pekerjaan yang dilakukan benar-benar efisien.
5. Energi kerja yang dikonsumsikan
Aplikasi prinsip ergonomi dan ekonomi gerakan dalam tahap perancangan dan pengembangan sistem kerja secara umum akan dapat meminimalkan energi yang harus dikonsumsikan dan meningkatkan efisiensi output kerja itu sendiri. Dengan pendekatan yang ergonomis maka diharapkan bisa menghasilkan rancangan yang “fit to the user” dan bukan sebaliknya. 2.1.4 Dasar Keilmuan dan Ergonomi
Menurut Nurmianto (2003, hal 5), banyak penerapan ergonomi yang hanya berdasarkan sekedar common sense (dianggap suatu hal yang sudah biasa terjadi) dan hal itu benar, jika sekiranya suatu keuntungan yang besar bisa didapat hanya sekedar dengan penerapan suatu prinsip yang sederhana. Hal ini biasanya merupakan kasus dimana ergonomi belum dapat diterima sepenuhnya sebagai alat untuk proses design, akan tetapi masih banyak aspek ergonomi yang jauh dari kesadaran manusia. Karakteristik fungsional dari manusia seperti kemampuan penginderaan, waktu tanggapan, daya ingat, posisi optimum tangan dan kaki untuk efisiensi kerja otot dan lain-lain adalah merupakan suatu hal yang belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat awam.
2.1.5 Postur kerja
Pertimbangan-pertimbangan ergonomi yang berkaitan dengan postur kerja dapat membantu mendapatkan postur kerja yang nyaman bagi pekerja, baik itu postur kerja berdiri, duduk, angkat maupun angkut. Beberapa jenis pekerjaan akan memerlukan postur kerja tertentu yang terkadang tidak menyenangkan. Kondisi kerja seperti ini memaksa pekerja selalu berada pada postur kerja yang tidak alami dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Hal ini akan mengakibatkan pekerja cepat lelah, adanya keluhan sakit pada bagian tubuh, cacat produk bahkan cacat tubuh. Untuk menghindari postur kerja yang demikian, pertimbangan-pertimbangan ergonomis antara lain menyarankan hal-hal sebagai berikut (Sutalaksana 2003) :
a. Mengurangi keharusan pekerja untuk bekerja dengan postur kerja membungkuk dengan frekuensi kegiatan yang sering atau dalam jangka waktu yang lama. Untuk mengatasi hal ini maka stasiun kerja harus dirancang terutama sekali dengan memperhatikan fasilitas kerja seperti meja, kursi dan lain-lain yang sesuai dengan data anthropometri agar pekerja dapat menjaga postur kerjanya tetap tegak dan normal. Ketentuan ini terutama sekali ditekankan bilamana pekerjaan harus dilaksanakan dengan postur berdiri.
b. Pekerja tidak seharusnya menggunakan jarak jangkauan maksimum. Pengaturan postur kerja dalam hal ini dilakukan dalam jarak jangkauan normal (konsep/prinsip ekonomi gerakan). Disamping itu pengaturan ini bisa memberikan postur kerja yang nyaman. Untuk hal-hal tertentu pekerja harus mampu dan cukup leluasa mengatur tubuhnya agar memperoleh postur kerja yang lebih leluasa dalam bergerak.
c. Pekerja tidak seharusnya duduk atau berdiri pada saat bekerja untuk waktu yang lama, dengan kepala, leher, dada atau kaki berada dalam postur kerja miring.
d. Operator tidak seharusnya dipaksa bekerja dalam frekwensi atau periode waktu yang lama dengan tangan atau lengan berada dalam posisi diatas level siku yang normal.
Postur duduk memerlukan lebih sedikit energi dari pada berdiri, karena hal ini dapat mengurangi banyaknya beban otot statis pada kaki. Seorang operator yang bekerja dalam postur duduk memerlukan sedikit istirahat dan secara potensial lebih produktif. Sedangkan postur berdiri merupakan sikap siaga baik fisik maupun mental, sehingga aktifitas kerja yang dilakukan lebih cepat, kuat dan teliti. Berdiri lebih melelahkan daripada duduk dan energi yang dikeluarkan lebih banyak 10-15% dibandingkan duduk (Wingjosoebroto,Sritomo,1995,hal 55). Beberapa masalah berkenaan dengan postur kerja yang sering terjadi sebagai berikut :
1. Hindari kepala dan leher yang mendongak 2. Hindari tungkai yang menaik
3. Hindari tungkai kaki pada posisi terangkat 4. Hindari postur memutar atau asimetris
5. Sediakan sandaran bangku yang cukup di setiap bangku
Kerja seseorang dihasilkan dari tugas pekerjaan, rancangan tempat kerja dan karakteristik individu seperti ukuran dan bentuk tubuh. Pertimbangan untuk semua komponen dibutuhkan analisis postur dan perancangan tempat kerja. 2.1.6 Kerja Otot Statis dan Dinamis.
Otot adalah organ yang terpenting dalam sistem gerak tubuh. Otot dapat bekerja secara statis (postural) dan dinamis (rythmic). Pada kerja otot dinamis, kontraksi dan relaksasi terjadi silih berganti sedangkan pada kerja otot statis otot menetap dan berkontraksi untuk suatu periode tertentu (Tarwaka, 2010).
