Selayang Pandang
Kembali ke Fitrah
05
Sekretariat Jl. raya Buncitan No. 1 Sedati Sidoarjo telp : 031 891 2324 aSrama Jl. raya Buncitan No.1 Sedati Sidoarjo
Website: lazdau.org email : [email protected]
SuSunan RedakSi
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sahabat, tak terasa beduk takbir telah berkumandang, tandanya kita sudah berada di ujung Ramadhan. Ada perasaan sedih dan gembira yang dirasakan oleh seluruh umat muslim di dunia, semua rasa itu bercampur dalam suka cita menyambut kedatangannya.
Banyak persiapan yang sudah dilakukan oleh semua umat muslim dalam menyambut datangnya kemenangan setelah satu bulan penuh kita berpuasa, mulai dari pulang ke kampung halaman, menyediakan makanan sampai menyiapkan baju baru yang akan dikenakan pada saat lebaran.
Setelah
Ramadhan Pergi
Namun ada hal yang menjadi kekhawatiran jika Ramadhan telah hilang, yakni semua masjid-masjid yang biasanya digunakan untuk shalat tarawih akan menjadi sepi, orang-orang yang biasanya melantunkan ayat suci Al-Qur’an di setiap malam akan sirna, dan orang-orang yang rajin bersedekah di bulan Ramadhan akan menjadi tak peka.
Lalu, bagaimana cara kita agar benar-benar merasakan nikmatnya arti sebuah kemenangan hakiki di bulan suci Ramadhan? Tak perlu gusar, karena semua telah diulas oleh tim redaksi dalam Rubrik Utama, yang bertajuk “Kemenangan Hakiki”. Selebihnya, info yang tak kalah menarik dan berbobot, juga telah redaksi susun. Semoga dapat menmabah khasanah berpikir kita dalam menjalankan tugas dan fungsi kita sebagai hamba Allah.
Selamat Hari Raya Idul Fitri! {}
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
DiterBitkaN oleh:
Yayasan Dompet amanah Umat DeWaN PeNGarah: Drs. margono, m.Pd, Drs.
Sofyan lazuardi, ainur rofiq Sophiaan, Se. m.Si, Nurhidayat PimPiNaN UmUm:
h. agus Sumartono StaF ahli: Zainal arifin emka, a. Zakki PimPiNaN reDakSi:
ayu Puspita reDaktUr PelakSaNa: tyas reDakSi: Siti Salama, iqbal Farabi anas, amd. Fis, ChieF eDitor meDia oNliNe: ayu Puspita koNtriBUtor: Dr.
achmad Zuhdi Dh, m. Fil i, h. maskhun, S. ag. m. hi, Samsul Bahri, Fahmi tibyan, Nurus Sa’adah, St., m. anwar Djaelani, DiStriBUSi: taufik hidayat, Syaiful, Febri lutfi roni, Fidelia Pratama latuconsina, S.i.kom, abdul Ghoni.
Sekretariat Jl. raya Buncitan No. 1 Sedati Sidoarjo telp : 031 891 2324 aSrama Jl. raya Buncitan No.1 Sedati Sidoarjo
Website: lazdau.org email : [email protected]
SalaM RedakSi
Visi :
Menjadi lembaga peningkatan kualitas sumber daya manusia yang terdepan dan terpercaya dalam memberdayakan yatim, piatu dan mustahik.
Misi :
- Memberdayakan yatim, piatu, dan dhuafa melalui program dakwah, pendidikan,
ekonomi, kesehatan dan lingkungan.
- Meningkatkan kredibilitas lembaga melalui perbaikan kualitas manajemen dan pertanggungjawaban yang amanah secara transparan.
- Menjadi mitra pemerintah dalam meningkatkan mutu SDM umat Islam.
IZIN KEMENAG : SK KEMENAG 520 TAHUN 2017 MENKUMHAM-RI : AHU.4866.AH.01.04. TAHUN 2010 AKTE NOTARIS : H.R . SUMARSONO, SH.
TANGGAL AKTA : 01 JULI 2010 NOMOR AKTA : 1
STP PROPINSI : 460/810/102.006/STPU/ORS/2010 NPWP : 02.210.865.8-643.000
e-Mail : [email protected]
leMBaGa aMil ZakaT
DOMPET AMANAH UMAT
LEMBAGA AMIL ZAKAT SIDOARJO
Sepenggal KiSahKu
Sedekah, Umpan Terbaik Penarik Rezeki
08
Sajian Kita
3 Salam redaksi 5 Selayang Pandang 6 Sepenggal Kisahku 10 Utama
14 Khasanah Peradaban
16 Kajian Agama 19 Wirausaha
20 Konsultasi Psikologi 22 Gallery
25 Konsultasi Psikologi 26 Hijrahku
28 DAU Update 31 Dunia Anak
Dewan Syariah: Prof. DR. Moch. Ali Aziz, M.Ag., Dr. H.
Achmad Zuhdi Dh, M. Fil I Tim Ahli: Ir. Misbahul Huda, MBA., Drs. Margono, M.Pd., Drs. Ec.H. Sofyan Lazuardi, MM., Nur Hidayat, T.S., Abu Dardak Pembina: H. Tamami Pengawas:
Riana Wuryaningsih Ketua Pengurus: H. Agus Sumartono Sekretaris: Abdurrahim Hasan Bendahara: Nur Salim, Shodiq Dep. Pengembangan SDM: Mumayyizah, S.Ag, M.Pd Dep.
Penghimpun Dana: Aidatul Fitriyah Dep. Pelayanan Umat: Agus Asianto, Herman Khoirul Dep. Kesehatan: Dr. Suprapto, Dr. Widy Andriani CEO: H. Agus Sumartono, Direktur Operasional: Moh.
Takwil, M.Pd, Direktur Fundraising & Pendayagunaan: Sugeng Pribadi, S.I.Kom, Direktur Usaha: Iqbal Farabi Anas, Amd. Fis, Manager Keuangan: Indah Permata Sari, Manager Fundraising:
Sudayat Kosasih, Manager Pendayagunaan: Zaini Syam, M.Pd
Susunan Pengurus
709 221 2216
a/n Panti asuhan istiqomah
0409722955
a/n Yayasan Dompet amanah Umat
7107091787
a/n laZ Dompet amanah Umat
ZAKAT INFAQ / SEDEKAH WAKAF
Rekening PaRtisiPasi donasi :
ala Rasulullah
Idul Fitri Merayakan
14
Hasanah Peradaban
32 Labirin Anak 33 Komik 34 Kolom 36 Refleksi 38 Doa
40 Testimoni Aqiqoh
Oleh: H. Agus Sumartono, CEO LAZ DAU
B
eduk takbir telah b e r k u m a n d a n g , setelah sebulan penuh kita berpuasa tibalah saatnya di Hari Kemenangan. Seluruh umat Islam akan merayakan hari raya Idul Fitri. Bahkan sebagian dari kita, pada malam harinya melakukan takbir keliling yang juga sudah menjadi budaya.Hal ini sesungguhnya merupakan manifestasi kebahagiaan setelah berhasil memenangi ibadah puasa, atau sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah Ta’ala, atas kemenangan besar yang kita peroleh setelah menjalankan ibadah puasa
Kembali ke Fitrah
Ramadhan selama satu bulan penuh.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” Rasulullah SAW bersabda, “Hiasilah hari rayamu dengan takbir.”
Dan banyak pula yang memaknai Idul Fitri sebagai kembali ke fitrah atau kembali ke kesucian. Setelah umat Islam melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan, mereka seolah-olah kembali ke dalam kesucian diri (fitrah) ibarat dengan bayi yang baru dilahirkan.
“Hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.
(QS. Ar-Rum [30]: 30).
Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa benar- benar kembali ke fitrah.
Yakni menjalankan agama yang lurus sesuai dengan yang telah Allah tetapkan.
Semoga kita bisa benar- benar menang dan meraih Kemenangan. Selamat Hari Raya Idul Fitri. {}
SelayanG PandanG
Biarkan Aku,
Menggapai Rida
Sang Ilahi
Apa salahnya, jika aku mempunyai cita- cita sebagai guru agama? Memang sih, gajinya tak seberapa dan tidak
menjamin kebahagiaan dunia.
Namun yang aku lakukan niat Ikhlas Lillahi Ta’ala, karena hanya
ingin menggapai rida-Nya.
Mochammad Ilham Sebastian, Santri Panti Asuhan Istiqomah
M
anusia memang harusmemiliki rencana dalam hidupnya, sejak kecil secara tidak langsung sudah diajarkan oleh orang tuanya untuk memandang kedepan dan memimpikan sebuah cita-cita. Sering kita mendengarkan seorang anak ditanyai cita-cita yang ingin dicapai ketika dewasa. Bermacam jawabanpun biasanya terlontarkan, mulai dari presiden, dokter, insinyur, tentara sampai ingin menjadi pemain sepak bola terkenal di dunia.
