• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II BIOGRAFI SYEKH NAWAWI AL-BANTANI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II BIOGRAFI SYEKH NAWAWI AL-BANTANI"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

14 BAB II

BIOGRAFI SYEKH NAWAWI AL-BANTANI

A. Kondisi Geografis Banten

Banten pada awalnya merupakan sebuah daerah yang berada di Provinsi Jawa Barat.Namun pada saat ini Banten mengalami pemekaran sehingga berbentuk Provinsi Banten dengan luas wilayahnya yaitu 114 mil persegi.

Provinsi Banten memiliki wilayah kekuasaan mulai dari Tangerang, Pandeglang, Lebak, Kota Cilegon, Kota Serang, Kota Tangerang, hingga Tangerang selatan. Sedangkan ibukota provinsi terletak di Kota Serang.1

Adapun kondisi geografis Provinsi Banten sendiri didominasi oleh penduduk beretnis Sunda dan Jawa. Peta penyebaran etnis penduduk Banten terbilang unik karena wilayah Banten selatan kebanyakan dihuni oleh etnis Sunda sementara Banten utara dihuni oleh etnis Jawa yang datang dari Demak dan Cirebon. Meskipun etnis Sunda dan Jawa mendominasi wilayah Banten, akan tetapi Banten sebenarnya memiliki suku aslinya sendiri yaitu Suku Badui yang mayoritas mendiami daerah pegunungan selatan Banten.2

Masyarakat Banten dikenal sebagai penduduk yang memiliki kegigihan untuk berjuang baik dalam kehidupan sehari-harinya ataupun dalam upaya menumpas pemberontakan. Selain itu, masyarakat Banten memiliki fanatisme agama yang cukup kuat. Hal ini dibuktikan dengan kuatnya pengaruh Islam yang sangat menonjol daripada pengaruh Hindu yang berasal dari keyakinan Kerajaan Pajajaran yang sebelumnya menguasai wilayah ini. 3

Berdasarkan keterangan singkat di atas dapat kita diketahui bahwa Banten merupakan daerah yang berpotensi untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang memiliki nilai religiusitas tinggi. Hal ini telah terjadi bahkan sejak Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang berperan sangat penting

1 Pemekaran Provinsi Banten terjadi pada tanggal 17 Oktober tahun 2000.

2Samsul Munir Amir, Sayyid Ulama Hijaz, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren. 2009) hal.8

3Ibid.

(2)

15

dalam proses pendirian Kesultanan Banten. Bahkan, perjuangan Syarif Hidayatullah tidak berhenti sampai di situ. Beliau kemudian memerintahkan kepada anaknya yang bernama Sultan Hasanuddin untuk melanjutkan perjuangan beliau.4 Pada masa kekuasaan Sultan Hasanuddin inilah, Kerajaan Banten berhasil menjadi salah satu kerajaan Islam di Nusantara yang memiliki kekuasaan di daerah Banten dan sekitarnya.5

B. Geneologi Syekh Nawawi al-Bantani (1230-1314 H/1815-1897 M)

Banten juga menjadi tanah kelahiran salah satu keturunan dari Kesultanan Banten yang di kemudian hari dikenal sebagai seorang ulama besar yang bernama Syekh Nawawi al-Bantani. Nama asli beliau adalah Nawawi bin Umar bin ‘Arabi. Namun beliau terkenal hingga ke mancanegara dengan nama Syekh Nawawi al-Bantani.

Syekh Nawawi al-Bantani lahir pada tahun 1230 H /1814 M, di sebuah desa bernama Tanara, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang yang pada saat itu masih termasuk dalam Provinsi Jawa Barat.6Beliau merupakan putra pertama dari tujuh bersaudara. Adapun nama adik-adiknya secara berurutan antara lain yaitu Ahmad Syihabuddin, Tamim, Said, Abdullah, Syakilah dan Syahriyah7

Ayahanda Syekh Nawawi merupakan putra seorang ulama sekaligus juga penghulu dari Tanara bernama K.H. Umar.8Beliau dikenal sebagai sosok ulama yang memiliki pengetahuan Islam yang baik dan berkepribadian alim.

Karena sosoknya yang alim itulah, K.H. Umar ditawarkan menjadi penghulu di Desa Tanara oleh Pemerintahan Hindia Belanda. Mendapatkan tawaran

4Sultan Hasanudin merupakan keturunan Sunan Gunung Jati.

5Daerah-daerah kekuasaan Kesultanan meliputi:Lampung, Banten dan sekitarnya, lihat (ridwanaz.com, Sejarah Agama Islam di Indonesia \ Kerajaan Banten)pada tanggal 19/06/2016

6Samsul Munir Amin. Op.cit. hal.

7Asep Muhamad Iqbal, Understanding Jews and Christians in the Qur’ānic Commentary Of Syeikh Nawawi Banten (1813-1897), (2003:15-18).

8Penghulu adalah seorang yang memimpin urusan agama,

(3)

16

tersebut, K.H. Umar pun menyetujuinya dengan pertimbangan bahwa mungkin saja Belanda bisa menjajah Bangsa Indonesia dan berbuat seenaknya. Oleh karena itu jabatan penghulu tersebut diterimanya dengan beralasan agar dapat mengontrol kebijakan negara terutama yang berkaitan dengan Islam dan kaum muslimin.9

Silsilah genealogi Syekh Nawawi al-Bantani dari ayahnya inilah, beliau terhubungan dengan Nabi Muhammad SAW sebagai garis keturunan ke 30.10Selain itu, Syekh Nawawi juga memiliki garis keturunan dengan Sultan Hasanuddin atau Pangeran Sabakingking atau Sultan Hasanudin yang merupakan Sultan pertama Banten.

Ibu Syekh Nawawi yang bernama Nyai Zubaidah merupakan keturunan Kesultanan Banten. Melalui nasab Nyai Zubaidah inilah Syekh Nawawi memiliki garis keturunan dengan Muhammad Singaraja.11

Berdasarkan silsilah genealogi dari ayah maupun ibunya, Syekh Nawawi bisa dikatakan sebagai seorang ulama keturunan dari Kesultanan Banten dan Kerajaan Cirebon.12

Syekh Nawawi wafat pada tahun 1314 H/1897 M dan dimakamkan di Pemakaman Ma’la. Makam beliau berada disamping makam Khadijah ra dan Asma binti Abu Bakar. Selain itu, makam beliau juga diapit disamping sahabat Nabi yang bernama Abdullah bin Zubair13

9Amirul Ulum, Penghulu Ulama Di Negeri Hijaz,Yogyakarta: Pustaka ulama, (2015:53).

10Lihat di lampiran Untuk mengetahui dengan lebih jelas silsilah Syekh Nawawi dari keturunan ayahnya

11Sri Mulyati, Sufism In Indonesia: Nawawï Al-Banteni's Salalim Al-Fudala', A Thesis Institute of Islamic Studies McGill University Montreal. (P.Q. Canada. September 1992) hal.41.

12Ibid. Hal. 9

13 Asep Muhamad Iqbal, Opcit, hal.:35.

(4)

17 C. Pendidikan Syekh Nawawi

1. Pendidikan Dasar

Pendidikan religius Syekh Nawawi tidak terlepas dari peran sang ayah yang juga menjadi pengasuh pondok pesantren di Desa Tanara.

Materi pelajaran yang selalu KH. Umar berikan kepada muridnya, juga diberikan kepada anaknya tersebut. Pendidikan agama yang diterima oleh Syekh Nawawi dimulai sejak usianya masih berumur lima tahun.

Pendidikan yang diajarkan oleh ayahnya tersebut antara lain syariat Islam, Al-Quran serta Bahasa Arab. Dalam materi pelajaran Al-Qur’an, K.H.

Umar memberikan penekanan kepada hapalan surat-surat pendek seperti Juz ‘Amma.14

Lebih dari itu, Asep Muhammad Iqbal menuturkan bahwa pendidikan yang diterima oleh Syekh Nawawi beserta saudara-saudaranya yang lain seperti pelajaran Bahasa Arab, dogma Islam (ilm al-kalam), yurisprudensi Islam (fiqh), dan tafsir Al-Quran (tafsir).

