PENDAHULUAN Latar Belakang
Ada ungkapan yang mengatakan bahwa perusahaan harus beradaptasi dengan perubahan baru, dan berusaha untuk pengembangan sosial. Pernyataan tersebut diungkap oleh Hahm (2020, 790) “Companies have to adapt to new changes, and strive for social development”. Penjelasan yang hampir mirip dikatakan oleh Triyanto (2017) seperti berikut organisasi sektor publik saat ini dituntut dapat melakukan inovasi-inovasi yang ada di dalam kelembagaan dan sistem pemerintahan, dengan melakukan inovasi-inovasi diharapkan dapat memperbaiki fasilitas pelayanan publik yang ada. Demikian pula halnya yang disampaikan oleh Tamba (2018) Organisasi merniliki berbagai macam sumber daya sebagai ‘input’
untuk diubah menjadi ‘output’ berupa produk barang atau jasa. Sumber daya tersebut meliputi modal atau uang, teknologi untuk menunjang proses produksi, metode atau strategi yang digurunakan untuk beroperasi, manusia dan sebagainya.
Dalam suatu kesempatan Winata (2018) mengatakan bahwa Eksistensi Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa merupakan bentuk komitmen negara merealisasikan kebebasan berserikat dan berkumpul yang dijamin dalam konstitusi. Dalam Sekertariat Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah memiliki jumlah karyawan yang dimiliki tidak sedikit. Pola perilaku yang terjadi kepada karyawan yang ada di tempat tersebut, seperti melakukan tugas dengan terburu-terburu, menunda beberapa tugas yang sudah di amanatkan dari pemimpin, dan masih banyak lagi yang lainnya. Menurut Mursita (dalam Purnamasari 2019) karyawan yang loyal terhadap perusahaan adalah karyawan yang mempunyai kemauan bekerja sama yang berarti kesedian mengorbankan diri melibatkan adanya kesadaran untuk mengabdikan diri kepada perusahaan, pengabdian ini akan selalu menyokong peran serta karyawan dalam perusahaan. Karyawan dengan tingkat loyalitas yang
tinggi akan dihargai oleh perusahaan untuk kelangsungan hidup perusahaan dalam menentukan maju mundurnya perusahaan di masa mendatang
Ada beberapa fenomena yang terkait dengan loyalitas karyawan yang terjadi pada setiap organisasi terutama di sekertariat Qaryah Thayybah mengacu kepada tanggung jawab yang diberikan pemimpin kepada beberapa karyawannya. Dalam beberapa wawancara dan observasi non-partisipan yang dilakukan terhadap 12 karyawan pada hari Selasa 14 November 2017 yang ada di sekertariat menunjukkan bahwa 6 karyawan dapat menyelesaikan pekerjaan yang diberikan dengan baik dan tepat waktu sehingga tidak ada pekerjaan yang menumpuk. 3 karyawan lainnya melakukan hal yang dianggap dapat mempercepat proses pekerjaan dan dapat menyelesaikan dengan tepat waktu tetapi tidak memberikan hasil yang maksimal. 2 karyawan menyelesaikan pekerjaannya dengan bersungut-sungut dan memakan waktu yang lumayan lama dengan hasil yang sangat baik. Sementara itu, 1 karyawan tidak bisa mengerjakan beberapa pekerjaan yang diberikan pemimpin dengan baik dan tepat waktu, bisa sampai pekerjaannya bertumpuk. Beberapa karyawan pada sekertariat Qaryah Thayyibah juga menunjukkan pengabdian dengan cara memberikan beberapa masukan atau memberikan pikiran-pikiran tentang kemajuan yang terkait dengan Sekertariat. Atas dasar fenomena di atas dapat dikatakan bahwa ada masalah yang terkait dengan loyalitas karyawan.
Adekunle (dalam Putra, 2019) mengatakan loyalitas karyawan sangat penting bagi perusahaan untuk mempermudah operasional perusahaan dengan meminimalisir ongkos perekrutan baru bila banyak karyawan yang mengundurkan diri akibat kurang loyal kepada perusahaan. Pada beberapa organisasi, khususnya organisasi masyarakat tentang loyalitas karyawan memiliki peran penting didalamnya. Seperti yang di ungkap oleh Saydam Gouzali (dalam Zahroh 2018, h. 10) loyalitas adalah sikap positif karyawan terhadap kondisi yang terjadi dalam perusahaan baik mengarah pada kemajuan perusahaan maupun yang mengarah pada kecenderungan yang merugikan.
