• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROPOSAL SKRIPSI INTERAKSI SOSIAL ANAK USIA 9 TAHUN DALAM PEMBELAJARAN DARING DI DESA SUGIHAN RW 01. Oleh: Ristianika

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROPOSAL SKRIPSI INTERAKSI SOSIAL ANAK USIA 9 TAHUN DALAM PEMBELAJARAN DARING DI DESA SUGIHAN RW 01. Oleh: Ristianika"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

1

PROPOSAL SKRIPSI

INTERAKSI SOSIAL ANAK USIA 9 TAHUN DALAM PEMBELAJARAN DARING DI DESA SUGIHAN RW 01

Oleh:

Ristianika 201733168

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MURIA KUDUS 2021

(2)

2 ABSTRAK

Ristianika. 2021. Interaksi Sosial Anak Usia 9 Tahun Dalam Pembelajaran Daring Di Desa Sugihan Rw01. Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muria Kudus. Dosen Pembimbing (1) Siti Masfuah, S.Pd., M.Pd. (2) Ika Ari Pratiwi. S.Pd., M.Pd.

Kata Kunci : Pembelajaran Daring, Anak Usia 9 Tahun, Interaksi Sosial

Berdasarkan anak di Desa Sugihan Rw 01 Kecamatan Winong Kabupaten Pati masih kurang dalam melakukan interaksi sosial anak dalam hal melaksanakan pembelajaran daring dirumah. Tujuan penelitian ini adalah (1) Menganalisis bentuk interaksi sosial anak usia 9 tahun dalam pembelajaran daring di Desa Sugihan Rw01, (2) Menganalisis faktor-faktor interkasi sosial anak usia 9 tahun dalam pembelajaran daring di Desa Sugihan Rw01. Permasalahan dalam penelitian ini adalah interaksi sosial dalam pembelajaran daring beberapa anak di Desa Sugiha Rw 01 masih kurang. Hal ini dibuktikan dengan observasi menunjukkan bahwa anak-anak sekolah dasar menggunakan handphone untuk melakukan pembelajaran daring, sehingga anak usia 9 tahun sudah bisa mengakses handphone untuk melakukan pembelajaran daring dirumah. Mereka menggunakan handphone untuk mengerjakan tugas yang sudah diberikan oleh guru melalui Whatsaap atau google clasroom sehingga anak menggunakan handphone untuk mengerjakan tugas dari guru dan tidak untuk berinteraksi sosial kepada temannya. Guru hanya membagikan link ke Grup Whatsaap untuk melihat materi yang ada di YouTube, setelah itu siswa mengerjakan soal melalui panduan materi yang sudah diberikan oleh guru.

Interaksi sosial merupakan proses dimana kehidupan sosial tanpa interaksi sosial tidak mungkin ada kehidupan bersama. Pada masa kanak-kanak yang sering disebut sebagai masa perkelompokan. Interaksi sosial terdiri dari kontak sosial yang berarti menunjukkan kesediaan atau keinginan yang kuat untuk berhubungan dengan orang lain, atau tidaknya komunikasi.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yang akan dilaksanakan di Desa Sugihan Rw 01 Kecamatan Winong Kabupaten Pati dengan subjek penelitian 8 orang tua anak, 8 anak sekolah dasar (kelas IV). Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancara dan dokumentasi. Pengecekan keabsahan data menggunakan penelitian triangulasi sumber dan tiangulasi pengumpulan data. Analisis data yang digunakan yaitu Reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/berifikasi data.

(3)

3 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pendidikan merupakan hal yang penting bagi manusia dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Sifatnya mutlak untuk setiap orang baik di lingkup keluarga maupun bangsa dan negara. Perkembangan suatu bangsa bisa dilihat dari bagaimana perkembangan pendidikan dari bangsa tersebut. Pendidikan merupakan upaya secara sadar dan terancam untuk mencerdaskkan dan mengembangkan potensi pesesrta didik. Azhari (2013:20) menyatakan bahwa pendidikan menentukan perkembangan dan perwujudan daya manusia khususnya pembangunan sumber daya manusia yang cerdas, cakap, kreatif, beriman dan berahklak mulia. Pendidikan sekolah dasar adalah pendidikan awal dari anak untuk mengembangkan pengetahuan (Muhroji & Yusrina, 2018:1). Kegiatan pembelajaranpada dasarnya merupakan upaya mengarahkan anak didik ke dalam proses belajar sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan apa yang diharapkan sehingga dalam kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan smestinya.

Pandemi covid-19 terbitlah pengumuman kejadian luar biasa maka terjadi sebuah kekacauan khususnya dalam bidang pendidikan, sekolah-sekolah diliburkan kegiatan belajar mengajar di sekolah menjadi terganggu, pembelajaran awalnya tatap muka untuk sementara tidak bisa dilakukan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka perlu adanya perubahan desain model pada kegiatan belajar mengajar untuk menghindari pembelajaran dengan tatap muka sebagai upaya untuk mengurangi penyebaran wabah virus covid-19. Selama pandemi berlangsung, kini pembelajaran daring telah dilakukan hampir di penjuru dunia (Goldschmidt, 2020:88). Selama pandemi covid-19 berlabgsung setiap sekolah melaksanakan kegiatan pendidikan dengan pembelajaran jarak jauh.

Pendidikan memiliki peran penting dalam kehidupan seseorang yang nantinya menjadi bekal dalam menghadapi tentang masa depan yang lebih besar

(4)

4

dan penuh dengan persaingan. Pendidikan merupakan pendewasaan peserta didik agar dapat mengembangkan bakat, potensi dan ketrampilan yang dimiliki dalam menjalani kehidupan, oleh karena itu pendidikian didesain untuk memberikan pemahaman serta dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Pendidikan juga dapat menjadi penentu dari nilai dan kualitas hidup individu. Seberapa besar peran pendidikan dalam kehidupan, ada baiknya pendidikan di Negara ini dapat dibandingkan secara maksimal dan memberikan berbagai manfaat pada setiap individu.

Ramanda, dkk (2017: 66) menyatakan bahwa peserta didik merupakan tujuan dan subjek pendidikan. Peserta didik dapat dikatakan sebagain tujuan pendidik karena perubahan sikap merupakan tujuan pendidikan. Peserta didik dikatakan sebagai subjek pendidikan karena merekalah inti dari pelaksanaan pendidikan, meskipun tanpa pendidik mereka masih bisa belajar. Peserta didik merupakan faktor utama dalam pendidikan, untuk mencapai tujuan pembelajaran guru perlu memahami karakteristik dari masing-masing peserta didik karena peserta didik memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

Setiadi (dalam Melehioriyusni, dkk. 2013: 102) mengungkapkan bahwa interaksi sosial yang dilakukan harus sesuai dengan nilai-nilai sosial yang harus menghargai antara individu satu dan lainnya. Setiap individu memiliki kebutuhan untuk mencari teman. Tanpa adanya interaksi sosial, maka dalam kehidupan akan ada hubungan yang baik dengan orang lain. Interaksi sangat beguna untuk menelaah dan mempelajari banyak masalah didalam kehidupan manusia.

Widiyanti (2005:35) manusia merupakan mahkluk individu dan mahkluk sosial, sebagai mahkluk individual mempunyai dorongan atau motifasi untuk mengadakan interaksi dengan dirinya sendiri, sedangkan mahluk sosial mempunyai dorongan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain. Adanya dorongan atau motif sosial pada manusia maka manusia akan mencari orang lain untuk mengadakan hubungan atau mengadakan interaksi sosial.

(5)

5

Interaksi sosial akan terjadi apabila ada komunikasi. Soekanto (2012:61) dengan adanya komunikasi, sikap-sikap dan perasaan-perasaan suatu kelompok manusia atau perseorangan dapat diketahui oleh kelompok-kelompok lain atau orang-orang lainnya. Komunikasi juga merupakan salah satu syarat terjadinya kerja sama yang perlu dikembangkan pada diri peserta didik sehingga kemampuan interaksi sosial dapat berkembang secara optimal. kemampuan interaksi sosial merupakan hal yang sangat penting bagi individu, dimana peserta didik dapat bergaul dengan orang lain, diantaranya dengan teman sebaya maupun dengan orang tua yang lebih dewasa yang ada disekitar lingkunganya.

Kondisi seperti ini semua guru atau tenaga pendidik diharuskan untuk mengganti pembelajaran menggunakan E-learning atau melalui media online.

Berbagai platfrom digunakan untuk melakukan pengajaran sehingga perlu di dukung dengan fasilitas pembelajaran yang baik dan pemanfaatan teknologi informasi (Rusman, 2019). Peserta didik diwajibkan untuk menggunakan alat komunikasi seperti handphone dengan bijak dan baik untuk mendukung proses pembelajaran. Pembelajaran daring dengan tatap muka melalui aplikasi menjadi hal yang paling menguntungkan guna memutuskan penyebaran Covid-19 serta menjagakesehatan keselamatan jiwa guru dan peserta didik dalam mengetahui ilmu pengetahuan dan dapat mengimplementasikan kebijakan kurikulum 2013 (Darmalaksana, dkk 2020)

Situasi pandemi covid-19 seperti ini, pembelajaran daring diatur melalui surat edaran kemendikbud mengenai pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Covid-19 terdapat kebijakan yaitu pembelajaran daring guna memberikan seluruh pengalaman belajar yang sangat bermakna, tidak menjadi beban dalam menyelesaikan semua kurikulum untuk kelulusan, pembelajaran dititik beratkan pada pengembangan kecakapan hidup yaitu tentang pandemi covid-19 dan pembelajaran tugas dapat divariasi antara pesrta didik, mengikuti bakat dan minat serta keadaan masing-masing termasuk meninjau kembali kesenjangan fasilitas belajar yang dimiliki dirumah (Kemendikbud, 2020).