Sebagaimana ulama-ulama hebat lainnya, Syekh Nawawi juga memiliki tanda-tanda kecerdasan yang tampak lebih unggul dibandingkan dengan yang lainnya sehingga tak heran jika Syekh Nawawi memang terlahir menjadi ulama besar dan terkenal di kemudian hari.15Hal ini menurut Zamakhsyari Dhofier disebut dengan genealogi sosial pemimpin pesantren yang dilakukan melalui pendidikan yang diberikan oleh satu generasi kepada generasi penerusnya. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar putranya tersebut bisa menggantikan posisi sang ayah untuk memimpin pesantren.16

2. Pendidikan Pesantren

Saat Syekh Nawawi memasuki usia 8 tahun, ayahnya memerintahkan dia bersama saudaranya yang lain yaitu Tamim dan Said

14Ibid

15Ibid.

16Zamakhsyari Dhofier,Tradisi Pesantren ,(Jakarta, LP3S, 2011) hal.102

(5)

18

untuk melanjutkan belajar kepada Kyai Sahal yang merupakan ulama terkenal di Banten. Sebelum keberangkatannya, Syekh Nawawi diberikan pesan bahwa mereka tidak boleh pulang sebelum kelapa yang ditanam oleh ibunya berbuah.17

Setelah menyelesaikan proses pendidikannya kepada Kyai Sahal, Syekh Nawawi melanjutkan pendidikannya kepada Raden Haji Yusuf18 yang berada di daerah Purwakarta dekat dengan Karawang. Setelah merasa cukup lama belajar, Syekh Nawawi pun mengirimkan surat kepada keluarganya. Isi surat itu menjelaskan tentang keberadaannya dan menanyakan perihal pohon kelapa yang ditanam ibunya.

Seraya menanti jawaban surat dari keluarganya, Syekh Nawawi beserta saudara-saudaranya pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Cikampek. Disinilah mereka belajar lughat (bahasa Arab) di sebuah pesantren.

Sebelum dinyatakan berhak untuk menuntut ilmu di pesantren tersebut, Syekh Nawawi beserta saudaranya diseleksi. Hasil seleksi yang dilakukan pun berhasil dinyatakan lulus dengan predikat sangat baik. Atas keberhasilan Syekh Nawawi dan saudara-saudaranya inilah, sang Kyai mengatakan bahwa mereka tidak perlu belajar di pesantren tersebut.

Bahkan sang kiai menganjurkan kepada mereka untuk segera pulang karena pohon kelapa yang ditanam oleh orang tuanya sudah berbuah.

Berdasarkan perintah Sang Guru, ketiga bersaudara itu akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya.

Berdasarkan pemaparan di atas, bisa kita simpulkan bahwa Syekh Nawawi belajar di pesantren selama 6 tahun. Hal ini berdasarkan proses

17Amirul Ulum,Penghulu Ulama di Negeri Hijaz, (Yogyakarta: Pustaka ulama,2015) hal.56.

18Raden haji Yusuf adalah salah satu ulama yang terkenal di daerah Purwakarta, beliau lahir di \Bogor pada tahun 1709 M. Ia adalah keturunan dari keraton Padjajaran, ia adalah anak dari Kanjeng R. Arya Djayanegara yang menjabat bupati Bogor dan Karawang pada aban ke-17, guru Raden Haji Yusuf adalah Pangeran Diponegoro (Syekh Cempaka Putih). Raden Haji Yusuf menetap di Purwakarta, rumahnya sekarang menjadi mihrab masjid agung Purwakarta. Lihat (dudu-Tasikmalaya.blogspot.com)

(6)

19

menanam pohon kelapa hingga berbuah membutuhkan waktu kurang lebih selama 6 tahun.19

Sepulangnya dari pesantren, Syekh Nawawi ikut serta mengurusi pesantren milik ayahnya. Atas keikutsertaannya tersebut, pesantren ayahnya semakin ramai didatangi oleh masyarakat dan semakin terkenal.

Hal itu dikarenakan metode yang digunakan Syekh Nawawi tidak hanya mengajar tapi juga menyelenggarakan diskusi terbuka untuk memecahkan masalah-masalah seputar keagamaan. Dalam diskusi terbuka itulah banyak masalah yang ditanyakan oleh para santri kepada Syekh Nawawi. Beliau pun mampu memecahkan semua masalah yang ada sehingga, beliau menjadi semakin terkenal dan dikagumi kealimannya.

Pada saat ayahnya meninggal, Syekh Nawawi menggantikan posisi ayahnya sebagai pimpinan pesantren. Karena hal tersebut sudah dianggap lumrah dikalangan keluarga kyai atau pesantren untuk mewariskan estafet perjuangan kepada anak laki-laki terutama anak tertua yang kemudian bertanggung jawab untuk memimpin pesantren.20 Di bawah kepemimpinan Syekh Nawawi, pesantren semakin maju dan berkembang. Meskipun, Syekh Nawawi memimpin pesantren hanya sekitar dua tahun, sampai kemudian ia memutuskan untuk pergi haji ke tanah suci.21

D. Kehidupan Syekh Nawawi di Mekkah 1. Awal Perjalanan ke Makkah

Penyebutan Haramayn untuk Mekkah dan Madinah menunjukkan betapa kedua kota ini memiliki posisi yang sangat istimewa dalam dunia Islam dan bagi umat Islam. Haramayn adalah tempat di mana Islam pertama kali diturunkan dan diperkenalkan oleh Nabi Muhammad SAW sampai tersebar ke seluruh dunia.

19Samsul Munir Amin, Sayyid Ulama Hijaz, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren 2009) hal.22.

20Zamakhsyari Dhofier, Op.cit. Tradisi Pesantren, hal. 102.

21Ibid. hal.23

(7)

20

Mekkah adalah kiblat dimana umat Islam menghadapkan wajahnya dalam shalat. Mekkah juga menjadi tempat dilaksanakannya ibadah haji. Sehingga wajar jika banyak keutamaan yang ditujukan kepada kedua kota itu (Haramayn).22

Azyumardi Azra membagi tiga golongan imigran dalam segmen para imigran dan ulama Internasional. Yang pertama adalah disebut dengan little Imigrants, yaitu orang-orang yang datang dan bermukim di Mekkah dan Madinah dengan secara diam-diam terserap dalam kehidupan sosial keagamaan lokal haramyan. Biasanya mereka adalah orang-orang yang melaksanakan ibadah haji namun setelahnya memiliki keinginan untuk melayani tempat suci atau beralasan tidak adanya biaya untuk kembali ke tanah air. Mereka adalah masyarakat biasa bukan dari kalangan ulama dan tidak terekam dalam kamus biografi.

Yang kedua adalah Grand Imigrants. Tipe imigran yang kedua ini berbeda dengan yang pertama, karena mereka ini adalah ulama par excellence. Ulama- ulama ini biasanya sudah memiliki dasar yang mumpuni dalam kehidupan Islam, mereka juga adalah ulama yang sudah dikenal dan diakui kealimannya, jadi setelah sampai di Haramayn mereka sudah terkualifikasi dan ikut berperan dalam diskursus intelektual kosmopolitan. Memiliki peran yang tidak hanya dalam bidang pengajaran saja, namun dalam hal mengeluakan gagasan-gagasan baru, sehingga mampu menarik perhatian orang-orang di penjuru dunia muslim.

Yang ketiga, adalah orang-orang dari kalangan ulama dan murid pengembara yang bertujuan awal adalah untuk menunaikan haji yang kemudian dilanjutkan untuk menuntut ilmu di haramayn dan atas hal itu masa tinggal mereka diperpanjang. Biasanya mereka menuntut ilmu kepada ulama yang berbeda-beda, setelah ilmunya sudah mumpuni biasanya mereka kembali ke tanah kelahiran. Dalam hal ini Syekh Nawawi termasuk kedalam bagian ini..23

22 Azyumardi Azra, 1998, Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Melacak Akar-Akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia. Cetakan Keempat. (Bandung, Mizan, 1995) hal.59

23Ibid. hal.77

(8)

21

Menurut Samsul Munir Amin dalam bukunya, Syekh Nawawi pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji pada usia 15 tahun. Adapun beberapa hal yang melatar-belakangi kepergian Syekh Nawawi ke Mekkah yaitu:

a) Menunaikan Ibadah Haji

Azyumardi Azra mengatakan pada abad ke-16 jumlah Muslim yang berdatangan ke Haramayn dari berbagai daerah Muslim terus meningkat. Mereka yang datang ke Haramayn tidak hanya para ulama dan para penuntut ilmu saja, justru kebanyakan dari mereka merupakan para jamaah yang ingin menunaikan kewajiban ibadah haji dan berniat untuk berziarah ke makam Nabi.24Berbekal niat untuk menunaikan ibadah Haji, Syekh Nawawi pun pergi ke Mekah untuk menyempurnakan ibadahnya sebagai seorang muslim yang baik, meskipun umurnya pada saat itu masih terbilang sangat muda.

