• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN. PT. HOME SPIRIT merupakan perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) yang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN. PT. HOME SPIRIT merupakan perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) yang"

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)

42 BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Profil Responden 4.1.1 Profil Perusahaan

PT. HOME SPIRIT merupakan perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) yang didirikan pada bulan Maret tahun 2006 sebagai anak perusahaan dari THAI NATURA, S.L. yang berpusat di C/ Virgen de los Lirios, 12. 03440. IBI. ALICANTE. SPAIN. Bidang usaha perusahaan ini adalah sektor manufaktur furniture untuk orientasi ekspor dengan lini bisnisnya yaitu memproduksi, mendesain, dan mendistribusikan furniture dan handicrafts.

PT. HOME SPIRIT sendiri berdomisili di Yogyakarta dan berkantor di Jl. Yogya – Solo km 13,5 Kalasan – Yogyakarta, Indonesia. Tujuan didirikannya perusahaan ini di Indonesia, atau Yogyakarta khususnya, adalah untuk menjangkau pasar yang lebih luas untuk wilayah Asia, menjangkau bahan - bahan baku alami yang lebih mudah, serta menjangkau para pengrajin tradisional dan memberdayakan para pengrajin tersebut agar karya-karyanya dapat turut berpartisipasi di dalam pasar dunia yang lebih luas.

PT. HOME SPIRIT bekerja sama dengan para pengarajin lokal, sehingga memungkinkan perusahaan untuk menggabungkan desain – desain seni tradisional Indonesia dengan sistem manajemen modern dari Eropa.

PT. HOME SPIRIT menggunakan bahan – bahan dasar alami seperti kayu, rotan, bambu, dan batu – batuan. Perusahaan mengkombinasikan bahan baku yang sederhana tersebut dan mengolahnya menggunakan teknologi yang modern. Kombinasi ini memungkinakan produk furniture yang dihasilkan dapat sesuai dengan berbagai macam style, antara lain Urban style, Modern - Classical style, Contemporary style, maupun Ethnic style. Perusahaan mengolah seluruh bahan baku tersebut dengan menggunakan teknik kiln and dry sehingga produk – produk yang dihasilkan dapat bertahan/ awet dan cocok di segala

(2)

cuaca dan iklim, serta terlindungi dari bahaya severe contraction (bahaya yang terjadi pada saat proses pengeringan).

PT. HOME SPIRIT merupakan sektor manufaktur furniture untuk orientasi ekspor dengan negara tujuan ekspornya hingga saat ini antara lain ke negara Jerman, Polandia, Belanda, Italia, Spanyol, Inggris, Perancis, Amerika, dan Australia. Sedangkan untuk negara di kawasan Asia, hingga saat ini telah menjangkau negara Jepang, Korea, dan Singapura. Perusahaan termasuk cepat dalam mengekspansi pasarnya, karena keunggulannya yaitu kemampuannya untuk customize desain produk (baik ukuran, warna, dan bentuk) tanpa konsumen harus melakukan order minimum, serta menawarkan harga yang relatif murah dengan kualitas produk yang tinggi. Selain itu PT. HOME SPIRIT juga menawarkan produk furniture yang variatif dan mengutamakan ketepatan waktu pengiriman barang. Perusahaan selalu berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik bagi konsumen karena hubungan yang baik dengan para konsumen merupakan fokus utama dari perusahaan.

4.1.2 Visi dan Misi Perusahaan 4.1.2.1 Visi Perusahaan

Menyediakan produk furniture yang inovatif yang selalu menjawab perubahan permintaan pasar serta memberikan layanan terbaik untuk konsumen di seluruh dunia.

4.1.2.2 Misi Perusahaan

1. Menyediakan produk – produk furniture dengan harga terjangkau namun dengan kualitas yang baik, tampilan yang fashionable, dan tahan lama.

2. Senantiasa memperhatikan ketepatan waktu dalam produksi dan pengiriman demi menjaga hubungan bisnis jangka panjang dengan konsumen.

(3)

4.1.3 Struktur Organisasi

Sumber : PT. HOME SPIRIT

(4)

Setiap bagian dalam struktur organisasi tersebut mempunyai tugas, wewenang, dan tanggung jawab yang berlainan. Tugas, wewenang, dan tanggung jawab mereka secara singkat adalah sebagai berikut :

1. Direktur

Tugas dan Wewenang :

1. Mengawasi dan mengatur kinerja perusahaan.

2. Menentukan langkah-langkah strategis bagi perusahaan.

3. Menentukan solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan.

4. Menentukan visi dan misi perusahaan yang jelas dan dipahami oleh para bawahan. 5. Menganalisa laporan tiap divisi dalam perusahaan untuk merencanakan langkah

perusahaan dalam meningkatkan kinerja dan kemampuan bersaing perusahaan.

2. Manajer Pemasaran Tugas dan Wewenang :

1. Membuat strategi pemasaran produk.

2. Mengevaluasi laporan penjualan dan klaim produk.

3. Memverifikasi proforma invoice dan Surat Permohonan Klaim Produk. 4. Menetapkan dan mencatat target penjualan untuk staff pemasaran.

5. Berperan aktif dalam membina dan meningkatkan hubungan dengan para supplier dan pelanggan.

a. Staff Pemasaran Tugas dan Wewenang :

1. Menerima pesanan dan membuat proforma invoice. 2. Mengurus permohonan klaim produk oleh pelanggan. 3. Melayani klaim produk dari pelanggan

(5)

b. Drafter

Tugas dan Wewenang :

1. Membuat desain produk berdasarkan data teknik produk yang diberikan pelanggan.

2. Merancang desain produk baru yang mengikuti mode dan selera konsumen terkini.

c. Estimator dan Perencanaan Tugas dan Wewenang :

1. Membuat laporan perhitungan HPP sebagai dasar untuk menentukan harga jual produk.

2. Menentukan estimasi tanggal pengiriman untuk pesanan yang bersangkutan.

3. Manajer Produksi Tugas dan Wewenang :

1. Bertanggungjawab atas semua aktivitas pabrik.

2. Mengatur dan mengontrol persediaan produk di gudang.

3. Mengevaluasi jadwal dan laporan pengiriman produk ke pelanggan. 4. Membuat laporan mengenai aktivitas pabrik kepada direktur. 5. Menentukan langkah yang harus ditempuh untuk efisiensi pabrik.

6. Memverifikasi Surat Barang Keluar serta Surat Barang Keluar Produk Klaim. 7. Memverifikasi Purchased Order Furniture dan Purchased Order Material. a. Bagian Proses (Penjadwalan)

Tugas dan Wewenang :

1. Menjalankan proses produksi sebagaimana mestinya. 2. Memproduksi sesuai dengan pesanan.

(6)

3. Memastikan produksi dapat berjalan efisien dan tepat waktu agar tidak terjadi keterlambatan produksi.

4. Membuat jadwal produksi secara detail berdasarkan produksi perhari, jenis produk, tenaga kerja, dan sumber daya yang dibutuhkan.

b. Bagian Gudang Tugas dan Wewenang :

1. Membuat laporan stok bulanan.

2. Mengecek jumlah persediaan di gudang dan melaporkan pada bagian pembelian.

3. Mencatat nama dan jumlah produk yang masuk dan keluar gudang. 4. Mempersiapkan produk hasil produksi sebelum dikirimkan ke pelanggan. 5. Mengirimkan produk yang sudah siap dikirim ke bagian ekspor.

6. Membuat Surat Barang Keluar dan Surat Barang Keluar Produk Klaim. 7. Membuat Kartu Stok Furniture dan Kartu Stok Material.

c. Bagian Pembelian Tugas dan Wewenang :

1. Melakukan proses pemesanan barang yang stoknya sudah menipis dengan membuat Purchased Order Furniture dan Purchased Order Material kepada supplier

2. Membuat Surat Jalan ke kasir untuk memverifikasi Tanda Terima Barang dari supplier

d. Bagian Ekspor Tugas dan Wewenang :

1. Mengurus pengiriman produk dengan menggunakan jasa perusahaan transportasi atau perusahaan ekspedisi yang telah menjadi partner bisnis. 2. Bertanggungjawab atas produk yang dikirimkan hingga masuk ke kontainer.

(7)

3. Mencatat nama dan jumlah produk yang masuk ke kontainer. e. Quality Control

Tugas dan Wewenang :

1. Memastikan bahwa produk dari supplier tidak cacat atau kurang. 2. Memastikan produk akhir tidak cacat atau kurang.

3. Memeriksa kesiapan barang jadi.

4. Memastikan bahwa produk yang mengalami cacat produksi untuk dipisahkan.

5. Membuat Tanda Terima Barang untuk produk yang lolos seleksi ke supplier.

4. Administrasi

a. Administrasi Pemasaran Tugas dan Wewenang :

1. Mendistribusikan tugas ke bagian yang terkait setelah order dari pelanggan masuk.

2. Membuat proforma invoice untuk merespon order dari pelanggan.

3. Membuat SPK Pelaksanaan Produksi dan SPK Pelaksanaan Produksi Produk Klaim setelah memenuhi syarat.

b. Administrasi Produksi Tugas dan Wewenang :

1. Memberikan copy SPK Pelaksanaan Produksi ke bagian Proses untuk memulai proses produksi

2. Memberikan copy SPK Pelaksanaan Produksi Produk Klaim ke bagian Proses untuk memulai proses produksi produk klaim.

(8)

5. Manajer Keuangan Tugas dan Wewenang :

1. Membuat rencana kerja, sistem dan prosedur keuangan yang menjamin terlaksananya manajemen keuangan secara efisien dan efektif.