(6)

6

Proses pembelajaran secara daring (online) ini memberikan banyak sekali dampak, mualai dari dampak positif hingga dampak negatif. Pembelajaran secara daring (online) guru dituntut untuk mempersiapkan pembelajaran sebaik dan sekreatif mungkin dalam memberikan suatu materi. Terutama dikalangan Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) karena proses pembelajaran daring ini tidaklah mudah. Proses pembelajaran daring ini tidak hanya melibatkan guru dan siswa saja, melainkan orang tua juga dituntut untuk terlibat dalam proses pembelajaran daring. Orang tua dengan latar belakang pendidikan yang tinggi mungkin akan sangat mudah beradaptasi dalam proses pembelajaran secara daring, namun orang tua dengan latar belakang pendidikan yang minim mungkin jauh lebih sulit untuk beradaptasi dengan proses pembelajaran secara daring ini dikarenakan minimnya pengetahuan teknologi. Jaringan internet yang lemah juga menjadi salah satu faktor yang dapat menghambat proses pembelajaran daring.

Proses pembelajaran daring ini akan berjalan secara lancar jika kualitas jaringan internet tersebut lancar dan stabil. Proses pembelajaran daring (online) ini membuat guru kesulitan dalam menyampaikan materi pembelajaran, dikarenakan tidak semua peserta didik berantusiasi dalam mengikuti proses pembelajaran secara daring (online).

Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti di Desa Sugihan Rw01 pada bulan Desember 2020, menunjukkan bahwa peserta didik sekolah dasar tepatnya pada peserta didik kelas IV mempunyai interaksi sosial yang sangat rendah, hal tersebut ditujukkan dengan adanya interaksi sosial dalam pembelajaran daring.

Mereka tidak pernah interaksi sosial dengan guru saat ada tugas yang di kirim lewat handphone/ Whatsaap, bahkan yang berinteraksi adalah orang tua, maka peserta didik tersebut sangat rendah dalam berinteraksi sosial saat pembelajaran daring. Guru memberikan penjelasan kepada peserta didik melalui link YouTube untuk melihat materi pembelajaran yang diberikan guru kepada siswa untuk dikerjakan dirumah masing-masing. Maka dari itu, peserta didik sangat rendah dalam berinteraksi dengan guru. Peserta didik tidak paham materi karena, tidak ada penjelasan atau interaksi sosial antar guru dan peserta didik saat pembelajaran

(7)

7

daring berlangsung. Hal ini berdampak pada peserta didik, maka dari itu interaksi sosial anak saat pembelajaran daring sangatlah penting bagi peserta didik dan guru, anak perlu dipelajari bahwa adanya interaksi sosial sangat penting.

Peneliti menggunakan penelitian kualitatif untuk mengetahui adanya interaksi sosial anak dalam pembelajaran daring pada peserta didik usia sekolah dasar.

Peneliti melakukan penelitian mengenai interaksi sosial anak usia 9 tahun dalam pembelajaran daring di Desa Sugihan Rw01. Penelitian yang dilakukan oleh Yuliasti (2017), yang berjudul “Interaksi sosial anak Slow Learning di Sd Negeri Semarang 5 kecamatan godean kabupaten seleman”. Dari penelitian yang dilakukan oleh alifi yuliasti Peneliti menunjukakan bahwa interasi sosial anak Slow Learning RA dan DV dalam beberapa aspek hampir sama dengan anak rata- rata. Interaksi antara individu dengan individu ditunjukkan melalui kegiatan piket, bermain, dan pinjam meiminjam alat tulis, menaggapi teman yang berbicara dan berbuat kasar dan menyalahkan orang lain bila berbuat salah. Berdasarkan penelitian orang lain yang di teliti oleh Sanusi (2020) menjelaskan bahwa sebagai orang tua siswa harus bisa menyadari betapa beratnya tanggung jawab guru dalam membentuk karakter anak, orang tua harus mendukung atas program sekolah/madrasah dan mempercayakan sepenuhnya kepada guru atau madrasah banyak peneliti temukan hal-hal menarik ketika terjadi proses pembelajaran dengan menggunakan IT atu pembelajaran daring di masa covid-19 ini, betapa orang tua kerepotan dalam mengajar dan mengerjakan tugas-tugas anaknya sehingga orang tua siswa bergeming yang aneh-aneh terhadap guru mata pelajaran dan merasa punya beban tambahan karena banyaknya tugas dari guru-gurunya, sehingga interaksi antar anak dan orang tua menjadi tidak sejalan.

Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, peneliti tertarik untuk meneliti dan membahas masalah tersebut dengan judul “Interaksi Soisal anak usia 9 tahun dalam pembelajaran daring di Desa Sugihan Rw01” alasan peneliti mengambil data ntuk meneliti kelas IV tersebut masih kurang adanya interaksi sosial dalam pembelajaran daring peserta didik degan guru. Peneliti megambil judul tersebut karena peneliti ingin meningkatkan lebih lanjut tentang interaksi

(8)

8

sosial anak dalam pembelajaran daring agar lebih efektif untuk diterapkan, hal tersebut juga dapat membantu calon guru sekolah dasar agar dapat memahami dan meningkatkan adanya interaksi sosial anak dalam pembelajaran daring sangat penting bagi peserta didik.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, sebagaimana yang telah diuraikan diatas, maka masalah yang akan dicoba untuk dipecahkan dalam penelitian ini adalah interaksi sosial siswa dalam pembelajaran daring di Desa Sugihan Rw01. Oleh karena itu masalah ini dirumuskan sebagai berikut:

1.2.1 Bagaimana bentuk interaksi sosial anak usia 9 tahun dalam pembelajaran daring di Desa Sugihan Rw01?

1.2.2 Bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi intraksi sosial anak usia 9 tahun dalam pembelajaran daring di Desa Sugihan Rw01?

1.3 Tujuan Masalah

Berdasarkan latar belakang sebagaimana yang telah diuraikan diatas maka peneliti bertujuan sebagai berikut:

1.3.1 Menganalisis bentuk interaksi sosial anak usia 9 tahun dalam pembelajaran daring di Desa Sugihan Rw01.

1.3.2 Menganalisis faktor-faktor interkasi sosial anak usia 9 tahun dalam pembelajaran daring di Desa Sugihan Rw01.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Mafaat Teoritis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kejelasan teoritis dan pemahaman tentang perilaku interaksi sosial anak dengan teman sebayannya.

b. Dapat memperkaya keilmuan dan metodologi penelitian pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.

(9)

9

c. Dapat memberikan suatu paradigma baru yaitu apabila tercipta interaksi sosial yang baik antara anak dengan teman sebaya maupun siswa dengan guru maka akan menghasilkan atktivitas bermain yang optimal.

1.4.2 Manfaat Praktis

a. Bagi siswa, diharapkan hasil penelitian dapat meningkatkan interaksi sosial anak dengan guru dalam pembelajaran daring berlangsung, dan dapat berjalan dengan baik.

b. Bagi guru, diharapkan hasil penelitian dapat memberikan pengetahuan lebih banyak mengenai interaksi sosial dalam pembelajaran daring.

c. Bagi orang tua, diharapkan dapat siswa bisa melakukan interaksi sosial dalam pembelajaran daring dengan guru, agar siswa dapat memami materi yang akan dilaksanakan.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini mengambil di Desa Sugihan Rw01. Desa Sugihan Rw01 tersebut memiliki latar belakang interaksi sosial kurang dalam pembelajaran daring. Fokus penelitian ini yaitu interaksi sosial dalam pembelajaran daring pada anak yang ada di Desa Sugihan Rw01. Data yang digunakan adalah data kualitatif yeng diperoleh melalui observasi dan wawancara. Subjek dalam penelitian ini adalah guru kelas IV sebagai informan sekunder, siswa kelas IV yang berjumlah 5 peserta didik dan orang tua sebagai informan primer.

1.6 Desfinisi Oprasional

Untuk mengoprasikan variabel penelitian, maka perlu dirumuskan definisi operasional sebagai berikut:

1.6.1 Interaksi Sosial

Interaksi sosial menurut peneliti adalah hubungan timbal balik atau hubungan antara individu yang satu dengan individu yang lain atau sebaliknya sehingga terjadi hubungan yang saling timbal balik.

(10)

10

Interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua individu atau lebih, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki, dimana kelakuan individu yang lain atau sebaliknya.