Menjadi tempat hilir mudik bagi para jamaah haji setiap tahunnya, Mekkah dan Madinah kemudian berkembang menjadi suatu tempat pertemuan yang besar antara kaum muslim atau disebut Haramayn. Selain itu, kota ini pun kemudian berkembang menjadi kota pusat intelektual umat muslim.Dimana para ulama, penyair, sufi, filosof, wirausahawan atau pengusaha dan para sejarawan muslim saling bertemu dan saling memberikan informasi serta bertukar pikiran.

Berdasarkan kondisi di atas, benar adanya mengapa ulama dan penuntut ilmu yang belajar dan mengajar di Haramayn pada umumnya mempunyai suatu pandangan dan wawasan keagamaan yang lebih luas dari pada mereka yang bertempat di kota-kota muslim lainnya.25

b) Menuntut Ilmu

Selain untuk menunaikan ibadah haji, kaum muslim yang berdatangan ke Haramayn juga bertujuan untuk menuntut ilmu atau mengabdikan dirinya untuk melayani tempat-tempat suci. Tak hanya

24Ibid., hal.73

25Ibid., hal.59

(9)

22

itu, mereka juga bertujuan untuk berdagang, di antara mereka ada yang menetap secara permanen atau juga berpindah-pindah.26

Hal ini juga yang melatarbelakangi kepergian Syekh Nawawi ke Haramayn. Beliau tidak hanya menunaikan ibadah haji, tetapi untuk menuntut ilmu dari para ulama asal Haramayn.

c) Keadaan Tanah Air

Banten merupakan sebuah daerah dimana masyarakatnya kuat dan fanatik terhadap ajaran agamanya.Akan tetapi, penderitaan masyarakat Banten dimulai sejak jatuhnya kesultanan Banten ke tangan penjajah Belanda. Sejak saat itulah, kekuasaan Banten dikuasai oleh Belanda. Penderitaan mereka mulai tampak terlihat jelas pada masa diberlakukannya cultuur stelsel (tanam paksa). Penderitaan ini lebih berat dari pada daerah lain di wilayah Nusantara; walaupun sama-sama dijajah. Masyarakat Banten saat itu menderita, seperti adanya tanam paksa yang menguntungkan pihak Belanda namun merugikan masyarakat Banten27

Kondisi Banten seperti itu pulalah yang menjadi motif tambahan yang melatarbelakangi kepergian Syekh Nawawi ke Mekkah. Hal ini dikarenakan adanya keterbatasan bagi Syekh Nawawi untuk berdakwah dan menjalankan syariat Islam. Pada saat itu, Belanda melakukan pengawasan ketat terhadap masyarakat Banten. Bahkan pemerintahan kolonial Belanda terus menerus melakukan pembatasan-pembatasan terhadap hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat Jawa. Hanya para ulama independen di daerah pelosok atau pedalaman saja yang tetap mampu menjadi penguasa terhadap golongannya. Tetapi di sisi lain, para ulama ini tetap menyadari kekuatan yang kuat dari para kolonial Belanda yang mampu membahayakan keberadaan institusi mereka.

26Ibid., hal.74

27Bibit Suprapto, Ensiklopedia Ulama Nusantara, (Jakarta: Gelegar Media Indonesia, 2010) hal. 652.

(10)

23

Pemerintah kolonial Belanda cenderung menaruh kecurigaan terhadap institusi pendidikan dan keagamaan pribumi yang bertujuan untuk membentuk jiwa nasionalisme yang dikhawatirkan bisa melawan para penjajah.Berdasarkan kondisi tersebut, Syekh Nawawi merencanakan berangkat kembali ke Mekkah setelah 3 tahun sebelumnya menetap di Tanah Suci itu.

Perjalanan kembali Syekh Nawawi menuju Haramayn itu dilakukan sebagai seorang penuntut ilmu yang sedang berupaya menjaga kebebasan intelektual di pusat dunia Islam tersebut. Beliau juga enggan untuk menjadi seorang penghulu yang menurut pandangan politik dianggap sebagai pihak yang pro terhadap kebijakan kolonial Belanda. Sedangkan di sisi yang lain, ia menganggap bahwa ayahnya itu hidup dengan mengharapkan sesuatu dari orang lain.28

Sekitar tahun 1833, Syekh Nawawi kembali ke kampung halaman dengan bekal ilmu pengetahuan Islam yang luas. Melihat Syekh Nawawi muda yang ‘alim ini ternyata telah berhasil menarik simpatianak-anak muda di komunitasnya untuk mengenal lebih dekat dan belajar darinya.

Tidak ada kegiatan lain bagi Syekh Nawawi muda selain belajar dan mengajar. Hal ini dilakukannya selama dua dekade. Selama itu pula, Syekh Nawawi memiliki kesempatan untuk lebih mengembangkan materi pelajaran baik di rumah maupun di masjid.

Selain itu, beliau juga mengajar santri di pesantren tradisional Islam milik ayahnya. Namun hal ini dianggap sebagai suatu ancaman oleh pihak kolonial Belanda. Karena itulah, pengawasan ketat yang diberikan kepada Syekh Nawawi pun terus meningkat. Hal inilah yang

28Abdurrahman Mas’ud, Dari Haramayn ke Nusantara,(Jakarta, Kencana, 2006) hal.116

(11)

24

membuat Syekh Nawawi merasa tak nyaman tinggal di daerahnya sendiri29

Tidak lama dari kepulangannya dari tanah suci, Syekh Nawawi dinikahkan dengan seorang gadis sholehah asal Tanara yang hidup satu halaman dengan Syekh Nawawi.Gadis itu bernama Nyai Nursimah, perjodohan tersebut didukung penuh oleh ibu Syekh Nawawi yaitu Nyai Zubaidah. Melalui pernikahannya inilah, Syekh Nawawi dan Nyai Nursimah dikaruniai tiga anak yang bernama Nafisah, Mariam dan Rubiah.30

Nyai Zubaidah meninggal dunia mendahului Syekh Nawawi.

Setelah meninggalnya sang istri, Syekh Nawawi pun kemudian menikah untuk yang kedua kalinya. Pada pernikahan keduanya ini, beliau memutuskan untuk menikahi gadis asal kampung al-Jawi yang bernama Hamdanah. Dari pernikahan keduanya ini, beliau dikaruniai dua anak yaitu yang bernama Abdul Mu’thi dan Zahra.31

Meskipun telah memiliki keluarga yang utuh, Syekh Nawawi tetap tidak bisa menghilangkan ketidaknyamanannya tinggal di tanah air. Beliau merasa tanah air sudah dikuasai oleh Belanda termasuk Banten.Apalagi setelah kepulangannya dari Mekkah, pergerakan Syekh Nawawi semakin dipantau sehingga Syekh Nawawi merasa tidak bebas dalam mengembangkan ilmu yang dimilikinya.

Hingga pada akhirnya, Syekh Nawawi memutuskan untuk kembali ke tanah suci dan menetap disana pada sekitar tahun 1855. Hal ini beliau lakukan untuk bisa mengembangkan ilmunya bersama para ulama lainnya asal Indonesia yang juga berada di tanah suci. Tanah suci

29Abd. Rachman, Nawawi al-Bantani: an Intellctual Master of The Pesantren Tradition, Studia Islamika, Volume 3, Number 3, 1996, hal. 87

30Amirul Ulum, Penghulu Ulama di Negeri Hijaz, (Yogyakarta: Pustaka ulama,2015) hal.74.

