Spesifikasi perangkat lunak yang digunakan dalam pengembangan prototipe sistem tersebut antara lain:
a. MySQL sebagai pengolah basis data b. PHP sebagai bahasa pemrograman c. ArcView GIS 3.3 untuk mendesain peta d. Adobe Photoshop 7.0 untuk mendesain
tampilan grafis antar muka
e. SWISHmax untuk mendesain tampilan grafis antarmuka
f. Macromedia Dreamweaver MX2004 sebagai editor bahasa pemrograman g. Internet Explorer 6.0 sebagai browser
Prototipe dikembangkan melalui beberapa tahap yaitu:
a. Perancangan basis data b. Perancangan peta
c. Perancangan antarmuka situs d. Perancangan menu
Pada tahap ini SIPILAB menggunakan MySQL sebagai penyedia akses dan manajemen data, ArcView GIS 3.3 digunakan untuk membangun peta buta kecamatan dan kelurahan kota Bogor.
Tampilan antarmuka situs yang terdiri dari menu, layar, dan animasi diolah dengan menggunakan Adobe Photoshop 7.0 dan SWISHmax.
3. Menentukan Apakah Prototipe Dapat Diterima
Prototipe yang dihasilkan dijelaskan setiap fungsinya kepada pengguna. Jika prototipe yang dikembangkan memuaskan pengguna maka dilanjutkan ke langkah 4 yaitu menggunakan prototipe. Jika tidak maka prototipe akan direvisi dengan mengulangi langkah 1,2, dan 3 (Gambar 3) dengan tambahan masukan atau saran dan pemahaman mengenai sistem yang lebih baik dari pengguna. Pengulangan yang dilakukan dibatasi hanya dua kali.
Evaluasi sistem operasional SIPILAB diuji dan dipakai untuk menyaring kebutuhan pengembangan perangkat lunak.
Pengujian sistem yang akan digunakan adalah pengujian dengan metode black-box.
Sistem diuji dimulai dari fungsi-fungsi yang terkait seperti fungsi pencarian, input, dan output. Sebelum sistem operasional SIPILAB yang telah selesai diuji diberikan, terlebih dahulu dilakukan survei ke sepuluh orang staf Polresta Bogor. Setelah survei dilakukan, SIPILAB yang akan ditempatkan pada kantor Polresta Bogor bagian operasional agar data kriminalitas yang masuk dapat ditangani dengan cepat.
HASIL DAN PEMBAHASAN Metode pengembangan sistem yang digunakan dalam penelitian ini adalah prototipe Jenis I. Pengulangan pada prototipe yang dibangun dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada langkah 1, 2, dan 3. Dengan adanya pengulangan tersebut, maka pengembangan sistem dibagi menjadi tiga tahap antara lain Prototipe Tahap I yang merupakan tahap kali pertama prototipe dibangun, Prototipe Tahap II, dan Prototipe Tahap III yang merupakan perbaikan pada setiap prototipe dari tahap sebelumnya.
Prototipe Tahap 1
1. Mengidentifikasi Kebutuhan Pemakai Aplikasi web dibangun dengan tujuan untuk menyediakan informasi kejahatan konvensional yang terjadi di kota Bogor.
Informasi yang disajikan berupa teks yang berisikan data kejahatan, bentuk grafis berupa peta yang terdiri dari peta kecamatan dan peta kelurahan kota Bogor, dan diagram. Setiap kebutuhan informasi dalam aplikasi tersebut diperoleh melalui diskusi dengan pengguna. Aplikasi web yang
dibangun diberi nama Sistem Informasi Pemetaan profIl kriminaLitas berbAsis weB (SIPILAB).
Berdasarkan hasil diskusi terdapat beberapa kebutuhan informasi dari aplikasi SIPILAB, yaitu:
a. Informasi kepolisian secara umum.
Seluruh informasi ini berupa teks yang berisi segala sesuatu yang berhubungan dengan profil kepolisian. Informasi ini berisi profil mengenai kejahatan dan visi misi.
b. Informasi kejahatan yang ditampilkan dapat berisikan data seluruh kejahatan ataupun data tertentu hasil pencarian yang berada dalam basis data Data hasil pencarian diperoleh dengan cara memasukkan potongan teks sebagai kata kunci ke dalam textfield di dalam form yang tersedia, kemudian tombol cari diklik.
c. Informasi data kejahatan yang dipetakan dalam bentuk grafis berupa peta kecamatan dan peta kelurahan.
Pewarnaan pada kedua peta itu merepresentasikan banyaknya kejahatan yang terjadi berdasarkan pola waktu, kejahatan umum, kejahatan spesifik, bulan, dan tahun kejadian. Masing- masing daerah yang terdapat dalam peta menyimpan informasi data kejahatan di daerah tersebut. Dasar pewarnaan penentuan kejahatan diambil antara 0 s.d.
20 sebagai acuan jumlah kejahatan yang terjadi. Dasar pewarnaan diperoleh setelah berdiskusi dengan pengguna untuk membedakan setiap daerahnya.
Pewarnaan pada peta ini dibagi menjadi tiga kelompok antara lain:
• RGB (252, 0, 0)
Daerah kecamatan dan kelurahaan yang menampilkan warna ini berarti banyaknya kejahatan di daerah tersebut berada diatas dua puluh.
• RGB (250, 216, 216)
Warna RGB (250, 216, 216) pada kecamatan atau kelurahan tertentu merepresentasikan banyak kejahatan di daerah tersebut berada diantara sebelas sampai dengan dua puluh.