1.6.1.1 Indikator Interaksi Sosial

Aspek yang diteliti dalam penelitian ini diambil dari syarat-syarat kemampuan interaksi sosial. Adapun syarat interaksi sosial yaitu adanya kontak sosial dan interaksi sosial. Adapun syarat interaksi sosial yaitu adanya kontak sosial dan adanya komunikasi. Indiktor dari interaksi sosial yaitu (1) percakapan, (2) saling pengertian, (3) bekerjasama, (4) keterbukaan, (5) empati, (6) memberikan dukungan atau motivasi, (7) rasa positif, (8) adanya kesamaan dengan orang lain.

1.6.2 Anak Usia 9 Tahun

Anak memasuki usia 9 tahun, perkembnagan anak telah berada pada tahap awal transisi dari masa kanak-kanak menuju remaja. Perkembangan ini meliputi sisi fisik, psikologi, kognitif, hingga bahasa, selain itu perekembangan usia 9 tahun makin menunjukkan bahwa anak mulai perlahan melepaskan diri drai orang tua untuk.

1.6.3 Pembelajaran Daring

Pembelajaran daring atau e-learning merupakan suatu pembelajaran yang memanfaatkan teknologi dengan menggunakan internet dimana dalam proses pembelajarannya tidak dilakukan dengan face to face menggunakan media elektronik yang mampu memudahkan sisiwa untuk belajar kapanpun dan dimanapun.

Pembelajaran daring merupakan program penyelenggaraan kelas pembelajaran dalam jangka untuk menjangkau kelompok target yang masif dan luas.

(11)

11 1.6.2.1 Indikator Pembelajaran Daring

Teori yang digunakan peneliti dalam penelitian seperti yang dikemukakan Jirasak (2014:36-37) dalam jurnalnya yang berjudul Developing Of Indicators Of An E-Learning Benchmarking Model For Higer Education Instutions bahwa terdapat beberapa indikator e-learning, ditemukan bahwa ada 3 indikator yang cocok dengan pembelajaran daring kombinasi bahwa dalam pembelajaran berbasis online yaitu ada proses pembelajaran, kemampuan peserta didik, adanya pengukuran dan evaluasi.

(12)

12 BAB II

LANDASAN TEORI 2.1 Interaksi Simbolik

2.1.1 Pengertian Interaksi Simbolik

Konsep teori interaksi simbolik ini diperkenalkan oleh Herbert Blumer sekitar tahun 1939. George Herbert Mead menjelaskan bahwa yang dikenal sebagai penggagas utama teori interaksi simbolik, dengan demikian teori interaksi simbolik merupakan teori yang menekankan pada peran komunikasi dalam membentuk dan ,mengelola hubungan interpersonal dan kelompok sosial.

Lingkup sosisologi, idea ini sebenarnya sudah lebih dahulu dikemukakan George Herbert Mead, tetapi kemudian dimodifikasi oleh blumer guna ,mencapai tujuan tertentu. Teorti ini memiliki idea yang baik, tetapi tidak terlalu dalam dan spesifik sebagaimana diajukan G.H. Mead.

Interaksi simbolik didasarkan pada ide-ide tentang individu dan interaksinya dengan masyarakat. Esensi interaksi simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri manusia yakni komuniukasi atau pertukaran simbol yang diberi makna. Prespektif ini menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungki8nkan manusia membentuk dan mengatur perilaku meraka dengan mempertimbangkan ekspetasi dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspetasi orang lain yang menjadi mitra interaksi mereka. Definisi yang mereka berikan kepada orang lain, situasi, objek dan bahkan diri mereka sendiri yang menentukan perilaku manusia. Konteks ini, makna dikontruksikan dalam proses interaksi dan proses tersebut bukanlah suatu medium netral yang memungkinkan kekuatan-kekuatan sosial memainkan perannya, melainkan justru merupakan substansi sebenarnya dari organisasi sosial dan kekuatan sosial.

Menurut teori simbolik, kehidupan sosial pada dasrnya adalah interaksi manusia yang menggunakan simbol-simbol, mereka tertarik pada cara manusia menggunakan simbol-simbol yang merepresentasiakan apa yang mereka

(13)

13

maksudkan untuk berkomunikasi dengan sesamanya dan juga pengaruh yang diti,mbulkan dari penafiran simbol-simbol tersebut terhadap perilaku pihak-pihak yang terlihat dalam interaksi sosial.

Secara ringkas Teori Interaksionisme simbolik didasarkan pada premis- premis berikut:

1. Individu merespon suatu simbolik, mereka merespon lingkungan termasuk obyek fisik (benda) dan obyek sosial (perilaku manusia) berdasarkan media yang dikandung kompenen-kompenen lingkungan tersebut bagi mereka.

2. Makna adalah produk interaksi sosial, karena itu mereka tidak melihat pada obyek, melainkan dinegoisasikan melaui penggunaan bahasa, negoisasi itu dimungkinkan karena manusia mempu mewarnai segala sesuatu (bukan hanya obyek fisik, tindakan atau peristiwa itu) namun juga gagasan yang abstrak.

3. Makna yang interpretasikan individu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan berubahan situasi yang ditemukan dalam interaksi sosial, perubahan interpretasi dimungkinkan karena individu dapat melakukan proses mental, yakni berkomunikasi dengan dirinya sendiri.

2.1.2 Konsep Interaksi Simbolik

Mead mengambil tiga konsep kritis yang diperlukan dan saling mempengaruhi satu sama lain untuk mentusun sebuah teori inteaksionalisme simbolik. Tiga konsep itu dan hubungan di antara ketiganya merupakan inti pemikiran Mead, sekaligus key words dalam teori tersebut. Interaksionalisme sombolis secara khusus menjelaskan tentang bahasa, interaksi sosial dan refleksivitas.

2.1.2.1 Mind (pemikiran)

Pikiran yang didefinisikan Mead sebagai proses percakapan seseorang dengan dirinya sendiri, tidak ditemukan di dalam diri individu, pikiran adalah

(14)

14

fenomena sosial. Pikiran muncul dan berkembang dalam proses dan merupakan bagian integral dan proses sosial. Proses sosial mendahului pikiran, proses sosial bukanlah produk dari pikiran, jadi pikiran juga didefinikan secara fungsional ketimbang secara substansif. Karakteristik istimewa sesuai berarti memberi respon terorganisir tertentu, dan bila seseorang mempunyai respon itu dalam dirinya, mempunyai apa yang kita sebut pikiran. Pikiran dapat dibedakan dari konsep logis lain seperti konsep ingatan dalam karya Mead melalui kemampuannya menanggapi komunitas secara menyeluruh dan mengembangkan tanggapan menanggapi komunis secara menyeluruh dan mengembangkan tanggapan terorganisir.

Simbol juga digunakan dalam (proses) berpikir subyektif, terutama simbol-simbol bahasa. Hanya saja simbol itu tiak dipakai secara nyata, yaitu melalui percakapan internal. Serupa dengan itu, secara tidak kelihatan individu itu menunjukkan pada dirinya sendiri mengenai diri atau identitas yang terkandungt dalam reaksi-reaksi orang lain terhadap perilakunya. Maka, kondisi yang dihasilkan adalah konsep diri yang mencakup kesadaran diri yang dipusatkan pada diri sebagai obyeknya.

2.1.2.2 Self (diri)

The Self atau diri, menurut Mead merupakan ciri khas dari manusi. Diri adalah kemampuan untuk menerima diri sendiri sebagai sebuah obyek dari prespektif yang berasal dari diri orang lain, atau masyarakat tapi diri juga merupakan kemampuan khusus sebagai subjek. Diri adalah dimana orang memberikan tanggapan terhadap apa yang ditunjukan kepada orang lain dan dimana tanggapannya sendiri menjadi bagian dari tindakannya, di mana tidak hanya mendengarkan dirinya sendiri, tetapi juga merespon dirinya dirinya sendiri, berbicara dan menjawab dirinya, sehingga kita mempunyai perilaku dimana individu menjadi objek untuk dirinya sendiri, karena itu diri adalah aspek lain dari proses sosial menyeluruh dimana individu adalah bagiannya.

(15)

15

Mead menyadari bahwa manusia sering terlibat dalam suatu aktivitas yang didalamnya terkadung konflik dan kontradiksi internal yang mempengaruhi perilaku yang diharakpan. Konflik intrapersonal yang menggambarkan konflik antara nafsu, dorongan, dan lain sebagainya dengan keinginan yang terinternalisasi. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan self yang juga mempengaruhi konflik intrapersonal,, dirinya adalah posisi sosial.

Orang yang mempunyai posisi tinggi cenderung mempunyai harga diri dan citra diri yang tinggi selain mempunyai pengalaman yang berbeda dari orang dengan psosisi sosial berbeda.

2.1.2.3 Society (masyarakat)

Pada tingkat paling umum, Mead menggunakan istilah masyarakat (society) yang berarti proses sosial tanpa henti yang mendahului pikiran dan diri.

Masyarakat penting perannya dalam membentuk pikiran dan diri. Menurut mead masyarakat mencerminkan sekumpulan tanggapan terorganisir yang di ambil alih oleh individu dalam bentuk “aku” (me). Pengertian individu ini masyarakat mempengaruhi mereka, memberi mereka kemampuan memiliki kritik diri, untuk mengendalikan diri mereka sendiri.

