• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user 12 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka 1. Pers

a. Pengertian Pers.

Pers secara etimologis berasal dari bahasa Inggris yaitu press, dalam bahasa Indonesia yang berarti percetakan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) secara harfiah pers berarti cetak dan secara maknawiah berarti penyiaran secara tercetak atau publikasi secara dicetak (Poerwodarminto W.J.S, 1985).

Pengertian pers menurut Rachmadi (1990), dibatasi pada pengertian luas dan pengertian sempit. Dalam pengertian luas, pers mencakup semua media komunikasi massa, seperti radio, televisi, dan film yang berfungsi memancarkan atau menyebarkan informasi, berita, gagasan, pikiran, atau perasaan seseorang atau sekelompok orang kepada orang lain. Berdasarkan pengertian itu kemudian dikenal dengan istilah jurnalistik radio, jurnalistik televisi, jurnalistik pers. Dalam pengertian sempit, pers hanya digolongkan produk-produk penerbitan yang melewati proses percetakan, seperti surat kabar harian, majalah mingguan, majalah tengah bulanan dan sebagainya yang dikenal sebagai media cetak.

Menurut Soekarno (1986), pers adalah lembaga kemasyarakatan yang berfungsi sebagai salah satu media komunikasi massa yang bersifat umum, mempunyai karya berupa penerbitan yang teratur pada jadwal terbitannya.

Sedangkan menurut Prakoso (1988), pers adalah lembaga kemasyarakatan alat revolusi yang mempunyai karya sebagai salah satu media komunikasi yang bersifat umum berupa penerbitan yang teratur waktu terbitannya diperlengkapi atau tidak diperlengkapi dengan alat-alat milik sendiri berupa percetakan, alat-alat foto, klise, mesin-mesin stensil atau alat-alat tekhnik lainnya.

(2)

commit to user

Pers mempunyai dua sisi kedudukan, pertama pers merupakan medium komunikasi yang tertua di dunia, kedua pers sebagai lembaga masyarakat atau institusi sosial merupakan bagian integral dari masyarakat dan bukan merupakan unsur yang asing dan terpisah dari masyarakat. Sebagai lembaga masyarakat pers mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lembaga-lembaga masyarakat lainnya. Pers adalah kegiatan yang berhubungan dengan media dan masyarkat luas, kegiatan tersebut mengacu pada kegiatan jurnalistik yang sifatnya mencari, menggali, mengumpulkan, mengolah materi, dan menerbitkannya berdasarkan sumber- sumber yang terpercaya dan valid (Soekarno, 1986).

Berkaitan dengan itu, maka yang dimaksud pers dalam penelitian ini adalah pers dalam arti sempit, yaitu yang menyangkut produk penerbitan berupa surat kabar. Pers atau media massa lahir untuk menjembatani komunikasi antar massa. Massa adalah masyarakat luas yang heterogen, tetapi saling bergantungan satu sama lain. Ketergantungan antar massa menjadi penyebab lahirnya media yang mampu menyalurkan hasrat, gagasan, dan kepentingan antar individu agar diketahui dan dipahami oleh orang lain. Pers juga berperan untuk menghubung- kan pesan antara masyarakat dan pemerintah.

b. Teori-teori Pers

Pers berkembang sangat cepat, tidak hanya pada perkembangan bentuk manajemen percetakan namun juga keilmuan yang mempelajari pers. Menurut Siebert, dkk. (1965) dalam Haryanto (2006), pada tahun 1965 muncul tentang konsep-konsep teori pers, yang sampai sekarang definisinya menjadi konsep klasik untuk membahas hubungan antara pers dan pemerintah di berbagai negara.

Menurut Pendit (1986), mengutip pernyataan Siebert, dkk. (1965) me- nyebutkan bahwa empat macam teori pers yang berkembang di dunia yaitu meliputi teori pers otoriter, libertarian, tanggung jawab sosial, dan pers Komunis.

Keempat teori tersebut mengacu pada satu pengertian pers sebagai pengamat, guru dan forum yang menyampaikan pandangannya tentang banyak hal yang mengemuka di tengah-tengah masyarakat.

(3)

commit to user

Menurut Satrio (2011) teori pers yang diutarakan oleh Siebert, dkk.

(1965), telah menciptakan sebuah karya klasik yaitu, paradigma dominan dalam menganalisis sistem-sistem media di dunia, khususnya dalam menilai tingkat kebebasan pers di berbagai negara dan wilayah dunia. Meskipun kemudian muncul teori-teori pers sesudahnya, seperti jurnalisme pembangunan, jurnalisme advokasi, media revolusioner dan media demokratik-partisipan, tetapi teori-teori itu hanya pelengkap dari empat teori dasar yang sudah ada sebelumnya.

1) Teori Pers Otoriter

Menurut Rachmadi (1990), teori pers otoriter merupakan sistem tertua di antara empat sistem pers di dunia. Teori ini lahir pada abad ke-15 sampai abad ke-16 pada masa bentuk pemerintahan bersifat kerajaan absolut. Negara yang menganut teori pemerintahan otoriter menggunakan media masa sebagai alat penunjang negara (kerajaan) dan pemerintah dengan kekuasaan untuk memajukan rakyat sebagai tujuan utamanya. Sistem otoriter menempatkan media massa berada di bawah pengawasan negara. Pemerintah mempunyai kontrol ketat dalam mengawasi seluruh kegiatan media massa.

Sistem otoriter mengatur media untuk mendukung dan memajukan kebijakan pemerintah untuk mencapai tujuannya. Masalah utama dalam sistem ini adalah membuat serta melaksanakan pengawasan yang efektif terhadap media masa, terutama yang dimiliki swasta. Mekanisme kontrol yang dijalankan antara lain melalui sistem perizinan, sensor oleh pemerintah, pajak khusus, undang-undang dan peraturan, yang tujuannya untuk mempertahankan bangsa dan negara dari pengkhianatan dan makar (Pendit, 1986).

Menurut Schramm (1965) dalam Siregar (1986), penganut sistem otoriter tidak mempersoalkan diskusi tentang sistem politik secara filsafati umum. Pemerintah hanya melarang adanya tindakan mengkritik secara lang- sung terhadap para pemimpin politik yang sedang berkuasa. Pemerintah juga melarang keras adanya kritik terhadap kebijaksanaan atau proyek pemerintahan yang sedang berjalan, terlebih upaya untuk menggulingkan kekekuasaan.