Pada kerja otot statis, pembuluh darah tertekan oleh pertambahan tekanan dalam otot akibat kontraksi sehingga mengakibatkan peredaran darah dalam otot terganggu. Otot yang bekerja statis tidak memperoleh oksigen dan glukosa dari darah dan harus menggunakan cadangan yang ada. Selain itu sisa metabolisme tidak dapat diangkut keluar akibat peredaran darah yang terganggu sehingga sisa metabolisme tersebut menumpuk dan menimbulkan rasa nyeri. Pekerjaan statis menyebabkan kehilangan energi yang tidak perlu (Nurmianto, 2003)
Keluhan muskulosletal adalah keluhan pada bagian-bagian otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan sangat ringan sampai sangat sakit. Apabila otot menerima beban statis secara berulang dalam waktu yang lama, akan dapat menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligament dan tendon. Keluhan dan kerusakan inilah yang dinamakan dengan keluhan muskulosletal disorders (MDSS) atau keluhan pada sistem muskulosletal. Secara garis besar keluhan otot dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu (Tarwaka,2010):
1. Keluhan sementara (reversible)
Yaitu keluhan otot yang terjadi pada saat otot menerima beban statis, namun demikian keluhan tersebut akan segera hilang apabila pembebanan dihentikan
2. Keluhan menetap (persistent)
Yaitu keluhan otot yang bersifat menetap. Walaupun pembebanan kerja telah dihentikan, namun rasa sakit pada otot masih terus berlanjut.
Keluhan otot skeletal pada ummnya terjadi karena kontraksi otot yang berlebihan akibat pemberian beban kerja yang terlalu berat dengan durasi pembebanan yang panjang.
Salah satu faktor yang menyebabkan keluhan moskuloskeletal adalah sikap kerja yang tidak alamiah. Di Indonesia, postur kerja yang tidak alami ini lebih banyak disebabkan oleh adanya ketidaksesuaian antara dimensi alat dan stasiun kerja denga ukuran tubuh pekerja maupun tingkah laku pekerja itu sendiri. Postur kerja yang tidak alami tersebut juga dapat disebabkan oleh hal-hal berikut (Petter,2005):
1. Peregangan Otot Yang Berlebihan
Peregangan otot yang berlebihan (over exertion) pada umumnya sering dikeluhkan oleh para pekerja di mana aktivitas kerjanya menuntut pengarahan tenaga yang besar seperti aktivitas mengangkat, mendorong, menarik, dan menahan beban yang berat. Peragangan otot yang berlebihan ini terjadi karena pengarahan tenaga yang diperlukan melampaui kekuatan optimum otot. Apabila hal serupa sering dilakukan, maka dapat mempertinggi resiko terjadinya keluhan otot, bahkan dapat menyebabkan terjadinya cedera otot skeletal.
2. Aktivitas Berulang
Aktivitas berulang adalah pekerjaan yang dilakukan secara terus-menerus seperti pekerjaan mencangkul, membelah kayu besar, angkat-angkut dansebagainya. Keluhan otot terjadi karena otot menerima tekanan akibat beban kerja secar terus-menerus tanpa memperoleh kesempatan untuk relaksasi.
3. Sikap Kerja Tidak Alamiah
Sikap kerja tidak alamiah adalah sikap kerja yang menyebabkan posisi bagian-bagian tubuh bergerak menjauhi posisi alamiah misalnya pergerakan tangan terangkat, punggung terlalu membungkuk, kepala terangkat dan sebagainya. Semakin jauh posisi bagian tubuh dari pusat gravitasi tubuh, maka semakin tinggi pula resiko terjadinya keluhan otot skeletal. Sikap kerja tidak alamiah ini pada umumnya karena karakteristik tuntutan tugas, alat kerja dan satasiun kerja tidak sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan pekerja.
Di Indonesia, sikap kerja tidak alamiah ini lebih banyak disebabkan oleh tidak adanya kesesuaian antara dimensi alat dan stasiun kerja dengan ukuran tubuh pekerja. Sebagai negara berkembang, sampai saat ini Indonesia masih tergantung pada perkembangan teknologi negara-negara maju, khususnya dalam pengadaan peralatan industri. Mengingat bahwa dimensi peralatan tersebut didesain tidak berdasarkan ukuran tubuh orang Indonesia, maka pada saat pekerja orang Indonesia harus mengoperasikan peralatan tersebut, terjadilah sikap kerja tidak alamiah.
Hal tersebut disebabkan karena didalam mendesain mesin-mesin tersebut hanya didasarkan antropometri dari populasi pekerja negara yang bersangkutan, yang pada kenyataannya ukuran tubuhnya lebih besar dari pekerja Indonesia. Sudah dapat dipastikan, bahwa kondisi tersebut akanmenyebabkan sikap paksa pada waktu pekerja mengoperasikan mesin. Apabila hal ini terjadi dalam kurun waktu yang lama, maka akan terjadi akumulasi keluhan yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya cedera otot.
