• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab III PERKEMBANGAN INDUSTRI JAMU AIR MANCUR DI DESA PALUR TAHUN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Bab III PERKEMBANGAN INDUSTRI JAMU AIR MANCUR DI DESA PALUR TAHUN"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

Bab III

PERKEMBANGAN INDUSTRI JAMU AIR MANCUR DI DESA PALUR TAHUN 1974-1990

Bertani merupakan mata pencaharian utama hampir seluruh masyarakat Indonesia khususnya di daerah pedesaan berabad-abad yang lalu. Hal tersebut dikarenakan tanahnya yang subur sehingga cocok untuk lahan pertanian. Selain itu juga di pedesaan banyak terdapat sumber daya alam. Seiring berjalannya waktu lahan pertanian mulai mengalami penyempitan, hal ini terjadi karena setiap tahun jumlah penduduk semakin bertambah, sehingga banyak lahan pertanian yang dijadikan untuk lahan pemukiman atau industri.

Fenomena yang terjadi sekarang adalah pekerjaan sebagai petani bukan lagi menjadi mata pencaharian utama penduduk. Terlebih lagi semakin berkembangnya tekhnologi yang berakibat pada perubahan pola pikir masyarakat terutama generasi muda. Kebanyakan dari mereka lebih memilih bekerja di sektor formal ataupun informal. Mereka menganggap bekerja di sektor formal ataupun informal lebih menguntungkan daripada bekerja sebagai petani. Bekerja di sektor formal paling banyak diminati oleh masyarakat misalnya menjadi pegawai negeri atau karyawan swasta, tetapi tidak semua orang bisa terserap di sektor ini. Hal ini dikarenakan adanya beberapa faktor, salah satunya masalah pendidikan. Oleh karena itu banyak juga yang mencoba untuk membuka usaha industri rumah tangga ataupun industri pabrik, misalnya industri jamu Air Mancur.

(2)

Perkembangan yang terjadi pada industri jamu Air Mancur di Desa Palur yang awalnya hanya industri rumahan dan kini menjadi industri besar mengalami pasang surut dalam perkembangannya antara lain mengenai peningkatan volume produksi dan juga peningkatan kualitas hasil produksi. Peralatan yang digunakan untuk memproduksi jamu mengalami perubahan yang terlalu mencolok, hanya mengalami penambahan jumlah mesin-mesin yang tadinya hanya menggunakan alat-alat tradisional pada awal berdirinya pabrik jamu Air Mancur dan juga penggantian mesin-mesin yang telah rusak di ganti dengan yang baru.1

Dalam perkembangannya, industri jamu Air Mancur di Desa Palur melalui tahap-tahap atau periode tertentu, dimana setiap periode mengalami suatu fenomena-fenomena tertentu yang dapat menunjukkan tingkat perkembangan dan kemajuannya. Periode-periode dalam perkembangan industri jamu Air Mancur dapat di bagi menjadi tiga periode yatu periode tahun 1963-1964, tahun 1964- 1974 dan 1974-1990.

A. Latar Belakang Munculnya Industri Jamu Air Mancur

Industri kecil atau industri besar merupakan salah satu alternatif pekerjaan diluar bidang pertanian baik sebagai pekerjaan pokok maupun sebagai pekerjaan sampingan.2 Pada awal mulanya industri kecil merupakan bagian dari kerajinan rumah tangga dan biasanya banyak terdapat di daerah pedesaan, begitupula dengan industri besar misalnya Industri Jamu Air Mancur yang mulanya

1 Wawancara dengan Sigit Sudibyo, pada tanggal 8 Juli 2013.

2 Soeri Soeroto, 1983, “Sejarah industri Di Indonesia“, Prisma, Nomor 8, Jakarta : LP3ES, halaman 20.

(3)

merupakan industri rumahan dan sampai sekarang menjadi Industri besar di desa Palur.

Pertumbuhan dan perkembangan industri jamu Air Mancur di Desa Palur berlangsung secara bertahap. Munculnya industri jamu Air Mancur tidak dapat dilepaskan dari peran Santoso yang telah merintis usaha industri jamu Air Mancur mulai tahun 1963. Dunia jamu Indonesia di jaman lampau mengenal Poa Tjong Kwan dari Wonogiri dengan jamu cap “ Jago”-nya yang tersebar meliputi seluruh tanah air Jamu Jago pernah mengalami zaman emasnya dan hingga sekarang masih bertahan pula dengan pindah berkedudukan diSemarang. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1918. Dijaman kemerdekaan didalam dunia jamu telah muncul bintang baru yaitu “ Jamu Manjur cap Air Mancur “. Santoso kelahiran asli Wonogiri ini rupanya sangat cinta pada Wonogiri.3 Perjalanan hidup Santoso dimulai dengan perantauannya pada waktu ia berumur 15 tahun. Pertama ia bekerja di Yogyakarta, kemudian menjelajahi kota-kota di Jawa Timur : Kasin Lor, Bondowoso, Banyuwangi, Malang dan Kediri.

Setelah ia menikah pada tahun 1932 dia mengadu keuntungan di Sala dengan berjualan bumbu-bumbu masak di pasar Singosaren, kemudian mendapat kemajuan dengan masuk menjadi pegawai jamu cap Jago bagian propaganda, berkeliling dengan mobil.4 Dia bekerja di sana dari tahun 1939 sampai 1961 karEna ketekunan dan kegiatannya pada karirnya pada Jamu cap Jago ia berhasil mencapai kedudukan sebagai sales manajer, kepala bagian penjualan. Pada

3 Kamajaya, “Sejarah Berdirinya PT. Perusahaan Jamu Air Mancur”, 23 Desember 1963, halaman 1.

4Ibid, hal 3.

(4)

akhirny ia mendapat pensiun dengan syarat, bahwa ia tidak boleh mengusahakan produksi yang sama dengan Jamu cap Jago. Oleh karenanya ia merasa tidak terikat lagi oleh sesuatu persyaratan. Namun demikian hal itu dimusyawarhkan dengan sanak saudara dan teman-temannya, sejak itu timbullah niatnya membuat dan menjual Jamu Jawa berdasarkan pengalaman-pengalamnnya.

Niatnya itu mendapat sambutan baik dari 2 orang sahabatnya, yaitu : (1) Hindotanojo ( 53 th ) rekannya di Jamu cap Jago yang kemudian menjabat manager PT Tempo yang mendistribusi produk-produk obat luar. Di Jawa Tengah, sekarang direktur Air Mancur, dan (2) Kimun Ongkosandjojo, sekarang komisaris Air Mancur. Sejak semula Santoso memegang pimpinan utama.

Nama “Air Mancur” ternyata tidak didapat di tempat yang sepi dengan semedi, tetapi justru di tempat yang ramai, yaitu diilhami oleh Air Mancur yang terletak di tengah-tengah perempatan Jalan Thamrin, Jakarta. Pada waktu Air Mancur itu dibuka, Santoso dengan 2 orang temannya pendiri perusahaan jamunya pergi ke Jakarta. Terutama untuk menyaksikan Air Mancur yang indah itu, disanalah datangnya ilham untuk memberi nama pada perusahaan jamunya yang ternyata berhasil baik.