Dalam konsep teori Herbert Mead tentang interaksionisme simbolik terdapat prinsip-prinsip dasar yang dapat disimpulkan sebagai berikut:

a. Manusia dibekali kemampuan berpikir, tidak seperti binatang b. Kemampuan berpikir ditentukan oleh interaksi sosial individu

c. Berinteraksi sosial, manusi belajar memahami simbol-simbol beserta makna yang memungkinkan manusia untuk memakai kemampuan berpikirnya

d. Makna dan simbol memungkinkan manudsia untuk bertindak (khusus dan sosial) dan berinteraksi

e. Manusia dapat mengubah arti dan simbol yang digunakan saat berinteraksi berdasarkan penafsiran mereka terdapat situasi

(16)

16

f. Manusi berkesempatan untuk mela,kukan modifikasi dan perubahan karena beremampuan berinteraksi dengan diri yang hasilnya adalah peluang tindakan dan pilihan tindakan

g. Pola tindakan dan interaksi yang saling berkaitan akan membentuk kelompok bahkan masyarakat. Pada intinya perhatian utama dari teori interaksi simbolik adalah tentang terbentuknya kehidupan masyarakat melalui proses interaksi serta komunikasi antar individu dan antar kelompok dengan menggunakan simbol-simbol yang dipahami melalui proses belajar.

2.2 Interaksi Sosial

2.2.1 Pengertian Interaksi Sosial

Salah satu sifat manusia adalah sebagai mahkluk sosial disamping sebagai mahkluk individual. Sebagai mahkluk inidividual manusia mempunyai dorongan atau motif mengadakan hubungan dengan dirinya sendiri. Mahkluk sosial manusia mempunyai dorongan untuk mengadakan hubungan degan orang lain, manusia mempunyai dorongan sosial. Murray (dalam Istiana, 2002: 35) bahwa manusia mempunyai motif atau dorongan sosial. Dmeikian juga apa yang dikemukakan oleh clelland (dalam Istiana, 2002:35) dengan adanya dorongan atau motif sosial pada manusia maka manusia akan mencari orang lain untuk mengadakan hubungan atau mengadakan interaksi. Dengan demikian maka akan terjadilah interaksi antara manusia dengan manusia lainnya.

Ahmadi (2009:49) interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua individu atau lebih, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki, dimana kelakuan individu yang lain atau sebaliknya.Interaksi adalah proses dimana orang-orang berkomunikasi saling mempengaruhi dalam pikiran tindakan. Pada dasarnya manusia dalam kehidupan sehari-hari tidaklah lepas dari hubungan satu dengan yang lain, dimana kelakuan antara individu saling mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individuyang lain atau sebaliknya (Setiadi dkk 2003; 95).

(17)

17

Walgito (dalam Dayakisni, 2009: 119) menyatakan interaksi sosial merupakan suatu hubungan antara individu satu dengan individu lainnya dimana individu yang satu dapat mempengaruhi individu yang lain sehingga dapat hubungan yang saling timbal balik. Gillin dan Gillin (dalam Soekanto, 2012: 55) menyatakan interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan. Antar kelompok- kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia.

Young dan Raymood (dalam Soekanto, 2012: 54) menyatakan interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial karena tanpa interaksi sosial, tak akan mungkin ada kehidupan bersama. Berdasarkan kajian teori diatas peneliti menyimpilkan bahwa interaksi sosial adalah hubungan timbal balik manusia anatra individu satu dengan individu yang lain baik secara sendiri maupun kelompok.

Berdasarkan uraian diatas, maka interaksi sosial dapat disimpulkan sebagai hubungan timbal balik atau hubungan antara individu yang satu dengan individu yang lain atau sebaliknya sehingga terjadi hubungan yang saling timbal balik.

2.2.2 Syarat-Syarat Terjadinya Interaksi Sosial

Ada syarat pokok terjadinya interaksi sosial, senada dengan pendapat Daykisni dan Hudaniah (2009: 119) yang menyatakan bahwa interaksi sosial tidak mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat yaitu adanya kontak sosial dan komunikasi. Yang peertama adalah kontak sosial; kontak sosial dapat terjadi antara individu denga individu, individu dengan kelompok dan antara kelompok dengan kelompok. Abdulsyani (1994: 154) “ kontak sosial adalah hubungan antara satu orang atau lebih, melalui percakapan dengan saling mengerti tentang maksud dan tujuan masing-masing dalam kehidupan masyarakat.

Kontak sosial dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu kontak primer dan kontak sekunder. Kontak primer terjadi apabila seseorang mengadakan hubungan secara langsung seperti: tatap muka, saling senyum, berjabat tangan dan

(18)

18

lain-lain. Sedangkan kontak sekunder yaitu kontak tidak langsung atau memperlukan perantara seperti: menelpon dan berkirim surat. Dalam percakapan tersebut agar kontak sosial dapat berjalan dengan baik, harus ada rasa saling pengertian dan kerjasama yang baik antara komunikator dan komunikan.

Dari penjelasan diatas terlihat ada tiga kompenen pokok dalam kontak sosial yaitu: (1) percakapan, (2) saling pengertian. (3) kerjasama antara komunukator dan komunikan. Ketiga kelompok tersebut merupakan kemampuan interaksi sosial yang harus dimiliki oleh individu. Ketiga kompenen pokok dalam kontak sosial itu akan dijadikan indikator dalam penyesuaian instrumen yang akan digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini.

Yang kedua adalah adanya komunikasi; sementara komunikasi baik verbel maupun non verbel merupakan saluran untuk menyampakan perasaan ataupun gagasan dan sekaligus sebagai mendia untuk dapat menafsirkan atau memahami pikiran atau perasaan oeang lain. Menurut Vito (dalam Sugiyo 2005: 4) menyatakan bahwa ciri-ciri komunikasi meliputi lima ciri yaitu: keterbukaan, empati, dukungan, rasa positif, dan kesamaan. Adapun penjelasan sebagai berikut:

1) Keterbukaan (Opennes)

Komunikasi antara ptibadi mempunyai ciri keterbukaan maksudnya adanya kesediaan kedua pihak untuk membuka diri, mereaksi kjepada orang lain, merasakan pikiran dan poerasaan orang lain. Keterbukaan ini sangat penting dalam komunikasi antar pribadi agar komunikasi menjadi lebih bermakna dan efektif. Keterbukaan ini berarti adanya niat dari masing-masing pihak yang dalam hal ini antar komunikator dan komunikan saling memahami dan membuka pribadi masing-masing.

2) Empati

Dalam momunikasi antar pribadi perlu ada empati kari komunikator, hal ini dapat dapat dinyatakan bahwa komunikasi antar pribadi akan berlangsung secara kondusif apabila pihak komunikator menunjukkan rasa empati kepada komunikan. Empati dapat diartikan sebagai menghayati

(19)

19

perasaan orang lain apa yang dirasakan orang lain. Menurut Surya (2003) (dalam Sugiyo 2005: 5) empati adalah sebagai suatu kesediaan untuk memahami orang lain secara paripurna baik yang nampak maupun yang terkandung, khususnya dalam aspek perasaan, pikiran dan keinginan orang lain sedekat mungkin. Secara psikologi apabila dalam komunikasi menujukkan empati pada komunikan akan menunjang berkembangnya suasana hubungan yang didasari atas saling pengertian, permainan, dipahamiu, dan adanya kesamaan diri.

3) Dukungan

Dalam komunikasi antar pribadi perlu dimunculkan sikap memberi dukungan dari pihak komunikator agar komunikasi mau berpartisipasi dalam komunikasi. Vito (1989) yang dikutip Sugiyo (2005: 5) secara tegas menyatakan keterbukaan dan empati tidak akan bertahan lama apabila tidak didukung oleh suasana yang mendukung. Hal ini berarti bahwa dalam komunikasi antar pribadi perlu adanya suasana yang mendukung atau memotivasi, lebih-lebih dari kmomunikator.

4) Rasa positif

Rasa positif dalam komunikasi antar pribadi ditunjukkan oleh sikap dari komunikator khusunya sikap positif. Sikap positif dalam hal ini berarti adanya kecenderungan bertindak diri pada komunikator untuk memberikan penilaian yang positif terhadap konmunikan. Dalam komunikasi antar pribadi sikap positif ini ditunjukkan oleh sekurang- kurangnya dua aspek/unsur yaitu: pertama, komunikasi antar pribadi hendaknya memberikan nilai positif dan komunikator. Maksud peenyataan ini yaitu apabila dalam komunikasi, komunikator menunjukkan sikap positif terhadap komunikan maka komunikan juka akan menunjukkan sikap positif. Sebaliknya juga komunikator menunjukkan sikap negatif maka komunikan juga akan bersikap negatif.kedua perasaan positif pada diri komunikator. Hal ini berarti bahwa situasi dalam komunikasi antar pribadi hendaknya menyenangkan. Apabila kondisi ini tidak muncul maka komunikasi akan terhambat dan bahkan akan terjadi pemutusan hubungan.

(20)

20 5) Kesamaan

Kesamaan menunjukkan kesataraan antara komunikator dan komunikan.