4. Faktor Penyebab Sekunder a. Tekanan
Terjadinya tekanan langsung pada jaringan otot yang lunak, Sebagai contoh, pada saat tangan harus memegang alat, maka jaringan otot tangan yang lunak akan menerima tekan langsung dari pegangan alat, dan apabila hal ini sering terjadi, dapat menyebabkan rasa nyeri otot yang menetap.
b. Getaran
Getaran dengan frekuensi tinggi akan menyebabkan kontraksi otot bertambah. Kontraksi statis ini menyebabkan peredaran darah tidak lancar, penimbunan asam laktat meningkat dan akhirnya timbul rasa nyeri pada otot. c. Mikroklimat
Paparan suhu dingin yang berlebihan dapat menurunkan kelincahan, kepekaan dan kekuatan pekerja sehingga gerakan pekerja menjadi lamban, sulit bergerak yang disertai dengan menurunnya kekuatan otot. Demikian juga dengan paparan udara yang panas. Beda suhu lingkungan dengan suhu tubuh yang terlampau besar menyebabkan sebagian energi yang ada dalam tubuh akan termanfaatkan oleh tubuh untuk beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Apabila hal ini tidak diimbangi pasokan energi yang cukup, maka akan terjadi kekurangan suplai energi ke otot. Sebagai akibatnya, peredaran darah kurang lancar, suplai oksigen ke otot menurun, proses metabolisme karbohidrat terhambat dan terjadi penimbunan asam laktat yang dapat menimbulkan rasa nyeri pada otot (Tarwaka, 2010).
2.1.7 Kelelahan
Pada dasarnya kelelahan menggambarkan tiga fenomena yaitu perasaan lelah, perubahn fisiologis tubuh dan pengurangan kemampuan melakukan kerja (Barnes, 1980). Kelelahan merupakan suatu pertanda yng bersifat sebagai pengaman yang memberitahukan tubuh bahwa kerja yang dilakukan telah melewati batas maksimal kemampuannya. Kelelahan pada dasarnya merupakan suatu keadaan yang mudah dipulihkan dengan beristirahat. Tetapi jika dibiarkan terus-menerus akan berakibat buruk dan dapat menimbulkan penyakit akibat kerja. Ada 2 (dua) jenis kelelahan yakni kelelahan otot dan kelelahan umum. Kelelahan otot merupakan suatu penurunan kapasitas otot dalam bekerja akibat konstraksi tulang. Otot yang lelah akan menunjukkan kurangnya kekuatan, bertambahnya waktu kontraksi dan relaksasi, berkurangnya koordinasi serta otot menjadi gemetar (Suma’mur, 2009). Sedangkan kelelahan umum adalah suatu perasaan yang menyebar yang disertai adanya penurunan kesiagaan dan
kelembanan pada setiap aktivitas. Kelelahan umum biasanya ditandai dengan berkurangnya kemauan untuk bekerja yang disebabkan oleh karena : monotoni, intensitas an lamanya kerja fisik, keadaan lingkungan, sebab-sebab mental, status kesehatan dan keadaan gizi, Grandjean dalam Tarwaka (2004).
2.1.8 Pemindahan Bahan Secara Manual
Manual Material Handling berhubungan dengan pemindahan
bebandimana pekerja menggunakan gaya otot untuk mengangkat, menurunkan,mendorong, menarik, membawa, menggenggam, objek (Swedish NasionalBoard of Occupational Safety and Health (1998) didalam Prastowo dkk,2006). Pengertian pemindahan beban secara manual, menurutAmericanMaterial Handling Society (AHMS) bahwa material handling dinyatakansebagai seni dan ilmu yang meliputi penanganan (handling), pemindahan(moving), Pengepakan (packaging), penyimpanan (storing) dan pengawasan(controlling) dari material dengan segala bentuknya (Wignjosoebroto,1996). Lifting berarti menaikkan beban dari posisi yang rendah keposisiyang lebih tinggi yang menunjukkan / menyatakan penggunaan gaya harusmelebihi / melampaui gaya grafitasi beban. Pemindahan bahan secaramanual apabila tidak dilakukan secara ergonomis akan menimbulkankecelakaan dalam industri. Faktor yang berpengaruh terhadap timbulnyanyeri punggung (back injury) , adalah arah beban yang akan diangkat danfrekuensi aktivitas pemindahan. Beberapa pertimbangan / parameter yang harus diperhatikan untuk mengurangi timbulnya nyeri punggung(Nurmianto,1996) antara lain:
1. Beban yang harus diangkat.
2. Perbandingan antara berat beban dan orangnya. 3. Jarak horisontal dari beban terhadap orangnya.
4. Ukuran beban yang akan diangkat (beban yang berdimensi besar akan mempunyai jarak CG (Center of Gravity ) yang lebih jauh dari tubuh, danbisa menggangu jarak pandangnya.Batasan beban yang boleh diangkat:
1. Batasan angkat secara legal (legal limitations )
Beberapa batasan angkat secara legal dari beberapa Negara. Batasanangkat ini dipakai sebagai batasan angkat secara internasional.(Nurmianto, 1996)
a. Pria dibawah usia 16 tahun maksimum beban angkatnya adalah 14kilogram. b. Pria usia antara 16 tahun sampai 18 tahun maksimum bebanangkatnya adalah 18 kilogram.
c. Pria usia lebih dari 18 tahun tidak ada batasan angkat
d. Wanita usia antara 16 tahun sampai 18 tahun maksimum bebanangkatnya adalah 11 kilogram.
e. Wanita lebih dari 18 tahun maksimum beban angkatnya adalah 16kilogram. 2. Batasan angkat dengan menggunakan biomekanika (Bio mechanicallimitations).
Nilai dari analisa biomekanika adalah tentang postur atau posisi aktivitas kerja, ukuran beban dan ukuran manusia yang dievaluasi. Sedangkankriteria keselamatan kerja adalah dasar pada beban (copreesion load)pada intervertabraldisk antara lumbar nomor lima dan schrum nomor satu.