• RGB (250, 213, 213)
Banyaknya kejahatan di daerah kecamatan atau kelurahan syang ditampilkan dengan menggunakan warna ini berada di bawah sebelas.
Peta kecamatan dan kelurahan dalam bentuk digital dapat ditampilkan dengan berbagai cara, diantaranya adalah dengan menggunakan perangkat lunak MapServer. Perangkat lunak ini tidak digunakan karena efisiensi dalam pengembangan sistem. Penggunaan MapServer akan lebih banyak bermanfaat pada aplikasi SIG yang menggunakan banyak layer baik yang berupa titik, garis, maupun area atau poligon. Sedangkan SIPILAB yang dibangun hanya menampilkan peta kecamatan dan kelurahan yang berbentuk poligon.
Berdasarkan pengamatan, hasil pengembangan pada SIPILAB dengan menggunakan MapServer ataupun tidak diperkirakan akan menampilkan output harapan yang sama yaitu menampilkan informasi data apabila daerah tertentu pada peta diklik. Selain itu server yang menggunakan MapServer harus memiliki java runtime environment (jre) untuk mendukung user interface yang menggunakan java applet. Pengembangan aplikasi SIPILAB ini dapat dimaksimalkan dengan menampilkan pewarnaan peta yang dinamis.
d. Informasi data kejahatan disajikan dalam bentuk grafik. Grafik pada SIPILAB ditampilkan dalam bentuk grafik diagram batang yang merepresentasikan banyaknya kejahatan setiap bulannya dalam satu tahun, serta jumlah kejahatan per kelurahan, kejahatan umum, kejahatan spesifik, dan pola waktu berdasarkan bulan dan tahun kejadian.
e. Simulasi perhitungan Jumlah Tindak Pidana (JTP) dan Penyelesaian Tindak Pidana (PTP). Pada simulasi perhitungan ini, aplikasi hanya akan menampilkan output berupa jumlah tindak pidana yang terjadi berikut jumlah penyelesaiannya untuk setiap jenis kejahatan berdasarkan bulan dan tahun kejadian. Output tersebut tidak akan disimpan ke dalam basis data.
f. Informasi tambahan lainnya meliputi agenda kegiatan kepolisian, komentar,dan buku tamu sebagai sarana komunikasi antar anggota polisi.
Pengguna SIPILAB ini terdiri atas dua kategori pengguna yaitu anggota kepolisian dan administrator. Anggota kepolisian yaitu semua polisi di Polresta Bogor yang dapat mengakses data umum yang diberikan oleh SIPILAB, sedangkan administrator adalah
Gambar 5 Diagram Konteks.
anggota kepolisian Polresta Bogor pada bagian operasional yang berperan dalam mengelola dan memelihara data pada sistem.
Proses yang terjadi pada penggunaan SIPILAB berupa pencarian data, pemasukan data, pengeditan data, dan penghapusan data. Pemasukan data terdiri dari data umum dan data admin. Pengeditan data dan penghapusan data dilakukan pada data yang sama.
Data umum adalah data yang dapat dimasukkan oleh pengguna umum, seperti data komentar dan buku tamu, sedangkan data admin adalah data yang hanya bisa diisi, diakses dan dimanipulasi oleh administrator sistem, seperti data agenda, buku tamu, komentar, laporan harian, dan user. Aliran data pada SIPILAB digambarkan melalui diagram konteks (Gambar 5).
2. Mengembangkan Prototipe
Prototipe dikembangkan dengan menggunakan perangkat lunak dan perangkat keras komputer. Perangkat keras yang digunakan dalam pengembangan SIPILAB adalah Personal Computer (PC) dengan spesifikasi sebagai berikut:
a. Prosessor Intel Celeron 1,7 GHZ b. Memori 228 MB
c. Hard disk 40GB
d. Resolusi monitor 1024x768 pixels Prototipe yang dikembangkan terdiri dari perancangan basis data, peta, tampilan antarmuka situs, dan menu.
a. Perancangan basis data
Basis data yang digunakan untuk menyimpan dan memberikan informasi data merupakan implementasi dari hasil identifikasi kebutuhan antara analis sistem dengan pengguna. Data yang digunakan dalam membangun SIPILAB adalah data umum dan data admin yang terbagi atas beberapa tabel yang saling berelasi. Data laporan harian merupakan data utama pada SIPILAB.
b. Perancangan peta
Peta yang dirancang adalah peta lengkap kota Bogor dalam bentuk file. Peta tersebut kemudian diolah dengan menggunakan perangkat lunak ArcView GIS 3.3 untuk membuat peta buta kecamatan dan kelurahan kota Bogor. Peta tersebut terdiri atas enam kecamatan dan enam puluh delapan kelurahan. Nama dan tipe masing- masing daerah kecamatan dan kelurahan dapat dilihat pada Tabel 1 dan Lampiran 1.
Tabel 1 Nama dan tipe daerah peta kecamatan
No Kecamatan Tipe
1 Bogor Utara Poligon 2 Bogor Timur Poligon 3 Bogor Selatan Poligon 4 Bogor Barat Poligon 5 Bogor Tengah Poligon 6 Tanah Sareal Poligon
Adobe Photoshop 7.0 digunakan untuk mengolah peta buta kecamatan dan kelurahan dan membuatnya dalam format PNG. Pewarnaan pada peta ditampilkan dalam bentuk rectangle. Masing-masing
warna pada rectangle mencirikan tingkat kejahatan masing-masing daerah. Tampilan peta kelurahan rancangan pertama dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6 Peta rancangan pertama.
c. Perancangan antarmuka situs
Tampilan antarmuka situs SIPILAB dibangun dengan menggunakan Adobe Photoshop 7.0. Tampilan antarmuka SIPILAB terdiri dari tiga bagian utama yaitu area header terdiri dari logo Kepolisian dan Jawa Barat yang digunakan sebagai ciri khas sistem untuk Polresta Bogor yang berada di daerah Jawa Barat dan di bawah Kepolisian Republik Indonesia serta nama sistem, menu navigasi baik untuk anggota kepolisian maupun administrator terdapat di sebelah kiri, dan isi yang berada pada tengah halaman.