2. Membuat laporan keuangan secara terperinci dalam suatu jangka waktu yang akan diserahkan kepada Direktur.

3. Meningkatkan kemampuan dan ketrampilan seluruh jajaran keuangan sesuai kebutuhan dan perkembangan usaha.

4. Mengusahakan sumber pendanaan yang terbaik bagi operasi dan investasi perusahaan.

5. Melakukan pengawasan atas credit & collection. a. Bagian Pembukuan :

Tugas dan Wewenang :

1. Mengurusi semua data tertulis keuangan perusahaan. 2. Membuat laporan keuangan untuk manajer keuangan. 3. Mencatat utang dan piutang perusahaan secara terperinci. 4. Menerima data dari bagian keuangan.

b. Bagian Keuangan: Tugas dan Wewenang :

1. Mengurusi semua aktivitas keuangan perusahaan.

2. Mencatat arus keuangan dan meneruskan kepada bagian pembukuan c. Kasir

Wewenang dan tanggung jawab:

1. Melakukan semua aktivitas keuangan perusahaan secara langsung dengan pihak kedua.

(9)

2. Melakukan pembayaran kepada supplier atas bahan mentah yang sudah dikirimkan.

3. Menerima pembayaran dari retail atau konsumen yang sudah menerima pengiriman produk dari perusahaan.

6. Manajer Personalia Tugas dan Wewenang :

1. Menganalisis dan mengembangkan sistem remunerasi di perusahaan sebagai rekomendasi untuk meningkatkan motivasi karyawan dan mendukung pencapaian target kinerja perusahaan.

2. Menjaga dan melakukan verifikasi data tentang kehadiran pekerja, Surat Perintah Kerja Lembur, shift, cuti, training, dinas dan perawatan kesehatan sehingga dapat dipakai sebagai dasar yang benar dalam membayarkan kompensasi dan bonus (salary, allowance, incentive, iuran pensiun/asuransi).

3. Melakukan proses penggajian berdasarkan data yang valid sehingga pembayaran gaji dapat dilakukan dengan jumlah yang sesuai dan tepat waktu.

4. Menyetujui proses kenaikan jabatan yang direkomendasikan oleh staff personalia. a. Staff Personalia

Tugas dan Wewenang :

1. Melakukan pencatatan dan penyimpanan data kehadiran pekerja, Surat Perintah Kerja Lembur, shift, cuti, training, dinas dan perawatan kesehatan.

2. Melakukan interview untuk seleksi karyawan.

3. Menyimpan data - data yang bersifat personal dari karyawan. 4. Melakukan proses seleksi kenaikan jabatan.

(10)

Kegiatan Usaha Perusahaan

PT. HOME SPIRIT adalah perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang furniture. Perusahaan ini memiliki keunggulan yaitu mampu meng-customize produknya sesuai dengan keinginan atau pesanan konsumen, tanpa harus melakukan pesanan minimum. Namun demikian, PT. HOME SPIRIT tentu memiliki gaya unggulan mereka sendiri dalam mendesain produk-produknya. Desain – desain unggulan yang dimiliki oleh perusahaan juga memberikan kemudahan kepada konsumen ketika konsumen tidak tahu desain seperti apa yang diinginkannya atau mereka tidak tahu bagaimana memvisualisasikannya.

Jenis produk yang dihasilkan oleh PT. HOME SPIRIT antara lain : 1. Furniture

Furniture merupakan elemen yang paling penting dalam menciptakan suatu atmosfer. Berikut adalah jenis – jenis furniture yang diproduksi oleh PT. HOME SPIRIT :

o Sofa, kursi, dan bangku (armchairs).

o Lemari pakaian, kabinet, dan rak (sideboards). o Lemari TV dan audio.

o Tempat tidur, sandaran kepala (headboards), dan sandaran kaki

(footboards).

o Furniture kantor.

o Ocassional furniture, misal : gazebo.

2. Lighting

Cahaya dapat memodifikasi dekorasi ruangan meskipun perabotan yang ada di dalamnya tidak berubah, sehingga merupakan salah satu elemen kunci dari proyek dekoratif. Berikut adalah jenis – jenis dekorasi pencahayaan yang diproduksi oleh PT. HOME SPIRIT :

(11)

o Lampu meja (table lamps). o Lampu dinding (wall lamps).

o Lampu langit – langit (ceiling lamps).

3. Dekorasi Vertikal

o Cermin.

o Hiasan dinding (pictures and panels).

4. Home textiles

PT. HOME SPIRIT membuat home textiles untuk memberikan sentuhan lebih pada produk – produknya. Berikut adalah jenis – jenis home textiles yang diproduksi oleh PT. HOME SPIRIT :

o Gorden (curtains).

o Selimut, bantal, dan seprai. o Karpet.

Jenis style yang ditawarkan PT. HOME SPIRIT sebagai referensi bagi konsumen antara lain : 1. Urban Style

Ciri utama dari Urban Style adalah visi yang sederhana dan praktis dari sebuah dekorasi yang muncul karena perkembangan dari konsep baru sebuah rumah, yang ditandai dengan minimnya ruang dan tidak adanya detail arsitektur. Pada gaya ini, PT. HOME SPIRIT memproduksi koleksi yang didominasi oleh garis – garis lurus, ringan, dan sederhana. Salah satu contoh dari Urban Style adalah gaya kolonial. 2. Modern – Classical Style

Modern – Classical Style menyampaikan keanggunan, keunikan, dan tradisi. Desain ini menggabungkan desain terbaik dari masa lalu dan masa sekarang untuk menghasilkan atmosfer mode yang abadi (timeless). PT. HOME SPIRIT menciptakan Modern – Classical Style dengan mangacu pada desain negara Perancis yang

(12)

tercermin sangat kental pada furniture milik gedung Mahkamah Perancis yang dibangun pada abad ke-17. Maka dapat dikatakan bahwa gaya ini terdiri dari unsur – unsur masa lalu yang masih menyimpan relevansi hingga saat ini.

3. Contemporary Style

o POP

Fitur gaya yang vital dan dinamis, dimana hampir tidak ada batasan dalam mendesain dan hampir segala sesuatunya diperbolehkan (warna, bentuk, bahan). Desain ini dapat menyembunyikan fungsi / pemakaian, misal : meletakkan hiasan rambu lalu lintas di atas meja makan.

o RETRO

Gaya Retro ditandai dengan menciptakan atmosfer melalui perabotan dan benda – benda yang dirancang pada tahun 1920 (tercermin dari gedung sekolah Bauhaus, art – deco, dan De Stijl) dan tahun 1970 yang dianggap sebagai awal dari gaya post – modern.

o SKANDINAVIAN

Gaya Skandinavian muncul dari sekelompok desainer pada tahun 30an. Ciri utamanya adalah penggunaan bentuk – bentuk yang sederhana, volume yang padat, dan warna – warna yang lembut.

4. Ethnic Style

Kecenderungan negara Barat saat ini adalah mendesain rumah mereka dengan nuansa kebudayaan dari negara yang jauh. Budaya Asia dan Afrika adalah yang paling banyak peminatnya. Ciri utama dari gaya ini adalah dengan mengintegrasikan atmosfer klasik, modern, dan pedesaan sehingga menciptakan suatu nuansa yang eksotik.

(13)

4.1.5 Proses Informasi dan Produksi

PT. HOME SPIRIT merupakan perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA), dimana sudah terdapat aturan baku diagram alur untuk perusahaan PMA yang memproduksi furniture dan handicraft di Indonesia untuk pasar luar negeri. Berdasarkan filosofi tersebut, berikut adalah diagram alur (flowchart) informasi, penggunaan bahan baku, dan produksi yang digunakan oleh PT. HOME SPIRIT :

Sumber : PT. HOME SPIRIT

(14)

4.1.6 Kondisi Bisnis Perusahaan

Untuk mendapatkan keunggulan bersaing, PT. HOME SPIRIT harus cermat dalam melihat situasi persaingan bisnis yang ada. Karena tidak hanya PT. HOME SPIRIT saja yang memproduksi furniture sehingga diperlukan adanya analisis kondisi bisnis perusahaan.

