commit to user
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Provinsi Lampung sebelum tanggal 18 Maret 1964 merupakan Keresidenan Lampung, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 3 tahun 1964 kemudian menjadi Undang-Undang Nomor 14 tahun 1964 Keresidenan Lampung ditingkatkan menjadi Provinsi Lampung dengan Ibukota Tanjungkarang- Telukbetung. Selanjutnya Kotamadya Tanjungkarang-Telukbetung tersebut berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 24 tahun 1983 telah diganti namanya menjadi Kotamadya Bandar Lampung terhitung sejak tanggal 17 Juni 1983.
Daerah Provinsi Lampung meliputi areal dataran seluas 35.288,35 Km2 termasuk pulau-pulau yang terletak pada bagian sebelah paling ujung tenggara pulau Sumatera, dan dibatasi oleh: Provinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu, di Sebelah Utara, Selat Sunda, di Sebelah Selatan, Laut Jawa, di Sebelah Timur, Samudra Indonesia, di Sebelah Barat. Wilayah Provinsi Lampung terletak antara 103o40’dengan 105o50’ Bujur Timur dan antara 3o45’dengan 6o45’ Lintang Selatan.
Secara topografi Daerah Lampung dapat dibagi dalam 5 (lima) unit topografi :
(a) Daerah topografis berbukit sampai bergunung, meliputi daerah dengan topografi:
lereng-lereng yang curam atau terjal dengan kemiringan berkisar 25%, dan ketinggian rata-rata 300 M di atas permukaan laut. Daerah ini meliputi Bukit Barisan dengan puncak tonjolan-tonjolannya berada pada Gunung Tanggamus, Gunung Pesawaran, dan Gunung Rajabasa, gunung yang terakhir ini berlokasi di Kalianda dengan ketinggian, rata-rata 1.500 M. Puncak- puncak lainnya adalah Bukit Pugung, Bukit Pesagi, Sekincau yang terdapat di bagian utara. Daerah tersebut umumnya ditutupi oleh vegetasi hutan primer atau sekunder.
commit to user
(b) Daerah topografis berombak sampai bergelombang meliputi daerah dengan topografi:
berupa bukit-bukit sempit, kemiringannya antara 8% sampai 15% dan ketinggian antara 300 M sampai 500 M dari permukaan laut. Daerah ini membatasi daerah pegunungan dengan dataran alluvial, vegetasi yang terdapat di daerah ini adalah tanaman-tanaman perkebunan seperti : kopi, cengkeh, lada dan tanaman pertanian peladangan seperti : padi, jagung, dan sayur-sayuran. Daerah tersebut meliputi daerah-daerah: Kedaton di wilayah Kota Bandar Lampung, Gedong Tataan di Kabupaten Lampung Selatan, Sukoharjo dan Pulau Panggung di Kabupaten Tanggamus serta Kalirejo dan Bangunrejo di Wilayah Kabupaten Lampung Tengah.
(c) Daerah dataran alluvial meliputi daerah sangat luas meliputi:
Lampung Tengah sampai mendekati pantai sebelah Timur merupakan bagian hilir (downstream) dari sungai-sungai yang besar seperti Way Sekampung, Way Tulang Bawang, dan Way Mesuji. Ketinggian di daerah ini berkisar antara 25 m sampai 75 m, dengan kemiringan 0% sampai 3%. Pada bagian pantai sebelah Barat dataran Alluvial menyempit dan memanjang menurut arah Bukit Barisan.
(d) Daerah dataran rawa pasang surut meliputi daerah di:
sepanjang pantai timur adalah merupakan daerah rawa pasang surut dengan ketinggian ½ M sampai 1 M, pengendapan air menurut naiknya pasang air laut.
(e) Daerah River Basin di Provinsi Lampung ada 5 yaitu:
River Basin Tulang Bawang, River Basin Seputih, River Basin Sekampung, River Basin Semangka dan River Basin Way Mesuji.
Provinsi Lampung pada tahun 1997 dimekarkan dari 4 kabupaten/kota menjadi 7 kabupaten/kota, namun pada tahun 1999 dengan UU No. 12 Tahun 1999 dimekarkan menjadi 10 kabupaten/kota. Kemudian pada tahun 2008 dimekarkan menjadi 11 kabupaten/kota. Hingga akhirnya pada tahun 2014 ini telah terbentuk 15 kabupaten/kota di Provinsi Lampung.
Penduduk Provinsi Lampung berdasarkan data BPS tahun 2012 (BPS Provinsi Lampung, 2013) berjumlah 7.767.312 orang dengan kepadatan
commit to user
penduduknya per kabupaten/kota sebesar 220 orang per Km2. Tingkat kepadatan penduduk di setiap kabupaten/kota tidak tersebar merata, kepadatan penduduk yang berada di kota lebih tinggi di bandingkan di desa. Gambaran secara umum keadaan kabupaten/kota di Provinsi Lampung dapat dilihat pada Tabel 4.1 di bawah ini:
Tabel 4.1. Kabupaten/Kota berdasarkan Luas Wilayah, Jumlah Kecamatan, Jumlah Desa/Kelurahan dan Kepadatan Penduduk di Provinsi Lampung Tahun 2014
No Kabupaten/Kota Luas (Km2)
Jumlah Kecamatan
Jumlah Desa/
Kelurahan
Kepadatan Penduduk/Km2 1. Lampung Barat 3.368,14 15 136 77,93
2. Tanggamus 3.014,99 20 302 182,00
3. Lampung Selatan 3.319,04 17 251 280,97
4. Lampung Timur 5.325,03 24 264 181,78
5. Lampung Tengah 3.802,68 28 307 313,72
6. Lampung Utara 2.725,87 23 247 218,12
7. Way Kanan 3.921,63 14 222 105,84
8. Tulang Bawang 3.196,32 15 151 128,50
9. Pesawaran 2.243,51 9 144 181,62
10. Pringsewu 625,00 9 131 592,25
11. Tulang Bawang B. 1.201,00 8 80 213,02
12. Mesuji 2.184,00 7 75 87,56
13. Pesisir Barat 1.582,26 11 118 104,48
14. Bandar Lampung 192,96 13 98 4.679,13
15. Metro 61,79 5 22 2.417,24
Jumlah 35.288,35 218 2.548 220,00
Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung (2015)
Tabel 4.1. Di atas menunjukkan bahwa kabupaten terluas adalah Kabupaten Lampung Timur (5.325,03 Km2) dan kabupaten tersempit adalah Kota Metro (61,79 Km2). Kota Metro sebagai kota tersempit namun memiliki kepadatan penduduk yang tinggi (2.417,24 Penduduk/Km2) dibandingkan kabupaten lainnya, hal ini menunjukkan adanya ketimpangan kepadatan penduduk antara wilayah desa dan kota. Kabupaten dengan kepadatan penduduk terkecil adalah Lampung Barat (77,93 Penduduk/Km2).
Kabupaten Pesisir Barat merupakan kabupaten yang terjauh dari ibukota Provinsi Lampung yaitu 300 Km dan jarak yang terdekat adalah Kabupaten Pesawaran yaitu 40 Km. Secara rinci jarak antara kabupaten/kota dengan ibukota Provinsi Lampung dapat dilihat pada Tabel 4.2. di bawah ini:
commit to user
Tabel 4.2. Jarak antara Kabupaten/Kota ke Ibukota Provinsi Lampung
No Kabupaten/Kota Ibukota Jarak ke Ibukota Provinsi
Lampung (Km) 1. Lampung Barat Liwa 246,10
2. Tanggamus Kota Agung 94,80
3. Lampung Selatan Kalianda 57,55
4. Lampung Timur Sukadana 84,00
5. Lampung Tengah Gunung Sugih 59,00
6. Lampung Utara Kotabumi 115,00 7. Way Kanan Blambangan Umpu 208,50 8. Tulang Bawang Menggala 119,00
9. Pesawaran Gedung Tataan 40,00
10. Pringsewu Pringsewu 50,00
11. Tulang Bawang B. Panaragan 115,00
12. Mesuji Mesuji 220,00
13. Pesisir Barat Krui 300,00
14. Bandar Lampung Bandar Lampung 0,00
15. Metro Metro 56,04
Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung (2015)
Angkatan kerja di bidang pertanian di Provinsi Lampung menduduki urutan pertama yaitu sebesar 49,26% atau 1.715.268 orang, diikuti di sektor jasa kemasyarakatan sebesar 12,60% atau 438.887 orang termasuk di dalamnya sejumlah 8.685 orang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Bila ditinjau dari jumlah rumah tangga usaha pertanian sub sektor tanaman pangan di Provinsi Lampung sebesar 743.542 rumah tangga.
