SKRIPSI
disusun oleh:
ARDINA ENDIARSARI
01 320 109
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA
2005
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia Untuk Memenuhi Sebagian Dari Syarat-syarat Guna Memperoleh
Derajat Sarjana SI Psikologi
disusun oleh:
ARDINA ENDIARSARI
01 320 109
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2005
Sebagian Dari Syarat-syarat Guna Memperoleh Derajat Sarjana S-l Psikologi
Pada Tanggal
,H CC1 2005
Mengesahkan, Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia
-xDekan,
/Smarti, Dr
Dewan Penguji
1• Sus Budiharto, S. Psi., Psikolog
2. Hepi Wahyuningsih, S.Psi.,M.Si
3. Irwan Nuryana K, S.Psi.,M.Si
Tandafangan
' i"->wj
[m
Segala puji bagi Allah SWT, atas Rahmat-Nya karya sederhana ini
dapat diselesaikan
Terima Kasih untuk segala cinta, perhatian, doa, dan dukungan
dari orang-orang terdekat dihati:
ihu dan Bapak
Atas segala doa, pengorbanan, cinta, dan dukungannya yang telah diberikan takkan terbalas oleh apa pun
Saudara kembarku
Atas segala dukungan, perhatian, bantuannya
semangat dan doanya
Adikku
Atas semangat dan senyuman yang selalu memberi kebahagiaan
Aim Kakek& Nenek
Yang selalu memberi nasehat dan kasih sayang
IV
-$cA$^^
**, * *\-t" *.
mJ&iX6 JJ3 0^^^> WO«^' £ 4
-Sesungg^ya sesudah kesuhtan Ho ada —an. Maka apabna kamu «e.ah
se.esai dan sesuatu urusan, kenakariah dengan sungguh-sungguh urusan yang
UOn. Dan hanya kepada Tuhannunah hendaknya kamu berharap. -(QS. A.am
Nasyrah, ayat 6-8)
peumjuk, bimbingan dan pertolongan-Nya, sehmgga penulis dapat menyelesaikan sknps, atau tugas akhir ini. Keberhasilan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini
semata-mata adalah karena Rahmat Allah Yang Malia Pemurah lagi Maha
Penyayang.
Penulis menyadari bahwa telah banyak pihak yang telah membenkan bantuan berupa doa, bimbingan, petunjuk, dan data yang dibutuhkan mulai dan persiapan, tempat dan pelaksanaan penelitian hingga tersusunnya skripsi ini.
Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Sukarti, Dr., selaku Dekan Fakultas Psikologi Umversitas Islam Indonesia
2. Bapak Sus Budiharto, S. Psi., Psikolog Selaku Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing dan memberi dukungan dalam
menyelesaikan skripsi.
3. Ibu Hepi Wahyuningsih, S. Psi, Selaku Dosen Penguji yang telah meluangkan
waktunya untuk menguji
4. Bapak Irwan Nuryana, S. Psi.,M.Si Selaku Dosen Penguji dan Kepala Biro
Skripsi yang telah banyak membantu penulis dalam penelitian skripsi.
5. Ibu Qurotul Uyun, S. Psi, Selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah
membantu dan mendampingi penulis dalam penulis sknpsi dan membantu
penulis dalam menimba ilmu pengetahuan.
v i
membantu penulis dalam penelitiannya.
8. Bapak Fuad Nashori, S.Psi, M.Si., Selaku Pembantu Dekan III yang telah memberikan saran-saran yang berharga dan membantu penulis dalam skripsi 9. Seluruh Staff Tata Usalia Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia
yang membantu memperlancar proses administrasi selama pengerjaan skripsi 10. Mahasiswa Fakultas Psikologi UII yang telah ikut berpartisipasi membantu
dalam mengisi angket penelitian.
11. Teman-teman Psikologi UII yang telah memberikan tenaga, waktu dan segala bantuan yang penulis perlukan selama pengerjaan skripsi
12. Kedua Orangtua penulis, yang selalu memberikan doa yang tak henti- hentinya, cinta kasih, dorongan, dukungan, semangat, pertolongan, dan canda
tawanya.
13. Arditya, saudara kembar penulis yang selalu memberikan doa, bantuan, dan
semangarnya.
14. Febri, adik kandung penulis satu-satunya yang selalu memberi semangat dan
doa
15. Aim. Kakek dan Nenek yang selalu ada dihati penulis
16. Mas Endho yang telah memberikan dukungan semangat dan perhatiannya hingga terselesaikannya skripsi ini
v u
akhirnya kita dapat menyelesaikan skripsi ini
19. Asti, Pipin, Mya, Diah, Wati, Puti, Mbak Ika dan Mbak Elma, yang telah
memberikan dukungan dan semangatnya
20. Semua pihak yang telah membantu penelitian ini, yang tidak dapat disebutkan
satu persatu.
Wassalamuallaikum. Wr. Wb.
Yogyakarta, Oktober2005
Penulis
vui
HALAMAN PENGESAHAN u
HALAMAN PERNYATAAN m'
HALAMAN PERSEMBAHAN iv
HALAMAN MOTTO v
PRAKATA vi
DAFTAR ISI ix
DAFTAR TABEL xi
DAFTAR LAMPIRAN ™
INTISARI ^
BABI. PENGANTAR
lA. Latar Belakang Permasalahan 1
B. Tujuan Penelitian 9
C. Manfaat Penelitian 9
D. Keaslian Penelitian 10
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 12
A. Kecemasan 12
1. Pengertian Kecemasan 12
2. Pengertian Kecemasan presentasi 14 3. Aspek-aspek kecemasan Presentasi 17
4. Faktor-faktor kecemasan Presentasi 19
i x
3. Aspek-aspek Efikasi Diri Akademik 22 C. Hubungan antara Efikasi Diri Akademik dengan
Kecemasan Melakukan Presentasi pada Mahasiswa..27
D. Hipotesis Penelitian 30
BABUL METODE PENELITIAN 31
A. Identifikasi Variabel-variabel penelitian 31 B. Definisi Operasional Variabel Penelitian 31
C. Subjek Penelitian 33
D. Metode Pengumpul Data 33
E. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur 36
F. Metode Analisis Data 38
BAB IV. PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN 39
A. Orientasi Kancah dan Persiapan Penelitian 39
B. Laporan Pelaksanaan Penelitian 46
C. Hasil Penelitian 46
D. Pembahasan 50
BABV. PENUTUP 55
A. Kesimpulan 55
B. Saran 55
DAFTAR PUSTAKA. 57
Tabel
Tabel 1. Alat ukur kecemasan
Sebelum uji coba
Tabel 2. Alat ukur efikasi diri akademik
Sebelum uji coba
Tabel 3. Alat ukur kecemasan
Setelah uji coba
Tabel 4. Alat ukur efikasi diri akademik
Setelah uji coba
Tabel 5. Deskripsi data penelitian
Tabel 6. Kategorisasi skala efikasi diri akademik
Tabel 7. Kategorisasi skala kecemasan melakukan presentasi.
XI
Halaman
35
36
44
45
47
48
49
Lampiran 1. Angket Try-out 59
Lampiran 2. Data try-out 61
Lampiran 3. Hasil Uji Reliabihtas dan Validitas 72
Lampiran 4. Angket Penelitian 87
Lampiran 5. Data Penelitian 89
Lampiran 6. Hasil Analisis Data Penelitian 1°2 Lampiran 7. Surat keterangan penelitian 110
Xll
Ardina Endiarsari Sus Budiharto
INTISARI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Efikasi din akademik dengan Kecemasan melakukan presentasi pada mahasiswa. Jadi hipotesis penelitian ada hubungan negatif antara Efikasi dm akademik dengan kecemasan melakukan presentasi pada mahasiswa. Semakin tinggi Efikasi din akademik kecemasan melakukan presentasi pada mahasiswa semakin rendah.
Sebaliknya semakin rendah Efikasi diri akademik, kecemasan melakukan
presentasi pada mahasiswa semakin tinggi
Subjek dalam penelitian ini berjumlah 100 orang, terdin dari pada mahasiswa Fakultas Psikologi UII, jenis kelamin laki-laki dan wamta. Adapun skala yang digunakan untuk mengetahui kecemasan melakukan presentasi disusun oleh penulis berdasarkan skala kecemasan berbicara dimuka umum oleh Devito (Purnamaningsih & Utami, 1998) dan skala Efikasi diri akademik disusun
berdasarkan teori Efikasi diri menurut Bandura (1997)
Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji korelasi Product moment dari Pearson dengan fasilitas program SPSS versi 11,0. Hasil
penelitian menunjukkan r=-0,363 dengan p=0,000 atau p<0,01 yang artinya ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara Efikasi dm akademik dengan Kecemasan melakukan presentasi pada mahasiswa. Jadi hipotesis penelitian
diterima.
Kata Kunci: Efikasi diri akademik, Kecemasan melakukan presentasi
xin
Bersama im saya menyatakan bahwa selama melakukan penelitian ,ni dan dalam membuat laporan penelitian, t,dak melanggar e,ika akadem* sepert,
penjiplakan, pemalsuan data dan memampulas, data. Apabua di kemudian >-
Mya terbukti melanggar etika akademtk, maka saya sanggup menernna konsekwensi ten*, pencabutan gelar kesarjanaan yang telah saya peroleh.
