19
BAB II
STRATEGI KEPEMPINAN DALAM PENGEMBANGAN BMT
A. BMT (Baitul Mal Wat Tamwil)
Istilah BMT (Balai Usaha Mandiri Terpadu) adalah penggabungan dari dua kata yaitu baitul maal dan baitul tamil. Secara etimologis baitul maal berasal dari bait dan al-maal. Bait artinya bangun atau rumah, sedangkan al-maal artinya harta benda atau kekayaan. Jadi secara harfiah baitul maal berari harta benda atau kekayaan.Namun demikian kata baitul maal di artikan sebagai pembendaharaan (Umum atau Negara).1
Baitul Mall Wat Tamwil (BMT) adalah lembaga keuangan mikro yang mendukung kegiatan ekonomi masyarakat kecil dan berlandasan ekonomi syariah.
Dan BMT itu terdiri dari dua istilah baitul maal lebih mengarah kepada usaha-usaha mengumpulkan dan menyalurkan dana yang non profit seperti zakat, infaq dan shodaqoh. Sedangkan baitul tamwil sebagai usaha mengumpulkan dan menyalurkan dana komersial.2
Baitul Mall Wat Tamwil (BMT) adalah sebuah lembaga ekonomi syariah yang berbadan hukum koperasi simpan pinjam.Saat ini BMT telah banyak dikenal oleh masyarakat, terutama sekali yang berdomisili dipedesaan. Usaha pendirian ini biasanya dimentori oleh para tokoh masyarakat, baik yang berada dilingkungan masjid, organisasi masyarakat islam maupun pesantren tidak heran jika BMT teman dekat masyarakat, sebab proses kelahirannya tidak lepas dari budya lokal lingkungan masyarakat.
Peran BMT yang dilakukan adalah melakukan pembinaan dan pendanaan yang berdasarkan prinsip syariah dan kehidupan ekonomi masyarakat sebagai lembaga
1 Harun Nasution, Ensiklopedi Islam Indonesia, (Jakarta: Djambatan, 1992), 161
2 Heri Sudarsono, Istilah-Istilah Dan Lembaga Keungan Syariah, (Yogyakarta: UII Fress, 2004),17
keuangan syariah yang bersentuhan dengan kehidupan masyarakat.Oleh karena itu BMT diharapkan mampu berperan lebih aktif dalam memperbaiki kondisi.3
BMT juga adalah suatu lembaga yang bertugas mengumpulkan harta Negara entah diperoleh dari umat islam itu sendiri atau dari rampasan perang, untuk disalurkan kepada orang-orang yang berhak menerima atau untuk kebutuhan angkatan bersenjata. Para khalifa waktu itu memegang kebijakan utama ke mana harta-harta itu akan disalurkan. Serarah dengan perubahan zaman, perubahan tata ekonomi dan perdagangan, konsep baitul maal yang sederhana itupun berubah, tidak sebatas menerima dan menyalurkan harta tetapi mengelolanya lebih produktif untuk memberdayakan perekonomian masyarakat penerimaannya juga tidak terbatas pada zakat, infaq dan shodaqoh juga tidak mungkin lagi dari berbagai harta yang diperoleh dari peperangan, lagi pula peran pemberdayaan perekonomian tidak hanya dikerjakan oleh Negara.
B. STRATEGI
Dalam kegiatan sehari-hari masalah strategi merupakan masalah yang sangat urgen, yang akan menjadi dasar dalam pengambilan keputusan, setelah dijabarkan tujuan yang hendak dicapai. Hal demikian terjadi dalam setiap organisasi atau lembaga, dimana tidak terlepas dari penetapan strategi, yang berbeda hanyalah apakah strategi itu tepat, berjalan dengan baik, efisien, dan efektif atau memenuhi semua unsur yang perlu diperhatikan dalam hal penerapannya.
Kotler, mengemukakan bahwa strategi adalah penempatan misi suatu organisasi, penetapan sasaran organisasi dengan mengingat kekuatan eksternal dan internal, perumusan kebijakan dan teknik tertentu untuk mencapai sasaran dan memastikan implementasinya secara tepat sehingga tujuan dan sasaran utama dari organisasi akan tercapai.
3Siti, Nurhaeni, Startegi Pengembangan Organisasi BMT Bina Ihsanul Fikri(Fakultas Dakwah, Unversitas Islam Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2009)
Dengan adanya strategi, maka suatu perusahaan atau perusaaan akan dapat memperoleh kedudukan atau posisi yang kuat dalam wilayah kerjanya. Hal ini disebabkan karena organisasi atau perusahaan tersebut mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang lebih baik dalam melakukan pendekatan bagi pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan dalam wilayah kerja yang dilayaninya.
Dengan demikian strategi adalah sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan akhir dari suatu organisasi atau perusahaan, namun strategi bukanlah sekedar suatu rencana, melainkan adalah rencana yang menyatukan. Strategi mengikat semua bagian yang ada dalam organisasi menjadi satu, sehingga strategi meliputi semua aspek penting dalam suatu organisasi atau perusahaan, strategi itu terpadu dari semua bagian rencana yang harus serasi satu sama lain dan berkesesuaian. Oleh karena itu penentuan strategi membutuhkan tingkatan komitmen dari suatu organisasi atau perusahaan, dimana tim organisasi atau perusahaan tersebut bertanggung jawab dalam memajukan strategi yang mengacu pada hasil atau tujuan akhir.
Pada kenyataannya, teknik dan kerangka dalam suatu organisasi atau perusahaan merupakan rumusan strategi yang telah direncanakan, untuk itu sejumlah informasi yang berkaitan dengan strategi yang telah direncanakan tersebut harus dilakukan guna mengembangkan organisasi atau instansi tanpa mengabaikan kemungkinan resiko, karena manajemen strategi merupakan rangkaian keputusan dan tindakan manajerial yang menentukan kinerja suatu organisasi atau instansi dalam jangka panjang yang meliputi, pengamatan lingkungan, rumusan strategi atau biasa disebut dengan perencanaan strategi jangka panjang, impelementasi strategi dan evaluasi serta pengendalian.
Aliran dari strategi menyediakan pedoman luas untuk pengambilan keputusan suatu organisasi atau perusahaan secara keseluruhan yang merupakan kebijakan untuk menghubungkan perumusan strategi dan implementasinya. Dalam implementasi strategi diharapkan dapat mewujudkan strategi kebijakan dalam tindakan melalui pengembangan program, anggaran dan prosedur, sehingga proses tersebut meliputi perubahan budaya secara menyeluruh, struktur dan sistem manajemen dari suatu organisasi secara keseluruhan, serta diharapkan proses tersebut akan menghasilkan
informasi hasil kerja yang perlu dievaluasi dan dikendalikan sebagai tindakan perbaikan dan tahapan pemecahan masalah.
Untuk mengembangkan budaya kualitas dari suatu sistem organisasi atau lingkungan yang menghasilkan lingkungan yang kondusif bagi pembentukan dan penyempurnaan kualitas secara terus menerus yang terdiri dari filosofi, keyakinan, sikap, norma, nilai tradisi, prosedur dan harapan.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan penerapan strategi dalam suatu organisasi atau perusahaan adalah sebagai sarana untuk mencapai hasil akhir dengan merumuskan kebijakan dan teknik tertentu untuk mencapai sasaran tersebut dan memastikan implementasinya secara tepat.4
1. Pengertian strategi
Strategi merupakan suatu konsep yang perlu dipahami dan diterapkan oleh setiap entepreneur maupun setiap manajer, dalam segala macam bidang usaha.
Sejak beberapa tahun lampau, pengertian strategi makin banyak mendapatkan perhatian dan dibahas dalam literature tentang manajemen, aneka macam artikel bermuculan sehubungan dengan misalnya: strategi asortimen produk strategi pemasaran strategi diversifikasi strategi bisnis.
Adapun perhatian terhadap istilah strategi muncul, oleh Karen orang menyadari bahwa setiap perusahaan memerlukan sebuah skope yang terumuskan dengan baik dan arah pertumbuhan bahwa sasaran-sasaran saja tidak memenuhi kebutuhan demikian, sehingga denan demikian diperlukan peraturan-peraturan keputusan adisional agar perusahaan yang bersangkutan dapat mencapai pertumbuhan teratur, serta yang menguntungkan.