Berawal dari sebuah usaha rumahan yang didirikan 23 Desember 1963, PT Air Mancur kini telah menjadi salah satu perusahaan jamu tradisional yang berskala nasional. PT Air Mancur sampai kini juga terus melakukan penelitian guna pengembangan produksi, menemukan dan mengembangkan formula yang lebih efektif serta berupaya untuk mendapatkan tanaman-tanaman yang

(5)

sebelumnya tidak pernah dikenal sebagai tanaman obat. Tentu saja semua itu dilakukan untuk kepuasan konsumen dan PT Air Mancur pada tahun 1979 telah memiliki 4 buah unit kerja yaitu : Unit Wonogiri, Unit Palur, Unit Jajar dan Unit Giriwono itu membuktikan bahwa PT Air Mancur berkomitmen untuk melayani dan memberikan produk-produk yang terbaik kepada konsumen di seluruh Indonesia. Dalam perkembangannya harus juga ditunjang dengan pekerja atau karyawan yang memiliki etos kerja yang tinggi dan sumber daya manusia yang mumpumi.

Pada tahun 1970 jumlah karyawan 200 orang, pada tahun 1971 menjadi 580 orang, tahun 1972 menjadi 830 orang.5 Sekali lagi ruang pabrik tersa sempit, maka pada tanggal 24 Februari 1974 L.W. Santoso memperluas area pabrik 2 hektar yang terletak disebelah utara desa Palur, tepatnya di desa Tegal Rejo, DagenJaten Kabupaten Karanganyar. Terletak di tepi jalur jalan kearah Sragen dimulailah pembangunan pabrik. Pada perkembangan selanjutnya dikomplek itu terdapat : bagian produksi dengan gudang, mesin, laboratorium dan bagian marketing. Saat itu jumlah karyawan tercatat 1.400 orang berarti naik 400 orang pada waktu setahun. Dari kenaikan jumlah karyawan itu saja dapatlah difahami bahwa Air Mancur maju semakin pesat.

Munculnya industri jamu Air Mancur di Desa Palur membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat desa menjadi lebih baik dan cukup makmur. Hal ini tentunya tidak lepas dari hasil kerja keras serta dukungan dari semua pihak yang telah berperan dalam mengembangkan industri jamu Air Mancur yang ada di desa

5 Wawancara dengan Agus Winarno, tanggal 11 Januari 2013.

(6)

tersebut. Keberadaan industri ini mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan telah menjadi mata pencaharian pokok sebagian besar masyarakat sehingga membuat Desa Palur semakin maju dalam pembangunan fisik maupun nonfisik.6

B. Perkembangan Industri Jamu Air Mancur

Perkembangan suatu usaha tidak berlangsung secara tiba-tiba, melalui beberapa periode. Beberapa periode tersebut menunjukkan bagaimana perkembangan dan kemajuan usaha tersebut. Hal ini dapat terjadi karena adanya sifat manusia yang tidak hanya bertindak berdasarkan naluri saja, tetapi juga atas dasar akal pikirannya. Sama halnya dengan industri Jamu Air Mancur juga mengalami perkembangan, yang dibagi menjadi 3 periode yaitu :

1. Periode Tahun 1963-1964 ( Tahap Perintisan )

A. Tempat Usaha

Masyarakat Desa Pucang sawit masih banyak yang menggantungkan hidupnya sebagai petani. Pekerjaan yang secara turun temurun dikerjakan hampir seluruh penduduk pedesaan di Indonesia. Pada saat awal pendiriannya industri jamu Air Mancur yang di rintis oleh bapak L.W. Santoso tepatnya pada tanggal 23 Maret 1963 tidak mendapat pengaruh yang berarti terhadap lingkungan sekitar.

Periode pertama merupakan masa awal tumbuhnya industri jamu Air Mancur atau dapat juga di sebut masa percobaan dan masa perintisan. Pada masa awal kemunculannya yaitu tahun 1963-1964 merupakan masa percobaan, penemuan identitas diri atau suatu proses mencari celah untuk bisa diterima masyarakat.

6 Wawancara dengan Djeki Sutarjo tanggal 12 Juli 2013.

(7)

Pada masa itu tidak terjadi suatu fenomena yang menonjol. Usahanya masih bersifat kekeluargaan dan bersifat industri rumahan, peralatan yang digunakan relatif masih sederhana dan kapasitas produksinya masih kecil.

Kapasitas produksi yang relatif masih kecil tersebut disebabkan karena keterbatasan modal dan konsumennya juga hanya berasal dari daerah sekitar.

B. Permodalan

Mendirikan suatu usaha pasti dibutuhkan suatu modal. Modal merupakan hal yang penting karena tanpa adanya modal maka usaha tidak dapat berjalan.

Modal diartikan sebagai usaha kolektivitas dari alat produksi yang masih berlangsung dalam proses produksi selama produksi industri tersebut memegang peranan penting yang berhubungan dengan proses produksi.7 Modal yang dibutuhkan oleh pengusaha berbeda-beda tergantung dari besar kecilnya usaha yang yang akan dijalaninya.

Pada awal pendiriannya modal yang dibutuhkan industri rumahan jamu Air Mancur sangat minim, yaitu hanya Rp 100.000,00-Rp 200.000,00 yang berasal dari uang pribadi L.W. Santoso. Tahap perintisan merupakan cikal bakal berkembangnya industri jamu Air Mancur yang pada awalnya hanya industri rumahan menjadi industri besar berskala nasional.

7 Bambang Riyanto, 1994, Dasar-Dasar Pembelajaran Perusahaan, Yogyakarta : Yayasan Gajah Mada, Halaman 12.

(8)

C. Tenaga Kerja

Tenaga kerja merupakan salah satu unsur yang penting dala proses produksi. Hal ini dikarenakan tenaga kerja berhubungan langsung dalam proses produksi, yaitu posisinya sebagai pelaksana atas dasar perintah dari majikan.

Hubungan yang erat antara tenaga kerja dan majikan yang keduanya saling membutuhkan, tenaga kerja membutuhkan pekerjaan dan majikan membutuhkan orang untuk melaksanakan proses produksi.

Pada awalnya yaitu tahun 1963-1964 yang merupakan tahap perintisan jumlah tenaga kerja hanya berjumlah 11 orang adalah anggota keluarga sendiri.

Sedikitnya jumlah tenaga kerja ini dikarenakan masih kurang minatnya masyarakat terhadap industri jamu Air Mancur. Periode tahun 1963-1964 masyarakat sekitar sebagian besar bekerja di sektor pertanian.

D. Sistem Upah

Berkaitan dengan adanya tenaga kerja adalah upah kerja atau gaji. Upah diartikan sebagai bentuk penghasilan yang diterima pekerja, baik berupa uang maupun barang dalam jangka waktu tertentu.8 Upah yang diberikan sudah disesuaikan dengan tugas dan keahliannya masing-masing dan sudah tertata dengan rapi.

Pada awal pendiriannya upah yang diberikan per tenaga kerja hanya Rp 5.000,00 per hari karena pada waktu itu hanya berjumlah 11 karyawan dan

8 Nurimansyah Hasibuan, 1981, “Upah Tenaga Kerja Dan Konsentrasi Sektor Industri”.

Prisma, Nomor V, Halaman 3.