Namun apa salahnya, jika ada anak yang mempunyai cita-cita menjadi seorang guru agama di sebuah Madrasah. Mulia kan? Padahal di zaman sekarang ini, menemukan anak
SePenGGal kiSaHku
yang percaya diri dengan jawaban seperti itu, sangatlah susah. Namun ketika kita melihat salah satu santri yang ada di Panti Asuhan Istiqomah, pasti kita akan menemukannya.
Anak itu tak lain dan tak bukan adalah Mochammad Ilham Sebastian, santri yang baru masuk pada 10 April 2019 lalu merupakan sulung dari dua bersaudara. Ia harus tinggal di Panti Asuhan Istiqomah, bukan karena tidak memiliki orang tua ataupun keluarga. Hanya saja, nasib keluarganyalah yang membuatnya harus tinggal di sana.
Walaupun merupakan santri baru di panti, namun dia tak perlu bekerja keras untuk beradaptasi. Karena memang anaknya ramah,
penurut dan sopan, yang membuat santri lain mudah
berteman dengannya. Tak ada rasa dendam, kecewa dan marah kepada ibu
dan bapaknya, ketika ia di suruh untuk tinggal di Panti Asuhan Istiqomah. Karena
memang itu yang terbaik untuknya saat ini.
“Insya Allah Ilham ikhlas menerima dan menjalankan semua yang dikatakan oleh orang tua. Soalnya Ilham yakin keputusan yang diambil mereka, pasti itu adalah yang terbaik. Ya, Ilham anggap ini merupakan bentuk ikhtiar dalam menuntut Ilmu,” jawabnya sambil tersenyum.
Ketika ditanya mengapa ingin menjadi seorang guru agama yang mengajar di sebuah Madrasah, bukan menjadi seorang Ustad yang ceramah dimana-mana, jawabannya hanya sederhana dan pasti akan membuat perasaan terenyuh ketika mendengarkannya.
“Ilham maunya jadi guru saja dengan imbalan yang tak seberapa, asal kelak mempunyai murid
yang bisa mengamalkan semua yang Ilham ajarkan. Itung-itung juga mengamalkan semua yang dikatakan oleh orang tua serta sebagai tambah amal kebaikan untuk mereka,” tambahnya dengan rasa percaya diri.
Ketika orang tua menyuruhnya untuk tinggal di Panti Asuhan Istiqomah, bukan berarti mereka tidak khawatir
dengan keadaannya.
Buktinya saja sang Ibunda tercinta, merasa bersalah
dan terus meminta maaf karena sudah menyuruhnya tinggal di sana. Namun, Ilham lah yang menguatkan mereka.
Kebiasaan selama di rumah yang diajarkan mandiri oleh kedua orang tua, kini ia lakukan di rumah barunya.
Tak ada rasa sungkan dan jarak di antara ia dan saudara barunya, malah ia disambut dengan tangan terbuka.
Hidup memang selalu berputar, seperti roda yang digunakan ketika berjalan.
Rasanya seperti itulah ia menggambarkan.
Memang saat ini posisi keluarganya masih kekurangan, namun ia percaya suatu saat mampu membawa keluarganya dalam kebahagiaan dan membuat mereka bangga terhadapnya. (naskah dan foto: salama).
SePenGGal kiSaHku
Sedekah, Umpan Terbaik Penarik Rezeki
S
alah rasanya, jika kita memungkuri bahwa semua orang yang bekerja keras karena ingin mendapatkan rezeki yang melimpah seperti uang bahkan tahta di sebuah perusahaan.Namun yakinlah bahwa masalah itu, sebenarnya sudah ada yang menentukan untuk kadar serta kedatangannya, yakni Allah Azza Wa Jalla.
Walaupun kita sudah berusaha untuk mencari dengan bercucuran keringat dari siang sampai malam, jika itu bukan rezeki kita maka hasil yang didapat juga tidak menjadi berkah. Namun ada cara yang paling ampuh, agar rezeki itu bisa datang dengan cepat dan tepat waktu.
Mau tau? Jadikan sedekah sebagai umpan penarik rezeki kita, dibarengi dengan niat ikhlas Lillahi Ta’ala pasti semua akan terijabah.
Suka berbagi itu tanda seorang hamba selalu bersyukur, atas apa
yang telah Allah berikan kepada kita. Walaupun hanya dengan uang yang tak seberapa jumlah nominalnya, namun niatkan saja itu semua Lillahi Ta’ala. Pasti Allah akan
menggantinya dengan takaran yang lebih dari apa yang sudah diberi.
Irawati Rahayu Siwi, S.Pd, Guru SMPN 2 Sedati-Sidoarjo
SePenGGal kiSaHku
Walaupun melakukannya bukan menggunakan harta, namun hitungannya tetap sama kok. Dan percaya atau tidak, saya sendiri sudah merasakannya. Dilahirkan dari keluarga yang sederhana, bukan berarti saya tidak pernah memberi kepada sesama.
Malah justru sebaliknya, orang tua saya mengajarkan untuk berbagi apapun yang kita punya. Entah itu berupa makanan, minuman sampai barang.
Dari sering berbagi itulah, Allah menambah nikmat keluarga saya dengan memberikan rezeki yang membuat kami sekeluarga hidup dalam berkecukupan. Dalam artian semua kebutuhan bisa terpenuhi, tanpa harus terlalu extra untuk mencari. Dan Alhamdulillah, sampai sekarangpun saya masih mengamalkan apa yang diajarkan oleh mereka.
Saat ini saya berprofesi sebagai seorang guru di salah satu Sekolah Menengah Pertama Negri (SMPN) yang ada di Sidoarjo.
Jujur saja, pekerjaan ini bukanlah pilihan saya melainkan permintaan dari ibu, sebenarnya saya ingin menjadi dokter.
Tapi apa hendak mau dikata, ketika perekonomian keluarga tak mampu untuk menompang biaya pendidikan seorang dokter. Dengan separuh hati dan tangisan yang masih mengalir, saya terima untuk mengikuti tes di salah satu universitas di Surabaya. Dan saya diterima di Fakultas Pendidikan, walaupun menjalankannya dengan setengah hati namun saya bertahan hingga wisuda.
Dari pekerjaan inilah, saya mengenal Panti Asuhan Istiqomah. Bermula ketika saya sering lewat di depannya, rasa penasaran dan ingin tahu muncul begitu saja. Tetapi lagi-lagi saya mencoba untuk menahannya.
Namun ketika rasa itu semakin tertahan, yang ada hanya perasaan sesak luar biasa.
Dengan bermodal Bismillah, saya beranikan untuk mencoba masuk ke dalam dan saya putuskan untuk menjadi donatur tetap di sana. Jujur dari awal saya melangkah masuk sampai dengan keluar, rasanya sangat ringan sekali seperti tanpa ada beban.
Walaupun nominalnya tak seberapa, namun niat saya ikhlas Lillahi Ta’ala. Bukan hanya dalam hal materi saja berbaginya, saya juga sering membagikan makanan kepada guru-guru lainnya. Kalau ditanya dalam rangka apa, terkadang saya juga bingung untuk menjawabnya. Namun cukup senyuman manis saja, yang mampu menjawab itu semua. Percaya atau tidak, rezeki yang saya terima malah menjadi berlipat-lipat.
Dari kebiasaan saya inilah, saya mengajarkannya kepada kedua anak saya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Saya berharap, semoga apa yang saya ajarkan kepada mereka dapat dilakukan walaupun hanya dengan cara sederhana dan bisa meneruskan apa yang saya lakukan saat ini.
seperti yang dituturkan kepada: salama.
SePenGGal kiSaHku
Allaahu akbar.. Allaahu akbar.. Allaahu akbar...
Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar walillaahil – hamd.
Tak terasa suara takbir telah berkumandang, itu tandanya kita sudah berada di ujung Ramadhan. Biasanya, di saat seperti ini ada rasa senang dan sedih yang bercampur menjadi satu dalam diri setiap orang yang beriman kepada Sang Pencipta.
Senang, karena akan bertemu dengan Hari Kemenangan setelah sebulan penuh kita berjuang menjalani ketaatan. Sedih, karena akan berpisah dengan bulan yang penuh dengan rahmat serta ampunan. Di saat bulan suci
Kemenangan Hakiki
Ramadhan kita dilatih oleh Allah dengan menahan lapar dan haus dalam berpuasa, menahan amarah serta maksiat lainnya.