Dalam menganalisis kondisi bisnis perusahaan, dapat digunakan pendekatan Keunggulan Kompetitif oleh Porter (Competitive Advantage – Porter Analysis), yaitu persaingan antar perusahaan sejenis di dalam industri, ancaman pendatang baru, ancaman produk substitusi, daya tawar – menawar pemasok, dan daya tawar – menawar konsumen.

Sumber : Pengolahan data berdasarkan kekuatan persaingan menurut Michael. E. Porter Gambar 4.3 Kekuatan Persaingan dalam Industri Furniture

Ancaman Pendatang Baru : ¾ Original Furniture - Klaten

Daya Tawar - Menawar Pemasok : ¾ Kelompok Pengrajin Narbito – Sukoharjo ¾ Kelompok Pengrajin Joko Sriyanto – Klaten ¾ Kelompok Pengrajin Sugeng Mulyono - Klaten Persaingan Antar Perusahaan Sejenis : ¾ Niaga Merapi – Yogyakarta ¾ Rapi Furniture – Yogyakarta ¾ Centrum Furniture - Solo Daya Tawar – Menawar Konsumen : ¾ Samarang Furniture – Ocland – New Zealand ¾ The Beach – Gold

Coast – Australia ¾ Big Buy Furniture

– Singapore ¾ Konsumen Akhir

Ancaman Produk Substitusi : ¾ Belum Ada

(15)

Persaingan Antar Perusahaan Sejenis Di Dalam Industri

Dari segi persaingan antar perusahaan sejenis di dalam industri, PT. HOME SPIRIT merupakan perusahaan yang cukup kompeten dan memiliki nama dalam industri furniture. Persaingan kompetitif cukup rendah karena hanya terdapat 3 perusahaan yang telah lebih dahulu menguasai pasar lokal, sedangkan PT. HOME SPIRIT orientasinya adalah untuk pasar luar negeri. Selain itu untuk pasar lokal perusahaan tetap memiliki pelanggan yang loyal, karena hanya PT. HOME SPIRIT yang mampu memberikan layanan customize produk tanpa harus melakukan pesanan minimum.

Daya Tawar – Menawar Pemasok

PT. HOME SPIRIT memiliki pemasok berupa pengrajin. Perusahaan tidak mengambil bahan baku berupa kayu gelondongan, dikarenakan proses pengolahan kayu yang mahal, melainkan dengan memberikan order kepada para pengrajin dan mengambilnya dalam bentuk kasar, yang kemudian diproduksi (proses pewarnaan, pengeringan, pengamplasan, penghalusan, pemasangan kenop, dll) di pabrik PT. HOME SPIRIT.

Dari segi daya tawar – menawar pemasok, PT. HOME SPIRIT bekerja sama dengan 14 kelompok pengrajin yang ada di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Setiap kelompok pengrajin terdiri atas 5 – 25 orang. Apabila perusahaan mendapat pesanan dalam jumlah besar, maka order tersebut diberikan kepada kelompok pengrajin dengan anggota yang lebih banyak. Begitu pula sebaliknya.

Daya Tawar – Menawar Konsumen

Dari segi tawar – menawar konsumen, PT. HOME SPIRIT berada pada industri yang memiliki kekuatan tawar – menawar konsumen yang cukup besar. Namun hal ini tidak menjadi masalah karena sejak awal perusahaan telah memenangkan harga dibandingkan pesaing. Hal ini dapat terjadi karena perusahaan

(16)

menekan biaya produksi dengan tidak mengolah sendiri kayu-kayu gelondongan yang dapat menghabiskan biaya produksi dari segi tenaga kerja serta pembelian dan perawatan mesin – mesin raksasa.

Ancaman Pendatang Baru

Dari segi pendatang baru, terdapat 1 perusahaan yang mulai mengikuti jejak PT. HOME SPIRIT dalam proses produksi dan target pasarnya, yaitu perusahaan Original Furniture di Klaten.

Ancaman Produk Substitusi

Dari segi produk pengganti, furniture belum memiliki barang substitusi yang dapat menjadi ancaman yang membahayakan PT. HOME SPIRIT. Hal ini dikarenakan hampir seluruh hunian (kantor, hotel, rumah) pasti membutuhkan furniture.

4.2 Hasil Pengumpulan Data

Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer pada umumnya diperoleh dengan memantau langsung terhadap objek penelitian sehubungan dengan kegiatan – kegiatan perusahaan dan wawancara dengan pihak – pihak yang berkepentingan. Sedangkan data sekunder, didapat dari studi kepustakaan dan informasi – informasi terkait.

a. Data Primer

ƒ Data – data mengenai gambaran umum perusahaan, seperti profile perusahaan, kegiatan usaha perusahaan, dan proses informasi dan produksi furniture pada PT. HOME SPIRIT yang didapat dari hasil observasi langsung dan wawancara terhadap pihak yang berkepentingan.

(17)

ƒ Data resiko operasional dan besar kerugian operasional yang dihadapi PT. HOME SPIRIT. Dengan data historis kerugian operasional yang digunakan dari tahun 2007 – 2009.

b. Data Sekunder

ƒ Data didapat dari studi kepustakaan, yaitu khususnya mengenai manajemen resiko operasional yang diperoleh dari literatur buku, jurnal, dokumentasi perusahaan dan internet.

4.3 Aplikasi Manajemen Resiko Operasional PT. HOME SPIRIT

Dalam menghadapi resiko operasional yang berpotensi merugikan perusahaan, PT. HOME SPIRIT sebaiknya menerapkan kebijakkan manajemen resiko operasional berdasarkan buku “Manajemen Risiko Korporat” karangan Bramantyo Djohanputro, Ph.D. yang berisi 5 (lima) tahap sebagai berikut :

1. Identifikasi Resiko Operasional

2. Pengukuran dan Peramalan Resiko Operasional yang dapat Terjadi 3. Pemetaan dan Pemilihan Resiko Operasional yang Melebihi Batas 4. Model Penghitungan Potensi Resiko Operasional

5. Pengendalian dan Pengelolaan Resiko

Dimana dua tahap terakhirnya yaitu 4) ‘Model Penghitungan Potensi Resiko Operasional’ dan 5) ‘Pengendalian dan Pengelolaan Resiko’ akan dibahas secara detail pada subbab “Implikasi Solusi Terpilih”, karena metode - metode yang digunakan pada tahap 4 dan 5 dimaksudkan untuk mendapatkan implikasi solusi terpilih dalam mengelola resiko berdasarkan potensi resiko operasional.

(18)

4.3.1 Identifikasi Resiko Operasional

Untuk mengidentifikasi resiko operasional pada PT. HOME SPIRIT, langkah pertama adalah membuat hirarki berdasarkan masalah yang dihadapi perusahaan. Rumusan hirarki tersebut terdiri dari goal (tujuan identifikasi resiko operasional), criteria (jenis – jenis resiko operasional), alternatif (pengelolaan resiko operasional), dan factor (solusi dari alternatif resiko operasional).

Sumber : Pribadi

Gambar 4.4 GOAL, CRITERIA, ALTERNATIF, FACTOR Mengidentifikasi Jenis Resiko Operasional yang

Dihadapi Perusahaan

RK KMP KK KPSM KPB PO GKP

Memperkecil

Resiko Mengalihkan Resiko Mengontrol Resiko Pendanaan Resiko GOAL

FACTOR

Mengelola Resiko Operasional CRITERIA

(19)

Untuk menemukan resiko operasional yang dihadapi oleh PT. HOME SPIRIT, pada tahap ini penulis menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Dimana dalam metode ini diperlukan input berupa kuesioner yang dibagikan kepada 5 narasumber, yaitu Manajer Personalia, Manajer Produksi, Direktur, dan 2 orang staff bagian Administrasi.

Kuesioner ini berisi perbandingan 7 (tujuh) resiko operasional. Tujuh resiko operasional yang digunakan adalah berdasarkan buku ”Manajemen Risiko : Teori, Kasus, dan Solusi” karangan Irham Fahmi, S.E.,M.Si. Kuesioner tersebut dapat dilihat pada Lampiran 2.

Sebagai panduan dalam pengisian kuesioner, berikut adalah pengelompokkan jenis resiko operasional beserta contoh tindakan – tindakan yang dapat mengarah pada resiko operasional.