Dalam komunikasi antar pribadi kesetaraan ini merupakan ciri yang penting dalam keberlangsungan komunikasi dan bahkan keberhasilan komunikasi antar pribadi. Apabila dalam komunikasi antar pribadi komunikator merasa mempunyai derajat kedudukan yang lebih tinggi daripada komunuikan maka dampaknya akan ada jarak dan ini berakibat proses komunikasi akan terhambat. Namun apabila komunikator memposisikandirinya sederajat dengan komunikan maka pihak komunikan akan merasa nyaman sehingga proses komunikan akan berjalan dengan baik dan lancar.

Melakukan komunikasi dengan orang lain, harus ada rasa keterbukaan, empati, memberikan dukungan atau motivasi, rasa positif pada orang lain, dan adanya kesamaan atau kesetaraan dengan orang lain.

Penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa syarat-syarat yang dibutuhkan dalam interaksi sosial adanya kontak sosial dan adanya komunikasi, baik itu kontak primer maupun kontak sekunder dan komunikasi verbal maupun komunikasi non verbal. Apabila individu mampu memenuhi syarat-syarat yang ada dalam interaksi sosial, maka akan terjadi hubungan yang baik dengan orang lain. Syarat-syarat indikator dapat dijadikan sebagai indikator dalam penyusunan skala interaksi sosial.

Berdasarkan teori-teori tentang interaksi sosial diatas maka, peneliti menyimpulkan bahwa interaksi sosial adalah hubungan antara individu yang satu dengan individu yang lain, dimana individu yang satu mempengaruhi individu yang lainatau sebaliknya sehingga terjadi hubungan saling timbal balik.

2.2.3 Faktor-faktor Interaksi Sosial

Ahmadi (2009: 57) menyatakan, “Faktor yang mendasari berlangsungnya interaksi sosial, baik secara langsung maupun secara bergabungan meliputi: (1)

(21)

21

faktor imitasi, (2) faktor sugesti, (3) faktor identifikasi, (4) faktor simpati. dari penjelasan interaksi sosial tersebut yaitu:

1. Faktor imitasi

Faktor imitasi ini telah diuraikan oleh Tarde (dalam Ahmadi 2007: 52) yang beranggapan bahwa seluruh kehidupan sosial itu sebenarnya berdasarkan pada faktror imitasi saja. Hal tersebut misalnya pada anak yang sedang belajar bahasa, seakan-akan mereka mengimitasi dirinya sendiri, mengulang bunyi kata-kata, melatih fungsi lidah, dan mulut untuk berbicara.

Kemudian ia mengimitasikan kepada orang lain, dan memang orang sukar belajar bahasa tanpa mengimitasi orang lain. Bahkan tidak hanya bahasa saja, tetapi juga tingkah laku tertentu, cara memberi hormat, cara berterimakasih, cara memberi isyarat, dan lain-lain kita pelajari pada mula-mulany mengimitasi.

Peran faktor imitasi dalam interaksi sosial yang mempunyai segi-segi yang negatif yaitu:

a. Mungkin yang diimitasi itu salah, sehingga menimbulkan kesalahan kolektif yang meliputi jumlah manusia yang besar.

b. Kadang-kadang orang yang mengimitasi sesuatu tanpa kritik, sehingga dapat menghambat perkembangan kebiasaaan berpikir kritis.

Faktor imitasi mempunyai peran yang sangat penting dalam proses interaksi sosial. Salah satu segi positifnya adalah bahwa imitasi mendorong seseorang untuk mengetahui kaidah-kaidah dan nilai yang berlaku. Namun demikian, imitasi pula mengakibatkan terjadinya hal-hal negatif misalnya, yang ditiru adalah tindakan-tindakan yang menyimpang. Selain itu imitasi dapat melemahkan atau bahkan mematikan perkembangan daya kreasi seseorang (Soekanto: 2012: 57).

Dayakisni (2009: 120) menyatakan dampak negatif dari pola imitasi yaitu:

Apabila perilaku yang diimitasi perilaku yang salah, baik secara moral maupun hukum, sehingga diperlukan upaya yang kuat untuk menolaknya, selain itu adanya proses imitasi dalam interaksi sosial dapatnmenimbulkan kebiasaan

(22)

22

dimana orang meningimitasi sesuatu tanpa kritik. Hal ini dapat menghambat perkembangan kebiasaan berfikir kritis. Dengan kata lain adanya pemeran- pemeran imitasi dalam interaksi sosial dapat memajukan gejala-gejala kebiasaan malas berpikir kritis pada individu manusia yang mengandalkan kehidupannya.

Gerungan (2010; 64) menyatakan bahwa adapun sebelum orang mengimitasi sesuatu hal, terlebih dahulu haruslah terpenuhi beberapa syarat, yaitu:

a. Terdapatnya minat, perhatian yang cukup besar terhadap sesuatu yang ingin diimitasi

b. Sikap menjunjung tinggi atau mengagumi hal-hal yang diimitasi

c. Orang-orang juga dapat mengimitasi suatu pandangan atau tingkah laku karena hal itu mempunyai penghargaan sosial yang tinggi. Jadi seseorang mungkin mengimitasi sesuatu karena ia ingin memperoleh penghargaan sosial di dalam lingkungannya.

Peneliti menyimpulkan bahwa faktor imitasi dapat mendorong yaitu proses peniruan perilaku, sikap, penampilan orang lain. Faktor imitasi dapat mendorong seseorang untuk berperilaku positif yaitu dengan mematuhi peraturan-peraturan yang telah berlaku, selain itu dapat juga meniru perilaku negatif yaitu menyimpang dari nilai moral dan nilai etika. Contoh peniruan perilaku positif, memiliki seseorang kakak yang berprestasi disekolah bisa menjadi panutan untuk adiny. Contoh peniruan perilaku negatif, memiliki teman yang nakal cenderung akan terpengaruh oleh temannya sendiri.

2. Faktor Sugesti

Soekanto (2012: 57) menyatakan faktor sugesti berlangsung apabilla seseorang memberi pandangan atau sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima oleh pihak lain. Berlangsyngnya sugesti terjadi karena pihak yang menerima dailanda oleh emosi, menyebabkan daya berpikr terhambat.

Proses sugesti terjadi apabila orang yang memberikan pandangan adalah oreang yang berwibawa atau mungkin karena sifatnya yang otoriter. Kiranya mungkin pula bahwa sugesti terjadi apabila sebab yang memberikan pandangan atau sikap merupakan bagian terbesar dari kelompok yang bersangkutran, atau masyarakat.

(23)

23

Sugesti yang dimaksud adalah pengaruh psikis, baik yang datang dari dirinya sendiri maupun dari orang lain, baik yang datang dari dirinya sendiri maupun dari orang lain, yang pada umumnya diterima tanpa adanya daya kritik. Dayakisni (2009: 121) menyatakan, “Bahwa sugesti akan mudah terjadi bila memenuhi syarat-syarat berikut ini: (1) sugesti karena hambatan berfikir (2) sugesti karena pikiran pecah (3) sugesti karena mayoritas (4) sugesti karena minoritas (5) sugesti karena will to believer”.

Penjabaran dari syarat-syarat mudahnya terjadi sugesti yaitu:

(a) Sugesti karena hambatan berpikir

Sugesti akan diterima oleh orang lain tanpa adanya kritik terlebih dahulu.

Karena itu maka bila orang dalam keadaan bersikap kritis adalah sulit untuk menerima sugesti dari orang lain. Makin kurang daya kemampuannya memberikan kritik maka akan semakin mudah orang itu menerima sugesti dari orang lain. Dari kritik itu akan mengalami hambatan kalau individu itu dalam keadaan lemah/leleah misalnya, terutama telah berpikrnya, atau kalau individu itu terkena stimulus yang bersifat emosional, hal ini biasanya akan dapat mempengaruhi daya berpikirnya dalam arti bahwa daya berpikir akan terhalang oleh karena adanya emosi itu sendiri. Pada umumnya apabila orang terkena kesan atau stimulus yang bersifat emosional tidak dapat berfikir secara baik atau secara kritis, sengingga demikian akan mudah menerima apa yang dikemukakan oleh orang lain.

(b) Sugesti karena pikiran pecah (disosiasi)

Orang itu akan mudah juga menerima sugesti dari orang lain apabila kemampuan berpikirnya itu terpecah belah. Orang itu mengalami diasosiasi kalau orang itu dalam keadaan kebingungan karena menghadapi bermacam-macam persoalan. Karena itu orang yang sedang kebingungan pada umumnya akan mudah menerima apa yang dikemukakan oleh orang lain tanpa dipikir terlebih dahulu.

(24)

24 (c) Sugeti karena mayoritas

Dalam hal ini orang akan mempunyai kecenderungan untuk menerima suatu pandangan, pendapat atau norma-norma, dan sebagaimananya, apabila norma-norma itu mendapatkan sukungan orang banyak atau mayoritas, dimana sebagai sebagai besar dan kelompok atau golongan itu memberikan sokongan atau pendapat, pandangan-pandangan tersebut.