Bukan hanya itu saja kita juga dilatih untuk menghidupkan malam-
malamnya dengan dzikir dan qiyamul lail.
Memang terasa sangat berat sekali, namun itulah bulan perjuangan yang penuh ketaatan. Namun kini, Ramadhan sudah meninggalkan kita. Dia telah pergi. Tapi tak perlu disesali, karena ia bagian dari ketentuan dari Sang Maha Pemberi Rezeki.
Meskipun dia akan kembali lagi, tetapi bukanlah Ramadhan yang sama seperti tahun ini.
Ramadhan di tahun depan, belum tentu kita masih diberi umur panjang oleh Sang Maha Pemberi Kehidupan. Lalu, kemenangan apa sih yang harusnya kita rayakan?
Apakah kemenangan setelah selesai berpuasa penuh? Lalu merdeka dari setiap makan dan minum di siang hari?
Para sahabat Nabi, jelang berakhirnya bulan suci Ramadhan mereka kian bersedih hati.
Bukan karena tidak bergembira menyambut datangnya Idul Fitri, tetapi mereka merasa kehilangan akan kepergian Ramadhan yang di penuhi dengan keberkahan ini.
Lalu kemenangan apa sih yang harusnya kita renungkan, agar tidak lagi berbuat maksiat seperti dahulu?
Kemenangan Ramadhan yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa membawa spirit takwa
Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal
mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat- tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar, itu adalah keberuntungan
yang besar. (QS. at-Taubah [9]: 72).
uTaMa
itu di 11 bulan berikutnya. Kita menjadi pribadi yang lebih baik sekaligus lebih takut hanya kepada Allah. Lebih ridha atas segala pemberian, taat atas apa yang telah ditetapkan. Lebih mempersiapkan diri untuk hari di mana kita akan digiring oleh Sang Maha Pemberi Kehidupan. Lalu, sudahkah kita mendapatkan kemenangan ini? Wallahu’alam.
Semua tergantung kualitas ibadah kita selama di bulan Ramadhan kemarin.
Perilakumu Mencerminkan Siapa Dirimu
Bulan suci Ramadan memang menjadi bulan yang begitu istimewa. Setiap detiknya dapat bernilai pahala yang besar dan berlipat ganda, bagi orang-orang yang mau mengisinya dengan iman maupun amal sholih.
Masjid-masjid penuh sesak dengan jamaah di waktu terawih, kajian-kajian yang menawarkan takjil untuk berbukapun menjamur, dari muda sampai dengan tua saling berlomba untuk melantunkan ayat suci Al-Qur’an.
Memang betul bulan Ramadhan ini sangat ajaib, suasana keimanannya sangat menyejukkan setiap harinya. Bahkan, Ramadhan sendiri itu melatih kita untuk memulai dan membiasakan kebiasaan baik yang bisa dilanjutkan di bulan-bulan selanjutnya, seperti puasa sunnah sampai dengan sedekah.
“Sebenarnya kita patut mensyukuri segala nikmat yang telah diberi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena atas kehendaknyalah kita dapat dipertemukan lagi oleh bulan suci Ramadhan.
Bulan yang melatih kita agar melaksanakan semua perintahnya, semua setan dan jin diikat oleh-Nya supaya benar-benar fokus untuk beribadah hanya kepada-Nya,” tutur H. Agus Sumartono, CEO Lembaga Amil Zakat Dompet Amanah Umat (LAZ DAU).
Namun sayang beribu sayang, ketika Ramadhan sudah selesai maka selesai juga amal kebaikan kita. Tak sedikit dari semua hamba yang tidak melanjutkan semangat keimanan Ramadhan di bulan-bulan selanjutnya.
“Jika selama Ramadhan baik dari amalan spiritual dan sosialnya meningkat, maka di 11 bulan kedepan, peningkatan itu harus tetapi dijalankan. Karena menggapai kemenangan hakiki Ramadhan, akan terlihat setelah selesainya bulan suci Ramadhan,” tambahnya.
Semoga kita sebagai seorang hamba, menjadi salah satu yang menikmati indahnya kemenangan yang hakiki saat selesainya bulan suci Ramadhan.
Kemenangan Hakiki Bagi Para Santri
Setelah sebulan penuh kita berpuasa, kini tibalah hari kemenangan yang membuat semua umat muslim di dunia menjadi gembira.
Segala persiapan sudah disiapkan dengan sempurna, mulai dari menyiapkan makanan untuk tamu yang berkunjung di rumah sampai dengan pulang ke kampung halaman bertemu orang tua dan sanak saudara. Hal itu juga berlaku bagi santri Panti Asuhan Istiqomah.
uTaMa
“Untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri, insya Allah para santri panti kami yang masih mempunyai keluarga akan pulang kampung untuk mencurahkan kerinduan yang ada di dalam dada. Namun ada juga beberapa dari mereka yang tidak pulang, karena orang tuanya sudah meninggal dunia,” tutur Rahmatulloh, S.Pd, Kepala Panti Asuhan Istiqomah.
Namun sebenarnya bukan itu yang menjadi kemenangan hakiki dari Ramadhan. Karena bukan sembarang hamba yang bisa menikmatinya dengan begitu mudah, perlu perjuangan dan usaha, agar bisa mendapatkannya.
Kemenangan hakiki sesungguhnya ada pada kemerdekaan hati dan kelapangan jiwa. Ia hadir di kala pekat hitam noda yang menempel telah terhapus oleh amalan yang bercahaya. Semua pasti akan merasakan nikmatnya kemenangan setelah sebulan penuh kita menahan rasa lapar, amarah dan malah taat mengerjakan amal kebaikan.
“Kemenangan hakiki bagi para santri panti kami adalah ketika mereka mampu meningkatkan kuantitas kecerdasaan spiritual dan sosialnya. Sekaligus ketika mereka kembali hadir di tengah-tengah masyarakat, mampu membawa energi positif,” tambahnya.
Tingkatkan Sedekah Pasca Ramadhan
Ketika bulan suci Ramadhan, kita begitu mudah untuk menjalankan semua ibadah dari mulai mengerjakan shalat sampai bersedekah. Rasanya itu begitu bahagia, ketika kita bisa berbagi kepada mereka. Ya, walaupun jumlahnya tak seberapa.
“Alhamdulillah, di bulan suci Ramadhan ini saya masih bisa berbagi dengan anak-anak yatim dan duafa. Walaupun tidak banyak, tapi saya ikhlas melakukannya,” tutur Putri.
Semoga setelah Ramadhan berlalu, semua hamba bisa lebih meningkatkan lagi amal ibadah mereka, seperti sedekah. Agar anak yatim dhuafa bisa merasakan indahnya diperhatikan oleh sesama. {} tim utama.
uTaMa
“Kemenangan hakiki itu kemenangan yang sebenarnya.
Kemenangan dalam arti semua manusia yang benar-benar melaksanakan segala macam ibadah di bulan Ramadhan. Ya kalau boleh dibilang sih, kita sudah mendapat predikat lulus ujian di bulan Ramadhan.”
“Kemenangan hakiki itu semua yang dilakukan manusia pada bulan suci Ramadhan diaplikasikan juga pada 11 bulan berikutnya. Mulai dari menahan emosi, menahan hawa nafsu, mengaji sekaligus mengamalkan isi Al-Qur’an dan melaksanakan amal kebaikan yang lain.”
“Kemenangan yang hakiki di bulan Ramadhan itu bisa lulus dalam mengendalikan emosional, kemenangan secara spiritual yang dapat senantiasa menjaga iman sekaligus taqwa kita dan kemenangan secara intelektual dapat melatih kecerdasan serta tingkatan dalam menghadapi setiap masalah.”
“Kemenangan yang hakiki itu, ketika kita mampu merubah diri kita menjadi lebih baik. Mampu menjaga nafsu baik lahir maupun batin, baik lisan maupun perbuatan, serta memperbanyak amal dan ibadah.”
Taufik Hidayat,
Prozis LAZ DAUIsmail,
Manager Graha Al-Qur’anSaiful Affandi,
Prozis LAZ DAUAbd. Azis Rofiqi,
Manager IT LAZ DAUIni Kata Mereka
Tentang Kemenangan Hakiki
uTaMa
D
i Indonesia, Idul Fitri adalah hari raya terbesar dan termeriah bagi umat Islam.Hal ini sedikit berbeda dengan sebagian besar negara-negara Islam lainnya, di mana hari perayaan terbesar adalah Idul Adha.
Sebagai hari raya terbesar, umat Islam Indonesia menggelar berbagai macam perayaan, seperti takbir keliling misalnya. Di samping itu, Idul Fitri juga telah membentuk tradisi dan budaya bagi Muslim Indonesia, yaitu mudik atau pulang kampung untuk bersilaturahim dengan handai taulan. Semua itu merupakan upaya Muslim dalam menyambut dan merayakan hari raya Idul Fitri.