Yang menyatakan, Oktober 2005
Ardina Endiarsari
i n
A. Latar Belakang Masalah
Mahasiswa sebagai kelompok intelektual dan sebagai generasi penerus
bangsa sangat diharapkan ide-ide dan gagasannya dalam mengisi pembangunan.
Untuk mengungkapkan ide dan gagasan tersebut, diantaranya dibutuhkan kemampuan berbicara di muka umum. Manusia akan terns berinteraksi dengan orang lain baik secara langsung ataupun tidak langsung untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikologisnya, seperti misalnya berbelanja, bertanya, bercanda, berdiskusi. Komunikasi adalah alat yang selalu menyertai, berbicara merupakan bagian dari suatu komunikasi. Secara luas komunikasi adalah setiap bentuk tingkah laku seseorang baik verbal maupun non verbal yang ditanggapi oleh orang lain. Secara sempit komunikasi diartikan sebagai pesan yang dikirim seseorang kepada satu atau lebih penerima dengan maksud sadar untuk mempengaruhi tingkah laku si penerima. Setiap komunikasi setidaknya dua orang saling mengirimkan lambang-lambang yang memiliki makna tertentu dalam suatu komunikasi. Lambang-lambang tersebut bisa bersifat verbal berupa kata-kata, atau bersifat non verbal berupa ekspresi atau ungkapan tertentu dan gerak tubuh.
(Supratiknya,1995). Komunikasi adalah hal yang sangat penting, yang diperlukan
seseorang untuk mengembangkan diri dan membina hubungan dengan orang lain.
dituntut untuk mempunyai kemampuan berkomunikasi secara baik. Bila seorang mahasiswa tidak yakin akan kemampuannya untuk berkomunikasi, maka akan timbul kecemasan pada dirinya. Kecemasan ini dapat dilihat ketika maliasiswa harus berinteraksi dengan dosen dan teman-temannya. Tidak jarang terlihat baliwa mahasiswa yang memiliki kecemasan komunikasi akan malu dan ragu-ragu dalam mengemukakan pendapat atau menjadi gugup dan grogi ketika harus berbicara di depan kelas. Ketika berinteraksi dengan teman-teman di kampus tidak sedikit pula mahasiswa yang mengalami kecemasan dalam berkomunikasi.
Apabila masalah kecemasan berkomunikasi tidak diperhatikan, maka akan terbawa oleh maliasiswa sampai saat mereka memasuki masa dewasa memasuki
dunia kerja atau saat melaksanakan tugas dari dosen untuk berpresentasi didepan kelas. Di dunia kerja, individu merasa terhambat untuk mengaktualisasikan dmnya karena ada gangguan dalam berkomunikasi, misalnya merasa cemas ketika harus berpresentasi di depan orang banyak atau dengan atasannya, merasa malu ketika harus berkomunikasi dengan rekan-rekan kerjanya, serta tidak bisa membina hubungan yang akrab dan hangat dengan sesama rekan kerjanya.
(Marwati2001).
Berdasarkan hasil wawancara mendalam dan observasi langsung yang
dilakukan oleh peneliti pada salah satu mahasiswa yang sedang menunggu giliran
untuk maju mempresentasikan makalahnya lalu dapat diketahui bahwa faktor
yang lebih dibanding mahasiswa yang biasa berkomunikasi dengan orang lain.
(Santoso, dkk 1998)K
Berdasarkan hasil wawancara kelompok yang dilakukan peneliti dengan
FGD (Focus group discussion) pada hari Senin tanggal 21 Februari 2005 difakultas psikologi UII, dengan mahasiswa diperoleh data sebagai berikut: (A) mulai mengalami kecemasan semalam sebelum presentasi, penyebab terjadinya kecemasan tersebut dikarenakan perasaan takut, grogi dengan teman selain itu dia juga merasa tidak nyaman karena berbicara di depan orang banyak, takut salah dalam menyampaikan makalahnya, takut kepada dosen, Kecemasan tersebut menyebabkan jantung berdebar-debar, keluar keringat dingin, sakit perut dan mual. Menurut (A) yang membuat dirinya mengalami kecemasan dalam berpresentasi adalah pada bagian tanya jawab, karena merasa tidak percaya diri, takut jika jawabannya salah dan tidak sesuai dengan teori yang ada. Untuk mengatasi kecemasannya itu, biasanya (A) mempersiapkan mental dengan belajar dan memahami makalah yang akan disampaikan dalam berpresentasi, dan ketika presentasi akan dimulai (A) mempersiapkan dengan menarik nafas dalam-dalam.
Menurut (B) kecemasannya terjadi beberapa jam menjelang presentasi.
Penyebab kecemasannya adalah takut tidak bisa menjawab pertanyaan.
Kecemasannya itu menyebabkan (B) sakit perut dan mau muntah. (B) mengalami
rasa cemas pada dosen, paling merasa takut dalam berpresentasi adalah bagian
kecemasan pada saat diumumkannya tugas presentasi. Penyebabnya adalah (C) tidak terbiasa untuk presentasi. Tugas makalah yang didapat untuk dipresentasikan belum mantap, (C) merasa masih ada yang kurang dalam tugas itu. Cjuga grogi karena berbicara didepan orang banyak. Kecemasannya itu akan menyebabkan keluar keringat, jantung berdebar-debar, bicara agak tergagap- gagap, tetapi itu terjadi pada detik-detik awal presentasi. Setelah bisa menguasai audien, groginya hilang, (C) merasa takut pada presentasi sendirian dari pada berkelompok, (C) merasa cemas pada teman-teman yang aktif bertanya. Unuik mengurangi kecemasannya (C) melakukan latihan sebelum presentasi, memprediksi pertanyaan-pertanyaan yang mimgkin diajukan. Meskipun cemas berpresentasi, menurut (C) presentasi itu merupakan tantangan yang harus
dihadapi untuk mempersiapkan menghadapi dunia kerja.Hasil wawancara dengan (D). (D) mulai cemas sehari sebelum presentasi, penyebabnya tidak percaya diri saat berbicara didepan orang banyak, Kecemasannya itu akan menyebabkan badannya merasa lemas saat akan berpresentasi, pikirannya tidak bisa konsentrasi, untuk mengatasinya biasanya dia
menenangkan diri dengan merokok.
Hasil FGD diatas menunjukkan bahwa kecemasan dalam melaksanakan
presentasi pada tiap-tiap individu berbeda-beda, juga dalam mengatasi kecemasan
tergantung pada kepribadian masing-masing individu. Hasil tersebut diperkuat
tetapi cara menyampaikannya tidak bagus, berbicaranya tidak lancar, dan ketika masuk pada bagian tanya jawab banyak mahasiswa yang grogi dan cemas sehingga antara jawaban dan pertanyaan tidak sesuai. Kepala Biro Skripsi menjelaskan bentuk kecemasan mahasiswa dalam berpresentasi seperti cara mengucapkan kata-kata tidak jelas, suaranya pelan dan pelafalannya tidak jelas, tangannya terlihat gemetar ketika tersorot oleh OHP dan, ketika membereskan transparansi jatuh semua. Untuk mengatasi kecemasan tersebut, ketika menjadi penguji biasanya Kepala Biro Skripsi mengajak mahasiswa bercanda agar tidak tegang dan cemas, dan meminta mahasiswa tersebut untuk santai agar tidak cemas karena semua itu adalah tugas yang harus mereka selesaikan. Kepala Biro Skripsi menggunakan cara tersebut agar mahasiswa tidak terlalu tegang, karena jika terlalu tegang mahasiswa yang akan melakukan presentasi menjadi tidak berkonsentrasi dengan baik. Kecemasan itu terjadi ketika mahasiswa mulai masuk ruangan presentasi, dipersilahkan untuk memulai presentasi. Ada mahasiswa yang cemas pada awal-awal presentasi saja, tetapi ada yang sampai presentasi selesai mereka masih cemas. Menurut pengamatan Kepala Biro Skripsi, biasanya mahasiswa yang mengalami kecemasan yang tinggi saat melakukan presentasi dikarenakan tugas skripsinya bukan pekerjaan mahasiswa itu sendiri melainkan mereka menyuruh orang lain mengerjakannya, jadi mahasiswa tersebut tidak
mahasiswa dalam mengerjakan tugas kuliah khususnya presentasi, ungkap Frikson C. Sinambela, psikolog dari Ubaya saat ditemui di sela-sela kuliali tamu yang diadakan oleh jurusan Manajemen UK Petra, Jumat (29/04).
Kurikulum universitas tidak mengajarkan maliasiswa dalam mempresentasikan teori yang telali didapatkan. Mahasiswa sering terbawa arus teoritis sehingga mahasiswa kesulitan ketika harus berhadapan dengan publik. Mahasiswa tidak jarang terjebak dalam tuntutan tugas sehingga mengesampingkan kemampuannya dalam berkomunikasi. Ini tentu saja sangat memprihatinkan, semua gagasan serta ide-ide yang cemerlang akan tidak ada artinya jika tidak diiringi kemampuan untuk menyampaikannya kepada publik, terang Frikson.