31Ibid

(12)

25

pada waktu itu dianggap sebagai referensi keilmuan para ulama asal Indonesia yang memilih untuk menetap dan mengajar di Tanah suci.

2. Menetap di Makkah

Setelah memutuskan untuk menetap di Mekkah, Syekh Nawawi pun kemudian tinggal di lingkungan Shi'ib Ali, dimana banyak dari rekan- rekannya dari Indonesia juga menetap di sana. Lingkungan ini terletak sekitar 500 meter dari Masjid al-Haram, sehingga beliau lebih mudah mengakses Masjidil Haram. Rumah beliau tinggal tepat berada di sebelah rumah Sheikh Arsyad Batavia dan Syeikh Syukur'Alwan.32

Berikut ini penulis sertakan kutipan catatan Snouck Hurgrounje yang menerangkan tentang perjalanan intelektual Syekh Nawawi yang terdapat dalam buku karya Samsul Munir Amin:“Selama 30 tahun tidak henti- hentinya Nawawi aktif di Mekkah untuk menyempurnakan pengetahuannya sendiri tentang ilmu pengetahuan Islam di setiap jurusan dan sebagai pemimpin, guna melicinkan jalan belajar bagi orang Jawa.”33

Lebih jauh, Snouck Hurgrounje menjelaskan lebih lanjut:“Mula- mula dia belajar pada tokoh-tokoh besar generasi sebelumnya yang kini telah meninggal yaitu Khatib Sambas, Abdul Ghani Bima, dan lain- lain.Namun guru-gurunya yang sesungguhnya adalah orang Mesir, yaitu Yusuf Sumbulaweni dan Nahrawi. Selain itu, disamping Abdul Hamid Daghestani yang kuliah-kuliahnya biasa dia hadiri bersama-sama dengan banyak ulama lain hingga menjelang akhir hidupnya.”34

Meskipun Syekh Nawawi telah lama belajar Bahasa Arab, beliau juga mengalami kesulitan yang banyak juga dialami oleh orang Jawa lainnya. Beliau telah hidup selama 30 tahun di kota ini. Beliau mampu membaca Al-Qur’an dengan sangat fasih bahkan beliau mampu

32Asep Muhamad Iqbal, opcit, hal.36

33Samsul Munir Amir,Sayyid Ulama Hijaz,(Yogyakarta , Pustaka Pesantren, 2009) hal39.

34Ibid. Hal.40

(13)

26

menghafalkannya. Beliau juga memakai bahasa sehari-hari dengan logat setengah Jawa yang membedakan huruf ha dan kha, ‘ain dan qaf.Keempat huruf ini terutama huruf kha memang sangat sulit diucapkan oleh orang Jawa. Karena hal inilah, mereka sering ditertawakan oleh orang-orang Mekkah. Misalnya jika orang Mekkah bertanya kepada orang Jawa:

“Berapa lama Bapak sudah belajar di Mekkah?”. Maka mereka menjawab dengan kalimat: “Qaret fi’l haram sab’ah senin” yang artinya saya sudah belajar di daerah Haram selama tujuh tahun.Perbedaan pengucapan huruf qa dan kha ini yang kadangkala dijadikan sebagai bahan olok-olokan oleh anak-anak nakal dijalanan Mekkah. Anak-anak ini akan mengatakan kalimat “Kharet fi’l Kharam sab’ah senin” yang artinya adalah saya sudah bikin kotor al-Haram selama 7 tahun.35

Syekh Nawawi menuntut ilmu kepada para gurunya kurang lebih selama 30 tahun terhitung sejak tahun 1830 M sampai pada tahun 1860 M.

Akan tetapi, pada tahun 1833 Syekh Nawawi sempat kembali ke tanah kelahirannya. Meskipun tidak lama kemudian, beliau kembali ke tanah suci.36Setelah berada kembali di Mekkah dan Madinah, Syekh Nawawi melakukan perjalanan intelektual ke Syria.Hal ini dimotivasi dari sebuah hadits yang menerangkan bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan. Hadits inilahyang membuatnya selalu merasa kekurangan menimba ilmu. Karakter Syekh Nawawi yang berpandangan bahwa mencari ilmu adalah kewajiban yang paling utama dalam kehidupannya.37

Berikut ini beberapa nama guru Syekh Nawawi di Tanah Suci antara lain:Syekh Sayyid Ahmad an-Nahrawi, Syekh Sayyid Ahmad Dimyathi, Syekh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Syekh Muhammad Khatib al-

35Teks diadaptasi, Karel A. Steenbrink, Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia Abad ke-19,( Jakarta, Bulan Bintang, 1984) hal.119.

36Ibid.

37Abdurrahman Mas’ud, op.cit, hal.112.

(14)

27

Hambali, Syekh Abdulghani Bima, Syekh Yusuf Sumbulaweni, Syekh Abdul Hamid ad-Daghastani38

3. Mengajar di Makkah

Syekh Nawawi sangat bersemangat untuk memberikan pengajaran agama, sehingga namanya cukup berpengaruh terutama dalam dunia pendidikan dan dakwah Islam di Mekkah. Pada puncak karirnya, Syekh Nawawi menjadi seorang guru besar di Masjidil Haram dengan jumlah murid lebih dari 200 orang dari berbagai negara. Karena pada saat itu Masjidil Haram adalah satu-satunya perguruan tinggi yang ada di Mekkah.Sehingga muridnya pun berasal dari beberapa negara.39 Kebanyakan dari mereka berasal dari Indonesia yang memang telah lama mengenal kebesaran nama Syekh Nawawi sejak beliau masih ada di kampung halamannya.

Berdasarkan latar belakang pendidikannya yang diperolehnya dari para guru besar asal Mekkah dan wilayah Timur Tengah lainnya, maka Syekh Nawawi pun mampu menguasai berbagai bidang ilmu agama dan cabang-cabangnya. Semakin lama, jumlah muridnya pun semakin bertambah banyak.

Ketawadhuan Syekh Nawawi ini diceritakan oleh Snouck Hurgronje yang datang dan menemui Syekh Nawawi. Menurut Syekh Nawawi, beliau hanyalah debu yang lekat pada orang-orang yang menimba ilmu di Masjidil Haram, tempat dimana para ulama dari Mekkah mengajar di situ.

Seringkali Syekh Nawawi merasa tidak pantas untuk mengajar di sana karena keadaan dan pakaiannya yang sederhana. Meskipun kemampuannya dianggap lebih mumpuni daripada pengajar Masjidil

38Ibid.

39Samsul Munir Amir, opcit, hal. 42.

(15)

28

Haram. Akan tetapi Syekh Nawawi enggan untuk mengajar di Masjidil Haram.40

Meskipun Snouck Hurgronje telah menceritakan tentang ketawadhuan Syekh Nawawi. Kita tentu belum bisa mengambil kesimpulan begitu saja. Namun setelah dilihat dalam kehidupannya sehari- hari maka terbukti memang beliau adalah pribadi yang rendah hati. Beliau menerima cara orang-orang Jawa yang dilakukan dengan mencium tangannya hanya sebatas untuk menghormati ilmu saja. Beliau juga memberikan nasehat jika diminta seputar masalah fiqh. Dalam pergaulan pun beliau tidak pernah ingin mendominasi justru beliau lebih banyak mengikuti. Dalam kegiatan diskusi ilmiah pun, beliau tidak ingin memulainya jika tidak didorong atau tidak ada orang lain yang mendorongnya.41

Untuk bisa mengajar di Masjidil Haram sebenarnya tidak mudah.

Hal ini karena untuk bisa terpilih sebagai tenaga pengajar di sana harus melalui proses seleksi yang ketat meliputi penguasaan ilmu dan legalitas penguasa hijaz atau Syekh senior di Masjidil Haram. Sehingga para pengajar di sana tentu memiliki kedekatan khusus dan keilmuan yang mumpuni.

Meskipun demikian Syekh Nawawi tidak pernah menampakkan bahwa dirinya itu adalah orang yang alim. Bahkan pakaian yang dikenakannya pun sangat sederhana. Berbeda dengan kebanyakan ulama Hijaz yang mengajar di Masjidil Haram yang selalu memakai jubah kebesarannya yang menunjukkan bahwa dirinya memiliki ilmu yang tinggi atau alim.