Lalu, bagaimana Rasulullah saw. merayakan hari raya yang jatuh pada satu Syawal itu? Apa saja yang dilakukan Rasulullah saw. di hari kemenangan umat Islam itu?
Merujuk buku How Did the Prophet & His Companions Celebrate Eid?, Rasulullah saw. dan umat Islam pertama kali menggelar perayaan hari raya Idul Fitri pada tahun kedua Hijriyah (624 M) atau usai Perang Badar.
ala Rasulullah
Idul Fitri
Merayakan
Dari beberapa riwayat disebutkan bahwa ada beberapa hal yang dilakukan Rasulullah saw. untuk menyambut dan merayakan hari Idul Fitri.
Pertama, takbir. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. mengumandangkan takbir pada malam terakhir Ramadhan hingga pagi hari satu Syawal. Hal ini sesuai dengan apa yang difirmankan Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 185, “Dan hendaklah kamu sempurnakan bilangan puasa serta bertakbir (membesarkan) nama
Allah atas petunjuk yang telah diberikan-Nya kepadamu, semoga dengan demikian kamu menjadi umat yang bersyukur.”
kHaSanaH PeRadaBan
Kedua, memakai pakaian terbaik. Pada hari raya Idul Fitri, Rasulullah mandi, memakai wangi- wangian, dan mengenakan pakaian terbaik yang dimilikinya.
Ketiga, makan sebelum shalat Idul Fitri. Rasulullah saw. biasa memakan kurma dengan jumlah yang ganjil; tiga, lima, atau tujuh.
Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa, “Pada waktu Idul Fitri Rasulullah saw. tidak berangkat ke tempat shalat sebelum memakan beberapa buah kurma dengan jumlah yang ganjil.” (HR. Ahmad dan Bukhari).
Keempat, shalat Idul Fitri.
Rasulullah menunaikan shalat Idul Fitri bersama dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya–baik laki-laki, perempuan, atau pun anak-anak.
Rasulullah memilih rute jalan yang berbeda ketika berangkat dan
pulang dari tempat dilangsungkannya shalat Idul Fitri.
Rasulullah juga mengakhirkan pelaksanaan shalat Idul Fitri, biasanya pada saat matahari sudah setinggi tombak atau sekitar dua meter. Hal ini dimaksudkan agar umat Islam memiliki waktu yang cukup untuk menunaikan zakat fitrah.
Kelima, mendatangi tempat keramaian. Suatu ketika saat hari raya Idul Fitri, Rasulullah menemani Aisyah mendatangi sebuah pertunjukan atraksi tombak dan tameng. Bahkan saking asyiknya, sebagaimana hadist riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim, Aisyah sampai menjengukkan (memunculkan) kepala di atas bahu Rasulullah sehingga dia bisa menyaksikan permainan itu dari atas bahu Rasulullah dengan puas.
Keenam, mengunjungi rumah sahabat. Tradisi silaturahim saling mengunjungi saat hari raya Idul
Fitri sudah ada sejak zaman Rasulullah. Ketika Idul Fitri tiba, Rasulullah mengunjungi rumah para sahabatnya. Begitu pun para sahabatnya. Pada kesempatan ini, Rasulullah dan sahabatnya saling mendoakan kebaikan satu sama lain.
Sama seperti yang dilakukan umat Islam saat ini. Datang ke tempat sanak famili dengan saling mendoakan. {} (A Muchlishon Rochmat - nu.or.id)
kHaSanaH PeRadaBan
Oleh: H.Maskhun,M.HI
H
ari Raya Idul Fitri adalah hari yang bahagia, hari kemenangan bagi kita, satu bulan penuh kita ditempa dalam kawah candradimuka, berperang melawan hawa nafsu angkara murka, berpuasa di bulan suci Ramadhan serta menjalankan seluruh aktivitas serta paket ibadah yang ada di dalamnya, shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, I’tikaf di masjid, mengeluarkan sebagian harta untuk zakat fitrah serta bersedekah, semua itu kita lakukan dalam rangka melaksanakan perintah agar kita menjadi orang yang bertaqwa.Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 183, “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas umat sebelum kamu, agar kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa.”
Rasulullah SAW bersabda, “Bila pagi Idul Fitri tiba, para Malaikat berbaris di pintu-pintu jalan sambil menyerukan : “Wahai orang-orang yang berserah diri kepada Tuhan, segeralah berangkat kepada Tuhanmu Yang Maha Mulia. Dia akan menganugerahimu kebaikan dan memberimu pahala yang besar. Kamu telah diperintahkan beribadah malam, lalu kamu laksanakan.
Kamu diperintahkan berpuasa siang hari, lalu kamu kerjakan. Kamu telah memenuhi seruan Tuhanmu. Maka terimalah pialamu. Kemudian apabila mereka selesai shalat, Malaikat berseru lagi : Ketahuilah bahwa Tuhanmu telah
KEMENANGAN
PASCA RAMADHAN
mengampuni dosa-dosamu. Maka kembalilah ke perjalanan hidup kalian selanjutnya sebagai orang-orang yang memperoleh petunjuk.” (HR.
Thabrani dalam al Kabir).
Ada tiga nilai tambah yang seharusnya kita miliki setelah kita menjalankan paket ibadah di bulan suci Ramadlan. Tiga nilai tambah inilah yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur untuk melihat sejauh mana tingkat keberhasilan kita dalam menjalankan ibadah puasa, untuk melihat berapa tinggi nilai ibadah kita di bulan suci Ramadhan. Tiga nilai tambah yang seharusnya kita miliki itu, antara lain:
1. Kemampuan lebih mendekatkan diri kepada Allah swt. Ibadahnya tambah rajin dan istiqomah. Salah satu contohnya adalah sabda baginda Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR.
Muslim).
2. Kemampuan serta keberdayaan kita dalam menghadapi segala macam cobaan, godaan serta tantangan, baik yang datang dari hawa nafsu kita sendiri, dari rekayasa serta tipu daya syaitan maupun dari dinamika kehidupan sosial di mana kita hidup dan berada di dalamnya.
3. Nilai tambah dalam hal kepekaan dan kepedulian kita semua terhadap realitas (kenyataan) kehidupan masyarakat yang
kaJian aGaMa
penuh dengan berbagai macam keprihatinan.
Secara akumulatif seluruh aktivitas ibadah yang kita lakukan di bulan suci Ramadhan, diharapkan mampu merenovasi, memperbaiki kerapuhan dan
kerusakan jasmani dan rohani kita, sekaligus memberikan kesegaran dan kebugaran serta kejernihan jiwa kita. Sehingga mampu mengembalikan kita kepada jatidiri kita yang sesungguhnya, yaitu kondisi fitrah yang suci dan bersih dari segala dosa dan noda. Oleh karena itu ungkapan yang paling tepat saat ini adalah
“Semoga kita kembali kepada fitrah kita dan semoga kita sukses dalam menjalankan ibadah kepada Allah swt.”
Setelah kita berhasil memerangi hawa nafsu dan menyatakan kemenangan pada hari ini, bukan berarti kita telah bebas dari ancaman serta tipu daya setan. Karena musuh besar kita akan selalu mencari dan mencari kesempatan untuk membalas kekalahannya, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah saw.
Dari Wahab bin Munabbih, Nabi SAW bersabda,
“Sesungguhnya Iblis terkutuk pada setiap hari Raya ia menjerit, sampai-sampai para anggotanya/bawahannya datang berhimpun di sisinya, sahut mereka, ‘Hai bos/tuan
kami, siapakah yang membuat tuan marah, kami siap memporak-porandahkannya.’
Jawab Iblis, ‘Tiada apa-apa, tapi Allah benar-benar telah mengampuni kepada umat ini dalam hari raya. Untuk itu, kalian harus memalingkan mereka supaya sibuk dengan segala makanan yang lezat- lezat dan pelampiasan nafsu syahwat, minum arak, hingga Allah memurkai mereka’.”
Oleh karena itu, ampunan dosa yang telah dikaruniakan Allah kepada kita pada hari yang suci dan fitri ini haruslah kita pertahankan dengan penuh kewaspadaan terhadap bujuk rayuan setan. Kita harus p e r t a h a n k a n
k e m e n a n g a n
ini dengan terus menerus melakukan serta m e n i n g k a t k a n amal ibadah kita kepada Allah swt.