3. Batasan angkat secara fisiologi (Physiological limitations).
Metode pengangkatan ini dengan mempertimbangkan rata-rata bebanmetabolisme dari aktivitas angkat yang berulang (repetitive lifting)sebagaimana dapat juga ditemukan jumlah komsumsi oksigen. Hal iniharuslah benar-benar diperhatikan terutama dalam rangka untukmenentukan batas angkat. Kelelahan kerja yang terjadi dari aktivitas yangberulang akan meningkatkan resiko rasa nyeri pada tulang belakangkarena akumulasi dari asam laktat yang menumpuk secara berlebihan
4. Batasan angkat secara psiko-fisik (Phycho-physical limitations ).
Metode ini berdasarkan pada sejumlah eksperimen yang berbahaya untukmedapatkan berat pada berbagai keadaan dan ketinggian yang berbeda.Penanganan material secara manual memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut:
1. Fleksibel dalam gerakan sehingga memberikan kemudahan pemindahan beban pada ruang terbatas dan pekerjaan yang tidak beraturan.
2. Untuk beban ringan akan lebih murah bila dibandingkan dengan menggunakan mesin.
2.1.9 Resiko Kecelakaan Kerja Pada Manual Material Handling
Kegiatan Manual Material Handling (MMH) melibatkan koordinasi sistem kendali tubuh seperti tangan, kaki, otak, otot dan tulangbelakang. Bila koordinasi tubuh tidak terjalin dengan baik akanmenimbulkan resiko kecelakaan kerja pada bidang MMH. Faktor yangmenjadi penyebab terjadinya kecelakaan kerja MMH menurut (Heran, Dkk(1999) dalam Mustolih, 2007) dibagi menjadi dua faktor yaitu:
1. Faktor Fisik (Physical Factor)
Faktor ini bila dijabarkan terdiri dari suhu, kebisingan, bahan kimia,radiasi, gangguan penglihatan, postur kerja, gangguan sendi (gerakandan perpindahan berulang), getaran mesin dan alat, permukaan lantai.
2. Faktor Psikososial (Physichosocial Factor)
Faktor ini terdiri dari karakteristik waktu kerja seperti shift kerja,peraturan kerja, gaji yang tidak adil, rangkap kerja, stress kerja,konsekuensi kesalahan kerja, istirahat yang pendek dan terganggu saatkerja.Kedua faktor tersebut diatas berpengaruh terhadap kecelakaankerja pada musculoskeletal. Untuk faktor fisik (Physical Factor) yangmenjadi faktor beresiko terhadap gangguan musculoskeletal adalah postur/sikap kerja dan gangguan sendi akibat pekerjaan yang berulang.Sedangkan diantara faktor Psikososial yang menjadi penyebab utama adalah rendahnya pengawasan dalam aktivitas produksi dan terbatasnyakeleluasan para pekerja.
2.1.10 Faktor Resiko Sikap Kerja Terhadap Gangguan Musculoskeletal Sikap kerja yang sering dilakukan oleh manusia dalam melakukan pekerjaan antara lain berdiri, duduk, membungkuk, jongkok, berjalan danlain-lain. Sikap kerja tersebut dilakukan tergantung dari kondisi dalamsistem kerja yang ada. Jika kondisi sistem kerjanya yang tidak sehat akanmenyebabkan kecelakaan kerja, karena pekerja melakukan pekerjaan yangtidak aman. Sikap kerja yang salah, canggung dan diluar kebiasaan akanmenambah resiko cidera pada bagian muskuloskeletal (Bridger, 1995).
1. Sikap Kerja Berdiri
Sikap kerja berdiri merupakan salah satu sikap kerja yang seringdilakukan ketika melakukan sesuatu pekerjaan. Berat tubuh manusiaakan ditopang oleh satu ataupun kedua kaki ketika melakukan posisiberdiri. Aliran beban berat tubuh mengalir pada kedua kaki menujutanah. Hal ini disebabkan oleh faktor gaya gravitasi bumi.Kestabilan tubuh ketika posisi berdiri dipengaruhi oleh posisi keduakaki. Kaki yang sejajar lurus dengan jarak sesuai dengan tulang pinggulakan menjaga tubuh dari tergelincir. Selain itu perlu menjaga kelurusanantara anggota tubuh bagian atas dengan anggota tubuh bagian bawah.Sikap kerja berdiri memiliki beberapa permasalahan sistemmuskuloskeletal. Nyeri punggung bagian bawah (low back pain)menjadi salah satu permasalahan posisi sikap kerja bediri dengan sikappunggung condong ke depan. Posisi berdiri yang terlalu lama akanmenyebabkan penggumpalan pembuluh darah vena, karena aliran darah berlawanan dengan gaya gravitasi. Kejadian ini bila terjadi padapergelangan kaki dapat menyebabkan pembengkakan.
2. Sikap Kerja Duduk
Penelitian pada Eastman Kodak Company di New York menunjukanbahwa 35% dari beberapa pekerja mengunjungi klinik mengeluhkanrasa sakit pada punggung bagian bawah (Bridger, 1995). Ketika sikapkerja duduk dilakukan, otot bagian paha semakin tertarik dan bertentangan dengan bagian pinggul. Akibatnya tulang pelvis akanmiring ke belakang dan tulang belakang bagian lumbar akanmengendor. Mengendornya bagian lumbar menjadikan sisi depaninvertebratal disk tertekan dan sekelilingnya melebar atau merenggang.Kondisi ini akan membuat rasa nyeri pada punggung bagian bawah danmenyebar pada kaki.