Tampilan rancangan antarmuka sistem dapat dilihat pada Gambar 7 dan area header SIPILAB (Gambar 8).
Gambar 7 Rancangan antarmuka sistem.
Gambar 8 Tampilan header pertama.
d. Perancangan menu
Perancangan menu atau navigasi sistem dilakukan untuk memberi gambaran mengenai setiap informasi yang akan ditampilkan dan sebagai kerangka kerja dalam pembuatan sistem informasi (Gambar 9). Rancangan navigasi sistem merupakan pegangan dalam pembuatan halaman-halaman web beserta semua link yang diperlukan.
Gambar 9 Tampilan navigasi pertama.
Adapun deskripsi navigasi SIPILAB ialah sebagai berikut :
• Depan
Halaman ini merupakan indeks atau halaman awal SIPILAB yang menampilkan informasi mengenai arti kejahatan konvensional yang menjadi fokus utama dalam sistem, informasi agenda atau kegiatan yang diadakan pada waktu saat ini, dan input data komentar serta tampilan komentar para pengguna sistem.
• Informasi Profil
Informasi profil yang ditampilkan pada sistem adalah visi dan misi Kepolisian Republik Indonesia.
• Buku Tamu
Halaman buku tamu berisi informasi pelapor kejahatan dimana fasilitas input data informasi tersebut diisi oleh pengguna SIPILAB.
• Agenda
Halaman ini berisi informasi seluruh agenda kegiatan Polresta Bogor.
• Analisis
Halaman ini merupakan menu terpenting sistem yang berisi analisis berbagai kejahatan konvensional yang selama ini terjadi di kota Bogor. Analisis ini disajikan dalam bentuk tampilan peta yaitu peta kecamatan dan peta kelurahan, teks, dan grafik.
Selain menu navigasi SIPILAB di atas, fasilitas yang disediakan SIPILAB adalah fasilitas pencarian yang terdapat pada menu administrator dan navigasi Analisis.
Pencarian pada menu administrator terdiri atas pencarian data agenda, komentar, Header
Isi
Footer Menu
Gambar 10. Pencarian peta bukutamu, user, dan laporan harian
kejahatan. Pada navigasi Analisis, form pencarian ditujukan untuk melihat informasi jumlah penyelesaian tindak pidana serta grafik kejahatan berdasarkan bulan dan tahun serta untuk melihat pewarnaan pada peta yang diambil berdasarkan lima kategori yaitu pola waktu, kejahatan umum, kejahatan spesifik, bulan, dan tahun (Gambar 10), informasi jumlah penyelesaian tindak pidana serta grafik kejahatan berdasarkan bulan dan tahun.
Selain itu, fasilitas yang disediakan adalah fasilitas pengolahan data untuk administrator yang terdiri atas input, edit, dan hapus.
Gambar 11 Navigasi administrator pertama.
Menu laporan harian yang terdapat pada navigasi administrator (Gambar 11) merupakan menu utama dalam pengolahan data pada SIPILAB. Menu input laporan harian terdiri dari lap_harian, kejahatan, pelapor, korban, dan pelaku. Identitas pelapor, korban, dan pelaku dimasukkan melalui form pelapor, korban, dan pelaku.
Di sisi lain, form input lap_harian terdiri atas Nomor Polisi (Nopol), tanggal dan jam kejadian kejahatan terjadi, tanggal dan jam laporan pelapor kepada pihak kepolisian, Tempat Kejadian Perkara (TKP), kelurahan, Modus Operandi (MO) yaitu cara yang dilakukan oleh pelaku pada saat melakukan kejahatan, status laporan yang berarti status mengenai penyelidikan kejahatan yang terjadi, dan uraian singkat kejadian. Pada form input kejahatan terdiri dari Nopol dan
kejahatan yang dilakukan oleh pelaku. Form menu input pelapor, lap_harian, dan kejahatan dapat dilihat Gambar 12, 13, dan 14.
Gambar 12 Form input pelapor.
Gambar 13 Form input lap_harian.
Gambar 14 Form input kejahatan.
3. Menentukan Apakah Prototipe Dapat Diterima
Prototipe yang telah selesai dikembangkan dijelaskan setiap fungsinya kepada pengguna. Dari hasil penjelasan, sistem kemudian dicek oleh pengguna.
Berdasarkan hasil evaluasi bersama pengguna, maka terdapat beberapa perubahan pada sistem. Perubahan ini terjadi karena prototipe kurang sesuai dengan keinginan pengguna serta adanya penambahan informasi. Perubahan yang terjadi diantaranya adalah penambahan informasi umum mengenai kepolisian, perubahan basis data, peta untuk hasil analisis dan antarmuka SIPILAB. Setiap kali perubahan, maka langkah dalam pengembangan SIPILAB kembali ke langkah 1 dan 2. Hasil perubahan yang terjadi dibahas pada Prototipe Tahap II.
Prototipe Tahap II
4. Mengidentifikasi Kebutuhan Pemakai Pada tahap ini, setiap tambahan dan perubahan kebutuhan informasi dalam aplikasi didiskusikan kembali dengan pengguna. Hasil perubahan yang diperoleh antara lain:
a. Informasi kepolisian secara umum.