(4)

commit to user 2) Teori Pers Libertarian

Menurut Schramm (1965) dalam Munandar (2010) teori pers libertarian lahir sebagai akibat dari tumbuhnya faham-faham demokrasi dalam bidang politik, kebebasan agama, ekspansi perdagangan bebas dan diterimanya ekonomi laissez faire. Teori ini tumbuh pada abad ke-18 dan berkembang abad ke-19. Teori libertarian beranggapan bahwa pers harus mempunyai kebebasan yang seluas-luasnya untuk membantu manusia dalam usahanya mencari kebenaran. Kebebasan pers menjadi hal yang sangat pokok, karena kebebasan pers menjadi ukuran atas kebebasan yang dimiliki oleh setiap manusia. Bahkan paham ini menganggap pers sebagai kekuatan ke-empat (fourth estate) di luar pemerintahan dan bahkan dapat menentangnya.

Paham libertarian merupakan kebalikan dari paham authoritarian.

Paham authoritarian memandang individu berada di bawah eksistensi negara, sedangkan libertarian memandang bahwa eksistensi negara sebenarnya menjaga agar ada kesempatan bagi warga negara untuk mengembangkan potensi individu dalam mencapai kebahagiaan. Bilamana pemerintah yang mewakili individu gagal dalam melaksanakan tujuannya, maka pemerintah dapat digantikan. Masyarakat juga berhak berfikir dalam memecahkan persoalan negara (Siregar, 1986).

Menurut Lesmana (2005), Fungsi media libertarian pada era modernisasi adalah untuk memberi informasi dan hiburan, serta bertindak sebagai penjaga (watchdog) terhadap pemerintah. Media libertarian mayoritas dimiliki oleh swasta. Kontrol terhadap media Libertarian kebanyakan dilakukan melalui proses “pembenaran-sendiri” (self-righting process) dan pengadilan, sekalipun perizinan, sensor atau perampasan materi penghinaan dan penghentian publikasi surat kabar juga digunakan. Sensor sukarela juga terkadang dipraktikkan, sementara hak untuk mendapat akses informasi di pemerintahan pun dituntut secara aktif.

(5)

commit to user

3) Teori Pers Tanggung Jawab Sosial

Teori Tanggung Jawab Sosial merupakan perkembangan lebih lanjut dari teori Libertarian yang pertama kali dicetuskan pada abad 20 di Amerika Serikat oleh Komisi Kebebasan Pers. Teori tanggung jawab sosial lebih menekankan pada tanggung jawab sosial pers terlepas dari kebebasan yang dimilikinya. Pers mempunyai fungsinya untuk memberikan informasi, menghibur dan menjual, selain itu pers juga berkewajiban untuk mengangkat konflik ke ranah diskusi. Teori ini lahir sebagai protes terhadap kebebasan yang mutlak dalam teori libertarian yang mengakibatkan tumbuhnya kemerosotan moral pada masyarakat. Teori Pers Tanggung Jawab Sosial juga dianggap sebagai revisi terhadap teori-teori sebelumnya, dan dimaksudkan agar pers dapat bertindak dan melakukan tugasnya sesuai dengan standar hukum tertentu (Pendit, 1986).

4) Teori Pers Komunis

Rachmadi (1990) menyebutkan bahwa teori Komunis tumbuh pada abad ke-20 sebagai akibat sistem pemerintahan Komunis yang dijalankan di Uni Soviet. Sistem ini berlandaskan pada ideologi Marxis yang diciptakan oleh Karl Marx tentang perubahan sosial. Teori pers ini sering disebut dengan istilah pers totaliter Soviet (Soviet Totalitarian) atau teori pers Komunis Soviet (Soviet Communist).

Menurut Wilbur Schramm (1965) dalam teori Komunis, media massa merupakan alat pemerintah (partai) dan merupakan bagian integral dari negara.

Posisi media dalam masyarakat Komunis adalah bagian dari alat yang dimiliki negara dan harus menjadi propagandis kolektif atau pengobar semangat kolektif dan penata kolektif. Media massa harus tunduk pada pemerintah dan kontrol dijalankan langsung dari pemerintah atau partai. Dalam teori Komunis kritik diizinkan oleh penguasa, namun dilarang untuk mengkritik terhadap dasar ideologi partai.

(6)

commit to user

Media massa mengemban tugas dari pemerintah untuk meng- interpretasikan doktrin dan untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan partai.

Media massa harus melakukan yang terbaik bagi negara, partai serta pemimpin negara dan elit partai. Pemerintah memiliki suatu divisi khusus untuk melakukan penyensoran pada pers, cara pengontrolan lain adalah dengan penunjukan editor, arahan-arahan yang banyak tentang isi media, tajuk dan kritik media yang harus disesuaikan dengan keinginan pemerintah (Pendit, 1986).

Pers Indonesia jika ditilik dalam teori-teori yang dipaparkan di dalam penelitian ini, maka pers di Indonesia pada masa Orde Baru termasuk ke dalam teori Pers Libertarian. Koran Indonesia Raya yang dijadikan sebagai bahan penelitian, sering disebut dengan istilah mucrakking jurnalisme. Istilah itu biasa disematkan pada koran yang menjalankan fungsi kontrol ketatnya terhadap pemerintah. Indonesia Raya termasuk ke dalam kategori itu, koran ini telah menunjukkan fungsinya selain sebagai media pemberi informasi dan menghibur masyarakat, namun juga menempatkan posisinya sebagai watchdog atau pengontrol pemerintahan. Sikap tersebut bisa dilihat melalui laporan tulisan yang di muat dalam koran Indonesia Raya.

c. Fungsi dan Peranan Pers

Fungsi dan peranan setiap institusi berbeda-beda. Demikian pula dengan pers sebagai lembaga institusi sosial mempunyai fungsi yang penting di dalam komunikasi massa. Fungsi pers pada hakikatnya bersifat relatif dan berkaitan dengan keperluan yang beragam di dalam masyarakat dan negara yang berbeda- beda. Penerapan fungsi pers juga berbeda di negara satu dengan negara lainnya, penerapan fungsi pers tersebut tergantung dari sistem sosial dan sistem politik yang dianut oleh suatu negara ( Rachmadi, 1990).

(7)

commit to user 1) Fungsi Pers

Pers turut berperan dalam proses perubahan sosial masyarakat, sebagai bagian media komunikasi publik. Pers dapat memberikan sumbangan yang cukup besar sebagai alat perubahan sosial di dalam usaha pembangunan bangsa. Sebagai lembaga kemasyarakatan, pers mengemban fungsi untuk mendukung kemajuan dan peningkatan suatu kehidupan di dalam masyarakat yang menjadi sumber eksistensinya (Atmakusumah, 2009)

Fungsi pers secara umum adalah sebagai alat penyebar gagasan, penyalur informasi, cita-cita, serta pikiran manusia. Secara khusus pers berfungsi sebagai alat pengontrol sosial. Wilbur Schramm (1956), menjelaskan bahwa surat kabar merupakan sumber informasi terperinci dan interpretasi mengenai masalah-masalah pada umumnya di masyarakat.