Tabel 4.1 Pengelompokkan Resiko Operasional

No. Jenis – Jenis Resiko Operasional

Contoh Kasus yang Mengarah pada Resiko Operasional

1. Resiko pada Komputer (Computer Risk)

Kode : RK

ƒ Masuknya virus karena proteksi software yang tidak memadai

ƒ Hacker

ƒ Pembobolan ATM

ƒ Pembuatan website palsu ƒ Masalah ”Y2K”

2. Kerusakan Maintenance Pabrik

Kode : KMP

ƒ Pengeluaran biaya pemeliharaan mesin ƒ Pengeluaran biaya untuk pergantian peralatan

pabrik

(20)

3. Kecelakaan Kerja Kode : KK

ƒ Pengeluaran biaya asuransi

ƒ Pengeluaran biaya tanggungan kecelakaan ƒ Kemungkinan dituntut atau diajukan ke

pengadilan 4. Kesalahan dalam Pembukuan

Secara Manual (Manual Risk) Kode : KPSM

ƒ Hilangnya data dalam bentuk kertas akibat bencana atau hal lain

ƒ Kesulitan pencarian kesalahan secara manual ƒ Kerugian akibat waktu yang terbuang karena

proses pembuatan, pengiriman, dll 5. Kesalahan Produksi Barang

dan Tidak Ada Kesepakatan Bahwa Barang yang Dibeli Tidak Dapat Ditukar Kembali Kode : KPB

ƒ Kadaluarsa

ƒ Penumpukkan barang sisa ƒ Pengaduan dari konsumen

6. Pegawai Outsourcing Kode : PO

ƒ Kerahasiaan tidak terjamin

ƒ Kurangnya tanggung jawab psikologis ƒ Kurangnya loyalitas

7. Globalisasi dalam Konsep dan Produk

Kode : GKP

ƒ Barang tidak laku di pasaran

ƒ Pengeluaran biaya untuk penggunaan teknologi modern

ƒ Pengeluaran biaya untuk pelatihan karyawan Sumber : Fahmi, Irham. Manajemen Resiko : Kasus, Teori, dan Solusi, p54-p61, 2010

(21)

4.3.1.1 Hasil Kuesioner Jenis – Jenis Resiko Operasional PT. HOME SPIRIT

Berdasarkan kuesioner perbandingan berpasangan resiko operasional yang diberikan kepada 5 responden, yaitu Manajer Personalia, Manajer Produksi, Direktur, dan 2 orang staff bagian Administrasi, maka berikut adalah hasil dari pengisian kuesioner tersebut :

Tabel 4.2 Hasil Kuesioner

Kode Keterangan Prioritas Skala Keseringan

RK KMP

Resiko pada Komputer

Kerusakan Maintenance Pabrik

KMP 1

RK KK

Resiko pada Komputer Kecelakaan Kerja

KK 4

RK KPSM

Resiko pada Komputer

Kesalahan dalam Pembukuan Secara Manual

RK 1

RK KPB

Resiko pada Komputer Kesalahan Produksi Barang

KPB 7

RK PO

Resiko pada Komputer Pegawai Outsourcing

RK 1

RK GKP

Resiko pada Komputer

Globalisasi dalam Konsep dan Produk

RK 1

KMP KK

Kerusakan Maintenance Pabrik Kecelakaan Kerja

KK 4

KMP KPSM

Kerusakan Maintenance Pabrik

Kesalahan dalam Pembukuan Secara Manual

KMP 1

KMP KPB

Kerusakan Maintenance Pabrik Kesalahan Produksi Barang

KPB 7

KMP PO

Kerusakan Maintenance Pabrik Pegawai Outsourcing

KMP 4

KMP GKP

Kerusakan Maintenance Pabrik Globalisasi dalam Konsep dan Produk

KMP 2

KK KPSM

Kecelakaan Kerja

Kesalahan dalam Pembukuan Secara Manual

(22)

KK KPB

Kecelakaan Kerja

Kesalahan Produksi Barang

KPB 7 KK PO Kecelakaan Kerja Pegawai Outsourcing KK 6 KK GKP Kecelakaan Kerja

Globalisasi dalam Konsep dan Produk

KK 6

KPSM KPB

Kesalahan dalam Pembukuan Secara Manual Kesalahan Produksi Barang

KPB 8

KPSM PO

Kesalahan dalam Pembukuan Secara Manual Pegawai Outsourcing

KPSM 2

KPSM GKP

Kesalahan dalam Pembukuan Secara Manual Globalisasi dalam Konsep dan Produk

KPSM 1

KPB PO

Kesalahan Produksi Barang Pegawai Outsourcing

KPB 8

KPB GKP

Kesalahan Produksi Barang

Globalisasi dalam Konsep dan Produk

KPB 8

PO GKP

Pegawai Outsourcing

Globalisasi dalam Konsep dan Produk

GKP 2

Sumber : Pribadi

4.3.1.2 Pengolahan Jawaban Kuesioner

Kemudian jawaban kuesioner tersebut diolah menggunakan bantuan software Expert Choice 2000. Berikut adalah proses penentuan bobot resiko operasional dominan :

(23)

Sumber : Expert Choice 2000

Gambar 4.5 Penentuan Bobot Resiko Operasional Dominan

Gambar 4.5 di atas merupakan tampilan proses penentuan bobot resiko operasional dominan dengan software Expert Choice 2000. Proses tersebut disebut pairwise numerical comparison, atau perbandingan berpasangan numerik. Angka – angka yang dimasukkan ke dalam setiap kolom menunjukkan skala keseringan suatu resiko dibandingkan dengan satu resiko lainnya. Angka skala keseringan tersebut merupakan nilai rata – rata dari tiap responden. Penghitungan nilai rata – rata tersebut dapat dilihat pada Lampiran 8 dan Lampiran 9.

Setelah semua angka skala keseringan selesai dimasukkan maka akan langsung didapatkan hasil penentuan bobot tiap jenis resiko operasional seperti dapat dilihat pada gambar 4.6 di bawah ini.

(24)

Sumber : Expert Choice 2000

Gambar 4.6 Pengolahan Jawaban Kuesioner

Keterangan gambar :

RK : Resiko pada Komputer (Computer Risk) KMP : Kerusakan Maintenance Pabrik

KK : Kecelakaan Kerja

KPSM : Kesalahan dalam Pembukuan Secara Manual (Manual Risk)

KPB : Kesalahan Produksi Barang dan Tidak Ada Kesepakatan Bahwa Barang yang Dibeli Tidak Dapat Ditukar Kembali

PO : Pegawai Outsourcing

(25)

Dari grafik di atas dapat disimpulkan bahwa jenis resiko operasional yang menurut kelima Responden dapat menjadi resiko operasional utama atau dominan bagi PT. HOME SPIRIT adalah ”Kesalahan Produksi Barang dan Tidak Ada Kesepakatan Bahwa Barang yang Dibeli Tidak Dapat Ditukar Kembali” dengan persentasenya sebesar 0,529 atau 52,9%.

Hitungan manual Pairwise Comparison

Untuk mendukung hasil perhitungan dari software Expert Choice 2000 di atas, berikut adalah hitungan manual untuk mendapatkan nilai persentase prioritas resiko operasional PT. HOME SPIRIT.

Tabel 4.3 Perbandingan Berpasangan (Pairwise Comparison) Resiko Operasional

RK KMP KK KPSM KPB PO GKP RK 1 1 0.25 1 0.142857 1 1 KMP 1 1 0.25 1 0.142857 4 2 KK 4 4 1 6 0.142857 6 6 KPSM 1 1 0.166666 1 0.125 2 1 KPB 7 7 7 8 1 8 8 PO 1 0.25 0.166666 0.5 0.125 1 0.5 GKP 1 0.5 0.166666 1 0.125 2 1 Total 16 14.75 8.999998 18.5 1.803571 24 19.5

Sumber : Hitungan Pribadi Tabel 4.4 Normalisasi Bobot

RK KMP KK KPSM KPB PO GKP Total Bobot RK 0.063 0.068 0.028 0.054 0.079 0.042 0.051 0.384 0.055 KMP 0.063 0.068 0.028 0.054 0.079 0.167 0.103 0.561 0.080 KK 0.250 0.271 0.111 0.324 0.079 0.250 0.308 1.594 0.228 KPSM 0.063 0.068 0.019 0.054 0.069 0.083 0.051 0.407 0.058 KPB 0.438 0.475 0.778 0.432 0.554 0.333 0.410 3.420 0.489 PO 0.063 0.017 0.019 0.027 0.069 0.042 0.026 0.262 0.037 GKP 0.063 0.034 0.019 0.054 0.069 0.083 0.051 0.373 0.053 Total 1 1 1 1 1 1 1 7 1

(26)

4.3.2 Pengukuran dan Peramalan Resiko Operasional yang dapat Terjadi

Tahap kedua dalam manajemen resiko operasional yang sebaiknya diterapkan oleh PT. HOME SPIRIT adalah mengukur dan meramalkan resiko operasional yang mungkin dapat terjadi untuk 3 tahun ke depan yaitu untuk tahun 2010 – 2012. Tujuan dari peramalan ini adalah agar perusahaan dapat mengambil kebijakkan lebih dini dalam mengantisipasi resiko – resiko yang akan terjadi. Pada tahap ini penulis menggunakan metode Forecasting yang pengolahannya akan menggunakan software QM for Windows Version 2.2.

4.3.2.1 Pengolahan Data

Peramalan yang dilakukan pada data kerugian operasional dominan pada PT. HOME SPIRIT bertujuan untuk mempersiapkan perusahaan menghadapi kerugian operasional dominannya di masa mendatang, terutama pada kesalahan produksi barang dan tidak ada kesepakatan bahwa barang yang dibeli tidak dapat ditukar kembali.