Apa yang ditonjolkan oleh Syekh Nawawi ternyata bertolak belakang dengan kebiasaan banyak ulama di sana. Hal ini membuat banyak ulama Hijaz sempat meragukan ilmu yang dimiliki olehnya.

40Asep Muhamad Iqbal, Opcit. hal.40

41Karel A. Steenbrink, opcit. hal.119

(16)

29

Hingga pada suatu ketika, ada seorang ulama yang penasaran untuk mengenal lebih jauh sosok Syekh Nawawi.

Seorang ulama yang tidak disebutkan namanya itu pun kemudian mencari tahu tentang kelebihan Syekh Nawawi dari salah seorang kerabatnya. Demi untuk menghilangkan rasa penasarannya tentang Syekh Nawawi itulah akhirnya beliau menyuruh seorang teman untuk menyampaikan undangan kepada Syekh Nawawi untuk bertemu dan berdiskusi tentang ilmu agama.

Setelah menerima undangan tersebut, Syekh Nawawi pun kemudian menyanggupi undangan tersebut namun memberi syarat kepadanya agar tidak berkomentar apapun tentang Syekh Nawawi ketika diskusi sedang berlangsung nanti. Setelah menentukan waktu dan tempat, Syekh Nawawi pun memerintahkan kepada salah seorang muridnya untuk berpura-pura menjadi gurunya. Meskipun murid tersebut pada awalnya merasa keberatan untuk melaksanakan permintaan sang guru, tapi pada akhirnya ia pun bersedia melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Syekh Nawawi meskipun dengan berat hati. Lalu mereka berdua pun bertukar peran. Hal ini beliau lakukan karena beliau tidak ingin dipuji dan dikenal oleh banyak orang. Menurutnya, hanya Allah saja yang berhak untuk mengetahui siapa sebenarnya Syekh Nawawi.42

E. Murid-murid Syekh Nawawi Al-Bantani

Syekh Nawawi menjadi warna tersendiri yang sangat menarik perhatian banyak para penuntut ilmu yang tidak hanya berasal dari penduduk lokal Mekkah tapi juga dari banyak negara lainnya. Aktivitas Syekh Nawawi dalam memberikan pelajaran kepada para muridnya digunakan dengan metode yang efektif sebagai dakwah Islamiyah. Hal ini pun dibuktikan dengan banyaknya murid Syekh Nawawi yang berhasil dalam bidang pemikiran. Beberapa nama muridnya adalah sebagai berikut:

42Amirul Ulum, opcit. hal.86

(17)

30 1. K.H. Hasyim Asy’ari

Beliau merupakan salah seorang tokoh intelektual dan berpengaruh dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Beliau adalah salah satu murid dari Syekh Nawawi ketika belajar di Mekkah. Beliau juga termasuk golongan pelajar koloni Jawa yang ikut berpartisipasi dalam menuntut ilmu di Mekkah. Meski mungkin beliau tidak hanya belajar kepada Syekh Nawawi saja.

K.H. Hasyim lahir pada hari Selasa Kliwon tanggal 24 Dzulqo’dah 1287 H/14 Februari 1871. Beliau adalah pendiri Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. Beliau juga menjadi punggawa dakwah yang berhasil bergerak dalam dunia politik. Tujuan gerakannya tentu saja untuk mengangkat rasa nasionalisme dan patriotisme masyarakat terutama dari kalangan para ulama. Hal inilah yang kemudian melatarbelakangi pendirian Nahdlatul Ulama pada tanggal 26 Januari 1926. Selanjutnya, K.H. Hasyim Asy’ari juga mencetuskan resolusi jihad pada tanggal 22 Oktober 1945.

2. K.H. Khalil (Bangkalan, Madura)

Beliau merupakan seorang ulama yang terkenal dan dianggap sebagai waliyullaholeh masyarakat luas. Kepopuleran namanya ini disebabkan karena tingkat ilmu dan spiritualitasnya yang tinggi. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai ulama yang ahli dalam bidang tata bahasa atau gramatikal dalam sastra Arab, fiqh dan tasawwuf.

Ulama yang pernah belajar di Mekkah pada tahun 1860 ini memang dianggap sebagai seorang ulama yang memiliki kombinasi keilmuan dan spiritual.Hal ini dibuktikan dengan proses perjalanan beliau untuk menimba ilmu seputar masalah spiritual dari Syekh Abdul Karim43 dan bidang intelektual dari Syekh Mahfudh.44

43Merupakan seorang ulama pengikut setia Syekh Ahmad Khatib Sambas. Ia juga ditunjuk sebagai pengganti pemimpin tarekat qadariyayah wan Naqsabandiyyah. Kepercayaan yang telah diberikan oleh sang guru kepada Syekh Abdul Karim untuk menjadi pemimpin tarekat di Mekkah. Sebelum resmi diangkat sebagai pemimpin pusat tarekat di Mekkah ini, Syekh Abdul Karim ditunjuk sebagai pemimpin cabang di Singapura dan Banten. Lalu tepat pada tahun 1876 Syekh Abdul Karim meninggalkan Banten karena diperintahkan untuk mendatangi gurunya yang

(18)

31

Beberapa ulama yang pernah menjadi murid K.H. Bangkalan antara lain adalah K.H. Hasyim Asy’ari, Kyai Manaf Abdul Karim (Lirboyo, Kediri), Kyai Muhammad Sidik (Jember), Kyai Munawwir (Krapyak, Jogjakarta), Kyai Maksum (Lasem, Rembang), Kyai Abdul Mubarok (Suryalaya, Tasikmalaya), dan Kyai Wahab Hasbullah (Jombang).45 3. K.H. Asy’ari merupakan seorang ulama asal Bawean yang pernah

menjadi salah satu murid Syekh Nawawi. K.H. Asy’ari kemudian dinikahkan dengan putri Syekh Nawawi yang bernama Mariam.

4. K.H. Nahjun yang merupakan seorang ulama dariKampung Gunung Mauk Tanggerang ini berperan penting dalam menuliskan salah satu karya dari sang guru. Beliau menulis sebuah kitab karangan Syekh Nawawi yang berjudul Qathru al-Ghaits. Beliau juga menjadi salah satu murid Syekh Nawawi yang menikah dengan salah seorang cucu Syekh Nawawi yang bernama Salmah Binti Ruqayyah Binti Nawawi al-Bantani.

5. K.H. Asnawai berasal dari Caringin. Beliau akhirnya menjadi seorang ulama di daerah asalnya yaitu Caringin, Labuhan, Kabupaten Pandeglang.

6. K.H Abdul Ghafar berasal dari Kampung Lampung Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang.

7. K.H. Tubagus Bakri, Kecamatan Sempur, Kabupaten Purwakarta.

8. Kyai Mahfudz Termas.

ada di Mekkah yaitu Syekh Khatib Sambas untuk menyiapkan diri menjadi pemimpin tarekat di Qadarariyyah Wan Naqsabandiyyah Mekkah. Lihat (Zamakhsyari Dhofier. Tradisi pesantren.

(Jakarta, LP3S, 2011) hal. 134.

44Syekh Mahfudh lahir di Tremas, Jawa Timur. Umurnya lebih muda dari Syekh Nawawi.

Beliau adalah putra dari pemimpin Pesantren Tremas yang terkenal sejak abad ke-19 yaitu Kyai Abdullah. Syekh Mahfudh melakukan perjalan intelektual seperti Syekh Nawawi dan mendapatkan kesuksesan juga di Mekkah. Beliau juga menjadi salah seorang tenaga pengajar di Masjidil Haram. Beliau dikenal sebagai seorang ulama ahli hadits Shohih Bukhori yang diakui sebagai seorang isnad atau mata rantai yang terhubung langsung sampai ke Imam Bukhori secara turun-menurun. Dalam hal ini Syekh Mahfudh adalah jalur yang ke-23. Beliau juga berkarya dalam dunia literasi. Meski banyak bukunya yang belum sempat terbit. Tapi ada satu karyanya yang sudah diterbitkan yaitu, Muhibbah Dhil-Fadlal. Lihat Zamakhsyari Dhofier,Ibid, Tradisi pesantren. hal 135

45 Zamakhsyari Dhofier, Opcit.. Hal 142.

(19)

32 9. K.H.R. Asnawi Kudus

10. K.H. Ilyas dari Kampung Teras, Yanjung, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten.

11. K.H. Wasith yang juga menjadi salah satu tokoh pemimpin pemberontakan di Cilegon tahun 1888.

12. K.H. Tubagus Ismail yang juga menjadi salah satu tokoh ulama yang ikut berperan dalam pemberontakan di Cilegon tahun 1888.