Peraturan-peraturan dan pedoman-pedoman keputusan demikian secara luas didefinisikan orang sebagai sebuah “strategi” atau kadang-kadang sebagai “konsep bidang usaha, suatu perusahaan”.
Perlu diingatkan bahwa strategi memiliki sifat : proaktif (diintensi) dan reatif (adatif). Perhatikan gambar berikut :
4Cravens David,Pemasaran Strategis,(Jakarta : Erlangga, 2001), 33
Gambar 2 : Strategi aktual sesuatu perusahaan, sebagai sifat direncanakan dan sebagian lagi bersifat reaktif terhadap situasi dan kondisi yang berubah.5 Strategi aktual, memiliki dua ketentuan seperti strategi yang dimaksudkan untuk merencanakan perkembangan perusahaan, dan reaksi-reaksi adatif terhadap sikon yang berubah.
Strategi sesuatu perusahaan yang bersifat dinamik, dan ia muncul sedikit demi sedikit, sewaktu perusahaan yang bersangkutan berkembang, dan ia senatiasa direvisi, sewaktu pemimpin perusahaan bersangkutan melihat adanya peluang-peluang untuk menyesuaikan pendekatan-pendekatan bisnis, terhadap kondisi-kondisi yang berubah.
2. Ciri-Ciri Strategi a. Wawasan Waktu
5Winardi. Entrepreneur Dan Entrepreneurship,(Jakarta: Prenanda Media, 2004), 107 Strategi yang digunakan
(intended strategy)
Strategi aktual
Reaksi-reaksi adaptif terhadap sikon yang berubah
Wawasan waktu meliputi cakrawala waktu yang jauh kedepan, yaitu waktu yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan tersebut dan waktu yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan tersebuy dan waktu yang diperlukan untuk mengamati dampaknya.
b. Dampak
Walaupun hasil tertentu akhir dengan mengikuti strategi tertentu tidak langsung terlihat untuk jangka waktu lama, dampak akhir akan sangat berarti.
c. Pemusatan Upaya
Sebuah strategi yang efektif biasanya mengharuskan perumusan kegiatan, upaya atau perhatian terhadap rentang sasaran yang sempit.
d. Pola keputusan
Kebanyakan strtegi mensyaratkan bahwa sederetan keputusan tertentu harus diambil sepanjang waktu.Keputusan-keputusan tersebut harus saling menunjang, artinya mengikuti suatu pola yang konsisten.
e. Peresapan
Sebuah strategi mencangkup suatu spektum kegiatan yang luas mulai dari proses alokasi sumber daya sampai dengan kegiatan oprasi harian. Selain itu adanya konsistensi sepanjang waktu dalam kegiatan-kegiatan ini mengharuskan semua tingkatan organisasi bertindak secara naluri dengan cara-cara yang memperkuat strategi.6
3. Strategi sebagai rencana
Bagi hampir semua orang, strategi merupakan sebuah rencana semacam arah rangkaian tindakan tertentu sebuah pedoman atau kelompok pedoman untuk menghadapi situasi tertentu. Melalui perumusan yang disajikan, strategi memiliki dua macam karakteristik esensial yaitu:
a. Mereka disusun, sebelum rangkaian tindakan-tindakan tertentu dilaksanakan.
6 Yusup, Budiman, Ciri-Ciri Strategi, 2013. Di akses Pada Tanggal 10-03-2015
b. Mereka dikembangkan secara sadar dan dengan tujuan tertentu.
4. Strategi sebagai sebuah pola
Andai kata strategi-strategi direncanakan, maka dengan sendirinya merekapun dapat dilaksanakan. Oleh karena itu dapat didefinisikan pula, strategi sebagai pola, kususnya sebuah pola dalam suatu arus tindakan-tindakan (a stream of action).Perlu diingat bahwa “strategi adalah konsisten dalam perilaku, baik yang diintensi, maupun yang diintensi”. Istilah strategos dalam bahasa yunani berarti: seni jendral tentara.
Ada pendapat yang mengatakan “strategi-strategi dapat timbul karena tindakan- tindakan manusia, tetapi tidaklah demikian halanya dengan desain-desain manusia”.
Perhatian model berikut tentang aneka macam bentuk strategi.
Strategi yang dilaksanakan secara sadar
Strategi yang tidak
Dapat dilaksanakan strategi yang muncul Gambar 3: berbagai macam bentuk strategi7
Apabila kita memperhatikan gambar yang melukis aneka macam bentuk strategi tersebut, maka segera asosiasi pikiran kita dikaitkan dengan asas: manajemen kontingenis, yang pada intinya menyatakan bahwa setiap situasi dan kondisi pemimpin memerlukan pendekatan dan penanganan secara khusus.8
C. KEPEMIMPINAN 1. Pengertian kepemimpinan
7Winardi. Entrepreneur Dan Entrepreneurship,(Jakarta: Prenanda Media, 2004), 117
8Winardi. Entrepreneur Dan Entrepreneurship,(Jakarta: Prenanda Media, 2004), 106 Strategi yang
dilaksanakan Startegi yang
dimensi
Istilah kepemimpinan adalah kata yang diambil dari kata-kata umum di pakai dan merupakan dari kata ilmiah yang tidak didefinisikan kembali secara cepat.Maka kata ini memiliki konotasi yang tidak ada hubungannya dengan sehingga mempunyai arti yang mendua. Disamping itu juga hal-hal yang membingungkan karena adanya penggunaan istilah lainseperti kekuasaan, wewenang, manajelem, administrasi, pengendalian dansurvei yang juga menjelaskan hal yang sama dengan kepemimpinan.9
Dilingkungan masyarakat, dalam organisasi formal muapun non formal selalu ada seseorang yang dianggap lebih dari yang lain. Seseorang yang memiliki kemampuan lebih tersebut kemudian diangkat atau ditunjuk sebagai orang yang dipercayakan untuk mengatur oranglain. Biasanya juga hal itu disebut pemimpin atau manajer. Dari kata pemimpin itulah kemudian muncul istilah kepemimpinan (seelah melalui prosesyang panjang). Sebagaimana tujuan allah SWT. Menciptakan manusia sebagai pemimpin (khalifah), firman allah SWT. Dalam surah Al-Baqarah ayat 30:
Artinya:
ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."(Al-Baqarah (2) ayat 30).
Dalam ayat di atas dengan sangat jelas bahwa Allah SWT. Menjadikan manusia sebagai khalifah dibumi. Khalifah memiliki dua makna, yaitu menggantikan dan menguasai. Makna dan menggantikan ini bisa dilihat pada aayat 30 syrah Al-Baqarah ini. Manusia ditunjuk Allah Swt, sebagai pengganti Allah SWT. Dalam mengelola bumi sekaligus memakmurkannya. Manusia diberi tugas dan tanggung jawab untuk
9Gary, Yukl. Kepemimpinan Dalam Organisasi, (Jakarta: PT.Indeks, 2001), 3
menggali potensi-potensi yang terdapat di bumi ini, mengelolanya dan menggunakannya dengan baik sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah SWT.10
Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi menggerakan dan mengarahkan secara tindakan pada diri seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu pada situasi tertentu, kepemimpinan merupakan salah satu aspek manajeral dalam kehidupan perusahaan yang merupakan posisi kunci. Karena kepemimpinan seorang manajer berperan sebagai penyelaras dalam proses kerjasama antar manusia dalam perusahaannya.