Hal ini juga bisa terjadi kepada beberapa organisasi yang di dalamnya memiliki karyawan yang kurang dalam hal loyalitas. Pernyataan ini juga di dukung oleh Valentino (2016) Melihat pentingnya loyalitas karyawan yaitu untuk mempertahankan efektivitas operasi perusahaan sekaligus memberikan kepuasan maksimal terhadap konsumen atas pekerjaan karyawan.
Dampak Loyalitas karyawan terhadap sebuah organisasi dapat dilihat dari gaya kepemimpinan yang digunakan oleh pemimpin didalam organisasi tersebut.
Penting untuk karyawan dengan tingkat loyalitas suprvisor yang lebih tinggi dapat
menunjukkan tingkat komitmen yang tinggi pada organisasi. Pernyataan tersebut dijelaskan oleh Zahari dan Bakar, 2016 (dalam Hagen dan Williams 2019, h. 228) sebagai berikut
“Importantly, employees with higher levels of supervisor loyalty are more likely to be dedicated and show higher levels of organization commitment”.
Dampak negatif dari loyalitas karyawan adalah tidak tercapainya tujuan utama organisasi atau terhambatnya proses produksi dalam suatu organisasi. Setiap organisasi memiliki cara untuk dapat menumbuhkan loyalitas pada setiap karyawannya, mulai dari merubah gaya kepemimpinan sampai dengan pemberian arahan kepada karyawan.
Pada suatu kesempatan, Purba (2017) mengatakan bahwa Faktor-faktor yang mempengaruhi loyalitas karyawan adalah umur, masa kerja dalam organisasi, pembayaran gaji, desain kerja, gaya kepemimpinan, karakteristik pekerjaan, perlakuan organisasi terhadap karyawan, promosi jabatan, kemampuan, pelatihan, dan pemberian insentif bagi karyawan yang berprestasi terbaik. Apabila salah satu faktor ini mengalami perubahan, maka loyalitas karyawan terhadap organisasi akan ikut berubah. Pitoy (2020) mengatakan bahwa adanya 4 (empat) faktor yang memperngaruhi loyalitas karyawan : 1. Gaya kepemimpinan, 2. Karaterisitk pekerjaan, 3. Lingkungan kerja fisik, 4. Pengembangan pelatihan dan ketrampilan.
Empat faktor inilah yang menjadi pedoman penting untuk melihat tingkat loyalitas karyawan pada sebuah organisasi.
Gaya kepemimpinan seorang pemimpin dalam menggerakkan dan memberdayakan karyawannya dapat mempengaruhi kinerja karyawan. Gaya kepemimpinan situasional adalah model gaya kepemimpinan yang memfokuskan pada pengikut,-pengikut yang dimaksud adalah karyawan di dalam suatu perusahaan.
Dalam suatu kesempatan Yuniawan, Putra (2015) mengatakan Gaya kepemimpinan situasional diterapkan dengan melihat kesiapan dan kematangan dari para karyawannya untuk menjalankan pekerjaan yang diberikan oleh pemimpin.
Kepemimpinan yang terjadi didalamnya merupakan kepemimpinan situasional yang dimana memiliki dampak yang cukup besar untuk setiap karyawan dan karyawatinya.
Dalam hal ini penulis melakukan observasi dan wawancara terhadap 5 karyawan yang ada di Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah. 3 karyawan yang sudah di
wawancara mengatakan bahwa kepemimpinan yang digunakan oleh pemimpin pada organisasi ini merupakan kepemimpinan yang berfokus kepada pegawainya. 1 karyawan menjelaskan bahwa gaya kepemimpinan yang digunakan merupakan kepemimpinan yang patut untuk dipertimbangkan kembali melihat dari desain kerja yang diterapkan. Sementara 1 karyawan mengeluh dengan gaya kepemimpinan yang digunakan pemimpin pada sekertariat karena ada beberapa pengarahan yang tidak jelas dari pemimpin organisasi tersebut. Atas dasar tersebut dapat dikatakan bahwa ada permasalahan terkait Gaya kepemimpinan situasional pada organisasi tersebut.