Tambahan informasi pada modul ini adalah adanya halaman kode etik, tugas polisi pada bagian operasional, Tri Brata dan Catur Prasetya, dan Struktur atau bagan Polresta Bogor.
b. Perubahan pada basis data. Perubahan yang dilakukan adalah dengan memperinci keterangan pelapor, pelaku, korban, menambah tabel saksi dan beberapa field pada tabel lap_harian.
c. Perubahan tampilan SIPILAB. Tampilan ini meliputi peta kejahatan, antarmuka situs dan menu.
2. Mengembangkan Prototipe
Prototipe yang dikembangkan sebagai tindak lanjut dari respon pengguna mencakup perancangan basis data, peta, tampilan antarmuka situs, dan menu.
a. Perancangan basis data
Tabel-tabel yang mengalami perubahan adalah tabel pelapor, pelaku, korban, dan lap_harian. Tabel-tabel tersebut pada awalnya hanya berisi dua field yaitu berupa nama dan keterangan. Setelah perubahan, tabel-tabel tersebut memiliki beberapa field
seperti nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, agama, warga negara, alamat, dan keterangan. Sedangkan perubahan pada tabel lap_harian adalah penambahan beberapa field seperti ditunjukkan pada Tabel 2.
Tabel 2 Tambahan beberapa field pada tabel lap_harian
No Nama field Deskripsi 1 ApaYgTerjadi Mendeskripsikan
tindak kejahatan apa yang sedang terjadi 2 BgmnTerjadi Tentang bagaimana kejahatan itu terjadi 3 Pasal Pasal yang dilanggar 4 BarangBukti Barang bukti kejahatan 5 Tindakan Tindakan yang
dilakukan polisi
b. Perancangan peta
Gambar 15 Peta rancangan kedua.
Perubahan perancangan peta yang terjadi adalah perubahan penempatan pewarnaan sebagai representasi dari banyaknya kejahatan yang terjadi.
Pewarnaan yang pada peta tahap pertama ditampilkan dalam bentuk rectangle diubah dengan menampilkan warna sesuai koordinat masing-masing daerah. Hal ini dilakukan karena tampilan warna yang menggunakan bentuk rectangle menyulitkan pengguna dalam mengidentifikasi kesesuaiannya dengan daerah yang disimbolkan dengan warna tersebut. Oleh karena itu, dibuatlah rancangan peta kedua seperti yang ditampilkan pada Gambar 15. Label atau
Gambar 16.
Gambar 16 Tampilan header kedua.
d. Perancangan menu
Pada tahap ini dilakukan evaluasi perubahan menu navigasi. Perbedaan paling mendasar terjadi pada menu Profil. Menu tersebut dibagi menjadi lima bagian, yaitu Visi & Misi, Kode Etik, Tri Brata dan Catur Prasetya yang disingkat menjadi TBCP, Struktur, dan Bag Ops sehingga tampilan navigasi utama sistem terbagi menjadi sembilan bagian ditambah Depan, Buku Tamu, Agenda, dan Analisis. Perubahan pada menu navigasi dapat dilihat pada Gambar 17.
Gambar 17. Tampilan navigasi kedua Adapun deskripsi tambahan navigasi SIPILAB ialah sebagai berikut :
• Kode Etik
Halaman ini berisi informasi mengenai kode etik Kepolisian Republik Indonesia.
• Struktur
Bagan umum struktur Polresta Bogor terdapat pada halaman ini.
• Bag Ops
Halaman ini berisi informasi mengenai tugas-tugas kepolisian yang berada di bagian operasional Polresta Bogor.
Selain navigasi di atas, form input lap_harian, pelapor, korban, pelaku, dan
kejahatan itu terjadi.
• Pasal yang dilanggar
Pasal yang dilanggar oleh pelaku diisi pada input ini.
• Barang bukti
Input ini berisi barang bukti kejahatan yang diperoleh pihak kepolisian.
• Tindakan yang diambil
Tindakan yang diambil oleh pihak kepolisian setelah menerima laporan dari pelapor diisi pada input ini.
Pada form input pelapor, korban, dan pelaku terjadi perubahan dengan menambahkan field umur, jenis kelamin, pekerjaan, warga negara, agama, alamat, dan keterangan lainnya pada masing-masing form. Keterangan setiap field pada form input tersebut berlaku pula pada tabel saksi.
Semua field yang disebutkan merupakan identitas dari setiap pelapor, korban, pelaku, dan saksi kejahatan. Pemasukan data pelapor, korban, pelaku, dan saksi terbagi atas dua cara, antara lain dengan memasukan data secara langsung berurutan setelah data lap_harian dimasukan atau dengan memasukan data secara terpisah.
Tampilan perubahan form input pelapor dan lap_harian dapat dilihat pada Gambar 18 dan 19.
Gambar 18 Perubahan kedua form input pelapor.
Gambar 19 Perubahan kedua form input lap_harian.
3. Menentukan Apakah Prototipe Dapat Diterima
Setiap prototipe yang telah diubah diperlihatkan dan dijelaskan setiap fungsinya kepada pengguna. Setelah dicek, terjadi perubahan kembali yaitu pada bagian basis data, antarmuka situs, penambahan halaman web dalam bentuk format laporan polisi, tampilan peta untuk hasil analisis, serta penghapusan modul-modul tertentu.
Hasil perubahan yang terjadi dibahas pada Prototipe Tahap III.
Prototipe Tahap III
1. Mengidentifikasi Kebutuhan Pemakai Proses yang dibangun pada SIPILAB akan terus mengalami perubahan selama pengembangan sistem terus berlanjut. Oleh karena itu Prototipe Tahap III merupakan perubahan tahap akhir pada sistem ini.