Pers sebagai medium komunikasi mempunyai tiga fungsi mendasar, yaitu (a) Memberi informasi yang objektif kepada pembaca mengenai apa yang terjadi didalam lingkungannya, negaranya, dan yang terjadi di dunia, (b), Mengulas berita-beritanya dalam tajuk rencana dan membawa perkem-bangan menjadi fokus (sorotan). (c) Menyediakan jalan bagi orang yang akan menjual barang dan jasa untuk memasang iklan (Pendit, 1986).

Edwin Emery dalam Rachmadi (1990), menambahkan fungsi surat kabar sebagai berikut: (a) Memperjuangkan kepentingan masyarakat dan membantu meniadakan kondisi yang tidak diinginkan, (b) Menyajikan hibur-an kepada pembacanya dalam bentuk ceritera bergambar, ceritera pendek dan ceritera bersambung, (c) Melayani pembaca dengan menyediakan penasihat, biro informasi, dan pembelaan hak-hak pembaca. Pers akan menjadi integral dengan masyarakat apabila tugas-tugas tersebut dapat dipenuhi oleh surat kabar.

Pers juga mempunyai fungsi-fungsi lain di dalam masyarakat, yaitu (a) fungsi pendidik, (b) fungsi menghubungkan, (c) fungsi sebagai penyalur dan pembentuk pendapat umum, (d) fungsi kontrol sosial. Keempat fungsi

(8)

commit to user

tersebut melekat dalam media massa secara utuh atau harus dilaksanakan secara bersama-sama dan tidak boleh mengutamakan satu atau dua fungsi tetapi mengabaikan fungsi-fungsi lainnya (Pareno, 2005).

Fungsi pers pada hakikatnya adalah suatu tugas khusus yang dibe- bankan kepada media massa. Fungsi pers sering dijadikan sebagai pijakan bagi media massa untuk mengukur komitmen pers atau media massa dalam membangun dan memperjuangkan hak-hak masyarakat. Pers mempunyai kedudukan yang sangat strategis untuk merubah dan membangun kondisi soial masyarakat apabila dapat menjalankan fungsi pers dengan utuh.

2) Peranan Pers

Pers mempunyai peranan penting sebagai alat perubahan sosial dan pembaharuan masyarakat. Pers atau surat kabar dapat berperan dalam penyampaian kebijaksanaan dan program pembangunan kepada masyarakat.

Sebaliknya, masyarakat juga dapat menggunakan pers sebagai penyalur aspirasi dan pendapat serta kritik atau kontrol sosial. Pers dapat berperan sebagai media penghubung yang efektif antara pemerintah dan masyarakat (Soekarno, 1986).

Peranan dan fungsi pers selain melakukan pemberitaan yang objektif kepada masyarakat, juga berperan dalam pembentukan pendapat umum. Pers juga dapat berperan aktif dalam membangun kesadaran politik masyarakat.

Peranan pers dan media massa lainnya yang paling pokok dalam pembangunan adalah sebagai agen perubahan, agent of change. Letak peranannya adalah membantu mempercepat proses peralihan masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern. Pers dan media massa sebagai agen perubahan sosial memiliki beberapa tugas yang dapat dilakukan untuk menunjang pembangunan sebagai salah satu tempat terjadinya pembaharuan dan perubahan sosial (Rachmadi, 1990).

Fungsi dan peranan pers juga diatur dalam Undang-undang.

Berdasarkan ketentuan pasal 33 UU No. 40 tahun 1999 tentang pers, fungsi

(9)

commit to user

pers ialah sebagai media informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial.

Soekarno (1986), menyebutkan bahwa Pasal 6 UU Pers tahun 1982 menegas- kan bahwa pers nasional melaksanakan peranan sebagai berikut:

memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui, menegakkkan nilai- nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia, serta menghormati kebhinekaan mengem-bangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benar melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terha-dap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum, memper-juangkan keadilan dan kebenaran (hlm. 132).

Berdasarkan fungsi dan peranan pers yang demikian, lembaga pers sering disebut sebagai pilar keempat demokrasi (the fourth estate) setelah lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif, serta pembentuk opini publik yang paling potensial dan efektif. Fungsi peranan pers itu baru dapat dijalankan secara optimal apabila terdapat jaminan kebebasan pers dari pemerintah.

Menurut Oetama (1975), kebebasan pers menjadi syarat mutlak agar pers secara optimal dapat melakukan peranannya. Peranan pers tidak dapat dijalankan apabila tidak ada jaminan terhadap kebebasan pers. Oemar Seno Adjie (1977), menjelaskan bahwa pemerintahan Orde Baru di Indonesia merupakan rezim pemerintahan yang sangat membatasi kebebasan pers. Hal itu ditandai dengan keluarnya Peraturan Menteri Penerangan No. 1 tahun 1984 tentang Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), yang dalam praktiknya ternyata menjadi senjata ampuh untuk mengontrol isi redaksional pers dan pembredelan.

Albert Camus (1956), mengatakan bahwa pers bebas dapat berdampak baik dan dapat buruk, namun tanpa adanya kebebasan pers, yang terjadi adalah pembodohan terhadap masyarakat. Oleh karena salah satu fungsi pers ialah melakukan kontrol sosial, maka pers melakukan kritik dan koreksi terhadap segala sesuatu yang menurutnya tidak beres dalam segala persoalan. Karena itu, ada anggapan bahwa pers lebih suka memberitakan hah-hal yang salah dari

(10)

commit to user

pada yang benar. Menurut Pareno (2005), Pandangan negatif mengenai kontrol sosial media pers, muncul karena masyarakat melihat peran dan fungsi pers tidak secara komprehensif, melainkan parsial dan ketinggalan jaman. Karena kenyataannya, pers sekarang juga membe-ritakan keberhasilan seseorang, lembaga pemerintahan atau perusahaan yang meraih kesuksesan serta perjuangan untuk tetap hidup di tengah berbagai kesulitan.

d. Kebebasan Pers.

Menurut Kleden dalam Oetama (1986), pers sebagai media penghubung antara masyarakat dengan pemerintah atau antara masyarakat sendiri, akan menjalankan peran dan fungsi sebaik-baiknya jika diberikan kebebasan.

Kebebasan bagi pers dipandang sebagai hak yang paling hakiki dan menjadi sumber eksistensi dalam menjalankan fungsi dan peranan pers sebagai alat penghubung informasi. Meskipun pers tidak termasuk di dalam sub sistem dari pemerintahan, namun perlakuan pemerintah terhadap pers sebagai peme-gang kekuasaan negara sangat berpengaruh dalam menjamin keberlangsungan kebebasan pers.

Menurut Poerwodarminto W.J.S, (1985) kebebasan berasal dari kata dasar bebas, yang mempunyai arti lepas, tidak terhalang, tidak diwajibkan, merdeka, dan tidak memaksa. Menurut Atmakusumah (1984), istilah kebebasan pers sendiri, merupakan suatu kumpulan ide atau gagasan dari kebebasan berfikir, kebebasan berbicara dan kebebasan menyatakan pendapat secara lisan atau tulisan. Kebebasan pers juga bersumber pada hak asasi manusia dan hak kebebasan dasar manusia, yakni kemerdekaan penerangan, kemerdekaan berpikir dan kemerdekaan berbicara.