Gaya kepemimpinan situasional dengan loyalitas karyawan memiliki hubungan yang sangat signifikan. Terlihat pada penelitian yang dilakukan oleh Anwar (2017) Semakin baiknya gaya kepemimpinan situasional maka semakin meningkatkan juga loyalitas para karyawan. Sama halnya juga dengan Siagian (2016) mengatakan Kepemimpinan transformasional merupakan faktor yang mempengaruhi loyalitas karyawan. Semakin baik gaya kepemimpinan yang di pilih oleh pemimpin, maka sangat berpengaruh sekali terhadap loyalitas karyawan. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa gaya kepemimpinan yang berbeda harus diterapkan dalam situasi yang berbeda tergantung pada karakteristik pengikut dan karakteristik lingkungan.
Aleksić (2018, h. 378) “Different styles of leadership should be applied in different situations depending on the characteristics of followers and environmental characteristics “ Maka dari itu, hubungan antara gaya kepemimpinan situasional dengan loyalitas karyawan patut untuk diteliti.
Penelitian sebelumnya banyak yang menekankan tentang kompensasi untuk bisa menimbulkan loyalitas pada setiap karyawan. Fokus yang diberikan organisasi terhadap karyawan yang satu dengan yang lain berbeda. Oleh sebab itu, gaya kepemimpinan yang diberikan juga harus berbeda. Valentino (2016) melihat loyalitas karyawan dari 3 perspektif yaitu pada organisasi, pemimpin dan pekerjaan. Didukung oleh penelitian yang dilakukan Muthama (2019) terhadap consulting firms: A Case of HP Gauff Ingenieure GMBH & Co. KG–JBG, mengatakan bahwa penting bagi pemimpin menjadi teladan karena akan ditiru atau di ikuti oleh karyawannya.
Ghazzawi (2017) terhadap Nort Lebanon Organization mengatakan untuk memilih gaya kepemimpinan yang tepat untuk bisa meningkatkan loyalitas pada suatu organisasi. Bila di tinjau dari teori yang ada tentang Gaya Kepemimpinan dan Loyalitas karyawan tidak memiliki banyak perbedaan. Perbedaan yang diberikan atau
ditunjukkan pada penelitian ini adalah terletak pada metode penelitian yang dimana melibatkan beberapa karyawan yang ada pada organisasi masyarakat, dan hasil penelitian yang sudah ada menunjukkan korelasi yang sangat positif antara gaya kepemimpinan dengan loyalitas karyawan. Penelitian ini terjadi pada Organisasi masyarakat yang banyak memiliki permasalahan dengan Loyalitas karyawan yang ditinjau dari Gaya Kepemimpinan. Gaya Kepemimpinan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Gaya Kepemimpinan Situasional.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Apakah ada hubungan antara gaya kepemimpinan situasional dengan loyalitas karyawan pada Sekertariat Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah “.
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan antara gaya kepemimpinan situasional dengan loyalitas karyawan pada Sekertarian Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah .
Manfaat Penelitian
Manfaat yang didapat dari hasil penelitian ini meliputi : Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan pada bidang ilmu psikologi, khususnya pemahaman pada pembaca tentang pentingnya hubungan gaya kepemimpinan situasional dengan loyalitas karyawan.
Manfaat Praktis
a. Bagi subjek penelitian, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan dalam organisasi untuk dapat melakukan perubahan gaya kepemimpinan yang lebih baik terutama tentang gaya kepemimpinan situasional dan pentingnya loyalitas karyawan agar terhindar dari karyawan-karyawan yang memiliki tingkat loyalitas yang rendah
Bagi peneliti, akan mendapat pengalaman dan pemahaman pengetahuan hubungan gaya kepemimpinan situasional dengan loyalitas karyawan. Pengalaman dan pengetahuan tersebut akan bermanfaat bagi peneliti saat terjun ke masyarakat dan pengembangan profesi saat ini dan di masa yang akan datang.