Gambar 2.1. Kondisi invertebratal disk bagian lumbar pada saat duduk
(Sumber : Anatomy, Posture, and Body Mechanics, (Bridger, 1995))
Ketegangan saat melakukan sikap kerja duduk seharusnya dapatdihindari dengan melakukan perancangan tempat duduk. Hasilpenelitian mengindikasikan bahwa posisi duduk tanpa memakaisandaran akan menaikan tekanan pada invertebaratal disk sebanyak 1/3hingga 1/2 lebih banyak daripada posisi berdiri (Kroemer Dkk, 2000).Sikap kerja duduk pada kursi memerlukan sandaran punggung untuk menopang punggung. Sandaran yang baik adalah sandaran punggungyang bergerak maju-mundur untuk melindungi bagian lumbar.Sandaran tersebut juga memiliki tonjolan kedepan untuk menjaga ruanglumbar yang sedikit menekuk. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi tekanan pada bagian invertebratal disk. 3. Sikap Kerja Membungkuk
Salah satu sikap kerja yang tidak nyaman untuk diterapkan dalampekerjaan adalah membungkuk. Posisi ini tidak menjaga kestabilantubuh ketika bekerja. Pekerja mengalami keluhan rasa nyeri padabagian punggung bagian bawah (low back pain) bila dikukan secaraberulang dan periode yang cukup lama.
Gambar 2.2. Mekanisme rasa nyeri pada posisi membungkuk (Sumber: Anatomy, Posture, and Body Mechanics, (Bridger, 1995))
Pada saat membungkuk tulang punggung bergerak ke sisi depan tubuh.Otot bagian perut dan sisi depan invertebratal disk pada bagian lumbarmengalami penekanan. Pada bagian ligamen sisi belakang dariinvertebratal disk justru mengalami peregangan atau pelenturan.Kondisi ini akan menyebabkan rasa nyeri pada punggung bagianbawah. Sikap kerja membungkuk dapat menyebabkan “slipped disks”,bila dibarengi dengan pengangkatan beban berlebih. Prosesnya samadengan sikap kerja membungkuk, tetapi akibat tekanan yang berlebih menyebabkan ligamen pada sisi belakang lumbar rusak dan penekananpembuluh syaraf. Kerusakan ini disebabkan oleh keluarnya materialpada invertebratal disk akibat desakan tulang belakang bagian lumbar.
4. Pengangkatan Beban
Kegiatan ini menjadi penyebab terbesar terjadinya kecelakaan kerjapada bagian punggung. Pengangkatan beban yang melebihi kadar dari kekuatan manusia menyebabkan penggunaan tenaga yang lebih besar pula atau over exertion.
Gambar 2.3. Pengaruh Sikap Kerja Pengangkatan yang salah (Sumber : Anatomy, Posture, and Body Mechanics, (Bridger, 1995))
Adapun pengangkatan beban akan berpengaruh pada tulang belakangbagian lumbar. Pada wilayah ini terjadi penekanan pada bagian L5/S1(lempeng antara lumbar ke-5 dan sacral ke-1). Penekanan pada daerahini mempunyai batas tertentu untuk menahan tekanan. Invertebrataldisk pada L5/S1 lebih banyak menahan tekanan daripada tulangbelakang. Bila pengangkatan yang dilakukan melebihi kemampuantubuh manusia, maka akan terjadi disk herniation akibat lapisanpembungkus pada invertebratal disk pada bagian L5/S1 pecah.
5. Membawa Beban
Terdapat perbedaan dalam menetukan beban normal yang dibawa olehmanusia. Hal ini dipengaruhi oleh frekuensi dari pekerjaan yangdilakukan. Faktor yang paling berpengaruh dari kegiatan membawabeban adalah jarak. Jarak yang ditempuh semakin jauh akanmenurunkan batasan beban yang dibawa.
6. Kegiatan Mendorong Beban
Hal yang penting menyangkut kegiatan mendorong beban adalah tanganpendorong. Tinggi pegangan antara siku dan bahu selama mendorong beban dianjurkan dalam kegiatan ini. Hal ini dimaksudkan untuk menghasilkan tenaga maksimal untuk mendorong beban berat danmenghindari kecelakaan kerja bagian tangan dan bahu.
2.1.11 Penanganan Resiko Kerja Manual Material Handling
Pencegah terjadinya kecelakaan kerja terutama pada bagianmusculoskeletal adalah mengurangi dan menghilangkan pekerjaan yangberesiko terhadap keselamatan kerja. Dibawah ini beberapa tindakan untukmengurangi resiko gangguan musculokeletal pada pekerjaan manualmaterial handling :
1. Perencanaan ulang pekerjaan a. Mekanisasi
Penggunaan sistem mekanis untuk menghilangkan pekerjaan yang berulang. Jadi dengan penggunaan peralatan mekanis mampu menampung pekerjaan yang banyak menjadi sedikit pekerjaan.
b. Rotasi pekerjaan
Pekerja tidak hanya melakukan satu pekerjaan, namun beberapa pekerjaan dapat dilakukan oleh pekerja tersebut. Tujuan dari langkahini adalah pemulihan ketegangan otot melalui beban kerja yangberbeda-beda.
c. Perbanyakan dan pengayaan kerja
Sebuah pekerjaan sebisa mungkin tidak dilakukan dengan monoton,melainkan dilakukan dengan beberapa variasi. Tujuan dari langkahini adalah untuk menghindari beban berlebih pada satu bagian ototdan tulang pada anggota tubuh.
d. Kelompok kerja
Pekerjaan yang dilakukan beberapa orang mampu membagi bebankerja pada otot secara merata. Hal ini disebabkan anggota kelompokbebas melakukan pekerjaan yang dilakukan.