Menurut Rachmadi (1990), kebebasan pers adalah bagian dari kemerdekaan penerangan yang di dalamnya termasuk freedom of opinion dan

freedom of expression yang mempunyai akar lebih dalam, yaitu di dalam kemauan manusia untuk mencari ilmu pengetahuan, mencari kebenaran dan

(11)

commit to user

menentang keburukan, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Sedangkan, kebebasan pers dapat diartikan sebagai kebebasan berpikir dan mengeluarkan pendapat. Kebebasan merupakan harta kekayaan manusia yang paling tinggi nilainya dan sebagai atribut yang bermoral yang tidak dapat dipisahkan dari seseorang. Dalam banyak Undang-undang di berbagai negara kebebasan pers sering disebut sebagai satu bagian dari kemerdekaan untuk mempunyai dan menyatakan pendapat serta kebebasan berpikir melalui perkataan, tulisan, lukisan, atau cara-cara lainnya.

Soeharto (1985) dalam Atmadi (1985) sewaktu meresmikan pembukaan monumen pers di Solo, mengatakan bahwa kebebasan dalam arti kebebasan pers adalah kebebasan yang bertanggung jawab, hakikatnya mencakup kebebasan untuk tidak memuat berita jika memang terdapat alasan-alasan yang tepat untuk tidak memuatnya. Kebebasan pers harus mampu menjaga hubungan baik antara pemerintah dengan masyarakat, terutama dapat melindungi masyarakat dari isu- isu yang dapat menimbulkan keresahan. Presiden Soeharto juga menyatakan bahwa kebebasan seseorang diakui sejauh tidak mengganggu orang lain.

B.M. Diah dalam Ahmadi (1990), mengutarakan bahwa pers yang bebas dan bertanggung jawab adalah pers yang mempunyai keberanian dalam bersikap.

Keberanian yang dimaksudkan adalah sikap pers yang mempunyai tekad kuat dalam membina demokrasi dan menentang tirani pemerintahan. Jakob Oetama (2001) mengartikan kebebasan dan tanggung jawab pers sebagai sebuah amanah dalam memperjuangkan amanat penderitaan rakyat serta memperjuang-kan kebenaran dan keadilan. Pers selayaknya harus mampu mencerminkan aspi-rasi rakyat serta pandai dalam menangkap serta memantulkan kecenderungan- kecenderungan perkembangan dalam masyarakat.

Kebebasan pers berbeda dengan pers yang bebas. Menurut Batubara dalam Surjomihardjo (2002) pers yang bebas adalah pers yang tidak bisa menjalankan fungsi dan perannya dengan baik dan tidak dapat mentaati kode etik jurnalisme. Pers yang bebas sering disebut dengan istilah pers yang kebablasan,

(12)

commit to user

karena dengan kebebasan yang dimiliki, justru digunakan sebagai alat kepentingan kelompok tertentu, sehingga tanpa disadari pers justru menjadi faktor penyebab terjadinya konflik di kalangan masyarakat pembaca. Di sisi lain, untuk menarik perhatian pembaca, banyak penerbitan pers yang menerapkan teknik penyajian judul berita sensasional, menggemparkan dan bahkan menakut-kan.

Judul berita ini hampir semuanya dibuat berdasarkan opini wartawan, sehingga cenderung bersifat evaluatif, subyektif, konklusif dan tidak faktual.

Secara juridis formal kebebasan pers telah dijamin oleh hukum. Jaminan

hukum ini dapat ditemukan dalam Pasal 28 UUD 1945, yang berbunyi

“kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan Undang-undang”. (Saptohadi, 2011:

123). Walaupun secara eksplisit isi Pasal 28 UUD 1945 tidak menyebutkan kebebasan pers secara nyata, namun secara implisit ide kebebasan pers itu sudah terselip di dalamnya.

Prinsip mengenai kebebasan pers juga dapat ditemukan dalam Undang- undang Pokok Pers, yaitu Undang-undang Nomor 11 Tahun 1966 yang diubah dan disempurnakan oleh Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1967 dan Undang- Undang Nomor 21 Tahun 1982, khususnya yang menyangkut fungsi kewajiban dalam bentuk yang positif sebagaimana tertuang dalam pasal 3, yang berbunyi

“Pers mempunyai hak kontrol, kritik, dan koreksi yang konstruktif”, maupun dalam bentuk negatif yang tercantum dalam pasal 4 yang berbunyi, “Terhadap Pers Nasional tidak dikenakan sensor dan pembredelan” (Djoko Prakoso, 1985:

89).

Kebebasan pers juga tertuang dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1982 pasal 5 Undang-undang Pokok Pers, imbangan terhadap kebebasan terse-but berupa tanggung jawab dalam pelaksanaan fungsi, kewajiban, dan hak pers selalu disebutkan dalam satu nafas dengan kebebasan tersebut. Pertama pasal 5 ayat 1, Kebebasan pers sesuai dengan hak azasi negara dijamin. kedua pasal 5 ayat 2, Kebebasan pers ini didasarkan pada tanggung jawab nasional dan pelaksanaan

(13)

commit to user

pasal 2 dan 3 undang-undang ini. Pasal tersebut menyiratkan makna bahwa pemerintah melihat kebebasan dan tanggung jawab sebagai satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan satu sama lain, karena tanggung jawab nasional etika para wartawan merupakan pilar-pilar yang menunjang tumbuhnya dan tegaknya kebebasan pers (F.Rachmadi, 1990: 46).

Pengertian kebebasan dan tanggung jawab dalam Demokrasi Pancasila pada masa Orde Baru juga menuntut adanya keseimbangan yang harmonis antar keduanya. Demokrasi Pancasila menekankan bahwa kebebasan individu tidaklah mutlak, tetapi harus diselaraskan dengan tanggung jawab terhadap kepentingan bersama. Pemerintahan pada masa Orde Baru seringkali melakukan pembatasan pada kebebasan pers dengan pertimbangan demi tercapainya stabilitas dan ketertiban. Penerapan sistem ini menyebabkan posisi kebebasan pers tidak bisa stabil, di waktu tertentu pers bisa menikmati kebebasan yang longgar, tetapi disaat keadaan suhu politik menjadi panas, maka pengawasan pemerintah terhadap pemberitaan pers akan semakin ketat (Tribuana Said, 1988).