Data yang digunakan adalah data historis. Berikut adalah data kesalahan produksi barang PT. HOME SPIRIT tahun 2007 – 2009.

(27)

Tabel 4.5 Data Kesalahan Produksi Tahun 2007 – 2009

Data Kerugian (Kesalahan Produksi) Th 2007 - 2009

NO CODE QTY KERUGIAN

TOTAL

KERUGIAN NOTE

1 15569/08 Interia Making Spaces SL - Spain Kayu Retak 7-Jan-07 5 Rp330,000 Rp1,650,000

2 16634/00 The Beach - Australia Kayu Retak 11-Jan-07 8 Rp385,000 Rp3,080,000

3 17066/11 Big Buy Furniture - Singapore Tidak lurus 11-Jan-07 1 Rp1,342,000 Rp1,342,000

4 17402/08 Samarang Furniture - New Zealand Kayu Retak 5-Feb-07 7 Rp627,000 Rp4,389,000

5 17402/11 Interia Making Spaces SL - Spain Salah Warna 17-Mar-07 9 Rp627,000 Rp5,643,000

6 17723/08 Interia Making Spaces SL - Spain Salah Warna 22-Mar-07 7 Rp330,000 Rp2,310,000

7 17794/08 Interia Making Spaces SL - Spain Tidak lurus 8-May-07 2 Rp1,430,000 Rp2,860,000

8 24395/09 Shalom Moratines SL - Spain Tidak lurus 9-May-07 11 Rp264,000 Rp2,904,000

Shade &fitting included

9 24775/01 Big Buy Furniture - Singapore Salah Warna 14-Aug-07 7 Rp352,000 Rp2,464,000

Shade & fitting included

10 24775/07 Big Buy Furniture - Singapore Salah Warna 11-Nov-07 9 Rp352,000 Rp3,168,000

Shade & fitting included

11 75098/09 The Beach - Australia Tidak lurus 4-Feb-08 4 Rp748,000 Rp2,992,000

12 75111/08 The Beach - Australia Salah Warna 4-Feb-08 15 Rp501,600 Rp7,524,000 Glass included

(28)

14 75115/00 Shalom Moratines SL - Spain Tidak lurus 25-Feb-08 1 Rp2,624,600 Rp2,624,600 Glass included

15 75115/08 Samarang Furniture - New Zealand Tidak lurus 3-Apr-08 4 Rp2,624,600 Rp10,498,400 Glass included

16 75117/00 Big Buy Furniture - Singapore Kayu Retak 21-Apr-08 8 Rp605,000 Rp4,840,000

17 75122/08 Interia Making Spaces SL - Spain Tidak lurus 22-Apr-08 4 Rp770,000 Rp3,080,000 Glass included

18 75124/08 Interia Making Spaces SL - Spain Kayu Retak 22-Apr-08 1 Rp1,179,200 Rp1,179,200 Glass included

19 75140/02 Samarang Furniture - New Zealand Kayu Retak 24-Apr-08 8 Rp475,200 Rp3,801,600 Glass included

20 75140/09 Shalom Moratines SL - Spain Kayu Retak 28-Apr-08 3 Rp475,200 Rp1,425,600 Glass included

21 75182/00 The Beach - Australia Salah Warna 2-Sep-08 1 Rp550,000 Rp550,000

22 75197/00 PT Woodlink Ind - Jakarta Salah Warna 11-Dec-08 11 Rp935,000 Rp10,285,000

23 75204/00 PT Woodlink Ind - Jakarta Salah Warna 11-Dec-08 2 Rp517,000 Rp1,034,000

24 75238/00 Interia Making Spaces SL - Spain Salah Warna 14-Dec-08 8 Rp374,000 Rp2,992,000 Glass included

25 75238/08 The Beach - Australia Salah Warna 15-Dec-08 5 Rp374,000 Rp1,870,000 Glass included

26 75421/00 The Beach - Australia Kayu Retak 15-Dec-08 1 Rp825,000 Rp825,000

27 75461/00 PT Woodlink Ind - Jakarta Kayu Retak 10-Jan-09 4 Rp407,000 Rp1,628,000

28 75464/WL Shalom Moratines SL - Spain Kayu Retak 6-Feb-09 1 Rp1,298,000 Rp1,298,000

29 75464/09 Samarang Furniture - New Zealand Tidak lurus 5-Mar-09 3 Rp1,298,000 Rp3,894,000

30 75464/11 Interia Making Spaces SL - Spain Tidak lurus 8-Apr-09 2 Rp1,298,000 Rp2,596,000

31 75490/00 Interia Making Spaces SL - Spain Tidak lurus 8-Apr-09 2 Rp1,152,800 Rp2,305,600 Glass included

32 75490/07 Shalom Moratines SL - Spain Tidak lurus 17-Apr-09 2 Rp1,152,800 Rp2,305,600 Glass included

33 75490/08 Samarang Furniture - New Zealand Tidak lurus 22-Apr-09 1 Rp1,152,800 Rp1,152,800 Glass included

34 75490/09 Shalom Moratines SL - Spain Tidak lurus 6-May-09 3 Rp1,152,800 Rp3,458,400 Glass included

(29)

36 76103/00 PT Woodlink Ind - Jakarta Kayu Retak 9-Jul-09 2 Rp882,200 Rp1,764,400

37 76122/08 PT Woodlink Ind - Jakarta Salah Warna 9-Jul-09 1 Rp473,000 Rp473,000

38 76134/08 The Beach - Australia Salah Warna 11-Jul-09 2 Rp1,100,000 Rp2,200,000 Glass included

39 76182/01 Big Buy Furniture - Singapore Salah Warna 2-Aug-09 2 Rp847,000 Rp1,694,000

40 76199/01 Big Buy Furniture - Singapore Kayu Retak 2-Aug-09 1 Rp660,000 Rp660,000

41 76220/09 The Beach - Australia Salah Warna 22-Aug-09 12 Rp719,400 Rp8,632,800

42 76221/09 The Beach - Australia Tidak lurus 22-Aug-09 4 Rp1,265,000 Rp5,060,000

43 76227/11 Samarang Furniture - New Zealand Tidak lurus 5-Oct-09 3 Rp1,078,000 Rp3,234,000

44 76229/11 Interia Making Spaces SL - Spain Salah Warna 9-Oct-09 3 Rp770,000 Rp2,310,000

45 76231/08 Interia Making Spaces SL - Spain Salah Warna 9-Oct-09 5 Rp673,200 Rp3,366,000

46 76240/07 Interia Making Spaces SL - Spain Salah Warna 9-Oct-09 12 Rp440,000 Rp5,280,000

47 76283/10 Samarang Furniture - New Zealand Kayu Retak 22-Nov-09 1 Rp950,400 Rp950,400

48 76285/10 Samarang Furniture - New Zealand Salah Warna 30-Nov-09 5 Rp536,800 Rp2,684,000

49 76285/13 The Beach - Australia Salah Warna 3-Dec-09 3 Rp536,800 Rp1,610,400

50 76291/12 The Beach - Australia Kayu Retak 3-Dec-09 1 Rp1,016,400 Rp1,016,400

51 76294/11 PT Woodlink Ind - Jakarta Salah Warna 7-Dec-09 6 Rp576,400 Rp3,458,400

52 76299/10 PT Woodlink Ind - Jakarta Salah Warna 7-Dec-09 4 Rp605,000 Rp2,420,000

TOTAL 229 Rp153,241,000

(30)

Kemudian dari tabel 4.5 di atas, data – data kerugian tersebut dipisahkan sesuai dengan nama konsumen. Hal ini bertujuan agar data yang masih acak tersebut, dapat disusun untuk kemudian menjadi input pada software QM for Windows Version 2.2. Berikut adalah data yang telah disusun :

Tabel 4.6 Susunan Per-konsumen Data Kesalahan Produksi Tahun 2007 – 2009

Konsumen Tanggal Total Kerugian

Interia Making Spaces SL - Spain 7-Jan-07 Rp1,650,000 Interia Making Spaces SL - Spain 22-Mar-07 Rp2,310,000 Interia Making Spaces SL - Spain 8-May-07 Rp2,860,000 Interia Making Spaces SL - Spain 17-Mar-07 Rp5,643,000 Interia Making Spaces SL - Spain 5-Feb-08 Rp1,304,600 Interia Making Spaces SL - Spain 22-Apr-08 Rp3,080,000 Interia Making Spaces SL - Spain 22-Apr-08 Rp1,179,200 Interia Making Spaces SL - Spain 14-Dec-08 Rp2,992,000 Interia Making Spaces SL - Spain 8-Apr-09 Rp2,596,000 Interia Making Spaces SL - Spain 8-Apr-09 Rp2,305,600 Interia Making Spaces SL - Spain 9-Oct-09 Rp2,310,000 Interia Making Spaces SL - Spain 9-Oct-09 Rp3,366,000 Interia Making Spaces SL - Spain 9-Oct-09 Rp5,280,000