(9)

sifatnya masih industri rumahan. Tingkat pendidikan pada tahun 1963-1964 juga masih rendah ini berpengaruh terhadap pembayaran upah, karena pada tahap perintisan tenaga kerja masih bersifat kekeluargaan.

E. Bahan Baku

Bahan baku merupakan unsur yang penting dalam proses produksi, tanpa adanya bahan baku proses produksi tidak dapat berjalan. Bahan baku yang digunakan dalam industri jamu Air Mancur yaitu tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat misalnya kunyit, temulawak, brotowali, jahe, sambilotrok dan lain sebagainya. Pada tahun 1963-1964 yang merupakan tahap perintisan jamu Air Mancur semua bahan baku yang di gunakan untuk memproduksi berasal dari tumbuh-tumbuhan yang di tanam sendiri oleh Santoso di halaman belakang rumah sewa yang terletak di Desa Pucang Sawit Solo.9

Tanaman yang berkhasiat tersebut selanjutnya dipanen dan digunakan untuk proses produksi. Penanaman tumbuhan berkhasiat dilakukan secara bertahap oleh Santoso dan keluarganya dengan berbagai varian tanaman yang berguna untuk kesehatan masyarakat sekitar, dengan tujuan dapat mendorong terciptanya kehidupan yang sehat dengan tanaman berkhasiat tersebut.

F. Proses Produksi

Proses produksi merupakan bagian inti dari kegiatan produksi. Tanpa adanya proses produksi suatu kegiatan produksi tidak dapat berjalan. Proses

9 Wawancara dengan Agus Winarno tanggal 10 Juli 2013.

(10)

produksi adalah suatu pendayagunaan segala sumber yang tersedia untuk mewujudkan hasil yang terjamin.

Pada tahun 1963-1964 yang merupakan tahap perintisan, proses produksi jamu Air Mancur masih sangat sederhana. Alat-alat yang digunakan masih bersifat tradisional, misalnya alu dan lumpang. Bahan-bahan bakal jamu diproses dengan pencucian bersih selanjutnya di tumbuk dan di peras dengan menggunakan tangan. Hasil yang didapat masih sangat sedikit karena pada periode tahun1963-1964 industri masih bersifat rumahan dan tenaga kerja juga berasal dari kalangan keluarga Santoso.10

G. Pemasaran

Pemasaran adalah segala aktivitas yang dikerjakan untuk memindahkan barang dari tangan produsen ke konsumen.11 Kegiatan pemasaran dianggap sebagai kegiatan pokok oleh pengusaha untuk mempertahankan kelangsungan usahanya. Industri jamu Air Mancur di Desa Pucang Sawit ini masih bertaraf industri rumahan sehingga produk yang dihasilkan pun merupakan produk untuk masyarakat tingkat menengah ke bawah.

Pemilihan bahan baku yang digunakan kebanyakan terdiri dari bahan- bahan yang murah, oleh karena itu hasil produksi industri rumahan pemasaranya

10 Wawancara dengan Djeki Sutarjo tanggal 17 Januari 2012.

11 M. Manulang, 1969, Pengantar Ekonomi Perusahaan, Yogyakarta : Liberty, Halaman 210.

(11)

di lakukan denga berkeliling di sekitar Desa Pucang Sawit dengan menggunakan sepeda ontel dan juga jamu gendong yang di kerjakan oleh pekerja perempuan.12

2. Periode Tahun 1964-1974 ( Tahap Perkembangan )

A. Tempat Usaha

Suatu kegiatan usaha ada masanya terjadi suatu perubahan yang mengarah kepada peningkatan. Adanya faktor sosial dan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup mendorong industri Jamu Air Mancur untuk berbuat sesuatu yang pada akhirnya berdampak pada adanya suatu perkembangan. Perkembangan yang cukup berarti mulai dirasakan pada sekitar tahun 1964. Pada tahun itu seluruh kegiatan dipindahkan dari Pucang Sawit ke Wonogiri. Sejak itulah Gudang Seng menjadi arena perjuangan karyawan yang berjumlah 20 orang.13

Keberhasilan yang didapat PT Air Mancur tersebut maka, pada tahun 1973 disiapkanlah perluasan pabrik. Diatas tanah seluas 2 hektar yang terletak di sebelah utara desa Palur, Jaten, Kabupaten Karanganyar yaitu di tepi jalur jalan ke arah Sragen, dimulailah pembangunan pabrik. Berhubung mendesaknya keperluan ruangan kerja, maka pada tanggal 24 Februari 1974 L.W. Santoso terpaksa telah meresmikan pemakaian pabrik di Palur itu, meskipun pembangunan belum selesai seluruhnya. Pada perkembangan selanjutnya di kompleks itu terdapat : bagian produksi dengan gudang dan mesin yang selalu bergemuruh, laboratorium dan bagian marketing.

12 Wawancara dengan Sigit Sudibyo tanggal 12 Juli 2013.

13 Wawancara dengan Agus Winarno tanggal 5 Maret 2013.

(12)

B. Permodalan

Dalam proses produksi yang saling bersamaan, modal dapat digunakan untuk mempertahankan usaha secara terus menerus dengan sendirinya. Modal yang dipakai dalam suatu industri akan berputar sesuai dengan keperluan untuk proses produksi. Modal dapat di bagi menjadi dua yaitu modal tetap dan modal lancar. Modal tetap yaitu modal yang berupa alat-alat produksi yang jenis dan harganya bervariasi. Modal yang kedua adalah modal lancar yang berupa uang untuk pembelian bahan baku, upah tenaga kerja dan lain-lain.14

Tabel 7

Modal Awal Pendirian Industri Jamu Air Mancur

No Tahun Besarnya Modal Awal

1 1963-1964(Perintisan) 100ribu-200ribu 2 1964-1974(perkembangan) 10juta-20juta 3 1974-1990 (Puncak) 50juta-100juta Sumber : Data Perusahaan Jamu Air Mancur Tahun 1963-1990.

Pada awal pendiriannya modal yang dimiliki industri jamu Air Mancur sangat minim, yaitu hanya Rp 100.000,00-Rp 200.000,00 itupun uang pribadi L.W. Santoso, dan pada tahap perkembangan pada tahun 1964-1974 modal yang digunakan sebesar Rp 10.000.000,00-Rp 20.000.000,00 yang berasal dari pinjaman bank, dan pada tahap puncak tahun 1974-1990 modal yang diguanakan

14Ibid. Halaman 12.

(13)

sebesar Rp 50.000.000-Rp 100.000.000,00 dengan proses dan hasil produksi jamu yang besar akan mempengaruhi perkembangan industri jamu Air Mancur.15

C. Tenaga Kerja

Periodesasi tahun 1964-1974 jumlah pekerja semakin bertambah dengan adanya pembukaan lahan atau pabrik baru di berbagai tempat dan telah memiliki 4 buah unit kerja pabrik jamu Air Mancur. Berikut ini tabel perkembangan jumlah tenaga kerja industri jamu Air Mancur.