Kepemimpinan seorang manajer akan mampu membedakan karakteristik sebah organisasi dengan organisasi lainnya. Kepemimpinan yang dinamis dan efektif merupakan sumberdaya pokok yang sulit dijumpai.Akan tetapi tidak berarti bahwa seorang manajer tidak mampu menjadi manajer yang berkepemimpinan dinamis dan efektif. Dengan memahami teori kepemimpinan, manajer akan meningkatkan pemahamannya terhadap dirinya sendiri, mengetahui seberapa kelemahan maupun potensi yang ada dalam dirinya, serta akan dapat meningkatkan pemahamannya terhadap bagaimana seharusnya memperlakukan bawahannya.11
Hampir setiap literatur-literatur tentang kepemimpinan memberikan gambaran yang ideal tentang kepemimpinan.Hal ini dapat dimengerti, karena masnusia membutuhkan kepemimpinan itu.Dan dari waktu ke waktu kepemimpinan menjadi tumpuan harapan dari manusia, sehingga masalah kepemimpinan semakin menarik perhatian banyak kalangan terutama dalam kajian komtemporer, sebab kepemimpinan memiliki dimensi yang luas.
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, kepemimpinan adalah perihal memimpin; cara memimpin. kepemimpinan bisa dirumuskan sebagai kiat mempengaruhi orang banyak agar mau bekerjasama memperjuangkan tujuan-tujuan yang ingin mereka capai. Rebecca kemudian mengemukakan bahwa seoarng
10Veithzal,Rivai Dan Deddy Mulyadi, Kepemimpinan Dan Perilaku Organisasi, (Jakarta:
PT.Aja Grafindo Persada, 2010), 1
11Abi, Sujak. Kepemimpinan Manajer, (Jakarta: CV Rajawali, 1990), 10
pemimpin adalah penggerak ke arah usaha bersama yang terorganisasi.Ia merupakan agen atau pelaksana dari suatu kekuasaan yang menggunakan dirinya.
Berdasarkan paradigma tersebut mempengaruhi persepsi atau cara pandang kita mengenai orang-orang yang menempati posisi istimewa dan menjadi boss untuk mempengaruhi orang banyak. Hal ini tidak terlepas dari karateristik kualitas IQ dan Emotional Inteligent seorang pemimpin sebagai pribadi yang luar biasa yang membedakannya dari manusia-manusia lain.
Winardi juga mengemukakan, bahwa kepemimpinan merupakan suatu kemampuan yang melekat pada diri seseorang yang memimpin, yang tergantung dari macam-macam, faktor-faktor intern maupun ekstern, diantaranya meliputi orang- orang; bekerja dari sebuah posisi organisatoris; dan timbul dalam sebuah situasi yang spesifik. Sehingga kepemimpinan timbul, apabila ketiga faktor tersebut saling mempengaruhi satu sama lain yaitu situasi dan posisi ada, orang-orangnya juga ada.
Gitosudarmo dan Sudita mengemukakan, bahwa kepemimpinan merupakan faktor yang sangat penting dalam mempengaruhi prestasi organisasi, karena kepemimpinan merupakan aktivitas yang utama, untuk dicapainya tujuan organisasi.
Dari pengertian ini kepemimpinan didefinisikan sebagai salah satu proses mempengaruhi aktivitas dari individu atau kelompok untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu. Dari definisi ini, nampak bahwa kepemimpinan adalah suatu proses, bahwa orang yang meliputi faktor pemimpin pengikut dan faktor situasi untuk menghasilkan prestasi dan kepuasan.
Anoraga mengemukakan bahwa idealnya seorang pemimpin itu memegang kekuasaan sesuai dengan bidang dan keahlian dan bakatnya. Sebab tanpa hal tersebut, seorang pemimpin akan menemui kesulitan dalam melakukan koreksi terhadap dirinya sendiri, kesulitan mawas diri dan kesulitan membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Sehingga secara rasional pemimpin dituntut kepandaiannya untuk memimpin jalannya perkumpulan yang berada dalam wewenangnya sesuai dengan misi perkumpulan itu dibentuk secara bersama, misalnya sebuah desa idealnya dipimpin oleh kepala desa
Berdasarkan pengertian yang dikemukakan tersebut, esensi kepemimpinan adalah ”Kepengikutan”, dalam arti bahwa yang menyebabkan seseorang menjadi pemimpin adalah jika adanya kemauan orang lain untuk mengikutinya. Dengan demikian secara umum dan sederhana kepemimpinan didefinisikan sebagai seni atau proses mempengaruhi orang lain sedemikian rupa, sehingga mereka mau melakukan usaha atau keinginan usaha atau keinginan untuk bekerja dalam rangka pencapaian suatu tujuan.
Membuat keputusan- keputusan
Menetapkan sasaran- sasaran mengawasi
Merencanakan dan
Menyusun Kebijaksanaan- kebijaksanaan Proses-Proses
Memimpin
Pemimpin dan Mensupervisi
Gambar 4: Proses Memimpin12 Keterangan :
a. Para pemimpin membuat (mengambil) keputusan-keputusan.
Mereka mengembangkan suatu proses dimana di tetapkan suatu pola tindakan berdasarkan pilihan antara sejumlah alternative-alternatif guna tujuan mencapai sesuatu hasil yang diinginkan.
b. Para pemimpin memusatkan perhatian mereka atas sasaran-sasaran.
Mereka memotivasi bawahan mereka untuk bersama-sama mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan oleh organisasi. Apabila terjadi penyimpangan-penimpangan darisasaran-sasaran, maka para pemimpin cepat harus mengkoreksinya.
c. Para pemimpin merencanakan dan menyusun kebijaksanaan-kebijaksanaan.Mereka mengantisipasi masa yang akan datang, dan berusaha untuk menemukan macam- macam pola tindakan alternative mereka menggariskan pedoman petunjuk-petunjuk untuk keputusan-keputusan masa yang akan datang.
d. Para pemimpin mengorganisasi dan penempatkan (STAF) pekerja-pekerja pada jabatanyang ada.Mereka menggunakan sebuah proses, dimana ditetapkan struktur dan alokasi jabatan-jabatan, setelah dimana dipilih orang-orang utnuk mengisi jabatan- jabatan tersebut.
e. Para pemimpin melaksanakan komunikasi dengan para bawahan para rekan dan para atasan mereka.Mereka meneruskan ide-iden kepada pihak lain dengan tujuan untuk mencapai hasil yang diinginkan.
f. Para pemimpin memimpin dan mensupervisi.Mereka mengusahakan agar pihak bawahan mereka bekerja ke arah pencapaian sasaran-sasaran dan tujuan umum.
g. Para pemimpin mengawasi aktivitas-aktivitas.
12Kartono,(Kawakib06.Multiply.Com/Journal/Item/6/Makalah-Kepemimpinan-Dalam- Manajemen-Pendidikan) Di Akses Pada Tanggal 06-01-015
Mengorganisasi dan Menempatkan
Berkomunikasi
Mereka menggunakan proses-proses yang dapat mengukur hasil pekerjaan dan kemudian memimpinnya ke arah tujuan yang ditetapkan semula.
Ketujuh macam proses berkaitan erat satu sama lain dan mereka kerapkali muncul dengan tahapan yang berbeda-beda atau kadang-kadang secara simultan.
Proses tersebut dapat membantu kita untuk memahami apa yang dilakukan oleh seorang pemimpin (formal). Dengan sendirinya daftar yang dikemukakan dapat diperluas.13
G.R Terry dalam bukunya yang berjudul “principles of management”
mengemukakan definisi tentang kepemimpinan.“leadership is the relationship in which one person, or the leader, influences others to work together willingly on related tasks to attain that which the leader desires”Dari definisi tersebut dpat kita menyimpulkan bahwa :
a. Aktivitas memimpin pada hakikatnya meliputi suatu hubungan
b. Adanya satu orang yang mempengaruhi orang-orang lain agar mereka mau bekerja ke arah pencapaian sasaran tertentu.
Hubungan antara pemimpin dan mereka yang dipimpin bukanlah hubungan yang satu arah tetapi senatiasa harus terdapat adanya antar hubungan (interaction).
Bahwa seorang pemimpin harus dapat mempengaruhi kelompoknya, jelas karena apabila ia tidak mampu melakukannya maka berarti bahan ini ia tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai pemimpin yang baik. Disamping itu terdapat pula dikatakan bahwa terdapat dua jenis interaksi yaitu:
a. Interaksi antar pemimpin dan kelompok yang bersangkutan
b. Interaksi antara para anggota individual kelompok yang bersangkutan.