Menangkap kendala-kendala komunikasi yang dialami mahasiswa, jurusan Manajemen UK Petra menggelar kuliah tamu yang bertajuk The power of presentation. Frikson mengungkapkan beberapa rahasia sehingga mahasiswa dapat sukses ketika ditunrat presentasi di hadapan publik. Mengawali presentasi, kita harus mulai dari hal menarik, libatkan kejadian sehari-hari, humor trendi, kata-kata bijak ataupun demonstrasi kecil sehingga dapat membangkitkan motivasi pendengar. Setelah berkutat dengan fokus pendengar, selanjutnya nyatakan rujuan presentasi secara ringkas dan buat kerangka berpikir kemudian sampaikan keterangan dengan handout. Frikson menjelaskan Bentuk kecemasan
karena situasi tertentu (faktor luar) yang dihadapi saat akan presentasi, misalnya
di hadapan publik. Untuk rasa cemas yang tiba-tiba kita rasakan beberapa menit sebelum presentasi, Frikson juga memberikan kiat mengatasinya. Ada beberapa faktor yang dikemukakan yaitu buat ringkasan proses presentasi sepraktis mungkin, datang lebih awal sehingga dapat memantau kondisi. Tarik nafas, dalam-dalam kemudian hembuskan secara perlalian, bisikkan kata "tenang"
sebanyak tiga kali. Kita juga dapat membayangkan keberhasilan atau sesuatu yang menyenangkan untuk mengusir rasa cemas. "Paling terakhir dan penting adalah berdoa. (www.petra.ac.id)
Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan bahwa kecemasan dalam berpresentasi itu sangat dipengaruhi oleh keyakinan akan kemampuan seseorang melaksanakan tugas untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan.
Solusi yang terbaik imtuk mengurangi kecemasan dalam melakukan presentasi terutama bagi mahasiswa yang memiliki sifat tertutup adalah melalui berbagai upaya untuk melibatkan mereka dalam tindak komunikasi dan mendorong mereka untuk melakukan komunikasi tatap muka. Ketika mahasiswa akan mempresentasikan proposal penelitian atau mempresentasikan hasil penelitian mereka didepan dosen penguji. Karena kecemasan yang berlebihan akan menyebabkan mahasiswa tidak bisa menjelaskan materi dengan baik dan jawaban yang mereka berikan terhadap pertanyaan yang terlontar juga kurang memuaskan, bahkan ada mahasiswa yang sama sekali tidak bisa menjawab
secara individu atau kelompok. (Santoso,dkk 1998)
Kecemasan melakukan presentasi akan menggejala dalam bentuk reaksi- reaksi fisiologis dan psikologis. Pada reaksi fisiologis ditunjukkan oleh adanya peningkatan detak jantung, muka merali, suara bergetar, mulut kering, bagian- bagian tubuh berkeringat, dan otot-otot menjadi tegang. Pada reaksi psikologis, individu merasa bingung, tidak percaya diri, tidak dapat memusatkan perhatian, pikirannya kosong dan tidak menentu. Oleh karena itu individu yang mempunyai kecemasan tinggi ketika melakukan presentasi, maka bicaranya menjadi tidak
lancar.
Wood dan Bandura menyatakan Efikasi diri akan menentukan jenis perilaku pengatasan, seberapa keras usaha yang dilakukan untuk mengatasi persoalan atau menyelesaikan tugas dan berapa lama individu akan mampu berhadapan dengan hambatan yang tidak diinginkan. Apakah individu akan melakukan suatu perilaku tertentu atau tidak, berusaha untuk melakukan tugas tertentu atau tidak, berjuang keras mencapai tujuan atau tidak, tergantung pada apakah individu tersebut percaya atau tidak bahwa dirinya akan berhasil dalam
tindakan-tindakannya tersebut (Christianingsih 2001).
Banyak mahasiswa yang mengalami kecemasan dalam mempresentasikan
setiap tugas-tugas dari dosen misalnya ketika mempresentasikan proposal
penelitian, akibat kecemasan yang berlebihan akan menyebabkan mahasiswa tidak
mahasiswa akan merasa mampu melaksanakan tugas dengan baik. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini akan mencoba menguji hipotesa bahwa ada hubungan negatif antara efikasi diri akademik dengan kecemasan berpresentasi pada maliasiswa. Semakin tinggi efikasi diri akademik maka kecemasan berpresentasi pada mahasiswa akan semakin rendah. Sebaliknya, semakin rendah efikasi diri akademik maka kecemasan melakukan presentasi pada mahasiswa semakin tinggi. Oleh karena itu pertanyaan dari penelitian ini adalah "Apakah ada hubungan antara efikasi diri akademik dengan kecemasan melakukan presentasi pada mahasiswa ? "
B. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara efikasi diri akademik dengan kecemasan melakukan presentasi pada
mahasiswa.
C. Manfaat Penelitian
Manfaat teoritis; diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah bagi perkembangan psikologi pendidikan, psikologi belajar, psikologi konseling, psikologi perkembangan dan ilmu pendidikan di Indonesia.
Manfaat praktis; dapat dijadikan masukan dan bahan pertimbangan bagi
para psikolog atau konselor perguruan tinggi pada unit bimbingan konseling
Manfaat praktis lainnya adalali sebagai sumber informasi bagi para mahasiswa dalam mengenali dan memahami kemampuan serta kelemahan dirinya sehingga dapat mengelola dirinya dengan baik, mengkonsultasikan masalahnya kepada yang berkompeten, memotivasi dan memaksimalkan usahanya, lebih antisipatif terhadap kemungkinan hambatan dan kesulitan yang akan dihadapinya
untuk meraili kesuksesan belajar di perguruantinggi.
D. Keaslian Penelitian
1. Keaslian topik
Penelitian mengenai topik kecemasan komunikasi sudah banyak dilakukan, misalnya seperti penelitian mengenai hubungan kepercayaan din dengan kecemasan komunikasi interpersonal pada mahasiswa (Siska, 1996), ada penelitian yang hampir sama yaitu mengenai hubungan antara kepercayaan diri dengan kecemasan berkomunikasi interpersonal pada mahasiswa tahun awal Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta (Marwati, 2001).
Penelitian mengenai efikasi diri yang dihubungkan dengan kecemasan berkomunikasi dengan wisatawan pada pramusaji rumah makan kawasan jalan legian kuta (Christianningsih, 2001). Serta hasil penelitian (Pumamaningsih &
Utami, 1998) mengenai Efektivitas terapi perilaku kognitif untuk mengurangi
kecemasan berbicara dimuka umum. Perbedaan penelitian Pumamaningsih &
10
Utami (1998) dengan penelitian ini adalali pada aiat ukurnya dalam penelitian Pumamaningsih & Utami (1998), menggunakan surat persetujuan subjek, modul pelatihan, rekaman audio instruksi relaksasi, tape recorder, makalali, skala didasarkan pada bentuk reaksi kecemasan berbicara dimuka umum baik reaksi fisiologis maupun psikologis yang disusun oleh Utami (1991). Dari penelitian diatas sepengetahuan peneliti belum ada yang meneliti tentang hubungan antara efikasi diri akademik dengan kecemasan melakukan presentasi pada maliasiswa.
Jadi topik penelitian yang dilakukan oleh peneliti asli.
2. Keaslian teori
Penelitian Siska (1996) menggunakan teori berdasarkan empat aspek manifestasi kecemasan seperti yang diungkap oleh Sue (Siska, 1996) yaitu: 1) Manifestasi reaksi kognitif, 2) Manifestasi reaksi perilaku motorik, 3) Manifestasi reaksi somatisasi, dan 4) Manifestasi reaksi afeksi
Aspek-aspek dari Burgoon dan Ruffner (1978) menjadi dasar teori kecemasan komunikasi interpersonal pada penelitian Marwati (2001) dan penelitian mengenai efikasi diri yang dihubungkan dengan kecemasan berkomunikasi dengan wisatawan pada pramusaji rumah makan kawasan jalan legian kuta. Aspek-aspek kecemasan komunikasi interpersonal tersebut disimpulkan terdiri dari 3 aspek yaitu: 1) Unwillingness adalah tidak adanya minat untuk berpartisipasi dalam komunikasi, 2) Unrewarding adalah tidak adanya penghargaan dalam berkomunikasi, 3) Control adalah kurangnya kontrol dalam situasi komunikasi sehingga dapat menyebabkan kecemasan yang dipengaruhi oleh lingkungan.
Dari penelitian Christianingsih (2001), yang telah disebutkan diatas maka variabel efikasi diri menggunakan aspek-aspek efikasi diri dari Bandura (1997) yaitu: 1) Tingkat besaran (Level), dimensi ini berkaitan dengan tingkat kesulitan tugas, 2) Luas bidang perilaku (Generality), dimensi ini berkaitan dengan berkaitan dengan luas bidang tugas yang dilakukan, 3) Tingkat Kekuatan (Strength), dimensi ini berkaitan dengan tingkat kemantapan individu terhadap
keyakinan atau pengharapannya.