Tabel 8

Jumlah Tenaga Kerja Tahun 1970-1990

Tahun Jumlah Tenaga Kerja

1970 200 orang

1971 580 orang

1972 830 orang

1973 1000 orang

1990 1400 orang

Sumber : Data Perusahaan Industri Jamu Air Mancur Tahun 1970-1990

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa setiap tahun pekerja atau karyawan pabrik jamu Air Mancur selalu mengalami peningkatan jumlah pekerja, dari tahun 1970 yang berjumlah 200 orang, tahun 1971 naik menjadi 580 0rang dan seterusnya.

15 Data Perusahaan PT Air Mancur Tahun 1990.

(14)

D. Sistem Upah

Upah kerja atau gaji merupakan imbalan atas hasil kerja buruh yang diberikan oleh pengusaha kepada buruhnya. Upah tersebut merupakan pendapatan bagi para buruh atau pekerja. Kondisi ekonomi pada tahun 1964-1974 telah mendorong orang untuk lebih meningkatkan kerja guna mendapatkan uang sehingga dapat di tukar dengan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Besarnya upah yang diberikan PT Air Mancur pada tahap perkembangan berbeda-beda tergantung bagian kerja yang ditempati karyawan atau pekerja, Rp 10.000,00 per hari untuk kelas pekerja dibagian pabrik atau pengolahan jamu dan bagian gudang. Sementara untuk bagian marketing dan laboratorium per hari sebesar Rp 20.000,00 tergantung bahan baku dan hasil produksi yang didapat.

E. Bahan Baku

Industri jamu Air Mancur merupakan suatu industri yang bergerak dalam bidang pembuatan jamu sehingga bahan bakunya adalah tanaman berkhasiat.

Jenis-jenis dan produk jamu sangat banyak dan harganya pun bervariasi tergantung khasiatnya.

Pada masa perkembangan yaitu tahun 1964-1974 bahan bakal jamu diperoleh dari petani sekitar pabrik yang menyetor tanaman-tanaman berkhasiat misalnya temulawak, kunyit, kunir, brotowali, gingseng, lidah buaya, tlapak iman, kencur, empon-empon dan sebagainya.16

16 Wawancara dengan Agus Winarno tanggal 10 Juli 2013.

(15)

F. Proses Produksi

Proses produksi pada tahap perkembangan tahun 1964-1974 sudah mulai mengalami peningkatan dari sebelumnya yaitu masa perintisan. Mesin-mesin didatangkan dari Jakarta untuk memenuhi produksi dan selera konsumen yang semakin meningkat.17

Proses produksi pada industri Jamu Air Mancur dibagi dalam 2 tahap yaitu:

1. Tahap pengolahan bahan bakal jamu

Pertama-tama contoh bahan bakal jamu yang akan dibeli baik yang berasal dari penanam atau pengumpul maupun dari pedagang bahan bakal jamu diperiksa dulu oleh laboratorium pemeriksaan mutu. Pemeriksaan ini meliputi misalnya : pemeriksaan keaslian bahan, kadar kandungan khasiatnya tidak berbeda jauh dari standar pabrik, kekeringannya dan sebagainya.

Untuk menghilangkan keraguan pemeriksaan juga dilakukan dengan membandingkan bahan yang telah diperiksa dan yang belum diperiksa. Sebab, banyak bahan yang bentuk serta rupanya secara visual mirip sekali dengan bahan bakal jamu asli. Setelah memenuhi syarat dan cocok harganya, maka bahan bakal jamu dimasukkan ke dalam gudang Bahan Kotor. Pada gilirannya maka masing- masing bahan bakal jamu mengalami proses pembersihan yaitu: Bahan yang bentuknya panjang dirajang, bahan yang bentuknya besar dipotong, bahan yang banyak mengandung debu dihembus debunya dengan mesin hembus, bahan yang

17 Wawancara dengan Djeki Sutarjo tanggal 10 Januari 2012.

(16)

kotorannya berupa pasir diayak. Setelah itu dilakukan pemilihan yaitu bahan yang berguna dipisahkan dari bahan yang tidak berguna, bahan-bahan yang tidak berguna tersebut dimusnahkan.

Proses pembersih terakhir adalah pencucian. Meskipun bahan bakal jamu tersebut telah dicuci oleh petani atau pedagang, namun kebersihannya belum memenuhi syarat kebersihan Pabrik Jamu Air Mancur.Pabrik Jamu Air Mancur melakukan pencucian dalam dua tahap. Pertama-tama bahan dicuci dengan air dan akhirnya dibilas dengan cairan desinfektan ini karena kenyataannya bahan bakal jamu mengandung banyak sekali kuman. Karena, tidak sedikit bahan bakal jamu yang asalnya dari penanaman yang dipupuk dengan pupuk kandang yang justru mengandung kuman. Jadi dengan desinfektan ini kuman-kuman dan jamur-jamur yang justru menimbuklkan penyakit dapat hilang atau sedikitnya menekan angka kuman sampai serendah-rendahnya.

Setelah mengalami proses pembersih bahan bakal jamu itu dikeringkan;

caranya tergantung daripada sifat bahannya. Ada yang dapat dikeringkan dengan dijemur di bawah sinar matahari ada pula yang dikeringkan dengan mesin oven.

Pada gilirannya bahan-bahan tersebut perlu mengalami proses preboken yaitu suatu proses di mana bahan-bahan dibuat agar besarnya sama.

Sebelum proses selanjutnya dilaksanakan, contoh-contoh bahan yang telah, sehingga memudahkan proses selanjutnya. Preboken di kerjakan dengan mesin Preboken, diperiksa oleh Laboratorium Pemeriksaan Mutu kadar kandungan berkhasiatnya, maksudnya agar mudah dibuat memenuhi parameter

(17)

atau standar pabrik. Atas petunjuk laboratorium tersebut, bagian produksi membuat standar yang memenuhi syarat pabrik. Bahan bakal jamu yang telah memenuhi standar pabrik disimpan menurut jenis-jenisnya pada gudang khusus.

Selanjutnya bahan-bahan bakal jamu terus mengalami pengolahan jamu yaitu mula-mula diracik menurut resepnya.18

2. Tahap Pengolahan jamu

Bahan bakal jamu siap pakai yang sudah diracik menurut resepnya disimpan dalam gudang racikan. Pada gilirannya suatu racikan dari gudang racikan dilembutkan dengan mesin giling. Hasilnya kemudian diayak dengan mesin ayak agar mencapai derajad halus yang memenuhi syarat, akhirnya untuk menjamin kesamarataan campuran maka perlu diaduk dengan mesin pengaduk.

Hasil produksi dari mesin pengaduk merupakan jamu setengah jadi, disimpan di dalam gudang setengah jadi. Dari gudang jamu setengah jadi diambil contoh- contohnya oleh Laboratorium Pemeriksaan Mutu untuk diperiksa antara lain : kesamarataan campuran, derajat kehalusan, bebasnya dari logam-logam beracun, dicobakan terhadap hewan-hewan percobaan apakah tidak terjadi keracunan seketika.