Untuk mengetahui setiap perubahan yang terjadi maka identifikasi kebutuhan pada sistem didiskusikan kembali dengan pengguna. Berdasarkan hasil diskusi tersebut, diperoleh beberapa tambahan dan pengurangan informasi dari aplikasi SIPILAB, yaitu:
a. Informasi buku tamu. Informasi ini dihapus karena pencatatan data pelapor telah memiliki form tersendiri.
b. Data laporan harian. Data yang terdapat pada basis data sistem disesuaikan dengan informasi pada laporan polisi serta dapat ditampilkan sesuai dengan format laporan.
c. Informasi data kejahatan yang dipetakan dalam bentuk grafis berupa peta kecamatan dan peta kelurahan. Tampilan informasi kejahatan dalam bentuk peta tidak terbagi atas dua level berbeda yaitu level kecamatan dan kelurahan seperti sebelumnya, melainkan dibuat berjenjang.
d. Tampilan antarmuka situs. Perubahan ini meliputi tampilan antarmuka situs dan menu.
Perubahan informasi yang diperoleh melengkapi semua informasi dan fungsi- fungsi pada SIPILAB yang didapat pada tahap sebelumnya. Hubungan antara fungsi sistem dengan kebutuhan pengguna dapat dilihat pada Lampiran 2.
Data yang mengalir dalam sistem dipresentasikan dalam suatu Diagram Aliran Data atau Data Flow Diagram (DFD). DFD didesain sesuai kebutuhan
anggota kepolisian seperti visi dan misi, Bag Ops, struktur, kode etik, TBCP, dan agenda. Di sisi lain, informasi administrator terdiri atas data laporan harian dan data admin yaitu data agenda, Bagian Administrasi Operasional (BaminOps), Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian (KaSPK), komentar, dan user. Flowchart SIPILAB dapat dilihat pada Lampiran 4.
2. Mengembangkan Prototipe
Prototipe yang dikembangkan pada tahap ini merupakan prototipe yang mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi terdapat pada perancangan basis data, peta, tampilan antarmuka situs, dan menu SIPILAB.
a. Perancangan basis data
Tabel pada basis data yang mengalami perubahan adalah tabel lap_harian dan bukutamu. Pada tabel lap_harian ditambahkan beberapa field yang dapat menyimpan informasi penyelidik kejahatan, Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian (Ka SPK), dan penerima laporan, sedangkan informasi tabel bukutamu dihapus dari basis data. Rancangan terakhir tabel-tabel basis data dapat dilihat pada Lampiran 5.
Sedangkan relasi antar tabel dapat dilihat pada Lampiran 6 dan 7 yang digambarkan dengan model Entity Relationship (ER) dan Entity Relationship Diagram (ERD).
b. Perancangan peta
Peta kelurahan merupakan peta yang mengalami perubahan. Pada tahap sebelumnya, peta kelurahan SIPILAB menampilkan semua kelurahan di kota Bogor. Berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan dengan pengguna, peta kelurahan tersebut tidak dibuat dalam satu level kelurahan, melainkan dibuat berjenjang.
Kelurahan yang ditampilkan pada peta
ataupun terlalu terang serta membuat komposisi warna yang sesuai antar background dan gambar.
Gambar 20 Tampilan header ketiga.
Di samping itu, pembuatan tampilan antarmuka situs dipermudah dengan membangun dua buah template yang akan digunakan pada setiap halaman pengguna umum dan administrator. Template ini digunakan apabila ada penambahan halaman pada sistem. Tampilan antarmuka SIPILAB untuk login, pengguna umum dan administrator dapat dilihat pada Lampiran 8.
d. Perancangan menu
Perubahan pada menu navigasi terletak pada tampilan navigasi dan penghapusan modul buku tamu (Gambar 21). Informasi yang ditampilkan pada masing-masing modul tidak mengalami perubahan kecuali pada modul analisis. Perubahan pada modul ini terletak pada tampilan menu pencarian peta dimana form pencarian peta untuk level kelurahan dihapus.
Gambar 21 Tampilan navigasi ketiga.
Modul analisis merupakan fasilitas untuk melihat tampilan pewarnaan pada peta yang diambil berdasarkan pilihan dari lima kategori yaitu pola waktu, kejahatan umum, kejahatan spesifik, bulan, dan tahun.
Pola waktu terbagi atas tiga waktu. Dasar
pengambilan pola waktu ini adalah dengan membagi waktu satu hari atau 24 jam kedalam tiga waktu. Pola waktu pertama terjadi pada pukul 08.01 s.d. 16.00, pola waktu kedua (16.01 s.d. 00.00), dan pola waktu ketiga (00.01 s.d. 08.00). Kejahatan Umum dan Kejahatan Spesifik berisi data kejahatan konvensional. Form pencarian peta yang terdapat pada modul analisis dapat dilihat pada Gambar 22.
Gambar 22 Form pencarian peta kedua.
3. Menentukan Apakah Prototipe Dapat Diterima
Prototipe Tahap III merupakan prototipe tahap akhir. Prototipe ini tidak akan mengalami perubahan lagi setelah disetujui oleh pengguna, sehingga identifikasi kebutuhan pemakai dan pengembangan prototipe tidak perlu diulang kembali.
Pada tahap ini dijelaskan setiap perubahan yang telah terjadi dari Prototipe Tahap I sampai dengan Prototipe Tahap III.