Perhatikanlah perbandigan berikut antara seorang pemimpin dan non pemimpin:
PEMIMPIN NON PEMIMPIN
13Kartono,(Kawakib06.Multiply.Com/Journal/Item/6/Makalah-Kepemimpinan-Dalam- Manajemen-Pendidikan) Di Akses Pada Tanggal 06-01-015
1. Memberikan inspirasi kepada pekerja 2. Melaksanakan pekerjaan, dan
mengembangkan pekerjaan.
3. Menunjukan kepada pekerja, bagaimana ia harus melaksanaan pekerjaan.
4. Menerima tanggung jawab.
5. Menyelesaikan persoalan kerugian yang timbul dalam bidang produksi atau penjualan.
1. Menekan pekerjaan
2. Melaksanakan pekerjaan dengan mengorbankan pekerjaan.
3. Menimbulkan perasaan takut pada pekerja dengan ancaman-ancaman dan paksaan- paksaan.
4. Mengelak tanggung jawab.
5. Mengalihkan kesalahan kepada pihak lain, apabila terjadi kerugiandalam bidang produksi atau pejualan
Gambar 5: Pemimpin dan Non Pemimpin14
Seorang pemimpin memimpin dan bukanlah “memaksa”.Ia “menarik pengikutnya hingga mencapai puncak prestasi yang menurut anggapan mereka semula tidak mungkin dicapai.
Seporang pemimpin mengenal sifat-sifat individual pengikutnya dan ia mengetahui kulitas-kualitas apa akan merangsang mereka untuk bekerja sebaik mungkin.
Seorang pemimpin pada saat yang bersangkutan mengabdi dan memimpin.Ia memiliki kemampuan untuk membangkitkan kekuatan-kekuatan emosional maupun rasional para pengikutnya.Ia dapat merangsang pihak lain.
Kepemimpinan kiranya lebih bersifat emosional dari pada itelektual ataupun rasional .table kita yang membandingkan pemimpin dan non pemimpin menunjukan sebagai dari sifat-sifat mereka.
G.R.TERRY, mengemukakan gambaran, berikut sehubungan dengan soal kepemimpinan.
Kondisi Ekonomi
14Winardi. Kepemimpinan Dalam Manajemen, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1990), 50 L
S
F F F F
Pertmbangan politis
Nilai Sosial
Gambar 6: Soal Kepemimpinan15 Keterangan :
Huruf L berarti LEADER (pemimpin) dan cirri-cirinya F berarti FOLOWER (pengikut), S berarti yang berarti ORGANIZATION STRUCTURE (struktur organisasi) dengan tipe-tipe dan tugas-tugas yang harus dilaksanakan seluruh struktur di lingkari oleh nilai-niai social, pertimbangan-pertimbangan ekonomi dan politis, yang juga mempengaruhi setiap bagian struktur yang bersangkutan.16
2 Ciri-ciri Kepemimpinan
Riset yang telah dilaksanakan dalam bidang psikologi kepemimpinan menghasilkan suatu kelompok ciri-ciri “NEOTRAITIST” yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi pemimpin-pemimpin. Diantara para psikolog terdapat adanya pendapat sama bahwa para pemimpin, memiliki intelegensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan intelegensi rata-rata pengikut mereka. Kesulitan pokok yang dihadapi oleh orang yang sangat intelegen kiranya adalah prsoalan komunikasi.
Seorang pemimpin tidak dapat memotivasi pengikutnya, apabila mereka tidak mengerti apa yang diinginkan pemimpin yang berhasil, cenderung memiliki perhatian dalam berbagai bidang, hal mana kiranya merupakan suatu refleksi tentang sikap ingin tahu yang ekstensif dan pendidikan yang baik.
15Winardi. Kepemimpinan Dalam Manajemen, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1990), 56
16Winardi. Kepemimpinan Dalam Manajemen, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1990), 56
Disebabkan oleh karenabahasa perlu sekali untuk melaksanakan komunikasi, maka tidaklah mengherankan bahwa para pemimpin biasanya memiliki verbal yang luar biasa.
Para pemimpin biasanya bersifat dewasa secra mental dan emosional.Kedewasan mental mencakup kebiasaan metodologi ilmiah dan pengertian.Dimilikinya keseimbangan emosional bahkan lebih penting bagi seorang pemimpin.
Para pemimpin juga mempunyai rangsangan kuat yang datang dari “dalam”
dari mereka sendiri. Mereka merasakan adanya dorongan luar biasa untuk memenuhi keinginan-keinginan pribadi mereka. Dalam bidang kepemimpinan, mereka melihat cara yang terbaik untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut dan konsekuensinya adalah bahwa, mereka ingin “memimpin dan secara aktif mencari peluang untuk menjadi pemimpin”
Seorang pemimpin mengerti pentingnya kerjasama. Mereka yang mencapai sukses dalam peranan kepemimpinan perdefinisi adalah mereka yang telah berhasil menggerakan para pengikut mereka untuk bekerjasama.
D. Dinamika Dan Fungsi Kepemimpinan a. Dinamika Kepemimpinan
Diamika diartikan sebagai gerak atau kekuatan yang memiliki sekumpulan orang masyarakat yang dapat menimbulkan perubahan dalam tata hidup mayarakat yang bersangkutan.Jadi dapat dikatakan bahwa dinamika kepemimpinan dapat berubah dan berkembang sesuai dengan situasi kehidupan manusia yang bersifat dinamis.
Hubungan manusia dapat berubah dan berkembang sehingga perwujudan kepemimpinan menjadi bersifat dinamis. Ketaatan atau kepatuhan, segan atau hormat, kepercayaan dan kerjasama selalu didapat dibina dan ditingkatkan memalui hubungan manusiawi yang wajar dan efektif. Oleh karena itu, seorang pemimpin perlu memiliki sifat kemanusiaan, demokratis, dan mencintai rakyat atau bawahannya, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Ali’Imran (3), ayat 159:
Artinya:
“Maka disebabkan rahmat allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.
Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada allah.
Sesungguhnya allah mempunyai orang-orang yang bertawakal kepadanya” (QS.Ali- Imran [3] ayat:159).
Surah Ali-imran ayat 159 menyebutkan tiga hal secara berurutan untuk dilakukan sebelum bermusyawarah, yaitu sebagai berikut:
1. Bersikap lemah lembut. Orang yang melakukan musyawarah harus menghindari tuur kata yang kasar serta sikap keras kepala. Jika tidak, maka mitramusyawarah akan pergi menghindar.
2. Member maaf dan bersedia membuka diri. Kecerahan pikiran hanya dapat hadir bersamaan dengan sinarnya kekerasan hati serta kedengkian dan dendam.
3. Memohon ampunan allah sebagai pengiring dalam brtekad, kemudian bertawakal kepadanya atas keputusan yang dicapai.
Kepemimpinan merupakan masalah manusia yang bersifat unik. Masalahnya tidak hanya sekedar menyentuh kehidupan manusia sebagai individu, tetapi juga sebagai mahluk sosial. Oleh karena itu, setiap proses kepemimpinan dalam keunikannya masing-masing, tidak dapat melepaskan diri dari kondisi yang bersifat dan bernilai manusiawi. Pemimpin adalah manusia dan yang dipimpin pun manusia juga. Dalam keadaan seperti itu bilamana proses kepemimpinan dilaksanakan secara tidak manusiawi, maka berbagai masalah akan terjadi, yang akhirnya akan berakibat prosesnya tidak berlangsung efektif. Pemimpin harus mampu memolopori semua perbuatan baik agar diikuti oleh bawahan atau rakyatnya, bukan hanya memerintah dan menganjurkan, sedangkan pemimpin tetap tinggal dibelakang meja saja. Hal tersebut sesuai iman Allah SWT. Dalam surah Al-Ahzab [33] ayat 21.
Artinya :
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”.(Al-Ahzab [33] ayat 21).
Ayat ini dirumuskan allah yang akurat bagi hambanya yang sangat merindukan untuk bertemu dengan Allah azza wa jalla, selama dari siksaan adzabnya, dan mendapat surganya. Kemudian ayat ini juga mncirikan orang yang mengharapkan perjumpaan dengan allh yaitu salah satunya ia banyak mengingat allah.