Pada masa Orde Baru kebebasan pers Indonesia pernah dikebiri oleh pemerintah. Bebarapa surat kabar, termasuk surat kabar Indonesia Raya pada tahun 1974 disaat terjadi peristiwa Malari telah dilarang terbit secara paksa oleh pemerintah. Kebebasan pers yang sangat diharapkan pada masa awal rezim Orde Baru akhirnya kandas. Pemerintah Orde Baru menunjukkan sikap yang sangat tertutup terhadap kritik, dan tidak toleran terhadap pendapat serta pandangan yang berbeda. Pelarangan terbit beberapa surat kabar tersebut dilakukan tanpa adanya proses pengadilan. Pemerintah hanya memberikan pilihan, kepada surat kabar yang ingin terbit kembali harus menandatangani perjanjian yang membatasi kebebasan pers.

(14)

commit to user 2. Negara

a. Pengertian Negara.

Soenarko (1981), memberikan pengertian bahwa negara adalah organisasi masyarakat yang mempunyai daerah tertentu, di mana Kekuasaan negara berlaku sepenuhnya sebagai souverien atau kedaulatan. Pendapat serupa dikemukakan oleh Miriam Budiharjo (1977) yang memberikan pengertian negara dari sudut pandang politis suatu daerah teritorial, sehingga negara mencakup antara lain, wilayah, penduduk, pemerintahan dan kedaulatan. Sedangkan Franz Magnin Suseno (1988) menambahkan bahwa negara sebagai institusi politik pusat yang menjamin kesatuan dan stabilitas masyarakat. Negara sebagi institusi politik pusat mempunyai makna luas, bisa diartikan sebagai kesatuan eksekutif, aparat administratif serta aparat keamanan dan pertahanannya, bisa pula diartikan negara bukan hanya lembaga eksekutif beserta aparatnya saja, tetapi mencakup lembaga legislatif dan lembaga yudiktif atau negara bisa diartikan sebagai suatu sistem pemerintahan secara keseluruhan.

Gramsci dalam Budiman (1982) melihat negara selain sebagai lembaga- lembaga yang disebutkan diatas, juga memasukkan lembaga-lembaga non-negara / non-pemerintah atau lembaga-lembaga / organisasi-sosial-politik-kebudayaan masyarakat yang ikut memproduksi ideologi negara sebagai bagian dari negara.

Dengan demikian, maka lembaga keluarga, lembaga keagamaan, lembaga pendidikan, lembaga kesenian, media massa dan lembaga lain-lainnya adalah bagian dari negara. Menurut Abar (1995), dalam konteks pengertian Gramsci, pers termasuk sebagai lembaga sosial kemasyarakatan bisa berubah sebagai alat/lembaga negara, jika pers turut memproduksi atau memsosialisasikan ideologi negara, meskipun pers tidak dikelola oleh unsur negara.

Luis Althuser (1984) dalam (Arnof dan Salman, 2008), menjelaskan secara eksplisit bahwa negara dipahami sebagai aparatus represif. Negara menurutnya adalah mesin represi yang memungkinkan kelas-kelas penguasa (kelas borjuis dan kelas pemilik tanah pada abad ke-19) untuk memastikan

(15)

commit to user

dominasinya terhadap kelas pekerja. Sehingga memungkinkan pihak yang berkuasa bisa menundukkan pihak pekerja dalam proses pengisapan nilai lebih.

Sedangkan Ben R.O.G Anderson (1983) dalam Akbar (1995) melihat negara sebagai institusi yang punya kepentingan sendiri yang tidak selalu sama dan bahkan sering berbeda dengan kepentingan masyarakat. Negara sering menjadi miliknya sendiri. Negara untuk negara (state “of its own”, state quo state).

Soemarsaid Moertono (1985), menjelaskan negara sebagai pranata sosial yang meliputi kawula yaitu hamba yang diatur dan diperintah dan gusti yaitu tuan yang mengatur dan memerintah.

Berkaitan dengan penempatan posisi dan peran politik Raja, perspektif pemikiran politik Jawa mendasarkan diri pada dua landasan. Pertama, dalam pemikiran Jawa diakui adanya paralelisme antara makro kosmos dengan mikro kosmos. Antara dunia Tuhan dengan dunia manusia hidup. Kedua ada kebutuhan interaksi antara makro kosmos dengan mikro kosmos. Dua krosmos itu dianggap menyatu secara interaksionis. Legitimasi antara makro kosmos dan mikro kosmos religius tersebut dijadikan sebagai alat legitimasi oleh Raja. Raja dianggap sebagai wadah Illahi, utusan Tuhan atau mediator anatara manusi dan Tuhan oleh rakyat. Dengan demikian, rakyat tidak dapat menuntut pertanggung-jawaban moral dari penguasa. Masyarakat harus mentataati segala perintah Raja sebagai penguasa. Nasib rakyat tergantung pada belas kasih yang dimiliki oleh Raja (Fatah, 1993).

Menilik pengertian negara dari berbagai pendapat di atas, maka negara dan pers merupakan dua institusi yang berbeda kedudukannya. Pers merupakan lembaga kemasyarakatan yang berdiri secara independen, sedangkan negara merupakan institusi politik yang mempunyai kekuasan secara politis dan wilayah yang diakui oleh masyarakat. Negara dan pers tidak dapat dipisahkan peranannya dalam merubah kondisi sosial masyarakat, keduanya saling berhubungan. Namun negara bisa bertindak tegas dan sewenang-wenang jika pers terlalu kritis dan berani dalam menjalankan fungsi dan peran kontrolnya terhadap kekuasaan.

(16)

commit to user b. Pengertian Pemerintah

Menurut Widjaja (1991), pengertian pemerintah dapat dibedakan antara pemerintah sebagai organ (alat, tool) negara yang menjalankan tugas (fungsi) dan pemerintahan sebagai fungsi dari pemerintah. Pemerintah dalam pengertian pertama sebagai organ negara dapat pula dibedakan antara pemerintah dalam arti luas (macro) dan pemerintah dalam arti sempit (micro). Pemerintah dalam arti sempit dimaksudkan khusus sebgai kekuasaan eksektuif, sedangkan dalam artian luas di samping kekuasaan eksekutif, adalah juga kekuasaan legislatif dan yudikatif.

Luwarso (1998) menjelaskan bahwa pemerintahan dalam artian sempit berdasarkan Undang-Undang Dasar yang pernah berlaku di Indonesia selama pascawarsa kemerdekaan menurutnya terbagi menjadi tiga. yaitu, UUD 1945 yang menyebutkan pemerintahan adalah Presiden dibantu oleh Wakil Presiden dan Menteri-Menteri. UUD S 1950 yang menjelaskan pemerintah adalah Presiden, Wakil Presiden bersama-sama dengan Menteri-Menteri. Dalam Konstitusi RIS 1949 disebutkan bahwa pemerintah adalah Presiden dan Menteri-Menteri bersama-sama.