Dibandingkan tahun 2003 jumlah tersebut mengalami penurunan sebanyak 55.789 rumah tangga (BPS Provinsi Lampung, 2015). Untuk lebih jelasnya jumlah rumah tangga usaha pertanian di Provinsi Lampung dapat dilihat pada Tabel 4.3.
di bawah ini.
Tabel 4.3. Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian per Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung Tahun 2014
No Kabupaten/Kota Rumah Tangga Usaha Pertanian
1. Lampung Barat 93.127
2. Tanggamus 102.608 3. Lampung Selatan 134.152 4. Lampung Timur 192.331 5. Lampung Tengah 232.957
6. Lampung Utara 95.271
7. Way Kanan 85.533
8. Tulang Bawang 63.354
9. Pesawaran 67.095
10. Pringsewu 54.677
commit to user
11. Tulang Bawang B. 48.975
12. Mesuji 38.669
13. Pesisir Barat Data tidak tersedia
14. Bandar Lampung 8.485 15. Metro 9.221 Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung (2015)
Tabel 4.3. di atas menjelaskan bahwa Kabupaten Lampung Tengah memiliki jumlah rumah tangga usaha pertanian yang terbesar yaitu 232.957 rumah tangga, diikuti dengan Kabupaten Lampung Timur sebesar 192.331 dan Lampung Selatan sebesar 134.152 rumah tangga, jadi bagi ketiga kabupaten ini usaha di bidang pertanian memegang peranan penting untuk menunjang rumah tangga masyarakatnya.
Bidang pertanian di Provinsi Lampung juga memberikan kontribusi terbesar dari PDRB yaitu sebesar 37,33% dari total PDRB Povinsi Lampung tahun 2014, diikuti dengan sektor lain seperti perdagangan, hotel dan restoran berkontribusi sebesar 15,66%, industri pengolahan sebesar 13,03%, bank, keuangan dan perusahaan umum sebesar 10,17%, angkutan dan komunikasi sebesar 8,27%, jasa sebesar 7,89%, bangunan sebesar 4,81%, pertambangan sebesar 1,90% dan listrik, air bersih sebesar 0,40%.
Bila ditinjau dari produk pertanian, Provinsi Lampung merupakan penghasil jagung terbesar ketiga setelah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Adapun luas areal pengembangan produksi jagung yang sudah dilakukan di Provinsi Lampung disajikan pada Tabel 4.4. berikut ini:
Tabel 4.4. Luas Lahan yang Digunakan untuk Komoditi Jagung per Kabupaten/
Kota di Provinsi Lampung (dalam Hektar) Tahun 2014
No Kabupaten/Kota Lahan yang sudah Digunakan (Ha):
1. Lampung Barat 4.152 2. Tanggamus 6.228 3. Lampung Selatan 114 232
4. Lampung Timur 99 025
5. Lampung Tengah 51 805
6. Lampung Utara 29.467
7. Way Kanan 17.025
8. Tulang Bawang 1.702
9. Pesawaran 18.204
10. Pringsewu 5.667 11. Tulang Bawang B. 1.407 12. Mesuji 461
commit to user
13. Pesisir Barat Data tidak tersedia
14. Bandar Lampung 193 15. Metro 152 Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung (2015)
Berdasarkan luas lahan yang telah diusahakan petani jagung pada tahun 2014 di Provinsi Lampung terlihat bahwa Kabupaten Lampung Selatan memiliki lahan usahatani jagung yang terluas sebesar 105.252 Ha, diikuti Kabupaten Lampung Timur seluas 96.220 Ha dan Lampung Tengah seluas 74.134 Ha. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga kabupaten tersebut masih menjadi sentra produksi tanaman jagung di Provinsi Lampung. Produksi jagung pada Kabupaten Lampung Selatan, Lampung Timur dan Lampung Tengah sebagai daerah penelitian dapat dilihat padaTabel 4.5 sebagai berikut:
Tabel 4.5. Produksi Jagung Jagung Kabupaten Lampung Selatan, Lampung Timur dan Lampung Tengah (dalam Ton) Tahun 2014
No Kabupaten/Kota Produksi Jagung
1. Lampung Selatan 597.080
2. Lampung Timur 516.412
3. Lampung Tengah 300.050
Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung (2015)
Tabel 4.5 di atas memberikan gambaran bahwa tingkat produksi jagung di daerah penelitian terbesar berada di Kabupaten Lampung Selatan, kemudian Kabupaten Lampung Timur dan terakhir adalah Lampung Tengah. Sedangkan produktivitas komoditas jagung di tiga kabupaten tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.6.
Tabel 4.6. Produktivitas Jagung Jagung Kabupaten Lampung Selatan, Lampung Timur dan Lampung Tengah (dalam Ton/Ha) Tahun 2014
No Kabupaten/Kota Produktivitas Jagung
1. Lampung Selatan 5,23
2. Lampung Timur 5,21
3. Lampung Tengah 5,79
Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung (2015)
Bila ditinjau dari tingkat produktivitas jagung petani di daerah penelitian, terlihat bahwa Kabupaten Lampung Tengah memiliki tingkat produktivitas yang tertinggi meskipun memiliki luas areal tanam yang paling sempit dibandingkan
commit to user
dengan kabupaten lainnya. Selanjutnya produktivitas jagung yang tertinggi kedua adalah Kabupaten Lampung Selatan dan terakhir Kabupaten Lampung Timur.
Tingkat harga jagung pipil kering berkualitas ditingkat petani Tahun 2015 pada daerah penelitian dapatdilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.7. Kisaran Harga Jagung Pipil Kering Berkualitas pada Petani di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung Timur dan Lampung Tengah (dalam Rupiah) Tahun 2015
No Kabupaten/Kota Kisaran Harga Jagung (Rp)
1. Lampung Selatan 2.300 – 3.000
2. Lampung Timur 2.100 – 3.000
3. Lampung Tengah 2.100 – 3.000
Sumber: Dinas Pertanian Provinsi Lampung (2015)
Besarnya tingkat harga jagung di petani ditentukan dari kualitas jagung kering pipil yang dihasilkan oleh petani, hal ini dapat dilihat dari kadungan kadar air (KA) di jagung, kontaminasi benda asing lain dan tingkat pecah biji jagung.
Kisaran harga jagung tertinggi berada di Kabupaten Lampung Selatan dikarenakan kualitas jagung yang dihasilkan Kabupaten Lampung Selatan lebih lebih baik dibandingkan Lampung Tengah dan Lampung Timur. Petani di Kabupaten Lampung Selatan menanam jagung setahun dua kali dan memanen jagung pada umur yang cukup yaitu sekitar 110-120 hari, sehingga kualitas jagung yang dihasilkan juga baik. Untuk Kabupaten Lampung Timur petani menaman jagung sebanyak tiga kali dalam setahun, sehingga petani memanen jagung pada umur 100 hari, karena untuk mengejar musim tanam berikutnya. Akibat pemanenan yang lebih cepat ini, kualitas jagung yang dihasilkan juga kurang baik, dan apabila jagung digiling untuk dibuat pakan ternak maka tidak menghasilkan butiran (granule) sesuai standar pabrik tetapi menjadi tepung jagung (di pabrik disebut bubur jagung).
Tingkat pendidikan yang ditempuh berdasarkan jenjang lembaga pendidikan di daerah penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.8 sebagai berikut:
Tabel 4.8. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan yang Pernah Ditempuh di Kabupaten Selatan, Lampung Timur dan Lampung Tengah Tahun 2014
No Kabupaten/Kota SD SMP SMA
1. Lampung Selatan 154.099 102.393 100.569
2. Lampung Timur 93.713 37.760 24.241
commit to user
3. Lampung Tengah 121.068 28.281 8.775
Keterangan: SD : Sekolah Dasar SMP: Sekolah Menengah Pertama SMA : Sekolah Menegah Atas
Sumber: Badan Pusat Statistik Lampung Selatan, Lampung Timur dan Lampung Tengah (2015)
Berdasarkan tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh terlihat bahwa Lampung Selatan memiliki sebaran tingkat pendidikan per jenjang cukup merata. Sedangkan di Kabupaten Lampung Timur dan Lampung Tengah terlihat bahwa terjadi penurunan jumlah penduduk yang melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi, terutama di Kabupaten Lampung Tengah terlihat penurunan yang sangat tajam dari tingkat SD sebanyak 121.068 orang sedangkan yang melanjutkan ke SMA berjumlah 8.775 orang.