Sebagaimana yang telah dipesankan oleh Rasulullah SAW.,
“ B e r s u n g g u h - sungguh pada hari raya/Idul fitri dengan bersedekah, dan segala amal baik dan bagus, seperti shalat, zakat, bertasbih dan bertahlil, sebab pada hari itu Allah m e n g a m p u n i
dosa-dosamu, mengabulkan doamu dan memandangmu penuh kasih sayang.”
Sebagai manusia biasa yang kesehariannya tak pernah luput dari salah dan dosa terutama kepada sesama, marilah kita tak segan-segan untuk saling memafkan satu sama lain, agar di hari ini kita benar- benar menjadi orang yang bersih dan suci dari segala dosa dan noda, bagaikan bayi yang baru dilahirkan. Bersih, suci dan fitri. Inilah makna dari Idul Fitri. Semoga Allah Ta’ala selalu melimpahkan hidayah dan taufiqnya kepada kita, aamiin.
kaJian aGaMa
Fahmi Tibyan
Pendamping Bisnis Usaha Kecil Menengah (UKM), Co-Fonder Quanta Academy,
sme-institute.id Konsultasi via email : [email protected]
S
ekilas emak yangberhijab merah maroon tampak seperti penumpang biasa.
Namun begitu mendekati ke arah saya, dia menawarkan.
“Kopi mas, hanya 5000. Nasi bungkus juga ada?”
Kaget saya mendapat tawaran itu, kok tahu saya penggemar kopi.
Ini adalah salah satu potret usaha mikro kita, diberi aturan apapun, selama aturan tersebut berpotensi mengurangi penghasilan bahkan mematikan usaha mereka ia akan mencari celah supaya bisa tetap jualan.
Walaupun resiko apapun harus ia terima, namun karena tuntutan hidup ia tidak peduli, bahkan
Nyali Usaha Mikro
kucing-kucingan dengan petugas berani ia lakukan.
Bahkan saya sering menjumpai di sebuah pintu masuk tol, di tengah terik panas matahari yang menyengat, emak-emak rela menjajakan dagangannya yang hanya kopi dan gorengan kepada para sopir truk tronton yang parkir di sana. Berkali- kali sudah dilarang petugas namun masih tetap kembali, sehingga petugas mungkin sudah frustasi, akhirnya truk tidak boleh parkir di sana dan jalanan tadi dipasangi beton- beton besar.
Karena alasan menyambung hidup mereka
rela melakukannya. Walaupun mereka sudah tahu resiko yang harus dibayar. Tidak hanya resiko terhadap diri mereka sendiri juga mungkin resiko terhadap keberlangsungan usaha mereka.
Nyali X Visi
Kita patut apresiasi terhadap semangat dan nyali mereka dalam mencari nafkah.
Toh mereka juga tidak akan mengganggu usaha-usaha yang sudah berkembang besar. Dibiarkan pun tanpa
ada bantuan dari pemerintah mereka bisa tetap hidup, karena mungkin memang sudah tidak ada pilihan pekerjaan lainnya.
Namun selayaknya ada keberpihakan dan aturan yang membantu mereka biar tetap bisa berjualan dengan penataan yang lebih tertib mungkin, dan tanpa kehilangan potensial pembeli. Ya belajar dari usaha mikro, nyali saja tidak cukup, perlu visi yang besar dan kuat supaya bisa naik kelas.
Seperti halnya di Alun- Alun Batu, di mana ribuan PKL dan usaha mikro ditata dengan rapi. Mereka bisa tetap berjualan dan menjadi daya tarik sendiri bagi pengunjung yang ingin rekreasi sambil hanya jajan cilok, gorengan, Aksesoris.
Sehingga jangan heran sebagian besar PKL sana bisa mempunyai penghasilan bersih hingga di atas Rp 5 juta perbulan! {} cakfahmi.
com
wiRauSaHa
PUASA SYAWAL
6 Hari, Pahala Setahun
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan
Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim).
MuTiaRa HikMaH
Donatur Baru Bulan april 2019
laporan pEnEriMaan, pEnGEluaran Dan SalDo KaS / BanK pErioDE april 2019
No Nama Donatur Donasi 1 Hamba Allah 100,000
2 Oviana 100,000
3 Noer Masruroh 150,000
4 Kuswanto 500,000
5 Heri S 50,000
6 Nandya Aprillia Dewanti
(Alm/Ah Siti Rohimah) 25,000 7 Erni Wahyuni 100,000 8 Febriana Kusuma
Wardhani 200,000
9 Rossa Kristantina, Sh 100,000 10 Misbachuddin Akbar P. 50,000
11 Susanti 25,000
No Nama Donatur Donasi
12 Ibu Ika 20,000
13 Abdullah Asy'ari 25,000 14 Hamba Allah 25,000 15 Siti Ngaisyah 25,000 16 Farichatus Solichah (Riri) 15,000 17 Ibu Tami Asrsih 100,000 18 Ibu Ida Roffi 100,000
19 Ibu Ira 100,000
20 Ibu Romlah 25,000 21 Alm. Sri Utaminingsih 50,000 22 Ina Rattul Hidayat 100,000 23 Ivone Aura Putri Siswandi 100,000
24 Suliani 100,000
No Nama Donatur Donasi
25 Qinansya Diyah Ajeng G 20,000
26 Tarmini 15,000
27 Fauziatul 25,000
28 Kasiyati / Shinta 150,000 29 Bagonk Pulsa 150,000 30 Ayu Intan Sari 25,000 31 Febry Aditya 50,000 32 Endang Sriwinarsih 50,000 33 Fitri Ayu Wulandari 50,000
34 Lilis 50,000
35 Irwanto 25,000
36 Hilmi Alfin 50,000 37 Nur Hanifah 100,000
Ramadhan Rp. 150.000
Zakat Infaq -shadaqah
Terikat Infaq-Shadaqah
Tidak Terikat Waqaf
Lainnya Rp. 37.766.000 Rp. 9.095.000
Rp. 17.008.200 Rp. 4.340.099
Rp. 109.915.218
PENERIMAAN
Rp. 178.274.517
PENGELUARAN
Rp. 183.301.186
Program
Pendayagunaan Program
lainnya Penyaluran
Waqaf
Rp. 17.219.000
Fi Sabilillah Rp. 23.957.000
Biaya Administrasi dan Umum Rp. 12.555.238
Penyaluran Waqaf Tahfidz
Rp. 39.374.000
DAU Cerdas Rp. 30.347
Biaya Lain-lain
Rp. 8.000.000
DAU Peduli Rp. 2.125.000
Biaya Pengembangan Organisasi
-Penyaluran Waqaf Al-qur’an
Rp. 3.143.500
DAU Makmur
Rp. -
DAU Taqwa Rp. 38.073.102
Biaya Operasional
-DAU Sehat
Rp. 38.824.000
DAU Dakwah
Rp. 106.560.500 Rp. 64.185.448 Rp. 12.555.238
KENAIKAN (PENURUNAN) KAS DAN BANK Rp. -5,026,670
Dalam rangka ulang tahun yang ke tujuh, Angkasa Pura Support mengadakan doa bersama anak yatim di Panti Asuhan
Istiqomah, Jalan Raya Buncitan No. 01 Sedati- Sidoarjo. Dihadiri langsung oleh Bapak Wukirjo, Branch Manager beserta 34 pegawai Angkasa Pura Support, Selasa (12/3).
Lembaga Amil Zakat Dompet Amanah Umat (LAZ DAU) berkunjung ke PT. Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE). Tujuan kedatangan mereka hanya sederana, untuk bersilaturrahmi sekaligus mengajak bersinergi dalam hal kebaikan, Selasa (14/03).
Selasa (14/03), PT. Angkasa Pura Supports menyambut hangat kedatangan dari Lembaga Amil Zakat Dompet Amanah Umat (LAZ DAU). Kedatangan LAZ DAU kali ini untuk bersilaturrahmi sekaligus mengajak bersinergi dalam hal kebaikan.
Bukan hanya PT. Tiki Jalur Nugraha (JNE) dan PT. Angkasa Pura Supports saja yang didatangi oleh Lembaga Amil Zakat Dompet Amanah Umat (LAZ DAU). Selasa (14/03), LAZ DAU juga berkunjung ke Bank Syariah Mandiri (BSM) dengan tujuan yang sama yakni bersilaturrahmi sekaligus mengajak bersinergi dalam hal kebaikan, Selasa (14/03).
GalleRy
Selasa (19/03), Lembaga Amil Zakat Dompet Amanah Umat (LAZ DAU) mengantarkan salah satu warga dari Pulungan-Sidoarjo yakni Ernawati yang akan melakukan persalinan di Rumah Sakit Bunda Sidoarjo.