13. K.H. Ahmad Dahlan, ia adalah tokoh yang mendirikan organisasi Islam Muhammadiyah.

14. Kyai Abdussatar ad-Dahlawi, ulama asal Delhi, India.46

Nama-nama tersebut di atas adalah nama beberapa murid Syekh Nawawi yang menjadi tokoh-tokoh berpengaruh dalam dakwah Islam dan dalam dunia pendidikan Islam terutama pendidikan Islam di pesantren.

Pemikiran mereka pun hingga saat ini masih dikembangkan oleh para murid dan penerusnya masing-masing.

Maka bisa disimpulkan bahwa keberhasilan pola dakwah Syekh Nawawi yang dilakukan dengan cara transfer keilmuan tidak bisa dianggap remeh. Karena hal ini ternyata memberikan dampak yang sangat besar terutama bagi para masyarakat umum.47

Pada awalnya Syekh Nawawi memiliki waktu yang cukup longgar untuk mengajar selama 15 tahun. Akan tetapi setelah melewati masa 15 tahun itulah, pekerjaannya sebagai seorang pengarang membuatnya tidak memiliki waktu yang bebas untuk mengajar.Beliau setiap pagi antara pukul 07.30 hingga pukul 12.00 selalu memberikan tiga materi kuliah yang disusun untuk memenuhi kebutuhan para muridnya.48

46Samsul Munir Amir, opcit. Hal.96.

47Ibid,hal.86.

48Ibid, hal. 118.

(20)

33

Dari kegiatan menulis itulah, Syekh Nawawi berhasil menuliskan karya-karya yang fenomenal dan bermanfaat bagi para penuntut ilmu agama hingga saat ini. Beliau menulis kitab tidak hanya menyoroti pada satu cabang ilmu saja melainkan pada beberapa cabang ilmu yang memang dibutuhkan bagi setiap umat Islam.Mulai dari cabang ilmu Tauhid, Fiqih, Tasawwuf hingga Tafsir.

Karena itulah, Syekh Nawawi kemudian semakin banyak berkecimpung dalam bidang intelektual di Masjidil Haram. Akibatnya, beliau diganjar dengan pengakuan sebagai seorang ulama yang alim. Pengakuan ini tidak hanya berasal dari para penuntut ilmu saja, tapi juga dari para ulama asal Mekkah. Lebih dari itu, kontribusi Syekh Nawawi dalam bidang penulisan karya ini juga telah ikut memperkuat legalitasnya sebagai sosokalim ulama.

F. Karya-Karya Syekh Nawawi al-Bantani

Syekh Nawawi sangat mencintai kegiatannya sebagai penulis. Beliau memang memiliki kemampuan untuk menulis suatu karya yang sangat baik.

Aktivitas beliau untuk menulis ini dilakukan secara rutin setiap hari. Apalagi beliau memang memiliki materi tulisan yang sangat kaya hasil dari perjalanan menuntut ilmu selama 30 tahun. Sehingga tidak heran jika Syekh Nawawi memang termasuk kedalam kategori penulis yang produktif dan hasil karyanya dijadikan referensi utama bagi para penuntut ilmu di lembaga pendidikan pesantren yang ada di Indonesia dan Asia Tenggara.

Syekh Nawawi menghasilkan karya-karyanya yang luar biasa dalam bidang tafsir, fiqh, sastra dan bahasa Arab atau yang biasa disebut dengan ilmu nahwu dan sharaf dalam lingkungan pesantren, tasawwuf, serta ilmu kalam yang khusus mempelajari tentang keesaan Allah. Selain itu, beliau juga menulis banyak buku yang berhubungan dengan sejarah pada masa Nabi Muhammad.

Menurut penelusuran penulis, karya tulis yang telah dihasilkan oleh Syekh Nawawi sebanyak kurang lebih 41 judul buku. Buku-buku ini telah tersebar luas baik di Indonesia maupun di dunia Islam lainnya. Berikut ini

(21)

34

penjelasan detail karya Syekh Nawawi dengan berbagai tema, yaitu sebagai berikut:

a. Karya dalam Bidang Tafsir

Syekh Nawawi berhasil menulis sebuah karya dalam bidang tafsir yang berjudul “Tafsir Al-Munirli Muallim al-Tanzil: Murah al-Labid li Kasyfi Ma'na Qur'an al-Majid”. Kitab tafsir yang merupakan karya orisinil Syekh Nawawi ini merupakan karya terbesar yang menyebabkan beliau berhasil diganjar dengan predikat Sayyiddu Ulama al-Hijaz (Penghulu Ulama Hijaz).Kitab ini mengkaji tentang tafsir Al-Qur'an secara lengkap yang berisi 30 juz. Kitab ini terdiri dari 2 jilid dengan ketebalan halaman pada jilid 1 sebanyak 510 halaman. Sedangkan jilid sebanyak 476 halaman. Jika disatukan dari kedua jilid ini beliau menghasilkan tulisan sebanyak kurang lebih 986 halaman.

Salah satu hasil karya Syekh Nawawi yang juga fenomenal adalah karyanya yang berjudul “Tafsir al-Munir li Ma’alim at-Tanzil atau Marah Labid Tafsiran-Nawawi.” Kitab tafsir yang memiliki ketebalan sebanyak 985 halaman ini pun dibagi menjadi dua jilid. Sebelum kitab iniditerbitkan, Syekh Nawawi memperlihatkan manuskripnya kepada para ulama untuk diteliti dan diberi komentar.Hingga pada akhirnya, kitab tersebut selesai ditulis pada tahun 1888/Rabiul Awwal 1305 dan diterbitkan di Kairo pada tahun yang sama.

Sebelum mulai menulis kitab tafsir tersebut, Syekh Nawawi merasa ragu untuk menuliskannya. Dilema yang dirasakan oleh Syekh Nawawi ini menurut Samsul Munir Amin karena kondisi dunia Islam pada saat itu tidak menunjukkan adanya tanda-tanda munculnya revitalisasi tradisi klasik Islam. Terlebih lagi, pada masa itu karya tafsir yang dihasilkan oleh ulama lainnya masih sangat sedikit. Situasi ini disebabkan oleh keengganan dari dalam tubuh umat muslim untuk menulis tafsir karena adanya peringatan dari Nabi bahwa siapa pun yang mengomentari atau

(22)

35

menafsirkan sesuatu di dalam Al-Qur’an yang didasarkan pada pendapatnya sendiri berarti bahwa ia telah melakukan suatu kekeliruan.49

Akan tetapi karena dukungan dari para muridnya, beliau pun akhirnya memutuskan untuk menulis kitab ini sampai selesai. Sehingga Syekh Nawawi telah mewakili orang non Arab yang berhasil menulis kitab tafsir dengan menggunakan bahasa Arab yang sangat indah. Bahkan Syekh Nawawi menampilkan sebuah tradisi tafsir yang menggunakan pendekatan baru. Dimana dalam tulisannya ini beliau mempertimbangkan karya-karya ulama abad pertengahan terutama kalangan ulama Sunni. Meski tetap memperhatikan kondisi kontemporer.50

b. Karyadalam Bidang Fiqh

Berikut ini beberapa karya Syekh Nawawi dalam bidang fiqh, antara lain sebagai berikut:

1. Al-Simar al-Yani'at Syarh 'ala Riyadh al-Badi'at. Kitab fiqh ini mengulas tentang karya Syaikh Muhammad Hasbullah.

2. Al-Tausyih:Syarah 'ala Fatkhu al-Qarib al-Mujib. Kitab fiqh Islam ini merupakan syarah yang mengomentari karya Ibn Qasim Al-Ghazi.