Untuk meningkatkan kemampuan pendudukdi bidangpertanian dalambentuk penyuluhan di daerah penelitian terdapat Penyuluh Pertanian yang akan membantu petani dalam usahatani yang dilakukannya. Adapun jumlah penyuluh pertanian di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung Timur dan Lampung Tengah tersaji di Tabel 4.9.
Tabel 4.9. Jumlah Penyuluh Pertanian di Kabupaten Selatan, Lampung Timur dan Lampung Tengah Tahun 2015
No Kabupaten/Kota Penyuluh Pertanian Jumlah
Kecamatan
Rasio PNS THL Swadaya Jumlah
1. Lampung Selatan
130 69 37 236 17 14
2. Lampung Timur 130 84 - 214 24 9
3. Lampung Tengah
133 43 - 176 28 6
Keterangan: PNS: Pegawai Negeri Sipil THL: Tenaga Harian Lepas Sumber: Dinas Pertanian Provinsi Lampung (2015)
Jumlah penyuluh di terbesar berada di Kabupaten Lampung Selatan dan bila dibandingkan dengan jumlah kecamatan yang ada, maka rasio penyuluh/kecamatan di Lampung Selatan menjadi yang tertinggi yaitu sebesar 14. Sedangkan Lampung Timur dan Lampung tengah menempati urutan kedua dan ketiga dari rasio jumlah penyuluh pertanian yang akan mendampingi petani dalam melakukan usahataninya. Selain berasal dari penyuluh sumber informasi
commit to user
bagi masyarakat diperoleh melalui membaca buku. Adapun sebaran jumlah penduduk berdasarkan jenis buku yang baca setiap minggu disajikan pada tabel berikut ini:
Tabel 4.10. Sebaran Penduduk Berdasarkan Jenis Buku yang Dibaca Setiap Minggu di Kabupaten Selatan, Lampung Timur dan Lampung Tengah Tahun 2015 (dalam Persen)
No Kabupaten/Kota Jenis Buku Bacaan
Surat Kabar
Majalah/
Tabloid
Buku Cerita
Pengetahuan Sesuai Bidang Usaha
Buku Lainnya
1. Lampung Selatan
6,04 0,39 1,51 21,41 11 11,22
2. Lampung Timur 5,69 0,32 4,95 17,05 15,46
3. Lampung Tengah
6,15 1,38 2,94 17,66 15,55
Sumber: Badan Pusat Statistik Lampung Selatan, Lampung Timur dan Lampung Tengah (2015)
Jenis buku bacaan yang dibaca selama seminggu di tiga kabupaten tersbut tertinggi berada pada membaca atau mencari informasi yang berkaitan dengan bidang usaha yang dilakukan oleh penduduk. Selain itu penduduk juga mencari informasi atau pengetahun melalui buku-buku lainnya, surat kabar dan majalah. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk di daerah penelitian sudah mampu untuk mencari pengetahuan atau informasi secara mandiri melalui berbagai jenis buku yang dibacanya.
Untuk menunjang kegiatan usahatani maka petani diwajibkan untuk tergabung di dalam kelembagaan pertanian. Adapun kelembagaan pertanian yang mewadahi aktivitas petani di dalam menjalankan usaha dilakukan melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan Kelompok Tani (Poktan), untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.11. Jumlah Gabungan Kelompok Tani dan Kelompok Tani di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung Timur dan Lampung Tengah Tahun 2015
No Kabupaten/Kota Gabungan Kelompok
Tani
Kelompok Tani
1. Lampung Selatan 154 3.301
2. Lampung Timur 149 4.153
3. Lampung Tengah 250 3.097
Sumber: Dinas Pertanian Provinsi Lampung (2015)
commit to user
Bila dilihat pada tabel di atas, terlihat bahwa Kabupaten Lampung Tengah memiliki jumlah Gapoktan yang terbesar yaitu 250, namun untuk jumlah kelompok tani yang terbesar berada di Kabupaten Lampung Timur. Hal ini disebabkan Lampung Tengah memiliki jumlah kecamatan yang juga lebih besar (28 Kecamatan) dibanding dengan Lampung Timur (24 Kecamatan) dan Lampung Selatan (17 Kecamatan).
B. Gambaran Usahatani Jagung di Provinsi Lampung
Usahatani jagung yang dilakukan petani selama tiga tahun terakhir ini telah mengalami perubahan tujuan, semula tujuan penanaman jagung hanya untuk menghasilkan jagung pipilan kering yang akan digunakan untuk pakan ternah namun saat ini telah memiliki tiga tujuan yaitu (1) usahatani jagung yang dilakukan untuk menghasilkan jagung pipilan kering yang produknya akan digunakan untuk memasok kebutuhan pabrik pakan ternak, (2) usahatani jagung manis dilakukan untuk menghasilkan jagung manis muda yang produknya digunakan untuk kebutuhan pedagang jagung rebus, jagung bakar, restoran dan rumahtangga. Tujuan penanaman jagung yang terakhir (3) adalah untuk menghasilkan tebon, yaitu brangkasan pohon jagung yang akan digunakan untuk pakan hijauan ternak. Adapun gambaran umum budidaya ketiga jenis usahatani jagung tersebut diuraikan di bawah ini:
1. Usahatani Jagung Pipilan
Usahatani jagung dimulai dari persiapan lahan dengan melakukan pembersihan lahan dari gulma dan sisa-sisa tanaman sebelumnya. Lahan dibajak sedalam 15-20 cm, diikuti dengan penggaruan tanah sebanyak dua kali untuk menjadikan tanah lebih gembur dan rata sehingga siap untuk ditanami.
Pembajakan tanah dilakukan dengan menggunakan traktor tangan dengan menyewa dari masyarakat di sekitar lokasi lahan jagung. Adapun harga sewa traktor pengolahan lahan hingga siap ditanami sebesar Rp500.000,00 per hektar.
Setelah tanah siap ditanami maka benih jagung juga harus disiapkan, adapun jenis benih jagung yang digunakan disesuaikan dengan jenis tanah, iklim dan kondisi lahan di tiap wilayah.
commit to user
Benih yang biasa digunakan oleh petani di Kabupaten Lampung Timur adalah jagung hibrida varietas Bisi-816, NK-22 dan P-21, benih yang digunakan di Kabupaten Lampung Selatan adalah jagung hibrida varietas Bisi-2, P-21 dan Bisi-816 dan benih yang digunakan petani di Lampung Tengah adalah jagung hibrida varietasP-12, Bisi-816 dan Bisi-2.
Setelah benih disediakan dan siap ditanam maka dipersiapkan lubang tanam dengan kedalaman 3-5 cm dengan cara ditugal dengan jarak tanam sekitar 40 X 100 cm untuk 2 benih per lubang atau 25 X 75 cm untuk 1 benih per lubang.
Kebutuhan benih per hektar sekitar 15-20 kg dengan harga per 5 kg sebesar Rp300.000,00/sak, jumlah benih yang digunakan tergantung jarak tanam yang dilakukan petani. Selanjutnya dilakukan pemeliharaan tanaman jagung dimulai dengan kegiatan penjarangan dan penyulaman. Tanaman yang tumbuhnya tidak baik dan tidak sehat dipotong dengan pisau atau dipotong dengan gunting tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati, dilakukan 7-10 hari sesudah tanam (hst). Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman.
Kegiatan selanjutnya adalah penyiangan. Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dan lain-lain. Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.
Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Pembumbunan dilakukan saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan.
Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang.
Pemeliharaan tanaman jagung selanjutnya adalah pemupukan.