Khusus untuk waktu yang akan datang, satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seorang pemimpin dapat menerapkan prinsip-prinsip manajemen mutu terpadu, artinya bagaimana pemimpin mengikut sertakan seluruh potensi yang ada didalam organisasi yang diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah disepakati sebelumnya secara bersama-sama.
Keunikan masalah kepemimpinan seunik manusiannya itu sendiri, banyak persoalan yang perlu dipahami jika sesorang ingin menjadi pemimpin yang baik dan efektif. Dinamika kepemimpinan, fungsi dan tipe kepemimpinan serta keterbatasan kepemimpinan maupun gaya kepemimpinan adalah perosalan yang perlu dipahami.
Demikian pula, bagaimana seorang pemimpin bertindak sesuai perkembangan situasi yang dihadapinya.
Firman Allah SWT. Dalam surah Al-anbiya [21] : ayat 73-74.
Artinya:
“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah, dan kepada Luth, Kami telah berikan Hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan Dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik” surah (Al-Anbiya [21] : ayat 73-74).
Penjelasan dari ayat tersebut adalah, sesungguhnya tuhanmu benar-benar menyerahkan banyak anugrah (penglihatan, pendengaran, kesehatan, kecerdasan) yang berlimpah kepada diri manusia, akan tetapi kebanyakan mereka tidak berterimakasih atas hal itu. Dan sesungguhnya tuhanmu, sungguh mengetahui apa yang disembunyikan kalbu mereka dan apa yang mereka ungkapkan.
Pada masa lalu dan bahkan sekarang ini, banyak sekali berpendapat tentang kepemimpinan, yaitu:
Kepemimpinan sebagai seni
menempatkan bakat sebagai faktor penting dan berpengaruh besar terhadap kemampuan mewujudkannya, artinya kepemimpinan akan efektif dan efesien bila ditangan orang-orang yang berkuantitas, bakatnya besar, dan tinggi.
Kepemimpinan sebagai ilmu
Kepemimpinan sebagai ilmu, lebih menitik beratkan pada proses belajar dan latihan, artinya kepemimpinan akan efektif dan efesien, bila ditangan orang yang terampil atau terlatih dan ahli dalam memimpin. Kemampuan itu dapat diperoleh memalui proses belajar dan melatih diri secara intensif.
Kedua pendapat itu dapat diterima kebenarannya dalam batas-batas tertentu, artinya baik kepemimpinan sebagai seni ataupun kepemimpinan sebagai ilmu tidak boleh menjadi ekstrim bahwa factor bakat merupakan satu-satunya untuk mewujudkan kepemimpinan yang sukses atau menyataka factor bakat sama sekali dalam kepemimpinan.
b. Fungsi Kepemimpinan
Fungsi artinya jabatan (pekerjaan) yang dilakukan atau kegunaan sesuatu hal atau kerja suatu bagian tubuh sedangkan fungsi kepemiminan berhubungan langsung dengan situasi social dalam kehidupan kelompok atau organisasi masing-masing, yang mengisyaratkan bahwa setiap pemimpin berada didalam dan bukan diluar situasi itu.Fungsi kepemimpinan merupakan gejala sosial, karena harus diwujudkan dalam interaksi antar individu didalam situasi sosial suatu kelompok atau organisasi. Fungsi kepemimpinan memiliki dua dimensi:
Dimensi yang berkenaan dengan tingkat kemampuan megarahkan (direction) dalam tindakan atau aktifitas pemimpin.
Dimensi yang berkenaan dengan tingkat dukungan (support) atau keterlibatan orang- orang yang dipimpin dalam melaksanakan tugas-tugas pokok kelompok atau organisasi.
Secara operasional dapat dibedakan 5 fungsi pokok kepemimpinan yaitu:
Fungsi intruksi
Fungsi ini bersifat komunikasi satu arah. Pemimpin sebagai komunikator merupaka pihak yang menentukan apa, bagaimana, bilamana, dan dimana. Peritah itu dikerjakan agar keputusan dapat dilaksanakan secara efektif.Kepemimpinan yang efetif merupakan kemampuan untuk menngerakan dan memotivasi oranglain agar mau melaksanakan perintah.
Fungsi konsultasi
Fungsi ini bersifat komunikasi dua arah.Pada tahap pertama dalam usaha menetapkan keputusan, pemimpin kerapkali memerlukan bahan prtimbangan, yang mengaruskannya berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya yang dinilai mempunyai berbagai bahan informasi yang diperlukan dalam menetapka keputusan.Tahap berikutnya konsultasi dalam pimpinan pada orang-orang yang dipipin dapat dilakukan setelah keputusan ditetapkan dan sedang dalam pelaksanaan.Konsultasi itu dimaksudkan untuk memperoleh masuka berupa umpan balik (vidback) untuk memperbaiki dan menyempurnakan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan dan dilaksanakan. Dengan menjalankan fungsi konsultatif dapat diharapkan keputusan-keputusan pipinan akan mendapat dukungan dan lebih mudah mengintruksikannya, sehingga kepemimpinan berlangsung efektif.
Fungsi partisifasi
Dalam menjalakan fungsi ini pimpinan berusaha mengatifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam keikutsertaan mengambil keputusan maupun dalam melaksanakannya.Partisifasi dalam melaksanakannya.Partisifasi tidak berarti bebas berbuat semaunya, tetapi dilakukan secara terkendali dan terarah berupa kerjasama,
dengan tidak mencampuri atau mengambil tugas pokok oranglain.Keikutsertaan pemimpin harus tepat dalam fungsi sebagai pemimpin dan bukan pelaksana.
Fungsi dilegasi
Fungsi ini dilaksanakan dengan memberikan pelimpahan wewenang membuat atau menetapkan keputusan, baik melalui persetujuan maupun tanpa persetujuan dari pimpinan.Fungsi dilegasi pada dasarnya berarti kepercayaan.Orang-orang penerima dilegasi itu harus diyakini merupakan pembantu pemimpin yang memiliki kesamaan prinsip persfsi, dan aspirasi.
Fungsi pengendalian.
Fungsi pengendalian bermaksud bahwa kepemimpinan yang sukses atau efektif mampu mengatur aktivitas anggotanya secara terarah dan dalam keorganisasi yang efektif sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal.Fungsi pengendalian dapat diwujudkan melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koorganisasi dan pengawasan.
Seluruh fungsi kepemimpinan tersebut diselenggarakan dalam aktivitas kepemimpinan secara integral. Pelaksanaannya berlangsung sebagai berikut:
Pemimpin berkewajiban menjabarkan program kerja
Peimimpin harus mampu membrikan petunjuk yang jelas
Pemimpin harus berusaha mengembangkan kebebasan berpikir dan mengeluarkan pendapat.
Pemimpin harus mengembangkan kerjasama yang hamonis.
pemimpin harus mampu memecahkan masalah dan mengambil keputusan masalah sesuai batas tanggung jawab masing-masing.
Pimpinan harus berusaha menumbuh kembanngkan kemampuan memikul tanggung jawab.
Pemimpin harus mendayagunakan pengawasan sebagai alat pengendali. Pada prinsipnya seorang pemimpin harus mempertanggungjawabkan semua tindakannya, sebagai firaman Allah SWT.
Dalam surah Al-Isra’ [17] ayat 36.
Artinya:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.17
Dari ayat tersebut menerangkan bahwa allah SWT melarang sesuatu tanpa pengetahuan, bahkan melarang mengatakan sesuatu zan (dugaan) yang bersumber dari sangkaan dan ilusi.
E. Teori-Teori Kepemimpinan
Kemampuan seseorang dalam menyelenggarakan berbagai fungsi manajerial, sesungguhnya merupakan bukti yang paling nyata dari efektivitasnya sebagai seorang pemimpin sehingga dewasa ini banyak gaya yang digunakan untuk mengidentifikasi tipe-tipe kepemimpinan. Ada beberapa teori-teori kepemimpinan antralain:
Teori Karakter ( Trait theories)yaitu untuk menjadi seorang pemimpin, harus mempunyai kemampuan : intelegensi (kemampuan memahami dan memecahkan masalah), karakter (inisiatif dan percaya diri), fisik, (sehat), kategori sosial (jender, kelas sosial atau etnik). Robbins mengemukakan teori ciri kepemimpinan ini mencari ciri kepribadian, sosial, fisik, atau intelektual yang membedakan pemimpin dari bukan pemimpin.