Pada penelitian ini menggunakan dasar aspek kecemasan komunikasi interpersonal dari Burgoon dan Ruffner (1978) yaitu: 1) Unwillingness adalah tidak adanya minat untuk berpartisipasi dalam komunikasi. Sedangkan aspek efikasi diri akademik menggunakan aspek dari Bandura (1997) yaitu: 1) Tingkat besaran (Level), 2) Luas bidang perilaku (Generality), 3) Tingkat kekuatan
(Strength).
PenelitianPurnamaningsih & Utami (1998), skala Kecemasan berbicara
dimuka umum disusun oleh Utami, didasarkan pada bentuk reaksi kecemasanberbicara dimuka umum yang diukur adalah Kecemasan berbicara, dalam bentuk bertanya, menjawab pertanyaan, mengemukakan pendapat dalam forum kuliah,
rapat, seminar
3. Keaslian alat ukur
Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini disusun berdasarkan aspek
kecemasan komunikasi interpersonal yang dikemukakan oleh oleh Burgoon dan
Ruffner yaitu: 1) Unwillingness, adalah tidak ada minat berpartisipasi dalam
komunikasi, aspek ini sama dengan penelitian yang digunakan Marwati (2001).
Untuk aspek yang lainnya dari Pumamaningsih dan Utami (1998) mengenai efektifitas terapi perilaku kognitif untuk mengurangi kecemasan berbicara di muka umum, kriteria diagnostik untuk kecemasan secara umum (Cadoret & King, 1983), aspeknya yaitu takut terlibat dalam transaksi melakukan presentasi, mempunyai perasaan-perasaan negatif dan meramalkan hasil yang negatif sebagai fungsi keterlibatannya dalam situasi melakukan presentasi, menurunkan frekuensi dan intensitasnya dalam transaksi melakukan presentasi, reaksi diri yang
berlebihan.
Aspek efikasi diri akademik mengacu pada teori Bandura (1997) yaitu: 1) Tingkat besaran (Level), 2) Luas bidang perilaku (Generality), 3) Tingkat besaran (Strength). Aspek ini telah banyak digunakan dalam penelitian mengenai efikasi
diri akademik.
4. Keaslian subjek penelitian
Pada teori terdahulu penelitian Siska (1996) subjek penelitiannya mahasiswa Fakultas Ekonomi, program studi Manajemen, (UKRIM), penelitian Pumamaningsih & utami (1998) subjek penelitiannya mahasiswa fakultas Psikologi Universitas Wangsa Manggala Yogyakarta yang mengalami kecemasan berbicara dimuka umum dan berminat dalam penelitian. dan subjek pada penelitian yang diteliti oleh peneliti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Islam
Indonesia. Jadi subjek penelitian pada skripsi peneliti asli.
A. Kecemasan melakukan presentasi pada mahasiswa
1. Pengertian kecemasan
Kecemasan adalali segala bentuk situasi yang mengancam kesejahteraan organisme. Ancaman fisik, ancaman harga diri, dan tekanan diuntuk melakukan sesuatu diluar kemampuan juga menimbulkan kecemasan. Kecemasan merupakan emosi yang tidak menyenangkan yang ditandai dengan istilah-istilah seperti
"kekliawatiran", "keprihatinan" dan "rasa takut", yang kadang-kadang kita alami dalam tingkat yang berbeda-beda (Atkinson; dkk, 2002)
Menurut Lazarus (Siska, 1996) kecemasan sendiri mempunyai dua pengertian, yaitu kecemasan sebagai respon dan kecemasan sebagai variabel intervening. Kecemasan sebagai respon mengandung pengertian bahwa kecemasan adalah reaksi seseorang terhadap pengalaman atau situasi tertentu, yang tampak dari pikiran cemas, tindakan atau perubahan fisik (denyut jantung, tekanan darah, pemafasan, dll). Kecemasan sebagai intervening, maksudnya adalah kecemasan yang disebabkan oleh kondisi tertentu, dan mempunyai pengamh atau konsekuensi tertentu juga. Kecemasan ini akan menimbulkan impiklasi lain, yaitu munculnya penyesuaian-penyesuaian tertentu untuk
memindahkan ancaman yang menimbulkan kecemasan.
Sue (Siska, 1996) menyebutkan manifestasi dari kecemasan kedalam empat macam reaksi, yaitu:
14
a. Reaksi kognitif yang dapat bervariasi dari rasa khawatir yang ringan sampai yang parah. Reaksi kognitif yang muncul bempa kesukaran dalam konsentrasi, sukar membuat keputusan, dan sulit tidur.
b. Reaksi perilaku motorik dapat bempa gelisali, melakukan gerakan yang tak menentu, menggeliat, menekan-nekan mas jari, menggigit bibir dan
kuku jari.
c. Reaksi somatisasi meliputi reaksi fisik dan biologis seperti bemafas pendek-pendek, mulut kering, tangan dan kaki dingin, sakit perut, sering kencing, pusing-pusing, dada berdebar-debar, tekanan darali meningkat, banyak mengeluarkan keringat dan otot menegang (kliusus dibagian
kepala, leher, balm dan dada).
d. Reaksi afektif dapat berupa rasa khawatir dan gelisali
Berdasarkan penjelasan tentang kecemasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kecemasan adalali aspek kepribadian individu yang bersifat subjektif bempa perasaan takut atau gelisah karena suatu sebab yang tidak jelas.
Manifestasi kesemasan kersebut dapat dilihat dari aspek fisik dan psikis, bempa reaksi kognitif, reaksi afektif, somatisasi, dan perilaku motorik.
2. Pengertian Kecemasan melakukan presentasi pada mahasiswa
Pengertian presentasi menurut Onggo (2004) adalah suatu kegiatan yang
memaparkan informasi sedemikian mpa agar dimengerti dan mudah diingat oleh
audiens. Presentasi bukan hanya menitik baratkan pada desain presentasi tetapi
jugapada desain komunikasi pesan-pesannya.
Perasaan nervous atau grogi di saat memulai presentasi adalah hal yang hampir pasti dialami oleh semua orang. Bahkan seorang yang telah
berpengalaman berbicara didepan umum pun tidak terlepas dari perasaan grogi atau " Demam panggung" ini. Ada pakar yang mengatakan bahwa perasaan grogi
ini muncul karena melemahnya rasa percaya diri pada seseorang. Namun, seorangyang sangat berkuasa pun, misal presiden direktur yang berbicara pada
bawahannya, masih juga terjangkit grogi. Ada juga anjuran agar seseorang mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum menyajikan presentasi, namun toh perasaan grogi itu tetap muncul. Ini berarti grogi atau nervous bukanlah hal yang bisa dihindari begitu saja. Dan bila perlu ditangani agar memberi nilai tambali pada presentasi seseorang. (www. Rajaraja.com)Sebenarnya kecemasan merupakan suatu yang normal dan dibutuhkan dalam konteks berbicara di muka umum, Burgoon dan Ruffner (1978) menyatakan bahwa kecemasan merupakan suatu yang sehat apabila kecemasan itu dapat mendorong individu unUik menambah usahanya supaya dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Sebaliknya kecemasan yang berlebihan dapat mengganggu individu, karena akan menghambat individu dalam menggunakan kemampuannya. Individu yang mempunyai kecenderungan mengalami kecemasan akan menerima situasi berbicara di muka umum sebagai suatu bahaya atau ancaman dibandingkan individu yang tidak pencemas. Dengan demikian individu akan merespon situasi berbicara di muka umum dengan kecemasan yang lebih besar intensitasnya.
Devito (1995) membuat istilah berbicara di muka umum sebagai speaker apprehension, yaitu keadaan takut atau cemas dalam interaksi komunikasi dan
menekankan bahwa fenomena kecemasan berbicara di muka umum berpusat pada pembicara. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa speaker apprehension mengandung dua perspektif, yaitu perspektifkognitif dan perspektifperilaku.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa kecemasan melakukan presentasi adalah kecemasan yang dialami individu ketika mereka melakukan presentasi. Dan presentasi adalali suatu kegiatan yang memaparkan informasi sedemikian mpa agar dimengerti dan mudah diingat oleh audiens. Kecemasan merupakan suatu hal yang normal dan sehat apabila kecemasan itu dapat mendorong individu untuk menambah usalianya supaya dapat melakukan pekerjaannya dengan baik, dan kecemasan yang berlebihan dapat mengganggu individu karena bisa menghambat individu dalam menggunakan kemampuannya.