Pemupukan dilakukan dua kali yaitu pertama, pada saat tanaman berumur10-20
commit to user
hari dengan pupuk urea sebanyak 100kg/Ha dan SP-18 sebanyak 80-100 kg/Ha, KCL sebanyak 50 kg/Ha. Pemupukan kedua dilakukan pada saat tanaman jagung berumur 30-45 hari setelah tanam. Pemeliharaan tanaman jagung dari hama dan penyakit biasanya dilakukan pengobatan setelah terlihat adanya gejala atau serangan. Penyakit tanaman yang sering muncul adalah penyakit bulai dan di atasi dengan cara mencabut tanaman yang terkena penyakit dan dibakar agar tidak menulari tanaman jagung lainnya. Sedangkan hama yang sering menyerang tanaman jagung adalah belalang dan tikus. Pemberantasan tikus dilakukan dengan menyemprotkan pestisida posvit dan regent untuk mengatasi hama belalang yang menyerang tanaman jagung.
Penanaman jagung di Provinsi Lampung dilakukan di lahan kering tadah hujan sehingga pengairan dan penyiraman pada tanaman jagung jarang dilakukan petani. Selain itu penanaman jagung biasanya dilakukan pada awal musim hujan sehingga tanah menjadi lembab dan tanaman jagung tidak kekurangan air. Pemanenan jagung dilakukan setelah jagung berumur 110-120 hari setelah tanam. Untuk penjualan jagung dilakukan dengan dua cara yaitu petani memanen dengan sistem borongan dan mengeringkan jagung sendiri kemudian menjual ke pengepul atau datang sendiri ke pabrik pakan. Cara penjualan yang kedua adalah dengan sistem borongan di lahan pertanian oleh pemborong jagung. Tingkat harga yang berlaku di pabrik tergantung dengan kualitas dan kadar air yang terkandung di dalam jagung, adapun kisaran harganya antara Rp2.100,00-Rp3.000,00 per kg.
2. Usahatani jagung manis (sweet corn)
Usaha tani jagung manis tidak berbeda dengan jagung pipilan kering untuk mengolahan lahan, pemeliharaan dan pemupukan. Pengolahan lahan dimulai dari membersihkan lahan dari sisa tanaman sebelumnya kemudian dicangkul dan diolah dengan bajak. Tanah yang akan ditanami dicangkul sedalam 15-20 cm, kemudian diratakan. Setiap 3 m dibuat saluran pembuangan air sepanjang barisan tanaman. Lebar saluran 25-30 cm, kedalaman 20 cm.
Pembuatan saluran ini terutama pada tanah yang saluran pembuangannya jelek.
Di daerah dengan pH kurang dari 5, tanah dikapur (dosis 300 kg/ha) dengan cara menyebar kapur merata/pada barisan tanaman, + 1 bulan sebelum tanam.
commit to user
Sebelum tanam lahan disebari GLIO yang sudah dicampur dengan pupuk kandang matang untuk mencegah penyakit layu pada tanaman jagung.
Setelah lahan siap digunakan selanjutnya adalah menyediakan biji benih sebanyak 10 kg/ha. Varietas jagung manis yang digunakan petani adalah Bonanza F1 dan Sweet Boy. Untuk persiapan penanaman dimulai dari merendam biji dalam air biasa selama 1 jam untuk memudahkan perkecambahan dan ditiriskan.
Kemudian benih dicampurkan dengan furadan untuk mencegah kerusakan benih oleh semut. Bibit ditanam dalam lubang sebanyak 2 biji/lubang dengan jarak tanam antar lubang sekitar 45-50 cm.
Pemeliharaan tanaman jagung selanjutnya adalah pemupukan.
Pemupukan dilakukan dua kali yaitu pertama, pada saat tanaman berumur10-20 hari dengan pupuk urea sebanyak 100kg/Ha dan SP-18 sebanyak 80-100 kg/Ha, KCL sebanyak 50 kg/Ha. Pemupukan kedua dilakukan pada saat tanaman jagung berumur 30-45 hari setelah tanam.
Pemanenan yang dilakukan pada jagung manis berbeda dengan jagung pipilan kering yaitu dipanen pada umur 65 – 75 hari setelah tanam. Penjualan jagung manis juga dilakukan dengan dua cara yaitu sistem borongan (untuk lahan yang luas 1 ha atau lebih) dan di jual sendiri oleh petani ke pasar untuk lahan yang sempit atau bila jumlah jagung yang dipanen tidak banyak. Harga jual jagung manis tergantung ukurannya: kelas besar dengan harga beli di petani berkisar Rp1.200,00 – Rp1.300,00 per tongkol, kemudian kelas menengah dengan harga beli di petani berkisar Rp700 – Rp900,00 per tongkol, dan yang terakhir adalah kelas kecil dengan harga beli sekitar Rp400,00 – Rp500,00 per tongkol.
Usahatani jagung manis tidak dilakukan secara monokultur dalam areal yang luas (> 1 Ha) namun hanya ditanam secara multikultur dengan luas areal antara 0,2-2 Ha, penanaman biasanya dilakukan dengan cara tumpang sari dengan tanaman lain seperti kacang panjang, kacang hijau atau ubi kayu yang masih berumur di bawah tiga bulan. Selain itu juga jagung manis sering ditanam dengan cara campuran bersama tanaman kedelai atau kacang panjang dengan dibuat larikan di antara tanaman kacang-kacangan tersebut.
3. Usahatani jagung tebon/pakan ternak
commit to user
Usahatani jagung untuk tebon/pakan ternak dimulai dari persiapan lahan dengan melakukan pembersihan lahan dari gulma dan sisa-sisa tanaman sebelumnya. Lahan dibajak sedalam 15-20 cm, diikuti dengan penggaruan tanah sebanyak dua kali untuk menjadikan tanah lebih gembur dan rata sehingga siap untuk ditanami. Pembajakan tanah dilakukan dengan menggunakan traktor tangan dengan menyewa dari masyarakat di sekitar lokasi lahan jagung. Adapun harga sewa traktor pengolahan lahan hingga siap ditanami sebesar Rp500.000,00 per hektar. Setelah tanah siap ditanami maka benih jagung juga harus disiapkan, adapun jenis benih jagung yang digunakan disesuaikan dengan jenis tanah, iklim dan kondisi lahan di tiap wilayah.
Benih jagung yang digunakan petani untuk jagung tebon diantaranya DK 85, DK 999 dari Monsanto; Pasifik dari Asia Nusantara, BISI, Pioneer 27, namun yang paling disukai oleh perusahaan peternakan adalah jagung jenis Pioneer 27.
Penanaman jagung tebon menggunakan jarak tanam 20 cm X 20 cm sehingga populasinya dapat mencapai 300.000 - 350.000 tanaman/ha. Penanaman jagung sistem rapat membutuhkan benih 35 - 40 kg/ha. Pemupukan menggunakan pupuk kandang dengan dosis berkisar 5 – 15 ton/ha diberikan pada saat pengolahan tanah, dilanjutkan dengan pemupukan urea 200 kg/ha + SP36 200 kg/ha + KCl 100 kg/ha pada umur 7 – 10 HST. Selanjutnya pada umur 30-40 HST diberikan pupuk Urea 200- kg/ha.
Panen jagung tebon berkisar antara 19,9 ton/ha - 22, 5 ton/ha, dengan kisaran harga jual antara Rp800.000,00 – Rp1.000.000,00/ton jagung tebon, maka pendapatan petani per hektar antara Rp 19.900.000,00-Rp22.500.000,00.
C. Hasil Analisis Deskripsi Faktor Penelitian
Sebelum dilakukan analisis dekskiptif maupun inferensial dilakukan transformasi data dari skala ordinal ke skala interval karena jawaban responden dari pertanyaan penelitian berupa skor atau berskala ordinal maka untuk memenuhi syarat uji analisis jalur dimana data minimal berskala interval. Oleh karena itu dilakukan transformasi data ordinal ke data interval dengan menggunakan Method of Succesive Interval (MSI). Hasil tranformasi menjadi data interval ini yang selanjutnya dioleh dengan program SPSS 22 untuk
commit to user
mendapatkan hasi analisis jalur dari faktor pendidikan formal petani (X1), pengalaman usahatani jagung (X2), motivasi kerja (X3), partisipasi petani dalam kelembagaan di masyarakat (X4), akses informasi (X5), lingkungan usahatani (X6), persepsi petani pada kebijakan pemerintah (X7), persepsi petani pada proses pembelajaran dalam penyuluhan (X8), terhadap kompetensi kewirausahaan petani jagung (Y).