Menurut Chandra E Yudiana (2011), Pemerintaan yang baik akan tercapai bila didalam suatu pemerintahan terdapat sebuah etika. Inti dari etika pemerintahan adalah penggunaan kekuasaan (the use of power). The use of authority, formalitas membawa kehendak rakyat. Pemerintahan yang baik harus dapat mendahului kepentingan-kepentingan apa yang diinginkan masyarakat, bukan semata-mata bersifat korektif. Kepentingan yang lebih merefleksikan dari keinginan masyarakat justru akan lebih terasa dampak positifnya dibandingkan semata-mata hanya dengan melakukan sebuah pencitraan politik pemerintah kepada masyarakat.

Widjaya (1991), menjelaskan bahwa di dalam masyarakat yang terpenting bukanlah person, melainkan adalah fungsi, karena manusia di dalam masyarakat harus hidup bebas dan yang terpenting adalah bisa menjalankan

(17)

commit to user

fungsinya untuk hidup dalam masyarakat itu sendiri. Ukuran mengukur sejauh mana keberhasilan atau kebijaksanaan pemerintah di dalam hidup bermasyarakat itu tidak ada, pemerintah lebih baik, dan sudah seharusnya menjalankan fungsi koordinasinya dengan sebaik-baiknya, karena dengan menjalankan fungsi koordinasinya tersebut, maka potensi kehancuran dalam pemerintahan akan terhindarkan.

c. Hubungan Masyarakat, Pers dan Pemerintah

Masyarakat, pers, dan pemerintah adalah suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam hubungan negara demokrasi, ketiganya saling berkaitan dan membutuhkan (Pareno, 2005).

Menurut Koentjaraningrat (1985), masyarakat adalah sebagai kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat-istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan terikat oleh rasa identitas agama. Selo Soemardjan dalam Soerjono Soekanto, (1982) mengatakan bahwa masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan. Meriam Budiharjo (1977), mengartikan masyarakat adalah mencakup semua hubungan kelompok dalam suatu wilayah.

Dalam hubungan pers dan negara, masyarakat menjadi objek terpenting yang harus direfleksikan kepentingannya. Masyarakat adalah pemberi mandat pada pemerintahan dalam suatu negara, maka dari itu negara dan pers harus mampu mengerti keinginan masyarakat. Negara berkewajiban memenuhi segala kebutuhan masyarakat agar masyarakat merasa merasa terlindungidan terpenuhi kebutuhannya dalam semua aspek, demikian juga dengan pers, pers harus mampu menjadi media penghubung informasi dari pemerintah kepada masyarakat (Rachmadi, 1990).

Menurut Akhmad Zaini Abar (1995), konsekwensi dari penempatan pers dalam konteks hubungan negara dan masyarakat adalah pers bisa dilihat sebagai mediasi dari berbagai kekuatan sosial, ekonomi, dan politik yang berinteraksi.

(18)

commit to user

Dalam hal ini, pers merupakan refleksi dari dinamika hubungan antara negara dan kekuatan-kekuatan politik masyarakat. Pers juga bisa dilihat sebagai kekuatan soaial politik dari berbagai kekuatan sosial, politik dan ekonomi yang berinteraksi dalam suatu orde politik tertentu.

Subagio I.N dan Abdurrachman Surjomihardjo (1980), menjelaskan dalam konteks hubungan negara dan masyarakat, pers selalu menempatkan dirinya sebagai salah satu dari kekuatan sosial-politik masyarakat (non-negara) yang berhadapan dengan kekuatan politik negara. Hal ini merupakan konsekuensi sosiologis, politis, ideologis dan historis dari pers itu sendiri. Namun demikian tidak menutupi kemungkinan adanya fenomena dimana pers justru menjadi bagian dari kekuatan negara.

Bila pers ditempatkan sebagai mediasi dalam konteks dinamika hubungan negara dan masyarakat, maka ada dua proposisi utama yang menempati dua kutub yang saling bertentangan dalam melihat isi dan orientasi pers. Proposisi pertama, dari salah satu kutub itu mengatakan apabila negara menempati posisi dominasi, berarti masyarakat menempati posisi sub ordinasi, maka pers lebih cenderung berorientasi ke negara. Proposisi kedua dari kutub yang lain mengatakan apabila masyarakat menempati posisi dominasi dan negara menempati subordinasi maka pers lebih cenderung keposisi masyarakat. Kedua proposisi itu tidak dapat dihindari, meskipun pers independent, namun pers bisa menjadi alat negara jika negara menginginkannya (Abar, 1995).

Masyarakat, pers, dan pemerintah merupakan satu bagian integral di dalam konteks hubungan negara demokrasi. Meskipun ketiganya memiliki kedudukan, peran dan fungsi yang berbeda-beda, namun hubungan antara ma- syarakat, pers, dan negara tidak dapat dipisahkan, ketiganya saling membu-tuhkan di dalam mencari dan menyalurkan informasi. Pers sebagai media penghubung antara pemerintah dan masyarakat, mengemban tugas berat untuk menjadi mediator diantara keduanya. Pers harus membela masyarakat, apabila negara menjalankan roda pemerintahan dengan cara otoriter.

(19)

commit to user d. Kebijakan Pemerintah

Menurut P Swantoro dalam Surjomihardjo (2002), peraturan pers muncul pertama kali pada masa zaman Hindia Belanda di tahun 1856 yang dituangkan Reglement op de Druwkerken in Nederlandsch-Indie, yang pada tahun 1906 diperbaiki sesuai dengan tuntutan keadaan, karena peraturan tersebut dirasakan lebih preventif sifatnya. Dalam peraturan itu, disebutkan bahwa bagi semua media masa yang melakukan penerbitan, maka diharuskan untuk mengirimkan karyanya sebelum dicetak kepada pemerintahan setempat, pejabat justisi dan Algemene Scretarie. Bila ketentuan tersebut tidak dipatuhi oleh media massa, maka pemerintah Belanda akan menyita dan menyegel kantor penerbitan tersebut.

Menurut Haryanto (2006), pada 7 Septeber 1931, pemerintah kolonial membuat peraturan tentang pers yang kemudian dikenal sebagai Persreidel Ordonnantie, disebutkan bahwa Gubernur Jenderal diberi hak untuk melarang terbitan tertentu yang dianggap menciptakan gangguan keamanan. Selain Persreidel Ordonnantie, pada zaman pemerintah Belanda dikenal juga tindakan terhadap pers yang dikenal sebagai Haatzai Artikelen, yaitu pasal-pasal hukuman bagi siapa saja yang dianggap menantang dan menjelekkan pemerintahan kolonial Belanda yang diatur dalam pasal 154-157 dari Wetboek van Strafrecht.

Menurut Atmakusumah (2009), setelah Indonesia merdeka, peraturan mengenai pers dari pemerintah Belanda mulai dirubah. Persreidel Ordonnantie dicabut tepat pada 2 Agustus 1954 lewat Undang-Undang No. 23 tahun 1954 yang didasarkan dengan pertimbangan bahwa pembredelan pers bertentangan dengan pasal 29 dan 33 Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia.