2. Perancangan tempat kerja
Prinsip yang dilaksanakan adalah perancangan kerja dengan memperhatikan kemampuan dan keterbatasan pekerja. Tempat kerja menyesuaikan dengan bentuk dan ukuran pekerja agar aktivitas MMH dilakukan dengan leluasa. Kondisi lingkungan seperti cahaya, suara,lantai dan lain-lain juga perlu perhatian untuk menciptakan kondisi kerja yang nyaman.
Perancangan peralatan dan perlengkapan yang layak mampumengurangi penggunaan tenaga yang berlebihan dalam menyelesaiakan pekerjaan. Menyediakan pekerja dengan alat bantu dapat mengurangisikap kerja yang salah, sehingga menurunkan ketegangan otot.
4. Pelatihan kerja
Program ini perlu dilakukan terhadap pekerja, karena pekerjamelakukan pekerjaan sebagai kebiasaan. Pekerja harus mengetahui mengenai pekerjaan yang berbahaya dan perlu mengetahui bagaimanamelakukan pekerjaan yang aman. Untuk melakukan kegiatan manualmaterial handling (MMH) dengan aman, maka dalam melaksanakanpelatihan kerja MMH perlu memahami pedomannya. Empat prinsipyang dipegang selama melakukan manual material handling (MMH), menurut (Alexander,1986, didalam Mustolih, 2007) yaitu :
a. Berusaha untuk menjaga beban pengangkatan selalu dekat dengantubuh (mencegah momen pada tulang belakang).
b. Berusaha untuk menjaga posisi pinggul dan bahu selalu dalam posisisegaris (mencegah gerakan berputar pada tulang belakang).
c. Menjaga keseimbangan tubuh agar tidak mudah jatuh.
d. Berpikir dan merencanakan metode dalam aktivitas MMH yang sulitdan berbahaya.
2.2 Resiko Ergonomi
Resiko yang terpenting dari faktor ergonomi dalam tempat kerja adalah musculoskeletal disorders (MSDs) atau gangguan otot. Gangguan otot merupakan cidera atau gangguan pada otot, saraf, tendon, sendi, tulang rawan, dan tulang belakang. Berdasarkan hasil penelitian dalam buku Industrial Ergonomic gangguan otot yang paling sering banyak dialami dalam dunia industri adalah tulang belakang atau biasa disebut Low Back Pain (LBP) dan keluhan tersebut dialami kurang lebih 70-80 % oleh pekerja (Pulat, Alexander, David,1995:41). Low Back Pain ini memungkinkan timbul dalam jangka waktu yang cukup lama(adanya kumlatif resiko). Adapun faktor-faktor yang memicu LBP ini antara lain:
1. Pekerjaan yang berulang-ulang dilakukan 2. Postur tubuh yang tidak nyaman
3. Kecepatan gerakan 4. Putaran pada sendi 5. Getaran
Untuk mengukur suatu resiko pekerjaan dari segi ergonomi, terdapat beberapa metode yang digunakandan salah satunya adalah Ovako Working Analysis System (OWAS). Untuk memperbaiki posisi kerja secara ergonomi maka dapat dilakukan dengan pembuatan alat bantu pekerjaan dan penyesuaian postur kerja yang lebih baik.
2.3Ovako Working System Analysis (OWAS)
OWAS merupakan sebuah metode ergonomi yang digunakan untuk mengevaluasi postural stress pada pekerja yang dapat mengakibatkan musculoskeletal disorders atau kelainan otot.
Metode ini dimulai pada tahun 1970-an di perusahaan Ovako Oy Finlandia. Dikembangkan oleh Karhu dan kelompoknya di Laboratorium Kesehatan Buruh Finlandia yang mengkaji tentang pengaruh sikap kerja terhadap gangguan kesehatan seperti sakit pada punggung, leher, bahu, kaki, dll. Penelitian tersebut memfokuskan hubungan antara postur kerja dengan berat beban. Seiring berjalannya waktu, metode ini disempurnakan oleh Stofert pada tahun 1985.