1. Latar Belakang Pendidikan Formal Petani Jagung (X1)
Profil responden pada penelitian ini ditinjau dari pendidikan yang formal yang pernah ditempuh, pengalaman berusahatani jagung yang dilakukan selama ini dan umur petani. Rentang waktu pendidikan formal yang pernah ditempuh responden adalah dari 1 sampai 12 tahun, dengan rata-rata 6 tahun atau setara dengan lulusan Sekolah Dasar (SD) pendidikan formal.
Tabel 4.12. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Formal Tingkat Pendidikan Formal
(Tahun)
Kategori Jumlah Orang
Persen (%)
≤ 6 SD 66 30,84
7-9 SMP 80 37,38
10-12 SLTA 68 31,78
Total 214 100
Sumber: Analisis Data Primer, 2015
Tabel 4.12. di atas menjelaskan komposisi latar belakang pendidikan formal responden yang dominan masuk kategori sekolah dasar (SD) 30,84 persen (66 orang), latar belakang pendidikan SMP sebesar 37,38 persen (80 orang) dan latar belakang pendidikan SLTA sebanyak 31,78 persen (68 orang). Adanya pendidikan SMP responden yang dominan menunjukkan bahwa sektor pertanian sering disebut sebagai sektor yang memiliki sumberdaya manusia masih rendah.
Keterkaitan pendidikan formal dengan kompetensi kewirausahaan petani jagung dapat dijelaskan pada Tabel 4.13 di bawah ini:
Tabel 4.13. Tabulasi Silang Distribusi Frekuensi Responden antara Tingkat Pendidikan Formal dengan Kompetensi Kewirausahaan Petani Jagung
commit to user
Tingkat Pendidikan Formal (Tahun)
Kompetensi Kewirausahaan Petani Jagung Kategori (Skor)
Tidak Mampu (60-105)
Kurang Mampu (106-150)
Mampu (151-195)
Sangat Mampu (196-240)
Jumlah
≤ 6 (SD) 8 45 9 4 66
7-9 (SMP) 17 17 28 18 80
10-12
(SLTA) 10 15 20
23 68
Total 23 77 57 45 214
Sumber: Analisis Data Primer, 2015
Tabel 4.13 menggambarkan kecenderungan semakin tinggi tingkat pendidikan petani maka tingkat kompetensi kewirausahaan petani juga semakin tinggi. Sebagai contoh tingkat kompetensi kewirausahaan sangat mampu sebanyak 4 orang yang berpendidikan SD, sedangkan petani yangmemiliki kompetensi kewirausahaan sangat mampu dengan pendidikan SMP sebesar 18 orang dan sebanyak 23 orang yang berpendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA).
2. Pengalaman Berusahatani Jagung (X2)
Pengalaman usahatani jagung responden memiliki rentang antara 1 sampai 25 tahun dengan rata-rata pengalaman kerja sekitar 13 tahun. Variasi pengalaman responden bekerja sebagai petani jagung yang terbanyak adalah 21- 25 tahun sebanyak 65 orang (30,37 persen) antara 14-20 tahun sebanyak 65 orang (30,37 persen), pengalaman bekerja selama 1-6 tahun sebanyak 47 orang (21,96 persen), pengalaman 7-13 tahun sebesar 22,43 persen (48 orang) dan 14- 20 tahun sebanyak 54 orang (25,23 persen).Secara terperinci pengalaman usahatani responden dapat dilihat pada Tabel 4.14. di bawah ini.
Tabel 4.14 Distribusi Responden Berdasarkan Pengalaman Bekerja sebagai Petani Jagung (Tahun)
Pengalaman Bekerja sebagai Petani Jagung
(Tahun 1 - 25)
Kategori Jumlah
Orang
Persen (%)
1-6 Tidak berpengalaman 47 21,96
7-13 Kurang berpengalaman 48 22,43
14-20 Berpengalaman 54 30,37
21-25 Sangat Berpengalaman 65 25,23
commit to user
Total 214 100
Sumber: Analisis Data Primer, 2015
Sedangkan untuk menjelaskan keterkaitan distribusi frekuensi antara tingkat pengalaman bekerja sebagai dengan kompetensi kewirausahaan petani jagung dapat dilihat pada Tabel 4.15 di bawah ini:
Tabel 4.15. Tabulasi Silang Distribusi Frekuensi Responden antara Tingkat Pengalaman Berusahatani Jagung dengan Kompetensi Kewirausahaan Petani Jagung
Tingkat Pengalaman
Usahatani (Tahun)
Kompetensi Kewirausahaan Petani Jagung Kategori (Skor)
Tidak Mampu (60-105)
Kurang Mampu (106-150)
Mampu (151-195)
Sangat Mampu (196-240)
Jumlah
1-6 5 7 12 23 47
7-13 11 9 13 15 48
14-20 14 8 10 22 54
21-25 32 7 12 14 65
Total 62 31 47 74 214
Sumber: Analisis Data Primer, 2015
Keterkaitan distribusi frekuensi tingkat pengalaman berusahatani jagung dengan kompetensi kewirausahaan petani jagung memiliki kecenderungan yang semakin menurun, hal ini terlihat bahwa petani dengan kompetensi kewirausahaan sangat mampu memiliki tingkat pengalaman usaha tani antara 1-6 tahun. Petani yang memiliki pengalaman antara 21-25 tahun justru memiliki kompetensi yang tidak mampu sebesar 32 orang. Kecenderungan ini disebabkan karena responden yang memiliki pengalaman usahatani lebih lama akan lebih berhati-hati untuk mencoba suatu usaha baru yang terkait dengan usahatani jagung yang bisa mereka tanam. Umumnya mereka tidak mau berspekulasi untuk mengganti tanaman jagung untuk pakan ternak dengan tanaman jagung manis atau tanaman jagung tebon. Sebaliknya responden yang memiliki pengalaman usahatani relatif baru,mereka semakin tertarik untuk mencoba usahatani jagung lainnya yaitu jagung manis dantebon sebagai antisipasi terhadap perubahan iklim, permintaan pasar dan memperkecil resiko kegagalan panen.
3. Motivasi Kerja (X3)
commit to user
Pembahasan motivasi kerja petani ditinjau berdasarkan (a) tingkat keinginan petani untuk melakukan usahatani yang sesuai dengan lingkungan keluarga dan alam sekitar (b) tingkat keinginan petani untuk berusahatani karena melestarikan pekerjaan pertanian yang dilakukan keluarga, (c) tingkat keinginan petani untuk berinteraksi dengan sesama petani lainnya dan dapatditerima oleh masyarakat di sekitarnya, (d) tingkat keinginan petani untuk memperluas usahatani jagung, (e) kemauan petani untuk bekerja keras agar mendapatkan hasil produksi yang tinggi (f) tingkat keinginan petani jagung untuk mendapatkan taraf kehidupan yang lebih baik. Kategori motivasi kerja petani jagung dilakukan dengan cara membuat skor dari jawaban responden dan kategori tersebut dibedakan atas tinggi, sedang dan rendah. Pembuatan kategori tersebut menggunakan median atas dasar pengakuan dan jawaban responden tentang kemampuan, penguasaan terhadap pengetahuan tertentu.
Tabel 4.16. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Motivasi Kerja Tingkat Motivasi
Kerja (Kategori skor:
6 -24)
Kategori Jumlah Orang
Persen (%)
6-10 Tidak ingin 38 17,76
11-15 Kurang ingin 50 23,36
16-20 Ingin 62 28,97
21-24 Sangat ingin 64 29,91
Total 214 100
Sumber: Analisis Data Primer, 2015
Tingkat motivasi kerja responden sebagian besar berada pada kategori sangat ingin 29,91 persen (64 orang), diikuti tingkat motivasi kerja kategori ingin sebesar 28,97 persen (62 orang) dan responden dengan tingkat motivasi kerja terendah adalah kategori tidak ingin sebesar 17,76 persen (38 orang).