Pemeriksaan mikrobiologis yaitu penentuan angka kuman atau apakah sudah tidak mengandung kuman-kuman dan jamur-jamur yang justru menyebabkan sakit. Laboratorium Pemeriksaan Mutu telah diberikan suatu tanda bahwa pekerjaan selanjutnya boleh dilaksanakan, maka jamu setengah jadi yang

18 Wawancara dan Observasi di Lapangan tanggal 11 Oktober 2012.

(18)

racikannya khusus untuk pemakaian kulit (jamu khusus untuk pemakain luar badan), mula-mula dicetak menurut bentuknya, setelah dikeringkan dan diberi bahan pewangi akhirnya dibungkus dan diberi etiket.

Jamu setengah jadi yang racikannya untuk diminum (bukan untuk pemakain luar badan), mula-mula diisikan ke dalam wadah berupa kantong terbuat dari ersat, kantong wadah ditutup dengan perekatnya dikeringkan di dalam kamar pengering, kantong-kantong kertas ersat yang telah berisi jamu dibungkus dengan kantong kertas yang berfungsi juga sebagai etiket.

Jamu-jamu jadi yang telah terbungkus ini disimpan di dalam Gudang Jamu jadi, sementara Laboratorium Pemeriksaan Mutu mengambil contohnya untuk disimpan sebagai arsip dan untuk pemeriksaan ulang terutama pemeriksaan mikrobiologis, keseragaman bobot setiap bungkus yang harus memenuhi syarat- syarat khusus bagi jamu-jamu untuk pemakain kulit diperiksa juga mengenai kekerasannya, kecepatan hancurnya dan juga hal-hal lainnya yang juga harus memenuhi syarat. Bagian Gudang jamu jadi baru berani mengirimkan ke pemasaran yang memerlukan, bila telah menerima sertifikat dari Laboratorium Pemeriksaan Mutu.19

Dari uraian di atas terlihat bahwa proses produksi jamu “Air Mancur”

mulai dari bahan bakal jamu sampai menjadi jamu-jamu paling sedikit mengalami empat tahap pemeriksaan oleh Laboratorium Pemeriksaan Mutu Pabrik Jamu “Air Mancur”. Selain empat tahap pemeriksaan mutu tersebut masih ada pemeriksaan

19 Data perusahaan PT Air Mancur Tahun 1990.

(19)

lain yang istilahnya : in proses kontrol, artinya pemeriksaan (kontrol) yang dilakukan oleh Bagian Produksi. Misalnya, pada waktu mengisikan serbuk jamu ke dalam kantong kertas ersat maka setiap 25 kantong berisi jamu, diambil 1 kantong sebagai contoh untuk dikontrol bobotnya dengan timbangan khususnya untuk meyakinkan apakah syarat keseragaman bobot sudah terpenuhi.

Jamu yang telah beredar di pasaran secara periodik(kurang lebih tiga bulan) diambil contohnya untuk diperiksa ulang oleh Laboratorium Pemeriksaan Mutu. Proses “pembersihan” dilakukan : Pemilihan, yaitu pemisahan bahan yang berguna dari yang tidak berguna, bermaksud agar bahan-bahan yang tidak berguna tidak tercampur di dalam jamu jadi sehingga tidak mempengaruhi khasiatnya yang manjur. Pembuangan bahan yang tak berguna ini sering mencapai 40% dari bobot semula, namun hal tersebut tetap dilaksanakan demi kemanjuran yang tepat pada jamu jadinya. Pencucian, dilakukan pembilasan dengan cairan desinfektan, bermaksud menekan angka kuman dan agar jamu-jamu tidak mengandung kuman-kuman dan jamur-jamur yang justru menyebabkan sakit (patogen).

Desinfektan tidak hanya dilakukan terhadap bahan bakal jamu namun

dilakukan juga terhadap ruangan-ruangan produksi dan para karyawan bagian produksi.

Sebelum pengolahan jamu dilaksanakan, lebih dahulu “bahan bakal jamu”

harus diproses menjadi “bahan bakal jamu siap pakai” sehingga “bahan bakal jamu siap pakai” memenuhi parameter atau standar Pabrik Jamu Air Mancur. Ini mempunyai makssud agar jamu jadi yang dihasilkan mempunyai khasiat yang

(20)

konstan, sebab perlu diketahui bahwa kadar kandungan berkhasiat dari bahan- bahan jamu sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor luar. Misalnya, keadaan tanah, curah hujan, pemupukan, umur pada waktu panen dan sebagainya sehingga mengakibatkan sesuatu bahan bakal sejenis yang berasal dari daerah yang berbeda akan berbeda pula kadar kandungan berkhasiatnya. Inilah pentingnya mengapa harus diselenggarakan sesuatu cara sehingga bahan bakal jamu yang digunakan kandungan berkhasiatnya harus memenuhi syarat tertentu ( parameter atau standar Pabrik ), sehingga mengakibatkan jamu jadi yang dihasilkan mempunyai khasiat yang konstan.

Pada pemeriksaan mutu oleh Laboratorium Pemeriksaan Mutu dilaksanakan juga percobaan terhadap hewan. Percobaan itu untuk mengetahui apakah jamu-jamu yang dihasilkan dapat mengakibatkan keracunan seketika (timbul toksisitas akut) terhadap para peminum, Maksudnya agar jamu-jamu jadi yang telah beredar di pasaran tidak akan menyebabkan keracunan pada para konsumen.

G. Pemasaran

Dalam usaha untuk memperluas daerah pemasaran, PT Air Mancur telah melakukan beragai upaya agar mendapat konsumen-konsumen baru. Pada tahun 1964-1974 pemasaran dilakukan melalui perantara oleh kareena itu industri jamu Air Mancur memiliki peranan penting untuk menjual ke tangan konsumen. Hal ini sangat membantu bagi industri kecil yang merupakan agen PT Air Mancur yang belum memiliki tempat pemasaran sendiri karena dengan adanya sistem ini

(21)

industri jamu Air Mancur dan pengusaha kecil tersebut saling bekerja sama membagi untung tergantung dari kesepakatan bersama.

Pada tahun 1974 agen-agen jamu Air Mancur hampir tersebar di seluruh kota di pulau Jawa seperti : Wonogiri, Semarang, Surabaya, Bandung dan Jakarta.

Pemasaran produk jamu Air Mancur tidak hanya meliputi daerah pemasaranm di pulau Jawa tetapi luar pulau jawa seperti sumatera selatan di Palembang, Medan dan Padang.

3. Periode Tahun 1974-1990 ( Tahap Puncak )

A. Tempat Usaha

Pada periode puncak tahun 1974-1990 tempat usaha atau pabrik Air Mancur mengalami perkembangan yang pesat dengan perluasan pabrik 2 hektar di Palur. Perluasan ini meliputi bagian pabrik dan ruang laboratorium.20 Berdasarkan observasi lapangan, pabrik masih menyatu dengan tempat tinggal pekerja yang berasal dari luar daerah seperti kabupaten Sragen, Wonogiri, Sukoharjo dan Tawangmangu.

Perluasan pabrik mengakibatkan jumlah tenaga kerja bertambah, mess atau tempat tinggal yang menyatu dengan pabrik sudah tidak mampu menampung jumlah tenaga kerja yang berasal dari luar kota, masyarakat sekitar Palur Banyak yang mendirikan tempat inap atau kos.