Teori ini mencoba untuk mencari karakter yang konsisten dan unik yang berlaku secara universal yang dimiliki oleh seorang pemimpin yang efektif.Karakter yang dimaksud meliputi ambisi dan energi, hasrat untuk memimpin, kejujuran dan integritas (keutuhan), percaya diri, kecerdasan, dan pengetahuan yang relevan dalam pekerjaan.
17Veithzal,Rivai Dan Deddy Mulyadi, Kepemimpinan Dan Perilaku Organisasi, (Jakarta:
PT.Aja Grafindo Persada, 2010), 27
Gitosudarmo dan Sudita mengemukakan dasar dari pendekatan gaya kepemimpinan ini diyakini bahwa pemimpin yang efektif menggunakan gaya (style) tertentu untuk mengarahkan individu atau kelompok untuk mencapai tujuan tertentu.
Teori ini pendekatannya lebih dipusatkan pada efektivitas pemimpin, yang menekankan pada dua gaya kepemimpinan yaitu gaya kepemmpinan berorientasi tugas (task orientation) dan orientasi pada bawahan (employ orientation). Di mana orientasi tugas adalah perilaku pimpinan yang menekankan bahwa tugas-tugas harus dilaksanakan dengan baik dengan cara mengarahkan dan mengendalikan secara ketat bawahannya. Sedangkan orientasi bawahan adalah perilaku pimpinan yang menekankan pada memberikan motivasi kepada bawahan dalam melaksanakan tugasnya dengan melibatkan bawahan dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan tugasnya, dan mengembangkan hubungan yang bersahabat saling percaya dan saling menghormati diantara anggota kelompok. Teori kontingensi ini meliputi :
Teori Situasional Hersey dan Blanchard yaitu teori yang memfokuskan kepada pengikut. Menurut teori ini bahwa kepemimpinan yang berhasil dicapai dengan memilih gaya kepemimpinan yang tepat, bersifat tergantung pada kesiapan atau kedewasaan para pengikutnya. Robbins, mengemukakan kepemimpinan situasional lebih menekankan pada pengikut yaitu pada kesiapan atau kematangan pengikut.
Teori jalur tujuan yaitu perilaku seorang pemimpin dapat diterima baik oleh bawahan sejauh mereka pandang sebagai suatu sumber dari atau kepuasan segera atau kepuasan masa depan. Jadi hakekatnya teori ini adalah tugas pemimpin untuk membantu pengikutnya dalam mencapai tujuan mereka, memberikan arahan atau dukungan yang diperlukan guna memastikan apakah tujuan mereka sesuai dengan sasaran keseluruhan kelompok atau organisasi.
Teori model partisipasi pemimpinadalah suatu teori kepemimpinan yang memberikan seperangkat aturan untuk menentukan ragam dan banyaknya pengambilan keputusan partisipatif dalam situasi-situasi yang berlainan.Model
partisipasi pemimpin mengandalkan bahwa pemimpin dapat menyesuaikan dirinya dengan situasi yang berlainan.
Teori atribusi pemimpin yaitu bahwa kepemimpinan semata-mata sebagai atribusi yang dibuat orang mengenai individu-individu lain. Atribusi-atribusi yang dimaksud seperti kecerdasan, kepribadian ramah-tamah keterampilan verbal yang kuat, keagresifan, pemahaman dan kerajinan.Salah satu tema yang menarik dalam teori atribusi kepemimpinan adalah persepsi bahwa kepemimpinan yang efektif umumnya dinggap konsisten dalam keputusan mereka.
Teori kepemimpinan kharismatik, yaitu para pengikut membuat atribusi (penghubungan) dari kemampuan pemimpin yang heroik atau luar biasa bila mereka mengamati perilaku-perilaku tertentu. Menurut House, seorang pemimpin kharismatik mempunyai dampak yang dalam dan tidak luar biasa terhadap pengikut, mereka merasakan bahwa keyakinan-keyakinan pemimpin tersebut adalah benar maka mereka menerima pemimpin tersebut tanpa mempertanyakan lagi, mereka tunduk kepada pemimpin dengan senang hati, mereka merasa sayang terhadap pemimpin tersebut, mereka terlibat secara emosional dalam misi kelompok atau organisasi dan mempunyai tujuan-tujuan kinerja tinggi.
Teori transaksional lawan transformasional yaitu memandu atau memotivasi pengikut mereka ke arah tujuan yang telah ditetapkan dengan memperjelas peran dan tuntutan tugas, sedangkan kepemimpinan transaksional, pemimpin memberikan pertimbangan dan rangsangan intelektual individual, dan memiliki kharisma.Pemimpin mentransformasi dan memotivasi para pengikut dengan jalan membuat mereka lebih sadar mengenai pentingnya hasil-hasil suatu pekerjaan, mendorong mereka untuk lebih mementingkan organisasi daripada diri sendiri dan mengaktifkan kebutuhan-kebutuhan mereka pada yang lebih tinggi.
Teori kepemimpinan visioner yaitu kemampuan untuk menciptakan dan mengartikulasikan suatu visi yang atraktif, terpercaya, realistik tentang masa depan suatu organisasi atau suatu unit organisasi yang terus tumbuh dan membaik pada saat ini.
Teori kepemimpinan situasional didasarkan atas hubungan antara kadar bimbingan dan arahan (perilaku tugas), kadar hubungan sosio emosional (perilaku hubungan), level kesiapan (kematangan). Dengan demikian kepemimpinan memiliki tiga dimensi yaitu perilaku tugas, perilaku hubungan dan kematangan anggota.
Perilaku tugas diartikan sebagai kadar sejauhmana pemimpin menyediakan arahan kepada pengikut. Arahan yang dimaksud meliputi apa yang harus dilakukan, kapan dimana melakukannya, cara melakukan pekerjaan. Sedangkan perilaku hubungan diartikan kadar sejauhmana pemimpin melakukan hubungan dua arah dengan pengikut. Pemimpin dalam hal ini menyediakan dukungan, dorongan, memberikan kemudahan kepada pengikutnya. Dengan demikian pemimpin secara aktif menyimak dan memberikan dukungan terhadap upaya pengikut dalam melaksanakan pekerjaan mereka.
Kombinasi dari perilaku tugas dan perilaku hubungan menciptakan gaya kepemimpinan situasional sebagai berikut :
a. Telling (memberitahukan) adalah gaya bagi pengikut yang memiliki tingkat kematangan yang rendah. Maksudnya orang-orang tidak memiliki kemampuan dan kemauan memikul tanggung jawab untuk melakukan sesuatu adalah tidak kompoten atau tidak yakin. Peran pemimpin dalam hal ini memberikan arahan, suvervisi. Gaya ini dicirikan oleh perilaku pemimpin yang menetapkan peranan dan memberitahu orang-orang tentang apa, bagaimana, kapan, dan dimana melakukan tugas.
b. Selling (menjajakan) gaya ini diterapkan bagi pengikut yang memiliki tingkat kematangan rendah ke sedang, orang-orang tidak memiliki kemampuan tetapi juga mau memikul tanggung jawab untuk melakukan sesuatu tugas adalah yakin tetapi kurang memilki keterampilan. Hal ini disebut “Menjajakan” karena pemimpin menyediakan hampir seluruh arahan. Tetapi melalui komunikasi dua arah dan penjelasan, diharapkan pengikut turut mengambil bagian dalam perilaku yang diinginkan.
c. Participating “mengikutsertakan” gaya kepemimpinan ini diterapkan bagi pengikut yang memiliki tingkat kematangan dari sedang ke tinggi. Orang-orang pada tingkat kematangan ini memiliki kemampuan tetapi tidak mau melakukan hal-hal yang
diinginkan pemimpin. Disebut Participating artinya pemimpin dan pengikut berbagi tanggung jawab dalam pengambilan keputusan, dan peranan pemimpin dalam hal ini adalah memudahkan dalam berkomuniksi dengan pengikut
d. Delegation (mendelegasikan) adalah gaya kepemimpinan yang diterapkan bagi pengikut yang memiliki tingkat kematangan yang tinggi. Orang-orang dengan tingkat kematangan seperti ini memiliki kemauan dan kemampuan atau keyakinan untuk memikul tanggung jawab. Pada gaya ini arahan dan dukungan pemimpin adalah rendah, pemimpin menyerahkan tanggung jawab melaksanakan rencana kepada pengikut yang matang untuk melaksanakan sendiri pekerjaan.