Orang akan merasa tersaing apabila menolak pendapat, pandangan, atau norma, dan sebagainnya yang telah mendapatkan dukungan dan mayoritas ini. Orang beranggapan oleh karena sebagian besar dari anggota telah menerimannya, maka adalah akan tersaing atau tersingkir dan mayoritas bila tidak ikut menerimanya.

(d) Sugesti karena minoritas

Orang mempunyai kecenderungan bahwa akan mudah menerima apa yang dilakukan oleh orang lain itu apabila yang memberikan itu mempunyai otoritas mengenal masalah yang disampaikan. Hal demikian akan menimbulkan suatu sikap percaya bahwa apa yang dikemukakan memang benar, karena menjadi bidangnya, sehingga hal ini akan menimbulkan suatu pendapat bahwa apa yang dikemukakan itu pastii mengandung kebaikan atau kebenaran.

(e) Bila dalam diri individu telah ada pendapat yang mendahuluinya dan pendapat ini masih dalam keadaan yang samar-samar dan pendapat tersebut searah dengan yang disugestikan itu, maka pada umumnya orang itu akan mudah menerima pendapat tersebut. Orang yang ada dalam keadaan ragu-ragu akan mudah menerima sugesti dari pihak lain. Dengan demikian sugesti itu akan lebih meyakinkan tentang pendapat yang telah ada pada yang masih dalam keadaan samar-samar itu.

Disini peneliti menyimpulkan bahwa faktor sugesti yaitu pembverian pengaruh, pandangan atau sikap seseorang kepada orang lain, sehingga orang tersebut mengikuti pandangan, pengaruh tersebut tanpa berfikir panjang tanpa adanya kritik terlebih dahulu.

(25)

25 3. Faktor identifiksi

Ahmadi (2009: 63) menyatakan identifikasi berarti dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan orang lain, baik secara lahiriah maupun batiniah. Misalnya identifikasi seseorang laki-laki untuk menjadi sama seperti ayahnya atau seseorang anak perempuan untuk menjadi samadengan ibunya. Proses identifikasi ini mula-mula berlangsung secara tidak sadar (secara dengan dirinya) kemudian irasional, dan identifikasi berguna untuk melengkapi norma-norma, cita-cita, dan pedoman-pedoman tingkah laku orang yang mengidentifikasi itu.

Soekanto (2012: 57) menyatakan identifikasi sebenarnya merupakan kesenderunga-kecenderungan atau keinginan-keinginan dalam diri seseorang pada imitasi, karena kepribadian seseorang dapat terbentuk atas dasar proses ini.

Proses identifikasi dapat berlangsung dengan sendirinya (secara tidak sadar), maupun dengan disengaja karena sering kali seseorangg memerlukan tipe-tipe ideal tertentu di dalam proses kehidupannya.

Peneliti meninyimpulkan bahwa faktor identifikasi yaitu keinginan seseorang untuk menyamakan dirinya dengan orang lain. Proses identifikasi berlangsung secara tanpa disadari ataupun dilakukan secara sengaja. Contohnya seseorang anak yang ingi menjadi penyanyi setelah dewasa karena ingin menyamai idolanya yang dilihat di acara televisi.

4. Faktor simpati

Simpati adalah perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang lain.

Simpati timbul tidak dasar logis rasional, melainkan berdasarkan penelitian perasaan seperti juga pada proses identifikasi. Bahkan orang dapat tiba-tiba merasa tertarik kepada orangf lain dengan sendirinya karena keseluruhan cara- cara bertingkah laku menarik baginya. Proses simpati dapat pula berjalan secara perlahan-lahan secara sadar dan cukup nyata dalam hubungan atau lebih orang.

Perbedaanya dengan identifikasi, doronggan utamanya adalah ingin mengikuti jejak. Mencontohkan dan ingin belajar sedangkan pada simpati, dorongan utama adalah ingin mnegerti dan ingin kerja sama. Dengan demikian simpati hanya

(26)

26

akan berlangsung dan berkembang dalam relasi kerja sama antara dua orang atau lebih, bila terdapat saling pengertian.

Dayakisni (2009: 122) menyatakan bahwa simpati merupakan suatu bentuk interaksi yang melibatkan adanya individu terhadap individu lainnya. Simpati timbul tidak berdasarkan pada pertimbangan yang logis dan rasional, melainkan berdasarkan peneliotian perasaan. Soekanto (2012: 58) menyatakan proses simpati merupakan suatu proses dimana seseorang merasa tertarik pada pihak lain. Didalam proses ini perasaan memegang peran yang penting, walaupun dorongan utama pada simpati adalah keinginan u7ntuk memahami pihak lain dan untuk bekerja sama dengannya.

Smith (dalam Ahmadi, 2009: 65) membedakan dua bentuk dasar simpati yaitu:

a. Simpati yang menimbulkan respon secara cepat (hampir seperti refleksi), misalnya:

1. Kalau kita melihat orang dipukul tongkat dengan keras kita merasa ngteri

2. Bila kita melihat pemain akrobat yang sedang berjalan diatas tali yang tinggi, maka kita merasa tegang

3. Jika melihat demonstrasi terjun payung yang tidak mengembang, kita memejamkan mata.

b. Simpati yang sifatnya lebih intelektual, artinya seseorang dapat bersimpati pada orang lain sekalipun dia tidak dapat merasakan apa yang dia rasaka. Kita akan mengucap rasa syukur dan menyatakan simpati bila seseorang berhasil dalam usahanya walaupun kita sendiri tidak berhasil atau susah.

Peneliti menyimpulkan bahwa faktor simpati yaitu proses seseorang merasa tertarik pada orang lain, sehingga merasakan apa yang dialami oelh orang lain.

Contohnya memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada teman sekolahnya.

Disini peneliti menyimpulkan semua faktor-faktor interaksi sosial meliputi faktor imitasi, faktor sugesti, faktor identifikasi dan faktor simpati. Faktor tersebut yang dapat menunjang keberhasilannya peneliti dalam melaksanaja penelitian.

(27)

27

2.2.4 Faktor-Faktor yang mempengaruhi Interaksi sosial

Interaksi sosial secara umum dapat dipengaruhi oleh perkembangan konsep diri dalam seseorang, terkhusus lagi dalam hal individu memandang positif atau negatif terhadap dirinya, sehingga ada yang menjadi pemalu atau sebaliknya akibatnya kepada masalah hubungan interaksi sosialnya. Menurut Monks dkk (2002) ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi interaksi sosial yaitu:

a. jenis kelamin. Kecenderungan laki-laki untuk berinteraksi dengan teman sebaya/sejawat lebih besar daripada perempuan.

b. Kepribadian ekstrovert. Orang-orang ekstrovert lebih komformitis daripada intovert.

c. Besar kelompok. Pengaruh kelompok menjadi makin besar bila besarnya kelompopok semakin bertambah.

d. Keinginan untuk mempunyai status. Adanya dorongan untuk memiliki status inilah yang menyebabkan seseorang berinteraksi dengan sejawat, individu akan menemukan kekuatan dalam mempertahankan dirinya di dalam perbuatan tempat status terlebih di dalam suatu pekerjaan.

e. Interaksi orang tua. Susasan rumah yang tidak menyenangkan dan tekanan dari orang tuan menjadi dorongan individu dalam berinteraksi dengan teman sejawatnya.

f. Pendidikan. Pendidikan yang tinggi adalah salah satu faktor dalam mendorong induvidu untuk interaksi, karena orang yang berpendidikan tinggi mempunyai wawasan pengetahuan yang luas, yang mendukung dalam pergaulan.

Menurut Gerungan (2006), faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya interaksi sosial yaitu:

a. Imitasi, mempunyai peran yang penting dalam proses interaksi sosial.

Salah satu segi positif dari imitasi adalah dapat mendorong seseorang untuk mematuhui kaidah dan nilai-nilai yang berlaku. Tetapi imitasi juga dapat menyebabkan hal-hal negatif, misalnya yang ditirunya adalah tindakan-tindakan yang menyimpang dan mematikan daya kreasi seseorang.

b. Sugesti, hal ini yang terjadi apabila individu memberikan suatu pandangan atau sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima pihak lain.

Berlangsungnya sugesti bisa terjadi pada pihak penerima yang sedang dalam keadaan labil emosinya sehingga menghambat daya pikirnya secara rasional. Biasanya orang yang memberi sugesti orang yang berwibawa atau mungkin yang sifatnya otoriter.

c. Identifikasi, sifatnya lebih mendalam karena kepribadian individu dapat terbentuk atau dasar proses identifikasi. Proses ini dapat berlangsung

(28)

28

degan sendirinya ataupun disengaja sebab individu memperlukan tipe-tipe ideal tertentu di dalam proses kehidupannya.

d. Simpati, merupakan suatu proses dimana individu merasa tertarik pada pihak lain. Didalam proses ini perasaan individu memegang peran penting walaupun dorongan untama pada simpati adalah keinginan untuk kerjasama.

Berdasarkan pernyataan diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa faktor- faktor yang mempengaruhi interaksi sosial yaitu intensitas bertemu dengan orang lain, jenis kelamin, kepribadian ekstrobert, besar kelompok, keinginan untuk memperolah status, interaksi denga orang tua, pendidikan, imitasi, sugesti, identifikasi dan simpati.