Berdasarkan pendapat responden tingkat motivasi kerja mereka termasuk kategori sangat ingin karena keinginan petani untuk melakukan usahatani yang sesuai dengan lingkungan keluarga dan alam sekitar dan untuk meneruskan dan melestarikan pekerjaan pertanian yang telah dilakukan keluarga secara turun menurun. Untuk mengetahui keterkaitan antara distribusi frekuensi responden antara motivasi kerja dengan kompetensi kewirausahaan petani jagung dapatdijelaskan pada tabel di bawah ini:
commit to user
Tabel 4.17. Tabulasi Silang Distribusi Frekuensi Responden antara Tingkat Motivasi Kerja dengan Kompetensi Kewirausahaan Petani Jagung
Motivasi Kerja (Kategori Skor 6-24)
Kompetensi Kewirausahaan Petani Jagung Kategori (Skor)
Tidak Mampu (60-105)
Kurang Mampu (106-150)
Mampu (151-195)
Sangat Mampu (196-240)
Jumlah
6-10 (tidak ingin) 4 7 11 16 38
11-15 (kurang ingin) 8 12 13 17 50
16-20 (ingin) 10 14 17 21 62
21-24 (sangat ingin) 7 12 15 30 64
Total 29 45 56 84 214
Sumber: Analisis Data Primer, 2015
Keterkaitan distribusi frekuensi tingkat motivasi kerja petani jagung dengan kompetensi kewirausahaan petani jagung memiliki kecenderungan yang semakin meningkat, hal ini terlihat bahwa petani dengan kompetensi kewirausahaan kategori tidak mampu sebanyak 4 orang memiliki tingkat motivasi kerja yang tidak ingin. Sedangkan petani yang memiliki kompetensi mampu sedang sebanyak 56 orang dan memiliki motivasi kategori sangat ingin (skor: 21- 24) memiliki kompetensi kewirausahaan petani jagung kategori sangat mampu sebanyak 84 orang. Jadi semakin tinggi tingkat motivasi kerja seorang petani jagung maka kecenderungan kompetensi kewiraushaannya akan semakin tinggi juga.
4. Partisipasi petani dalam kelembagaan di masyarakat (X4)
Tingkat partisipasi petani dalam kelembagaan di masyarakat responden meliputi partisipasi petani dalam kelembagaan di masyarakat, partisipasi petani dalam kelompok tani dan partisipasi petani dalam kelembagaan penyuluhan.
Tabel 4.18. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Partisipasi petani dalam kelembagaan di masyarakat
Tingkat Partisipasi petani dalam kelembagaan di masyarakat
(Kategori skor: 11-44)
Kategori Jumlah
Orang
Persen (%)
11 - 19 Tidak pernah 46 21,50
20 - 27 Kadang-kadang 58 27,10
28 - 35 Sering 65 30,37
36 - 44 Sangat sering 45 21,03
commit to user
Total 214 100
Sumber: Analisis Data Primer, 2015
Tingkat partisipasi petani dalam kelembagaan di masyarakat tertinggi berada di kategori sering berpartisipasi (skor 28-35) sebesar 30,37 persen (65 orang), diikuti kategori kadang-kadang 27,10 persen (58 orang) dan tingkat partisipasi terendah pada kategori sangat sering sebesar 21,03 persen (45 orang).
Faktor partisipasi petani dalam kelembagaan di masyarakat terdiri dari parameter partisipasi petani dalam kelembagaan di masyarakat, partisipasi petani jagung dalam kegiatan di kelompok tani, dan partisipasi petani jagung dalam kegiatan di lembaga penyuluhan. Penilaian responden terbesar terhadap (parameter) partisipasi petani dalam kelembagaan di masyarakat, partisipasi petani jagung dalam kegiatan di kelompok tani, dan partisipasi petani jagung dalam kegiatan di lembaga penyuluhan berada pada kategori sering, diikuti kategori kadang-kadang dan terakhir pada kategori sangat sering. Hal ini menunjukkan bahwa keaktifan responden untuk berpartisipasi pada setiap kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat, kelompok tani dan lembaga penyuluhan cukup baik.
Untuk mengetahui keterkaitan antara distribusi frekuensi responden antara partisipasi petani dalam kelembagaan di masyarakat dengan kompetensi kewirausahaan petani jagung dapat dijelaskan pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.19 Tabulasi Silang Distribusi Frekuensi Responden antara Partisipasi Petani dalam Kelembagaan di Masyarakat dengan Kompetensi Kewirausahaan Petani Jagung
Partisipasi petani dalam kelembagaan di masyarakat
(Kategori Skor: 11-44)
Kompetensi Kewirausahaan Petani Jagung Kategori (Skor)
Tidak Mampu (60-105)
Kurang Mampu (106-150)
Mampu (151-195)
Sangat Mampu (196-240)
Jumlah
11 - 19 (tidak pernah) 8 11 13 14 46
20 - 27 (kadang-kadang) 9 12 15 22 58
28 - 35 (sering) 10 14 17 24 65
36 – 44 (sangat sering) 3 8 13 45 45
Total 30 45 58 81 214
Sumber: Analisis Data Primer, 2015
Keterkaitan distribusi frekuensi partisipasi petani dalam kelembagaan di masyarakat dengan kompetensi kewirausahaan petani jagung memiliki kecenderungan yang semakin meningkat, hal ini terlihat bahwa petani dengan
commit to user
kompetensi kewirausahaan tidak mampu sebanyak 8 orang memiliki tingkat partisipasi petani dalam kelembagaan di masyarakat yang tidak pernah berpartisipasi. Sedangkan petani yang memiliki kompetensi mampu sebanyak 58 orang dan memiliki partisipasi petani dalam kelembagaan di masyarakat yang sering (skor: 28-35) sebesar 65 orang. Kompetensi kewirausahaan petani jagung kategori sangat mampu sebanyak 81 orang dengan tingkat partisipasi petani dalam kelembagaan di masyarakat yang sangat sering juga. Jadi semakin tinggi tingkat partisipasi petani dalam kelembagaan di masyarakat seorang petani jagung maka kecenderungan kompetensi kewirausahaannya akan semakin tinggi juga.
5. Akses informasi
Akses informasi adalah ketersediaan informasi yang ada kaitannya dengan usahatani, yang meliputi ketersediaan informasi yang dapat diperoleh petani melalui petani-petani lain, tokoh masyarakat dan agen sarana produksi.
Distribusi responden berdasarkan tingkat akses informasi disajikan pada Tabel 4.20. di bawah ini:
Tabel 4.20. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Akses Informasi Tingkat Akses Informasi
(Kategori skor: 12-48)
Kategori Jumlah Orang
Persen (%)
12 - 21 Tidak mudah 44 21,50
22 - 30 Kurang mudah 48 22,43
31 - 39 Mudah 54 25,23
40 - 48 Sangat mudah 68 31,78
Total 214 100
Sumber: Analisis Data Primer, 2015
Tingkat akses informasi sesuai jawaban responden memiliki kategori yang tidak terlalu jauh berbeda, meskipun tertinggi berada pada kategori sangat mudah sebesar 31,78 persen (68 orang) dan yang terendah pada kategori tidak mudah sebesar 21,50 persen (44 orang). Hal ini menunjukkan bahwa para responden memiliki upaya mencari informasi berkaitan dengan usahatani jagung yang dilakukannya. Adapun keterkaitan antara distribusi frekuensi responden akses informasi dengan kompetensi kewirausahaan petani jagung dapat dijelaskan pada tabel di bawah ini:
commit to user
Tabel 4.21. Tabulasi Silang Distribusi Frekuensi Responden antara Akses Informasi dengan Kompetensi Kewirausahaan Petani Jagung
Akses Informasi (Kategori Skor: 12-48)
Kompetensi Kewirausahaan Petani Jagung Kategori (Skor)
Tidak Mampu (60-105)
Kurang Mampu (106-150)
Mampu (151-195)
Sangat Mampu (196-240)
Jumlah
12 – 21 (Tidak mudah) 7 11 12 14 44
22 – 30 (Kurang mudah) 8 10 12 18 48
31 – 39 (Mudah) 8 12 15 19 54
40 – 48 (Sangat mudah) 9 15 17 27 68
Total 32 48 56 78 214
Sumber: Analisis Data Primer, 2015
Keterkaitan distribusi frekuensi akses informasi dengan kompetensi kewirausahaan petani jagung memiliki kecenderungan yang semakin meningkat, hal ini terlihat bahwa petani dengan kompetensi kewirausahaan kategori tidak mampu sebanyak 7 orang memiliki tingkat akses informasi yang tidak mudah.
Sedangkan petani yang memiliki kompetensi mampu sebanyak 56 orang dan memiliki akses informasi yang mudah (skor: 31-39) sebanyak 54 orang.