Jadi penekanan perilaku kepemimpinan situasional adalah pada pola membangun hubungan antara pemimpin dan bawahannya. Sebagai pemimpin kepala desa menurut teori kepemimpinan situasional idealnya mengedepankan kebiasaan mendengar, berkomunikasi multi arah, memfasilitasi, mengklarifikasi, dan memberikan dukungan sosial atau emosional kepada masyarakatnya.
Berbicara tentang kepemimpinan, hal yang perlu dipertimbangkan adalah keberhasilan seorang pemimpin untuk mencapai tujuan.18
GAYA-GAYA KEPEMIMPINAN
18John Kotter,Teori Kepermimpinan . Online : transdimensi.com, 2008) Diakses pada tanggal 13-01-2015.
memusatkan perhatian pada para pekerja
Memusatkan perhatian pada produksi
Bersifat social emosional
Memusatkan perhatian pada petugas
Gambar 7: Gaya-gaya Kepemimpinan19
Keterangan diatas menunjukan bahwa seorang pemimpin itu selalu memperhatikan karyawan, struktur-strukturnya dan nasabahnya, sehingga perkembangan sebuat organisasi akan semakin tersusun baik dan efektif.
Kepemimpinan lebih dari sekedar serangkaian teknik-teknik yang dapat dikuasai kepemimpinan pertama dan terutama adalah sifat manusiawi seseorang.
Menejerlah yang harus mengetahui unsur manusiawi dalam dalam persamaan kepemimpinan yaitu yang melindungi para pegawainya dan bergairah serta berdedikasi terhadap pekerjaannya. Para manajer yang bergairah adalah orang-orang yang menghadapi pekerjaan mereka dengan giat, yang membawa semangat dan kegembiraan ditempat kerja. Hal itu mudah menjalar. Jika para manajer memilikinya, besar kemungkinan para pekerja mereka akan memilikinya pula. Namun harus dipahai pula bahwa kelesuan pun menular pula, sebagaimana semangat dan antusias yang menyala.
Kalau para manajer memasuki kantor dengan muka yang yang tidak berminat dan jemu, apakah mengherankan jika para pegawai mereka menjadi lesu dan tiada dorongan untuk bekerja? Sebagai seorang manajer, kita menentukan suasana bagi para pegawai., dan sangat penting untuk mengupayakan agar suasana itu merupakan suatu suasana yang positif. Dalam hal ini marvin mengungkapkan dua aspek untuk hal yang perlu diingat membuat bergairah:
19Marvin Karlins, Pemberdayagunaan Sumber Daya Manusia Secara Manusiawi, Alih Bahasa Djokosoejitno (Jakarta: Erlangga, 1993), 104
MENEKANKAN STRUKTUR
(perencanaan-organisasi) DAN BEKERJA MELALUI STRUKTUR ORGANISASI
PENUH PERIMBANGAN (ia memperhatikan pekerjaannya)
a. Agar bergairah anda tidak perlu bersikap terlampau ”bersemangat” atau terlampau kaku. Kegairahan yang tenang mungkin sama manjurnya seperti kegairahan yang berapi-api sepanjang para pegawai anda erasakan bahwa sikap anda adalah positif, berminat terhadap pekerjaan.
b. Sebagai seorang manajer anda tidak perlu bergairah kerja setiap saat selama seharian.
Tidak seorangpun yang menghadapkan agar anda menyukai pekerjaan anda setiap saat. Memang mungkin saja ada hari di ruang anda masuk kerja dengan suasana yang kelabu, demikian pula ada saat-saat pekerjaan itu akan menekan anda. Dalamkeadaan seperti itu tepatlah jika anda bersikap ”tertekan”. Pegawai anda tidak bisa mengharapkan agar anda berpura-pura bergairah dalam suasana yang seperti neraka itu. Bahkan sesungguhnya jika anda biasanaya bergairah cenderung menuatkan suasana gairah itu pada umumnya.20
Memang tujuan dari kepemimpinan adalah memberikan semangat, antusias dan selalu memotivasi karyawan. Kesemuanya itu harus ada dalam rangkat mewujudkan lembaga yang selalu sinergis dan berupaya melaksanakan sasaran-sasaran baik jangka pendek maupun jangka panjang. Tetapi kita juga harus bisa memahami bahwa karyawan termasuk diri kita sendiri adalah manusia, bukannya robot yang tak berperasaan.
Adakalanya karyawan menghadapi masalah yang berat sehingga menggoncangkan jiwanya, baik itu kehilangan seseorang yang dicintainya, kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya, ataupun tidak terpenuhinyaberbagai harapan yang menjadi impiannya. Sangat wajar kalau kemudian pimpinan harus berbela sungkawa ntuk sekedar meringankan penderitaannya. Seorang manajer yang baik, ketika karyawan dalam kondisi seperti itu tidak lantas lebih membebani karyawan dengan berbagai tugas-tugas lembaga.
Apabila manajer tidak peduli dengan keadaan karyawan, sangat mungkin kalau karyawan juga tidak menghargai eputusan-keputusan manajer dan lebih bagayanya
20Marvin Karlins, Pemberdayagunaan Sumber Daya Manusia Secara Manusiawi, Alih Bahasa Djokosoejitno (Jakarta: Erlangga, 1993), 105
kemudian karyawan tidak menjalankan segala kebijakan lembaga atau sekdar melakukan pekerjaan tanpa dibarengi tanpa kualitas yang memadai.
Sebagaimana diungkapkan oleh Mas’ud Said dalam penytaan beliau bahwa pemimpin adalah memberikan sesuatu dari hati yang menimbulkan gairah, memimpin membangkitkan perasaan. Syarat pemimpin itu beriteraksi terhadap orang lain ialah dengan hati. Kepemimpinan dalam islam terdiri dari moal islam yaitu pikiran dengan hati.
Kalau kita lebih cermati memang sudah selayaknya seorang pemimpin itu dapat menjadi suri tauladan yang baik bagi karyawan dan berusaha mengayomi kebutuhan karyawan serta berusaha memahami perasaan karyawan. Dalam manajemen pendidikan islam, kepemimpinan dengan hati tidak boleh ditinggalkan walaupun kepemimpinan dengan pikiran juga mutlak dilaksanakaan. Pikiran dan hati kedua- keduanya mutlak diperlukan agar tujuan bersama organisasi bisa terealisasi dengan nyata dan hubungan yang indah antara pimpinan dan karyawan tertap terjalin.21
F. STRATEGI KEPEMIMPINAN 1. Pengertian Strategi Kepemimpinan
Strategi kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang untuk mengantisipasi, memimpikan, mempertahankan fleksibilitas, berpikir secara strategis, dan bekerja dengan orang lain untuk memulai perubahan yang akan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi organisasi. Strategi kepemimpinan juga merupakan suatu proses memberikan arah dan inspirasi yang diperlukan untuk membuat dan melaksanakan visi organisasi, misi, dan strategi untuk mencapai tujuan organisasi.
Kepemimpinan strategis harus melibatkan manajer di bagian atas, tengah, dan tingkat yang lebih rendah dari organisasi. Strategi pemimpin yang efektif antara lain memiliki keterampilan untuk :
21Mas’ud, Said. “Kepemimpinan:Pengembangan Organisasi, Team Building Dan Perilaku Inovatif,” Makalah, Disampaikan Dalam Kuliah Kepemimpinan Pendidikan Islam, Tanggal 29 Mei 2006 (Malang: Pps UIN Malang).
a. mengantisipasi dan meramalkan kejadian dalam lingkungan eksternal organisasi yang memiliki potensi untuk mempengaruhi kinerja organisasi
b. mencari dan mempertahankan keunggulan kompetitif dengan membangun kompetensi inti dan memilih pasar yang tepat untuk bersaing.
c. mengevaluasi implementasi strategi dan hasil secara sistematis, dan membuat penyesuaian strategi22.