2.2.5 Bentuk interaksi sosial

Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerjasama (cooperation), persaingan (competetion), dan pertentangan (conflict). Suatu keadaan dapat dianggap sebagaian bentuk keempat dan interasi sosial, keempat bentuk pokok dari interaksi sosial tersebut tidak perlu merupakan kontinuitas dalam arti interaksi itu dimulai dengan adanya kerjasama yang kemudian menjadi persaingan serta memuncak menjadi pertikaian untuk akhirnya pada sampai akomodasi (Setiadi dkk 2013: 101).

Gillin dan Gillin (dalam Dayaknis 2009: 119) “menyatakan ada dua macam proses yang timbul sebagai adanya interaksi sosial, yaitu proses asosiatif dan proses diasosiatif. Proses asosiatif yakni mengarah kepada bentuk-bentuk hubungan atau gabungan seperti: (1) akomodasi (2) asimilasi (3) akulturasi.

Proses diasosisatif yakni mengarah kepada bentuk konflik seperti: (1) persaingan (2) kontraversi (3) Konflik”.

Menurut Gillin dan Gillin (Setiadi dkk 3013: 101) ada dua macam proses sosial yang timbul sebagai akibat adanya interaksi sosial, yaitu proses asosiatif dan proses diasosisatif.

a. Bentuk Interaksi Asosiatif

Bentuk interaksi asosiatif adalah kerjasama, akomondasi dan asimilasi

(29)

29 a. Kerjasama

Kerjsama ialah suatu bentuk interaksi sosial dimana orang-orang atau kelompok-kelompok bekerjasama bantu membantu untuk mencapai tuhuan bersama. Kerjasama timbulkarena orientasi orang perorangan terhadap kelompoknya dan kelompok lain (Setiadi dkk 2013: 102). Proses terjadinya kerjasama lahir apabila diantara individu atau kelompok tertentu menyadari adanyakepentingan yang sama. Tujuan-tujuan yang sama akan menciptakan kerjasama diantara individu dan kelompok yang bertujuan agar tujuan-tujuan mereka tercapai.

b. Akomodasi

Akomodasi adalah proses sosial dengan makna, pertama adalah proses sosial yang menunjuukan pada suatu keadaan yang seimbang dalam interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat. Kedua adalah menuju pada suatu proses yang sedang berlangsung, dimana akomodasi menampakkan suatu proses untuk meredakan suatu pertentangan yang terjadi pada masyarakat dan proses akomodasi merupakan proses menuju suatu tujuan untuk mencapai kestabilan.

Akomodasi dapat diartikan sebagai suatu keadaan, dimana terjadi keseimbangan dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku di dalam masyarakat (Anwar dan Adang 2013: 196).

c. Asimilasi

Asimilasi merupakan suatu proses dimana pihak-pihak yang berinteraksi mengidentifikasikan dirinya dengan kepentingan-kepentingan serta tujuan-tujuan kelompok dan merupakan pencampuran dua atau llebih budaya yang berbeda sebagai akibat dari proses sosial, kemudian menghasilkan budaya tersendiri yang berbeda dengan budaya asalnya.

Proses asimilasi menjadi penting dalam kehidupan masyarakat yang individunya berbeda secara kultural, sebab asimilasi yang baik akan

(30)

30

melahirkan budaya-budaya yang dapat diterima oleh semua anggota kelompok dalam masyarakat.

b. Bentuk Interaksi Diasosiatif

Bentuk interaksi diasosiatif adalah persaingan, pertentangan dan kontravensi.

Penjabaran dari bentuk interaksi diasosiatif tersebut adalah sebagai berikut:

a. Persaingan

Persaingan diartikan sebagai proses sosial, dimana individu atau kelompok manusia bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang ada pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum dengan cara menarik perhatian publik dengan mempertajam prasangka yang telah ada, tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan ( Sujarwanto: 2012).

b. Pertentangan

Bentuk interaksi sosial yang berupa perjuangan yang langsung dan sabar antara orang dengan orang atau kelompok dengan kelompok untuk mencapai tujuan yang sama.

c. Kontraversi

Kontravensi merupakan bentuk interaksi yang berbeda antara persaingan dan pertentangan. Kontravensi ditiadai oleh adanya ketidakpastian terhadap diri seseorang, persaan tidak suka yang disembunyikan, dan kebencian terhadap kepribadian orang, tetapi gejala- gejala tersebut tidak sampai menjadi pertentangan atau pertikaian (Setiadi dkk 2013: 103).

Partowisastro (2003) mengemukakan pendapat tentang bentuk-bentuk interaksi sosial itu pada dasarnya terbagi dalam dua proses:

a. Proses-proses asosiasi, yang terbagi menjadi:

1. Akomodasi, yaitu suatu proses penyesuaian aktivitas-aktivitas seseorang atau kelompok yang berlawan menjadi sejalan. Akomondasi

(31)

31

itu ada beberapa metode, antara lain: pendesakan, kompromis, peradilan, toleransi, konvrensi, sublimas, dan rasionaisasi.

2. Asimilasi yaitu suatu proses yang memiliki ciri pembentukan persamaan sikap, pandangan, kebiasaan, pikiran dan tindakan sehingga seseorang atau kelompok itu cenderung menjadi satu, mempunyai perhatian dan tujuan-tujuan yang sama.

3. Akulturasi, dari segi kebudayaan merupakan suatu aspek dari perubahan kebudayaan. Akulturasi itu sebagai proses dwiarah, bahwa dua masyarakat mengadakan kontak dan saling memodifikasikan kebudayaan masing-masing sampai tingkat tertentu.

b. Proses-proses diasosiatif, yang terbagi menjadi:

1. Kompetisi, merupakan suatu persaingan yang terjadi antara perorangan atau kelompok dalam mencapai dan mendapatkan suatu tujuan tertentu.

2. Kontraversi, merupakan suatu perbedaan-perbedaan pandangan, ide dan tujuan yang terjadi pada satu orang atau lebih sehingga menimbulkan pertentangan.

3. Konflik, yaitu ketegangan yang terjadi perorangan atau kelompok dikarenakan adanya perbedaan pandangan tentang suatu masalah maupun penyelesaiannya.

Berdasarkan uraian tersebut dapat diambil suatu kesimpulan bahwa interaksi sosial itu memiliki berbagai bentuk antara lain: kerjasama, persaingan, konflik, asimilasi, akulturasi dan akomodasi.

Berdasarkan teori-teori tentang interaksi sosial diatas, dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial adalah hubungan antara individu yang lain, dimana individu yang satu mempengaruhi individu yang lain atau sebaliknya sehingga terjadi hubungan saling timbal balik. Aspek yang akan diteliti dalam penelitian ini diambil dari syarat-syarat interaksi sosial yaitu adanya kontak sosial dan adanya komunikasi. Indikator dari interaksi sosial yaitu (1) percakapan, (2) saling

(32)

32

penegrtian, (3) bekerjasama, (4) keterbukaan, (5) empati, (6) memberikan dukungan dan motivasi, (7) rasa positif, (8) adanya kesamaan dengan orang lain.

2.3 Pembelajaran Daring (Pembelajaran Online) 2.3.1 Pegertian Internet

Internet (Interconected Network) menurut Maryono & Istiana (2008:3) merupakan kumpulan jaringan-jaringan komputer (Networks) sedunia yang slaing berhubungan satu sama lain. Arsyad (2014:195) yang menyebutkan bahwa pengertian internet adalah sebuah jaringan komputer yang saling terhubung dan dapat berkomunikasi satu sama lain secara global/ internasional baik melalui kabel, radio, satelit dan lain-lain. Adapun beberapa manfaat dari internet yaitu, sebagai sarana informasi, sarana komunikasi, sarana pendidikan dan sarana hiburan.

Sanjaya (2014: 216) internet merupakan sistem yang menghubungkan jaringan komputer menjadi satu kesatuan. Orang dapat saling bertukar informasi dengan orang lain tanpa harus bertatap muka secara langsung. Berdasarkan dari beberapa pernyataan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa internet merupakan sebuah jaringan yang menjadi salah satu penghubung dalam proses komunikasi dan informasi secara tidak langsung. Menurut Rusman (2014:31) terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan pemanfaatan internet dalam pendidikan terbuka maupun pembelajaran jarak jauh, diantaranya:

a. Kelebihan

Terdapat beberapa kelebihan dan manfaat e-learning, diantaranya sebagai berikut:

1. Pendidik dan peserta didik dapat dengan mudah berkomunikasi melalui fasilitas yang tersedia dari internet kapan saja tanpa dibatasi oleh jarak, tempat dan waktu

2. Peserta didik dapat mengulang kembali pembelajaran yang telah diajarkan setiap saat, karena bahan ajar telah diberikan akan tersimpan di hanphone.

(33)

33

3. Peserta didik dapat melakukan diskusi secara online untuk menambah pengetahuan atau menggali informasi.

b. Kekurangan

Walaupun memeliki kelebihan dan cenderung membantu memudahkan pembelajaran juga terdapat kekurangan, diantaranya:

1. Kurangnya interaksi sosial antara peserta didik dan pendidik bahkjan sesama guru.

2. Peserta didik menjadi berubah dari yang biasanya menggunakan metode konvensional, kini dituntut untuk mengetahui teknik pembelajaran menggunakan komputer atau handphone.