3. Aspek-aspek kecemasan melakukan presentasi
Berdasarkan penjelasan Burgoon &Ruffner (1978) mengenai aspek-aspek kecemasan dalam berkomunikasi dan penjelasan Devito (Pumamaningsih &
Utami, 1998) mengenai efektifitas terapi perilaku kognitif untuk mengurai kecemasan berbicara di muka umum, kriteria diagnostik untuk kecemasan secara umum (Cadoret & King, 1983), maka diperoleh aspek kecemasan melakukan
presentasi sebagai berikut:
a. Unwillingness
Aspek ini menjelaskan bahwa mahasiswa tidak mempunyai minat atau
keinginan untuk melaksanakan tugas melakukan presentasi. Oleh karena itu
maliasiswa selalu bersikap menghindari tugas yang ada hubungannya dengan presentasi didepan kelas
b. Takut terlibat dalam transaksi melakukan presentasi
Aspek ini menjelaskan bahwa maliasiswa yang mengalami kecemasan dalam melakukan presentasi pasti akan menghindari tugas untuk presentasi di depan kelas. Maliasiswa yang mengalami kecemasan ditandai dengan adanya rasa takut, grogi saat memulai presentasi.
c. Mempunyai perasaan-perasaan negatif dan meramalkan hasil yang negatif sebagai fungsi keterlibatannya dalam situasi melakukan presentasi
Aspek ini menjelaskan bahwa maliasiswa yang melakukan tugas untuk presentasi mempunyai perasaan-perasaan negatif seperti grogi pada saat menjelaskan makalah, khawatir dan gelisali. Perasaan negatif tersebut akan meramalkan hasil yang negatif seperti takut jika presentasinya dinilai jelek
oleh audiens.
d. Menurunkan frekuensi dan intensitas keterlibatannya dalam transaksi
melakukan presentasiAspek ini menjelaskan bahwa karena mahasiswa cemas dalam melakukan presentasi maka mahasiswa menghindari tugas presentasi
e. Reaksi diri yang berlebihan
Aspek ini menjelaskan bahwa maliasiswa yang mengalami kecemasan dalam melaksanakan tugas presentasi maka mahasiswa tersebut mempunyai reaksi diri yang berlebihan dan terdapat indikator seperti: berkeringat, jantung berdetak cepat, tangan lembab dan dingin, mulut kering, pusing, sakit kepala
ringan, rasa gatal pada tangan dan kaki, pemt mual, meriang, sering buang air kecil, diare, ketidaknyamanan pada pemt, gumpalan di kerongkongan, perasaan mengambang, pucat, dan meningkatnya rata-rata denyut nadi dan
pernapasan.
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan melakukan presentasi pada
mahasiswa
Pumamaningsih & Utami (1998) menerangkan Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan berbicara dimuka umum diantaranya yaitu:
a. Reinforcement
Menurut teori pengukuan individu belajar mengulang perilaku yang diberi pengukuh, sedangkan perilaku yang tidak diberi pengukuh cendemng dikurangi atau dihilangkan (Pumamangsih). Misalnya pada masa lalunya individu akan diberi pengukuhan apabila ia diam, dan tidak akan diberi pengukuh apabila
individu tersebut berbicara, maka individu tersebut akan menjadi anak yangpendiam. Dengan demikian ia akan mengalami hambatan dalam memperoleh ketrampilan untuk berbicara secara sukses (Pumamaningsih). Pada masa dewasanya ia akan menghindari situasi presentasi karena proses belajar yang dialami pada masa lalunya. Apabila ia dituntut untuk melakukan presentasi, maka akan timbul konflik, yaitu antarakoditioning untuk tetap diam dan adanya tekanan
untuk melakukan presentasi didepan kelas (Pumamaningsih)b. Skill Acquisition
Teori skala menganggap bahwa individu mengalami kecemasan ketika
berbicara di muka umum khususnya melakukan presentasi, karena ia gagalmengembangkan ketrampilan yang perlu untuk presentasi dengan sukses (Pumamaningsih).
c. Peniruan (Modelling)
Teori peniruan menganggap bahwa kecemasan melakukan presentasi di muka umum dapat berkembang karena adanya imitasi dengan orang lain yang dialami individu dalam interaksi sosial, (Pumamaningsih). Misalnya ada temen yang cemas dan grogi saat akan memulai presentasi di depan kelas dan itu akan mempengaruhi mahasiswa lainnya yang akan melakukan presentasi sehingga mengalami kecemasan.
d. Pikiran yang tidak Rasional (Irrasional Thinking)
Pandangan teori kognitif menganggap bahwa tidak ada peristiwa yang menimbulkan individu merasa cemas ketika berbicara di muka umum, tetapi kecemasan tersebut lebih disebabkan oleh keyakinan-keyakinan mereka yang tidak rasional tentang suatu peristiwa yang ada hubungannya dengan berbicara dimuka umum tersebut (Pumamaningsih).
B. EFIKASI DIRI AKADEMIK
1. Pengertian efikasi diri
Bandura mendefinisikan efikasi diri sebagai perkiraan seseorang tentang kemampuannya untuk mengatur dan melaksanakan serangkaian tmdakan yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu tugas tertentu. Mekanisme evaluasi diri secara kognitif berpengaruh terhadap perilaku, misalnya outcome expectancy.
Individu dapat saja mempercayai bahwa perilaku tertentu membuahkan
konsekuensi tertentu, akan tetapi apabila individu mempunyai keraguan yang besar terhadap kemampuannya, maka informasi tentang konsekuensi itu akan berpengaruh pada perilakunya. Hal ini pula yang menjadi alasan mengapa efikasi diri mempakan prediktor perilaku yang lebih baik dari pada outcome expectancy.
Keyakinan individu bahwa dia dapat melaksanakan suatu tugas dengan baik akan menentukan perilaku atau tindakan yang benar-benar dilakukan individu tersebut,seberapa besar usaha yang dilakukan dan seberapa besar ketahanan perilaku tersebut untuk mencapai tujuan akhir. Penilaian akan efikasi diri mempakan salah sam faktor personal yang menjadi perantara dalam interaksi antara faktor perilaku dan faktor lingkungan. Efikasi diri yang dipersiapkan oleh individu dapat mempakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam performansi yang akan datang dan pada gilirannya dapat pula menjadi faktor yang ditentukan oleh pola keberhasilan-kegagalan performansi yang pernah dialami.
Keyakinan yang kuat tentang kemampuan individu sangat menentukan usahanya untuk mencoba mengatasi situasi yang sulit (Christianingsih, 2001)
Efikasi diri dapat disimpulkan sebagai keyakinan khusus yang berkenaan dengan pelaksanaan suatu tugas dan melibatkan kepercayaan seseorang bahwa ia mampu untuk melakukan suatu tindakan tertentu pada suatu situasi tertentu.
Kepercayaan ini muncul akibat pengalaman individu atas perilakunya dan perilaku orang lain (vicarious experience) pada situasi yang sama atau hampir
sama pada masa lalu
Berdasarkan definisi-definisi tersebut, didapat bahwa efikasi diri
mempakan perkiraan dan keyakinan individu tentang sejauh mana kemampuan
yang dimilikinya dalam melakukan tugas dan tindakan tertentu untuk mencapai
hasil yang diinginkan.
2. Pengertian efikasi diri akademik
Pengertian efikasi diri akademik menerangkan keyakinan tentang suatu kemampuan untuk mempelajari atau melakukan tindakan untuk mencapai tingkatan tujuan yang berkaitan dengan akademik. (Pajares 1996 &Schunk 1995)
3. Aspek-aspek efikasi diri akademik
Efikasi diri mempakan keyakinan kliusus berkenaan dengan pelaksanaan suatu tugas tertentu. Keyakinan seseorang terhadap kemampuan untuk melakukan suatu tugas tergantung pada dua hal, perkiraan tentang kesukaran tugas dan perkiraan tentang kecakapan individualnya untuk berhadapan dengan tugas
tersebut.
Bandura (1997) mengemukakan 3 dimensi efikasi diri yang digunakan sebagai dasar bagi pengukuran terhadap efikasi diri individu. Dimensi-dimensi
efikasi diri tersebut adalah : Tingkat besaran (Level), Luas bidang perilaku (Generality), Tingkat kekuatan (Strength). Aspek efikasi diri akademik mengacu
pada teori Bandura (1997) terdiri dari 3 aspek, yaitu:
a. Tingkatbesaran (level)
Aspek ini mengacu pada tingkat kesulitan tugas. Efikasi diri akademik
pada setiap mahasiswa berbeda-beda. Suatu tugas dirasa mudah bagi seorang
mahasiswa belum tentu mudah bagi mahasiswa lainnya, jadi kemampuan dalam
melaksanakan tugas perkuliahan ada yang merasa mudah, sedang, sulit sesuai
dengan kemampuan masing-masing mahasiswa. Mahasiswa akan menghindari
mengerjakan suatu tugas yang sulit yang berada diluar batas kemampuan yang dirasakan, aspek ini mempunyai implikasi terhadap pemilihan tingkah laku yang akan dicoba dan dihindari sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh setiap
mahasiswa.
b. Luas bidang perilaku (generality)
Aspek ini berhubungan dengan luas bidang tugas yang dilakukan. Jadi mahasiswa dalam mengerjakan tugas kuliah dipengamhi oleh jenis tugas yang akan dilakukan dan seberapa keras usahanya untuk menyelesaikan tugas tersebut atau luas bidang tingkah laku yang dimiliki mahasiswa dan im dipengamhi oleh tingkat kesamaan tugas, kemampuan behavioral, affective, kondisi situasional, karekteristik orang kepada siapa perilaku tersebut diarahkan.