Pada dasarnya setiap perusahaan mempunyai strategi dalam berusaha.Namun bisa terjadi seorang pemimpin perusahaan tidak menyadarinya.
Strategi merupakan tindakan yang bersifat kontinyu dan terus menerus,serta dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh para pelanggan di masa depan. Sehingga dibutuhkan kecepatan inovasi pasar yang baru dan perubahaan pola konsumsi para konsumen yang didukung oleh kompetensi inti (core competencies) perusahaan tersebut.
Perusahaan membutuhkan kecepatan inovasi yang didukung oleh kompetensi inti, Kaplan dan Norton menyatakan bahwa mengarahkan perusahaan pada saat ini melintasi lingkungan persaingan yang kompleks dan rumit. Hal ini menggambarkan bahwa setiap perusahaan harus mempunyai pengetahuan serta strategi usaha yang sesuai dengan jenis usaha yang dikelolanya agar perusahaan tersebut dapat dikendalikan dengan baik sehingga mampu bersaing pada pasar yang dimasukinya.
2. Ciri-ciri strategi kepemimpinan
a. strategi prospekto yaitu strategi yang mengutamakan pada keberhasilan organisasi dalam berinovasi, selalu menciptakan produk baru, dan kesempatan pasar baru untuk sebuah perkembangan. Karakteristik dari strategi prospector adalah:
adanya desentralisasi, dimana ditandai dengan adanya pedelegasian kewenangan.
Formulasi organisasi yang rendah, artinya hubungan kerja tidak terlalu diatur oleh prosedur-prosedur dan strandarisasi yang tinggi.
22Birokrasi.Kompasiana, Kepemimpinan Strategis Dan Manajemen Perubahan. Di Akses Pada Tanggal 29- L11-2014
Fleksibelitas tinggi, seperti jam kerja yang fleksibel, penggunaan uang yang lebih fleksibel dan lain-lain.23
b. Strategi fokus
Strategi Fokus (focus) juga dimana Strategi fokus ini digunakan untuk mengembangkan keunggulan bersaing dalam suatu segmen pasar yang lebih sempit.
Strategi jenis ini ditujukan untuk melayani kebutuhan konsumen yang jumlahnya relatif kecil dan dalam pengambilan keputusannya untuk membeli relatif tidak dipengaruhi oleh harga. Dalam pelaksanaannya terutama pada perusahaan skala menengah dan besar, strategi fokus diintegrasikan dengan salah satu dari dua strategi generik lainnya: strategi biaya rendah atau strategi pembedaan karakteristik produk.24
c. Strategi situasional
Dalam strategi kepemimpinan yang situasional ini bagaimana cara pmimpin dapat mengetahui keadaan baik kemampuan ataupun sifat dari anak buah yang dipimpinnya untuk kemudian pemimpin dapat menentukan perintah atau sikap terhadap anak buahnya. Tingkat kematangan atau kemampuan anak buah ada 5 macam seperti:
intruksi, konsultasi, partisipasi, dilegasi dan pengendalian.25 3. Tujuan Strategi Kepemimpinan
a. Melaksanakan dan mengevaluasi strategi yang dipilih secara efektif dan efesien.
b. Mengevaluasi kinerja, meninjau dan mengkaji ulang serta melakukan berbagai penyesuaian dan koreksi jika terdapat penyimpangan didalam pelaksanaan strategi.
c. Senantiasa memperbaharui strategi yang dirumuskan agar sesuai dengan perkembangan lingkungan eksternal.
d. Senantiasa meninjau kembali kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bisnis yang ada.
23 Robert M. Grant, Analisis Strategi Kontemporer, (Jakarta: Erlangga, 1999), 88
24 Mustamu. Tipe-Tipe-Strategi/. Di Akses Pada Tanggal 29-11-2014
25 Hamzah. Manajemen Pendekatan situasional dan teori, di akses pada 23-juni-2015
e. Selalu melakukan inovasi atas produk agar selalu sesuai dengan selera konsumen.26 4. Konsep Strategi Kepemimpinan
Menurut Setiawan strategis kepemimpinan adalah serangkaian keputusan dan tindakan manajerial yang menentukan kinerja perusahaan dalam jangka panjang.
Termasuk didalamnya pengamatan lingkungan (eksternal maupun internal), perumusan strategi (perencanaan jangka panjang), implementasi strategi, evaluasi, serta pengendalian. Bidang ilmu manajemen strategis menekankan pada pengamatan dan evaluasi peluang (opportunities) dan ancaman (threats) lingkungan dengan melihat kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses) perusahaan.
Manajemen strategis pada prinsipnya merupakan pengambilan keputusan yang akan menentukan apakah suatu organisasi itu unggul, dapat bertahan hidup, atau menghadapi kematiannya. Tugas dari manajemen strategis adalah menggunakan sebaik-baiknya sumberdaya organisasi dalam lingkungan yang berubah-ubah.
Glueck dan Jauch dalam setiawan manajemen strategis merupakan arus keputusan dan tindakan yang mengarah pada perkembangan suatu strategi atau strategi-strategi yang efektif untuk membantu mencapai sasaran perusahaan. Proses manajemen strategis ialah cara dengan jalan mana perencanaan strategi menentukan sasaran dan membuat kesimpulan strategi. 27
Beberapa organisasi atau instansi atau perorangan yang menaruh perhatian jarang krisis yang semakin dalam. Pembenahan dalam tubuh organisasi atau suatu perusahaan dapat dilakukan dalam penanaman dan pemahaman prinsip-prinsip setra tujuan organisasi atau perusahaan pada seluruh anggotan organisasi atau perusahaan dan melalui strategi-strategi pemimpin tersebut dan akan tetap eksis pada masanya.
Sehubungan dengan pentingnya strategi untuk mengembangkan suatu organisasi atau perusahaan dibutuhkan dengan pemimpin yang efektif dan kecerdasan untuk merancang sebah organisasi atau perusahaan yang berkualitas untuk mencapai tujuan
26Slideshare.Net, Strategi-Dalam-Kepemimpinan. Di Akses Pada 29-11-2014
27Agustinus S Wahyudi, Manajemen Strategic Pengantar Proses Berfikir Srategik (Jakarta:
Bina Rupa Asara, 1996) 23
yang diinginkan oleh setiap perusahaan.Dengan demikian dapat dikatakan bahwa untuk dapat bertahan oranisasi tak terkecuali BMT, seorang pemimpin harus mengarahkan anggotanya agar dapat beadaftasi dengan baik dan mampun memanfaatkan dampak positif dari berbagai pembaruan tersebut dari mengembangkan diri dan mengembangkan organisasi atau perusahaan.28
5. Manfaat Strategi Kepemimpinan
a. Aktivitas formulasi strategi akan mempertingi kemampuan perusahaan dalam menghadapi masalah yang dihadapi oleh perusahaan.
b. Proses strategi kepeimpinan akan menghasilkan hasil keputusan terbaik dikarenakan interaksi kelompok mengumpulkan berbagai keputusan strategi yang lebih besar.
c. Keterlibatan karyawan didalam formulasi strategi akan dapat memperbaiki pengertian mereka atas penghargaan produktifitas didalam setiap perencanaan strategi dan dengan demikian mempertinggi motivasi kerja mereka.
d. Penerapan strategi kepemimpinan membuat manajemen perusahaan menjadi lebih peka akan ancaman yang datang dari luar perusahaan.
e. Hasil penelitian menunjukan bahwa organisasi yang menggunakan konsep strategi kepemimpinan akan lebih profitabilitas dan lebih berasar dari pada yang tidak menerapkannya.
28 Siti, Nurhaeni, Startegi Pengembangan Organisasi BMT Bina Ihsanul Fikri(Fakultas Dakwah, Unversitas Islam Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2009)