3. Peserta didik kurang mempunyai motivas dalam belajar akan cenderung gagal.

4. Tidak semua tersedia fasilitas internet.

5. Masih kurangnya tenaga yang memiliki ketrampilan dan pengetahuan tentang internet.

Pernyataan diatas dikatakan bahwa penggunaan internet dalam pendidikan memiliki dua sisi yang berbeda dimana internet akan sangat membantu proses pembelajaran apabila dilengkapi fasilitas yang juga memadai seperti tersedianya komputer/android, jaringan internet, dan memerlukan pula pegetahuan yang cukup untuk mengoprasikan dan mengaplikasikan internet dalam pembelajaran serta siswa sebaiknya diberi arahan, bimbingan dan pengawasan dalam penggunaan jaringan internet sehingga siswa tidak menyalahgunakan internet.

2.3.2 Pengertian Pembelajaran daring

Meidawati, dkk (dalam Pohan, 2020:2) pembelajaran daring learning merupakan pendidikan formal yang diselenggarakan oleh sekolah yang siswa dan guru berada dilokasi yang berbeda sehingga memerlukan sistem omunikasi interaktif untuk menghubungkan keduanya dan berbagai sumber daya yang di butuhkan didalamnya. Pembelajaran ini dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja tergantung pada ketersediaan alat pendukung yang digunakan.

(34)

34

Bates (dalam Sanjaya, 2020:52) pembelajaran daring dapat didefinisikan sebagai bentuk pendidikan jarak jauh yang penyampaian materinya dilakukan lewat internet secara synchromous atau asynhromous. Pembelajaran daring biasanya dikenal dengan e-learning, pembelajaran virtual, pembelajaran dnegan mediasi komputer, pembelajaran dengan web, dan pembelajaran jarak jauh. Istilah pembelajaran ini menyiratkan bahwas siswa dan guru tidak harus bertatap muka dalam proses pembelajaran melainkan dapat menggunakan media teknologi digital seperti komputer maupun android yang memungkinkan fleksibilitas akses.

Ibrahim (dalam Prawirdilaga 2013: 109) pembelajaran online adalah kegiatan belajar yang tidak terkait waktu, tempat dan ritme. Kehadiran guru atau pengajar, serta dapat menggunakan sarana media elektronik dan telekomunikasi.

Selanjutnya menurut Santoso dkk, (2020:2) pembelajaran daring atau biasanya dikenal dengan online learning merupakan sebuah mekanisme pembelajaran yang memanfaatkan TIK, dalam hal ini melalui internet. Salah satu keunggulan pemanfaatan teknologi ini adalah fleksibilitas kita dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari. Jika dilihat dari beberapa pengertian duaras, maka dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja dengan hanya memanfaatkan akses internet namun ini juga berarti bahwa pembelajaran sangat membutuhkan saluran internet dan komputer maupun android.

2.3.4 Manfaat Pembelajaran Daring

Kemajuan teknologi saat ini berdampak kepada semua pihak tidak terkecuali pada bidang pendidikan yang dalam penyelenggaraan begaimana menggunakan teknologi secara total sebagai media utama dalam pembelajaran daring. Dengan adanya teknologi ini dalam pendidikan sangat bermanfaat untuk mencapai efesiensi dalam pendidikan seperti efesiensi dalam waktu belajar, lebih mudah untyuk mengakses materi pembelajaran maupun seumber belajar itu sendiri. Meidawati dkk, (dalam Pohan, 2020:7) ada beberapa manfaat dari pembelajaran daring, yang dimana sebagai berikut:

(35)

35

a. Dapat membangyun komunikasi dan diskusi yang sangat efesien antara siswa dan guru.

b. Siswa dapat berinteraksi dan berdiskusi antara siswa lainnya tenpa melalui guru.

c. Dapat memudahkan interaksi antara guru, siswa dan orang tua.

d. Siswa dengan dapat mudah dan mengunduh bahan ajar tersebut.

e. Guru dapat membuat soal maupun kuis dimana dan kapan saja tanpa batas waktu.

Dari pernyataan diatas maka dapat disimpulkan bahwa dengan adanya pembelajaran daring ini sangat membatu guru dan siswa dalam proses pembelajaran yang diaman hanya perlu mempersiapkan materi bahan ajar dan membagikannya kepada siswa melalui aplikasi-aplikasi yang telah disepakati oleh guru dan siswa terlebih dahulu.

2.3.5 Ketentuan Pembelajaran Daring

Sejak pemerintah mengeluarkan aturan untuk meliburkan siswa beberapa bulan kedepan dan siswa tetap belajar dirumah melalui pembelajaran daring terdapat beberapa ketentuan yang harus dipahami oleh guru maupun siswa.

Pembelajaran daring yang ditentukan oleh pemerintah telah diatur pada peraturan menteri Pendidikan dan Kebudayaan republik Indonesia melalui surat edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang batas-batas dalam pelaksanaan pembelajaran daring yaitu sebagai berikut:

1. Siswa tidak dibebani oleh tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas

2. Pembelajaran yang dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan.

3. Belajar dari rumah dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup antara lain mengenai pandemi Covid-19.

4. Tugas dan aktivitas disesuaikan dengan minat dan kondisi siswa, mempertimbangkan kondisi siswa, dan fasilitas belajar dirumah.

5. Bukti tugas belajar diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru, tanpa diharuskan memberi skor/nilai kuantitatif.

(36)

36

Pernyataan diatas dapat dikatakan bahwa pada saat ini pemerintah tidak ingin membebankan dan memaksakan siswa pada proses belajar. Melihat dari hal ini peran guru sangat dibutuhkan untuk membangun proses belajar yang interaktif.

2.3.6 Media Pembelajaran Daring

Dalam pembelajaran guru tidak dibatasi oleh aturan dalam memilih dan menggunakan media online yang akan digunakan. Namun guru harus mengacu pada prinsip pembelajaran daring yang telah ditentukan oleh pemerintah. Artinya media yang digunakan oleh guru dapat pula digunakan oleh siswa sehingga komunikasi dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan baik.

Adapun beberapa media online yang digunakan pada penelitian ini diantaranya:

1. Aplikasi WhatsApp

Enterprise (2012:1) WhatsApp adalah aplikasi chatting dimana anda bisa mengirim pesan teks, gambar, suara, lokasi dan bahkan vidio kepada teman-teman anda menggunakan ponsel apapun. Pada penelitian Sucipto (dalam Nurhalimah, dkk 2019:149) juga menyatakan bahwa whatsApp messanger adalah aplikasi pesan lintas platfrom yang memungkinkan penggunanya untuk bertukar pesan tanpa biaya SMS karena aplikasi ini menggunakan paket data internet menggunakan koneksi 3G, 4G atau wifi untuk komunikasi data. Mebggunakan aplikasi ini, pengguna dapat melakukan obrolan online, berbagai file, bertukar foto dan lain sebagainya.

Jumiatmoko (dalam Rahartri, 2019: 148) didalam aplikasi whatsApp terdapat berbagai macam fitur yang dapat digunakan oleh penggunanya diantaranya gallery yang digunakan untuk menambah foto, contact digunakan untuk menyisipkan kontak, audio digunakan untuk mengirimkan pesan suara, camera untuk mengambil gambar, maps digunakan untuk mengirimkan lokasi dan berbagai koordinasi peta, dan document yang digunakan untuk mengirimkan dan menyisipkan file

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Teori  2.7  Kerangka Berpikir
Gambar 2.2 Kerangka Berpikir Masalah adanya pembelajaran
Gambar 2. Diagram Proses Analisis Data Pengumpulan Data  Penyajian data
Tabel Jadwal Pelaksanaan

Referensi

Dokumen terkait

Pada (Gambar 3) dapat dilihat bahwa zona hambat yang dihasilkan oleh sediaan obat kumur ekstrak daun pandan wangi pada konsentrasi 20% mempunyai perbedaan nyata

Permukiman sebagai bagian dari lingkungan binaan manusia merupakan bentuk tatanan kehidupan yang di dalamnya mengandung unsur fisik dalam arti permukiman merupakan

Untuk mengurangi daftar antrian pasien yang akan dirawat dan tingginya BOR pada bangsal kelas III di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, maka diperlukan

Sementara data PMI Manufaktur AS yang berhasil di himpun oleh Mar- kit dilaporkan naik menjadi 55.3 di bulan Maret, lebih tinggi dari estimasi ekonom yang di survey oleh

resitasi secara lengkap maka KKM yang ditetapkan sebesar 80%, dapat dilampaui. Peningkatan KKM pada Siklus II ini menjadi indikasi bahwa perbaikan terhadap pelaksanaan

Tujuan penelitian untuk mengetahui apakah ada perbedaan antara prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa yang ikut organisasi Rohis dengan siswa yang tidak

41 8F001 ANTHONY WILLIAM B SMP MAHATMA

Hasil dari penelitian implementasi penerimaan siswsa baru tingkat sekolah dasar menggunakan kebijakan menteri pendidikan dan kebudayaan republik Indonesia no 17