c. Tingkat kekuatan (strenght)
Aspek ini berkaitan dengan tingkat kemantapan mahasiswa terhadap keyakinan untuk sukses dalam mengerjakan tugas kuliah dengan baik dan harapan
untuk mendapatkan nilai yang memuaskan. Harapan yang lemah akan mudah
digoyahkan dan harapan yang kuat akan mendorong mahasiswa untuk tetap bertahan dan bersemangat dalam mengerjakan tugas kuliah. Kemantapanpengharapan untuk mendapatkan nilai yang baik akan menentukan ketahanan dan
kesulitan mahasiswa dalam usahanya. Aspek ini berkaitan langsung dengan aspek level, semakin berat tugas kuliah maka semakin lemah keyakman mahasiswa untuk menyelesaikan tugas kuliah tersebut.Menurut Bandura (Christianingsih 2001), efikasi diri berkembang diperoleh dari empat sumber utama, yaitu:
a. Pengalaman keberhasilan (Enactive attainment)
Pengalaman keberhasilan ini memberikan pengamh yang besar terhadap efikasi diri karena didasrkan pengalaman secara nyata. Pengalaman keberhasilan akan meningkatkan efikasi diri individu dalam mengerjakan tugas yang sama dan pengalaman kegagalan akan menurunkan efikasi diri
individu.
b. Pengalaman orang lain (Vicarious attainment)
Pengalaman terhadap keberhasilan orang lain yang memiliki kemampuan sebanding dalam mengerjakan suatu tugas tertentu akan menurunkan efikasi
diri individu
c. Persuasi verbal (Verbal persuasion)
Persuasi verbal ini digunakan untuk meyakinkan individu bahwa mereka
memiliki kemampuan untuk mencapai suatu apa yang mereka inginkan.Individu yang diyakinkan secara verbal bahwa mereka memiliki kemampuan
untuk menyelesaikan tugas cenderung akan bemsaha lebih keras untuk mencapai sukses. Persuasi verbal akan meningkatkan perkembangan dari
kemampuan efikasi diri individu.d. Kondisi fisiologis (Physiological state)
Individu akan mendasarkan informasi mengenai kondisi psikologis mereka untuk menilai kemampuannya. Ketegangan fisik dalam situasi yang menekan
dipandang individu sebagai suatu tanda ketidakmampuan. Individu cenderung
mengharapkan kesuksesan ketika mereka tidak diliputi ketegangan fisik,
karena ketegangan fisik akan melemahkan performansi kerja individu.
C. Hubungan antara Efikasi diri akademik dengan Kecemasan melakukan
presentasi pada mahasiswa.
Kemampuan melakukan presentasi sangat penting bagi mahasiswa di
dalam menuntut ilmu dan mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Namun
pada kenyataannya, kecemasan yang menyertai seringkali membuat hasil dan
presentasi tidak optimal atau bahkan diliindari oleh mahasiswa.
Rasa cemas yang dialami ini seringkali disebabkan karena adanya kekhawatiran akan dinilai negatif atau diacuhkan. Mahasiswa memerlukan efikasi diri akademik agar dapat mengatasi kecemasan saat melakukan presentasi.
Dengan adanya efikasi diri akademik, mahasiswa akan memiliki keyakinan bahwa dia mampu menyampaikan suatu informasi bempa presentasi dengan baik dan menampilkan diri dengan baik. Rasa optimis ini akan menimbulkan rasa aman dalam presentasi sehingga rasa cemas yang biasa mengganggu efektivitas
melakukan presentasi bisa diatasi.
Menurut Bandura, yang didukung oleh beberapa penelitian, efikasi din
akan mempengaruhi perasaan, pikiran dan perbuatannya. Berangkat dari sisi
perasaan, efikasi diri yang rendah ada hubungannya dengan depresi, kecemasan
dan ketidak berdayaan. Individu tersebut kurang menghargai dirinya dan memiliki
pikiran pesimistik tentang prestasi dan perkembangan personalnya. Sisi pikiran,
keyakinan yang kuat dan kemampuan diri membentu proses-proses kognitif dan
kinerja individu dalam berbagai seting, p^ngambilan kepurusan dan prestasi
akademik. Ketika sampai persiapan melakukan tindakan, kognisi-kognisi yang
berhubungan dengan diri individu itu menjadi komponen-komponen utama dari
proses motivasi. Motivasi ini yang menentukan pilihan, tindakan, besarnya usaha,
daya tahan dalam tugas dan tindakan kontrol individu.
Jika seseorang merasa cemas dalam melakukan presentasi dimuka umum baik secara formal maupun informal, maka yang bersangkutan akan merasakan kesulitan dalam menyampaikan materi presentasi ataupun menerima pertanyaan-
pertanyaan dari audien, sehingga sering kali dirinya takut untuk mengawali presentasi, tidak taliu hams berbicara apa, merasa tegang, tidak berani berbicara, ataupun bahkan menghindari situasi komunikasi. Faktor kepribadian khususnya efikasi diri diduga dapat mempengaruhi kecemasan seorang mahahasiswa dalam
melakukan presentasi dimuka umum. (Marwati, 2001)
Mahasiswa dalam melaksanakan tugas kuliah khususnya melakukan
presentasi untuk dapat berhasil dengan baik sangat dipengamhi oleh seberapa keras usahanya untuk menyelesaikan tugas tersebut dan jenis tugas yang akan dilakukan, luas bidang tingkah laku yang dimiliki mahasiswa sangat dipengaruhi oleh tingkat kesamaan tugas misalnya tugasnya sama yaitu melakukan presentasi dan itu berkaitan dengan teori peniruan, yang menganggap bahwa kecemasan
melakukan presentasi dapat berkembang karena adanya imitasi dengan orang lain yang dialami individu dalam interaksi sosial, mahasiswa akan merasa cemas dalam melakukan presentasi karena faktor imitasi temannya yang cemas saat
melakukan presentasi.
Ketika mahasiswa melaksanakan tugas melakukan presentasi dipengaruhi
tingkat kemantapan mahasiswa terhadap keyakinan untuk sukses dalam
mengerjakan tugas kuliah dengan baik dan harapan untuk mendapat nilai yang
memuaskan dan biasanya kegagalan mahasiswa dalam melaksanakan tugas khususnya melakukan presentasi dipengaruhi oleh pikiran yang tidak rasional atau inasional thinking, mahasiswa mempunyai keyakinan-keyakinan yang tidak rasional seperti takut jika tidak diperhatikan saat melakukan presentasi, takut dinilai jelek oleh reman dan itu menyebabkan tingkat kemantapan dan keyakinan mengerjakan tugas kuliah khususnya melakukan presentasi menjadi tidak sukses
yang mengalami kecemasan. c
Efikasi diri akademik pada setiap mahasiswa berbeda-beda, untuk melaksanakan tugas kuliah khususnya melakukan presentasi juga berbeda, ada mahasiswa yang merasa mudah, sedang dan sulit, biasanya mahasiswa akan menghindari tugas tersebut jika berada diluar batas kemampuannya, itu sangat dipengaruhi oleh teori pengukuhan, yaitu individu belajar mengulang perilaku yang diberi pengukuh, sedang perilaku yang tidak diberi pengukuh cenderung dikurangi, misalnya pada masa lalunya mahasiswa akan diberi pengukuh apabila ia diam, dan tidak diberi pengukuh apabila berbicara, maka mahasiswa tersebut menjadi seorang yang pendiam dengan demikian mengalami hambatan dalam
melaksanakan tugas melakukan presentasi.
Penelitian tentang hubungan efikasi diri dengan kecemasan komunikasi
telah banyak dilakukan seperti: Penelitian yang pemah dilakukan oleh Siska
(1996) tentang hubungan kepercayaan diri dengan kecemasan komunikasi
interpersonal pada mahasiswa. Penelitian serupa pemah dilakukan oleh Marwati
(2001) mengenai hubungan kepercayaan diri dengan kecemasan komunikasi pada
mahasiswa tahun awal Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.
Dan juga penelitian yang dilakukan oleh Christianningsih, (2001) tentang hubungan antara efikasi diri dengan kecemasan berkomunikasi dengan wisatawan pada pramu sajirumah makan di kawasan jalan legian kuta.
Berdasarkan uraian tersebut maka diketahui semakin tinggi efikasi diri
akademik mahasiswa, maka tingkat kecemasan melakukan presentasi pada mahasiswa semakin rendah dan sebaliknya semakin rendah efikasi diri akademik mahasiswa, maka tingkat kecemasan melakukan presentasi pada mahasiswa
semakin tinggi.
D. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan negatif antara efikasi diri akademik dengan kecemasan melakukan presentasi pada mahasiswa. Semakin tinggi efikasi diri akademik pada mahasiswa, maka kecemasan melakukan presentasi pada mahasiswa semakin rendah, sebaliknya semakin rendah efikasi diri akademik maka kecemasan melakukan presentasi pada mahasiswa semakin
tinggi.