Perubahan-perubahan yang terjadi adalah sebagai berikut:
a. Basis data
• Prototipe Tahap I
Tabel-tabel terdiri dari tabel agenda, bukutamu, lap_harian, pelapor, kejahatan, pelaku, korban, dan pelaku.
• Prototipe Tahap II
Penambahan field pada tabel lap_harian, pelapor, pelaku, dan korban serta penambahan tabel saksi.
• Prototipe Tahap III
Penghapusan tabel bukutamu dan penambahan field pada tabel lap_harian b. Peta
• Prototipe Tahap I
Pewarnaan pada peta Bogor per kecamatan dan kelurahan berbentuk rectangle. Peta yang dirancang tidak dibuat berjenjang.
• Prototipe Tahap II
Pewarnaan pada peta dibuat berdasarkan koordinat masing-masing daerah.
• Prototipe Tahap III
Tampilan peta Bogor antara kecamatan dan kelurahan dibuat berjenjang.
c. Antarmuka situs
• Prototipe Tahap I
Tampilan SIPILAB terbagi menjadi tiga baian utama yaitu area header, navigasi, dan isi. Gambar logo Kepolisian RI dan Jawa Barat digunakan pada area header. Latar belakang tampilan situs bercorak gelap.
• Prototipe Tahap II
Header situs diubah menjadi lebih terang dan disesuaikan dengan keinginan pengguna. Tampilan pada Prototipe sebelumnya terlihat terlalu gelap. Komposisi warna antara gambar dan latar belakang lebih disesuaikan.
• Prototipe Tahap III
Nama situs yaitu SIPILAB ditampilkan pada halaman situs.
d. Menu
• Prototipe Tahap I
Menu terdiri dari depan, profil, buku tamu, agenda, dan analisis.
• Prototipe Tahap II
Menu profil dibagi menjadi lima bagian, yaitu visi dan misi, kode etik, Bag Ops, TBCP, dan struktur.
• Prototipe Tahap III
Penghapusan menu buku tamu serta penambahan menu BaminOps dan KaSPK pada halaman administrator.
4. Menggunakan Prototipe
Prototipe yang telah diterima dikembangkan menjadi sistem operasional SIPILAB dengan menggunakan bahasa pemrograman PHP. Pengkodean terhadap prototipe diperlukan agar sistem dapat menampilkan fungsi-fungsi yang dibutuhkan pengguna. Prototipe yang telah menjadi sistem operasional ini yang akan digunakan oleh pengguna SIPILAB yaitu anggota kepolisian dan administrator.
Fungsi-fungsi dan pengujian pada sistem dijelaskan pada tahap ini.
halaman pengguna adalah informasi yang dapat diakses oleh anggota kepolisian.
Informasi tersebut antara lain informasi komentar, agenda, visi dan misi kepolisian, kode etik, TBCP, tugas-tugas kepolisian pada bagian operasional (BagOps), bagan struktur Polresta Bogor, dan analisis. Fungsi utama sistem terletak pada modul analisis.
Fungsi yang dimaksud adalah fungsi untuk menampilkan peta beserta pewarnaannya, grafik, serta perhitungan JTP dan PTP.
Peta pada SIPILAB terdiri dari peta Kotamadya Bogor dan peta setiap kecamatan yang berada di kota Bogor.
Tampilan peta dibangun dengan menggunakan titik-titik koordinat pada setiap kecamatan dan kelurahan masing- masing peta. Titik-titik koordinat tersebut dibuat melalui script PHP dan disimpan ke dalam basis data. Pewarnaan dan label pada peta dibangun dengan menggunakan fungsi imagepolygon dan imagestring disesuaikan dengan titik-titik koordinat yang telah dibuat.
Fungsi dari pewarnaan pada peta adalah untuk membandingkan kerawanan kejahatan setiap daerah kecamatan atau kelurahan sehingga tingkat kerawanan antara daerah satu dan lainnya menjadi lebih mudah dibedakan. Pewarnaan pada peta dikelompokkan menjadi tiga warna.
Ketiga warna tersebut merepresentasikan keadaan masing-masing kecamatan dan kelurahan. Warna RGB (250, 213, 213) merepresentasikan banyaknya kejahatan berada di bawah sebelas, RGB (250, 216, 216) berada di antara sebelas sampai dengan dua puluh, sedangkan apabila terlihat warna RGB (252, 0, 0) berarti banyak kejahatan lebih dari dua puluh.
Dengan demikian, akan terlihat secara objektif seberapa rawan daerah kota Bogor.
Gambar 23 Pewarnaan peta kota Bogor.
Banyaknya kejahatan tiap kecamatan dan kelurahan dihitung menggunakan fungsi COUNT dalam bahasa SQL. Jumlah ini diambil berdasarkan banyaknya record kejahatan yang masuk ke dalam basis data.
Warna pada masing-masing daerah disesuaikan dengan jumlah kejahatan yang terjadi dan ditampilkan berdasarkan pola waktu kejadian, kejahatan dalam bentuk umum dan spesifik, bulan, dan tahun yang dipilih pengguna.
Contoh kasus pertama adalah peta keadaan kota Bogor pada bulan Januari 2005 (Gambar 23). Pewarnaan pada peta tersebut memperlihatkan bahwa banyaknya kejahatan kecamatan Bogor Utara dan Bogor Timur pada bulan Januari 2005 berada pada kisaran sebelas sampai dengan dua puluh. Kedua kecamatan ini memiliki tingkat kejahatan yang lebih tinggi dibandingkan kecamatan lainnya yang berada di bawah sebelas. Apabila dilihat secara keseluruhan berarti persentase banyak kejahatan di kota Bogor yang ditampilkan dengan warna RGB (252, 0, 0) adalah 0%, RGB (250, 213, 213) 33,33%, dan RGB (251, 161, 161) sebanyak 66,67%.