3. Nihayah al-Zain:Syarah 'ala Qurratu al-Ain bi Muhimmati al-Diin.

Kitab fiqh Islam yang mengulas secara detail berdasarkan pandangan mazdhab Syafi'i. Kitab setebal 407 halaman ini mengulas kitab karya Syaikh Zainuddin Al-Malibari yang merupakan seorang ulama dari Malabar Hindia.

4. Sullam al-Munajat: Syarah 'ala Safinat al-Shalat.51Kitab ini membahas tentang masalah fiqh shalat yang khusus mengulas karya Sayyid Abdullah bin Umar Al-Hadrami.

49Samsul Munir Amin, opcit. Hal.71

50Abdurrrahman Mas’ud, opcit hal.129.

51Kitab yang masyhur di kalangan masyarakat awam yang ingin mengetahui tatacara shalat yang benar dalam sajian yang ringan, sehingga setiap kalangan masyarakat manapun sanggup mengerti penjelasan yang diberikan dalam kitab ini.

(23)

36

5. Fatkhu al-Mujib: Syarah 'ala al-Syarbani fi ilmi al-Manasik. Kitab ini membahas masalah manasik (tata cara ibadah haji) dan mengulas kitab karya Syaikh Syarbani.

6. Kasyifat al-Saja: Syara 'ala Safinat al-Naja.52Kitab ini membahas masalah keimanan dan ibadat (fiqh) terutama mengulas kitab karya Syaikh Salim bin Samir Al-Hadhrami.

7. Uqudu al-Lujain fi Huquqi Zaujain. Kitab ini membahas hak dan kewajiban berumah tangga terutama mengenai hak dan kewajiban antara suami-istri.

8. Suluk al-Jaddah:Syarah 'ala Risalah al-Muhimmah bi lam'ati al- Mafadah fi Bayani al-Jum'ati wa al-Mu'addah. Kitab yang dicetak oleh Mathba'ah Wahabiyah, Makkah pada tahun 1300 H ini membahas masalah fiqh berdasarkan sudut pandang dari madzhab Syafi'i.

9. Quut al-Habib al-Gharib: Khasyiyah 'ala Fatkhu al-Qarib al-Mujib ini merupakan syarah dari Kitab al-Taqrib karya Abu Suja. Kitab ini membahas masalah hukum Islam (fiqh) secara mendetail.

10. Fatkhul Arifin.

c. Karyadalam Bidang Tasawwuf

1. Sulam Al-Fudhala:Syarah 'ala Mandzumat al-Adzkiya. Kitab ini membahas tentang masalah akhlaq dan tasawuf terutama mengulas karya Syaikh Imam Fadhil Zainuddin.

2. Muraqi al-Ubudiyyah:Syarah 'ala Bidayat al-Hidayah.53Kitab ini membahas tentang masalah Akhlaq dan tasawuf. Kitab ini berisi komentar atas karya Imam Al-Ghazali.54

52Merupakan kitab yang dikaji oleh santri yang baru mengenal ilmu fiqh atau juga bisa disebut kitab pembukaan bagi para santri untuk mengenal ilmu fiqh. Biasanya kitab ini diajarkan kepada santri baru.

(24)

37

3. Nashaih al-Ibad: Syarah 'ala Al-Munbihat al-Istidad li Yaum al- Ma'ad.55kitab ini membahas tentang nasihat kepada manusia tentang persiapan menghadapi hari kiamat. Kitab ini juga mengulas tentang kitab karya Syaikh Sihabuddin Ahmad bin Ahmad al-Asqalani yang didalamnya terdapat 214 makalah dan 45 Hadits. Sedangkan sisanya adalah hadis atsar (qaul sahabat).56

4. Mirqatu Shu'udi Tashdiq: Syarah 'ala Sullam al-Taufiq. Kitab ini membahas tentang masalah tauhid, fiqh dan tasawuf. Kitab ini juga mengkritisi kitab karya Syaikh Abdullah bin Husain Ba'alawi.

5. Dzariatul Yaqin 'ala Ummi al-Barahin.Kitab ini secara umum mengomentari tentang Kitab Ummul Barahin. Kitab tasawwuf ini diterbitkan oleh Penerbit Makkah pada tahun 1314 H.

6. Al-Riyadhul Fauliyyah.

53Kitab ini merupaan penjelasan dari kitab karangan Imam Al-Ghazali yang menerangkan tentang adab terhadap kehidupan sehari-hari bagi umat muslim. Kitab ini terdiri dari tiga bab. Pada bab pertama berisi tentang adab-adab ketaatan yang berisi mulai dari adab bangun tidur, adab memasuki kamar kecil, adab berwudlu, adab mandi, adab bertayammum, adab memasuki dan keluar menuju masid, adab di antara terbit dan tenggelamnya matahari, adab sebelum shalat, adab tidur, adab-adab shalat, adab imam dan makmum, adab shalat jumat, dan adab puasa. Kemudian pada bab yang kedua membahas tentang adab meninggalkan maksiat dengan dua pembahasan yaitu yang pertama untuk menjauhi perbuatan maksiat, dan yang kedua tentang kedurhakaan hati.

Dan yang terakhir dalam pembahasan kitab ini adalah adab pergaulan dengan Al-Khaliq dan sesama (Muhammad Nawawi Al-Jawi dalam Maroqil ‘ubudiyah syarahBidayah Al-Hidayah)

54Zaid Husein Al-Hamid,Terjemah Maroqil ‘Ubudiyah Syarah Bidayah Al-Hidayah, (Surabaya, Mutiara Ilmu, 2010) hal. 7.

55Didalam muqoddimah yang terdapat pada kitab ini Syekh Nawawi Al-Bantani menerangkan mengenai isi dari kitab yang ditulisnya “sesudah membaca basmalah, tahmid, dan Shalawat maka berkatalah orang yang mengharap ampunan Allah dari keburukan, yaitu Muhammad Nawawi bin Umar yang merupakan orang jawa (Banten). Materi yang akan dibahas dalam kitab ini adalah penjelasan yang saya letakkan kepada sebuah kitab yang berisi nasihat- nasihat seorang alim yang luas ilmu pengetahuannya dan hafidz yang bernama Syekh Sihabuddin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad As-Syafii. Beliau lebih dikenal dengan nama Ibnu Hajar Al Asqalanydan Al-Mishri, semoga Allah memasukannya ke dalam rahmat-Nya, Amin.

Saya beri judul kitab ini, Nasaihul Ibad, berisi ucapan-ucapan yang terdapat mengingatkan (kita) akan persiapan untuk kiamat” (dalam I. Solihin,Terjemah Nashaihul Ibad,Jakarta: Pustaka Amani,(2002:3).

56I. Solihin, Ibid, (2002:4).

(25)

38 d. Karya dalam Bidang Teologi

1. Nur Al-Dhalam:Syarah ala Mandzumah bi Aqidah al-Awwam. Kitab ini membahas tentang masalah tauhid atau aqidah Islam yang merupakan syarahdari karya Sayyid Ahmad Marzuqi Al-Makki

2. Fatkhu al-Majid: Syarah 'ala Darul Farid fi al-Tauhid. Kitab tauhid ini mengulas secara mendalam isi kitab karya Imam Ahmad An- Nahrawi yang merupakan guru Syekh Nawawi.

3. Al-Aqdus Samin: Syarah 'ala Mandzumat al-Sittin Mas'alatan al- Musamma bi al-Fatkhul Mubin. Kitab ini membahas enam puluh masalah yang berkaitan dengan tauhid dan fiqh. Selain itu, kitab ini juga mengulasisi kitab karya Syaikh Mustafa bin Usman Al-Jawi Al- Qaruti yang merupakan seorang ulama dari Garut.

4. Bahjatu al-Wasail:Syarah 'ala al-Risalah al-Jami'ah Baina al- Ushuluddin wa al-Fiqh wa al-Tashawuf. Kitab ini membahas masalah tauhid, fiqh dan tasawuf yang berisi syarah dari kitab karya Syaikh Ahmad bin Zaini al-Habsyi.

5. Tijan Al-Durari: syarah 'ala Al-Alim Al-Allamah Syaikh Ibrahim Al- Bajuri fi Tauhid. Kitab ini membahas tentang masalah tauhid yang mengulasisi kitab karya Syaikh Ibrahim al-Bajuri.