Minggu (24/03), LAZ DAU memberikan beasiswa untuk 159 anak berprestasi yang terdiri dari Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD) / Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), 8 orang penerima santunan lansia, 57 orang penerima santunan Komunitas Tukang Becak Sidoarjo (Kombes) serta 18 orang penerima Beasiswa DAU Volunteer (BDV).
Selain memberikan bantuan beasiswa untuk anak-anak berprestasi, santunan tukang becak dan lansia, Lembaga Amil Zakat Dompet Amanah Umat (LAZ DAU) juga menghadirkan Ustadz Muda Millenial yakni Gus Rian Adji Prasetyo, sebagai pemberi tausyiah di acara Kajian Keluarga Muslim, pada Minggu (24/03).
Selasa (26/03), Lembaga Amil Zakat Dompet Amanah Umat (LAZ DAU) kembali mencairkan beasiswa untuk lima orang siswa dan siswi MTS. Nurul Huda, Cemandi-Sidoarjo.
GalleRy
kOnSulTaSi PSikOlOGi
Oleh : Syamsul Huda, M.Psi, PNLP,.
Cht,.Psikolog
Pertan yaan
Jawaban
Assalamu’alaikum,
Kok saya bisa benci yaa sama laki-laki? Benci campur takut.
Waktu kecil pernah dipukul kepalanya, dan terlalu banyak peristiwa pahit yang ditorehkan laki-laki di hidup saya. Saya bisa gemeteran kalau melihat laki- laki. Bahkan melihat orang nikah saja, saya sampai heran. Dalam pikiran saya, kok mereka mau menikah yaa? Kalau sebatas suka sama laki-laki, okelah. Tapi untuk lebih dari itu, saya nggak yakin. Sebenarnya saya tidak mau menikah. Terus saya harus bagaimana? Terima kasih.
-Sinta, 22 tahun-
Wa’alaikum salam,
Sdri. Sinta, Anda mengeluh membenci laki-laki juga takut menjalin relationship dengan laki-laki. Sepertinya pengalaman-pengalaman traumatik yang Anda alami saat masih kecil betul-betul membuat jejak psikologis dan emosional yang sangat kuat dalam diri Anda.
Jejak itu yang kemudian membentuk prilaku Anda yang membenci dan begitu ketakutan ketika berinteraksi dengan figur lawan jenis dari Anda. Keluhan ini dalam perspektif psikologi disebut Arrhenphobia. Yakni ketakutan dan kebencian yang irrasional terhadap laki- laki yang disebabkan karena beberapa faktor, terutama peristiwa traumatik pada masa lalu di awal-awal kehidupan (pada satu sampai dengan sepuluh tahun kehidupan seseorang).
Keluhan Anda ini sudah masuk wilayah klinis, di mana idealnya Anda menemui Psikolog/terapis terdekat di kota Anda. Khawatirnya kalau kondisi ini tidak segera disembuhkan akan berdampak pada masa depan Anda dan juga kehidupan Anda di hari tua. Ada beberapa teknik terapi yang bisa diberikan pada Anda, untuk menemukan kembali fitrah Anda sebagai
seorang wanita.
Salam
Traumatik
pada Masa Lalu
kOnSulTaSi PSikOlOGi
Tidak pernah ada kata salah, ketika anak muda memutuskan
untuk menuntut ilmu dan berhijrah. Percayalah! Itu keputusan yang sangat luar biasa, dan akan menjadi bekalmu
ketika akan memasuki Surga.
Oktavia, Pelajar
H
ijrah, merupakan sebuah impian dan harapan baru yang kedatangannya sudah lama di nantikan oleh seluruh manusia di dunia. Namun sebelum memutuskan untuk berhijrah, hidayah datang terlebih dahulu untuk menyapa. Sayangnya tidak semua hamba mendapatkannya dalam sekejap mata, karena disitulah takdir dari Sang Maha Pencipta bekerja.Tak peduli dari manapun latar belakangnya dan tak peduli berapapun usianya, jika Allah sudah berkehendak, “Kun!”
maka jadilah. Karena hidayah itu memang
HiJRaHku
sudah dipersiapkan oleh Allah Ta’ala, entah lewat skenario seperti apa. Namun, percayalah itu semua akan menjadi kenangan indah bagi kita yang sudah mendapatkannya.
Dan aku salah satu yang memperolehnya.
Masih teringat betul rasanya, ketika hidayah itu datang menyapaku. Ada rasa senang dan bahagia, ketika Allah Azza Wa Jalla
menunjukku menjadi salah satu yang beruntung
mendapatkannya. Ya tepatnya dua tahun
lalu, saat aku duduk di bangku kelas dua
Sekolah Menengah Atas (SMA).
H i d a y a h k u datang dari sebuah
hal sederhana, yakni tentang
sebuah kematian.
M u n g k i n dikalangan anak muda, hal itu tidak perlu untuk ditakutkan. Karena dipikiran mereka, orang meninggal itu pasti yang usianya sudah tua.
Namun kenyataannya itu salah dan aku
mempercayainya.
Sempat aku berpikir sambil
merenung, bekal
apa yang sudah aku siapkan ketika Allah dalam sekejap menyabut nyawaku ini? Dosa apa yang nantinya akan lebih besar pertanggung jawabannya kepada Sang Maha Pencipta setelah mengambil nyawaku? Lalu, bagaimana aku menebusnya?
Lama sekali pertanyaan itu terbayang-bayang di dalam benakku.
Sampai akhirnya aku menemukan jawabannya dan segera memutuskan untuk benar-benar berhijrah, tanpa menunda-nunda. Bukan karena apa, hanya takut saja usiaku yang masih muda sudah di panggil oleh Sang Maha Kuasa. Perlahan-lahan semuanya aku perbaiki, mulai dari sikap, ibadah, pakaian sampai dengan kerudung yang biasanya aku kenakan.
Dulu sebelum aku berhijrah, kerudungku masih pendek. Tapi Alhamdulillah, sekarang sudah berganti dengan yang panjang.
Rasanya itu bahagia dan nyaman sekali ketika sudah menggunakannya. Namun sebelum terlihat mudah, pasti yang namanya berhijrah itu tidak mudah. Selalu akan datang yang namanya cobaan maupun ujian. Dan akupun juga turut merasakannya.
Diawal berproses memakai pakaian yang
bersyar’i, sempat aku mendapat pertentangan dari orang tua. Sampai ditanya, aku ikut aliran apa? Berubah karena apa? Sampai dikira ikut-ikutan trand saja. Bukan hanya dapat pertentangan dari orang tua, sahabat dekatku yang sudah aku anggap sebagai saudara, tiba-tiba menjauhi bahkan seperti orang asing.
Karena itulah aku sempat down dan menyesali semua keputusanku. Namun aku kembali bangkit ketika orang tuaku sudah menyetujui dan menerima keputusanku.
Alhamdulillah, Allah tak membiarkanku sendiri, DIA memberikan ganti seorang teman yang selalu mengajakku dalam kebaikan.
Aku merasa bahwa proses hijrahku ini rasanya sama dengan ketika kita menikmat secangkir green tea. Walaupun warnanya berbeda dari teh yang lainnya, namun rasanya sungguh benar-benar enak dan segar saat dinikmati.
Seperti itulah perjalanan hijrahku. Meskipun pakaian yang aku kenakan berbeda dengan anak muda pada umumnya, tapi aku merasa aman dan nyaman ketika menggunakannya. seperti yang dituturkan kepada:
salama.
HiJRaHku
S
udahkan kita dapatkan kemenangan Ramadhan tahun ini? Pertanyaan tersebut menjadi hangat di tengah hangatnya kemenangan Pemilu Pilpres dan Pileg yang baru saja berlangsung di Negara kita. Hari Raya Kemenangan Idul Fitri setiap diri manusia, memiliki makna yang berbeda-beda.Ada yang “merasa telah menang” karena telah berhasil puasa sebulan penuh dengan level puasa masing-masing. Ada pula yang “merasa telah menang” karena berhasil melaksanakan terawih dan qiyamul lail setiap malamnya serta merasa telah mendapatkan malam Lailatul Qodar. Ada pula yang “merasa telah menang”
karena telah mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an berkali-kali selama puasa. Di antara kita ada juga yang “merasa telah menang” karena telah berzakat, berinfaq dan bersedekah, memberi makan dan buka puasa kepada banyak anak yatim dhuafa di berbagai panti asuhan.
Ramadhan akan hadir setiap tahunnya, Insya Allah dengan atas izin Allah SWT. Dan di antara kita tiada yang tahu dan berani menjamin akan bertemu dengan Ramadhan tahun depan.
Bisa jadi tahun ini atau tahun depan adalah Ramadhan terakhir kita. Sebagai hamba, tentu kita berharap bisa bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan dengan amal ibadah yang lebih baik dan lebih berkualitas.