Metode OWAS memberikan informasi mengenai penilaian postur tubuh pada saat bekerja sehingga dapat melakukan evaluasi dini atas resiko kecelakaan tubuh manusia yang terdiri atas beberapa bagian penting, yaitu (Anggraini, Pratama: 2012) :
1. Punggung (back) 2. Lengan (arm) 3. Kaki (leg)
4. Beban kerja (load)
Penilaian tersebut digabungkan untuk melakukan perbaikan kondisi bagian postur tubuh yang beresiko terhadap kecelakaan. Berikut penilaian terhadap gerakan atau postur tubuh pada saat bekerja:
1. Penilaian pada punggung (back) diberikan kriteria nilai 1 s.d 4:
2. Penilaian pada kaki (legs) diberikan kriteria nilai 1 s.d 7:
3. Penilaian pada beban (load/use factor) diberikan kriteria nilai 1 s.d 3:
Tabel penilaian analisa postur kerja menggunakan metode OWAS (click gambar untuk memperbesar):
Tabel 1.1 Tabel Penilaian Metode OWAS
Tabel kategori:
2.4Nordic
Nordic Body Map adalah sistem pengukuran keluhan sakit pada tubuh yang dikenal dengan musculoskeletal. Sebuah sistem muskuloskeletal (sistem gerak) adalah sistem organ yang memberikan hewan (dan manusia) kemampuan untuk bergerak menggunakan sistem otot dan rangka. Sistem muskuloskeletal menyediakan bentuk, dukungan, stabilitas, dan gerakan tubuh. Berikut ini merupakan kuisoner Nordic Body Map :
I. IDENTITAS PRIBADI
1. Nama :
2. Umur :
3. Pendidikan Terakhir : 4. Pengalaman Kerja :
II. NORDIC BODY MAP
(Jawablah pertanyaan berikut ini dengan memberi tanda (√ ) pada kolom disamping pertanyaan yang sesuai dengan kondisi / perasaan saudara) Tabel 1.3 Data Kuisioner Nordic Body Map
No Jenis Keluhan
Tingkat Keluhan Tidak
Sakit Sakit 0 Sakit/kaku di leher bagian atas 1 Sakit/kaku di leher bagian bawah
2 Sakit di bahu kiri
3 Sakit di bahu kanan
4 Sakit pada lengan atas kiri
5 Sakit pada punggung
6 Sakit pada lengan atas kanan
7 Sakit pada pinggang
8 Sakit pada bokong
9 Sakit pada pantat
10 Sakit pada siku kiri
11 Sakit pada siku kanan 12 Sakit pada lengan bawah kiri 13 Sakit pada lengan bawah kanan 14 Sakit pada pergelangan tangan kiri 15 Sakit pada pergelangan tangan kanan 16 Sakit pada tangan kiri 17 Sakit pada tangan kanan
18 Sakit pada paha kiri
19 Sakit pada paha kanan 20 Sakit pada lutut kiri 21 Sakit pada lutut kanan 22 Sakit pada betis kiri 23 Sakit pada betis kanan 24 Sakit pada pergelangan kaki kiri 25 Sakit pada pergelangan kaki kanan
26 Sakit pada kaki kiri 27 Sakit pada kaki kanan 2.5 Antropometri
Antropometri berasal dari kata anthropos (manusia) dan metricos (pengukuran).antropometri adalah satu kumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia, ukuran, bentuk dan kekuatan, serta penerapan dari data tersebut untuk penanganan desain. (Nurmianto, 1991)
Data mengenai perancangan fasilitas kerja, maupun lokasi dan perpindahan kendali, ditentukan oleh karakteristik tubuh manusia. Antropometri membicarakan ukuran tubuh manusia dan aspek-aspek segala gerakan manusia maupun postur dan gaya-gaya yang dikeluarkan. Dengan bantuan dasar-dasar antropometri, maupun aspek-aspek pandangan dan medan visual, dapat membantu mengurangi beban kerja dan memperbaiki untuk kerja dengan cara menyediakan tata letak tempat kerja yang optimal, termasuk postur kerja yang baik serta landasan yang dirancang dengan baik.
Antropometri merupakan bagian dari ergonomi yang secara khusus mempelajari ukuran tubuh yang meliputi dimensi linier, berat, isi, meliputi juga ukuran, kekuatan, kecepatan dan aspek lain dari gerakan tubuh. Antropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara luas, antara lain: (digilib.petra.ac.id)
a. Perancangan areal kerja.
b. Perancangan peralatan seperti mesin, perkakas.
c. Perancangan produk konsumtif seperti pakaian, kursi meja komputer. d. Perancangan lingkungan kerja fisik
Dalam kaitan ini maka perancangan produk harus mampu mengakomodasikan dimensi, tubuh dari populasi terbesar yang akan menggunakan produk hasil rancangan tersebut.
2.5.1 Data Anthropometri dan Cara Pengukurannya
Menurut Sritomo (2003, h61), manusia pada umumnya akan berbeda-beda dalam hal bentuk dan dimensi ukuran tubuhnya. Disini akan ada beberapa faktor yang mempengaruhi ukuran tubuh manusia, sehingga sudah semestinya seorang perancang produk harus memperhatikan faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Umur
Secara umum dimensi tubuh manusia akan tumbuh bertambah besar seiring dengan bertambahnya umur yaitu sejak awal kelahirannya sampai sekitar umur 20 tahunan.
b. Jenis kelamin(sex)
Dimensi ukuran tubuh laki-laki pada umumnya akan lebih besar dibandingkan dengan wanita, kecuali bagian tubuh tertentu seperti pinggul.
c. Suku/bangsa (ethnic)
Setiap suku, bangsa atau etnik akan memiliki karakteristik yang berbeda.
d. Posisi tubuh
Dalam kaitannya dengan posisi tubuh dikenal 2 cara pengukuran yaitu: 1. Pengukuran dimensi struktur tubuh (structural body dimension) Tubuh diukur dalam berbagai posisi standar dan tidak bergerak (tetap tegak sempurna). Hal ini dikenal sebagai static anthropometry. Dari data yang diperoleh diadakan pengolahan statistik. Dimensi tubuh yang diukur dengan posisi tetap antara lain meliputi berat badan, tinggi tubuh dalam posisi berdiri maupun duduk, ukuran kepala, tinggi/panjang lutut pada saat berdiri/duduk, panjang lengan dan sebagainya.
2. Pengukuran fungsional dimensi tubuh (fungsional body dimension) Pengukuran dilakukan terhadap posisi tubuh pada saat berfungsi melakukan gerakan-gerakan tertentu yang berkaitan dengan kegiatan yang harus diselesaikan. Hal ini dikenal sebagai dynamic anthropometry. Anthropometri dalam posisi tubuh melaksanakan fungsinya yang dinamis akan banyak diaplikasikan dalam proses perancangan fasilitas ataupun ruang kerja.