20 Wawancara dengan Agus Winarno tanggal 10 Juli 2013.

(22)

B. Permodalan

Mendirikan suatu usaha dibutuhkan suatu modal. Modal merupakan hal yang penting karena tanpa adanya modal maka usaha tidak dapat berjalan, modal diartikan sebagai suatu kolektifitas dari alat produksi yang masih berlangsung dalam proses produksi selama produksi industri tersebut memegang peranan penting yang berhubungan dengan proses produksi.21

Modal yang dibutuhkan oleh industri berbeda beda tergantung dari besar kecilnya usaha yang akan dijalaninya. Modal senantiasa kurang dan waktu untuk memproduksi sangat terbatas sehingga tak dapat memenuhi permintaan pasar, sehingga dicarilah upaya bagaimana cara meningkatkan produksi tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Produksi model tumbuk dengan alu dan lumpang tidak mungkin lagi mengikuti derap pemasaran, produksi harus dikerjakan dengan mesin. Berikut tabel modal awal PT Air Mancur dari periode awal, perkembangan dan puncak.

21 Bambang Riyanto, 1994, Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan, Yogyakarta : Yayasan Gajah Mada, Halaman 12.

(23)

Tabel 9

Modal Awal Pendirian Industri Jamu Air Mancur

No Tahun Besarnya Modal Awal

1 1963-1964(Perintisan) 100ribu-200ribu 2 1964-1974(perkembangan) 10juta-20juta 3 1974-1990 (Puncak) 50juta-100juta Sumber : Data Perusahaan Jamu Air Mancur Tahun 1963-1990.

Pada tahap puncak tahun 1974-1990 modal yang diguanakan sebesar Rp 50.000.000-Rp 100.000.000,00 dengan proses dan hasil produksi jamu yang besar akan mempengaruhi perkembangan industri jamu Air Mancur.22

C. Tenaga Kerja

Suatu industri membutuhkan beberapa tenaga kerja atau buruh untuk dipekerjakan di dalamnya dengan tujuan memperlancar jalannya usaha tersebut.

Begitu juga sebaliknya, tenaga kerja membutuhkan tempat untuk bekerja agar dapat menopang kehidupannya. Keadaan tersebut akan menciptakan suatu pola hubungan yaitu hubungan ketergantungan antara dua kelompok manusia.23

Demikian halnya dengan industri jamu Air Mancur di Desa Palur pada periode puncak jumlah tenaga kerja berjumlah 1400 orang yang berasal dari lingkungan masyarakat Palur dan daerah2 lainnya. Hubungan tersebut akan menimbulkan suatu interaksi yang baru dimana latar belakang sosial budaya dari

22 Data Perusahaan PT Air Mancur Tahun 1990.

23 Mohammad As’ad, 1980, Psikologi Industri, Yogyakarta: Liberty, Halaman 45.

(24)

masing-masing pekerja berbeda-beda. Adapun komposisi jumlah pekerja yang terdapat dalam sebuah unit industri jamu Air Mancur di Desa Palur dapat di lihat pada tabel berikut:

Tabel 10

Komposisi Jumlah Pekerja Industri Jamu Air Mancur di Desa Palur Menurut Asal Daerah Tahun 1970-1990.

No Asal Daerah Jumlah

1970 1971 1972 1973 1990

1 Kab. Karanganyar 155 370 500 779 923

2 Kab. Sragen 13 13 19 25 32

3 Kab. Wonogiri 7 7 16 24 29

4 Kab. Sukoharjo 20 20 29 34 41

5 Kota Surakarta 5 10 15 16 27

Sumber : Data Perusahaan Jamu Air Mancur Tahun 1970-1990.

Tabel di atas menggambarkan bahwa industri jamu Air Mancur di Desa Palur juga melibatkan pekerja dari luar daerah. Hal ini membawa pengaruh dalam hal interaksi sosial masyarakat desa Palur. Adanya pekerja yang berasal dari luar daerah menyebabkan interaksi masyarakat Desa Palur semakin luas.

(25)

D. Sistem Upah

Dengan mengetahui pendirian dan anjuran serta harapan Santoso bahwa industri jamu Air Mancur tidak akan membatasi usaha untuk maju, untuk itu kami telah dan akan tetap mengadakan penelitian ilmiah dan kerja sama dengan lembaga-lembaga ilmiah agar tercipta produksi jamu yang unggul dan berkualitas dan dengan tenaga kerja yang unggul dan sistem upah yang layak bagi pekerja.

Dapatlah kita ketahui bahwa Air Mancur tidak semata mata memberikan upah atau gaji yang besar tetapi mengutamakan keunggulan mutu produksinya, pegawai dan perluasan usaha. Jumlah karyawan industri Jamu Air Mancur tahun 1990 ada 1400 orang dengan gaji tetap dan 350 orang dengan hubungan kerja borongan. Jaminan bagi para karyawan tetap mendapatkan perhatian sebaik baiknya, disamping gaji tetap setiap bulan, mereka menerima tambahan 10% dari gajinya, namun tambahan ini ditabungkan di dalam Tabanas atas nama karyawan itu masing-masing.

Sakit dan meninggal dunia menjadi tanggungan perusahyaan. Pada setiap minggu para karyawan boleh berekreasi bergiliran dengan menggunakan 2 bus untuk karyawan rendahan dan mobil sedan untuk karyawan atasan. Rakyat disekitar Palur merasakan manfaat adanya perusaahn Jamu Air Mancur. Kecuali dapat menjadi karyawan atau kerja borongan, rakyat petani penanam tumbuh- tumbuhan berkhasiat dapat menjual barangnya pada Air Mancur. Tahun 1974- 1990 Setiap pagi seminggu sekali beratus-ratus orang menyetor tumbuh-tumbuhan itu pada Air Mancur. Upah yang diterima yaitu berkisar antara Rp 20.000,00 sampai Rp 30.000,00 perhari.

(26)

Upah borongan adalah upah yang diberikan berdasarkan kemampuannya menghasilkan barang di sesuaikan dengan waktu yang telah ditentukan. Upah yang diterima relatif sama tergantung dari pekerjaan yang dilakukannya. Upah yang diterima pekerja yang lembur dihitung perjam yaitu sekitar Rp 10.000,00.

E. Bahan Baku

Bahan baku yang digunakan dalam produksi jamu Air Mancur pada tahun 1974-1990 yang merupakan tahap puncak dari industri jamu Air Mancur lebih menekankan tanaman berkhasiat lokal yang bermutu tinggi.24

Pembudidayaan tidak perlu dilakukan sendiri, melainkan dapat diserahkan kepada petani, mereka diberikan bibit yang baik, ada jaminan untuk dibeli dengan harga yang layak dan kepada mereka diajarkan pula tehnik pembuatan simplisia.

Bahan baku pembuatan jamu lebih banyak dari daerah Wonogiri dan lingkungan desa Dagen Palur. Bahan baku yang dibutuhkan oleh industri jamu Air Mancur berbeda-beda tergantung dari besarnya kapasitas produksi masing-masing jenis jamu. Pada awalnya industri Jamu Air Mancur memperoleh bahan baku dari petani penanam tumbuh-tumbuhan berkhasiat disekitar pabrik, tetapi setelah mulai mengalami perkembangan yang pesat bahan baku jamu di peroleh dari daerah di luar Wonogiri maupun Palur.