Perjuangan pengahapusan Persreidel Ordonnantie juga diperjuangkan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada kongres di Bali tahun 1953. Tak lama berselang, di tahun 1956 justru muncul peraturan baru tentang pelarangan bagi pers untuk gambar ataupun tulisan yang dianggap menghina kepala negara.

Hubungan pers dan negara tidak selamanya membaik, sejak masa kolonial hingga Orde Baru, pers selalu dalam posisi yang tertekan. Pemerintah

(20)

commit to user

hanya memberikan kebebasan berpendapat bagi pers yang mendukung kebijakan- kebijakan yang dikeluarkannya. Tak hanya Persreidel Ordonnantie, setelah masuk Orde Lama dan Orde Baru maka terbitlah peraturan baru mengenai Surat Izin Terbit (SIT) dan Surat Izin Cetak (SIC). Kedua peraturan itu sangat mengekang kemerdekaan pers (Adji, 1977).

Koran Indonesia Raya sebagai objek penelitian mengalami semua periode pengekangan itu pada masa Orde Lama maupun masa Orde Baru. Koran Indonesia mendapatkan pencabutan SIT dan SIC, karena dianggap membuat berita yang menyebabkan timbul perspektif buruk terhadap pemerintah, sikap kritis koran Indonesia itu akhirnya berakhir dengan pelarangan atau pembredelan dengan pencabutan Surat Izin Cetak dan Surat Izin Terbit.

e. Otoriter

Menurut Pareno (2005), Kekuasaan yang bersifat otoriter berasal dari bahasa Inggris yaitu authoritarian yang berarti paham kepatuhan mutlak kepada seseorang. Praktek sistem otoriter ini berupa sistem pemerintahan diktator yang berarti seseorang yang berkuasa secara mutlak/ absolut dengan tujuan untuk mewujudkan kekuasaan negara yang kuat. Teori otoriter telah mengembangkan proposisi bahwa negara sebagai organisasi kelompok dalam tingkat paling tinggi telah menggantikan individu dalam hubungannya dengan derajat nilai. Karena, tanpa negara seseorang tak berdaya untuk mengembangkan dirinya sebagai manusia beradab. Kebergantungan seseorang pada negara untuk mencapai peradaban telah menjadi unsur utama bagi sistem otoriter.

Pelopor teori otoriter adalah Niccolo Machiavelli (1469-1527), ajaran- nya diberi nama IL Principe artinya Sang Raja/Buku Pelajaran untuk Raja. IL Principe merupakan pedoman bagi para raja dalam menjalankan kekuasaannya agar pemerintahannya berjalan dengan baik. Sesuai isi ajarannya, yang pertama- tama dibangun adalah sistem pemerintahan terpusat (sentral). Sistem pemerin- tahan tersebut ada pemisahan yang tegas antara asas moral dan tata susila dari

(21)

commit to user

asas-asas kenegaraan. Machiavelli berpendapat bahwa, tujuan negara adalah mengusahakan terselenggaranya ketertiban, keamanan, dan ketentraman, yang semua itu hanya dapat dicapai oleh pemerintahan raja yang berkuasa mutlak atau absolut, guna memperoleh dan menghimpun kekuasaan sebesar-besarnya di tangan raja (Pendit, 1986).

Menurut Sastrapratedja & Suseno (1991), dalam Niccolo Machiavelli (1513), menjelaskan bahwa hukum dan kekuasaan adalah sama, sebab siapa yang mempunyai kekuasaan ia mempunyai hukum, dan siapa yang tidak mempunyai kekauasaan maka ia tidak mempunyai hukum. Ia mengagung-agungkan kekuasaan bahkan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan tersebut.

Kalau perlu raja harus licik dan ditakuti rakyatnya.

Menurut Masduki (2007), otoritarianisme merupakan salah satu bentuk pemerintahan yang sangat menindas hak kemerdekaan hidup manusia dalam konteks bernegara dan berdemokrasi. Dalam negara demokrasi, kemerdekaan individu ataupun kebebasan dalam segala hal adalah hak mendasar yang harus diperjuangkan dan dijunjung tinggi. Kemerdekaan bersuara dan berpendapat adalah salah satunya. Rezim Otoriatarian tidak menginginkan adanya kebebasan mutlak yang dimiliki individu, terlebih adanya kebebasan pers. Pers di dalam rezim otoritarian harus tunduk kepada negara dan dijadikan sebagai alat indoktrinasi dari negara.

Berdasarkan uraian di atas, maka yang dimaksud dengan pemerintahan otoriter adalah bentuk pemerintahan yang dijalankan dengan cara menghalalkan segala cara, dengan tujuan untuk melumpuhkan kebebasan atau kemerdekaan bersuara dari setiap individu di dalam masyarakat. Bentuk pemerintahan otoriter banyak ditentang oleh kelompok intelektual, agamawan maupun masyarakat sipil.

Bentuk pemerintahan otoriter ini telah mengakibatkan kemunduran dan kerusakan pada sendi-sendi kebebasan bersuara dan berdemokrasi.

(22)

commit to user B. Kerangka Berfikir

Kerangka pemikiran adalah suatu alur berfikir yang digunakan oleh peneliti dengan menggambarkan secara menyeluruh dan sistematis. Dalam penelitian ini sistematika kerangka pemikirannya adalah sebagai berikut:

Gambar 2.1 : Bagan Prosedur Penelitian Historis Pers Di Masa Orde Baru (Pembredelan Koran Indonesia Raya Tahun 1974)

Keterangan :

Pers atau surat kabar mempunyai peran penting dalam penyampaian kebijaksanaan dan program pembangunan kepada masyarakat. Masyarakat juga dapat menggunakan pers sebagai penyalur aspirasi dan pendapat serta kritik atau kontrol sosial. Pers bisa berperan sebagai media penghubung yang efektif antara pemerintah dan masyarakat.

Pers tidak dapat menjalankan perannya, apabila tidak ada jaminan terhadap kebebasan pers. Kebebasan bagi pers dipandang sebagai hak yang paling hakiki dan menjadi sumber eksistensi dalam menjalankan fungsi dan peran pers sebagai alat penghubung informasi. Dalam banyak Undang-undang diberbagai negara, kebebasan pers sering disebut sebagai satu bagian dari kemerdekaan untuk mempunyai dan menyatakan pendapat serta kebebasan berpikir melalui perkataan, tulisan, lukisan, atau cara-cara lainnya.