Sebagian besar di antara kita masih berpikir
“individualis” yang ujung-ujungnya adalah untuk kepentingan akhirat secara individual, belum secara berjama’ah atau secara sosial.
Salah satu inti tujuan dari bulan ramadhan adalah menjadikan kita pribadi yang bertaqwa.
Kemenangan
Ramadhan, Jika…
Esensi lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah “BANGKITNYA PERADABAN ZAKAT”, karena hanya di bulan suci Ramadhan kewajiban Zakat Fitrah bagi setiap yang bernyawa ditunaikan. Begitu pula dengan kewajiban Zakat Maal, meskipun bisa dilaksanakan di luar Ramadhan.
Inti dari kewajiban Zakat Fitrah dan Maal adalah Ibadah Sosial untuk meraih kesholehan sosial, kepedulian kepada sesama, dan rahmat bagi seluruh alam. Yang kita jumpai saat ini, lebih banyak yang mengantri berhaji atau umroh dibandingkan dengan yang mengantri membayar zakat. Kenyataannya di tengah- tengah masyarakat (khususnya di lembaga amil zakat) masih banyak yang mengantri meminta bantuan untuk dientaskan dari permasalahan kehidupan mereka.
Kemenangan Ramadhan telah kita raih jika telah tegaknya kebangkitan syariat zakat di tengah-tengah pranata sosial masyarakat, disamping tegaknya syariat Islam lainnya.
Kemenangan Ramadhan telah kita raih jika umat Islam telah berhasil membangun budaya yang seimbang antara sholeh ritual dan sosial.
Kemenangan Ramadhan telah kita raih jika umat Islam telah berhasil membangun peradaban zakat seperti di zaman kekhalifah- an Islam di masa lampau.
Mari kita berkontribusi untuk KEBANGKITAN PERADABAN ZAKAT, inilah salah satu warisan peradaban yang akan kita wariskan kepada anak keturunan kita. {}
Oleh: Sugeng Pribadi, S.I.Kom, Direktur II LAZ DAU
dau uPdaTe
Oleh: Sugeng Pribadi, S.I.Kom, Direktur II LAZ DAU
HiJRaHku
P
ada zaman dahulu kala ada seekor induk kambing tengah duduk termenung. Ia merasa sedih. Saat ia dan anak-anaknya mencari makan di padang rumput, salah satu anaknya ditangkap oleh serigala. Sebenarnya, induk kambing sudah berkali-kali berganti tempat untuk mencari makan. Tapi, ke mana pun ia pergi, pasti serigala dapat mengejarnya.“Kita harus mencari tempat tinggal baru, agar serigala tidak terus-menerus memburu kita,”
celetuk salah seekor kambing saat para kambing sedang berkumpul.
“Mau pindah ke mana? Selama kita masih di daratan ini, serigala akan tetap berhasil memburu kita,” sahut kambing yang lain.
“Bagaimana jika kita hidup di atas tebing itu? Meskipun tidak ada rumput, tapi masih ada lumut di sana. Kita bisa makan lumut,” usul induk kambing.
“Tebing itu kan sangat tinggi. Bagaimana kita bisa sampai ke sana?” tanya kambing lain.
Semua kambing pun terdiam. Hingga suatu sore, induk kambing mencoba memanjat tebing itu. Tapi, gagal. Induk kambing terjatuh. Namun, induk kambing tak menyerah. Ia mencoba lagi dan lagi. Setiap hari, induk kambing berusaha memanjat tebing. Akhirnya, berkat usahanya yang gigih, induk kambing mempunyai
cara untuk naik ke puncak tebing.
Lalu, ia langsung meminta kawanan kambing untuk mengikuti jejaknya. Sesampainya di atas tebing, para
k a m b i n g
Kegigihan Induk Kambing
merasa takjub. Ternyata, pemandangan di atas tebing sangat indah. Mereka bisa melihat apapun yang ada di bawah, termasuk padang rumput tempat mereka biasa makan.
Pada suatu sore yang cerah, serigala merasa lapar. Ia hendak mencari mangsa di padang rumput. Serigala tahu, jika sore tiba, ada banyak kambing di sana. Tapi, begitu ia sampai ke padang rumput, tidak ada siapa- siapa. Hanya rumput yang tertiup angin.
“Hei, serigala! Kami di atas sini!” teriak induk kambing, memanggil serigala yang berada di padang rumput.
Mendengar ada yang memanggil, serigala pun mencari asal suara. Alangkah terkejutnya serigala saat melihat para kambing berada di atas tebing.
“Jika kamu ingin memakan kami, naiklah ke atas tebing ini!” teriak kambing yang lain.
Serigala pun mencoba untuk naik ke atas tebing. Satu kali naik, gagal. Dua kali naik, juga gagal. Serigala itu berputus asa.
Ia tak mau mencobanya lagi. Akhirnya, serigala mencari makan di tempat lain.
Sementara kawanan kambing hidup aman di atas tebing.
Dari cerita kambing dan serigala di atas dapat kita petik sebuah hikmah, bahwa dengan bekerja keras dan pantang menyerah, pasti bisa meraih impian.
Namun sebaliknya, jika kita berputus asa, maka dapat dipastikan tidak akan mendapatkan apa-apa. {} (disarikan dari dongengceritarakyat.com)
dunia anak
laBiRin anak
Oleh M. Anwar Djaelani
B
erkat pendidikan sebulanberpuasa, di tiap keluarga insya- Allah akan terasah sikap “Saling menjaga agar selalu berada di dalam ketaatan kepada Allah”. Lalu, jika spirit Ramadhan itu selalu kita bawa dalam keseharian di sebelas bulan lainnya, maka bangunan keluarga sakinah akan berdiri semakin kokoh dan patut untuk berharap bahwa –kelak- akan masuk surga sekeluarga.
Visi Istimewa
Di dunia ini, di setiap perjalanan apapun, kita perlu bekal. Semakin jauh dan lama perjalanan, bekal harus semakin banyak dan berkualitas. Jika begitu, tak bisa tidak, bekal dalam perjalanan menuju akhirat harus spesial. Adapun bekal istimewa itu bernama taqwa, seperti pesan Allah ini,
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik- baik bekal adalah taqwa” (QS Al- Baqarah [2]: 197).
Terkait hal di atas, maka mudah kita mengerti jika pesan di ayat berikut ini tak boleh ditinggalkan oleh seorang Khatib Jum’at, “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali- kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali ‘Imraan [3]:
102).
Di Tafsir Al-Azhar, Hamka menulis bahwa taqwa itu memelihara. Maknanya,
Menjadi “Keluarga Ramadhan”
Sepanjang Tahun
Memelihara diri dari perbuatan yang tak diridhai Allah. Maka, terasakan, bahwa taqwa adalah sikap untuk selalu berhati-hati.
Menjaga dan menegakkan amanah adalah bagian dari sikap taqwa. Di titik ini, jangan pernah lupa, ada amanah berat bagi segenap kaum beriman terutama bagi yang berstatus Kepala Keluarga. Bahwa, mereka diperintahkan menjaga keluarga masing- masing supaya terbebas dari siksa neraka.
Sebagaimana inti dari kata “taqwa”, maka kita harus selalu berhati-hati dalam menjalani kehidupan ini. Maka, selalu relevan jika kita ulang-ulang terus ayat ini,
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS At-Tahrim [66]: 6). Petunjuk Allah ini, jangan pernah kita lepas sesaatpun.
Kita –terutama para Kepala Keluarga- beruntung dengan disyariatkannya ibadah puasa di tiap Ramadhan. Dengan ibadah yang sangat istimewa ini, tugas segenap Kepala Keluarga menjadi lebih terbimbing. Kita menjadi sangat terbantu dalam menyediakan anak-anak sebuah suasana yang kondusif bagi terpeliharanya iman dan akhlaq mereka. Kondisi ini sangat penting, sebab dalam perspektif Islam, lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap seseorang, terutama bagi yang sedang di masa tumbuh- kembang.
Di rumah –di saat Ramadhan- insya-Allah kita akan lebih tertolong dalam usaha memerkuat aqidah keluarga. Kita akan lebih mudah mengajak
kOlOM
belajar -menambah ilmu-, dan amal-amal shalih lainnya.
Kita akan lebih ringan dalam menjelaskan dan sekaligus menjalankan aktivitas amar makruf nahi munkar.
