• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PEMBERIAN SUMBER NUTRIEN BERBEDA PADA MEDIA KULTUR TERHADAP KEPADATAN POPULASI DAN LAJU PERTUMBUHAN Daphnia sp.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH PEMBERIAN SUMBER NUTRIEN BERBEDA PADA MEDIA KULTUR TERHADAP KEPADATAN POPULASI DAN LAJU PERTUMBUHAN Daphnia sp."

Copied!
8
0
0

Teks penuh

Gambar

Gambar  1.  Kurva  Pertumbuhan  Populasi
Tabel  1.  Nilai  rata-rata  kepadatan  Daphnia  sp.  pada puncak populasi dan hari puncak populasi
Gambar  2.  Laju  Pertumbuhan  Daphnia  sp.  Selama Masa Pemeliharaan.
Tabel  2.  Nilai  parameter  kualitas  air  selama  pemeliharaan Daphnia sp.  Perlakuan  Parameter) Suhu  ( 0 C)  pH  DO (mg/l)  A  26-28  7-7,33  6,7-7,2  B  C  26-28 26-28  6,7-7,5 7-7,5  5,9-6,8       6,8-7,5  Kelayakan  Menurut  Pustaka  22-31 0 C*  6,

Referensi

Dokumen terkait

Dari penelitian didapatkan hasil bahwa pemberian kombinasi pakan dengan menggunakan tepung jagung dan telur itik (perlakuan D) tidak memberikan pengaruh yang

Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian media kotoran hewan ternak tidakberpengaruh nyata terhadap kepadatan populasi cacing sutra.Nilai tertinggi pada biomassa

yang diberi sari dedak terfermentasi menggunakan ragi tape dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali per hari yang diberikan setiap hari menghasilkan kepadatan populasi

Berdasarkan gambar 2, fase kematian dapat diketahui dari terjadinya penurunan kepadatan populasi pada semua perlakuan setelah kultur mencapai puncak populasi, yaitu setelah

Tujuan dari penelitian adalah melihat perbandingan antara limbah organik cair (limbah cair tahu) dengan pakan komersial (ragi dan dedak) sebagai makanan Daphnia

pada fase stasioner yang lebih tinggi pada perlakuan P3 diduga karena kombinasi ragi dan taurin dengan dosis 2,5 g/l merupakan takaran optimal untuk memberi nutrisi

Dari penelitian didapatkan hasil bahwa pemberian kombinasi pakan dengan menggunakan tepung jagung dan telur itik (perlakuan D) tidak memberikan pengaruh yang

Berdasarkan analisis ragam diperoleh hasil bahwa penggunaan kotoran ayam (25%) dan burung puyuh (75%) dalam media kultur dengan dosis yang berbeda memberikan