Contoh kasus kedua adalah peta keadaan kecamatan Bogor Barat pada tahun 2006.
Persentase banyak kejahatan di kecamatan Bogor Barat yang ditampilkan dengan warna RGB (252, 0, 0) adalah 0%, RGB (250, 213, 213) 18,75%, dan RGB (251,
161, 161) sebanyak 81,25%. Kelurahan Cilendek Barat, Menteng, dan Pasirkuda merupakan kelurahan yang tingkat kejahatannya lebih banyak dibandingkan kelurahan lainnya. Pewarnaan pada peta Bogor Barat dapat dilihat pada Gambar 24.
Gambar kotak hitam yang terdapat di kelurahan Menteng pada peta adalah lokasi kantor Polsekta Bogor Barat. Hal ini membuktikan bahwa secara umum kejahatan yang terjadi tidak terlalu tergantung dari lokasi kantor polisi berada.
Gambar 24 Pewarnaan peta Bogor Barat.
Apabila dilihat dari kedua contoh kasus tersebut, daerah yang memiliki tingkat kejahatan lebih banyak memiliki jarak yang saling berdekatan. Daerah tersebut antara kecamatan Bogor Utara dan Bogor Timur serta kelurahan Cilendek Barat dan Menteng. Adapun faktor-faktor penyebab suatu daerah mengalami tindak kejahatan lebih tinggi dibandingkan lainnya ialah senagai berikut:
- Sifat pengulangan kejahatan yang dikarenakan adanya kemudahan dalam melakukan kejahatan di daerah tersebut.
- Kedua daerah memiliki keuntungan yang lebih bagi pelaku.
- Jalan pelarian bagi pelaku lebih mudah.
(Sumber Polresta Bogor 2007)
Dengan adanya pengelompokkan jumlah kejahatan yang diperlihatkan dengan pewarnaan pada peta, kepolisian Polresta Bogor dapat lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap daerah-daerah yang memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi
dibanding daerah lainnya. Beberapa tindak lanjut yang dapat dilakukan polisi adalah dengan melakukan tindakan pengamanan, pemantauan, dan pencegahan seperti patroli di tempat-tempat yang rawan sesuai dengan pola waktu dan lokasi.
Informasi data kejahatan pada SIPILAB selain diperlihatkan melalui tampilan peta juga dapat dilihat pada gambar grafik tiap kejahatan. Grafik ini terbagi menjadi beberapa kategori yaitu grafik per kecamatan, kelurahan, kejahatan umum, kejahatan spesifik, pola waktu, dan tahun.
Dengan adanya tampilan grafik, pola kejahatan yang terjadi terlihat lebih jelas.
Contoh kasusnya adalah grafik kejahatan pada kecamatan Bogor Barat tahun 2006. Kejahatan yang paling banyak terjadi adalah kejahatan terhadap harta benda dimana kasus pencurian, baik tanpa menggunakan alat berat (curing) maupun dengan menggunakan alat berat (curat) menempati peringkat pertama dan kedua.
Kejahatan tersebut lebih banyak terjadi karena tingginya tingkat pengangguran yang merupakan ciri khas dari suatu daerah berkembang yang memiliki tingkat perekonomian menengah ke bawah. Jika dilihat dari segi pola waktu, secara global kejahatan yang terjadi dapat terjadi kapan saja tanpa mengenal waktu-waktu tertentu.
Berdasarkan grafik per bulannya, tindak kejahatan sering terjadi berada di bulan September. Hal ini disebabkan karena awal bulan puasa terjadi pada bulan tersebut.
Grafik yang ditampilkan diurutkan dari yang tertinggi sampai dengan terendah kecuali grafik kejahatan per bulan. Khusus grafik kejahatan yang spesifik, setiap kejahatan diurutkan dan dikelompokan sesuai dengan kejahatan umum masing- masing. Warna batang pada kejahatan terhadap manusia berwarna merah, kejahatan terhadap harta benda berwarna biru, dan kejahatan terhadap masyarakat berwarna hijau. Tampilan grafik dapat dilihat pada Lampiran 9.
Simulasi perhitungan jumlah tindak pidana (JTP) dan penyelesaiannya (PTP) serta jumlah kejahatan yang tertera pada grafik menggunakan fungsi COUNT.
Informasi JTP, PTP, serta banyaknya kejahatan pada grafik diambil berdasarkan bulan dan tahun. Informasi kejahatan yang ditampilkan adalah kejahatan konvensional.
No A adalah kejahatan terhadap manusia
kejahatan yang disimpan dalam tabel laporan harian pada basis data.
Gambar 25 Informasi JTP dan PTP.
Gambar 25 adalah gambar tampilan informasi JTP dan PTP kecamatan Bogor Barat pada tahun 2006. Berdasarkan informasi yang diperoleh terlihat bahwa total jumlah tindak pidana pada tahun 2006 yang terjadi sebanyak delapan puluh kasus dan kasus tersebut telah diselesaikan seluruhnya. Hal ini berarti persentase tingkat keberhasilan penyelesaian kasus kejahatan konvensional pada tahun 2006 di kecamatan Bogor Barat mencapai 100 %.
Melalui informasi ini, tingkat keberhasilan penyelesaian kasus kejahatan yang terjadi dapat diketahui oleh pihak kepolisian.
• Administrator
Fungsi yang dapat diakses oleh administrator adalah fungsi input, edit, dan hapus data, serta mencetak laporan polisi.