The Beach - Australia 11-Jan-07 Rp3,080,000

The Beach - Australia 4-Feb-08 Rp2,992,000

The Beach - Australia 4-Feb-08 Rp7,524,000

The Beach - Australia 2-Sep-08 Rp550,000

The Beach - Australia 15-Dec-08 Rp1,870,000

The Beach - Australia 15-Dec-08 Rp825,000

The Beach - Australia 11-Jul-09 Rp2,200,000 The Beach - Australia 22-Aug-09 Rp8,632,800 The Beach - Australia 22-Aug-09 Rp5,060,000

(31)

The Beach - Australia 3-Dec-09 Rp1,016,400

Big Buy Furniture - Singapore 11-Jan-07 Rp1,342,000 Big Buy Furniture - Singapore 14-Aug-07 Rp2,464,000 Big Buy Furniture - Singapore 11-Nov-07 Rp3,168,000 Big Buy Furniture - Singapore 21-Apr-08 Rp4,840,000 Big Buy Furniture - Singapore 2-Aug-09 Rp1,694,000 Big Buy Furniture - Singapore 2-Aug-09 Rp660,000

Samarang Furniture - New Zealand 5-Feb-07 Rp4,389,000 Samarang Furniture - New Zealand 3-Apr-08 Rp10,498,400 Samarang Furniture - New Zealand 24-Apr-08 Rp3,801,600 Samarang Furniture - New Zealand 5-Mar-09 Rp3,894,000 Samarang Furniture - New Zealand 22-Apr-09 Rp1,152,800 Samarang Furniture - New Zealand 15-May-09 Rp1,152,800 Samarang Furniture - New Zealand 5-Oct-09 Rp3,234,000 Samarang Furniture - New Zealand 22-Nov-09 Rp950,400 Samarang Furniture - New Zealand 30-Nov-09 Rp2,684,000

Shalom Moratines SL - Spain 9-May-07 Rp2,904,000 Shalom Moratines SL - Spain 25-Feb-08 Rp2,624,600 Shalom Moratines SL - Spain 28-Apr-08 Rp1,425,600 Shalom Moratines SL - Spain 6-Feb-09 Rp1,298,000 Shalom Moratines SL - Spain 17-Apr-09 Rp2,305,600 Shalom Moratines SL - Spain 6-May-09 Rp3,458,400

PT Woodlink Ind - Jakarta 11-Dec-08 Rp10,285,000 PT Woodlink Ind - Jakarta 11-Dec-08 Rp1,034,000 PT Woodlink Ind - Jakarta 10-Jan-09 Rp1,628,000 PT Woodlink Ind - Jakarta 9-Jul-09 Rp1,764,400 PT Woodlink Ind - Jakarta 9-Jul-09 Rp473,000 PT Woodlink Ind - Jakarta 7-Dec-09 Rp3,458,400 PT Woodlink Ind - Jakarta 7-Dec-09 Rp2,420,000

(32)

Setelah data disusun sesuai dengan tabel 4.6 di atas, langkah selanjutnya adalah melakukan input data – data tersebut ke software QM for Windows Version 2.2. Berikut adalah proses peramalan (forecasting) untuk perusahaan konsumen “Interia Making Spaces SL – Spain” dengan menggunakan software QM for Windows Version 2.2 :

Sumber : QM for Windows Version 2.2

Gambar 4.7 Penentuan Kemungkinan Kerugian Operasional 2010 - 2012

Gambar 4.7 di atas merupakan tampilan masukan (input) data kerugian PT.HOME SPIRIT terhadap perusahaan konsumen “Interia Making Spaces SL – Spain” tahun 2007 – 2009. Angka yang di-input tersebut merupakan kerugian yang sudah dijumlahkan setiap tahunnya terhadap perusahaan konsumen “Interia Making Spaces SL – Spain”.

Setelah semua angka selesai dimasukkan maka akan langsung didapatkan hasil peramalan kemungkinan kerugian yang akan dialami PT.HOME SPIRIT terhadap perusahaan

(33)

konsumen “Interia Making Spaces SL – Spain” seperti dapat dilihat pada gambar 4.8 di bawah ini.

Sumber : QM for Windows Version 2.2

Gambar 4.8 Pengolahan Peramalan Kemungkinan Kerugian Operasional 2010 – 2012

Dari gambar di atas dapat disimpulan bahwa persamaan peramalan untuk perusahaan konsumen “Interia Making Spaces SL – Spain” adalah Y = 8897531 + 1,697,301X dengan hasil peramalan untuk tahun selanjutnya yaitu 2010, 2011, dan 2012 masing – masing adalah Rp 15,686,740 ; Rp 17,384,040 ; dan Rp 19,081,340.

Peramalan seperti gambar 4.7 dan 4.8 di atas dan seterusnya dilakukan untuk masing – masing perusahaan konsumen. Berikut adalah hasil peramalan kemungkinan kerugian yang akan dialami oleh PT. HOME SPIRIT :

(34)

Tabel 4.7 Peramalan Kemungkinan Kerugian Operasional 2010 – 2012

Perusahaan Persamaan Forecasting Tahun Jumlah Kerugian Interia Making Spaces SL

-Spain- Y = 8897531 + 1,697,301 X 2010 Rp 15,686,740 2011 Rp 17,384,040 2012 Rp 19,081,340 JUMLAH Rp 52,152,120 The Beach -Australia- Y = -3652731 + 7,719,799 X 2010 Rp 27,266,460 2011 Rp 34,946,260 2012 Rp 42,666,060 JUMLAH Rp 104,838,780 Big Buy Furniture

-Singapore- Y = 9342666 – 2,310,000 X 2010 Rp 102,668 2011 - Rp 2,207,332 2012 - Rp 4,517,331 JUMLAH - Rp 6,621,995 Samarang Furniture -New Zealand- Y = 1906660 + 4,339,499 X 2010 Rp 19,264,660 2011 Rp 23,604,160 2012 Rp 27,943,660 JUMLAH Rp 70,812,480 Shalom Moratines SL -Spain- Y = 514065.5 + 2,079,001 X 2010 Rp 8,830,068 2011 Rp 10,909,070 2012 Rp 12,988,070 JUMLAH Rp 32,727,208 PT Woodlink Ind -Jakarta- Y = -2722866 + 4,871,900 X 2010 Rp 16,764,730 2011 Rp 21,636,630 2012 Rp 26,508,530 JUMLAH Rp 64,909,890 Sumber : Pribadi

(35)

Hitungan manual untuk Forecasting

Persamaan Trend Pojection untuk peramalan : Y = a + bx Dimana rumusnya adalah sebagai berikut :

b = n(∑XY) – (∑X)(∑Y) n(∑X2) – (X)2

a = (∑Y) - b(∑X) n Keterangan :

X = Waktu (variabel independen)

Y = Nilai terhitung dari variabel yang akan diprediksi (variabel dependen) a = Konstanta

b = Kemiringan garis regresi n = Jumlah pengamatan

∑ = Jumlah seluruh n

Tabel 4.8 Hitungan Manual Persamaan Forecasting Perusahaan X (Time) Y (Demand) XY X2 Y2 Interia Making Spaces SL -Spain- 1 (2007) Rp12,463,000 12,463,000 1 155,326,369,000,000 2 (2008) Rp8,555,800 17,111,600 4 73,201,713,640,000 3 (2009) Rp15,857,600 47,572,800 9 251,463,477,760,000 ∑X 6 ∑Y Rp36,876,400 ∑XY 77,147,400 ∑X2 14 ∑Y2 479,991,560,400,000 The Beach -Australia- 1 (2007) Rp3,080,000 3,080,000 1 9,486,400,000,000 2 (2008) Rp13,761,000 27,522,000 4 189,365,121,000,000 3 (2009) Rp18,519,600 55,558,800 9 342,975,584,160,000 ∑X 6 ∑Y Rp35,360,600 ∑XY 86,160,800 ∑X2 14 ∑Y2 541,827,105,160,000

(36)