A. Identifikasi Variabel Penelitian
Variabel Tergantung : Kecemasan melakukan presentasi
Variabel Bebas : Efikasi Diri Akademik
B. Definisi Operasional Variabel Penelitian
Untuk menghindari kesalahpahaman dan membatasi mang lingkup pennasalahan, maka dalam penelitian ini perlu diajukan batasan operasional
variabel-variabel penelitian secara jelas:1. Kecemasan melakukan presentasi
Kecemasan melakukan presentasi pada mahasiswa yang dimaksud dalam
penelitian adalali sejauhmana mahasiswa memperlihatkan perasaan cemas dan tertekan ketika melakukan kegiatan yang memaparkan informasi sedemikian mpa agar dimengerti dan mudah diingat oleh audiens. Aspek-aspek yang tercakup dalam kecemasan melakukan prestasi padapenelitian ini meliputi aspek-aspek: (a) Unwillingness; (b) Takut terlibat dalam transaksi melakukan presentasi; (c)
Mempimyai perasaan negatif dan meramalkan hasil yang negatif sebagai fungsi keterlibatannya dalam situasi melakukan presentasi; (d) Menumnkan frekuensi dan intensitas keterlibatannya dalam transaksi melakukan presentasi; (e) Reaksi
diri yang berlebihan.29
Kecemasan melakukan presentasi pada maliasiswa akan diukur dengan menggunakan skala kecemasan melakukan presentasi pada mahasiswa yang
dibuat sendiri oleh penulis berdasarkan skala kecemasan berbicara dimuka umumoleh Devito (Pumamaningsih & Utami, 1998). Kecemasan melakukan presentasi diketahui dengan skor yang diperoleh subjek setelah mengisi skala kecemasan melakukan presentasi. Semakin tinggi skor yang diperoleh semakin tinggi kecemasan melakukan presentasi pada mahasiswa. Semakin rendali skor yang diperoleh semakin rendali kecemasan melakukan presentasi pada maliasiswa.
2. Efikasi Diri Akademik
Efikasi diri akademik adalali sejauhmana mahasiswa memenuhi keyakinan terhadap kemampuan untuk mempelajari atau melakukan tindakan untuk mencapai tingkatan tujuan yang berkaitan dengan akademik. Aspek-aspek yang tercakup dalam efikasi diri akademik pada penelitian ini meliputi aspek-aspek: (a) Tingkat besaran (level); (b) Luas bidang perilaku (generality); (c)Tingkat kekuatan (Strength). Efikasi diri akan diukur dengan menggunakan skala efikasi diri akademik yang dibuat sendiri oleh penulis berdasarkan teori Efikasi diri menumt Bandura (1997). Efikasi diri akademik diketahui dengan skor yang diperoleh subjek setelah mengisi skala Efikasi diri akademik. Semakm tinggi skor yang diperoleh semakin tinggi efikasi diri akademik. Semakin rendali skor yang
diperoleh semakin rendah efikasi diri akademik.
C. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah maliasiswa UII Fakultas Psikologi yang masih aktif mengikuti kuliah, dan setidaknya pernah melakukan presentasi
minimal satu kali.
D. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan untuk mengukur kecemasan melakukan presentasi pada maliasiswa, efikasi diri akademik dalam penelitian ini adalali skala. Alasan penggunaan skala adalali seperangkat pemyataan yang ada dalam skala berisikan pemyataan yang mengungkapkan aspek-aspek afektif seperti minat dan sikap. Skala ini digunakan dengan anggapan bahwa subjek adalali orang yang paling tahu tentang dirinya; apa yang dirasakan oleh subjek adalah benar dan dapat dipercaya; dan interpretasi subjek terhadap pernyataan- pernyataan yang diajukan kepadanya. Skala mempakan alat yang dapat mengambil data, karena seperangkat pemyataan yang ada dalam skala mempakan pemyataan yang secara logis berhubungan dengan masalah penelitian. Dalam penelitian ini skala yang digunakan ada dua, yaitu:
1 Skala kecemasan melakukan presentasi
Setiap butir sakala kecemasan melakukan presentasi terdiri dari empat
jawaban yaitu sangat sesuai (SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS), dan sangat tidak
sesuai (STS). Skor untuk setiap butir berlaku 1 sampai dengan 4. Cara pemberian
skor untuk tiap jawaban terhadap butir pemyataan favorabel adalah 4 untuk
pilihan sangat sesuai (SS), 3 untuk pilihan sesuai (S), 2 untuk pilihan tidak sesuai
(TS), dan 1 untuk pilihan sangat tidak sesuai (STS). Sebaliknya skor untuk tiap
jawaban terhadap butir pemyataan tidak favorabel adalah 1 untuk pilihan sangat sesuai (SS), 2 untuk pilihan sesuai (S), 3 untuk pilihan tidak sesuai (TS), dan 4
untuk pilihan sangat tidak sesuai (STS).Tabel 1
Alat ukur kecemasan dalam melakukan presentasi. sebelum uji coba
Butir favorable Butir Unfavorable Dimensi
Nomor butir Jumlah Nomor butir Jumlah
Unwillingness 1,2,3,5, 10, 11, 12,
13,14,
9 4, 6, 7, 8, 9,
15
6
Takut terlibat dalam 16, 17, 18, 6 19, 20, 24, 4
transaksi melakukan 21,22,23 25
presentasi
Mempunyai perasaan 26, 27, 28, 7 30,31,35 3
negatif dan meramalkan 29, 32, 33, hasil yang negatif sebagai 34
fungsi keterlibatannya
dalam situasi melakukan presentasi
Menumnkan frekuensi dan 36, 37, 38, 5 39, 40, 43, 4
intensitas keterlibatannya 41,42 44
dalam transaksi melakukan presentasi
Reaksi diri yang berlebihan 45, 46, 47, 48, 49, 53, 54, 55, 56,
57
10 50,51,52,
58, 5% 60
6
37 23
2. Skala efikasi diri akademik
Setiap butir skala efikasi diri terdiri dari 4 kategori jawaban, yaitu: Sangat
sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), Sangat Tidak Sesuai (STS). Skor untuk
setiap butir berkisar dari 1 sampai dengan 4. Cara pemberian skor untuk tiap
jawabanterhadap butir pertanyaan favorabel adalah 4 untuk pilihan Sangat Sesuai
(SS), 3 untuk pilihan Sesuai (S), 2 untuk pilihan Tidak Sesuai (TS), dan 1 untuk
pilihan Sangat Tidak Sesuai (STS). Sebaliknya skor untuk tiap jawaban terhadap
butir pemyataan tidak favorabel adalali: 1 intuk pilihan Sangat Sesuai (SS), 2 untuk pilihan Sesuai (S), 3 untuk pilihan Tidak Sesuai (TS), dan 4 untuk pilihan
Sangat Tidak Sesuai (STS).
Tabel 2
Alat ukur efikasi diri akademik. sebelum uji coba
Butir favorable Butir Unfavorable
Dimensi
Nomor butir Jumlah Nomor butir Jumlah
Besaran atau level 5, 11,15, 41,44
5 9, 13,16,
24, 25, 26, 35,39
8
Generality 2,3,7,8,
12, 14, 18, 22,27,36, 40,43
12 1, 17,20, 30,31,38,
42
7
Model sosial 4,6, 10,23,
28, 29, 32, 33,37
9 19,21,34 3
26 18
E. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur
Sebelum alat ukur digunakan dalam penelitian, alat ukur tersebut hams
memenuhi syarat-syarat sebagai alat ukur yang baik, yaitu valid dan reliable.
Validitas skala adalah skala tersebut mampu mengukur apa yang ingin diukur
dengan cermat dan tepat. Reliabilitas skala adalah skala tersebut mempunyai konsistensi dalam pengukurannya sebagai alat pengumpul data. Syarat tersebut untuk menghindari kemungkinan terdapatnya unsur-unsur yang menyesatkan di
dalam alat ukur itu yang dapat mempengaruhi hasil penelitian.1. Validitas alat ukur
Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dalam melaksanakan fungsi ukurnya. Suatu tes atau instrument pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut, sedangkan tes yang menghasilkan
data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran dikatakan sebagai test yang
memiliki validitas rendali. Suatu alat ukur yang valid, tidak sekedar mampu mengungkapkan data dengan tepat akan tetapi juga hams memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut (Azwar, 1997)Seleksi terhadap aitem-aitem yang digunakan dalam penelitian ini
dilakukan dengan cara menghitung koefisiensi korelasi antara skor pada aitem
yang bersangkutan dengan skor total skala, dengan melihat indeks daya bedaaitem dapat ditentukan aitem-aitem yang gugur dan aitem-aitem yang layak di gunakan dalam penelitian. Teknik yang digunakan adalah korelasi product
moment dari Pearson. Perhitungan validitas skala dalam penelitian ini menggunakan bantuan program komputer Statistical package for Social Science (SPSS)for Windows 11.02. Reliabilitas alat ukur
Reliabilitas mempakan terjemahan dari kata reliability yaitu sejauh mana
hasil pengukuran dapat dipercaya. Reliabilitas juga menunjukkan sejauh mana
hasil pengukuran tetap konsisten bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih
terhadap gejala yang sama dan dengan alat ukur yang sama. Hasil pengukuran
dapat dipercaya hasilnya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran
terhadap kelompok subjek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama, selama
aspek yang diukur dalam diri subjek memang belum berabah. Relatif sama berarti
tetap adanya toleransi terhadap perbedaan kecil diantara hasil beberapa kali pengukuran. Bila perbedaan itu sangat besar dari waktu ke waktu, maka hasil pengukuran tersebut tidak dapat dipercaya dan dikatakan tidak reliable (Azwar,1997)
Reliabilitas alat pengumpul data dapat dilihat dari koefisien reliabilitasnya.