24 Wawancara dengan Agus Winarno tanggal 10 Juli 2013.

(27)

F. Proses Produksi

Proses produksi pada tahap puncak 1974-1990 sama dengan proses produksi tahap perkembangan tahun 1964-1974 sudah mulai mengalami peningkatan dari sebelumnya yaitu masa perintisan. Mesin-mesin didatangkan dari Jakarta untuk memenuhi produksi dan selera konsumen yang semakin meningkat. Dalam tahap puncak mesin ada yang didatangkan dari luar negeri yaitu mesin giling dan alat-alat laboratorium.25

Proses produksi pada industri Jamu Air Mancur dibagi dalam 2 tahap yaitu:

1. Tahap pengolahan bahan bakal jamu

Pertama-tama contoh bahan bakal jamu yang akan dibeli baik yang berasal dari penanam atau pengumpul maupun dari pedagang bahan bakal jamu diperiksa dulu oleh laboratorium pemeriksaan mutu. Pemeriksaan ini meliputi misalnya : pemeriksaan keaslian bahan, kadar kandungan khasiatnya tidak berbeda jauh dari standar pabrik, kekeringannya dan sebagainya.

Untuk menghilangkan keraguan pemeriksaan juga dilakukan dengan membandingkan bahan yang telah diperiksa dan yang belum diperiksa. Sebab, banyak bahan yang bentuk serta rupanya secara visual mirip sekali dengan bahan bakal jamu asli. Setelah memenuhi syarat dan cocok harganya, maka bahan bakal jamu dimasukkan ke dalam gudang Bahan Kotor. Pada gilirannya maka masing- masing bahan bakal jamu mengalami proses pembersihan yaitu: Bahan yang

25 Wawancara dengan Agus Winarno tanggal 10 Juli 2013.

(28)

bentuknya panjang dirajang, bahan yang bentuknya besar dipotong, bahan yang banyak mengandung debu dihembus debunya dengan mesin hembus, bahan yang kotorannya berupa pasir diayak.

Setelah itu dilakukan pemilihan yaitu bahan yang berguna dipisahkan dari bahan yang tidak berguna, bahan-bahan yang tidak berguna tersebut dimusnahkan. Proses pembersih terakhir adalah pencucian. Meskipun bahan bakal jamu tersebut telah dicuci oleh petani atau pedagang, namun kebersihannya belum memenuhi syarat kebersihan Pabrik Jamu Air Mancur.Pabrik Jamu Air Mancur melakukan pencucian dalam dua tahap. Pertama-tama bahan dicuci dengan air dan akhirnya dibilas dengan cairan desinfektan ini karena kenyataannya bahan bakal jamu mengandung banyak sekali kuman. Karena, tidak sedikit bahan bakal jamu yang asalnya dari penanaman yang dipupuk dengan pupuk kandang yang justru mengandung kuman. Jadi dengan desinfektan ini kuman-kuman dan jamur-jamur yang justru menimbuklkan penyakit dapat hilang atau sedikitnya menekan angka kuman sampai serendah-rendahnya.

Setelah mengalami proses pembersih bahan bakal jamu itu dikeringkan;

caranya tergantung daripada sifat bahannya. Ada yang dapat dikeringkan dengan dijemur di bawah sinar matahari ada pula yang dikeringkan dengan mesin oven.

Pada gilirannya bahan-bahan tersebut perlu mengalami proses preboken yaitu suatu proses di mana bahan-bahan dibuat agar besarnya sama.

Sebelum proses selanjutnya dilaksanakan, contoh-contoh bahan yang telah, sehingga memudahkan proses selanjutnya. Preboken di kerjakan dengan

(29)

mesin Preboken, diperiksa oleh Laboratorium Pemeriksaan Mutu kadar kandungan berkhasiatnya, maksudnya agar mudah dibuat memenuhi parameter atau standar pabrik. Atas petunjuk laboratorium tersebut, bagian produksi membuat standar yang memenuhi syarat pabrik. Bahan bakal jamu yang telah memenuhi standar pabrik disimpan menurut jenis-jenisnya pada gudang khusus.

Selanjutnya bahan-bahan bakal jamu terus mengalami pengolahan jamu yaitu mula-mula diracik menurut resepnya.26

2. Tahap Pengolahan jamu

Bahan bakal jamu siap pakai yang sudah diracik menurut resepnya disimpan dalam gudang racikan. Pada gilirannya suatu racikan dari gudang racikan dilembutkan dengan mesin giling. Hasilnya kemudian diayak dengan mesin ayak agar mencapai derajad halus yang memenuhi syarat, akhirnya untuk menjamin kesamarataan campuran maka perlu diaduk dengan mesin pengaduk.

Hasil produksi dari mesin pengaduk merupakan jamu setengah jadi, disimpan di dalam gudang setengah jadi. Dari gudang jamu setengah jadi diambil contoh- contohnya oleh Laboratorium Pemeriksaan Mutu untuk diperiksa antara lain : kesamarataan campuran, derajat kehalusan, bebasnya dari logam-logam beracun, dicobakan terhadap hewan-hewan percobaan apakah tidak terjadi keracunan seketika.

Pemeriksaan mikrobiologis yaitu penentuan angka kuman atau apakah sudah tidak mengandung kuman-kuman dan jamur-jamur yang justru

26 Wawancara dan Observasi di Lapangan tanggal 11 Oktober 2012.

(30)

menyebabkan sakit. Laboratorium Pemeriksaan Mutu telah diberikan suatu tanda bahwa pekerjaan selanjutnya boleh dilaksanakan maka :

Jamu setengah jadi yang racikannya khusus untuk pemakaian kulit (jamu khusus untuk pemakain luar badan), mula-mula dicetak menurut bentuknya, setelah dikeringkan dan diberi bahan pewangi akhirnya dibungkus dan diberi etiket.

Jamu setengah jadi yang racikannya untuk diminum (bukan untuk pemakain luar badan), mula-mula diisikan ke dalam wadah berupa kantong terbuat dari ersat, kantong wadah ditutup dengan perekatnya dikeringkan di dalam kamar pengering, kantong-kantong kertas ersat yang telah berisi jamu dibungkus dengan kantong kertas yang berfungsi juga sebagai etiket. Jamu-jamu jadi yang telah terbungkus ini disimpan di dalam Gudang Jamu jadi, sementara Laboratorium Pemeriksaan Mutu mengambil contohnya untuk disimpan sebagai arsip dan untuk pemeriksaan ulang terutama pemeriksaan mikrobiologis, keseragaman bobot setiap bungkus yang harus memenuhi syarat-syarat khusus bagi jamu-jamu untuk pemakain kulit diperiksa juga mengenai kekerasannya, kecepatan hancurnya dan juga hal-hal lainnya yang juga harus memenuhi syarat.