Big Buy Furniture -Singapore- 1 (2007) Rp6,974,000 6,974,000 1 48,636,676,000,000 2 (2008) Rp4,840,000 9,680,000 4 23,425,600,000,000 3 (2009) Rp2,354,000 7,062,000 9 5,541,316,000,000 ∑X 6 ∑Y Rp14,168,000 ∑XY 23,716,000 ∑X2 14 ∑Y2 77,603,592,000,000 Samarang Furniture -New Zealand- 1 (2007) Rp4,389,000 4,389,000 1 19,263,321,000,000 2 (2008) Rp14,300,000 28,600,000 4 204,490,000,000,000 3 (2009) Rp13,068,000 39,204,000 9 170,772,624,000,000 ∑X 6 ∑Y Rp31,757,000 ∑XY 72,193,000 ∑X2 14 ∑Y2 394,525,945,000,000 Shalom Moratines SL -Spain- 1 (2007) Rp2,904,000 2,904,000 1 8,433,216,000,000 2 (2008) Rp4,050,200 8,100,400 4 16,404,120,040,000 3 (2009) Rp7,062,000 21,186,000 9 49,871,844,000,000 ∑X 6 ∑Y Rp14,016,200 ∑XY 32,190,400 ∑X2 14 ∑Y2 74,709,180,040,000 PT Woodlink Ind -Jakarta- 1 (2007) - 0 1 0 2 (2008) Rp11,319,000 22,638,000 4 128,119,761,000,000 3 (2009) Rp9,743,800 29,231,400 9 94,941,638,440,000 ∑X 6 ∑Y Rp21,062,800 ∑XY 51,869,400 ∑X2 14 ∑Y2 223,061,399,440,000 Sumber : Hitungan Pribadi

Berikut adalah hitungan manual untuk mencari persamaan untuk perusahaan konsumen “Interia Making Spaces SL – Spain” :

b = n(∑XY) – (∑X)(∑Y) n(∑X2) – (X)2 b = 3 (77,147,400) – (6) (36,876,400) 3 (14) – (6) 2 = 231,442,200 – 221,258,400 42 – 36

(37)

= 10,183,800 6 b = 1,697,301 a = (∑Y) - b(∑X) n a = 36,876,400 – 1,697,301 (6) 3 = 36,876,400 – 10,183,806 3 a = 8,897,531. 333

Maka dengan penghitungan manual di atas, ditemukan persamaan Trend Projection Y = 8,897,531. 333 + 1,697,301 X. Dan perhitungan tersebut dilakukan seterusnya untuk masing – masing perusahaan konsumen.

4.3.3 Pemetaan dan Pemilihan Resiko Operasional yang Melebihi Batas

Tahap ketiga dalam manajemen resiko operasional yang sebaiknya diterapkan oleh PT. HOME SPIRIT adalah memetakan dan memilih resiko operasional yang melebihi batas. Hal ini dilakukan untuk menentukan mana yang akan menjadi fokus pembahasan. Oleh karena itu data disaring, khususnya karena metode Generalized Pareto Distribution syaratnya adalah dengan menggunakan data yang melebihi batas atau threshold yang ditetapkan oleh perusahaan. Dan dengan threshold sebesar Rp 26.000.000,00 maka digunakan data jumlah kerugian operasional sebagai berikut :

(38)

Tabel 4.9 Jumlah Kemungkinan Kerugian Operasional 2010 – 2012 yang Melebihi Threshold

No. Jumlah Kerugian 2010 - 2012

1 Rp 52,152,120 2 Rp 104,838,780 3 Rp 70,812,480 4 Rp 32,727,208 5 Rp 64,909,890 Rp 325,440,478 Sumber : Pribadi

Dari tabel 4.9 di atas dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2010 – 2012, PT. HOME SPIRIT akan mengalami kerugian operasional (yang melebihi threshold) sebesar Rp 325,440,478.

4.4 Implikasi Solusi Terpilih

Langkah – langkah yang harus dilakukan agar PT. HOME SPIRIT dapat mengetahui besarnya potensi kerugian operasional dominan yang akan terjadi dan agar perusahaan dapat menyelesaikan masalahnya tersebut, adalah dengan menghitung potensi resiko operasional dan mengelola resiko.

4.4.1 Model Penghitungan Potensi Resiko Operasional

Tahap keempat dalam manajemen resiko operasional yang sebaiknya diterapkan oleh PT. HOME SPIRIT adalah menghitung potensi resiko operasional. Tahap ini adalah tahap yang paling penting, dimana penghitungan potensi resiko operasional dilakukan untuk mengetahui seberapa besar potensi kerugian terburuk yang dapat terjadi (VaR) di perusahaan serta seberapa besar kerugian yang melebihi potensi kerugian terburuk tersebut (ES). Hasil penghitungan ini akan menentukan langkah – langkah kebijakkan yang akan diambil oleh perusahaan.

(39)

4.4.1.1 Menetapkan parameter Generalized Pareto Distribution

Untuk mendapatkan nilai kerugian operasional PT. HOME SPIRIT, sebelumnya harus ditentukan terlebih dahulu parameter yang tepat untuk menghitung kerugian operasional. Parameter yang dimaksud mencakup 3 parameter, yaitu : µ (location) atau rata-rata, Ψ

(scale) atau standar deviasi, dan ξ (shape) atau tail index.

Khusus untuk ξ (shape) atau tail index, akan digunakan metode Hill Estimator untuk mencari nilai parameter tersebut. Perhitungan parameter µ (location) atau rata-rata dan Ψ

(scale) atau standar deviasi akan dihitung dengan bantuan SPSS 16.0.

Tabel 4.10 Hasil Statistik Deskriptif

Statistics kerugian_operasional N Valid 5 Missing 0 Mean 6.51E7 Std. Deviation 2.659E7 Variance 7.069E14 Sumber : SPSS 16.0. Parameter :

µ (location) atau rata-rata (Χ) mean (ẍ) = ∑Χ / N = (X1 + X2 + X3 + ... + XN) / N = (52,152,120 + 104,838,780 + 70,812,480 + 32,727,208 + 64,909,890) / 5 = 325,440,478 / 5 = 65,088,095. 6

(40)

Dengan penghitungan di atas, didapatkan nilai mean (Χ) yang akan digunakan sebagai paramater µ (location) sebesar 65,088,095. 6

Ψ (scale) atau standar deviasi

Tabel 4.11 Nilai Varian

X ẍ (X -ẍ)2 104,838,780 65,088,095. 6 1,580,116,910,268,403.36 70,812,480 65,088,095. 6 32,768,576,758,963.36 64,909,890 65,088,095. 6 31,757,235,871.36 52,152,120 65,088,095. 6 167,339,464,723,795.36 32,727,208 65,088,095. 6 1,047,227,046,259,833.76 TOTAL 2,827,483,755,246,867.2 Sumber : Hitungan Pribadi

Varian (S2) = 2,827,483,755,246,867.2 / (5-1)

= 706,870,938,811,716. 8

Standar deviasi (S) = √varian

= √706,870,938,811,716. 8

= 26,587,044. 567

Dengan penghitungan di atas, didapatkan nilai standar deviasi (S) yang akan digunakan sebagai paramater Ψ (scale) sebesar 26,587,044. 567

(41)

ξ (shape) atau tail index

Tabel 4.12 Tail Index

No. Data In(x) ∑In(x)

Hill = Parameter ξ Metode 1 Metode 2 1 104,838,780 18.467934 2 70,812,480 18.075545 36.543479 0.392389 0.196194 3 64,909,890 17.988510 54.531989 0.283229 0.188819 4 52,152,120 17.769675 72.301664 0.407654 0.305741 5 32,727,208 17.303717 89.605381 0.771699 0.6173592 TOTAL 1.854971 1.3081132

Sumber : Hitungan Pribadi

Metode 1 : ξ2 = (1/1 (18.467934)) - 18.075545 = 0.392389 ξ3 = (1/2 (36.543479)) - 17.988510 = 0.283229 ξ4 = (1/3 (54.531989)) - 17.769675 = 0.407654

(42)

ξ5 = (1/4 (72.301664)) - 17.303717 = 0.771699 Metode 2 : ξ2 = (1/2 (36.543479)) - 18.075545 = 0.196194 ξ3 = (1 / 3 (54.531989)) - 17.988510 = 0.188819 ξ4 = (1 / 4 (72.301664)) - 17.769675 = 0.305741 ξ5 = (1 / 5 (89.605381)) - 17.303717 = 0.6173592

Berdasarkan tabel 4.12 di atas, besarnya tail index dengan pendekatan Hill untuk metode 1 dan 2 masing – masing adalah ξ = 1.854971 / 5 = 0.370994 dan ξ = 1.3081132 / 5 = 0.261622. Untuk perhitungan mencari nilai Value at Risk (VaR), nilai tail index yang akan digunakan adalah tail index dengan metode 1.

4.4.1.2 Value at Risk (VaR)

Tahap yang terpenting dari metode Generalized Pareto Distribution (GPD) adalah pencarian nilai Value at Risk (VaR). Nilai VaR dijadikan sebagai ukuran potensi kerugian dari suatu portofolio eksposur resiko operasional pada tingkat keyakinan tertentu dan dalam periode waktu tertentu.