Kompetensi kewirausahaan petani jagung kategori sangat mampu sebanyak 78 orang dengan tingkat akses informasi yang sangat mudah juga. Jadi semakin mudah tingkat akses informasi seorang petani jagung maka kecenderungan kompetensi kewirausahaannya akan semakin sangat mampu juga.
Penilaian responden terbesar terhadap akses informasi sebagian besar berada pada kategori sangat mudah, hal ini menunjukkan bahwa untuk mendapatkan informasi tentang usahatani jagung, responden aktif bertanya kepada petani-petani lain, tokoh masyarakat dan agen sarana produksi.
Responden lebih banyak kepada petani-petani lain dalam rangka mencari informasi yang berkaitan dengan budidaya jagung. Hal ini menunjukkan bahwa responden tidak hanya percaya pada informasi yang diberikan oleh sesama petani tetapi juga informasi yang diberikan oleh tokoh masyarakat dan agen sarana produksi.
6. Lingkungan Usahatani
Lingkungan usahatani dalam penelitian ini meliputi luas lahan yang digunakan untuk usahatani jagung dan permodalan yang digunakan responden
commit to user
untuk usahatani jagung. Distribusi responden berdasarkan tingkat lingkungan usahatani dapat dilihat pada Tabel 4.22 di bawah.
Tabel 4.22. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Lingkungan Usahatani TingkatLingkungan
Usahatani
(Kategori skor: 9-36)
Kategori Jumlah Orang
Persen (%)
9 – 15 Tidak Mendukung 44 20,56
16 – 22 Kurang Mendukung 46 21,50
23 – 29 Mendukung 57 26,64
30 – 36 Sangat Mendukung 67 31,31
Total 214 100
Sumber: Analisis Data Primer, 2015
Tingkat skoring jawaban responden untuk lingkungan usahatani tertinggi berada pada kategori sangat mendukung sebesar 31,31 persen (67 orang), diikuti tingkat kategori mendukung sebesar 26,64 persen (57) dan kategori tidak mendukung sebesar 20,56 persen (44 orang). Adapun keterkaitan antara distribusi frekuensi responden lingkungan usahatani dengan kompetensi kewirausahaan petani jagung dapat dijelaskan pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.23. Tabulasi Silang Distribusi Frekuensi Responden antara Lingkungan Usahatani dengan Kompetensi Kewirausahaan Petani Jagung Lingkungan Usahatani
(Kategori Skor: 9-36)
Kompetensi Kewirausahaan Petani Jagung Kategori (Skor)
Tidak Mampu (60-105)
Kurang Mampu (106-150)
Mampu (151-195)
Sangat Mampu (196-240)
Jumlah
9 – 15 (Tidak mendukung) 7 11 12 14 44
16 – 22 (Kurang mendukung) 8 9 12 17 46
23 – 29 (mendukung) 8 13 15 21 57
30 – 36 (Sangat mendukung) 9 15 17 26 67
Total 32 48 56 78 214
Sumber: Analisis Data Primer, 2015
Tabel di atas menunjukkan bahwa keterkaitan distribusi frekuensi lingkungan usahatani dengan kompetensi kewirausahaan petani jagung memiliki kecenderungan yang semakin meningkat, hal ini terlihat bahwa petani dengan kompetensi kewirausahaan tidak mampu sebanyak 7 orang memiliki tingkat lingkungan usahatani yang tidak mendukung. Sedangkan petani yang memiliki kompetensi mampu sebanyak 56 orang dan memiliki lingkungan usahatani yang
commit to user
mendukung (skor: 23-9) sebanyak 57 orang. Kompetensi kewirausahaan petani jagung kategori sangat mampu sebanyak 56 orang dengan tingkat lingkungan usahatani yang sangat mendukung juga sebesar 67 orang. Jadi semakin tinggi tingkat lingkungan usahatani seorang petani jagung maka kecenderungan kompetensi kewirausahaannya akan semakin tinggi juga.
Sesuai dengan jawaban responden bahwa lahan yang digunakan untuk usahatani jagung berasal dari menyewa lahan karena rata-rata luas kepemilikan lahan responden hanya berkisar antara 0,25-2,00 ha, sedangkan dengan rata-rata luas lahan yang diusahakan untuk menanam jagung sebesar 2-8 ha per responden.
Untuk memenuhi kebutuhan lahan tersebut responden menyewa dari orang lain baik dengan sistem bagi hasil, gadai ataupun menyewa. Menurut pendapat responden bagi mereka tidak ada hambatan untuk mendapatkan lahan yang akan disewa. Namun masalah yang ada adalah dukungan modal usahatani, mengingat luas besarnya luas lahan yang disewa responden sehingga biaya usahatani juga menjadi besar.
7. Kebijakan Pemerintah
Pembahasan kebijakan pemerintah meliputi persepsi petani terhadap kebijakan pemerintah dalam menentukan harga jual jagung, persepsi petani terhadap penyediaan sarana dan prasarana produksi jagung dan persepsi petani terhadap pemerintah yang membantu pemasaran jagung. Distribusi responden berdasarkan persepsi petani pada kebijakan pemerintah disajikan pada Tabel 4.24.
Tabel 4.24. Distribusi Responden Berdasarkan Kebijakan Pemerintah Kebijakan Pemerintah
(Kategori skor: 12-48)
Kategori Jumlah Orang
Persen (%)
12 - 21 Tidak membantu 57 26,64
22 - 30 Kurang membantu 57 26,64
31 - 39 Membantu 54 25,23
40 - 48 Sangat membantu 46 21,50
Total 214 100
commit to user Sumber: Analisis Data Primer, 2015
Skoring jawaban responden terbesar pada kategori tidak membantu dan kurang membantu yaitu 26,64 persen (57 orang), dan skor kebijakan pemerintah terendah berada pada kategori sangat membantu sebanyak 21,50 persen (46 orang). Untuk mengetahui keterkaitan antara distribusi frekuensi responden kebijakan pemerintah dengan kompetensi kewirausahaan petani jagung dapat dijelaskan pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.25. Tabulasi Silang Distribusi Frekuensi Responden antara Persepsi Petani pada Kebijakan Pemerintah dengan Kompetensi
Kewirausahaan Petani Jagung Persepsi Petani pada
Kebijakan Pemerintah
(Kategori Skor: 12-48)
Kompetensi Kewirausahaan Petani Jagung Kategori (Skor)
Tidak Mampu (60-105)
Kurang Mampu (106-150)
Mampu (151-195)
Sangat Mampu (196-240)
Jumlah
12 - 21 (Tidak membantu) 8 13 15 21 57
22 - 30 (Kurang membantu) 12 11 12 22 57
31 - 39 (Membantu) 12 16 12 14 54
40 – 48 (Sangat membantu) 8 9 12 17 46
Total 36 51 54 73 214
Sumber: Analisis Data Primer, 2015
Tabel di atas menunjukkan bahwa keterkaitan distribusi frekuensi persepsi petani pada kebijakan pemerintah dengan kompetensi kewirausahaan petani jagung memiliki kecenderungan yang semakin meningkat, hal ini terlihat bahwa petani dengan kompetensi kewirausahaan tidak mampu sebanyak 8 orang memiliki tingkat persepsi petani pada kebijakan pemerintah yang kurang membantu. Sedangkan petani yang memiliki kompetensi mampu sebanyak 54 orang dan memiliki persepsi petani pada kebijakan pemerintah yang membantu (skor: 31-39) sebesar 54 orang. Kompetensi kewirausahaan petani jagung kategori sangat mampu sebanyak 17 orang dengan tingkat persepsi petani pada kebijakan pemerintah yang sangat membantu juga. Jadi semakin tinggi tingkat persepsi petani pada kebijakan pemerintah seorang petani jagung maka kecenderungan kompetensi kewirausahaannya akan semakin tinggi juga. Namun pada saat ini pemerintah belum secara aktif membantu petani dalam menentukan harga jual jagung maupun membantu dalam pemasaran. Namun pemerintah telah berupaya untuk mencegah penurunan harga pada saat panen raya dengan
commit to user
mengeluarkan SK Gubernur No G/514/ III.09/ HK/2006 tentang harga minimal di tingkat petani jagung.