Data agenda, BaminOps, KaSPK, komentar, laporan harian, dan user merupakan data
adanya menu ubah dan hapus akan mempermudah pengguna dalam memasukkan input baru ke dalam basis data apabila terjadi kesalahan masukan.
b. Pengujian Sistem
Pada tahap ini juga dilakukan pengujian fungsi-fungsi SIPILAB dengan menggunakan metode black box. Tujuan dari pengujian ini adalah untuk mencari kesalahan pada sistem dan mengetahui sejauh mana sistem dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan harapan pengguna.
Tabel 3 adalah tabel pengujian untuk beberapa kasus pada sistem.
Tabel 3 Pengujian black box
Kasus Uji Menu yang diuji Tampilan
Informasi
- Depan - Komentar - Visi dan Misi - Kode Etik - TBCP - Struktur - BagOps - Agenda - JTP - PTP - Peta Bogor - Peta kelurahan per kecamatan - Grafik - Data agenda - Data lap_harian - Data kejahatan - Data pelapor - Data korban - Data pelaku - Data saksi - Data user - Data BaminOps - Data KaSPK - Laporan Polisi Validasi Login - Login administrator
- Login anggota kepolisian Pencarian Data - Data agenda
- Data BaminOps - Data KaSPK - Data komentar - Data laporan harian
Kasus Uji Menu yang diuji - Data User - Data JTP dan PTP - Peta kecamatan - Peta kelurahan per kecamatan - Grafik Pengiriman
komentar
- Komentar
Proses tambah, ubah dan hapus data
- Agenda - BaminOps - KaSPK - Hapus komentar - Lap_harian - Kejahatan - Pelapor - Korban - Pelaku - Saksi - User
Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh menu telah berfungsi sesuai harapan. Hasil lengkap pengujian dapat dilihat pada Lampiran 10. Selain itu, sistem telah diuji dengan menggunakan browser Internet Explorer 6.0 dan Mozilla Firefox.
Fungsi-fungsi yang terdapat pada SIPILAB apabila dijalankan pada kedua browser tersebut dapat berjalan dengan baik.
Untuk mengetahui sejauh mana sistem operasional yang dibangun sesuai dengan keinginan pengguna, maka dilakukan survei dalam bentuk kuisioner. Kuisioner ini diberikan kepada sepuluh orang staf Polresta Bogor. Berdasarkan hasil kuisioner, sistem yang dibangun dapat disimpulkan hampir memenuhi setiap kriteria yang diinginkan pengguna. Hal ini dikarenakan penilaian baik sekali yang tidak mencapai 100% serta tidak adanya penilaian yang kurang atau kurang sekali dari hasil tersebut. Hasil dari kuisioner terdapat pada Lampiran 17 dan 18.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Penelitian ini menghasilkan sebuah aplikasi web yang menampilkan informasi kejahatan konvensional yang berada di kota Bogor. Informasi yang ditampilkan berupa data teks, peta, dan grafik. Pewarnaan pada peta mencirikan tingkat kerawanan setiap kecamatan dan kelurahan. Semakin tinggi intensitas warna maka semakin banyak pula kejahatan yang terjadi. Berdasarkan tampilan grafik, setiap jenis kejahatan baik per kecamatan, kelurahan, dan dalam pola waktu tertentu yang sering terjadi akan lebih terlihat, sehingga diharapkan ada tindak lanjut dari
Kepolisian terhadap daerah yang sering terjadi kriminalitas. Sebagai tambahan informasi, ditampilkan pula data hasil perhitungan jumlah tindak pidana dan penyelesaiannya berdasarkan bulan dan tahun pada kecamatan atau kelurahan tertentu. Selain itu, disediakan format laporan polisi yang bisa langsung dicetak berdasarkan nomor polisi (Nopol) tertentu. Dengan demikian, sistem ini diharapkan dapat memudahkan kepolisian untuk memperoleh data kejahatan konvensional secara cepat.
Saran
Aplikasi SIPILAB ini dapat dikembangkan lebih lanjut dengan mempersempit daerah yang bisa ditampilkan oleh peta seperti RT dan RW serta memperluas kajian jenis kejahatan, seperti penambahan jenis kejahatan transnasional, kejahatan yang berimplikasi kontijensi, dan kejahatan terhadap kekayaan negara. Selain itu, penambahan fungsi grafik seperti tren pola kejahatan umum dan kejahatan spesifik setiap tiga tahun sekali akan menambah informasi bermanfaat lainnya bagi kepolisian. Aplikasi ini akan menjadi lebih baik apabila dibuat sebagai aplikasi SIG temporal. Dengan demikian, setiap perubahan yang terjadi seperti adanya perluasan daerah tertentu dapat diatasi.
DAFTAR PUSTAKA
Barus B, Wiradisastra US. 2000. Sistem Informasi Geografis : Sarana Manajemen Sumberdaya. Bogor : Fakultas Pertanian, IPB.
Connolly TM, Begg CE. 2002. Database Systems: A Practical Approach to Design, implementation, and Management – Third Edition. USA : Addison Wesley.
Greenspan J, Bulger B. 2001. MySQL/PHP Database Applications. New Delhi :IDG Books India(P) Ltd.
McLeod R. 2001. Sistem Informasi Manajemen - Jilid 1 Edisi Ketujuh Versi Bahasa Indonesia. Jakarta : PT Prenhalllindo.
O’Brien J. 1999. Management Information System. New York : McGraw-Hill.
Prihatna H. 2005. Kiat Praktis Menjadi Webmaster Profesional. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Sommerville I. 2001. Software Engineering – 6th Edition. Essex : Addison-Wesley.