(43)

Dimana :

µ = rata – rata (location)

Ψ = standar deviasi (scale)

ξ = tail index (shape) n = total seluruh data

M = data yang digunakan (kerugian yang melebihi threshold) p = tingkat keyakinan (95%) OpsVar = 65,088,095. 6 + 26,587,044. 567 {[ 6 (1 – 0. 95)] -1/0. 370994 - 1} 0. 370994 5 = 65,088,095. 6 + 71,664,351. 895178 {[ 1.2 (0.05)] -1/0. 370994 – 1} = 65,088,095. 6 + 71,664,351. 895178 { 0.06 -2.695461 – 1} = 65,088,095. 6 + 71,664,351. 895178 (1,965. 376018 – 1) = 65,088,095. 6 + 71,664,351. 895178 (1,964. 376018) = 65,088,095. 6 + 140,775,734,208. 400513 = 140,840,822,304

Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai Value at Risk (VaR) resiko operasional atau potensi kerugian operasional yang akan dialami oleh PT. HOME SPIRIT pada tahun 2010 – 2012 dan dengan tingkat keyakinan sebesar 95% adalah sebesar Rp 140,840,822,304.

(44)

4.4.1.3 Expected Short Fall (ES)

Tahap terpenting kedua dari metode Generalized Pareto Distribution (GPD) adalah pencarian nilai Expected Short Fall (ES). Nilai ES merupakan estimasi potensi besarnya kerugian yang melebihi VaR.

Dimana :

VAR = nilai dari Value at Risk µ = rata – rata (location)

Ψ = standar deviasi (scale)

ξ = tail index (shape)

ES = 140,840,822,304 + 26,587,044. 567 – (0. 370994) (65,088,095. 6) 1 - 0. 370994 1 - 0. 370994 = 140,840,822,304 + 26,587,044. 567 – 24,147,292. 939026 0.629006 0.629006 = 140,840,822,304 + 2,439,751. 627974 0.629006 0.629006 = 140,843,262,055. 627974 0.629006 = 223,914,019,986. 5 = 223,914,019,986

(45)

Dari hasil tersebut dapat disimpulkan nilai Expected Short Fall (ES) resiko operasional atau potensi kerugian operasional kumulatif yang melebihi nilai Value at Risk (VaR) atau kerugian maksimal yang akan dialami PT. HOME SPIRIT pada tahun 2010 – 2012 adalah sebesar Rp 223,914,019,986.

Dibandingkan dengan nilai Value at Risk (VaR) yang sebesar Rp 140,840,822,304 maka perusahaan ditakutkan akan mendapat resiko yang cukup tinggi jika tidak ada penanganan lanjut dari perusahaan.

4.4.2 Pengendalian dan Pengelolaan Resiko

Tahap ini merupakan tahap terakhir dalam manajemen resiko operasional yang sebaiknya diterapkan oleh PT. HOME SPIRIT. Dalam beraktivitas, yang namanya resiko pasti terjadi dan sulit untuk dihindari sehingga bagi PT. HOME SPIRIT sangat penting untuk memikirkan bagaimana mengelola atau me-manage resiko tersebut. Berikut ini adalah langkah - langkah yang yang dapat dilakukan oleh PT. HOME SPIRIT dalam mengelola resiko operasionalnya.

4.4.2.1 Memperkecil Resiko

Keputusan untuk memperkecil resiko adalah membatasinya bahkan meminimalisasinya agar resiko tersebut tidak bertambah besar di luar kontrol pihak manajemen perusahaan. Untuk memperkecil resiko, PT. HOME SPIRIT harus melakukan analisis resiko yang terdiri dari :

1. PT. HOME SPIRIT harus menilai posisi resiko secara singkat dan jelas sehingga laporan posisi resiko dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan. 2. Mengukur potensi kerugian pada posisi eksposur sehingga analisis dampak ini dapat

menjadi dasar mencari alternatif untuk menurunkan kerugian resiko operasional ke tingkat yang ditentukan sesuai dengan batas limit dan toleransi resiko.

(46)

3. Mengevaluasi potensi kerugian operasional secara keseluruhan, termasuk transaksi - transaksi kecil yang relatif banyak.

4. Berdasarkan hasil wawancara dengan direktur perusahaan, diketahui bahwa PT. HOME SPIRIT tidak melakukan perjanjian dengan konsumen bahwa barang yang sudah dipesan tidak dapat ditukar kembali. Oleh karena itu, PT. HOME SPIRIT harus mulai memikirkan tentang pengadaan perjanjian dengan konsumen bahwa barang yang sudah dipesan tidak dapat ditukar kembali sehingga perusahaan tidak perlu menyimpan produk yang salah atau menjualnya dengan harga murah. Kejadian seperti ini dapat menyebabkan peningkatan potensi kerugian dari resiko operasional.

4.4.2.2 Mengalihkan Resiko

Keputusan mengalihkan resiko yang dapat dilakukan perusahaan adalah dengan melakukan strategi hedging. Tindakan atau keputusan hedging biasanya dilakukan seputar dengan kondisi mengantisipasi timbulnya fluktuasi valuta asing (valas) di pasaran.

Adapun pengertian hedging adalah menukar valuta asing di masa depan dengan mata uang lokal untuk melindungi uang tersebut dari perubahan nilai tukar. Dengan antisipasi ini diharapkan PT. HOME SPIRIT sudah memiliki cadangan (reserve) dalam bentuk mata uang asing (foreign currencies) yang khusus dimasukkan dalam kategori dana hedging.

Tindakan ini dirasa penting mengingat PT. HOME SPIRIT adalah perusahaan yang berorientasi ekspor, sehingga dana hedging yang dimiliki dapat dipergunakan sewaktu – waktu dibutuhkan, terutama ketika perusahaan mengalami kerugian operasional.

4.4.2.3 Mengontrol Resiko

Keputusan mengontrol resiko adalah dengan cara melakukan kebijakan antisipasi terhadap timbulnya resiko sebelum resiko itu terjadi. Dalam prakteknya, PT. HOME SPIRIT harus menyiapkan prosedur yang efektif untuk mencegah terjadinya gangguan dan harus

(47)

melakukan pengecekan dan penilaian kembali secara berkala. Proses ini didasari oleh penilaian aktivitas dan eksposur individual dan portofolio. Berikut adalah profil resiko yang dapat digunakan oleh PT. HOME SPIRIT dalam menentukan tindakan pemantauan :

• Jika tingkat kerugian tinggi dan efektivitas pengendalian resiko rendah maka sistem pengendalian perusahaan harus ditingkatkan.

• Jika tingkat kerugian rendah dan efektivitas pengendalian resiko rendah maka sistem pengendalian perusahaan harus dikoreksi.

• Jika tingkat kerugian tinggi dan efektivitas pengendalian resiko tinggi maka sistem pengendalian perusahaan harus diterapkan secara konsisten.

• Jika tingkat kerugian rendah dan efektivitas pengendalian resiko tinggi maka sistem pengendalian perusahaan harus diterapkan secara konsisten.

4.4.2.4 Pendanaan Resiko

Keputusan pendanaan resiko dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :

• Dengan membayar atau menutup kerugian dari pendapatan bersih perusahaan.

Pendanaan ini dilakukan dengan menganggap kerugian operasional sebagai biaya pada tahun yang bersangkutan.

• Mencadangkan sejumlah dana untuk mendanai kerugian yang sewaktu – waktu

dapat terjadi. Jumlah cadangan dana ini sebaiknya mengacu atau berdasarkan pada hasil dari penghitungan Value at Risk dan disesuaikan pula dengan kondisi keuangan dari laporan keuangan perusahaan.

Gambar

Gambar 4.1 Struktur Organisasi PT. HOME SPIRIT
Gambar 4.2 Proses Informasi dan Produksi Umum
Gambar 4.3 Kekuatan Persaingan dalam Industri Furniture Ancaman Pendatang Baru :
Gambar 4.4 GOAL, CRITERIA, ALTERNATIF, FACTOR  Mengidentifikasi Jenis Resiko Operasional yang
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini dirancang dalam bentuk Quasi Experimental Design dengan jenis desain Nonequivalent Control Group Design

Dalam tulisan ini akan dibahas secara detil tentang peranan Bioinformatika dalam dunia kedokteran mulai dari penyimpanan data klinis pasien untuk pemberian obat yang cocok

Kehutanan 14% Energi 6% Sampah 6% Melalui pengembangan energi baru terbarukan dan konservasi energi di seluruh sektor...  Konservasi energi nasional menjadi tanggung jawab

Hasil atas dari menara distilasi (D-101) berupa etil klorida dan dietil eter, sedangkan produk bawah berupa etanol, asam klorida, air, dietil eter dan beberapa etil. Hasil atas

Masalah yang saat ini dihadapi oleh UMKM adalah laporan keuangan yang disusun setiap periode belum dengan standar akuntansi keuangan entitas tanpa akuntabilitas

Pilihan indikator ekonomi pada inflasi adalah dengan asumsi variabel ini paling berpengaruh terhadap fluktasi harga material dan berdampak pada biaya hidup tenaga

Mardiasmo (2011:168) menjelaskan PPh Pasal 21 adalah pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk

Pendidikan cinta dan kasih sayang adalah pendidikan yang kepada anak kita untuk menumbuhkan perasaan kasih dan sayang diri anak kepada Tuhan, diri sendiri, orang lain,