8. Proses Pembelajaran dalam Penyuluhan
Proses pembelajaran dalam penyuluhan dapat dijelaskan dengan persepsi petani terhadap tingkat pencapaiantujuan penyuluhan, materi penyuluhan, metode penyuluhan, media penyuluhan, interaksi petani dan penyuluh, kemampuan menguasai materi yang akan disampaikan, sarana dan prasarana dan evaluasi penyuluhan. Distribusi responden berdasarkan tingkat persepsi petani pada proses pembelajaran dalam penyuluhan dapat dilihat pada Tabel 4.26 di bawah ini:
Tabel 4.26. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Persepsi Petani pada Proses Pembelajaran dalam Penyuluhan
Tingkat Persepsi Petani pada Proses Pembelajaran dalam Penyuluhan (Kategori skor:
26-104)
Kategori Jumlah Orang
Persen (%)
26 – 45 Tidak tercapai 34 15,89
46 – 65 Kurang tercapai 55 25,70
66 – 84 Tercapai 64 29,91
85 - 104 Sangat tercapai 61 28,50
Total 214 100
Sumber: Analisis Data Primer, 2015
Berdasarkan jawaban responden tentang persepsi petani pada proses pembelajaran dalam penyuluhan tertinggi berada pada kategori tercapai sebesar 29,91 persen (64 orang), kemudian kategori sangat tercapai 28,50 persen (61 orang) dan kategori tidak tercapai 15,89 persen (34 orang). Untuk mengetahui keterkaitan antara distribusi frekuensi responden persepsi petani pada proses pembelajaran dalam penyuluhan dengan kompetensi kewirausahaan petani jagung dapat dijelaskan pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.27. Tabulasi Silang Distribusi Frekuensi Responden antara Proses
Pembelajaran dalam Penyuluhan dengan Kompetensi Kewirausahaan Petani Jagung
Pembelajaran dalam Penyuluhan (Kategori Skor: 26-104)
Kompetensi Kewirausahaan Petani Jagung Kategori (Skor)
Tidak Mampu (60-105)
Kurang Mampu (106-150)
Mampu (151-195)
Sangat Mampu (196-240)
Jumlah
26 – 45 (Tidak tercapai) 5 8 10 11 34
commit to user
46 – 65 (Kurang tercapai) 8 10 17 20 55
66 – 84 (Tercapai) 12 12 16 24 64
85 – 104 (Sangat tercapai) 11 13 18 19 61
Total 36 43 61 74 214
Sumber: Analisis Data Primer, 2015
Tabel di atas menunjukkan bahwa keterkaitan distribusi frekuensi persepsi petani pada proses pembelajaran dalam penyuluhan dengan kompetensi kewirausahaan petani jagung memiliki kecenderungan yang semakin meningkat, hal ini terlihat bahwa petani dengan kompetensi kewirausahaan kategori tidak mampu sebanyak 5 orang memiliki tingkat persepsi petani pada proses pembelajaran dalam penyuluhan masuk kategori tidak tercapai. Sedangkan petani yang memiliki kompetensi mampu sebanyak 61 orang dan memiliki persepsi petani pada proses pembelajaran dalam penyuluhan yang tercapai (skor:
66-84). Kompetensi kewirausahaan petani jagung kategori sangat mampu sebanyak 19 orang dengan persepsi petani pada proses pembelajaran dalam penyuluhan dalamkategori sangat tercapai. Jadi semakin tinggi tingkat persepsi petani pada proses pembelajaran dalam penyuluhan maka kecenderungan kompetensi kewirausahaannya akan semakin tinggi juga.
9. Kompetensi Kewirausahaan Petani Jagung
Kompetensi kewirausahaan petani jagung meliputi terampil dalam teknis budidaya jagung, mampu membuat dan mengambil keputusan, mampu mengorganisasi orang lain, mampu mengelola pemasaran dan keuangan, berani mengambil resiko, mampu berkreasi dan berinovasi, berorientasi ke masa depan, mampu menangkap peluang, mampu mengelola personal, mampu memimpin, mampu berkomunikasi. Adapun skoring dan kategori kompetensi kewirausahaan petani jagung dapat dilihat pada Tabel 4.28 di bawah ini.
Tabel 4.28. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Kompetensi Kewirausahaan Petani Jagung
Tingkat Kompetensi Kewirausahaan Petani Jagung
(Kategori skor: 60-240)
Kategori Jumlah Orang
Persen (%)
60 - 105 Tidak mampu 39 18,22
106 - 150 Kurang mampu 50 23,36
151 - 195 Mampu 65 30,37
195 - 240 Sangat mampu 60 28,04
commit to user
Total 214 100
Sumber: Analisis Data Primer, 2015
Jawaban responden pada kompetensi kewirausahaan petani jagung tertinggi berada pada kategori mampu 30,37 persen (65 orang), kemudian kategori sangat mampu sebesar 28,04 persen (60 orang). Indikator-indikator kompetensi kewirausahaan petani jagung terdiri dari terampil dalam teknis budidaya jagung, mampu membuat dan mengambil keputusan, mampu mengorganisasi orang lain, mampu mengelola pemasaran dan keuangan, berani mengambil resiko, mampu berkreasi dan berinovasi, berorientasi ke masa depan, mampu menangkap peluang, mampu mengelola personal, mampu memimpin, mampu berkomunikasi.
Adapun deskripsi parameter kompetensi kewirausahaan petani jagung disajikan pada Gambar 4.1
0 20 40 60 80 100
Terampil dalam teknis budidaya
jagung
Mampu membuat dan mengambil
keputusan
Mampu mengorganisasi
orang lain
Mampu Mengelola Pemasaran dan
keuangan
Berani mengambil resiko Kemampuan
berkreasi dan berinovasi Berorientasi ke masa
depan Mampu menangkap
peluang Mampu mengelola
personal Mampu memimpin
Mampu berkomunikasi
Tingkat Kompetensi Kewirausahaan Petani Jagung Di Provinsi Lampung
Rendah Sedang Tinggi Petani Jagung
commit to user
Gambar 4.1. Nilai Rata-Rata Kompetensi Kewirausahaan Petani Jagung di Provinsi Lampung menggunakan Jaring Laba-laba
Berdasarkan Gambar 4.1 terlihat bahwa penilaian responden terhadap parameter kompetensi kewirausahaan petani jagung di Lampung berada pada kriteria antara sedang dan tinggi, yaitu berada di antara garis merah dan hijau.
Gambar 4.1 di atas menunjukkan bahwa penilaian responden terhadap parameter terampil dalam teknis budidaya jagung, mampu mengelola pemasaran dan keuangan, mampu berkreasi dan berinovasi, mampu menangkap peluang, mampu mengelola personal, mampu berkomunikasi termasuk dalam kategori sedang.
Untuk parameter mampu membuat dan mengambil keputusan, mampu mengorganisasi orang lain, berani mengambil resiko, berorientasi ke masa depan, mampu memimpin termasuk dalam kategori tinggi. Penilaian responden terhadap faktor kompetensi kewirausahaan petani jagung sudah termasuk baik, hal ini terlihat dari kegiatan usahatani jagung yang dilakukan sudah bervariasi dan luasan usahatani jagung antara 2-8 hektar per responden.
Distribusi kemampuan teknis budidaya jagung responden terbesar berada pada kategori sedang sebanyak 50,47% (108 orang), diikuti kategori rendah 34%
(74 orang) dan kategori tinggi sebesar 14,95% (32 orang). Kemampuan teknis budidaya jagung adalah kemampuan dalam melakukan usahatani jagung yang meliputi: persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, pemberantasan hama penyakit, pemanenan, penanganan pasca panen dan pemasaran. Pengalaman usahatani jagung petani yang terbesar antara 9-17 tahun sebanyak 106 orang, menggambarkan bahwa petani sudah cukup mempunyai pengalaman secara teknis dalam mengelola usahataninya.
Distribusi kemampuan mengelola pemasaran dan keuangan responden terbesar berada pada kategori sedang yaitu 77,10% (165 orang), kategori rendah 21,50% (46 orang) dan kategori tinggi 1,4% (3 orang). Kemampuan mengelola pemasaran dan keuangan merupakan kemampuan untuk menggunakan modal untuk keperluan operasional usahatani, kemampuan menentukan dimana produk usahatani akan dijual, menjual hasil usahatani dengan harga tertinggi, menentukan saat yang tepat untuk menjual hasil usahatani, menentukan berapa banyak hasil