6. Qamiut Tughyan:Syarah 'ala Mandzumat Syu'ab al-Iman. Kitab ini membahas tentang masalah cabang-cabang iman dan syarah kitab karya Syaikh Zainuddin Al-Kusaini Al-Malibari.

7. Al-Futuhatu al-Madaniyah: Syarah 'ala Syu'abu al-Imaniyah. Kitab ini merupakan saduran ulang dari karya Imam Al-Syuyuthi dan Syaikh Muhammad Ibnu Arabi. Isi kitab ini membahas masalah cabang-cabang iman atau tauhid.

8. Qathru al-Ghais:Syarah 'ala Masail Abu Laits. Kitab ini membahas seputar agama Islam dan mengulas lebih rinci isi kitab karya Imam Abu Laits.

(26)

39

9. An-Nahjah al-Jayyidah li halli Naqawati al-Aqidah. Kitab ini mengulas isi kitab Manzumah dalam ilmu tauhid. Kitab ini dicetak oleh Penerbit Abdurrazaq Makkah pada tahun 1303 H.

10. Hilyatus Shibyan 'ala Fatkhurrahman. Kitab ini mengulas isi kitab Fatkhurrahman yang berisikan masalah-masalah tauhid.

11. Mishbahu al-Dhulam 'ala al-Hikam. Kitab ini berisi komentar Syekh Nawawi terhadapp kitab Al-Hikam karya Ali bin Hasanuddin al- Hindi. Kitab tasawuf ini pun berhasil diterbitkan di Makkah pada tahun 1314 H.

12. Syarah al-allamah al-Kabir 'ala Mandzumati al-Alim al-Amilwal Khabir al-Kamil al-Syaikh Muhammad al-Masyhur bi al-Dimyathi al- Lati allafaha fi al-Tawasuli bi Al-Asma'i al- Husna wa bi Hadharati Al-Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallama wa bi ghairihi min al-Aimmati akhbar wa fi madhi ahli baitihi al-Abrar. Kitab ini berisi tentang komentar Syekh Nawawi atas karya Syaikh ad-Dimyathi yang membahas masalah tawasul dan keimanan.

e. Karya dalam Bidang Hadis

1. Tanqih al-Qaul al-Hatsis: Syarh 'ala Lubab al-Hadis. Kitab ini membahas empat puluh hadits dan keutamaan-keutamaan yang telah diulas oleh Imam Jalaluddin Al-Syuyuthi.

f. Karya dalam Bidang Ilmu Nahwu(Sastra)

1. Fatkhu al-Ghafir al-Khatiyyah syarah 'ala Nadzam al-Jurumiyyah al- Musamma bi Kaukab al-Jaliyyah. Kitab ini membahas tentang ilmu tata Bahasa Arab (nahwu) dan mengulas karya Imam Abdus Salam bin Mujahid an-Nahrawi.

2. Kasyfu al-Maruthiyyah 'an Sattari al-Jurumiyyah. Kitab ini berisi komentar Syekh Nawawi atas kitab Al-Jurumiyyah. Kitab ini membahas tentang ilmu nahwu (tata Bahasa Arab) yang diterbitkan oleh Penerbit Sharaf pada tahun 1298 H.

3. Lubab al-Bayan. Kitab ini mengomentari Kitab Risalah karya Syaikh Hussain al-Maliki. Selain itu, kitab ini membahas ilmu balaghah dan

(27)

40

sastra Arab yang diterbitkan olehPenerbit Muhammad Musthafa di Mekkah.

g. Karya dalam Bidang Sejarah

1. Madariju al-Shu'ud:Syarah 'ala Maulid Al-Nabawi (Kitab Maulid Al- Barzanji). Kitab ini membahas tentang sejarah kehidupan Nabi Muhammad dengan mengulas lebih detail atas karya Imam Sayyid Ja'far Al-Barzanji.

2. Fatkhu al-Shamad:Syarah 'ala Maulid Al-Nabawi. Kitab ini membahas tentang sejarah kehidupan Nabi Muhammad yang berisikan komentar atas karya Ahmad Qasim al-Maliki.

3. Targhibu al-Mustaqin:Syarah 'ala Mandzumat Sayyid al-Barzanji Zainal Abidin fi Maulid Sayyidi al-Awwalin. Kitab ini membahas tentang sejarah Nabi Muhammad dengan mengulas lebih detail atas kitab karya Al-Barzanji.

4. Al-Fushusu al-Yaquthiyyah:Syarah 'ala Raudhatul Bahiyyah fi Abwabi al-Tashrifiyyah. Kitab ini membahas tentang masalah ilmu sharaf (morfologi Bahasa Arab).

5. Al-Ibriz al-Dani fi Maulidi Sayyidina Muhammadi Sayyidi al-Adnani.

Kitab ini berisi komentar Syekh Nawawi terhadap isi kitab Maulid Nabi. Kitab ini juga membahas masalah sejarah Nabi Muhammad saw yang dicetak di Mesir pada tahun 1299 H.

6. Bughyatu al-Anam fi Syarhi Maulidi Sayyidi al-Anam. Kitab ini berisi komentar atas kitab Maulid Ibnu Jauzi yang kemudian dicetak di Mesir tahun 1297 H.

7. Al-Duraru al-Bahiyyah fi Syarhi al-Khasaisi an-Nabawiyah. Kitab ini mengulas Kitab Qishatu al-Mi'raj karya Imam Al-Barzanji. Kitab ini juga membahas tentang isra ma'raj Nabi Muhammad.

(28)

41

8. Syarah al-Burdah. Kitab ini berisi komentar Syekh Nawawi terhadap syair-syair al-Burdah karya al-Bushiri. Kitab ini juga membahas seputar puisi.57

Itulah beberapa karya Syekh Nawawi yang cukup masyhur di kalangan pesantren. Syekh Nawawi menghabiskan waktunya untuk menulis dan menyebarkan ilmu agamaIslam. Pemikiran dan gagasan intelektual yang dimilikinya itu beliau tuangkan kedalam tradisi literasi yang sungguh sangat berharga bagi umat Islam. Atas kontribusinya yang sangat besar itulah, akhirnya beliau pantas untuk mendapatkan gelar Sayyid Ulama Hijaz.58

Dengan demikian, wajar jika orang-orang muslim Indonesia dan Timur Tengah sangat merasa bangga terhadap Syekh Nawawi. Bahkan masyarakat Jawi yang berada di Timur Tengah merasa bahwa kehormatan mereka semakin terangkat berkat jasa Syekh Nawawi. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya pamor masyarakat Jawi yang sebelumnya dikenal sebagai masyarakat bodoh menjadi masyarakat yang memiliki nilai intelektualitas tinggi di dunia Arab. Sehingga, koloni Jawi disegani dalam keilmuannya dan dihormati di Haramyn.

57Ibid,hal.65.

58Ibid, hal.66.

Referensi

Dokumen terkait

organizational trust memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap keterikatan kerja berdasarkan hasil penelitian tersebut penulis melihat bahwa kepercayaan yang

Sebagian besar balita memiliki status gizi yang baik, status kesehatan yang sehat, lebih dari separo ibu memberikan stimulasi yang kurang baik dan memiliki perkembangan

[r]

Waktu penelitian dilakukan se1ama 6 bulan yang terdiri dari tahap persiapan penelitian, desilasi tanaman eceng gondok, pembuatan reaktor, penanaman eceng gondok .dalam

Perhitungan jumlah meja fasilitas check-in counter berdasarkan data existing 2013, hasil peramalan ARIMA, hasil peramalan regresi dummy menunjukkan bahwa hasil

APJ Surakarta, kepuasan kerja berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap komitmen organisasi, kepuasan kerja karyawan berpengaruh secara positif dan signifikan

Rasta,Otong “Sekilas Tentang Pengetahuan Karawitan Tradisi Sunda.” Dalam Buletin Kebudayaan Jawa Barat Kawit Bandung: 1992.. Rosidi,

 Pada detik ke-10 sampai ke-15 grafik kendaraan A berhenti sehingga kecepatannya 0, sedangkan pada detik ke-4 sampai ke-10, grafik tidak mengalami banyak