Bagian Gudang jamu jadi baru berani mengirimkan ke pemasaran yang memerlukan, bila telah menerima sertifikat dari Laboratorium Pemeriksaan Mutu.27

Dari uraian di atas terlihat bahwa proses produksi jamu “Air Mancur”

mulai dari bahan bakal jamu sampai menjadi jamu-jamu paling sedikit mengalami

27 Data perusahaan PT Air Mancur Tahun 1990.

(31)

empat tahap pemeriksaan oleh Laboratorium Pemeriksaan Mutu Pabrik Jamu “Air Mancur”. Selain empat tahap pemeriksaan mutu tersebut masih ada pemeriksaan lain yang istilahnya : in proses kontrol, artinya pemeriksaan (kontrol) yang dilakukan oleh Bagian Produksi. Misalnya, pada waktu mengisikan serbuk jamu ke dalam kantong kertas ersat maka setiap 25 kantong berisi jamu, diambil 1 kantong sebagai contoh untuk dikontrol bobotnya dengan timbangan khususnya untuk meyakinkan apakah syarat keseragaman bobot sudah terpenuhi.

Jamu yang telah beredar di pasaran secara periodik(kurang lebih tiga bulan) diambil contohnya untuk diperiksa ulang oleh Laboratorium Pemeriksaan Mutu. Proses “pembersihan” dilakukan :

Pemilihan yaitu pemisahan bahan yang berguna dari yang tidak berguna, bermaksud agar bahan-bahan yang tidak berguna tidak tercampur di dalam jamu jadi sehingga tidak mempengaruhi khasiatnya yang manjur. Pembuangan bahan yang tak berguna ini sering mencapai 40% dari bobot semula, namun hal tersebut tetap dilaksanakan demi kemanjuran yang tepat pada jamu jadinya.

Pencucian, dilakukan pembilasan dengan cairan desinfektan, bermaksud menekan angka kuman dan agar jamu-jamu tidak mengandung kuman-kuman dan jamur-jamur yang justru menyebabkan sakit (patogen).

Desinfektan tidak hanya dilakukan terhadap bahan bakal jamu namun dilakukan juga terhadap ruangan-ruangan produksi dan para karyawan bagian produksi.

(32)

Sebelum pengolahan jamu dilaksanakan, lebih dahulu “bahan bakal jamu”

harus diproses menjadi “bahan bakal jamu siap pakai” sehingga “bahan bakal jamu siap pakai” memenuhi parameter atau standar Pabrik Jamu Air Mancur. Ini mempunyai makssud agar jamu jadi yang dihasilkan mempunyai khasiat yang konstan, sebab perlu diketahui bahwa kadar kandungan berkhasiat dari bahan- bahan jamu sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor luar. Misalnya, keadaan tanah, curah hujan, pemupukan, umur pada waktu panen dan sebagainya sehingga mengakibatkan sesuatu bahan bakal sejenis yang berasal dari daerah yang berbeda akan berbeda pula kadar kandungan berkhasiatnya. Inilah pentingnya mengapa harus diselenggarakan sesuatu cara sehingga bahan bakal jamu yang digunakan kandungan berkhasiatnya harus memenuhi syarat tertentu ( parameter atau standar Pabrik ), sehingga mengakibatkan jamu jadi yang dihasilkan mempunyai khasiat yang konstan.

Pada pemeriksaan mutu oleh Laboratorium Pemeriksaan Mutu dilaksanakan juga percobaan terhadap hewan. Percobaan itu untuk mengetahui apakah jamu-jamu yang dihasilkan dapat mengakibatkan keracunan seketika (timbul toksisitas akut) terhadap para peminum, Maksudnya agar jamu-jamu jadi yang telah beredar di pasaran tidak akan menyebabkan keracunan pada para konsumen.

(33)

G. Pemasaran

Pada masa puncak pemasaran produk Air Mancur mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Indusrti Jamu Air Mancur semakin melebarkan usahanya untuk dapat diterima oleh masyarakat luar negeri, khusunya di kawasan Asia, seperti : Taiwan, Brunai, Malaysia, Singapura dan terus dikembangkan ke berbagai kawasan Timur Tengah, Eropa, Australia dan negara lainnya.28 Prestasi besar ini diraih karena PT Air Mancur mampu memahami selera konsumennya tebukti dari begitu banyaknya jenis banyaknya jamu yang telah diproduksi, dan pada tahun 1990 terdapat lebih dari 25 merk jamu dengan beberapa kategori:

Jamu Khusus Wanita, Jamu Khusus Pria, Jamu Pria Wanita, Jamu untuk Pengobatan Luar, Produk Kosmetika dan Produk Makanan dan Minuman Kesehatan.29

Menyadari bahwa sebagian besar pengguna produk-produk Air Mancur adalah umat Islam, maka PT Air Mancur selalu berupaya untuk menjaga produk- produknya agar tetap halal, sehingga aman dikonsumsi oleh umat Islam. Hal tersebut ditempuh dengan senantiasa melakukan seleksi ketat dalam memilih bahan baku serta menjaga setiap tahapan proses produksinya agar tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Atas jerih payah itulah, pada tanggal 14 Februari 1988 PT Jamu Air Mancur telah berhasil memperoleh sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia untuk produk-produk jamu Air Mancur.30

28 Wawancara dengan Wahyudi tanggal 14 November 2012.

29 Wawancara dengan Djeki Sutarjo tanggal 12 Januari 2012.

30 Suara Merdeka Tanggal 2 Maret 1988.

(34)

Pada periode ini PT Air Mancur sudah dapat menunjukkan eksistensinya dalam mengeluti usaha pembutan jamu. Kesuksesan yang dicapai oleh industri Jamu Air Mancur telah membuat perubahan yang besar terhadap kehidupan mereka sendiri dan daerahnya. Desa Palur telah banyak dikenal oleh masyarakat luas sebagai tempat industri jamu Air Mancur. Selain itu kehidupan ekonomi pengusaha sudah banyak yang berubah menjadi lebih baik dan kehidupan ekonomi para pekerjapun berubah. Mereka sudah dapat merasakan hasil dari jerih payah mereka selama ini.

Pemasaran produk jamu Air Mancur tidak hanya meliputi pasaran lokal saja seperti Surakarta, Surabaya, Semarang, Jakarta dan kota-kota besar lainnya, tetapi juga telah menembus pasar luar negeri. Hal ini terjadi karena keaktifan industri jamu Air Mancur dalam memperkenalkan produknya.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Festival merupakan acara besar suatu bangsa yang dapat membuat nilai bangsa tersebut menjadi meningkat, karena itu sebagian besar festival di negara- negara

Batuk efektif merupakan teknik batuk efektif yang menekankan inspirasi maksimal yang dimulai dari ekspirasi dengan merangsang terbukanya system kolateral, meningkatkan

Persaingan yang kompetitif dalam industri kontruksi menuntut setiap industri mengembangkan strategi pemasaran yang berfokus pada konsumen dalam mencapai tujuan

[r]

Praktik Family Centered Care yang dilakukan dengan baik oleh perawat di ruang Dahlia Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang, mendukung penelitian Dunst dan

Berdasarkan konsep routing dinamis seperti dijelaskan diatas maka dalam hal ini proses routing dianalogikan menjadi sebuah proses evakuasi bencana kebakaran pada sebuah

Disusun guna memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Diploma (Amd.RMIK) Program Studi DIII