Di atas, disebut-sebut bahwa pada saat Ramadhan, insya-Allah kita akan lebih mudah mengajak keluarga untuk belajar, menambah ilmu. Adapun di antara ilmu yang penting didahulukan adalah tentang bagaimana seharusnya kita menyiapkan diri untuk kelak “pulang kampung”. Benar, frase pulang kampung ada dalam tanda kutip sebab bukan dalam pengertian umum (yaitu mudik ke kampung halaman atau ke desa asal, terutama saat lebaran). Tetapi, yang dimaksud “pulang kampung”
adalah kembali ke “kampung”
asal di akhirat yaitu di surga. Terkait ini, seperti apa penjelasannya?
Kita –terutama keluarga kita- harus bervisi seperti yang sudah diajarkan Nabi Saw kepada Abdullah bin Umar Ra saat beliau masih berumur sekitar 12 tahun: “Jadilah engkau hidup di dunia ini seolah-olah musafir asing”.
Lebih lengkap, Hadits tentang itu sebagai berikut:
Rasulullah Saw bersabda,
“Jadilah engkau hidup di dunia seperti orang asing atau musafir (orang yang bepergian)”. Lalu Ibnu Umar Ra
menyatakan, “Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Apabila engkau berada di pagi hari janganlah menunggu hingga sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Bukhari).
Kita adalah musafir?
Benar! Sebab, rumah kita yang sesungguhnya bukan di dunia ini, tapi di surga. Pertama, sesuai dengan nasihat Nabi Saw kepada Abdullah bin Umar Ra. Kedua, Nabi Adam As dan Hawa bermula tinggal di surga. Mereka penduduk asli surga. Sebagai keturunan Adam As, jika kita rindu untuk
“pulang kampung”, maka yang harus terbayang adalah pulang ke surga.
Oleh karena itu, selalu ajaklah masyarakat dan didiklah keluarga kita masing- masing untuk bersiap kembali pulang ke surga Itulah, visi
“Pulang kembali ke surga”.
Ajak semua untuk “Pulang kembali ke surga” sebab umat ini pada mulanya umat yang satu. Perhatikanlah ayat ini:
“Manusia itu adalah umat yang satu, (setelah timbul perselisihan) maka Allah mengutus para Nabi sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar untuk memberi keputusan di antara manusia tentang
perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. Al- Baqarah [2]: 213).
Di saat mengenalkan visi “Pulang kembali ke surga”, mulailah dari keluarga kita masing- masing. Di titik ini, semua harus menjadi pendidik yang baik. Tirulah Rasulullah Saw, seorang pendidik yang memudahkan. Ajak diri dan keluarga –suami/
istri dan anak-anak- untuk terus berbenah.
Berbenah, dengan cara selalu memerbaiki kualitas ibadah agar kelak Allah mewujudkan visi kita
“Bersama pulang ke surga sekeluarga”.
Untuk Selamanya!
Hasil pendidikan dan pelatihan untuk menjadi taqwa lewat ibadah puasa Ramadhan sebulan, harus kita hidup-hidupkan di sepanjang sisa hidup kita.
Maka, di titik ini, indah membayangkan suasana keseharian di sebuah
“Keluarga Ramadhan” di sepanjang tahun. Keluarga Ramadhan adalah mereka yang ketika Ramadhan mendidik semua anggota keluarganya untuk menjadi taqwa. Sementara, di antara buah sikap taqwa adalah selalu menyiapkan diri dan keluarga untuk kelak bisa “Pulang ke surga sekeluarga”. []
kOlOM
L
alai bukanlah alay… Lalai bisa saja merupakan perbuatan sengaja untuk menghindari atau kurang berhati-hati alias teledor.Lalai merupakan penyakit berbahaya bila seseorang telah terjangkit dan penyakit tersebut bercokol pada dirinya. Maka ia tidak akan menyibukkan diri dengan ketaatan kepada Allah, berdzikir mengingat-Nya, dan beribadah kepada-Nya, akan tetapi menyibukkan diri dengan berbagai perkara yang sia-sia dan jauh dari dzikir mengingat Allah.
Jika ia melakukan salah satu amal sholeh, maka amalan tersebut tidak dibalut dengan sifat khusyu, tunduk, kembali (taubat), rasa takut, dan tidak terburu-buru, benar, dan ikhlas.
Maka pengaruh kelalaian yang buruk itu dapat menipiskan keimanan.
Di era serba cepat dan digital, di mana segala sesuatunya tak dapat lepas dari pengaruh gadget dalam kehidupan sehari-hari. Dimulai untuk komunikasi,
Lalai
hingga keperluan seperti belanja dan bisnis dapat dilakukan dengan satu klick pada gadget smartphone Anda.
Saat itu pula, kita memasuki dunia lalai.
Lalai dengan waktu, lalai dengan uang yang cenderung dihambur-hamburkan untuk belanja bermenukan nafsu bukan pada kebutuhan dan kepentingan. Lalai pula kepada keluarga meski berjarak mungkin 30 cm. Lali pula terhadap kasih sayang. Dan masih banyak pula kelalaian lain yang tersengaja.
Menyikapi hal itu, yuk! Kita berhitung dengan waktu. Jumlah jam dalam sehari semalam adalah 24 jam. Dari waktu 24 jam itu hitunglah berapa kali tangan kita memegang sebuah benda yang digandrungi kebanyakan manusia di era digital saat ini. Berapa lama waktu yang telah tergadaikan untuk menatap layar smartphone? Berapa kali pikiran dan kepikiran tertuju pada kehidupan di dunia maya media sosial? Seakan tak mau ditinggalkan dengan barang mungil itu. Sementara berapa waktu yang telah kita
ReflekSi
habiskan untuk mengingat Allah, mengingat istri atau suami serta anak-anak. Berapa lama pula kita bercumbu kasih sayang dengan anggota keluarga seserius benda mungil di tangan kita.
Dan terakhir yang patut kita renungkan adalah berapa lama waktu yang bisa digunakan untuk bercengkrama dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam setiap harinya?. Wadul dan berharap perjumpaan denganNya untuk mendapatkan hidayah dan kelapangan rezeki dariNya.
Jika ternyata perbandingan justru terbalik lebih ‘me-Tuhan-kan’
smartphone atau gadget daripada Sang Pencipta. Maka bersegeralah untuk beristighfar dan istiqomah dalam menunaikan ibadah.
Semakin kita lalai, semakin jauhlah kita dengan ketenangan jiwa dan hidayah maka perilaku kita pun tak akan jauh berbeda dengan godaan yang tersedia di smartphone atau gadget .
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai ibadah.” (QS. Ar-Rum [30]: 7).
Seseorang yang terus tenggelam dalam jalan keliru tersebut, hati, mata dan telinganya akan semakin tertutup oleh tirai kelalaian dan ketidaktahuan. Jika hal itu terjadi, ia akan sampai pada kondisi di mana ia memiliki mata tetapi seakan-akan tidak dapat melihat dan mempunyai telinga, namun tidak mendengar. Dengan demikian, hati orang tersebut untuk menuju hakikat dan kebenaran akan tertutup.
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa (terkena) was- was dari setan, mereka ingat (akan siksa Allah dan pahala-Nya) maka ketika itu mereka
dan yang batil lalu mereka kembali kepada jalan yang hak).” (QS. Al-A’raf [7]: 201).
Orang yang berpaling akan Allah jadikan hatinya tertutup dan terkunci, sehingga ia tidak memahami dan tidak mendapat petunjuk untuk selama-lamanya. Sebagaimana di dalam firman-Nya, “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, lalu dia berpaling darinya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya?
Sungguh, Kami telah menjadikan hati mereka tertutup, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka. Kendati pun engkau (Muhammad) menyuru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk untuk selama- lamanya.” (QS. Al-Kahfi [18]: 57).
Kemudian keberpalingannya akan menyebabkan kehidupannya menjadi sempit, baik kehidupan di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana Allah berfirman, “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan- Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha [20]: 124).
Selanjutnya Allah juga menggambarkan bahwa orang yang berpaling dari mengingat Allah niscaya akan dijadikan baginya teman dekat dari kalangan setan-setan. Maka setan- setan itu pun merusakkan agamanya. Hal ini sebagaimana firman Allah, “Dan barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan (menyesatkannya) dan menjadikan teman karibnya.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 36).
Orang yang berpaling dan lalai kepada Allah akan memikul dosanya kelak di hari Kiamat, dan akan dimasukkan ke dalam azab yang sangat berat. (A. Zakki).
ReflekSi
PUASA SYAWAL NIAT
ْنِم ٍةَتِس ْنَع ٍد َغ َمْو َص ُتْيَوَن
َ لاَعَت ِ ِل ًةَنُس ٍلاَو َش
Nawaitu Shouma Ghodin Ansittatin Min Syawaali Sunnatan Lillaahi Ta'alaa
“Saya niat berpuasa sunnah enam hari bulan Syawal karena Allah“.
dOa