Pengukuran anthropometrik pada hakekatnya adalah pengukuran jarak anatara dua titik pada tubuh manusia yang ditentukan jarak-jarak tersebut mungkin berupa garis penghubung terpendek atau mungkin berupa garis penghubung dipermukaan kulit atau lebih besar dari itu.
2.5.2Pengukuran Dimensi 1. Antropometri Statis
Adalah pengukuran dimensi tubuh manusia dalam keadaan diam atau dalam posisi yang dibakukan. Misalnya tinggi badan, panjang lengan, tinggi siku, tebal paha, dan lain sebagainya.
2. Antropometri dinamis
Adalah pengukuran keadaan dan ciri-ciri fisik manusia dalam keadaan bergerak atau memperhatikan gerakan-gerakan yang mungkin terjadi selama manusia melakukan pekerjaannya, misalnya ketika memutar stir mobil, merakit komponen, dan lain sebagainya.
Aplikasi dari dari kedua jenis data tersebut dilakukan secara bersamaan dalam rangka mendapatkan suatu perancangan yang optimum dari suatu ruang dan fasilitas akomodasi
2.5.3 Perancangan Produk atau Alat
Perancangan adalah suatu proses yang bertujuan untuk menganalisa, menilai, memperbaiki dan menyusun suatu sistem, baik secara fisik maupun nonfisik yang optimum untuk waktu yang akan datang dengan memanfaatkan informasi yang ada.
Perancangan suatu alat termasuk dalam metode teknik, dengan demikian langkah-langkah pembuatan perancangan akan mengikuti metode Merris Asimow yang menerangkan bahwa perancangan teknik adalah suatu aktivitas dengan maksud tertentu menuju ke arah tujuan pemenuhan kebutuhan manusia. Dari definisi tersebut terdapat tiga hal yang harus di perhatikan dalam perancangan antara lain. 1. Aktiitas untuk maksud tertentu.
2. Sasaran pada pemenuhan kebutuhan kebutuhan manusia. 3. Berdasarkan pada pertimbangan teknologi.
Dalam membuat suatu rancangan produk atau alat perlu mengetahui karakteristik perancangan dan perancangnya. Beberapa karakteristik perancangan adalah sebagai berikut (Nurmianto, 1998).
1. Berorientasi pada tujuan.
2. Variform yaitu suatu anggapan bahwa terdapat sekumpulan solusi yang mungkin tidak terbatas, tetapi harus dapat memilih salah satu ide yang akan diambil.
3. Pembatas yaitu membatasi solusi pemecahan antara lain.
a. Hukum alam, seperti ilmu fisika, ilmu kimia dan lain-lain.
b. Ekonomis, pembiayaan atau ongkos dalam merealisir rancangan yang telah dibuat.
c. Pertimbangan manusia sifat, keterbatasan dan kemampuan manusia dalam merencanakan dan memakainya.
d. Faktor-faktor legalisasi,mulai dari model, bentuk sampai dengan hak cipta.
e. Fasilitas produksi, sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk menciptkan suatu produk
f. Evolutif, berkembang terus mengikuti perkembangan zaman
Sedangkan karakteristik perancangan merupakan karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang perancang antara lain.
a. Mempunyai kemampuan untuk mengidentifikasi masalah.
b. Mempunyai majinasi untuk meramalkan masalah yang mungkin akan timbul.
c. Berdaya cipta
d. Mempunyai keahlian dibidang matematika, fisika, kimia tergantung dari jenis rancangan yang dibuat.
e. Dapat mengambil keputusan yang terbaik berdasarkan analisa dan prosedur yang benar.
f. Terbuka terhadap kritik dan saran yang diberikan oleh orang lain. Prosedur perancangan yang merupakan tahapan umum teknik perancangan dikenal dengan sebutan NIDA, yang merupakan kepanjangan dari need, idea, decision, and action. Artinya tahap pertama seorang perancang menetapkan dan mengidentifikasikan kebutuhan (need), sehubungan dengan alat atau produk yang harus
dirancang. Kemudian dilanjutkan dengan pengembangan ide-ide (idea) yang melahirkan berbagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan tadi. (Nurmianto, 1991)
2.6 Proses Produksi Pembuatan Paving
Ada beberapa tahap untuk proses pembuatan paving, yaitu : 1. Persiapan Bahan
a. Persiapan bahan baku semen b. Persiapan bahan baku pasir c. Persiapan bahan baku fly us d. Persiapan bahan baku abu batu e. Persiapan bahan baku air 2. Proses Pencampuran
Proses selanjutnya yaitu proses pencampuran semua bahan – bahan baku diatas ke dalam mesin pengaduk.
Gambar 2.5 Mesin Pengaduk 3. Proses Pencetakan
Bahan – bahan yang sudah di campur, selanjutnya masuk pada proses pencetakan pada mesin Multi Block.
4. Proses Inspeksi
Setelah didapatkan hasil cetakan dalam bentuk paving Block, kemudian dilakukan inspeksi untuk mengontrol produk yang cacat.
5. Proses Penganginan
Produk yang telah melewati proses inspeksi, kemudian dilakukan penganginan pada suatu tempat selama satu malam.
Gambar 2.7 Proses Penganginan 6. Proses Inspeksi
Setelah dilakukan proses penganginan kemudian dilakukan inspeksi untuk mengontrol produk yang cacat.
7. Proses Pengeringan
Produk yang sudah melewati proses inspeksi, kemudian dilakukan pengeringan pada suatu tempat dengan sinar matahari yang cukup.
Gambar 2.8 Proses Pengeringan 8. Barang Jadi