Pengujian koefisien reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi alpha yang dikembangkan oleh Cronbach, dan untuk pengujian koefisien reliabilitasnya dilakukan dengan menggunakan bantuan program komputer statistical Packagefor Sosial Science (SPSS)for Windows 11.0
F. Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan adalah metode statistik. Metode statistik dipergunakan dengan pertimbangan bahwa metode ini mempakan suatu cara ilmiah yang dipersiapkan untuk mengumpulkan, menyusun, menyajikan dan menganalisa data penyelidikan yang berwujud angka-angka
Teknik statistik yang digunakan dalam menganalisis data penelitian ini adalah teknik statistik korelasi product moment dari Pearson. Teknik ini digunakan karena dalam penelitian ini mencari korelasi antara variabel tergantung dengan variabel bebas. Proses analisisnya dilakukan dengan menggunakan bantuan program komputer statistical Package for Sosial Science (SPSS) for
Windows 11.0
Tujuan dilakukannya analisis data adalah untuk memudahkan dalam
pembacaan data hasil penelitian yang masih bempa data kasar. Metode analisis
data dalam penelitian ini adalah metode kuantitatifdengan menggunakan statistik.A. Orientasi Kancah dan Persiapan
1. Orientasi Kancah
Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Psikologi
Unversitas Islam Indonesia Yogyakarta. Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia berdiri pada taliun akademik 1995/1996 yang mempakan realisasi dari
Rencana Induk Pengembangan (RIP) UII taliun 1997-2008. Pembukaan FakultasPsikologi pada taliun tersebut dititikberatkan pafra partisipasi UII dalam mendukung kebijaksanaan pemerintah tentang pengembangan sumber daya
manusia.
Pemilihan mahasiswa Fakultas Psikologi UII sebagai subjek penelitian karena mahasiswa fakultas psikologi sering mendapatkan tugas dari dosen untuk presentasi di depan kelas, oleh karena itu subjek penelitian sangat sesuai dengan topik penelitian. Penelitian ini difokuskan pada mahasiswa Fakultas Psikologi UII. Beberapa alasan penulis memilih mahasiswa psikologi UII sebagai subjek penelitian karena UII sendiri mempakan universita"s swasta ternama yang membawa nilai-nilai dan identitas keislaman sehingga menjadi suatu universitas yang memiliki kekhasan. Kekhasan ini menjadikan UII berbeda dari yang universitas terkenal lainnya di Yogyakarta. Kelebihan Fakultas Psikologi UII dari universitas lain karena Fakultas Psikologi UII menawarkan mata kuliah khas,
yaitu Psikologi Islami sebagai ciri kefakultasan.37
Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini karena ingin membahas tentang kecemasan melakukan presentasi pada mahasiswa fakultas Psikologi UII, proses belajar mengajar di Psikologi masih terdapat banyak dosen yang kurang memperhatikan keaktifan mahasiswanya jadi mahasiswa hanya mendengarkan dosen menerangkan saja sehingga ketika mahasiswa dibagi tugas untuk melakukan presentasi banyak maliasiswa yang masih mengalami kecemasan. Di fakultas Psikologi UII juga terdapat mata kuliah seminar dimana mata kuliah tersebut sangat mengharapkan maliasiswa untuk aktif mengemukakan pendapat dan menjawab pertanyaan atau melakukan presentasi di depan kelas tetapi kendalanya karena keterbatasan waktu tidak semua mahasiswa bisa melakukan presentasi sehingga hanya sebagian mahasiswa yang melakukan presentasi didepan kelas
Mahasiswa psikologi UII juga diharapkan dan dididik supaya dapat menjadi sarjana yang bertaqwa, berahlak, terampil, berilmu amaliah dan beramal ilmiah. Maka penulis memilih mahasiswa psikologi UII sebagai subjek penelitian.
Alasan penulis memilih mahasiswa psikologi UII selain yang telah dikemukakan diatas adalah untuk mempermudah perijinan penelitian.
2. Persiapan Penelitian a. Persiapan Administrasi
Penulis membuat surat permohonan ijin melakukan penelitian di Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia sebelum melaksanakan penelitian. Ijin melakukan penelitian dapat diperoleh dengan mudah karena penulis adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia.
b. Persiapan Alat Ukur
Sebelum dilakukan untuk pengambilan data yang sebenamya, terlebih dahulu dilakukan hams tahap uji coba untuk mengetahui validitas dan reliabilitas aitem-aitem yang ada dalam alat ukur tersebut. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalali dua buah skala yang bempa skala kecemasan presentasi dan skala efikasi diri akademik. Alat ukur ini diujicobakan pada subjek yang memiliki karakteristik yang sama dengan subjek penelitian. Skala yang disebarkan
sebanyak 60 bundel.
1) Skala Kecemasan melakukan presentasi
Skala kecemasan melakukan presentasi yang digunakan untuk mengukur kecemasan presentasi dalam penelitian ini disusun sendiri oleh penulis berdasarkan teori yang diungkapkan oleh Burgoon & Ruffner (1978), Purnamangsih & Utami (1998) dan Cadoret & King (1983). Skala kecemasan presentasi terdiri dari 60 aitem yang memuat beberapa aspek, yaitu:
Unwillingness, takut terlibat dalam transaksi melakukan presentasi, mempunyai
perasaan negatif dan meramalkan hasil yang negatif sebagai fungsi keterlibatannya dalam situasi melakukan presentasi, menurunkan frekuensi dan
intensitas keterlibatannya dalam transaksi melakukan presentasi, reaksi diri yangberlebihan.
2) Skala Efikasi diri akademik
Skala efikasi diri akademik terdiri dari 44 aitem yang memuat beberapa
aspek, yaitu: Tingkat besaran (level), Luas bidang perilaku (generality), Tingkat
kekuatan (Strength)3) Hasil Uji Coba Alat Ukur
Uji coba alat ukur ini diberikan pada mahasiswa UII. Pengambilan data uji coba dilakukan sendiri oleh peneliti dengan cara mendatangi beberapa kost.
Adapun pengambilan data uji coba ini dilakukan pada tanggal 24 Juni sampai 28 Juni 2005 dan pengujian ini diberikan pada 60 orang maliasiswa UII.
Berdasarkan data yang di peroleh melalui tahap uji coba alat ukur, selanjutnya dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Perhitungan untuk menguji validitas dan reliabilitas dilakukan dengan program SPSS 11.0 for Windows a. Skala kecemasan melakukan presentasi
Untuk skala kecemasan melakukan presentasi terdiri dari 60 aitem yang diujicobakan pada 60 subjek. Hasil yang diperoleh adalah 50 aitem yang valid dan 10 aitem yang gugur. Aitem yang gugur adalali nomor 16, 19, 20, 30, 31, 39, 40, 43, 44, 49 dianggap gugur karena koefisien korelasi totalnya tidak mencapai angka diatas r= 0,3. Dengan demikian skala kecemasan presentasi terdiri dari 50 aitem, dengan koefisien total bergerak dari r = 0,327 sampai r = 0,772 dan koefisien reliabilitasnya adalah 0,957. Karena keterbatasan aitem yang tidak dapat mengungkap aspek yang ada maka digunakan validitas konten sehmgga hasil dari aitem yang diatas dikurangi lagi menjadi 33 aitem yang valid dan 17 aitem yang gugur 2, 5, 7, 29, 32, 33, 34, 45, 46, 47, 48, 50, 52, 53, 55, 58, 60. Dengan koefisien reliabilitasnya 0,9423. Jadi jumlah aitem untuk penelitian sebanyak 33 aitem. Sebaran aitem skala kecemasan berpresentasi pada mahasiswa dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 3
Distribusi Butir skala Kecemasan melakukan presentasi Pada Mahasiswa setelah
uji coba Aspek
Unwillingness
Takut terlibat dalam transaksi melakukan
presentasi Mempunyai perasaan negatif
dan meramalkan
hasil yang negatif sebagai fungsi keterlibatannya dalam situasi melakukan
presentasi
Menumnkan frekuensi dan intensitas
keterlibatannya dalam transaksi melakukan
presentasi Reaksi diri yang berlebihan
Total
Butir Favorable Butir Unfavorable Jumlah Butir
Nomor Butir
1(1), 2, 3(2), 5, 10(7), 11(8), 12(9), 13(10), 14(11) 16, 17(13), 18(14), 21(15), 22(16), 23(17)
26(20), 27(21), 28(22), 29, 32, 33,
34
36(24), 37(25), 38(26), 41(27), 42(28)
45, 46, 47,48,49, 53, 54(30), 55, 56(31), 57(32)
37
Nomor Butir Sahih Gugur 4(3), 6(4), 7, 8(5),
9(6), 15(12) 19,20,24(18), 25(19)
30,31,35(23)
39, 40, 43, 44
12
50, 51(29), 52, 58, 5 59(33), 60
23 33
11
27