Masyarakat Negara

Kebebasan Pers Pemerintah

Koran Indonesia Raya

Pembredelan Pers Kebijakan Pemerintah Pers

(23)

commit to user

Keberadaan pers tidak bisa dipisahkan dari masyarakat dan pemerintah, ketiganya saling berkaitan. Pers sebagai institusi sosial tidak berada dibawah kuasa pemerintahan, pers bersikap independent dan netral. Pers mempunyai visi untuk memperjuangkan suara keadilan masyarakat. Tetapi, pemerintah mempu- nyai cara pandang tersendiri terhadap pers. Pada masa pemerintahan Orde Baru, meskipun pemerintah mengakui adanya kebebasan pers, tetapi tidak selamanya kebebasan pers itu dipandang baik oleh pemerintah. Pemberitaan yang dianggap kebablasan, tidak bertanggung jawab, terkesan menjelek-jelekkan pemerintah serta menimbulkan keresahan dimasyarakat diberikan sanksi atau hukuman oleh pemerintah.

Pemerintah sebagai pemegang kendali negara, mempunyai batasan- batasan tertentu untuk menjaga kewibawaan pemerintahannya. Pemerintahan Orde Baru memberlakukan beberapa peraturan untuk membatasi kebebasan pers di Indonesia. Kemunculan Surat Izin Cetak (SIC) dan Surat Izin Terbit (SIT) adalah sebagai tanda bahwa peraturan yang dibuat pemerintah sangatlah ketat.

SIC dan SIT ini semakin memepersulit perkembangan pers dan kebebasan pers di Indonesia pada saat pemerintahan Orde Baru.

Pemerintah Orde Baru bersifat reaktif dan represif terhadap pers. Se- jumlah surat kabar di Ibukota Jakarta dibredel karena kritikan-kritikan pedasnya terhadap pemerintahan Orde Baru. Koran Indonesia Raya adalah salah satu koran yang menjadi korban tindakan represif pemerintahan Orde Baru tersebut.

3. Penelitian Relevan

Penelitian tentang Pers di Indonesia yang penulis lakukuan berdasarkan dari penelitian-penelitian serupa yang pernah dilakukan sebelumnya oleh peneliti lain. Beberapa penelitian tersebut adalah :

1. Tjipta Lesmana. (2010). Kebebasan Pers Dilihat dari Perspektif konflik, antara Kebebasan dan Tertib Sosial.

(24)

commit to user

Pada penelitian ini Tjipta Lesmana secara mendalam membahas tentang kebebasan pers di Indonesia yang dipandang dari sudut pandang konflik antara tertib sosial dalam konteks hubungan pers dengan negara.

Penulis beranggapan tertib sosial adalah produk aturan manusia yang berben- tuk hukum, namun aturan tersebut dianggap telah membatasi tindakan individu. Dalam era demokrasi, tertib sosial justru dianggap sebagai salah satu penghalang bagi kebebasan manusia melalui hukum.

Penulis juga membahas mengenai Rule of law pada era reformasi di Indonesia yang berjalan dengan kacau balau, selain itu masalah mengenai kebebasan pers juga dibahas. Pers diera reformasi, memiliki kedudukan yang sangat terhormat. Institusi ini benar-benar menikmati statusnya sebagai the fourth estate (pilar keempat) demokrasi. Tetapi penulis juga menyoroti, dengan adanya kebebasan pers, diharapkan ada ketegasan terhadap pers, hukum terhadap pers juga harus ditegakkan agar tercipta sebuah iklim demokrasi yang sehat.

Pembahasan mengenai pers yang dilakukan oleh Tjipta Lesmana ini lebih bersifat umum, sebab-sebab khusus mengenai identitas pers tidak disentuh dalam penelitian ini. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan adalah pada kekhususan objek materi yang dibahas. Penelitian ini lebih bersifat khusus, yaitu sampai menyentuh sikap pers yang digali dengan cara melakukan penelitian korannya, yang dalam hal ini adalah koran Indonesia Raya.

2. Satrio Saptohadi. (2011). Pasang Surut Kebebasan Pers Di Indonesia.

Penelitian ini membahas tentang kebebasan pers di Indonesia yang berjalan dengan pasang-surut dalam periode kepemerintahan yang berbeda.

Secara umum penelitian ini menerangkan mengenai stabilitas nasional dan sistem kekuasaa politik yang dibangun oleh presiden Indonesia pada masa awal terbentuknya demokrasi di Indonesia hingga pada masa reformasi. Peneliti juga

(25)

commit to user

memaparkan sejumlah fakta sejarah mengenai kebebasan pers semenjak era pemerintahan Orde Lama hingga era Reformasi. Penelitian ini tidak hanya membahas seputar pasang surut kebebasan pers akibat adanya peraturan represif dari pemerintah. Kebebasan pers ditakutkan akan menjadi kebablasan jika pers justru menggunakan kebebasannya dengan tidak wajar atau kebablasan.

Kebebasan pers yang diteliti oleh Satrio Saptohadi ini lebih bersifat umum, hal-hal mengenai kebebasan pers dan pemberlakuan mengenai sejumlah peraturan represif dari pemerintah sudah banyak disentuh oleh banyak peneliti. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan ini adalah pada kedalaman pembahasan. Penelitian ini, lebih mendalam dan khusus dalam membahas objek kajian, yaitu dengan melihat isi koran yang berkaitan, dalam hal ini adalah koran Indonesia Raya dan kaitannya dengan sejumlah koran Ibu kota lainnya untuk menjelaskan fakta sejarah dan sikap pers pada masa itu.

Referensi

Dokumen terkait

Mengutamakan bahan yang berkualitas yang sesuai dengan standar yang digunakan sebagai patokan dalam bisnis menjadi salah satu kunci agar setiap produk yang

Menurut UU No.7 tahun 1971, fungsi arsip dibedakan atas dua yaitu arsip dinamis dan arsip statis.Arsip dinamis adalah arsip yang masih secara langsung

Surat kabar merupakan salah satu alat media massa yang dapat digunakan untuk menyajikan pesan atau informasi.. Surat kabar merupakan salah satu media massa tertua, karena

a) Diperlukan kecermatan dalam pengamatan ayat kauniyah dengan menggunakan pisau analisis dalam perspektif ilmu agama dan ilmu umum secara bersamaan tanpa mengabaikan

Bentuk fungsi pertumbuhan satu jenis spesies pada umumnya menggunakan notasi fungsi analitik yang dinyatakan dalam satu persamaan.. (France & Thornley 1984) Model

Maka dari itu dalam melaksanakan rekayasa ulang suatu sistem proses, mutlak dibutuhkan kejelian seseorang dalam mengamati, menyelami secara mendalam dan memahami secara

Mengabaikan semua perubahan dalam energi kinetik maupun energi potensial dan mengasumsikan bahwa perpindahan panas hanya mengambil tempat antara dua fluida dalam ketiga

Masalah penjadwalan muncul karena adanya keterbatasan waktu, tenaga kerja, jumlah mesin, sifat dan syarat pekerjaan yang akan dilaksanakan. Secara umum ada dua permasalahan